menu

Trace of Love Bab 03: The Cousins

Mode Malam
The Cousins

KENT membiarkan benaknya melayang sementara kakinya menyusuri koridor lantai satu sayap kiri untuk menuju kamarnya. Ia sengaja memilih menapaki koridor yang sepi ini untuk naik ke kamarnya di lantai dua, dan bukan lewat tangga utama yang sering dilewati oleh para penghuni kastil ini. Ia baru saja bicara dengan Andrew dan sekarang kabut tipis bagai meliputi seluruh keberadaannya. Tubuhnya kini terasa mengambang dengan setiap langkahnya yang seperti tak menjejak karena jiwanya entah berada di mana.

Minggu lalu, seorang komposer yang pernah mendengar permainan pianonya menghubunginya untuk menawarkan beasiswa di sekolah musik bergengsi di Salzburg. Sang komposer sudah pernah menghubunginya tahun lalu untuk menawarkan beasiswa yang sama, dan ia menolaknya dengan alasan baru bisa berkuliah setahun lagi—semua keponakan McGallaghan menunda kuliah selama satu tahun, kecuali Elliot.

Hari ini, setelah mengumpulkan nyali, akhirnya ia memutuskan untuk berbicara dengan Andrew, dan pamannya itu langsung menyurukkannya ke dasar pada kesempatan pertama. ”Saya sudah mengatakan ini berkali-kali dan saya harap ini akan menjadi kali terakhir saya harus mengucapkannya. Kamu punya banyak prioritas dalam hidup, dan musik bukanlah salah satu di antaranya. Kamu akan berkuliah di jurusan ilmu politik seperti yang sudah direncanakan. Setelah lulus, kamu akan langsung melanjutkan ke jurusan bisnis dan ekonomi.”

Kent belum menyerah. ”Tapi, Paman, rencana itu dibuat sebelum saya  tahu  ada  penawaran  beasiswa,”  ucapnya  bersikeras.  ”Saya  tetap bisa mengambil jurusan politik sebagaimana yang Paman inginkan. Ada akademi di Salzburg yang menawarkan kuliah ilmu politik di   sore hari dan saya yakin bisa membagi waktu antara  kuliah  di  jurusan politik dan musik. Saya tahu itu berarti kerja keras, tapi saya  tidak keberatan...”

”Saya keberatan,” potong Andrew tajam. ”Sejak kapan musik ada dalam radar kepentingan keluarga McGallaghan? Jangan lupa siapa kamu dan di mana posisi kamu dalam keluarga ini. Kamu sudah diproyeksikan untuk menangani strategi yang berkaitan dengan ekspansi bisnis keluarga ini, jadi lakukan saja hal yang seharusnya menjadi prioritas bagimu.”

Kalimat terakhir itu akhirnya membungkamnya, membuat kepalanya menggelegak penuh putaran emosi yang ingin meledak.

Apa yang seharusnya menjadi prioritas hidup bagi dirinya? Kenapa pamannya selalu lebih tahu tentang itu daripada dirinya sendiri? Tapi, selama belasan tahun pamannya sudah bertindak seakan dia lebih tahu, dan Kent pun tidak pernah mempertanyakan apa-apa, jadi apa sebenarnya yang ia harapkan dari pertemuan ini?

Andrew menambahkan, ”Keputusan saya sudah final. Satu tahun ke depan, fokusmu selain kuliah adalah kantor. Tahun depan kamu harus sudah naik ke level dua, jadi tidak ada waktu luang untuk sekadar belajar piano. Dan, ini adalah pembicaraan terakhir kita tentang keinginanmu  untuk  belajar  musik,  formal  atau  informal, jelas?”

Kent menghela napas, lalu menyapukan kedua tangannya ke kepala. Ia tahu, tak sepatutnya ia membiarkan penolakan ini menguasai emosinya. Sejak dulu pun ia tahu pamannya tidak pernah menyetujui keinginannya untuk mendalami musik. Ia tadinya mengira siap menerima jawaban apa pun yang akan diberikan Andrew, tapi ternyata mendengar penolakan itu diucapkan tepat di depan wajahnya terasa lebih menyakitkan daripada yang dibayangkan— mungkin setara dengan sakit hatinya tahun lalu, ketika diminta oleh pamannya untuk mengubur perasaan yang ia miliki bagi Fay.

Jelas sudah, mimpinya kini telah usai. Musik sudah mengalir di dalam darahnya bahkan sebelum Fay hadir dalam hidupnya, dan kini itu pun harus direnggut oleh pamannya. Apa makna kehidupan bagi seseorang yang sudah kehilangan mimpi? Sebuah pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk ia pertanyakan, bahkan ketika kisahnya dengan Fay harus usai.

Tatapan Kent jatuh ke pintu ballroom yang sedikit terbuka. Sesaat  ia mengerutkan kening, tapi langsung teringat bahwa  jamuan  Fay akan dilangsungkan besok. Mungkin housekeeping sedang mempersiapkan ruangan untuk jamuan.

Ingatan tentang Fay membuat perasaannya menjadi lebih ringan  dan Kent membiarkan kakinya tetap melangkah, mengabaikan pintu yang terbuka. Namun, langkahnya otomatis melambat  ketika  telinganya mendengar sayup-sayup alunan musik dari  dalam  ruangan.  Musik ini pernah ia mainkan bertahun-tahun lalu  ketika  tampil  dalam sebuah pertunjukan di sekolah. Haruskah takdir mengejeknya dengan mengingatkan betapa terpuruk nasibnya kini? Ia hampir melanjutkan langkahnya ketika teringat ucapan  Fay  beberapa  hari lalu tentang latihan dansa yang dilangsungkan di ballroom. Apakah Fay sedang latihan?

Kent berbalik dan mengintip lewat celah yang terbuka. Tatapan nya langsung jatuh ke gadis yang bergerak dengan gemulai di tengah ruangan dalam dekapan seorang pria, dan sejenak ia hanya menatap dan terpana. Fay terlihat tinggi semampai karena sepatu berhak yang dia pakai. Lekukan tubuhnya tampak jelas dengan baju yang menempel ke badan. Selama beberapa saat Kent seperti terbius. Kakinya membawanya masuk ballroom sementara matanya terus memandangi Fay, dan pikirannya membawanya ikut mengalun bersama  gerakan Fay. Betapa ia berharap pria yang membawa Fay meluncur di lantai dansa sambil mendekapnya adalah dirinya.

Kent menyusuri dinding untuk mendekat tanpa kentara dengan tatapan lekat pada Fay. Kedua matanya seakan tak rela dialihkan dari gadis yang hingga detik ini masih memenuhi setiap jengkal pikiran  dan hatinya, menyesaki dirinya. Terlebih selama hampir sebulan terakhir ini bisa dibilang ia tak pernah lepas dari sisi Fay.

Kent berhenti di dekat cermin, lalu menyandar ke dinding. Dari jarak ini ia bisa melihat wajah Fay yang manis jadi terlihat semakin menarik dengan rambut yang pendek dan diwarnai. Ia memperhatikan bagaimana tubuh Fay bergerak seperti mengalun seiring dengan ayunan kakinya. Rok mini setengah paha yang dikenakan Fay membuat kakinya yang mulus tampak jenjang—anggun dan seksi di saat yang bersamaan. Kent bisa merasakan bagaimana darahnya berdesir. Andai saja gadis ini bisa ia bawa ke dalam pelukannya sekarang...

Berikutnya, Kent mengaduh ketika merasakan sebuah tonjokan keras di lengannya. Ia menoleh dan melihat sepupunya, Reno  Corderro, sudah berdiri di sebelahnya sambil  menatapnya  tajam.  Kent mengelus-elus lengannya. ”Apa?” sahutnya kesal dengan suara rendah.

Reno tampak tak kalah kesal. Ia melirik Gerard dan  Fay  yang masih bergerak di tengah ruangan dan sepertinya belum sadar ada orang lain, lalu berkata pelan, ”Aku melihat caramu menatap Fay barusan! Ingat ya, jangan macam-macam kalau tidak mau kepalamu kuhantam!”

”Paman menyuruhku mendampingi Fay sebisaku, jadi urus saja urusanmu sendiri!” sahut Kent.

Reno mendengus. ”Paman juga meminta hal yang sama dariku. Tapi, aku tidak setolol kamu yang melihat instruksi itu sebagai kesempatan. Kalau tidak bisa menahan diri, cepat atau lambat kamu akan mendapat kesulitan dan akan menyeret Fay dalam kesulitan yang sama.” Ia diam sebentar, kemudian melirik Kent dan langsung bersuara, ”Setidaknya, singkirkan cengiran jelek itu dari wajahmu!” Kent mengibaskan tangan dengan cengiran semakin lebar—ia tahu wajahnya mengkhianatinya. Lisannya bisa saja menyangkal setiap tuduhan Reno, tapi hatinya tidak. Ia tahu instruksi pamannya agar ia mendampingi Fay selama hampir sebulan terakhir ini bagaikan pisau bermata dua, tapi ia tak ambil pusing. Sama seperti tugas terakhirnya bersama Fay di Fontainebleau, ia tak bisa mencegah sebagian dirinya yang langsung melambung karena mendapat kesempatan emas untuk berdekatan dengan Fay.

Musik berhenti. Tatapan Kent dan Reno sontak  terarah  pada Fay.

Fay tertawa ketika Gerard bertepuk tangan.

”Trés bien, Fay. Bagus sekali. Saya rasa kamu sudah siap berdansa seperti seorang lady  saat pesta besok malam.” Gerard memeluk dan mencium pipi Fay. ”Semoga sukses di pesta besok.”

”Merci,” balas Fay dengan rasa haru. Tanpa Gerard, entah seperti apa nasibnya besok.

Gerard beranjak ke ruang ganti dan Fay baru saja  berniat  mengikuti Gerard ketika ada yang memanggilnya.

”Fay...”

Fay mengangkat alis melihat Reno dan Kent berjalan ke arahnya dari sisi ruangan. ”Kalian ngapain ke sini?” tanyanya panik. Apakah mereka tadi menontonnya latihan dansa? Gawat!

Kent menatap Fay tanpa menyembunyikan kekagumannya. ”Aku belum pernah melihatmu mengenakan rok seperti ini. Kamu... sangat feminin dan cantik sekali.”

Fay langsung merasa wajahnya sedikit panas. Sebelum ia sempat menanggapi Kent, sudah terdengar suara Reno yang berkomentar dengan intonasi datar.

”Ya... ya... aku setuju kamu tampak feminin, tapi rokmu terlalu pendek!”

Fay memelototi Reno dengan kesal. ”Eh, rok ini aku yang pakai, kenapa kamu yang ribut! Lagi pula, bukan aku yang memilih... Ms. Connie yang memberikannya padaku!”

Sebuah cengiran jail terlihat di wajah Kent. ”Aku akan mengucapkan terima kasih pada Ms. Connie bila bertemu dengannya nanti.” Reno mengepalkan tangan dan menonjok Kent, tapi Kent menangkis sambil mundur dengan wajah masih memampangkan cengir-

an.

Kent bertanya, ”Kamu jadi ke apartemen? Mau aku antar? Mungkin nggak sempat kalau kamu mau cat dindingnya, tapi kalau sekadar menghabiskan waktu di sana sebentar sih bisa.”

Reno menyambar, ”Tidak bisa! Kalian tidak akan sempat kembali ke sini sebelum pukul tujuh.”

Fay baru saja mau menanggapi, tapi terdengar telepon genggam Reno berbunyi.

”Ya, Sam... kenapa?” tanya Reno lewat telepon genggam. Ia menyimak sebentar, kemudian perlahan-lahan  sebuah  cengiran  terbentuk di wajahnya. Matanya pun berkilat-kilat jail. Setelah menutup telepon, ia berkata tanpa kehilangan cengiran di wajahnya. ”Lupakan   ide ke apartemen Fay. Ada hal yang lebih menarik untuk kita lakukan sore ini.”

***

Fay menggigit pai ayam jamur sambil merem-melek ketika semua  saraf perasanya mengecap nikmatnya rasa asin nan gurih. Ia kini berada di lantai mezanin ruang rekreasi yang telah berubah menjadi area piknik penuh tawa dan canda, bersama Sam, Reno, dan Kent  yang juga sibuk menikmati kue-kue pai yang nikmatnya selangit itu. Di atas meja bertebaran kertas-kertas alas kue pai yang baru mereka colong dari dapur.

Ide gila mencuri pai dari lemari dapur datang dari Sam,  yang sangat kelaparan karena terlambat datang ke ruang makan  untuk  acara minum teh. Tepat waktu Sam masuk ke ruangan, kue-kue di  meja makan sedang diangkut oleh pelayan ke dapur. Sam mencoba meminta kue yang masih berjajar dengan manis di meja dapur, tapi pelayan  yang  mirip  tiang  listrik  berkumis  berkata  dingin,  ”Pardon, Monsieur... tapi Anda tahu aturannya. Makanan dilarang dibawa keluar dapur di luar jam yang telah ditentukan.” Konyol sekali, padahal hanya selisih beberapa detik! Jadilah si Sam meledak dan langsung merencanakan perampokan gila ini dengan membabi buta. Fay dan Kent serta Reno kebagian tugas membuat asap putih dengan es kering di balik pintu-pintu menuju dapur, sehingga  semua  orang  yang ada di dalam dapur panik dan keluar dari dapur lewat pintu ke arah area servis. Setelah dapur kosong, Fay dan Kent masuk dari pintu lain dan mengambil pai dari lemari penyimpanan, sementara Reno mengambil berbagai kaleng minuman dingin dari kulkas. Sam sendiri akan bertindak bak penyelamat. Ia memeriksa dapur untuk memastikan kondisi aman terkendali, sekaligus menenangkan kru dapur sehingga tidak menelepon Nikolai, kepala keamanan.

Terdengar suara pintu ruang rekreasi terbuka, lalu langkah kaki menapaki tangga menuju lantai mezanin.

Fay berhenti mengunyah. Reno menegakkan tubuh dan bersiap mengintip siapa yang naik, ketika tiba-tiba seorang penjaga muncul   di lantai mezanin.

Fay menahan napas.

”Mademoiselle,  Anda  ditunggu  Mr.  Lang  di  ruang  duduk  kecil sekarang.” Setelah mengucapkan itu, penjaga kembali turun.

Semua mengembuskan napas lega.

Sam mengempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. ”Aku pikir tadi ketahuan.”

Kent, yang duduk di sebelah Fay, bertanya, ”Kenapa Raymond mau menemuimu di ruang duduk kecil?”

”Dia bilang mau mengajak aku keliling di bawah tanah dan menunjukkan ruang-ruang yang ada di sana.”

Sam langsung menegakkan tubuhnya dan bereaksi. ”Yang benar saja... selama ini kamu belum diajak ke bawah? Besok kan sudah jamuan!” serunya. Reno, yang duduk di hadapan Fay, juga ikut mengangkat alis, sementara Kent menatap Sam dengan dahi sedikit berkerut.

Fay menatap para sepupunya bergantian dengan sedikit waswas dan menjawab, ”Andrew sudah mengajakku keliling kastil di minggu pertama aku di sini, tapi tidak sempat ke bawah tanah karena dia keburu pergi untuk suatu urusan... entah  apa,  aku  lupa.  Habis  itu dia nggak pernah ngomong apa-apa lagi. Kenapa memangnya?”

Sam sejenak hanya menatap Fay, seperti menimbang-nimbang sesuatu. Ia akhirnya menoleh ke Reno. ”Kita harus memperingatkan Fay sekarang. Besok malam sudah jamuan, jadi aku rasa ini adalah saatnya... sudah tak ada waktu lagi. Pasti akan terjadi sekarang.”  Reno menatap Sam, sejenak tidak berkata-kata. Akhirnya ia mengangguk.

Fay mengangkat alisnya sedikit. ”Memberi peringatan apa?” Ia menoleh pada Kent, berharap mendapatkan jawaban, tapi Kent ma lah berdiri. ”Kamu mau ke mana?” tanya Fay.

”Aku harus pergi sekarang. Ada latihan anggar dengan Philippe di sebelah. Tenang saja, Fay. Sampai ketemu saat makan malam.”

Fay melihat Kent tersenyum sedikit seperti mencoba menenangkannya sebelum berlalu.

Sam berkata dengan nada rendah, ”Aku benar-benar tidak tahu kamu belum pernah ke bawah. Kalau aku tahu, sudah dari kemarinkemarin aku memberitahumu... Semua anggota keluarga pasti melaluinya... kami dulu juga mengalaminya ketika baru bergabung.”

”Memberitahu apa?”

Reno berkata lamat-lamat. ”Kamu sebaiknya menyiapkan mental. Tur keliling basement itu mengerikan sekali. Mudah-mudahan kamu tahan.”

”Mengerikan bagaimana?” tanya Fay, lalu mengubah posisi duduknya dengan gelisah.

Sam menjawab, ”Ada banyak sekali ruangan berisi alat penyiksaan yang merupakan warisan abad pertengahan. Kamu tahu sendiri abadabad pertengahan di Eropa adalah masa-masa biadab ketika orang mengalami penyiksaan yang mengerikan. Biasanya anggota keluarga yang baru bergabung akan dites dengan alat-alat itu. Itu sebabnya tur keliling basement dipisah dengan tur keliling bagian kastil yang lain.”

Fay menegakkan tubuhnya dengan kaku. Tenggorokannya mendadak kering dan perutnya menegang. Di pikirannya muncul kembali bayangan ruang putih dan tiga orang berpakaian serbahitam yang menghujaninya dengan pukulan—bayangan itu sebelumnya sudah sedemikian samar, namun sekarang menampakkan dirinya lagi. Belum cukupkah itu semua? Apa lagi yang harus ia hadapi sekarang? Dan kenapa sekarang, ketika kehidupannya di keluarga ini berjalan sempurna?

Sam menatap Reno. ”Apa kamu ingat ada berapa ruangan?” tanyanya. Reno mengerutkan dahi. ”Sudah lama sekali... aku agak lupa.

Kalau tidak salah, ada tujuh ruangan.”

Fay sejenak tidak bisa berkata-kata. Tujuh?  Dipukuli  di satu  ruangan saja sudah hampir membuatnya semaput! Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tapi apa yang bisa ia lakukan?

”Lantas, aku harus bagaimana?” tanya Fay. Ia meremas-remas kedua tangannya yang mulai dingin.

Reno mendekat ke arah Fay, lalu merangkul Fay dan menepuknepuk pundaknya. ”Tidak ada yang bisa kamu lakukan... ini adalah satu hal yang tidak bisa dihindari. Kami semua dulu juga melaluinya  saat baru bergabung.”

Sam berkata, ”Kamu bisa berteriak sekencang-kencangnya kalau rasanya terlalu menyakitkan. Aku yakin Paman akan mengerti...”

”Kecuali  di  ruang  keenam,”  potong  Reno.  ”Mulutmu  akan  dibekap. Usahakan untuk tidak pingsan, karena kalau iya, kamu akan disiram air es, dan rasanya akan sangat menyakitkan bila mengenai luka-luka di tubuhmu.” Reno mengernyit, lalu melihat ke arah Sam, ”Apakah ada Philippe? Biasanya dia hadir untuk menjahit luka-luka kita.”

Sam mengangkat bahu lalu menjawab, ”Kalau Fay tidak banyak bergerak di ruang kelima, aku rasa lukanya tidak akan terlalu lebar. Raymond bisa menanganinya sendiri.”

Seorang wanita berseragam pelayan masuk ke ruang rekreasi dan berkata dengan suara agak keras dari bawah. ”Mademoiselle, saya diminta mengingatkan bahwa Tuan Lang sudah menunggu di ruang duduk kecil.”

Fay turun dari lantai mezanin dengan lutut lemas. Ia berhenti dan menoleh ketika Sam memanggil namanya.

”Ingat, Fay, jangan melawan. Kamu boleh berteriak sekeras yang kamu mau, tapi jangan melawan. Kalau kamu melawan, Raymond akan memanggil paman yang lain dan mereka  akan...  yah,  kamu  tahu lah... bisa-bisa kamu tidak keluar dari basement sampai pagi. Good  luck.”

*** Fay melangkah dengan berat di koridor sayap kanan sewaktu melihat Raymond keluar dari ruang duduk kecil dan menutup pintu.

Fay langsung merasa detak jantungnya meningkat drastis. Sejauh  ini ia sudah mendeklarasikan Raymond sebagai paman favoritnya. Raymond tidak pernah menunjukkan wajah jutek  seperti  Philippe, dan ketegasannya selalu diiringi sikap santai  tanpa  intimidasi. Namun, busana yang dipakai Raymond kali ini memunculkan sedikit keraguan dalam hati Fay. Atasan kaus lengan panjang  berwarna  hitam, dengan celana yang juga hitam adalah busana lapangan yang biasanya dipakai Raymond ke kantor. Kenapa Raymond mengenakan busana seperti itu di rumah?

”Hi,  Fay.  Is  everything  fine?” tanya Raymond.

”Fine,  thanks,”  jawab  Fay  singkat.  Fine?  Mungkin  jawaban  itu sudah tidak berlaku sebentar lagi, pikirnya mulai panik. Tangannya refleks bergerak untuk membetulkan kucir rambutnya, tapi ia segera ingat kucirnya sudah tak ada dan menurunkan tangannya.

Fay mengikuti Raymond ke sebuah lekukan di dinding di dekat pintu. Di balik lekukan tembok ada sebuah pintu besi dengan motif timbul berpola simetris di kedua daun pintunya. Raymond menarik gagang pintu yang berbentuk dua gelang besi, dan terlihatlah tangga turun menuju basement. Lampu otomatis menyala, namun hanya menerangi bagian tangga. Di ujung tangga kegelapan menyambut.

Perlahan Fay mengikuti Raymond berjalan ke lubang kegelapan yang menganga di bawah. Begitu kaki Raymond menghilang ke kegelapan dan menginjak lantai bawah tanah, tiba-tiba dia seperti bermandikan cahaya. Lampu menyala, menerangi area yang mengitari tempatnya berpijak.

Raymond menjelaskan, ”Area bawah tanah merupakan area terlarang bagi para pelayan dan bagi sebagian besar penjaga. Hanya Nikolai dan beberapa anak buah  pilihannya  yang  diizinkan masuk ke sini. Dari bentuknya, area ini merupakan perpanjangan ke bawah dari dua sisi kastil, yaitu sayap kanan dan kiri. Penghubung antara kedua sayap di bawah tanah ini adalah sebuah lorong yang berada     di bawah taman labirin. Jadi, bila bangunan di lantai atas berbentuk huruf U, maka area bawah tanah berbentuk huruf H.” Raymond mengajak Fay ke lorong di sebelah kanan. Ketika mereka mulai berjalan, lampu di area yang mereka tinggalkan di belakang secara otomatis mati dan lampu di depan mereka menyala, seakan-akan cahaya ikut berjalan mengawal mereka.

”Di sebelah kanan adalah meeting room, ruang pertemuan aman yang biasanya dipakai oleh saya dan paman yang lain untuk mendiskusikan masalah-masalah kantor yang dikategorikan sensitif. Tidak ada informasi yang bisa keluar dari ruangan itu. Dindingnya tebal, dilapis baja dan material khusus yang sekaligus juga mengacak sinyal sehingga tidak bisa dipenetrasi alat elektronik apa pun. Sweeping juga selalu dilakukan sebelum pertemuan berlangsung. Para keponakan masuk ke ruangan ini secara berkala, saat evaluasi enam bulanan. Kali ini saya tidak akan mengajak kamu masuk.”

Fay mengangguk lalu menggigit bibir. Bukan ruang yang ini— apakah ia harus lega atau panik mendengarnya?

Mereka terus berjalan hingga di sebelah kiri terlihat lorong yang  masih gelap gulita.

Raymond berkata, ”Ini lorong penghubung antara kedua sayap basement. Kita selesaikan dulu bagian ini, baru menyeberang ke sayap kiri.”

Fay terdiam dan berpikir sejenak. Kalau Raymond bilang mau menyelesaikan bagian kanan, berarti kemungkinan ruang-ruang yang disebutkan Sam ada di sayap kiri. Sebagian dirinya merasakan kelega an semu karena saat itu belum tiba, tapi sebagian yang lain merasa tersiksa dengan penantian yang menjadi lebih panjang. Ia pun menyeret kakinya yang terasa semakin berat.

Mereka tiba di ujung koridor, di sana terdapat sebuah pintu.

Raymond membuka pintu lalu menyalakan sakelar lampu. Fay tersentak ketika melihat ruang-ruang berjeruji seperti sel berderet berhadap-hadapan. Ia merasa sudah hampir melorot ke lantai saking lemasnya, tapi lalu tersadar tidak ada peralatan apa pun dalam sel-sel itu. Semua sel kosong melompong tanpa perabot apa pun, dengan kesan suram yang dipancarkan dinding dan lantai batu yang berwarna gelap dan bau lumut, serta penerangan yang pas-pasan. Ia hampir lemas lagi melihat sel tertutup di bagian ujung, tapi ketika melihat hanya ada dua ruangan seperti itu, bukannya tujuh seperti kata Reno, harapannya bangkit lagi.

Raymond berkata, ”Sel-sel ini sudah ada sejak kastil ini dibuat. Semua keponakan McGallaghan yang saya kenal pernah merasakan tidur di sini setidaknya semalam, termasuk saya sendiri.”

Fay menahan napas sambil melirik Raymond, namun ia melihat ekspresi pamannya itu tetap santai. Ia tidak mengerti—inikah ruangan yang dimaksud Sam dan Reno? Mungkin tidak, karena Raymond hanya berdiri di pintu dengan santai dan tidak ada tanda-tanda akan mengajaknya ke dalam.

Raymond melanjutkan, ”Semoga saja kamu tidak sebodoh saya atau yang lain, yang harus merelakan kasur empuk dan menggantikannya dengan lantai keras karena pelanggaran-pelanggaran bodoh yang akan kamu sesali belakangan. Saya jamin di musim dingin kamu akan menyesal sekali kalau harus tidur di sini.”

Berikutnya, Raymond menuju pintu yang posisinya agak menjorok ke dalam. Begitu Raymond membuka pintu dan menyalakan lampu, terlihat ruang itu berwarna serbaputih, dengan sebuah kursi di tengah ruangan.

Fay merasa napasnya sesak. Di sinikah ia berhadapan dengan Andrew waktu itu? Ia pun menyandar ke dinding di dekat pintu dengan tenaga yang mendadak seperti tersedot habis.

”Ruang Putih. Hanya ada tiga ruangan seperti ini. Satu di kantor, satu di kastil ini, dan yang satu lagi ada di kastil di London. Sebenarnya kecil sekali kemungkinan untuk duduk dan menjadi pesakitan di Ruang Putih di rumah, untuk urusan rumah. Ruang ini biasanya hanya digunakan untuk kelalaian serius dengan akibat yang bisa merugikan keluarga, seperti beberapa pelanggaran daftar merah. Ada juga urusan yang tampak sepele tapi bisa menyeretmu ke sini, yaitu bila kamu menyerang atau melawan para penjaga rumah. Mereka adalah perpanjangan tangan saya dan paman yang lain, jadi membangkang terhadap mereka sama saja dengan melawan kami langsung.”

Fay mengangguk. Pantas saja para sepupunya tidak pernah melawan atau membantah instruksi para penjaga yang tersebar di segenap penjuru kastil. Raymond menutup pintu dan mengajak Fay menyeberang ke sisi lain dari area bawah tanah, menyusuri sebuah koridor panjang yang berada tepat di bawah taman labirin. Fay mengayunkan kaki langkah demi langkah dengan degup jantung yang ia yakin bisa terdengar dari luar.

Sebentar lagi.

Mereka masuk ke sebuah ruangan luas seperti aula. ”Ini Aula Bawah Tanah,” jelas Raymond sambil menyalakan salah satu sakelar lampu. ”Aktivitas terpenting yang dilakukan di ruang ini adalah duel untuk memilih pimpinan keluarga.

Fay ternganga sesaat. ”Duel?” tanyanya untuk meyakinkan diri bahwa telinganya tak salah tangkap.

”Ya. Perkelahian satu lawan satu,” jawab Raymond. ”Kamu sudah mulai membaca The Code, jadi saya rasa kamu tahu bahwa di setiap masa kepemimpinan di keluarga McGallaghan selalu ada tiga generasi yang terlibat.”

Fay mengangguk. Ia ingat istilah untuk tiga generasi yang dimaksud: fte Base atau generasi ”keponakan”, fte Pillar atau generasi para ”paman”, serta fte Shadow yang merupakan generasi di atas para paman.

Raymond melanjutkan, ”Pergantian kekuasaan di keluarga ini dilakukan per generasi. Bila para paman menyerahkan tampuk pimpinan ke para keponakan, maka para paman berubah statusnya dari fte Pillar menjadi fte Shadow. Para keponakan otomatis akan naik menjadi fte Pillar dan setelah beberapa waktu akan mulai mencari bibit-bibit baru yang akan mengisi fte Base. Demikian siklus itu berulang.

”Duel dilakukan bila ada dua keponakan yang dianggap kandidat pimpinan yang setara. Bila hanya ada satu kandidat, maka tidak ada duel dan pimpinan diangkat secara langsung—ini yang terjadi dengan Andrew dulu.

”Seorang pimpinan McGallaghan yang telah berkuasa selama tujuh tahun bisa ditantang oleh anggota lain di generasi yang sama. Dalam duel, selama sepuluh menit pertama, pemimpin keluarga ha rus menggunakan McGallaghan Sword, sedangkan penantangnya menggunakan sabre, sejenis pedang dalam permainan anggar. Setelah sepuluh menit, kedua peserta bebas mengambil senjata yang disediakan di pinggir aula, atau bertempur tangan kosong. Yang jelas, pertandingan tidak berhenti sampai salah satu kalah atau menyerah.

”Hingga akhir abad kesembilan belas, memenangkan sebuah duel adalah satu-satunya kriteria yang dipakai untuk merebut posisi pimpinan klan ini. Namun, setelah masa itu, kriteria yang digunakan terus bertambah, dengan duel hanya sebagai salah satu komponen.” Bibir Fay membentuk huruf ”o” tanpa suara. Pantas saja di ke-

luarga ini ada latihan pedang!

”Apakah ada yang pernah menantang Paman Andrew?” tanyanya.

Raymond menjawab, ”Philippe pernah melakukannya tujuh tahun lalu, tapi  tidak berhasil. Permainan anggar Philippe luar biasa dan  bisa dibilang dia yang terbaik di generasi saya. Namun, mengalahkan Andrew tidak cukup dengan mengandalkan keterampilan anggar saja. Selain permainan pedang yang tak kalah mengesankan, Andrew juga ahli strategi.”

Sejenak Fay seperti kehilangan kata-kata. Fakta bahwa di keluarga ini ada duel pedang saja sudah membuatnya ternganga, apalagi kenyataan bahwa si mister jutek Philippe Klaan ternyata punya kesempatan menjadi penguasa keluarga ini—benar-benar fakta yang tak mengesankan!

Raymond mematikan sakelar lalu bergerak ke pintu. ”Hanya ada satu ruangan lagi, yaitu aula yang khusus digunakan untuk latihan menembak.”

Fay menggigit bibir. Ruangan terakhir. Sudah sedemikian dekat kah nasib buruknya?

Raymond membuka sebuah pintu. Terlihat ruangan dengan boksboks untuk menembak. Di kejauhan terlihat papan target yang bisa diganti dan digeser. Ada sebuah pintu kecil di sisi dinding.

”Itu pintu ke mana?” tanya Fay.

”Ruang Labirin. Kamu belum akan menggunakannya dalam waktu  dekat,”  jawab  Raymond.  Ia  mengangkat  tangan  lalu  melihat ke jam tangan. ”Kita terlambat sedikit untuk makan malam. Kita langsung naik saja sekarang.” Fay sejenak terdiam, sebelum akhirnya bertanya, ”Sudah selesai?” ”Ya, sudah selesai.”

Fay sesaat terpaku, menyaksikan pamannya bergerak ke arah tangga. Ia menjajari langkah Raymond dan bertanya, ”Waktu tadi Paman bilang sudah selesai, berarti saya tidak perlu ke sini lagi setelah makan malam atau besok-besok? Sudah selesai semuanya?”

Raymond berhenti melangkah, lalu menoleh, ”Untuk hari ini  sudah cukup... kalau kamu masih belum puas, saya rasa kamu bisa turun dan melihat-lihat sendiri. Kenapa, Fay?”

Fay menatap Raymond tanpa berkata-kata, mencoba merangkai potongan-potongan adegan yang bertebaran di benaknya. Perlahanlahan kesadaran menghampirinya dan di detik berikutnya ia langsung merasa seperti berada di panggung sambil disoraki penonton dan dilempari telur busuk. Bodoh sekali!

Ia mencoba memampangkan sebuah senyum walaupun ia merasa ubun-ubunnya seperti mengeluarkan asap. ”Tidak apa-apa, Paman,” jawabnya akhirnya, lalu mengikuti Raymond ke arah tangga sambil bersumpah serapah dalam hati. Kalau bisa, sekarang juga ia ingin menembak Reno dan Sam! Dasar cowok-cowok gila!

***

Ketika Fay dan Raymond tiba di ruang makan kecil, Reno, Sam, dan Kent sudah duduk di meja makan, sedang menyantap hidangan pembuka.

Sam menyapa sambil memampangkan cengiran lebar. ”Hai, Fay, bagaimana turnya? Kami berdoa kamu baik-baik saja karena...,” Sam berhenti sebentar, lalu melanjutkan, ”...teriakan-teriakan kesakitanmu terdengar sampai ke ruang makan.”

Dengan kalimat itu, tawa Sam dan Reno langsung pecah. Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal hingga kepala Reno terdongak ke belakang, sedangkan Sam membungkuk hingga hampir jatuh dari kursi. Kent ikut tertawa dan mencoba menutup mulutnya tanpa kentara dengan mendekatkan tangannya yang memegang garpu ke wajah. Fay merasa mukanya panas.

Reno berhenti tertawa dengan susah payah. ”Sam, sebentar... tunggu dulu!” Ia seperti teringat sesuatu dan wajahnya berubah serius. ”Tidak benar kalau kamu bilang teriakan Fay terdengar sampai sini... karena mulutnya kan dibekap di ruang keenam...” Kalimat itu memicu serangkaian tawa lagi dari Reno dan Sam, lebih keras   dari sebelumnya. Sambil tertawa, Reno memajukan kepalan tangannya ke Sam, yang langsung disambut oleh Sam seraya terbungkukbungkuk, dengan tawa yang belum selesai dan muka merah.

Sam  menambahkan,  ”So,  tell  us,  Paman  Ray,  ada  berapa  jahitan yang ada di tubuh Fay sekarang?” Mereka pun kembali tertawa seakan-akan itu lelucon terlucu abad ini.

Fay cemberut melihat mereka berdua. Sialan! Cowok-cowok kurang kerjaan! Untung ia nggak sampai mempermalukan dirinya di depan Raymond dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh. Kalau saja sekarang tidak ada Raymond di sebelahnya, ia tidak akan ragu untuk melepas sepasang sepatunya dan menimpuk keduanya hingga benjol. Menyebalkan!

Raymond duduk di sebelah Reno, diikuti Fay sengaja yang memilih duduk di seberang Raymond supaya bisa memelototi Reno yang ada di sebelah pamannya.

Reno meregangkan badan sambil tersenyum lebar. ”Sudah lama aku tidak tertawa sepuas itu... Sori, Fay, wajahmu  tadi  sore  lucu sekali begitu Sam mulai bercerita tentang ruang bawah tanah. Aku tidak  bisa  menahan  diri  untuk  tidak  ikut  dalam  permainannya.”  Ia tertawa kecil ketika melihat Fay masih menatapnya jengkel.

Fay ganti memelototi Kent yang sudut bibirnya masih terangkat. Kent tertawa sedikit, kemudian berkata, ”Maaf, Fay. Aku tahu kamu akan dikerjai waktu Sam memberi kode. Aku nggak bisa apaapa, tapi aku kan tadi sudah kasih petunjuk dengan bilang kamu

tenang saja, dan aku akan menemuimu saat makan malam.”

Fay masih melirik Kent dengan sewot, tapi kemarahannya mulai luruh. Iya juga... Kalau ia ingat-ingat lagi sekarang, sorot mata Kent saat menatapnya tadi seperti menyiratkan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aih, bodohnya kamu, Fay! Raymond tersenyum. ”Ternyata sama saja. Saya dulu ditakut-takuti oleh sepupu yang lain sebelum akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri. Umur saya saat itu masih tiga belas tahun, kurang-lebih sama seperti kalian dulu saat diajak melihat ruang bawah tanah.”

”Siapa yang dulu menakut-nakuti Paman?” tanya Sam.

”Andrew  dan  Leopold.”  Raymond  menoleh  ke  Fay  dan  menjelaskan, ”Leopold adalah yang pertama direkrut di generasi saya. Dia sudah meninggal sekitar dua puluh tahun lalu.” Ia melanjutkan, ”Cerita-cerita mereka tentang apa saja yang terjadi di basement berhasil memengaruhi saya, sehingga waktu turun ke basement rasanya saya sudah mau pingsan. Begitu acara tur selesai dan saya kembali ke ruang rekreasi, mereka berdua terpingkal-pingkal, seperti kalian berdua barusan.”

Reno bertanya, ”Apa saja yang mereka ceritakan?”

”Segala hal yang bisa ditemukan di film horor. Mulai dari koleksi potongan-potongan tubuh manusia, mayat-mayat yang digantung. Mereka bahkan bilang dinding-dinding dilapis dengan darah dan ada ritual pengorbanan manusia.”

Reno dan Sam tertawa kecil.

Raymond   mengangguk   sambil   tersenyum,   ”Oh   yes.   They’re unbelievable.”

”And you believed them?” tanya Kent dengan nada menghina dan cengiran di wajah.

Raymond mengangkat tangannya membela diri. ”Hey,  I  was  only thirteen... Lagi pula, saya penggemar film horor, jadi cerita-cerita mereka benar-benar memengaruhi otak saya. Dan harus kamu akui keluarga ini memang bukan keluarga biasa.”

Fay akhirnya tersenyum mendengar kalimat itu. Setidaknya bukan cuma ia yang merasa begitu. Dan, bukan cuma dirinya yang punya kisah memalukan seperti tadi.

”Bagaimana dengan Paman Philippe, Steve, dan James... mereka tidak ikut menakut-nakuti?” tanya Fay akhirnya.

”Tidak. Mereka bertiga masuk setelah saya. Philippe ketakutan setengah mati sampai mukanya pucat pasi, dan saya yakin melihat lututnya gemetar ketika turun tangga.” Fay menyeringai puas. Ternyata si kakek sihir  penakut! ”Sedangkan Steve, tidak terlalu bisa dipengaruhi cerita-cerita

spektakuler Andrew dan Leopold. Lagi pula badan Steve besar dan ekspresinya datar, jadi mereka berdua kurang tertarik melakukannya. Beda dengan James, yang direkrut terakhir. Mereka berdua semangat sekali menakut-nakuti James... Saya cukup yakin James sudah hampir pingsan saat mendengar cerita mereka, untung Michelle datang dan menyelamatkannya. Andrew dan Leopold langsung tutup mulut— mereka berdua tergila-gila pada Michelle sejak pertama dia bergabung.”

”Siapa Michelle?” tanya Fay. Sudah beberapa kali ia mendengar nama Michelle disebut dalam beberapa minggu terakhir ini. Sekali waktu ia pernah dihina Philippe ketika sedang makan malam ber sama paman yang lain, ”Fay mungkin pemegang rekor terlambat sepanjang sejarah wanita McGallaghan... sama sekali tidak sebanding dengan  Michelle...”  Untung  Raymond  membelanya  dengan  bilang bahwa tidak sepantasnya ia dibandingkan dengan Michelle karena ia baru saja masuk ke keluarga ini. Andrew malah mencela Philippe sambil lalu, ”Michelle kamu bilang? Jangankan Fay, kamu saja dulu sulit  menyamai  Michelle.”  Ha!  Untung  saja  waktu  itu  ada  dua pengawasnya di meja makan!

Fokus Fay kembali ke meja makan dengan jawaban Raymond. ”Michelle adalah satu-satunya wanita McGallaghan di generasi

saya, direkrut tak lama setelah saya, sebelum Philippe. Andrew dan Leopold bersikap sangat manis ketika tiba saatnya Michelle tur ke basement. Dia meninggal di waktu yang kurang-lebih sama dengan Leopold.”

”Saya  tak  bisa  membayangkan  Paman  Andrew  bisa  jatuh  cinta,” ucap Fay spontan.

Raymond tertawa kecil. ”Dari posisimu sebagai keponakan yang diawasi Andrew, saya rasa mungkin memang sulit membayangkannya. Tapi, kalau kenal Michelle, kamu akan tahu bahwa sama sekali tak mengherankan bila banyak pria tergila-gila padanya. Rambut pirang emasnya panjang, wajahnya aristokrat, serta gerakannya anggun dan feminin. Dia juga sangat ramah dan baik pada semua orang, bahkan pada mereka yang baru dia kenal. She was lovely and kindhearted. Tak ada yang akan percaya bahwa wanita yang sama juga bisa menembak dengan jitu, bergerak dengan tangkas melalui rintangan saat latihan dan dalam tugas lapangan, dan memberi serangan mematikan dengan tangan kosong.”

Fay menyuap makanannya dengan dada seperti melesak ke dalam. Deskripsi Michelle yang begitu sempurna membuatnya sesak napas. Kalau ia diharapkan untuk bisa menyamai Michelle, mending ia nyebur ke laut aja dari sekarang.

”Siapa yang akhirnya menang mendapatkan Michelle? Andrew atau Leopold?” tanya Sam.

”Michelle memilih Leopold.”

”Bukankah tak boleh ada hubungan khusus antar-anggota keluarga?” tanya Fay. Ia sempat menyesal mengeluarkan pertanyaan itu ketika melihat Reno dan Kent meliriknya tajam, tapi untung Raymond menjawabnya dengan santai.

”Peraturan itu baru ditambahkan belakangan, dipicu apa yang terjadi atas Michelle dan Leopold. Suatu hari mereka berdua menghilang begitu saja. Kami semua, sepupu mereka, sampai diinterogasi satu per satu di Ruang Putih. Andrew diinterogasi  paling  lama  karena hubungannya dengan Leopold sangat erat. Awalnya, pimpinan keluarga mengeluarkan perintah untuk menangkap mereka hiduphidup. Namun, setelah beberapa bulan pencarian tak membuahkan hasil dan tak ada kabar dari mereka, perintah itu berubah menjadi: tangkap hidup-hidup bila mungkin, atau tembak di tempat.”

Fay merasa napasnya terhambat. Selama beberapa saat ia hanya  menatap Raymond tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Akhir nya ia bertanya dengan suara tercekat, ”Kenapa ada perintah tembak di tempat?”

”Karena, melarikan diri adalah satu bentuk tindakan pengkhianatan, dan pengkhianatan bukan hal main-main di keluarga ini. Pimpinan keluarga sudah bersikap toleran dengan memberi instruksi tangkap hidup-hidup selama beberapa bulan. Itu artinya dia masih bersedia menunggu demi mendengar penjelasan dari Leopold dan Michelle. Karena mereka tidak juga memberi kabar setelah beberapa bulan, berarti jelas mereka tidak menunjukkan iktikad baik dan tak berniat kembali. Kalian tentunya tahu, di dalam The Code disebutkan bahwa satu-satunya cara untuk meninggalkan keluarga ini adalah dengan menyerahkan nyawa—dengan kata lain, pilihan itu tak pernah ada.”

Fay merasa bulu kuduknya meremang. Tiket satu arah ke Paris... rupanya ini maksudnya, pikirnya dengan tatapan menerawang dan napas berat. Suara Kent membuat benak Fay kembali menapak.

”Apa yang terjadi selanjutnya?”

”Hampir setahun setelah pelarian, jenazah Michelle ditemukan dengan satu lubang peluru di dahi, dan jenazah Leopold ditemukan dalam sebuah kebakaran di sebuah gedung. Hingga sekarang alasan pembunuhan itu, juga alasan mereka berdua melarikan diri, tak diketahui dengan pasti. Hanya saja, diasumsikan bahwa tindakan pelarian mereka ada hubungannya dengan status mereka berdua yang memang berpacaran, dan eksekusi mereka mungkin dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin mengorek informasi. Kemudian, kasus ditutup, dan dibuatlah aturan baru yang mengatur interaksi antaranggota keluarga. Pengawasan terhadap pelanggaran yang bisa mengarah pada pengkhiatan juga diperketat.”

Sisa makan malam dilanjutkan sambil bercakap-cakap santai, tapi Fay lebih banyak diam. Benaknya masih memikirkan penjelasan Raymond, terutama fakta tentang perintah  tembak  di tempat. Selama ini kesehariannya di keluarga ini berjalan tenang tanpa bayang bayang kekerasan, sehingga fakta itu jadi terdengar tak nyata.

Setelah makan malam selesai, Raymond berkata, ”Saya ingin latihan di aula bawah tanah setengah jam lagi. Ada yang bersedia jadi partner?”

”NO way!”  sahut Reno sambil sontak mengangkat kedua tangannya seperti menyerah.

Sam menggeleng cepat. ”Saya belum lama dirumahkan dengan Steve.

Sudah cukup.”

”Ah... kalian penakut sekali,” cela Raymond. ”Kamu, Kent?” ”No,  thanks,  Uncle.  Saya  bukan  lawan  yang  seimbang...  nanti

Paman mati bosan,” ucap Kent sambil tersenyum sopan. Terdengar dering telepon genggam dari saku celana. Fay terlompat sedikit ketika sadar itu bunyi dari sakunya! Ia buru-buru mengeluarkan telepon dan mematikan telepon tanpa melihatnya lagi. Pasti Enrique. Aduh, sialan!

Fay menggumamkan maaf pelan ketika beradu pandang dengan Raymond yang menatapnya lekat. Menggunakan telepon genggam di waktu makan adalah dosa besar di keluarga ini, dan semua harus mematikan telepon atau setidaknya menyetel telepon menjadi silent sebelum masuk ke ruang makan. Lewat sudut mata ia melihat Reno dan Kent memperhatikannya.

”Aktivitas sosialmu sepertinya banyak sekali, Fay,” ucap Raymond dengan intonasi santai, namun tanpa melepaskan tatapannya dari Fay. ”Kalau sekali lagi terjadi, saya terpaksa meminta Philippe memberimu pelajaran tambahan tentang tata krama.”

Fay buru-buru berkata, ”Tidak akan terjadi lagi... I promise.” Lagipula, Philippe? Tidak, tidak... ia tidak hanya berjanji, ia bersumpah!

Raymond berdiri sambil tersenyum. ”Fine. Sampai besok pagi.”

Fiuh! Dalam hati Fay nyengir lega.

Sam menggerutu, ”Waktu itu saya dihukum push-up tiga puluh kali oleh Philippe karena telepon berbunyi. Benar-benar tidak adil.”

Raymond mengangkat bahu dan berkata ringan, ”Dunia memang tidak adil, bukan? Telan saja nasib burukmu dan turut berbahagia untuk Fay yang nasibnya baik karena teleponnya berdering di depan saya, bukan Philippe.” Ia berlalu ke arah pintu, diiringi tawa semua, kecuali Sam yang masih bersungut-sungut.

Di pintu, Raymond tiba-tiba berhenti dan menoleh. ”Omongomong, Chef Pierrot tadi melapor makanan yang disimpan di lemari dapur raib.”

Semua yang ada di meja makan berhenti tertawa. Fay merasa perutnya langsung tegang.

Keheningan dipecahkan oleh Reno, yang bertanya dengan raut wajah serius, ”Apakah Paman yakin Chef Pierrot tidak sedang berhalusinasi?” Ucapan itu disambut oleh cengiran Sam dan tawa tertahan Kent, sedangkan Fay terbelalak menatap Reno. Apakah dia  sudah gila? Raymond menanggapi santai, ”Tidak, Reno, saya yakin sepenuhnya Chef Pierrot tidak sedang berhalusinasi atau menderita penyakit mental lain. Jadi, menurut kalian, apakah saya perlu mengorek infor masi dari mulut kalian untuk tahu  siapa  yang  bertanggung  jawab atas hal ini? Atau, kita biarkan saja kejadian ini berlalu, dengan jaminan bahwa tidak akan ada kejadian aneh lagi malam ini hingga jamuan besok?”

”Pilihan  yang  terakhir  terdengar  sangat  masuk  akal,”  sahut  Reno cepat. ”Walaupun bukan berarti saya tahu-menahu atas kejadian spektakuler tadi,” imbuhnya buru-buru.

Kent ikut berkomentar, ”Tidak akan ada kejadian aneh lagi... saya jamin.”

”Saya bahkan bisa bersumpah atas hal itu,” sambung Sam sambil cengengesan.

Tatapan Raymond beralih pada Fay.

Fay buru-buru mengangguk, tapi tidak mengatakan apa-apa. Apa yang bisa ia katakan? Ia belum segila para sepupunya!

Raymond  mengangguk.  ”Fine.  Malam  ini  Larry  dan  Lou  tiba  di Paris, jadi kalian akan berkumpul lengkap di rumah. Semoga kalian bisa memegang janji kalian itu. Sekadar mengingatkan, pengawas rumah hari ini sebenarnya adalah Philippe, dan dia akan pulang sebentar  lagi.  Good  night,  guys,”  ucapnya,  kemudian  melangkah  ke luar ruangan.

Selain menjadi handler bagi para keponakan, para paman bergantian menjadi house warden atau pengawas rumah yang bertanggung jawab atas kegiatan operasional rumah, termasuk memastikan aturanaturan rumah ditegakkan.

Sam berkomentar, ”Fiuh... nyaris. Kupikir pengawas rumah hari ini Raymond. Untung saja Philippe belum pulang.”

”Bukankah yang nyaris-nyaris seperti ini terasa sangat memuaskan?” tanya Reno sambil nyengir, disambut seringai lebar Sam yang langsung memberi salam fte Groundhouse pada Reno.

*** Andrew McGallaghan melangkah perlahan melintasi foyer yang diterangi cahaya temaram. Ia melirik arlojinya—tujuh menit menjelang tengah malam.

Suasana ini mengingatkannya pada makan malamnya barusan bersama wanita cantik bernama Isabella di sebuah restoran klasik yang romantis di pinggir Sungai Seine. Seulas senyum tipis terbentuk di wajahnya. Kalau saja tak ada aturan yang memisahkan secara tegas antara kehidupan di keluarga McGallaghan dengan kehidupan pribadi, mungkin ia sudah mengajak Isabella ke kastil ini untuk makan malam dalam suasana yang jauh lebih romantis daripada restoran tadi. Bisa ia bayangkan, sebuah meja untuk dua orang di sisi kolam air mancur di foyer ini, atau di gazebo dengan penerangan cahaya lilin, dilayani langsung oleh seorang chef pribadi dan anggur terbaik dari salah satu koleksinya yang bahkan tak dimiliki oleh  restoran termewah di negeri ini.

Telepon genggam Andrew berdering. Andrew melihat nama penelepon, Kepala Riset L’Hopital du Dent Blanche. Ia mengangkat telepon tanpa menghentikan langkah.

”Yes?”

”Sir, tadi pagi saya mengirim e-mail tentang laporan perkembangan riset atas dua pasien di Unit Eksperimen Pikiran dan Perilaku, berjulukan Batman dan Catwoman.”

”Sudah kubaca,” ucap Andrew, lalu berdecak. ”Tidakkah kau tahu pukul berapa sekarang?”

”Saya minta maaf, Sir. Seperti yang Anda ketahui, sudah hampir dua bulan berlalu dan pasien berjulukan Batman belum sadar juga   dari koma. Tim riset memberi rekomendasi pencabutan penunjang hidup Batman karena sangat tipis kemungkinannya dia akan sadar. Saya butuh jawaban malam ini, sehingga keputusan bisa saya jalankan besok pagi. Jadi, apa keputusan Anda atas Batman, Sir?”

Andrew menghentikan langkahnya di depan kotak kaca berisi McGallaghan Sword.

”Dari perkataan itu, kelihatannya kau sudah punya ekspektasi tersendiri atas keputusanku. Apa sebenarnya tindakan yang ingin kaujalankan besok pagi, berdasarkan keputusanku?” Suara Kepala Riset terdengar kaget. ”M... Maaf, Sir, bukan maksud saya lancang seperti itu. Tentunya tindakan tersebut dijalankan hanya bila Anda setuju dengan rekomendasi tersebut.”

Tatapan Andrew lekat pada McGallaghan Sword. Tak salah bila pedang ini menjadi simbol kepemimpinan. Dulu ia harus bisa membuktikan dirinya layak sebelum akhirnya pedang ini diserahterimakan ke tangannya. Hingga detik ini pun ia tetap harus membuktikan dirinya masih pantas menyandangnya lewat keputusan-keputusan sulit yang harus ia ambil, seperti sekarang. Semua keputusan mengandung konsekuensi yang harus ditanggung, tapi untuk itulah seorang pimpinan dibutuhkan—memanggul risiko untuk memenangkan kepentingan yang lebih besar di depan.

”Sir?”

”Hubungi aku lagi besok malam, setelah jamuan. Aku akan memberikan keputusanku saat itu,” tandas Andrew.

Hening sejenak, kemudian suara Kepala Riset kembali terdengar. ”Baik, Sir. Saya akan menghubungi Anda lagi besok malam. Have a good  rest,  Sir.”

”I  will,” jawab Andrew sambil menutup telepon, lalu melangkah ke koridor menuju kamarnya. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊