menu

Trace of Love Bab 14: Goresan Luka

Mode Malam
Goresan Luka

”DATA  yang  ada  di  komputer  target  sudah  diambil,  dan  target sudah dinetralkan,” lapor Raymond pada Andrew.

”Tak ada hambatan saat agen keluar dari lokasi?”

”No problem at all. Kent keluar begitu paket diserahterimakan kepada Russel. Reno dan Russel keluar terakhir bersama rombongan katering. Russel akan kembali ke Paris pagi ini setelah debrifing dengan Bobby. Reno akan stand by di Jenewa bersama Bobby hingga Fay meninggalkan lokasi dan kembali ke Paris. Sumber Bobby sudah memberi konfirmasi bahwa Bruce akan dimakamkan hari ini dan Fay beserta Enrique dan Beatrize akan kembali nanti malam,” jawab Raymond.

”Perfect,”  ucap  Andrew.  ”Bagaimana  dengan  Elliot?  Dia  sudah datang ke kantor? Aku mendengar jam bekernya berdering cukup lama tadi pagi di rumah.”

”Dia sudah di sini. Pagi-pagi sekali aku menelepon dan membangunkannya juga untuk memastikan.”

Andrew tersenyum singkat.

Raymond menatap Andrew sejenak, kemudian kembali berbicara, ”Aku tahu adalah wewenangmu untuk memutuskan tujuan sebuah operasi, dan operasi sudah dijalankan. Tapi aku harus bertanya... Apakah kita benar-benar perlu menghabisi target dalam kasus ini?” Andrew menangkupkan kedua tangannya di atas meja, kemudian menjawab. ”Aku punya kebijakan untuk menyingkirkan musuh-musuh yang keberadaannya bisa mengancam keluarga ini. Kita punya banyak kompetitor, tapi tidak semuanya musuh. Para kompetitor  bisnis biasa hanya akan menangisi kerugian mereka, tapi seorang musuh akan melakukan tindakan pembalasan. Adalah tugasku untuk mengenali perbedaan di antara keduanya, dan Bruce Redland kukategorikan sebagai yang terakhir.”

”Kalau semua operasi berakhir dengan kematian target, cepat atau lambat benang merah antara semua insiden yang terjadi akan terlihat.”

”Bukankah tugasmu untuk memastikan hal itu tidak terjadi?” ”Benar sekali!” jawab Raymond dengan intonasi penuh tekanan.

”Itu sebabnya target dinetralkan tidak dengan menyarangkan peluru ke kepalanya, tapi melalui serangkaian proses rumit yang dirancang dengan cermat. Supaya kematian target diidentifikasi sebagai stroke, target disuntik dengan stimulan yang tak akan terdeteksi di darah karena sifat cairan yang tak stabil. Dan, karena  sifat  itu  jugalah, maka cairan harus dicampur di lokasi karena hanya bisa bertahan selama setengah jam sebagai senyawa sebelum kembali terurai menjadi unsur pembentuk. Setiap langkah operasi... mulai dari penyusup   an agen, pengiriman paket, hingga pencampuran bahan... disusun  demi memastikan bahwa kematian target tidak diidentifikasi sebagai pembunuhan.” Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, ”Sebagai Chief Ops, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk memastikan operasi yang telah kauputuskan akan berjalan sempurna di bawah komando operasiku. Aku hanya ingin memastikan, bahwa sebagai Direktur kau sadar apa yang kauputuskan.”

”Tentu saja aku tahu apa yang aku putuskan, tapi bukan wewenangmu untuk memastikan hal itu!” Andrew menanggapi dengan tajam. ”Kau tentunya belum lupa bahwa keputusanku atas operasi berlaku mutlak dengan konsekuensi yang sudah diperhitungkan. Ada lagi yang perlu kaulaporkan?”

Raymond  berdiri.  ”No,  that’s  all,”  ucapnya,  kemudian  beranjak pergi. Telepon genggam Andrew berbunyi, dari asisten pribadinya, George.

”Yes, George?”

”Sir,  pesawat  yang  akan  membawa  Anda  ke  Jenewa  sudah  siap. Mobil sudah dikirim ke bandara untuk Anda kendarai selama di Jenewa.”

”Thank  you,  George.  I’ll  be  on  my  way.”

***

Fay membalik-balik selimut, membuka laci meja, menyisir kamar mandi, melongok ke kolong tempat tidur. Tidak ada.

Ia akhirnya terduduk di tempat tidur sambil berpikir  keras.  Di mana telepon genggamnya?

Mantel tidur!

Ia langsung berdiri dan memeriksa kantong mantel. Tak ada juga. Kegelisahan perlahan-lahan muncul dan jantungnya mulai ber-

debar.  Apakah telepon genggamnya terjatuh di ruang kerja Barney?  Di lemari? Mati!

Terdengar suara ketukan di pintu. ”Fay? Kita harus pergi sekarang.” Fay membuka pintu. Tadi pagi Enrique sudah memberitahunya bahwa jenazah Barney akan tiba di rumah duka pagi ini. Sekarang mereka akan pergi menemui pengacara Barney, setelah itu langsung ke rumah duka. Barney akan dimakamkan sore ini juga, dan nanti malam Fay akan pulang ke Paris bersama Tia Bea dan Enrique meng-

gunakan jet pribadi Barney. Mendiang Barney.

Sulit rasanya untuk percaya pria yang kemarin tersenyum bahagia  di altar sama dengan pria yang tergolek di lantai semalam, dan sekarang pria itu hanya tinggal kenangan. Kematian bisa merenggut kapan saja—dan kali ini tangannya ikut andil di dalamnya.

”Mamamu sudah turun?” tanya Fay sambil menutup pintu. Mata Enrique tampak lebih sipit, dengan kantong mata yang berwarna lebih gelap.

”Belum.  Aku  akan  menjemput  Mama  di  kamarnya  sekarang.” Enrique memperhatikan Fay sejenak. ”Kamu tampak pucat.” Ia mengelus pipi Fay. ”Aku minta maaf telah menempatkanmu dalam situasi seperti ini.”

Fay menggeleng dengan dada terasa seperti ditusuk. ”Jangan. Aku ikut  berduka  atas  apa  yang  terjadi,”  ucapnya  dengan  air  mata  berkumpul begitu saja di sudut-sudut matanya. Apa yang harus ia katakan pada Enrique, bahwa benda berbentuk tabung logam yang membunuh Barney berasal dari kopernya? Dan ia tahu siapa yang membunuh Barney, tapi tidak mengatakannya karena ia juga bagian dari organisasi yang sama dengan pria pembunuh Barney itu?

Enrique menyeka air mata Fay, kemudian  memeluk  gadis  itu. Dada yang terasa sesak akhirnya meledak dalam sebuah tangis,

dan  Fay  pun  terisak  dalam  pelukan  erat  Enrique.  ”I’m  so  sorry...,” ucapnya begitu saja. Enrique pasti tak mengerti kenapa ia meminta maaf, tapi ia harus minta maaf.

Enrique menyeka air mata Fay. ”Aku juga kehilangan Barney. Tapi kita berdua harus kuat, demi mamaku. Dia benar-benar terpukul.” Ucapan itu kembali terasa menggigit dalam dada, dan air mata

Fay kembali mengalir. Ia buru-buru menyeka air matanya.

”Aku jemput Mama dulu ke atas. Kamu tunggu saja di depan.” Fay melihat Enrique berlalu dari hadapannya dengan perasaan tertekan. Ia baru saja melangkah ke pintu depan ketika tiba-tiba teringat lagi dengan keberadaan telepon genggamnya. Ia melangkah ke ujung koridor dan melihat pintu ruang kerja Barney, yang belum ditutup lagi sejak semalam. Ia melihat ke arah tangga—belum terdengar suara Enrique dan Tia Bea. Jantungnya langsung berdebar

kencang. Apakah ia harus masuk ke ruang kerja Barney sekarang?

Tak ada waktu lagi, harus sekarang!

Kakinya melangkah cepat ke ruang kerja Barney. Ia langsung mengarah ke lemari dan membuka pintu lemari—hanya ada jas dan sepatu. Ia menutup lemari dengan perasaan sedikit lega karena tidak melihat teleponnya, tapi juga cemas karena tak tahu lagi harus mencari ke mana. Ia berbalik, dan langsung terlompat dengan jantung seakan berhenti ketika melihat Tom ada di hadapannya.

”Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Tom.

”Kamu mengagetkan saya,” ucap Fay berusaha menjawab sealami mungkin sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang betulan. ”Saya mencari telepon genggam ke mana-mana, tapi belum ketemu. Kemarin saya dan Enrique masuk ke sini untuk meletakkan kado, jadi saya pikir mungkin ada di sini.” Ia mencoba mengatur napasnya yang berantakan tanpa kentara  sambil  menyapukan  pandangannya  ke sekeliling ruangan, seperti sedang mencari-cari.

”Ini yang kamu cari?” tanya Tom sambil mengulurkan tangannya yang memegang telepon genggam.

Fay merasa perutnya menegang, sadar bahwa Tom memperhatikannya lekat. Ia mengangguk sambil mengambil teleponnya. ”Yes, thank you,”  ucapnya  sedikit  gugup.  Ia  ingin  bertanya  di  mana  Tom  menemukan teleponnya, tapi tak punya keberanian.

Tom tersenyum. ”Lain kali kamu harus lebih hati-hati.”

Fay memaksakan seulas senyum tipis di wajahnya. ”I will,” ucapnya dengan kelegaan yang sudah menggantung ingin dilepaskan, kemudian bergegas pergi dari hadapan Tom.

***

Elliot Phearson tak bisa menahan kantuknya lagi dan menguap lebarlebar. Ia melihat Raymond meliriknya tajam, maka ia langsung menegakkan tubuh sambil menggumamkan maaf pelan. Mau bagaimana lagi, ia mengantuk sekali setelah begadang semalam. Hari ini ia pun diminta bersiaga sejak pagi-pagi buta tadi di ruang komando.

Ia menatap dua monitor komputer di hadapannya tanpa minat. Satu monitor menampilkan gambar kediaman Bruce Redland, dan monitor lain menampakkan Aplikasi Pergerakan yang memantau posisi para agen yang masih berada di Jenewa.

Sama sekali tak ada yang menarik di kediaman Bruce Redland pagi ini. Barusan limusin yang membawa pacar Fay dan ibunya keluar dari lokasi. Tak lama kemudian, mobil lain yang ditumpangi Fay menyusul keluar lokasi, dikemudikan oleh seorang pria bernama Tom. Andaikan ia harus mengikuti pergerakan mobil-mobil yang keluar dari lokasi, mungkin hidupnya bisa lebih menarik, tapi perintahnya hanyalah memantau orang dan kendaraan yang masuk dan keluar dari lokasi. Membosankan sekali—mungkin setara dengan pelajaran di sekolah umum yang terakhir ia ikuti bertahun-tahun lalu.

Elliot melirik Raymond, yang berdiri tak jauh di  sebelahnya.  Kalau saja Raymond tidak bisa melihat tampilan di layar komputernya ini, ia mungkin akan mengganti koordinat yang  dipantau  satelit dengan area pantai atau kolam renang. Setidaknya ia bisa menyaksikan remaja cantik seusianya berenang mengenakan bikini.

Pikiran itu membuat Elliot cekikikan, tapi ia langsung mengatupkan mulutnya ketika Raymond menoleh ke arahnya. Tatapan Elliot beralih ke layar sebelahnya, yang juga tak kalah membosankan. Saat ini dua titik berada di safe house—pasti Bobby dan Reno. Satu titik bergerak dari bandara ke arah kota—pasti pamannya, Andrew  McGallaghan, yang pagi ini ke Jenewa entah untuk urusan  apa.  Satu titik berada di sebuah hotel di pusat kota—seorang agen bernama Janet, namun tidak terlibat di Operasi Lexus. Dan satu titik di kediaman Bruce Redland—pasti Fay.

Elliot kembali menguap, kali ini sambil menutupinya dengan punggung tangan, namun langsung tersentak dengan tubuh tegak sambil  menatap  titik  di  kediaman  Bruce  Redland.  ”Paman  Ray...,” panggilnya gugup.

”Kamu di kantor!” tegas Raymond menanggapi.

”M...  maaf,  Sir,”  ucap  Elliot,  lebih  gugup  lagi.  Ia  membetulkan kacamatanya yang melorot.

”Ada apa?” tanya Raymond sambil menghampiri Elliot.

”Tadi Fay sudah meninggalkan lokasi dengan mobil Tom Goodman, tapi saya lihat di Aplikasi Pergerakan, posisinya masih di kediaman Bruce   Redland.”   Elliot   menampilkan   rentetan   gambar   yang menunjukkan Fay masuk ke mobil Tom dan pergi meninggalkan lokasi, tak jauh di belakang limusin yang membawa Enrique dan ibunya. Di layar sebelah, titik di kediaman Bruce Redland tidak bergerak.

Raymond mengamati sebentar, kemudian berkata, ”Sambungkan saya dengan Bobby.”

Tangan Elliot bergerak cepat, dan tak lama kemudian wajah Bobby Tjan muncul di layar virtual.

Raymond berbicara, ”Pemancar di telepon genggam Fay menunjukkan bahwa Fay berada di kediaman Bruce, padahal gambar satelit menunjukkan dia meninggalkan lokasi bersama Tom. Apakah  kau bisa memastikan di mana Fay sekarang?”

”Aku akan mengirim Reno untuk masuk ke lokasi dan memastikan.”

Setelah sambungan dimatikan, Raymond berkata pada Elliot, ”Mungkin bukan masalah besar... bisa jadi telepon Fay tertinggal. Tapi, lebih baik bila kita tahu dengan pasti, bukan begitu?”

Elliot mengangguk kemudian memperhatikan layar dengan gelisah, menunggu satu titik bergerak dari safe house menuju kediaman Bruce Redland. Mudah-mudahan Paman Ray benar... Tak ada masalah apa pun dan telepon Fay hanya tertinggal. Karena bila tidak, Fay mungkin akan terlibat masalah... masalah besar.

***

Reno tiba di gerbang kediaman Bruce dengan van berlogo perusahaan penyedia jasa pembersihan kolam renang yang kemarin dipakai oleh Kent. Ia turun dari mobil dan menghampiri pos penjaga.

Penjaga yang mengenakan headset menyambut di balik pagar. ”Seharusnya tidak ada jadwal pembersihan kolam hari ini,” ucapnya. Tak jelas apakah pernyataannya itu hanya penegasan, keberatan, atau gerutuan.

Reno berkata, ”Kantor saya sudah menelepon dan menjelaskan, bukan? Sekali lagi, atas nama kantor saya minta maaf karena telah merepotkan. Kemarin ada kesalahan teknis... bahan kimia pembersih yang dituang ke kolam komposisinya kurang tepat. Bisa-bisa nanti malah dinding kolam berlumut.”

Penjaga itu memeriksa kartu pengenal Reno dan memperhatikan Reno sejenak, kemudian berkata, ”Kamu bukan petugas yang kemarin.”

”Dia sudah dipecat!” seru Reno berapi-api. ”Kantor saya punya level servis yang sangat memuaskan sejauh ini dan pegawai baru itu benar-benar mengacau!”

Penjaga mengangguk, memberi tanda pada Reno untuk masuk. ”Bawa mobilmu masuk untuk diperiksa.” Reno melompat naik ke mobilnya, kemudian berkendara  memajukan mobilnya lewat gerbang, dan kembali turun. Seorang penjaga menggeledah tubuhnya, dan tiga penjaga lain menggeledah mobilnya. Setiap senti mobil diperiksa, hingga ke mesin, balik roda, dan kolong  mobil.

Tujuh menit kemudian Reno naik kembali ke mobil setelah penjaga memberi tanda. Ia memarkir mobil, kemudian masuk lewat pintu samping, menuju kolam renang. Tiba di kolam, ia memasang tanda bahwa kolam sedang dibersihkan, serta menurunkan beberapa kaleng dan menyusunnya di pinggir kolam.

Setelah itu ia mengelilingi rumah sambil memegang telepon genggamnya untuk mencari koordinat yang diberikan Bobby—posisi telepon genggam Fay berdasarkan pemancar yang ditanam dalam telepon. Bila telepon genggam Fay memang tertinggal, maka semua mungkin baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Reno melihat indikator di telepon genggamnya. Hampir sampai. Ia bergeser perlahan-lahan, dan kakinya berhenti di depan sebuah tempat sampah di luar ruang kerja Bruce Redland. Ia mengintip ke dalam tempat sampah, kemudian mengumpat ketika melihat benda hitam bulat yang ia kenali di tempat sampah.

Ia langsung menghubungi Bobby.

”Saya menemukan pemancar yang sudah dilepas di tempat sampah. Bisa dipastikan Fay dalam masalah...”

Jeda sejenak. Bobby terdiam sebelum berkata, ”Stand-by di lokasi. Saya akan segera menghubungimu lagi dengan instruksi lebih lanjut.” Reno menutup telepon sambil menghela napas dan berpikir.

Where are you, l’il sis?

***

”Jadi, bagaimana kamu bisa kenal dengan Enrique?” tanya Tom di mobil yang ia kemudikan.

Fay melirik Tom dan melihat bibir pria itu seperti tersenyum ramah. Ia tidak bisa membaca raut wajah Tom secara utuh karena pria itu mengenakan kacamata hitam. ”Kami berkenalan beberapa bulan lalu. Saya sedang duduk di kafe, dan Enrique tiba-tiba saja berdiri di depan saya, minta tolong supaya diizinkan duduk di meja yang sama karena perutnya sudah kelaparan dan semua tempat duduk terisi penuh. Jadilah kami kenalan dan mengobrol,” terangnya panjang lebar.

”Oh... jadi dia yang mengajakmu berkenalan lebih dulu ya,” ucap Tom.

”Iya,”  ujar  Fay  sambil  mendelik  ke  arah  Tom—pernyataan  Tom menyiratkan bahwa pria itu awalnya menyangka ia yang mendekati Enrique terlebih dahulu.

Fay mengubah posisi kakinya dengan perasaan tak nyaman.

Di perempatan jalan, mobil berhenti di belakang limusin yang membawa Enrique dan Tia Bea.

Fay memperhatikan limusin yang ada di depannya dengan rasa sesal—kenapa ia tadi tidak sedikit memaksa untuk ikut naik ke limusin, dan menyerah begitu saja ketika Tom memintanya untuk ikut mobilnya? Tapi, bagaimana ia bisa menolak Tom bila alasan yang dipakai sangat masuk akal, bahwa ia tidak punya kepentingan untuk berada di kantor pengacara Barney dan masalah yang akan didiskusikan bersifat pribadi?

Enrique awalnya terlihat keberatan dengan usul Tom, tapi Tom memberi alasan yang lebih jitu lagi, ”Kasihan Fay bila dia harus menunggu di luar sendirian sementara kamu dan ibumu berdiskusi dengan tim pengacara. Saya akan mengantarnya ke rumah duka dan menemaninya di sana.”

Fay menghela napas tanpa kentara. Mungkin penyesalan dan rasa bersalah yang sedemikian besar atas kepergian Barney telah membuatnya tidak bisa lagi berpikir jernih dan kehilangan tenaga untuk menyuarakan pendapat.

Lampu berubah hijau. Limusin maju. Mobil Tom berbelok ke kiri. Fay mengeluarkan telepon genggam yang ada di tas tangan, berniat untuk mengirim pesan pada Enrique. Setidaknya itu bisa menenang-

kannya.

Layar terbuka—tidak ada sinyal. Dahinya berkerut sedikit. Mana mungkin tak ada sinyal... Apakah kartu SIM-nya bergeser dan tak terbaca?

Tom sepertinya melihat raut wajah Fay, karena ia bertanya, ”Ada apa?”

Fay menggeleng sambil menatap teleponnya. ”Tidak ada sinyal...

Saya ingin mengirim pesan ke Enrique.”

”Kamu bisa memakai telepon genggam saya nanti.”

”Thanks...”  Fay  memasukkan  telepon  genggamnya  lagi  ke  tas dengan perasaan sedikit tak nyaman.

Setelah beberapa waktu berkendara, mereka tiba di depan gerbang sebuah rumah dua tingkat yang berhalaman rumput yang luas.

”Kenapa kita ke sini? Apakah ini rumah dukanya?” tanya Fay. Ia memperhatikan rumah itu dan langsung yakin itu bukan rumah duka yang seharusnya jadi tujuannya.

”Kita mampir sebentar... saya perlu mengambil sesuatu.”

Tom membuka telepon genggamnya lalu memasukkan kode, dan gerbang pun terbuka. Mobil masuk perlahan di jalan berkerikil, kemudian berhenti di depan pintu masuk.

Fay turun dari mobil, mengikuti pria itu berjalan melewati ruang tamu, lalu masuk ke satu ruangan yang tampak seperti ruang kerja merangkap perpustakaan.

Tom mengeluarkan telepon genggamnya, kemudian  menyodorkannya pada Fay. ”Kamu jadi ingin menggunakan telepon genggam saya?”

Fay mengangguk dan mengulurkan tangan untuk menerima telepon dari Tom, namun mengangkat alis sedikit ketika Tom kembali menarik tangannya yang memegang telepon genggam itu. Raut wajah Tom menyiratkan seakan dia baru teringat sesuatu.

”Oh, ya... Satu pertanyaan sebelum kamu memakai telepon genggam saya... Bagaimana caranya hingga isi berkas yang hilang dari meja Bruce bisa ada di telepon genggammu?”

Napas Fay serasa berhenti.

Tom memasukkan telepon genggamnya ke saku, kemudian mendorong Fay ke arah kursi. ”Duduk!” Fay terduduk di kursi sambil menatap Tom dengan jantung berdebar kencang.

Tom berjalan ke belakang Fay, kemudian  menyatukan  kedua  tangan Fay serta mengikatnya dengan tali. Ia lalu kembali berdiri di hadapan Fay.

”Ada beberapa hal yang harus kita luruskan bersama. Semalaman saya mencoba memikirkan penjelasan yang masuk akal hingga isi berkas itu ada di teleponmu, namun sayangnya tidak ada. Saya punya firasat kamu bukan gadis baik-baik seperti yang dikira semua orang... dan saya ingin sekali tahu apa pendapat Enrique tentang ini.”

Fay merasa udara di sekitarnya menipis dan ia kesulitan bernapas. Tubuhnya mendadak lemas. Yang muncul di benaknya bukanlah apa yang akan dilakukan Tom, tapi reaksi Enrique bila dia tahu. Fay bisa membayangkan bagaimana sorot mata Enrique yang tulus dan penyayang berubah menjadi penuh kemarahan. Enrique pasti akan meninggalkannya! Tak hanya itu, bahkan pacarnya itu bisa-bisa membencinya... Tidak, ia tak sanggup bila lagi-lagi harus merasakan kehilangan seseorang yang selama ini telah menyiraminya dengan cinta.

”Jangan khawatir, saya tidak pernah bertindak bila masih diliputi keraguan. Jadi, saya hanya akan memberitahu Enrique setelah berhasil memaksamu bicara. Dan saya percaya, tak akan butuh waktu lama...”

Bayangan tentang Enrique menghilang dari benak Fay, digantikan kepanikan dan ketakutan yang bergulungan bagai ombak yang pecah bergantian menghantam tebing di pantai. Fay mendadak teringat telepon genggam yang masih ada di tasnya, dan harapannya sesaat bangkit.

Tom tersenyum singkat, lalu mengeluarkan senjata api dari balik  jas. Ia lalu mendorong dagu Fay ke atas dengan moncong senjata.

Terdengar bunyi klik tanda senjata dikokang.

Fay mendongak dengan napas tersengal. Tubuhnya menegang dan lengannya yang terikat terasa kaku. Ia menelan ludah dengan susah  payah. Terbayang kembali kejadian-kejadian penuh kekerasan menyakitkan yang pernah singgah dalam hidupnya. Apa lagi yang akan terjadi sekarang? Berapa lama ia akan menanggungnya sampai pertolongan datang?

Tom mendekatkan wajahnya ke wajah Fay sambil menatapnya lekat, lalu berkata, ”Saya masih melihat binar harapan di kedua matamu. Bila harapan itu terkait dengan pemancar tersembunyi yang ditanam di teleponmu, maka saya akan memberitahumu bahwa pemancar itu sudah saya buang semalam.”

Detik itu juga Fay merasa tubuhnya kehilangan tenaga. Harapannya akan sebuah keajaiban dalam bentuk pertolongan langsung pupus. Udara terasa sangat berat untuk ditarik ke dalam dadanya.

Tom menurunkan senjata, melepas kokangannya, lalu menyimpannya di balik jas. Ia membuka jas dan melemparnya ke bangku, kemudian menggulung lengan bajunya hingga siku sambil berkata lamat-lamat, ”Kelihatannya tak ada yang bisa menolongmu sekarang...” 

Fay mengalihkan pandangan dengan dada terasa sakit seperti ditusuk dan kepala berdenyut-denyut karena serangan rasa takut. Inikah hukuman dari Tuhan atas apa yang telah ia lakukan pada Barney?

Tom kelihatannya benar... tak ada yang bisa menolongnya sekarang...

***

Elliot berjalan mondar-mandir di kamar mandi dengan gugup. Tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia dalam kesulitan... kesulitan besar. Tidak, tidak hanya besar, tapi mega-kesulitan. Ia berhenti berjalan mondar-mandir, menatap bayangan dirinya sendiri   di cermin wastafel, lalu membetulkan kacamatanya yang melorot dengan tangan gemetar. Ia mencoba menyisir rambut dengan jari-jari kedua tangan, tapi rambutnya menolak dan tetap berdiri ke sana kemari dengan sudut berbeda-beda.

Ia harus memberitahu Raymond, tapi bagaimana ia menjelaskannya nanti? Bisa-bisa ia diseret ke Ruang Putih. Ia bahkan sudah gentar membayangkan kemungkinannya. Pintu kamar mandi terbuka dan Kent masuk. Tatapannya jatuh pada Elliot, dan ia langsung bertanya dengan nada heran yang sangat kentara. ”Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Ia kemudian mencuci tangan sambil memperhatikan Elliot.

Kekacauan emosi yang sudah ditahan pun meledak, dan Elliot langsung bicara dengan nada tinggi tanpa jeda. ”Fay dalam kesulitan... Reno menemukan pemancarnya di tempat sampah, sudah  dilepas dari telepon... Satelit hanya memantau aktivitas masuk dan  keluar lokasi, tapi tidak mengikuti pergerakannya setelah keluar dari lokasi... Dan lokasinya berdasarkan sinyal telepon tidak bisa diketahui!” Ia berhenti sambil memegang kedua kepalanya dengan tubuh membungkuk ke depan. ”Aku bisa mati...”

Kent tertegun dan mematikan keran. ”Apa maksudmu? Jadi, Fay tertangkap? Oleh siapa? Apa yang terjadi?”

Elliot  kembali  mencerocos,  ”Tadi  aku  mencoba  menyusup  ke server Departemen Pertahanan Amerika karena semua rekamannya satelit ada di sana, jadi kita sebenarnya bisa memutar ulang rekamanan dan mengikuti arah mobil yang membawa Fay, tapi aku tidak berhasil menembus keamanannya... Sekarang mentorku sedang mencobanya lagi, tapi aku tidak tahu berhasil atau tidak... Dia mungkin akan berhasil. Iya... iya... Sue sangat hebat... Aku berdoa dia berhasil supaya semua baik-baik saja dan tidak ada yang perlu masuk ke Ruang Putih...”

”Sebentar!” potong Kent tak sabar. ”Siapa yang masuk Ruang Putih? Dan apa hubungannya? Dan kenapa kamu bertindak aneh begini?”

Elliot seperti tersadar dan langsung terdiam. Ia berdiri  dengan  kaku sambil menatap Kent, kemudian berusaha berbicara dengan intonasi datar, ”Siapa yang bersikap aneh? Memangnya aku tadi bilang apa? Ruang Putih apa?” Usahanya tidak berhasil karena pertanyaan retoris yang seharusnya berintonasi datar itu ternyata keluar dari mulutnya dengan suara bergetar.

Kent maju dengan wajah mengancam dan Elliot mundur teratur sambil membetulkan kacamatanya. Kent meraih kerah Elliot, lalu mendorong Elliot ke dinding hingga Elliot mengaduh. ”Aku sudah lama mengenalmu dan aku tahu arti ekspresimu  ini...  Ada  yang  kamu sembunyikan, ya? Apa? Dan apa hubungannya dengan kesulitan yang dialami Fay?” Ia menyentak kerah Elliot lagi, hingga Elliot mengaduh.

Elliot menelan ludah sambil membetulkan kacamatanya yang melorot, kemudian berkata dengan suara berbisik, ”Fay pergi ikut mobil Tom dan tak ada yang tahu di mana lokasi Fay... kecuali aku...”

Kent merasa kemarahannya berkumpul dan satu tangannya langsung mengepal di depan wajah Elliot, siap memukulnya. ”Kenapa bisa begitu? Dan kenapa tidak kamu beritahu  langsung  ke  Chief  Ops? Kamu minta kuhajar sekarang, ya? Kalau sampai terjadi sesuatu pada Fay, aku akan memastikan kamu dihabisi!”

Elliot ketakutan. Ia mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri sambil berkata dengan gugup, ”Ingat hadiah ulang  tahun untuk Fay...?”

Dahi Kent berkerut. ”Iya, kenapa memangnya?” Ia memang meminta bantuan Elliot untuk memodifikasi dua liontinnya—tidak gratis, si geek satu ini meminta bayaran yang mahal untuk jasanya itu.

Elliot menelan ludah. ”Aku... mm... memakai satu liontin lain di gelang itu untuk uji cobaku sendiri.”

”Uji coba apa?”

Elliot menarik napas, kemudian menjawab dengan suara seperti tercekik, ”Pelacak mikrokapsul. Aku mengambil beberapa sampel dari laboratorium pengujian dan meletakkannya di dalam  liontin  Fay  yang berbentuk bola. Satelit bisa menangkap posisinya asalkan ID pelacaknya dimasukkan... sudah kulakukan.”

Kent menurunkan tangannya yang terkepal dan melepas cengkeramannya ke kerah Elliot. ”Tak pakai otak! Kamu bisa dikenai pasal pengkhianatan karena menyelundupkan teknologi yang sedang dikembangkan ke luar kantor.”

”Itulah...,” ucap Elliot memelas. ”Lantas, aku harus bagaimana?” ”Reno masih di sana?” tanya Kent cepat.

”Iya, dia diminta tinggal di rumah Bruce untuk berjaga-jaga sambil mencari informasi bila bisa.” Kent terdiam sejenak, kemudian menelepon Reno dan menyalakan

speaker.

Terdengar suara Reno. ”Kent? Ada apa?”

”Aku punya posisi Fay. Jangan tanya bagaimana caranya. Paman tidak boleh tahu, atau Elliot bisa... yah, mampus.””

Jeda sebentar sebelum Reno berkata, ”Elliot, kamu bilang?” ”Iya.”

Reno berdecak, kemudian berkata, ”Kirim koordinatnya ke aku sekarang serta cara tercepat mencapainya dari sini.”

Tangan Elliot bergerak cepat, mengirim koordinat yang dimaksud sambil berbicara, ”Koordinatnya sudah kukirim. Aku melihat dari satelit, itu sebuah rumah di pinggir danau. Sebentar, aku cari dulu alamat jalan dari koordinat tersebut.”

”Tidak perlu,” potong Reno.

Kent kembali bicara, ”Reno, Elliot tetap harus mengirim alamatnya ke kamu dan kamu harus memberitahu Bobby... Bilang saja kamu menemukan alamat ini di ruang kerja Bruce...” Sambungan terputus.

”Sial!” umpat Kent.

”Aku harus kembali ke ruang komando. Paman James dan Paman Ray nanti mencariku bila aku menghilang terlalu lama,” ucap Elliot buru-buru, lalu bergegas pergi.

Kent mencoba menghubungi Reno lagi, tapi tidak diangkat. Ia kembali ke wastafel, lalu membasuh wajahnya dengan air sambil berpikir.

Fay dalam bahaya dan ia tidak mungkin  hanya  mengandalkan Reno seorang.

Siapa yang bisa membantu Fay? Apa guna pacar brengseknya itu?

Andaikan ia yang ada di sisi Fay...

Kekesalan sontak merasuk dan merembet ke sekujur tubuh dan setiap senti keberadaannya, dan Kent pun menendang pintu salah satu bilik toilet dengan kemarahan menggumpal di kepala.

Bisa apa ia bila takdir punya kehendak berbeda!

Apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk gadis yang, sayangnya, masih juga ia cintai dengan segenap jiwa dan raga terlepas dari apa pun yang telah terjadi? ***

”Apa informasi yang bisa diperoleh sejauh ini? Apakah Sue berhasil menembus keamanan server dan mengambil rekaman data satelit selama setengah jam terakhir?” tanya Andrew pada Raymond yang tampil di layar di hadapannya. Pesawatnya belum lama mendarat di Jenewa ketika Bobby menelepon dan memberitahukan situasi terakhir. Ia langsung mengubah tujuan dan mengarah ke safe house tempat Bobby berada.

Raymond menjawab, ”Sue berhasil masuk, tapi hanya bisa mengambil data secara parsial. Dari rekaman gambar yang berhasil diperoleh, mobil Tom mengarah ke utara dan terakhir terlacak berada di jalan menuju Coppet.”

”Informasi itu tidak cukup!” tukas Andrew keras. ”Kita tak punya banyak waktu, Ray. Fay dalam kesulitan.”

”I know, Andrew,” ucap Raymond dengan intonasi penuh tekanan. ”Sayangnya, hanya itu yang kita punya sekarang. Para analis sudah menggali data, tapi tidak menemukan properti atas nama Tom Goodman. Aset Bruce Redland juga telah diperiksa—tak ada rumah lain di Jenewa selain yang sudah kita ketahui. Saat ini tak ada satu   pun informasi yang bisa memberikan indikasi tentang lokasi penyekapan Fay oleh Tom.”

”Kita melewatkan sesuatu...,” ucap Andrew tak sabar.

Bobby duduk di depan deretan layar komputer yang menampilkan berbagai data dan informasi, mulai dari foto-foto satelit hingga rekening bank Tom Goodman. Ia mengamati selama beberapa waktu, kemudian tubuhnya tiba-tiba tegak. ”Tunggu dulu...,” ucapnya.

”Ada apa?” tanya Andrew dan Raymond hampir berbarengan.

Bobby meletakkan dua gambar bersisian. ”Ini gambar satelit di dua waktu berbeda. Yang satu adalah real-time, sedangkan yang satu diambil tadi pagi. Tadi pagi sebuah speedboat ditambatkan di dermaga, tapi sekarang tidak ada.” Ia berhenti, kemudian menunjuk ke layar lain sambil berbicara, ”Dan Aplikasi Pergerakan menunjukkan bahwa Reno sekarang sedang bergerak ke tengah danau...” Terdengar suara Raymond. ”Sue, pantau pergerakan Reno lewat satelit, sekarang!”

***

Reno memarkir speedboat di dermaga sebuah rumah batu dua lantai, kemudian berdiri di balik sebuah pohon dan mengamati lokasi. Ia memeriksa koordinat di telepon genggamnya—benar. Ia berdecak ketika melihat satu missed call, dari Bobby—ia akan mengarang jawaban nanti. Sekarang ia harus segera menemukan Fay.

Ia mengumpat dalam hati ketika melihat area luas berumput yang harus ia lalui untuk tiba di teras belakang rumah. Satu-satunya jalan dengan risiko terkecil adalah merunduk di dekat pagar tanaman yang  membatasi rumah ini dengan rumah di sebelahnya—itu pun sama sekali tak membantu.

Tak ada pilihan lain...

Dengan pikiran itu, Reno bergerak ke arah pagar tanaman di sisi rumah, lalu merunduk dan lari mendekati pintu. Ia mengintip lewat jendela kaca dan melihat ruang duduk yang kosong. Ia mencoba memutar gagang pintu—dikunci. Ia bergerak ke satu pintu lain, menuju dapur—tak dikunci. Ia masuk tanpa bersuara, dan sambil melangkah melewati meja dapur tangannya menyambar satu pisau dapur dan memegangnya agak tersembunyi ke belakang tubuh.

Ia berjalan perlahan meninggalkan dapur ke arah koridor, dan terkesiap ketika sebuah bayangan melesat ke arahnya dari arah kiri. Refleks ia menggunakan tangannya untuk menangkis sekaligus mengayunkan tangannya yang memegang pisau. Penyerangnya menangkis serangan pisau itu sambil melompat mundur, tapi langsung me nunduk sambil menendang belakang lutut Reno.

Reno terjatuh ke depan dan langsung berguling ke samping sam bil melompat berdiri dengan waspada, tapi akhirnya berhenti dan menurunkan pisaunya ketika melihat senjata api yang ditodongkan  pria yang menyerangnya, Tom Goodman.

Tom memberi tanda untuk melepas pisau di tangan Reno dan menendangnya menjauh. ”Pertempuran  yang  bagus,”  ucapnya.  ”Andai  saja  kita  bertemu tidak dengan cara seperti ini, saya akan menikmati berlatih denganmu.”

Reno mengangkat bahu. ”Kelihatannya perasaan itu hanya satu arah...”

Tom tertawa. ”Bisa berkelahi, dan punya selera humor yang bagus.” Ia memperhatikan Reno sebentar, kemudian berkata, ”Kita lihat seperti apa kualitasmu bila ditanyai. Sekarang, berbalik dan berlutut.”

Reno menarik napas panjang, lalu melakukan apa yang diperintahkan. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Berikutnya, kecurigaannya terbukti. Ia melenguh ketika benda keras menghantam tengkuknya, kemudian semua berubah menjadi gelap. 

***

Kent duduk seorang diri dalam gelap di salah satu ruang kelas yang tidak dipakai. Speaker telepon genggamnya dalam keadaan menyala dan ia mendengarkan dengan gelisah percakapan di ruang komando, lewat telepon genggam Elliot yang tetap dibiarkan menyala.

Ia tadi sudah cukup lega ketika Bobby mengamati pergerakan Reno lewat satelit ke arah danau. Namun, tiba-tiba saja transmisi satelit terputus dan semua kacau. Ternyata, penyusupan Sue ke server Departemen Pertahanan Amerika terdeteksi, dan Chief of Technology, James Priscott, memerintahkan penutupan sistem dari dunia luar untuk menghindar secara total dan membuat pengejar Sue kehilangan jejak. Sekarang masalah sudah tertangani dan koneksi bisa kembali dinyalakan, tapi melakukan penyusupan ke server yang sama tidak mungkin dilakukan lagi hingga Sue dan Elliot bisa menyusun algoritma baru.

Dan itu berarti, pergerakan Reno tak bisa dideteksi dan lokasi Fay tidak bisa diketahui.

Kent menyapukan kedua tangannya ke rambut pirangnya.

Kelihatannya ia tak punya pilihan selain memberitahu Bobby di mana posisi Fay berdasarkan informasi dari Elliot. Dan itu artinya, Elliot akan masuk Ruang Putih di kantor dengan tuduhan yang tak main-main: pengkhianatan. Tuduhan itu tampak tak masuk akal, tapi ia tahu jalan pikiran para pamannya. Bila Elliot sekarang menyelundupkan teknologi yang sangat rahasia ke luar kantor, maka siapa yang bisa menjamin bahwa anak itu tidak pernah melakukan hal yang sama sebelum ini? Dan siapa yang bisa yakin bahwa rahasia-rahasia yang diselundupkan ke luar itu tidak dibocorkan dan dijual ke pihak lain? Tindakan Elliot yang tampaknya sepele dan main-main itu tidak akan dianggap sebagai masalah kenakalan atau keisengan biasa, karena akan merembet ke isu kepercayaan, yang pada akhirnya akan berujung pada pertanyaan tentang loyalitas—satu kata yang menentukan hidup-mati setiap anggota keluarga McGallaghan.

Kent menghela napas, tapi langsung menegakkan tubuh saat satu hal melintas di kepalanya. Setelah berpikir sejenak, ia segera mematikan sambungan telepon dengan Elliot  kemudian  menelepon  anak itu kembali. Bila rencana ini gagal, semua akan terbongkar dan Elliot pasti ditangkap dengan pasal berlapis—dan ia pun dipastikan akan bernasib sama seperti Elliot karena  tuduhan  konspirasi. Tapi, saat ini tak ada pilihan lain.

Telepon diangkat Elliot, yang langsung berbicara sambil berbisik, ”Kenapa?”

Kent menarik napas panjang, kemudian menjawab, ”Kamu berutang padaku waktu inspeksi terakhir. Sekarang, aku akan memintamu melakukan sesuatu...”

***

Lima menit kemudian, Kent menabrak Chief of Technology, James Priscott, yang sedang berjalan terburu-buru keluar dari ruang komando. ”I’m really sorry, Sir,” seru Kent buru-buru.

”Tidak bisakah kamu berhati-hati?” gerutu James, lalu berjalan lagi dengan tergesa-gesa.

Kent berjalan perlahan di belakang James sambil mengirimkan pesan ke Elliot. Tak lama kemudian, ia melihat James mengangkat telepon, dan setelah berbicara dengan nada tinggi langsung berbalik dan berjalan kembali ke ruang komando dengan raut kesal.

”Is  everything  alright,  Sir?”  tanya  Kent  sopan  ketika  James  melewatinya.

”Elliot membuang-buang waktu saya! Dia bilang menemukan satu hal yang harus saya lihat, tapi barusan dia bilang ternyata dia salah dan saya tidak perlu ke sana. Menyusahkan saja!” seru James jengkel, kemudian berlalu dengan cepat.

Kent mengembuskan napas lega. Segera ia menemui Elliot dan menyerahkan sebuah pin logam yang ia ambil dari saku James— kunci untuk melakukan by pass protokol keamanan di server. Dengan kunci ini Elliot bisa melakukan semua aktivitas langsung di server, tanpa terlacak.

Elliot menerima pin sambil menelan ludah. ”Aku bisa mati... aku benar-benar  bisa  mati...”  Ia  menggumamkannya  berulang-ulang  seperti mantra hingga tiba di ruang server.

Kent berjalan di sebelah Elliot tanpa berbicara. Bila James sadar pinnya hilang, maka mantra itu juga akan berlaku bagi dirinya.

***

”Reno...,” bisik Fay pada Reno yang kepalanya tergolek di kursi. Sekarang mereka ada di tempat seperti ruang kerja merangkap perpustakaan, duduk dengan tangan terikat di dua kursi yang berhadapan.

”Reno!” panggil Fay lagi. Kali ini dengan suara agak keras. Akhirnya ia melihat mata Reno bergerak-gerak sebelum terbuka perlahanlahan. Fay mengembuskan napas lega.

Reno mengerjap sambil menggeleng sedikit. Ia menatap Fay sebentar, kemudian bertanya, ”Are  you  okay?”

Fay tersenyum sedikit dengan rasa haru dan perasaan bersalah. Bahkan setelah dipukul dan sempat berada dalam keadaan tak sadar, hal yang ditanyakan Reno ketika bangun adalah bagaimana keadaan dirinya. Bagaimana mungkin ia sempat membenci Reno waktu itu?

”Yes,  I’m  good,” jawabnya. ”What  about  you?” tanyanya balik. ”Kepalaku masih pusing,” gumam Reno.

Fay memperhatikan Reno dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia sedikit lega karena tidak sendirian lagi, tapi di sisi lain ia tak berani membayangkan apa yang akan dilakukan Tom pada Reno. Belum apa-apa saja tadi Tom sudah menyeret Reno yang tak sadarkan diri. Untung Tom langsung keluar lagi setelah mengikat Reno.

”Bagaimana caramu datang ke sini?” tanya Fay.

”Aku naik speedboat... kutambatkan di pondok perahu di bela kang.”

”Kamu kok bisa tahu aku ada di sini?”

Reno menggeleng, ”Aku hanya tahu sebagian ceritanya saja, tapi itu  bisa  menunggu.”  Ia  melihat  ke  arah  pintu,  kemudian  tubuhnya menegak tiba-tiba. ”Gelang hadiah dari Kent... apakah kamu memakainya?”

Fay mengangguk dengan sedikit bingung, tapi langsung tersentak ketika tersadar. Ya ampun, bodohnya! Kalau saja ia ingat dari tadi, tangannya mungkin sudah lepas dan ia sekarang sudah membantu Reno melepas ikatan tangannya dan mereka bisa kabur! Ia baru saja mau menjawab ketika matanya menangkap sosok Tom berjalan mendekat. Ia mengangguk sedikit ke arah Reno, dibalas dengan angguk an juga oleh Reno. Jari-jarinya langsung serabutan meraba-raba, mencari liontin hati di gelangnya.

Tom  muncul  di  pintu.  ”Kamu  sudah  bangun  rupanya.  Bagus.” Tatapannya beralih pada Fay. ”Kamu lebih dulu. Menarik sekali bahwa seorang gadis yang tampak baik-baik sepertimu punya koper dengan kompartemen rahasia, yang dilengkapi kunci kombinasi untuk  pengamanan.”  Ia  berdiri  di  hadapan  Fay.  ”Apa  yang  kamu bawa di kompartemen itu?”

Fay tidak menjawab, mengerahkan semua fokusnya ke gelang. Ini dia! Ia melihat sekelebat tangan Tom bergerak dan berikutnya ia berteriak kesakitan ketika merasakan satu sengatan keras di pipi. Ia lalu mengernyit sambil merintih pelan.

”HEI!” teriak Reno. ”Cari lawan yang seimbang!”

Tom mendekat, mengirimkan satu tonjokan ke wajah Reno. Wajah Reno terlempar ke samping diiringi suara lenguhan. ”Jangan!” teriak Fay.

Tom menoleh pada Fay. ”Dari teriakanmu barusan, saya berasumsi kamu kenal dengan pemuda ini.”

Fay melirik Reno dan melihat Reno menggeleng. Berdasarkan protokol di kantor, ia harus mengikuti perintah agen yang levelnya lebih tinggi. Ia menelan ludah dan menguatkan hati. ”Tidak...”

Tom kembali menonjok Reno, yang lagi-lagi mengeluarkan suara seperti lenguhan.

Fay tersentak dan menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan protes. Ia melepas liontin dan jari-jarinya bergerak serabutan, berusaha mencari posisi yang tepat sehingga bisa mengenai tali. Silet meleset dan mengenai jari. Ia merintih pelan tapi segera melanjutkan.

Reno menatap Tom dengan sorot marah, kemudian berkata, ”Dia tidak kenal saya... Tapi saya tahu nama dia Fay... Saya mendengar pacarnya yang kelihatannya brengsek itu memanggil namanya.”

Jari-jari Fay berhenti bergerak dan sesaat Fay melongo sambil menatap Reno. Tak bisa ia percaya, di saat-saat seperti ini Reno masih memakai kesempatan untuk mencela Enrique... keterlaluan!

Tom kembali bertanya pada Fay, ”Sekali lagi, kamu kenal orang ini?”

”Tidak. Saya tidak kenal dia...,” ucap Fay. Ia melihat Tom mengambil ancang-ancang untuk memukul Reno, dan ia pun langsung berteriak, ”Jangan!”

Tom mengabaikan teriakan Fay dan menonjok ulu hati Reno.

Tubuh Reno lunglai ke depan, dan dia terbatuk-batuk.

Fay menggigit bibir melihat Reno tak berdaya. ”Masih mengaku tidak kenal?”

Fay kembali melirik Reno, dan lagi-lagi melihat Reno sedikit menggeleng. Ia menarik napas panjang, kemudian berkata lirih, ”Tidak.” Ia menutup mata ketika mendengar suara pukulan bertubitubi, hingga akhirnya sebuah jeritan keluar begitu saja dari mulutnya.  ”NO!” Ia membuka mata dan dadanya langsung sakit ketika melihat Reno tergolek di kursi dengan kepala lunglai ke samping. Kedua tulang pipinya terluka, bibirnya mengeluarkan darah, dan satu matanya memar kebiruan. Air mata keluar begitu saja di sudut mata Fay.

Tom berbicara. ”Masih mau mengaku tidak kenal dengannya?” ”Kenal... saya kenal...,” ucap Fay akhirnya. ”Kami berdua ingin...

mencuri  hadiah  dan  perhiasan.”  Ia  menelan  ludah,  kemudian  melanjutkan, ”Kompartemen di koper saya nanti akan digunakan untuk membawa barang-barang curian itu.”

”Hanya itu saja yang bisa kamu ceritakan? Ada sedikit masalah dalam ceritamu. Pemancar di telepon genggammu  bukan  barang  yang dipakai pencuri, tapi peralatan personel militer atau agen intelijen. Saya akan beralih ke pertanyaan lain. Kenapa berkas Bruce ada di telepon genggammu?”

Mati!

Fay terdiam, kehabisan kata-kata. Lewat sudut mata, ia melihat kepala Reno masih tergolek di sandaran kursi. Reno mengerang sam  bil mencoba bergerak dengan susah payah.

Tom menghampiri Fay. ”Satu lagi... mana hadiah yang ingin kamu berikan ke Bruce? Saya tidak melihat hadiah darimu di tumpukan kado yang ada di ruang kerja Bruce. Atau, itu sebenarnya bukan hadiah?”

Fay menelan ludah. Kebohongan apa lagi yang masuk akal?

Tom tersenyum sedikit. ”Sudah terlalu sulit untuk mengarang cerita, bukan? Saya rasa kita perlu cara lain.” Ia meraih ke mata kaki dan mengeluarkan sebilah pisau komando. Ia kemudian mendekat dan mengelus pipi Fay dengan mata pisau. ”Entah kamu benar-benar bodoh, atau benar-benar pintar.”

Fay menahan napas dengan tubuh kaku, merasakan dinginnya logam menyapu permukaan pipinya, kemudian menyentuh bibirnya

”Tahukah kamu, menyakitkan sekali rasanya ketika mata pisau ini memisahkan kulit dari dagingmu?”

Fay menutup mata dengan tubuh gemetar.

Tepat di saat itu, telepon genggam Tom di kantong berbunyi. Tom menurunkan pisaunya dari wajah Fay dan beranjak keluar dari ruangan.

Fay mengembuskan napas lega dengan tubuh melorot saking lemasnya. Reno mengangkat kepalanya sambil berusaha menegakkan tubuh. ”Cepat,  Fay,” bisiknya lemah.

Fay menegakkan tubuh sambil menguatkan tekad, menggerakkan jari-jarinya yang terasa hampir kram, memotong tali dengan gerakan seperti menggergaji. Jangan menyerah sekarang!

Berhasil!

Tangan Fay langsung bergerak serabutan, berusaha melepas tali di pergelangan tangannya. Ia berdiri dan buru-buru ke belakang Reno untuk memotong tali di pergelangan tangan Reno.

Tali terlepas!

Fay membantu Reno berdiri dari kursi—Reno mengerang sambil memegang perutnya. Mereka lari ke luar  ruangan,  ke  arah  dapur. Fay membuka pintu dapur terlebih dahulu, dan tepat di saat itu terdengar teriakan Tom.  Fay  tertegun ketika ia didorong oleh Reno   ke luar,  dan pintu dapur ditutup serta dikunci Reno  yang masih ada   di dalam. What is he doing?

”Lari!” teriak Reno.

Ya Tuhan!

Fay sejenak hanya berdiri mematung, melihat lewat kaca-kaca di pintu dapur bagaimana Tom mengayunkan pisau komando di  tangannya, bersiap menyerang Reno yang mengambil kuda-kuda sambil memegang pisau dapur di tangan. Ia tersentak ketika Reno menoleh sambil menatapnya marah dan berteriak, ”Lari ke rumah perahu!” Fay pun langsung berbalik dan lari sekencang-kencangnya ke pondok kayu di pinggir danau.

Di dalam pondok kayu, ia melihat speedboat tertambat dan kepanikan langsung menyergap. Ia tidak tahu cara mengendarainya!

Dengan napas naik-turun dan perut mulas ia melompat ke dalam perahu, mencoba mengira-ngira. Tatapannya jatuh pada kunci yang menempel di tombol starter, dan ia langsung berusaha menyalakan mesin. Mesin menyala. Sekarang, bagaimana cara menjalankannya?

Tuas di sisi kemudi...

Dengan gugup Fay mencoba menggerakkan tuas sedikit,  dan  perahu langsung maju dan menabrak dermaga. Fay berteriak kaget dan panik, dan langsung mengarahkan tuas ke belakang. Perahu  mundur perlahan.

Berikutnya, jantungnya terasa mau copot ketika melihat Tom sudah muncul di pintu. Fay menekan tuas dan perahu mundur lebih cepat, tapi kalah cepat.

Tom melompat ke perahu, kemudian berjalan ke arah Fay. Fay mundur teratur dengan jantung bergemuruh.

Tom menampar Fay, yang langsung terlempar ke samping, kemudian menghentikan perahu. ”Kamu dan temanmu benar-benar menyusahkan! Saya sudah membereskan temanmu, sekarang tinggal kamu.”

Fay menatap Tom dengan perasaan seperti melesak ke dalam. ”Apa maksudmu? Apa yang kamu lakukan padanya?” tanyanya panik.

Tom mengikat kedua tangan Fay di depan. ”Pisau saya sudah menancap di perutnya. Bila dia tadi belum mati, berarti sebentar lagi.”

Fay merasa kepalanya pusing berdenyut-denyut. Reno? Apakah Reno... meninggal? Seperti orangtuanya? Seperti Barney? Ia terduduk di lantai perahu dengan dada sesak. Napasnya mulai tersengal.

Tom mengarahkan perahu kembali ke dalam pondok, lalu menambatkannya. Ia menarik Fay naik, kemudian memasang sebuah rantai besi yang berujung pada sebuah jangkar di tali yang mengikat tangan Fay.

Fay hanya memandang besi di tangannya dengan nanar. Benarkah Reno sudah tidak ada?

Tom menatap Fay lekat, kemudian berkata, ”Tarik napas panjang.

Selamat tinggal.”

Detik itu juga, Fay  tersadar apa yang akan dilakukan Tom.  Refleks  ia menarik napas panjang, tepat sebelum Tom melempar jangkar ke  air. Tubuhnya yang berada di pinggir  dermaga  oleng,  dan  ia  pun ikut terseret jangkar ke dalam air.

***

Roda ban berdecit ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah. Tak ada penjaga. Hanya ada gerbang otomatis tanpa panel yang dibuka dan ditutup dengan pengaturan jarak jauh dan dua kamera di sisi dalam pagar.

Bobby turun dari mobil, kemudian mengarahkan sebuah alat penghambat sinyal elektronik ke kamera dan memanjat masuk.

Andrew mengikuti langkah Bobby, membiarkan Bobby memimpin di depan, mendekat ke rumah dengan senjata siap di tangan sebagaimana Bobby.

Tatapan Andrew menyapu sekelilingnya. Ada satu mobil diparkir di garasi. Tidak ada pergerakan manusia sepanjang mata memandang. Ia melihat Bobby memberinya tanda—ia bergerak mendahului Bobby, kemudian membuka pintu sementara Bobby bersiap menerjang masuk.

Pintu tak dikunci dan Bobby masuk terlebih dahulu sambil mengacungkan senjata ke kiri dan ke kanan.

Andrew menyusul dan melakukan hal yang sama. Tidak ada orang.

Mereka berlanjut masuk ke ruang duduk  dan  menyebar  ke  dua sisi ruangan, lalu masuk ke dapur.

Tatapan Andrew jatuh pada Reno yang terbaring di lantai dengan darah menggenang di sekitar tubuh. Ia melihat sebilah pisau masih tertancap di perut Reno—pisau komando. Gerigi di sisi pisau memastikan darah tetap mengalir keluar walaupun pisau  belum  di cabut.

Tiba-tiba terlihat sebuah bayangan melintasi koridor dan lari ke  arah tangga, naik. Bobby langsung mengejar.

Andrew menelepon Pusat dan langsung berbicara, ”Ray, kirim helikopter medik dan tim back-up. Reno terluka parah dan kehilangan banyak darah, pisau komando menancap di perutnya. Bobby sedang menghadapi Tom di lantai atas dan saya belum tahu hasilnya bagaimana. Fay belum diketahui keberadaannya.”

”Paman...,”  panggil  Reno  dengan  susah  payah.  ”Fay...  lari...  ke belakang... perahu...”

Andrew mengambil sebuah bantal dari kursi, kemudian menghampiri Reno. Ia berjongkok di sisi Reno dan mengangkat kepala Reno dengan hati-hati, lalu menyelipkan bantal. Ia lalu menarik taplak dari sebuah meja panjang, kemudian menggulungnya di sekeliling pisau. Ia menekannya sedikit hingga Reno mengerang.

”Reno, bertahanlah... Saya akan mencari Fay. Usahakan tetap sadar,” ucap Andrew, kemudian beranjak pergi. Di atas terdengar kegaduhan yang disebabkan perkelahian. Ia mengabaikan suara-suara itu, kemudian berlari ke pondok kayu yang terlihat di pinggir danau.

Di dalam pondok, perahu tertambat. Tak ada siapa pun. Sekilas ia melihat beberapa gelembung air pecah di permukaan air, dekat perahu. Saat itu juga ia menyimpan senjata di celana, membuka dan melempar jas, kemudian langsung terjun ke dalam air.

Di dasar danau, Fay meronta-ronta dengan panik. Ia mencoba membuka simpul dengan menggigitnya, tapi tidak berhasil. Sekarang, udara di paru-parunya sudah menipis. Dadanya panas seperti akan meledak. Di ujung keputusasaan, ia melihat sebuah sosok berenang mendekatinya, dan tak lama kemudian mengenalinya sebagai Andrew. Ia melihat Andrew mengeluarkan pisau dari kantong celana dan memotong tali di pergelangan tangannya.

Fay tak sanggup lagi... Ia ingin menarik napas. Paru-parunya  seperti sudah akan pecah.

Andrew mengentakkan kaki ke dasar dan menarik Fay  bersamanya  ke atas. Tiba di permukaan, Fay langsung membuka mulutnya lebarlebar, megap-megap menarik udara segar dengan rakus. Ia bisa merasakan Andrew memeluk pinggangnya dengan satu tangan sambil  mendorongnya ke atas. Udara memenuhi rongga paru-parunya dengan cepat. Ia pun terbatuk-batuk dengan napas tersengal-sengal.

Andrew mendorong Fay naik ke dermaga, kemudian ikut naik. ”Are  you  alright?”

Fay menggeleng. Dingin terasa  menggigit  sekujur  tubuhnya  dan ia mendekap dirinya sendiri.

Andrew menyampirkan jasnya di pundak Fay.

Fay tertegun ketika tiba-tiba saja ingat ucapan Tom. ”Reno? Bagaimana Reno? Dia...”

”Dia terluka. Saya sudah meminta bantuan datang. Kita harus kembali ke bangunan utama. Saya ingin memeriksa kondisi Reno dan melihat apakah Bobby berhasil mengalahkan Tom.” Fay mengikuti arahan Andrew yang membimbingnya pergi dengan sebuah dorongan lembut di punggung.

Tiba di bangunan utama, Andrew memberi tanda pada Fay untuk berjalan di belakangnya, kemudian mengeluarkan senjata. Tatapannya berubah awas.

Andrew masuk dengan senjata teracung.

Fay mengikuti Andrew, dan melihat Tom berlutut di lantai dengan tangan terikat di belakang. Bobby berdiri dengan senjata di tangan. Tak jauh darinya, Reno terbaring di lantai. ”Reno...!” panggil Fay sambil berlari menghampiri Reno dan berlutut di sisinya.

Andrew memperhatikan Tom. ”Eks-Mossad, heh?” tanyanya. ”Apa pedulimu,” jawab Tom datar. Berikutnya, kepala dan tubuh-

nya terlempar ke samping ketika kepalan Andrew mendarat di wajahnya. Bobby menariknya hingga kembali berlutut.

Andrew berkata, ”Kamu benar. Saya sebenarnya tidak peduli...”

Fay mengangkat kepalanya untuk melihat Andrew. Ia melihat pamannya menunduk sedikit di hadapan Tom.

”Hanya saja, saya tidak suka keluarga saya diperlakukan buruk oleh orang lain. Dan, saya benar-benar tidak berkenan dengan perlakuanmu pada kedua keponakan saya,” ucap Andrew. Ia berjalan ke belakang Tom, kemudian memosisikan kedua tangannya di kepala Tom.

Fay melihat wajah Tom mengeras dan tubuhnya kaku, memberikan perlawanan.

Sudut bibir Andrew terangkat. ”Mengenali posisi ini, pastinya? Pasti ada di latihanmu dulu. Ini salah satu posisi andalan agen Mossad.”

Fay terkesiap ketika senyum tipis di wajah Andrew lenyap dan Andrew menoleh ke arahnya. Jantungnya berdegup dan sekujur tubuhnya menggigil ketika tatapannya beradu dengan sorot mata Andrew yang sedingin es.

”Palingkan  wajahmu,”  perintah  Andrew  dengan  intonasi  tenang yang terdengar tak wajar.

Fay memalingkan wajah sambil menutup mata, dan tubuhnya tersentak  ketika  telinganya  mendengar  bunyi  ”krak”  seperti  ranting patah. Ia menutup mulutnya dengan  tangan  dengan  napas  yang  mulai naik-turun dengan cepat. Akhirnya, ia membuka mata perlahan dengan dada terasa sesak. Tubuh Tom terbujur di lantai—kepalanya menyamping dengan posisi tak lazim.

Bobby berbicara di telepon. ”Aku perlu tim pembersih di lokasi. Juga satu agen yang perawakannya sama dengan Reno Corderro,  untuk menggantikan posisinya dan masuk kembali ke  kediaman  Bruce untuk mengambil mobil—buat model lateks untuk membuat wajahnya semirip mungkin dengan Reno. Selain itu, sewa sebuah pesawat carteran ke Havana, Kuba atas nama Tom Goodman, untuk penerbangan  malam  ini.”  Ia  melirik  Fay  dan  Andrew  sebentar,  kemudian melanjutkan, ”Dan bawakan satu setel pakaian lengkap berikut sepasang sepatu untuk Direktur, dan satu setel pakaian hitam berikut sepatu untuk Fay Regina, serta satu set riasan di peralatan penyamaran.”

Terdengar suara helikopter.

Bobby menutup telepon lalu berkata pada Andrew, ”Tim medis sudah datang.” Ia kemudian ke halaman rumput di belakang rumah untuk menyambut.

Fay menepuk pipi Reno. ”Reno?” Tak ada jawaban.

Fay melihat dada Reno naik-turun dengan lemah. ”Reno? Are you okay?”

Tak ada reaksi.

”Reno!  Please,  wake  up!”  teriak  Fay  putus  asa.  Ia  mengelus  pipi Reno dan melihat kelopak mata cowok itu bergerak-gerak sebentar, lalu terbuka setengah. Ia melihat Reno tersenyum sedikit, kemudian kembali menutup mata.

Dua petugas masuk membawa tandu. Reno diangkat.

Fay melihat Reno berlalu dari hadapannya dengan air mata berlinang.

Andrew merangkul Fay dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. ”Everything  will  be  alright,” ucapnya.

Fay merasa napasnya semakin berat. Ia membiarkan Andrew memeluknya, dan tak lagi berusaha menahan air matanya yang semakin banyak berjatuhan. Akhirnya, ia membiarkan emosinya terlepas dan terisak keras dalam dekapan Andrew.

***

Di ruang pusat komando di markas COU di Paris, Elliot membuka kacamatanya, lalu mengucek-ucek mata. Ia mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangan sebelum memakai kacamatanya lagi.

Telepon genggamnya berbunyi, dari Kent. ”Bagaimana, berhasil?”

Elliot menunduk sambil berbisik, ”Iya. Mereka pikir Reno yang mengirim pesan teks. Dan pin sudah di tangan paman James lagi.    Dia sempat bingung kenapa pinnya bisa jatuh ke lantai, tapi dia tidak curiga.”

Terdengar embusan napas Kent.

Elliot kembali berbicara, ”Terima kasih... Aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau kamu tidak ada. Aku berutang budi padamu...”

”Oh ya? Kukira tadi kita impas. Ternyata belum. Baguslah kalau begitu...  Suatu  hari  nanti  mungkin  kutagih,”  ucap  Kent,  lalu  menutup telepon.

***

Enrique duduk di sebelah Fay di rumah duka. ”Aku minta maaf karena kamu menunggu terlalu lama... Mudah-mudahan kamu tidak bosan menunggu di sini bersama Tom. Diskusi dengan pengacara Barney ternyata lebih lama dari yang kukira.”

”Nggak terlalu lama kok. Tom mampir dulu ke sebuah rumah di pinggir danau. Dia mengambil koper, lalu baru kami pergi naik mobil  dari  rumah  itu,”  jawab  Fay  sambil  lalu,  kemudian  menarik napas panjang tanpa kentara. Ia tidak menyangka harus bersandiwara  lagi di depan Enrique. Kapan semua akan kembali normal? Mungkinkah ada yang dinamakan kenormalan dalam hidupnya  sekarang ini? ”Mana Tom sekarang?”

”Dia langsung pergi lagi setelah menurunkanku tadi. Dia bilang mau pergi ke bandara,” jawab Fay. Ia tadi diturunkan oleh Bobby di sini menggunakan mobil Tom yang diparkir di garasi rumahnya. Bobby akan membawa mobil ke bandara dan meninggalkannya di sana. 

Dahi Enrique berkerut. ”Ke bandara? Are you sure?”

Fay mengedikkan bahu. ”Dia nggak bilang ke aku langsung, tapi aku dengar dia  menelepon  di  rumah,  mengonfirmasi  penerbangan ke Havana, kalau tidak salah. Di Kuba, ya?” Fay melihat dahi Enrique berkerut sedikit, kemudian sorot matanya berubah curiga.

”Kenapa?” tanya Fay dengan jantung mulai berdebar.

”Kepergian seseorang secara mendadak ke Kuba tidak pernah berarti bagus... Itu kata ayahku dulu.”

”Apa artinya?” tanya Fay lagi.

”Kuba tidak punya perjanjian ekstradisi, jadi biasanya hanya orang-orang bermasalah yang pergi mendadak ke Kuba.”

Fay tidak berkata-kata lagi.

Enrique kembali bertanya, ”Telepon genggammu ketemu? Tadi aku kirim pesan tidak kamu balas. Teleponku juga tidak kamu angkat.”

Fay mengangkat tangannya yang menggenggam telepon. ”Ketemu, jatuh di kabin. Aku dari tadi tidak dapat sinyal... Mungkin ada masalah dengan kartunya.”

Enrique menggenggam jemari Fay, menatap Fay, kemudian berkata lembut, ”Aku bersyukur memilikimu. Entah bagaimana aku bisa melewati kekacauan ini bila tidak ada kamu.”

Fay merasa dadanya sakit, seakan ribuan jarum menancap bersama an.

Enrique berdiri. ”Aku harus mendampingi ibuku dulu untuk menerima ucapan belasungkawa dari para tamu. Sebentar lagi jenazah Barney akan dimakamkan.”

Fay mengangguk tanpa kata-kata. Begitu Enrique berdiri dan berlalu dari hadapannya, Fay menutup mata dan berdoa, dengan air mata berlinangan keluar dari sudut-sudut matanya.

*** Langit berwarna kelabu. Tiupan angin akhir musim panas membawa sejumput rasa dingin yang menggigit kulit. Daun-daun kering mulai berserakan di atas rumput yang sempat dibasahi oleh gerimis.

Fay menyapukan pandangannya ke sekelilingnya. Le Cimetiere Boix-de-Vaux disebut-sebut sebagai pemakaman terindah di Swiss. Batu-batu nisan berjajar rapi, pohon-pohon ditata simetris, kolam dan bangku tersebar di beberapa titik. Di musim semi dan panas, tanaman bunga merekah di mana-mana. Saat ini ada sekitar tiga puluh orang mengerubung di sekitar liang lahat Barney, yang sebagian besar adalah tamu-tamu yang kemarin memeriahkan pesta pernikahan dengan gegap gempita. Aneh rasanya melihat sedemikian banyak air mata diteteskan di tengah-tengah keindahan area pemakaman ini. Waktu beberapa jam di rumah duka sepertinya tak bisa menguras air mata hingga tak bersisa. Selalu ada air mata yang siap diteteskan bagi mereka yang dikasihi, sampai kapan pun.

Fay memperhatikan pastor yang membacakan khotbah di depan— pastor yang sama dengan yang menikahkan dan memberkati Barney dan Tia Bea. Seperti apa perasaan pastor ini, melihat seorang pria yang baru saja berbinar bahagia di hadapannya tiba-tiba saja sudah tak bernyawa?

Pastor masih berbicara, membacakan khotbah sambil sesekali mengutip ayat-ayat Injil. Dia berbicara tentang ampunan Tuhan, tentang surga, tentang kedamaian, tentang orang-orang tercinta yang ditinggalkan.

Fay tercenung.

Tak ada satu pun dari keempat hal yang disebutkan pastor itu yang ada di hidupnya sekarang. Ampunan Tuhan tak berani ia harapkan. Surga hanya seperti sebuah tempat nan indah dalam khayalan yang tak terjangkau. Kedamaian adalah barang langka yang tak pernah ada. Sedangkan orang-orang tercinta... hanya tinggal kenangan.

Ia sudah tak punya nyali membayangkan perasaan Papa dan Mama bila mereka melihat apa yang dilakukan oleh putri semata wayang mereka di dunia sepeninggal mereka: menyerahkan senjata yang digunakan untuk membunuh ke tangan pembunuhnya. Sengaja atau tidak, ia punya andil dalam kejadian yang merenggut figur ayah dari hidup seorang pemuda yang sekarang punya tempat istimewa di hatinya, dan memupuskan kebahagiaan seorang wanita yang baru saja mengecap kebahagiaan singkat bersama sang kekasih.

Bagaimana caranya ia meminta  ampunan  kepada  Tuhan,  ketika ini semua mungkin baru sebuah awal baginya? Mungkinkah ada kedamaian dalam sebuah kehidupan yang sudah dinodai sayatan pengkhianatan?

Pastor menutup khotbahnya. Peti mati diturunkan, diiringi musik yang dimainkan oleh dua pemain biola.

Enrique maju, memapah Tia Bea yang tak pernah berhenti meneteskan air mata, lalu melempar bunga ke dalam liang.

Fay melihat Enrique tertunduk, dan sebuah sayatan langsung te rasa di dadanya melihat kepiluan yang sedemikian jelas terlihat di wajah Enrique dan Tia Bea. Air matanya pun mengalir dalam  hening.

Tak lama kemudian, para pelayat berpamitan.

Sekarang hanya ada Enrique serta sang pastor, selain Tia Bea dan dirinya sendiri.

Fay membiarkan pikirannya menerawang, memikirkan orangtuanya. Bila orangtuanya tidak hilang di dasar Amazon dan ia berkesempatan menguburkan mereka berdua, apakah ia juga akan seperti  Tia Bea, tak rela meninggalkan gundukan tanah—dua gundukan tanah—orangtuanya? Fay menyeka air matanya yang langsung berlinang.

”Kamu keluarga juga?”

Fay menoleh dan melihat sang pastor. ”Bukan. Saya teman Enrique.”

Pastor memperhatikan Tia Bea. ”Sulit memang... melepas kepergian mereka yang dikasihi. Bahkan walaupun kita tahu bahwa mereka berada dalam jalan tersendiri menuju kebahagiaan yang lebih abadi. Ketika orang-orang terkasih meninggalkan kita, sebenarnya yang kita tangisi adalah kehidupan kita yang harus dijalani tanpa mereka, bukan kematian mereka itu sendiri.” Fay menoleh sambil memperhatikan sang pastor. Kulit wajahnya agak kecokelatan, dengan sepasang mata hitam yang dalam dan teduh. Umurnya mungkin belum terlalu tua, tapi rambut-rambut  putih yang berserakan di rambut hitamnya membuat dia tampak lebih tua. Fay ingat melihat pastor ini berjalan pelan dengan sedikit pincang. Ia berkata, ”Orangtua saya juga meninggal beberapa bulan yang lalu.” Benaknya memutar ulang hari-hari penuh air mata yang ia jalani setelah Papa dan Mama meninggal dunia.

”I’m  so  sorry  to  hear  that.  Semoga  mereka  beristirahat  dengan tenang.”  Pastor  berhenti  sebentar,  kemudian  melanjutkan,  ”Dan semoga kamu pun selalu diselimuti ketenangan dalam kasih Tuhan, anakku.”

Fay merasa ucapan itu menghantam dadanya dengan keras. Ia membuang muka, membiarkan air mata mengalir dari sudut matanya tanpa kentara.

***

Andrew McGallaghan mendekatkan teropong ke mata, mengamati orang-orang yang berdiri mendengarkan khotbah pastor di depan sebuah nisan. Angin berembus cukup kencang di ketinggian seperti  ini. Di kejauhan di bawahnya, pucuk-pucuk pepohonan tinggi yang tersusun rapi di Le Cimetiere Boix-de-Vaux melambai-lambai.

Ia menoleh ketika melihat dua wanita berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangan sambil menyapa salah satu di antara mereka. ”Hello,  Mrs.  Oliver.  Pleasure  to  meet  you.  Panggil  saya  Andrew.”  Ia memperhatikan wanita yang ia salami—Renata Oliver, atau yang dikenal dengan julukan Catwoman di L’Hopital du Dent Blanche. Wajahnya lebih tirus dibandingkan pertemuan terakhir mereka beberapa bulan lalu. Rambutnya yang diwarnai cokelat kemerahan telah dipotong pendek, membuat tulang pipinya lebih menonjol. Andrew mencari sedikit gerakan di raut wajah Renata yang mengindikasikan bahwa wanita ini mengenalinya, tapi tidak ada. Renata  menyambut sapaannya dengan sebuah senyum. ”Larmine mengatakan bahwa Anda ingin menemui saya?” tanya Renata sopan sambil menengok ke arah Janet yang berdiri di sebelahnya.

Andrew tersenyum. ”Benar sekali. Saya ingin Anda mencoba mengenali beberapa orang.” Ia menyodorkan teropong ke Renata sambil menunjuk kerumunan orang yang dimaksud.

Renata mengintip melalui teropong. ”Pria yang bertopi bundar  dan mengenakan syal cokelat... Lewis Adam, perwakilan PBB dari Amerika  Serikat.”  Ia  berhenti  sebentar,  menggeser  teropongnya  sedikit. ”Wanita yang berdiri di belakangnya, memakai tas tangan warna biru tua... Alessandra d’Arcy, salah satu pejabat di Misi Perdamaian. Di sebelahnya, Sue Gianni dan Vanessa Tan.”

”Ada yang lain?” tanya Andrew.

Renata tak berkata-kata, hanya menggeser teropong sedikit demi sedikit. Akhirnya ia menurunkan teropongnya sambil berkata, ”Tidak ada.”

Andrew berkata, ”Perhatikan wanita yang tampak berduka di baris pertama. Dia diapit oleh dua remaja, seorang pria dan wanita. Apakah Anda mengenali salah satu dari mereka?” Andrew memasukkan tangan ke kantong overcoat, memegang jarum suntik berisi obat penenang. Bila wanita ini histeris, ia akan bisa menenangkannya dengan mudah. Ia melirik Janet, memberinya kode. Janet mengangguk sambil bergeser ke belakang Renata, bersiap memegang dan mengunci wanita itu bila diperlukan.

Renata kembali mengintip lewat teropong, sebelum akhirnya menyerahkan teropong kepada Andrew sambil menggeleng. ”Tidak.”

”Are  you  sure?”  tanya Andrew memastikan. ”Yes,  I’m  sure.”

Andrew tersenyum melihat ketegasan di raut wajah Renata. Ia melepas suntikan di tangannya, kemudian mengeluarkan tangannya dari saku untuk menerima teropong yang disodorkan oleh Renata. ”Thank  you,  Mrs.  Oliver,”  ucapnya,  lalu  mengangguk  pada  Janet yang langsung mengajak Renata pergi.

Andrew kembali menggunakan teropong untuk memperhatikan kerumunan di bawahnya. Satu per satu pelayat meninggalkan lokasi setelah menyalami istri yang berduka. Sekarang hanya tersisa lima orang. Ia menyimpan teropong ke saku overcoat, kemudian beranjak pergi.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊