menu

Trace of Love Bab 11: Inspection

Mode Malam
Inspection

”SAM, turunkan aku sekarang juga!” teriak Fay putus asa. Ia tadi dibujuk Sam untuk mencoba climbing wall yang ada di ruang rekreasi. Ia sudah memanjat setengah papan sebelum akhirnya menyerah dan minta diturunkan oleh Sam, tapi si kuda nil sinting itu menolak menurunkannya dan mempermainkannya dengan cara melonggarkan tali secara tiba-tiba sehingga ia meluncur jatuh bebas beberapa meter. Sekarang, ia malah dibiarkan tergantung di udara. Dasar kuda nil kurang kerjaan!

Sam menyeringai. Wajahnya menyiratkan kepuasan yang tak bisa dibeli oleh uang. ”Memangnya kamu pikir kamu siapa bisa memerintahku seperti itu? Aku hanya menerima perintah dari Larry dan Reno, itu pun hanya kadang-kadang saja.”

”Kamu ngapain sih pulang segala? Ke kantor lagi, sana!” teriak Fay sambil merengut. Hidupnya dua minggu terakhir ini berlangsung tenang—pagi kursus, sore menghabiskan waktu bersama Enrique, kadang hingga malam, dan di rumah ia beristirahat di kamar atau bersantai di ruang rekreasi bersama Elliot karena  sepupunya  yang lain sibuk di kantor. Ia sendiri hanya ke kantor di akhir pekan. Hari  ini, untuk pertama kalinya semua sepupunya ada di rumah, dan tiba-tiba saja hidupnya jadi berantakan begini. ”Ha! Jangan harap kamu bisa turun kalau kamu bersikap seperti itu. Kamu sekarang harus memohon!”

Fay terbelalak—kenapa jadi ia yang dituduh salah bersikap, padahal Sam yang cari gara-gara? Ia sudah siap memprotes lagi, tapi akhirnya mengurungkan niat. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum akhirnya memaksakan diri. ”Sam... turunkan aku,  pleeease...,”  ucapnya  sememelas  mungkin,  sementara  kepalanya berimajinasi sedang melempari Sam dengan bakiak!

Sam menggeleng sambil berkata santai, ”Kamu harus berusaha lebih keras lagi.”

Pintu ruang rekreasi terbuka. Reno dan Elliot berjalan masuk. Tatapan Reno langsung tertuju pada Fay yang tergantung di udara.

Fay mengalihkan pandangannya dengan perasaan tak nyaman. Sejak kejadian tak mengenakkan di kamarnya berapa minggu lalu, ia belum bertukar sapa lagi dengan Reno.

Reno menghampiri Sam, mendongak ke arah Fay yang masih tergantung di atas, kemudian bertanya, ”What  is  going  on?”

”Tidak ada... aku hanya membantu Fay yang ingin latihan panjat dinding, iya kan, Fay?” jawab Sam sambil cengengesan.

Ih, bete!

Fay bisa merasakan perdebatan dalam kepalanya yang  terpecah dua. Satu sisi masih gengsi sementara sisi lain sudah menyerah kalah dan tak peduli bila harus menelan gengsi dengan bicara pada Reno asalkan bisa turun. Ia melirik Swatch di pergelangan tangan—arloji yang ia beli bersama Enrique. Sebentar lagi ia harus berangkat ke rumah Enrique untuk membicarakan perjalanan mereka besok ke Jenewa untuk menghadiri pernikahan Barney dan Tia Bea.  Akhirnya, Fay menarik napas panjang untuk mengumpulkan tenaga.

”Nggak! Bohong! Aku dari tadi digantung begini sama Sam. Kamu  suruh  dia  turunkan  aku  dong...,”  ucapnya  tanpa  melihat  ke Reno. Terdengar jawaban Reno.

”Wah... aku ingin sekali membantumu, Fay... Tapi, aku harus tahu dulu apakah kamu masih marah padaku atau tidak. Janganjangan aku nanti malah dipukul begitu kamu tiba di bawah...”

Fay tertegun mendengar sindiran yang supertelak itu. Ia menoleh pada Reno—raut wajah cowok itu tampak serius, tapi sepasang matanya berkilat-kilat jail dan bibirnya mengulum senyum. Ih, nyebelin!

Fay bisa merasakan bagaimana wajahnya langsung memanas, dan  ia langsung bereaksi, ”Aku kan waktu itu nggak berniat seperti itu...”

Sam menatap Reno dengan alis terangkat. ”Si anak baru ini berani memukulmu? Kalau begitu biar aku gantung saja dia semalaman!”

Fay mengeluh dalam hati ketika benaknya memutar ulang  kejadian di kamarnya. Sekarang kejadian itu terasa lebih banyak memalukannya ketimbang mengesalkan. Tak bisa ia percaya... dirinya, Fay Regina Wiranata, yang sepanjang hidupnya selalu berkoar-koar anti-kekerasan dan benci setengah mati sama tawuran waktu masih     di sekolah, bisa bersikap barbar begitu!

Akhirnya, ia kembali bersuara, ”Ayolah... aku ada janji nih... sebentar lagi harus berangkat.”

Sam bersuara, ”Janji apa? Kamu mau pacaran?”

”Bukan urusanmu!” sahut Fay sewot. Kenapa sih cowok-cowok ini usil semua?

Ia melirik Reno, kali ini dengan raut wajah antara pasrah dan memelas.

”Jadi, kamu masih marah nggak?” tanya Reno lagi.

”Nggak!” sahut Fay setengah hati. Ia mengembuskan napas lega ketika melihat Reno memberi tanda pada Sam untuk menurunkan nya. Berikutnya ia memekik ketika merasakan jatuh bebas beberapa meter, sebelum tali kembali ditahan oleh Sam tepat sebelum kakinya menyentuh lantai. Ia memelototi Sam, yang langsung cengengesan sambil melonggarkan tali sepenuhnya.

Begitu menjejakkan kaki di lantai, Fay segera melepas harness. Ia berjalan melewati Reno sambil secara sambil lalu menggumamkan ”thanks” pelan.

”You’re  welcome,  dear  cousin,” balas Reno santai tanpa ragu-ragu. Fay naik ke lantai mezanin sambil bersungut-sungut. Melihat wajah Reno yang sok cool namun dengan sudut bibir terangkat penuh kemenangan, Fay jadi agak menyesal kenapa harus mengucapkan terima kasih segala. Walaupun ia sekarang lebih banyak malu, kesalnya kan tetap masih ada... huh!

***

Di lantai mezanin ruang rekreasi, Larry, Lou, dan  Elliot  sedang  duduk santai sambil bercakap-cakap. Fay langsung duduk di sebelah Elliot, mendengarkan Elliot berbicara dengan suara rendah tentang beberapa prototipe senjata dan teknologi yang sedang dikembangkan divisi riset di kantor.

”Jadi, maksudmu, kita sudah tidak punya harapan lagi untuk kabur tanpa ketahuan bila teknologi itu sudah diterapkan?” tanya Larry.

Elliot menggeleng. Wajahnya berusaha menunjukkan rasa simpati pada Larry dan Lou yang tampak sedikit kesal, tapi matanya yang berbinar-binar bangga tak bisa bohong. ”Sensornya mikro, lebih kecil daripada butiran keringat dan bisa menempel di hampir semua permukaan. Kantor masih mengujinya, tapi aku... hm... sudah melakukan pengujian sendiri...,” ia membetulkan kacamatanya yang melorot dengan gugup sambil melirik Fay, kemudian melanjutkan, ”...dan hasilnya bagus.”

”Kapan akan diterapkan?” tanya Larry. ”Bisa jadi awal tahun depan.”

Lou menyandar sambil mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. ”Kita masih punya beberapa bulan lagi untuk melakukan kenakalan rumah tanpa terlacak...”

Larry berdecak. ”Aku kan sebentar lagi sudah ujian level dua. Setelah itu tahu sendiri... mungkin berikutnya malah aku yang akan disuruh paman menghajarmu bila kamu tertangkap melakukan pelanggaran.”

Lou menanggapi, ”Yah, kalau begitu, rencana akhir minggu ini  tak boleh gagal. Siapa tahu itu terakhir kalinya kita bisa pergi samasama.”  Ia  memajukan  kepalan  tangannya  ke  arah  Larry,  yang  langsung membalasnya.

”Kelihatannya aku nggak diajak ya...,” sindir Fay. Larry tersenyum tipis, ”Next  time, Fay... bila memungkinkan.” Terdengar suara-suara langkah kaki di tangga, dan tak lama ke-

mudian Reno dan Sam muncul di lantai mezanin.

Dengan tak tahu diri, Sam mencoba menyisip di antara Larry dan Lou yang langsung protes sambil memaki dan mendorong Sam.

Tiba-tiba terdengar suara pintu menghantam dinding di lantai bawah.

Semua langsung diam. Larry dan Reno menegakkan tubuh dengan tatapan awas.

Terdengar  teriakan  Kent  dari  bawah.  ”GUYS,  inspection!  Andrew dan Steve sedang menyisir lantai dua dan yang lain sekarang sedang ke sini!” Terdengar lagi suara benturan, kali ini pintu ruang rekreasi yang ditutup dengan terburu-buru.

Sam mengumpat, lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa  yang  tidak dimengerti Fay. Reno terbelalak menatap Sam lalu mengeluarkan makian pada Sam, disusul Larry dan  Lou.  Sontak  Reno  dan Sam lari berhamburan ke arah tangga mezanin sambil bersumpah serapah, menuruni beberapa anak tangga  sekaligus  di  setiap  langkah.

Larry merogoh kolong meja dan mengeluarkan pengacak sinyal, beserta dua alat seperti speaker bulat warna hitam. Lou menggeser sebilah papan lantai dan menyelipkan semua benda di tangan Larry dalam lubang, lalu menutupnya lagi rapat.

Berikutnya, tatapan Larry terarah pada Elliot. Fay mengikuti arah pandangan Larry dan melihat Elliot pucat pasi.

”Kamu kenapa?” tanya Larry sambil mengerutkan dahi.

Elliot menjawab dengan suara bergetar. ”Aku tadi malam mencicipi anggur... gelasnya aku sembunyikan di balik vas bunga koridor sayap kiri. Tadi pagi aku mau pindahkan gelasnya ke dapur tapi lupa...”

Wajah Larry berubah—rahangnya mengencang dan sorot matanya tajam. ”Bodoh sekali!” hardiknya.

Elliot semakin pucat. Ia membetulkan kacamata dengan tangan yang sudah gemetar. ”Aku harus bagaimana?” tanyanya hampir berbisik. Larry berdecak sambil menggeleng. ”Kamu akan berutang pada kami semua!” Ucapan itu disambut erangan Lou, yang tampak keberatan.

Elliot buru-buru mengangguk dengan wajah masih memelas. ”Iya... iya... aku berutang pada kalian semua.”

”Pada KAMI semua, kamu dengar? Itu berarti enam utang yang harus dibayar!”

”Iya... aku mengerti... tak masalah sama sekali,” ucap Elliot buruburu dengan wajah lebih lega dan sorot mata berterima kasih pada Larry. Ia melirik takut-takut pada Lou yang masih menatapnya tajam dengan raut tak rela.

Dan benar saja, Lou akhirnya bersuara dengan nada tak kalah tajam, ”Kadang aku tak mengerti di mana letak kegeniusanmu...”

”Ada apa sih?” tanya Fay, yang kini sedikit sewot karena merasa tersisih. Ia melihat Lou menatapnya dengan raut tak sabar, dan buru-buru menambahkan, ”Iya, aku tahu ini  penggeledahan,  tapi kita harus ngapain?”

Larry menyisir rambut pirangnya dengan sapuan dua tangan di atas kepala, lalu menghela napas dan berkata pada Fay, ”Kamu hanya perlu ingat dua aturan: katakan tidak tahu ke semua tuduhan, dan setujui apa yang keluar dari mulutku atau siapa pun sepupu yang levelnya lebih tinggi darimu. Jelas?”

Fay melongo sambil mencoba mencerna. Sebelum ia sempat bereaksi, terdengar lagi suara daun pintu yang lagi-lagi menghantam dinding. Terdengar suara salah satu pamannya, Philippe Klaan.

”Inspection!” teriak Philippe. ”Turun semua, SEKARANG!”

***

Di tengah-tengah aula Fay melihat tiga sepupunya yang lain, Reno, Sam, dan Kent sudah berjajar di depan keranjang laundry bertuliskan nama masing-masing. Fay melangkah ke keranjang bertuliskan namanya, di antara Sam dan Reno. Sekilas ia melirik Kent yang ada di sebelah Sam, dan agak heran ketika melihat Kent seperti tersentak sewaktu menatapnya. Berikutnya, ia pun langsung panik ketika menyadari arah pandangan Kent. Gelang di pergelangan tangannya!  Mati!

”Kosongkan kantong kalian, masukkan semua ke keranjang! Juga ikat pinggang, jam tangan, dan semua benda selain baju yang menempel di badan!” perintah Philippe Klaan.

Semua bergerak, membuka arloji, mengeluarkan dompet, telepon genggam, dan semua isi kantong, lalu memindahkannya ke keranjang.

Fay meletakkan telepon genggamnya di dalam keranjang, lalu  mulai membuka gelangnya dengan susah payah, dengan tangan yang sudah dingin dan kaku. Ia melirik Philippe dan perutnya tambah  mulas melihat wajah jutek pamannya itu.

Reno berdecak, lalu berbisik pada Fay, ”Kamu benar-benar memilih hari yang salah untuk memakai gelang itu!”

Fay melirik Reno dengan sewot, campur panik. ”Mana aku tahu ada...”

”DILARANG bicara!” hardik Philippe.

Fay langsung menutup mulut dengan jantung berdebar kencang. Philippe Klaan dan James Priscott memeriksa isi keranjang satu per satu, dimulai dari dua ujung yang berlawanan, sementara Raymond Lang menggeledah tubuh keponakan yang diperiksa untuk memastikan tidak ada barang yang masih disembunyikan di tubuh. Philippe Klaan berhenti di depan keranjang Reno, lalu mengambil dompet Reno dan memeriksa isinya. Berikutnya, ia mengambil pisau lipat dan mengamatinya dengan teliti, membuka pisau serta menutupnya lagi. ”Hanya pisau lipat biasa,” ucapnya sambil melempar pisau kembali ke keranjang. Ia kemudian mengambil telepon genggam

Reno dan mulai memeriksanya.

Fay semakin panik. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau Philippe menemukan bahwa hiasan yang menggantung di gelangnya bukan liontin biasa? Aduuuh...

Perhatian Fay teralih ketika Raymond Lang tiba di belakangnya. ”Fay, saya akan menggeledahmu sekarang. Buka sepatumu lalu

berdiri sambil merentangkan tangan.” Fay melakukan perintah Raymond. Raymond menepuk lengan, kaki, dan tubuh Fay secara sistematis, lalu berkata, ”Selesai.” Ia kemudian beranjak ke Reno. Fay menahan napas ketika melihat Philippe sudah bergeser ke hadapannya. Sekilas ia melihat Reno seperti memberi tanda ke seseorang di sebelah kiri. Fokusnya kembali ke Philippe ketika pamannya itu meraih telepon genggam dari keranjang.

Philippe menghubungkan telepon Fay dengan kabel ke telepon genggamnya sendiri. Tatapannya lekat ke layar, di sana  sebuah  aplikasi memproses data.

Fay melihat dengan tegang indikator warna hijau di telepon Philippe sedikit demi sedikit bergerak. Nasib buruknya sudah semakin dekat.

Indikator menunjukkan pengecekan data selesai. Philippe melepas kabel dan mengembalikan telepon genggam Fay ke keranjang, lalu  mengambil gelang.

Fay menyaksikan dengan perut melilit dan jantung berdebar bagaimana Philippe mendekatkan liontin itu ke wajah untuk mengamati lebih dekat. Fay tertunduk pasrah, tidak berani melihat lagi. Habislah riwayatnya sebentar lagi!

Tepat saat itu, terdengar suara James Priscott. ”KENT!” Philippe menoleh, perhatiannya teralih. ”Kenapa, James?”

”Kent mengambil telepon genggamnya lagi dari dalam keranjang, padahal belum saya periksa!”

Philippe melempar gelang Fay ke keranjang, kemudian menghampiri Kent dengan langkah lebar. ”Apa yang kamu lakukan?”

Kent berkata terbata-bata, ”Maaf, Paman. Saya seperti mendengar dering telepon, jadi saya memeriksa apakah ada pesan masuk.”

Philippe berkata, ”Oh ya? Kita buktikan apakah kamu berkata benar atau ada yang kamu sembunyikan di teleponmu!” Ia memeriksa telepon Kent.

James Priscott, yang seharusnya memeriksa Kent, kini beranjak ke hadapan Sam. Setelah selesai, ia kemudian tersenyum ke arah Fay  dan bertanya, ”Kamu sudah diperiksa Philippe, ya?”

Fay mengangguk dengan jantung berdebar.

James kembali ke depan barisan, diikuti Philippe yang  sudah  selesai memeriksa Kent. Fay mengembuskan napas lega—ia sampai hampir melorot saking leganya.

Terdengar suara-suara dari arah pintu ruang rekreasi. Andrew masuk ke ruangan, diikuti seorang penjaga yang membawa sebuah keranjang tanpa nama yang kemudian diletakkan di dekat Andrew. Tak lama kemudian Steve Watson masuk ke ruangan dan langsung memasukkan selembat kartu warna kuning ke keranjang di hadapan Sam. ”Kamarmu berantakan seperti istal kuda yang tak ter-

urus.”

Sam menggaruk-garuk kepalanya sambil menggerutu.

Andrew maju ke depan barisan dan mengambil alih. ”Hasil penggeledahan  kali  ini  benar-benar  di  luar  dugaan,”  ucapnya  sambil menyapukan pandangan pada para keponakan yang berdiri di hadapannya. ”Melihat apa yang kami temukan, setidaknya ada enam kartu oranye untuk tiga pelanggaran, yang siap dibagikan bila ada yang   siap mengaku. Bila tidak ada yang mengaku, masing-masing dari kalian akan dikenai tiga daftar oranye sekaligus.”

Fay merasa jantungnya sempat berhenti sejenak. Apakah hadiahhadiah yang disimpan Reno ditemukan oleh pamannya? Mati! Ia menatap keranjang yang ada di dekat Andrew dengan napas tercekat dan jantung berdebar kencang.

”Saya  akan  mulai  membahasnya  satu  per  satu,”  ucap  Andrew. ”Pertama, saya menemukan materi-materi yang... tidak pantas... di komputer yang ada di salah satu kamar.” Andrew berhenti sebentar, kemudian kembali berbicara. ”Fay! Ada yang mau kamu katakan?”

Fay tersentak dan melihat Andrew sedang memandangnya lekat dengan tatapan menilai. Ia menggeleng sambil menjawab cepat, ”Tidak.”

Andrew mendekati Fay, kemudian berkata, ”Materi-materi tak pantas itu ditemukan di komputer yang ada di kamarmu!”

Ha?

Fay menatap Andrew dengan tatapan kosong. Setengah otaknya bekerja sangat berat dan lambat bagaikan ditimpa beban berton-ton, sementara setengah yang lain langsung berteriak-teriak sambil mengirim sinyal membabi buta supaya dirinya melancarkan aksi protes—sayangnya niat mulia itu malah mengacaukan setengah pikirannya yang sudah lambat.

Terdengar suara tawa tertahan  dari  Sam. Andrew mengangkat alis sambil menatap Sam.

Fay ikut menoleh pada Sam. Sepupunya itu mengangkat bahu, lalu  berkata  tanpa  menyembunyikan  seringai  di  wajahnya,  ”Sorry Uncle, I can’t help it. She looks very funny.” Kalimat itu disambung dengan suara tawa tertahan dari para sepupunya yang lain.

Telinga Fay langsung terasa panas. Entah seperti  apa  wajahnya tadi! Untungnya kalimat itu ternyata berhasil menyatukan dua bagian otaknya yang sempat terbelah dan ia pun menggeleng panik. ”Saya tidak pernah punya materi apa pun yang... ehm, tak pantas... Yang   ada di komputer saya pasti bukan punya saya karena saya... tidak mungkin...”  Fay  terdiam  ketika  melihat  seulas  senyum  di  wajah Andrew, disusul suara tawa lepas para sepupunya.

Detik itu juga Fay berharap sang bumi berbaik hati menelannya. Dengan perasaan seperti digunduli, ia menatap  lurus  ke  depan  sambil berdoa dalam hati episode memalukan ini segera usai. Siapa yang punya waktu untuk memikirkan masalah gramatikal kalau dituduh punya hal-hal ”tak pantas”, apa pun itu, di depan enam sepupu cowok, ditambah lima paman yang juga cowok? Masih bisa ngomong juga sudah bagus!

Ia tiba-tiba ingat instruksi Larry tadi, untuk menjawab tidak tahu pada semua tuduhan.

Hah, siapa peduli!

Bagaimana ia bisa mengucapkan ”tidak tahu” bila yang dituduhkan ke dirinya adalah menyimpan materi ”tidak pantas”? Ia bahkan tak  berani  membayangkan  seperti  apa  ”materi  tak  pantas”  yang  disebut Andrew... Benar-benar episode paling memalukan seumur hidupnya!

Andrew bergeser dan berhenti di depan Sam. ”Saya tidak akan tertawa terlalu keras kalau ada di posisimu.”

Suasana langsung senyap.

Keheningan begitu dalam hingga Fay merasa bisa mendengar  degup jantungnya. ”Ada yang mau mengaku meletakkan materi tersebut di komputer Fay?” tanya Andrew.

Suasana hening.

”Bila ada yang mengaku, akan saya berikan kartu kuning karena saya anggap ini hanya keisengan belaka. Tapi bila tidak, semua akan saya  beri  kartu  oranye...,”  ucap  Andrew,  lalu  menatap  Fay,  ”...termasuk kamu.”

Fay terperanjat menatap Andrew. Kenapa ia yang kena, padahal salah satu dari sepupu gilanya yang melakukan? Benar-benar sinting!

Andrew sepertinya bisa membaca makna raut wajah Fay, karena langsung menambahkan, ”Kamu tidak hati-hati sehingga orang lain bisa meletakkan materi-materi tersebut di komputer yang ada di kamarmu.”

Fay menelan ludah sambil bersumpah serapah dalam hati. Sialan, siapa yang mengerjainya?

”I  did  it,”  ucap  Larry  akhirnya.  Fay  mengembuskan  napas  lega sambil memaki Larry dalam hati, sekaligus juga berterima kasih karena dia mengaku, tapi mengutuknya lagi karena sudah mempermalukannya seperti tadi.

”Sorry, Fay,” ucap Larry, lalu tersenyum tipis. Sialan!

Andrew memasukkan kartu berwarna kuning ke keranjang Larry, kemudian berkata, ”Berikutnya, ada satu gelas kosong bekas anggur yang ditemukan di balik vas bunga dekat tangga sayap  kanan,  di lantai dua. Ada yang bisa menjelaskan?”

Suasana senyap. Fay mulai merasa jantungnya berdebar.  Inikah yang tadi disebut Elliot?

Larry bersuara, ”Kami berenam minum semalam di ruang duduk atas. Kelihatannya ada yang lupa membawa gelasnya ke dapur.”

Andrew menyapukan pandangan tajam pada semua keponakan. ”Sepertinya kalian harus diingatkan bahwa minuman beralkohol hanya boleh dikonsumsi di ruang umum lantai satu!” Tatapan Andrew berhenti pada Fay. Ia mendekati Fay dan menatapnya lekat. ”Benarkah apa yang dikatakan Larry? Jadi, kamu juga ikut minum anggur semalam?” Fay menelan ludah. Aduh, sialan... Apa tadi kata Larry? Ia harus setuju dengan semua yang dikatakan Larry? Jadi, ia harus mengakui tuduhan Andrew sebagai kesalahannya? Aaarrgghhh... matilah!

”FAY, saya tidak punya semalaman untuk menunggu jawabanmu!”

Fay berdeham pelan, kemudian berkata, ”I... iya...” ”Juga semua sepupumu yang lain?”

”Iya...”

Andrew berkata dengan intonasi penuh tekanan, ”Kalian semua bertujuh, bukan berenam...”

”Kecuali  Elliot,”  tambah  Fay  buru-buru,  dengan  napas  sesak  saking paniknya.

Andrew kembali ke depan barisan, kemudian berkata, ”Saya berikan kartu kuning untuk pelanggaran ini, mengingat kalian semua sudah di atas delapan belas tahun dan tadi pagi semua hadir tepat waktu di latihan pagi dalam keadaan sadar.”

Steve Watson  langsung bergerak, memasukkan satu kartu kuning  ke setiap keranjang, kecuali milik Elliot. Di ujung, Steve berjalan  balik lewat belakang barisan keponakan, lalu menepak dua  kepala anak asuhnya sambil jalan, Reno dan Sam, yang langsung mengaduh  sambil mengusap-usap bagian belakang kepala mereka.

Andrew kembali berbicara, ”Terakhir...” Ia menunduk, meraih ke dalam keranjang.

Fay menahan napas. Apakah senjata-senjata yang disimpan Reno ditemukan?

”Ada empat tiket konser untuk akhir minggu ini di Amsterdam,” sambung Andrew dengan empat lembar kertas di tangan.

Diam-diam Fay mengembuskan napas lega.

”Saya dan paman yang lain tidak merasa dimintai izin meninggalkan Paris oleh siapa pun. Jadi, pasti ada yang ingin keluar diamdiam.” Andrew berjalan ke ujung barisan, Kent, sambil melambaikan tiket-tiket itu di hadapan Kent. ”Ada tiketmu di sini?”

Kent tidak bersuara, hanya mengangkat bahu dengan tak acuh.  Andrew bergeser ke Reno, ”Atau, milikmu?”

”Saya tidak tahu...,” jawab Reno datar. Tatapan Andrew jatuh pada Sam, yang  langsung  mengangkat  bahu. ”Paman Steve tadi menepuk kepala saya terlalu keras... saya jadi lupa.”

Ucapan itu langsung disambut tawa Raymond Lang dan senyum Andrew, juga tawa tertahan para keponakan.

Fay menggigit bibirnya karena geli mendengar jawaban nekat Sam, tapi semua kelucuan yang ia rasakan langsung lenyap ketika melihat Steve Watson mendekat, lalu menarik kerah Sam sambil mendorongnya hingga terjerembap di lantai.

”Tiarap, sekarang! Tahan di posisi push-up!” Steve lalu menendang kaki Sam sambil lalu.

Andrew bergeser ke depan Fay.

Fay menahan napas dengan perut tegang, sambil mengeluh dalam hati. Not again...

”Now, young lady, saya perlu jawaban ya atau tidak. Kamu sudah delapan belas, jadi konsekuensi jawabanmu akan kamu tanggung secara penuh.”

Fay merasa napasnya mulai pendek-pendek karena panik. Ia mencoba mengatur napasnya. Tenang, Fay, ini urusan rumah, jadi harusnya nggak parah-parah amat, iya kan? Akhirnya ia menjawab pelan, ”Saya... hmm... Saya tidak mengerti apa maksud Paman.” Ini benarbenar harakiri! Ia menyumpahi para sepupunya dalam hati—bagaimana caranya mereka bisa menjawab dengan wajah lurus dan tetap terlihat tenang seperti itu? Memang pada gila semua!

”Itu bukan ya atau tidak!” ucap Andrew tajam. Aduh, mati!

Raymond Lang tersenyum lebar. ”Kelihatannya anggota keluarga kita yang baru sudah banyak belajar dari para berandalan yang lain.”

Philippe Klaan berkomentar, ”Jelas sekali mereka semua tidak punya otak untuk berpikir panjang. Aku usul, bila tidak ada yang mengaku, daripada memberikan daftar oranye ke mereka semua, lebih baik kita seret mereka semua ke ruang bawah tanah dan kita interogasi satu per satu secara terpisah.”

Fay merasa perutnya melintir di dalam. Menurut cerita Sam, interogasi terpisah bisa diibaratkan adu tahan di bawah tekanan. Interogasi tak berhenti dengan diperolehnya informasi, karena setiap keponakan pasti mendapat giliran. Keponakan yang diinterogasi tak tahu apakah harus tetap bertahan atau menyerah, karena mereka tak tahu apakah informasi sudah dibocorkan oleh yang lain atau tidak. ”Good idea, Philippe,” cetus Steve Watson. ”Rasanya sudah cukup lama kita tidak bersenang-senang dengan para keponakan di sel

bawah tanah.”

Andrew terlihat seperti menimbang-nimbang dan suasana langsung terasa lebih menegangkan. ”Usul kalian aku terima,” ucapnya akhirnya.

Keheningan langsung dipecahkan makian, erangan, desahan, dan umpatan di sana-sini.

Andrew kembali menyapukan pandangan pada para keponakan. ”Sekali lagi saya tanya, ada yang mau mengaku? Saya beri waktu lima detik sebelum kalian semua diseret ke sel.”

Selama beberapa saat, suasana terasa sangat mencekam, hingga Fay bahkan menahan napas. Akhirnya keheningan dipecahkan oleh suara Reno, ”Salah satunya milik saya.”

”Dan saya,” susul Lou.

Larry mengangkat tangan tanpa berkata-kata, dan Sam menjawab masih dengan posisi push-up. ”Mine.”

Steve kembali mendekat, memasukkan kartu oranye ke keranjang empat keponakan yang mengaku sebagai pemilik tiket.

Andrew mengangguk, lalu berkata, ”Untuk kalian yang mendapat kartu kuning, sekarang juga ganti baju  kalian  dengan  pakaian  latihan, lalu lari keliling rumah mulai dari pos penjaga gerbang. Jangan  berhenti  sampai  diperintahkan.”  Ia  melihat  arlojinya  lalu  berkata, ”Berharap saja saya tidak melupakan kalian saat makan malam... karena kalian yang mendapat kartu oranye akan tidur di sel malam ini, dan tidur dengan perut lapar di sel yang dingin dan keras sama sekali tidak menyenangkan.”

Andrew menambahkan, ”Itu tentunya baru pemanasan. Sebagai hukuman daftar oranye, kalian akan dirumahkan selama tiga hari...” Suara decakan, erangan, dan keluh kesah  kembali  terdengar. ”Dan, selama seminggu ke depan kalian harus melakukan public

service selama sepuluh jam.”

Kali ini Larry langsung protes, ”Jadwal kami di kantor sangat padat.” Diiyakan oleh Reno dan Sam hampir berbarengan. Lou tak berkata-kata, hanya tampak pasrah. Sam, yang sudah berdiri, menambahkan, ”Lagi pula, public service kan untuk anak-anak seperti Elliot... Sedangkan kami kan sudah sudah di atas delapan belas tahun... Kami bertiga sudah di atas dua puluh, malah.”

Andrew menjawab tajam, ”Kalau kalian mau diperlakukan seperti orang dewasa, maka bertindaklah seperti orang dewasa: bertanggung jawab. Saya yakin kalian bisa meluangkan waktu  dua  jam selama lima hari ke depan setelah pulang dari kantor untuk mengupas  kentang, mencuci peralatan makan, membersihkan dapur, menggosok kamar mandi, memotong rumput, atau melakukan pekerjaan rumah lain. Dan, kalau kalian belum bergerak juga, segera akan saya jadikan dua puluh jam.”

Keenam keponakan, termasuk Fay, langsung bergerak ke luar ruang rekreasi, diikuti Steve yang berteriak-teriak menyuruh mereka lebih cepat, seperti menggiring sekumpulan ternak.

Di koridor menuju kamar, Fay mendadak teringat dan melihat arlojinya. Aduh, ia kan janji mau ke rumah Enrique untuk bicara tentang acara di Jenewa dengan Enrique dan Tia Bea!

”Ada apa?” tanya Kent yang berjalan di sebelah Fay.

Fay agak ragu, tapi akhirnya menjawab, ”Aku sudah janji mau ke rumah Enrique... untuk membicarakan acara pernikahan ibunya.” Ia melihat Kent hanya mengangguk sedikit—tak tampak lagi kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan pada sorot mata Kent.

”Kamu bilang sama Paman saja sekarang, sebelum hukumannya dimulai,” ucap Kent.

***

Lima belas menit kemudian, Fay naik ke mobil yang dikendarai  Lucas. Sewaktu mobil berjalan perlahan menuju gerbang, ia melihat para sepupunya berlari melintasi lapangan rumput menuju jalan aspal yang akan dilalui mobilnya. Sambil nyengir, ia membuka jendela kemudian melambai ke arah mereka. Bukan salahnya dong kalau Andrew memutuskan untuk membatalkan semua hukumannya dan memberinya izin pergi ke rumah Enrique saat ini juga. Satusatunya yang diminta Andrew hanyalah agar Fay kembali ke rumah sebelum makan malam.

Awalnya mereka tampak terheran-heran, tapi kemudian mereka berteriak-teriak protes menyuruh Fay turun dari mobil—hanya Kent yang tetap berlari sambil cengengesan.

Fay melongokkan kepala ke luar jendela mobil dengan perasaan puas, namun langsung memasukkan kepalanya lagi sambil mengataingatai Sam ketika sesuatu terbang ke arahnya—Sam mencabut tanaman bunga dari sisi jalan dan melemparnya ke arah mobil. Untung meleset dan mendarat di sisi jalan. Dasar kuda nil tak beradab!

Fay menoleh ke belakang, kali ini dari dalam mobil untuk melindungi dirinya dari hal yang tidak-tidak.

Terlihat Sam lari pontang-panting—di belakangnya, seorang pria mengejar dengan marah sambil mengacungkan garpu rumput. Kelihatannya pria itu adalah tukang kebun yang tak terima melihat hasil karyanya dicabut dan dilempar.

Fay tergelak sampai air matanya keluar. ”Memang pada gila semua,” ucapnya pada diri sendiri sambil mengusap air mata.

Lucas melihat lewat kaca spion, kemudian menanggapi sambil tersenyum,  ”Oui,  Mademoiselle...  Untuk  yang  satu  itu,  saya  setuju dengan Anda.”

***

Kent membiarkan tawa lolos dari mulutnya menyaksikan kehebohan para sepupunya yang sibuk meneriaki Fay di sela-sela makian tukang kebun pada Sam yang lari serabutan.  Sambil  menyaksikan  adegan itu, kaki Kent mengayun dengan stabil, seperti ketukan dalam irama musik yang diputar oleh kepalanya. Perasaannya terasa ringan.

Sudah beberapa minggu terakhir ini ia berlatih piano di bawah bimbingan seorang maestro yang bermukim di Paris—direkomendasikan oleh komposer yang pernah menawarinya beasiswa untuk belajar musik di Salzburg. Menurut komposer itu, sebuah bakat  adalah  hadiah cuma-cuma dari Tuhan yang tidak boleh  disia-siakan.  Bila Kent tidak bisa melanjutkan ke sekolah musik,  setidaknya  Kent  harus tetap mengasah kemampuannya, bagaimanapun caranya.

Jadilah ia mencuri-curi waktu di sela-sela kesibukannya di kantor, berlatih selama beberapa jam hampir setiap hari bersama  sang  maestro, di luar sepengetahuan pamannya. Beberapa kali  ia terlambat dan harus menerima hukuman, baik dari mentornya dan terakhir  malah dari pamannya, tapi semuanya sepadan.

Sekarang ia harus mengakui bahwa musik adalah denyut nadinya. Ketika jarinya menari di atas tuts piano, cinta meliputinya dan memberinya kebahagiaan yang melenakan, tak tergantikan oleh apa pun.

Ia melihat Fay melambai dari dalam mobil dan tersenyum. Akan sempurna mungkin, bila gadis yang ia cintai bisa mendampinginya, tapi bila tidak pun ia harus mulai menerima bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Ia masih terganggu dengan fakta seorang pemuda menemani hari-hari Fay, tapi terlepas dari semua itu, sebuah cinta lain sekarang telah terbentuk secara nyata di dalam hatinya. Ia mungkin bisa hidup tanpa Fay, tapi ia tidak bisa hidup tanpa musik. Ia mungkin bisa menelan kekecewaan karena patah hati, tapi ia tidak sanggup mengunyah kepahitan karena tidak bisa melepas ekspresinya dalam bermusik.

Dan, itu adalah cinta yang sempurna.

***

Pukul 18.55 Fay melangkah masuk ke ruang makan  kecil. ”Hai, yang lain mana?” tanyanya sambil duduk di seberang Kent.

”Mungkin sebentar lagi. Tadi aku lihat Andrew masuk ke ruang duduk  bersama  Raymond  dan  Philippe,”  jawab  Kent.  ”Bagaimana acaramu sore tadi?”

Fay mengedikkan bahu. ”Sebenarnya hanya membicarakan detaildetail yang sebenarnya tak perlu dibicarakan lagi. Aku hanya duduk mendengarkan Tia Bea...,” ia terdiam sebentar lalu melanjutkan, ”...itu ibu Enrique...” Melihat Kent mengangguk santai, ia kembali berbicara, ”Tia Bea kelihatannya gugup sekali, jadi segala hal dia bicarakan, mulai dari jangan sampai terlambat besok ke bandara, jangan lupa membawa gaun dan sepatu yang sudah diberikan padaku, jangan makan atau minum yang terlalu dingin, jangan tidur terlalu larut supaya tidak sakit, dan segudang perintah lainnya.”

Kent menanggapi, ”Wajar saja, kurasa. Semua pasti gugup menjelang  pernikahan.”  Ia  kemudian  melirik  pergelangan  tangan  Fay. ”Gelangnya kamu pakai lagi...”

Fay  tersenyum.  ”Iya.”  Ia  terdiam  sebentar,  kemudian  bertanya lamat-lamat, ”Waktu inspeksi tadi, kamu memang benar-benar memeriksa telepon atau...” Kalimatnya tidak diteruskan.

Kent nyengir. ”Reno memberiku kode dan aku sengaja melakukannya supaya Philippe buru-buru bergeser dari hadapanmu.”

Fay tersenyum dengan perasaan haru. Ia memperhatikan wajah Kent yang berbinar dengan sorot mata lembut yang seakan ikut tersenyum. Entah kenapa, ada sesuatu di keseluruhan sikap Kent yang membuat Fay yakin bahwa binar-binar kebahagiaan itu tidak diakibatkan olehnya dan tidak ditujukan untuk dirinya. Fay terdiam ketika satu pertanyaan lewat. Apa yang membuat Kent bahagia? Apakah dia punya... pacar? Fay buru-buru menepis pertanyaan itu dari benaknya—itu bukan urusannya. Ia toh sudah punya Enrique yang sangat baik.

Fay akhirnya bertanya, ”Kamu tadi pergi ke mana, setelah memberitahu kami ada inspeksi?”

”Ke kamar. Untuk memastikan tidak ada barang-barang yang terlewatkan olehku.”

”Seperti apa?” tanya Fay sambil lalu.

Kent tampak enggan. Ia mengangkat bahu sambil tersenyum, lalu berkata, ”Tidak penting.”

”Kalau nggak penting kenapa repot-repot lari ke kamar segala?” tukas Fay cepat. Ia kaget sendiri mendengar nada ketus dalam ucapannya. ”Karena ini sesuatu yang sebaiknya tak diketahui Paman.” ”Tapi aku kan bukan Paman...”

Kent tertawa kecil. ”Kamu sama sekali tak berubah ya... Percayalah padaku, ada hal-hal yang sebaiknya  kamu  nggak  tahu.  Kamu tahu kan rasa ingin tahu bisa membunuh kucing?”

Fay nyengir mendengar kalimat yang pernah ia dengar itu. ”Sebenarnya nggak masalah juga kan kalau aku tahu... Toh aku harus pura-pura nggak tahu kalau ditanya. Aku tadi sudah mau pingsan waktu Andrew berdiri di depanku dan bertanya tentang masalah gelas anggur... juga tiket konser.”

”You  did  good,” puji Kent.

”Bagaimana hukuman tadi? Berapa lama kalian lari?”

”Mungkin sekitar satu setengah jam. Untung yang mengawasi Steve dan Andrew, bukan si botak Nikolai. Setelah itu kami langsung disuruh masuk ke kamar hingga waktu makan malam.”

Fay menggeleng, ”Aku nggak ngerti... kenapa Larry menutupi kesalahan Elliot? Pakai membawa-bawa yang lain pula...”

Kent nyengir. ”Larry memang gila. Aku rasa dia hanya tak rela kalau kena hukuman sendirian. Lagi pula, itu ada bagusnya... kita bisa menagih utang itu pada Elliot suatu hari nanti.”

”Utang apa? Maksudmu, kita bisa minta Elliot mengakui kesalahan yang kita buat sebagai balasannya?”

Kent menggeleng. ”Bukan itu. Akses Elliot di kantor lebih tinggi daripada kita semua. Kita bisa minta informasi-informasi berguna yang tidak bisa kita akses sendiri...”

”Contohnya?” tanya Fay.

”Misalnya, posisi para paman...,” Kent berhenti, lalu nyengir, ”...bisa sangat berguna kalau kita mau melakukan sesuatu yang gila-gilaan.”

Terdengar suara cakap-cakap mendekat. Andrew, Raymond, dan Philippe muncul di ruang makan.

”Hanya ada dua keponakan di meja makan, dan dua-duanya keponakanku...  How  marvelous,”  ucap  Andrew  sambil  duduk,  lalu menangkupkan kedua tangannya dengan raut puas.

Raymond   menggeleng,   lalu   berkata,   ”Aku   tak   percaya   kau menggunakan kesempatan ini untuk menyombongkan diri.” Andrew  tersenyum  tipis.  ”Well,  well...  Lihat  siapa  yang  bicara... Seingatku, kau yang terus-menerus membanggakan catatan pelanggaran Lou yang hampir tanpa noda tahun ini.”

Raymond tak mau kalah. ”Sayangnya, bukan hanya dalam catatan pelanggaran saja posisi Kent tertinggal jauh dari Lou,” balasnya.

Kent mengeluh sambil menopang kepala dengan satu tangan. Fay melirik Kent dengan perasaan iba—ia sudah bisa menebak ke mana pembicaraan para paman ini akan berujung.

Philippe ikut bicara, ”Aku harus setuju dengan Raymond. Dari sudut penguasaan materi, Kent tertinggal jauh dari Lou.”

”Itu karena selama ini dia tinggal di London,” sahut Andrew. ”Dengan kepindahannya ke Paris, aku percaya dia nanti akan naik level lebih dulu dibanding Lou.”

”We’ll  see,” ucap Raymond.

Andrew menatap Kent. ”Kamu dengar? Tak ada waktu bersantai...” Ia  berhenti,  melihat  arlojinya,  lalu  menambahkan.  ”In  fact...  we should  practice  after  dinner.”

Kent menggerutu sambil melirik Raymond, yang tersenyum sambil mengangkat bahu.

Seorang pelayan berseragam masuk ke ruangan. ”Ini dia menu hari ini, selamat menikmati.”

Suara pelayan itu terdengar familier. Fay menoleh dan tertegun melihat Reno dalam seragam pelayan meletakkan piring-piring berisi makanan di meja.

Andrew berkata sambil lalu, ”Kamu tampak gagah sekali dengan seragam itu.”

Fay dan Kent tertawa.

”Thanks, Uncle,” jawab Reno santai. ”Saya merasa tersanjung, tapi saya  memang  sudah  gagah  sejak  lahir.”  Ia  kembali  ke  dapur  ketika diberi tanda oleh kepala pelayan.

Fay melihat piring-piring yang disajikan Reno dan bertanya, ”Elliot tidak ikut makan? Bagaimana dengan Paman James dan Paman Steve?”

Raymond menjawab, ”Mereka semua ke kantor—shift  malam.” Andrew bertanya pada kepala pelayan, ”Siapa lagi yang bertugas di dapur?”

Kepala pelayan menjawab sopan. ”Hanya Mr. Sam. Dia sedang mengupas kentang lalu menyiapkan adonan roti untuk esok hari. Mr. Larry dan Mr. Lou malam ini bertugas menyikat koridor lantai empat.”

”Ada yang mengawasi kerja mereka?” tanya Andrew.

”Of  course,  Sir.  Para  pelayan  tak  sanggup  bila  harus  mengawasi kerja pemuda-pemuda yang... ehm... cerdik seperti mereka. Para penjaga sepertinya lebih terlatih menghadapi mereka. Saya meminta bantuan Sir Nikolai untuk mengirim penjaga ke dapur dan ke lantai empat.”

Setelah makanan penutup dihidangkan, Andrew bertanya, ”Bagaimana pertemuan hari ini dengan Enrique? Semua persiapan sudah beres?”

Fay mengangguk. ”Saya tinggal memasukkan semua barang ke koper. Besok siang saya berangkat dari sini, langsung ke bandara.  Saya bilang pada Enrique akan ke bandara langsung dari rumah Bobby.”

Andrew menatap Fay sebentar. ”Kamu berangkat besok siang, tapi barangmu belum masuk semua ke koper? Selesaikan malam ini, young  lady.  Last  minute  packing  is  a  sign  for  a  forthcoming  disaster,” tegasnya.

”Yes,  Uncle,” ucap Fay buru-buru.

Andrew kembali berkata, ”Kamu bisa menelepon Bobby bila kamu mau. Dia tahu namanya secara resmi ada di profilmu, jadi dia pasti akan mendukung informasi yang kamu berikan pada Enrique dan bersedia mengantarmu ke bandara bila dibutuhkan.”

Fay menggeleng. ”Tidak perlu. Saya sudah bilang pada Enrique akan  naik  taksi.”  Ide  bahwa  ia  harus  bersandiwara  lagi  di  depan Enrique membuatnya merinding!

Raymond bertanya, ”Pukul berapa pesawatmu berangkat ke Jenewa?”

”Saya naik pesawat sore, sekitar pukul tiga.”

Philippe berkomentar pedas, ”Pesawat komersial? Bruce Redland punya perusahaan jet pribadi dan dia menyuruh pacar anak tirinya menghadiri pernikahannya menggunakan pesawat komersial?”

Fay melirik Philippe dengan kekesalan yang sudah memancur dari ubun-ubun. Ia menjawab dengan nada setenang mungkin, ”Pesawatnya sudah dipakai untuk membawa calon istrinya. Enrique  yang  minta supaya kami naik pesawat komersial saja supaya pesawatnya bisa menjemput saudara-saudaranya yang ada di Venezuela.” Ia menambahkan dengan kepuasan yang sangat sulit disembunyikan, ”Malah tak hanya satu pesawat, tapi dua.” Ha, tau rasa!

”Kapan kamu pulang?” tanya Philippe lagi, dengan raut wajah tak berubah, tetap datar. ”Latihan dasarmu di kantor dimulai sebentar lagi dan kamu harus bersiap-siap.”

Fay menjawab setengah hati, ”Saya di sana hanya dua malam. Setelah itu langsung kembali ke sini.” Ih, gitu aja repot, dasar kakek sihir!

Raymond menanggapi, ”Easy, Philippe. Ada cukup banyak waktu untuk bersiap-siap.”

”Ya, Philippe... Aku rasa urusan kantor bisa menunggu hingga Fay pulang nanti,” ucap Andrew sambil melipat serbetnya dan meletakkannya di meja. ”Well, young lady... Saya pergi besok pagi-pagi sekali, jadi sampai bertemu beberapa hari lagi.”

Fay mengangguk sambil berterima kasih dalam hati karena diselamatkan dari kalimat pedas Philippe yang pastinya sudah menggantung di ujung lidah pria itu.

”Have  fun  in  Geneva,”  ucap  Andrew  lagi  sebelum  meninggalkan meja makan.

***

Andrew duduk di meja kerja, kemudian membuka profil Fay. Ia tersenyum ketika menambahkan komentarnya atas pengamatan yang diberikan Bobby. Fakta bahwa Fay bisa melakukan tugasnya dengan baik sebenarnya sama sekali tidak mengejutkannya. Hasil itu sesuai dengan profil yang ia buat tahun lalu, yang salah satunya bersumber dari tes yang dilakukan Fay di Nice. Yang mengejutkan adalah, analisis komputer menunjukkan bahwa profil Fay dikategorikan sama dengan dirinya sendiri.

Ia ingat bagaimana tahun lalu sempat tertegun sebelum akhirnya memutuskan membandingkan jawaban-jawaban Fay dengan jawaban yang ia berikan berpuluh tahun silam pada tes serupa. Ia pun terperanjat ketika melihat bahwa jawaban Fay sama persis dengan jawabannya.

Empat ratus soal. Di 399 soal, ia dan Fay  memberi jawaban sama,  tak hanya soal-soal eksakta, tapi juga soal-soal psikotes menyangkut daya analisis serta karakter dan kepribadian. Di soal-soal yang dulu    ia jawab salah pun, Fay  pun menjawab salah dengan pilihan yang  sama persis. Hanya satu nomor yang dijawab berbeda oleh mereka— sebuah soal isian, bukan pilihan ganda: ”Sebutkan definisi Tuhan.”

Sepanjang perjalanan keluarga McGallaghan, pertanyaan itu dijawab beragam oleh anggotanya. Sepupunya, Raymond, menjawab Tuhan   adalah   ”The   Supreme   Being,   The   Absolute   Truth.”   Steve menulis, ”The  Pope  should  be  God.” Keponakannya yang tumbuh di sekolah yang lebih religius, Larry dan Lou, menjawab ”Jesus Christ”, sedangkan Elliot menulis nama pendiri Microsoft, Bill Gates, dan pendiri Apple, Steve Jobs. Sejauh ini ia tidak melihat ada yang istimewa dengan jawaban ”Allah SWT” yang ditulis oleh Fay, atau jawaban ”The Creator” yang ditulis Kent, atau bahkan dengan jawabannya sendiri atas pertanyaan itu: ”I  am  God”.

Andrew menggoyang gelasnya dengan gerakan memutar, lalu memperhatikan pusaran anggur yang terbentuk.

Yang lebih menarik baginya bukanlah jawaban beragam atas  definisi Tuhan, tapi benang merah atas kesamaan jawaban-jawaban antara tes yang dilakukan Fay dan dirinya. Apakah kesamaan itu mengindikasikan bahwa Fay punya kualitas dan jalan berpikir yang sama dengan dirinya? Dan apakah itu berarti Fay punya peluang dan potensi sebagai pemimpin keluarga ini kelak?

Walaupun tugas-tugas Fay berhasil dilakukan dengan cemerlang, hingga saat ini masih sulit untuk mengambil kesimpulan itu. Mungkin ia akan bisa menilainya lebih lanjut setelah keponakannya itu ikut pelatihan dasar COU tak lama lagi. Andrew menenggak habis anggur merah di gelasnya dengan satu tegukan. Ia menutup mata sejenak, merasakan rasa panas membakar tenggorokannya.

Tuntasnya Operasi Echo menjadi penanda dimulainya operasi utama, berkode Lexus. Ia berharap operasi ini akan menuntaskan masalah yang beberapa bulan terakhir ini mengganggunya.

Ia merasa hidup selalu berpihak padanya, dan tak ada alasan untuk tidak. Baginya, Tuhan hanya ada untuk orang-orang yang lemah, bukan untuk orang-orang seperti dirinya. Dalam waktu dekat, bidak-bidak catur akan bergerak dengan sendirinya, memberinya kemenangan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊