menu

Trace of Love Bab 05: The Seeds of Trouble

Mode Malam
The Seeds of Trouble

FAY menyapukan eye  shadow  warna biru muda di kelopak mata, senada dengan kaus tipis biru muda berleher lebar asimetris yang ia pakai di atas kaus tanpa lengan, menampakkan satu bahunya. Berikutnya, ia mengoleskan lipgloss berwarna ceri. Ia berpikir untuk mengulas perona pipi, tapi akhirnya mengurungkan niat—terlalu berlebihan menurut standarnya sendiri, mengingat sekarang ia sudah sangat berwarna gara-gara rambutnya. Fay membuka laci, lalu memakai gelang pemberian Kent.

Hari ini kursusnya mulai dan ia sudah bertekad akan tampil rapi sehingga tidak terlihat seperti alien di antara cewek-cewek yang ikut kursus.

Sebelum keluar kamar, ia lagi-lagi mematut diri di cermin sebadan, dan akhirnya memutuskan untuk menipiskan eye shadow dengan menyapukan jarinya di kelopak mata—ia memang ingin tampil rapi, tapi bukan berarti ia mau terlihat menor dan menarik perhatian seperti penyanyi dangdut yang mau manggung.

Setelah keluar kamar, langkah Fay otomatis  tertuju  ke  kamar  Kent. Ia senyum-senyum sendiri membayangkan komentar Kent atas gelang yang melingkar manis di pergelangan tangannya sekarang.

”Kent... Mau turun sekarang?” tanyanya sambil mengetuk pintu kamar Kent. Tak ada jawaban.

Fay membuka pintu dan melongok ke dalam  kamar—tak  ada  sosok Kent. Ia mengerutkan dahi. Ini tidak seperti biasanya—apakah Kent pergi ke kantor? Akhirnya ia memutuskan untuk langsung ke ruang makan kecil.

”Hi,  Fay,” sapa Raymond Lang hangat. ”You  look  great.”

Fay tersenyum. ”Thanks.” Kehadiran Raymond entah kenapa selalu saja terasa melegakan baginya, bagaikan menemukan oasis di gurun pasir, sementara Philippe mungkin lebih cocok jadi untanya.

Tatapan Fay terarah pada Kent yang sedang menyeruput secangkir teh di sebelah Raymond. Di hadapan Kent duduk Andrew dan Philippe.

”Good  morning,  Fay,”  sapa  Kent  sambil  tersenyum  sedikit,  lalu kembali menyeruput tehnya.

Fay membalas sapaan Kent, lalu duduk di sebelah Andrew. Ia menuang teh dari teko ke cangkir dengan benak bertanya-tanya kenapa Kent tidak menjemputnya ke kamar seperti yang biasa dia lakukan. Atau, bisa jadi Kent sudah menjemputnya tadi pagi tepat saat ia sedang di kamar mandi?

”Nice bracelet, young lady,” ucap Andrew. ”Saya tidak pernah melihatmu memakainya... gelang baru?”

Fay mengangguk, dan jadi gugup sedikit sadar ia tak mungkin bilang ini hadiah dari Kent!

”Baru  ada  kesempatan  untuk  memakainya  sekarang,”  jawab  Fay buru-buru. Fiuh!

Raymond bertanya ke dua paman yang lain lain, ”Kita jadi melakukannya sekarang?”

Philippe berdecak dengan raut wajah kesal tapi tidak berkata-kata.

Andrew kembali berkata pada Kent, ”Setelah sarapan nanti temui saya di ruang kerja. Ada yang ingin saya bicarakan tentang tugasmu.”

Kent mengangguk. ”Yes,  Uncle.”

Fay melirik Andrew sambil harap-harap cemas akan diminta juga menemui Andrew di ruang kerja. Saat  ini ia tidak terlampau  keberatan terlibat dalam tugas-tugas menegangkan bila bisa melakukannya bersama Kent. Namun, harapannya tidak menjadi kenyataan. Andrew mengambil remote TV dan menyalakan saluran berita berbahasa Inggris.

Di TV, penyiar memberitakan tentang obat revolusioner yang sedang diteliti oleh sebuah perusahaan farmasi bernama Red Med. Gambar menyorot seorang pria yang sedang memberikan konferensi pers. Di bagian bawah layar terpampang nama pria itu dan posisinya sebagai juru bicara perusahaan. Pria itu mengatakan bahwa alasan obat tersebut merupakan terobosan baru dalam dunia pengobatan adalah kemampuannya untuk bekerja pada virus dan bakteri. Gambar di TV berganti, mewawancarai seorang peneliti di salah satu universitas ternama, yang berkata bahwa keberadaan obat seperti itu hampir mustahil, tapi kalau memang ada, akan menjadi terobosan besar yang mengubah dunia.

Gambar kembali ke penyiar.

”...menurut sumber yang tepercaya, penelitian obat semacam ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, tapi tidak ada kelanjutannya. Nicholas Xavier, sebagai pionir di penelitian ini, meninggal dunia bulan  lalu  di  pedalaman...”

Andrew mematikan televisi.

Fay menyeruput teh di cangkirnya dengan benak setengah melayang.  Bayangan  huruf  demi  huruf  ”Nicholas  Xavier”  tiba-tiba muncul di benaknya. Kenapa kemunculan huruf-huruf ini mengganggunya? Fokusnya kembali ke meja makan ketika terdengar sapaan suara renyah yang khas dari arah pintu.

”Good  morning,  all.” Reno.

Andrew dan Raymond membalas sapaan Reno, kemudian semua yang ada di meja makan melanjutkan obrolan.

Fay melihat Reno menarik kursi di sebelah Kent, lalu Kent berdiri ketika Reno duduk. Tapi, ia terkesiap ketika Kent tiba-tiba mengayunkan tangannya yang memegang garpu ke arah Reno yang sedang memasang serbet di pangkuan.

Detik itu juga Reno berbalik sambil mengangkat tangan untuk menahan tangan Kent. Ia berdiri dengan tiba-tiba sampai kursinya terdorong ke belakang, dan memelintir tangan Kent—garpu terlepas dari genggaman Kent dan jatuh ke lantai. Kent mengerang ketika Reno memitingnya sambil mendorongnya ke meja hingga tertelungkup, menimpa piring di hadapannya. Meja sedikit bergeser dan peralatan makan ikut bergeser dan bergetar.

”Cukup!” seru Andrew.

Reno melepas Kent sambil mengatur napas. Kent bangkit  dari  meja sambil menggerak-gerakkan lengannya yang dipelintir.

Reno menepuk bahu Kent. ”Sorry, Kent.”

”No problem,” jawab Kent singkat, kemudian duduk sambil menata peralatan makan di hadapannya yang sempat bergeser.

Raymond tersenyum. ”Well  done, Reno.”

Reno kembali duduk. Ia menatap Fay sambil tersenyum, kemudian berkata, ”Halo, Fay. Tidurmu nyenyak semalam?”

Fay melongo menatap Reno sebelum mengangguk. Bagaimana mungkin Reno bisa berkomentar normal seperti itu seakan-akan diserang Kent dengan garpu di meja makan adalah intermeso yang rutin terjadi di waktu sarapan!

Andrew berbicara pada Reno, ”Giliran kamu nanti menyerang Larry. Tangan kosong, tenaga penuh.”

”Oke, my  pleasure,” jawab Reno ringan, lalu menuang kopi.

Fay kembali menatap Reno dengan takjub. Kelihatannya ini memang hal biasa... Ya ampun!

Philippe  berdecak,  dan  langsung  bersuara.  ”Terakhir  kali  kamu memberi perintah serangan tenaga penuh di ruang makan, piringpiring pecah dan kita harus pindah ke ruang makan besar untuk melanjutkan sarapan. Saya rasa sudah saatnya dibuat peraturan tertulis bahwa permainan semacam ini hanya boleh dilakukan di luar jam makan. Atau, lebih baik lagi, di luar ruang makan.”

Fay terpana menatap Philippe, yang raut wajahnya tampak kesal. Ajaib sekali... untuk pertama kalinya dalam sejarah, ucapan Philippe terdengar masuk akal dan bisa diterima dengan suara bulat oleh otak Fay!

Raymond berkomentar, ”Kau tadi tidak mengatakan apa-apa ketika Reno yang diserang. Jangan bilang kau takut anak asuhmu kalah dari Reno.” Philippe mendelik pada Raymond yang  menyandar  santai  ke  kursi. ”Pernyataanmu sama sekali tidak relevan. Dan Larry tidak mungkin kalah dari Reno!”

Reno nyengir mendengar ucapan Philippe, tapi tidak mengatakan apa-apa dan mulai menyibukkan diri dengan sarapannya.

Tak lama kemudian, Larry dan Lou masuk berbarengan ke dalam ruangan. Setelah memberi sapaan selamat pagi, mereka menempati meja berbeda, dekat jendela.

Raymond memanggil Larry.

Larry berdiri dari kursi lalu menghampiri Raymond. Reno juga berdiri sambil menggenggam gelasnya, lalu berjalan lurus ke meja yang ditempati Lou, seakan ingin bergabung  dengannya.  Begitu  Reno melewati Larry, kakinya bergerak menendang punggung Larry dari belakang. Larry terjerembap, tapi sebelum jatuh tangannya  sempat meraih sandaran kursi dan kembali seimbang. Kakinya mengayun ke belakang, mengenai gelas yang dipegang Reno. Gelas ber putar dan melayang di udara sebelum menghantam lantai dengan  bunyi keras dan pecah berkeping-keping. Berikutnya, yang terjadi adalah kekacauan seperti yang diprediksi Philippe. Reno dan Larry saling memukul, menendang, memiting, menindih, dan berkejaran keliling ruangan.

Melihat gelagat pertempuran, Philippe menggeleng  lalu  berdiri  dan menyingkir ke pinggir ruangan, diikuti Andrew dan Kent. Fay memundurkan kursi untuk mengikuti langkah  Kent,  tapi  kalah   cepat. Ia berteriak kaget ketika tiba-tiba Larry melompat  ke  atas  meja di hadapannya, menginjak piring dan sarapan yang terhidang     di meja, diikuti oleh Reno. Roti-roti bergelindingan, gelas-gelas terguling dan airnya tumpah dan memercik ke mana-mana. Fay bergegas ke pinggir ruangan.

Larry dan Reno bergulingan dan saling tindih di lantai. Raymond akhirnya memberi tanda supaya mereka berhenti—mereka dinyatakan seri.

Fay menyapu pandangan ke sekelilingnya—kursi-kursi bergulingan, meja bergeser, air tergenang di lantai, peralatan makan dan pecahan keramik bertebaran. Ruang makan yang tadinya sangat rapi dan nyaman kini seperti kapal karam habis diserang perompak.

Philippe menggeleng, lalu tanpa berkata-kata keluar dari ruang makan kecil, menuju ruang makan besar. Dua pelayan bergegas menata peralatan makan serta makanan dan minuman di ruang makan besar.

Fay duduk di sebelah Andrew, lalu menuang teh ke cangkir. Déjà vu. Aneh sekali rasanya mengulangi sarapan dari awal.

Chef Pierrot masuk ke ruangan, meminta pengertian mereka agar bersabar menunggu roti-roti yang baru masuk ke panggangan untuk menggantikan roti-roti yang sudah bertebaran di lantai ruang makan kecil. Dia lalu menambahkan dengan nada tajam, ”Satu lagi Monsieur, saya mau melaporkan kejadian tidak menyenangkan dan mengajukan keluhan. Dua hari lalu salah satu kue yang ada di lemari pendingin rusak di bagian atasnya... ada bolong-bolong bekas congkelan di permukaannya, sehingga kue itu harus dilapis ulang. Tak hanya itu, pagi ini semua peralatan dapur berpindah tempat sehingga persiapan sarapan berlangsung lebih lama karena kami kesulitan menemukan di mana peralatan berada.”

Andrew menyapukan pandangan pada para keponakan. ”Kalian punya penjelasan atas keterangan Chef Pierrot?”

Kent mengangkat bahu. ”Saya tidak tahu apa-apa.” ”Sama,” sahut Lou.

”Saya tidur nyenyak dan mengorok sepanjang hari,” timpal Reno.

Fay berpura-pura sibuk menyeruput tehnya. Semalam, menjelang tengah malam, ia mengikuti ajakan Kent ke dapur. Ia kira tadinya Kent akan mengajaknya mencuri makanan lagi, tapi begitu sampai dapur ia terbelalak ketika menyaksikan semua sepupunya, termasuk Elliot, sibuk menggeser, memindahkan, dan menyembunyikan panci, talenan, pisau, mangkuk-mangkuk, bahan-bahan, dari lemari yang satu ke lemari yang lain secara acak. Ia akhirnya hanya menonton karena perutnya sudah keburu geli dan hanya bisa terbungkuk-bungkuk menahan tawa sampai perutnya sakit.

Larry ikut berkomentar. ”Saya tidak mengutak-atik dapur... saya berani bersumpah di atas kuburan Sam.” Ucapan itu disambut dengan tawa tertahan dan cengengesan semua keponakan, termasuk Fay, sementara Chef Pierrot melotot dengan wajah merah padam.

Tepat saat itu, Sam masuk bersama Elliot. Tawa yang tertahan pun pecah. Sam langsung celingukan dengan wajah bingung, sementara Chef Pierrot membalikkan badan dan masuk ke dapur dengan raut tersinggung.

Andrew menggeleng lalu menyeruput tehnya tanpa berkata-kata lagi.

Philippe menatap Larry dengan tajam. ”Tidak perlu seorang genius untuk tahu bahwa para keponakan kita yang tak bisa diatur punya andil dalam dua masalah tadi.” Larry langsung tutup mulut dan memasang wajah serius mendengar ucapan pengawas utamanya.

Raymond menanggapi, ”Tentu saja, Philippe. Kalau bukan mereka yang melakukan, berarti salah satu dari kita, dan sudah pasti bukan  aku karena aku tidak suka makanan yang  manis-manis,  dan  aku  tidak punya kecenderungan mengacak-acak. Berarti tinggal kau atau Andrew.”

”Very funny, Ray,” sahut Philippe dengan raut wajah semakin kesal. Sam, yang sepertinya sudah mulai mengerti apa yang sedang terjadi, langsung tertawa terbahak-bahak. Tawanya surut ketika pandangan Philippe dan Andrew mengarah padanya, dan ia pun langsung protes, ”Hei, itu kan memang lucu. Salahkan Paman Ray karena melucu seperti itu,” ucapnya, lalu nyengir sambil menyodorkan kepalannya ke Raymond, seperti salam fte Groundhouse. ”That’s

very  funny, Uncle.”

Raymond mengangkat bahu sambil membalas salam Sam. ”I can’t help  it... Saya berbakat jadi komedian.”

”Let’s  just  close  this  case,”  ujar  Andrew  akhirnya.  ”Saya  tak  punya banyak waktu untuk mengurusi kelakuan kalian. Namun, harap dicatat baik-baik, bila ada satu saja ulah kalian yang tidak berkenan    hari ini, dengan senang hati saya akan membuka kasus ini lagi dan membuat kalian semua tidur di sel besok malam.”

Reno memasang wajah sungguh-sungguh yang  membuat  Fay  harus mencubit pahanya sendiri di bawah meja supaya tidak tertawa. ”Jangan khawatir, Paman. Kalau Chef Pierrot membuat kue lagi,  saya akan menjaganya dengan nyawa saya sendiri. Saya juga bersedia berjaga di dapur untuk menghindari penyusup yang mengacak-acak dapur.”

Andrew menanggapi dengan santai, ”Reno, saya mungkin bersikap lunak pagi ini, tapi saya belum cukup gila untuk memercayakan keutuhan dapur di tanganmu.”

Ucapan itu disambut dengan senyum dan gelak tawa semua yang ada di meja makan.

Memang pada gila semua, pikir Fay lalu menyeruput tehnya sam bil menyapukan pandangan ke para sepupu dan pamannya dengan senyum lebar—keluarga gilanya.

Selesai sarapan, semua masih tetap duduk sambil berbicang santai sambil menghabiskan teh, kopi, dan minuman masing-masing.

Fay melihat Sam mengelus-elus perutnya dan tatapan mereka sejenak bertumbukan.

Sam mengerutkan kening sedikit sebelum berkata, ”Hei, Fay... apa yang beda dari kamu? Sebentar... apa karena rambutmu?”

Larry mengibaskan tangan ke Sam. ”Kamu dibesarkan bersama empat kakak perempuan, tapi perlu waktu  selama  ini  untuk  tahu  apa yang membuat Fay tampak beda? Genius!”

Sam tampak seperti tercerahkan. ”Aku tahu! Pasti make up kamu, ya? Eye liner... dan lipstik!”

Larry berdecak. ”Aku tidak mengerti apa pedulimu terhadap riasan Fay... atau warna bibirnya... that’s  girls’  stuff.”

Fay mengubah posisi duduknya dengan gelisah. Ia bisa merasakan bagaimana percakapan di meja makan terhenti dan semua mata di  meja makan sekarang serentak terarah ke dirinya dengan tatapan menilai.

Larry menyeringai lebar, kemudian berkata pada Fay, ”Coba kamu pinjamkan eye liner dan lipstik ke Sam supaya dia bisa pakai juga. Dia mungkin rindu kampung halamannya. Aku dengar Sam dulu suka didandani seperti anak perempuan oleh kakak-kakaknya.”

”Shut  up,  man!”  sahut  Sam  sewot,  disambut  tawa  Fay  dan  yang lain. Andrew berdiri. ”Jangan lupa, kalian semua harus melapor di kantor  pukul  sembilan...,”  ucapnya,  lalu  melihat  ke  Fay,  ”...kecuali kamu. Apa acaramu hari ini?”

”Hanya kursus,” jawab Fay.

Sam langsung berkomentar, ”Oh... kursusmu dimulai hari ini? Pantas saja kamu tampil rapi dan berdandan seperti ini. Pasti kamu mau mencoba menarik perhatian cowok-cowok yang  ada  di  sana, ya?”

Fay ternganga dengan pipi terasa panas. Lewat sudut mata, ia bisa melihat Kent tertegun sejenak, sedangkan Reno menoleh sambil menegakkan tubuh. Aduh, sialan si Sam!

Raymond melirik Sam, kemudian berkata, ”Sam, jangan ganggu Fay seperti itu.”

Sam  mengangkat  bahu.  ”Saya  tidak  melakukan  apa-apa.”  Ia  kemudian kembali berkata pada Fay sambil nyengir, ”Ayo taruhan, berapa banyak cowok yang bisa kamu bawa pulang hari ini...”

”Sam!” tegur Raymond, kali ini lebih keras.

Andrew menyapukan pandangan tajam ke Sam. ”Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan pada seorang wanita. Pengawas utamamu harusnya lebih sering berada di sini supaya bisa menepak kepalamu dan mengajarimu tata krama!”

Philippe mendengus sambil meletakkan serbetnya dan berdiri. ”Percuma! Anak ini bahkan tak bisa membedakan wanita terhormat dengan domba betina!”

Semua keponakan tertawa mendengarnya, sementara Sam tidak berkata apa-apa lagi, hanya cengengesan.

***

Satu demi satu semua meninggalkan meja  makan.  Kent  mengajak Fay berjalan bersama ke arah kamar.

Kent melirik gelang Fay, kemudian sekilas menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Ia kemudian berkata pelan, ”Looks very nice on you.”

Fay tersenyum. ”Thanks. Aku deg-degan tadi waktu Andrew tanya.” Kent nyengir sedikit. ”Kamu menanggapinya dengan baik.” ”Tadi pagi tumben kamu nggak ke kamarku...”

”I’m  really  sorry.  Andrew  mengetuk  kamarku  dan  mengajakku jalan bersamanya ke bawah karena dia mau membicarakan program latihanku. Aku tidak tahu bagaimana caranya  memberitahumu...  kamu tahu sendiri aku tidak bisa mengeluarkan telepon genggam di meja makan, apalagi ada Philippe.”

”Kamu mau tugas, ya?” tanya Fay.

”Iya, tadi Paman sudah memberitahuku sedikit. Sekarang dia mungkin mau bicara lebih detail.”

”Tugas apa?”

Kent mengerang sambil mendongakkan kepalanya sedikit. ”Aahhh... tugas paling membosankan sedunia... mengintai gerak-gerik seorang pria beserta anggota keluarganya.”

”Pengintaian? Bukankah tugas di Fontainebleau juga termasuk tugas pengintaian?”

”Kan waktu itu ada kamu... mana bisa bosan... Aku tak keberatan mengintai siapa saja seumur hidupku bila bisa melakukannya bersamamu.”

Fay tersenyum, diikuti Kent. Mereka tiba di depan kamar Fay.

Fay kembali bertanya, ”Kamu jadi bantuin aku mengecat dinding? Aku kayaknya mau pakai cat hijau muda. Pulang kursus aku bisa langsung ke apartemen, jadi kita ketemu di sana saja, kalau kamu hari ini bisa.”

Kent menggeleng sambil mengusapkan satu tangannya ke rambut pirangnya. ”Aku sudah lihat jadwal mingguan, agendaku di kantor penuh, belum lagi tugas ini. Dan berdasarkan percakapanku dengan Paman tadi, sepertinya akan terus begitu hingga entah berapa minggu ke depan.”

”Yaaa...,” sahut Fay sambil memajukan bibir. Kent tertawa kecil. ”Wajahmu lucu sekali...”

Selama beberapa saat Fay bisa menangkap secara nyata pancaran rasa sayang di kedalaman sepasang mata biru Kent. Dadanya langsung terasa seperti ditusuk. Di saat bersamaan Fay dilanda sebersit rasa bersalah. Ia sebenarnya tidak bermaksud mencari-cari perhatian Kent... tadi itu ekspresi spontannya saja.

Kent  melanjutkan,  ”I’m  truly  sorry...  Minggu  ini  pasti  tidak  bisa, tapi kalau minggu depan aku belum tahu  tepatnya.  Aku janji, begitu ada waktu luang sedikit saja, aku akan memberitahumu. Tapi,  aku usul, jangan menungguku. Kalau Reno atau yang lain punya waktu, langsung saja kamu minta tolong mereka karena nanti malah tertunda lama kalau kamu menungguku.”

Fay mengangguk. Entah kenapa, ada perasaan sedih ketika melihat ketulusan yang begitu kentara di raut wajah Kent. Masih adakah gunanya perhatian yang diberikan cowok ini, bila semuanya tak berujung ke mana-mana? Sebenarnya ia pun tak bisa menyangkal perasaannya sendiri, yang juga masih menikmati perhatian-perhatian kecil yang diberikan Kent.

Kent berkata, ”Aku harus bertemu Paman sekarang... Take care, Fay. I’ll  see  you  later.”

***

Tiba di teras setelah mengambil tas berisi buku-buku kursus, Fay melihat sepupunya yang lebih muda, Elliot Phearson, berdiri menunggu mobilnya. Fay baru sadar rambut Elliot berdiri tegak tampak lebih acak-acakan ke berbagai arah, sepertinya dia lupa menyisir. Untung pagi ini Philippe tidak memperhatikan hal itu!

Elliot menoleh ketika melihat Fay berjalan mendekat, dan senyumnya langsung mengembang begitu lebar hingga tubuh dan wajahnya juga  seperti  ikut  mengembang.  ”Hai,  Fay...,”  sapanya  ramah,  cenderung girang.

”Kamu nanti malam makan di rumah nggak?” tanya Fay.

Elliot menggeleng, lalu membetulkan kacamatanya yang melorot. ”Nggak. Dari kantor aku langsung ke bandara. Aku mau menengok nenekku.”

Fay mengangguk. Elliot pernah bercerita dengan wajah berbinar dan raut bangga tentang bagaimana keputusannya untuk bergabung dengan keluarga McGallaghan telah memberinya hadiah tak ternilai, yaitu kesempatan untuk menempatkan neneknya di rumah peristirahatan eksklusif terbaik di dunia, di pegunungan Swiss yang hanya bisa diakses oleh helikopter dan pesawat pribadi. ”Berapa hari?” tanya Fay.

”Aku sekarang hanya dikasih izin dua malam, tapi kata Paman James, bulan depan aku boleh liburan seminggu sama nenekku,” jawab Elliot dengan mata berbinar. ”Mungkin aku mau ke Italia. Nenekku pasti senang kalau bisa naik perahu menyusuri kanal-kanal di Venezia.” Ia lalu cekikikan, ”Nenekku pernah cerita dulu dilamar kakekku di atas perahu itu. Aku tidak terbayang nenekku pernah pacaran.”

Fay tersenyum geli, lebih karena ekspresi Elliot ketimbang cerita itu sendiri.

Elliot tiba-tiba saja tertegun, kemudian berkata, ”Aku dengar semua akan sibuk di kantor. Berarti kamu sendirian ya di rumah?”   Ia kemudian menatap Fay dengan pandangan iba.

Fay mengangkat bahu. ”Nggak tahu juga.” Ia kemudian tersenyum melihat  tatapan  Elliot.  ”I’ll  be  fine,  Elliot.  Lagi  pula,  kursusku  kan sudah dimulai, jadi pagi dan siang aku tidak akan kesepian.”

Elliot melirik Fay, kemudian membetulkan kacamatanya yang melorot sebelum bertanya, ”Apakah kamu masih suka bersedih, Fay?”

Fay agak kaget dan menatap Elliot sebentar, kemudian menjawab, ”Kadang-kadang... sudah agak jarang sih sebenarnya. Kenapa?”

Elliot menyapukan satu tangannya ke rambutnya yang agak jabrik  di bagian atas. ”Yah... mm... kamu tahu... nenekku kan sudah tua,  dan dia satu-satunya keluarga yang aku punya... selain keluarga ini, tentunya.  Kalau  nenekku  meninggal...”  Ucapannya  menggantung begitu saja, wajahnya mendadak murung.

”Jangan memikirkan hal itu, Elliot. Tak ada yang bisa tahu apa yang akan terjadi, dan umur sama sekali bukan indikator yang bisa dipakai untuk menentukan hidup seseorang. Nikmati saja waktu yang masih bisa kamu nikmati bersama beliau sekarang, sehingga kamu punya kenangan indah yang akan hidup bersamamu selamalamanya.” Fay tertegun dan terdiam sendiri ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya, seakan ucapan itu berbalik dan tertuju ke dirinya sendiri. Wajah Elliot berubah cerah. ”Kamu benar. Aku akan merencanakan liburan terhebat untuk nenekku bulan depan!”

Tatapan Elliot kemudian terarah ke pergelangan tangan Fay, dan ia berkomentar sambil tersenyum, ”Gelangmu bagus.”

Fay mengangkat tangannya sedikit. ”Iya, hadiah ulang tahun...” Ia berhenti bicara ketika tiba-tiba benaknya bertanya, apakah ia boleh memberitahu Elliot oleh sepupunya yang lain?

Elliot kelihatannya bisa membaca arti ekspresi Fay, karena ia langsung menyambar, ”Dari Kent, kan?”

Fay akhirnya mengangguk ragu. Amankah memberitahu Elliot tentang masalah ini? Bagaimana kalau Elliot keceplosan  di  depan para paman? Matilah!

Elliot kembali bertanya, kali ini dengan nada agak mendesak. ”Kamu suka kan hadiahnya?”

Fay sejenak hanya menatap Elliot, mencoba mengerti arti tatapannya yang jelas-jelas tak sabar menunggu jawaban. Akhirnya ia mengangguk.  ”Iya,  suka.”  Ia  terheran-heran  melihat  Elliot  tampak gembira mendengar jawaban itu.

Tepat saat itu, sebuah mobil datang dari arah bangunan garasi dan berhenti di depan teras.

”Thanks,  Fay.  Sampai  ketemu  beberapa  hari  lagi,”  ucap  Elliot riang, lalu masuk ke mobilnya yang dikemudikan seorang sopir yang tampak berumur.

Fay masih menatap Elliot yang melambai dari dalam mobil ketika terdengar sapaan pelan dari arah belakang. ”Hi,  l’il  sis...”

Fay melihat Reno sudah ada di belakangnya, dan ia pun langsung membalas sapaan Reno, ”Hai... kamu ada acara nggak hari ini? Aku mau minta tolong mengecat dinding apartemenku.”

Reno menggeleng. ”Nope. Aku baru lihat jadwal pagi ini dan seperti yang sudah kuduga... Russel tidak memberiku ruang untuk bernapas.”

”Kenapa sih semua tergila-gila dengan kantor begini?” keluh Fay.

Reno tertawa kecil, lalu berkata ringan, ”Bukan tergila-gila, tapi kewajiban.”

Mobil hitam yang biasa dipakai oleh Fay datang dari arah garasi dan berhenti di depan teras. Lucas, pengemudi mobil, turun dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk Fay.

Reno berbisik di telinga Fay, ”Take  care,  li’l  sis.”

Fay tersenyum. ”You  too,” balasnya, lalu masuk ke mobilnya dan melambai pada Reno yang masih berdiri di teras menunggu mobil nya.

***

Fay melangkah menuju tempat kursus sambil menunduk dengan tatapan setengah menerawang pada trotoar. Lucas menurunkannya di dekat apartemen, kemudian ia mampir sebentar ke apartemennya sebelum turun lagi dan berjalan kaki ke stasiun metro yang hanya berjarak 200 meter untuk pergi ke tempat kursus. Sejak kursusnya dimulai hari ini, apartemen itu akan menjadi titik pengantaran dan penjemputan Lucas setiap hari.

Benaknya memutar percakapan singkat dengan Kent dan  Reno  pagi ini. Menyebalkan sekali rasanya, mengetahui dua cowok  itu  tidak akan punya waktu lagi untuk dirinya karena sibuk di tempat yang  disebut  ”kantor”  itu.  Kelihatannya  ia  sudah  tak  bisa  lagi  berharap Kent dan Reno akan selalu ada di sisinya. Padahal, baru saja     ia merasa betapa sempurna hidupnya kini. Mungkin memang tidak  ada yang sempurna di dunia ini—atau,  bukan  kesempurnaan  itu  yang tak ada, melainkan keabadian. Lagi-lagi, semua hanya sementara, tak terkecuali kesempurnaan. Sekarang, Fay hanya berharap, bila urusan kantor sangat menyita waktu seperti itu, semoga saja ia tak perlu buru-buru datang ke sana.

Fay mendorong pintu L’Ecole de Paris. Perasaannya seperti terseret-seret di lantai. Pikirannya mungkin tahu bahwa kesibukan itu bukan salah Kent dan Reno, karena mereka semata mengikuti  instruksi dan jadwal, tapi perasaannya tetap saja tak keruan—rasanya seperti berada di bajaj yang jalan  tertatih-tatih,  sementara  melihat dua mobil ngebut yang dikemudikan Kent dan Reno  menyalip  bajajnya tanpa basa-basi.

Belum apa-apa ia sudah merindukan sikap Reno yang melindungi, kalimat-kalimatnya yang jail, dan tindakan-tindakannya yang usil. Lebih-lebih lagi, tatapan lembut Kent dan kata-katanya yang menenangkan. Belum lagi kalau ia ingat pelukan hangat Kent saat menghiburnya dulu. Omong-omong, kenapa ia jadi seperti orang putus cinta begini? Kent kan cuma ke kantor! Lagi pula, kalau dipikir-pikir, kapan pernah nyambungnya? Aih... bodohnya kamu, Fay! ujar Fay pada diri sendiri sambil menghela napas.

”¡Hola,  amiga!”

Sebuah sapaan yang lebih mirip teriakan membuyarkan pikiran yang berkecamuk di benak Fay.

Fay menoleh dan melihat Enrique mendekatinya sambil tersenyum hangat. Memakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, cowok itu terlihat rapi, tapi tetap santai dengan tas diselempangkan di tubuh dan gelang etnik melingkar di pergelangan tangannya.

Enrique merentangkan tangan dan memeluk Fay.

Fay membalas pelukan Enrique dengan benak masih belum menapak sepenuhnya. Ketika Enrique mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi, barulah Fay tersadar dan agak kaget.

Enrique menyapa ringan, menanyakan kabar Fay, ”¿Como estas, amiga?”

Beberapa siswa di lobi langsung menoleh ke Enrique.

Fay akhirnya tersenyum sedikit, lalu berbisik, ”Kamu seharusnya bicara dalam bahasa Prancis, bukan Spanyol.”

Enrique ikut berbisik, ”Kalau aku harus bicara dalam bahasa Prancis terus-menerus, kamu harus menunggu setengah jam untuk setiap kalimat yang aku ucapkan karena aku harus cek tata bahasanya ke buku dan cari kata yang tepat di kamus.”

Fay tertawa kecil. ”Kita sekelas nggak?”

Enrique tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Fay sejenak, kemudian berkata, ”Kamu tampak beda sekali hari ini.”

”Maksud kamu ‘beda’ apa? Is it something good or bad?” tanya Fay. Enrique tersenyum lebar, ”Tentunya bagus. I like it. You look great.” ”Berarti waktu itu ‘not great’, ya?” tanya Fay dengan sedikit salah

tingkah.

Enrique tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya. ”Aku sih nggak bilang begitu, tapi aku harus bilang aku lebih suka tampilanmu hari ini,” ucapnya, kemudian melanjutkan, ”Ibuku pernah bilang, riasan seorang wanita seharusnya bukan digunakan untuk menutupi kekurangan, tapi untuk menampilkan sisi lain dari diri yang selama ini tersembunyi, dan aku rasa padamu ucapan itu terbukti.”

”Merci,” ucap Fay sambil memainkan rambutnya di dekat telinga. Enrique mengucapkan kalimat itu dengan raut wajah santai, mem buat kalimat yang dia ucapkan terdengar tulus. Tapi, sepasang mata yang kini menatap lekat itu membuatnya jengah.

Enrique berkata, ”Kamu ada acara nggak nanti sore? Bagaimana kalau hari ini kamu ke rumahku? Kita bisa latihan percakapan.”

Fay  berpikir  sebentar,  kemudian  menjawab,  ”Okay,  sounds  great. Hei, kamu tadi belum jawab pertanyaanku... Kelasmu sama nggak denganku?”

Enrique menggeleng, ”Beda. Jadi, kita ketemu waktu makan siang, ya.”

”Oke,”  jawab  Fay,  kemudian  masuk  ke  kelasnya,  diantar  oleh Enrique.

***

Rumah Enrique terdiri atas tiga lantai yang berada langsung di sisi jalan, di sebuah area permukiman yang terkenal bagi kalangan atas karena lokasinya yang berada dekat pusat kota.

Enrique menekan bel di sisi pintu.

Fay bertanya, ”Waktu terakhir kali kamu mengajakku ke sini, kok kamu nggak pakai tekan bel segala?”

”Waktu itu aku bawa kunci. Hari ini semua ketinggalan, termasuk dompet. Untung ada uang di saku celanaku untuk bayar makan siang. Kalau nggak ada, aku tadi terpaksa pinjam uangmu dan kehilangan sedikit harga diriku,” jawab Enrique sambil nyengir.

Fay tertawa kecil.

Pintu dibuka oleh seorang wanita cantik berhidung mancung dan berbibir merekah, serta berambut panjang bergelombang warna cokelat tua kemerahan. Tubuh wanita itu tinggi dan berisi, terlihat seksi dengan gaun formal hijau yang panjangnya di atas lutut yang menempel di badan, menampilkan lekuk tubuh.

Enrique memeluk dan mengecup pipi wanita itu. ”Mama, perkenalkan, mi  amiga, Fay. Fay, ini mamaku, Beatrize Davalos.”

Ibunda Enrique menambahkan, ”Kamu bisa memanggil saya Tia Bea. Tia  dalam  bahasa  Spanyol  artinya  aunty.”  Ia  menatap  Fay,  kemudian  berkata,  ”So,  this  is  your  lady  friend.”  Matanya  yang  bulat besar tampak sangat ekspresif dan hangat. ”¡Muy bonita!” Cantik sekali.

Fay mengulurkan tangan dengan sopan, dan terkaget-kaget ketika Tia Bea mengabaikan tangannya yang terjulur dan malah langsung  memeluk sambil mencium pipinya.

”Mari  masuk,  Fay,”  ucap Tia  Bea.  Di  ruang  tamu  ia  mengambil dua sepatu wanita berhak, yang satu berwarna putih, dan yang lain warna hijau, lalu menyodorkannya ke hadapan Enrique sambil bertanya, ”Yang mana?”

Enrique  mengangkat  bahu.  ”Sama  saja.  You  are  beautiful,”  ucapnya sambil berjalan ke arah belakang, lalu masuk ke  salah  satu  kamar.

”Ah... Mana mungkin sama! Warnanya saja sudah beda!” seru Tia Bea pada Enrique yang sudah menghilang di balik pintu. Ia berdecak, lalu menatap Fay dan berkata, ”Saya butuh pendapatmu.”

Fay bertanya, ”Tia Bea memang mau pergi, ya? Acaranya apa?”

Senyum mengembang di wajah Tia Bea. ”Saya diajak ke acara amal di salah satu museum. Sebentar,” ujarnya sambil memberi tanda pada Fay, kemudian mengenakan sepatu hijau. ”Anak laki seperti Enrique sama sekali tak ada gunanya. Dia pikir semua sepatu sama  saja dan dia tidak bisa mengerti kenapa wanita perlu sepatu dengan berbagai warna dan model.”

Fay tersenyum. Ia ingat Mama dulu juga sering mengomeli Papa karena jawaban Papa selalu sama setiap kali dimintai pendapat tentang penampilan Mama.

Tia Bea mengibaskan rambutnya ke belakang lalu menunduk melihat kakinya. ”Bagaimana menurutmu, sepatu ini cocok tidak?” Terdengar teriakan Enrique dari arah kamar, ”Semuanya cocok!” Fay menoleh dan melihat Enrique keluar kamar dengan bertelanjang dada, tangannya memegang kaus. Dadanya yang kecokelatan karena terbakar matahari terlihat bidang dan lengannya berotot. Jantung Fay berdegup sedikit. Tiba-tiba saja ia merasa seperti ada segerombolan kupu-kupu yang berhamburan di perutnya. Apa-apaan sih? Nggak tahu malu! Ia mengomelinya dirinya sendiri dengan kesal sambil mengalihkan pandangan. Lewat sudut matanya Fay melihat Enrique yang masih bertelanjang dada memutar-mutar kaus yang ada    di tangannya, dan Fay langsung merasa debar jantungnya jadi acakacakan. Ih, norak!

Tia Bea menatap Enrique dengan mata sedikit terbelalak. ”Mama tidak bertanya ke kamu... Percuma! Dan Enrique, pakai bajumu sekarang!”

Enrique terkekeh sambil memakai kausnya, lalu melompat ke sofa dan duduk.

”Bagaimana?” tanya Tia Bea lagi sambil menatap Fay.

”Cocok. Tapi bagaimana kalau coba yang putih dulu?” jawab Fay, berusaha fokus pada Tia Bea.

Tia Bea memakai sepatu putih, kemudian mengibaskan rambutnya sambil meletakkan tangannya di pinggang, bergaya bak fotomodel. ”Well?  Kalau yang ini?” tanyanya.

Fay  mengangguk.  ”Saya  rasa  sepatu  yang  putih  lebih  cocok,”  jawabnya.

”Terima kasih, Sayang,” ucap Tia Bea sambil tersenyum.

Fay mengangguk sambil tersenyum sopan. Rasanya sulit sekali percaya bahwa ia tak lagi punya kesempatan untuk mengomentari penampilan Mama seperti yang barusan ia lakukan pada Tia Bea— ibunda orang lain.

Terdengar ketukan di pintu.

Enrique kembali melompat dari sofa. Ia membuka pintu, lalu merentangkan tangan. ”Hai, Barney! Good to see you again,” serunya hangat sambil memeluk pria yang datang.

”Good  to  see  you  too,  young  man,”  ucap  pria  itu  dengan  suara berat. Tatapannya  lalu  beralih  pada Tia  Bea.  ”You  look  amazing,  as always,” ujarnya, lalu memberi satu kecupan ringan di pipi. ”Thank  you,”  ucap Tia  Bea  sambil  tersenyum.  Ia  lalu  melihat  ke arah Fay. ”Ini Fay, teman Enrique.”

”Pleased to meet you, Fay,” ucap Barney ramah. Suaranya berat dan mengalun seperti pembawa berita. Penampilannya sangat rapi dan formal, namun bahasa tubuhnya santai.

Tia Bea berkata pada Enrique, ”Jangan biarkan temanmu kelaparan. Ada makanan di kulkas, tinggal dipanaskan saja. Atau kamu bisa pesan pizza.” Ia beralih pada Fay. ”Beritahu saya kalau Enrique tidak menjamu kamu dengan baik ya,” ucapnya hangat.

Fay tersenyum. ”We’ll  be  fine.  Have  a  good  time.”

Sebuah limusin hitam yang diparkir di sisi jalan di antara mobilmobil lain bergerak mendekat. Fay berdiri di pintu bersama Enrique, melambai pada Barney dan Tia Bea yang masuk ke limusin.

Enrique memesan pizza, dan tak lama kemudian mereka sudah duduk di sofa sambil mengunyah pizza dengan lahap.

”Jadi, kapan aku akan diajak melihat pisau yang kamu banggabanggakan itu?” tanya Enrique.

Fay menimbang-nimbang sejenak, kemudian berkata, ”Aku mau mengecat dinding apartemenku dulu. Ada satu bidang dinding yang mau aku cat hijau biar ruangannya jadi lebih terang...”

”Kapan?” potong Enrique. ”Aku bisa bantu.”

Fay mengangkat alis, tapi tidak langsung menjawab.

Enrique memperhatikan wajah Fay yang terlihat ragu, lalu berkomentar, ”Kenapa kamu kayaknya keberatan sekali mengajakku melihat apartemenmu? Jangan-jangan kamu menyimpan obat terlarang, ya? Atau ada pacarmu yang lagi mabuk?”

Fay menyambar bantal dan melemparkannya ke Enrique. ”Sembarangan!”

Enrique tertawa, lalu berkata, ”Aku janji akan jadi anak baik yang sopan dan tidak mengacak-acak. Kamu tinggal duduk manis menonton aku mengecat dinding. Bagaimana kalau besok?”

Fay terdiam. Ia masih ingin dibantu oleh  Kent,  tapi  cowok  itu tadi pagi bilang belum tahu bisa kapan, tanpa ada titik terang. Akhirnya ia mengangguk. ”Oke, besok boleh.”

”Agak sore nggak apa-apa, ya. Pulang kursus aku mau ambil baju titipan  ibuku  di  laundry,  baru  aku  bisa  ke  apartemenmu,”  ucap Enrique, lalu tiba-tiba saja tertegun. Ia langsung melompat berdiri, kemudian berjalan cepat ke kamarnya.

Fay melongo melihat Enrique kabur begitu saja, tapi senyumnya langsung mengembang ketika melihat Enrique keluar kamar membawa sebuah bungkusan besar berpita.

”Ini, hadiahmu. Tak bisa kupercaya, aku hampir lupa!”

Fay tertawa kecil lalu membuka hadiah Enrique, dan memekik ketika melihat sebuah bantal hias empuk bermotif belang zebra  dengan gambar wajah zebra di satu sisi bantal. Fay membalik bantal dan langsung tertawa geli melihat bagian belakangnya digambar tepat seperti bagian belakang zebra, lengkap dengan buntutnya. ”Merci...”

Enrique berkata ringan, ”Aku pikir cocok untuk melengkapi koleksi kebun binatang di apartemenmu. Dan bisa kamu peluk juga.” Fay refleks menatap Enrique dan melihat cowok itu nyengir sambil menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Fay

mengalihkan pandangannya dengan sedikit salah tingkah.

Enrique secara sambil lalu bertanya, ”Gelangmu bagus. Hadiah dari pacarmu?”

Fay menggigit bibir. Kata ”pacar” seperti menonjok dadanya dengan keras. ”Nggak,” jawabnya singkat.

”Berarti cowok yang pernah kenalan denganku dulu bukan pacarmu, ya?”

Fay lagi-lagi merasakan sebuah pukulan di dada. ”Bukan...”

”Iya, aku juga menebak seperti itu. Nggak mungkin jalan sama pacar kayak jalan sama robot begitu,” sahut Enrique ringan.

Fay langsung menyambar bantal yang ada di sofa dan memukul Enrique dengan gemas, membiarkan seulas kekecewaan dan sejumput kemarahan terhadap keadaan—atau terhadap Kent?—terlampiaskan dalam pukulannya.

Enrique langsung mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri. ”Aww... keras sekali pukulanmu. Eh... eh... iya, aku minta maaf dan  berjanji  nggak  bicara  apa-apa  lagi,”  ucapnya  sambil  cengengesan. Fay menurunkan bantal dengan perasaan lebih puas dari yang ia  bayangkan sebelumnya.

Enrique menyapukan satu tangannya ke rambut, kemudian bertanya, ”Omong-omong, kamu kok kadang susah sekali dihubungi? Kalau aku telepon sering tidak diangkat. Pesan pun kadang lama sekali baru direspons.”

Fay mengangkat bahu. ”Kalau aku lagi di rumah Bobby, telepon suka aku tinggal di tas. Kalau lagi di apartemen, mungkin pas aku di kamar mandi, atau bisa juga deringnya aku matikan karena lagi baca buku.”

Enrique mengangkat kedua tangannya ke atas seperti menggeliat, kemudian meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Kaus di badannya naik sedikit, menampakkan perutnya yang berotot di atas celana jins dengan ikat pinggang kulit.

Fay mengalihkan pandangannya, berusaha menyatukan konsentrasinya yang entah kenapa mendadak buyar.

Enrique berbicara, ”Setelah kupikir-pikir, lebih baik aku tidak meneleponmu... Aku merasa seperti ditolak kalau tidak kamu angkat...”

Fay mendelik pada Enrique. Ucapan itu langsung terasa menyulut otaknya, dan konsentrasinya yang tadi buyar langsung kembali menyatu dengan utuh. ”Ya sudah, nggak usah telepon aku!” sahutnya sewot. Ih, kenapa cowok-cowok yang ia kenal menyebalkan semua! Enrique tertawa kecil, kemudian berkata, ”Kamu pemarah sekali.

Kamu tahu nggak, mukamu jadi lucu kalau melotot begitu. Aku kan belum selesai ngomong... Maksudku begini, supaya aku nggak penasaran karena ditolak, sebelum meneleponmu aku akan mengirimkan pesan dulu. Kalau aku dapat balasan bahwa kamu bisa menerima teleponku, baru aku telepon. Bagaimana?”

Kekesalan Fay luruh seperti disiram air dingin. Ia tersenyum lebar, ”Oke... sounds perfect. Sekarang kita mau ngapain?”

”Main  game,  yuk,”  ajak  Enrique  sambil  bangkit  dari  sofa.  ”Aku ambil iPad dulu.”

”Bukannya kita mau latihan percakapan?” tanya Fay.

”Iya, tapi kan nggak perlu lama-lama. Kita pemanasan dulu pakai satu   game,   percakapan   sebentar,   lalu   main   game   lagi.”   Enrique nyengir, lalu menghilang ke kamarnya.

***

Fay meletakkan ceret berisi air di atas kompor yang menyala, lalu membuka lemari dapur apartemen, memilih bungkusan teh dari beberapa jenis yang tersusun di lemari. Ia baru saja selesai menyimpan bahan-bahan hasil belanja di lemari dapur dan kulkas. Tidak banyak, hanya spageti dengan satu stoples saus yang sudah jadi, selada, daging olahan kalkun, roti, dan selai.

Semalam ia memberanikan diri bertanya pada Andrew apakah Enrique boleh datang ke apartemennya.

”Paman, teman saya ingin membantu saya mengecat dinding apartemen  besok...”  Ia  berhenti  sebentar,  kemudian  menambahkan buru-buru, ”Saya sudah minta tolong Kent dan Reno, tapi mereka tidak bisa, jadi waktu teman saya menawarkan langsung saya bilang iya.”

”Apakah itu pertanyaan atau pernyataan? Karena kelihatannya kamu sudah menganggap hal itu diperbolehkan.”

Fay langsung gelagapan, ”Itu pernyataan, tapi sekaligus juga pertanyaan... Maaf, Paman... seharusnya saya memang bertanya  dulu, tapi dia sudah keburu menawarkan diri. Is it okay?” Fay menunggu dengan tegang dan akhirnya mengembuskan napas lega ketika melihat pamannya mengangguk.

”It’s okay. Tapi lain kali pastikan urutannya benar. Minta izin dulu sebelum melakukan sesuatu, bukannya melakukan sesuatu dan meminta izin setelahnya.”

Tak disangka-sangka, Andrew kembali berbicara. ”Selama beberapa hari ke depan, semua akan terlibat dalam  pekerjaan  intensif  di  kantor dan tidak akan ada yang bisa pulang ke rumah untuk makan malam. Pastikan saja kamu tetap mengikuti jadwal latihanmu, tapi     di luar itu kamu boleh makan malam di luar  atau  menghabiskan waktu di apartemenmu bila kamu mau, asalkan jam sepuluh malam kamu sudah harus meninggalkan apartemen untuk kembali ke sini.  Umurmu memang sudah delapan belas tahun, tapi jam malammu masih mengikuti aturan khusus. Bila kamu perlu pulang lebih malam dari pukul sepuluh, hubungi saya sebelumnya.”

Tak bisa dipercaya, ia mendapat durian runtuh!

Fay melirik arlojinya, salah satu Swatch baru yang ia beli beberapa minggu lalu. Sebentar lagi Enrique datang, dan setidaknya mereka  bisa membuat sandwich bila setelah mengecat nanti perut mereka  teriak-teriak minta diisi. Fay lalu beranjak ke jendela dan mengintip  ke luar—terlihat beberapa orang lalu-lalang, tapi batang hidung Enrique belum kelihatan.

Apartemennya berada di lantai dua sebuah bangunan tua berlantai enam yang sudah direnovasi, menghadap ke jalan di area permukiman yang tak terlalu ramai.

Bertipe studio, semua perabotan ditata di satu  ruangan  tanpa  sekat. Di sisi kanan pintu masuk adalah area ruang tidur dan lemari baju. Sebuah lemari buku pendek memisahkan area ruang tidur dengan ruang tamu kecil yang hanya dilengkapi sebuah sofa kecil dan meja pendek. Di sisi kiri pintu masuk ada dapur mungil dan meja makan dua kursi yang merangkap meja belajar, serta sebuah pintu     ke kamar mandi.

Semuanya tampak sempurna. Bila ada yang perlu disesali, itu adalah kenyataan bahwa apartemen ini bukan untuk ditinggali— setidaknya belum sekarang.

Terdengar ketukan di pintu.

Fay bergegas membuka pintu dan melihat seorang wanita berusia dua puluhan, berambut hitam sebahu, tersenyum lebar, menyodorkan kunci—penghuni   unit   sebelah.   ”Hai,   Janet,”   sapa   Fay   sambil menerima kunci yang disodorkan Janet. Ia melihat sebuah koper berukuran sedang yang ada di belakang Janet dan langsung bertanya, ”Kamu mau pergi ke mana?”

”Kali ini aku pergi agak lama, sekitar satu minggu. Aku ke Srilanka, kemudian ke kantor pusat di Basel,” jawab Janet. ”Sorry to bother  you  again  and  again.”

”Aku nggak keberatan... apalagi kalau stok tehku terus bertambah,”  jawab  Fay  sambil  terkekeh.  Selama  ini  ia  menerima  dua kotak teh hasil perjalanan Janet ke Inggris dan Spanyol. Janet bekerja sebagai analis di perusahaan keamanan yang bermarkas di kota Basel, Swiss.

”Jangan lupa ya, setiap hari bungaku harus disiram. Dan...” ”Dan jendelamu dibuka selama setengah jam supaya bungamu

mendapat udara segar dari luar, walaupun bercampur dengan bau knalpot mobil,” sambung Fay.

Janet tersenyum. ”Aku janji, nanti aku bawakan satu boks teh Ceylon yang terkenal itu.”

”Deal!” sahut Fay.

”Be  a  good  girl  at  home.  No  wild  parties,  okay?”

Fay tertawa kecil sambil melambaikan tangan. Janet pernah mengetuk apartemennya jam sepuluh malam—tentunya tak ada yang menjawab karena kosong. Keesokan harinya Janet bertanya apakah Fay ada di apartemen semalam, ataukah ia pergi ke kelab atau pesta. Fay menjawab jam sepuluh ia sudah tidur dan tidak suka keluar malam. Janet lalu menggodanya, menyebutnya bayi besar.

Fay menyalakan komputer di meja makan, lalu membuka e-mail— ada e-mail dari Cici. Ia mulai membaca dan tertawa sendiri. Di paragraf pertama, yang tidak kurang dari sepuluh baris, Cici mengomel-omel dan bersumpah serapah tentang bahasa Jerman yang menurutnya sulit dan kaku, dengan konsonan berderet dan pengucapan yang mencekik leher. Di paragraf kedua, tawa Fay makin keras ketika membaca cerita tentang air di apartemen yang mendadak mati saat Cici sedang di pertengahan mandi, dengan rambut penuh sampo dan badan penuh busa sabun. Ternyata ada kebocoran pipa air, tapi untungnya dalam setengah jam semua sudah kembali normal. Berikutnya, Cici bertanya apakah Fay masih aktif di media sosial karena pesan-pesan atau komentarkomentar yang ditulis Cici tentang Fay tidak pernah digubris. Terakhir, Cici menanyakan alamat Fay.

Fay membalas e-mail Cici, mengomentari cerita-ceritanya, serta menjawab  pertanyaannya.  ”Ci,  gue  udah  lama  nggak  buka  media sosial, paling cuma cek e-mail. Setelah ortu gue meninggal, kayaknya gue  jadi  malas  cerita  dan  komentar  di  mana-mana.” Tak mungkin ia cerita pada Cici bahwa interaksi sosialnya dibatasi dan tak ada satu jengkal pun kehidupannya kini yang bebas dari aturan McGallaghan. Elliot pernah memberitahunya sambil bisik-bisik untuk berhati-hati saat menggunakan internet, e-mail, atau melakukan apa pun baik di komputer maupun di telepon genggam. Segala aktivitas dipantau program yang ada di kantor, dan aktivitas yang mencurigakan atau tak sesuai profil akan muncul di laporan yang dikirim secara otomatis pada para pengawas keponakan yang bersangkutan. Bahkan update status di Facebook saja bisa membuatnya diinterogasi kalau tak hati-hati—pernah terjadi sebelumnya pada salah satu sepupunya, Lou. Lou berkomentar secara samar tentang tempat yang dikunjungi bersama pacarnya, yang disalahartikan sebagai komentarnya tentang salah satu tugasnya di lokasi tersebut. Menurut cerita Elliot, Lou menghabiskan waktu dua jam di Ruang Putih di kantor, ditanyai oleh kedua pengawasnya, Raymond dan Philippe.

Fay menulis alamat apartemennya di e-mail ke Cici, disertai pesan yang lebih mirip ancaman, bahwa siapa pun yang sudah mengetahui alamatnya harus mengirimkan barang; minimal kartu pos. Bila menolak, akan didoakan agar mukanya jerawatan dan nggak kempis selama sebulan.

Fay menekan tombol kirim sambil cengar-cengir puas. Ia  tak  peduli e-mailnya dipantau dan diintip oleh entah siapa suruhan pamannya—ia sumpahin mereka jerawatan juga.

Tepat saat itu terdengar suara siulan dari ceret yang menandakan air sudah mendidih. Fay bangkit dari kursi lalu membuat secangkir teh. Ia kemudian duduk di sofa, meniup-niup tehnya seraya menikmati kesunyian yang menenangkan. Di apartemen ini ia seperti punya kehidupan lain saat ia bisa memiliki kebebasan dan bisa mengatur dirinya sendiri, walaupun hanya sesaat. Kadang ia merasa seperti tinggal di dua dunia berbeda yang berjalan paralel.

Terdengar kembali ketukan di pintu.

”¡Hola, amiga. Aku datang!” seru Enrique ketika pintu apartemen Fay dibuka. Ia merentangkan kedua tangan, memeluk Fay sambil mengecup pipi Fay.

Fay membalas pelukan Enrique dengan terheran-heran. ”Bukankah kita baru dua jam lalu ketemu?” tanyanya, lalu tertawa.

Enrique mendesah, kemudian berkata, ”Mau bagaimana lagi... Aku dari Amerika Selatan dan kami semua seperti ini. Aku rasa ini hanya cara kami menikmati hidup... selain berpesta, tentunya.”

”Kamu kesasar nggak?” tanya Fay.

Enrique menggeleng, ”Mudah sekali kok. Tinggal lurus-lurus saja jalannya dari stasiun metro.”

”Welcome  to  my  small  but  cool  world,”  sambut  Fay  sambil  merentangkan satu tangannya ke arah ruangan.

Enrique  masuk  dan  melihat  berkeliling.  ”Hey,  this  is  a  very  nice place. Tidak sekecil yang kuduga, dan lebih keren dari bayanganku.” Ia membungkuk sedikit di depan lemari buku Fay, kemudian berkomentar, ”Desain lemari bukumu bagus. Aku nggak keberatan punya yang seperti ini untuk koleksi robot-robot kecilku.” Berikutnya, ia menuju dapur tanpa malu-malu. ”Ini pisaunya, ya?” tanyanya sambil mengambil kedua pisau Fay dan mengamatinya. ”Aku harus mengakui dua-duanya memang keren. Jarang kamu pakai, ya?”

”Iyalah. Aku kan belum lama tinggal di apartemen ini. Lagi pula, aku memang jarang masak.”

Enrique meletakkan pisau sambil berkata, ”Kapan-kapan aku akan masakkan kamu pasta.”

”Boleh,” kata Fay. ”Kalau nggak enak, kita pesan pizza lagi ya...” ”Hei, itu benar-benar penghinaan!” protes Enrique, lalu berhenti sebentar ketika melihat Fay cekikikan. ”Aku ini jago sekali... Aku bahkan terkagum-kagum dengan diriku sendiri. Kamu dijamin akan

ketagihan,” imbuhnya.

Fay mencibirkan bibirnya ke Enrique, ditanggapi dengan cengiran lebar oleh Enrique.

”Mana dinding yang mau kamu cat?” tanya Enrique sambil memutar tubuhnya perlahan, memperhatikan  dinding-dinding  Fay  satu demi satu.

Fay menunjuk dinding dengan dua jendela menghadap ke jalan. Enrique mengajak Fay menggeser beberapa perabot dan membentangkan kertas-kertas koran  di  bagian  bawah dinding. Berikutnya, ia berkata, ”Kamu duduk saja. Bidang dindingnya tidak luas, jadi aku  bisa  cat  sendiri.”  Setelah  mengucapkan  itu,  ia  menarik  kaus  di

tubuhnya hingga terbuka. Detik itu juga Fay merasa semua udara di paru-parunya langsung tersedot keluar ketika tatapannya tiba-tiba jatuh begitu saja ke dada Enrique yang bidang dan perutnya yang berotot.

Enrique bertanya, ”Ada tempat untuk menggantung kausku nggak? Kaus ini termasuk favoritku dan aku nggak mau ini sampai terkena cat.”

Fay mengalihkan pandangan dengan wajah terasa panas dan menjawab buru-buru dengan panik, ”Itu ada gantungan di samping lemari.”  Dengan  debar  jantung  yang  berderu,  ia  berbalik  dan  berlalu.

”Hei, kamu mau ke mana?”

”Ke kamar mandi,” jawab Fay cepat. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi dengan dada seperti akan meledak. Begitu pintu ditutup,    ia langsung menggigit kepalan tangannya untuk mencegah teriakan putus asa keluar dari mulutnya. Apa yang terjadi? Kenapa ia jadi  norak begini? Dua hari lalu ia melihat Larry, Reno, dan Sam bertelanjang dada ketika tanding renang dan ia biasa-biasa saja, malah sibuk bersorak bersama Elliot di pinggir kolam,  memberi  se mangat.

Apakah ini artinya ia jatuh cinta pada Enrique? Tapi, mana mungkin ia jatuh cinta pada Enrique kalau rasa rindunya pada Kent masih sedemikian kuat? Lagi pula, ia tadi masih normal-normal saja ketika Enrique datang.

Fay  mengerang sambil membenamkan wajahnya yang terasa panas  ke kedua telapak tangan ketika bayangan Enrique bertelanjang dada tiba-tiba muncul kembali di benaknya dan di detik yang sama ia merasa darahnya berdesir. Tidak... ini benar-benar memalukan!

Fay menarik napas panjang, lalu becermin, menatap wajahnya sendiri dengan prihatin dan putus asa.

Tenang, Fay! ucapnya pada diri sendiri sambil mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan. Lo adalah cewek beradab dari Indonesia, dan berada di sebelah cowok yang... yang  seperti  Enrique  tidak boleh membuat lo mati gaya dan kehilangan harga diri!

Akhirnya ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang berserakan, kemudian kembali menatap dirinya sendiri di cermin. Dengan tekad bulat ia melangkah keluar dari kamar mandi.

Enrique berjongkok sambil menuang cat ke wadah, dan tak lama kemudian mulai mengecat.

Fay mengembuskan napas lega karena Enrique membelakanginya. Ia duduk di sofa sambil berusaha fokus pada hal lain, tapi tidak bertahan lama. Matanya entah kenapa sulit sekali diatur dan berkalikali ia mencuri pandang ke Enrique sebelum tersadar dan mencoba berkonsentrasi pada hal lain.

Setelah selesai, Enrique berkacak pinggang dan mengamati hasil karyanya. ”Lumayan rapi juga ya...”

”Iya,”  jawab  Fay  sambil  menyambar  kaus  Enrique  yang  tergantung, kemudian menyodorkannya pada Enrique sambil berusaha memasang tampang sepolos mungkin. ”Kamu pakai kaus dulu, supaya tidak...,” ia berhenti sebentar, mencari padanan kata ”masuk angin” dalam bahasa Inggris, tapi tidak berhasil. Akhirnya ia bilang, ”...supaya tidak sakit.”

Enrique mengibaskan tangan. ”Tenang saja, aku sudah biasa tidak pakai baju kalau surfing. Lagi pula, aku masih berkeringat. Aku mau bersih-bersih dulu di kamar mandi.” Ia kemudian berlalu.

Fay beranjak ke dapur dan mengambil minuman kaleng dari kulkas—kalau bisa minuman bersoda yang dingin ini tidak hanya ditenggak, tapi disiramkan di atas kepalanya! Ia menenggak minumannya sambil berdoa semoga Tuhan segera turut campur dan membuat Enrique memakai kausnya, karena kalau tidak, ia bisa semaput sekarang!

Dan, mungkin Tuhan memang menanggapi keluh kesahnya, karena tak lama kemudian Enrique keluar dari kamar mandi dan langsung memakai kausnya.

Fay mengembuskan napas lega, walaupun ada sedikit perasaan bersalah—dan lebih banyak malu—saat menyadari ada sebagian dirinya yang kecewa karena kehilangan pemandangan bagus. Keterlaluan!  Ia melihat Enrique menghampirinya, dan ia pun buru-buru berbalik untuk mengambil minuman dari kulkas, lalu menyodorkannya pada Enrique. Enrique menenggak minumannya, kemudian duduk di bangku dan memandang Fay.

”Kenapa?” tanya Fay dengan nada senormal mungkin, dengan pipi yang entah kenapa jadi terasa panas. Ih, dasar norak! makinya pada diri sendiri sambil mengalihkan pandangannya ke kaleng minuman di tangannya sebelum kembali memaksakan diri menatap Enrique. Mata Enrique yang berwarna hitam tampak sangat dalam, memberi kesan sebuah keteguhan hati. Fay mengalihkan pandangannya pada kaleng di tangannya, lalu menenggak minumannya.

”Nggak apa-apa. Aku lagi berpikir... kamu sudah pernah jalan jalan di area Montmartre?”

”Belum. Kenapa memangnya?”

”Aku tadi di tempat kursus lihat brosur acara ekskursi murid musim panas dan melihat tur jalan kaki di Montmartre. Aku belum pernah ke sana dan sedang berpikir untuk pergi. Kamu mau temani  aku ke sana sekarang nggak?”

”Sekarang? Memangnya di sana ada apa aja?”

”Aku tadi cuma baca sekilas. Montmartre adalah daerah di atas bukit, dipenuhi seniman. Yang jelas di sana ada Sacre-Coeur dan St. Pierre de Montmartre. Yang terakhir itu salah satu gereja tertua di Paris, interiornya dari abad kedua belas.”

”Boleh juga. Kira-kira sampai jam berapa?”

”Ah... kamu seperti tinggal di asrama saja, ada jam malamnya. Seharusnya aku yang rewel karena ibuku pasti akan sibuk meneleponku.”

Fay nyengir sedikit. Andai saja Enrique tahu.

Enrique berdecak. ”Aku sebenarnya ingin sekali menyewa apartemen seperti kamu dan punya kehidupan sendiri, tapi aku tak tega sama ibuku. Kalau aku pergi, dia sama siapa? Mungkin nanti, kalau  dia dan Barney sudah menikah dan tinggal bersama, aku akan keluar dari rumah.”

Fay tertawa kecil. ”Aku sebenarnya tadi nggak bermaksud mencela kamu lho... Memangnya kapan mereka akan menikah?”

”Aku dengar pada akhir musim panas atau awal musim gugur ini, tak lama lagi.” ”Menikahnya di mana, di Paris?”

”Semalam topik itu masih dalam pembicaraan. Barney punya rumah peristirahatan yang sangat indah di  pinggir  Danau  Jenewa, dan menurut pendapatku itu tempat  yang  sempurna  untuk  pernikahan. Ibuku setuju dengan pendapatku, tapi kolega bisnis Barney lebih banyak di Paris. Barney sebenarnya juga punya sebuah kastil di  pinggir kota Paris, tapi tidak pernah ditempati dan lebih sering disewakan sebagai tempat liburan atau shooting film. Sekarang Barney sedang memanggil kontraktor untuk melihat apakah mungkin merenovasi dan mendekorasi kastil itu untuk pernikahan dalam waktu sebulan.” Enrique melihat arlojinya. ”Let’s go. Aku masih gerah gara-gara mengecat... Aku mau makan es krim. Sayang Paris bukan kota di pinggir pantai...”

Fay mengambil tas kecil yang berisi dompet, lalu berjalan ke pintu sambil bertanya, ”Memangnya kenapa kalau Paris kota pantai? Kamu mau surfing lagi?”

”Tentunya  itu  juga...  dan  yang  jelas,  aku  pasti  nggak  akan  ragu untuk membuka kausku dan jalan-jalan hanya dengan celana pendek dan sandal jepit. Aku lebih suka gosong daripada gerah begini.”

Fay menggigit bibir sambil mengomeli diri sendiri, berusaha keras mengusir gambar yang menari-nari di benaknya. Ia membuka pintu dan berbalik untuk memanggil Enrique, dan sedikit tersentak karena ternyata Enrique sudah ada di belakangnya. Tiba-tiba saja wajah mereka berdua jadi begitu dekat. Sejenak tatapan mereka berdua terkunci, dan Fay merasa jantungnya mendadak berdebar kencang. Sesuatu seperti menyentak benaknya dan ia langsung mengalihkan pandangannya sambil mundur dengan gugup, begitu juga Enrique. ”Eh... hm... yuk,” gumam Enrique sambil mengalihkan pandang-

annya ke celah pintu yang terbuka.

”Oke,”  jawab  Fay  sambil  membukakan  pintu  lebih  lebar  dengan gerakan kikuk, dan benak dipenuhi pertanyaan seputar reaksi jantung nya yang tak keruan.

*** Fay berjalan melintasi foyer dengan langkah ringan yang terasa memantul. Di tangannya ada sekuntum mawar putih yang dibelikan Enrique di kedai bunga yang tak jauh dari toko es krim. Ketika melewati kedai bunga itu tadi, ia hanya berkomentar spontan ten  tang betapa bagusnya mawar putih yang ada di salah satu vas. Tak disangka-sangka Enrique langsung masuk, membeli satu tangkai, dan memberikan bunga itu.

”Ini... untukmu. Supaya masih bisa kamu kagumi nanti setelah tiba di apartemen.”

Fay ingat bagaimana ia sempat melongo sebelum akhirnya menerima bunga itu sambil mengucapkan terima kasih. Di bayangan nya, cowok yang memberikan bunga pada seorang cewek pastilah sikapnya romantis, tapi sikap Enrique tadi tidak begitu. Setelah itu   pun sikap Enrique tidak berubah—tetap hangat seperti biasa,  tapi tidak berlebihan. Fay sempat bertanya-tanya apa maksud Enrique membelikannya bunga, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak memusingkannya. Lagi pula, ia tak mau kege-eran sendiri dan merusak persahabatan yang sudah ada kalau ternyata hal semacam itu lazim saja dilakukan Enrique. Yang penting, ia sekarang punya sekuntum mawar putih yang bisa dipajang di kamarnya.

Fay naik tangga, kemudian berbelok ke koridor menuju kamarnya. Sambil melangkah di koridor, matanya otomatis terarah ke  kamar Kent yang pintunya tertutup dan  tiba-tiba  saja  ia  diterpa perasaan tak nyaman. Ia sedang membuka pintu kamarnya sambil mencoba mengerti kecamuk perasaannya itu, ketika tiba-tiba lewat sudut matanya ia melihat pintu kamar Kent dibuka dari dalam. Ia melihat Kent muncul dan entah kenapa sontak merasa gelisah.

”Hai, Fay,” sapa Kent hangat sambil tersenyum.

”Hai...,”  balas  Fay,  juga  sambil  tersenyum,  tapi  sedikit  gugup.  Ia melihat tatapan Kent terarah pada bunga di tangannya, dan ia bisa merasakan jantungnya agak berdebar.

”Nice  flower... Kamu beli di mana?”

”Hmm... di kedai bunga di area Montmartre...”

Kent mengerang. ”Kamu jalan-jalan ke Montmartre?” tanyanya dengan rasa sesal yang begitu kentara. ”Sayang aku tidak bisa menemanimu. Montmartre termasuk area favoritku.”

Fay mengangguk tanpa bisa berkata-kata. Ia baru sadar tangannya yang menggenggam bunga ternyata secara refleks ia posisikan agak di belakang tubuhnya. ”Kamu sibuk di kantor?” tanyanya buru-buru untuk mengalihkan topik pembicaraan, lalu menyumpahi pertanyaan tololnya. Ia kan sudah tahu Kent sedang sibuk di kantor! Untunglah Kent sepertinya tidak terlalu menyadari keanehan pertanyaannya karena dia menjawab sambil lalu.

”Begitulah... tak ada yang menarik untuk dibicarakan.” ”Tugasmu gimana?”

”Ada tiga target—satu primer, dua sekunder. Aku tadi membuntuti target primer bersama Russel.”

Fay bergidik. ”Kenapa sih kamu kebagian Russel terus?” Ia sejenak lupa dengan perang yang sedang terjadi di hatinya ketika  wajah  Russel terpampang jelas dalam ingatannya.

”Secara umum, kita biasanya ditempatkan di tugas bersama agenagen yang jadi mentor, jadi ya kemungkinannya memang lumayan besar untuk bertugas bersama Russel. Tapi, bisa jadi ada perputaran tugas dan besok aku membuntuti target sekunder dengan agen lain.” Kent kemudian melanjutkan, ”Aku harus ke ruang kerja Paman... dia mau membahas tugas tadi.”

”Okay,  talk  to  you  later.”

”Good night, Fay... sweet dream,” balas Kent dengan seulas senyum sebelum berbalik dan melangkah ke ruang kerja Andrew.

Fay masuk ke kamar perlahan-lahan sambil berusaha mencerna perdebatan yang berputar-putar di kepalanya.

Kenapa tadi lidahnya terasa kelu saat Kent bertanya tentang bu nga ini? Kenapa ia tak sanggup berterus terang bahwa ia jalan-jalan  ke Montmartre bersama Enrique dan cowok itu yang membelikannya bunga ini?

Apakah ini rasa bersalah?

Tapi,  ia kan tidak salah. Nggak masalah kan, kalau ada cowok  yang memberinya bunga? Apakah ia takut Kent marah?

Tapi, Kent kan tak berhak marah. Lagi pula, Enrique hanya teman...

Sebentar! Apa masalahnya kalau hubungan Enrique dan dirinya lebih dari sekadar teman? Ia dan Kent sama-sama tahu bahwa hubungan istimewa di antara mereka berdua tak mungkin terjadi, ya kan?

Tapi, perasaannya masih berbunga-bunga kalau berada di dekat Kent.

Lho, jadi masalahnya apa?

Aaarrggghhh!

Fay duduk di tepi tempat tidur, kemudian selama beberapa saat hanya memandangi bunga mawar yang baru ia sadari masih berada dalam genggaman tangannya. Dengan perasaan kacau-balau dan campur aduk hampir lumat seperti habis diulek, akhirnya ia mengempaskan diri ke tempat tidur. Sekuntum mawar putih pemberian Enrique tetap berada dalam genggamannya.

***

Raymond Lang meletakkan satu berkas di hadapan Andrew McGallaghan, di ruang kerja sepupunya itu di kastil.

”Laporan Operasi Echo yang disusun Bobby hari ini. Sudah kaubaca?”

Andrew melirik berkas tersebut, mengambilnya dan membolakbalik kertas-kertasnya dengan cepat, kemudian menutupnya dan meletakkannya lagi. ”Sudah. Tadi kubaca langsung di komputer.”

”Foto-fotonya juga sudah kaulihat?”

”Ya,” jawab Andrew singkat, lalu menyandar santai ke kursi kerjanya.

”Apakah tidak mengganggumu... fakta bahwa keponakanmu mengundang seorang pemuda ke apartemennya?” tanya Raymond, lalu duduk di kursi di hadapan Andrew.

”Fay sudah mendapat izinku untuk mengundang pemuda itu ke apartemennya.” Raymond menatap Andrew sebentar, kemudian berkata lamat-lamat, ”Membesarkan keponakan perempuan tidak sama dengan membesarkan keponakan laki-laki—beberapa hal yang bisa kita abaikan karena bukan isu penting bagi keponakan lelaki bisa jadi tak bisa diabaikan begitu saja bila kita bicara tentang keponakan perempuan, termasuk mengundang teman yang berlawanan jenis ke kediaman mereka. Dalam hal-hal semacam ini, aturan kita cenderung mengikuti budaya Timur, walaupun alasannya berbeda. Bila di budaya Timur hal itu dilarang karena alasan kepatutan dan kepantasan, maka kita melarangnya karena alasan yang lebih praktis, keamanan.”

”Aku menyadari hal itu, Ray. Satu-satunya alasan hal itu aku perbolehkan adalah karena pemuda itu adalah target sekunder dalam Operasi Echo.”

”Apa kau yakin, mengumpankan seorang gadis remaja yang notabene adalah keponakan kita sendiri adalah opsi yang pantas ditempuh? Fay tidak tahu dia sedang terlibat dalam satu tugas dan kita belum tahu apakah nilai yang dia anut cukup kuat untuk mencegahnya melakukan hal-hal yang terlalu jauh dengan pemuda itu. Keponakan kita yang lain dibesarkan sejak kecil dan mereka tahu batasan yang telah kita tetapkan, tapi Fay tidak. Secara umum, batasan moral adalah tanggung jawab setiap individu dan itu bukan urusanku, tapi dalam hal ini, keputusan moral yang diambil oleh Fay bisa berdampak buruk bagi keluarga ini.”

”Ini kesempatan untuk melihat sejauh mana kita bisa mengandalkannya untuk mengontrol tindakannya sendiri.”

”Bila dia bisa mengontrol tindakannya sendiri pun,  kita  tidak tahu apakah pemuda itu bisa. Fay belum bisa melindungi dirinya sendiri bila pemuda itu tidak sebaik yang kita pikir dan punya kecenderungan memaksakan keinginannya.”

Andrew  memajukan  tubuhnya.  ”Tentunya  kau  tidak  berpikir bahwa aku belum mengantisipasi hal-hal semacam itu? Aku sudah mengambil langkah pencegahan untuk memastikan Fay terlindungi tanpa merugikan kepentingan keluarga ini... dan secara lebih spesifik, kepentingan Operasi Echo.”

Raymond mengangguk sedikit, kemudian kembali bertanya, ”Kapan kau akan memberitahu Fay tentang tugasnya? Aku mengerti kau ingin hubungan Fay dengan pemuda itu terjalin menjadi cukup dekat sehingga langkah berikutnya lebih mudah. Tapi, semakin lama kau menunda memberitahunya, bukankah semakin besar kemungkinannya perasaan Fay akan terpengaruh? Aku tidak yakin dia sanggup mengatasi pergumulan emosi yang diakibatkan hal itu dan dia bisa melanjutkan tugasnya.”

”Don’t worry, Ray. Cepat atau lambat dia harus melalui titik-titik semacam itu dan mengambil keputusan untuk mengalahkan keinginan pribadinya dan memenangkan kepentingan keluarga ini.”

Raymond mengedikkan bahu. ”Aku pribadi merasa dia belum cukup kuat dan matang untuk mengambil keputusan sesulit itu, tapi kau pengawas utamanya. It’s  your  call.”

”Yes,  Ray.  I’m  her  main  handler  and  it  is  indeed  my  call,”  ujar Andrew tenang, mengulangi kalimat yang baru saja diucapkan Raymond. ”Dia akan melakukan apa yang kuperintahkan... dan dia akan melakukannya dengan sempurna sesuai ekspektasi yang kuberikan.  Aku  akan  memastikan  hal  itu  terjadi,”  tambahnya  dengan intonasi penuh tekanan, namun dengan sudut bibir sedikit terangkat membentuk senyum sopan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊