menu

Trace of Love Bab 10: The Job

Mode Malam
The Job

FAY  mengerang  sambil  melempar  eye  liner  ke  meja  rias.  Percuma saja! Matanya tetap saja terlihat sembap walaupun ia sudah mencoba berbagai cara untuk menutupinya. Lagi  pula,  bagaimana cara menutupi bengkak di kelopak mata dengan make up? Tolol  sekali!

Terdengar dering telepon kamar.

Fay mengangkat telepon dengan sapaan yang sudah menggantung  di ujung lidah. Ia sudah membayangkan wajah berkacamata Elliot dengan mata sedikit membesar karena mencerocos panjang lebar dengan semangat ‘45, dan kali ini ia akan memastikan tidak akan keduluan anak itu.

Mulutnya yang sudah terbuka langsung terkatup ketika mengenali suara Andrew.

”Good  morning,  young  lady.  Bisa  datang  ke  ruang  kerja  saya sekarang, sebelum kamu turun untuk sarapan?”

Jantung Fay berdegup dan ia terdiam sebentar. ”Yes, Uncle,” jawabnya akhirnya.

Begitu telepon ditutup, Fay mendongak ke langit-langit sambil mengerang putus asa. Belum cukupkah apa yang menimpanya semalam? Apa lagi yang akan terjadi kali ini? Fay menarik napas panjang, kemudian melangkah dengan enggan ke ruang kerja Andrew. Ia bisa merasakan bagaimana sebuah gasing seperti berputar-putar di perutnya, semakin lama semakin kencang, apalagi setelah ia masuk ke ruang kerja Andrew dan melihat pamannya itu.

Andrew tampil formal mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja warna putih dan dasi biru yang mengilap. Ia tersenyum ramah ketika melihat Fay mendekat. ”Have a seat, young lady,” sapanya hangat.

Fay sejenak terpaku, kemudian duduk perlahan-lahan di sofa. Kalau saja jarinya tidak masih berdenyut samar, mungkin melihat pamannya menyapa ramah dengan sikap hangat seperti ini ia akan berpikir kejadian semalam hanya mimpi.

Andrew duduk di sebelah Fay.

Fay menautkan jari-jarinya erat di pangkuan sambil mengubah posisi kakinya dengan gugup.

”Raymond   memberitahu   saya   bahwa   kamu   semalam   cukup terguncang. Bagaimana keadaanmu pagi ini?”

Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu? ”I’m...  alright,” ucapnya akhirnya.

”Saya minta maaf bila semalam bertindak terlalu keras. Saya hanya ingin menegaskan bahwa loyalitas bukan hanya janji yang diucapkan di mulut saat bersumpah, melainkan harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Tapi, harus saya akui bahwa Raymond benar... tidak sepatutnya saya memperlakukanmu sama seperti sepupumu yang lain... Bagaimanapun kamu belum lama bergabung dengan keluarga ini.”

Fay melirik pamannya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa telinganya tidak salah tangkap ketika mendengar nada lembut penuh perhatian dalam kalimat Andrew. Tatapannya beradu dengan sorot mata biru dalam yang menyejukkan milik pamannya. Sama sekali tak tampak sisa-sisa kemarahan dalam sorot mata itu. Benarkah ini pria yang sama dengan pria yang hampir mematahkan jarinya semalam?

Andrew melanjutkan dengan lembut, ”Kamu belum lama kehilangan orangtuamu, dan saya seharusnya bisa bertindak lebih bijak dan bersikap lebih sebagai seorang ayah ketimbang sekadar pengawas utamamu. Bila saya telah mengecewakanmu, saya minta maaf.”

Sebuah torehan perih terasa di dada dan Fay kehilangan kata-kata. Kerinduannya atas cinta kasih orangtuanya yang telah tiada membuatnya sejenak seperti ditarik masuk untuk menyelam dalam kelembutan penuh kasih yang terpancar dalam sorot mata dan tergambar pada raut wajah pamannya.

”Jadi, apakah kamu menerima permintaan maaf saya?”

Fay mengangguk. Ia belum mampu berkata-kata, mencoba menyelami perasaannya yang mendadak menjadi lebih ringan, seakan sebuah batu besar telah diangkat dari pundaknya.

Andrew  tersenyum.  ”Saya  senang  mendengarnya.”  Ia  kemudian melihat arlojinya dan berkata, ”Sudah waktunya kamu turun untuk sarapan.  Saya  akan  menyusul  sebentar  lagi.”  Ia  lalu  berdiri,  diikuti Fay.

Di pintu, Andrew berhenti dan berdiri di hadapan Fay. ”Saya tahu tugas yang kamu hadapi sekarang tidak ringan. Informasi yang kamu kumpulkan akan digunakan untuk menentukan keputusan yang harus diambil oleh perusahaan milik keluarga ini...” Ia berhenti sebentar, kemudian menambahkan, ”Keluarga kita.”

Fay tidak berkata-kata, membiarkan tatapannya jatuh ke gagang pintu sementara pikirannya mencoba mencerna apa yang dikatakan Andrew. Ia tersentak ketika tangan Andrew meraih dagunya dan mengangkatnya, sehingga ia mendongak. Dadanya sedikit berdebar. ”Semua   pilar   di   keluarga   ini   mungkin   pernah   meragukan keputusan saya untuk mengajakmu bergabung dengan keluarga ini, tapi saya tidak pernah ragu atas kemampuanmu untuk berkontribusi bagi keluarga ini. Saya mungkin bukan ayah kandungmu, tapi saya akan mendampingimu dalam setiap gerak dan langkahmu dalam

keluarga ini.

”Saya yakin kamu masih ingat bahwa saya pernah berkata bahwa kamu bisa mendatangi saya bila mengalami kesulitan apa saja... dan itu berlaku kapan pun. Pintu saya selalu terbuka untukmu...”

Kali ini Fay merasa tatapannya sedikit mengabur,  tertutupi  air mata yang mulai menggenang. Andrew memeluk Fay. ”Saya tahu kamu bisa melakukan tugas  ini,”  ucapnya,  lalu  mengecup  kepala  Fay.  ”Jangan  kecewakan  saya,” tambahnya sambil menepuk-nepuk pipi Fay dengan lembut.

***

Fay berdiri di dekat jendela di lobi L’ecole de Paris. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat satu unit pendukung berupa sebuah van, diparkir tak jauh di pinggir jalan. Kelas baru saja selesai dan lobi mulai ramai oleh siswa-siswa yang keluar dari kelas. 

Fay  menghela napas. Ucapan Andrew tadi pagi terngiang-ngiang  di telinganya, dan penggalan kalimat sederhana ”jangan kecewakan saya”  yang  diucapkan  pamannya  seperti  menambah  beban  yang  ia pikul dalam tugas ini. Kalau saja tidak ada kalimat itu, ia akan melakukan tugas ini semata supaya tidak mendapat hukuman, tapi keberadaan kalimat itu membuatnya lumer, seakan mengecewakan Andrew adalah hal tercela yang lebih buruk daripada sekadar menerima hukuman darinya—seperti mengecewakan  orangtuanya sendiri.

Benaknya tiba-tiba menampilkan wajah Reno yang ia lihat tadi pagi saat sarapan. Sebelah mata Reno bengkak, dan ada belahan di sudut bibir bagian bawah dengan warna merah yang masih basah. Kedua tulang pipinya juga memar.

Entah siapa yang melakukannya pada Reno. Bisa Nikolai, Raymond, atau Steve. Mungkin Nikolai atau Steve, pikir Fay.

Sebagian dirinya merasa bersalah—bila semalam ia bisa menjaga suaranya, mungkin nasib Reno tidak  akan  berakhir  buruk  seperti  itu. Tapi, sebagian lain dirinya masih marah—tidak pernah ia bayangkan, cowok yang ia anggap  kakaknya  sendiri,  yang  selama ini selalu  melindunginya,  kini  malah  mengadukannya  terang-terang an di hadapan Andrew. Mungkin Reno melakukannya  dengan terpaksa, tapi itu tidak mengurangi sakit hati Fay karena merasa dikhianati.

Dan, yang paling menyakitkan dari semua kekacauan semalam adalah mengakui bahwa terlepas dari apa pun yang dilakukan Reno, perkataan cowok itu benar. Fay sedang  menusuk  pacarnya  sendiri dari belakang. Sewaktu bertemu Enrique kemarin, Fay masih berpikir bahwa ia punya pilihan lain, tapi hari ini ia disadarkan bahwa ia tak punya pilihan... Memang tak pernah ada pilihan lain, karena nama McGallaghan hanya menyisakan satu jalan.

”Fay, kamu jadi ke rumahku, kan?” tanya Enrique yang baru tiba di lobi.

”Iya,”  jawab  Fay  singkat.  Tadi  pagi  sebuah  penyadap  sudah  dipasang di bajunya. Semua percakapan setelah kursus usai akan didengarkan oleh Bobby atau entah siapa yang ada di van. Ia juga memakai kalung yang liontinnya merangkap fungsi sebagai kamera. Enrique menggandeng Fay keluar dari lobi, lalu menyusuri trotoar.

Fay mendadak berhenti melangkah.

”Ada apa?” tanya Enrique sambil menoleh.

”Aku lupa... ada yang harus aku lakukan. Kita mampir dulu ya...”

”Ke mana?”

”Aku mau ke studio tari di daerah Montparnasse. Istri Bobby belajar salsa dan dia bilang bagus juga kalau aku belajar salsa. Tadi malam istri Bobby kasih alamatnya ke aku,” jawab Fay.

Bobby baru saja mendapat informasi dari sumber lain yang ada di Venezuela bahwa Enrique, seperti lazimnya pemuda seumurannya dari negara-negara Amerika Latin, suka berdansa. Bobby langsung mengirimkan alamat salah satu studio dan meminta Fay mendaftar. Menurut Bobby hal itu akan meningkatkan intensitas hubungan Fay dengan Enrique, sehingga memudahkan Fay mengorek informasi darinya.

Enrique tersenyum lebar, lalu mendadak menarik tangan Fay dan membawa tubuh Fay lebih rapat. ”Salsa? Aku nggak tahu kamu suka nari. Kamu belajar sama aku saja... gimana?”

”Memangnya kamu bisa salsa?” tanya Fay setengah hati.

”Bisa dong... aku kan dari Venezuela! Di negara-negara Latin, menari itu ibaratnya sudah seperti agama tersendiri! Kamu mau apa, salsa, rumba, bachata, merengue... tinggal bilang saja ke aku.”

Enrique maju ke hadapan Fay dan mengambil posisi berdansa— satu tangannya diletakkan di pinggang Fay dan satu tangan lain mengambil tangan Fay—lalu bergerak dengan hitungan salsa. Awalnya Fay mengikuti langkah Enrique dengan perasaan terpaksa dan sedikit malu—mereka ada di trotoar jalan!—tapi akhirnya ia nyengir dan tergelak. Selama beberapa detik ia melupakan kamera, penyadap, unit, dan semua tetek-bengek kantor ketika perasaannya tiba-tiba saja  meluap, hingga Enrique berseru.

”Hei, kamu sudah bisa gerakan kakinya, ya? Kamu memangnya pernah belajar? Kok kamu nggak pernah cerita.”

Fay melepas pelukan Enrique, kemudian  berdiri  di  sisi  pemuda itu supaya tak perlu menatap sepasang mata hitam Enrique yang berbinar. Ia membiarkan Enrique menggandeng tangannya. ”Aku kan cuma mengikuti gerakanmu,” jawabnya sambil lalu dengan perasaan muak pada diri sendiri. Untuk pertama kalinya seumur hidup  ia  punya pacar, dan yang ia bohongi sekarang ini adalah pacarnya  sendiri, ya Tuhan! Ia menghela napas tanpa kentara.

Mereka mengarah ke stasiun metro.

Setelah  berjalan  tanpa  berkata-kata,  Enrique  bertanya,  ”Are  you okay?  Kamu  pendiam  dan  kelihatan  murung  sekali.”  Ia  melepas tangannya yang menggandeng Fay, lalu merangkul Fay dan mengelus rambut gadis itu.

Fay menghela napas dan baru saja ingin menanggapi ucapan Enrique ketika teleponnya berbunyi. Ia mengerutkan kening, dan jantungnya langsung melompat ketika melihat yang  menelepon  adalah Bobby. Ia mengangkat telepon. ”Ya?” sapanya gugup.

”Sekali lagi ada pernyataan negatif seperti itu dari pacarmu, kamu akan menyesal saat melapor nanti malam. Bersikap seperti biasa!”

”Oke,” jawab Fay singkat dengan jantung berdebar. ”Siapa yang menelepon?” tanya Enrique.

”Bobby. Dia mau ajak aku makan malam Minggu ini, tapi belum tahu  kapan,”  jawab  Fay  cepat.  Mereka  kini  sudah  tiba  di  peron metro. Ia sekilas menyapukan pandangan ke sekelilingnya, dan langsung terperanjat ketika mengenali sosok Russel berdiri menyandar ke salah satu tiang sambil membuka koran, tak sampai dua puluh meter     di sampingnya. Sesaat matanya beradu dengan tatapan Russel yang dingin dan menusuk. Dengan dada berdebar, ia pun langsung menggandeng Enrique dan merapatkan tubuhnya hingga menyandar pada pemuda itu.

Enrique menyambut dengan seulas senyum. Tangannya melingkar  di leher Fay, merangkulnya.

Fay menutup matanya sejenak, menikmati rasa aman dan terlindungi yang ditawarkan lengan Enrique yang kokoh. Andaikata  tidak ada tugas ini, hidupnya akan terasa sempurna. Tak bisakah ia menikmati momen seperti ini lebih lama lagi? Beberapa saat kemudi an, akhirnya ia membuka mata dan tatapannya jatuh pada seorang pemuda memakai topi dan sweter bertudung. Jantung Fay langsung berdegup sewaktu mengenali sosok tersebut.

Kent!

Sebersit kemarahan muncul ketika ia ingat bagaimana cowok itu selama ini telah membuntutinya diam-diam... Tak bisa ia percaya, sekarang pun masih begitu! Tak bisakah Kent memberinya peringatan sedikit pun? Toh ia tidak akan mengadukan Kent bila dia melakukannya!

Enrique menarik Fay hingga tubuhnya lebih rapat, kemudian mencium kepalanya.

Fay terkesiap dan mengalihkan pandangan dari Kent—kemarahannya tiba-tiba saja sirna, digantikan rasa bersalah. Bagaimana sebenarnya perasaan Kent sewaktu melihat Enrique merangkul dan menciumnya seperti ini? Tatapan Fay jatuh pada Russel dan ingatan akan tugasnya pun kembali. Ia mengeluh dalam hati, menarik napas panjang, kemudian bertanya, ”Omong-omong, kapan ibumu mau menikah dengan Barney?” Lagi-lagi, dadanya terasa perih seperti tergores. Apakah Enrique tahu betapa tidak tulus pertanyaan itu dan entah berapa orang menguping percakapan mereka saat ini?

”Aku belum tahu. Barney akan datang malam ini, mungkin nanti dia mau membicarakan masalah itu dengan ibuku. Eh, malam ini kamu ikut makan malam di rumah, ya. Ibuku tadi pagi menyuruhku mengajakmu. Hanya makan malam biasa layaknya keluarga...”

”Oke,”  jawab  Fay  dengan  gempuran  rasa  bersalah  yang  semakin menjadi-jadi, kali ini terhadap Enrique. ***

”Fay, bisa tolong ambilkan garam di dekatmu?”

Fay memberikan botol garam pada Barney, yang duduk di hadapannya. Barney langsung menaburkan garam ke atas daging steik di piringnya.

Tia  Bea  berkomentar,  ”Honey,  kamu  tidak  boleh  makan  garam terlalu banyak.”

Enrique, yang duduk di sebelah Barney, meraih botol garam dan menjauhkannya dari Barney, yang langsung menggeleng-geleng sambil  protes,  ”Young  man,  kamu  dalam  kesulitan  besar  kalau  saya tidak bisa mendapatkan garam lagi. Yang saya taburkan belum setengah dari yang biasa saya makan.”

Enrique menjawab santai, ”Tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan yang saya terima dari Mama kalau membiarkan tekanan darahmu naik.”

Tia Bea tersenyum simpul pada Barney.

Fay menunduk memperhatikan makanan di piringnya ketika dirinya merasa seperti diterbangkan kembali ke Jakarta. Sebuah rasa aman dan nyaman meliputinya, seakan ia berada di rumahnya sendiri. Ia ingat bagaimana Mama dulu sering merebut tempat garam dari tangan Papa lalu menjauhkannya, mengabaikan protes Papa yang tidak merasa menaburkan garam terlalu banyak.

Barney tertawa kecil sambil menatap Tia Bea dan Enrique bergantian, lalu menatap Fay. ”Sepertinya itulah gunanya keluarga... untuk memberi kesulitan satu sama lain,” guraunya.

Fay tertegun.

Tia Bea memberi tanda pada Barney lewat kerlingan mata. ”Fay kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan pesawat beberapa bulan lalu.”

Wajah Barney berubah serius. ”I’m really sorry, Fay. I didn’t know. Kamu tahu, hanya keluarga yang makan malam bersama seperti yang kita  lakukan  sekarang...  jadi  kamu  selalu  punya  keluarga  di  sini,” ucapnya lembut. Fay tersenyum. ”Thanks. I appreciate it.” Dadanya kini seperti ditusuk-tusuk seribu jarum.

Tia Bea yang duduk di sebelah Fay melingkarkan tangannya ke pundak Fay dan berkata dengan lembut. ”Saya tahu rasanya kehilangan, Fay. Hanya perhatian dari orang-orang yang menyayangimu  yang bisa membuat luka itu sembuh. Kita mungkin baru kenal, tapi saya ingin kamu tahu kamu bisa datang ke sini kapan saja.”

”Thank  you...  you  are  so  kind,”  ucap  Fay  sambil  menahan  haru, dengan perasaan seperti teriris-iris.

Barney berkata, ”Saya lahir dan dibesarkan di Barat di mana semuanya serbapraktis dan taktis, dan awalnya saya pun canggung menerima kehangatan keluarga khas Amerika Selatan. Namun, setelah beberapa waktu, kehangatan itu selalu membuat saya rindu.” Dia lalu tersenyum penuh arti pada Tia Bea. ”Dan sekarang, saya tidak bisa hidup tanpanya.”

Wajah Tia Bea merona. ”Kamu membuat saya tersipu di depan dua remaja. I’m  too  old  for  this.”

Setelah makan malam selesai, Enrique bertanya, ”Jadi, kapan pesta pernikahannya akan dilangsungkan?”

Barney menarik napas tanpa kehilangan senyumnya, seperti mempersiapkan diri untuk memberikan informasi yang sangat penting. Ia menoleh ke Tia Bea. ”Bagaimana kalau minggu terakhir di musim panas? Di Jenewa? It  will  be  perfect...”

Tia Bea terbelalak. ”Tidakkah itu terlalu cepat? Tinggal beberapa minggu lagi! Bagaimana dengan pengaturan pestanya? Saya juga masih harus memilih gaun pengantin!”

Barney tertawa kecil. ”Wanita memang rumit sekali. Bea, kamu tak perlu khawatir... Saya punya banyak asisten yang bisa membantu. Saya akan meminta mereka mendesain dekorasinya, lalu saya akan memberitahumu dan kamu bisa mengubahnya sesuai keinginanmu bila ada bagian yang kurang kamu sukai. Saya sudah mengenalmu bertahun-tahun... Bila saya meminta pendapatmu tentang desain ruang sambil menyodorkan gambar ruangan-ruangan yang masih kosong melompong ke hadapanmu, kamu pasti panik dan akan jatuh sakit.” Enrique tergelak. ”Barney, kamu genius.”

Barney berkata pada Tia Bea, ”Sementara ini kamu bisa berkonsentrasi  membuat  daftar  undangan  dan  memilih  gaun  pengantin...”  Ia menatap Fay, ”Saya akan sangat berterima kasih bila kamu bisa menemani calon istri saya memilih gaun. Saya juga ingin kamu datang  ke pesta kami... Dan, Fay, ini berarti secara resmi kamu adalah tamu  pertama yang kami undang... Bagaimana?”

Fay  mengangguk.  ”Sure,  I’ll  be  happy  to  come,”  ucapnya  sambil memaksakan sebuah senyum, kemudian mengambil gelas dan minum.

”Cool,” kata Enrique dengan senyum lebar, lalu merangkul Barney, ”I  can’t  be  happier  than  this...  to  have  you  marry  my  mom.”

Barney berdiri lalu mengeluarkan telepon genggamnya. ”Now, will you excuse me, saya mau menelepon asisten saya sebentar untuk mengatur banyak hal. I have a wedding to attend in just a couple of weeks...  mine.” Barney lalu tersenyum pada Tia Bea, yang menatapnya dengan sorot mata haru dan penuh cinta.  Ia  lalu  menatap  Enrique dan Fay bergantian, ”Kalian berdua, jadi pergi ke kelab sekarang?”

”Sí,  Señor,”  jawab  Enrique.  ”Fay  mau  belajar  salsa,  kursusnya dimulai besok. Malam ini saya mau mengajaknya ke La Progression, kelab di Latin Quarter supaya dia bisa melihat dan punya gambaran seperti apa salsa di lantai dansa. Setiap hari ada latihan salsa mulai pukul delapan hingga sembilan malam, sebelum kelab dibuka.”

Barney mengedipkan sebelah mata pada Enrique. ”Jangan pulang terlalu cepat.”

Enrique tertawa kecil sambil mengangkat tangannya untuk highfive. ”Barney, kamu benar-benar calon ayah tiri yang keren.”

Barney menyambut salam Enrique sambil tersenyum lebar. ”I know.” Tia Bea langsung berkomentar, ”Enrique, jangan terlalu malam.

Kamu tahu Fay tidak suka pulang larut malam...”

Barney tersenyum sambil mengangkat bahu. ”Maaf, young man. Kelihatannya saya bukan calon ayah tiri yang keren seperti harapanmu tadi. Saya mungkin seorang raja, tapi di dunia tempat tinggal kita  berdua,  yang  memimpin  adalah  ratu.”  Ia  lalu  mengedipkan sebelah mata, disambut gelak tawa Enrique, Fay, dan senyum simpul Tia Bea.

***

Semilir angin bertiup bersamaan dengan suara dedaunan yang meliuk  dan bergesekan.

Fay duduk di gazebo, menikmati tiupan angin malam sambil membiarkan tatapannya menerawang ke langit-langit gazebo. Ia baru saja tiba di rumah setelah menjalani proses debrifing bersama Bobby dan Russel. Pipi kirinya masih terasa sedikit panas setelah tadi ditampar oleh Bobby, yang menuduhnya sengaja menahan diri dalam mengorek informasi. Menurut Bobby,  ada  banyak  kesempatan  saat ia bisa mengorek informasi lebih lanjut, tapi tidak ia pergunakan.

Hh! Ia sudah mengorbankan perasaannya sendiri dengan mengkhianati Enrique demi melakukan tugas yang diminta oleh pria sialan itu, tapi ternyata ia tetap saja dipukul! Lantas, apa gunanya semua yang ia lakukan?

Tentunya, ia tadi menyuarakan protes. Bisa ditebak, protesnya hanya menambah kemarahan Bobby, yang serta-merta menyambar sebilah tongkat. Di puncak keputusasaan, ketika menyaksikan tangan Bobby sudah terangkat untuk mengambil ancang-ancang memukul, sementara  ia sendiri tak berdaya karena tangannya dikunci oleh Russel di belakang tubuh, sebuah teriakan keluar begitu saja dari mulutnya, ”Saya akan memakai rok pendek saat latihan salsa besok! Bagaimana saya bisa menjelaskan pada Enrique bila dia melihat memar di kaki saya?”

Itu sebenarnya hanya ungkapan terakhir dalam kondisi terjepit dan putus asa, dan Fay sama sekali tidak berharap kalimat itu ada gunanya untuk meredam kemarahan Bobby—untungnya, ternyata berhasil. Satu hal yang benar-benar tak pernah ia sangka adalah, rok pendek yang selama ini ia benci setengah mati malah menjadi penyelamatnya malam ini!

Setelah itu, Bobby melanjutkan proses debrifing tanpa kekerasan lebih lanjut. Tanpa ancaman kekerasan pun Fay sudah gemetar karena ditanyai Bobby dan Russel sekaligus! Berita buruknya adalah, besok pagi Bobby akan datang untuk mengawasi latihan pagi, setelah itu akan memberikan brifing pagi. Mulai besok Fay juga akan dipasangi alat komunikasi berupa ear tablet, sehingga Bobby bisa memberikan instruksi bagaimana caranya mengarahkan percakapan dengan Enrique, Tia Bea, atau Barney, sehingga pengumpulan informasi bisa lebih efektif.

Fay  menghela napas. Itu artinya ia harus ekstra hati-hati supaya  alat yang ditanam di dalam telinga itu tidak terlihat oleh siapa pun, terutama oleh Enrique, yang gemar menyingkap rambutnya ke belakang telinga. Kekhawatirannya tak hanya itu. Bagaimana ia bisa berinteraksi normal dengan Enrique bila ia terus-menerus mendengar suara orang lain yang memberi instruksi di telinganya?

Terdengar langkah kaki mendekat.

Larry muncul di gazebo, kemudian duduk.

Fay tidak bereaksi, hanya memainkan sekelumit rambutnya  di  dekat telinga. Ia sedang malas berbasa-basi.

”Kamu lumayan juga...,” ucap Larry santai.

”Apanya yang lumayan?” tanya Fay sambil lalu dengan tatapan menerawang.

”Aku dengar Andrew memintamu untuk mengorek informasi dari pacarmu.”

Tangan Fay berhenti sesaat dan ia mendelik ke Larry. Fakta itu tidak menjelaskan kalimat ”lumayan” yang disebut Larry sebelumnya. Ia kembali melihat ke depan sambil menarik napas panjang, ke mudian memutar-mutar rambutnya lagi.

Larry tersenyum tipis, kemudian melanjutkan, ”Dan, aku dengar Kent dan Reno menghabisimu. Bukan hal ringan bagi pendatang baru.”

Fay langsung menegakkan tubuh sambil menatap Larry, yang ekspresinya tetap santai. ”Kenapa aku mendapat kesan kamu tidak terkejut?” tanyanya sinis.

Larry mengangkat bahu. ”Setiap orang di keluarga ini dituntut untuk membuktikan loyalitasnya.”

”Iya... aku tahu setiap orang harus membuktikan loyalitasnya. Tapi, apakah loyalitas terhadap yang satu harus dibuktikan dengan mengkhianati yang lain?” desah Fay, lalu kembali menyandar.

Larry mengangkat bahu. ”Bukankah sudah jelas? Satu-satunya pembuktian loyalitas di mana kamu tidak harus memilih dan tidak perlu berkhianat adalah ketika kamu loyal kepada diri sendiri... Sayangnya hak itu sudah dicabut ketika kita berlutut sambil menawarkan darah di hadapan pimpinan keluarga ini.”

Fay mengernyit sedikit—perutnya mendadak ngilu.

”Ada tiga lapis kesetiaan yang akan diuji. Di lapisan terluar, kamu akan diadu dengan orang-orang yang berada di luar keluarga ini. Di lapisan berikutnya, kamu harus memilih antara kepentingan orangorang yang dekat denganmu di keluarga ini dengan kepentingan keluarga ini secara lebih luas, atau dengan kata lain, fte Base versus fte Pillar. Dan yang terakhir, loyalitasmu terhadap pimpinan secara langsung, atau fte Pillar versus Pimpinan.”

Fay terdiam saat ingat ucapan Sam tempo hari: ”Loyalitas  adalah hal nomor satu di keluarga ini dan kamu harus membuktikannya,

kadang dengan cara yang tak terbayangkan”.

”Jangan anggap tindakan mereka sebagai masalah pribadi...”

Fay memotong dengan intonasi sedikit meninggi, ”Bagaimana caranya aku menganggap ini bukan masalah pribadi... Tindakan mereka kan memengaruhi hidupku!”

”Apakah kamu punya pilihan ketika diminta untuk mengkhianati pacarmu? Apa rasanya ketika kamu melakukannya?”

Fay bersedekap ketika merasakan sebuah rasa sakit seperti ditusuk di dadanya. Ia bertanya, ”Kalau begitu, apa gunanya ada aturan fte Groundhouse, yang bilang bahwa kita akan saling bantu dan melindungi kalau ternyata kita malah saling menusuk dari belakang?”

”Jangan lupa, aturan itu berbunyi, ‘Kita akan saling melindungi satu sama lain, sebisa mungkin.’ Dan itu berarti, diperlukan pikiran panjang untuk menganalisis situasi, apakah tindakan yang kita pikir akan melindungi yang lain itu bisa menjadi bumerang bagi diri kita atau bagi sepupu kita yang lain.”

Fay menghela napas. Terlalu rumit untuk diterapkan. Ujung-ujungnya, tetap saja semua bertekuk lutut pada aturan yang dibuat para paman, apa pun konsekuensinya  bagi  diri  sendiri  maupun  yang  lain.

Larry melanjutkan, ”Ujianmu sekarang masih berada di lapisan terluar. Tunggu saja sampai kamu nanti masuk ke lapisan kedua... mungkin kamu harus melakukan sesuatu yang merugikan aku, atau Kent dan Reno...”

Fay mendengus. Baguslah kalau itu terjadi, berarti ia bisa balas dendam pada kedua cowok itu!

”...atau bisa juga Elliot.”

Fay terdiam dengan perasaan  terpukul.  Tak  pernah  ia  pikirkan dan tak bisa ia bayangkan suatu hari nanti ia mungkin harus  melakukan hal serupa pada Elliot!

Larry berdiri. ”So dear cousin, nothing is personal in this family...,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Fay, lalu beranjak pergi.

***

”Fay, kamu ingat rak kosong dekat jendela kamarku? Sekarang sudah terisi penuh oleh robot-robot kecil dan action  figure koleksiku.”

Tia Bea tersenyum. ”Dia seperti anak taman kanak-kanak tadi  pagi, waktu sebuah kardus datang dari Caracas dan isinya ternyata koleksinya.”

Fay masuk ke kamar Enrique, lalu melihat rak yang dimaksud Enrique. Ia melihat Batman, Catwoman, Hulk, dan banyak action figure lain yang tak semuanya ia kenal. Ada juga robot-robot Jepang, entah dari film atau buku apa. Fay berdecak kagum. ”Ada berapa jumlahnya?” tanyanya.

”Seratus tiga puluh tujuh,” jawab Enrique sambil merangkul Fay. ”Keren ya...”

”Mulai kapan kamu koleksi seperti ini?”

”Sejak kecil. Aku sering dikasih mainan seperti ini waktu Natal, dan aku kumpulkan jadi satu. Akhirnya aku memutuskan untuk  koleksi saja sekalian. Kamu punya koleksi?”

Fay mengangkat bahu. ”Baju, sepatu, aksesori, tas...” Enrique tertawa kecil. ”You  are  so  cute,  you  know...” ”I  know...,”  jawab  Fay  asal,  lalu  ikut  tertawa.  Ia  menoleh  ke Enrique dan selama beberapa saat mereka bertatapan. Ia melihat pandangan Enrique turun ke bibirnya,  dan  dadanya  mulai  ber debar.

Terdengar teriakan Tia Bea dari luar. ”Fay, bisa ke sini dulu, dear?

Saya mau minta tolong... sekalian panggil Enrique.”

Enrique memutar bola matanya sedikit. ”Ibuku tahu sekali kapan dia harus meneriakkan namamu.”

Fay tertawa kecil, kemudian berlalu dari hadapan Enrique. Ia memekik ketika tubuhnya tiba-tiba saja dipeluk dari belakang dan diangkat oleh Enrique. Ia berteriak-teriak menyuruh Enrique menurunkannya, tapi Enrique tidak menggubris, tetap mengangkatnya hingga tiba di dapur.

Enrique menurunkan Fay di pintu dapur sambil nyengir. Ia mengaduh ketika Fay menghadiahkan sebuah cubitan di lengannya, kemudian ia pun mundur sambil nyengir.

Tia Bea berkata, ”Fay, apakah saya bisa minta tolong kamu mengupas kentang?” Ia menunjuk satu baskom kecil berisi beberapa kentang, beserta alat pengupas kentang. ”Kamu pernah mengupas kentang?”

Fay  menggeleng  dengan  sedikit malu.

Enrique langsung maju bak pahlawan sambil berkata, ”Sudah, aku saja  yang  mengupas.  Kamu  duduk  saja  sambil  menonton.”  Dengan cekatan tangannya meraih beberapa kentang, melempar-lemparnya bergantian ke udara seperti atraksi sulap, lalu mengambil alat pengupas dan mulai mengupas kulitnya.

Fay berkata, ”Sini aku yang kerjain...”

Tia Bea sekali lagi bertanya pada Fay, ”Fay, benar, kamu tidak keberatan?”

”Tidak masalah, Tia.”

Tia Bea melihat ke arah Enrique yang sepertinya sudah akan  protes, lalu berkata, ”Kamu serahkan saja pekerjaan yang mudah kepada  Fay...  kamu  mendapat  tugas  yang  lebih  sulit.”  Ia  memberi kode dengan menggerakkan kepalanya ke arah bak cuci piring. 

Enrique mengerang, disambut cekikikan Fay. Enrique melempar celemek ke arah Fay, yang langsung memekik protes, disambung teriakan Tia Bea yang menyuruh Enrique untuk tidak mengganggu  Fay dan segera mulai bekerja.

Sepuluh menit kemudian, Fay mengupas kentang terakhir. Enrique baru saja selesai mencuci piring dan sedang mandi. Di hadapannya sekarang, Tia Bea sedang sibuk mengiris daging yang akan dimasak untuk makan malam—hanya tiga potong karena Barney tidak ikut makan malam.

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Sudah lima hari Fay menjalankan peran ganda, berlaku sebagai agen yang mengumpulkan informasi sekaligus pacar Enrique. Entah apakah sebutan pacar masih pantas ia sematkan pada dirinya dengan dua wajah berbeda yang ia pasang di saat bersamaan. Rutinitasnya setiap hari selalu sama; seusai latihan pagi diawasi Bobby, ia dipasangi penyadap dan ear tablet, kemudian sore hari ia berinteraksi dengan keluarga Enrique.  Di  malam hari, ia kembali bertemu Bobby, yang akan melepas penyadap  dan ear tablet. Setelah itu, ia pun dibuat sakit kepala selama berjamjam oleh pertanyaan-pertanyaan Bobby yang kadang diulang-ulang, tentang interaksinya dengan keluarga Enrique. Tentunya ia  tak berkutik dengan lie detector terhubung ke tubuhnya.

Dua hari terakhir ini perasaannya semakin berantakan ketika Tia Bea mengajaknya pergi memilih gaun pengantin. Sepanjang sore instruksi di telinganya tak pernah berhenti. Ia pun harus menahan gigitan rasa bersalah dalam hati ketika mulutnya menanyakan banyak hal pribadi tentang Barney. Pagutan rasa bersalah semakin terasa kencang ketika Tia Bea mulai bercerita tentang kedekatan Barney dengan Richard, ayah Enrique, dan bagaimana akhirnya Barney menjadi dekat dengan Tia Bea setelah Richard tiada. Dan akhirnya, hunjaman rasa bersalah itu mencapai puncaknya semalam; Tia Bea menatapnya dengan haru, kemudian mengucapkan terima kasih karena telah bersedia menemaninya berkeliling untuk mencari gaun dan sepatu. Tia Bea kemudian menambahkan, ”Sejak dulu saya ingin sekali anak perempuan, tapi Tuhan tidak memberi adik bagi Enrique. Ternyata enak sekali punya anak perempuan, bisa menjadi teman bicara.” Fay menyambut pelukan Tia Bea dengan satu rasa menyakitkan seperti tonjokan di dadanya, sampai-sampai ia berharap ada yang menonjoknya saja sekalian.

Di momen seperti sekarang, saat membantu Tia Bea menyiapkan makan malam, Fay juga merasa dirinya terbelah  dua.  Satu  sisi  dirinya benar-benar merasa seperti bagian dari keluarga kecil Enrique, sementara satu sisi lain merasa terkoyak-koyak karena harus memasang topeng agen yang menginginkan sesuatu dari keluarga yang mengguyurinya dengan kasih sayang yang benar-benar tulus ini.

Sampai detik ini ia masih belum tahu apa yang diinginkan Andrew dari Barney. Sejauh ini informasi yang ia dapatkan tampak normal-normal saja. Ia ingin mencari tahu, tapi tak tahu harus bertanya ke mana tanpa terlibat masalah. Lagi pula, adakah gunanya mencari tahu?

Pikirannya yang melayang langsung menjejak dan Fay sedikit terlonjak ketika terdengar suara di telinganya.

”Tanya tentang lokasi pestanya.”

Fay menarik napas panjang untuk mengumpulkan tenaga dan mengeraskan hati, lalu bertanya, ”Tia, Barney sudah memberitahukan rancangan lokasi pestanya?”

Wajah Tia Bea langsung bersemu. ”Sudah... akhirnya! Tadi pagi Barney mampir dan kami mendiskusikan detail pesta. Dia akhirnya membuka kartu dan menunjukkan gambar dan denah lokasi pesta  nya serta tata ruangnya. Barney tahu persis keinginan saya. Malah, tempat itu didesain lebih indah daripada bayangan saya sebelumnya. Detail tata ruang sudah dipindahkan dari iPad Barney ke komputer saya... Kami berdua sangat bersemangat sampai-sampai iPad Barney malah tertinggal. Terus terang saja, saya lebih suka rumah Barney di Jenewa daripada kastil di Paris. Ukuran rumah Barney lebih kecil,   jadi suasananya lebih intim dan romantis. Rencananya pemberkatan akan dilangsungkan di halaman, sedangkan makan malam akan disajikan di sebuah kabin di taman yang khusus dibuat untuk acara ini.”

”Tanya  berapa  tamu  yang  akan  hadir.” ”Berapa tamu yang akan hadir?”

”Tak banyak, mungkin sekitar dua ratus orang. Dari keluarga saya sekitar seratus lima puluh orang. Sisanya kolega bisnis Barney... Barney tak punya keluarga.”

”Tanya  lebih  dalam  tentang  urusan  bisnisnya.” ”Memangnya Barney punya bisnis apa saja?”

Tia Bea mengibaskan tangan. ”Dia punya banyak sekali perusahaan. Yang sedang dia urusi malam ini adalah perusahaan obat,  Red Med kalau saya tak salah. Barney tidak cerita banyak, tapi dari yang saya dengar, mereka mau mengeluarkan sebuah obat entah apa, yang katanya akan menghebohkan.”

”Tanya  kapan  obatnya  akan  dikeluarkan.”

”Berarti Barney akan sibuk sekali ya... Kapan obatnya mau dikeluarkan?”

”Entahlah, dear, setahu saya sekarang masih dalam tahap penelitian. Mereka hampir berhasil, tapi ada masalah dengan komposisinya. Sepertinya masih ada bahan yang belum diketahui atau semacam itulah.”

Fay menyodorkan kentang-kentang yang sudah dikupas pada Tia Bea. Ia lalu bangkit dan mencuci tangan di wastafel. ”Tia, ada yang perlu dibantu lagi?” Ia sudah tidak sabar untuk berlalu dari hadapan Tia Bea dan mengakhiri kepalsuan yang ia pasang di wajahnya lewat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Bobby.

Tia Bea tersenyum. ”Sudah cukup, Sayang... Terima kasih. Eh, iya...  kamu  cicipi  dulu...”  Ia  menyodorkan  satu  sendok  sup  krim. ”Apakah sudah cukup asin? Kalau Barney tak ikut makan, saya menambah garam.”

Fay mengangguk. ”Sudah, sudah cukup. Tak perlu ditambah lagi.”

”Tanya sudah berapa lama tekanan darah Bruce tinggi.”

Fay menarik napas, kemudian bertanya, ”Tia, Barney sudah lama ya tekanan darahnya tinggi?”

”Iya... Dulu waktu masih ada Richard saja dia pernah masuk rumah sakit gara-gara itu. Stroke ringan, untung tidak ada masalah berarti setelahnya.”

”Tanya apakah Bruce punya dokter pribadi. Tanya namanya bila bisa.”

”Barney punya dokter pribadi ya di Paris?” ”Tidak, bukan di Paris. Dokter Kessler tinggal di Jenewa.”

Fay mengembuskan napas lega dan langsung beranjak dari hadapan Tia Bea. Ia melintasi ruang duduk untuk menuju kamar Enrique dengan benak masih memampangkan wajah tersenyum Tia Bea. Di dekat jendela terdapat meja tulis yang sering digunakan Tia Bea untuk memeriksa surat dan dokumen-dokumen yang dikirim lewat pos. Sebuah kursi diletakkan menghadap ke meja, membelakangi jendela. Di atas meja tulis tergeletak laptop berlayar kecil yang tertutup—dari tempatnya berdiri sekarang, lampu indikator laptop tidak terlihat karena mengarah ke sisi jendela. Di sebelah komputer tergeletak sebuah iPad, mungkin milik Barney.

Fay melangkah dengan benak menerawang. Kapan ia terakhir kali melihat Mama tersenyum? Seingatnya, ia selalu mengomel saat dimintai tolong untuk membantu  Mama  di  dapur  menjelang  Idul  Fitri, ketika Mbok Hanim pulang kampung. Ia bahkan tidak pernah mengupas kentang seperti tadi di rumahnya di  Jakarta—atau  apa  pun! Andaikan ia dulu tahu betapa berharganya kenangan bersama orang-orang dicintai yang telah tiada...

”Pasang konektor data yang kamu bawa di iPad yang ada di meja.” Fay tersentak dan jantungnya berdegup kencang. ”A... apa?”

mulutnya refleks mengucap, tapi langsung panik begitu kepalanya selesai mencerna perintah itu. Dua konektor data selama ini selalu   siap sedia di saku celananya; satu untuk komputer, dilengkapi sambungan untuk iPad dan iPhone, dan satu lagi untuk telepon genggam Barney—sampai detik ini keduanya belum digunakan karena  belum  ada  kesempatan.  ”Tapi,  bagaimana  kalau  Enrique masuk?” bisiknya panik.

”Dia  masih  di  kamar  mandi.  Lakukan  sekarang!”

Fay sekilas melihat ke arah kamar Enrique dan ke dapur, lalu bergegas ke balik meja ketika tak melihat seorang pun. Ia buru-buru memasukkan konektor ke slot di iPad, lalu memperhatikan dengan debar jantung menggedor dada bagaimana indikator transfer muncul. 0%... 20%... 30%...

Fay mengeluh dalam hati ketika indikator tidak beranjak naik dari  30%. Ayooo! Berikutnya, setelah ia merasa akan pingsan saking paniknya, angka   di indikator berubah cepat, mulai dari 40%, kemudian naik dengan stabil hingga 100%.

Fay mengembuskan napas lega, kemudian buru-buru mencabut konektor.

”Sekarang, buka komputer di meja, nyalakan komputer, lalu pasang konektor data.”

Aaarrrggghhh!

Fay bisa merasakan jantungnya langsung bergemuruh. Ia mengucap syukur dalam hati ketika melihat lampu indikator laptop menyala, jadi begitu laptop dibuka, layar pun langsung menyala. Terlihat kotak untuk mengisi kata sandi.

”Ada password-nya!” ujarnya panik sambil berharap Bobby membatalkan instruksinya.

”Tidak   masalah.  Tancapkan   saja   konektor   data...   yang   penting komputer dalam keadaan menyala.”

Dengan tangan kaku dan dingin Fay mengeluarkan konektor data USB dari saku celana, lalu memasukkan USB—lampu di USB langsung berkelip hijau.

”Sudah  saya  pasang,”  ucap  Fay  gugup  sambil  melihat  ke  layar, yang tidak menampakkan tanda-tanda transfer data. Apakah data berhasil ditransfer?

”Data   sudah   mulai   ditransfer,   tapi   kamu   tidak   akan   melihat

indikator seperti tadi di layar. Jangan mencabut konektor atau menutup laptop sebelum saya perintahkan.”

Dengan dada bergemuruh Fay bergeser ke sisi meja yang menghadap ke ruang duduk, lalu menyandar ke meja sehingga tubuhnya sedikit menutupi laptop. Ia bersedekap dengan gugup sambil menggerakkan kakinya sembari berdiri. Ia mendadak ingin buang air kecil!

”Fay,  Enrique  keluar  kamar  dan  menuju  ke  arahmu.”

Mati!

”Lantas, saya harus bagaimana?!” seru Fay dengan suara berbisik yang seperti tersangkut di tenggorokan.

”Jaga  agar  pandangannya  tidak  terarah  ke  komputer...”

”Bagaimana caranya?” ”Lakukan  segala  cara...  saya  tidak  peduli.”

Fay merasa lebah-lebah beterbangan memenuhi kepalanya dan tubuhnya langsung kaku. Otaknya pun berputar keras mencari jalan keluar, tapi semua seperti labirin yang berputar-putar. Bagaimana kalau ia menyongsong Enrique saja ke arah pintu? Atau kalau ia berdiri di sisi lain ruangan sehingga...

Enrique muncul di pintu.

Terlambat! Matilah!

Fay tersenyum dengan dada serasa mau pecah dan kepala berdenyut-denyut. Ia menatap Enrique lekat-lekat, jauh ke dalam sepasang matanya supaya pandangan Enrique tidak jatuh ke komputer yang sekarang dalam keadaan terbuka di balik tubuhnya.

Enrique membalas tatapan Fay sambil tersenyum. ”Kamu ngapain di sini?”

”Nungguin kamu...,” ucap Fay sambil memaksakan diri menatap Enrique dengan bibir tersenyum manis. Jantungnya mau meledak.

Sorot mata Enrique berubah lembut dan sepasang mata hitamnya jadi tampak bagai lautan dalam yang mengundang. Ia berjalan mendekati Fay sambil menatap gadis itu.

Fay merasa kupingnya seperti berdenging saking paniknya.

Terdengar suara di telinganya.

”Peluk Enrique sambil menatap matanya supaya dia tidak melihat ke mana-mana.”

Aduuuh...!

”Aku kangen...,” ucap Fay sambil mendekat ke arah Enrique dengan tangan terentang di depan tubuh mengarah ke atas, memberi kesan ingin memeluk leher Enrique. Di saat yang sama, otaknya memaki dengan membabi buta, mengatai-ngatai dirinya  sendiri sebagai cewek penggoda yang murahan!

Enrique menyambut pelukan Fay sambil tersenyum. ”Kamu kangen sama aku? Aku kan di sini...” Ia mengangkat Fay sedikit, lalu berputar.

Fay mengembuskan napas lega karena komputer kini ada di belakang Enrique. Ia memegang kedua sisi kepala Enrique, memaksa Enrique untuk tetap memandangnya. Enrique tertawa geli. ”Kenapa? Kamu beda sekali...” ”Transfer data masih sepuluh persen lagi. Cium dia, sekarang!” Aduh, sialan!

Fay melihat ke arah bibir Enrique dengan jantung berdebar ingin meledak, sembari menelan amarah pada dirinya sendiri yang merasa sebagai cewek murahan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Ia memang pernah berciuman dengan Enrique, tapi itu murni ungkapan perasaannya, bukan seperti sekarang, berdasarkan instruksi!

Enrique menangkap sinyal yang diberikan Fay dan mendekatkan kepalanya, tapi Fay memundurkan kepalanya buru-buru sebelum bibir Enrique menyentuhnya.

Enrique memundurkan kepalanya sambil mengangkat alis, kemudian bertanya, ”Kenapa?”

”Apa yang kamu lakukan? Terus cium dia. Cabut konektor data sewaktu kalian sedang berciuman!”

Fay memaki Bobby dalam hati, mengirimkan sumpah serapah yang sebelumnya tak pernah bisa terucapkan oleh mulutnya. Ia tersenyum  pada  Enrique.  ”Nggak  apa-apa,”  ucapnya  sambil  melirik bibir Enrique lagi, sambil menahan rasa malu di hatinya dan mual di perutnya.

Enrique tersenyum jail, kemudian bertanya dengan suara pelan yang lembut, namun intonasi menggoda. ”Benar, kamu mau kucium? Bukankah kamu pernah bilang ingin mempertahankan nilai-nilai ketimuranmu?”

Sialan! Benar-benar telak!

”I...  iya...,”  ucap  Fay  dengan  wajah  panas,  lalu  berhenti  ketika terdengar hardikan Bobby di telinganya.

”Ini bukan waktunya untuk mendiskusikan masalah moral! Bea sudah selesai di dapur dan dia akan segera bergerak ke arahmu. Lakukan sekarang bila kamu ingin mencabut konektor tanpa terlihat!”

Fay menarik napas panjang. Dadanya terasa sakit, tapi ia memaksakan diri untuk tersenyum. Ia menelan ludah dan berkata manja, ”Iya sih... aku memang pernah bilang begitu... tapi bukan berarti  aku  nggak boleh minta dicium sekarang, kan?” Ia langsung merasa dorongan mual di perutnya, dipicu rasa muak tak tertahankan terhadap diri sendiri.

Enrique langsung menguatkan dekapannya ke tubuh Fay, lalu memajukan wajah tanpa basa-basi.

Tangan Fay yang berada di belakang tubuh Enrique langsung berusaha menggapai komputer, lalu mencabut konektor dan menutup komputer. Begitu konektor masuk ke saku  celananya,  serta-merta  rasa jijik pada diri sendiri memenuhi dirinya dan ia pun mendorong Enrique menjauh.

Enrique mundur dan tampak kaget. Ia memandang Fay dengan tatapan bertanya.

Fay bersedekap sambil mengatur napas, lalu menggeleng sambil membungkuk sedikit. Ia tiba-tiba merasa lututnya lemas dan sulit menopang  dirinya.  ”Aku  tidak  bisa...”  Dengan  ucapan  itu  air  mata berkumpul begitu saja di pelupuk mata. Bayangan kedua orangtua nya langsung muncul di kepala. Tahukah mereka apa yang dilakukan anak gadis mereka sekarang? Menggadaikan nilai-nilai yang mereka tanamkan demi apa... data-data entah apa?

Enrique mendekat dan mengelus rambut Fay, kemudian ikut membungkuk sedikit seraya berkata lembut, ”Fay... aku tidak akan memaksamu melakukan apa yang bukan keinginanmu. Aku mencintaimu  dan  aku  menghargaimu  apa  adanya.”  Ia  menarik  Fay  ke  dalam pelukannya, lalu mencium kepalanya.

Fay membiarkan air mata menetes di dalam pelukan Enrique. Pacarnya tidak salah. Ia sendiri yang membiarkan dirinya melakukan hal di luar norma-norma yang ia yakini, semata karena tunduk pada perintah seorang pria sialan bernama Bobby.

Tia Bea muncul di pintu. ”Fay, dear, bisa tolong bantu saya sebentar...” Ia tertegun ketika melihat Fay serabutan mengusap matanya. ”Apakah kamu habis menangis?” tanyanya, lalu berjalan mendekat. Ia menatap Enrique dan berkata dengan intonasi meninggi, ”Apakah ini ulahmu?”

Enrique menggeleng sambil mengangkat bahu dengan mulut seperti gelagapan, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Fay melihat wajah Enrique yang tampak lucu karena mulutnya mangap-mangap, dan akhirnya ia berkata, ”Bukan salah Enrique, Tia... Saya kebetulan ingat orangtua saya.” Tidak sepenuhnya bohong.

Tia merangkul Fay dan berkata dengan penuh empati, ”Kasihan sekali kamu... Mari, kita ke dapur saja sekarang. Memasak bisa mengurangi kesedihanmu.”

Enrique berkomentar, ”Atau makan...”

Tia Bea melotot pada putranya, dan Fay akhirnya tersenyum melihat cengiran di wajah Enrique.

***

Sisa hari berlangsung cepat. Saat makan malam Bobby meminta Fay bertanya tentang perjalanan bisnis Barney, apakah ada pola dalam perjalanan bisnisnya. Tia Bea menjawab bahwa sebagian besar waktu Barney terbagi antara Cape Town, Paris, dan Jenewa, tanpa ada pola khusus yang dia ketahui. Bobby juga minta Fay bertanya lebih lanjut tentang hubungan antara almarhum ayah Enrique  dan  Barney. Ternyata Richard, ayah Enrique, bekerja sebagai kepala keamanan Barney sekaligus penasihat di Red Securities sebelum meninggal dunia.

Setelah makan malam, Fay pamit pulang. Enrique berkata, ”Aku antar.”

Terdengar suara di ear tablet.

”Bilang  kamu  dijemput  oleh  teman  ayahmu  sebentar  lagi.”

Fay berkata, ”Aku tidak usah diantar. Bobby akan menjemputku sebentar lagi, sekalian dia pulang kantor.”

Enrique merangkul Fay dan bertanya hati-hati, ”Apakah ini garagara tadi? Aku berani bersumpah aku tidak akan melakukan hal semacam itu kalau kamu tidak memintanya...”

Fay meletakkan jarinya di bibir Enrique. Enrique langsung terdiam. ”Bukan gara-gara itu. Bobby memang ingin menjemputku malam ini.” Ia berhenti, menarik napas panjang, kemudian melanjutkan, ”Dan aku nggak mau membahas kejadian tadi lagi. Apa yang aku bicarakan sebelumnya, tentang hal-hal yang tidak bisa aku lakukan karena nilai-nilai yang aku percayai, masih berlaku.” Enrique meraih tangan Fay lalu mengecupnya lembut. ”Tidak masalah, Fay. I  love  you...”

Terdengar suara bel pintu.

Enrique langsung beranjak untuk membukakan pintu.

Fay memeluk Tia Bea, kemudian mengambil tasnya. Langkahnya hampir saja terhenti ketika melihat Bobby berdiri di depan pintu, mengobrol dengan Enrique.

Tia Bea mendekat ke pintu.

Bobby mengulurkan tangan. ”Bobby. Pleased to meet you, Ma’am.” ”Pleased to meet you, too. Anda dari Indonesia juga, ya?” tanya Tia

Bea.

”Iya. Saya kenal lumayan lama dengan mendiang ayah Fay waktu kami masih muda. Fay sudah seperti keponakan saya sendiri. Maaf bila merepotkan.”

Tia Bea mengibaskan tangan. ”Sama sekali tak merepotkan. Dia sudah seperti anak saya sendiri.”

Fay merasa jantungnya seperti ditusuk duri-duri tajam. Ia tersenyum. ”Gracias, Tia.”

Tia Bea tertawa. ”Lihat, dia bahkan sudah bisa bahasa Spanyol.” Bobby dan Enrique tertawa. Fay memaksa dirinya untuk ikut tertawa, mencoba mengabaikan rasa mual di perutnya dan sesak di

dadanya.

***

”How  are  you  doing?”  tanya  Bobby  di  mobil  setelah  hening  selama beberapa saat.

”Fine,”  jawab  Fay  singkat  sambil  mengarahkan  pandangannya  ke luar.

”Sedikit nasihat dari saya sebagai seorang teman...”

Mendengar kata ”teman”, tiba-tiba saja Fay merasa adukan emosi yang sudah ia tahan seperti meledak begitu saja. ”Sebagai teman?” potongnya. ”Jadi saya nggak akan dibanting ke meja, dicengkeram, dipukul, atau ditendang bila saya berkomentar?” tanyanya ketus dengan intonasi meninggi. Bobby menoleh sekilas pada Fay, kemudian seulas senyum tersungging di wajahnya.

”Tidak, karena saya bicara sebagai teman. Bila saya bicara sebagai mentormu atau agen level satu dan kamu menjawab dengan caramu barusan, kamu akan menerima lebih dari sekadar bantingan, cengkeraman, pukulan, atau tendangan.”

Fay merasa jantungnya berdegup dan tubuhnya menegang. Ia akhirnya melihat ke depan sambil menarik napas panjang. Semua orang yang berhubungan dengan keluarga McGallaghan punya dua wajah berbeda. Hanya Enrique dan Tia Bea  yang  menunjukkan  wajah tulus setiap saat, dan ketulusan itu pun harus ia balas dengan wajah palsu. Ia muak!

Bobby kembali berbicara. ”Nasihat saya, jangan menanggapi kejadian-kejadian sepanjang hari ini secara emosional. Ini hanya  tugas. Kebetulan saja pacarmu terlibat. Setelah semua ini berlalu, kamu bisa kembali berinteraksi secara normal... walaupun saya tidak menganjurkan hubungan yang terlalu serius. Kamu masih muda.”

Fay membuang muka, menatap deretan rumah yang mereka lewati. Ia tak sudi diceramahi oleh Bobby untuk urusan pribadi. Memangnya pria itu pikir dia siapa?

”Perjalananmu di keluarga ini masih panjang. Nanti akan ada waktunya ketika kehidupanmu tak lagi direcoki oleh yang lain. Usul saya, konsentrasi saja pada urusan rumah dan kantor, sedangkan sisanya anggap sebagai bonus semata.”

Mobil berhenti. Jalanan sepi, hanya ada beberapa  mobil  yang  lewat dan trotoar benar-benar kosong.

Fay mengikuti Bobby masuk ke rumah, lalu ke ruang brifing. Ia duduk tanpa diperintah—kursi yang telah ia duduki setiap malam selama lima hari belakangan ini.

”Sekarang, saya bicara sebagai mentormu dan pimpinan operasi.”

Fay melihat sorot mata Bobby berubah tajam. Intonasi Bobby terdengar tegas ketika melanjutkan.

”Saya akan memasang lie detector dan kita akan kembali mengadakan sesi tanya-jawab seputar interaksimu dengan target. Jawab pertanyaan dengan lugas dan jangan coba-coba menyembunyikan informasi apa pun. Saya akan tahu bila kamu menghindar atau berbohong, dan bila itu terjadi, malam  ini  akan  menjadi  malam  yang panjang bagimu. Jelas?”

”Jelas, Sir,” jawab Fay singkat, lalu menarik napas panjang untuk melegakan dadanya yang terasa sempit dan sesak, sementara jarinya membuka satu kancing teratas kaus polo berkerah yang ia pakai.

***

”Please...,”  ucap  Andrew  sambil  menyodorkan  secangkir  teh  rasa

mint.

Fay menerima cangkir yang disodorkan Andrew sambil mengucapkan terima kasih. Ia baru saja tiba di rumah setelah menjalani proses debrifing yang di luar dugaan berlangsung cepat, tanpa hardikan dan kekerasan—lebih seperti sesi mengobrol biasa.

Andrew duduk di sebelah Fay, lalu bertanya, ”Bagaimana tugasmu hari ini?”

Fay menghela napas, lalu melirik Andrew. ”Baik...,” ucapnya akhirnya. Ia tertegun ketika melihat sudut bibir Andrew  terangkat  dan mata pamannya berkilat jenaka. Ia menyeruput teh di cangkirnya perlahan dengan benak bertanya-tanya.

”Benarkah begitu? Jadi kamu menikmati tugas ini?” Fay tersedak dan batuk-batuk sedikit.

Andrew tersenyum lalu menyodorkan serbet kepada Fay, yang langsung menerimanya.

Fay meletakkan cangkir di meja, terdiam sebentar, kemudian menjawab,  ”Bukan  begitu... Tugasnya  baik,  tapi  ya  begitulah...”  Ia  berhenti sambil memaki dirinya sendiri dalam hati ketika mendengar betapa minim jawaban yang keluar dari mulutnya, dengan makna menggantung yang benar-benar tak menjelaskan apa-apa.

Andrew menanggapi dengan tenang. ”Kesulitan dalam melakukan tugas semacam itu adalah reaksi yang wajar untuk agen level lima. Sebenarnya kamu tidak diharapkan untuk melakukannya sebelum mencapai level empat. Tapi, kamu melaluinya dengan baik... Bobby baru saja memberitahu saya bahwa dia memberi penilaian yang memuaskan atas kinerjamu sepanjang tugas minggu ini. Semua nilai ini nantinya akan jadi pertimbangan yang akan menentukan rating kamu sebagai agen dan karier kamu di kantor, termasuk posisi kamu di keluarga McGallaghan.”

Fay mengangguk tapi tidak berkata-kata. Untuk itukah semua pengorbanan yang ia lakukan dan kesengsaraan yang ia lalui... demi karier di kantor dan posisi di keluarga?

”Tugas kamu sudah selesai...”

Pikiran Fay langsung buyar dan ia pun menegakkan tubuh sambil menatap pamannya. Benarkah apa yang didengar telinganya?

Andrew kelihatannya bisa membaca dengan jelas apa yang tertera di wajah Fay, karena ia kembali menegaskan, ”Ya, Fay... Tugasmu di Operasi Echo sudah selesai. Interaksimu dengan Enrique bisa kembali berjalan seperti biasa.”

Kelegaan langsung menerpa dan Fay pun membiarkan sebuah senyuman lolos dari bibirnya.

Andrew berkata ringan, ”Ini untuk pertama kalinya saya melihat kamu tersenyum begitu lepas selama seminggu terakhir ini... Senang melihatnya. Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Fay mengembuskan napas tanpa kehilangan lekukan di bibirnya, lalu langsung menyemburkan perasaannya. ”I’m very glad this is over. Saya merasa sangat bersalah karena selama ini berbohong di depan  Enrique dan Tia Bea... Apalagi sejak Tia Bea bilang bahwa dia sudah menganggap saya sebagai anak sendiri.”

Andrew mengangguk. ”Pasti menyenangkan rasanya mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Saya mungkin bisa berlaku sebagai ayah bagimu, tapi saya tidak punya kemampuan untuk merangkap sebagai ibu.”

Fay melihat raut wajah Andrew yang santai, dengan sorot mata ramah dan sudut bibir sedikit terangkat, dan entah kenapa langsung merasa kalimat itu sangat lucu. Ia akhirnya tertawa kecil, ditanggapi dengan senyuman oleh Andrew.

Andrew berkata, ”Sekarang, saya menunggu kamu meminta izin.”

Fay berhenti tertawa dan mengangkat alisnya. ”Izin apa?” ”Bukankah saya pernah memperingatkanmu untuk meminta izin sebelum melakukan sesuatu dan bukan setelahnya?”

Fay masih memandang Andrew dengan tatapan bertanya.

Andrew melanjutkan, ”Bobby memberitahu saya bahwa kamu diundang ke pesta Bruce dan Bea dua minggu lagi. Hal terakhir yang saya inginkan adalah menerima teleponmu yang memberitahukan bahwa kamu sudah telanjur tiba di tempat pernikahan mereka  dan akan menginap di sana karena harus menghadiri acara pesta.”

Fay tertegun, kemudian buru-buru berkata, ”Maaf, Paman. Saya tidak terpikir lagi untuk bertanya karena disibukkan tugas. Saya bermaksud bertanya, tapi setelah tugas selesai...”

”It’s alright, Fay. Saya hanya menggodamu. Tentu saya memberimu izin untuk datang. Setelah apa yang kamu lalui, kamu pantas mendapatkan beberapa hari libur yang menyenangkan bersama pacarmu dan keluarganya.”

Fay tersenyum. ”Thanks,  Uncle.”

Andrew berdiri, kemudian berkata, ”Well done, young lady. Kamu tidak tahu betapa bangganya saya karena kamu bisa melakukan tugas    ini sesuai harapan. Sekarang kamu bisa beristirahat... Saya sudah membatalkan latihan pagimu esok hari, dan karena besok hari libur, kamu bisa bangun jam berapa pun kamu mau. Saya izinkan kamu memesan sarapan di luar waktu yang telah ditentukan. Jadi, selamat tidur nyenyak malam ini.”

***

Keluar dari ruang kerja Andrew, Fay melihat pintu kamar Kent terbuka. Ia buru-buru berjalan lurus ke arah  kamarnya,  berharap  tidak perlu bertemu cowok itu. Perasaannya sekarang sangat lega, bahkan bahagia, dan ia tidak mau kebahagiaannya dirusak hanya karena melihat Kent, yang kemungkinan besar masih berwajah dingin dan jutek.

Harapannya pupus ketika Kent muncul di pintu, bersiap keluar kamar. Fay mengeluh dalam hati dan buru-buru membuka pintu kamarnya tanpa menoleh lagi.

”Hai, Fay,” sapa Kent.

Fay memaksakan diri menjawab sapaan Kent sambil sekilas menoleh. Namun, ia tertegun dan langsung menatap Kent lebih lekat. Wajah Kent yang selama beberapa waktu ini tampak kaku dan muram, kini tampak cerah. Sorot mata Kent yang biasanya berjarak, kini tampak hangat dan seakan ikut tersenyum. Fay pun hanya melongo memandangi Kent yang berjalan mendekatinya.

Kent  menyandar  ke  pintu  kamar  Fay,  kemudian  berkata,  ”Look, Fay.... I’m really sorry. Seharusnya waktu itu aku bisa menemukan cara memberitahumu bahwa pacarmu adalah target operasi.  Aku  harus mengakui bahwa aku benar-benar bersikap egois karena membiarkan kekesalanku menutupi penilaianku. ”

Fay masih terperanjat menatap Kent selama beberapa saat sebelum akhirnya tersadar dan buru-buru menggeleng. ”Tidak masalah. Setidaknya sekarang semua sudah lewat. ”

”Oh    Paman sudah memberitahumu bahwa Operasi Echo sudah

selesai dilaksanakan?”

”Iya. Barusan dia kasih tahu aku,” jawab Fay dengan benak yang belum menapak sepenuhnya.

”Baguslah  kalau  begitu.”  Kent  melihat  arlojinya,  ”Sudah  larut. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Good night, Fay. Have a good rest,” ucap Kent sambil tersenyum, kemudian berlalu.

Fay memperhatikan Kent berjalan menjauh, kemudian masuk ke kamarnya sambil menggelengkan kepala dengan rasa heran yang menjadi-jadi. Apakah ia baru bermimpi? Bahwa Kent minta maaf,     ia menerimanya dengan lapang dada—setelah semua yang dilakukan Kent selama ini, ia tak bisa marah  terlalu  lama.  Tapi  perubahan sikap Kent sama sekali tak bisa ia mengerti.

Fay membuka laci meja rias, mengambil gelang pemberian Kent, kemudian memperhatikannya sejenak. Akhirnya ia tersenyum. Ia masih tidak bisa mencerna perubahan suasana hati Kent, tapi tetap melegakan rasanya melihat hubungan yang sempat dingin antara mereka berdua mulai mencair, walaupun mungkin tidak bisa seperti dulu lagi. Ia meletakkan gelang di atas meja rias—ia ingin memakainya lagi besok.

Malam itu Fay merebahkan diri di tempat tidur dengan dada yang terasa lapang dan kepala yang terasa ringan.

Akhirnya tugas yang telah menyiksanya selama seminggu terakhir ini selesai! Berarti, mulai besok interaksinya dengan Enrique bisa berjalan normal kembali. Ia akan bertemu Enrique  bukan  sebagai agen COU, tapi sebagai Fay, sepenuhnya.

Sekarang, Enrique bukan lagi target operasi, tapi pacarnya...

pacarnya...

Dengan pikiran itu, Fay pun jatuh tertidur—tidurnya yang terpulas sejak menyandang nama McGallaghan.

Tak ada lagi jejak rasa pilu atas kehilangan orangtuanya. Tak ada lagi rasa sakit dari beban pengkhianatan. Hanya ada damai, dalam alam mimpi tanpa batas, tempat semua cinta berakhir bahagia.

***

Museum Louvre, Paris.

Bobby Tjan berdiri di depan  lukisan Summer  di  ruang  nomor  16, di lantai dua sayap Richelieu.

Dilukis oleh Nicolas Poussin tahun 1600-an, lukisan ini merupakan salah satu dari empat seri kanvas bertema musim, yang tiap musimnya menggambarkan sebuah kisah di dalam kitab Perjanjian Lama.

Seorang pria yang mengenakan kemeja hitam dengan sisipan kain putih pada kerah tanda ia biarawan Katolik berjalan agak pincang menggunakan tongkat mendekati Bobby, kemudian berdiri di sebelahnya sambil mengamati lukisan yang sama.

”Bukankah para seniman sangat mengagumkan?” tanya sang pastor.

Kalimat sandi pertama.

”Karya mereka berbicara pada dunia untuk waktu yang sangat lama,” balas Bobby. Kalimat sandi kedua, tanda kondisi aman. Bila kondisi tidak aman, kalimatnya menjadi: Kehidupan mereka tak semegah karya yang mereka hasilkan. ”Ada perkembangan apa?” tanya sang pastor.

”Dia sudah masuk kantor. Direktur menunjuk saya sebagai mentornya,” jawab Bobby sambil menatap lurus ke depan, seperti mengamati dan berkomentar tentang lukisan.

”Itu berita baik buat saya,” ucap pria itu dengan nada puas, lalu melanjutkan dengan ringan, ”walaupun saya tidak yakin dia menganggapnya begitu.”

”Kenapa?”

”Karier yang menanjak tajam sepertimu, hingga bisa masuk ke lingkaran keluarga, hanya bisa dicapai oleh segelintir orang dengan kemauan keras dan motivasi tinggi. Gadis itu akan mencapai kualitas tersebut bila kamu membimbingnya.”

Sudut bibir Bobby sedikit terangkat. ”Saya memang telah berjanji pada Anda bahwa saya akan menjaganya. Tapi, saya tak  pernah  bilang akan melakukannya dengan lembut. Keluarganya bukan keluarga biasa. Dia harus belajar banyak bila ingin bertahan.”

”Saya percaya kamu akan menempanya dengan baik. Kapan dia akan ikut Pelatihan Dasar?”

”Waktunya belum ditetapkan, tapi Direktur telah melibatkannya dalam misi yang saya pimpin. Satu misi telah selesai, dan satu lagi akan segera digulirkan.”

”Kelihatannya Direktur banyak membuat pengecualian baginya.

Apa tugasnya di misi terakhir?”

”Dia harus mengorek informasi dari pacarnya sendiri.”

Sang pastor menoleh pada Bobby sambil mengangkat alis. ”Ujian loyalitas... padahal dia belum lama masuk.” Ia kembali menatap lukisan, dan setelah terdiam beberapa waktu, ia berkata, ”Terlalu banyak pengecualian. Direktur menggemblengnya dengan intensif—dia pasti punya rencana tersendiri bagi gadis itu.”

”Bagaimana dengan Anda sendiri, apakah Anda punya rencana khusus terhadapnya?”

Pria itu berpikir sejenak, lalu menambahkan, ”Mungkin bila waktunya tepat saya ingin menemui gadis itu dan mengamatinya dari dekat.”

”Tidakkah terlalu berisiko?” ”Tentu  saja. Tapi,  bukankah  hidup  itu  sendiri  adalah  pertaruhan risiko? Risiko terpatri di jiwa kita saat roh menghidupkan tubuh. Begitu kita hidup, kita bertemu risiko pertama dari kehidupan, yaitu kematian.”

Bobby tersenyum sedikit. ”Saya tidak tahu apakah bisa diusahakan dalam waktu dekat... Dia sedang dalam masa tenang sebelum tugas  berikutnya dimulai. But  I’ll  see  what  I  can  do,” ucapnya.

”Saya telah bersabar cukup lama, Bobby. Saya akan menunggu.

Kapan pun kamu siap,” ucap sang pastor.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊