menu

Trace of Love Bab 06: The Oath

Mode Malam
The Oath

MATI!

Fay tergesa-gesa masuk lewat foyer, kemudian naik tangga putar dengan dua lompatan sekaligus, lalu akhirnya berlari di koridor menuju kamarnya. Ia tadi kelewat asyik jalan-jalan dengan Enrique, sampai-sampai lupa ia harus pulang untuk latihan anggar.

Pulang kursus tadi ia diajak Enrique mengunjungi Quartier Latin. Di sana mereka terkagum-kagum menyaksikan arsitektur Pantheon yang luar biasa, kemudian menyusuri jalan ke arah tenggara hingga tiba di Mosquee de Paris, sebuah kompleks pusat budaya Islam yang terdiri  atas  masjid,  Institut  d’Etudes  Musulmanes,  serta  tearoom, restoran, dan pemandian Turki. Setelah puas melihat bangunan-bangunan yang berarsitektur Maroko dan Tunisia, mereka menyempatkan diri mencoba teh mint di tearoom. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Jardin de Plantes yang dulunya merupakan taman untuk keperluan riset obat-obatan. Sekarang taman itu terbuka untuk umum dan memiliki beberapa greenhouse atau rumah kaca.

Saat sedang berjalan di greenhouse itulah Lucas menelepon. Fay langsung mengajak Enrique pulang dengan alasan agak pusing, walaupun habis itu ia jadi mati-matian berusaha menampik tawaran Enrique yang memaksa mengantarkannya ke apartemen. Akhirnya Enrique menyerah, dan Fay pun minta dijemput oleh Lucas di stasiun metro dekat apartemen.

Fay melangkah ke kamar sambil melirik arlojinya, dan berteriak putus asa ketika melihat ia sudah terlambat 22 menit! Dan, untuk memperparah keadaan, yang jadi pengawas latihannya kali ini adalah Philippe... Benar-benar mati! Kenapa semua harus berlangsung dramatis begini?!

Fay buru-buru berganti baju, kemudian lari lagi keluar kamar menuju aula lantai tiga. Berdasarkan pengalamannya selama ini, tak seorang pun pamannya pernah bersikap keras untuk latihan di rumah, tapi membayangkan kemarahan berbayang di wajah Philippe sudah cukup membuat perutnya mulas, seakan sebuah gasing berputar di dalamnya. Kalau saja kehidupannya ini adalah film kartun, saat ini mungkin asap sudah mengepul keluar dari telinga Philippe! Di anak tangga terakhir menuju lantai tiga, Fay memekik ketika tubuhnya menabrak sosok yang tiba-tiba saja muncul di tangga. Ia

oleng sedikit, tapi sebuah tangan kokoh memegang tangannya.

Reno berkata, ”Hei, sebentar. Ada yang mau aku bicarakan denganmu.”

Fay menarik tangannya yang dipegang Reno, tapi Reno seperti sengaja menguatkan genggamannya. ”Aduh, nanti dulu... Aku sudah telat nih!” ucap Fay panik.

”Iya, Philippe sudah marah-marah dari tadi karena kamu tidak datang-datang. Kamu habis ngapain?” tanya Reno dengan nada keras.

Fay  menangkap kemarahan dalam ucapan dan wajah Reno, tapi    ia tak punya waktu untuk ambil pusing. Ia menyentak tangannya dengan keras sehingga terlepas dari pegangan Reno, kemudian langsung kabur sambil berkata, ”Nanti saja, aku sekarang harus latihan!” Lewat sudut matanya, ia melihat Reno berkacak pinggang sambil menatapnya kesal. Tak ada pilihan lain—sepenting apa pun urusan yang mau dibicarakan, Reno harus menunggu, karena ia sekarang punya masalah yang lebih mendesak!

Fay membuka pintu aula dengan napas terengah-engah, dan detik itu juga putaran gasing di perutnya langsung menggila ketika tatapannya jatuh pada Philippe yang berdiri di tengah-tengah aula sambil bersedekap. Tak ada asap keluar dari telinga Philippe, tapi tatapannya yang menusuk sudah cukup membakar semua nyali Fay seiring tiap langkah maju, hingga akhirnya tak bersisa ketika tiba di hadapan pamannya itu.

”Bagus!” sambut Philippe tajam begitu Fay tiba di hadapannya. Fay menunduk. Dadanya terasa berderu dan tangannya dingin.

Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi anggota keluarga, kemarahan tertera sangat jelas di wajah Philippe.

”Prestasi yang luar biasa!” ucap Philippe keras. ”Sampai hari ini, belum pernah ada satu keponakan pun yang berani membuat saya menunggu hingga tiga puluh menit!”

Aduh, mati!

”Maaf, Paman,” ucap Fay lalu menelan ludah, sambil menyesali ketololannya. Tadi pagi ia sudah tahu sore ini ada latihan diawasi Philippe, tapi bagaimana ia bisa lupa begitu saja ketika Enrique mengajaknya jalan-jalan? Benar-benar bodoh!

Philippe melengos. ”Maaf?” ulangnya sinis. ”Permintaan maaf masih wajar disebutkan bila hanya terlambat lima menit. Tapi, setengah jam?! Kalau ini terjadi di kantor atau dalam persiapan sebuah tugas, saya akan memastikan kamu tidak akan meminta maaf lagi, tapi berteriak memohon ampun!”

Supermati!

Fay menunduk semakin dalam dengan debar dada semakin kencang.

”Dari mana kamu tadi?!” hardik Philippe.

Jantung Fay kini tak hanya berdetak kencang, tapi langsung acakacakan. Ia menelan ludah, kemudian menjawab pelan, ”Jalan-jalan sama teman...”

”Luar biasa!” potong Philippe. ”Kepentingan temanmu bisa lebih penting daripada kepentingan saya, pilar keluarga ini!”

Fay tidak berkata-kata. Apa yang bisa ia katakan? Ia memang tolol sekali! Satu-satunya yang bisa ia harapkan sekarang adalah ada sedikit saja keajaiban sehingga semua ini bisa berlalu dengan  cepat. Dan tidak menyengsarakan. Philippe kembali berbicara. ”Latihan hari ini saya batalkan. Sebagai hukuman, kamu akan lari bolak-balik dari pintu depan ke gerbang. Saya sudah meminta Nikolai untuk mengawasi hukumanmu. Dan nanti malam, ucapkan selamat tinggal pada kasur empuk      di kamarmu, karena kamu akan tidur di sel!”

Tepat saat itu, pintu terbuka. Seorang pria botak tak terlalu tinggi namun berperawakan kekar masuk ke dalam. ”Anda memanggil saya, Sir?”

Philippe menoleh ke Nikolai. ”Ya, Nikolai. Aku membutuhkanmu untuk mengawasi hukuman keponakan baru  yang  tak  tahu  aturan ini. Dia akan lari bolak-balik dari pintu depan ke gerbang. Mungkin setelah itu dia bisa mengerti di mana posisinya di keluarga ini.”

Aih... telak!

Fay menelan ludah dengan dada seperti ditohok. Ia kemudian menarik napas panjang tanpa kentara.

”Baik, Sir. Berapa kali Anda ingin dia lari? Atau, berapa lama?” Fay meremas-remas kedua tangannya dengan tegang. Ia melirik

Philippe dan menunggu sambil sedikit harap-harap cemas.

Philippe menatap Fay dengan mata sedikit menyipit, kemudian berkata lamat-lamat, ”Kamu telah membuat saya menunggu selama tiga  puluh  menit.”  Ia  lalu  berkata  ke  Nikolai  dengan  nada  rendah, ”Dia akan berlari sebanyak yang diperlukan. Aku ingin dia merangkak dengan perut kelaparan ketika dia masuk sel malam ini.”

”Consider  it  done,  Sir,”  ucap  Nikolai  datar,  kemudian  memberi tanda pada Fay untuk keluar mengikutinya.

Fay mengeluh dalam hati, lalu mengikuti Nikolai dengan langkah serasa tak menapak karena tubuhnya terasa melayang saking lemasnya.

Keajaiban yang ditunggu-tunggu kelihatannya tak akan datang.  Dan dengan diawasi Nikolai, sepertinya ini akan berlangsung lebih  menyengsarakan daripada yang ia bayangkan.

***

Fay menyandar ke dinding sel sambil meluruskan kaki yang seperti sudah terpisah dari tubuhnya. Ia menggoyang-goyangkan  kakinya  dan mengernyit ketika rasa nyeri langsung terasa di sekitar lutut dan pahanya.

Hukuman lari bolak-balik tadi berlangsung empat putaran saja. Ia sudah kege-eran dengan girang ketika Nikolai menyuruhnya berhenti, tapi kemudian Nikolai memerintahkannya jongkok dengan kedua tangan di belakang kepala, kemudian melanjutkan hukumannya dengan posisi seperti itu. Benar-benar tak manusiawi! Fay tentunya langsung protes keras, namun Nikolai menanggapi dengan datar, ”Philippe ingin kamu tak sanggup lagi berjalan tegak ketika hukuman ini usai, dan lari saja tidak akan membuatmu seperti itu.”

Dan, yang lebih menyakitkan sebenarnya adalah kalimat yang diucapkan berikutnya, waktu Fay berjalan jongkok kelewat pelan, ”Kalau kamu tidak bisa lebih cepat lagi, saya akan memasang rantai ke lehermu dan menarikmu seperti seekor anjing penjaga yang berpatroli.”

Ha! Dasar botak tidak punya hati! Ia sumpahin Nikolai gundul seumur hidup!

Berikutnya, Nikolai melanjutkan, ”Jangan khawatir, bila jalan jongkok seperti ini belum bisa membuatmu merangkak, saya masih punya cara lain.”

Aaarrrgggh, rasanya pengin ia tonjok saja muka si botak sialan    itu! Dasar gila!

Benar saja. Setelah jalan jongkok entah berapa lama, Nikolai menyuruh Fay berdiri di depan pos penjaga dengan posisi setengah jongkok. Yang terakhir ini yang akhirnya membuat kaki Fay lemas seperti tape.

Terdengar langkah kaki mendekat.

Fay tegak dengan perut menegang. Siapa yang datang? Nikolai?

Philippe? Atau Andrew? Mati! Reno muncul di depan sel.

Fay mengembuskan napas lega. Ia berdiri, mengaduh-aduh sebentar ketika kakinya protes, kemudian tertatih-tatih sambil me ngernyit mendekati Reno. ”Hai, kamu ngapain ke sini?” Ia tertegun melihat Reno sejenak tak berkata-kata, hanya menatapnya dingin. ”Kamu itu bisa nggak, berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu? Dari dulu sampai sekarang tidak ada kemajuan sama sekali!” kata  Reno dengan nada tajam.

”Apa-apaan sih? Datang langsung marah-marah. Kalau begitu nggak usah ke sini aja sekalian!” balas Fay sengit.

Tiba-tiba Reno maju dan kedua tangannya menggebrak jeruji besi.  Fay tersentak dan refleks mundur selangkah. Dadanya langsung bergemuruh.

”Dengar dulu kalau orang bicara!” hardik Reno. ”Kamu itu bodoh sekali, mengajak pemuda yang belum lama kamu kenal untuk datang    ke apartemenmu. Kalau dia berniat tidak baik, kamu tidak bisa apaapa!”

Fay langsung bereaksi. ”Enrique baik kok, sama sekali tidak seperti yang kamu pikir. Aku percaya padanya, dan terbukti kan... tak terjadi apa-apa!”

”Oh  ya?  Kalau  pun  dia  ‘baik’  seperti  yang  kamu  bilang,  jelas pengaruhnya ke kamu tidak baik. Buktinya kamu bisa berakhir di sel malam ini.”

Fay mengepalkan kedua tangannya dengan gemas. ”Itu kan karena aku lupa ada latihan anggar, bukannya karena dia membawa pengaruh buruk! Mungkin kamu yang harus berpikir dulu sebelum menuduh yang tidak-tidak! Lagi pula, kamu tahu dari mana  dia  pernah datang ke apartemenku? Kamu membuntutiku, ya? Itu benarbenar mengesalkan! Kamu nggak tahu ya di kamus ada kata ‘privasi’?”

Terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Sam dan Larry muncul.

”Bravo, Fay,” ucap Sam sambil menyeringai lebar.

Fay mengangkat alisnya sedikit. ”Bravo  apanya?” tanyanya curiga dengan kekesalan masih membeludak. ”Kalian mau ngapain ke sini?” tanyanya sedikit ketus.

Larry menjawab santai, ”Kami mau menjengukmu. Ini kan malam pertamamu di sel, jadi kami mau mengucapkan selamat sambil meng antarkan barang-barang yang bisa membuat tidurmu lebih nyenyak.” Fay menyipitkan matanya. Benarkah? Atau mereka berdua mengerjainya? Kekhawatirannya langsung pupus ketika Sam mengeluarkan sehelai kain tipis dari kantong kertas di tangannya.

”Jangan menilai kain ini dari tampilannya. Ini dari material khusus... walaupun tipis tapi bisa menghangatkanmu di lantai batu yang dingin. Tetap keras sih lantainya... tapi lumayanlah.”

Larry merogoh kantong kemejanya, kamudian menyodorkan iPod. ”Telepon  genggammu  disita  Nikolai,  kan?  Aku  pinjamkan  malam ini, siapa tahu kamu mau mendengarkan musik untuk mengusir bosan. Kembalikan ke aku besok.”

Fay menerima iPod sambil tersenyum sedikit. Ia kehilangan katakata.

Sam merogoh kantong kertas. ”Ini ada sandwich. Kamu pasti tadi tidak dikasih makan sama Nikolai.” Ia lalu menyerahkan kantong ke Fay. ”Kalau masuk sel, biasanya kita dijemput setengah jam sebelum latihan pagi. Jadi, kamu harus bangun lebih pagi lagi, kemudian sembunyikan semua barang ini di lubang angin yang ada di pojok ruangan. Jangan sampai ketiduran dan ketahuan oleh penjemputmu besok pagi. Setelah kamu dikeluarkan dari sel, siang atau sore kamu kembali lagi ke sini untuk mengambilnya.”

Larry memajukan kepalan tangannya ke Fay, dan Fay menyambutnya buru-buru. ”Malam pertamamu di sel... selamat datang di keluarga ini, Fay.” Ia kemudian tersenyum tipis.

”Thanks,  guys...,”  ucap  Fay  dengan  haru.  Kemudian,  ia  melirik Reno dengan tatapan tajam yang kalau diterjemahkan berarti, ”Tuh lihat... Jangan marah-marah doang bisanya...”

Reno merogoh kantong, kemudian mengeluarkan barang yang tampak seperti kain dilipat-lipat. Ia menyodorkannya ke Fay. ”Bantal tiup,” ucapnya singkat dengan intonasi datar yang masih dingin.

Fay menerima kain yang disodorkan Reno dengan perasaan sedikit bersalah  campur  haru,  walaupun  masih  sedikit  kesal.  ”Thanks,”  gumamnya pelan. Ia memasukkan bantal ke kantong kertas.

”Sama Nikolai kamu disuruh ngapain aja?” tanya Sam dengan seringai lebar.

”Lari, terus jalan jongkok, terus berdiri setengah jongkok.” Larry tersenyum tipis. ”Dia memang sangat kreatif dan imajinasinya tinggi sekali. Jadi, apa yang membawamu ke sel?”

Fay menjawab dengan enggan, lebih karena Reno masih berdiri  sambil menatapnya tajam. ”Aku telat setengah jam untuk latihan dengan Philippe.”

Larry mengangkat alis. ”Terlambat setengah jam dengan Philippe?

Kamu ternyata gila juga.”

Reno langsung bersuara, ”Kamu nggak cerita sekalian kalau kamu pergi sama cowok yang belum lama kamu kenal... yang belum lama ini kamu undang ke apartemenmu?”

Fay melirik Reno dengan kesal. Kalimat itu menyiratkan ia adalah cewek bodoh yang tidak pakai otak dan semena-mena  mengajak  orang asing ke apartemennya! Enrique kan bisa dibilang sudah jadi sahabatnya, bukan orang asing! Apa sih maksud Reno ngomong  begitu di depan Larry dan Sam?

Larry mengangkat bahu seperti tak peduli sambil bertanya, ”Kamu tentunya sadar, dia bisa melumpuhkanmu dengan mudah?”

”Aku bisa membedakan cowok baik-baik dengan cowok brengsek. Enrique sahabatku, cowok biasa dari keluarga normal, bukan keluarga seperti McGallaghan, dan dia nggak pernah aneh-aneh!” sahut Fay.

”Kamu pikir cowok-cowok psikopat yang biasa menyerang dan melukai wanita tidak terlihat seperti orang normal dari keluarga normal?” tukas Reno.

”Aku bisa jaga diri!” sahut Fay semakin sewot.

Sudut bibir Larry terangkat sedikit, seperti memampangkan senyum sopan. ”Oh ya?” tanyanya sambil lalu, kemudian berbalik dan berlalu ke pintu keluar.

Berikutnya, Fay mengerutkan dahi ketika melihat Larry kembali membawa satu set kunci.

Larry berkata, ”Kamu tahu... aku sebenarnya tidak ambil pusing kamu melakukan apa. Kamu bisa mengajak sebanyak mungkin pemuda ke apartemenmu dan aku tak peduli. Tapi, aku tidak bisa membiarkan  sebuah  argumen  yang  tak  logis  lolos  begitu  saja.”  Ia membuka pintu sel. ”A... apa yang kamu lakukan?” tanya Fay panik sambil mundur beberapa langkah.

Larry melangkah masuk, mengunci pintu sel, kemudian melempar kunci ke Reno yang masih berdiri di depan sel, yang langsung menangkapnya dengan tangkas.

”Seperti yang kubilang, aku tidak peduli kamu pergi ke mana dan dengan siapa, asalkan kamu secara sadar tahu risikonya. Sekarang, aku ingin kamu mengakui dengan besar hati, bahwa saat ini kamu belum mampu menghadapi seorang pemuda yang ingin melumpuhkanmu, terlepas  menurutmu  dia  pemuda  baik-baik  atau  pemuda  brengsek.” Kemudian Larry maju, meraih tangan Fay dan menariknya, dan langsung meraih satu lagi tangan Fay dari belakang.

Fay memekik dan berteriak protes ketika Larry berdiri di belakangnya sambil memegang kedua tangannya. Ia menoleh ke Sam dan Reno untuk mencari dukungan, tapi Sam cengengesan dan Reno bersedekap sambil memandanginya dengan tatapan, ”Salah sendiri, kenapa cari gara-gara.”

Larry berkata, ”Satu kosong buatku. Sekarang, apakah kamu sudah  siap  mengakui  bahwa  kamu  tidak  bis...  aarrgh...”  Ucapannya tidak selesai karena Fay menendang ke belakang, tepat mengenai tulang keringnya.

Fay bisa merasakan pegangan tangan Larry melonggar dan ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menyentak tangannya hingga terlepas dari Larry, kemudian mundur sambil memperhatikan Larry yang membungkuk, memegangi tulang keringnya. Ha, rasain!

Sam tergelak dan berkata, ”Bravo, Fay... satu sama.” Reno tampak kaget, dan belakangan juga ikut nyengir.

Berikutnya, Fay langsung panik ketika Larry tiba-tiba berdiri tegak dan maju ke arahnya dengan sorot mata  jengkel  yang  dipenuhi  tekad. Entah bagaimana terjadinya—Fay hanya merasa lengannya ditarik dan tubuhnya oleng bersamaan dengan kakinya  yang  tahutahu seperti terlepas dari pijakan—tapi tiba-tiba ia sudah terbaring     di lantai sel, dengan tangan Larry mencengkeram lehernya.

Larry menyeringai dan berkata, ”Oke. Mungkin aku tadi terlalu meremehkanmu..” Fay meronta-ronta, berusaha melepas tangan Larry dari leher, berusaha mendorong Larry supaya menjauh, dan bahkan mengayunkan kakinya ke arah Larry untuk menendang.

Larry menangkis serangan Fay yang membabi buta hanya dengan satu tangan, sambil berkata, ”Harap catat baik-baik bahwa aku masih mempertimbangkan tata krama... yang kulakukan sekarang hanyalah berjongkok di sebelahmu. Dalam pertempuran betulan, aku akan menindihmu dan membuatmu pingsan hanya dengan satu pukulan ke wajahmu. Bila yang melakukan adalah salah satu pemuda yang kamu ajak ke apartemenmu, nasibmu pasti akan buruk sekali setelahnya.”

Fay akhirnya berhenti dengan napas naik-turun karena sedikit kelelahan dan lebih banyak karena putus asa.

”Jadi, kamu sudah siap mengakui atau belum?” tanya Larry.

Fay melihat Larry dengan tatapan yang ia harap bisa membakar Larry, tapi Larry tenang-tenang saja. Raut wajah Larry seolah berkata dia sanggup menahan posisi ini sepanjang malam. Akhirnya, Fay mengambil napas panjang untuk meredakan emosinya sekaligus menyapu perasaan terhina yang sekarang melandanya. ”Iya... aku menyerah,” ucapnya datar.

”Menyerah apanya?” tanya Larry tanpa melepas pegangannya ke leher Fay.

Fay menatap Larry dongkol, tapi akhirnya menjawab setengah hati, ”Aku mengakui kamu benar. Sekarang aku belum bisa membela diri  kalau  ada  cowok  brengsek...,”  ia  berhenti  sebentar,  kemudian melanjutkan, ”...kalau ada cowok brengsek seperti kamu dan Reno, yang berniat jelek dan ingin melumpuhkanku.”

Sam dan Reno tertawa, juga Larry, yang langsung melepas pegangannya di leher Fay. Larry mengulurkan tangannya pada Fay untuk membantunya berdiri. ”Sori, Fay. Tapi fakta adalah fakta. Kamu tidak bisa memakai fakta yang dibelokkan untuk melindungi sebuah argumen yang salah—hal seperti itu membuat kepalaku gatalgatal.”

Fay cemberut, tapi akhirnya menerima uluran tangan Larry. Larry menarik Fay berdiri, kemudian merangkul gadis itu sambil menepuk-nepuk pundak Fay. Ia kemudian keluar sel dan mengunci pintu, sambil berkata, ”Semoga tidurmu nyenyak.”

Fay mendekat ke jeruji sel dan melirik Reno yang masih berdiri di depan selnya.

Reno memajukan kepalan tangannya ke arah Fay, melewati jeruji sel.

Sesaat Fay hanya memandang tangan Reno yang tergantung di udara. Akhirnya, seulas senyum terbentuk di bibirnya, dan ia pun membalas salam fte Groundhouse yang diberikan Reno. Kekesalannya terhadap cowok usil yang sudah ia anggap kakaknya sendiri ini langsung lumer tanpa bekas.

”See you tomorrow, li’l sis,” ujar Reno sambil tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Fay, kemudian berlalu.

Fay kembali ke sudut ruangan. Hidupnya hari ini bergulir dengan sangat aneh. Tadi pagi ia kursus bahasa seperti anak-anak normal lainnya, siang jalan-jalan sama cowok yang tulus, baik hati, dan... ehm... seksi, sore dihukum lari dan jalan jongkok sampai hampir mampus, kemudian malam masuk sel dan diserang oleh sepupunya sendiri, yang juga membawakan barang-barang yang membuat hidup nya lebih nyaman. Semuanya terdengar seperti kegilaan yang tak masuk akal.

Fay senyum-senyum sendiri, lalu bersandar pada dinding dan menikmati sandwich-nya.

***

”Bagaimana persiapan ujianmu di kantor?” tanya Andrew McGallaghan pada keponakannya, Reno Corderro, di ruang kerjanya di kastil.

Reno menjawab santai, ”Lancar. Sebentar lagi saya akan memulai persiapan intensif dengan Russel, dan setelah itu saya siap mengikuti fte  Hunting.”  Ia  sekarang  level  dua,  dan  ujian  yang  disebut  fte Hunting akan menjadi penanda kenaikannya ke level satu intern, atau  magang  di  level  satu.  Masih  ada  embel-embel  ”intern”,  tapi tetap saja sudah level satu. Andrew kembali berbicara. ”Beberapa hal akan berubah dalam waktu dekat, terutama interaksimu dengan para sepupumu. Begitu kamu mulai magang di level satu, bisa dibilang kamu akan lebih banyak berada di sisi fte Pillar dibandingkan di sisi fte Base. Dan setelah kamu menjadi level satu sepenuhnya, kedua kakimu akan berada di sisi fte Pillar.”

Reno tak berkata-kata. Ia sudah tahu semua akan berubah. Setelah ujiannya nanti, ia ragu masih punya keinginan untuk melakukan kenakalan rumah bersama para sepupunya yang lain. Hukuman atas pelanggaran aturan rumah akan dinaikkan satu tingkat bagi mereka yang sudah menginjak level satu. Itu artinya, bila sepupunya yang berada di bawah level satu dihukum lari  atau  menggosok  lantai  untuk pencurian ringan di dapur,  maka ia bisa-bisa dijebloskan ke    sel dan dihajar Nikolai untuk pelanggaran yang sama—konsekuensi yang tak sepadan.

Telepon genggam Andrew berbunyi.

Reno menunggu Andrew memberinya tanda untuk keluar, tapi pamannya hanya berdiri dan menjauh ke arah jendela untuk berbicara. Ia melirik arlojinya—pukul sebelas malam. Ia ingin segera istirahat karena besok akan menjadi hari yang panjang di kantor—ia menguap dan memelorotkan tubuhnya sedikit.

Andrew menutup telepon, kemudian kembali duduk di seberang Reno.  ”Philippe  melapor  bahwa  Fay  terlambat  setengah  jam  untuk latihan.”  Ia  tersenyum  singkat,  kemudian  menambahkan,  ”Philippe marah besar. Dia bilang ini pencapaian luar biasa untuk keponakan  yang  baru  direkrut.”  Ia  menggeleng  tanpa  kehilangan  senyumnya.

Kalimat itu mengembalikan fokus Reno yang tadi sempat mengabur karena kantuk menjadi utuh dan tajam kembali. Ia menegakkan tubuhnya yang sempat melorot dan memperhatikan wajah pamannya dengan lekat. Ia mengenali ekspresi pamannya saat ini—wajahnya tampak ramah dengan seulas senyum, bahasa tubuhnya pun santai, namun sorot matanya, yang seperti menegaskan adanya jarak di antara mereka, menyiratkan sesuatu yang berbeda. Pikiran Reno mulai berputar, mencoba membaca skenario yang sedang bergulir di kepala pamannya, tapi tidak berhasil. Situasi ini rasanya familier—apakah pamannya ingin ia kembali membantu Fay seperti dulu ketika Fay dihukum Philippe di sel bawah tanah? Ia tak yakin—tapi, kapan ia pernah merasa yakin di hadapan Andrew?

Andrew kembali berbicara, ”Tak perlu dibicarakan panjang lebar. Philippe boleh saja sangat marah, tapi ini hanya pelanggaran rumah biasa. Lagi pula, saya memanggilmu bukan untuk mendiskusikan hal itu.”  Ia  membuka  laci  meja  kerja,  kemudian  mengeluarkan  sebuah benda dan meletakkannya di meja.

Reno menegakkan tubuh. Tatapannya lekat  ke  benda  warna metalik yang ia kenali—pengejut listrik. Ia mencoba tidak bereaksi sebelum tahu persis apa maksud pamannya, tapi ia bisa merasakan kegelisahan mulai terbentuk dalam dirinya. Ia mengubah posisi duduknya.

”Berapa kali kamu pernah merasakannya?” tanya Andrew. ”Beberapa kali... saya tidak ingat,” jawab Reno tak acuh, tapi de-

ngan otot perut menegang. Sebenarnya ia ingat. Empat kali—satu kali oleh Andrew, satu kali oleh Philippe, dan dua kali oleh pengawas utamanya, Steve Watson. Reno menelan ludah ketika kepalanya memampangkan bayangan kengerian yang pernah ia rasakan ketika benda itu menyentuhnya.

Andrew berkata, ”Sekarang saya akan meminta Nikolai untuk membawa Fay ke Ruang Putih.”

Reno langsung bereaksi dengan nada meninggi. ”Tapi, Paman, Fay kan hanya terlambat latihan...”

”Tepat  sekali,”  potong  Andrew,  dengan  tatapan  berubah  tajam. ”Karena memang bukan kesalahan Fay yang akan membawanya ke Ruang Putih sekarang, melainkan kesalahanmu.”

Badan Reno tegak, dahinya berkerut. ”Maksud Paman...?”

Andrew meraih remote, kemudian menampilkan dua gambar di layar virtual yang berada di salah satu sisi ruangan.

Reno bersandar dengan gugup ketika mengenali foto dirinya sendiri sedang mengendarai mobil yang melaju melewati sebuah rumah. Terlihat di latar belakang foto, Fay sedang berdiri di depan pintu rumah yang tertutup bersama temannya. Di foto kedua, Reno melihat foto mobilnya yang diparkir di dekat apartemen Fay. Sama sekali tak ia sangka pergerakannya bisa terpantau oleh pamannya!

”Foto-foto ini diambil oleh tim pengintai salah satu operasi lapangan.”

”Operasi lapangan?” tanya Reno dengan dahi berkerut. ”Apakah Fay sedang bertugas?” sambungnya cepat, dan langsung menyesal telah mengeluarkan pertanyaan yang tak semestinya ia suarakan. Ia menelan ludah ketika Andrew memberinya tatapan yang menusuk. ”Itu bukan urusanmu! Saya memang memintamu untuk mendampingi Fay, tapi  hanya  sampai  jamuan,  dan  jamuan  sudah selesai! Kamu sudah  tidak  punya  kepentingan  lagi  untuk  berada di sekitar Fay, apalagi untuk membuntutinya dan mengamati peri-

lakunya.”

”Paman,  saya  minta  maaf,”  ujar  Reno  buru-buru.  ”Ini  kesalahan saya sepenuhnya dan saya lebih pantas berada di Ruang Putih ketimbang Fay. Fay tidak tahu apa-apa... Saya tidak mungkin menyaksikan  Fay  dihukum  karena  kesalahan  saya.”  Reno  menarik  napas panjang. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri bila Fay harus menderita karena tindakannya itu!

Andrew berdecak dengan raut wajah tak sabar, kemudian berkata, ”Reno, kamu harus punya imajinasi yang lebih baik bila  ingin  duduk di posisi saya suatu hari nanti. Saya tidak pernah bilang kamu akan menyaksikan Fay dihukum...”

Tatapan Reno lekat ke arah Andrew, sembari otaknya memproses perkataan pamannya dan mencoba mencerna. Intuisinya berkata ada yang tak beres dari pernyataan pamannya, tapi ia tak tahu bagian  mana yang mengganggunya.

”Malam ini, kamu yang akan berada di Ruang Putih dan memberi hukuman yang saya tentukan pada Fay,  sementara saya akan berada   di ruang observasi dan menyaksikan Fay menjerit kesakitan oleh tanganmu.”

Reno terenyak dengan kepala seperti terhantam. Selama beberapa saat ia kehilangan kata-kata dan hanya bisa menatap Andrew dengan tubuh membeku.

Andrew kembali berbicara, kali ini lebih tajam, ”Saya sudah memberi banyak kelonggaran bagimu selama ini. Kamu sudah melanggar protokol komunikasi berkali-kali, semuanya berkaitan dengan Fay.  Kali ini saya tidak terima kesalahan yang sama kamu ulangi lagi di depan batang hidung saya, terhadap gadis yang sekarang sudah berada dalam asuhan saya.”

Reno merasa dadanya sesak. ”S... saya tidak bisa,” ucapnya akhirnya dengan suara tercekat. Ia menelan ludah. ”Tidak mungkin saya melakukannya!” tambahnya, kali ini dengan suara keras dan intonasi yang meninggi.

”Apakah kamu pernah punya pilihan untuk menolak perintah saya?”

Reno mencondongkan tubuhnya ke depan, kemudian menunduk. Dadanya terasa sakit. Ia pernah terpaksa membiarkan tangan kotornya menyiksa adik kecilnya, tapi setidaknya Fay saat itu tidak tahu pria yang menyiksanya itu adalah dirinya! Sampai detik ini pun Fay tidak tahu... Bagaimana mungkin ia sanggup berdiri tegak di hadapan adik kecilnya, menyaksikan mulut adik kecilnya itu mengeluarkan jeritan yang memilukan hati, dan di saat yang bersamaan menatap matanya dan melihat kecamuk perasaannya yang luluh lantak karena merasa dikhianati? Tidak, ia tidak sanggup melakukannya  pada Fay!

Reno kembali menelan ludah. ”Saya... tolong, Paman. Saya tidak sanggup...”  Ucapannya  tidak  bisa  ia  lanjutkan  ketika  tatapannya jatuh begitu saja ke pengejut listrik di meja. Dadanya terasa makin menyempit. Ia menyapukan kedua tangannya yang baru ia sadari sedikit gemetar ke kepalanya. ”Please, Uncle... Saya tahu ini kesalahan saya dan saya minta maaf. Kejadian ini tidak akan terulang lagi... I’ll do  anything,”  ucapnya  memohon  dengan  suara  yang  semakin  lama semakin pelan.

Andrew menegaskan dengan tajam, ”Anything,  Reno?”

”Ya, Paman,” desis Reno. ”Apa saja... asalkan jangan ini,” tambahnya lagi. Saat ini ia bahkan rela harus kehilangan harga dirinya  dengan berlutut sambil memohon di hadapan  pamannya,  bila  memang diperlukan.

Andrew menatap Reno lekat-lekat, kemudian berkata, ”Baik. Saya tidak akan memaksamu sekarang. Harap diingat, kamu tidak akan punya pilihan seperti ini lagi ketika sudah menjadi level satu.”

”Thank  you,  Sir,” jawab Reno pelan. Ia tahu tidak akan bisa merasa lega untuk waktu yang lama, tapi setidaknya Fay aman malam  ini.

”Sekarang, catat baik-baik dalam ingatanmu... Tugas mengawasi tindak-tanduk dan aktivitas Fay, termasuk mengamati dengan siapa dia berteman dan apa yang dia lakukan di luar sana, adalah urusan saya sebagai pengawas utamanya. Bila saya sudah menyetujui pilihan yang dia buat, maka tidak ada seorang pun yang boleh berkata sebaliknya. Jadi, mulai sekarang, jangan campuri urusan saya lagi. Jelas?”

”Jelas,” jawab Reno pelan.

”Saya telah memberitahu Steve tentang pelanggaranmu hari ini, dan dia tentunya tidak senang. Kamu tidak hanya menyalahi kode   etik McGallaghan, tapi juga mengganggu jalannya operasi dengan muncul tiba-tiba di lokasi seperti tadi. Steve bilang dia akan menanyaimu di sel.”

Reno mengangguk. Ditanyai oleh Steve adalah deskripsi yang kelewat halus untuk apa yang akan terjadi. Ia pasti akan dihajar oleh Steve, terlebih ia dilaporkan mengganggu jalannya operasi. Hal ini pasti dianggap mencoreng muka Steve yang juga memegang posisi  Chief of Operation di kantor.

Andrew melanjutkan. ”Sejauh yang diketahui Fay, tentu saja percakapan ini tak pernah terjadi. Dia hanya tahu kalau kamu tidak bisa meluangkan waktu untuknya karena sibuk di kantor, dan saya tentunya tidak terkait dengan kesibukanmu. Saya tidak memerintahkanmu menjauhi Fay, hanya memperingatkanmu untuk menempatkan interaksimu dengan Fay sesuai porsinya. Fay sepupumu, dan kamu akan memperlakukannya sebagaimana kamu memperlakukan sepupumu yang lain.”

Reno mengangguk tanpa bersuara. ”You  may  leave.”

Reno berdiri, kemudian beranjak sambil menghela napas. Bahkan lututnya saja sekarang terasa lemas, mengingat skenario yang tadi nyaris terjadi. Sambil melangkah ke arah pintu, otaknya berputar. Apakah Fay sedang terlibat dalam operasi? Operasi apa dan apa peran Fay di dalamnya? Ia punya firasat bahwa Fay tidak tahu-menahu dia terlibat dalam sebuah operasi. Bila firasatnya benar, dan bila pemuda teman Fay itu terkait di dalam operasi tersebut, cepat atau lambat perasaan Fay akan tersakiti.

Seharusnya ia memperingatkan Fay.

Reno menghela napas. Setelah mendapat bayangan apa yang akan dilakukan oleh Andrew, ia kehilangan nyali untuk berperan sebagai seorang kakak bagi adik kecilnya. Apa gunanya memperingatkan Fay bila tindakan itu malah bisa membuat Fay tersakiti? Malah, oleh kedua tangannya sendiri!

Kelihatannya ia tak punya pilihan selain merelakan pemuda sialan itu menemani hari-hari Fay ke depan. Semoga Fay bisa menjaga diri nya dengan baik, karena ia tak mampu melindungi Fay lagi seperti dulu.

Damn!

Reno meraih gagang pintu dan menoleh ketika terdengar suara pamannya memanggil namanya.

”Siapkan atributmu. Kita akan mengadakan upacara pengambilan sumpah malam ini. Setelah itu baru kamu temui Steve di sel.”

***

Fay menegakkan tubuh ketika mendengar pintu sel utama terbuka. Ia tertegun sebentar, dan secara serabutan memasukkan bungkus sandwich, kantong cokelat, iPod, dan bantal tiup ke dalam lubang angin.

Terdengar suara langkah-langkah dan percakapan dari arah luar, semakin lama semakin dekat.

Andrew dan Steve muncul di pintu, kemudian berhenti di depan sel yang ditempati Fay.

”Halo,  Fay,”  sapa  Steve  Watson  dengan  suara  rendah  dan  berat. Tubuhnya yang besar, raut wajahnya yang datar  dengan  sepasang mata hitam menatap tajam, ditambah dengan sepatu bot kulit yang dipakainya, membuatnya tampak garang dan dingin walaupun kalimatnya mengalun santai.

”H... Hi, Uncle,” balas Fay gugup. Ia tidak yakin bagaimana harus menanggapi sapaan Steve, dengan kondisi ia berada di balik jeruji   dan belum tahu apa yang akan terjadi—termasuk apakah Steve akan berperan di dalamnya atau tidak.

Andrew berkata pada Steve, ”Hanya akan ada kau dan keponakanmu saja malam ini. Aku datang untuk menjemput Fay dan dia tidak akan kembali ke sel malam ini.”

”Oh... oke. Berarti sel sepenuhnya milikku. Aku periksa dulu apakah  semua  yang  kubutuhkan  sudah  ada  di  sana,”  ucap  Steve ringan, kemudian berlalu. Ia menoleh ketika Andrew memanggil namanya.

Fay melihat Andrew mengeluarkan benda berwarna metalik dari sakunya dan melemparkannya pada Steve, yang langsung menangkapnya dengan satu tangan.

”Kau  mungkin  membutuhkannya,”  ucap  Andrew  dengan  seulas senyum tipis.

Steve tersenyum lebar. ”Kelihatannya kau memang bisa membaca pikiranku. Ini memang salah satu benda yang kubutuhkan nanti.”

Fay melihat Steve melangkah ke sel tertutup dengan benak bertanya-tanya. Siapa keponakan yang disebutkan Andrew? Steve adalah main handler Sam dan Reno... Apakah salah satu dari mereka berdua? Pikirannya langsung melayang dengan membabi buta, namun langsung kembali ketika telinganya mendengar suara pintu selnya dibuka. Fay merasa perutnya langsung mulas dan ia hanya berdiri dengan pandangan terpaku ke pamannya yang kini melangkah masuk ke sel.

”Bagaimana keadaanmu?” tanya Andrew.

”Baik,” jawab Fay dengan perut terasa melilit. Ia memperhatikan Andrew, tapi tidak ada yang bisa ia baca di raut wajah pamannya.

”Saya dengar dari Philippe kamu terlambat latihan sore ini?” tanya Andrew datar.

”Ya,” jawab Fay, kali ini dengan jantung ikut berdebar-debar. ”Apa alasanmu?” Fay menelan ludah sebelum menjawab, ”Saya... mm... jalan-jalan sama teman, kemudian lupa waktu.” Ah,  matilah!

Andrew menatap Fay tajam.

Fay berdiri dengan gugup, berusaha menahan putaran gasing di perutnya ketika merasakan tatapan Andrew yang tajam menusuk. Ia merasa seperti diterbangkan kembali ke persiapan tugasnya tahun lalu, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi anggota keluarga ini, rasa panik dan takut menyergap bersamaan.

”Saya tidak suka keponakan saya melanggar aturan di bawah instruksi paman yang lain. Jadi, lain kali jangan melakukan kesalahankesalahan ceroboh seperti ini lagi. Mengerti?” ucap Andrew sambil memandang Fay lekat-lekat.

”Ya, Paman,” jawab Fay pelan sambil sedikit menunduk. Andrew memberi tanda ke Fay untuk keluar dari sel.

Fay buru-buru mengikuti Andrew dengan perasaan seperti bermimpi. Benarkah Andrew memintanya keluar sel? Ia baru percaya sepenuhnya ketika melihat pamannya menutup pintu sel yang kosong, menguncinya, kemudian berjalan ke arah pintu utama sel dan menggantung kunci di dinding.

Fay menginjakkan kaki di koridor dan tiba-tiba saja merasa sangat lega. Ia menarik napas panjang, meresapi udara kebebasan. Seperti inikah rasanya kebebasan bagi orang-orang yang dipenjara bertahuntahun? Nikmat sekali, padahal ia  hanya  di  sel  selama  beberapa  jam!

Andrew melangkah di sepanjang koridor menuju tangga, diikuti Fay.

Setelah beberapa saat, pikiran Fay melayang kembali ke percakapan Steve dan Andrew tadi. Siapa yang akan ditemui di  sel  oleh  Steve? Ia melirik Andrew sebentar, dan akhirnya memberanikan diri bertanya, ”Kenapa Steve memeriksa sel tertutup? Apakah Sam atau Reno akan masuk sel malam ini?”

”Itu urusan antara Steve dengan keponakannya, dan saya tidak mau ikut campur.”

Fay terdiam dengan wajah seperti ditabok. ”Apa hukuman yang kamu terima?” tanya Andrew.

Fay melirik Andrew yang wajahnya masih tetap santai, kemudian menjawab, ”Lari, kemudian jalan jongkok, lalu berdiri setengah jongkok.”

Sudut bibir Andrew sedikit terangkat. ”Pasti dua yang terakhir itu improvisasi Nikolai, bukan begitu?”

Fay   akhirnya   tersenyum.   ”Begitulah.”   Ketegangannya   mulai mencair, walaupun benaknya masih memampangkan wajah Sam dan Reno bergantian.

Andrew berhenti di depan kamar Fay, lalu membukakan pintu untuk Fay.

”Kamu bisa beristirahat, tapi hanya sebentar. Lima belas menit  sebelum tengah malam Raymond akan menjemputmu.”

Fay terdiam sebentar sambil menatap Andrew. ”Menjemput saya ke mana?” tanyanya lamat-lamat.

”Dia nanti akan menjelaskannya. Pukul setengah dua belas pelayan akan mengantarkan baju yang harus kamu pakai. Good night, young  lady.” Andrew menutup pintu kamar Fay.

Fay melihat pintu tertutup di hadapannya, lalu beranjak ke kamar mandi sambil berusaha menghela rasa tak nyaman dan tertekan yang tiba-tiba melandanya.

***

Pukul 23.53, Fay melangkah perlahan di koridor menuju lantai satu dengan tubuh dibalut busana serbahitam yang lima belas menit yang   lalu diantar oleh salah seorang pelayan ke kamarnya. Selain mengenakan blazer pendek warna hitam tanpa kancing di atas gaun hitam  tanpa aksen yang lebih panjang sedikit dari lutut, di kakinya terpasang sepatu bot kulit berhak lima senti dengan tinggi hingga mencapai lutut, juga berwarna hitam.

Fay melirik pamannya, Raymond Lang, yang berjalan di sebelahnya. Seperti juga dirinya yang dibalut busana hitam, Raymond mengenakan setelan jas hitam. Di balik jasnya, Raymond mengenakan vest, tapi tidak mengenakan kemeja berkerah, melainkan kaus turtle neck warna hitam seperti yang sering dikenakan Philippe. Satusatunya atribut nonhitam di busana Raymond adalah syal merah tua yang tergantung di lehernya. Fay memperhatikan syal tersebut—di satu ujungnya terajut lambang cakram, sedangkan di ujung satu lagi terdapat   sebuah   lambang   lain   yang   mirip   huruf   ”R”   dalam lingkaran.

Raymond berbicara, ”Di keluarga ini, usia delapan belas tahun  dianggap pintu gerbang kedewasaan. Kami berharap mereka yang sudah menginjak usia ini sudah mulai bisa berpikir dengan matang dalam mengambil keputusan, dan itu berarti bertanggung jawab penuh atas konsekuensi tindakannya.”

Fay mengangguk—ia sudah pernah mendengar kalimat ini beberapa minggu lalu. Sekarang ia lebih tertarik untuk mendengar penjelasan Raymond tentang alasan mereka berbusana serbahitam seperti akan pergi melayat ke pemakaman.

”Selain jamuan, ada satu acara lain yang menjadi penanda ulang tahun  kedelapan  belas,  yaitu  upacara  pengambilan  sumpah,”  lanjut Raymond.

Fay mengangkat alis. Kata-kata ”sumpah” dan ”upacara” langsung membawa benaknya ke bertahun silam, saat berbaris di lapangan olahraga sekolah, mengenakan seragam warna cokelat, dengan mulut komat-kamit melafalkan sumpah Pramuka.

Raymond memperhatikan Fay sebentar, kemudian bertanya, ”Apakah kamu selama ini meluangkan waktu untuk membaca The Code?”

Fay langsung gelagapan. ”T... tidak... belum sempat saya baca lagi. Paman   Andrew   juga   tidak   mengatakan   apa-apa.”   Ia   langsung menyesal karena detik itu juga ia melihat kilatan kemarahan di sorot mata Raymond yang berubah tajam.

”Saya yakin kamu tidak perlu diberitahu berulang kali bahwa pasal-pasal di The Code memuat fondasi keluarga ini! Andrew sudah pernah memintamu membaca The Code, dan itu berarti kamu tidak boleh berhenti sebelum menyelesaikannya, mengerti?”

”Ya,  Paman,”  jawab  Fay  pelan.  Menghabiskan  waktu  dengan Enrique tentunya lebih menarik dibandingkan membaca buku tebal yang bisa digunakan untuk mengganjal pintu atau menimpuk maling.

”Secara umum ada tiga kejadian yang mengharuskan seorang McGallaghan diambil sumpahnya. Yang pertama adalah ketika menginjak usia kedelapan belas, berikutnya adalah saat naik ke Level Satu, dan yang terakhir adalah ketika statusnya berubah menjadi fte Pillar. Di luar itu, upacara pengambilan sumpah dilakukan kembali bagi anggota keluarga aktif bila ada pergantian pimpinan keluarga. Sekarang kamu akan melakukan pengambilan sumpah  pertama.”

Mereka melintasi ruang duduk tamu.

Refleks tatapan Fay terarah ke tapestri dan beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa ada yang tak biasa dengan kotak kaca berisi pedang di atas meja. Sehelai kain beludru warna hitam dengan bordir lambang cakram menyelubungi kotak tersebut hingga isinya tak terlihat.

Raymond kembali berbicara, ”Sama seperti jamuan, seharusnya pengawas utamamu yang mendampingimu. Tapi, karena kamu akan bersumpah di hadapan Andrew, maka saya yang akan mendampingimu.” Ia kemudian membuka pintu menuju ruang duduk kecil.

Fay mengikuti Raymond dengan kegelisahan yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk. Bersumpah di hadapan Andrew? Sumpah apa? Sekilas ia melihat Raymond meraih pajangan perunggu dari Mesir di atas perapian, dan tiba-tiba sebidang tembok di sisi perapian bergeser, menampakkan ruang kecil yang kosong berbentuk kotak.

Fay mencoba mengira-ngira apa yang akan ditunjukkan oleh Raymond di ruang sempit yang sudah jelas kosong melompong  begitu, hingga ia tersadar bahwa ruang itu adalah lift!

Raymond memberi tanda ke Fay untuk masuk ke lift. Setelah pintu menutup, lift pun bergerak... turun?

Fay menoleh pada pamannya dengan alis terangkat.

”Kita menuju bawah tanah—bukan ruang bawah tanah seperti yang kamu ketahui, tapi kurang-lebih tiga lantai di bawahnya. Kastil yang kamu kenal sekarang dibangun di atas timbunan kastil lama yang sudah ada sejak beratus tahun silam. Sebagian besar kastil lama tersebut sudah hancur, namun bagian yang masih bisa diselamatkan telah diperkokoh dengan mempertahankan bentuk aslinya, dan dihubungkan ke kastil baru dengan akses terbatas.”

Keluar dari lift, mereka tiba di area kecil tertutup, dengan sebuah pintu besar yang tertutup dan layar kecil di sisi tembok. Raymond meletakkan telapak tangannya di layar. Cahaya bergerak naik-turun di bawah telapak Raymond—pemindai telapak tangan.

Pintu terbuka secara otomatis dan suasana langsung berubah. Terlihat sebuah lorong dengan lantai dan dinding batu, dengan penerangan lampu-lampu kuning yang temaram di kedua sisi, yang bila dilihat sekilas tampak seperti obor yang berderet sepanjang koridor. Suasana sangat berlawanan dengan lift berlantai dan berdinding putih mengilat yang tampak modern dan terang benderang bercahaya putih.

Fay mengikuti langkah Raymond menapaki lorong dengan perut mulai terasa melintir di bagian dalam. Langkah kaki yang terdengar bergema ketika menapaki lantai batu membuatnya semakin gelisah.

Raymond berhenti di depan sebuah pintu tinggi dari kayu yang dipenuhi ukiran dan ornamen. ”Siap?” tanyanya ke Fay.

Fay menatap Raymond dengan kecemasan yang mulai menebar benih-benih kepanikan. ”I...  I  don’t  know.  Siap seperti apa?”

”Kalau saja kamu sudah membaca The Code, kamu akan tahu  harus mempersiapkan dirimu untuk apa. Bukankah begitu?”

Fay menarik napas panjang sambil berusaha menerima sindiran yang cukup telak itu dengan besar hati. Setidaknya kalimat itu tidak diucapkan dengan nada judes bin jutek, walaupun tetap saja me nusuk.

Sudut bibir Raymond terangkat. ”Ikuti saja instruksi saya nanti,” tambahnya dengan intonasi lebih lunak dan sorot mata lebih  ramah.

Fay mengangguk sambil menggigit bibir, berusaha menenangkan diri.

Raymond membuka pintu, dan terlihatlah ruang luas yang terang benderang, dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar lengkung berjajar di kedua sisi. Seperti di lorong, lampu-lampu kuning terpasang   di setiap pilar, namun terang yang sebenarnya datang dari langitlangit—beberapa rangka kayu berbentuk lingkaran bergelantungan, masing-masing menopang puluhan bola lampu yang menyala, yang dari bawah tampak seperti lilin. Keseluruhan ruangan ini tampak seperti bagian dalam sebuah gereja kecil tua atau sebuah kapel.

Fay menahan napas melihat pamannya, Andrew McGallaghan, berdiri di tengah-tengah altar, di depan tiga pamannya yang lain. Semua pamannya memakai busana yang sama dengan Raymond, termasuk syal merah tua. Para keponakan, tanpa Elliot, berdiri di bagian bawah, juga dengan busana serbahitam yang sama,  tapi  dengan syal berwarna abu-abu.

Fay mengikuti Raymond berjalan ke bagian depan yang posisinya beberapa undakan lebih tinggi—sebuah altar. Benih-benih panik tumbuh dan berkembang dengan cepat di setiap langkah.

Raymond berhenti di hadapan Andrew tepat sebelum undakan naik ke altar, dan memberi tanda supaya Fay berdiri di sebelah kanannya.

Fay bergeser ke sisi Raymond dengan perut terasa menegang dan tubuh kaku. Ia melihat hiasan mozaik bermotif cakram menghiasi bidang dinding di latar belakang altar, dan seketika itu juga bulu kuduknya meremang.

Raymond berkata dengan suara lantang, ”Saya, Raymond Lang McGallaghan, salah satu pilar McGallaghan, mengantarkan Fay Regina McGallaghan untuk pengambilan sumpah pertama.”

Suasana senyap.

Fay bisa merasakan degup jantungnya mulai mengantisipasi, terlebih ketika Andrew menatapnya lekat.

Andrew berkata, ”Saya nyatakan upacara pengambilan sumpah dimulai. Sebagai pimpinan keluarga McGallaghan, saya meminta Fay Regina McGallaghan untuk berlutut dan bersiap untuk pengambilan sumpah.”

Raymond mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas.

Fay menelan ludah, lalu meletakkan tangan kirinya yang sedingin es di atas tangan Raymond yang terasa hangat, lalu mengikuti Raymond yang membimbingnya naik ke altar. Di altar ia melihat bantal merah yang ditunjuk Raymond, berada di lantai tepat di hadapan Andrew.

Fay menarik roknya sedikit, lalu berlutut di hadapan Andrew dengan degup jantung yang sudah tidak keruan. Ia melihat salah satu pamannya, Steve Watson, menyodorkan McGallaghan Sword pada Andrew.

Andrew menerima pedang yang diberikan Steve, kemudian dengan satu gerakan cepat melepas pedang dari sarung dan melakukan  gerakan menebas ke arah leher Fay.

Fay terkesiap ketika sekilas melihat pedang mengayun ke arah lehernya. Pedang berhenti tepat sebelum menyentuh  lehernya,  dan Fay langsung merasa napasnya seakan terhenti beberapa saat ketika merasakan dinginnya logam bersinggungan dengan lehernya. Ia berusaha mengatur napasnya yang mendadak berantakan.

Andrew   berbicara,   ”Sesuai   aturan   keluarga   ini,   kamu   akan disumpah untuk pertama kalinya pada usia kedelapan belas. Apakah kamu bersedia?”

”Ya,” jawab Fay pelan, dengan suara tercekat di tenggorokan, lalu menelan ludah. Apakah ada jawaban lain dengan mata pedang menempel di leher seperti ini?

Philippe mendekati Fay dengan kedua tangan memegang sebuah buku bersampul kulit warna hitam. ”Letakkan tangan kananmu di atas buku ini.”

Fay  melihat  tulisan  ”The  Code”  di  sampul  buku.  Buku  ini  lebih besar dan sisi halamannya kelihatan sudah menguning—berbeda dari salinan yang pernah ia baca. Ia meletakkan tangan kanannya di atas buku, merasakan permukaan sampul kulit yang sedikit kasar.

Raymond menerima sebuah gulungan perkamen dari Steve, kemudian berkata pada Fay, ”Ikuti saya:

”Saya, Fay Regina Wiranata, penyandang nama McGallaghan, menyatakan kesetiaan saya terhadap keluarga McGallaghan dan mendedikasikan hidup saya untuk kepentingan keluarga ini.”

Fay mengikuti ucapan Raymond perlahan-lahan. ”Saya, Fay Regina Wiranata, penyandang nama McGallaghan, menyatakan kesetiaan saya terhadap keluarga McGallaghan dan mendedikasikan hidup saya untuk kepentingan keluarga ini.” Tidak ada yang istimewa dengan kalimat yang ia lafalkan. Tanpa diucapkan pun ia tahu diharapkan untuk mendedikasikan dirinya untuk keluarga ini. Namun, dengan posisi berlutut di hadapan Andrew dalam sebuah kapel yang dingin, disaksikan oleh para paman dan sepupunya dan dengan pedang McGallaghan menempel ke lehernya, kalimat itu terdengar sangat magis ketika keluar dari mulutnya sendiri, membuatnya bergidik.

Raymond kembali berbicara,

”Saya menerima dan bersedia mematuhi semua kode etik McGallaghan sebagaimana tertuang dalam fte Code.”

Fay mengulangi ucapan Raymond, ”Saya menerima dan bersedia mematuhi semua kode etik McGallaghan sebagaimana tertuang dalam The  Code.”

Raymond melanjutkan,

Saya menyerahkan nyawa saya pada tangan pimpinan McGallaghan...”

Sejenak Fay tak bisa berkata-kata. Napasnya langsung sesak, namun rasa dingin dari mata pedang di lehernya memaksanya menguatkan hati. Ia menelan ludah, kemudian berkata, ”Saya menyerahkan nyawa saya pada tangan pimpinan McGallaghan.”

”...dan saya menerima bahwa pimpinan McGallaghan dapat mengambil tindakan apa pun ketika kesetiaan saya dipertanyakan...”

Fay berkata, ”Dan saya menerima bahwa pimpinan McGallaghan dapat mengambil tindakan apa pun ketika kesetiaan saya dipertanyakan.”

”...termasuk tindakan-tindakan yang bisa mencabut hak saya untuk hidup.”

Fay menelan ludah dengan bulu kuduk meremang. Ia merasa  tatapan para paman seperti menghunus, sebagaimana pedang di lehernya, dan akhirnya ia memaksa dirinya menarik napas panjang sebelum  berkata,  ”Termasuk  tindakan-tindakan  yang  bisa  mencabut hak saya untuk hidup.” Ia bisa mendengar suaranya sendiri bergetar ketika mengucapkannya. Raymond melanjutkan,

”Saya bersumpah atas kehendak pribadi dan mengerti serta menerima semua konsekuensi dari tindakan saya, sebagaimana diatur oleh kode etik McGallaghan.”

Fay kembali mengulangi. ”Saya bersumpah atas kehendak pribadi dan mengerti serta menerima semua konsekuensi dari tindakan saya, sebagaimana  diatur  oleh  kode  etik  McGallaghan.”  Benaknya  mulai memutar berbagai adegan. Ingatan akan apa yang pernah dikatakan Bobby Tjan terngiang kembali. Juga ucapan Andrew saat berada di Ruang Putih, serta Raymond tadi. Benarkah ia mengerti  konsekuensi dari apa yang ia lakukan?

Fay mengembuskan napas lega tanpa kentara ketika ia merasa logam dingin meninggalkan lehernya. Tiba-tiba saja ia merasa  tubuhnya sangat lemas.

Raymond meletakkan perkamen dalam posisi terbuka di lantai, di hadapan Fay. Fay melihat tulisan yang tadi dibaca Raymond: tulisan tangan dengan tinta. Ia baru sempat membaca baris pertama ketika tiba-tiba saja melihat ujung pedang menusuk kertas. Andrew memosisikan pedang secara vertikal di hadapannya.

Raymond berkata pada Fay, ”Genggam pedang dengan tangan kirimu.”

Fay melingkarkan telapak tangannya pada pedang, merasakan dinginnya logam di telapak tangannya. Dari posisi kertas dan pedang di hadapannya ia sudah bisa menebak bahwa darahnya diharapkan menetes ke kertas. Pikiran tentang darah membuat perutnya mendadak ngilu dan napasnya jadi pendek-pendek. Kepalan tangannya seakan membeku, menolak pasokan tenaga yang otomatis akan membuat mata pedang mengiris kulitnya.

Setelah beberapa saat, darah masih belum menetes. Andrew berkata pada Raymond, ”She  needs  help.”

Fay menelan ludah. Ia melihat tangan Raymond mendekat dan mendarat di atas tangannya yang menggenggam pedang. Ia merintih tertahan ketika merasakan tangan Raymond meremas tangannya hingga mata pedang mengiris telapak tangannya. Tetes demi  tetes darah mengalir keluar dari kepalan tangannya, turun dengan cepat hingga jatuh di kertas. Fay menutup mata sejenak untuk menenangkan diri sambil mengatur napas. Dalam beberapa detik,  semua  ingatan atas apa yang pernah terjadi sebelum ia diterima di keluarga ini tiba-tiba berkelebatan di benaknya. Ia diseret ke lubang gelap... dikeluarkan untuk kemudian disiksa oleh orang-orang bertopeng hitam... dipukul oleh Andrew... disuntik dengan fte Grabber...  Semua kejadian itu, yang terasa seperti sekadar mimpi buruk setelah      ia menjalani hari-harinya yang sempurna sebagai anggota keluarga  ini, tiba-tiba saja sekarang terpampang dengan jelas di dalam benaknya dan menjadi sebentuk kenangan yang menghantui.

Raymond  melepas  genggamannya  pada  tangan  Fay.  ”Keep  your hand  there.”

Fay membuka mata dengan kepala terasa sedikit pening.. Beberapa noda darah terlihat di bagian bawah kertas, tepat di atas nama Fay Regina Wiranata yang dalam surat normal mungkin diisi oleh tanda tangan.  Melihat  goresan  nama  ”Wiranata”  setelah  sekian  lama  tibatiba saja menorehkan rasa perih di dada.

Andrew berkata, ”Saya, Andrew Gregory McGallaghan, penyandang nama McGallaghan sekaligus pimpinan keluarga McGallaghan, menerima sumpah Fay Regina Wiranata, penyandang nama McGallaghan, sesuai kode etik McGallaghan yang tertuang dalam The  Code.”

Fay melepas pegangannya pada pedang. Rasa perih langsung terasa menggigit—darah menetes cepat.

Raymond membebat tangan Fay dengan selembar kain. Pedang dikembalikan ke sarungnya dan perkamen digulung serta diletakkan   di meja yang ada di belakang Steve.

”Berdiri,” perintah Andrew.

Fay berdiri sambil mengepalkan tangan kirinya yang sudah  dibebat untuk mencegah darah merembes terlalu cepat.

James Priscott menyodorkan sebuah gulungan syal berwarna abuabu pada Andrew.

Fay menunduk ketika Andrew mengalungkan syal ke lehernya. Hangat langsung terasa ketika permukaan syal yang tebal menyelimuti tengkuknya yang terbuka. Di salah satu ujung syal ia melihat lambang cakram, dan di ujung lain ia melihat sebuah lambang lain yang tampak seperti huruf F dalam sebuah ornamen segitiga.

Andrew menyerahkan satu cawan logam berwarna keemasan kepada Fay, kemudian mengangkat gelasnya ke arah Fay untuk bersulang. ”For  the  glory  of  The  McGallaghans.”

Terdengar bunyi denting ketika dua cawan logam berisi anggur merah beradu.

***

”Jadi, ini benar inisial kita?” tanya Fay takjub sambil memegang dan memperhatikan ujung syal Sam yang memiliki bordiran berlambang huruf S dalam ornamen lingkaran. Setelah upacara pengambilan sumpah selesai, mereka semua langsung naik ke ruang duduk besar untuk menikmati makanan dan minuman ringan.

”Iya,” jawab Sam, lalu menenggak anggur dari gelas di tangannya. ”Kalau ada yang inisialnya sama, gimana?” tanya Fay sambil me-

noleh pada pengawas utama Sam, Steve Watson, yang sedang bercakap-cakap dengan dua paman yang lain, Raymond dan Andrew. Fay refleks mengalihkan pandangannya ketika tatapannya jatuh pada Andrew yang berdiri tegap dengan syal masih terpasang di leher. Sekadar melihat pamannya itu sekarang sudah membuat perutnya ngilu.

Sam berteriak pada Steve, ”Hey,  Uncle Steve...”

Fay terperanjat sambil menatap Sam. ”What are you doing?” bisiknya panik.

Steve langsung berhenti bicara dan menoleh pada Sam. Juga Andrew dan Raymond.

Sam tidak menghiraukan Fay dan kembali berteriak, ”Fay mau melihat syalmu.”

Fay menggeleng gugup sambil menatap Steve, dan ia lebih gugup lagi ketika Steve mendekat.

”Kamu mau melihat syal saya?” tanya Steve ramah dengan suara bas yang besar.

Sialan si Sam! Sudah telanjur, akhirnya Fay mengangguk sambil tersenyum, sementara dalam hati ia sibuk memaki Sam yang cengengesan. Bikin malu aja!

Steve memegang ujung syalnya dan menyodorkannya ke arah Fay sehingga Fay bisa melihat lebih jelas. Lambang huruf S yang ada di syalnya berlekuk dengan tarikan-tarikan garis berbeda dengan huruf    S di syal milik Sam. Ornamen lingkaran yang mengitari huruf S tersebut juga berbeda jauh dari Sam.

Fay tersenyum. ”Thanks,  Uncle,” ucapnya.

”No  problem,  Fay.  Anytime,”  balas  Steve,  kemudian  kembali  bergabung dengan Andrew dan Raymond.

Begitu Steve berlalu, Fay menonjok Sam ringan di lengan, dan ia terkaget-kaget ketika Sam langsung membalasnya.

”Kamu bagian operasional, delapan belas tahun, dan sudah disumpah, jadi aku bisa membalasmu tanpa kena hukuman. An eye for an eye,” ucap Sam sambil menyeringai. ”Kamu harus hati-hati mulai sekarang... semua aturan di The Code sudah berlaku untukmu.”

”Memangnya sebelum ini belum berlaku? Contohnya apa?”

Sam berpikir sebentar, kemudian berkata, ”Ingat waktu Larry tadi masuk ke selmu dan membantingmu ke lantai? Kalau Paman tadi sampai tahu, Larry bisa dihajar. Aku dan Reno juga, karena kami diam saja sewaktu itu terjadi.”

”Memangnya kalau sekarang, hal itu diperbolehkan?”

”Kami pasti kena hukuman juga, tapi tak akan sekeras bila ketahuannya tadi. Dan kamu tahu, kalau saja yang menyerangmu bukan Larry, tapi Lou atau Kent yang umurnya tidak beda jauh darimu, bisa jadi malah kamu dan penyerangmu itu dibawa ke aula bawah tanah dan disuruh duel.”

Fay terbelalak menatap Sam. ”Kenapa begitu?”

”Karena dengan usia kamu delapan belas dan sudah disumpah seperti sekarang, kategorinya bukan penyerangan lagi, tapi dianggap perkelahian.”

Fay menggeleng sambil mengembuskan napas. ”Memang pada sinting  semua,”  ujarnya  muram,  disambut  tawa  Sam.  Ia  terdiam sebentar,  kemudian  berkata,  ”Aku  masih  nggak  habis  pikir  dengan sumpah  tadi...  menyerahkan  nyawaku  pada  Andrew...”  Ia  bergidik.

”Iya, aku tahu. Itu berarti mulai sekarang perintah Paman adalah hal yang mutlak, harus kamu patuhi.”

Fay mencibirkan bibirnya. ”Dari dulu juga sudah begitu.”

”Iya, tapi akan terasa lebih mutlak lagi dibandingkan dulu. Kamu lihat saja sendiri. Loyalitas adalah hal nomor satu di keluarga ini dan kamu harus membuktikannya, kadang dengan cara yang tak terbayangkan.”

Fay mengangkat bahu. Ia sudah melalui yang terburuk untuk ber gabung dengan keluarga ini. Apa lagi yang mau dibuktikan?

Sam kembali berkata, ”Sumpah itu memang mengintimidasi sekali. Jangankan kamu yang baru masuk keluarga ini, Lou saja tahun lalu sampai tidak bisa bicara pas bagian itu, sampai-sampai Raymond mengulangi kalimatnya dua kali. Kent sih lumayan... dia cukup lancar mengucapkannya, hampir tanpa jeda. Mungkin ia sudah terbiasa diasuh Andrew dan sudah menerima nasib buruknya. Sedangkan aku dulu setelah sumpah sampai kehilangan nafsu makan selama beberapa hari.”

Fay langsung tergelak, diikuti Sam. Membayangkan  Sam kehilang an nafsu makan mungkin sama mustahilnya dengan membayangkan Russel, agen yang pernah bertugas dengannya di Fontainebleau, tersenyum ramah dengan tulus. Fay mendadak terdiam ketika teringat pertanyaan yang tadi sempat mengganggunya. ”Kamu malam ini disuruh menemui Steve di sel nggak?”

Sam mengerutkan dahi. ”Nggak. Kenapa kamu tanya begitu?” Fay menggeleng. ”Aku tadi lihat Steve masuk ke sel tertutup. Dan

Andrew bilang pada Steve, ‘keponakanmu’.”

Sam menggaruk-garuk kepalanya dengan gelisah sambil berpikir, kemudian setelah beberapa saat menggeleng dengan raut wajah lebih yakin. ”Aku yakin tidak berbuat kesalahan apa pun. Mungkin Reno.” Ia terdiam sebentar, kemudian bertanya, ”Sel tertutup, kamu bilang? Kemungkinan urusan kantor... atau pelanggaran daftar merah. Tapi, aku yakin Reno tidak punya cukup waktu luang untuk melanggar daftar merah, jadi pasti urusan kantor.”

Fay mengangguk sambil menatap Reno yang berdiri di sebelah Lou di samping piano, menyaksikan permainan piano Kent. Elliot duduk menyempil di bangku piano di sebelah Kent. Sesekali Kent mendongak dan berbincang-bincang dengan sepupu-sepupunya yang lain, sementara jari-jemarinya tetap bergerak lincah di atas tuts.

Melihat Kent memainkan piano dengan wajah berbinar penuh senyum, entah kenapa Fay merasa seperti menonton sebuah film. Seakan yang ia saksikan saat ini adalah potongan kisah tak tergapai yang tak akan pernah menjadi nyata.

Fay berusaha menyelami perasaannya. Semua kejadian bersama Enrique berputar cepat... mungkin terlalu cepat. Ia bisa melihat bagaimana Enrique kadang memperlakukannya lebih dari sekadar sahabat, dan ia pun menikmati perhatian yang diberikan Enrique. Namun, di sisi lain, waktu yang singkat itu tak memberinya jeda untuk mencerna potongan perasaannya yang masih dibayangi-bayangi Kent. Sekarang pun, melihat Kent memainkan piano seperti ini, masih ada sedikit perasaaan menyesal kenapa Elliot yang duduk di sebelah Kent dan bukan dirinya. Pertanyaan yang selama beberapa hari terakhir ini telah ia tanyakan berulang kali ke diri sendiri kini muncul kembali: apakah ia perlu menjelaskan tentang Enrique pada Kent? Ia tak berutang penjelasan apa pun, tapi tetap saja ada rasa tak nyaman menyembunyikan hal ini dari Kent, seolah-olah ini sebuah kesalahan. Tapi, apa yang bisa ia jelaskan? Terlepas dari kedekatan antara Enrique dan dirinya, status cowok itu masih tetap sahabatnya. Lagi pula, bagaimana cara menjelaskannya pada Kent?

Sebuah suara menyentak benak Fay. ”Menikmati waktumu di luar sel?”

Fay melihat pamannya, Philippe Klaan, berdiri di belakangnya sambil memegang gelas sampanye, menatapnya sinis. Fay hanya tersenyum  gugup  sambil  menyapa  Philippe.  ”Hi...  Uncle...” Tepat  saat itu seorang pelayan lewat dan berhenti di samping Fay sambil menyodorkan nampan berisi gelas sampanye dan anggur. Tanpa pikir panjang, Fay buru-buru mengambil gelas yang ada di nampan. Begitu gelas ada di tangannya, baru ia tersadar dan selama beberapa saat ia hanya menatap gelas berisi cairan kuning itu, memperhatikan gelembung-gelembung naik ke permukaan.

Philippe melirik arlojinya, kembali berkata, ”Saya sarankan kamu jangan senang dulu. Masih cukup waktu untuk menikmati malam panjang di sel...”

Tak tahu bagaimana menanggapi ucapan Philippe, Fay menyesap sampanye di gelasnya dengan salah tingkah.

Tepat saat itu, Andrew lewat di belakang Philippe dan langsung berkomentar riang, ”Ah ya... Aku perlu bicara denganmu. Aku rasa kita bisa sepakat bahwa hukuman Fay malam ini telah  berakhir.  Tidak hanya karena malam ini adalah malam istimewa baginya di keluarga ini, tapi juga karena besok akan menjadi hari yang tak kalah istimewa...”

Andrew membiarkan kalimatnya mengambang, lalu memberi kode pada pelayan, yang langsung datang membawakan garpu. Andrew kemudian memukul gelas sampanye di tangannya dengan  garpu.  Gelas berdenting dan semua menoleh pada Andrew.

”Sebelum kita kembali ke ruang pribadi masing-masing untuk beristirahat, saya ingin bersulang untuk menutup malam ini...”

Kent dan Elliot berdiri dari kursi dan menghadap ke arah Andrew, seperti juga yang lain.

Andrew mengangkat gelasnya. ”For the glory of The McGallaghans... the  world  is  in  our  hands.”

Semua mengangkat gelas, termasuk Fay.

Andrew kemudian berkata, ”Saya rasa kita bisa mengakhiri malam ini dan beristirahat karena besok pagi kita semua akan ke kantor...,” ia berhenti sebentar, kemudian menoleh pada Fay, ”...termasuk kamu, young  lady. Good  night,  everyone. Have  a  good  rest.”

***

Kent menyerahkan gelas anggur di tangannya pada kepala pelayan yang berjalan melewatinya, sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat Fay masih berdiri, bercakap-cakap bersama Raymond dan Andrew, kemudian Raymond meninggalkan ruangan. Ia ingin menunggu hingga  Fay  pergi terlebih dahulu, tapi gadis itu tidak juga beranjak pergi.

Kent mengalihkan pandangannya dari Fay ke tuts-tuts piano di depannya. Ia sebenarnya sanggup menatap Fay berjam-jam tanpa kata-kata, membiarkan cinta mengalir dan kasih terjalin dalam diam, mengandalkan hanya alunan musik dari denting piano  yang  ia mainkan di pikirannya untuk mengawal kisah mereka. Tapi, bagaimana mungkin ia sanggup menatap Fay  sedetik saja bila ia tahu di sisi Fay  kini ada seorang pemuda keparat yang selalu menemani  hari harinya?

Sudah beberapa hari terakhir ini ia membuntuti Fay dan pemuda sialan bernama Enrique itu. Bukan karena keinginannya, tapi karena tugas menuntutnya. Dalam Operasi Echo, tugasnya sedari awal adalah membuntuti seorang pria yang menjadi target  primer,  dan  ia  sama sekali tidak curiga ketika penugasannya ditukar sehingga ia dan Russel membuntuti salah seorang target sekunder, target tiga—bukan   hal yang aneh dalam sebuah operasi pengintaian yang melibatkan beberapa target operasi sementara jumlah agen terbatas. Ia bahkan tidak tahu siapa target yang dimaksud. Ia hanya berdiri sambil bersandar di stasiun metro menunggu Russel memberinya tanda, sambil mengantisipasi betapa membosankan hari yang akan ia lalui. Berikutnya, ia hampir saja kehilangan akal sehat ketika Russel memberi tanda siapa yang harus ia buntuti; sepasang remaja yang baru turun dari kereta dan ia kenali sebagai Fay dan teman brengseknya, Enrique. Pantas saja Russel memaksanya memakai kacamata, lensa kontak cokelat, dan memasang wig sialan warna hitam yang jelek itu    di bawah topinya!

Pertanyaan pertama yang langsung mampir ke kepalanya adalah, apakah Fay tahu bahwa Enrique adalah target operasi? Bila tidak, itu berarti cepat atau lambat perasaan Fay akan terluka! Detik itu juga  kemarahan terasa menggelegak dalam darahnya... Kent tahu pamannya bisa melakukan hal-hal di luar nalar manusia  normal,  tapi  ia tidak pernah menyangka pria itu bisa memanipulasi perasaan Fay hingga sejauh ini! Berikutnya, kemarahan Kent digantikan oleh gejolak emosi yang menyakitkan ketika satu pernyataan tersusun di benaknya: bila Fay belum tahu bahwa Enrique adalah target operasi, berarti gadis yang sampai detik ini masih ia cintai dengan sepenuh jiwa dan raga ini tidak sedang bersandiwara dalam setiap tutur kata dan bahasa tubuhnya...

Kent mengikuti gerak-gerik Fay dan Enrique dengan kepala berdenyut-denyut seperti akan meledak. Tangannya terkepal sampai urat-uratnya terlihat jelas ketika melihat bahasa tubuh  pemuda   keparat itu yang menyiratkan keinginannya untuk  menjadi  lebih  dekat dengan Fay. Dan perasaan Kent pun seperti pecah berantakan ketika melihat bagaimana Fay dalam banyak kesempatan tidak menolak dan malah terlihat menikmati kedekatan yang ditawarkan Enrique. Detik itu juga ia langsung ingat sekuntum  mawar  putih  yang dipegang Fay beberapa hari yang lalu. Kent langsung  yakin bunga tersebut diberikan oleh pemuda itu. Bila dipikir-pikir lagi, ia memang merasa jawaban-jawaban dan raut wajah  Fay  malam  itu agak aneh, seperti agak gelisah. Betapa butanya ia waktu itu!

Kent menelusuri tuts piano dengan telunjuknya sambil menghela napas. Untung tadi ia diberitahu bahwa penugasannya kembali diputar,  jadi besok ia akan membuntuti target dua. Mungkin ia bisa    gila bila masih harus membuntuti Fay dan menyaksikan bagaimana gadis itu perlahan-lahan meninggalkannya. Bahkan disayat pisau  bedah Philippe di ruang bawah tanah saja masih tak bisa menyaingi rasa sakit yang ia rasakan sekarang.

”Kent...”

Kent menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh Andrew.  Ia menutup piano, kemudian berjalan ke arah Andrew dengan tatapan lurus ke pamannya yang berdiri di sebelah Fay. ”Yes,  Uncle?”

”Bisa menggantikan saya dan menemani Fay berjalan ke kamarnya? Saya ingin bicara dengan Philippe di ruang duduk kecil sebelum kembali ke kamar.”

Kent mengumpat dalam hati. Ia tahu apa arti permintaan sopan pamannya yang disertai tatapan mendesak yang dibungkus keramahan. Pamannya hanya ingin menegaskan lagi bahwa interaksinya dengan Fay tetap  harus  berjalan  ”normal”  terlepas  dari  apa  yang  terjadi.  Kent akhirnya  memaksakan  diri  tersenyum  sopan  dan  mengangguk,  ”Of course.”

Kent melangkah perlahan di sebelah Fay, mencoba mengerti dua  sisi hatinya yang berseteru hingga seakan hampir membuat kepalanya pecah dan merobek dirinya menjadi dua. Tak bisa  ia  sangkal,  ia masih menikmati langkah demi langkah yang ia ayunkan dengan Fay  ada di sisinya—perasaannya tak bisa bohong. Betapa ia ingin melingkarkan tangannya di pundak Fay dan membawa Fay  lebih dekat  ke arahnya. Namun, di saat yang sama, ia tahu tidak bisa melakukan nya lagi dan ia berharap kakinya bisa lari saat ini juga dan membuatnya berada sejauh mungkin dari Fay.

”Are  you  okay?  Kamu  belum  mengatakan  satu  patah  kata  pun sejak tadi...”

Suara Fay menyadarkan Kent dari lamunan. Mereka kini sudah berada di dekat tangga sayap kiri.

”I’m  sorry...  Pikiranku  sedang  tidak  di  sini,”  jawab  Kent  sambil menaiki undakan tangga.

”Apa yang mengganggu pikiranmu?”

Kamu... dan pemuda keparat itu...

Kent menghela napas, kemudian menjawab, ”Aku sedang berpikir untuk  mendalami  piano  lagi,  tapi  tanpa  sepengetahuan  Paman.” Setidaknya itu bukan kebohongan. Pikiran itu tadi memang sempat terlintas di benaknya.

”Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan begitu? Bukankah terlalu berisiko? Maksudku, kamu harus berlatih, kan? Bagaimana caranya kamu bisa latihan tanpa ketahuan Paman?”

Kent memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan selama beberapa saat menunduk tanpa berkata-kata. Kecemasan terdengar dengan jelas dalam nada suara Fay—bila kemarin-kemarin ketulusan gadis di sebelahnya ini membuat perasaannya melambung, kali ini ketulusan ini terasa menyakitkan, menusuk ulu hati hingga ke dalam.   Kent   kemudian   menjawab,   ”Aku   belum   tahu   caranya bagaimana. Tapi, aku membutuhkannya untuk menjaga... kewarasanku.  I’ll  see  what  I  can  do.”  Kent  tahu  Fay  menatapnya dengan bingung dan terlihat sedikit gelisah, tapi ia tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.

Mereka sudah tiba di depan kamar.

Fay berkata, ”Paman bilang aku akan ke kantor...” Ucapannya seperti mengambang.

Kent mengangkat bahu. ”Iya... kamu akan semakin sibuk dan aku pun begitu. Mungkin lebih baik seperti itu.”

Fay terdiam.

”Good  night,  Fay,”  ucap  Kent,  lalu  masuk  ke  kamar.  Setelah  menutup pintu di belakangnya, ia masuk ke kamar mandi dan menatap dirinya sendiri di depan cermin sambil memikirkan  ucapannya  sendiri.

...mungkin lebih baik seperti itu... Benarkah begitu?

Ia membasuh wajahnya dengan air lalu kembali menatap bayangannya di cermin, yang semakin lama semakin terasa seperti orang  yang berbeda.

***

Di seberang kamar Kent, Fay menutup pintu di belakangnya, lalu menyandarkan tubuh ke pintu. Tatapannya tiba-tiba mengabur. Sebelum ia sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, pipinya sudah terasa hangat karena tetesan air mata yang mengalir.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊