menu

Trace of Love Bab 04: Happy B’day!

Mode Malam
Happy B’day!

FAY   mematut-matut   dirinya   di   depan   cermin,   memandangi bayangan gadis remaja memakai gaun putih gading tanpa lengan dengan ujung menyapu lantai serta sarung tangan warna senada hingga ke siku. Sepasang anting bermata berlian yang diberikan Andrew tadi pagi menjuntai menghiasi telinga. Ia tak bisa percaya bahwa gadis remaja yang tampak anggun dan feminin ini adalah dirinya sendiri.

Waktu berburu gaun, ia memulai hari  dengan  semangat  tinggi,  tapi semangatnya langsung melorot jadi separo setelah mendengar penjelasan Ms. Connie bahwa sesuai tradisi keluarga McGallaghan, keponakan yang berulang tahun harus memakai gaun putih—sejak dulu ia tak pernah merasa pas memakai baju warna putih.

Namun, melihat bayangan dirinya di cermin sekarang, Fay harus mengakui bahwa gaun yang menempel di tubuhnya ini kelihatan lumayan juga—superoke, malah. Sepadan dengan angka empat digit dalam mata uang Euro di tag harga.

Terbuat dari bahan organza dan sutra, gaun ini punya satu tali bahu, di sana terdapat aksen kuntum-kuntum bunga yang berserakan hingga mencapai dada. Bahannya sendiri seperti dilipat-lipat atau drapped mulai dari dada hingga ke panggul, pas tubuh, dan dari bagian panggul gaun melebar hingga ke bawah. Bahan organza yang melapisi bagian luar punya belahan-belahan yang  menunjukkan  bahan sutra di bawahnya, menampakkan variasi tekstur bahan yang membuat gaun ini tampak sangat anggun dan mewah.

Fay berjalan perlahan di koridor, kemudian turun ke ruang duduk tamu dan celingukan sebentar. Kalau tak salah, ia seharusnya menemui Raymond di sini.

Tidak melihat pamannya, Fay mendekati sebuah kotak kaca yang melingkupi pedang bersarung yang diletakkan horizontal— McGallaghan Sword. Di belakang kotak kaca, sehelai kain dengan sulaman cakram memenuhi seluruh bagian dinding. Lambang cakram di tapestri ini memiliki pola yang sangat detail dan kaya warna.

Fay ingat bagaimana bulu kuduknya langsung meremang saat menyadari persamaan gambar di tapestri ini dengan kain tipis yang  dihamparkan di atas tempat tidurnya, dan dengan ornamen cakram     di apartemen Andrew. Saat ketiga potongan gambar itu menyatu di kepalanya, ia langsung tahu gambar cakram ini bukanlah sekadar hiasan, tapi simbol keluarga McGallaghan.

Terdengar suara di belakang Fay.

”Aku dan Lou punya sejarah yang tidak menyenangkan dengan pedang itu.”

Fay menoleh dan dadanya langsung berdegup ketika melihat Kent sudah ada di belakangnya. Mengenakan setelan  tuksedo hitam, tubuhnya terlihat tegap dan wajahnya jadi terlihat sangat tampan dengan sepasang mata biru yang tampak kontras dengan jas hitamnya. Fay buru-buru mengalihkan pandangan sambil bertanya, ”Sejarah apa?”

Kent maju ke sebelah Fay, lalu membungkuk sedikit di atas kotak kaca.

”Waktu itu kami masih sekitar sebelas atau dua belas tahun—Lou belum lama masuk jadi anggota keluarga ini. Kami mengambil satu pedang yang ada di ruang koleksi lantai tiga, lalu mengambil pedang ini untuk bermain pedang-pedangan. Kami terus bermain hingga ke dekat kolam renang, dan kebetulan pedang ini sedang ada di tanganku.”  Kent  menirukan  gayanya  memegang  pedang.  ”Tahu-tahu  saja Lou menyerang dengan pedang di tangannya...,” Kent mengibaskan tangannya yang sedang berpura-pura memegang pedang, ”...dan pedang terlepas dari tanganku, terlempar ke kolam renang. Tepat sewaktu pedang melayang di udara, Andrew, Raymond, dan Philippe turun dari tangga yang ada di sebelah kolam renang.”

Fay tertawa. ”Sial sekali dong nasibmu?”

”Yah... kamu bayangkan sendiri bagaimana perasaan pemimpin klan ini, waktu melihat dua keponakannya—salah  satunya  malah  anak asuhnya sendiri—bertanggung jawab atas pedang yang perlahanlahan tenggelam ke dasar kolam. Mungkin itu sekali-kalinya aku melihat wajah Andrew merah padam seperti udang rebus.”

”Kalian dihukum?”

Kent  mengerang.  ”Tentu  saja!  Di  keluarga  normal  mungkin  aku dihukum juga kalau melakukan hal yang sama, apalagi di keluarga ini! Aku dan Lou berlutut di depan rumah sepanjang malam, diawasi Nikolai. Kedua tangan kami dijulurkan ke atas dan secara bergantian kami menjunjung pedang—menurut paman, supaya kami bisa belajar menghormati barang-barang peninggalan keluarga. Secara berkala, Nikolai menyiramkan air sedingin es ke tubuh kami—yang terakhir itu inisiatifnya sendiri. Bayangkan sendiri sengsaranya... itu akhir musim gugur, dan kami tidak mengenakan baju.”

Fay ingat cerita-cerita sepupunya yang lain, bagaimana dalam banyak kasus, diawasi kepala keamanan kastil, Nikolai, sewaktu latih an atau menjalani hukuman terbukti lebih  parah  daripada  diawasi para paman langsung. Terutama dengan kebiasannya menambahnambah atau mengubah instruksi para paman sehingga latihan atau hukuman menjadi lebih menyengsarakan.

Fay menggigit bibir, kemudian membetulkan gaunnya yang baikbaik saja dengan sedikit salah tingkah. Ia sebenarnya ingin bertanya apa pendapat Kent tentang hukuman  Nikolai  yang  tak  manusiawi itu, tapi entah kenapa yang muncul di benaknya adalah gambar reka    an Kent bertelanjang dada! Keterlaluan, benar-benar nggak kira-kira! Susah payah ia mengusir bayangan itu, sambil berusaha menenangkan diri sendiri, namun desiran-desiran kuat terasa bersilangan di perutnya. Lewat sudut mata ia melihat Kent memperhatikannya. ”Kenapa?” tanya Fay salah tingkah. ”You’re  very  beautiful,” ucap Kent lembut dengan suara pelan.

Fay mengalihkan pandangan dengan dada berdesir, tapi tidak menjawab. Napasnya tiba-tiba sedikit sesak.

Kent berbicara pelan, seperti menggumam. ”I have to go now.” Ia kemudian berlalu ke arah koridor kiri.

Selama beberapa saat Fay membiarkan matanya menatap Kent hingga pemuda itu berbelok dan menghilang. Ia tahu sampai detik ini cintanya pada Kent belum kunjung pupus dan ia yakin Kent pun begitu. Selama ini ia larut dalam duka sehingga tak terlalu memikirkannya, tapi sekarang pertanyaan tentang hubungan mereka berdua tiba-tiba saja bangkit. Kenapa takdir mempertemukan mereka kalau hubungan mereka ternyata tidak bisa beranjak ke mana-mana?

Terdengar  suara  Raymond  dari  arah  tangga.  ”Ternyata  kamu sudah ada di sini. Saya tadi menjemputmu ke kamar.”

”Good   evening,   Uncle...   Bukankah   saya   seharusnya   menemui Paman di sini?”

”Yes,  Fay.  My  mistake.  Saya  tadi  berpikir  siapa  tahu  kamu  masih di  kamar,  jadi  saya  mampir  ke  kamarmu  dulu  sebelum  ke  sini.” Raymond  mengulurkan  tangannya  dan  Fay  menyambutnya.  ”Shall we? Sesuai tradisi, pengawas utama akan mengantar keponakan yang berulang tahun ke ballroom. Tapi, karena pengawas utamamu juga pimpinan keluarga ini, saya sebagai pengawas kedua yang akan menjalankan tugas ini.”

Fay melingkarkan tangannya di lengan Raymond dengan gugup, mengikuti langkah Raymond menuju koridor kiri.

Mereka berhenti di depan pintu ballroom yang tertutup. Dua vas besar berisi bunga segar mengapit pintu, cahaya menyelusup dari bawah pintu, dan sayup-sayup terdengar alunan musik dari dalam ruangan.

Raymond membuka pintu. Ruang ballroom bermandikan cahaya dari nyala lampu-lampu kristal yang berderet di langit-langit ruangan. Harum bunga semerbak turut menyambut ke mana pun mata memandang, dan ada vas berisi rangkaian bunga lili dan mawar dengan kombinasi beraneka rupa. Musik klasik mengalun lembut, membuat siapa pun yang mendengarnya seperti merasa berpijak di masa yang berbeda. Begitu pikirannya sudah mulai bisa menerima bahwa yang terlihat     di hadapannya bukanlah mimpi, Fay baru sadar bahwa banyak wajah yang tak ia kenal. Mereka bercakap-cakap dengan beberapa pamannya dan sepupunya sambil menikmati hidangan. Nampan-nampan berisi anggur putih dan sampanye dibawa berkeliling oleh pelayan, sedangkan makanan ringan tersebar di meja-meja yang ada di  ruangan.

Fay melangkah dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya masih tak percaya dan sedikit merasa tak nyaman,  namun  di saat yang sama juga takjub dan melayang. Ia bisa merasakan tatapan sebagian tamu yang mengarah padanya dengan ekspresi yang menyiratkan keingintahuan. Ia menebarkan pandangan dan baru tersadar  bahwa tidak ada satu pun tamu yang mengenakan busana  warna  putih, seakan warna itu hanya diperuntukkan bagi dirinya. Benarkah acara ini diselenggarakan untuknya?

Raymond melangkah perlahan sambil berbisik ke Fay, ”Senyum, Fay. Santai saja... kamu terlihat tegang sekali.”

Fay merasa sedikit malu dan akhirnya tersenyum. ”Tamu-tamu ini siapa?”

”Mereka  adalah...  sahabat-sahabat  keluarga  McGallaghan,”  jawab Raymond.

Di depan mereka, Andrew sedang bercakap-cakap dengan sepasang tamu yang sudah paruh baya, dan seorang pria yang sudah lebih berumur. Melihat Fay mendekat, Andrew tersenyum sambil merentangkan tangan untuk menyambut Fay. ”Ini dia gadis yang berulang   tahun.   You   look   beautiful,   young   lady,”   sambut   Andrew hangat.

Fay tersenyum dengan pipi terasa panas, kombinasi antara gugup dan risi karena tatapan para tamu yang otomatis melihat ke arah  nya.

Andrew memperkenalkan Fay pada tiga tamu di depannya. Sepasang tamu pria dan wanita di hadapannya adalah Duta  Besar  Inggris beserta istrinya, sementara tamu pria  yang  rambutnya  su dah memutih semua diperkenalkan oleh Andrew sebagai Sir Richard,  ”a  family”. Fay tersenyum sopan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seputar bergabungnya ia dengan keluarga McGallaghan. Tentunya dengan cerita yang sudah diatur terlebih dahulu oleh pamannya: ia adalah siswa cemerlang dari Indonesia yang diberi beasiswa oleh Llamar Corp, dan akhirnya ditawari Andrew untuk menjadi anggota keluarga dengan harapan bisa turut membesarkan kerajaan bisnis keluarga ini di kemudian hari. Entah kenapa, ketika memaparkan kebohongan itu, yang terbayang di benak Fay adalah wajah Dea, sahabatnya di Jakarta yang pintarnya nggak nahan dan selalu menyabet ranking satu serta belajar matian-matian selama kelas tiga untuk mendapatkan beasiswa dari universitas-universitas terbaik. Dea mungkin terbelalak, muntah-muntah, lalu pingsan bila mendengar dongeng ini, terutama di bagian ”siswa cemerlang” dan ”beasiswa”! Setelah beberapa saat bercakap-cakap, Raymond berkata sambil tersenyum, ”Maaf, Mr. dan Mrs. Ambassador, Sir Richard, Anda semua tidak diizinkan untuk memonopoli Fay. Bahkan Andrew saja

tak punya otoritas itu malam ini.”

Ketiga tamu tertawa, sementara Andrew tersenyum sambil berkata, ”How  insensitive  of  me.”

Sir  Richard  berkata,  ”Tentu  saja.  Kami  tahu  banyak  yang  ingin bercakap-cakap dengan nona yang berulang tahun. Pleased meeting you, Fay.”

Mrs. Ambassador berkata, ”Enjoy the evening. This is definitely your night!”

Fay tersenyum mendengar ucapan itu. Mungkin ini memang bu kan mimpi, ini memang malam miliknya! Ia membiarkan dirinya mengikuti Raymond, yang membawanya berkeliling dan memperkenalkannya dengan beberapa tamu lagi; ada seorang tamu pria dari Interpol, sepasang suami-istri duta besar salah satu negara Eropa Timur, dan salah satu CEO Llamar Corp. beserta istrinya. Raymond menjelaskan sedikit tentang Llamar kepadanya dan kenapa tamu tamu yang ada di sini disebut sebagai sahabat keluarga.

Andrew memberi tanda pada orkestra di sudut ruangan dengan mengangkat tangan. Musik berhenti.

Seorang pelayan berdiri di sebelah Andrew, menyodorkan nampan yang berisi gelas anggur dan sebilah pisau. Andrew  memukulkan pisau ke sisi gelas anggur di tangannya hingga terdengar bunyi denting berkali-kali.

Semua tamu berhenti berbicara dan mengarahkan tatapan mereka pada Andrew.

”Good  evening,  ladies  and  gentlemen.  Kepada  Anda  semua,  para sahabat keluarga McGallaghan, saya ingin memperkenalkan anggota keluarga kami yang hari ini berulang tahun kedelapan belas.” Andrew mengangkat  gelas  sampanye,  ”A  toast,  if  you  don’t  mind,  to  the birthday  girl...,”  ia  berhenti  sebentar  lalu  meralat  ucapannya  sambil tersenyum,  ”or,  I  must  say,  to  the  young  woman...  who  is  also  our newest  member  in  the  family,  Fay  Regina  McGallaghan.”  Ia  mengarahkan  gelasnya  ke  arah  Fay  dan  mengangguk,  ”The  best  birthday wish  for  you.”

Fay tersenyum sambil mengangkat gelasnya dengan tangan sedikit bergetar.

Tak lama  kemudian  jamuan  makan  dimulai.  Tamu-tamu  duduk di meja-meja bundar yang sudah disediakan. Fay mencoba mengirangira jumlah tamu dengan menghitung kapasitas tempat duduk di setiap meja. Ia duduk di meja yang sama dengan Andrew,  Sir  Richard, dan empat tamu lain. Meja-meja disusun di dua sisi, masing-masing ada sepuluh meja. Seratus empat puluh orang, termasuk keluarga inti McGallaghan.

Sepanjang jamuan makan, Fay kebanyakan hanya diam mendengarkan percakapan yang sebagian tak ia mengerti. Tamu-tamu di mejanya bertukar cerita dalam beberapa bahasa selain Inggris dan Prancis.    Ia mengenali beberapa kata dalam bahasa Spanyol, Jerman, dan sebuah logat aneh yang kemungkinan adalah bahasa Rusia. Saat itu rasanya ia ingin sekali punya kemampuan bicara dalam berbagai bahasa seperti mereka—ia berjanji pada diri sendiri tak akan banyak mengomel bila harus belajar bahasa. Hanya sesekali ia tertawa, yaitu saat mendengar lelucon-lelucon yang dilemparkan Sir Richard, yang semuanya diceritakan dalam bahasa Inggris. Pria itu tak hanya menyenangkan, tapi juga sangat lucu.

Setelah jamuan makan lengkap dengan makanan penutup, Fay duduk manis di tempatnya, sambil menyapukan pandangan ke sekitarnya. Ia tertegun ketika tatapan para tamu mendadak terarah pada dirinya, dan mereka bertepuk tangan—berikutnya, ia baru sadar bahwa di sebelahnya Andrew sudah membungkuk dengan telapak tangan terbuka, menunggu ia menyambut ajakan dansanya. Ya ampun!

Fay berdiri dengan gugup, dan dengan lutut yang semakin lama semakin lemas mengikuti Andrew ke lantai dansa. Ia makin panik ketika tersadar bahwa tak ada satu pun tamu yang ikut bergerak— berarti yang akan berdansa hanyalah Andrew dan dirinya! Oh, God! Begitu tiba di tengah-tengah lantai dansa, Andrew membungkuk memberi hormat. Fay membalas dengan menekuk kakinya sedikit sambil sedikit menunduk, otot perutnya terasa sangat tegang. Ia sudah menyiapkan mental untuk berdansa dengan siapa pun, bahkan dengan Philippe, tapi tidak sebagai pusat tontonan seperti ini! Dalam hati ia berdoa supaya tidak kena kram perut di tengah tarian. Atau menginjak kaki Andrew seperti insiden dengan Gerard. Shut up,

Fay!

Musik dimulai dan Fay langsung menyimak sambil berhitung  dalam hati. Tiga ketukan. Waltz.

Andrew menggenggam tangan kanan Fay, melingkarkan satu tangannya ke punggung Fay, kemudian mulai bergerak.

Fay berkonsentrasi mengikuti arahan gerak dari Andrew dan tak lama kemudian merasa lebih santai dan mulai menikmati tarian hingga akhirnya lupa dengan tatapan para tamu. Setelah lagu usai, Fay mengembuskan napas lega ketika Andrew mundur, memberi hormat, lalu bertepuk tangan. Para tamu juga bertepuk tangan dan beberapa dari mereka pun ikut turun ke lantai dansa. Andrew kembali meminta tangan Fay, tapi tiba-tiba di sebelahnya muncul Sir Richard yang tanpa ragu-ragu menepuk pundak Andrew, meminta giliran. Andrew tersenyum lalu mempersilakan Sir Richard menggantikan posisinya.

Fay tadinya beranggapan Sir Richard akan berdansa dengan kaku, tapi ternyata anggapannya sama sekali tak berdasar. Di usianya yang sudah senja, Sir Richard sangat luwes bergerak mengikuti musik. Fay merasa Sir Richard memimpin dansa dan mengikuti musik dengan sepenuh hati dan tidak sekadar menghafal gerakan, dan itu membuatnya jauh lebih santai dan spontan ketika ikut bergerak bersama Sir Richard. Ia pun tak ragu untuk berputar ketika Sir Richard mengangkat tangan. Dalam rentang waktu beberapa detik saat berputar, matanya menyapu seluruh ruangan. Sam sedang berdiri di dekat lantai dansa dan terlihat seperti sedang memamerkan leluconlelucon konyolnya ke dua wanita muda yang wajahnya identik— kembar. Reno sedang menebarkan pesonanya pada seorang wanita muda bertubuh tinggi dengan rambut pirang pucat. Salah satu pamannya, Raymond, sedang duduk sambil berbincang dengan dua pasang tamu. Kent sedang berdansa dengan seorang gadis yang rambut cokelatnya digelung ke atas......

Sontak Fay merasa tangan dan kaki seakan terpisah dari otaknya dan bergerak tak sinkron satu sama lain. Ia tersadar saat kaki kirinya menabrak kaki kanannya sendiri, dan langsung memekik ketika merasakan tarikan jatuh bebas. Untung Sir Richard dengan sigap menangkapnya.

”Are  you  alright?” tanya Sir Richard.

Fay buru-buru mengangguk. ”I’m  fine     hanya terpeleset.”

Sir Richard kembali bergerak, memulai dansa dengan langkahlangkah dasar. Fay mengikuti gerakan Sir Richard dengan rasa syukur karena itu memberinya kesempatan untuk mengembalikan konsentrasinya pada ritme gerakan dansa.

”Pemuda itu pasti istimewa sekali ya,” komentar Sir Richard sambil lalu.

Fay merasa pipinya panas. Ingin sekali rasanya ia menggeleng ke Sir Richard, atau bahkan ke seluruh dunia, bahwa cowok satu itu   tidak ada artinya sama sekali baginya karena tak akan pernah ada kesempatan bagi mereka berdua untuk menutup kisah dengan bahagia. Tapi, mulut dan pita suaranya seperti tak sanggup  bicara.  Kepalanya pun seperti menolak digelengkan.

Sir Richard tersenyum. ”Mungkin tak terbayang olehmu bahwa saya pun pernah muda. Cinta memang rumit. Perasaan tak pernah berbohong... sebuah rasa yang sangat indah tapi ketika emosi mendominasi maka akal sehat bisa mendadak berhenti. Mungkin itu sebabnya beberapa perasaan cinta sebaiknya dibiarkan tanpa kisah,  hanya dinikmati sebagai sebuah rasa yang indah.”

Fay tertegun. Apakah kalimat itu sebuah sindiran atau sekadar nostalgia masa muda? Ia menatap Sir Richard, namun tak bisa membaca apa yang tersirat pada wajahnya yang tersenyum simpul itu.

Begitu musik usai, Fay bergegas keluar lantai dansa untuk menghindari kemungkinan ada tamu lain yang mengajaknya dansa. Ia berdiri di sudut yang agak tersembunyi sambil memperhatikan tamu-tamu di dalam ruangan. Kent sudah tak terlihat, yang ada hanya Reno dan Sam di lantai dansa. Fay tersenyum. Bahwa Reno bisa menari dengan luwes di lantai dansa ia sudah tahu, tapi Sam... ternyata si badan besar itu lumayan juga.

Di pinggir lantai dansa, Fay melihat dua sepupunya yang datang semalam, Lou Claude McGallaghan dan Larry Matthew McGallaghan, sedang bercakap-cakap dengan sepasang pemuda dan pemudi. Kedua sepupunya itu tampak kontras. Semua tentang Lou berkesan lembut, mulai dari sorot matanya, ucapannya, gerak-geriknya, bahkan rambutnya yang berwarna hitam terkesan halus dengan helaian-helaiannya yang jatuh ke sisi kepala, sedangkan semua tentang Larry terkesan sangat menonjol, mulai dari rambut pirangnya yang bercahaya, garis wajahnya yang keras, tatapannya yang tajam, serta senyumnya yang cenderung sinis. Dari semua sepupunya, mereka berdua adalah yang paling jarang berinteraksi dengannya. Lou tinggal di kota Lyon, sedangkan Larry di Nice, dan mereka berdua langsung kembali ke kota masing-masing setelah jamuan bulan lalu.

Pandangan Fay beralih ke meja di sisi ruangan—terlihat Elliot sedang mencoba menggapai kue yang ada  di  tengah-tengah  meja. Fay menggeleng sambil tersenyum—bahkan dari jarak sejauh ini saja ia bisa melihat siku Elliot menyenggol krim kue yang ada di pinggir meja.

”Halo, Fay.”

Fay menoleh dan melihat seorang pria berambut cepak warna hitam dengan earphone terpasang di telinga. Wajahnya seperti blasteran Timur dan Barat. Tubuhnya tegap dan tinggi, cenderung kurus, matanya agak sipit, dan hidungnya mancung. Umurnya mungkin di akhir tiga puluhan. Fay menatap pria itu sejenak—ia yakin pernah bertemu pria itu di suatu tempat.

Pria itu membuka mulut dan berbicara dalam bahasa Indonesia. ”Saya Bobby Tjan. Kita bertemu di Jakarta.”

”Oh,  iya,”  seru  Fay,  juga  dalam  bahasa  Indonesia.  ”You  look different,  saya  sampai  tidak  mengenali,”  tambahnya.  Bodoh  sekali! Nama Bobby Tjan tercantum di berkas latar belakangnya sebagai teman mendiang ayahnya yang  memberinya  jaminan  untuk  tinggal di Paris, tapi ia malah tak mengenali pria itu ketika muncul di hadapannya! Kalau Andrew tahu ia bisa diceramahi!

”Kamu juga tampak sangat berbeda dengan sewaktu saya menemuimu. Kamu tidak hanya cantik, tapi terlihat jauh lebih dewasa,” puji Bobby. ”Saya baru tahu bahwa kamu ternyata direkrut untuk  menjadi anggota keluarga. Sama sekali tak saya sangka. Saya bersyukur waktu itu kamu menerima tawaran bergabung.”

”Iya... saya juga bersyukur memilih datang ke sini,” jawab Fay. Ia tertegun ketika mendadak tersadar sudah lama sekali rasanya ia tidak berbicara dalam bahasa Indonesia.

”Bagaimana keadaanmu? Masih berduka atas kepergian orangtuamu?”

Fay terdiam sejenak sebelum menjawab, ”Begitulah. Masih mencoba untuk menerima.”

”Bisa beradaptasi dengan keluarga barumu?” ”Not  bad.  Sejauh ini, keadaan cukup baik.” ”Siapa yang jadi pengawasmu?”

”Andrew dan Raymond.”

”Semoga kamu bisa menyesuaikan diri dengan baik dengan kebiasaan-kebiasaan  keluarga  barumu,”  ucap  Bobby,  kemudian  menyentuh headset di telinganya. ”Saya harus kembali bertugas. Nice talking  to  you,  Fay. Enjoy  your  time  and  I’ll  see  you  around.”

Fay berdiri sambil membiarkan matanya menerawang. Pertanyaan Bobby mengganggunya. Apakah ia masih berduka? Tentu saja masih. Tapi kenapa ia merasa bersalah? Salahkah ia ketika mencoba melanjutkan hidupnya dengan keluarga barunya? Reno  mendekati  Fay  lalu  menyodorkan  tangan.  ”May  I  have  the dance...,”   ucapnya,   lalu   menoleh   ke   kiri   dan   kanan   sebelum melanjutkan dengan berbisik, ”...my lovely sister?”

Fay tersenyum, membiarkan Reno membawanya ke lantai dansa, menyisihkan pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang ada di benaknya.

”Kamu kelihatan cantik dan dewasa sekali dengan gaun seperti ini,”  ucap  Reno  di  lantai  dansa.  ”Kalau  ada  pemuda  yang  mulai mendekatimu, kamu harus beritahu aku.”

Fay senyum-senyum. ”Kenapa?” tanyanya, lalu berputar ketika Reno memberi kode dengan mengangkat tangan.

”Aku bisa mengenali bajingan dari jarak lima puluh meter.”

Fay tertawa kecil sambil bersyukur karena Reno waktu itu tidak benar-benar melihat Enrique dan hanya menduga-duga—tak diragukan lagi, perang akan terjadi bila Reno tahu! Fay lalu bertanya, ”Cewek rambut pirang yang kamu ajak ngomong tadi siapa?”

”Kamu nggak perlu cemburu... aww!” ucapan Reno tidak selesai karena jari-jari Fay mencubit bahunya. ”Cewek itu putri  tunggal salah satu jenderal dari Rusia. Aku kan bisa bahasa Rusia, jadi gampang  mendekatinya,”  lanjutnya,  kemudian  nyengir.  Ia  mengangkat tangannya sebagai tanda supaya Fay berputar.

Fay berputar, kemudian bertanya, ”Kamu bukannya punya pacar?” ”Iya, di Zurich. Di Paris kan aku belum punya... aww!” Reno

meringis ketika jari-jari Fay kembali mencubit bahunya.

”Aku rasa kamu bisa mengenali bajingan karena kamu juga berasal dari golongan yang sama,” cetus Fay sambil menggeleng.

Reno tergelak, tapi langsung menurunkan suara begitu melihat pengawas utamanya, Steve Watson, berdiri di tepi lantai dansa sambil memperhatikan.

”Kamu masih akan sibuk di kantor?” tanya Fay.

Reno mendesah. ”Aku sedang disibukkan dengan persiapan ujian di kantor. Kamu tahu kan mentorku di kantor adalah Russel? Dia yang membuat jadwalku, jadi bisa kamu bayangkan sendiri.”

Fay bergidik mendengar nama Russel disebut. Ia pernah punya kenangan buruk terkait pria itu, sewaktu bertugas bersama Kent di Fontainebleau. ”Memangnya di kantor ada tingkat-tingkat seperti sekolah, ya?” tanyanya akhirnya.

Ekspresi Reno berubah jengkel. ”Fay, kamu kan tahu aku tidak boleh menjawab pertanyaan semacam itu. Dan kamu bahkan tidak boleh menanyakannya.”

Fay terkekeh. Ia sudah bisa menebak reaksi Reno. ”Salah sendiri kenapa kamu cerita. Aku kan jadi penasaran.”

”Do  you  know  that  curiosity  can  kill  a  cat?”

”Iya. Aku pernah dengar ungkapan rasa penasaran bisa membunuh kucing, tapi aku kan bukan kucing.”

”Aku cuma bisa bilang ujiannya tidak seperti ujian sekolah, dan kamu tidak bisa membayangkan susahnya seperti apa.”

Fay terdiam sebentar, kemudian kembali bertanya, ”Mungkin nggak, satu mentor punya dua anak didik?”

Reno menyipitkan mata, kemudian menjawab, ”Sampai saat ini, tidak ada dua keponakan yang punya mentor sama. Tapi, percuma saja kamu berharap mentormu lebih lunak dari Russel... Semua orang yang jadi mentor dipilih dengan cermat oleh pengawas utama kita, dan itu berarti mereka semua menyebalkan.”

Fay berdecak. ”Nggak tahu kenapa, rasanya sekarang aku susah membayangkan punya mentor menyebalkan, walaupun aku pernah punya pengalaman tidak enak dengan Russel. Kayaknya hidupku setelah jadi anggota keluarga malah lebih tenang daripada dulu, waktu latihan persiapan tugas.”

”Baguslah kalau kamu merasa begitu. Aku berdoa semoga itu berlangsung terus hingga wajahmu keriput dan punya keponakankeponakan yang lucu-lucu seperti Sam... Bayangkan tujuh keponakan seperti Sam, bukankah hidupmu akan jadi lebih indah?”

Fay mengikuti arah tatapan Reno, dan melihat Sam sedang menggaruk-garuk kepala setelah dua wanita muda yang tadi mengobrol dengannya meninggalkannya. Fay tertawa kecil, diikuti Reno.

Tak lama kemudian, lagu selesai. Semua tamu saling memberi hormat dengan menunduk atau menekuk sebelah kaki sambil sedikit membungkuk, lalu bertepuk tangan. Sebuah suara jernih terdengar dari belakang Fay. ”May  I?”

Suara Kent.

Reno berdecak. ”Hei, kamu tidak bisa menunggu satu lagu lagi, ya?”

”Tidak bisa. Fay satu-satunya wanita di keluarga ini dan semua akan berdansa dengannya... antrean masih panjang.”

Reno memberikan tangan Fay pada Kent. ”Silakan.” ”Jadi, kamu mau mendekati si pirang lagi?” sindir Fay.

”Good idea... mudah-mudahan belum disambar Larry,” ucap Reno yang bersiap berlalu, tapi berhenti begitu musik kembali terdengar— orkestra memainkan lagu baru, bertempo lambat. Sebagian tamu melanjutkan dansa, sebagian yang lain berganti pasangan, sebagian menepi, dan sebagian masuk ke lantai dansa.

Reno melirik Kent. ”Kamu sudah tahu ya lagunya akan seperti ini?”

Kent mengangkat bahu. ”Mana kutahu!”

”Pastikan saja kamu tidak terlihat terlalu menikmatinya supaya tidak   kena   masalah   dari   Paman,”   ucap   Reno   dengan   nada menggerutu, kemudian berlalu.

Fay menahan napas sedikit ketika Kent menarik tubuhnya lebih rapat. Selama beberapa saat ia mencoba berkonsentrasi pada hal-hal tak penting untuk mengurangi benih-benih panik bercampur bahagia yang bergulat dalam dirinya.

Selama beberapa saat mereka berdua tidak mengatakan apa-apa, menikmati gerak tubuh yang mengayun dalam alunan musik, bersamaan dengan keheningan yang damai dalam hati.

Fay mengarahkan pandangannya lurus ke depan, menatap bahu dan leher Kent. Dadanya kini bergemuruh. Ia ingin sekali mengangkat kepala untuk menatap wajah Kent, tapi ia tahu dengan sepatu berhak tujuh senti di kakinya, sedikit saja gerakan mendongak akan membuat wajahnya jadi begitu dekat dengan wajah Kent. Bahkan bayangan wajah mereka berdua berdekatan, dengan mata saling menatap dalam diam, sudah membuat lututnya sekarang terasa sedikit lemas. Kent   bersuara   pelan,   ”Aku   sudah   bilang   ya   kamu   cantik sekali...”

”Iya, tadi kamu sudah bilang di ruang duduk,” jawab Fay sambil tersenyum sedikit, lalu memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan untuk meredakan bunga-bunga yang mulai merekah di hatinya.  ”Kamu akan sibuk di kantor juga, seperti Reno?”

”Ya... begitulah.”

”Apakah selalu seperti itu?”

”Tidak, karena selama ini aku tinggal di London. Tapi, dengan kepindahan ke Paris, aku rasa akan begitu.”

Mereka sejenak bergerak dalam diam, hingga keheningan dipecahkan oleh Kent, ”You dance very well. Pasti tak ada yang percaya kamu baru belajar.”

Fay tertawa kecil. ”Kamu pasti nggak percaya kalau sekarang aku bilang mulai menikmati dansa...”

Kent tersenyum. ”Aku juga senang dansa, tapi lebih suka main musik dan mengiringi orang berdansa.”

Fay mengangguk. ”Iya, aku benar-benar menikmati permainanmu waktu di Nice dulu...” Ia terdiam dan merasa wajahnya memanas.

”Aku  juga  menikmati  didampingi  olehmu  saat  bermain  piano,” ucap Kent pelan, lalu menambahkan, ”Bukankah kita seharusnya menghindari percakapan-percakapan seperti ini?”

Fay mendesah. ”Iya, aku tahu. Tapi, bukankah kamu yang mulai...?”

Kent menghela napas. ”Iya, aku minta maaf. Aku harus mengakui sulit sekali mengabaikan perasaanku... dan ucapan-ucapanku keluar begitu saja tanpa rencana.”

Fay terdiam. Ada sedikit rasa sakit di dadanya ketika kembali disadarkan bahwa cepat atau lambat semua ini memang harus benarbenar usai dan bahkan secercah harapan pun tak akan pernah jadi  nyata bagi mereka.

Setelah beberapa saat, Kent kembali berbicara. ”Aku sebenarnya tak  ingin  bilang...,”  ucap  Kent  pelan,  lalu  melanjutkan,  ”...tapi  kebetulan aku tahu lagu ini sudah hampir selesai, dan aku melihat Philippe sudah bersiap untuk masuk ke lantai dansa.” Fay langsung mendesah keberatan, lalu menarik napas panjang. Kenapa nasib mengatur hidupnya buruk sekali? Setelah dansa dengan Kent, ia harus dansa dengan Philippe. Mending dansa dengan sopir bajaj!

”I  wish  I  could  dance  with  you  forever,”  tambah Kent pelan. ”Kelihatannya sudah tak mungkin, ya?” gumam Fay.

Kent berdecak. ”Di keluarga ini tidak ada pilihan, hanya aturan.” Ia menambahkan setengah hati, ”Dan bukan hanya itu alasannya   kita nggak bisa dansa lagi... Sekarang Philippe sudah masuk ke lantai dansa dari arah jam dua belas—belakangmu... dia sepertinya tahu dalam sepuluh hitungan lagu ini akan usai.”

Fay langsung mengeluh.

Tak lama kemudian lagu berhenti. Kent memberi hormat dengan sedikit membungkuk, lalu berkata pelan pada Fay, ”Smile, Fay... he’s coming.”

***

Andrew memperhatikan Fay berjalan keluar dari lantai dansa. Sulit dipercaya, gadis yang sekarang tampak dewasa, yang berjalan melintasi lantai dansa dengan anggun adalah gadis yang sama dengan yang ia temui tahun lalu. Kehidupan memasang banyak perangkap di sepanjang jalan yang dilalui manusia, dan benturan-benturan saat mencoba melaluinya akan memaksa seseorang untuk berubah dan bertumbuh—seperti yang terjadi pada gadis yang sekarang berada dalam asuhannya ini.

”Mengagumi anak asuhmu sendiri?”

Andrew menoleh dan melihat Raymond tersenyum, di tangannya ada segelas sampanye. ”Bukankah transformasinya memang pantas dikagumi?” ucapnya menanggapi santai.

Raymond mengangkat gelasnya ke arah Andrew. ”Harus kuakui, dia tidak tampak seperti gadis yang tersasar di hutan beberapa bulan lalu, yang berlutut di hadapan Philippe dengan wajah ketakutan.”

Seulas senyum terbentuk di wajah Andrew. Ia lalu bertanya, ”Latihannya minggu depan sudah beres?” ”Sama seperti minggu ini, semua latihannya minggu depan juga sudah dibatalkan. Hanya satu yang belum aku tindak lanjuti, sesi anggar dengan Philippe. Aku tidak yakin Philippe mau membatalkanya begitu saja tanpa penjelasan panjang lebar.”

”Berapa kali dia dijadwalkan berlatih dengan Philippe minggu depan?”

”Hanya sekali.”

”Kalau begitu biarkan saja. Ada cukup waktu di minggu depan untuk membangun interaksi Fay secara alami dengan pemuda bernama Enrique itu.”

Raymond tertawa kecil. ”Alami, kau bilang? Kau baru saja memintaku untuk mengosongkan jadwal Fay dan memenuhi jadwal keponakan kita yang lain.”

Andrew tersenyum. ”Allow  me  to  rephrase... alami, dalam batasan yang aku tentukan.”

Fay kini sudah tiba di tepi arena dansa.

”Will you excuse me?” ucap Andrew ke Raymond sambil memberi tanda dengan mengarahkan tatapannya ke Fay sebentar sebelum  kembali menatap Raymond.

Raymond mengangguk sedikit. ”Have a good time with your niece,” ucapnya, kemudian berlalu.

Andrew memanggil pelayan dan meminta diambilkan segelas air putih, lalu menghampiri Fay.

”Young lady, saya perhatikan kamu sibuk sekali malam ini,” sapanya sambil tersenyum.

Fay menoleh, tampak sedikit kaget, kemudian tersenyum sedikit sebelum menjawab, ”Iya... sejak tadi saya diajak dansa terus tanpa henti.”

Pelayan datang membawakan segelas air.

Andrew menyodorkan gelas pada Fay. ”Silakan, kamu pasti haus setelah berdansa maraton dengan seluruh anggota keluarga.” Ia melihat kelegaan di wajah Fay ketika mengambil gelas dari tangannya. ”Thanks, Uncle,” ucap Fay sambil mengembuskan napas lega, ke- 

mudian meminum air hingga habis.

Andrew meminta gelas kosong tersebut dari Fay, lalu menyerahkannya kembali pada pelayan. Fay menggumam, ”Saya kira tadi Paman mau mengajak saya dansa lagi.”

”Sebenarnya  saya  ingin,  tapi  saya  tahu  kamu  butuh  istirahat,” ucap Andrew. Kemudian ia melanjutkan, ”Jadi, Fay, bagaimana perasaanmu malam ini?”

”It’s  great,”  jawab  Fay  spontan.  ”Semuanya  benar-benar  di  luar dugaan.”

”Tadi  saya  sudah  mengatakannya  padamu,  tapi  saya  akan  mengatakannya lagi... You look very beautiful. Sudah ada pemuda istimewa di luar sana yang menemani hari-harimu?” Andrew mengamati reaksi Fay yang sedikit kaget dan seperti gelagapan.

Fay menjawab dengan gugup, ”Hanya teman, bukan... pacar atau yang istimewa seperti itu.”

Andrew  menambahkan  sambil  lalu,  ”The  Code  hanya  melarang hubungan antar-anggota keluarga, tapi tidak pernah melarang anggotanya untuk punya kehidupan sosial dan hubungan istimewa di  luar  sana  asalkan  informasi  sensitif  tetap  dijaga  kerahasiaannya.” Lewat sudut matanya, ia melihat Fay tertegun.

Telepon genggam Andrew bergetar.

Andrew melihat nomor yang muncul di  telepon  genggamnya,  kode Swiss. Ia tersenyum sedikit pada Fay. ”Maaf, Fay, saya harus menerima telepon ini dulu.”

Fay mengangguk. ”Sure,  Uncle.  No  problem.”

Andrew mundur beberapa langkah, kemudian menerima panggilan.

”Good   evening,   Sir.”   Suara   Kepala   Riset   L’Hopital   du   Dent Blanche.

Andrew berkata penuh tekanan, ”Saya minta dihubungi setelah jamuan selesai, dan itu berarti masih dua jam lagi! Saya belum bisa memberi  keputusan  sekarang.”  Ia  melirik  Fay—keponakannya  itu sedang memperhatikan tamu-tamu yang ada di lantai dansa.

”Sir,  maaf  menelepon  sebelum  jamuan  usai,  tapi  saya  menghubungi Anda untuk memberitahukan perkembangan baru... Batman baru saja sadar dari koma.”

Andrew terdiam sebentar. Ia melihat Fay menoleh ke arahnya. Ia tersenyum sambil mengangguk pada gadis  itu,  kemudian  berbalik dan menanggapi berita itu. ”Bagaimana keadaannya?”

”Hasil evaluasi pendahuluan memberi kesimpulan gejala amnesia. Kita perlu menunggu hingga kondisinya stabil untuk melakukan evaluasi lebih mendalam.”

”Kabari saya bila ada perkembangan lain.” ”Yes,  Sir.”

Andrew menutup telepon, lalu mendekati Fay.

”Urusan kantor?” sambut Fay. ”Bukankah sudah larut?”

Andrew menanggapi dengan santai. ”Urusan kantor bagi seorang McGallaghan tidak mengenal hari dan waktu—bisa dibilang itu urat nadi keluarga ini. Nanti kamu pun akan tahu. Tapi, percakapan tentang kantor sebaiknya kita tunda hingga waktunya tiba. Sekarang saya ingin berkeliling sambil menyapa para tamu, dan akan sangat tersanjung bila keponakan saya yang berulang tahun bersedia menemani.”   Ia   kemudian   menyodorkan   lengannya   ke   arah   Fay sambil tersenyum tipis.

Fay ikut tersenyum, lalu melingkarkan tangannya pada lengan Andrew.

***

Pukul empat pagi, Fay berbaring di atas tempat tidur dengan mata terbuka dan tatapan menerawang. Setengah jam yang lalu matanya tiba-tiba terbuka begitu saja. Sekarang, setelah gegap gempita peraya an ulang tahunnya yang megah usai, pikirannya seakan memaksanya untuk mengunjungi sudut hati yang sebenarnya sudah tak ingin lagi   ia jamah.

Seperti apa perayaan ulang tahunnya dulu, sebelum menjadi anggota keluarga McGallaghan?

Mama dan Papa selalu memberi ucapan selamat ulang tahun ketika ia muncul di meja makan untuk sarapan. Malam hari, biasanya ada kue ulang tahun dan makan malam di luar rumah. Kalau Mama dan Papa sedang sibuk atau ke luar kota, acaranya ditunda hingga akhir minggu. Fay ingat betapa bosan dirinya ketika  makan  di  restoran  tahun lalu dalam rangka merayakan ulang tahunnya. Saat itu tangan dan mulutnya berkonsentrasi pada makanan, tapi pikirannya sibuk melanglang buana, menjamah hal-hal yang bukan bagian dari kehidupannya. Ia terus bertanya, kenapa tidak ada kejutan menyenangkan seperti yang diterima sahabatnya Lisa? Orangtua Lisa selalu mengganti kejutan setiap tahun. Pernah mereka masuk ke kamar Lisa  tengah malam sambil membawa kue ulang tahun. Pernah juga Lisa dikejutkan dengan lilin-lilin yang diletakkan di sepanjang dinding kamar, membuat suasana seperti di negeri dongeng.  Bahkan—ini  yang menurut Fay  paling keren—Lisa pernah dijemput orangtuanya  di tengah-tengah pelajaran sekolah, lalu diajak jalan-jalan ke Bali dan bolos sekolah selama dua hari berikutnya!

Air mata menetes di pipi Fay. Sekarang ia tidak keberatan makan di restoran. Ia bahkan tidak peduli bila Mama dan Papa tidak memberi kue ulang tahun, kejutan, atau hadiah sekalipun. Ia tidak butuh kejutan, tapi butuh mereka.

Fay menghapus air matanya. Ia tak mengerti apa yang melanda dirinya. Kadang, balutan duka sama sekali tak menampakkan jejak     di antara sukacita dan yang ia jalani bersama keluarga barunya, terutama di tengah-tengah tawa dan canda bersama para sepupunya. Dalam beberapa kesempatan ia bahkan dilanda perasaan bersalah, karena terpaksa mengakui bahwa ia lebih menikmati waktunya di tengah-tengah keluarga baru ini. Namun, di saat lain, duka bisa menyergap secara tiba-tiba, membuat dadanya langsung sesak dan terasa sakit karena bangkitnya kenangan masa lalu bersama orangtuanya yang telah tiada—atas cinta yang tak sempat  terwujudkan  dalam  kata dan tak pernah terekspresikan dalam tindakan sepenuh jiwa, hingga akhirnya semua terlambat dan hanya menyisakan sesal. Akankah duka ini bisa berlalu sepenuhnya?

Fay memejamkan mata dan mulai jatuh tertidur ketika sebuah suara dari arah balkon membuatnya kembali terjaga. Ia langsung duduk tegak dengan mata lekat ke pintu balkon.

Apakah suara itu hanya perasaannya saja? Mungkinkah ada maling   di kastil yang dijaga ketat seperti ini? Tidak, tidak mungkin.

Ia kembali merebahkan diri dan tepat di saat itu matanya melihat gagang pintu balkon bergerak. Darahnya seakan berhenti mengalir dan tubuhnya tiba-tiba kaku. Begitu kesadaran menyergap, sontak ia bangkit dan lari ke arah pintu kamar yang mengarah ke selasar—ia akan menggedor kamar Kent dan meminta tolong. Dengan tangan gemetar ia memutar kunci. Tidak berhasil! Posisi kunci seperti tergeser sehingga tidak pas dan sulit diputar.

Fay mengeluarkan suara teriakan tertahan dengan napas yang semakin berantakan. Kenapa dalam keadaan genting segala hal bergerak berlawanan arah dengan keinginan!

Ketika akhirnya terdengar bunyi ”klik”, Fay langsung menyentak pintu hingga terbuka. Ia terkesiap dengan jantung seperti lompat melihat Kent berdiri di depannya, namun berikutnya langsung  diterpa kelegaan. ”Ada orang di balkonku!” serunya dengan suara  rendah.

Kent tidak berkata-kata, hanya memberi kode supaya Fay bergeser, lalu ia pun melangkah masuk.

Fay tetap berdiri di dekat pintu dengan dada berdebar, menyaksikan Kent berjalan perlahan menuju pintu balkon yang gagangnya bergerak-gerak, dengan daun pintu yang juga bergerak-gerak seperti diguncang-guncang dari luar. Ia menahan napas ketika Kent akhirnya tiba di depan pintu balkon.

Kent menoleh pada Fay. ”I’m  really  sorry, Fay,” ucapnya.

Fay tertegun. Apa maksud Kent? Minta maaf atas apa? Ini bukan saat yang tepat untuk meminta maaf...

”I  mean,  really,  really  sorry,”  sambung  Kent  lagi  sambil  meraih gagang pintu.

Fay mengerutkan kening sambil mencoba menebak maksud perkataan Kent. Perhatiannya teralih ketika ia merasa ada yang bergerak di belakangnya. Namun, sebelum ia sempat menoleh, sebuah tangan melingkar di lehernya dan sebuah tangan lain membekap mulutnya hingga sedikit menutupi hidungnya, membuat udara menjadi sulit untuk ditarik masuk. Refleks Fay meronta-ronta, dan dalam kondisi panik ia melihat Kent membuka pintu ke balkon. Tiga orang masuk ke kamarnya, Sam, Reno, dan Lou. Dalam keadaan terperangah, Fay mendengar sebuah suara berbicara di telinganya, ”Jangan berteriak atau melawan.”

Larry.

Fay mengangguk dan sedikit bernapas lega ketika Larry melepas bekapan ke mulutnya. Ia terseret  mengikuti  langkah  Larry,  kemudian ia didorong hingga terduduk di kursi yang sudah diposisikan oleh Reno di dekat pintu balkon. Ia menatap para sepupunya yang kini berdiri mengelilinginya. Hanya Kent dan Larry yang mengenakan piama di balik mantel kamar, sedangkan yang lain mengenakan baju hitam-hitam seperti akan tugas.

”Apa-apaan sih?” protes Fay. ”Sssttt...,” ucap Reno.

Fay  memelototi Reno. Di pagi hari buta seperti ini ia disatroni   para sepupunya lalu disekap di kamarnya sendiri,  dan  ketika  ia minta penjelasan, malah disuruh diam? Awas aja!

Larry berkata, ”Ulang tahun kedelapan belas adalah peristiwa yang istimewa di keluarga ini, jadi kami memberikan ucapan selamat yang spesial juga. Kamu seharusnya berterima kasih—bisa dibilang kami sangat berbaik hati pagi ini. Tahun lalu Kent menghabiskan waktu di sel bawah tanah semalam suntuk, dan digantung terbalik.”

Fay melirik Kent dan melihat cowok itu melihat lurus ke depan seperti menghindar. Fay menggigit bibir untuk menahan protes yang lebih keras. Seburuk inikah Tuhan mengatur nasibnya? Selain harus menghadapi para paman yang gilanya nggak ketulungan, kini ia juga harus menghadapi para sepupu yang kurang waras? Super-apes! Ia akhirnya angkat bicara. ”Setahuku, hazing dan bullying masuk pelanggaran  daftar  oranye,”  ucapnya  dengan  intonasi  datar.  Ia  ingat Raymond pernah memperingatkannya untuk tidak terjebak dalam hazing dan bullying, baik sebagai pelaku maupun korban.

Larry membungkuk sedikit dan mendekatkan kepalanya pada Fay. ”Kamu pikir ini hazing atau bullying? Let’s see... Hazing hanyalah aktivitas kurang kerjaan dari mereka yang tidak berani mengambil risiko dalam menghabiskan waktu luang... dan kamu tahu persis aku,  atau kami semua, tidak seperti itu—I must say, ‘risk’ is my middle name. Sementara bullying hanyalah kegiatan orang-orang pengecut yang tidak berani memilih lawan seimbang—menurutku, sama sekali tak menantang.” Larry menyeringai sedikit, kemudian berkata, ”Yang kami berikan ke kamu sekarang ini adalah... pesta kejutan.”

Fay menatap Larry tajam. ”Pesta apa? Aku nggak lihat ada kue!” sahutnya ketus. Para sepupunya tak tahu apa saja yang sudah ia lalui untuk diterima menjadi bagian dari keluarga gila ini... bahkan   Andrew bilang mereka belum pernah merasakan suntikan yang  dijuluki fte Grabber sebagaimana dirinya. Bila sekarang mereka mau mengintimidasinya, mereka perlu usaha lebih keras!

”Kalau kamu mau kue, nanti aku carikan,” ujar Reno sambil tersenyum simpul dan mengedipkan sebelah mata ke Fay.

Fay memelototi Reno sambil menyumpahinya dalam hati. Ia bertekad akan menonjok Reno setidaknya dua kali setelah kegilaan ini usai.

Lou bersuara, ”Sebaiknya kita segera bergerak. Sebentar lagi jam setengah lima. Raymond biasanya latihan jam lima pagi. Jadi, Fay, kamu mau ikut sukarela atau tidak?”

Fay sekilas menyapukan pandangan ke para sepupu yang mengelilinginya—ia baru sadar Elliot tidak ada. ”Jadi, aku punya pilihan untuk nggak ikut?” tanyanya sinis.

Sam terkekeh dengan suara agak keras—serentak semua menoleh dengan kesal seraya berkata, ”Sssst...”

Sam berkata dengan suara lebih pelan, ”Kamu pasti ikut, pilihannya antara sukarela atau tidak...”

Larry  memotong  dengan  nada  tak  sabar,  ”We  don’t  have  time  to argue. Let’s go!”

Fay melihat Larry memberi tanda pada Sam dengan menggerakkan kepalanya dan sekilas ia melihat lakban di tangan Sam. Sebelum Fay sempat berpikir lebih lanjut, lakban itu sudah ditempelkan  ke mulutnya. Di saat yang bersamaan, kedua tangannya dibawa ke belakang punggung oleh Lou dan Reno dan diikat dengan tali.

”Sori, Fay, lebih baik seperti ini daripada kita semua ketahuan.

Kamu akan berterima kasih kepadaku nanti,” ucap Reno.

Fay sibuk memaki dan meronta, tapi tanpa hasil. Di belakang Larry, Kent menata guling dan bantal, lalu menutupnya dengan selimut sehingga tampak seperti ada orang yang tidur nyenyak.

Fay dibawa ke balkon. Di pagar balkon telah tersangkut sebuah pengait dengan bentuk seperti jangkar kaki tiga. Seutas tali bergelantungan ke bawah.

Lou menyangkutkan tali ke kaitan logam di pinggangnya, lalu meluncur turun. Sam melakukan hal yang sama, namun sebelum meluncur turun dia berdiri. Fay baru sadar apa yang akan terjadi ketika Larry dan Reno mendorong sambil mengangkatnya ke pagar balkon, dan Sam menerimanya di pundak. Ya Tuhan, Sam akan meluncur turun sambil membopongnya di pundak seperti karung beras!

Fay memekik ketika melihat tanah di bawahnya mendekat dengan cepat, namun suara yang terdengar telinganya hanya gumaman tertahan. Ia membayangkan dirinya akan terempas dengan kencang ke tanah, tapi untunglah bayangannya tak menjadi kenyataan. Begitu kaki Sam menjejak di tanah, Fay merasa perutnya seperti terdorong ke dalam dan sesaat oleng, namun tangan Lou langsung meraihnya, membantunya turun dari pundak Sam. Reno segera menyusul turun. Larry melempar pengait ke bawah lalu masuk ke kamar sambil menutup pintu balkon.

Sam berlari ke taman labirin, diikuti Lou yang menarik lengan   Fay, dan Reno yang berjalan paling belakang.

Fay terseok-seok mengikuti Lou dengan kaki telanjang sambil bertanya-tanya dalam hati ke mana mereka akan membawanya dan apa yang akan mereka lakukan.

Mereka tiba di gazebo di tengah taman labirin. Jeruji besi berbentuk lingkaran yang ada di lantai di tengah gazebo sudah digeser dari tempatnya, menampakkan lubang yang menganga. Tali dengan jangkar dipasang, dan sama seperti sebelumnya, Lou turun terlebih dahulu.

Fay berusaha melancarkan protes ketika Sam melingkarkan lengan di pinggangnya dan mengangkatnya.

”Jangan bergerak-gerak, Fay! Lubangnya sempit, jadi aku tidak bisa  memanggulmu.  Kalau  peganganku  lepas,  kamu  bisa  jatuh,” ancam Sam. Fay akhirnya menyerah dan menghentikan perlawanannya. Ia memekik ketika Sam terjun begitu saja ke lubang, namun ternyata gerakan itu sudah dipikirkan dengan matang. Begitu masuk lubang, gerakan jatuh bebas Sam (yang menggendongnya dengan satu tangan!) langsung tertahan tali. Sam turun dengan mulus hingga ke dasar. Mereka kini berada di lorong panjang ruang bawah tanah yang menghubungkan sayap kiri dan kanan.

Terdengar suara Reno dari atas. ”Kalian jalan duluan saja. Aku menyusul. Give  me  ten  minutes.”

Sam berkata dengan nada protes, ”Hei, apa maksudmu? Rencananya bukan begitu!” Protesnya sia-sia karena Reno sudah menghilang. Sam akhirnya menarik Fay menuju sayap kanan bangunan.

Fay merasa kakinya semakin berat untuk dilangkahkan. Ia ingat dari tur ruang bawah tanah bersama Raymond tempo hari, hanya ada dua ruangan yang bisa mereka masuki di sayap kanan, dan keduanya sama sekali bukan tempat favoritnya.

Firasatnya tak salah. Di ujung koridor, ia melihat Larry dan Kent berdiri di depan pintu Ruang Putih. Fay sontak melawan, mengagetkan Sam dan Lou sesaat, namun perlawanannya dipatahkan dengan mudah. Lou dan Sam masing-masing menyisipkan tangan di bawah lengan Fay, dan setelah itu, praktis Fay diangkat—atau diseret— mengikuti mereka berdua.

Larry berkomentar, ”Melawan terus, ya? Tidak buruk untuk ukuran pendatang baru.”

Fay menatap Larry dengan marah, namun begitu melihat di tangan Larry ada kain hitam penutup mata, ia sontak menggeleng sambil meronta-ronta. Berada di Ruang Putih saja sudah membuatnya tak berdaya, apalagi kalau matanya ditutup!

Larry melihat ketakutan yang tiba-tiba muncul di sorot mata Fay, dan sudut bibirnya sedikit terangkat. ”Kamu nggak suka pakai ini, ya?” tanyanya sambil melambai-lambaikan penutup mata itu di hadapan Fay.

Fay mencoba menggerak-gerakkan kepalanya untuk menghindar, namun tentu saja tak berhasil. Begitu penutup mata terpasang, kegelapan langsung menyergap, membuatnya kehilangan hampir semua sisa keberanian yang ia punya. Fay bisa merasakan tubuhnya menegang ketika dibawa masuk ruangan, lalu didudukkan di kursi. Terlebih ketika ikatan tangannya dilepas, kemudian diikat lagi ke pegangan kursi—kilasan-kilasan ingatan atas apa yang pernah terjadi di Ruang Putih muncul, membuat perutnya  mual  dan  napasnya  sesak.

Kesunyian tiba-tiba menyergap—para sepupunya sepertinya telah meninggalkan ruangan.

Fay mencoba mengatur napas dalam gelap, sambil berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak panik. Tidak mungkin mereka bertindak terlalu jauh, apalagi semua paman ada di rumah, pikirnya menenangkan diri. Mungkin ia tidak bisa seyakin  itu terhadap Larry, tapi ada Reno atau Kent yang bisa ia percaya. Tapi, kenapa mereka ikut andil menyekapnya seperti ini?

Terdengar suara roda berderit. Fay  tersentak dan refleks menoleh  ke arah datangnya suara, tapi tentu ia tak bisa melihat apa-apa. Apa  kah para sepupunya masih ada di ruangan? Fay mencoba mengatur napasnya yang memburu ketika ingat meja logam tempat Andrew meletakkan suntikan maut. Bila selama dua bulan terakhir ini kekerasan hanya sebuah kenangan masa lalu yang serasa tak nyata, maka detik ini ia merasa bayang-bayang kekerasan seakan kembali menggerayanginya.

”Siap?” Suara Reno.

”Ya. Buka penutup matanya.” Suara Larry.

Sebuah tangan melepas penutup mata yang terpasang  di kepala Fay.

Fay mengerjap ketika matanya terkena cahaya. Yang tertangkap pertama kali oleh matanya adalah kue putih polos dengan sebatang lilin yang menyala. Berikutnya, ia menyapukan pandangan ke sekelilingnya—kelima sepupunya berdiri dengan senyum lebar. Ia mengaduh pelan ketika Sam mencabut lakban yang menutup mulutnya. Reno mengangkat kue, mendekatkannya pada Fay. ”Make a wish,

then  blow  the  candle.”

Fay menatap kue dengan kepala terasa kosong melompong, dan akhirnya meniup lilin masih dengan perasaan kacau. Ia merasa kesulitan untuk mencerna apa yang terjadi, otaknya seakan tidak ber ada dalam kepalanya.

Larry berkata, ”Sekarang, pembagian hadiah.”

Sam menyodorkan sebuah kantong kertas ke Fay, tapi lalu menariknya lagi. ”Oh iya. Tanganmu masih diikat ya... biar aku bukakan.”

Fay menatap Sam dengan tampang bego, lalu tatapannya beralih pada tangan Sam yang membuka hadiah dari dirinya sendiri.  Fay yakin otaknya pasti masih tercecer, karena ia merasa tampangnya jadi jauh lebih bego saat melihat apa yang ada di tangan Sam: sebuah belati.

Sam melambaikan belati di hadapan Fay dengan wajah bangga. ”Lihat, ini salah satu koleksiku. Ada batu safir di gagangnya.”

Lou dan Kent tersenyum sambil berkata hampir berbarengan, ”Daftar oranye.”

”Giliranku,” cetus Reno. Ia merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan benda seukuran telepon genggam yang dibungkus kertas.

Fay melihat Reno sudah siap merobek kertas itu ketika mendadak ia  tersadar  dan  langsung  protes,  ”Tanganku  dilepas  dong!  Aku  kan mau buka kado sendiri.”

Reno menggeleng. ”Tidak, tradisi. Kamu akan dilepas kalau semua hadiah sudah diberikan, dan kamu berjanji tidak akan balas dendam dengan menyerang kami semua menggunakan hadiah-hadiah yang kami berikan.”

Fay tiba-tiba merasa kalimat itu sangat lucu dan akhirnya tertawa begitu saja. Ketegangan yang menggelayutinya seakan ikut terlepas bersamaan dengan tawanya. Ceceran otaknya pun seperti terkumpul dengan sendirinya. ”Oke,” ujarnya lebih santai. Tak salah lagi, semua anggota keluarga ini memang gila, pikirnya, lalu mulai senyumsenyum sendiri.

Reno menunjukkan kadonya, sebuah pengejut listrik. ”Ini mungkin bisa turun ke daftar kuning kalau alasannya untuk melindungi diri.”  Ia  tiba-tiba  mendekatkan  alat  itu  ke  Sam,  yang  langsung melompat mundur sambil memaki Reno.

Kent  maju.  ”Happy  birthday,  Fay,”  ucapnya  sambil  menyodorkan sebuah gelang dari rantai berwarna perak ke hadapan Fay. Gelang itu memiliki beberapa hiasan berbagai bentuk yang menggantung di sepanjang rantai, termasuk bentuk hati.

Larry bersiul. ”Romantis sekali. Kukira hubungan kalian sudah berakhir.”

Fay langsung merasa pipinya panas.

Kent mendelik sewot ke arah Larry, lalu menarik salah satu hiasan yang menggantung, berbentuk anak kunci. ”Kalau disentak, anak kunci ini bisa terlepas. Di ujungnya ada sepasang kawat yang bisa kamu pakai untuk... yah... membongkar kunci. Nanti kamu akan mempelajari caranya di kantor.”

Sam bertepuk tangan dengan wajah semangat. ”Bravo, Kent! That’s brilliant!”

”Itu  belum  semua,”  ucap  Kent  sambil  tersenyum  lebar.  ”Liontin yang berbentuk hati juga bisa dilepas... di bagian dalamnya ada mata  silet kecil.”

Reno berkomentar sambil nyengir, ”Benar-benar hadiah yang romantis untuk seorang wanita... sebuah gelang dengan hiasan hati berisi silet, yang masuk ke daftar oranye.”

Semua tertawa dengan lelucon itu, termasuk Kent dan Fay.

Giliran Lou membuka hadiahnya, sebuah earphone dan iPod, serta sebuah benda seperti baterai bulat warna perak. ”Ini penyadap dengan receiver-nya. Ini sebenarnya daftar oranye juga—pastikan saja kamu tidak memakainya di ruang kerja Andrew supaya pelanggarannya tidak naik ke daftar merah.”

”Giliranku,” ucap Larry. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu dari kantong kertas, lalu menyodorkannya ke hadapan Fay sambil mengangkat tutupnya.

Fay menahan napas melihat sepucuk senjata berukuran sangat kecil, mungkin lebih kecil daripada telapak tangannya. Yang membuatnya yakin pistol itu bukan mainan adalah peluru yang tersusun rapi di sisi senjata.

”Wow...,” ucap Sam dengan wajah terkagum-kagum.

Reno langsung bereaksi. ”Hei, apa-apaan kamu! Itu kan bahaya...

Fay belum mendapat latihan di kantor.” Larry mengangkat bahu dan berkata sambil lalu. ”Dia kan sudah delapan belas, dan ini daftar oranye juga. Jangan bilang kalian tidak punya setidaknya satu pucuk pistol yang tidak terdaftar. Apa bedanya Fay dengan kita? Yang penting dia tahu cara menyembunyikannya, dan bisa bertahan dengan satu skenario yang meyakinkan kalau sampai diinterogasi.”

Fay berdeham, lalu menyela. ”Excuse me, guys... Thank you for the, uhm... interesting presents. Tapi, tanganku bisa dilepas sekarang?”

Lou mendekat sambil tersenyum. ”Jadi, Fay, kamu berani bersumpah kamu tidak akan melukai kami dengan hadiah-hadiah ini?”

Sam memasukkan semua hadiah ke kantong kertas. ”Aku simpan saja dulu hadiah-hadiah ini di kantong, untuk jaga-jaga...”

Fay tertawa, kemudian menjawab, ”Iya, aku bersumpah.” Lou melepas ikatan tangan Fay, dibantu Reno.

Fay mengembuskan napas lega sambil mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah.

Kent melihat arlojinya. ”Guys, kita harus kembali... Sekarang!”

Larry memajukan kepalan tangannya, diikuti yang lain. Fay ikut memajukan kepalan tangannya dengan sedikit salah tingkah, sambil memampangkan sebuah cengiran tanggung di wajah karena merasakan campuran emosi yang tak bisa dijelaskan—antara senang karena untuk pertama kalinya benar-benar merasa diterima menjadi bagian dari para sepupunya, namun masih sedikit malu-malu karena   ia tahu masih anggota keluarga baru. Setelah melakukan salam fte Groundhouse, mereka kemudian keluar dari ruangan dan berpisah, menggunakan jalur yang sama dengan ketika mereka datang. Semua langsung kembali ke kamar masing-masing, kecuali Reno yang mendapat tugas mengantar Fay ke kamar.

Di gazebo, Reno bertanya ke Fay, ”Kamu sudah tahu mau menyembunyikan hadiahmu di mana?”

Fay menggeleng.

”Tinggal saja dulu semua hadiahmu di sini, nanti aku simpan sampai kamu punya tempat persembunyian yang meyakinkan.”

Fay mengangguk, tapi lalu berkata, ”Eh, tapi gelangnya aku bawa sekarang ya. Kan bisa aku simpan bersama gelangku yang lain.” Reno merogoh kantong dan menyerahkan gelang ke tangan Fay. ”Kamu sebenarnya juga bisa bawa hadiahku setiap hari di tas, untuk jaga diri. Tapi, kalau sekarang-sekarang ini terlalu dini... Paman bisa curiga kalau tahu. Harus menunggu sampai kamu masuk kantor.”

Fay tersenyum. ”Thanks...”

”Kita harus buru-buru... aku masih harus mengembalikan kue ke dapur.”

”Jadi, kue itu hasil curian?”

”Kamu kan tadi bertanya mana kuenya, jadi aku ambil kue yang disimpan di lemari pendingin. Secara teknis kan kue itu akan kita makan juga nanti sore atau nanti malam untuk pencuci mulut, jadi aku tidak mencurinya, hanya menggunakannya lebih awal.”

Fay tertawa kecil sambil menonjok lengan Reno. Dua kali.

Reno nyengir sambil mengelus-elus lengannya. ”You’re welcome, sis.”

***

Kent berjalan dengan langkah lebar di koridor menuju kamarnya. Sudut bibirnya sudah terangkat membentuk senyum sejak tadi, saat benaknya mengulang-ulang kejadian yang baru saja berlalu. Ia sebenarnya tidak tega melihat sorot ketakutan di mata Fay. Dua kali ia melihatnya—yang pertama adalah saat Fay membuka pintu kamar, dan yang kedua adalah di ruang bawah tanah saat Larry akan menutup matanya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Memberi kejutan ulang tahun kedelapan belas dengan hadiah-hadiah yang masuk daftar pelanggaran adalah kebiasaan fte Groundhouse sejak dulu. Ia pun baru tahu kebiasaan itu saat ulang tahunnya tahun lalu, dengan nasib tak sebaik Fay—ia diculik tengah malam dan menghabiskan berjam-jam di sel dengan tangan dan kaki terikat serta mulut tersumpal, dan saat pemberian hadiah ia digantung terbalik oleh para sepupunya.

Senyumnya semakin lebar ketika ingat ekspresi Fay saat penutup matanya dibuka dan melihat kue ulang tahun—kalau saja tak ada sepupunya yang lain, mungkin ia sudah tertawa sambil memeluknya erat. Betapa lucu dan menggemaskan wajah Fay tadi! Kent kini hanya beberapa langkah saja dari pintu kamarnya ketika melihat pintu kamar Andrew tiba-tiba dibuka dari dalam. Sebelum ia sempat meraih gagang pintu kamarnya sendiri, pamannya muncul di pintu

Sial!

”Good  morning,  Kent,”  sapa  Andrew.  ”What  are  you  doing  up  so early?”

Kent menjawab, ”Saya bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur lagi.”  Ia  melihat  pamannya  menatapnya  sebentar.  Detik  itu  juga  ia tahu pamannya tidak percaya.

”Kamu  tunggu  dulu  di  sini,”  ucap  Andrew  tajam,  lalu  bergerak ke kamar Fay.

Kent mengumpat dalam hati. Apakah Fay sudah tiba di kamar? Andrew mengetuk kamar Fay beberapa kali sambil memanggil nama-

nya. Ketika tidak ada jawaban, tangannya meraih gagang pintu.

Kent menahan napas.

Terdengar  suara  dari  dalam  kamar,  ”Yes,  I’m  coming.”  Pintu  terbuka  dan  Fay  berdiri  dengan  wajah  mengantuk.  ”Good  morning, Uncle. Ada apa?”

Kent mengembuskan napas lega.

”Maaf   membangunkanmu,”   ucap   Andrew   sambil   melangkah masuk ke kamar Fay, lalu sekilas menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia membuka pintu kamar mandi, kemudian menutupnya lagi, lalu sambil berjalan ke balkon bertanya, ”Apakah ada sepupumu yang mengganggumu dengan permintaan  atau  hal-hal  yang tak masuk akal?” Ia membuka pintu balkon, mengamati keadaan sekeliling, kemudian masuk lagi.

”Tidak,” jawab Fay sambil menggeleng, lalu menguap.

”Very well, then. See you at breakfast, young lady,” ucap Andrew, lalu berjalan ke ruang kerja.

Kent menyapukan seulas senyum pada Fay, yang membalas senyumnya dengan lebar sebelum menutup pintu.

*** Fay menutup pintu kamar dengan wajah tetap memampangkan senyum lebar. Ia akhirnya tertawa geli ketika kilasan kejadian pagi ini berputar dengan cepat di benaknya.

Terdengar suara dering telepon genggam. Fay mengangkat telepon.

”¡Hola,  amiga!” sapa Enrique.

”Hai,” balas Fay, lalu tersenyum ketika mendengar suara Enrique menguap. ”Kamu baru bangun ya?” tanyanya.

”Iya... Aku biasanya tidur sampai siang. Aku sengaja bangun karena ingin bertanya bagaimana acaramu semalam dengan keluarga teman ayahmu... Bobby, ya, kalau tak salah?”

Fay tersenyum simpul. Kemarin Enrique sudah meneleponnya untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan mengajaknya keluar malam, tapi ia tolak dengan alasan ada acara makan-makan dengan keluarga Bobby.

”Tak ada yang istimewa... hanya makan malam biasa.”

”Kamu kembali ke apartemenmu kapan? Besok kita bisa ketemu nggak? Aku sudah bosan membongkar barang. Dan, aku mau kasih kamu hadiah ulang tahun.”

Fay berdecak, ”Nggak bisa! Aku di sini sampai Senin pagi. Dan kenapa kamu bilang-bilang mau kasih kado? Benar-benar menghilangkan elemen kejutan yang menyenangkan!”

Enrique tertawa kecil. ”Benar juga. Aku benar-benar tidak terpikir. Benar hari ini atau besok kamu nggak bisa ketemu aku? Keluarga Bobby curang sekali... memonopolimu hingga berhari-hari...”

Fay nyengir sedikit. ”Ya mau gimana lagi? Aku sudah telanjur janji mau menginap di sini. Lagi pula, bukannya kamu sendiri yang bilang bakal sibuk membongkar kontainer dan nggak punya waktu ketemu aku hingga Senin besok?”

Enrique mengerang. ”Itulah... aku dengan mulut besarku... Ya sudah, kalau begitu Senin saja kita ketemu di tempat kursus.”

”Oke...”

”¡Ciao, amiga!”

Fay menutup telepon sambil tersenyum, kemudian  mengempaskan diri ke tempat tidur dengan perasaan puas. Setelah semalam diberi kejutan sebuah jamuan megah seperti dongeng Cinderella, dan tadi pagi diberi pesta kejutan gila dan hadiah yang juga gila dari para sepupunya, kini Enrique pun memberi kabar bahwa dia juga akan memberikan hadiah. Cara yang luar biasa untuk memulai hari dengan sempurna!

***

Gereja St. Ambroise, arrondissement 11.

Misa malam telah selesai setengah jam yang lalu dan sekarang sudah tak ada jemaat yang tersisa.

Bobby Tjan menaiki tangga lalu membuka pintu tinggi. Gereja ini relatif baru untuk ukuran bangunan tua di kota Paris, dibangun tahun 1860-an untuk menggantikan bangunan gereja lama.

Di dalam gereja, cahaya remang matahari yang masih bersinar di malam musim panas ini menembus mozaik kaca yang ada di atas  altar, menerangi sebuah salib raksasa dengan sosok Yesus, dan patung Bunda Maria. Suasana temaram terasa sendu.

Sejenak Bobby hanya berdiri menghadap altar. Ia bukan penganut Katolik dan tak pernah melabel dirinya religius. Namun, ada saat  saat kesenyapan mengetuk ruang batinnya yang kosong, memberinya kedamaian yang langka di sela-sela lini pekerjaan yang ia lakukan.

Ia berjalan perlahan ke arah belakang ruangan, menuju bilik pengakuan. Langkahnya tak bersuara berkat sol karet di sepatunya. Dari tiga bilik pengakuan, ia memilih bilik yang di tengah. Samar-samar terlihat siluet tubuh pastor di balik sekat pemisah.

Pastor memberikan berkat, lalu bertanya, ”Apa yang bisa saya bantu, anakku?”

Bobby menjawab, ”Kegelapan telah menyelimutiku.” Kalimat sandi pertama.

Pastor membalas, ”Cahaya akan segera meluruhkannya.” Kalimat sandi kedua, pertanda aman untuk melanjutkan pembicaraan. Bila kondisi tidak aman, kalimatnya akan berbeda: Kesabaran akan membuahkan terang di waktu yang telah ditentukan Bapa di surga. Bobby berkata, ”Ada anggota baru di keluarga besar, sudah diperkenalkan semalam di jamuan resmi.”

Suasana senyap.

Bobby tidak mengatakan apa-apa. Ia yakin sang pastor tahu siapa yang ia maksud—hanya ada satu benang merah yang menghubungkan dirinya dengan pastor itu

”Bukankah kamu bilang gadis itu direkrut untuk bergabung di kantor?”

”Saya tadinya berasumsi begitu, tapi ternyata salah. Dia akan muncul di kantor, tapi sebagai anggota keluarga, bukan agen biasa.”

Suasana kembali hening. Bobby mendengar suara  helaan  napas dari bilik pastor.

”Apakah Direktur tahu?” tanya pastor itu lamat-lamat.

”No, I don’t think he knows. Dari apa yang saya amati, sepertinya semua hanya kebetulan belaka.”

”Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Are you absolutely sure he doesn’t  know?”

Bobby terdiam sebentar sebelum menjawab, ”Yes,  I’m  sure.” ”Seperti   yang   saya   katakan   tadi,   tidak   ada   yang   namanya

kebetulan. Bila tangan manusia tidak mengaturnya, maka itu adalah campur tangan Tuhan.”

Bobby terdiam. Sulit baginya untuk percaya bahwa Tuhan ikut campur hingga sejauh ini.

Pastor itu kembali berbicara. ”Tidak perlu melakukan apa-apa, amati saja dulu.”

”Yes, Father,” ucap Bobby singkat, lalu berdiri dan keluar dari bilik.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊