menu

Trace of Love Bab 12: The Wedding

Mode Malam
The Wedding

”KOPERMU  kok  tidak  ada?”  gumam  Enrique.  Ia  berkacak pinggang dengan mata terarah pada conveyer belt yang walaupun masih bergerak namun sudah kosong melompong.

Area ini bahkan sudah ditinggalkan oleh para penumpang di penerbangan yang sama.

Fay menatap conveyer belt yang masih bergerak, berharap ada keajaiban dan kopernya tiba-tiba saja muncul.

Terdengar bunyi dengungan—gerakan conveyer belt melambat, kemudian berhenti.

”Bagaimana ini?! Gaun pestaku ada di koper itu! Kalau nggak ketemu, acara besok bagaimana?” Di benak Fay, muncul wajah panik bercampur kecewa Tia Bea bila koper itu  benar-benar  hilang.  Tia Bea telah memilihkan gaun panjang warna peach untuk dipakai ke acara pernikahan. Bukan sembarang gaun yang bisa digantikan be gitu saja—motif-motif bunga dan renda di gaun pesta itu senada dengan yang ada di gaun pengantin warna putih yang akan dipakai oleh Tia Bea.

”Kita lapor dulu ke bagian Lost  Baggage,” ajak Enrique.

Tiba di bagian Lost Baggage. Enrique memberikan kertas bertuliskan nomor bagasi, kemudian petugas mencatat di komputer. Petugas meminta Enrique untuk menuliskan nomor dan alamat yang bisa dihubungi.

Fay beranjak meninggalkan konter dengan langkah berat. ”Bagaimana kalau tidak ketemu?” keluhnya.

”Petugas tadi kan bilang bagasimu sudah tercatat ada di pesawat, jadi kemungkinan terambil oleh orang lain. Begitu orang itu sadar kopernya bukan milik dia, pasti dia akan mengembalikannya.”

”Lantas, kalau orang itu nggak balikin? Bagaimana kalau dia memang ingin nyolong?!”

”Kita colong lagi saja...”

”Aku serius!” tukas Fay sambil melotot.

Enrique tersenyum simpul sebelum mengubah wajahnya menjadi serius.  ”Sorry...  Kita  tunggu  saja  di  rumah.  Kamu  nggak  usah  khawatir. Everything will  be  alright.”

Mereka sedang berjalan melalui pintu bandara yang terbuka otomatis ketika terdengar suara petugas memanggil di belakang  me reka.

Fay menoleh, dan jantungnya terasa seperti melorot saking leganya, ketika melihat tangan si petugas menarik kopernya.

”Terima kasih banyak,” ucap Enrique dengan senyum lebar sambil menerima koper yang disodorkan petugas. ”Di mana koper ini ditemukan?”

”Seorang pria baru saja mengantarkan koper ini ke konter kehilangan. Dia bilang, dia tersadar ini bukan kopernya ketika melihat koper yang sama persis sudah berada di dalam bagasi mobil. Rupanya temannya yang keluar lebih dulu sudah mengambilkan kopernya. Enjoy  your  day,” balas si petugas sambil tersenyum sopan.

Enrique merangkul Fay. ”I  told  you...  Everything  will  be  alright.”

***

Dua puluh menit kemudian, Fay melangkah ke ruang duduk kediaman Barney. ”This  is  so  beautiful!” serunya terkagum-kagum.

”Indah sekali ya...,” ucap Tia Bea dengan senyum lebar. Fay mengangguk takjub. Ia boleh saja tinggal di kastil yang luar biasa megah dengan taman yang juga indah, tapi pemandangan yang langsung terlihat dari ruangan ini benar-benar tak terkalahkan. Kolam renang yang ada di luar didesain dengan ujung seperti air terjun, sehingga tampak seakan tersambung dengan danau biru— sebuah infinity pool. Ditambah lagi, dengan dinding, jendela, dan pintu dari kaca, ruangan ini seakan langsung terhubung dan me nyatu dengan kolam renang dan Danau Jenewa. Sebuah ruang yang berbatas cakrawala.

Enrique menggeser pintu kaca. Angin berembus lembut.

Fay dan Tia Bea berjalan ke arah danau, mengikuti Enrique.

Di pinggir danau, pada sebuah ceruk tersembunyi di balik pepohonan, terlihat altar yang dikelilingi karangan bunga. Sulur-sulur menjulur dari langit-langit. Bangku-bangku tersusun rapi.

Fay berdecak kagum. ”Tia, ini tempat pernikahannya?”

”Iya, tempat pengucapan janji saja, sedangkan makan malam akan disajikan di kabin,” jawab Tia Bea sambil menunjuk jalan setapak.

Dari altar ke kabin terlihat jalan setapak dari batu dengan tiangtiang yang dipenuhi tanaman rambat, membentuk sebuah lorong. Lampu-lampu menempel di tiang.

Fay melangkah ke arah yang ditunjukkan Tia Bea dan kembali berdecak kagum. Ia bisa membayangkan betapa romantisnya tempat ini di senja hari saat pengucapan janji suci, dengan cahaya temaram dari lampu. Berjalan di lorong menuju kabin akan terasa seperti menjejakkan kaki di negeri dongeng.

Di ujung lorong, sebuah bangunan rumah kaca dengan kubah seperti piramida tiba-tiba saja terlihat.

”Wow... saya pikir yang disebut kabin adalah pondok kayu kecil,” cetus Fay.

Tia Bea tertawa kecil. ”Saya juga berpikir begitu, sampai Barney menunjukkannya sendiri kemarin.”

Terdengar  sebuah  sapaan  di  belakang  mereka.  ”Good  afternoon.

Sedang melihat-lihat?”

Tia membalas sapaan pria itu. ”Hai, Tom. Saya sedang menunjukkan  kabin  pada  Fay,”  ucapnya,  kemudian  menoleh  pada  Fay.  ”Perkenalkan, Fay, ini Tom Goodman,  kepala  keamanan  Barney.  Dia akan memastikan pesta saya besok berjalan lancar. Iya kan, Tom?”

Fay mengulurkan tangan untuk menyalami Tom. Pria itu berbadan tegap dan kekar, dan wajahnya memiliki garis rahang yang keras. Rambutnya cepak seperti tentara dan berwarna abu-abu seperti rambut Philippe Klaan. Sorot mata Tom yang tetap awas ketika tersenyum mengingatkan Fay pada Bobby dan Russel.

Tom  berkata,  ”Pleased  to  meet  you.”  Ia  kemudian  menanggapi ucapan Tia Bea. ”Tentu saja. Saya harus membawa Anda ke rumah sekarang. Bukankah pantang bagi pengantin wanita terlalu lama  berada di lokasi pernikahan sebelum waktunya?” Ia tersenyum.

Tia Bea mengibaskan tangannya sambil tertawa kecil. ”Tom, kamu tidak percaya omong kosong seperti itu, kan?”

Tom  tertawa  kecil.  ”Of  course  not.  Saya  akan  berterus  terang... Saya ingin Anda kembali ke rumah karena anak buah saya sebentar lagi akan menyisir lokasi.”

Tia Bea menggeleng. ”Kalau saja Richard dulu tidak memegang posisimu, saya mungkin akan gugup membayangkan pasukan keamanan  memeriksa  bom  di  lokasi  pernikahan  saya.”  Tia  menoleh pada  Fay.  ”Tom  dulu  anak  buah  Richard.  Richard  selalu  saja  memuji-mujinya.”

Tom tersenyum. ”Jangan khawatir. Saya yakin kami tidak akan menemukan bom. Ini tindakan pencegahan saja.”

Fay mengikuti Tia Bea ke bangunan utama, namun menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Ia mendekati Enrique sedang berdiri di dermaga yang terbuat dari susunan papan kayu. Sebuah speedboat dan jetski ditambatkan di dermaga. ”Wah, ada jetski. Keren!” ucapnya sambil berdecak kagum.

”Lusa kita coba, sebelum kembali ke Paris. Kalau sekarang, mamaku pasti ribut,” ucap Enrique. Ia lalu bertanya, ”Telepon genggammu mana?”

Fay memegang tas selempang kecil di tubuhnya. ”Di sini, sama dompet dan semua dokumen. Kenapa?”

Enrique mengangkat tas Fay, kemudian melepas tas Fay lewat kepala dan meletakkannya di lantai kayu dermaga. Ia lalu berdiri membelakangi danau di tepian dermaga.

Fay menatap Enrique dengan bingung—sudut bibir Enrique terangkat sedikit. Fay memekik ketika Enrique tiba-tiba saja memeluknya erat. ”Kenapa?” tanyanya sambil mendongak pada Enrique yang kini tersenyum lebar dengan mata berkilat jail.

”Nggak apa-apa,” ucap Enrique. ”Aku hanya ingin memelukmu.” Setelah mengucapkan itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang  begitu saja.

Fay menjerit ketika merasakan gerakan jatuh bebas dalam dekapan Enrique. Jeritannya langsung hilang ditelan bunyi permukaan  air  yang pecah diiringi air yang terciprat ke mana-mana. Sejenak hanya ada suara gemuruh air di kedalaman. Fay buru-buru berenang ke permukaan. Begitu ia melihat wajah Enrique menyembul dari air, ia langsung berteriak, ”Kamu kurang kerjaan, ya?” Kemarahannya tak jadi mewujud melihat Enrique tergelak dengan wajah jail yang berbinar ceria. Akhirnya ia mencipratkan air ke Enrique.

Enrique berenang mendekati Fay. ”I’m sorry.” Ia kemudian meraih tangga dermaga dan satu tangannya menarik Fay ke pelukannya. ”Sebenarnya aku cuma cari cara untuk berduaan denganmu tanpa  kelihatan orang lain,” ucapnya sambil tersenyum simpul dengan mata berbinar nakal.

Fay merasa pipinya panas. ”Ih, kamu pikir aku mau dekat-dekat kamu setelah diceburkan ke air dingin begini!” sahutnya judes sambil mendorong Enrique, lalu berenang menuju tangga.

Enrique panik. ”Kamu marah, ya? I’m really really sorry. Aku nggak akan melakukannya lagi. Aku harus ngapain dong biar kamu nggak marah lagi?”

”Nggak tahu... Berlutut di hadapanku sambil kasih bunga, kasih hadiah,  atau  baca  puisi...  pokoknya  harus  mengesankan,”  ucap  Fay lagi, seserius mungkin, sambil menaiki tangga ke dermaga. Enrique menyusul di belakangnya. ”Serius, kamu benar-benar marah?”

Fay memasang wajah datar yang kaku, kemudian mengangguk sambil memeras bajunya yang basah. ”Iya, marah banget. Kalau nggak basah begini, kepalaku sudah berasap.” Ia tertawa dalam hati melihat Enrique terpaku menatapnya dengan wajah menyesal. Ia mengambil tasnya dari lantai dermaga seakan ingin segera beranjak pergi, tapi lalu berbalik tanpa peringatan dan mendorong Enrique yang masih berdiri di tepi dermaga.

Enrique melayang di udara dengan wajah terperanjat sebelum tercebur dan masuk ke air. Ketika wajahnya akhirnya menyembul lagi di permukaan, ia terperangah menatap Fay.

Fay tergelak sambil matanya berair. ”Ya ampun, wajahmu barusan lucu sekali,” ucapnya kemudian sambil menyeka matanya.

Enrique naik dengan wajah gemas. ”You are going to pay for this...” Fay lari ke bangunan utama, masih sambil tergelak.

Tiba di ruang duduk, Tia Bea menyambut dengan mata  ter belalak. ”Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu?” Tatapannya jatuh pada Enrique yang masuk belakangan. ”Dan kamu?”

Fay buru-buru menjawab, ”Enrique menceburkan saya ke danau.” Ia berlalu dari hadapan Tia Bea sambil nyengir dan menyapukan pandangan ke Enrique.

Tia Bea langsung berkacak pinggang. ”Enrique! Itu bukan cara yang tepat untuk memperlakukan tamu saya, dan pacarmu!”

Enrique langsung gelagapan. Ia mengangkat bahu sambil mundur. ”Itu cuma kecelakaan kecil...”

Fay tertawa pelan sambil masuk ke kamarnya.

Setelah mandi dan berganti baju, Fay kembali ke ruang duduk. Enrique menyambut dengan seulas senyum, kemudian merangkul Fay.

”Jadi, kita impas, ya?” tanya Enrique.

”Enak aja. Aku masih tetap mengharapkan bunga, hadiah, dan puisi...”

”Oh  iya...,”  sahut  Enrique  dengan  raut  wajah  seperti  berpikir keras, ”...dan jangan lupa, bukankah aku harus berlutut di hadapanmu? Sekalian merayu dengan kata-kata romantis, mungkin?”

”Ya,  itu  kayaknya  ide  yang  menarik...,”  ucap  Fay  dengan  wajah tak kalah serius. Ia memekik kaget ketika Enrique mendadak menahan kedua tangannya sambil menggelitik pinggangnya. ”No... no... aku menyerah,” ucapnya sambil tertawa kegelian. Terdengar suara Tia Bea. ”Mudah-mudahan kamu tidak sedang melakukan hal yang tidak-tidak lagi. Kalau Fay sampai sakit karena kamu ceburkan ke danau, awas saja!”

Enrique melepas tangan Fay sambil menggeleng. ”Aku tidak melakukan apa-apa.”

Tia Bea berkata, ”Ada seorang juru masak yang stand by untuk kita. Makan malam disajikan pukul tujuh.”

”Oke,  aku  dan  Fay  keliling  dulu  di  luar,”  ucap  Enrique  sambil menarik tangan Fay.

”Enrique, jangan buat dia basah kuyup lagi!”

Fay tertawa kecil, tapi buru-buru menutup mulut saat melihat Tia Bea menatap Enrique tajam, benar-benar serius.

Enrique  nyengir.  ”Don’t  worry  too  much.  Aku  jamin  Fay  akan hadir dalam keadaan utuh dan kering di meja makan pukul tujuh nanti.”

***

”You  may  kiss  the  bride.  ”

Barney mendekatkan wajahnya pada wajah Tia Bea yang bersemu merah bak remaja yang jatuh cinta, dan mereka berciuman.

Tamu yang datang bertepuk tangan dengan suara riuh rendah, termasuk Fay. Ia ikut merasa lega. Tadi hampir saja pemberkatan tertunda karena pastor yang seharusnya datang mendadak ada urusan lain. Untunglah ada pastor lain yang bisa menggantikan.

Tia Bea melempar buket bunga yang dia pegang, dan beberapa wanita berusaha menangkapnya. Suasana dipenuhi gelak tawa dan canda.

Fay duduk sambil tersenyum dan sesekali tertawa melihat kegaduhan yang dilakukan para tamu. Tidak seperti pesta nanti malam yang akan dihadiri oleh teman dan kolega Barney, pemberkatan dihadiri hanya oleh keluarga dan teman dekat, didominasi oleh keluarga Enrique yang hebohnya luar biasa.

Enrique mendekat ke arah Fay setelah dipaksa berfoto bersama dengan pose-pose ajaib oleh beberapa sepupunya. ”Mau ke kabin sekarang? Aku bisa keseleo kalau terlalu lama berada di dekat mereka.”

Fay tertawa kecil. ”Nanti dulu... aku mau ke kamar dulu untuk merapikan riasan wajah, sekaligus ke kamar mandi.”

”Let’s  go... Aku temani,” ucap Enrique.

Tepat saat itu, seorang tamu menepuk pundak Enrique—Marco, sepupu Enrique yang bekerja di La Progression.

Fay menyapa Marco—ia berkenalan dengan Marco waktu Enrique mengajaknya ke kelab untuk melihat kelas salsa di sana. Ia kemudian berkata  pada  Enrique,  ”It’s  okay...  aku  bisa  sendiri.  Kamu  temani Marco  saja.”  Ia  berjalan  ke  bangunan  utama,  melewati  area  kolam renang. Seorang pegawai yang masih muda, seperti anak kuliahan yang mencari uang saku tambahan, sedang membersihkan dedaunan yang mengambang di atas kolam. Sebuah pikiran langsung melintas   di benak Fay: apakah ia akan seperti itu juga, sibuk bekerja mencari uang tambahan setelah kematian orangtuanya, kalau tidak diterima sebagai bagian dari keluarga McGallaghan?

Fay masuk ke rumah dan langsung  menuju  kamarnya.  Ia  baru saja mengulas perona pipi ketika telepon genggamnya berbunyi. Bobby. ”Halo...”

”Bagaimana acaranya?” tanya Bobby.

”Acara pemberkatan pernikahan sudah selesai. Tak lama lagi makan  malam  disajikan,”  jawab  Fay  sambil  mencoba  mengerti  kenapa Bobby meneleponnya.

”Di mana posisimu sekarang?”

”Saya sedang merapikan riasan wajah di kamar. Sekarang saya mau ke kabin tempat makan malam disajikan,” ucap Fay. Ia nyengir sedikit ketika menyadari betapa bagus kalimat itu sebagai alasan  untuk menyudahi pembicaraan.  Cengiran  itu  semakin  lebar  ketika  ia ingat Bobby tak bisa melihat cengirannya.

”Sekarang, kunci kamarmu, kemudian buka kopermu. Di bagian dalam ada sebuah kompartemen tersembunyi di balik kain pelapis koper. Cari bagian kain yang sedikit terbuka, selipkan  jarimu  dan buka kain pelapis secara perlahan. Kamu akan melihat sebuah kompartemen yang memiliki kunci kombinasi. Gunakan kombinasi angka empat-enam-lima-tiga, untuk membuka kompartemen. Apakah sejauh ini bisa dimengerti?”

Fay sejenak tak bisa mengatakan apa-apa. Cengiran di wajahnya sudah menguap entah ke mana. Semua ucapan Bobby terdengar  seperti suara yang melayang-layang tanpa makna di udara.

”Fay,  do  you  understand?”

Fay menelan ludah. Perlahan-lahan instruksi itu  terasa  begitu  nyata di kepalanya. ”Bisa ulangi nomor kombinasinya?” tanyanya perlahan dengan napas tersangkut di dada.

”Hafalkan, jangan dicatat. Empat... enam... lima... tiga. Sudah?” ”Ya,” jawab Fay pelan.

”Di dalam kompartemen, kamu akan melihat tas hitam berukuran kecil beserta kantong kertas. Masukkan tas hitam tersebut ke kan tong kertas. Bawa kantong kertas tersebut ke pintu menuju kolam renang. Begitu kamu membuka pintu itu, di sebelah kananmu ada tempat sampah besar warna hijau. Masukkan kantong tersebut ke tempat sampah. Jelas?”

”Jelas,” jawab Fay.

”Usahakan jangan sampai terlihat orang lain saat membawanya. Namun, bila sampai ada yang melihat dan bertanya, kamu bisa bi lang bahwa kantong tersebut adalah hadiah yang akan kamu berikan kepada pengantin. Be  careful.”

Telepon ditutup.

Fay memperhatikan koper yang tergeletak di sisi tempat tidur dengan setengah tak percaya. Kompartemen rahasia di kopernya? Bagaimana mungkin! Sebelum berangkat, ia sendiri yang mengepak barang-barang yang akan ia bawa, dan ia berani bersumpah tak mungkin ada kompartemen rahasia.

Fay membuka kopernya, kemudian memindahkan semua barang yang ada di dalam koper ke tempat tidur. Ia mengetuk bagian bawah koper kemudian tertegun—sepertinya memang lebih tebal dari yang ia ingat ketika mengepak barang. Ia mendadak ingat bagaimana kopernya kemarin sempat hilang di bandara—apakah kopernya ditukar?

Dengan perut mulai menegang, ia menyelipkan jari di bagian kain  yang sedikit terbuka di dekat pangkal ritsleting, membuka kain pelapis, kemudian tertegun melihat pelat logam dengan kunci kombinasi. Buru-buru ia memasukkan nomor, kemudian terdengar bunyi ”klik” dan pelat logam bergeser sedikit, memberi celah untuk menyelipkan jari.

Fay mengangkat pelat logam perlahan, dan melihat tas kecil berwarna hitam, dan kantong ungu bergaris berhiaskan pita ungu muda. Ia mengambil tas dan mengamatinya sejenak. Bentuk tas ini persis seperti koper yang dulu dipakai Papa ke kantor, hanya saja berukuran lebih kecil—kalau saja warnanya tidak hitam, mungkin terlihat seperti koper mainan anak-anak. Di bagian tengah ada empat digit nomor kombinasi, bukan tiga seperti yang ada di tas Papa. Di kedua ujungnya terdapat kenop yang harus ditekan bersamaan untuk membuka koper.

Ia memasukkan koper ke kantong kertas, dan sejenak gerakannya terhenti ketika sebuah pertanyaan lewat. Apa isi koper ini? Ia memperhatikan empat nomor kombinasi yang sekarang semuanya menunjukkan angka nol. Sejenak ia berdebat dengan diri sendiri, dan    tak butuh waktu lama bagi sisi penasaran dalam dirinya untuk memenangkan perdebatan dengan suara mutlak.

Fay meletakkan koper kecil tersebut di tempat tidur, kemudian mencoba menekan kedua kenop bersamaan—tidak terbuka. Apakah nomor kombinasinya sama dengan kompartemen tadi? Ia memasukkan empat nomor kombinasi yang diberikan Bobby, empat-enamlima-tiga, dan kembali mencoba membukanya, tetap tak berhasil. Ia berdecak dan menggeleng, kemudian memasukkan koper itu ke kantong kertas. Mungkin ia memang sebaiknya tak tahu apa isinya.

Gerakan Fay terhenti ketika sebuah ide terlintas di  benaknya.  Sekali lagi, pikirnya, lalu kembali meletakkan koper itu di tempat tidur. Ia memasukkan nomor kombinasi secara terbalik: tiga-limaenam-empat. Ia menekan kenop dan jantungnya berdegup sedikit ketika besi pengunci tas terbuka.

Fay membuka tas secara perlahan, dan langsung terenyak dengan dada seperti melesak ke dalam ketika tatapannya jatuh pada benda di tengah-tengah tas: senjata berperedam. Ia terduduk lemas di tempat tidur dengan jantung berdebar. Sekilas ia melihat barangbarang lain: sepasang sarung tangan karet, satu botol kaca yang sangat kecil berisi cairan kekuningan, dua botol kaca yang lebih besar berisi cairan bening, sebuah tabung reaksi, dan sebuah tabung logam seukuran tabung reaksi, namun tertutup di kedua ujungnya.

Terdengar ketukan di pintu, disertai suara Enrique, ”Fay?”

Fay langsung lompat berdiri dengan jantung berdegup kencang. Pintu belum dikunci! Mati! Darahnya seperti beku ketika melihat gagang pintu bergerak, dan refleks ia menutup koper kecil sambil berteriak, ”JANGAN masuk! Aku sedang ganti baju... Wait!” Secara serabutan ia melempar koper itu ke dalam kompartemen, menutup kompartemen, memasang kain, melempar semua isi koper yang bertebaran di atas tempat  tidur  ke dalam koper,  lalu  menutup  koper. Ia mengumpat dengan napas tersengal ketika kopernya tak  bisa  ditutup karena barang bertumpuk tanpa disusun.Terdengar lagi suara Enrique dari luar. ”Fay...?”

Fay berdecak melihat kopernya, dan akhirnya memutuskan untuk membiarkannya saja. Ia membuka pintu, dan begitu melihat wajah Enrique yang tersenyum, ia pun berusaha tersenyum.

Enrique memperhatikan pakaian Fay. ”Bukannya barusan kamu bilang ganti baju?”

”Aku baru merapikan riasan. Tadi baju ini aku ganti dengan kimono supaya nggak kotor kena make-up. Ada apa?” tanyanya. Pikirannya memampangkan senjata berperedam di bawah tumpukan baju dalam koper tak jauh di belakangnya. Jantungnya  berdebar  ken cang.

”Ayo, kita ke kabin sekarang. Aku mau minta fotografer untuk  memotret kita berdua sebelum acara mulai.”

”Nanti aku susul kamu ke sana. Aku mau ke kamar mandi dulu.” ”Oke. Aku tunggu di sana ya...”

Fay tetap tersenyum ketika menutup pintu. Begitu pintu tertutup, senyumnya langsung hilang. Ia buru-buru mengunci pintu, kemudian kembali ke kopernya. Kenapa ada senjata berperedam? Dan kenapa senjata ini harus ia letakkan di tempat sampah? Mungkinkah senjata ini akan digunakan untuk... membunuh Barney?

Fay langsung merasa napasnya sesak dan kepalanya berdenyutdenyut. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan ia pun terduduk di tempat tidur. Bila senjata ini akan membunuh seseorang, apakah ia diharapkan untuk menyerahkan senjata ini ke pembunuhnya?

Fay menutup mata dan memijat dahi ketika benaknya menjawab pertanyaan itu dengan mudah. Kepalanya mendadak pening. Apa yang harus ia lakukan?

***

Di kolam renang, seorang petugas yang mengenakan overall dan topi sedang membersihkan dedaunan yang mengambang di permukaan kolam. Di pengujung musim panas seperti saat ini, udara memang sudah terasa lebih dingin, tapi dedaunan sebenarnya belum mulai berguguran. Tadi ia sendiri yang mengumpulkan beberapa daun dan menyebarkannya di kolam, supaya terlihat ia sedang bekerja.

Kent Edgar, petugas kolam renang itu, melirik arlojinya. Sudah tiga belas menit berlalu sejak ia ditelepon oleh Pusat dan diberitahu bahwa paket yang ditunggu-tunggu akan diletakkan di tempat sampah dalam sepuluh menit. Paket itu akan ia serahkan ke agen lain yang bertugas dengannya di Operasi Echo, Russel Simon, yang masuk ke kediaman ini dengan menyamar sebagai pegawai katering yang bertugas di dapur. Menurut pengarahan yang ia terima kemarin, semua pegawai yang bekerja di kediaman ini diperiksa dengan ketat, sehingga satu-satunya cara untuk meloloskan barang masuk adalah lewat orang dalam. Fay adalah kurir yang sempurna, terlebih karena dia tak sadar telah menjadi kurir. Kent sendiri kebagian tugas mudah, hanya mengantarkan paket ke area dapur tempat Russel bertugas, karena pegawai katering tak diizinkan keluar dari area dapur. Kent menghela napas. Baru saja ia meminta maaf pada Fay, karena sebelumnya tak memberitahu gadis itu bahwa pacar Fay adalah salah satu target operasi yang diam-diam ia buntuti. Sekarang, apa yang harus ia utarakan pada Fay bila gadis itu sampai tahu... bahwa ia menyamar di kediaman Bruce Redland, tepat di depan

batang hidungnya?

Kent kembali melirik arlojinya. Dua menit lagi ia harus menghubungi Pusat untuk memberi konfirmasi bahwa paket sudah sampai di tangannya, dan setelah itu ia hanya punya waktu lima belas menit untuk menyerahkan paket pada Russel. Setidaknya ia tak perlu membuat kontak dengan Fay, sehingga gadis itu tak akan tahu bahwa ia terlibat di tugas ini.

Pintu ke arah kolam renang terbuka. Fay muncul di pintu.

Kent mengembuskan napas lega dan melanjutkan pembersihan kolam. Begitu Fay  masuk ke rumah dan pintu ditutup, ia meletak  kan peralatan di tangannya dan berjalan ke arah tempat  sampah  sambil mengeluarkan telepon genggamnya, bersiap menelepon Pusat. Ia melihat isi tempat sampah, terdiam sebentar, kemudian mengecek arlojinya—tak ada waktu lagi, ia harus menelepon Pusat sekarang.

Tangannya menekan tombol ”call”, dan tak lama kemudian sudah terhubung dengan Bobby yang menjadi pimpinan operasi.

”Paket sudah diterima,” lapornya. ”Lanjutkan sesuai rencana.”

”Yes,  Sir.”

Kent menutup tempat sampah yang kosong melompong, lalu menggeleng.

Apa yang dipikirkan oleh Fay... Kenapa gadis itu tidak meletakkan paket sesuai instruksi? Tak tahukah dia, melawan perintah Pusat secara terang-terangan seperti ini akan membuatnya diseret ke Ruang Putih begitu tiba di kantor nanti?

Kalau saja ini bukan Fay, Kent  mungkin  sudah  melaporkan  kejadian ini ke Pusat apa adanya. Minimal, ia akan mengumpat. Namun sekarang, bahkan untuk sekadar kesal saja ia tak bisa. Apakah cinta membuat semuanya menjadi lebih runyam?

Kent menghela napas. Sekarang ia harus segera menemui  Fay untuk mengambil paket itu sebelum Russel curiga karena paket yang diharapkan pria itu tak ada di tempat seharusnya. Bahkan, tugas sesederhana ini saja jadi lebih sulit dari yang seharusnya ketika perasaannya terlibat. Tapi, bagaimana ia mengelak dari perasaannya sendiri, yang tetap menyayangi gadis itu terlepas dari apa pun yang terjadi?

Takdir sepertinya memilih untuk tak berbaik hati, pikir Kent muram, lalu beranjak pergi. ***

Ia tak sanggup melakukannya.

Fay duduk di tempat tidur sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tadi sudah berhasil menenangkan diri sendiri, dengan berpikir bahwa ia tak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Bisa saja senjata itu hanya digunakan untuk berjaga-jaga ketika melakukan aktivitas lain... seperti mencuri data, atau entah apa. Lagi pula, ia juga sama sekali tak bisa mencerna apa kegunaan berbagai botol, tabung, dan benda-benda lain di dalam tas tersebut.

Dengan pikiran itu, akhirnya ia tadi memaksa dirinya untuk keluar dari kamar. Jantungnya sempat lompat ketika berpapasan dengan Tom Goodman, yang menatap kantong ungu berpita di tangannya sambil bertanya, ”Hadiah untuk pengantin?”

Ia mengangguk cepat sambil tersenyum. ”Iya,” jawabnya singkat, lalu buru-buru berlalu dari hadapan Tom, menuju kolam renang. Ia  sempat bernapas lega ketika melihat tempat sampah yang dimaksud, berharap bisa segera menyingkirkan paket dari tangannya. Namun,  saat mengangkat tutup tempat sampah, tangannya menolak melepas paket itu. Sebuah pikiran melintas; ia memang tak tahu persis barang-barang itu akan digunakan untuk apa, tapi tetap ada kemungkinan bahwa senjata ini akan ditembakkan dan membunuh Barney—atau seseorang, entah siapa. Detik itu juga Fay langsung berbalik dan kembali ke kamar,  kemudian  menyembunyikan  paket itu di bawah tempat tidur.

Seharusnya ia memang tak usah tahu bahwa isi tas itu adalah senjata! Kenapa ia tadi usil dan membuka tas itu untuk sekadar memuaskan keingintahuannya? Semua akan berjalan lebih mudah bila    ia tidak tahu.

Lantas, apa yang harus ia lakukan sekarang? Bila ia meletakkan paket tersebut di tempat sampah sesuai instruksi, seseorang mungkin akan kehilangan nyawanya, minimal terluka. Namun, bila ia tidak mengikuti instruksi, orang yang seharusnya menerima paket tersebut akan melapor ke Bobby, atau malah Andrew, yang pasti akan langsung meneleponnya. Apa yang harus ia katakan nanti... bahwa ia menolak meletakkan tas tersebut karena ia tadi mengintip isinya dan melihat ada senjata berperedam? Mungkin kali ini bukan hanya jarinya yang akan patah, tapi nyawanya sendiri yang jadi taruhan— tidak, tidak... bukannya sekadar ”mungkin”, tapi sudah pasti. Minimal, ia akan mengalami penyiksaan menyakitkan yang akan membuatnya berharap mati saja sekalian.

Reno dan Kent benar. Curiosity can kill a cat... padahal kucing diibaratkan punya sembilan nyawa, sedangkan ia hanya  punya  satu.

Suara pintu terbuka membuat jantung Fay melompat dan ia pun langsung berdiri tegak dengan tatapan lekat pada pegawai yang mengenakan overall dan topi, yang kini masuk ke kamarnya dan mengunci pintu di belakangnya.

”Apa yang kamu lakukan?!” tanya Fay waswas dengan jantung berdebar. Ia refleks mundur sambil melihat ke sekelilingnya, mencari benda yang bisa menjadi senjata. Vas bunga, pikirnya cepat. Dan... senjata berperedam...

”Fay... ini aku...”

Fay sejenak terpaku melihat wajah yang tak ia kenal berbicara dengan suara jernih yang familier. ”Kent?”

”Iya... Aku memakai rambut palsu serta lensa kontak, juga hidung prostetik.”

Fay tidak berkata-kata. Rasanya aneh sekali mendengar suara Kent keluar dari wajah aneh bermata dan berambut cokelat.

Kent memperhatikan Fay dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. ”You  look  amazing.”

Fay tertegun—ia tak tahu bagaimana harus menanggapinya. Lagi pula, ini bukan saatnya untuk melempar pujian dalam  bentuk apa pun!

Kent tersadar, dan buru-buru berbicara. ”Paketnya mana? Aku melihat kamu di lokasi, tapi barangnya tidak ada. What’s going on?”

Fay menggeleng. ”Aku tidak bisa,” ucapnya, lalu menghela napas. ”Apa maksudmu tidak bisa? Kenapa?” tanya Kent sambil men-

dekati Fay.

Fay menelan ludah. ”Aku lihat isinya senjata berperedam dan aku tak sanggup membayangkan senjata itu dipakai untuk melukai... atau menghabisi nyawa seseorang...” Ia berhenti ketika benaknya bersuara dan terperanjat menatap Kent. ”Apakah kamu yang diberi perintah untuk menggunakan senjata itu?”

Kemarahan langsung membayang di wajah Kent. Ia berkata tajam, ”Fay, kapan kamu mau mulai untuk berpikir panjang! Untuk apa kamu melihat isi paketnya? Bukankah waktu itu aku sudah bilang   rasa penasaran bisa membunuh kucing?”

Fay merasa kemarahannya tiba-tiba saja bangkit. Ia pun membalas dengan ketus, ”Oh ya? Bukankah kamu pernah minta maaf karena tidak memberitahuku tentang tugasmu?”

Kent terdiam, kemudian menarik napas panjang. ”Iya, aku tahu...” Ia tidak berkata-kata lagi.

Fay melirik Kent, kemudian bertanya, ”Apa waktu itu kamu sudah tahu akan melakukan tugas ini?”

Kent menggeleng. ”Aku baru diberi brifing kemarin sore.” Ia terdiam lagi, kemudian berkata, ”Tak ada bedanya... Terus terang saja, aku tidak tahu apakah punya nyali untuk memberitahumu...”

Fay menelan ludah, kemudian bertanya lamat-lamat, ”Apakah senjata itu akan digunakan untuk membunuh Barney, atau seseorang di pesta nanti? Apakah... kamu... yang akan melakukannya?”

Kent menggeleng. ”Aku tidak tahu. Tugasku hanya meletakkan senjata itu ke satu titik di dekat dapur. Sebaiknya kamu jangan berspekulasi...”

Fay duduk di tempat tidur sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Kakinya terasa lemas. Sebuah senjata berperedam harus diserahterimakan... Bagaimana caranya meminta otaknya untuk tidak berspekulasi bahwa ada yang akan terluka?

Kent berjongkok di hadapan Fay, lalu menarik kedua tangan Fay yang menutupi wajah. Ia menatap lurus ke sepasang mata Fay. ”Listen  to  me!  Kalau kamu tadi tidak melihat isi tas tersebut, kamu pasti tidak akan keberatan kan untuk menyerahkannya?”

Fay menggeleng sambil menutup mata. ”I  don’t  know...”

Kent meremas tangan Fay yang masih ada dalam genggamannya, lalu menyentaknya sedikit, memaksa Fay untuk menatapnya. ”Fay, kamu tidak punya pilihan... Kita tidak pernah punya pilihan. Dengar baik-baik... Jangan sekali pun kamu ceritakan insiden ini pada siapa pun. Aku tadi melaporkan bahwa paket sudah aku terima sesuai rencana. Apa pun yang terjadi, jangan mengatakan hal lain. Sepanjang yang diketahui oleh Pusat, kamu meletakkan tas tersebut   di tempat sampah tanpa kesulitan,  dan  kamu  tidak  mengetahui isi tas tersebut. Dan, pembicaraan ini tidak pernah terjadi...  Kamu  bahkan tidak tahu aku ikut tugas ini. Oke?”

Fay mengangguk. Air mata sudah muncul di sudut matanya.

Tangan Kent menyeka air mata Fay. Ia berkata lembut, ”Jangan menangis sekarang, nanti riasanmu luntur. Kamu harus kembali ke pesta dan bersikap seperti biasa.”

”Bagaimana bisa?” keluh Fay.

”Kamu harus bisa, Fay... Aku mungkin tidak bisa mendampingimu lagi karena keadaan tidak mengizinkan itu terjadi, tapi aku tidak mau ada hal buruk yang menimpamu, di kantor atau di mana pun...”

Terdengar suara ketukan di pintu. ”Fay?” Suara Enrique. Fay menegakkan tubuh dengan jantung berdebar kencang.

Kent berdiri, lalu berbisik dengan nada mendesak, ”Paketnya mana?”

Fay meraih kantong kertas di kolong tempat tidur sambil berteriak ke arah pintu, ”I’m  coming... Wait!” Ia menyerahkan tas pada Kent, yang langsung bersembunyi di dalam kamar mandi. Ia kemudian membuka pintu. Sebelum Enrique sempat mengatakan apaapa, ia langsung keluar dan menutup pintu di belakangnya sambil berbicara,  ”Sorry  to  keep  you  waiting...  Kepalaku  mendadak  pusing, jadi aku minum obat sakit kepala dan berbaring dulu di tempat tidur.”

”Are you okay?” tanya Enrique sambil memegang kening Fay. ”Apakah ini gara-gara kemarin kamu kuceburkan ke danau?” tambahnya cemas.

”Bukan, bukan karena itu. I’m  okay  now,” jawab Fay.

”Jangan  jauh-jauh  dariku,”  ucap  Enrique,  kemudian  merangkul Fay dan menarik Fay lebih dekat. Fay tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke lengan Enrique. Ia melangkah menjauh dari kamar, membiarkan rasa bersalah menikam dadanya berulang-ulang di setiap langkah.

***

Sepanjang acara makan malam, Fay lebih banyak diam. Ia duduk di meja bulat bersama Enrique dan delapan tamu lain yang semuanya adalah saudara-saudara Enrique. Ia memasang senyum, berpura-pura mendengarkan percakapan di meja makan dan kadang ikut tertawa, sementara pikirannya melanglang buana. Sesekali ia memperhatikan orang-orang di sekeliling ruangan sambil berpikir; apakah di antara mereka ada yang akan mendadak berdiri dan menembakkan senjata berperedam yang tadi ia bawa ke arah Barney? Atau, targetnya adalah salah satu dari tamu-tamu ini?

Setelah makanan penutup disajikan, para tamu menari dan berdansa. Fay menolak ajakan Enrique dengan mengatakan bahwa kepalanya masih sakit. Enrique yang tampak khawatir mengajak Fay kembali ke kamar, tapi Fay menggeleng sambil tersenyum dan berkata, ”Aku nggak apa-apa kok, asal nggak banyak gerak. Kamu turun sana... aku tahu kamu sudah gatal ingin bergoyang.” Enrique tertawa, kemudian bergerak menjauh karena diseret oleh seorang sepupunya yang datang dari Belgia.

Dua jam kemudian tiga pasang tamu terakhir menyalami Barney kemudian memeluk Tia Bea.

Setelah mereka pergi, Enrique menghampiri Barney dan Tia Bea, memeluk mereka bergantian. Fay mengikuti langkah Enrique, merasa dadanya ditusuk-tusuk dari dalam ketika Barney memeluknya erat. ”Kalian berdua bersenang-senang di pernikahan kami?” tanya Barney. ”Tolong bilang iya, karena saya akan merasa sangat bersalah

bila hanya saya dan Bea yang bersenang-senang.”

”We  always  have  fun,  don’t  we?”  ucap  Enrique  sambil  tersenyum lebar menatap Fay.

Fay memaksakan dirinya tersenyum. ”Of course.” Seperti apa rasanya tersenyum secara alami? Sekarang ia harus berusaha sangat keras untuk melakukannya.

Barney berkata, ”Enrique, saya perlu bantuanmu. Ada beberapa tamu yang memberikan hadiah. Bisa tolong letakkan hadiah-hadiah tersebut di ruang kerja saya?”

”Sure,” ucap Enrique.

***

Fay dan Enrique membawa hadiah-hadiah ke ruang kerja Barney menggunakan dua kantong besar.

”Diletakkan di mana?” tanya Fay.

Enrique memperhatikan sekelilingnya, kemudian membuka lemari di salah satu sisi ruangan. Terlihat dua set jas dan sepasang sepatu. Enrique tampak seperti menimbang-nimbang sebentar, dan akhirnya menutup pintu lemari sambil berkata, ”Aku rasa di lantai saja tidak apa-apa, di sebelah meja kerja. Jadi bisa langsung terlihat dan Barney tak  perlu  mencari-cari  lagi  di  mana  hadiahnya  kita  letakkan.”  Ia mengeluarkan kado-kado dari kantong di tangannya dan menyusunnya di lantai.

Fay mengoper kantong di tangannya kepada Enrique, sambil sekilas melihat meja kerja Barney. Ada sebuah laptop yang tertutup, kemudian sebuah map warna kuning. Di sudut map terbaca tulisan Nicholas Xavier.

Selama beberapa saat Fay hanya menatap berkas itu tanpa kedip.

Kenapa nama itu seperti muncul di mana-mana?

”Fay, menurutmu bagaimana? Terlalu berantakan nggak?” Suara Enrique mengembalikan Fay ke dunia nyata.

”Cukup rapi,” ucap Fay, lalu berjalan ke pintu mengikuti Enrique. Enrique mengantar Fay ke kamar dan berkata, ”Kamu mau isti-

rahat?”

Fay mengangguk. ”Iya. Aku sudah tak sabar mau mandi air hangat, lalu meringkuk di bawah selimut.”

Seorang pria yang mengenakan headset muncul di belakang Enrique—Tom Goodman. ”Hai, Tom,” sapa Enrique. ”Tugasmu sudah selesai, ya?” ”Hampir. Pegawai katering sedang merapikan barang-barang mereka

di kabin. Perimeter rumah sudah diperiksa, semua aman,” ucap Tom. Ia kemudian tersenyum. ”Kalian bisa tidur nyenyak malam ini.”

”Kamu pasti lega acara hari ini berjalan lancar.”

”Pasti. Mengawasi perimeter, memeriksa dan mengawasi barang yang keluar-masuk di loading area, memeriksa pegawai-pegawai katering... Tapi, itu tidak seberapa. Yang lebih sulit adalah  mengamankan dan mengawasi jalannya pesta tanpa membuat para tamu merasa diawasi.”

”Apakah ada insiden sepanjang pesta?” tanya Enrique.

”Satu-satunya insiden terjadi setelah acara usai. Seorang tamu Barney ditembak oleh orang tak dikenal, tak lama setelah mobilnya meninggalkan gerbang.”

Tubuh Fay menegang.

”Ada yang terluka?” tanya Enrique dengan raut serius.

”Tidak. Dia duta besar salah satu negara Eropa Timur. Mobilnya antipeluru. Kasusnya sedang ditangani polisi. Kalian tak perlu khawatir... lokasi penembakan berada di luar kediaman ini, jadi tidak    ada masalah sama sekali. Polisi datang hanya untuk melakukan crosscheck  keterangan tamu tadi, bahwa dia baru saja menghadiri pesta    di sini. Juga untuk bertanya apakah penjaga di gerbang melihat ada yang  mencurigakan  setelah  tamu  tersebut  meninggalkan  gerbang.” Tom melihat arlojinya, kemudian berkata, ”Saya harus pergi sekarang untuk pengarahan petugas shift malam. Good  night.”

”Good  night,”  balas  Enrique,  lalu  menatap  Fay  sambil  mengembuskan napas. ”Tidak bisa kubayangkan... Penembakan di acara pernikahan mamaku.”

Fay  tak berkata-kata. Perasaannya sedikit  lega.

Enrique kembali berkata, ”Benar, kamu tidak mau temani aku ngobrol dulu di dapur? Aku mau minum susu.”

Fay menggeleng. ”Aku langsung tidur saja, ya... aku capek sekali.” Kalau saja ia tidak selelah ini, ia pasti akan menggoda Enrique dengan menyebutnya big baby gara-gara kebiasaannya minum susu sebelum tidur. Tapi, sekarang ia tidak punya tenaga lagi. Enrique mengecup dahi Fay. ”Mimpi yang indah ya... lebih bagus lagi kalau aku ada di dalamnya.” Ia lalu mengedipkan mata dengan nakal.

Fay  tertawa  kecil,  lalu  berkata  ”Good  night”  sebelum  menutup pintu.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊