menu

Trace of Love Bab 09: The Betrayal

Mode Malam
The Betrayal

RENO  melangkahkan  kakinya  menuju  salah  satu  aula  latihan  di markas COU. Tempat ini sudah menjadi rumahnya sejak bertahun silam—ia sudah hafal semua sudut ruang dan koridor kantor ini, sebatas yang diperbolehkan oleh level akses yang ia miliki.

Keberadaan COU memang sudah tak terpisahkan lagi dari  hidupnya. Banyaknya aturan yang harus ia patuhi dan besarnya pengorban  an yang harus ia berikan, terutama di sisi waktu  dan  kehidupan  sosial, tak pernah membuatnya mundur dalam menikmati segala hal yang ditawarkan tempat itu. Selama bertahun-tahun menginjakkan  kaki di tempat ini, hanya ada beberapa pengecualian yang membuat   ia berharap hidupnya berbeda, tanpa COU di dalamnya.

”Reno!”

Reno menoleh dan melihat Russel Simon, agen level satu yang ditunjuk menjadi mentornya. Ia mengangkat tangan untuk memberi tanda pada Russel.

Keberadaan Russel sebagai pembimbingnya di kantor mungkin adalah salah satu dari pengecualian tadi. Hidupnya  tak  pernah   mudah di tangan Russel, tapi ia tak bisa terlalu banyak mengeluh. Terlepas dari sikap keras Russel, harus ia akui bahwa Russel juga  yang telah berjasa mengantar kariernya di kantor hingga sejauh ini. Tanpa si keparat ini, mungkin ia belum layak ikut ujian kenaikan tingkat dan tak bisa bersaing dengan Larry.  Persaingan itu awalnya  tak terlalu terasa, namun akhir-akhir ini menajam dengan  akan  naiknya mereka berdua ke level satu. Walaupun status level satu mereka masih diberi embel-embel intern atau magang, tapi mereka berdua sama-sama tahu ini adalah langkah awal menuju kursi puncak pimpinan keluarga. Ia dan Larry adalah kandidat pimpinan yang  setara, dan Russel pun menyadari hal itu, sehingga Russel selalu menuntut lebih.

”Sudah siap? Kita berlatih dalam lingkaran... Tongkat, pisau, tangan  kosong,  masing-masing  sepuluh  menit,”  ucap  Russel  tanpa basa-basi.

”Yes,  Sir,” ucap Reno.

Yang disebut lingkaran adalah sebuah area yang dibatasi oleh lingkaran di lantai. Ada tiga lingkaran dengan titik pusat sama, namun radius berbeda. Mereka harus selalu berada dalam batas lingkaran—tak boleh keluar dari lingkaran tempat mereka berlatih, dan tak boleh menginjak lingkaran dengan radius yang lebih kecil. Russel berkata, ”Tingkatkan fokusmu di lingkaran tengah. Di latihan terakhir, kamu jatuh di menit ketujuh. Saya berlatih dengan

Larry kemarin dan dia menyerah di menit kedelapan.”

Reno mengangguk. Ia masuk ke lingkaran pertama, yang terluar, sambil memegang tongkat lentur sepanjang satu meter, seperti yang dipegang Russel. Tongkatnya sama sekali bukan masalah—ia sudah menggunakannya berpuluh, atau malah beratus kali. Yang mungkin menjadi masalah adalah level kekuatan yang digunakan ketika menggunakan tongkat ini. Kalau suasana hati Russel sedang buruk, mereka mungkin saja menggunakan tenaga penuh, dan itu berarti babak-belur. Untungnya mereka masih latihan di lingkaran terluar— area latihan mereka berbentuk donat, jadi masih ada lingkaran di dalam yang bisa memberinya jarak dari Russel. Sesial-sialnya, ia masih bisa berlari melingkar untuk menghindari tongkat Russel.

”Tenaga  lima  puluh  persen,”  jawab  Russel  sambil  mengambil ancang-ancang.

Diam-diam Reno mengembuskan napas lega. Ia maju lebih dulu untuk menyerang dan selama beberapa waktu hanya terdengar suara tongkat-tongkat beradu, dan sesekali suara teriakan serta makian ketika tongkat mengenai anggota tubuh.

Setelah sepuluh menit berlalu, Reno meletakkan tongkat, kemudi an masuk ke lingkaran kedua sambil menangkap pisau latihan bersisi tumpul yang dilempar Russel. Sekarang ia harus lebih berkonsentrasi bila tak ingin dikejutkan oleh aliran listrik di pisau ini.  Dalam  keadaan terdesak, ia masih bisa berlari menghindari Russel karena masih ada lingkaran di tengah-tengah yang masih bisa dikitari, tapi   tak banyak ruang untuk melarikan diri dengan lingkaran  semakin kecil.

Reno mengambil posisi bertahan. Russel berjalan mendekat perlahan-lahan untuk mencari celah menyerang.

”Jadi, bagaimana perasaanmu setelah adik kecilmu kini menyandang nama belakang yang sama denganmu?” tanya Russel, kemudian tiba-tiba mengayunkan pisaunya ke arah Reno.

Reno tertegun sebentar. Ia tak sempat lagi menangkis dan akhirnya bereaksi dengan melompat mundur. Ia berteriak ketika sebuah sengatan terasa di tangannya yang tersentuh pisau Russel.

Russel mundur sambil tersenyum tipis. ”Kakimu keluar dari lingkaran.”

Reno melihat sebagian tumitnya yang melewati garis dan meng injak  lingkaran  terluar—hanya  ujungnya  saja.  ”Damn!”  umpatnya pelan.

”Keberatan dengan pernyataan saya?” tanya Russel.

”Tidak,” jawab Reno singkat. Keluar dari lingkaran berarti sebuah tonjokan ke perutnya setelah latihan, tapi membantah Russel akan membuatnya dihadiahi dua tonjokan.

Russel kembali bersiap menyerang. ”Kamu belum menjawab pertanyaan saya. Direktur dan Chief Ops Steve memberitahu saya bahwa kamu punya isu dengan Fay sejak tahun lalu.”

”Sudah berlalu. Begitu dia diterima menjadi anggota keluarga McGallaghan,  otomatis  dia  sepupu  saya,”  jawab  Reno,  lalu  menyerang Russel dengan tenaga penuh. Peduli setan!

Russel berkelit dan balik menyerang. Selama beberapa saat hanya ada gerakan tangkas dan suara napas atau teriakan, yang kadang diselingi percikan api bersamaan dengan suara logam beradu.

Mereka kemudian sama-sama mundur dan mengambil kuda-kuda untuk menyerang.

Russel mengayun-ayunkan pisau di depan tubuhnya sambil berbicara, ”Oh ya? Kalau begitu kenapa ada bekas memar di tulang pipimu? Pasti bukan karena diajak bercakap-cakap ringan oleh Chief Ops Steve.” Ia mundur sambil menangkis ketika Reno kembali menyerang, lalu ganti menyerbu Reno hingga Reno mundur. Ia kembali bicara,

”Saya tidak peduli dia adikmu, sepupumu, atau ibumu. Kamu sudah berada di jalur yang benar untuk menuju posisi puncak, jadi kamu tidak bisa membiarkan emosimu terpengaruh dan menjadi penghalang.” Ia kemudian menyerang, dan setelah beberapa saat berkelahi jarak dekat, ia mundur sambil melempar senjatanya ke luar lingkaran, tanda waktu sudah habis.

Sekarang, sepuluh menit terakhir.

Reno masuk ke lingkaran paling kecil di tengah dengan darah bergejolak penuh kemarahan. Ia mungkin tidak bisa menunjukkan kepeduliannya pada Fay seperti dulu, bahkan harus menyangkalnya, tapi keparat satu ini tidak punya hak untuk mencampuri apa yang       ia rasakan terhadap Fay!

Reno mengambil kuda-kuda. Russel berada di hadapannya. Di lingkaran kecil ini tak ada yang membatasi mereka, dan ia tak bisa melarikan diri ke mana-mana.

”Saya membaca profilmu setelah operasi Blueray. Pasti menyakitkan bagimu, menyiksa adik kecilmu seperti itu,” ucap Russel.

Ucapan itu langsung memberi dorongan bagi Reno  untuk  maju dan menyerang Russel lebih dulu. Pukulan dan tendangan dilayangkan, susul-menyusul dalam gerakan-gerakan cepat yang terlatih. Tangan dan kaki mereka beradu. Setelah beberapa saat dan tak ada  satu pun serangannya membuahkan hasil, Reno mundur untuk  mengatur napas.

Namun, Russel tidak memberi kesempatan dan langsung menerjang balik. Kini Reno yang kelabakan berusaha menahan serangan demi serangan, kaki dan tangan yang berganti-ganti, hingga akhirnya satu tendangan di belakang lutut membuatnya kehilangan keseimbangan. Russel menendang punggung Reno hingga tersungkur, lalu mundur sejenak sambil berbicara, ”Direktur kelihatannya percaya bahwa  keberadaan  Fay  tidak  memengaruhimu  lagi...”  Ucapannya tidak selesai karena Reno yang baru saja bangkit langsung menerjang.

Russel kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang, tapi dengan sigap ia mengayunkan lututnya hingga Reno terlempar ke samping. Ia langsung mengunci Reno di lantai sambil mencengkeram lehernya.

Reno megap-megap kehabisan napas. Ia memberi tanda menyerah, tapi Russel tidak melepas cengkeramannya. Tubuhnya pun menggeliat panik berusaha melepaskan diri.

Russel membungkuk lalu berkata pelan di telinga Reno, ”Direktur mungkin percaya, tapi saya masih perlu diyakinkan lagi. Saya akan menilainya  sendiri.  Very  soon.”  Ia  melepaskan  tangannya  dari  leher Reno.

Reno terbatuk-batuk sambil terduduk di lantai.

Russel melihat arlojinya. ”Kelihatannya dugaan saya tidak salah. Hanya dengan membahas Fay sedikit saja emosimu sudah terpengaruh... kamu hanya mampu bertahan lima menit.” Ia lalu memberi tanda pada Reno untuk bangkit. ”Open  position!” perintahnya. Reno menghela napas lalu berdiri di hadapan Russel dengan ke-

dua tangan di belakang tubuh.

Russel mengirimkan sebuah pukulan ke ulu hati Reno, yang langsung mengerang sambil membungkuk. ”Itu karena kamu keluar lingkaran.” Russel lalu menarik baju di sekitar kerah Reno sehingga tubuh Reno sedikit menegak, lalu kembali mengirimkan sebuah tonjokan ke arah perut. ”Dan ini karena membiarkan emosi menguasaimu.”

Reno mengerang dan tersungkur di lantai. Sial!

”Latihan selesai. Setengah jam lagi temui saya di meeting point C,” ucap Russel sebelum berlalu.

Reno bangkit perlahan sambil mengernyit, kemudian berjalan ke ruang loker sambil memegangi perutnya. ***

Satu jam kemudian Reno memarkir kendaraannya di sisi jalan ketika Russel, yang duduk di sebelahnya, memberi tanda. Ia  menemui  Russel di meeting point C tiga puluh menit lalu dan Russel memintanya menyetir hingga tiba di tempat mereka berada sekarang, di area permukiman tempat terdapat rumah-rumah dan apartemen di  bangunan vertikal yang tidak terlalu tinggi.

Reno melihat sekelilingnya dan menyapukan tangannya ke rambutnya dengan gelisah. Ia mengenali area ini—mobilnya berhenti tak jauh dari gedung apartemen Fay. Dari tempatnya parkir sekarang ia bahkan bisa menunjuk dengan tepat yang mana jendela kamar Fay. Russel memakai kacamata yang merangkap sebagai kamera dan mikrofon, kemudian menyalakan komputer tablet. Di layar tampak gambar dasbor mobil yang tertangkap oleh kamera. Ia menyodorkan

komputer tablet pada Reno. ”Amati saja.”

”Tidak ada headset? Bagaimana cara kita berkomunikasi bila perlu?”

”Tidak perlu komunikasi. Just  watch  and  listen.”

Reno mengerutkan dahi, namun tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia melihat Russel berjalan masuk ke gedung apartemen Fay, kemudian mulai memperhatikan gambar yang tertangkap kamera seiring dengan langkah Russel.

***

”Mari kita mulai. Kamu punya bahan apa saja?”

Fay tersenyum melihat antusiasme Enrique. Sepulang kursus, mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di perpustakaan untuk mengerjakan tugas, kemudian Enrique bilang akan memasakkan pasta untuk makan malam. Sekelumit rasa bersalah muncul ketika ingat instruksi Bobby semalam, tapi Fay tadi sudah bertekad akan menjalani hari-harinya seperti biasa seakan instruksi itu tak pernah ada. Toh bukan salahnya kalau pembicaraan tentang Barney tidak muncul—selama ini pun bisa dihitung dengan jari berapa kali topik Barney muncul dalam percakapan mereka. Ia juga tidak diberitahu  apa informasi yang dicari oleh Bobby, jadi ia pikir ia akan memilahmilah sendiri informasi apa yang mau ia sampaikan  pada  Bobby  nanti malam, itu pun bila ada. Ia tidak akan membiarkan sekelumit kehidupan normal yang membahagiakannya dirusak oleh Bobby, atau siapa pun.

Fay mengeluarkan spageti dan saus botolan yang sudah jadi, kemudian berkata, ”Ini dia! Silakan.”

Enrique hanya menatap botol itu beberapa saat, lalu tatapannya berpindah pada Fay.

”Kenapa?” tanya Fay gugup.

”Kamu tahu nggak, saus dalam botol seperti ini selain tidak sehat juga benar-benar merendahkan kemampuanku memasak.”

”Jadi gimana? Mau pesan pizza aja seperti waktu itu di rumahmu?”

Enrique menggeleng. ”Tidak. Aku tadi sudah bilang mau memasakkan kamu pasta, dan aku nggak suka mengingkari apa pun yang sudah keluar dari mulutku. Jadi, kita belanja dulu.”

Fay berdecak kesal. ”Kamu tau nggak, kamu itu cowok paling bawel yang pernah aku temui seumur hidup!”

Enrique membalas, ”Kalimatmu itu tidak mengubah fakta bahwa bahan-bahanmu tak cukup untuk membuat pasta  yang  layak  dimakan. Langkahi dulu anjing Rothweiler tetanggaku sebelum aku memakai saus pasta yang dikemas dalam botol seperti itu!”

Akhirnya, Fay mengalah dan mereka jalan kaki ke supermarket untuk berbelanja—tepatnya, Enrique yang berbelanja. Fay hanya menyaksikan peralatan dapur, botol demi botol bumbu,  dan  be berapa daun hijau entah apa berpindah tempat dari rak ke keranjang belanja.

Tiba di apartemen, Enrique memakai celemek dan langsung bersiap memasak.

Fay tergelak melihat celemek bunga-bunga warna hijau muda yang sangat feminin dipakai oleh Enrique. Ia tertawa sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk dan matanya berair. Tak bisa ia percaya, cowok keren yang sekarang berstatus pacarnya, yang memakai celemek bunga-bunga di depannya ini pernah sempat membuatnya hampir pingsan karena sesak napas sewaktu bertelanjang dada!

Enrique mengerling ke arah Fay. ”Kalau kamu mencelaku, aku akan memaksamu menguleni adonan pasta,” ujarnya galak.

Fay cekikikan sambil mengusap matanya yang berair. ”Oke, aku nggak ngomong apa-apa dan nggak ketawa lagi.” Ia membuat gerakan mengunci mulut dengan tangannya, lalu duduk di kursi dapur menghadap Enrique, sambil sesekali menutup mulutnya untuk mencegah tawa menyembur keluar.

Awalnya, Fay bersiap mengumpulkan amunisi untuk mencela Enrique, tapi akhirnya ia malah terkagum-kagum melihat gerak cekatan Enrique di dapur. Enrique andal tak hanya dalam menguleni adonan, memotong dan mencampur bumbu dan bahan, tapi juga sibuk pamer keahliannya memainkan dan melempar pisau dapur serta peralatan masak lain. Ia bahkan bisa membalik dan mengaduk makanan di wajan dengan cara melempar-lempar isinya ke udara.

”Aku  nggak  keberatan  dimasakin  kamu  tiap  hari,”  kata  Fay  satu jam kemudian, sambil merem-melek menyuap gnocci dalam  saus  krim ke mulutnya. Ia pernah makan masakan yang serupa di kastil, dimasak oleh Chef Pierrot, dan menurutnya rasanya tak jauh beda. ”Kamu belajar masak di mana?”

”Nenekku dari Ayah punya darah Italia. Dulu beliau sempat tinggal lama di rumahku dan aku suka memperhatikannya masak pasta. Lama-lama beliau mengajakku ikut masak, dan akhirnya aku jadi senang juga. Sekarang, kalau ibuku sedang ingin makan pasta, pasti aku yang disuruh masak karena menurutnya setidaknya darahku seperdelapan Italia.”

Selesai makan, mereka duduk di sofa sambil memilih saluran televisi. Sebuah saluran memutar film spionase dan sebuah saluran lain memutar film laga. Fay ingin menonton film laga, sementara Enrique lebih memilih film spionase. Selama beberapa saat mereka berdebat film apa yang akan diputar, dan akhirnya memutuskan dengan koin. Enrique yang menang langsung mengacungkan dua kepalan tangannya ke atas, lalu berlari-lari mengelilingi apartemen, diiringi tawa Fay. Cowok itu sempat mengangkat kausnya ke kepala, seperti pemain bola yang kesenangan ketika mencetak gol, tapi Fay langsung melemparnya dengan bantal dan berteriak menyuruhnya menurunkan baju.

Enrique memasak popcorn di microwave, kemudian memindahkannya ke mangkuk besar. Ia bersandar di sofa sambil memangku mangkuk popcorn, kemudian merentangkan satu tangannya sambil memberi tanda pada Fay untuk duduk dalam pelukannya.

Fay tersenyum dengan perasaan melayang dan duduk di sebelah Enrique sambil bersandar ke cowok itu. Sepanjang film  mereka  makan popcorn—tepatnya, Fay yang menyuapkan popcorn ke mulut Enrique, yang tinggal mangap-mangap seperti ikan mas koki begitu ingin disuapi oleh Fay.

Seusai film, Enrique bangkit dari sofa sambil menggeliat. ”Bagaimana filmnya, nggak menyesal, kan? Aku rasa ide yang bagus juga punya apartemen tanpa diketahui siapa pun, seperti tokoh utama tadi.”

”Untuk apa?”

”I  don’t  know.  It  just  sounds  cool.  Itu  seperti  simbol  dari  dua dunia, kehidupan ganda. Apa rasanya ya, punya kehidupan ganda? Aku ingin tahu, apakah di dunia nyata, para agen rahasia itu akan   tiba di satu titik saat mereka benar-benar  kehilangan  diri  mereka yang sebenarnya dan jadi lebih condong ke kehidupan palsu yang mereka buat sendiri.”

Sejenak Fay terpaku dengan perasaan terpukul. Ia akhirnya mengangkat bahu. ”Kamu coba aja sana... Nanti kamu cerita ke aku rasanya seperti apa. Aku ingin tahu juga reaksi Tia Bea seperti apa kalau aku beritahukan anak kesayangannya punya tempat rahasia.”

Enrique mengambil bantal dan melemparkannya pada Fay sambil tertawa. ”Kalau sudah marah, ibuku lebih mengerikan daripada agen rahasia mana pun.”

Fay  ikut tertawa.

”Aku harus pulang sekarang,” cetus Enrique.

Fay mengantar Enrique ke pintu dan sekilas melihat pintu di apartemen sebelah terbuka. Ia membuka mulut, bersiap menyapa Janet, namun mulutnya yang sudah setengah terbuka kembali terkatup ketika ia melihat yang keluar adalah seorang pria. Kemudian    ia tertegun ketika mengenali pria itu.

Russel.

Tampilannya tak seperti biasa—dia mengenakan topi baret dan kacamata yang bingkainya agak tebal berwarna hitam. Dia tampak flamboyan dengan kemeja yang kerahnya sengaja dinaikkan. Dia tersenyum ramah, sorot matanya sangat bersahabat.

Apa yang dilakukan Russel di sini, di sebelah  apartemennya? Russel menghampiri Fay. Sambil tersenyum lebar ia menyapa,

”Kamu pasti Fay, ya?” Ia mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.

Fay menatap tangan Russel yang menggantung sejenak, lalu akhirnya menyambut uluran tangannya. ”Iya,” jawabnya singkat.

”Janet sudah bercerita banyak tentang kamu,” ucap Russel dalam bahasa Inggris dengan aksen Prancis yang sangat kental. Ia menoleh pada Enrique dan langsung mengulurkan tangan. ”Jean-Pierre. Pleased  to  meet  you.”

Enrique menyambut uluran tangan Russel, lalu bertanya, ”Anda tinggal di sini?”

”Tidak. Pacar saya, Janet, yang tinggal di sini. Dia sedang ada tugas kantor ke Swiss. Dia memberitahu saya biasanya dia menitipkan kunci ke Fay, tapi kali ini dia titip ke saya. ”

”Oh   iya...   kami   waktu   itu   bertemu   Janet   di   Jenewa,”   ucap Enrique menanggapi ramah.

Russel mengangguk dengan antusias pada Enrique, kemudian bertanya, ”Kamu berasal dari mana?”

Fay memainkan rambutnya dengan perasaan tak nyaman ketika mendengarkan jawaban-jawaban yang diberikan Enrique dan pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang diberikan Russel tentang tempat tinggal Enrique, dan secara sambil lalu, tentang keluarga Enrique. Enrique menjawab pertanyaan-pertanyaan Russel tanpa curiga, dan tampaknya malah senang dengan keramahan yang ditunjukkan Russel.

Russel bertanya, ”Kalian sudah makan malam? Saya mau makan di restoran Asia di pojok jalan. Mau bergabung?” Enrique menggeleng sambil menepuk-nepuk perutnya. ”Thanks for the offer... tapi kami baru saja makan. Saya harus segera pulang. Saya janji sudah tiba di rumah sebelum ibu saya pergi.”

Russel melihat arlojinya. ”Ibu kamu pasti wanita yang sangat aktif.”

Fay membuang muka melihat raut kagum di  wajah  Russel. Enrique tertawa kecil. ”Ya. Ibu saya ada acara dengan tunangan-

nya.”

Fay mundur sedikit sehingga ia berdiri di tengah-tengah pintu yang terbuka, seperti memberi isyarat bahwa ia ingin segera masuk. ”Kapan-kapan  kita  harus  mengobrol  lagi,”  ucap  Russel  sambil melihat ke Fay. ”Mungkin kalian bisa berkunjung ke apartemen

Janet... Kita bisa makan bersama.”

Fay tidak berniat menjawab, tapi ia melihat tatapan Russel lekat ke  arahnya.  ”Sure,”  ucapnya  akhirnya,  lalu  mengalihkan  pandangan pada Enrique.

Enrique  mengangkat  tangannya  ke  arah  Russel.  ”Nice  talking  to you.”

”You  too,”  ucap  Russel  sambil  memperhatikan  Enrique  berjalan menjauh.

Fay membiarkan pintu terbuka sebentar. Ia melirik Russel yang tak menampakkan tanda-tanda bergerak. Akhirnya, tanpa menunggu Enrique hilang dari pandangan, Fay langsung masuk ke apartemennya dan menutup pintu, kemudian buru-buru memasang rantai pengaman. Setelah rantai terpasang, barulah ia mengembuskan napas dan otaknya mulai berputar.

Apakah Bobby, atau malah Andrew, yang meminta Russel ke sini? Tapi, semalam Bobby tidak mengatakan apa-apa. Andrew tadi pagi juga tidak menyinggung tugasnya sama sekali—malah pamannya itu mengingatkannya lagi bahwa semua anggota keluarga akan sibuk di kantor hingga larut malam, jadi ia boleh makan malam di luar.

Fay  melirik  arlojinya—pukul  21.55.  Ia  ditunggu  Bobby  pukul

22.15 di rumah yang semalam ia kunjungi untuk melapor. Ia mematikan lampu, lalu mengintip ke luar jendela. Mobil Lucas sudah menunggu  di sisi jalan.  Ia  menyambar  tas lalu  berjalan  ke pintu, dan mengintip lewat lubang kecil di pintu—tak ada siapa pun. Perlahanlahan ia membuka pintu yang masih dirantai untuk memastikan. Setelah yakin, barulah ia melepas rantai dan membuka pintu, buruburu menutup dan menguncinya, dan setengah berlari menuju tangga yang akan membawanya ke lantai satu.

***

Pukul 22.16, Fay duduk dengan gelisah di kursi yang ditunjuk oleh Bobby, menghadap ke sebuah cermin persegi yang lebar, yang tingginya hampir menyentuh langit-langit. Kursi yang ia duduki ini memiliki penyangga tangan di kedua sisinya dan dilengkapi tali kulit pengikat tangan. Di depan kursinya ada sebuah meja dan satu kursi lain. Sebuah laptop berada di atas meja dalam keadaan terbuka— lewat bayangan di cermin Fay melihat layar terkunci dan di layar tersebut ada sebuah kotak untuk memasukkan password.

Di kedua sisi meja, kiri dan kanan, terpasang benda yang tampak seperti kamera dengan tripod. Kabel-kabel dengan ujung bulat seperti sensor tampak bergelantungan dari kedua benda tersebut. Satu kabel lain dari setiap alat tersebut terhubung ke komputer.

Bobby mengambil beberapa kabel, lalu menempelkan sensor di ujung kabel di beberapa titik di tangan Fay, kemudian di pelipis  Fay.

Fay melihat masih ada empat kabel lain di tangan Bobby. ”Buka kancing bajumu.”

Fay tertegun sambil menatap Bobby.

”Dua sensor ini harus ditempelkan di dadamu dan dua lagi di punggungmu, jadi buka kancing bajumu yang paling atas,” ulang Bobby.

Fay menelan ludah. Hari ini ia mengenakan blus berkancing tanpa lengan di bawah rompi denim, serta celana putih dengan panjang tiga perempat. Ia ingin berkata tidak, tapi ia melihat Bobby menatapnya menunggu—sorot mata Bobby berkata bahwa sensor itu akan ditempelkan dengan atau tanpa persetujuannya. Akhirnya, dengan perasaan terhina Fay membuka satu kancing kemejanya. Ia menahan napas ketika Bobby menyingkap kerah bajunya dan menempelkan kedua sensor tersebut di dadanya. Lewat refleksi  di cermin ia melihat Bobby berjalan ke belakangnya, lalu menarik kemejanya dari arah belakang dan menempelkan dua sensor lain di dekat bahunya. Kemudian, dengan perut mulas ia melihat Bobby meraih pengikat kulit yang ada di pegangan kursi dan  mengikat  kedua pergelangan tangannya.

Bobby duduk di kursi yang ada di seberang Fay, lalu memasang headset   di   kepalanya.   ”Kita   mulai   sekarang,”   ucapnya   sambil menggeser kursi dengan tatapan lekat ke layar komputer.

Fay melirik cermin dan langsung bisa menebak bahwa seseorang pasti memonitor tanya-jawab ini dari balik cermin dan ucapan Bobby tadi ditujukan ke orang tersebut. Ia mencoba melihat lewat cermin apa yang dilihat Bobby di layar komputer, tapi pantulannya tertutup tubuh Bobby.

”Siapa namamu?”

Fay mengangkat alis sebelum menjawab, ”Fay Regina Wira... eh, McGallaghan.”

Bobby melirik Fay, lalu kembali bertanya, ”Di mana dan kapan kamu lahir?”

Fay menjawab dengan cepat.

Berikutnya, Bobby bertanya seputar perkenalan Fay  dengan Enrique, serta informasi tentang Enrique: kapan dan di mana mereka berkenalan, apa status hubungan mereka sekarang, apa kesan Fay terhadap Enrique, apa hobi Enrique, di mana Enrique berkuliah, apa rencana Enrique ke depan, dan alasan Enrique pindah ke  Paris.  Setelah itu Bobby mulai masuk ke hubungan antara Bruce Redland dengan Enrique.

Fay menjawab pertanyaan-pertanyaan Bobby  sambil  memutar otak, berusaha memikirkan dampak buruk dari jawaban yang ia berikan bagi Enrique atau Barney, tapi ia sama sekali tidak bisa menemukan ada yang janggal dari pertanyaan-pertanyaan itu. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana jawaban atas pertanyaan  itu  bisa merugikan Enrique atau Barney. Akhirnya ia menjawab jujur sepanjang yang ia ketahui—tidak banyak juga yang ia ketahui tentang Barney, sebenarnya. Bobby bertanya, ”Apakah Enrique pernah menyinggung tentang rencana pernikahan Bruce Redland?”

”Pernah.”

”Apa yang diceritakan oleh Enrique?”

”Bahwa Barney ingin menikah dengan Tia Bea, ibu Enrique, tapi belum tahu kapan tepatnya.” Akhir  musim  panas.

”Di mana pernikahan akan dilangsungkan?”

”Saya tidak tahu.” Di kediaman Barney di Jenewa atau di kastil di pinggir kota Paris.

”Jelaskan aktivitasmu hari ini bersama Enrique.”

”Enrique datang ke apartemen saya, kemudian dia memasak pasta dan kami makan malam bersama. Setelah itu kami menonton film.” Fay terdiam ketika ingat bagaimana Russel muncul secara tiba-tiba, dan sempat berpikir apakah ia akan menyebutkannya juga, tapi akhirnya ia mengurungkan niat itu.

”Apa informasi tentang Bruce Redland yang berhasil kamu korek malam ini darinya?”

Jantung Fay berdegup. ”Enrique tidak bercerita apa-apa tentang target.” Ia menggerakkan kakinya sedikit dengan gelisah.

”Jadi, maksudmu, kamu menghabiskan waktu berjam-jam dengan pacarmu tanpa sekali pun membicarakan target?”

Fay menelan ludah. ”Iya.” Debar jantungnya semakin menguat. ”Apakah hari ini kamu sengaja menghindari berbicara tentang

target?”

Fay menahan napas. ”Tidak. Saya hanya tidak mau bertindak mencurigakan, karena selama ini selalu Enrique duluan yang menyebut tentang Barney... eh, Bruce.” Ia berusaha terlihat tenang ketika Bobby meliriknya.

”Apakah ada informasi yang sengaja kamu tahan?”

”Tidak,”  jawab  Fay  cepat,  namun  ia  bisa  merasakan  napasnya sedikit sesak.

Bobby berdiri dari kursi sambil melepas headset dan meletakkannya di meja, kemudian berjalan mendekati Fay dan melepas kabelkabel yang ada di tubuh Fay dengan menyentaknya dari luar. Ia lalu membuka ikatan tangan Fay. Fay buru-buru mengancingkan bajunya.

”Kamu tahu kabel-kabel ini untuk apa?” tanya Bobby, lalu menyandar di sisi meja yang ada di dekat Fay sambil bersedekap. ”Juga benda-benda seperti kamera ini?” sambungnya lagi sambil menunjuk dengan menggerakkan kepalanya sedikit.

Fay menggeleng sambil melirik pantulan layar komputer di cermin, yang sekarang terlihat jelas—berbagai macam grafik yang naikturun, dengan angka-angka di bagian samping. Detik itu juga ia tersadar dan langsung terkesiap. Bagaimana mungkin ia tadi tidak sadar! Matilah!

Ucapan Bobby berikutnya mengonfirmasi ketakutannya.

”Semua ini adalah bagian dari alat pendeteksi kebohongan. Kabelkabel yang ditempelkan ke tubuhmu memonitor denyut nadi dan aliran darah ke jantung, sedangkan benda seperti kamera ini adalah pemindai kepala yang melihat reaksi otakmu. Kebohongan akan mengaktifkan bagian yang berbeda di otak, dan itu terlihat dengan jelas di komputer.”

Fay bisa merasakan bagaimana dadanya bergemuruh. Ia kan pernah menonton film dengan adegan mirip seperti ini! Peralatan di film itu memang tidak secanggih ini—hanya berupa kotak dengan grafik yang digambar jarum manual, tanpa pemindai kepala seperti ini—tapi seharusnya ia bisa menghubungkan adegan itu dengan kejadian ini. Tolol sekali!

Berikutnya, Fay berteriak kaget ketika merasakan tangan Bobby mencengkeram tengkuknya dan mendorong kepalanya ke arah meja dengan satu dorongan keras.

Fay mengaduh ketika kepalanya menghantam meja. Napasnya langsung tersengal-sengal begitu tersadar bahwa Bobby tidak menunjukkan tanda-tanda melepas cengkeraman di tengkuknya dan malah menekannya lebih keras ke arah meja.

”Berbohong saat debrifing untuk urusan kantor sama sekali tidak bisa dimaafkan. Saya yakin kamu tahu lebih banyak tentang pernikahan Bruce Redland daripada yang kamu akui.”

”I’m  sorry,”  sahut  Fay  panik.  ”Saya  tidak  mengatakan  langsung karena memang belum pasti... Tanggal pernikahan belum ditentukan tapi Enrique pernah bilang akan diadakan di akhir musim panas ini. Tempatnya juga belum pasti, antara vila milik Bruce di Jenewa atau kastil  di  pinggir  Paris.”  Ia  memekik  ketika  Bobby  menarik  rambutnya, memaksanya berdiri, lalu mendorongnya ke arah tembok.

Fay mengaduh ketika tubuhnya beradu dengan tembok. Ia  terpental dan sedikit oleng, tapi sebelum ia bisa memperbaiki posisi, kakinya sudah dikait Bobby sehingga ia terpelanting ke lantai. Ia mengerang ketika tulang punggungnya menghantam lantai. Dengan posisi terbaring di lantai, ia melihat Bobby berjalan mendekat, dan      ia pun langsung menggelengkan kepala dengan panik sambil berusaha bangun ketika melihat sorot mata Bobby  yang  mengancam, tapi terlambat.

Bobby mengayunkan kaki ke arah Fay, mendarat dengan telak di paha.

Fay berteriak kesakitan dan langsung memeluk kakinya sambil mengaduh-aduh, tapi lagi-lagi Bobby tidak memberinya kesempatan. Ia terseret begitu saja ketika Bobby meraih kerah bajunya dan menariknya berdiri, lalu mendorongnya ke tembok tanpa melepas cengkeraman tangannya di kerah baju. Fay menatap Bobby dengan napas tersengal, melihat betapa mengancam sorot mata sepasang mata hitam di hadapannya ini. Untuk pertama kalinya ia melihat kebengisan di wajah pria yang berasal dari tanah air yang sama dengannya itu.

Bobby menyentak kerah Fay hingga Fay mengaduh, lalu berkata dengan nada rendah dalam bahasa Indonesia, ”Sekarang dengar baikbaik. Jangan sekali-kali berpikir bahwa kesamaan asal-usul kita berdua akan membuat hidupmu sebagai agen lebih nyaman. Saya punya  kredibilitas sebagai agen level satu yang harus saya pertahankan, dan saya tidak akan membiarkan nama saya rusak karena kelakuan seorang remaja yang tidak mau berpikir panjang.”

Fay  mengangguk  dengan  ketakutan memuncak.

Bobby kembali bicara, kali ini dalam bahasa Inggris yang sempurna. ”Besok, perbanyak interaksi dengan Enrique dan keluarganya, dan percakapan tentang target. Pergunakan semua kesempatan yang ada, dan jangan coba-coba menghindar. Saya ditugaskan menjadi mentormu dan percayalah... kamu tidak mau tahu  apa  yang  akan saya lakukan dalam keadaan marah pada anak didik saya yang menyabotase operasi yang saya pimpin. Sekadar informasi saja, tadi saya belum marah. Mengerti?”

”Yes,” jawab Fay dengan suara seperti tercekik.

Bobby melepas cengkeramannya pada kerah Fay. Fay langsung merasa lututnya lemas. Ia membungkuk dengan napas naik-turun. Terdengar kembali suara Bobby.

”Hari ini kamu tidak bisa membuktikan bahwa kamu bisa dipercaya, jadi besok kamu akan dipasangi penyadap dan kamera. Sebuah unit akan disiapkan sebagai pendukung operasi, dan akan diaktifkan begitu kursus kamu selesai. Kamu akan dimonitor mulai dari pulang kursus hingga berpisah dengan Enrique. Seorang agen, bisa saya atau orang lain, akan mendengar percakapanmu. Besok pagi saya akan menemuimu dan memberi pengarahan lebih lanjut. Jelas?”

”Jelas,” jawab Fay dengan suara bergetar. ”I’ll  see  you  tomorrow.”

***

Fay menyandarkan kepalanya pada kursi mobil sambil menutup mata, membiarkan gerakan mobil mengayun dan membuainya. Tubuhnya terasa sangat lemas, seakan tulang-tulang penyangga tubuhnya terbuat dari karet.

Semua harapan yang tersisa atas hubungan yang normal dengan  Enrique pupus dengan instruksi Bobby tadi. Bagaimana mungkin interaksinya dengan Enrique bisa berjalan alami dengan penyadap serta kamera terpasang di tubuh? Ironis sekali—cowok tulus yang sudah berganti status dari sekadar sahabat menjadi pacarnya itu kini malah menjadi target operasi yang harus ia korek informasinya dengan bersandiwara. Bagaimana caranya bersandiwara di depan pacar sendiri? Masih layakkah ia menyebut Enrique pacar? Mungkin iya, tapi kebalikannya pasti tidak berlaku. Bila Enrique sampai tahu,  cowok itu pasti tak sudi lagi menjadi pacarnya.

Mobil berhenti. Fay membuka mata, berharap tidak ada kejutan lain dengan melihat rumah yang tak ia kenali. Untungnya, kali ini yang  terlihat adalah gerbang kastil. Setelah melalui pemeriksaan, mobil kembali berjalan perlahan dan berhenti di lobi.

Fay turun dari mobil dengan langkah seperti menyeret batu. Napasnya pun terasa sangat berat untuk ditarik. Ia kemudian masuk ke kamar dan baru saja berniat untuk ke kamar mandi ketika telepon kamarnya berbunyi. Ia mengangkat gagang telepon dan mendengar sapaan Andrew.

”Young  lady, temui saya di ruang kerja sekarang.”

”Yes,  Uncle,”  jawab  Fay,  lalu  menutup  telepon.  Ia  sejenak  hanya terpaku sambil menatap telepon. Kenapa Andrew ingin menemuinya? Apakah malam panjang ini belum berakhir?

Fay beranjak dari kamar ke ruang kerja Andrew. Di depan pintu ruang kerja Andrew, ia mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi menurunkannya lagi karena belum siap. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan akhirnya mengetuk, lalu membuka pintu. Ia tertegun sebentar melihat Kent dan Reno berdiri di hadapan Andrew yang bersedekap. Tatapan keduanya lurus ke depan— mereka berdua bahkan tak menoleh sama sekali ke arahnya.

Fay menutup pintu perlahan, lalu berjalan mendekati Andrew dan berdiri di samping Kent. Ia menatap Andrew dan jantungnya seperti melesak ke dalam ketika matanya beradu pandang dengan Andrew. Ia merasa seperti ditusuk ketajaman sorot mata pamannya.

Andrew berbicara. ”Dua laporan terpisah atas dua keponakan yang saya awasi. Bukan malam keberuntungan saya.”

Fay merasa jantungnya berdegup kencang. Laporan apa? Apakah Bobby memberitahu Andrew apa yang terjadi? Dan bagaimana dengan Kent?

Tatapan Andrew terarah pada Kent. ”Saya menerima laporan dari mentormu bahwa kamu dua kali terlambat tiba di titik pemberangkatan,  dan  tadi  malah  tidak  hadir  saat  brifing.”  Ia  berhenti sebentar, lalu kembali berbicara. ”Ada penjelasan?” tanyanya.

”Maaf, Paman. Dua kali saya terlambat karena ada masalah di perjalanan—ada kemacetan dan mobil saya mogok. Yang terakhir, tidak hadir saat brifing, terjadi karena saya kurang teliti membaca jadwal.”

”Tiga pelanggaran dalam satu bulan. Sekali lagi kamu melanggar, kamu akan dikenai tindakan disiplin dari Philippe... dan kamu tahu, saya tidak suka bila ada keponakan saya yang sampai jatuh ke tangan paman yang lain, apalagi di kantor.”

Fay melihat Andrew mendekati Kent yang berdiri di sebelahnya, dan ia merasa jantungnya berdebar kencang.

”Open position!” perintah Andrew dengan raut wajah terlihat tidak sabar.

Lewat sudut mata, Fay  melihat Kent membawa kedua tangannya  ke belakang tubuh dengan enggan, lalu menegakkan tubuh sambil melihat lurus ke depan dengan rahang mengeras.

Andrew mengepalkan tangannya dan mengirim sebuah tonjokan ke ulu hati Kent, yang langsung mengerang sambil jatuh ke lantai sambil memegangi perutnya dengan tubuh melengkung ke depan.

Fay menggigit bibir sambil mengatur napasnya yang mulai berantakan.

”Jangan sampai ada pelanggaran lagi di kantor bulan ini. Mengerti?” ucap Andrew.

”Yes,  Uncle,”  ucap  Kent  dengan  suara  seperti  menggeram,  lalu bangkit perlahan.

Tatapan Andrew terarah pada Fay. ”Sekarang giliranmu, young lady. Saya menerima laporan Reno, bahwa kamu tidak mendukung sandiwara Russel dengan baik,” ucapnya sambil menatap Fay lekat.

Fay tertegun sesaat. Ia menoleh pada Reno, tapi cowok itu masih menatap lurus ke depan.

Andrew berkata pada Reno. ”Bisa kamu ulangi laporan yang kamu berikan tadi?”

Fay menatap Reno dengan emosi teraduk-aduk.

Reno berkata, ”Russel mendekati Fay dan temannya, kemudian memperkenalkan diri sebagai Jean-Pierre. Teman Fay menyambut dan memperkenalkan diri sebagai Enrique, juga Fay. Setelah itu Russel mengajak mereka berdua berbicara, sebagian besar ditujukan pada Enrique.” Andrew bertanya, ”Apa yang membuat kamu berkesimpulan Fay tidak bereaksi dengan baik?”

”Dari raut wajah dan bahasa tubuhnya,” jawab Reno datar. ”Dimulai dari pertama kali Russel memperkenalkan diri sebagai JeanPierre, hingga terakhir, saat menanggapi ajakan Russel untuk bersosialisasi lebih dekat. Fay terlihat enggan untuk ikut masuk ke sandiwara Russel,” tambahnya lagi.

Fay merasa kemarahan dan kepanikan berputar menjadi satu di kepalanya. Bagaimana Reno tahu, dan apa urusannya! Ia mendadak ingat bahwa Russel adalah mentor Reno, dan keping-keping puzzle menyatu di kepalanya. Kepanikan langsung memuncak dan ia buruburu berkata, ”Saya tidak diberi pengarahan apa pun, jadi tidak tahu harus melakukan apa!” Saat itu juga Andrew menoleh dan menatapnya tajam. Fay mengalihkan pandangannya sambil merasakan bagian dalam perutnya berputar-putar seperti gasing. Terdengar suara Andrew.

”Saya ingin bicara empat mata dengan Fay. Kalian berdua boleh keluar.”

Lewat sudut mata Fay melihat dengan perasaan tertekan bagaimana Kent dan Reno melangkah ke luar ruangan. Begitu pintu ditutup di belakang mereka, kesunyian langsung menyergap dan Fay menggigit bibir sambil menunduk.

Andrew bergeser ke hadapan Fay dan bersedekap di hadapannya. ”Tugas-tugas   yang   pernah   kamu   lakukan   menuntut   kecerdikan, ketajaman analisis dan intuisi, serta keberanian... dan kamu menyelesaikan semuanya dengan hasil memuaskan. Saya yakin kamu sebenarnya sangat mampu mengimbangi permainan Russel.  Kamu  sudah diberitahu bahwa pacarmu adalah target tiga dalam operasi Echo, jadi harusnya kamu bisa menarik kesimpulan sendiri apa yang diharapkan darimu.”

Fay mengangkat kepalanya dan menatap Andrew. ”Saya tadi panik... dan...”

”Saya belum selesai,” potong Andrew tajam.

”Maaf, Paman,” ucap Fay pelan, lalu kembali mengalihkan pandangannya dari Andrew dengan sedikit menunduk. ”Ketika Russel memperkenalkan diri dengan nama berbeda, lalu mengajakmu dan pacarmu bicara, apakah kamu sudah bisa menduga bahwa dia sedang bersandiwara?”

Fay  terdiam  sebentar,  lalu  menjawab,  ”Ya.”  Ia  tidak  menatap Andrew. Jantungnya seperti sudah menggedor dadanya dari dalam. ”Apakah cukup jelas terlihat bahwa Russel sedang mencoba

mendekati Enrique?”

”I...  iya...,”  jawab  Fay  sambil  meremas-remas  telapak  tangannya yang sudah dingin.

”Dari interaksimu dengan Russel selama ini, bukankah kamu bisa menebak bahwa apa pun yang dia lakukan, pastinya berhubungan dengan urusan kantor?”

Fay merasa napasnya tersekat, lalu langsung berbicara sambil kembali menatap pamannya, ”Ya, Paman, tapi saya tidak...”

”Tak  perlu  ada  kata  ‘tapi’!”  potong  Andrew  lagi.  ”Bila  yang  ada di sebelahmu adalah orang tak dikenal, apakah menurutmu  kamu  akan mampu mengimbangi sandiwara Russel?”

Fay mengangguk dengan ragu. Ia merasa seperti dijebak untuk mengakui sesuatu, tapi tidak terlalu yakin ke mana tanya-jawab ini akan berujung.

”Dengan kata lain, kamu memilih untuk tidak mengimbangi sandiwara Russel karena kebetulan pemuda yang ada di sebelahmu adalah pacarmu. Bukankah begitu?”

Fay tertegun sejenak. Fokusnya kembali pada Andrew dan ia buru-buru menggeleng. ”Bukan begitu...,” ucapnya panik, kemudian terdiam ketika melihat rahang Andrew mengeras.

”Saya bisa tahu kamu sedang berdalih bahkan tanpa perlu melihat raut wajahmu,” ucap Andrew tajam.

Fay tidak berkata-kata lagi, hanya berusaha mengendalikan napasnya yang mulai pendek-pendek dipicu panik yang semakin besar.

”Saya ulangi lagi. Tadi kamu mengatakan, bila yang ada di sebelahmu adalah orang tak dikenal, kamu akan mengimbangi sandiwara Russel. Jadi, saya berkesimpulan, alasan kamu tidak melakukannya adalah karena pemuda itu pacarmu. Bukankah seperti itu kesimpulan yang bisa diambil dari jawaban-jawabanmu?” Fay menarik napas panjang, lalu memaksakan diri mengangguk. ”Iya,” jawabnya pelan.

Andrew  mengulurkan  tangannya.  ”Give  me  your  hand,”  pintanya sambil menunjuk tangan kiri Fay.

Fay mengulurkan tangannya dengan ragu. Ia tidak tahu persis apa yang akan terjadi, tapi ia punya firasat tak akan berakhir baik. Ia melihat pergelangan tangannya dipegang oleh satu tangan Andrew,  kemudian jari manisnya digenggam oleh tangan Andrew yang lain   dan diarahkan ke atas sehingga posisinya tegak lurus dengan telapak tangan. Ia langsung bisa menebak maksud Andrew dan menggeleng panik sambil menarik tangannya, tapi pegangan Andrew yang kokoh membuat usahanya sama sekali tak membuahkan hasil.

”Kamu sudah disumpah, dan tentunya kamu tahu keluarga ini menempatkan loyalitas di atas segala-galanya,” ujar Andrew dingin. Fay menatap jarinya yang ada dalam genggaman Andrew dengan napas naik-turun dipenuhi kepanikan dan ketakutan yang bergulungan menjadi satu. ”Yes, Uncle,” ucapnya dengan suara yang

terdengar gemetar di telinganya sendiri.

Andrew melanjutkan, ”Bayangkan kekesalan saya ketika keponakan yang berada dalam pengawasan saya menempatkan loyalitasnya pada seorang temannya, bukan pada saya dan keluarga ini. Kamu tentunya  tahu, siapa pun yang membuat saya kesal akan berada pada posisi tak  menguntungkan.”  Dengan  ucapan  itu,  Andrew  mendorong  jari Fay ke belakang.

Fay menjerit ketika rasa sakit langsung terasa seperti menggigit. Otot di sepanjang jari dan lengannya terasa sangat tegang, seakan   satu dorongan kecil saja akan mematahkan jarinya. Refleks ia menjatuhkan lututnya ke lantai untuk  melonggarkan  tegangan  di  ototnya.

”No, please... saya tadi panik... Saya tidak tahu kenapa Russel ada di  sana...  dan  saya  tidak  tahu  apa  yang  dia  harapkan  dari  saya,” ucapnya memohon sambil terisak ketika tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk meringankan tegangan di jarinya yang sudah di ambang batas.

Andrew melonggarkan dorongannya di jari Fay. ”Kamu anggota keluarga McGallaghan, jadi siapkan dirimu untuk menerima kejutan. Saya pernah bilang bahwa ada banyak ujian yang akan kamu hadapi  di sepanjang perjalananmu dalam keluarga ini. Saya pun pernah memberitahumu bahwa tidak selamanya alasan di balik sebuah instruksi akan diberitahukan, jadi berusahalah sebaik-baiknya dalam setiap kesempatan.”

”Yes,  Uncle,” ucap Fay buru-buru dengan napas tersengal. Andrew tak melepas pandangannya dari Fay selama beberapa saat.

”Kamu benar-benar sudah mengerti, atau memang satu jarimu perlu dibuat patah dulu supaya nilai ini bisa tertanam secara permanen di dirimu?”

Fay mengangguk panik. ”Sudah, sudah... saya sudah mengerti!” Ia melihat Andrew memandangnya lekat, dan benih-benih panik di perutnya langsung tersemai ketika melihat Andrew menggeleng.

Andrew kembali mendorong jari Fay, kemudian menahannya. Fay menjerit. ”I’m  sorry... I’ll  do  better  next  time... Please...”

Andrew melonggarkan dorongannya di jari Fay. ”Lain kali, pikir baik-baik sebelum memutuskan apa yang akan kamu lakukan. Apa  pun itu, kepentingan keluarga ini harus ada di daftar teratas dari prioritasmu, terlepas dari apa pun yang kamu rasakan. Mengerti?”

”Mengerti,” ucap Fay dengan suara bergetar.

Andrew melepas pegangannya dari tangan Fay. ”Bangun!”

Fay bangkit perlahan sambil mendekap dirinya sendiri dan menyeka butir-butir air mata yang sempat keluar ketika menahan sakit.

”Kalau sekali lagi saja saya menerima laporan yang sama, kamu akan menemui saya tidak di sini, tapi di sel tertutup di bawah. You may  leave.”

***

Tiba di kamar, Fay duduk di tempat tidur sambil mengatur napas, dan perlahan-lahan air matanya mengalir keluar. Ia membiarkan dirinya melorot hingga ke lantai, lalu meringkuk di lantai kamarnya, memeluk dirinya sendiri sambil terisak, membiarkan rasa sakit di dadanya meluap keluar dalam bentuk tetesan air mata. Semua tekanan yang terjadi pada dirinya hari ini membuatnya terimpit. Perlakuan Bobby dan kekerasan fisik yang dilakukan Bobby, laporan Reno, perlakuan Andrew, semuanya telah menistakan keberadaannya, seolah ia hanya sebongkah daging yang tak punya perasaan, pikiran, kemauan, dan harga diri.

Yang membuatnya kejadian hari ini terasa pedih mengiris adalah karena ia sadar tidak punya harapan untuk keadaan yang berbeda.   Bila sewaktu tugasnya dulu ia bisa  menggantungkan  harapannya  pada keyakinan bahwa semua akan berakhir ketika kembali  ke  Jakarta, maka sekarang setelah menjadi anggota keluarga ini semua harapannya sudah karam tanpa menyisakan  apa-apa.  Kejadian  hari ini hanyalah miniatur dari kehidupannya ke depan sebagai penyandang nama McGallaghan, tanpa batas akhir, hingga kematian menjemputnya. Kehidupan yang tampak sempurna pada awalnya, ternyata hanya ilusi semata. Itu saja sebenarnya tak terlampau menyakitkan bila Kent dan Reno masih berada di sisinya—namun,  dua cowok yang dulu menjadi alasannya bergabung dengan keluarga ini sekarang menjadi sangat jauh dan tak tergapai. Tak hanya itu, mereka berdua bahkan menusuknya dengan pengkhianatan. Bagaimana ia bisa menjalani hari-harinya ke depan di keluarga ini tanpa seorang pun yang bisa ia andalkan untuk menjadi tumpuan perasaannya?

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kerinduan atas kehidupannya di Jakarta terasa bagai kuku-kuku yang menusuk dadanya dari luar dan menancap di jantungnya, serta mencabik-cabik semua kenangan dan perasaan yang tersisa. Ia rindu orangtuanya dan cinta tanpa pamrih yang mereka berikan, yang disirami dengan kelembutan dan kasih sayang.

Fay mendekap dirinya sendiri lebih kuat, dengan isak tangis lebih kencang, merasakan kerinduan yang menggigit hingga ke tulang di sekujur tubuhnya.

Terdengar suara logam beradu dari arah balkon.

Perhatian Fay sesaat teralih. Susah payah ia menghentikan isak tangisnya, lalu bangkit sambil menyeka air mata, kemudian berjalan ke arah jendela untuk mengintip ke luar. Tepat saat itu gagang pintu balkon bergerak. Fay tersentak dan mundur sedikit. Pintu terbuka dan sosok Reno muncul di pintu.

Fay langsung merasa kemarahan, kekecewaan, dan kesedihannya merentas begitu saja. ”Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya ketus, kemudian berkata dengan suara lebih keras, ”Keluar! Sekarang juga, keluar dari kamarku!”

”Ssshh... jangan teriak-teriak begitu. Aku datang mau minta maaf,” balas Reno pelan. ”I’m really sorry... aku tidak punya pilihan...”

”Semua di keluarga ini mengaku tidak punya pilihan!” sahut Fay setengah berteriak.

”Sssh... Fay, please... pelankan suaramu. Aku bisa dibawa ke sel bila ketahuan ada di kamarmu...”

”Aku nggak peduli! Aku sudah bosan mendengar alasan yang sama  dari  mulut  semua  orang.”  Fay  maju  kemudian  mendorong Reno ke arah balkon. ”Keluar! Sana... keluar!”

Reno bergeming. Ia memegang dan menahan kedua tangan Fay yang berusaha mendorong tubuhnya, dan berkata dengan intonasi berubah tajam, ”Aku terima bila kamu marah padaku, tapi jangan  bersikap seolah-olah kamu bukan bagian dari hal yang sama...”

Fay sejenak terpaku. ”Apa maksudmu?” tanyanya, lalu menyentak kedua tangannya hingga terlepas dari pegangan Reno.

Reno menatap Fay, kemudian berkata, ”Aku tidak mengharapkan kamu begitu saja memaafkanku, tapi setidaknya kamu mengerti ketika aku bilang bahwa aku tidak punya pilihan untuk melakukan hal berbeda... Apa bedanya yang aku lakukan tadi dengan yang kamu lakukan ke pemuda yang sudah jadi pacarmu itu? Setidaknya aku melakukannya di hadapanmu langsung, sementara kamu menusuknya dari belakang.”

Tepat setelah itu, Fay mendengar sebuah bunyi plak yang diikuti rasa panas di telapak tangannya. Ia melihat kepala Reno sedikit menyamping dan perlu waktu beberapa detik hingga ia tersadar bahwa bunyi yang ia dengar tadi ternyata datang dari tangannya yang melayang begitu saja ke pipi Reno.

Fay mengerutkan tubuhnya sambil mendekap dirinya sendiri. Air mata menetes begitu saja di pipinya. Dadanya terasa sakit. Ucapan Reno telah menghantamnya dengan telak.

Kepala Reno bergerak perlahan, kembali ke posisinya semula. Ia mendesah  dan  menarik  napas  panjang.  ”I’m  sorry.  Aku  seharusnya tidak berkata begitu... aku pantas mendapatkannya.” Tangannya kemudian bergerak untuk menyeka air mata Fay, dan ia berkata lamatlamat. ”Kamu harus tahu bahwa tidak pernah ada sedikit pun niat  dariku untuk menyakitimu. Bila aku sampai  melakukannya,  itu  karena pilihan-pilihan lain hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk bagimu.”

Tepat saat itu, pintu terbuka.

Reno menurunkan tangannya dari Fay dan mundur selangkah.

Raymond Lang berdiri di pintu dengan tatapan tajam  ke arah Fay dan Reno. ”Saya mendengar suara cakap-cakap dari arah kamar ini dan sempat berpikir itu hanya imajinasi saya, tapi ternyata pendengaran saya tak salah.” Ia masuk dan mendekat cepat dengan tatapan mengancam pada Reno. ”What  are  you  doing  here?”

Reno membuka mulutnya sedikit, kemudian mengatupkannya lagi. Ia menarik napas panjang, kemudian berkata. ”Saya ingin minta maaf dan bicara pada Fay.”

Tatapan Raymond beralih ke Fay, ”Saya yakin kamu tahu bahwa kamu juga akan terkena hukuman karena mengizinkan Reno masuk ke kamarmu.”

Sebelum Fay sempat menanggapi, Reno buru-buru berbicara, ”Kesalahan saya sepenuhnya, Paman. Fay tidak mengizinkan saya masuk... Saya naik lewat balkon tanpa sepengetahuannya. Tadi dia pun langsung mengusir saya, tapi saya memaksa untuk tinggal.”

Rahang Raymond tampak mengeras. ”Saya pasti akan melaporkan ini pada Steve, tapi karena saya sedang menjadi pengawas rumah,  saya tidak akan membiarkan hal ini berlalu  begitu  saja.  Sekarang juga kamu ke sel. Saya ingin bicara dengan Fay, jadi saya akan minta Nikolai mengurusmu dulu sebelum saya turun tangan sendiri.”

”Yes,  Uncle,” jawab Reno takzim, kemudian berlalu.

Fay duduk di tempat tidur, dan dengan pikiran setengah melayang melihat Raymond mengangkat telepon di samping tempat tidur kemudian berbicara dengan Nikolai. Fay menutup wajah dengan kedua tangan. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan atau bahkan apa yang ia rasakan. Semua kejadian malam ini terjadi bertubi-tubi dan menguras tenaganya. Ia hanya ingin merebahkan diri dan masuk ke dunia yang tenang tempat tak ada kekalutan dan kepedihan seperti yang ia rasakan sekarang.

Raymond menutup telepon, kemudian duduk di sebelah Fay. ”Are you okay, Fay? Ada yang ingin kamu bicarakan?”

Fay menggeleng. Ia hanya ingin ditinggalkan sendiri.

Raymond meletakkan satu tangannya di punggung Fay sambil berkata lembut, ”Saya dengar dari Andrew hubunganmu dengan Enrique sudah menjadi sangat dekat.”

Fay tidak menjawab, merasakan sesuatu seperti menoreh hatinya, terasa perih.

Raymond melanjutkan, ”Tidak mudah memang, ketika orang yang kita sayangi adalah juga target sebuah operasi yang dijalankan demi kepentingan keluarga ini...”

Fay merasa matanya panas, dan air mata tiba-tiba saja mengalir kembali. Ia pun mulai terisak.

Raymond merangkul Fay, kemudian menarik tubuh Fay hingga mendekat. ”It’s alright... Menangislah sebanyak yang kamu perlukan. Mengkhianati orang yang kita cintai tidak akan pernah  terasa  mudah... saya mengerti. Lalui saja hari demi hari dengan langkah kecil. Pada waktunya nanti semua akan berakhir dan hubunganmu dengan pemuda istimewa itu bisa kembali didasarkan pada cinta dan ketulusan.” Ia mencium kepala Fay lembut.

Dengan isak tangis semakin kencang hingga tubuhnya terguncang, Fay pun membiarkan air matanya tumpah ruah dalam dekapan erat Raymond.

***

Andrew menyerahkan gelas anggur pada Raymond, yang langsung menerimanya, lalu menyesapnya sedikit sebelum duduk di sofa di ruang kerja Andrew. Andrew ikut duduk di sebelah Raymond, kemudian menyandar sambil menyilangkan kaki dan bertanya, ”Jadi, bagaimana? Perkiraanku benar?”

”Ya. Dia masih terguncang.”

”Itu juga yang kupikirkan tadi, ketika dia keluar dari ruangan ini setelah aku bicara dengannya sedikit tentang nilai dan makna loyalitas di keluarga ini. Itu sebabnya aku meneleponmu dan memintamu untuk memeriksa kondisinya.”

Raymond menatap Andrew sejenak, kemudian berkata, ”Kenapa aku punya firasat bahwa pembicaraan tentang loyalitas  antara  kau dan Fay tidak dilakukan dengan kata-kata semata?”

Sudut bibir Andrew terangkat. ”Well, aku harus mengakui bahwa kejadian sebenarnya memang lebih keras daripada kesan yang ditunjukkan  kalimatku  tadi.”  Ia  tertawa  tanpa  suara,  lalu  menyesap anggurnya perlahan.

Raymond berdecak sambil menggeleng. ”Tidak bisakah kau menahan diri sedikit?”

”Kau tahu aku terbiasa menghadapi para pemuda yang kelebihan energi... tapi mungkin dengan Fay aku harus bisa lebih menahan diri.”

”Aku sudah pernah mengingatkanmu bahwa tugas ini terlalu berat baginya secara emosional. Bagi Fay, pemuda yang menjadi target operasi itu adalah pacarnya... dan perasaannya pada pemuda itu bukanlah sandiwara.”

Andrew mengangkat tangannya yang tidak memegang  gelas anggur, seperti tanda menyerah. ”Aku tahu, Ray... Aku akui kau benar dan aku salah...”

Raymond mengangkat alisnya. ”Apakah aku tidak salah dengar?

Tidak sering aku mendengarmu mengaku salah...”

”Itu karena aku memang jarang salah,” balas Andrew.

”Atau, mungkin kau melunak sejak punya keponakan perempuan? Kelihatannya  kita  perlu  lebih  banyak  keponakan  perempuan,”  ucap Raymond sambil mengangkat gelas anggurnya ke arah Andrew.

Andrew tersenyum. ”Satu orang sudah cukup bagiku. Kau harus menunggu rekrutmen baru bila ingin satu lagi. Usulku, jangan cari masalah baru.”

Raymond tertawa kecil. Ia kemudian bertanya, ”Jadi, apa rencanamu sekarang?”

”Tidak ada yang berubah. Dia tetap akan menjalankan tugas ini di bawah pengawasan Bobby. Kau akan menjadi pelindungnya selama beberapa waktu ke depan.”

”Apa peranmu dalam tugasnya kali ini?”

Andrew berkata sambil lalu, ”Tidak penting... Hanya sebuah peran kecil yang akan membuat dia melakukan apa yang perlu dilakukan untuk keluarga ini.”

Raymond meletakkan gelas anggurnya yang telah kosong, lalu berdiri.

Andrew ikut berdiri sambil berkata, ”Good  night, Ray.”

Raymond menggeleng. ”Malam ini belum berakhir... Aku masih harus menangani Reno.”

Andrew mengangkat alisnya. ”Ada apa dengan Reno?”

”Aku menangkap basah dia sedang berada di kamar tidur Fay.   Dia bilang dia masuk lewat balkon secara sembunyi-sembunyi karena ingin meminta maaf.” Raymond menoleh dan bertanya, ”Apakah kau tahu apa yang dimaksud oleh Reno?”

Andrew mengangkat bahu. ”Aku bisa saja menceritakannya padamu, tapi bukankah lebih menyenangkan memaksa pengakuan keluar dari mulut Reno, dan sesekali melihat keponakan kita yang besar kepala itu menyerah kalah dan tertunduk patuh?”

Raymond tertawa kecil. ”Kau selalu mengejutkanku, tapi kali ini aku  setuju.  You’re  right,”  ucapnya.  ”I’ll  see  you  tomorrow  morning,” tambahnya, kemudian berlalu.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊