menu

Trace of Love Bab 08: A Little Surprise

Mode Malam
A Little Surprise

FAY menghirup tehnya sambil memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di Gare du Lyon, salah satu stasiun utama kota Paris yang melayani rute-rute kereta jarak jauh.

Fay memeriksa telepon genggamnya—Enrique belum membalas pesannya. Hari ini kursus libur dan semalam mereka menyusun rencana untuk mengunjungi Museum Louvre.  Namun,  tadi  pagi  Enrique menelepon dan mengubah rencana—mereka tidak jadi bertemu di Louvre, tapi di Gare du Lyon, karena Enrique minta  ditemani untuk menemui seorang temannya yang hanya mampir  sebentar saja di stasiun ini.

Fay kembali menghirup tehnya, lalu tersenyum sedikit ketika ingat aktivitasnya bersama Enrique sepulangnya dari kantor kemarin.

Setelah hari sebelumnya menghabiskan waktu seharian penuh di kantor, kemarin ia bernapas lega ketika Bobby mengizinkannya  pulang pukul tiga sore. Yang pertama ia lakukan begitu telepon genggam dikembalikan ke tangannya adalah menelepon Enrique. Mereka sepakat untuk bertemu, dan sepanjang sore mereka menghabiskan waktu di Parc Monceau, hanya duduk-duduk di atas rumput sambil mengobrol, makan es krim, dan menikmati pemandangan hijau dan udara segar. Pulangnya, Enrique menemaninya main ayunan di salah satu pojok taman kecil yang mereka lewati. Dua jam mereka duduk di ayunan sambil bercanda dan mengobrol.

Rasanya menyenangkan punya kehidupan normal di luar segudang aturan dan kebiasaan keluarga yang tak lazim serta aktivitas kantor yang membuat depresi—benar-benar surga dunia.

Enrique  tiba-tiba  saja  muncul  di  meja  Fay.  ”¡Hola,  amiga!”  sapanya, kemudian langsung menambahkan, ”kita harus buru-buru.”

Fay tertegun sebentar sebelum tersadar ada yang tak biasa—ia sudah terbiasa diberi pelukan dan kecupan ringan oleh Enrique setiap kali mereka bertemu. ”Kenapa sih kok buru-buru amat? Tehku baru kuminum setengah,” protes Fay.

”Sori...  ini  salahku,”  ucap  Enrique  sambil  meletakkan  uang  lima Euro di meja, lalu langsung menarik Fay tanpa menunggu kembali an.

”Eh...  sebentar,  bukan  itu  masalahnya,”  protes  Fay  sambil  buruburu menyambar tasnya, kemudian setengah terseret mengikuti langkah lebar Enrique keluar dari kafe.

Begitu keluar dari kafe, langkah Enrique semakin cepat, dan akhirnya ia berlari, ”Ayo, Fay... cepat! Keretanya sudah mau berangkat!” Fay tak punya pilihan—tangannya ditarik oleh Enrique yang berlari seperti orang kesetanan, menyelip ke kiri dan ke kanan di antara

orang-orang yang lalu-lalang di Gare de Lyon.

”Kamu janjiannya gimana sih? Buru-buru amat,” ucap Fay sedikit mangkel di sela-sela napasnya yang terengah.

”Iya...  kurang  perencanaan,”  jawab  Enrique  singkat,  tanpa  memperlambat ayunan kakinya. Ia terus berlari ke arah peron sambil menarik Fay, kemudian berhenti dengan napas tersengal-sengal di depan sebuah gerbong.

Fay langsung berusaha menenangkan napasnya  yang  memburu  dan kakinya yang seakan mau copot.

”Kita harus naik ke kereta dulu,” seru Enrique.

Baru belakangan, sebuah pertanyaan melintas di kepala Fay: kalau teman Enrique sudah telanjur naik kereta, kenapa malah ia dan Enrique yang harus naik ke kereta, bukannya teman Enrique itu  yang turun dan menemui mereka di peron? Pertanyaan susulan segera muncul: siapa teman Enrique? Cowok atau... cewek? Kok sampai dibela-belain begini? Fay tiba-tiba saja merasa terganggu dengan pertanyaan susulan itu, dan kesadaran bahwa ia terganggu malah membuatnya semakin gelisah.

Enrique terus menarik tangan Fay dengan terburu-buru.

Fay mengikuti Enrique naik ke gerbong TGV Lyria, kereta cepat dengan bentuk futuristik seperti kapsul. Gerbong yang mereka naiki memiliki dua kursi di sisi kiri dan kanan, seperti kereta pada umumnya, namun ada sesuatu dengan desain gerbong yang membuatnya tampak modern dan berkelas. Ia melihat Enrique berjalan cepat di depannya sambil melihat ke kiri dan ke kanan, dan ia langsung merasa tidak nyaman ketika pertanyaan tentang teman Enrique melintas lagi di benaknya.

Terdengar suara orang berbicara lewat pengeras suara.

Fay menyimak dan terkesiap. Ia langsung menjawil Enrique. ”Eh, kita harus turun sekarang, keretanya sudah mau berangkat.”

Enrique mengabaikan Fay dan terus berjalan sambil memperhatikan nomor kursi penumpang.

Fay  berdecak dan baru saja mau bicara lagi, ketika tiba-tiba saja    ia mendengar suara-suara pintu menutup, disusul dengan gerak perlahan kereta meninggalkan peron. ”Enrique!” serunya panik.

”Nah, ini dia...,” ucap Enrique, lalu berdiri di sisi kursi.

Fay melongo menatap Enrique yang berdiri di sebelah dua kursi yang kosong. ”Mana temanmu?” tanyanya sambil melihat wajah Enrique yang tersenyum lebar.

”Temanku ya kamu,” jawab Enrique sambil cengengesan, lalu tertawa terbahak-bahak. ”Fay, wajahmu lucu sekali. Ayo, duduk dulu.”

Fay bergeser dan duduk di sisi jendela sambil berusaha mencerna. Tak butuh waktu lama hingga ia bisa menebak apa yang terjadi, dan kepanikan langsung merentas begitu saja. ”Kamu apa-apaan sih, mau ngajak pergi nggak bilang-bilang! Kalau aku nggak bisa atau  ada acara lain, gimana?” protesnya.

Enrique duduk di sebelah Fay dan menjawab ringan, ”Aku mau kasih kejutan, jadi nggak mungkin bilang-bilang. Kan kamu pernah protes waktu minggu lalu aku bilang mau kasih kado... menurutmu aku menghancurkan elemen kejutan dengan memberitahumu seperti itu.”

”Tapi, kalau aku ternyata ada acara lain gimana?” sahut Fay masih dengan nada tinggi.

”Ya kita pulang lagi saja. Lagi pula, kan satu-satunya acara kita hari ini adalah ke Louvre,” jawab Enrique santai.

Fay menarik napas panjang untuk menenangkan diri.  Perlahanlahan seluruh kejadian ini mulai masuk akal dan kelihatannya memang tak ada alasan untuk panik. Bayangkan, Fay, sahabat-sahabat SMA lo, Dea, Lisa, dan Cici, bisa histeris sambil  nangis bombay kalau dengar lo diajak pergi sama cowok keren dan ehm, seksi, ini dengan TGV Lyria ke... eh, ke mana ya? Fay menoleh ke Enrique. ”Sebenarnya ini kereta ke mana?” tanyanya dengan perasaan yang mulai terangkat.

”Jenewa.”

Fay terdiam sebentar sebelum membelalak. ”Jenewa? Maksud kamu, Jenewa di Swiss?”

”Memangnya Jenewa ada di mana lagi?” tanya Enrique sambil nyengir, lalu mengucek-ucek kepala Fay pelan.

Fay langsung terenyak di kursi. Benar-benar mati! Melakukan perjalanan melintasi perbatasan Prancis tanpa izin adalah pelanggaran daftar oranye!

Enrique  tertawa  kecil.  ”Tenang,  Fay,  kamu  jangan  panik  begitu. Ini kan kereta cepat. Dengan TGV ini ke Jenewa  hanya  makan  waktu tiga setengah jam. Kita bisa keliling-keliling di Jenewa setengah hari, lalu kembali ke Paris malam hari.”

Fay mengangguk lemas sambil menenangkan diri—bukan itu masalahnya, tapi ia tak mungkin mengutarakannya pada Enrique. Setelah terdiam beberapa saat, ia berdiri. ”Geser sedikit, aku mau ke toilet.”

Enrique bergeser dan Fay buru-buru berjalan ke toilet. Ia akan menelepon Andrew sekarang, kemudian berpura-pura minta izin pergi ke Jenewa seakan-akan ia belum berangkat. Ia benci harus berbohong, tapi mau apa lagi? ***

”Bagaimana kondisi dua pasien di Unit Eksperimen Pikiran dan Perilaku?” tanya Andrew pada Philippe yang duduk di hadapannya  di ruang kerjanya di markas COU. Unit yang dimaksud adalah unit riset khusus yang ada di L’Hopital du Dent Blanche, yang secara formal ada dalam pengawasan Direktorat Control Unit yang di pimpin oleh Philippe.

”Maksudmu, Batman dan Catwoman?” tanya Philippe. ”Ya.”

”Batman mengalami amnesia dan sedang diobservasi. Sedangkan Catwoman sudah mengalami kemajuan berarti dalam terapi. Di awal terapi, Catwoman menunjukkan gejala depresi, namun bisa ditanggulangi dengan obat antidepresan. Setelah itu, secara mengejutkan dia bersikap reseptif terhadap terapi. Reaksi itu sangat bertolak belakang dengan objek-objek eksperimen yang selama ini ada, yang cenderung melawan saat awal terapi. Kau tentunya tahu bahwa perlawanan akan memunculkan sebuah tembok mental yang harus dipecahkan terlebih dulu, dan itu berarti pekerjaan ekstra. Namun Catwoman bersikap seolah memilih dengan sadar untuk mengikut terapi.”

”Apakah itu berarti hasilnya akan efektif?” tanya Andrew. ”Secara umum sikap reseptif terhadap sebuah terapi akan mem-

bantu memberi hasil yang baik. Kita segera  akan  tahu...  dia  baru saja selesai menjalani prosedur penanaman memori baru. Hari ini tim riset akan mulai mengujinya dengan membawanya ke Jenewa.”

”Kenapa Jenewa?”

”Terkait  dengan  latar  belakang  yang  diberikan  padanya:  bahwa selama beberapa tahun terakhir dia tinggal di Jenewa dan bekerja di kantor pusat Perserikatan Bangsa-bangsa. Dengan melepasnya langsung di Jenewa kita bisa mengamati reaksinya saat melihat tempattempat dan bertemu objek-objek yang seharusnya dia kenali berdasarkan memori baru yang ditanam.”

”Bagaimana dengan memori lama yang telah dihapus? Apakah kita bisa tahu prosedur penghapusan berjalan sesuai harapan?”

”Sebenarnya yang terjadi bukan penghapusan, tapi penutupan. Saat ini mustahil menghapus memori tanpa menyebabkan kerusakan otak. Para peneliti percaya bahwa penanaman memori baru  akan  secara otomatis menutup akses ke memori lama. Pengujian pe nutupan memori lama hanya bisa dilakukan bila penanaman memori baru sudah terbukti efektif.”

Andrew mengangguk.

Philippe bertanya, ”Kenapa kau tertarik untuk tahu secara khusus tentang Catwoman dan Batman?”

Andrew menjawab sambil lalu, ”Just  curious. Kebetulan aku yang mengirim mereka.”

”Bagaimana caranya kau bisa mendapat dua objek secara sekaligus seperti ini?”

”Mereka penumpang di pesawat yang membawa target dari salah satu operasi. Tim pembersih datang ke lokasi untuk mengonfirmasi kematian target, tapi malah menemukan dua korban selamat, jadi aku minta tim pembersih untuk mengevakuasi mereka.”

”Sempurna... tidak akan ada jejak karena mereka dilaporkan meninggal dunia. Apakah mereka ada hubungannya dengan target?”

”Tidak ada. Hanya dua orang malang yang kebetulan berada di tempat yang salah.”

Philippe berkata, ”Aku rasa dunia tidak akan kehilangan mereka.” ”Aku rasa begitu,” ucap Andrew singkat.

Philippe menatap Andrew sebentar, kemudian bertanya, ”Bagaimana kau akan menjelaskan eksperimen ini di forum  fte Shadow yang akan datang? Bukankah di evaluasi terakhir, fte Shadow menyatakan keberatan atas eksperimen pada manusia?”

Andrew mengangkat bahu. ”Hanya catatan keberatan, bukan penolakan. Mereka tahu kita punya isu dengan agen-agen yang sudah memasuki usia nonproduktif. Tidak ada metode yang bisa menjamin mereka tidak buka mulut tentang COU dan keluarga McGallaghan setelah mereka tidak aktif lagi di kantor. Eksperimen semacam ini mungkin tidak disukai, tapi semakin dibutuhkan dengan berkembangnya organisasi.”

Telepon genggam Andrew berdering. Andrew mengangkat alis melihat nama Fay muncul di layar. ”Good  morning,  Fay.  Ada  apa?”  Ia  mendengar  Fay  berdeham sedikit sebelum berbicara.

”Paman, teman saya membelikan dua tiket kereta ke Jenewa, pulang-pergi untuk hari ini. Apakah saya boleh pergi?”

Andrew terdiam sesaat. ”Apakah temanmu ini punya nama?” tanyanya akhirnya dengan intonasi datar sambil membuka sebuah aplikasi di layar komputer di hadapannya.

”Iya... Enrique.” Suara Fay agak gugup ketika menjawab. ”Apakah kamu sudah di kereta dan pertanyaanmu tadi berfungsi

sebagai pemberitahuan, atau kamu belum berangkat dan berusaha meminta izin?” tanya Andrew sambil mengamati tampilan di layar.

”Eh... mm, yang kedua.”

Andrew tidak melepas tatapannya dari layar yang menunjukkan sebuah peta dengan posisi semua anggota keluarga saat ini. ”Benarkah begitu? Sementara kita berbicara, saya membuka Aplikasi Pergerakan real-time, dan pemancar di telepon genggammu berkata bahwa kamu bergerak dengan kecepatan mengagumkan, 320 km/jam ke arah timur. Saya tidak tahu kamu bisa berlari secepat itu, young lady.”

Hening sejenak.

Andrew menggeleng—apakah keponakannya berpikir bisa membohongi pimpinan keluarga ini dengan mudah? Ia sudah hafal semua   trik yang dilakukan para keponakannya. Ia pun dulu pernah ada di posisi mereka. Kent dan Larry pernah melakukan hal serupa bebe rapa tahun lalu. Kent meninggalkan telepon genggamnya di stasiun  sehingga kepergiannya ke luar Paris tidak terlacak komputer,  dan Larry mengikat telepon genggamnya ke anjing temannya di apartemen sehingga terlihat seolah-olah ada pergerakan normal. Bahkan dengan kecerdikan mereka saja, para paman bisa menangkap basah  mereka tanpa kesulitan. Sebenarnya, ia pribadi menghargai sebuah tindakan cerdik—bagaimanapun itu adalah  buah  dari  kecerdasan,  tapi tidak demikian halnya dengan kebohongan.

”Maaf, Paman... Saya sudah di kereta...”

”Bukankah belum lama ini saya memperingatkanmu untuk meminta izin sebelum melakukan sesuatu dan bukan setelahnya?” ”Tadi teman saya memberi kejutan dan tidak memberitahu kalau dia sudah membelikan tiket.”

Andrew bersandar ke kursi. Suara Fay terdengar cemas, seperti memelas, dan ia bisa menangkap sedikit getaran di suara Fay. ”Pukul berapa kamu akan pulang dari Jenewa?”

”Saya belum tanya...”

”Tanya ke temanmu apakah dia sudah membeli tiket pulang. Bila sudah, informasikan ke saya segera jam berapa keretamu nanti. Bila belum, atur kepulanganmu sehingga kamu tiba di apartemen sebelum pukul sepuluh malam.”

”Yes,  Uncle.”

Andrew berkata dengan intonasi yang lebih lunak, ”Saya tidak suka dibohongi, tapi saya akan menunda diskusi tentang kebohonganmu tadi hingga lain waktu. Sekarang saya memberimu izin untuk pergi ke Jenewa dan bersenang-senang dengan temanmu. Hati-hati dengan dokumen dan tasmu, dan hindari jalan-jalan yang sepi.”

”Thanks,  Uncle!”

Andrew tersenyum sedikit mendengar nada riang dengan kelegaan yang  begitu  kentara  dalam  suara  keponakannya.  ”Take  care,  young lady,” ucap Andrew, lalu menutup telepon. Di hadapannya, Philippe menatapnya dengan raut kesal.

”Aku bukannya mau mencuri dengar, tapi kau bicara di depanku dan jelas-jelas aku mendengar keponakanmu baru saja membohongimu. Dan, bukannya memberi hukuman, kau malah menyuruhnya bersenang-senang? Apakah kau sudah gila?”

”Fay keponakanku, jadi aku akan menanganinya dengan caraku, sesuai waktunya. Now, will you excuse me, I have to make a phone call.”

Philippe berdiri dan keluar dari ruangan, masih dengan raut wajah kaku dan sorot mata kesal.

Setelah pintu tertutup, Andrew kembali memperhatikan layar yang menampilkan pergerakan Fay. Ia berdecak sambil menggeleng— kebetulan yang mengganggu. Ia lalu berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangkat telepon untuk menghubungi Kepala Riset Unit Eksperimen Pikiran dan Perilaku. ”Hello,  Sir.”

”Aku ingin bertanya tentang prosedur yang sedang dijalani salah satu pasienmu sekarang, Catwoman.”

”Yes, Sir. Catwoman kemarin meninggalkan fasilitas dan semalam sudah mulai menginap di Jenewa. Itu terkait dengan latar belakangnya, yaitu...”

”Aku  tahu,”  potong  Andrew.  ”Apa  agenda  Catwoman  hari  ini?

Apa yang akan dia lakukan di Jenewa?”

”Hari ini dia akan mengunjungi Kantor Pusat PBB untuk eksperimen pengenalan lokasi. Besok dan lusa dia juga masih mengunjungi Kantor Pusat PBB, namun untuk mengidentifikasi orang-orang yang seharusnya dia kenali berdasarkan memori baru yang ditanam.”

”Siapa yang mendampingi Catwoman selama di Jenewa?”

”Satu orang adalah peneliti senior dari L’Hopital du Dent Blanche, Dublin Brown—saya yang menugasinya. Satu orang lagi staf perusahaan keamanan yang direkomendasikan langsung oleh Mr. Philippe Klaan untuk mengawal Catwoman... sekaligus untuk... mm... mengambil tindakan yang diperlukan bila ternyata Catwoman tidak bereaksi sesuai yang diharapkan dan membuat kekacauan.”

”Staf perusahaan keamanan ini... apakah dia punya nama?” ”Maaf, Sir, Mr. Klaan mengatur sehingga dia langsung menemui

Dublin di Jenewa, jadi saya tidak tahu namanya. Saya bisa tanyakan ke Dublin bila Anda mau.”

”Tidak perlu.  Thank  you.”

Andrew menutup telepon—Kepala Riset tak perlu tahu bahwa ia ikut campur hingga sejauh ini. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk membuat satu lagi panggilan telepon—tak ada salahnya berjaga-jaga, walaupun ia harus melakukannya dengan cermat di luar sepengetahuan siapa pun, termasuk Philippe. Ia lalu menghubungi salah satu analisnya.

”Yes,  Sir?” Terdengar suara analisnya.

Andrew berkata, ”Cari tahu siapa agen kita di SecureIntel yang sekarang sedang berada di Jenewa. Lakukan secara tertutup...”

Andrew baru saja menutup telepon ketika pintu kaca dari ruang komando operasi terbuka dan Raymond Lang masuk ke ruangan. ”Aku baru saja menerima laporan dari tim Operasi Echo bahwa target tiga naik kereta ke Jenewa bersama anak asuhmu. What is  going on? Kau seharusnya memberitahuku bahwa Fay punya rencana ke Jenewa sehingga aku dan Bobby bisa melakukan persiapan.”

Andrew menatap Raymond sebentar, kemudian berkata, ”Ini bukan perjalanan yang direncanakan. Fay baru saja meneleponku, memberitahu bahwa Enrique memberinya kejutan.”

Raymond menggeleng sambil mengembuskan napas. Raut wajahnya kesal. ”Bobby mengusulkan pengintaian jarak dekat dan aku sudah memberi otorisasi. Saat ini hanya ada satu agen yang stand by di Jenewa, tapi dia sedang diberi tugas khusus oleh Philippe. Jadi,   kita harus mengirim agen dari sini menggunakan pesawat jet dan melanjutkan pengintaian di sana. Namun, agen  itu  akan  bekerja  tanpa dukungan unit di lapangan karena kita tidak akan sempat memobilisasi unit dari Paris ke Jenewa.”

”Sounds  good. Siapa yang ingin dikirim Bobby?”

”Bobby ingin melakukan rotasi agen lagi. Ia ingin mengirim Russel dan Kent yang dua hari terakhir membuntuti target dua. Apakah kau setuju?”

Andrew sejenak terdiam, kemudian mengangguk. ”Perfect, Ray.”

***

Janet Ville membuka aplikasi pergerakan di telepon genggamnya. Aplikasi ini ada di semua telepon genggam agen COU, tapi siapa saja yang bisa terpantau oleh program ini tergantung pada level agen yang bersangkutan atau pada kepentingannya. Biasanya tak ada satu nama pun yang bisa ia pantau di telepon ini, tapi tadi Direktur baru saja membuka level aksesnya sehingga ia bisa melihat posisi Fay, keponakan Direktur, yang juga tetangganya di apartemen—bukan kebetulan. Semua gerak-gerik anak McGallaghan diawasi dengan ketat—seorang agen pasti ditempatkan di tempat tinggal yang sama dengan setiap anak, tanpa sepengetahuan mereka.

Secara pribadi Janet menyukai Fay. Gadis itu ramah, rendah hati, dan tak bertingkah. Kadang ia tidak tega ketika harus memampangkan kebohongan di hadapan Fay, seperti beberapa minggu yang lalu, ketika ia diminta oleh Direktur untuk memancing Fay dengan pertanyaan tentang keberadaan Fay pada malam hari. Direktur ingin menguji Fay dan melihat apakah reaksi Fay atas pertanyaan itu sesuai protokol atau tidak. Janet pun secara sambil lalu bertanya apakah Fay pergi ke kelab atau pergi berpesta ketika ia mengetuk pintu pukul sepuluh malam. Untung Fay tidak keceplosan menjawab bahwa dia tidak tidur di apartemen.

Kali ini perintah Direktur cukup sederhana. Janet diminta untuk memantau posisi Fay yang sedang berjalan-jalan di  kota  Jenewa,  demi memastikan Fay tidak berpapasan dengan subjek yang akan ia bawa berkeliling di kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), seorang pasien wanita dari L’hopital du Dent Blanche yang di kartu identitasnya bernama Renata Oliver.

Janet tidak mengerti alasan perintah Direktur, tapi sudah cukup terlatih untuk menyadari posisinya, sehingga tidak mengajukan pertanyaan yang hanya didasari keingintahuan semata. Tugasnya hari ini hanyalah mengawal wanita ini berkeliling, sedangkan rekannya, Dublin Brown, peneliti dari L’hopital du Dent Blanche, bertugas melakukan observasi atas wanita itu, entah apa.

Janet memasang alarm, sehingga teleponnya akan berdering untuk memberi peringatan bila Fay berada kurang dari seratus meter dari posisinya. Saat ini aplikasi menunjukkan Fay  masih dalam perjalanan   ke Jenewa, diperkirakan tiba satu jam lagi.

”Saya sudah siap berangkat sekarang.”

Janet menyimpan telepon genggamnya, lalu berbicara pada wanita pertengahan empat puluh berambut sebahu warna kemerahan di hadapannya. ”Sure.  Let’s  go.”

”Kita ke mana dulu?” tanya Renata.

”Langsung  saja  ke  Palais  des  Nations.  Kantormu.”  Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Renata mengangguk, tapi wajahnya seperti berpikir. Ia lalu bergumam sambil berjalan ke luar kamar. ”Palais des Nations. Kantor saya.”

*** Palais des Nations

Janet menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan, melihat sudutsudut tersembunyi, pintu-pintu, jendela, tangga, dan mengamati petunjuk ruangan. Otomatis ia akan melakukan itu ketika tiba di sebuah lokasi.

Rekannya, Dublin, berjalan di depannya dan sibuk berbicara dengan Renata. Mereka mengarah ke pameran yang berada di lobi. Partisi-partisi tinggi disusun seperti acak, bersilangan, namun simetris, menampilkan foto-foto salah satu badan PBB yang mengurusi pengungsi, UNHCR. Di beberapa partisi terdapat juga layar-layar komputer yang menayangkan video.

Janet berhenti di sisi partisi terluar, kemudian mengeluarkan telepon genggam dan memeriksa laporan pergerakan sekadar untuk memastikan. Fay seharusnya sudah tiba di Jenewa satu jam yang lalu. Aplikasi menunjukkan Fay masih berada di stasiun. Keningnya berkerut sedikit—kenapa gadis itu masih tertahan di stasiun?

”Janet!”

Janet berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya, dan detik itu juga wajahnya pucat. Fay! Bagaimana bisa? Sayup-sayup terdengar suara Renata sedang berbicara dengan Dublin di balik salah satu partisi. Janet buru-buru menghampiri Fay, ”Hai, Fay.”

”Aku nggak menyangka bisa ketemu kamu di sini,” ucap Fay bersemangat.

Janet tersenyum gugup sambil sedikit bergeser sehingga Fay membelakangi pameran. ”Iya, saya sedang jalan-jalan.” Ia melirik pemuda yang ada di sebelah Fay, yang langsung menyapa ramah sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

”Enrique,  pleased  to  meet  you.”

”I’m  Janet.  Saya  tinggal  di  sebelah  apartemen  Fay.”  Janet  tersenyum, namun dadanya berdebar ketika lewat sudut matanya ia melihat Renata dan Dublin muncul dari balik partisi. Jarak Fay dengan mereka tak sampai dua puluh meter. ”Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Janet buru-buru. Ia mengembuskan napas lega ketika Dublin mengajak Renata masuk ke balik partisi lain. Fay menjawab, ”Kami tadi naik TGV dari Paris. Begitu tiba langsung ke sini. Ini baru saja selesai tur, sekarang mau lihat-lihat pameran dulu sebelum jalan-jalan di kota Jenewa.”

Jantung Janet berdegup. ”Kalian mau foto bersama? Di sebelah sana sudut gambarnya pasti bagus sekali karena bisa mendapat latar belakang  lobi  secara  menyeluruh,”  ucap  Janet  sambil  menunjuk  sisi lobi yang terjauh.

Enrique dan Fay tampak antusias. ”Thank you so much. Kami dari tadi belum punya foto berdua yang layak,” ucap Enrique semangat. Janet berjalan menjauhi pameran sambil mengembuskan napas lega. Ia memang tidak tahu alasan Direktur memberi instruksi yang tampak remeh ini, tapi hal terakhir yang ia inginkan adalah gagal menjalankan perintah yang diberikan langsung oleh pria itu, dan harus berhadapan dengannya di kantor. Karisma yang dipancarkan pria tampan itu dalam keadaan normal saja kadang membuatnya

terintimidasi, apalagi bila yang tampak adalah kemarahannya.

Enrique menyerahkan telepon genggamnya pada Janet dan langsung menarik serta merangkul Fay untuk berpose.

Janet mengambil beberapa pose, lalu mengembalikan telepon pada Enrique sambil bertanya ke Fay. ”Kamu mau foto pakai telepon genggammu?”

Fay berkata, ”Tadi baterainya sudah low, jadi sengaja aku hemathemat  pakainya.”  Ia  menepuk-nepuk  kantong  celana,  kemudian merogoh tasnya. Wajahnya perlahan-lahan berubah panik. ”Kok nggak ada ya?”

Janet berkata sambil lalu. ”Mungkinkah tertinggal di stasiun?” Ia membuka telepon genggamnya dan sekilas melihat aplikasi pergerakan tanpa kentara—benar, masih di stasiun. Ia menutup teleponnya dan tidak berkata apa-apa.

”Jangan-jangan ketinggalan di kereta!” seru Fay panik.

Enrique menenangkan Fay. ”Kita telepon stasiun dan laporkan.” ”Mau aku bantu laporkan?” tanya Janet.

Fay mengangguk lega. ”Thank  you.”

Janet meminta nomor kursi Fay dan Enrique, lalu menelepon  stasiun dan melaporkan kehilangan. Ia mendengar penjelasan petugas, lalu menutup telepon. ”Petugas menemukan teleponmu saat sedang membersihkan kereta. Kalian hanya tinggal datang ke bagian kehilangan, kemudian menunjukkan tiket kereta yang ada nomor bangku.”

Fay mengembuskan napas lega tanpa malu-malu. ”Janet, terima kasih banyak.”

Janet  tersenyum.  ”No  problem,  Fay.  Kalian  berdua,  selamat  bersenang-senang ya... Jangan lupa jalan-jalan di sekitar Katedral St. Peter. Itu area kota tua yang sangat indah, banyak kafe dan toko dengan suasana berbeda. Telepon genggammu bisa kamu ambil sebelumnya, atau sekalian saja nanti ketika pulang. Sebaiknya kalian bergegas... Banyak yang bisa dilihat di kota. Bisa-bisa nanti tidak keburu  kalau  terlalu  lama  di  sini.  Sampai  jumpa  di  Paris,”  ujarnya ramah, walaupun dalam hati ia sudah tak sabar ingin mengenyahkan kedua remaja ini sesegera mungkin dari sini. Berikutnya, jantungnya berdegup lebih cepat ketika melihat tatapan  Fay  turun dari wajahnya  ke arah tanda pengenal yang ia pakai di dada. Sial, nama yang tertera di badge  adalah ”Larmine Farrell”!

Dahi Fay sedikit berkerut.

Janet memampangkan senyum geli sambil meletakkan telunjuknya di bibir. ”Jangan keras-keras. Ini badge adikku. Dia baru saja bekerja di sini dan dia ingin menunjukkan kantornya padaku jadi dia meminjamkan badge ini. Aku tidak bisa masuk ke ruangannya kalau tidak pakai badge.”

Fay memajukan kepalanya ke arah badge kemudian berkata, ”Ini adikmu? Wajahnya sama persis dengan kamu...”

”Iya, wajah kami mirip seperti kembar. Selisih umur kami hanya setahun. Kamu tahu kan, anak kembar dulu suka bertukar tempat? Kami juga dulu kadang melakukannya.” Janet mengamati reaksi Fay dan mengembuskan napas lega ketika melihat kerutan di dahi Fay memudar dan wajah gadis itu lebih rileks dan dia malah ikut tersenyum geli.

”Enak ya punya saudara seperti itu... pasti seru sekali,” ujar Fay.

Enrique ikut berkomentar, ”Bukankah adikmu bisa dipecat kalau sampai ketahuan?” Janet memutar bola matanya. ”Itu yang kubilang padanya. Ini sebenarnya kekanak-kanakan, tapi dari dulu dia lebih suka mengambil risiko daripada aku. Dan, aku hampir selalu terpancing rencana-rencananya.  Sepertinya  kebiasaan  lama  sulit  hilang.”  Janet berhenti sebentar, kemudian memutuskan menyudahi pembicaraan sebelum semuanya menjadi terlalu berlarut-larut. ”Aku masuk dulu ya...”

Fay mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Janet, yang lalu berjalan menjauh. Ia baru saja mau berbalik ketika matanya tiba-tiba saja menangkap sosok seorang wanita berambut pendek keluar dari  area pameran dan berjalan menjauh. Dadanya langsung berdegup  cepat. Ia melihat wanita itu berjalan membelakanginya ke arah pintu khusus pegawai, lalu mengeluarkan kartu identitas untuk membuka  pintu. Berikutnya, wanita itu masuk ke ruangan  bersama  seorang  pria.

Suara Enrique menyadarkan Fay. ”Kenapa wajahmu pucat begitu?”

Fay menggeleng, lalu menghela napas. ”Wanita itu mengingatkan aku pada ibuku.”

”Wanita berambut merah yang tadi masuk ke area pegawai?” ”Iya. Aku nggak tahu kenapa. Padahal rambut ibuku hitam dan

nggak pernah dicat. Dan ibuku juga nggak sekurus wanita tadi. Aku malah nggak lihat wajahnya, cuma dari belakang saja.”

Enrique merangkul Fay, lalu menepuk-nepuk pundak gadis itu. ”Kadang-kadang memang seperti itu. Aku mengartikannya sebagai pengingat, bahwa orang-orang yang kita cintai akan selalu ada bersama kita. Bila itu terjadi, doakan saja mereka dan ucapkan terima kasih karena mereka masih terus bersama kita, setidaknya di hati.”

”Iya,” gumam Fay dengan perasaan bersalah ketika ingat sajadahnya yang akhir-akhir ini semakin jarang dihamparkan.

”Hei, mau langsung jalan lagi? Janet bilang banyak yang bisa dilihat di tengah kota.”

Fay  mengangguk.  ”Yuk,”  ucapnya  dengan  benak  masih  setengah menerawang. ***

Fay mengambil garpu dengan dua tusukan yang ada di atas meja— bukan tiga seperti garpu biasa—kemudian menusuk satu potong roti renyah dan menyelupkannya ke dalam keju cair yang tersedia di  tengah meja. Cheese fondue.

Fay mengangkat roti yang berlumuran lelehan keju yang kental dan lengket dan merasa air liurnya menetes dengan mendekatnya roti itu ke mulutnya.

”Bagaimana? Enak?” tanya Enrique.

Fay tidak langsung menjawab. Mulutnya yang tertutup dan sedang menikmati rasa asin gurih yang hangat dan creamy dari keju, bercampur rasa manis yang diberikan roti, mengeluarkan bunyi-bunyian seperti huruf ”m” berderet panjang.

”Kelihatannya  pertanyaanku  tadi  nggak  berguna  ya...,”  tambah Enrique sambil nyengir.

Fay menelan dengan satu bunyi ”glup” besar dan menjawab sambil mengembuskan napas. ”Iya, kamu kasih pertanyaan kok retoris begitu.  Enaknya  bikin  aku  lumer...,”  ucapnya  sambil  bersiap  menusuk potongan roti kedua.

Mereka kini berada di sebuah kafe di Place du Bourg-de-Four, area kota lama Jenewa yang tadi disebutkan Janet. Dari tempat mereka duduk di pelataran jalan, di latar belakang terlihat menara Cathedrale St-Pierre menjulang. Satu menara kerucut berdiameter kecil berwarna hijau seperti mencuat dari dunia lain di belakang menara persegi bernuansa krem.

”Aku nggak ngerti keju kok bisa seenak ini ya,” ujar Fay dengan mulut penuh. Kalau ia ngomong dengan  mulut  penuh  begini  di meja makan bersama para pamannya, mungkin ia sudah dipelototi,  tapi sekarang ia tak peduli.

Enrique tertawa kecil, lalu menyodorkan sehelai tisu. Fay bersiap menerima tisu dari tangan Enrique, tapi Enrique ternyata langsung mengusap sudut bibir Fay dengan tisu itu.

”Ada tetesan keju di dekat mulutmu.” Fay mengucapkan terima kasih pelan dengan perasaan agak malu.

Makan kok kayak kambing kelaparan. Ih, malu-maluin!

Enrique kembali berbicara, ”Fondue  ini bukan sekadar keju yang dilelehkan. Keju yang dipakai ada dua, Emmental dan Gruyere. Kamu tahu kan, keju dari Gruyere terkenal sekali...”

Fay menggeleng. Pengetahuannya tentang keju masih terbatas pada cheddar dan parmesan yang biasanya ada di rak supermarket di Jakarta. Di Paris sebenarnya ia telah melihat betapa banyaknya varian keju yang tersedia di supermarket, bahkan di kastil pun ia mencicipi berbagai macam keju, tapi ia tak pernah ambil pusing jenis apa yang masuk ke mulutnya.

Enrique melanjutkan, ”Nanti kapan-kapan aku belikan untukmu supaya kamu bisa mencicipi rasa aslinya. Anyway, untuk membuat fondue, kedua keju itu dilelehkan dengan anggur putih dan dicampur  sedikit kirsch.”

”Kirsch  itu apa?”

”Sebangsa minuman keras dengan aroma dan rasa ceri.”

Bibir Fay membentuk huruf ”o” bulat, sementara perasaannya diterpa sekelumit rasa bersalah ketika tiba-tiba saja di benaknya muncul wajah guru ngajinya waktu kecil dulu. Entah apa yang akan dikatakan beliau—siapa ya namanya, Ustadz Yusuf atau Yunus?—bila tahu ia kini merem-melek makan keju yang dicampur minuman keras. Ia berhenti sebentar, lalu melihat Enrique menusuk roti dan menyelupkannya ke fondue. Begitu roti diangkat oleh Enrique, terlihat lelehan keju membalut roti hingga menetes-netes.

Fay menelan air liur.

”Kamu kayaknya ahli tentang keju Swiss ya? Kok bisa.”

Enrique  tertawa.  ”Memberiku  julukan  ‘ahli’  adalah  penghinaan terhadap dunia perkejuan. Kamu tahu, ada empat ratus jenis keju di Swiss dan aku hanya tahu beberapa saja, yang sering dipakai ibuku atau nenekku kalau masak... mungkin tak sampai sepuluh.”

Fay melirik arloji di tangannya—Swatch baru yang tadi ia beli di  La Cite du Temps, tempat terbesar di dunia untuk koleksi Swatch! Hingga detik ini Swatch masih menjadi merek arloji favoritnya, tak peduli ada merek lain yang sedang tren dan lebih bergengsi. Ia hampir gila tadi melihat jajaran arloji Swatch berbagai model dan warna, mulai dari funky hingga klasik, romantis hingga modern,  polos hingga bermotif. Satu-satunya yang membuatnya bisa menjaga kewarasannya dan tidak memborong banyak jam dengan uang sakunya yang melimpah adalah keberadaan Enrique. Cowok ini tak diragukan lagi akan bertanya-tanya dari mana ia punya uang sebanyak itu.

”Kenapa kamu lihat-lihat arloji, memangnya sudah mau pulang?” tanya Enrique santai.

”Aku cuma mau kasih tahu, sekarang sudah pukul empat.” ”Tiketnya kan masih pukul enam. Sekarang kita keliling-keliling

dulu atau duduk di bangku taman untuk menurunkan keju-keju ini di perut, baru kita ke stasiun. Nanti kita makan malam di kereta saja. Bagus kan, rencanaku?”

Fay  menggeleng  sambil  cemberut.  ”Tidak,  tidak  bagus...”  Ia  berhenti sebentar, tapi lalu tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya melihat Enrique menatapnya sambil mengangkat alis. Akhirnya ia berkata, ”Tidak bagus... tapi sempurna.”

Enrique mengambil tisu, menggumpalkannya menjadi bola, kemudian melemparkannya ke Fay dengan gemas.

***

Sepuluh menit kemudian mereka sudah berjalan melintasi Place de Longemalle, ke arah Danau Jenewa. Enrique berhenti ketika mereka harus menyeberangi Rue du Rhone, sebuah jalan raya yang dilalui kendaraan. Tangannya bergerak menggenggam tangan Fay.

Fay melirik tangan Enrique yang kini menggenggamnya. Enrique pernah beberapa kali menarik tangannya, tapi biasanya cowok itu hanya memegang pergelangan tangannya, tidak pernah menggenggam telapak tangannya seperti ini. Jalan pun sebenarnya cukup lengang. Hanya ada tiga mobil, itu pun ketiganya berhenti  dengan  sopan  ketika mereka menyeberang, padahal tak ada lampu merah yang memaksa mereka berhenti.

Tiba di trotoar, jantung Fay sedikit berdebar ketika melihat Enrique tidak melepas genggamannya, malah menautkan jari-jemarinya. Ia meringis sedikit ketika bekas luka yang diplester di telapak tangannya terasa agak nyeri.

Enrique berkata, ”Maaf, kena lukamu, ya?” Ia melonggarkan pegangannya sehingga genggaman tangannya menjadi lebih lembut, kemudian menggelengkan kepala. ”Aku masih nggak habis  pikir, kok bisa-bisanya kamu mengiris sosis menggunakan telapak tangan sebagai alas. Itu kan bahaya sekali... Untung lukanya tidak dalam.”

Fay menggigit bibir dengan perasaan bersalah. Cerita itu ia adopsi dari kisah nyata Mbok Hanim, pengurus rumahnya di Jakarta  dulu.    Ia pernah menyaksikan Mbok Hanim melakukan  hal ceroboh seperti itu, dengan akhir yang kurang-lebih sama: irisan yang memanjang     di telapak tangan. Habis, tak mungkin kan, ia bilang telapak  tangannya terluka karena teriris pedang pusaka keluarga waktu pengambilan sumpah loyalitas di sebuah kapel rahasia yang ada di bawah tanah sebuah kastil  yang  kini  adalah  tempat  tinggalnya  juga?

Enrique menoleh pada Fay, kemudian tersenyum.

Fay terpaku. Untuk pertama kalinya ia merasa sorot sepasang mata hitam yang dalam dan hangat milik Enrique bagai menjalar ke arahnya dan meliputinya dalam kehangatan. Ia bisa merasakan bagaimana perasaannya mengembang dan wajahnya memanas.

”Vamos.” Ayo. ”Aku tahu satu tempat yang pasti kamu suka. Tadi sudah kita lewati,” ajak Enrique ringan.

”Tempat  apa?”  tanya  Fay  salah  tingkah,  tapi  dengan  perasaan berbunga-bunga walaupun ia bertanya-tanya apakah ini nyata. Atau jangan-jangan ia saja yang kege-eran?

Enrique menggeleng dengan raut wajah serius. ”Rahasia. Kamu harus  membunuhku  bila  ingin informasi  itu.”  Ia  kemudian  nyengir dan menambahkan, ”Omong-omong, aku suka melihat kamu tersipu begini.”

Ih, ngeselin!

”Siapa yang tersipu? Enak aja! Kulitku kan cokelat. Kalau aku tersipu pun kamu nggak bakal tahu!” sahut Fay sengit. Menyebalkan! Enrique tersenyum jail, lalu menarik Fay pergi.

Fay mengikuti langkah Enrique dengan benak sibuk mereka ulang fakta-fakta yang terjadi selama ini, termasuk sepanjang hari ini. Apakah menautkan jari-jemari seperti ini hal yang wajar dilakukan oleh Enrique, sebagaimana kecupan ringan di pipi ketika bertemu? Bagaimana dengan memberikan mawar putih? Tapi, dia waktu itu ngasihnya cuek begitu... nggak ada bedanya dengan menyodorkan pensil. Tapi, kadang-kadang Fay bisa merasakan  Enrique  sengaja ingin berdekatan atau menggodanya. Tapi, cowok ini memang usil... Jadi membedakannya gimana?

Enrique berhenti di depan sebuah toko.

Fay tersentak dari lamunannya. ”Ini toko apa?” tanyanya sambil mengamati etalase. Perlu waktu beberapa saat untuk  mengenali  bahwa berbagai kemasan yang dipajang di etalase adalah cokelat.

”Menurutmu, aku tega mengajakmu ke Swiss tanpa mampir ke toko cokelat? Aku tidak sekejam itu... Mengatakan tidak pada cokelat di Swiss sama dengan menolak air di padang pasir.” Enrique lalu membukakan pintu untuk Fay.

Begitu melangkah ke dalam toko, aroma khas cokelat yang menggantung di udara serta-merta menyambut. Air liur Fay langsung menetes melihat cokelat-cokelat buatan tangan berbagai bentuk, dengan berbagai gradasi warna dan hiasan berjajar memenuhi rak-rak kaca. Ada yang bulat dengan potongan kacang almond  di  bagian atas, persegi dengan dua gradasi warna, persegi dengan cipratan cokelat yang lebih gelap dilengkapi pistachio di bagian atas, bulat  dengan pinggiran renyah seperti kue pai dengan isian krim cokelat, corong rasa kopi, dan masih banyak lagi. Itu baru di rak kaca saja.     Di sisi ruangan, rak-rak tinggi diisi dengan berbagai cokelat dalam kemasan, mulai dari berbentuk batangan, silinder, kotak persegi, kubus, bahkan cokelat-cokelat berukuran besar  dengan  bentukbentuk seperti lilin, boneka, dan mainan.

”Kamu mau cobain cokelat yang mana?” tanya Enrique sambil merangkul Fay.

Fay refleks melirik tangan Enrique yang sedang nangkring di pundaknya, tapi bayang-bayang potongan cokelat yang menggoda tak memberinya waktu untuk memikirkan arti gerakan Enrique. Segera mata dan pikirannya berlompatan antara potongan cokelat yang satu dengan yang lain, dan akhirnya ia menunjuk satu cokelat berbentuk segitiga dengan hiasan garis-garis hasil siraman cokelat dengan warna lebih gelap, dan satu cokelat bulat yang permukaannya dipenuhi bubuk cokelat gelap.

Enrique memilih satu potong cokelat kubus  yang  dilengkapi  hiasan pita di salah satu sudutnya, kemudian menunjuk rak-rak yang mengelilingi ruangan. ”Kamu sudah lihat cokelat-cokelat yang di rak-rak itu? Ada lagi yang mau kamu beli?”

Fay menggeleng. ”Sudah, itu cukup. Aku cuma mau lihat-lihat saja.” Ia pun berkeliling sambil melihat-lihat sementara Enrique membayar.

Keluar dari toko cokelat, mereka langsung menuju salah  satu  taman di pinggir danau. Rencananya, mereka akan duduk-duduk di bangku yang tersedia sambil menikmati cokelat yang mereka beli. Namun, rencana tinggal rencana, karena Fay tidak tahan dan terusmenerus mengintip bungkusan berisi cokelat yang mereka beli.

Enrique menggeleng prihatin, kemudian berkata, ”Sudah, tak  perlu menunggu sampai di taman. Kamu makan saja sekarang kalau mau...”

Fay mengambil satu potong cokelat berbentuk segitiga sambil cengengesan, kemudian menggigitnya sedikit. Ia pun langsung meremmelek meresapi rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan ketika potongan cokelat meleleh di dalam mulutnya. ”Berat badanku bisa naik kalau jalan sama kamu terus,” ucapnya kemudian.

”Aku coba dong...,” ucap Enrique sambil mendekatkan wajahnya ke arah Fay dan membuka mulutnya sedikit. Jelas ia tidak berminat untuk menyuap cokelat sendiri.

Fay memasukkan potongan cokelat ke mulut Enrique, dan melihat bibir pemuda itu mengerucut ketika mengulum cokelat, sedangkan matanya menyipit, membuat wajahnya jadi tampak lucu. Desiran terasa di dada dan Fay buru-buru mengalihkan pandangan.

Dua cokelat setelahnya pun dihabiskan dengan cara yang kuranglebih sama—Enrique awalnya seperti tak menunjukkan minat, tapi begitu Fay menggigit cokelat, dia langsung minta bagian dengan cara disuapi.

Alhasil, ketika mereka tiba di taman, sudah tak ada lagi cokelat yang tersisa.

Mereka kini berada di salah satu taman  yang  memanjang  di  tepian danau biru yang membentang di hadapan mereka. Agak menjorok ke tengah danau, air mancur yang menjadi landmark kota Jenewa, Jet d’Eau, menembakkan airnya ke udara hingga setinggi 140 meter dengan kecepatan 200 km/jam. Gradasi warna pelangi terlihat di sekitar air mancur, dibiaskan  butiran-butiran  halus  air  yang turun kembali ke danau setelah terbang tinggi ke udara.

Enrique mengajak Fay menyandar ke pagar pembatas beton, menikmati sapuan angin yang sejuk dari arah danau ke tepian sambil memperhatikan pelangi yang seakan tersenyum ceria.

Fay refleks bersedekap ketika merasakan sapuan angin. Berikutnya, ia bisa merasakan tubuh Enrique merapat dan tangan cowok itu mendarat di pundaknya.

”Jadi, sejauh ini kamu suka kejutanku nggak?”

Fay  tersenyum.  ”Very  much...  thank  you,”  jawabnya  dengan  dada berdebar.

”Aku masih punya satu kejutan kecil untukmu. Kamu masih sanggup makan nggak? Aku punya persediaan satu potong cokelat lagi.”

”Cokelat lagi? Kapan kamu belinya?” tanya Fay sambil menoleh. Ia agak kaget ketika ternyata wajahnya dengan wajah Enrique lebih dekat dari yang ia sangka. Ia melihat Enrique menatapnya dengan senyum terkulum dan ia pun mengalihkan pandangan dengan dada berdegup.

”Aku beli di toko yang sama. Aku memutuskan tepat sebelum bayar, waktu kamu lagi lihat-lihat cokelat besar di rak tinggi.”

Enrique menurunkan tangannya dari pundak Fay, lalu merogoh tas selempangnya. Ia mengeluarkan satu kotak berwarna keemasan berpita, berukuran sangat kecil, hanya muat satu potong cokelat, lalu memberikannya pada Fay.

Fay menerima kotak tersebut sambil tersenyum lebar. ”Ya ampun, kotaknya imut banget... Sayang amat kalau dibuang setelah cokelatnya dimakan...” Ia membuka kotak dan tertegun ketika melihat sebuah cokelat berbentuk hati.

Apakah cokelat ini sama seperti cokelat-cokelat lain yang tadi mereka makan, atau ada maksud lain dari pemberian ini? Haruskah    ia bertanya pada Enrique? Tapi, cowok ini cuek dan  ceplas-ceplos saja. Bagaimana kalau ia yang salah mengartikan? Malu-maluin aja kalau ia kege-eran begitu! Atau, apakah ia pura-pura cuek dan langsung memakan cokelat ini? Tapi, kalau ternyata ada maksud lain gimana... Bukankah kesannya ia bebal sekali? Jadi, ini hal normal  atau tidak?

Fay bisa merasakan kegugupan mulai merambat naik sejalan dengan setiap pertanyaan diajukan hatinya dan setiap perdebatan yang dipicu benaknya. Debar jantungnya pun jadi mulai berantakan. Berikutnya, ia terkesiap ketika merasakan tangan Enrique mendekat ke arah wajahnya dan perlahan-lahan menyingkap rambutnya ke belakang telinga.

Fay mendongak menatap Enrique. Mungkin benaknya  ingin  mencari jawaban, atau itu hanya gerak refleks untuk membuktikan kecurigaannya, entahlah. Yang jelas, begitu tatapannya bertumbukan dengan tatapan Enrique, ia hanya terpaku,  tak  kuasa  menahan  tarikan dari sorot mata Enrique yang dalam dan mengundang, yang kini menatapnya tanpa kedip. Tatapan Enrique seakan mengunci tak hanya matanya, tapi juga tubuhnya.

Jari-jari Enrique bergerak perlahan-lahan dari arah telinga Fay, menelusuri pipinya hingga berhenti di dagu.

Fay merasa  napasnya  melambat. Tangan Enrique mengangkat dagu Fay.

Fay melihat Enrique memajukan wajah dan ia menutup mata. Berikutnya, napasnya seakan berhenti ketika merasakan bibir Enrique menyentuh bibirnya dengan lembut.

***

Masih dua puluh menit lagi ke pukul sembilan malam.

Kent bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi, menatap bayangannya sendiri yang terpantul pada cermin di atas wastafel. Ia tampak kacau—ikal-ikal rambut pirangnya bertumpuktumpuk dan menolak menyatu, seakan masing-masing punya pikiran sendiri-sendiri. Warna matanya yang biasanya biru terang tampak redup, seperti diliputi awan tipis yang membawa gerimis.

Ia membasahi wajahnya dengan air, lalu menyapukan tangannya yang masih basah ke rambut pirangnya, kemudian kembali menatap bayangan dirinya di cermin. Tak ada perubahan. Masih  tetap  kacau.

Kent berjalan menuju balkon kamarnya yang menghadap ke sisi luar kastil. Lampu-lampu jalan menerangi kedua sisi jalan menuju gerbang. Halaman rumput dan taman tampak terang-benderang karena lampu sorot. Di halaman, terlihat dua penjaga yang membawa anjing sedang berpatroli mengelilingi perimeter kastil.

Sekarang rasanya semua tak sama lagi seperti dulu.  Kastil  ini, yang sudah seperti rumah keduanya, terasa asing. Bahkan, Fay pun terasa asing.

Pagi ini penugasannya kembali diubah dan ia terbang bersama Russel menggunakan jet pribadi pamannya.  Tanpa  dukungan  unit  dan dengan kondisi hanya berdua dengan Russel, ia berharap akan bergantian dengan Russel mengikuti Fay, tapi ternyata Russel punya strategi yang berbeda. Russel mengamati dari jauh, sebagai pengamat sekaligus backup bila target sadar sedang diikuti, sedangkan  Kent akan membuntuti secara close-range atau medium-range—jarak dekat atau menengah—dengan penyamarannya sebagai turis backpacker. Ia pun hanya bisa menelan pil pahit ketika Russel memberikan kamera berlensa tele untuk mengambil foto-foto target.

Menyaksikan gadis yang ia cintai berdekatan dengan pemuda lain sudah cukup menyiksanya, tapi kini Russel juga minta supaya ia mengabadikan momen itu.

Begitu Enrique merangkul Fay di tepi danau, kemarahan Kent langsung meluap. Berikutnya, dadanya pun seperti terhantam ketika melihat Fay berciuman dengan pemuda keparat itu. Tepat  di saat itu, si Russel sialan itu mengingatkannya untuk mengambil foto. Dengan tangan yang bergetar karena menahan gejolak emosi yang ia rasakan, Kent terpaksa mengabadikan momen itu. Ironis.

Kent menarik napas panjang, kemudian menyapukan kedua tangannya ke kepala.

Apa yang ia takutkan sudah terjadi. Gadis yang ia cintai sudah menerima bahwa hubungan mereka tidak mungkin bisa terjadi, lalu melanjutkan hidupnya dengan memacari pemuda lain.

Tak masalah. Tak ada yang ia inginkan selain melihat Fay  bahagia.

Kent menghela napas lalu menumpukan kedua sikunya di pagar balkon. Benih-benih kemarahan tiba-tiba saja menjalar dalam tubuhnya, menggelegak dalam darahnya, hingga terasa seperti meledak di kepalanya.

Omong kosong! Apa ia bilang tadi, tak masalah? Pembohong besar! Tentu saja ini masalah! Ia ingin Fay bahagia bersama dirinya, bukan pemuda sialan itu... atau pemuda sialan mana pun!

Mau bagaimana lagi bila rasa cinta pada Fay ternyata masih saja bersemayam dalam dadanya dan tak juga mau pergi. Mungkin ka rena ia memang tak rela cinta itu pergi. Haruskah ia merelakannya? Haruskah ia menjauhi Fay sepenuhnya, mengenyahkan bayang bayang gadis itu dari setiap sudut dalam hatinya?

Kent menarik napas panjang ketika benaknya memampangkan bagaimana wajah Fay dan Enrique mendekat sebelum akhirnya bibir mereka bertemu. Kemarahan sontak berkumpul di tangannya yang membentuk kepalan, dan ia langsung meninju pintu balkon. Pintu mengayun dan menabrak dinding dengan bunyi memecah kesunyian malam. Anjing di lantai satu menggonggong. Penjaga yang ada di bawah melihat ke atas dengan waspada.

Kent masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu balkon dengan tangan masih berdenyut-denyut dan gemetar.

Mungkin tak sesulit itu untuk memutuskan—takdir sepertinya telah memutuskan untuknya.

Kent menghela napas, kemudian menyambar satu berkas yang ada di atas tempat tidurnya—foto-foto pengintaian hari ini. Ia tidak ingin membawa berkas ini ke rumah, tapi Russel memintanya untuk menyerahkannya langsung pada Andrew malam ini juga. Ingin rasanya ia berteriak di muka Russel untuk tidak melibatkannya lagi,  karena ia tak sudi membawa-bawa foto yang  mengingatkannya  bahwa ia sudah terdepak dari hidup gadis yang ia cintai. Bila ter serah padanya, berkas ini sudah ia lempar ke perapian—ia mungkin tidak bisa mengenyahkan fakta bahwa gadis yang ia cintai mencium pemuda lain, tapi setidaknya melihat foto-foto  itu  terbakar  dan  lumat dimakan api bisa memberinya kepuasan tersendiri.

Kent melangkah ke ruang kerja Andrew dan membuka pintu. Ia melihat pamannya sedang duduk di meja kerja.

”Apakah kamu tidak tahu cara mengetuk pintu?” tegur Andrew tajam.

Kent tertegun sejenak. Ia bahkan tidak sadar tadi tidak mengetuk. ”Sorry,   Uncle,”   katanya   tanpa   penyesalan   sedikit   pun.   Ia   lalu meletakkan berkas di hadapan pamannya tanpa berkata-kata.

”Kenapa tanganmu?” tanya Andrew sambil melirik tangan Kent yang terjulur.

”Saya terpeleset dan jatuh.”

”Pasti posisi jatuhmu sangat tidak biasa sehingga bisa terluka di buku-buku jari kepalanmu.”

Kent mengabaikan sindiran pamannya dan langsung duduk  di kursi. Yang ia inginkan sekarang hanyalah supaya semua ini cepat berakhir. Dengan dada sakit seperti dipukuli berulang-ulang, ia melihat pamannya membalik foto-foto satu demi satu. Ia melihat Andrew mengamati satu foto lebih lama dari yang lain—tak perlu keahlian khusus untuk menebak bahwa yang sedang dilihat oleh pamannya adalah foto Fay dan Enrique berciuman.

Andrew menutup berkas. Ia menatap Kent, kemudian berkata, ”Fay akan segera diterjunkan dalam operasi yang sama. Jangan lupa, interaksimu dengan Fay harus berjalan seperti biasa. Apa pun yang terjadi... life  as  usual  between  you  and  Fay.”

Kent mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Life as usual antara dirinya dengan Fay, bagaimana bisa! Ia tidak ingin menjawab pamannya, tapi tatapan Andrew yang menusuk memaksanya menanggapi. Akhirnya ia mengangguk. Telepon genggam Andrew berdering.

Andrew mengangkat telepon. ”Good  evening, Bobby.”

...

”Ya. Sudah kulihat.”

...

”Baik. Aku setuju. Fay sudah dalam perjalanan pulang. Kuranglebih satu jam lagi dia akan tiba di stasiun.”

...

”Fine.”

Andrew menutup telepon, kemudian berkata, ”Pukul setengah sebelas, temui Bobby di pusat komando lapangan Operasi Echo.”

Kent terdiam sebentar, kemudian mengangguk sebelum berdiri dan berlalu.

***

”Kita sudah sampai.”

Fay mengangkat alis sambil melihat ke sekelilingnya. Ia tadi diantar Enrique ke apartemen, dan setelah cowok itu pulang,  ia langsung naik ke mobil yang dibawa Lucas. Ia mengira Lucas akan membawanya ke kastil, tapi sekarang mobil berhenti di pinggir jalan,    di depan deretan rumah yang tampak tua.

”Sampai di mana?” tanyanya sambil sekali lagi menyapukan pandangannya ke lingkungan yang tampak familier, lalu tersadar bahwa ia berada hanya satu blok jauhnya dari rumah Enrique.

”Ketuk  saja  pintu  empat  kali,  lalu  tunggu,”  ucap  Lucas  santai sambil menunjuk sebuah rumah yang tak berbeda jauh dari rumah  lain: berlantai tiga dengan fasad bangunan dari batu dan beberapa  anak tangga hingga ke pintu.

Fay turun dari mobil dan mengenali mobil Kent yang diparkir di sisi seberang jalan. Apakah mereka diminta datang ke sini karena akan bertugas? Ia memainkan rambutnya dengan perasaan tak nyaman.

Pintu dibuka dari dalam oleh Bobby, yang memberinya tanda untuk naik lewat tangga di foyer ke lantai dua. Tiba di lantai atas, Fay melihat satu pintu ruangan terbuka dan mengintip. Yang terlihat pertama adalah layar-layar komputer berderet di salah satu sisi ruangan, kemudian matanya menangkap sosok  Kent sedang duduk membelakanginya. Kursi  Kent  menghadap  ke  sisi lain ruangan, di sana terdapat sebuah kaca besar yang ditempel    ke dinding—papan tulis merangkap layar raksasa.

”Kent...,” panggilnya pelan.

Kent  menoleh  sekilas.  ”Hei...,”  balasnya  sambil  lalu,  kemudian kembali mengarahkan pandangan ke depan.

Fay duduk di kursi sebelah Kent sambil menelan pertanyaan yang sedianya akan ia ajukan pada Kent. Kenapa sikap Kent jadi sedemikian berjarak—tak hanya sekarang, tapi sejak pengambilan sumpah? Apakah Andrew mengancam Kent supaya menjauhinya, seperti kejadian tahun lalu? Tiba-tiba saja bayangan Enrique muncul  di kepalanya dan Fay langsung mengubah posisi duduknya dengan  gelisah.

Terdengar suara-suara dari arah pintu di bagian belakang. Fay menoleh dan melihat Bobby masuk ke ruangan.

Bobby berdiri di dekat layar, lalu berbicara pada Fay.

”Kamu akan bertugas dalam sebuah operasi berkode Echo, bersama Kent yang sudah dilibatkan lebih dahulu. Saya adalah  pimpinan operasi, sedangkan posisi oversight yang mengawasi dan mengarahkan operasi dari Pusat dipegang oleh Chief Ops Raymond. Sekarang, saya akan memberimu brifing tentang Operasi Echo.”

Fay mengangguk dengan perut terasa melilit dan perasaan gelisah. Setelah menjalani kehidupan yang relatif normal-normal saja, kata ”tugas” terdengar seperti mimpi buruk yang terulang kembali. Lagi pula, bersama Kent? Bila Andrew memberitahunya minggu lalu, mungkin ia masih akan merasakan sedikit kegembiraan, tapi sekarang    ia merasa segalanya akan menjadi lebih rumit.

Bobby maju dan berdiri di samping komputer yang  berada  di  dekat layar, kemudian menjelaskan dengan suara tegas yang jernih   dan formal.

”Operasi Echo adalah sebuah operasi pendahuluan yang dibentuk untuk mengumpulkan informasi tentang target. Dalam operasi ini ada satu orang target primer, yang merupakan target utama dalam operasi, dan dua orang target sekunder. Target sekunder bukanlah target yang sebenarnya, karena pengetahuan atau informasi yang diperoleh tentang atau dari target sekunder hanya bertujuan untuk menuntun kita pada informasi lebih dalam tentang target primer.”

Fay melihat Bobby menatapnya sebentar dan ia pun mengangguk.

Bobby melanjutkan. ”Target utama operasi ini adalah seorang pria bernama Bruce Redland, pemilik banyak korporasi di dunia, salah satunya adalah perusahaan obat bernama Red Med.”

Fay melihat Bobby kembali menatapnya dan ia pun lagi-lagi mengangguk, tapi kali ini Bobby tetap memandangnya. Ia mengangkat alisnya sedikit—apakah Bobby menunggu jawaban ”Yes,  Sir”?

”Temanmu... atau, mungkin sekarang harus saya bilang, pacarmu, akan menjadi pintu untuk mendapatkan informasi tentang Bruce Redland.”

Fay tertegun sebentar sebelum menjawab dengan gelagapan. ”Saya tidak  pernah  mendengar  Enrique  menyebut  nama  itu,”  ucapnya buru-buru, dan jadi panik sendiri ketika mendengar kalimatnya itu. Bukankah itu artinya ia mengiyakan bahwa Enrique adalah pacarnya... di depan Kent? Aarrgghh...

Mendadak ia tersadar dan langsung tertegun—bagaimana Bobby tahu bahwa hubungan Enrique dengan dirinya bukan sekadar sahabat lagi? Ia bisa merasakan butir-butir kegelisahan mulai bermunculan, dan mengubah posisi duduknya.

Bobby berkata tajam, ”Dengan hubungan yang sangat intens antara kamu dengan Enrique, kamu pikir saya percaya bahwa kamu tidak pernah mendengar nama Bruce Redland?”

Dengan ucapan itu, Bobby menampilkan deretan foto di layar.

Fay terkesiap ketika mengenali foto-foto dirinya bersama Enrique di semua kesempatan, mulai dari waktu pertama kali ia berkunjung ke rumah Enrique dan sebaliknya waktu Enrique masuk ke gedung apartemennya, mereka berdua jalan-jalan di Montmartre, mereka duduk di taman sambil makan es krim, Enrique memberi bunga pada dirinya, mereka jalan di depan masjid, masuk ke greenhouse, mencicipi cheese fondue, masuk ke toko cokelat, jalan di  taman, dan... fotonya berciuman dengan Enrique! Fay langsung merasa tubuhnya lemas. Ya Tuhan! Ia sama sekali tidak berani melirik Kent atau bahkan membayangkan reaksi Kent seperti apa.

”Kent sudah bertugas lebih dulu di Operasi Echo, dan sebagian dari foto-foto ini diambil oleh Kent yang bertugas membuntuti pacarmu, Enrique, yang adalah target tiga dalam Operasi Echo.”

Kali ini Fay terenyak dan refleks menoleh pada Kent. Jadi Kent membuntutinya selama ini? Ia melihat Kent hanya menatap lurus ke depan, ke sisi dinding yang kosong. Rahang Kent tampak mengeras. Detik itu juga Fay merasa dadanya sakit seperti terhantam dengan keras.

”Well?” tanya Bobby penuh tekanan.

Fay menggeleng tanpa mampu berkata-kata. Napasnya seperti terkuras habis. Ia ingin menangis, tapi tidak tahu kenapa ia harus menangis. Ia hanya tahu adukan emosi di dadanya kini sudah mendesak ingin keluar.

Bobby memperbesar satu foto hingga seukuran layar.

Fay mengenali wajahnya sendiri di foto—itu adalah foto beberapa minggu lalu, saat ia dan Enrique melambai di pintu pada Tia Bea dan Barney yang akan menghadiri acara amal.

Bobby  mengarahkan  kursor  ke  wajah  Barney.  ”This   is   Bruce Redland. Apakah kamu masih mengaku tidak pernah mendengar namanya?” tanyanya tajam sambil menatap Fay lekat.

Fay menatap layar dengan tatapan nanar dan benak seperti mengambang. Semua ini seakan tidak nyata. Tidak, tidak mung kin nyata. Ingin rasanya ia bangun dari  mimpi  buruk ini.  Benarkah Kent membuntutinya selama ini?

Dengan pikiran masih mengambang,  ia  melihat  Bobby  berjalan ke belakangnya, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, satu tangan Bobby sudah melingkar di lehernya dan menyentaknya    ke belakang.

Kesadaran Fay kembali sepenuhnya. Ia memekik dan refleks mencoba menarik tangan Bobby supaya pegangan pria itu ke lehernya terlepas. Lewat sudut mata ia melihat Kent membuang muka, namun tubuhnya menegang dan tangannya mencengkeram pegangan kursi hingga urat-uratnya terlihat. Berikutnya, perhatiannya pada Kent terputus ketika bahunya terasa seperti remuk karena dicengkeram oleh Bobby, dan ia pun berteriak kesakitan.

Bobby melepas cengkeramannya di bahu Fay dan Fay langsung mengernyit menahan sakit sambil menggigit bibir. Ia akhirnya berbicara, ”Saya hanya tahu nama panggilannya. Barney. Saya tidak tahu nama aslinya!” Ia berhenti dengan napas tersengal.

Terdengar suara Bobby. ”Really?”

Fay  mengangguk  panik.  ”Iya!  Saya  tidak  bohong...”  Ucapannya tak selesai, berubah menjadi teriak kesakitan ketika cengkeraman Bobby kembali terasa di bahunya. Satu titik  di  bahunya  terasa  seperti remuk dihunjam jari Bobby dan air mata keluar begitu saja  dari sudut matanya.

”Saya tidak bohong!” ulangnya lagi di antara teriakan kesakitan dengan napas tersengal menahan rasa sakit. ”Selama ini saya memanggilnya dengan nama Barney, panggilan Enrique sejak kecil... Nama itu seperti nama boneka yang pernah diberikan olehnya ke pada Enrique. Saya tidak pernah mendengar Enrique atau ibunya memanggil Barney dengan sebutan Bruce!”

Bobby melepas Fay sepenuhnya.

Fay membungkuk dengan napas naik-turun dengan cepat, sambil memegang bahunya yang sekarang terasa seperti terpisah dari tubuhnya.

”Saya ingin kamu mengumpulkan semua informasi yang bisa kamu ketahui tentang Bruce Redland, mulai dari pekerjaannya, jadwalnya, kebiasaannya, hingga interaksinya dengan teman kamu dan ibunya. Apa pun. Mengerti?”

”Ya...”

Bobby kembali berdiri di depan. ”Lanjutkan interaksimu dengan Enrique secara wajar. Setiap malam kamu akan menjalani sesi tanyajawab dengan saya atas tugasmu hari itu, dan kamu akan melaporkan semua  informasi  yang  kamu  ketahui  tentang  target.”  Bobby  ganti menatap Kent, ”Kamu masih akan menjadi salah satu unit pendukung. Tugasmu adalah membuntuti target sesuai perintah Unit. Mengerti?” Kent mengangguk dan menjawab dengan suara yang terdengar parau, ”Yes,  Sir.”

Bobby memberi tanda bahwa brifing selesai.

Fay berdiri dan buru-buru berjalan menuju pintu. Ia mendengar namanya dipanggil oleh Bobby. Ia menoleh—tatapannya jatuh begitu saja pada Kent, yang masih berdiri di dekat kursi, seperti sengaja berlama-lama untuk menghindarinya. Fay akhirnya menatap Bobby, menunggunya bicara.

”Lucas sudah meninggalkan lokasi. Kamu pulang ke rumah bersama Kent.”

Fay tertegun dengan tatapan refleks menoleh pada Kent. Kent juga langsung mengangkat kepala dan sejenak tatapan mereka beradu. Fay kembali merasakan satu tusukan di dada ketika melihat jarak yang menganga dalam tatapan mereka yang bertemu. Kent mengalihkan pandangannya pada Bobby.

Bobby menatap Kent sebentar. ”Kamu tentunya tidak keberatan memberi tumpangan pulang pada Fay?” tanyanya tajam.

Kent menggeleng. ”Of  course  not,” jawabnya singkat. ”Very  well,  then.  Have  a  safe  ride  home.”

***

Fay menatap gedung-gedung yang berkelebatan lewat jendela mobil. Sepuluh menit sudah berlalu sejak mereka meninggalkan rumah yang menjadi pusat komando lapangan Operasi Echo, tapi belum ada seorang pun di antara mereka yang mengeluarkan sepatah kata. Seperti apa perasaannya saat ini? Antara teraduk-aduk dan pecah berantakan. Ia melirik Kent dan melihat cowok itu menatap lurus ke depan,

berkonsentrasi penuh ke jalanan.

Pikiran bahwa Kent selama ini membuntutinya dan tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu tiba-tiba saja hinggap dan ia merasakan satu rasa sakit di dada. Ia akhirnya  mengalihkan  pandangan  dari  Kent dan membiarkan pikirannya menerawang sambil menggerakgerakkan bahunya yang nyeri.

”Masih sakit?” Suara itu tidak menyiratkan kelembutan, tapi terdengar lelah dan menyimpan kepiluan.

Fay menjawab, ”Iya...” Suaranya sendiri terdengar seperti tertekan. ”Aku punya obat yang bisa membantu. Seperti cairan yang dioles-

kan di bagian yang nyeri. Ada di kamar, nanti aku berikan ke kamu.”

Fay menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dua minggu lalu kalimat semacam itu mungkin akan membuatnya melayang karena diucapkan dengan rasa sayang yang begitu kentara, tapi sekarang yang terdengar di telinganya adalah kalimat pemberitahuan yang diucapkan dengan nada rendah yang dingin dan berjarak. Fay mendadak merasa tenaganya terkuras habis. Ia ingin bertanya sudah berapa lama Kent membuntutinya, tapi lidahnya terasa kelu.

”Are  you  okay?” tanya Kent lagi. Kemarahan tiba-tiba muncul begitu saja.

”Okay?  Maksudmu,  setelah  diberitahu  bahwa  kamu  selama  ini membuntutiku tanpa sepengetahuanku dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja di depanku?!” jawab Fay dengan nada meninggi, lalu tersentak ketika Kent memukul setir. Tepat  saat itu sebuah mo bil datang dari arah berlawanan dan lampunya selama beberapa saat menerangi wajah Kent. Fay melihat sorot mata Kent yang terluka. Detik itu juga ia merasakan sakit yang menyengat di dada dan ia     pun mengalihkan pandangan.

Kent menjawab dengan suara rendah yang bergetar. ”Itu tugas! Dan kamu seharusnya tahu bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghindarinya!”

”Waktu kamu mengantarku ke kamar setelah pengambilan sumpah, kamu sudah membuntutiku, kan? Bagaimana bisa kamu tetap berbicara seperti biasa di depanku, seolah tidak ada apa-apa!”

Kent menoleh ke Fay dengan kilatan marah di kedua mata birunya. ”Sejak kapan aku punya pilihan untuk melakukan hal yang berbeda?!”

Fay mengepalkan kedua tangannya yang kini gemetar. ”Alasan!” Ia lalu bersedekap sambil membuang muka, mengatur napasnya yang naik-turun dengan cepat. ”Kamu pikir aku menikmati melihatmu berjalan dengan pemuda sialan itu? Kamu pikir aku senang menerima kenyataan bahwa aku sudah tersingkir dari kehidupanmu? Kalau bisa memilih, aku  memilih dihajar Andrew di sel tertutup daripada harus menyaksikannya dengan kedua mata kepalaku sendiri!”

Fay kembali menoleh ke Kent. ”Aku tidak pernah menyingkirkanmu dari kehidupanku!”

”Bukankah itu sudah jelas dari tindak-tandukmu dengan pacarmu itu?”

Fay menoleh dan berkata keras, ”Tidak adil kalau kamu bilang begitu! Kamu tidak bisa terus-menerus ada di sisiku... kamu  pun tahu!”

Kent terdiam.

Fay mengempaskan kepalanya ke sandaran dan membuang muka sambil mengusap air matanya yang sudah menyisip keluar. Setelah  beberapa saat, akhirnya ia kembali berkata dengan suara rendah seperti menggumam, ”Setidaknya kamu bisa memberitahuku bahwa tugasmu adalah membuntuti Enrique... dan aku...”

”Sudah kubilang, aku tak bisa!” potong Kent. ”Lagi pula, untuk apa? Supaya kamu bisa menjaga sikapmu di depan pemuda itu hanya karena ada aku di sana? Aku memang tidak menyukai apa yang kulihat, tapi aku harus menerima dengan besar hati bahwa semua yang aku saksikan hari ini adalah murni keinginanmu...” Ia terdiam sebentar, kemudian melanjutkan dengan suara pelan, ”Aku menerima dengan besar hati, tapi bukan berarti aku mau menyaksikannya.”

”Kamu tidak berhak marah...”

Kent menarik napas panjang. ”Iya... aku tidak punya hak itu karena aku tidak punya kebebasan untuk memilih. Aku minta maaf kalau aku bersikap egois. Aku mungkin berbahagia bila kamu bahagia... Aku hanya tak rela melihat kebahagiaan yang seharusnya jadi milikku dinikmati oleh orang lain.”

Mereka sudah tiba di gerbang. Gerbang pertama terbuka. Tiga penjaga membuka kap mesin, keempat pintu mobil, dan pintu bagasi, menyorongkan cermin ke bagian bawah mobil, lalu membuka gerbang kedua dan memberi tanda untuk lewat. Turun dari mobil, Fay melangkah di sebelah Kent tanpa berkatakata, melintasi foyer, menaiki tangga, dan menyusuri koridor, dalam keheningan yang terasa menusuk-nusuk jiwa. Tiba di depan kamar, Kent meminta Fay untuk menunggu. Ia masuk ke kamarnya, kemudian keluar sambil menggenggam sebuah botol berisi cairan bening seperti disinfektan tangan.

”Ini, pakai sebelum tidur,” ucap Kent sambil menyodorkan botol. ”Good  night,  Fay,”  tambahnya  sambil  lalu,  kemudian  kembali  ke kamarnya.

Fay tidak membalas sapaan Kent. Ia menutup pintu, lalu duduk di tempat tidur. Setelah beberapa waktu duduk dalam diam sambil mencoba mencerna apa yang ia rasakan, ia mengambil telepon genggam dari dalam tas. Ada satu pesan dari Enrique.

”Sweet dream, mi amor. Hope the angels fill your dreams with love, because  I  surely  do.  Love  u.”

Sakit terasa menggigit dan air mata menetes di pipi Fay.

Cowok inikah yang harus ia khianati dengan menjalankan pe rintah Andrew? Barney bukan sekadar pria yang mampir di hidup Enrique, tapi calon ayah tiri Enrique! Tidak mungkin ia mengorekngorek informasi tentang calon ayah tiri pacarnya dan merasa bahwa itu adalah hal normal yang bisa dilakukan tanpa rasa bersalah! Tidak bisakah ia merasakan sejumput saja kebahagiaan lewat kehidupan normal yang ditawarkan Enrique? Apa arti cinta tulus yang ditawarkan Enrique ini bila ia harus menodainya dengan pengkhianatan?

Fay merasa diperlakukan tidak adil, tapi tidak tahu oleh siapa...

Oleh Bobby, yang memintanya mengorek informasi dari Enrique setelah tahu bahwa Enrique sekarang sudah jadi pacarnya?

Oleh Kent, yang membuntutinya tapi tidak mengatakan apa-apa, seakan cowok itu menjebaknya?

Oleh takdir, yang merenggut kesempurnaan sebuah keluarga yang baru saja ia nikmati dengan kembali menunjukkan seperti apa wajah asli keluarganya ini?

Oleh nasib, yang entah kenapa menempatkannya pada situasi seperti ini?

Mungkin semuanya. Ia merasa dimanipulasi Bobby, dikhianati Kent, disurukkan takdir, dan dipermainkan nasib.

Fay meletakkan telepon genggamnya, berjalan ke meja rias, melepas gelang pemberian Kent dari pergelangan tangannya, lalu melemparkannya ke dalam laci meja.

Kemudian ia kembali duduk di tempat tidur dan menutup kedua wajahnya dengan tangan, membiarkan kecamuk perasaannya tumpah dalam linangan air mata.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊