menu

Trace of Love Bab 15: A Good Bye (Tamat)

Mode Malam
A Good Bye (Tamat)

”JADI, kita tidak bertemu selama beberapa bulan ke depan?” tanya Enrique sambil merangkul Fay erat. ”Aku kan ke Venezuela sebulan saja, mengantar ibuku. Kenapa kamu harus kembali ke Indonesia?” tanyanya lagi.

”Aku harus mengurus surat-surat... entahlah, berhubungan dengan mendiang orangtuaku. Menurut Bobby, urusan birokrasi semacam itu bisa berlangsung hingga tiga bulan.”

Enrique mengerang, kemudian berkata, ”Aku akan menyusulmu ke Jakarta nanti.”

Fay tersenyum melihat antusiasme Enrique.

Enrique  mengecup  bibir  Fay  lembut,  kemudian  berbisik,  ”I’m going  to  miss  you.”

Fay memejamkan mata dalam pelukan Enrique, yang mengeluselus punggungnya lembut. Ia akan merindukan cowoknya ini, sudah pasti. Sekarang pun ia sudah merasa tak rela harus berpisah dengannya selama tiga bulan ke depan.

Telepon genggam Fay berbunyi.

Enrique melepas dekapannya, dan Fay mengangkat telepon. Dari Bobby.

”Di mana kamu sekarang?” tanya Bobby. ”Saya masih di rumah Enrique... kenapa?” tanya Fay balik sambil melirik arlojinya—ia tahu Bobby ingin menemuinya, tapi masih sore nanti. Sekilas ia melihat Enrique masuk ke kamar mandi.

”Sore ini kamu akan berangkat ke rumah latihan sebagai persiapan untuk mengikuti Pelatihan Dasar nanti. Saya ingin kamu bisa berkonsentrasi pada latihan dan tidak diganggu oleh hal-hal lain, jadi  saya minta kamu memutuskan hubunganmu dengan Enrique.”

Fay terdiam. Selama beberapa saat otaknya terasa kosong melompong.

”Fay, did you hear me?”

Tiba-tiba saja Fay merasa dadanya ingin meledak. ”Tidak!” ucapnya keras sambil menahan luapan emosi di dadanya hingga tubuhnya  gemetar.

Hening sejenak. ”Apa kamu bilang?”

Fay menarik napas, kemudian berkata dengan intonasi tajam, namun suara lebih pelan. ”Saya tidak mungkin memutuskan Enrique begitu saja! Lagi pula, ini kan urusan saya!” Ia mengepalkan tangan. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya di muka Bobby!

”Saya bicara sebagai mentormu, bukan sebagai temanmu. Jadi, ini adalah instruksi, bukan keputusan yang bisa dinegosiasi. Dan, Fay, sekali lagi kamu melawan perintah saya terang-terangan seperti tadi, saya akan menyeretmu ke ruang indisipliner di kantor.”

Fay terduduk lemas di tempat tidur. Bernapas terasa sangat sulit.

Ia tak mampu berkata-kata.

”Kamu bisa bilang bahwa sebaiknya ada jeda dulu dalam hubungan kalian, karena kamu harus kembali ke Jakarta selama beberapa bulan ke depan. Kamu bisa memakai alasan lain bila mau. Jelas?”

”Jelas,” ucap Fay lamat-lamat dengan suara lirih. Telepon ditutup.

Fay memegang kepala dengan kedua tangan. Kemarahan seperti berkumpul, terpusat di kepalanya hingga rasanya seperti mau pecah! Kenapa semua orang semau-maunya saja memberi perintah? Tidakkah mereka tahu bahwa perasaannyalah yang menjadi taruhan? Bagaimana mungkin ia memutuskan Enrique begitu saja! Lagi pula, ia kan manusia yang punya kehendak sendiri!

Enrique keluar dari kamar mandi, lalu duduk di sebelah Fay.

Fay menoleh menatap Enrique, ke dalam sepasang mata hitamnya yang tulus dan masih diselubungi awan mendung.

Apakah ada pilihan lain?

”Ada apa?” tanya Enrique sambil mengelus rambut Fay.

Fay merasa gejolak perasaannya meledak dan air mata jatuh begitu saja dari sudut-sudut matanya.

Enrique  memeluk  Fay.  ”Hey,  don’t  cry...  Kita  kan  akan  bertemu lagi.” Ia mengecup kepala Fay lembut.

Terdengar suara Tia Bea, memanggil Enrique dan Fay.

Enrique berdiri sambil menarik tangan Fay, lalu menyeka air mata Fay. ”Aku akan mengontakmu terus-menerus... pastikan teleponmu menyala.”

Fay mengangguk, lalu mengikuti Enrique yang menarik tangannya. Bagaimana ia harus menanggapinya? Dengan mengatakan ”Tidak perlu mengontakku lagi... hubungan kita berakhir di sini”?

Enrique menoleh. ”Oh ya, siapa yang meneleponmu barusan?” ”Bobby,” jawab Fay setengah hati.

”Dia bilang apa?”

Jantung Fay berdegup dan ia terdiam sebentar, lalu menjawab, ”Dia bilang...,” ia kembali terdiam, kemudian menarik napas panjang tanpa kentara dan melanjutkan, ”dia bilang, selamat jalan. Semoga ibumu bisa lebih cepat melupakan kesulitannya di tengah-tengah keluarga di Venezuela.”

”Iya, aku juga berharap begitu. Bilang terima kasih ya ke Bobby.”

”Oke,” jawab Fay singkat. Ia tidak peduli Bobby bilang apa... Sebentar lagi ia akan menemui pamannya, dan ia akan mengajukan protes keras atas instruksi Bobby itu!

Di sisi jalan, sebuah limusin sudah menunggu—milik mendiang Barney.

Fay menyambut pelukan Tia Bea dengan mata berkaca-kaca. ”Terima  kasih  banyak,  Fay...  Saya  tidak  tahu  bagaimana  harus melewati hari-hari di Paris setelah kepergian Barney bila tidak ada kamu di sini. Saya senang kamu ada di kehidupan kami.”

Fay merasa dadanya sakit dan menyempit. Tidak tahukah Tia  Bea, bila Fay tidak pernah masuk ke kehidupan mereka, nasib Barney mungkin akan berbeda?

Atau, mungkin juga tidak.

Tia Bea masuk ke limusin.

Enrique memeluk Fay, lalu mengangkatnya sedikit dan menurunkannya lagi. ”I miss you already,” ucapnya, lalu tersenyum. ”Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik selama aku tak ada di sisimu. I love you...”

Setelah Enrique masuk ke limusin, limusin bergerak menjauh diiringi lambaian tangan Fay. Begitu limusin menghilang dari pandang an, sebuah mobil bergerak dari deretan mobil yang diparkir di sisi jalan dan berhenti tak jauh di depan Fay.

Fay beranjak dengan kaki yang seperti enggan dilangkahkan, masuk ke mobil yang dikendarai Lucas.

***

Dengan saksama Andrew membaca perkembangan terakhir yang baru   ia terima di ruang kerjanya di kastil.

Kematian Bruce Redland secara resmi telah diumumkan dua minggu lalu dan semua aktivitas bisnis milik pria itu mengalami perombakan besar-besaran. Saham Red Med anjlok karena obat revolusioner yang dinanti-nantikan tidak kunjung diluncurkan. Penelitian obat itu bahkan terancam tidak bisa dilanjutkan, karena peneliti utama yang menguasai riset, Monty Bradwick, memilih hengkang dari Red Med dan pindah ke Llamar Health. Andrew sendiri sudah menyatakan minatnya untuk membeli saham beberapa perusahan Bruce dan melakukan investasi—satu penawaran yang pastinya akan dipertimbangan matang-matang oleh tim keuangan Bruce di saat-saat penuh kekacauan seperti ini.

Di luar itu, kematian Tom Goodman juga tidak terdeteksi dan pria itu dianggap buron—sepuluh juta dolar sudah ditransfer ke rekeningnya di Pulau Cayman dari rekening Bruce, mengindikasikan bahwa pria itu melarikan diri setelah melakukan penggelapan uang. Andrew menutup laporan, kemudian mengambil satu berkas bertuliskan Nicholas Xavier yang tergeletak di mejanya. Semua berakhir sempurna, pikirnya, kecuali satu hal kecil yang harus diberes-

kan.

Terdengar suara ketukan di pintu dan pintu terbuka. Fay melangkah masuk.

Andrew memberi tanda pada Fay untuk duduk di kursi kerja, berhadapan dengannya. ”Sudah siap berangkat, young lady?” tanyanya sambil meletakkan map kuning di tangannya ke meja.

Fay  mengangguk.  ”Sudah.”  Hari  ini  ia  akan  berangkat  bersama Bobby. Latihan intensifnya bersama Bobby selama sebulan ke depan akan dimulai, sebagai persiapan untuk mengikuti Pelatihan Dasar bersama agen-agen baru lainnya selama dua bulan.

Andrew berkata, ”Pelatihan Dasar adalah pintu pertama untuk menjadi agen operasional sebelum terjun ke lapangan. Setelah itu pendidikan dilanjutkan sejalan dengan aktivitasmu di COU. Ada beberapa pengecualian tentunya, atas aturan itu. Kamu sendiri telah melakukan   tugas-tugas   sebelum   mengikuti   pelatihan   dasar.”   Ia berhenti sebentar, kemudian menambahkan, ”Saya yakin kamu sudah tahu, bahwa sebagai anggota keluarga McGallaghan, kamu tidak punya pilihan untuk tidak lolos pelatihan.”

Fay mengangguk. Benaknya tiba-tiba memampangkan wajah Reno dan ia pun langsung bertanya, ”Kapan Reno dinyatakan pulih sepenuhnya dan bisa pulang?”

”Kemarin adalah hari terakhirnya dirawat di L’Hopital du Dent Blanche. Hari ini dia akan kembali ke Paris dan telah dijadwalkan melapor ke kantor besok. Beberapa hari lagi ia akan kembali  ke Zurich untuk bersiap-siap menghadiri perkuliahan yang akan segera dimulai.”

Fay mengangguk dengan perasaan lega sambil bersyukur dalam hati. Ia diperbolehkan menelepon Reno hanya beberapa kali, yang terakhir adalah tiga hari yang lalu, tapi waktu itu dokter belum memberitahu Reno kapan dia bisa pulang. Telepon genggam Andrew berbunyi.

Fay melihat pamannya mengangkat telepon sambil merapikan sebuah berkas di meja.

”Yes?” tanya Andrew di telepon.

Tatapan Fay jatuh pada berkas kuning yang dirapikan pamannya. Jantung Fay berdegup. Ia mengubah posisi duduknya dengan gelisah, berusaha menjaga pandangannya tetap lurus ke arah pamannya.

Andrew berdiri, menutup telepon genggam dengan tangannya, kemudian berbicara pada Fay. ”Saya harus menerima ini sebentar, tunggu saja di sini,” ucapnya, kemudian beranjak ke arah pintu.

Dengan perut tegang dan dada berdebar, Fay melihat Andrew berjalan menjauh. Begitu melihat Andrew melangkah ke luar dan menutup pintu, Fay langsung berdiri sambil mengeluarkan telepon genggamnya, membuka berkas di meja, lalu mulai memotret dengan debar jantung yang berpacu.

Begitu selesai memotret halaman terakhir, Fay buru-buru merapikan berkas dan duduk kembali. Napasnya langsung tersengal dan ia merasa lututnya sangat lemas. Ia bersandar ke sandaran  bangku  sambil berusaha mengatur napas.

Pintu terbuka.

”Sampai di mana kita tadi?” tanya Andrew, lalu duduk di hadapan Fay.

”Saya mau ikut Pelatihan Dasar ”

”Oh ya. Tidak ada lagi sebenarnya yang harus saya sampaikan. Saya percaya kamu sudah tahu apa yang diharapkan  darimu.  Ada yang mau kamu tanyakan?”

Fay menggeleng—ia sudah tidak sabar ingin buru-buru keluar dari ruangan dan membaca isi berkas yang ada di teleponnya. Ia langsung menyesal ketika melihat Andrew memiringkan kepala dengan tatapan lekat seperti menilai.

”Ada apa, young lady? Saya percaya ada yang mengganggu pikiranmu.”

Fay gelagapan sedikit. Jantungnya langsung berdebar cepat. Mendadak, ia ingat hal yang mengganggunya pagi ini dan memutuskan untuk menyuarakannya. ”Saya diminta Bobby untuk memutuskan Enrique...” Kalimatnya tidak dilanjutkan.

Andrew terdiam sebentar, kemudian berkata lamat-lamat, ”Saya memang pengawas utamamu, tapi semua agen yang menjadi mentor diberi kebebasan secara penuh untuk mengambil keputusan yang menurut mereka terbaik bagi perkembangan anak didik mereka.”

Fay terdiam dengan perasaan terpukul.

Andrew kembali berbicara, kini dengan intonasi lebih lembut. ”Kamu tidak perlu khawatir. Di atas kertas kamu akan pulang ke Indonesia, jadi kamu bisa memakai skenario itu di depan Enrique.   Ada lagi yang ingin kamu bicarakan sebelum berangkat?”

”Tidak, Paman.”

Andrew berdiri. ”Selamat berlatih, young lady. Kamu akan menjadi wanita muda yang berbeda setelah kembali—seorang agen yang lebih baik. Make  me  proud.”

***

Gereja St. Ambroise, arrondissement 11.

Fay duduk di sebuah bangku di depan taman kecil gereja, menunggu Bobby yang ingin menemuinya di sini. Tak ada pagar. Taman ini seakan menyatu dengan trotoar jalan. Ia memperhatikan orang dan kendaraan yang lalu-lalang di jalan. Ia menoleh ketika seseorang sudah berdiri di sebelahnya.

”Bonjour,  Mademoiselle... Boleh saya duduk di sini?”

”Tentu  saja...  silakan,”  ucap  Fay  sambil  lalu,  kemudian  tertegun ketika mengenalinya sebagai pastor yang berbicara dengannya di pemakaman Barney dua minggu yang lalu. Ia ingin menyapa, tapi tidak tahu bagaimana cara memanggil seorang pastor. Ia selama ini mendengar  Enrique  dan  orang-orang  lain  memanggilnya  ”Father”, tapi tidak yakin. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya, ”Bagaimana cara saya memanggil Anda?”

Pastor duduk dan berkata, ”Nama saya Francis Leo Rovero, tapi orang-orang biasa memanggil saya Father Francis.” Ia memperhatikan Fay sejenak, kemudian berkata, ”Wajahmu terlihat mendung. Masih bersedih?”

Fay menghela napas, kemudian menjawab singkat. ”Iya.”  ”Sayang sekali... Kehidupan punya banyak wajah dan kesedihan

hanyalah salah satunya. Kehidupan itu sendiri terlalu indah untuk dilewati hanya dengan merasakan satu sisi.”

Fay menoleh dengan perasaan sakit yang tidak bisa dijelaskan. ”Bukan saya yang memilih untuk bersedih, tapi Tuhan yang menimpakan kejadian-kejadian ini dalam hidup saya!” Ia terdiam ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya dengan nada tinggi.

”Sebuah kejadian terjadi di hidup kita karena di saat itu kejadian tersebut memang diperlukan untuk membentuk jiwa kita. Emosi kita biasanya beragam dalam menanggapinya, bisa kecewa, sedih, marah, menyesal... dan itu tak masalah. Yang menjadi masalah adalah bila kita terlampau larut di dalamnya.”

Fay mendesah. Emosi apa yang ada di dalam dirinya saat ini? Mungkin semua emosi yang diucapkan Father Francis teraduk-aduk menjadi satu. Ia malah bukan hanya larut di dalamnya, melainkan terblender jadi satu hingga hancur lebur.

Di malam-malam panjang penuh impitan rasa bersalah selama dua minggu terakhir ini, ia menyesali keputusannya berbulan lalu untuk menerima tawaran Andrew untuk bergabung dengan keluarga ini—bila ia menampik tawaran itu, mungkin ia tidak akan tiba di titik ini, titik ia punya andil dalam membunuh seorang pria. Tapi,  di lain sisi, ia pun menyadari bahwa bila ia tidak menerima tawaran Andrew, ia tidak mungkin mengenal Enrique sedalam ini dan menjadi pacarnya.

”Bagaimana caranya seseorang bisa menanggung kesalahan yang... yang tidak bisa dimaafkan?” tanyanya akhirnya dengan suara seperti menggumam.

Father Francis terdiam sejenak sebelum menjawab, ”Tuhan Maha Pengampun, tapi manusia tidak... Lebih mudah meminta ampunan Tuhan daripada mengharapkan maaf dari seorang manusia. Namun, dari semuanya, tak ada yang lebih sulit daripada memaafkan diri sendiri.” Fay tidak berkata-kata lagi. Ia langsung ingat sajadahnya yang masih tergeletak di meja rias dan bahkan tak terpikir lagi olehnya untuk dimasukkan ke koper. Serta-merta sebuah rasa nyeri di dada terasa begitu saja. Sudah berapa lama sajadah itu tidak ia bentangkan? Dulu ia sengaja tidak melakukannya karena marah pada Tuhan yang mengambil kedua orangtuanya begitu saja—memang, kedua orangtuanya tidak pernah menjadi miliknya, tapi tetap saja sakit rasanya kehilangan mereka, apalagi sesal menyelimutinya karena begitu banyak cinta yang tak sempat terucapkan dalam kata dan perbuatan. Kemudian, setelah rasa duka menyurut, Tuhan seperti terlupakan begitu saja. Setelah itu ia malah sempat marah kepada Tuhan dan menolak untuk berbicara pada-Nya. Sekarang, ia sudah tidak berani lagi menghadap. Masih maukah Tuhan menerimanya setelah apa yang ia lakukan terhadap Barney? Mungkinkah ia memaafkan dirinya sendiri suatu hari nanti setelah seorang pria kehilangan nyawa lewat tangannya?

Father Francis menambahkan. ”Semua akan terjadi pada waktunya dan berakhir pada waktunya, termasuk semua emosi yang kamu rasakan. Nothing lasts forever. Namun, apa pun yang terjadi, jangan pernah  kehilangan  dirimu  sendiri.”  Ia  berdiri,  kemudian  berkata, ”Semoga kamu selalu dilindungi.”

Fay melihat Father Francis berjalan ke arah pintu. Tepat di saat itu pintu terbuka dan Bobby berjalan keluar. Father Francis mengangguk pada Bobby, yang membalas sambil tersenyum sopan, kemudian masuk ke gereja.

***

Bobby duduk di sebelah Fay lalu mengulurkan telapak tangannya dengan posisi menghadap ke atas. ”Saya yakin ini milikmu...,” ucapnya. ”Tim pembersih menemukannya di lokasi.”

Fay melihat sebuah liontin hati di telapak tangan Bobby. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil liontin itu, tapi Bobby menarik tangannya lagi, kemudian membuka liontin sehingga terlihat mata silet kecil. Jantung Fay berdegup—Bobby menatapnya lekat.

Bobby menutup liontin kemudian menyerahkannya pada Fay.

Fay mengambil liontin dari tangan Bobby dengan sejumput rasa  lega dan baru saja mau memasukkan liontin itu ke  saku  celana,  ketika Bobby kembali berbicara.

”Tidakkah kamu mau memasangnya lagi di gelangmu?”

Fay menarik napas panjang. Percuma—kalau Bobby memang sudah tahu, tak ada gunanya lagi ia berpura-pura. Ia mengaitkan liontin di gelang.

”Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?”

Fay menelan ludah. ”Hadiah dari... Enrique,” jawabnya sambil menatap lurus ke depan, memperhatikan kendaraan yang lewat di jalan.

”Hadiah yang unik dari seorang pemuda yang terlihat sangat normal.”

Fay tidak berkata-kata sejenak. ”Kenapa saya harus menjalani latihan intensif dulu sebelum ikut Pelatihan Dasar, sedangkan agenagen lain tidak?” tanyanya akhirnya untuk mengalihkan topik pembicaraan.

”Pamanmu ingin kamu tak sekadar lolos, melainkan lolos dengan hasil mengesankan. Jadi, selama sebulan sebelumnya, kamu akan dirumahkan bersama saya dan menerima latihan pendahuluan.”

Fay menghela napas. Hari-hari menyengsarakan akan segera dimulai. Ia sudah mendengar cerita para sepupunya yang ”dirumahkan” bersama mentor atau para paman.

”Hubunganmu dengan Enrique sudah berakhir?”

Fay merasa dadanya seperti dihantam. Ia menjawab singkat, ”Sudah.”

”Good.  Bila  belum,  dia  bisa  menjadi  distraction  yang  akan  membuat fokusmu teralih. Di pelatihan nanti kamu diharapkan menjadi yang terbaik di semua bidang. Tidak mudah... karena ada sedikit ‘catch’ dengan menjadi yang terbaik.”

”Maksudnya?”

”Di setiap bidang pengajaran, kadet terbaik akan mendapat rating yang tinggi, yang tentunya baik untuk karier di kantor. Tapi, mereka juga akan menerima hukuman.” Fay menoleh dengan mulut terbuka. ”Sebentar... maksudmu, mereka dihukum karena nilainya paling tinggi? Itu tidak masuk akal!” ”Ya. Dengan aturan itu, dari awal sudah langsung terlihat siapa agen-agen yang memilih bermain aman, dan siapa yang berani menempuh  risiko  untuk  maju.”  Bobby  menatap  Fay  sebentar,  kemudian melanjutkan, ”Dan, sebelum kamu punya ide untuk bermain aman, sebagai temanmu tentunya saya harus memberitahu bahwa sebagai penyandang nama McGallaghan, bermain aman tidak ada

dalam pilihanmu.”

Fay mengeluh sambil membuang muka. Sudah bisa ia tebak.

Bobby memberi tanda pada Lucas yang memarkir mobil di sisi jalan. Mobil bergerak dan berhenti tak jauh dari bangku tempat mereka duduk.

Bobby membukakan pintu untuk Fay. ”Lucas akan membawamu ke rumah latihan sekarang. Kopermu sudah dibawa?”

”Sudah, ada di bagasi,” jawab Fay sambil masuk ke mobil.

”Ini terakhir kalinya saya berbicara denganmu sebagai seorang teman. Selama tiga bulan ke depan saya akan menjadi mentormu... dan mungkin musuh terbesarmu.”

”What  do  you  mean?” tanya Fay.

”Latihanmu dimulai hari ini, dan saya jamin di akhir hari ini  kamu sudah akan membenci saya. Saya akan melatihmu dengan keras, sehingga kamu akan berharap punya sedikit saja keberanian untuk menyarangkan peluru ke kepala saya.”

Fay menatap Bobby tanpa kedip, dengan napas yang sangat berat.

Bobby melanjutkan, ”Tapi, saya akan membuatmu menjadi yang terbaik, hingga kamu akan membuat pamanmu... Direktur, bangga. Sampai jumpa di rumah latihan siang ini.”

Bobby mendorong pintu hingga tertutup, dan mobil melaju.

***

Tangan Fay bergerak membuka telepon genggam, kemudian album foto. Berkas Nicholas Xavier yang ia foto di ruang kerja Barney, halaman kedua. Ia memperbesar gambar, kemudian membaca sebuah paragraf di akhir halaman yang sudah ia  baca  lebih  dari  sepuluh kali.

”Perintah diterima oleh Sierra7 untuk meledakkan pesawat EX-303 dari Cusco yang mengangkut Nicholas Xavier. Pesawat meledak sebelum Sierra7 menjalankan perintah. Tim Lima11 meninjau lokasi dan melaporkan pesawat sudah habis terbakar. Kotak hitam tidak ditemukan.”

Berikutnya, ia membuka foto-foto berkas yang ia ambil di ruang kerja Andrew. Kali ini ia berhasil memotret seluruh halaman, tapi hanya halaman kedua yang memampangkan informasi yang relevan sekaligus menarik perhatiannya.

”Perintah diterima oleh Sierra7 untuk meledakkan pesawat EX-303 dari Cusco yang mengangkut Nicholas Xavier. Perintah dijalankan Sierra7. Tim Lima11 meninjau lokasi dan melaporkan pesawat sudah habis terbakar. Kotak hitam berhasil diambil.”

Fay tercenung. Kenapa ada perbedaan informasi di antara keduanya?

Ia mendesah, lalu membiarkan pikirannya menerawang. Banyak fakta yang berserakan.

Orangtuanya naik pesawat dari Cusco sebelum akhirnya pesawat jatuh di Amazon, di hari yang sama dengan pesawat yang dinaiki Nicholas Xavier... Apakah mereka menaiki pesawat yang sama?

Ia sendiri pernah mencuri barang dari brankas ruang  kerja  Nicholas Xavier...

Barney dan Andrew jelas punya kepentingan dengan pria bernama Nicholas Xavier...

Dari berkas yang ia foto di ruang kerja Barney, terkesan seolaholah Barney yang memberi perintah penembakan pesawat, namun akhirnya pesawat itu diledakkan entah oleh siapa dan jatuh di Amazon... Sementara dari berkas yang ia foto di ruang kerja Andrew, perintah itu seolah-olah berhasil dijalankan oleh anak buah Barney... Dua informasi berbeda di dua berkas—salah satu berkas itu  pasti salah, tapi yang mana?

Barney-kah yang meledakkan pesawat itu? Atau pihak lain? Atau Andrew? Fay menarik napas panjang dengan satu rasa perih di dada. Tidak, ia tidak mau memikirkannya sekarang. Fakta di tangannya tidak cukup untuk menarik kesimpulan itu. Juga, terlalu menyakitkan untuk berandai-andai bahwa orangtuanya ada di pesawat itu, dan bahwa pamannya, yang selama ini telah melindunginya dan bersikap bak pengganti ayahnya, bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat itu.

Saat ini ia punya hari-hari panjang di depan, yang harus ia lalui dengan mencurahkan segenap jiwa, raga, dan pikirannya,  bila  ia ingin melaluinya dengan selamat—seorang agen biasa punya dua kali kesempatan untuk melalui Pelatihan Dasar, tapi penyandang nama McGallaghan hanya punya satu kesempatan. Bila gagal, ia akan dihabisi—aturan yang tertera dalam The Code, yang tak bisa diganggu gugat.

Fay menutup sekaligus menghapus gambar-gambar, kemudian menyimpan teleponnya. Ia melihat ke luar, memperhatikan bangunan-bangunan yang tampak muram karena mulai menyambut musim dingin, dan menatap langit yang berwarna kelabu.

Terdengar suara Lucas.

”Mademoiselle,  apakah  ada  barang  lain  yang  ingin  Anda  bawa? Kita akan melewati area kastil lagi, jadi ini kesempatan terakhir bila Anda ingin mengambil sesuatu. Masih ada waktu...”

Fay tersentak ketika tubuhnya bagai tersengat arus listrik. ”Iya, kita kembali dulu ke kastil... ada yang tertinggal,” jawabnya buru-buru.

***

Andrew melihat map kuning berlabel ”Nicholas Xavier” yang ada di meja. Posisi map itu masih sama, namun serpihan kecil bubuk pensil yang tadi sengaja ia letakkan di atas map kini sudah tergeletak di permukaan meja, tak jauh dari berkas.

Seperti yang telah ia duga.

Dua minggu lalu, saat Operasi Lexus dijalankan, sebuah peringatan  muncul  dan  berkedap-kedip  di  layarnya,  berjudul  ”Information Alert—BLACK”. Saat itu dahinya langsung berkerut melihat nama Fay Regina McGallaghan sebagai subjek yang dianggap melakukan pencarian ilegal, menggunakan nama Nicholas Xavier sebagai kata kunci pencarian.

Semua informasi yang dikategorikan sensitif di COU diberi kata kunci, yang akan menjadi penanda informasi tersebut. Komputer  utama di COU, yang terhubung baik secara resmi  maupun  tidak  resmi dengan berbagai badan pemerintah di seluruh dunia, akan melacak siapa saja yang menggunakan kata-kata kunci tersebut dalam pencarian mereka. Prinsip yang dipakai di COU sama dengan yang digunakan oleh negara-negara maju untuk mencari dan menandai orang-orang yang dianggap memiliki potensi sebagai kontak dengan sel teroris.

Di COU sendiri, orang-orang yang menggunakan kata-kata kunci tersebut dibagi dalam tiga kategori: general, marked, dan close. General atau umum adalah kategori untuk orang-orang di luar sana yang tak punya kaitan dengan keluarga McGallaghan—pencarian informasi oleh golongan ini secara umum diartikan bahwa mereka memiliki kepentingan pribadi atas informasi tersebut, namun tidak terkait dengan keluarga McGallaghan. Kategori marked atau ditandai adalah untuk orang-orang yang mengenal keluarga  McGallaghan,  atau siapa pun yang dianggap punya potensi untuk mengaitkan informasi tersebut dengan keluarga McGallaghan—contohnya adalah para sahabat keluarga, rekan bisnis, parner kerja, pegawai Llamar Corp, dan para jurnalis. Kategori close atau dekat adalah untuk orang-orang dekat, seperti agen-agen yang bekerja di COU, anggota keluarga, atau pegawai-pegawai yang bekerja di kastil McGallaghan. Untuk kategori terakhir inilah diberikan kode ”BLACK”.

Andrew langsung meminta sepupunya, James Priscott, untuk mengawasi komunikasi Fay secara lebih rinci, termasuk membuat transkrip semua percakapan lisan.

James menanggapi permintaannya dengan cemas, ”Sebenarnya, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, bukan? Bisa jadi Fay hanya mendengar nama itu dan melakukan pencarian sekadar memuaskan rasa ingin tahunya?” Andrew pun menjawab dengan nada tak sabar,  ”Bukankah  itu bisa kita ketahui dengan pasti setelah melakukan pengawasan lebih  lekat selama beberapa waktu?”

Sejak itu, ia menerima laporan secara harian, dan pengamatan sejauh ini tidak menunjukkan indikasi mencurigakan.

Andrew mengambil telepon genggamnya, lalu menghubungi  James, dan langsung berbicara.

”James, hentikan pengawasan melekat terhadap komunikasi Fay. Kembalikan statusnya ke hijau dan lakukan monitoring bulanan seperti biasa.”

”Baik, akan kulakukan segera,” ucap James, tanpa menyembunyikan kelegaannya. Ia bertanya, ”Apakah kau memberikan perintah ini karena memang tidak ada yang perlu dicurigai, atau karena Fay akan berangkat untuk latihan intensif sebentar lagi?”

”Tidak masalah, bukan? Yang jelas, kau bisa tidur nyenyak malam ini...”

”Ah... Andrew... itu sama sekali tidak ada hubungannya.”

Andrew tersenyum sedikit mendengar nada suara James. Ia bahkan bisa membayangkan wajah James yang semringah. ”James, semua bisa melihat bagaimana kau menyukainya dan selalu berpihak padanya. Aku rasa kau sangat menyesal karena dia tidak masuk bagian non-ops dan menjadi anak asuhmu.”

”Yah... dia sangat baik dan penurut. Dia juga ramah dan selalu sopan. Kalau saja IQ-nya di atas 150,  walaupun  tidak  sampai  ke 160, aku berani membuat pengecualian baginya dan memasukkannya ke non-ops.”

Andrew menanggapi dengan seulas senyum. ”Kelihatannya aku jadi pihak yang diuntungkan kali ini. I’ll  talk  to  you  later, James.”

Telepon ditutup.

Andrew mengeluarkan isi berkas, kemudian memasukkan dokumen selembar demi selembar ke mesin penghancur kertas. Berkas ini sudah menjalankan fungsinya dan sekarang tidak diperlukan lagi.

Seseorang tidak bisa terlalu hati-hati. Walaupun komunikasi  Fay  tidak menunjukkan indikasi mencurigakan, Andrew telah meminta analisnya untuk membuat salinan sebuah dokumen yang diambil dari ruang kerja Bruce Redland, namun dengan sedikit modifikasi.

Ia tahu Fay tadi mengambil dokumen ini dan membacanya. Berarti keponakannya itu telah memperoleh informasi yang ia atur untuk diketahui gadis itu. Dan itu artinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Andrew memasukkan lembar terakhir, memperhatikan bagaimana kertas berubah menjadi serpihan-serpihan kecil.

Hubungan Fay dengan pemuda bernama Enrique itu telah berakhir—ia yang memerintahkan Bobby untuk meminta Fay memutuskan hubungan, disertai instruksi bahwa Fay tidak boleh tahu bahwa instruksi itu datang darinya. Fay akan segera disibukkan dengan pelatihan, dan tak ada lagi benang merah yang bisa menghubungkan keponakannya itu dengan Bruce Redland atau Nicholas Xavier.

Sekarang, semua berakhir sempurna.

***

Dua puluh menit kemudian, mobil yang dibawa  Lucas  sudah  kembali ke jalurnya menuju rumah latihan setelah sebelumnya berbelok ke kastil.

Fay menyandar dengan perasaan lebih lega di dalam mobil.

Ia tidak peduli apakah bisa membanggakan pamannya atau  tidak. Ia hanya tahu bahwa ia harus menyiapkan dirinya untuk menjalani hari-hari berat di depan. Dan ia akan berusaha menjadi yang terbaik, bukan karena pamannya atau Bobby menginginkannya, tapi karena itu adalah hal yang harus ia lakukan sekarang.    Ia perlu menjadi yang terbaik, untuk mengetahui apa maksud paragraf yang ia baca, dan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orangtuanya.

Ia ingat sajadahnya yang kini sudah berada di koper—ia tidak tahu apakah Tuhan memaafkannya atau tidak, tapi ia tahu Tuhan selama ini tidak pernah mengecewakannya dan selalu berada  di  sisinya di saat ia membutuhkan bantuan-Nya, baik ia sadari maupun tidak.

Semoga Tuhan kembali berkenan mencampuri urusannya, dan  selalu menyertainya dalam balutan kasih dan sayang.

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊