menu

Trace of Love Bab 07: COU

Mode Malam
COU

FAY  menyandar  sambil  menyatukan  kedua  tangannya  dengan gugup di pangkuan. Ia kini duduk di bangku yang berada di bagian belakang mobil boks cleaning service berlogo ember dan pel— kendaraan kedua yang ia naiki pagi ini. Ia pernah diberitahu oleh   Sam bahwa cara untuk datang ke kantor berliku-liku dan tak sama untuk setiap orang, dan bahwa informasi itu diklasifikasikan rahasia, bahkan antarsesama anggota keluarga. Sam hanya tahu bahwa akses masuknya ke kantor sama dengan Elliot, itu pun karena kebetulan      di satu kesempatan mereka berdua pernah diminta datang di saat bersamaan.

Tadi pagi setelah sarapan bersama anggota keluarga yang lain, Fay meninggalkan kastil seperti biasa, naik mobil yang dibawa oleh Lucas. Kemudian, Lucas menurunkannya di garasi sebuah rumah di daerah arrondisement XII. Di rumah tersebut Fay turun ke bawah tanah. Setelah berjalan kaki seorang diri melewati koridor-koridor polos dari beton, ia tiba di ruang lain seperti garasi tempat mobil cleaning service ini sudah menunggunya.

Dari luar mobil ini tampak serupa dengan mobil yang pernah ia naiki saat bertugas bersama Kent dan Russel, tapi ternyata di bagian dalamnya berbeda. Di bagian belakang mobil ini tak ada komputer dan peralatan apa pun, hanya ruang kosong dengan dua bangku berjajar di sisi dinding.

Mobil berhenti.

Fay keluar  dari  mobil  dengan  perut  menegang.  Ia  disambut  dua petugas berjas hitam. Seorang petugas langsung menggeledah barangnya dan meminta semua benda logam dan elektronik dipisahkan dari tubuhnya. Telepon genggam dimatikan, dibongkar, dipasang lagi, kemudian disimpan di dalam kotak penyimpanan. Pemutar musik dan komputer  tablet  mini  juga  dimatikan  dan  disita. Arloji Swatch kesayanganya juga harus dilepas. Seorang petugas lain menekan sebuah tombol di dinding dan dinding bergeser.  Melihat  Fay  ragu-ragu,  penjaga  bertanya,  ”Ini  pertama  kalinya kamu ke sini?”

Fay mengangguk. ”Ya.”

”Hanya pakaian yang menempel di badan yang boleh dibawa masuk. Kamu bisa mengambil semua barangmu ketika nanti meninggalkan  tempat  ini,”  kata  si  petugas,  kemudian  melanjutkan, ”ruang di balik dinding ini adalah pemindai... Telapak tangan, retina, panas tubuh, dan suara secara sekaligus. Di dalam ruangan, letakkan tanganmu di layar kaca supaya telapakmu bisa dipindai, lihat lurus    ke layar pemindai retina di depanmu,  sebutkan  nama  lengkapmu, dan tunggu hingga pintu di sisi seberang terbuka. Seseorang yang     tak terotorisasi akan terkunci di dalam hingga dijemput oleh agen bersenjata di seberang. Tapi, karena sudah ada di sini, seharusnya kamu sudah terdaftar di sistem sebagai agen. Silakan.”

Fay mengangguk dengan benak melayang. Terdaftar di sistem sebagai agen—dirinya, Fay, yang beberapa bulan lalu masih dorongdorongan di selasar sekolah bersama Dea, Lisa, dan Cici, menggosipkan Tiara, membandingkan nilai pelajaran, dan cekikikan membicarakan cowok-cowok yang mereka anggap keren. Sekarang dia harus masuk ke ruang kaca di suatu markas kantor bawah tanah yang  disebut COU untuk dipindai. What a life.

Fay masuk ke ruang kaca, meletakkan tangannya, lalu menyebut namanya. Dua pasang tiang logam yang mengeluarkan cahaya bergerak-gerak dari depan ke belakang, dari kiri ke kanan. Di hadapannya, sebuah cahaya hijau di layar bergerak vertikal naik-turun. Pintu bergeser dan ia pun menahan napas.

Terlihat sebuah mobil golf dengan seorang pengemudi yang memintanya naik. Ia dibawa melalui jalan yang dibuat di loronglorong bawah tanah hingga tiba di sebuah area agak luas yang terlihat seperti peron metro.

Seorang pria berdiri di peron, mengenakan baju lapangan hitamhitam. Perlu beberapa waktu bagi Fay untuk mengenali pria  itu  sebagai Bobby Tjan. Ia ingin menyapa Bobby,  tapi  urung  melihat raut serius dan sikap formal Bobby.

Tanpa basa-basi, Bobby langsung berbicara dalam bahasa Inggris. ”Selamat datang, Fay. Kita sekarang berada di fasilitas pendukung COU. Sekarang saya akan membawamu ke fasilitas utama, kantor pusat COU, beberapa lantai di bawah tanah.”

Fay menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Jadi, sebentar lagi ia akan segera tahu seperti apa tempat yang disebut kantor itu.

Bobby mengajak Fay berjalan di koridor, lalu masuk ke lift. Tidak ada tombol lantai di lift, hanya tombol naik dan turun yang langsung menyala otomatis begitu pintu lift tertutup. Setelah bergerak turun selama beberapa saat, lift berhenti dan pintu terbuka. Terlihat sebuah ruangan kosong yang terbagi dua, dipisahkan oleh ruang bersekat kaca di bagian tengah.

”Ini pemindai seperti yang kamu lalui di atas. Setelah kamu keluar, tekan tombol di dinding dekat pintu. Sebuah kotak penyimpanan akan terbuka. Ambil barang yang ada di dalamnya. Silakan.” Fay masuk ke ruang pemindai, dan begitu ia melangkah keluar, terdengar suara benda jatuh di balik dinding. Fay menekan tombol di dinding dan mengambil sebuah telepon genggam, sebuah kunci bernomor, dan sebuah arloji lapangan berwarna hitam. Setelah kotak penyimpanan tertutup, barulah Bobby masuk ke ruang kaca pe-

mindai.

Fay memperhatikan tiga benda yang muncul di kotak penyimpanan setelah Bobby keluar dari ruang kaca: telepon genggam, senjata api, dan sebuah pisau lipat. Bobby menyimpan senjata api di pinggangnya dan memasukkan pisau lipat ke sakunya. ”Sebentar lagi kita akan bertemu Direktur dan Chief Ops,” ucap Bobby, lalu menambahkan setelah melihat ekspresi bertanya di wajah Fay, ”Direktur adalah Andrew, dan Chief Ops ada dua orang, Steve Watson dan Raymond Lang. Hari ini yang bertugas sebagai Chief Ops adalah Raymond.”

Fay mengangguk. Tadi pagi kedua pamannya, Andrew dan Raymond, meninggalkan kastil hanya satu menit lebih awal dari diri nya, mengendarai mobil masing-masing. Jadi, ia akan menemui kedua pamannya di kantor. Apakah sikap mereka di kantor berbeda dengan di rumah, seperti yang pernah ia dengar dari para sepupu  nya? Ia akan segera tahu.

Mereka keluar melalui pintu yang terbuka otomatis, lagi-lagi menyusuri koridor yang kali ini berujung pada sebuah pintu. Sebelum mereka sampai ke ujung, Bobby berbelok melalui sebuah pintu besar.

”Ini ruang loker. Semua agen operasional harus mengganti pakaian yang dikenakan dengan pakaian lapangan hitam-hitam sebelum masuk ke main hall COU. Sekarang, cari posisi lokermu, ganti pakaian dan sepatumu.”

Fay berjalan perlahan melalui berbaris-baris loker di sisi kiri dan kanan, sambil mencari nomor lokernya. Ada cukup banyak agen yang memenuhi ruangan ini, sebagian baru datang dan sebagian sudah akan pulang. Beberapa agen wanita menghadap loker kemudian membuka baju mereka begitu saja tanpa peduli dengan kehadiran banyak orang lain di sekitar mereka, termasuk yang lain jenis. Hal seperti itu dulu pasti akan membuat Fay ternganga, tapi sekarang jadi tak terlihat begitu asing lagi. Fay ingat pernah menyaksikan seorang wanita berganti baju di tengah-tengah keramaian peron metro dengan ditutupi sehelai kain oleh pacarnya—mungkin dari puluhan orang di peron hanya Fay yang memperhatikan kejadian itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, sementara sisanya tak peduli dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Akhirnya Fay menemukan lokasi lokernya—di baris kelima di sisi kiri, di pinggir ruangan. Ia mengambil pakaian hitamnya sambil melihat berkeliling. Ide berganti baju di sini memang sangat mengundang, karena toilet berada agak jauh di depan, dekat pintu masuk. Pikiran itu pupus ketika seorang agen pria datang,  lalu  masuk ke gang yang sama di sisi yang berseberangan.

Setelah berganti baju di kamar mandi, Fay menemui Bobby di depan ruang loker.

Bobby melirik arlojinya, lalu berkata, ”Kalau butuh waktu selama ini untuk berganti baju, saya ragu kamu bisa melalui pelatihan dengan selamat. Standarnya adalah tiga menit, tidak lebih.”

Fay menelan ludah. Kelihatannya tak lama lagi ia pun akan terpaksa berganti baju di depan loker.

Bobby berjalan ke pintu di ujung koridor. Tombol di sisi pintu ditekan  oleh  Bobby,  dan  pintu  terbuka.  ”This  is  the  main  hall  of COU,” ucap Bobby.

Fay pun terkesima. Mereka tiba di ruang terbuka  setinggi  tiga lantai dengan jendela-jendela tinggi. Jajaran palem menghiasi taman  di luar ruangan. Di bagian tengah ruangan, meja-meja kerja berderet dengan para pekerja yang sibuk dengan urusan masing-masing. Di lantai dua terdapat deretan ruangan berdinding kaca yang tampak menggantung di langit-langit, sebuah mezanin yang terkesan melayang, dengan sebuah ruangan yang paling luas di bagian tengah.   Fay merasa jantungnya berdegup melihat pamannya, Raymond Lang, dengan busana lapangan serbahitam tiba-tiba muncul  di  jendela  ruang tengah, memperhatikan pegawai-pegawai yang bekerja  di bawah, sambil berbicara di headset. Di ruang sebelahnya, Andrew duduk di meja kerja

Bobby menjelaskan tanpa diminta. ”Chief Ops, yang mengepalai Direktorat Operasional, menempati ruang pusat komando di bagian tengah. Di sebelahnya, sisi barat, adalah ruang Direktur atau Kepala Direktorat Pusat. Ruangan di sisi timur adalah milik Chief CU atau Control Unit, Philippe Klaan. Direktorat Teknologi yang dikepalai James Priscott ada di bagian belakang.”

Fay memperhatikan jendela-jendela tinggi yang menghadap ke taman yang terang benderang disirami cahaya. ”Bukankah posisi kita di bawah tanah?” tanyanya heran.

”Ya. Langit-langit itu menampilkan refleksi langit yang sebenarnya di atas sana. Cahaya diperoleh dari lampu-lampu di langit-langit, yang intensitasnya diatur sesuai cuaca di luar. Di malam hari lampu di langit-langit mati, digantikan oleh lampu-lampu taman. Bila di atas sana hujan, air ditampung untuk disalurkan menjadi hujan buatan di taman.”

Bobby mengajak Fay ke tangga menuju mezanin.

Fay mengikuti Bobby menaiki tangga sambil  mengusap-usap  kedua tangannya yang mulai dingin.

Bobby melangkah ke dalam ruang kerja Andrew sambil mengangguk. ”Sir.”

Andrew menatap Fay.

Fay membalas tatapan Andrew dengan gugup. Selama ini pamannya selalu menyapa hangat dengan sorot mata ramah setiap kali melihatnya, termasuk tadi pagi sewaktu sarapan—satu-satunya pengecualian adalah semalam, saat pengambilan sumpah. Rasanya aneh sekali melihat Andrew sekarang hanya menatapnya lekat tanpa  ekspresi yang bisa dibaca.

Andrew menekan sebuah tombol di panel yang ada di meja kerjanya, dan pintu kaca di belakang Fay terbuka, menghubungkan ruang kerjanya dengan ruang pusat komando tempat Raymond berada.

Raymond masuk tanpa berkata-kata dan langsung berdiri di sebelah Fay.

Fay sekilas melirik Raymond dan perutnya semakin mulas. Raymond berdiri dengan postur tegak—raut seriusnya membuatnya tampak garang. Sulit dipercaya yang ada di sebelahnya sekarang adalah orang yang sama dengan yang tadi pagi menyapanya hangat    di meja makan!

Andrew langsung berbicara. ”Pendidikanmu di COU dimulai hari ini. Raymond, sebagai salah satu pimpinan Direktorat Operasional, bersama Philippe yang mengepalai Direktorat Control Unit, sebuah unit yang mengurusi pelatihan para agen, telah merancang pola pendidikan yang akan kamu terima. Bobby Tjan ditunjuk sebagai mentormu, yang akan membimbingmu dalam berbagai aktivitas pelatihanmu, juga tugas-tugasmu nanti. Di sini, kegagalan anak didik juga merupakan kegagalan pembimbing, jadi saya yakin Bobby akan melakukan segala hal yang dianggap perlu untuk memastikan kemampuanmu  sesuai  dengan  standar  yang  diharapkan.”  Ia  menoleh pada Bobby, ”Right, Bobby?”

”Absolutely  right,  Sir,” jawab Bobby tenang dengan suara jernih.

Fay merasa bulu kuduknya meremang. Suara  dan  sikap  Bobby saat ini menerbangkannya kembali ke beberapa bulan silam, saat Bobby memberinya tiket satu arah ke Paris.

Andrew melanjutkan, ”Kamu akan ditempatkan bergilir di semua direktorat yang ada di COU untuk mendapat gambaran keseluruhan tentang tanggung jawab masing-masing bagian. Pagi ini kamu akan mengunjungi Direktorat Teknologi yang dibawahi oleh  James.  Setelah itu Bobby akan mengajakmu berkeliling fasilitas yang ada di sini dan memberitahumu tentang berbagai protokol yang harus kamu patuhi. Ada pertanyaan?”

”No,  Uncle...”

Andrew langsung meralat. ”Sir.”

”No,  Sir,” ulang Fay. Bulu kuduknya kembali meremang.

Andrew kembali berbicara. ”Sejak hari ini, secara resmi statusmu adalah Agen Level Lima.”

”Welcome  to  COU,  Agent  Fay,” ucap Raymond.

***

Bobby mengantar Fay hingga ke ruang penerimaan tamu di Direktorat Teknologi. Ia berbicara pada speaker yang  ada  di  dekat pintu, dan tak lama kemudian pintu terbuka dan James Priscott  ke luar dengan wajah berseri-seri.

”Halo, Fay, selamat datang di Direktorat Teknologi,” ucap James sambil mengulurkan tangan.

Fay mengangkat alis sebentar sebelum tersenyum dan membalas salam James. Raut wajah James yang ramah, dengan busana berupa kemeja biasa yang tidak berwarna hitam, bagaikan memberi angin segar. ”Thank  you,  Unc... eh...”

”Kamu  harus  memanggil  saya  Sir,  atau  Chief,”  sambung  James buru-buru dengan wajah tampak gugup. Ia membetulkan kacamatanya sambil melirik Bobby sedikit. ”Aku ambil alih dari sini. Kau bisa pergi.”

Bobby mengangguk, kemudian beranjak pergi.

James membuka pintu menggunakan kartu akses miliknya, lalu mengajak Fay masuk ke Direktorat Teknologi.

”Area Direktorat Teknologi memiliki akses terbatas. Hanya agenagen level satu yang memiliki akses langsung untuk masuk ke sini. Pengecualian adalah bagi anggota keluarga McGallaghan—semua otomatis diberikan akses untuk masuk ke sini.”

Fay mengerutkan keningnya, lalu bertanya, ”Bukankah Bobby agen level satu? Kenapa dia tidak punya akses?”

”Dia punya akses. Tapi, sudah menjadi kesepakatan umum bahwa mereka akan menghubungi saya dulu sebelum masuk.”

”Berarti saya juga begitu?”

James buru-buru menggeleng dengan raut wajah tak enak. ”Tidak... tidak... kamu bisa masuk ke sini kapan saja dan tidak perlu meminta izin dulu. Aturan itu khusus untuk orang-orang di luar keluarga.”

Fay tersenyum sedikit.

James mengajak Fay melewati koridor yang berkaca tebal di kedua sisi, menampilkan ruang-ruang berderet. Di setiap ruangan terlihat beberapa orang memakai baju laboratorium putih bekerja di depan berbagai alat.

”Ini ruang penemuan. Penelitian-penelitian dilakukan oleh sebuah tim di setiap ruangan.”

”Penelitian seperti apa?” tanya Fay.

”Pembuatan prototipe senjata, pembuatan atau modifikasi alat-alat yang menunjang tugas operasional, riset material baru, riset bahanbahan yang bisa dipakai untuk... mm... interogasi, dan banyak hal lain,”  jawab  James.  ”Hanya  riset  nuklir  yang  tidak  ada  di  sini,” tambahnya, lalu menghela napas.

Fay menoleh ketika mendengar nada yang berbeda di kalimat terakhir dan melongo sesaat melihat James sepertinya memang sedih dan kecewa.

Mereka tiba di area luas dengan banyak komputer. Pegawai-pegawai dengan tampilan acak-acakan memakai kacamata duduk di depan layar-layar besar—setiap orang memiliki setidaknya tiga layar di depan mereka.

”Ini area analisis sistem. Dari sini kita bisa mengakses banyak tempat yang tak terbayangkan di dunia, mulai dari basis data rahasia di banyak badan intelijen dunia, korporasi, maupun... Yah, apa saja.” James membetulkan kacamatanya. ”Informasi ini tentunya rahasia, dan saya berharap kamu pun tidak membocorkan hal ini,” sambungnya dengan nada rendah seperti ragu-ragu.

”Tentu saja tidak,” jawab Fay cepat.

James kembali tersenyum lebar. ”Saya akan menugasi peneliti senior untuk menjelaskan lebih banyak lagi, baik di sisi riset penemuan maupun analisis sistem.” Ia menurunkan volume suaranya sambil  mendekatkan  wajahnya  ke  telinga  Fay.  ”Tentunya  analisis sistem lebih dikuasai oleh seorang programmer senior, tapi kamu lihat sendiri mereka seperti apa... Kebolehan mereka di depan komputer   tak diragukan lagi, tapi kalau saya minta mereka bicara denganmu, bisa-bisa mereka hanya menatapmu dengan badan kaku dan tidak menjelaskan apa-apa.”

Fay mengangguk sambil menahan tawa yang ingin menyembur. Matanya tiba-tiba menangkap sosok Elliot yang sedang serius menghadapi tiga layar di hadapannya, duduk di pojokan, dekat ruangan James. ”Bagaimana dengan Elliot?”

James seperti mendapat pencerahan dan langsung bergumam sendiri, ”Benar juga... ada Elliot.” Ia memanggil Elliot.

Fay melihat Elliot mendekati James dengan langkah enggan, dengan wajah takut-takut.

”Yes, Chief?” tanya Elliot hati-hati sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.

”Kamu ajak Fay berkeliling. Jelaskan segala hal yang kamu ketahui tentang semua bagian di direktorat ini.”

”Yes,  Chief.”

Wajah James mendadak berubah serius, sorot matanya menjadi galak. ”Saya akan menanyai Fay setelah semua selesai. Bila Fay tidak bisa menjawab, saya akan menyalahkanmu!” ucapnya keras dengan tatapan menusuk. Fay tertegun sejenak. James kembali menatap Fay dan Fay lebih tertegun lagi melihat senyum ramah serta mata berbinar kembali terpampang di wajah James. ”Selamat berkeliling, Fay. Kembali ke ruangan saya bila kamu telah selesai.”

Setelah mereka berdua berlalu dari hadapan James, Fay berkata, ”Kamu kelihatannya takut sekali pada James.”

Wajah Elliot berubah merengut. ”Chief baik ke semua orang kecuali aku! Nanti kamu lihat saja sendiri...,” ucapnya, lalu menatap Fay dengan wajah cemas dan melanjutkan, ”Fay, kamu hafalkan ya semua keteranganku. Kalau kamu tidak bisa jawab pertanyaan Chief, aku pasti habis dimarahi!”

Fay mengangguk dengan perasaan  bercampur,  antara  geli  dan  iba.

Beberapa jam kemudian dihabiskan oleh  Fay  untuk  berkeliling dan berbicara dengan para pegawai yang ada di Direktorat Teknologi. Hampir semua menyambutnya ramah dan tampak senang bisa menceritakan apa yang mereka lakukan. Beberapa pengecualian ada   di pegawai-pegawai di bagian perangkat lunak, yang tampak  tak  sabar untuk segera kembali bekerja. Ada juga di antara mereka yang bersemangat bercerita, tapi Fay melongo mendengar  istilah-istilah yang mereka kemukakan—terdengar seperti bukan bahasa bumi!

Setelah semua selesai, Fay duduk di samping Elliot di depan tiga layar besar miliknya. Sesaat Fay tercenung—andaikan saja semua bagian COU seperti Direktorat Teknologi, hidupnya pasti sangat sempurna. Alangkah beruntungnya Elliot, yang masuk ke bagian non-ops.

Yah, sebenarnya ia tak bisa banyak mengeluh. Setidaknya diperlukan IQ di atas 160 untuk bisa masuk ke bagian non-ops, dan IQ     nya mendekati angka itu pun tidak! Dan itu berarti ia harus  berbesar hati bila harus meninggalkan tempat ini dan kembali berurusan  dengan Bobby atau pamannya yang lain.

James datang ke meja Elliot dan bertanya, ”Sudah selesai?” ”Sudah, Chief,” jawab Fay.

James tampak semringah mendengar panggilan chief dari Fay. ”Mudah-mudahan kamu bisa menjawab semua pertanyaan saya, karena kalau tidak, saya akan memintamu tinggal hingga larut malam ini untuk belajar lagi. Saya tidak mau kamu mendapat kesulitan dari Direktur besok kalau sampai tidak bisa menjawab ketika ditanya.”  Ia  lalu  memandang  Elliot  dengan  tajam.  ”Dan,  bila  itu terjadi, akan ada yang ikut tinggal hingga larut malam ini, ditambah hukuman lain.”

Fay melirik Elliot yang wajahnya mulai pucat. Ia mengikuti James dengan tekad untuk menjawab semua pertanyaan sebaik-baiknya. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai tanda terima kasih pada Elliot yang sudah mengajaknya berkeliling dan menjelaskan segala hal dengan antusias.

***

”Kamu  hanya  bisa  mengakses  ruang  dan  lantai  yang  sesuai  dengan levelmu,  kecuali  bila  kamu  diberi  keutamaan  tertentu,”  jelas  Bobby pada  Fay  sambil  menyusuri  koridor  menuju  area  latihan.  ”Di  banyak  titik  di  setiap  lantai,  kamu  akan  melihat  layar...  seperti  itu,” lanjutnya sambil menunjuk sebuah layar yang menempel  di  din ding.

Fay melihat layar yang ditunjuk Bobby. Ia ingat tadi beberapa kali melihat layar serupa. Layar itu mungkin seukuran televisi 29 inci, hanya saja bingkainya terbuat dari logam keperakan dan di sebelahnya dilengkapi pelat kaca dengan gambar telapak tangan.

”Letakkan saja telapak tanganmu pada pemindai, dan layar akan menampilkan informasi sesuai levelmu. Informasi serupa bisa kamu akses di telepon genggammu, hanya saja layarnya lebih kecil sehingga tampilannya tidak sejelas peta di layar itu.”

Fay   bertanya,   ”Tadi   Paman   Andrew   bilang   saya   level   lima.

Memangnya ada berapa level di COU?” ”Sebutannya adalah Direktur, bukan ‘Paman’.”

”Iya, maksud saya Direktur,” jawab Fay buru-buru, kemudian terdiam ketika merasa aneh sendiri mendengar  panggilan  Direktur  keluar dari mulutnya. Seolah-olah Andrew dan Direktur adalah dua orang yang berbeda.

Bobby menjelaskan. ”Ada lima tingkatan dalam jenjang karier agen operasional di COU. Semua agen baru akan berada di level lima. Setelah lolos pelatihan dasar,  mereka otomatis akan naik ke level empat. Mulai   dari level empat ke atas, setiap kenaikan tingkat ditentukan oleh ujian dan evaluasi kinerja agen selama berada di level tersebut.”

”Ujiannya seperti apa?”

”Tergantung   level   atau   sub-levelnya.   Bayangkan   saja   sebuah rumah. Level adalah tingkatan ketinggiannya, sementara sub-level adalah kamar-kamar yang merupakan variasi di satu level. Ketika seseorang memasuki level tertentu, dia bisa mulai di  kamar  mana saja. Untuk meninggalkan kamar itu dan masuk ke kamar lain, dia harus ujian sub-level. Kalau semua kamar sudah dikunjungi, baru seseorang bisa naik level—ujiannya bersifat komprehensif, menggabungkan semua komponen sub-level di level itu.”

Fay membuka mulut untuk bertanya, tapi menutupnya lagi karena  ragu. Ia melihat Bobby yang melangkah dengan tegap di sampingnya, dan akhirnya memutuskan untuk bertanya saja daripada penasaran. ”Sepupu saya yang lain level berapa?” Perutnya menegang karena sesaat tidak ada respons dari Bobby.

”Maksud   kamu,   agen-agen   lain   yang   menyandang   nama McGallaghan?” tanya Bobby balik dengan intonasi penuh tekanan. ”Eh...  hmm...  iya,  iya...  maksud  saya  itu,”  ucap  Fay  buru-buru

sambil menatap lurus ke depan.

”Larry, Reno, Sam, ketiganya di level dua. Tapi Larry dan Reno sudah menyelesaikan semua sub-level, sementara Sam belum. Larry dan Reno menunggu ujian kenaikan tingkat ke level satu intern—  bisa dianggap seperti magang di level satu, tapi belum level satu sepenuhnya. Sedangkan Sam masih perlu menyelesaikan dua ujian sub-level: merakit peledak dan menembak jitu jarak  jauh.  Kamu  tentu bisa menebak kedua topik tersebut membutuhkan  kesabaran yang tinggi supaya bisa dilaksanakan dengan sempurna, dan  saya yakin kamu cukup kenal Sam untuk tahu bahwa dia masih perlu belajar banyak tentang kesabaran.”

Fay nyengir sedikit. Sindiran Bobby tentang Sam mengalihkannya dari kekagetannya atas fakta bahwa ada keahlian merakit peledak dan menembak jitu yang suatu hari nanti juga harus ia kuasai. ”Bagaimana dengan Lou dan Kent?”

Bobby melanjutkan, ”Mereka berdua sama-sama level tiga. Mereka masih setara, walaupun sub-level yang sudah mereka lakukan tidak sama.”

”Apakah ada batas waktunya untuk setiap level?” tanya Fay. ”Ada, tapi berbeda-beda untuk setiap agen, tergantung kapasitas

setiap agen dan hasil evaluasi antara Chief Ops, Chief Control Unit, dan para mentor atau pelatih. Kadang Direktur ikut memberikan pendapat, tapi bukan keharusan. Tentunya, untuk agen-agen penyandang nama McGallaghan, Direktur selalu turut andil.”

Mereka tiba di koridor panjang dengan pintu-pintu di kiri-kanan.

Bobby mengajak Fay masuk ke setiap ruangan dan Fay merasa kakinya jadi semakin berat untuk dilangkahkan di setiap ruangan yang mereka masuki. Ada ruang latihan menembak seperti yang ada di rumah, tapi dengan ukuran lebih besar. Ada ruang senam untuk melatih kelenturan tubuh. Ada ruang latihan bela diri dengan senjata, tanpa senjata, dan ruang untuk latihan kombinasi antara keduanya. Ada ruang dengan berbagai target untuk latihan melempar pisau. Ada ruang sangat luas seperti hanggar pesawat yang dipenuhi halangan dan rintangan seperti latihan tentara, yang sebagian pernah juga ia cicipi saat latihan bersama Philippe dulu.

Berikutnya, Bobby kembali mengajak Fay turun satu lantai ke bawah, dan Fay tertegun melihat area luas seperti gudang dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi kotak, kontainer, rak, lemari, dan dinding yang seolah diletakkan secara acak. Ia pun ternganga melihat agen-agen berlari, melompat, salto, dan berguling dengan cepat dan tangkas, berpindah dari satu objek ke objek lain seakan tubuh mereka seringan kapas. Gerakan mereka lebih mirip atraksi akrobat  dalam sebuah tarian energik daripada rutinitas fisik.

”Parkour,”  ucap  Bobby  menjelaskan.  ”Ini  olahraga  jalanan  yang cukup populer di Eropa. Kamu akan menemuinya di beberapa tempat di tengah-tengah kota Paris—mereka menggunakan objekobjek yang umum ditemui dalam kota, seperti gedung, tangga, tembok, dan sebagainya, untuk dilalui. Olahraga ini melatih gerakan refleks berdasarkan informasi perimeter yang diproses secara cepat  oleh otak. Agen-agen level dua harus menguasai olahraga ini—sangat berguna dalam usaha pengejaran, baik sebagai pengejar maupun target.”

Keluar dari gudang tersebut, Bobby mengajak Fay ke sebuah ruangan tidak terlalu luas—mungkin hanya seukuran ruang kelasnya  di Jakarta. Ruang itu kosong melompong dan tampak modern.

”Ini ruang simulasi untuk latihan menembak dan tertembak.” Fay mengangkat alisnya sedikit. ”Tertembak?”

”Iya, tertembak, bukan hanya menembak. Kamu akan dipasangi pakaian khusus dengan beberapa kabel ditempelkan ke tubuhmu. Rasa sakit yang ditimbulkan pakaian itu cukup mendekati rasa kena tembakan.”

”Kenapa?” tanya Fay. Ia pernah terserempet peluru dan itu saja sakitnya sudah minta ampun, apalagi kalau tertembak betulan!

”Sebagai agen, kamu juga harus tahu seperti apa rasanya tertembak, sehingga bisa melatih pikiranmu untuk tetap jernih dan fokus dalam keadaan seperti itu. Di level dua nanti akan ada ujian bernama fte Hunting, seperti yang akan diikuti Larry dan Reno tahun ini. fte Hunting adalah kombinasi dari ketahanan fisik, keterampilan bertahan dan menyerang dalam bela diri, bertahan hidup, menembak, dan navigasi... dan, peserta bisa ditembak dengan peluru betulan.”

Fay ternganga hingga tak bisa berkata-kata. Ditembak menggunakan peluru betulan? Bertahan hidup? Dan, apa tadi yang  Bobby  bilang sebelumnya... merakit peledak? Menembak jitu?

Bobby mungkin melihat ekspresi panik Fay, karena dia langsung berkata,  ”Tapi  kamu  baru  akan  mencobanya  nanti,  setelah  naik  ke level tiga.”

Fay tidak berkata-kata karena lututnya tiba-tiba saja terasa lemas. Apa bedanya ia mencobanya di level tiga, level dua, atau level berapa pun... pada intinya, tetap saja ia tak bisa kabur dan harus melaluinya!

Mereka melewati sebuah pintu yang dilengkapi lampu berwarna merah di atasnya. Lampu dalam keadaan menyala.

”Ini ruang apa?” tanya Fay. ”Ruang pendisiplinan. Semua tindakan indisipliner akan diproses di ruangan ini. Lampu yang menyala menandakan ada agen yang sedang menjalani proses di dalam.”

Fay membuka mulutnya untuk bertanya proses seperti apa yang dimaksud, tapi mengatupkan mulutnya lagi.

Bobby membukakan pintu salah satu ruang latihan sambil  berkata, ”Sebentar lagi saya harus menghadiri pengarahan di ruang brifing, jadi saya minta kamu berlatih sendiri dulu. Jangan berhenti hingga saya menjemputmu lagi. Mengerti?”

”Yes,  Sir,” jawab Fay dengan suara lebih mirip gumaman.

***

Fay berkonsentrasi melayangkan pukulan bergantian ke mesin tinju menggunakan kedua tangannya yang memakai pelindung, sambil sesekali menyelinginya dengan tendangan dari kaki kiri dan kanan.    Di ruangan ini ada dua puluh mesin tinju, terbagi di kedua sisi ruangan. Setiap mesin dilengkapi layar yang menampilkan tenaga  yang dihasilkan oleh pukulan atau tendangan ke salah  satu  dari  empat bantalan yang tersedia—dua untuk tangan  dan  dua  untuk  kaki. Tak ada orang lain di ruangan ini, dan suara pukulan serta tendangannya saat mengenai bantalan tinju  mendominasi  ruangan  dan terdengar sedikit bergema. Peluh menetes dengan cepat  di  dahinya dan setiap pori-pori di tubuhnya mengucurkan keringat.

Terdengar suara tepuk tangan dan siulan.

Fay berhenti dengan napas terengah-engah dan melihat dua sepupunya, Sam serta Larry, berjalan ke arahnya. Ia bahkan tak sadar pintu telah dibuka. Ia meringis sambil mengibas-ngibaskan tangan— bahkan dengan sarung pelindung ini saja buku-buku jarinya terasa sakit. Luka iris di telapak tangannya juga berdenyut-denyut.

”Bravo,  Fay,”  ucap  Sam  sambil  bersiul.  Ia  melihat  ke  belakang sebentar untuk memastikan pintu tertutup, lalu memberi salam fte Groundhouse, disambut Fay dengan tangannya yang memakai pelindung. ”Selamat datang, Agen Fay...,” ucapnya lagi sambil menyeringai. Fay kembali meringis, namun kali ini dengan perut ngilu. Sebutan ”Agen” di depan namanya rasanya benar-benar tak cocok!

”Siapa mentormu?” tanya Larry. ”Bobby Tjan...”

Tiba-tiba saja pintu terbuka.

Lou membuka pintu lalu melongokkan kepala ke dalam ruangan, ”Kalian bisa kena masalah kalau tertangkap basah sedang berkumpul seperti ini.”

Larry mengibaskan tangannya. ”Semua agen level satu sedang dikumpulkan Direktur dan Chief Ops di ruang brifing.”

”Kalian tetap harus hati-hati. Aku dengar Philippe sedang memberi  pengarahan  ke  agen-agen  yang  baru  direkrut,”  ucap  Lou  yang tetap saja melongokkan kepala tanpa tanda-tanda akan masuk ke ruangan.

Sam berjalan ke arah Lou. ”Di mana dia sekarang?”

”Di  ruang  kelas,”  jawab  Lou  sambil  menoleh  ke  belakang.  Mendadak dia tersentak. ”Dia datang!” ucapnya dan langsung melesat pergi.

Sam yang sudah berada di dekat pintu  langsung  lari ke luar ruangan.

Larry mengumpat sambil berlari ke arah pintu, tapi kalah cepat. Philippe mendadak sudah muncul di pintu. Langkah Larry terhenti tepat sebelum menabrak Philippe, hanya berjarak beberapa senti di depan pria itu. Sebelum Philippe mengatakan apa-apa, Larry melihat arlojinya  dan  berkata  tergesa-gesa,  ”I’m  late  for  my  daily  exercise. Would  you  excuse  me,  Sir?”  Philippe  mengangkat  alis,  tapi  bergeser sedikit, memberi ruang bagi Larry untuk menyelinap keluar.

Fay masih terpaku di tempatnya berdiri.

”Fay... kebetulan sekali,” sapa Philippe dengan seulas senyum tipis. ”Saya sedang memberi pengarahan singkat ke agen-agen yang baru direkrut dan akan segera mengikuti pelatihan. Ikut saya.”

Fay mengangguk. Sebuah senyum di wajah jutek Philippe, sepanjang yang bisa ia ingat, tidak pernah merupakan pertanda baik.      Ia melepas sarung pelindung tangan, dan dengan kaki yang terasa kaku seakan tidak rela melangkah, ia mengikuti langkah Philippe, masuk ke salah satu ruang kelas di bagian pelatihan.

Di dalam kelas, agen-agen berbaju hitam berdiri bergerombol  sambil bercakap-cakap dengan suara pelan.

Philippe berteriak, ”Berdiri dalam tiga barisan!”

Semua langsung bergerak kalang kabut, dan setelah bertabrakan    di sana-sini akhirnya mereka berhasil berdiri rapi dan tegak dalam   tiga barisan.

Philippe memberi tanda pada Fay untuk berdiri di depan, menghadap ke barisan para agen.

Fay memperhatikan agen-agen yang berbaris. Usia mereka bervariasi, antara dua puluhan sampai akhir tiga puluhan.

Philippe berkata, ”Kita tidak mengikuti protokol militer dan kepolisian, tapi memiliki protokol sendiri—itu yang membedakan kita dari organisasi lain, dan itu juga yang membuat kita tidak mudah dikenali.”  Philippe  kemudian  berdiri  tegak  namun  dengan  kedua tangan di belakang dan kedua kaki sedikit terbuka.

”Ini adalah posisi standar di COU—open position. Bila tidak diberi perintah lain, posisi ini yang kalian gunakan. NOW, open position!”

Semua yang berbaris mengikuti instruksi Philippe, juga Fay.

Philippe memerintahkan seorang pria berkulit gelap dan seorang wanita muda berkulit putih yang berada di tengah barisan untuk maju dan berdiri di sebelah Fay. Philippe kemudian mulai bicara.

”Mereka bertiga yang ada di depan ini mewakili keanekaragaman yang ada di COU, baik dari jenis kelamin, usia,  maupun  ras: seorang wanita muda kulit putih, pria dewasa kulit hitam, dan seorang remaja Asia.

”Seperti yang kalian sudah ketahui dari sesi pengarahan sebelumnya, komando ditentukan oleh pangkat, bukan kriteria fisik seperti warna kulit, usia, jenis kelamin, ataupun hal-hal lain yang  sulit  diukur. Tidak ada perbedaan perlakuan berdasarkan kriteria-kriteria tadi. Perbedaan perlakuan hanyalah berdasarkan kemampuan. Apakah dimengerti?”

Semua menjawab ”Yes, Sir” secara bersamaan, seperti paduan suara. Philippe melanjutkan, ”Semua keputusan yang diambil oleh agenagen dengan garis komando di atas kalian, terhadap kalian, berlaku mutlak.”

Philippe berjalan perlahan menghampiri pria dan wanita di sebelah Fay. Mendadak kedua kepalan tangannya melayang ke arah ulu hati mereka. Keduanya mengerang dan terhuyung, jatuh berlutut di lantai.

Fay terperanjat melihat dua orang di sebelahnya mendadak sudah tersuruk di lantai. Ia masih belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi ketika Philippe sudah ada di depannya dan pada detik mata nya beradu pandang dengan Philippe, sebuah hantaman terasa di perutnya, membuat perutnya melesak ke dalam dan napasnya seakan berhenti. Kakinya juga seakan berada di luar  kendali  dan  ia  pun jatuh ke lantai. Dalam keadaan tersungkur di lantai, Fay berusaha menarik napas dengan susah payah. Perutnya panas dan mual. Bernapas membawa rasa sakit menggigit. Segera dadanya terasa terbakar karena kesulitan bernapas dan wajahnya panas  karena  menahan  sakit.

Philippe menambahkan sambil lalu. ”Bila kalian tadi sempat bertanya-tanya, kenapa posisi berdiri kalian dinamakan posisi terbuka, kalian sudah menyaksikan sendiri jawabannya... karena posisi itu membuka diri kalian terhadap serangan.” Ia menyapukan pandangan pada agen-agen yang masih berdiri, kemudian bertanya, ”Ada yang bisa memberitahu kenapa saya melakukan hal tadi?”

Tidak ada jawaban. Hanya wajah-wajah terperanjat dengan mata terpaku pada ketiga orang yang sedang mengerang di lantai.

”Kalau begitu, apakah ada di antara kalian yang ingin tahu kenapa saya melakukan hal tadi?” tanya Philippe.

Seorang pria berwajah hispanik mengangkat tangan. Secepat tangan pria itu terangkat, secepat itu pula kaki Philippe mengayun dan mengait kaki pria itu, membuat pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang ke belakang. Pria itu langsung berusaha berdiri, namun Philippe yang sudah berada di sebelahnya kembali mengayunkan kaki, kali ini ditujukan ke perutnya. Pria itu mengerang dan tersuruk di lantai. Philippe maju kembali ke depan barisan sambil menyapukan pandangan tajam ke semua orang yang ada di ruangan. Matanya menyipit dan rahangnya mengeras. ”JANGAN PERNAH mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh agen dengan level lebih tinggi, terutama oleh saya dan petinggi lain!”

Pria dan wanita di sebelah Fay sudah berhasil berdiri lagi. Si pria berusaha berdiri tegak dengan wajah memerah, sedangkan si wanita masih memegangi perutnya dengan tubuh melengkung sambil mengernyit. Fay mengatur napas dan berusaha bergerak, tapi rasanya ia tidak mampu meluruskan tubuh. Akhirnya ia membiarkan dirinya bersimpuh di lantai sambil menyumpahi Philippe dalam hati. Dasar orang sinting! Pemimpin suku barbar!

Philippe kembali berkata, ”Saya menunjukkan bahwa tidak ada tindakan diskriminatif berdasarkan ras, agama, umur, jenis kelamin.  Di level yang sama, setiap agen harus memperlakukan agen lain secara setara. Bila kalian menerima perlakuan berbeda, itu hanya boleh dilakukan oleh agen dengan level lebih tinggi berdasarkan pertimbangan khusus yang harus bisa dipertanggungjawabkan, tapi  tidak ada gunanya bagi kalian mempertanyakan hal itu. Apakah bisa dimengerti?”

Paduan suara kembali memperdengarkan ”Yes, Sir” secara kompak. ”Dan untuk alasan memelihara objektivitas dalam penilaian kemampuan dan kesetaraan perlakuan, hubungan yang lebih dari sekadar rekan kerja antara dua orang agen  TIDAK  diperkenankan. Saya tidak peduli apakah hubungan itu antara pria-pria, wanitawanita, pria-wanita, dan apakah ada unsur asmara di dalam hubungan itu atau tidak. Hubungan kerja di kantor ini TIDAK boleh dilanjutkan di luar kantor atas kehendak pribadi. Itu berarti, bila salah satu dari kalian berpapasan dengan saya di luar kantor, atau  kebetulan berada di antrean yang sama di toko, atau kebetulan berada di bar yang sama dengan agen lain, TIDAK diperbolehkan untuk menyapa secara sengaja atau menunjukkan tanda-tanda bahwa kalian kenal satu sama lain. Pengecualian atas aturan tersebut akan diberitahu kepada setiap individu, bila memang ada dan diperlukan. Ada

pertanyaan?” Hening sejenak.

Philippe menyapukan pandangannya pada seluruh agen yang ada di dalam kelas, lalu berkata, ”Class  is  dismissed.”

Satu per satu semua meninggalkan ruangan. Fay berusaha menggerakkan tubuh dan mengerang ketika perutnya terasa sakit.

Philippe melangkah mendekati Fay dan menghardik, ”Memalukan sekali! Bangun!”

Fay mendongak melihat Philippe dengan kemarahan berkobarkobar dan berharap Philippe melihat kemarahan di matanya. Ia tidak terima dipukul seperti ini hanya untuk dijadikan contoh seperti tontonan murahan di pinggir jalan!

Terdengar suara dari arah pintu, ”What  is  going  on?”

Fay menoleh dan melihat Raymond Lang berdiri di depan pintu. Steve Watson yang lebih tinggi dari Raymond berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang dan tersenyum lebar.

”Pasti Philippe dengan lelucon konyolnya terhadap agen-agen baru,” ucap Steve.

Raymond bergerak mendekat, memegang lengan Fay dan menariknya berdiri. Fay kembali mengerang saat otot perutnya terasa ditarik saat badannya diluruskan.

”Saya  antar  kamu  ke  ruang  perawatan  untuk  diperiksa,”  ujar Raymond. ”Saya harap tidak ada tulang rusuk patah yang akan menyebabkan  jadwal  latihan  kamu  selanjutnya  terganggu,”  ucapnya sambil memelototi Philippe.

Philippe mendengus, ”Jangan kira karena agen operasional termuda dan menyandang nama keluarga, dia bisa berlaku seenaknya dan mengharapkan dispensasi di kantor! Dan, kurasa kau harus merevisi materi latihannya... Kalau satu pukulan ringan ke perut saja membuatnya seperti ini, bisa kupastikan dia tidak akan lolos pelatihan dasar.”

Pukulan ringan? Pukulan RINGAN?

Fay melirik Philippe dengan kesal tapi akhirnya membuang muka sambil merengut, mengikuti Raymond yang memapahnya ke luar ruangan, melewati Steve yang bersandar di pintu sambil tersenyum lebar. Dasar pada gila semua!
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊