menu

Trace of Love Bab 13: The Chaos

Mode Malam
The Chaos

FAY  berbaring  di  tempat  tidur  dengan  mata  terbuka.  Ia  melihat jam dinding—pukul setengah sebelas malam. Baru pukul setengah sebelas. Pantas ia sulit memejamkan mata walaupun tubuhnya serasa rontok. Emosinya hari ini seperti jemuran basah yang diremas kuatkuat hingga airnya terkuras habis. Tidak—bukan hanya diremas dengan tangan, tapi diputar di mesin cuci.

Tenggorokannya kini terasa kering, tapi baru membayangkan minum air putih dari keran saja entah kenapa sudah membuat perut    nya kembung. Mungkin kalau sepuluh menit lagi ia belum jatuh tertidur dan masih haus, ia akan ke dapur dan menghangatkan susu yang ada di kulkas dengan microwave—mudah-mudahan tadi tidak dihabiskan Enrique.

Sambil menunggu, ia membiarkan pikirannya melayang-layang.

Apakah insiden penembakan yang disebutkan Tom terkait dengan senjata yang ia berikan pada Kent? Jadi, targetnya bukan Barney dan  ia sekarang bisa bernapas lega karena semua sudah selesai?

Entahlah.

Yang jelas, yang membuat matanya sekarang tak bisa menutup walaupun sudah hampir setengah jam berada di bawah selimut adalah berkas bertuliskan Nicholas Xavier di ruang kerja Barney. Kenapa nama itu terasa sangat familier?

Fay melirik jam—sudah sepuluh menit. Ia bangkit dari tempat tidur sambil berdecak kesal. Setelah mengenakan mantel tidur untuk menutup baju tidurnya, memakai sandal rumah, dan menyambar telepon genggam, ia beranjak keluar. Di dapur ia membuka kulkas dan bersorak dalam hati ketika melihat kotak susu masih terisi setengah. Ia langsung menuang susu ke gelas, memanaskannya di microwave, lalu duduk di salah satu kursi tinggi sambil meminumnya sedikit demi sedikit. Sementara itu, tangannya bergerak di telepon genggam, membuka situs sosial dan membaca-baca status yang ditulis teman-temannya.  Ia  membayangkan  dirinya  menulis:  ”Thank  God, tidak ada yang terbunuh hari ini,” dan tersenyum sedikit. Seperti apa reaksi Andrew kalau melihat statusnya itu? Bisa ia bayangkan nasibnya akan sangat buruk bila status itu masuk ke laporan yang dikirim ke Andrew.

Pikirannya kembali memampangkan huruf demi huruf nama Nicholas Xavier, dan ia berdecak kesal. Tatapannya kembali ke layar komputer genggam, dan tiba-tiba saja ia terpikir untuk mencari informasi lewat internet. Ya ampun, Fay... kamu goblok sekali!

Fay membuka situs pencarian dan memasukkan nama Nicholas Xavier. Di layar langsung tertera daftar artikel dan berita, dari beberapa situs penelitian kesehatan dan dari banyak surat kabar.

Ia membuka artikel dari situs penelitian, lalu mulai membaca. Beberapa detik kemudian, setelah melihat deretan komposisi kimia, jenis katalis, dan metode pengujian yang semuanya bagai menyiratkan bahasa dari planet lain, ia memutuskan untuk menutup artikel tersebut dan berpindah ke berita di surat kabar.

Ia membuka satu situs yang memuat profil Nicholas Xavier sebagai seorang peneliti. Ia lalu membaca artikel surat kabar yang memberitakan penemuan obat revolusioner yang dimotori Nicholas Xavier. Tak ada yang baru—ia ingat pernah mendengar berita serupa  di televisi. Artikel-artikel lain juga kurang-lebih memberitakan hal yang sama, dengan kalimat yang hanya sedikit berbeda.

Ia membuka artikel lain. Diberitakan bahwa Nicholas Xavier dianggap meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat di Amerika Selatan. Pesawat bertolak dari Cusco, kemudian jatuh di Amazon. Hingga saat ini lokasi jatuhnya pesawat tidak diketahui.

Jantung Fay berdegup. Ia melihat tanggal keberangkatan pesawat yang tertera di berita, dan tangannya langsung terasa dingin. Bukankah ini tanggal yang sama dengan kecelakaan pesawat yang menimpa orangtuanya, yang juga bertolak dari Cusco? Mungkinkah ada dua pesawat yang bertolak dari tempat yang sama di hari  yang  sama, jatuh di hutan yang sama? Tidak... tidak mungkin ada kebetulan semacam itu. Apakah itu berarti Mama dan Papa berada di pesawat yang sama dengan pria bernama Nicholas Xavier ini?

Fay berhenti ketika dadanya terasa  bergemuruh  dan napasnya mulai sesak. Ia meletakkan telepon genggamnya di meja, lalu meremasremas kedua tangannya yang mendadak jadi sedingin es.

Sebentar! Kenapa ia jadi gugup begini? Apa masalahnya kalau pria itu memang satu pesawat dengan kedua orangtuanya? Toh faktanya  tak berubah—pesawat itu jatuh dan menewaskan mereka semua.

Dengan tangan gemetar Fay mulai mengklik berita-berita lain, berharap menemukan informasi yang mengindikasikan penumpang lain di pesawat yang dinaiki Nicholas Xavier.

Disebutkan bahwa pesawat tersebut disewa oleh Nicholas Xavier untuk mengangkutnya ke satu area di Brazil. Total ada tujuh penumpang termasuk pilot dan kopilot.

Fay terdiam. Berita ini mematahkan teorinya semula. Kalau pesawat itu dicarter khusus untuk rombongan Nicholas Xavier, tak mungkin orangtuanya ada di pesawat itu. Atau, tetap mungkin?

Fay tidak bisa berpikir.

Ia meletakkan telepon genggamnya, lalu berusaha menenangkan diri dengan meminum susu—ia bahkan harus memegang gelas dengan dua tangan karena tangannya terasa kaku dan gemetar.

Setelah minum beberapa teguk, Fay menarik napas panjang lalu  memutuskan kembali ke kamar. Ia baru saja bangkit dari kursi ketika  tiba-tiba bayangan huruf demi huruf nama Nicholas Xavier muncul lagi di benaknya. Perlahan-lahan huruf-huruf itu tersusun rapi dalam sebuah papan nama. Berikutnya, terlihat bahwa papan nama itu terletak di atas meja kerja. Lalu, seluruh ruangan terlihat jelas... Fay terkesiap. Itu kan ruangan yang pernah ia masuki lewat saluran udara, tempat ia diminta Andrew mengambil barang dari brankas!

Jadi, itu ruangan Nicholas Xavier?

Fay kembali duduk di kursi dengan lutut terasa lemas. Fakta-fakta seperti bertabrakan dengan pertanyaan yang mendadak berhamburan di kepalanya.

Mengapa Andrew dan Barney sama-sama tertarik pada Nicholas Xavier?

Apakah pesawat yang ditumpangi oleh orangtuanya sama dengan pesawat yang mengangkut Nicholas Xavier?

Bukankah Andrew waktu itu memberitahunya bahwa tim evakuasi yang dikirim untuk mencari orangtuanya menemukan lokasi pesawat walaupun evakuasi tidak bisa dilakukan? Kenapa di surat kabar disebutkan bahwa Nicholas Xavier menghilang dan lokasi pesawat tidak ditemukan? Apakah itu artinya orangtuanya tidak berada di pesawat yang sama dengan Nicholas Xavier?

Tapi, berapa besar kemungkinannya ada dua pesawat yang berangkat dari kota yang sama, jatuh di hari yang sama, di lokasi yang sama?

Lantas, apa artinya?

Apakah kecelakaan pesawat yang ditumpangi Nicholas Xavier benarbenar... kecelakaan?

Fay menumpukan sikunya di meja dapur sambil menutup mata dan memijat-mijat kepalanya yang terasa panas dan berdenyut-denyut.

”Hai, Fay. Belum tidur?”

Jantung Fay serasa lompat dan ia terlonjak hingga hampir jatuh dari kursi. Jantungnya langsung berderu.

”Maaf...  Saya  tidak  bermaksud  mengagetkanmu,”  ucap  Barney buru-buru sambil tersenyum.

Fay  ikut  tersenyum,  jantungnya  masih  berdebar  kencang.  ”It’s okay. Saya tidak menyangka ada yang bangun selain saya,” ucapnya sambil mengembuskan napas untuk meredakan detak jantungnya.

”Saya mau mengambil gelas sampanye,” jawab Barney, lalu mengambil dua gelas seperti gelas anggur, namun dengan wadah lebih sempit. ”Bagaimana denganmu?” tanyanya. Fay  menggeleng.  ”Susu  putih  hangat  sudah  cukup.”  Ia  melirik gelasnya yang masih terisi seperempat. Ia tadi sebenarnya berencana membuangnya ke wastafel.

”Wah,  itu  resep  jitu  untuk  tidur  nyenyak,”  ucap  Barney  menanggapi sambil tersenyum. ”Good  night,  Fay.  Sleep  well.”

”You  too.”

”Sudah pasti... Saya akan tidur panjang malam ini, mungkin berhibernasi seperti beruang di musim dingin bersama istri tercinta,” ucap Barney. ”Tak perlu menunggu kami untuk sarapan,” tambahnya sambil tersenyum, kemudian berlalu sambil bersenandung.

Setelah Barney pergi, Fay akhirnya menghabiskan susunya, kemudi an memutuskan kembali ke kamar, mengesampingkan semua pertanyaan yang berseliweran di kepalanya hingga esok hari. Siapa tahu besok pagi ia bisa berpikir lebih jernih dan benang kusut di kepalanya bisa diuraikan dengan lebih mudah.

Fay beranjak ke arah kamar tidur, namun langkahnya terhenti ketika tiba di koridor—ke kiri adalah ke ruang tidur tamu, ke kanan adalah ruang kerja Barney. Kepalanya otomatis menoleh ke kanan, dan tatapannya langsung jatuh ke gagang pintu.

Benaknya menyuarakan sebuah ide dan jantungnya berdegup lebih cepat.

Tidak, pikirnya buru-buru.

Hidupnya hari ini sudah cukup rumit gara-gara rasa penasaran yang tak bisa ditahan. Kalau saja ia tidak usil, ia tak perlu tahu ada senjata berperedam di kopernya. Dan sekarang ia tak mau menambah masalah baru. Kucing mungkin punya sembilan nyawa, tapi ia cuma punya satu.

Fay buru-buru berbelok ke kiri, namun setelah beberapa langkah ia berhenti dan kembali menoleh ke belakang. Benaknya mulai memainkan berbagai skenario. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuka ruangan, menutupnya, mengambil dan membaca berkas? Sebenarnya tak perlu dibaca... Ia hanya perlu memotret halaman demi halaman dengan telepon genggam. Mungkin tak sampai lima menit.

Fay menggeleng untuk meredam sisi tak tau diri dalam dirinya.

Tidak, tidak! Sebaiknya jangan cari gara-gara. Barney dan Tia Bea sedang menikmati waktu mereka bersama.

Enrique tidur pulas. Tidak akan ada yang tahu...

TIDAK! Ia akan melewatkan sisa hari ini dengan tenang, tidur nyenyak di kamarnya, dan bukan dengan mengendap-endap di ruang kerja orang lain dengan risiko tertangkap.

Tak sampai lima menit... Hanya masuk, memotret berkas dengan telepon genggam, kemudian keluar lagi. Kalau ketahuan, bilang saja mencari anting yang hilang sebelah sewaktu tadi meletakkan kado.

Fay menghela napas. Kepalanya berkata tidak, tapi segenap jiwa raganya selain kepala seakan mendesak-desak dari dalam, menggaungkan nama Nicholas Xavier berulang-ulang.

TIDAK! Pikirnya membulatkan tekad, lalu melangkah ke kamar.

Bila tidak sekarang, kapan lagi bisa mendapat kesempatan memperoleh informasi tentang Nicholas Xavier?

TIDAK! Untuk apa repot-repot mencari tahu tentang pria itu? Tak penting untuk mencari tahu hubungan antara Nicholas Xavier dengan Barney.

Bagaimana kalau ternyata Mama, Papa, dan Nicholas Xavier berada di pesawat yang sama?

TIDAK PEDULI! Apa pun yang terjadi, faktanya tak berubah: Mama dan Papa meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat.

Bagaimana kalau itu bukan... kecelakaan?

Langkah Fay terhenti. Perutnya mendadak ngilu. Jantungnya mulai berdebar cepat ketika benaknya yang tadi menolak mentahmentah mulai beralih sisi.

Ia tidak punya sembilan nyawa, tapi... apakah keberuntungannya cukup besar untuk sekadar mencari tahu tentang hubungan Nicholas Xavier dengan Barney, selama lima menit? Adakah gunanya untuk tahu tentang itu? Mungkin iya.

Akhirnya ia mengubah pengaturan telepon genggam menjadi silent mode, menarik napas panjang, lalu menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tak ada orang lain. Ia berjalan cepat ke arah pintu dengan dada bergemuruh. Ia menahan napas ketika memutar gagang pintu, dan jantungnya serasa melompat ketika pintu terbuka dan bisa didorong tanpa kesulitan. Ia pun buru-buru masuk dan sejenak mengembuskan napas lega ketika pintu ia tutup.

Ruangan gelap gulita.

Memakai cahaya samar telepon genggam untuk memandu, Fay mendekati meja kerja Barney. Posisi semua barang masih sama dengan sebelumnya. Ia meraih berkas, berjongkok ke kolong meja untuk menyembunyikan kilatan lampu blitz, dan mulai memotret halaman pertama dengan jantung berpacu. Kemudian ia membalik kertas, dan sempat memaki dalam hati dengan kepanikan memuncak ketika kertas sulit dibalik karena tangannya yang dingin terasa kaku, tapi di saat yang bersamaan juga gemetar. Akhirnya, halaman kedua terpampang di hadapannya dan ia pun buru-buru memotret.

Berikutnya terdengar suara gesekan sepatu dengan karpet dari arah belakangnya.

Fay terkesiap dengan jantung seperti copot.

Ada orang lain!

Sebelum ia sempat bereaksi, sebuah tangan memegang bahunya  dari belakang....

***

Raymond Lang berdiri di ruang komando markas COU, Paris. Di tengah-tengah ruang, sebuah meja simulasi menampilkan model tiga dimensi dari kediaman Bruce Redland. Kaca bening pembatas ruang komando sudah berubah warna menjadi putih dan berubah fungsi menjadi layar raksasa. Di layar, tampil wajah Bobby Tjan yang sedang memantau jalannya operasi di pusat komando Operasi Lexus di Jenewa, sebuah headset terpasang di kepalanya.

”Siap?” tanya Raymond pada Elliot Phearson yang menempati salah satu komputer. Main handler Elliot yang mengepalai Direktorat Teknologi, James Priscott, berdiri mengawasi Elliot yang tangannya bergerak lincah di keyboard.

Elliot menelan ludah, lalu mengangguk. ”Kita siap terkoneksi. Hm... kita punya tiga menit sebelum server mendeteksi penyusup dan  mengaktivasi  pelacakan.”  Ia  membetulkan  posisi  kacamatanya yang melorot dengan tangan sedikit gemetar.

Andrew masuk ke ruangan.

Raymond  mengangguk  ke  arah  Bobby  di  layar.  ”Whenever  you’re ready.”

Bobby memberi tanda pada Elliot. ”Sekarang!”

Terdengar dering telepon, kemudian suara seorang pria. ”Halo, Monty. What a surprise. Ada apa?”

Bobby menjawab dengan suara agak pelan dan intonasi datar yang terdengar  sopan.  ”Good  evening,  Mr.  Redland.  Pertama-tama  saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Anda. Bagaimana jalannya acara Anda, Sir? Saya harap semua berjalan lancar.”

Terdengar suara tertawa renyah. ”Acara pernikahan saya berjalan lancar. I’m a married man, now. Jadi, ada hal apa sehingga kamu harus menghubungi saya malam-malam seperti ini? Kamu beruntung telepon saya masih belum dimatikan... Saya baru saja menuang minuman ke gelas saya dan istri saya.”

”Begini, Sir. Ada sedikit masalah...”

”Monty! Saya tidak ingin dengar kata masalah darimu! Jangan rusak malam pernikahan saya dengan memberi masalah. Berikan saya solusi!”

”Sudah, Sir. Saya hanya perlu Anda membaca e-mail saya sekarang dan memberikan persetujuan,” ucap Bobby.

Tatapan Raymond dan Andrew lekat ke layar yang menampilkan pergerakan data antar-server, beserta sebuah counter waktu yang berjalan mundur. Tersisa waktu 59 detik lagi.

Terdengar suara helaan napas. ”Tidak bisakah menunggu hingga esok pagi? Saya ingin menghabiskan waktu bersama istri saya. I just got married, for God’s sake!”

”Saya minta maaf, Mr. Redland. Tapi saya perlu otorisasi Anda malam ini. Ini ada kaitannya dengan pengadaan bahan baku untuk menyempurnakan kompisisi obat. Please, Sir... kita sudah lama berkutat dengan senyawa misterius yang belum diketahui dan akhirnya sekarang kita punya kesempatan untuk mengatasinya. Di bumi belahan lain, ini masih pagi hari, dan mereka bisa memprosesnya segera. Tentunya Anda tidak ingin ada penundaan lagi di jadwal peluncuran. Saya tidak akan mengganggu Anda lagi setelah ini.”

”Alright.  Saya  akan  ke  ruang  kerja  dan  memberi  otorisasinya  sekarang.”

Terdengar suara wanita di latar belakang, seperti menyuarakan protes.

”Thank  you,  Mr.  Redland.  Have  a  good  evening,” ucap Bobby.

Elliot memutus sambungan dan mengembuskan napas lega. Di layar, counter menunjukkan tiga detik lagi menuju titik nol.

James mengambil alih komputer beberapa saat, kemudian berkata, ”Semua bersih. Kita tak terdeteksi.”

Bobby berkata pada Elliot, ”Sekarang, buat koneksi baru untuk mengalihkan panggilan-panggilan yang masuk ke nomor Monty Bradwick, kalau-kalau Bruce Redland menelepon balik.”

”Sudah, Sir,” gumam Elliot sambil mendekap dirinya sendiri sambil mengusap-usap lengan.

Raymond  berkata,  ”So  far  so  good.  Sekarang  tinggal  menunggu target menyalakan komputernya. Saat Bruce memeriksa e-mail,  sebuah program akan mengirim semua data  di  komputernya  tanpa dia ketahui, kemudian menghapus e-mail yang kita kirim atas nama Monty  berikut  balasannya.”  Ia  menoleh  pada  Andrew  dan  menjelaskan, ”Konektor biasa tidak bisa mengambil data yang dienkripsi di komputer Bruce.”

Andrew mengangguk—Bobby telah menjelaskannya sebelum dia bertolak ke Jenewa. ”Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengunduh data setelah komputer terhubung?” tanyanya.

”Maksimal tiga menit,” jawab James. ”Kita punya algoritma yang bisa mengenali mana data-data yang perlu ditransfer dan mana yang tidak,” tambahnya.

Andrew melihat arlojinya kemudian berkata, ”Aku ada video conference dengan Kepala Riset L’Hopital du Dent Blanche dan Philippe sebentar lagi.”

Raymond  berkata,  ”Everything  is  under  control.  Kau  bisa  tidur lelap malam ini dan besok pagi aku akan memberikan laporan jalannya   operasi   serta   perkembangan   terakhir.”   Sudut   bibirnya terangkat sebelum melanjutkan, ”Aku yakin Fay baik-baik saja. Tugasnya sudah selesai dan aku percaya dia sudah tidur nyenyak.”

Andrew tersenyum singkat. Bukan itu yang ia khawatirkan sekarang—ia baru saja menerima laporan yang dikirim langsung dari server, tapi Raymond tak perlu tahu. ”Beritahu aku bila ada masalah, sekecil apa pun,” ucapnya.

Secara sambil lalu Andrew menyapukan pandangannya pada James, yang meliriknya sambil membetulkan kacamata dengan gugup. James menerima laporan yang sama dengan Andrew dan tahu apa yang mengganggu Andrew. Ia akan menindaklanjutinya segera setelah semua ini usai.

”Good  night,  James,”  sapa  Andrew  tenang,  kemudian  kembali  ke ruang kerja.

***

”What  are  you  doing  here?” tanya sebuah suara dengan nada rendah yang tajam.

Fay tertegun mendengar suara yang ia kenali.

Reno?

Fay mengaduh ketika lengannya ditarik untuk berdiri.

Tiba-tiba cahaya terang menyorot wajahnya dan ia pun langsung mengerjap sambil memalingkan wajah. Berikutnya, cahaya beralih dari wajahnya dan ia melihat sosok Reno berdiri di hadapannya sambil menatapnya tajam, senter di tangannya diarahkan ke lantai. Fay langsung bersuara dengan nada rendah, ”Kenapa kamu pakai senter! Kalau cahayanya terlihat dari luar gimana?”

”Akses ruang ini langsung ke danau. Tidak ada penjaga di sisi ini, hanya ada sensor gerak di sepanjang danau, diaktifkan di malam hari.”

Fay mengibaskan lengannya yang dipegang Reno hingga pegangan Reno terlepas. ”Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya ketus sambil memasukkan dua tangannya ke saku mantel.

”Jangan tanya kenapa aku di sini!” hardik Reno. ”Aku tadi melihatmu masuk ke ruangan ini padahal aku tahu kamu seharusnya tidak punya kepentingan untuk berada di sini!” Ucapannya berhenti ketika senter di tangannya menyorot berkas yang tergeletak di lantai.  Ia memungut berkas tersebut, lalu mengacungkannya  di  hadapan  Fay. ”Apa yang kamu lakukan dengan ini?”

”Bukan urusanmu!” sahut Fay sambil berusaha merebut berkas dari tangan Reno, namun gagal karena Reno langsung menjauhkannya.

Reno berkata dengan wajah mengancam, ”Karena aku yang memergokimu di sini, ini otomatis jadi urusanku juga. Kamu berutang penjelasan padaku, tapi yang lebih penting sekarang adalah mengeluarkanmu dari ruangan ini. Kamu tidak boleh ada di sini.” Ia meletakkan berkas di meja, lalu menarik paksa tangan Fay ke arah pintu.

”Aw, sakiiit!” protes Fay sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicengkeram Reno, tapi tak berhasil.

Reno mengabaikan Fay, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan ia memaki pelan.

”Kenapa?” tanya Fay berbisik. Ia bisa merasakan tubuh Reno menegang dan ia pun ikut tegang.

”Bruce sedang mengarah ke sini!” bisik Reno, lalu berbalik dan berjalan ke arah lemari di sisi ruangan.

”Bruce? Bagaimana kamu tahu?” tanya Fay.

Reno tidak menjawab. Ia membuka pintu lemari dan mendorong Fay ke dalam lemari, lalu ikut masuk dan berdiri di belakang Fay.

Tepat ketika pintu lemari ditutup Reno, pintu ruang kerja terbuka lebar. Lampu menyala.

Fay berdiri dengan tubuh kaku, dengan jantung terasa seperti menggedor dadanya. Dari dalam lemari ia bisa melihat ke luar lewat celah-celah yang ada di pintu lemari. Bagian tengah pintu lemari dibentuk dari lempengan-lempengan kayu yang disusun bertumpuk secara horizontal, dengan celah kecil di antara lempeng satu dengan yang lain. Lewat celah-celah tersebut, terlihat Barney berjalan menuju meja kerjanya, dengan telepon genggam di tangan. Barney meletakkan telepon di atas meja, kemudian bersiap duduk di kursi,  tapi  urung. Tatapan Barney kini terpaku ke berkas yang ada di meja. Fay menahan napas.

Barney mengambil berkas itu, membukanya sambil merapikannya, lalu meletakkannya lagi.

Fay mengembuskan napas lega sesaat, dengan debar jantung yang tetap masih berpacu. Sekarang Barney mulai bekerja di laptopnya.

Sambil mencoba mengatur napasnya yang masih naik-turun dengan cepat, Fay menyumpahi diri sendiri dalam hati. Kenapa ia tadi  tak bisa menahan diri dan memilih melibatkan dirinya dalam masalah? Benar-benar bodoh! Tenang, Fay... tak lama lagi Barney akan keluar, kemudian kamu tinggal menunggu sebentar dan langsung keluar. Fay mungkin terpaksa berterus terang pada Reno kenapa ia tertarik dengan berkas Nicholas Xavier, dan Reno sudah pasti akan memarahinya, tapi Fay tak punya pilihan lain. Yang ia harapkan sekarang adalah semoga semuanya segera usai, dan ia serta Reno bisa keluar tanpa ketahuan. Fay melirik Reno—Reno pasti terlibat tugas yang sama dengan Kent. Apa yang sedianya akan dilakukan Reno?

Barney mengangkat telepon genggamnya dan menghubungi satu nomor.

”Halo, Monty?”

...

”Saya sudah memberi otorisasi.”

...

”Apakah bisa diasumsikan saya akan segera mendengar kabar baik?”

...

”Baik. I’ll  see  you  next  week.”

Barney meletakkan telepon genggam dan menutup laptop. Ia berdiri, kemudian terpaku. Tatapannya lurus ke depan.

Fay mengikuti arah pandangan Barney dan jantungnya seakan melompat ketika mengenali sosok yang berdiri di pintu yang kini terbuka.

Russel!

”Tangan  di  atas,”  perintah  Russel  sambil  mengacungkan  senjata berperedam ke arah Barney.

Fay merasa tubuhnya kaku saat ia melihat senjata di tangan Russel. Berikutnya, ia terkesiap ketika mulutnya tiba-tiba saja dibekap Reno dari belakang. Ia menoleh pada Reno, dan meilhat cowok itu meletakkan jari telunjuknya di mulut, memberi tanda untuk tidak bersuara.

Fay mengangguk, tapi Reno tidak melepas bekapannya. Ia melirik Reno dengan marah—satu tangannya berusaha menarik jari-jari Reno yang membekap mulutnya, sedangkan satu tangan lain memegang pergelangan tangan Reno. Fokusnya teralih sewaktu mendengar suara Barney.

”Kamu siapa, dan bagaimana caranya kamu masuk?”

Russel mengayunkan senjatanya sedikit, memberi tanda pada Barney untuk berjalan mendekat dan berdiri di hadapannya.

Russel berkata datar, ”Siapa saya tidak penting... juga bukan informasi yang menarik.” Ia berjalan mengitari Barney, kemudian berdiri di belakang Barney. Satu tangannya di dalam kantong celana.

”What  do  you  want?” tanya Barney. Suaranya terdengar awas dan ia menoleh sedikit ke belakang untuk melihat Russel.

”Itu masalahnya... tepatnya masalah Anda... saya tidak menginginkan apa-apa,” ucap Russel, lalu mengeluarkan tangannya dari saku. Fay terpaku melihat tabung logam yang ada di tangan Russel— bukankah itu benda yang tadi ada di koper? Tangannya yang sedari tadi masih memegang pergelangan Reno kini mencengkeram lebih

keras.

Russel mendekati Barney, kemudian dengan satu gerak cepat menghunjamkan tabung itu ke tengkuk Barney dan menariknya lagi.

Barney mengaduh, kelihatannya lebih karena kaget ketimbang  sakit. Russel mundur dan memperhatikan Barney, tetap sambil mengacungkan senjata.

”Apa yang kamu lakukan?” tanya Barney sambil berbalik, menatap Russel dengan sorot kesal. Namun, wajah Barney tiba-tiba saja berubah. Matanya membelalak dan wajahnya mengeras. Berikutnya, tubuhnya mengejang dan ia pun jatuh menelungkup ke lantai.

Fay refleks memekik, tapi suara yang keluar dari mulutnya yang dibekap hanyalah berupa gumamam pelan. Ia bisa merasakan bagaimana lengan Reno mengeras dan bekapan tangan Reno di mulutnya jadi semakin kuat. Jantungnya langsung bergemuruh.

Russel berjalan ke meja kerja Barney, mengambil telepon genggam Barney, mengutak-atiknya dan meletakkannya lagi. Berikutnya, Russel memeriksa isi laci-laci, membuka lemari di sisi meja kerja dan mencari-cari di antara tumpukan kertas, sebelum akhirnya mengambil sebuah berkas. Russel menyatukan berkas tersebut dengan berkas Nicholas Xavier yang ada di meja, kemudian memasukkannya  ke jaket dan bergegas keluar dari ruangan.

Setelah menunggu beberapa saat, Reno melepas bekapannya pada mulut Fay dan membuka pintu lemari.

Fay melangkah keluar lemari dengan lutut lemas. Ia hampir saja jatuh, tapi Reno menahan tubuhnya. Dengan tatapan nanar ia me lihat tubuh Barney tergolek di lantai. Otaknya beku. Ruangan seperti  berputar. Sayup-sayup ia mendengar suara memanggil namanya, tapi suara itu terdengar seperti terkulum di dalam air.

Berikutnya, ia mengaduh ketika sebuah rasa menyengat terasa di  pipinya dan kepalanya sedikit terlempar ke samping. Kesadarannya  kembali, dan yang pertama ia lihat adalah Reno yang berdiri di hadapannya sambil mengguncang-guncang bahunya.

”FAY! Lihat aku!”

Fay menelan ludah, lalu mengangguk. Ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal.

”Jangan mengatakan apa-apa tentang hal ini, kepada siapa pun... dengar?”

Fay hanya menatap Reno. Napasnya sesak. Semua ini terasa tak nyata.

Reno menepuk-nepuk pipi Fay dengan keras, kemudian bertanya dengan intonasi lebih tajam, ”Hei, kamu dengar aku?”

Fay  mengerjapkan  mata.  ”I...  iya,”  jawabnya,  lalu  menelan  ludah.

”Sekarang juga, kembali ke kamarmu. Ingat, kamu tidak pernah masuk ke ruangan ini, mengerti?”

”Ya,” jawab Fay dengan suara tersekat. Perutnya bergolak. Ia mual. Tatapannya jatuh ke tubuh Barney, dan ia buru-buru meninggalkan ruangan. Sayup-sayup terdengar suara Reno di belakang, ”Lexus Dua ke Lexus Satu. Tadi saya tidak bisa melapor karena seorang penjaga mendekat dan saya harus memancingnya supaya menjauh. Masalah beres tanpa insiden. Keberadaan tidak diketahui. Kembali ke tenda servis sekarang...”

Fay berjalan terseok-seok di koridor menuju kamarnya. Tiba di kamar, ia mengunci pintu dengan tangan kaku dan sekujur tubuh gemetar. Napasnya tersengal-sengal. Suara napasnya yang menderu tak bisa ditahan. Kepalanya berdenyut-denyut dan benaknya seperti melayang tak tentu arah. Rasa mual di perutnya menyeruak naik begitu saja dan ia langsung melangkah ke kamar mandi dengan tubuh oleng. Ia menunduk di atas toilet dan langsung memuntahkan isi perutnya.

Lagi...

...lagi...

...dan lagi...

***

A chaos.

Tom Goodman tak bisa lagi menemukan kata lain yang bisa menggambarkan apa yang terjadi. Ia sudah bersiap meninggalkan kediaman Bruce ketika telepon genggamnya berbunyi, dari  Enrique.

”Tom, kamu harus ke sini sekarang. Barney ada di ruang kerja...

Dia... tidak bernapas.”

Tom langsung berlari ke rumah. Begitu membuka pintu, suara raungan dan tangisan langsung terdengar. Bea duduk di ruang tamu sambil terisak, dipeluk oleh Fay yang wajahnya juga dialiri air mata. Enrique berdiri di pintu ruang kerja Bruce dengan wajah pucat pasi.

Tom memeriksa Bruce, dan detik itu juga ia tahu Bruce sudah tak bernyawa. Ia menelepon Dr. Kessler, dokter pribadi Bruce, kemudian menelepon polisi.

Enrique masih tercenung di pintu, menatap tubuh Bruce yang sudah tak bernyawa. Tom menepuk-nepuk pundak Enrique. ”Sebaiknya kamu duduk di ruang keluarga dan menemani ibumu.”

Tak lama kemudian Dr. Kessler datang, diikuti dua polisi.

Dr. Kessler berkata ke polisi yang mencatat, ”Penyebab kematian adalah stroke.”

”Kami perlu membawa korban untuk diautopsi,” ucap salah satu polisi.

”Tidak  perlu,”  tukas  Dr.  Kessler.  ”Bruce  tidak  bersedia  diautopsi bila tidak ada indikasi mencurigakan atas penyebab kematiannya. Tekanan darahnya selalu tinggi dan hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan penyumbatan pembuluh darah. Di pesta pernikahannya malam ini mungkin dia tidak menjaga asupan garamnya sehingga tekanan darahnya naik drastis, memicu stroke. Anda bisa menghubungi pengacaranya untuk mendapatkan surat pernyataan bersegel yang pernah dia tanda tangani tentang penolakan autopsi.”

Polisi berkata, ”Saya perlu pernyataan dari saksi yang pertama kali menemukan korban.”

Tom mengajak polisi ke ruang tamu.

”Saya yang melihatnya,” ucap Bea dengan mata sembap dan memerah. Dia berusaha menghentikan isak tangisnya. ”Bruce turun ke ruang kerja karena ada yang harus dilakukan olehnya. Karena dia tidak naik-naik, saya menyusul turun dan melihat lampu ruang kerjanya menyala dan pintunya terbuka. Saya masuk dan melihat dia sudah  terbaring  di  lantai...”  Bea  kembali  terisak.  ”Saya  langsung berteriak memanggil Enrique.”

Polisi menutup buku catatannya, kemudian pergi keluar rumah untuk menemui petugas ambulans yang baru tiba.

Tom kembali ke ruang kerja Bruce.

Ia berjongkok di sisi Bruce, kemudian memperhatikan wajah Bruce yang tampak seperti sedang terlelap. Kematian tak asing dalam lini pekerjaan yang ia geluti, tapi bila terjadi pada seseorang yang ia kenal dekat, tetap ada satu bagian dalam hatinya yang terasa seperti tersayat. Hubungannya dengan Bruce dari luar terlihat tak lebih dari hubungan profesional, tapi sulit untuk tidak berkawan dengan seorang pria yang ia dampingi delapan belas jam sehari selama empat tahun. Percakapan-percakapan sepotong di awal masa kerjanya lamakelamaan menjadi cerita-cerita panjang dan tak butuh waktu lama hingga ia mengenal Bruce secara pribadi, bukan hanya sebagai atasan.

Tom menghela napas, dan berdiri. Tatapannya jatuh ke meja kerja Bruce. Ia melihat laptop dan telepon genggam Bruce. Keningnya berkerut ketika sadar tidak melihat sebuah berkas yang kemarin ia lihat ada di meja. Apakah semalam Bruce menyimpan berkas Nicholas Xavier?

Tatapan Tom berubah awas. Ia membuka laci-laci meja kerja, kemudian mencari di lemari berisi berkas-berkas. Ia menyisir ruangan, membuka setiap laci dan pintu lemari yang ada di hampir semua sisi ruangan sambil memperhatikan setiap sentimeter lantai karpet dan dinding. Ia membuka lemari mantel, dan mengangkat alis melihat sebuah telepon genggam tergeletak di dekat sepatu. Ia memasukkan telepon ke saku, kemudian menutup lemari, bertepatan dengan masuknya petugas ambulans dan polisi ke ruangan.

Polisi bertanya, ”Apakah ada orang yang bisa memberi konfirmasi tentang barang-barang yang ada di ruangan ini? Apakah ada yang hilang?”

”Saya berbicara dengan Bruce di ruangan ini kemarin sore, tepat sebelum acara pemberkatan pernikahannya. Tidak ada yang hilang... semua persis sama seperti kemarin sore, kecuali kado-kado di lantai yang diletakkan semalam.”

Polisi mengangguk.

Petugas ambulans membawa jenazah Bruce ke luar ruangan. Polisi ikut keluar.

Tom berjalan keluar sambil berpikir. Ia kemudian melirik tumpukan kado di lantai—tak ada kantong ungu bergaris dengan pita ungu muda.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊