menu

Trace of Love Bab 01: A New Day

Mode Malam
A New Day

FAY   REGINA   MCGALLAGHAN   mencoba   menggerakkan kelopak mata ketika telinganya mendengar suara alarm jam beker. Pemandangan pertama yang tertangkap secara samar-samar oleh matanya yang mengintip malas dari balik kelopak adalah helaianhelaian kain tipis yang mengitari tempat tidur, diterangi cahaya lembut yang menyisip dari bawah pintu balkon.

Ia kembali menutup mata lalu menggeliat tanpa mematikan alarm, membiarkan bunyi mirip dentang lonceng yang bertalu-talu mengiringi gerakannya meregangkan tubuh. Setelah empat kali menggeliat ke kanan dan ke kiri, barulah ia membuka mata dan mengulurkan tangan ke meja nakas di sebelah tempat tidur untuk mematikan alarm. Hanya perlu satu tekanan ringan pada tombol bulat yang mencuat pada jam, dan kesunyian kembali menyergap. Sekilas ia melirik jam, pukul 06.00.

Ia mencoba mengingat-ingat kenapa menyetel alarm pukul 06.00—selama ini ia bangun pukul 07.00. Kalau saja ada Mbok Hanim, pengurus rumahnya di Jakarta dulu, ia pasti disindir karena bangun setelah posisi matahari meninggi, yang berarti ia melewatkan waktu shalat Subuh. ”Wah, Neng Fay rajin ya, bangun untuk shalat Duha.” Shalat Duha adalah shalat yang dilakukan di rentang waktu antara pukul tujuh hingga sebelas siang, dan tidak wajib. Jadi, sebenarnya ia shalat karena ingat Tuhan atau karena ingat Mbok Hanim?

Fay tersenyum. Kangen juga sama si mbok, pikirnya sambil menyisipkan tangan di antara dua bantal dan mengelus-elus permukaan seprai yang lembut. Ia baru saja berniat menutup mata lagi, namun langsung tersentak ketika tiba-tiba saja benaknya mencetuskan alasan beker disetel pukul 06.00. Pamannya, Andrew McGallaghan, semalam tiba dari London dan pagi ini ingin bicara dengannya  sebelum sarapan.

Fay langsung bangkit, menyingkap selimut berwarna dasar biru beraksen keemasan yang dihiasi bordir bunga lili putih dan sehelai kain tipis persegi yang dihiasi sulaman lambang cakram dengan benang emas. Ia berjalan menuju pintu tinggi di sebelah kanan tempat tidurnya yang mengarah ke balkon sambil berpikir, bagaimana mungkin ingatan akan pamannya lebih punya kuasa untuk memaksanya bangun pagi dibanding dengan ingatan akan Tuhan? Kacau sekali!

Dengan satu sentakan di gagang pintu, kedua daun  pintu  langsung terbentang. Angin pagi hari yang sejuk menerpa wajah, membawa serta aroma rumput dan dedaunan yang basah berembun. Di sebelah kiri terlihat hamparan pohon tinggi yang bergerombol seperti  hutan kecil. Pucuk-pucuk pohon membentuk horizon bergelombang yang terlihat bagai tepi langit.

Kediaman yang lebih cocok disebut kastil ini berbentuk huruf U, dan terdiri atas empat lantai, terkecuali di beberapa bagian yang menjulang lebih tinggi seperti menara. Ruang-ruang umum yang laiknya ada di sebuah kediaman, seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur, berlokasi di lantai satu.  Semua  kamar  berada di lantai dua, menempati dua sayap bangunan yang berseberangan. Pengaturan kamar tidak dilakukan secara acak. Setiap keponakan diawasi oleh dua orang paman, satu sebagai main handler atau pengawas utama, dan yang lain sebagai second handler atau pengawas kedua. Kamar-kamar diatur sehingga setiap keponakan berada   di sayap bangunan yang sama dengan pengawas utama masingmasing.

Fay berdiri di balkon, sejenak menikmati kesejukan dan suarasuara ramah yang ditawarkan pagi hari yang cerah di bawah naungan langit biru yang pagi ini tak dihiasi sebercak awan pun. Kamarnya menempati sayap kiri kastil, dengan balkon mengarah ke sisi dalam. Dari tempatnya berdiri sekarang ia bisa melihat pemandangan menakjubkan di lantai satu: sebuah taman di tengah-tengah kastil, dengan tanaman-tanaman rapat setinggi tiga meter disusun membentuk labirin, menuju sebuah gazebo di bagian tengah taman.

Fay ingat, di minggu pertama menempati kastil ini sering kali ia duduk di bangku gazebo seorang diri sambil tepekur. Berbagai pertanyaan yang disuarakan dalam kepalanya bagaikan tangan-tangan kesedihan yang menggerayangi hatinya dan siap mencabiknya kapan saja. Kenapa orangtuanya dijemput kematian? Apa yang terjadi pada mereka setelah kematian menjemput? Apa maksud semua yang ia alami? Kenapa Tuhan seperti senang sekali mempermainkan nasibnya? Ia tahu Tuhan telah memberi pengganti keluarganya yang telah tiada, tapi pengetahuan itu pun tak mampu menepis perasaan bahwa ia sebatang kara.

Suatu hari, di tengah isak tangis dan simbahan air mata, paman nya Andrew McGallaghan, yang juga adalah pengawas utamanya, melangkah ke gazebo. Fay ingat bagaimana ia ingin sekali menghentikan isak tangisnya, tapi dadanya yang terlalu sesak oleh ketidakmengertian, kemarahan, dan kesedihan  tak  bisa  lagi  membendung air mata yang tengah berjatuhan. Tanpa berkata-kata, Andrew duduk  di sebelahnya, kemudian memeluknya. Akhirnya, Fay membiarkan emosinya tumpah ruah dalam pelukan Andrew, yang mengecup kepalanya lembut lalu menunggu dengan sabar hingga isak tangis itu luruh sepenuhnya. Andrew tidak pernah membahas kejadian itu, tapi sejak itu, bisa dibilang Fay tidak pernah dibiarkan sendiri. Dalam setiap kesempatan, salah satu sepupunya pasti ada untuk menemani, termasuk Kent dan Reno.

Di saat-saat seperti itu Fay bersyukur telah memilih  datang  ke Paris ketimbang menetap di Jakarta—sampai sekarang pun begitu. Keberadaan para sepupunya beserta kelakuan nyentrik dan kenakalan ajaib mereka membuat hari yang ia jalani terasa lebih semarak dan  tak terlalu menyengsarakan. Meskipun demikian, tak terhitung berapa kali ia meneteskan air mata di depan mereka, terutama di depan Kent dan Reno, saat kenangan akan orangtuanya sekonyong-konyong datang. Fay tak bisa membayangkan siapa yang akan menjadi tempatnya menumpahkan duka bila ia memilih tinggal di Jakarta seorang diri. Dea dan Lisa? Mereka mungkin telah menjadi sahabatnya dalam tawa selama bertahun-tahun, tapi mereka tak mungkin bisa menandingi perhatian, kelembutan, dan ketulusan yang ditawarkan Kent dan Reno dengan sepenuh hati.

Fay beranjak dari balkon dan masuk ke kamar. Ia baru saja meletakkan telepon genggamnya dan hendak melangkah  ke  kamar  mandi ketika keheningan pagi terbelah dering telepon kamarnya. Ia setengah terlompat kaget, tapi kemudian segera mengangkat gagang telepon yang mirip barang antik itu. Sebelum ia sempat bersuara, sudah terdengar suara melengking sepupunya yang lebih muda, Elliot Phearson McGallaghan.

”Fay, kamu sudah bangun? Sebaiknya kamu bergegas, jangan sampai telat. Aku lihat Paman Andrew tiba semalam dari London, kemudian Paman Philippe datang pukul dua pagi. Oh  ya,  jangan pakai celana jins. Kamu kan tahu Paman Philippe itu entah kenapa seperti disetrum kalau melihat ada keponakan yang  pakai  jins.  Paman Steve sebenarnya juga sering pakai jins, tapi teguran Paman Philippe tidak pernah mempan... Lagi pula, Paman Philippe mau melakukan apa kalau Paman Steve menolak? Sementara terhadap kita kan  beda,”  cerocos  Elliot  hampir  tanpa  jeda.  Ia  berhenti  sebentar untuk mengambil napas.

Fay membayangkan Elliot, dengan rambut yang berdiri tegak, bercerita penuh semangat hingga kacamatanya melorot sedikit. Ia berkata,  ”Iya,  aku...”  Ucapannya  tidak  selesai  karena  Elliot  sudah mencerocos lagi.

”Kamu tahu nggak, Reno dan Sam tadi malam bilang ada yang harus mereka lakukan di kantor sampai pagi. Mungkin mereka baru pulang setelah waktu sarapan. Nah, kalau kamu tidak sarapan kan   aku sendirian. SENDIRIAN! Bayangkan, Fay!”

Fay berdecak—ini bukan kali pertama ia mendengar reaksi dramatis Elliot. Ia menanggapi, ”Kamu kan tahu aku pasti sarapan! Memangnya aku mau makan di mana?”

”Iya, aku tahu, makanya aku telepon kamu!” potong Elliot lagi. ”Eh, maaf ya, Fay, kalau aku membangunkanmu sepagi ini.  See you at  breakfast!”

Telepon ditutup.

Fay melongo menatap gagang telepon. Sesekali Elliot mungkin harus dijitak supaya tidak seenaknya memotong dan memutus pembicaraan orang tanpa peringatan! Tak heran anak itu sering diomeli oleh sepupunya yang lain. Fay meletakkan gagang telepon sambil menggerutu.

Telepon berdering lagi. Ih, kebiasaan!

Fay mengangkat telepon dengan berapi-api, ”Hei, dengar ya... lain kali aku akan mendiamkanmu dua hari kalau kamu memutus pembicaraan seperti tadi!”

Hening sejenak sebelum sebuah suara jernih yang berat  ter dengar.

”Dua hari waktu yang cukup lama, young lady. Saya akan sangat kecewa bila kamu mengabaikan saya selama itu.”

Napas Fay langsung tercekat. Andrew! Aduh, celaka!

”U... Uncle... I’m so sorry... Saya kira Elliot yang menelepon,” ucap Fay terbata-bata. Kenapa ia tadi main sambar saja? Tolol sekali!

”It’s  okay,  young  lady. Saya mengerti bagaimana Elliot bisa sangat mengesalkan kadang-kadang... Kelakuannya sama persis dengan pengawas utamanya dulu—mungkin itu salah satu kualitas yang  dicari pada anggota keluarga yang masuk bagian nonoperasional... Entahlah, saya memilih untuk tidak ikut campur. Namun, saya sarankan   lain kali kamu pastikan dulu siapa lawan bicaramu di telepon sebelum menyemburkan kemarahan. Bukankah lebih  aman  seperti itu?”

”Ya, Paman,” jawab Fay buru-buru.

”Saya menelepon untuk mengingatkanmu... Pukul tujuh di ruang kerja saya. Is that alright with you?”

”Yes,  Uncle,  no  problem,” jawab Fay. ”Saya hanya ingin memastikan kamu punya cukup waktu. Minggu lalu saya melihat jajaran botol entah apa di meja riasmu. Saya yakin kamu perlu waktu lebih lama dari sepupumu yang lain untuk bersiap-siap bila botol-botol itu termasuk rutinitas persiapanmu di pagi hari. I’ll  see  you  soon,  young  lady.” Telepon ditutup.

Fay nyengir, kemudian menutup gagang telepon. Salah satu kesibukannya selama ini adalah belanja, bukan hanya secara sukarela, tapi juga karena terpaksa. Ms. Connie, wanita yang selama ini selalu membantunya untuk tetek-bengek urusan cewek, memberinya daftar belanja barang-barang yang harus ia beli untuk melengkapi isi lemari bajunya. Jadilah ia berburu baju luar, baju dalam, baju olahraga, aksesori, make up, perawatan wajah dan tubuh, bahkan cat kuku.

Fay melangkah dengan perasaan ringan ke kamar mandi. Ia memang selamat dari kemarahan Andrew, tapi ia bertekad untuk tetap menjitak Elliot bila bertemu dengannya nanti!

***

Pukul 07.00 Fay membuka pintu ruang kerja Andrew dan melangkah masuk.

”Good  morning!  How  are  you  doing,  young  lady?”  sapa  Andrew sambil mendekat menyambut Fay. Memakai kaus polo dilapis sweter berwarna biru tua yang ditarik hingga siku yang menampilkan arloji mewah di pergelangan tangan, serta celana katun krem dan sepatu kasual warna cokelat yang senada lebih tua dari celananya, penampilan pria berambut pirang itu tampak santai  namun  tak  ber cela.

”Fine,  Uncle,  thanks,”  jawab  Fay  ringan.  Hidungnya  menangkap aroma samar pinus saat menyambut pelukan hangat yang diberikan pamannya.

Andrew  melepaskan  pelukannya  lalu  memperhatikan  Fay.  ”You look... fresh. Kamu terlihat jauh lebih baik daripada saat kita bercakap-cakap terakhir, minggu lalu,” ucapnya.

”Thank  you,  Uncle. You  look  great  as  well,”  jawab  Fay  sambil  tersenyum. Roda kehidupan memang berputar dengan aneh, membawa manusia masuk ke banyak skenario yang satu sama lain tampak bertentangan. Siapa yang pernah menyangka pria yang dulu menculik dan menyiksa Fay kini malah menjadi tumpuan hidupnya? Saat ini semua kenangan buruk yang melibatkan pria di hadapannya ini seakan hanyalah potongan adegan yang berada di kehidupan yang terpisah dengannya. Selama sebulan terakhir ini Andrew mendampinginya melalui hari-hari yang sangat sulit dijalani dalam kesendirian setelah orangtuanya tiada. Mungkin berlebihan untuk berkata bahwa Andrew telah menjadi sosok pengganti ayahnya, tapi pria ini telah menunjukkan sisi lain yang sebelumnya tak pernah terbayangkan ada.

Andrew mempersilakan Fay duduk di sofa kemudian duduk di sebelahnya.

”Latihanmu sudah dimulai kemarin sore, bukan? How was it?” ”It  was  okay.  Hanya  lari  biasa  diawasi  penjaga. Tidak  ada  target

waktu,”  jawab  Fay.  Sebenarnya  lebih  mirip  joging  dan  jalan  santai daripada latihan lari, imbuhnya dalam hati.

”Kenapa saya mendapat kesan kamu kecewa?” tanya Andrew dengan seulas senyum.

Fay gelagapan dan langsung menggeleng. ”Tidak, bukan itu maksud saya... hanya saja dulu kan latihan-latihannya lebih berat, jadi saya kira akan seperti itu juga.”

”Sama sekali tidak menarik ya... Taruhan, kamu pasti tidak menyangka kehidupanmu sebagai seorang McGallaghan akan membosankan seperti ini,” ucap Andrew santai sambil menyilangkan kaki.

Fay tersenyum sambil menggigit bibir untuk mencegah senyumnya berubah menjadi cengiran. Andrew kelihatannya tahu persis apa yang ia pikirkan. Kalau dipikir-pikir, rutinitas hariannya tak beda jauh dengan di Jakarta: terasa normal-normal saja, di luar kegilaan para sepupunya.

Andrew kemudian berbicara dengan intonasi lebih serius. ”Akhir minggu ini usiamu sudah delapan belas  tahun.  Di  keluarga  ini,  umur delapan belas punya makna khusus, karena dianggap sebagai titik penanda kedewasaan seseorang. Seseorang yang sudah berumur delapan belas dianggap cukup dewasa untuk mengambil keputusan, dan sanggup bertanggung jawab secara penuh atas keputusan dan tindakannya. Bagimu, makna umur delapan belas tahun akan terasa lebih besar lagi, karena setelah jamuan ulang tahunmu nanti, saya mengharapkan kamu segera bisa beradaptasi secara penuh dengan semua aturan dan kebiasaan keluarga ini.”

Fay mengangguk. Ia sudah diberitahu bahwa ulang tahun kedelapan belas selalu dirayakan dengan jamuan makan malam khusus yang dihadiri seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang punya hubungan erat dengan keluarga ini. Sejak ia kecil, ulang tahunnya hanya dirayakan bersama Mama dan Papa dan dengan segelintir sahabatnya. Ironis sekali bahwa perayaan ulang tahunnya yang paling meriah malah akan terjadi setelah orangtuanya tiada.

Andrew melanjutkan, ”Saya tahu kamu masih mencoba mencerna kejadian yang menimpa orangtuamu, tapi kamu harus melanjutkan hidupmu. Sudah waktunya kamu fokus untuk membangun masa depanmu dan tidak terjebak dalam kenangan masa lalu. Banyak hal yang harus kamu pelajari untuk memenuhi ekspektasi sebagai seorang McGallaghan, baik keterampilan fisik maupun sosial.”

Fay menarik napas panjang tanpa kentara ketika bayangan orangtuanya muncul di benaknya. Sejenak pikirannya melayang dan kembali dihantui pertanyaan. Bisakah mereka memikirkan dirinya sebagaimana ia memikirkan mereka?

”Apartemenmu sudah dirapikan?” tanya Andrew.

Pertanyaan itu membawa benak Fay kembali. Ia mengangguk. ”Sudah. Setelah menerima kunci saya langsung merapikannya, dibantu Reno dan Kent.”

”Pastikan saja apartemen itu tampak seperti ditinggali ketika kursusmu mulai nanti. Di hadapan teman-temanmu, identitasmu sebagai seorang McGallaghan tidak boleh dibuka.”

”Yes,  Uncle.”

”Kamu sudah mulai membaca The Code?” tanya Andrew lagi.

The Code adalah buku tebal bersampul kulit hitam berisi semua aturan dan kode etik yang berlaku dalam keluarga McGallaghan.

”Sudah...  Saya  baca  salinan  yang  di  ruang  duduk  kecil,”  jawab Fay, kemudian bertanya dengan hati-hati untuk memastikan, ”dibaca saja kan, tidak perlu dihafal?”

”Ya, tidak perlu dihafal—setidaknya, belum sekarang. Namun, saya harap kamu mengerti dan bisa menjelaskan bagian-bagian yang membentuk fondasi keluarga ini. Di perpustakaan ada satu salinan   The Code yang pasal-pasal intinya sudah ditandai. Kamu bisa mulai dari sana.”

Andrew berdiri, diikuti Fay. ”Apa acaramu hari ini?” tanyanya sambil mengantar Fay ke pintu.

”Pagi ini saya mau ke tempat kursus, kemudian siangnya saya mau ke apartemen.”

”Kenapa kamu ke tempat kursus hari ini? Bukankah kursusmu baru mulai minggu depan?”

”Iya... Kursus saya mulainya minggu depan. Tapi, saya hari ini ada janji dengan teman.”

Andrew menatap Fay sebentar, lalu berkata, ”Saya tidak tahu kamu punya teman di Paris.”

Fay buru-buru menjelaskan, ”Saya berkenalan dengannya beberapa waktu lalu, sewaktu datang ke Paris untuk tugas.”

”Apakah ini teman yang dulu pernah kamu bahas bersama Reno dan Kent dengan suara keras?”

Fay mengangguk dengan perasaan sedikit malu.

”Pastikan saja kamu mematuhi protokol yang berlaku, dan menjaga   kerahasiaan   serta   informasi   sensitif   dari   orang   luar,”   ucap Andrew, lalu menambahkan, ”siapa sepupu yang akan menemanimu hari ini?”

”Tidak ada... Reno dan Sam belum pulang dari kantor. Lagi pula, saya rasa tidak perlu ditemani lagi. I’m  okay  now.”

Andrew tersenyum dan membukakan pintu. ”I’m very glad to hear that. Namun, saya rasa akan lebih baik bila kamu ditemani. Saya   akan menelepon Reno dan Sam, dan meminta salah satu dari mereka  meluangkan waktu untukmu pagi ini. Have a good day, young lady.”

*** L’Ecole de Paris.

”Kamu  turunkan  aku  di  sini  saja,  nggak  usah  pakai  parkir  segala,” ucap Fay buru-buru.

Reno Corderro McGallaghan yang duduk di kursi pengemudi menyapukan satu tangan pada rambut hitamnya  yang  agak gondrong. ”Kalau buru-buru, kamu turun duluan saja. Nanti aku menyusul.”

Fay membuka sabuk pengamannya dengan tergesa-gesa. ”Benar kok, aku nggak perlu ditungguin,” ujarnya sambil melirik Reno.

Setelah sarapan tadi pagi, Fay bertemu Reno yang langsung menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat kursus. Saat itu ia langsung mengiyakan tawaran Reno dengan penuh sukacita, dan sepanjang jalan tadi ia benar-benar menikmati waktunya bersama Reno. Terlebih, Reno bercerita banyak tentang sepupu mereka yang lain, mulai dari kelakuan dan kebiasaan ajaib mereka hingga hukuman-hukuman aneh yang pernah mereka terima.

Namun, ketika mobil berbelok masuk ke jalanan tempat L’Ecole de Paris berada, Fay  tiba-tiba saja ingat reaksi Reno dulu sewaktu   dia tahu tentang Enrique. Bagaimana kalau sekarang Reno melihat Enrique? Kenapa tadi Fay tidak berpikir sejauh itu? Padahal tadi pagi Andrew sudah menyinggung tentang  insiden  itu.  Benar-benar  pikun!

Reno menggeleng. ”Aku janji pada Paman untuk mengantarmu ke tempat kursus, lalu menungguimu dan mengantarmu ke apartemen. Setelah itu baru aku pulang dan kamu bisa menelepon Lucas bila ada urusan lain.” Lucas adalah sopir yang selama ini ditugaskan mengantar Fay.

”Nggak usah deeeh... kamu kan habis begadang di kantor, jadi lebih baik kamu pulang saja supaya bisa istirahat,” ucap Fay sambil tersenyum manis.

Reno menoleh sambil tersenyum lebar. Wajahnya langsung cerah. Mulutnya yang melengkung simetris menampakkan gigi putih yang berderet rapi dan matanya berkilat jail seperti menggoda. ”Kamu tumben perhatian sekali sama aku, l’il  sis...” Wajahnya tiba-tiba berubah dan  senyumnya  mendadak  raib  ketika ia seperti tersadar. ”Eh... kenapa kamu nggak mau aku tungguin? Kamu ada janji, ya? Dengan siapa?” tanyanya dengan intonasi berubah menyelidik.

”Kamu kok nuduh begitu sih,” ucap Fay, berlagak santai.

Reno menggeleng dan menatap Fay lebih tajam. ”Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu janjian sama siapa? Sama Kent, ya?”

Fay mengangkat alis. ”Kent? Dia bukannya masih di London?” ”Aku melihatnya di kantor semalam. Jangan bohong... kamu tahu

dia sudah di Paris dan sekarang janjian sama dia, kan?”

”Ngapain aku ketemu Kent diam-diam di luar kalau bisa ketemu terang-terangan di rumah?” tanya Fay balik sambil melirik Reno, lalu tergelak melihat Reno tampak semakin kesal.

”Eh, aku nggak main-main ya... Kamu bisa dapat masalah besar kalau ketahuan Paman. Dan aku akan menghajar Kent sampai babak belur!”

”Bukaaan...  kamu  nggak  kreatif  amat,”  sahut  Fay  sambil  nyengir puas, lalu membuka pintu mobil.

Reno belum menyerah. Tangannya bergerak menahan lengan Fay. ”Sama cowok brengsek yang dulu pernah aku lihat, ya?”

Fay tidak jadi keluar mobil dan kali ini balas  menatap  Reno  dengan sewot. ”Kamu kan nggak kenal dia, jadi jangan bilang dia brengsek!”

”Oh... jadi kamu sudah kenal sekali ya dengan cowok ini?” sindir Reno dengan wajah dipenuhi kemenangan. ”Bagaimana bisa? Kamu kan tidak pernah dibiarkan sendiri selama sebulan terakhir ini... Kalau kamu merasa sudah kenal hanya dari pertemuan sekali-dua kali berbulan-bulan lalu, berarti perasaan kamu itu cuma ilusi.”

Fay berteriak putus asa. Percuma! Ia mengibas lengannya hingga pegangan Reno terlepas, lalu keluar dari mobil sambil memutar bola matanya sedikit. Setelah menutup pintu, ia langsung menunduk untuk berbicara ke Reno lewat jendela. ”Terima kasih untuk tumpangannya,” ucapnya dengan senyum sangat manis, lalu melanjutkan, ”tapi lain kali aku pergi sama Lucas aja!” Ia lalu menjulurkan lidah pada Reno.

”Kalau kamu patah hati nanti, jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu!”  teriak  Reno.  ”Take  care,  l’il  sis,”  tambahnya sebelum berlalu.

Lobi L’Ecole de Paris padat dengan suara riuh rendah, penuh berbagai macam manusia dengan warna kulit berbeda-beda yang memakai pakaian beraneka rupa. Selain siswa yang kelasnya baru saja bubar, ada serombongan siswa yang baru pulang study tour.

Fay masuk ke lobi dan menyapukan pandangan ke wajah-wajah yang berseliweran, mencari sosok Enrique.

Ia mengontak Enrique sekitar dua minggu lalu setelah secara tak sengaja menemukan secarik kertas berisi alamat e-mail yang pernah diberikan cowok itu di Champs-Elysees. Sejak saat itu mereka bertukar kabar—tak hanya cerita, tapi juga  foto.  Enrique  terlebih  dahulu mengirim foto dirinya di pantai, bertelanjang dada sambil memegang papan surfing—tentunya tak lupa Fay  meneruskan foto  itu ke tiga sahabatnya, Cici, Lisa, dan Dea yang langsung histeris.   Fay lalu membalas Enrique dengan mengirim pose-posenya di setiap sudut apartemen mungilnya. Ia bahkan mengirim foto nggak penting berupa dua pisau bergagang unik, yang walaupun hampir tak pernah dipakai tapi merupakan kebanggaan dapurnya: satu pisau berbentuk jerapah warna oranye, dan yang lain berbentuk harimau lengkap dengan loreng-lorengnya. Enrique membalas dengan mengirim foto yang tak kalah nggak penting: sepasang kakinya yang berlepotan  pasir, serta tato di pergelangan tangannya.

Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Fay baru dua minggu  bertukar  cerita dengan Enrique, tapi merasa sudah bersahabat dengan cowok  itu bertahun-tahun. Sebenarnya bukan baru sekarang saja ia merasa begitu, melainkan sejak pertemuan pertama mereka beberapa bulan lalu. Mungkin karena ia merasa sangat nyaman ketika  bercakap cakap dengan Enrique—hal yang remeh pun  bisa  menjadi  topik  yang menarik bila dibahas bersama Enrique.

Fay bergeser ke sudut ruangan lalu memperhatikan siswa-siswa yang lalu-lalang. Berbeda dari tahun lalu, sebagian besar siswa yang ia lihat sekarang tampak lebih dewasa. Mereka memakai riasan wajah, baik tebal maupun tipis, mengenakan berbagai aksesori, dan secara keseluruhan tampil gaya. Fay langsung membuat catatan ke diri sendiri untuk lebih memperhatikan penampilannya saat kursus dimulai minggu depan.

”Fay!”

Fay celingukan mencari asal suara yang memanggilnya.

Tiba-tiba seorang  cowok  dengan  tas  selempang  muncul  di antara keramaian. Wajahnya kecokelatan, berambut cepak. Dadanya terlihat bidang dengan kaus putih polos  yang  ukurannya  pas  ba dan. Di lehernya ada kalung tali dengan bandul logam berbentuk matahari.

Fay terpaku sejenak dan langsung bereaksi ketika benaknya mengenali sosok yang muncul. ”Enrique! Bagaimana kabarmu?” tanyanya setengah berteriak.

”Kabarku baik,” ucap Enrique Davalos sambil mendekat. ”Bagaimana kalau kamu peluk aku dulu?” sambungnya lagi sambil merentangkan tangan.

Fay tertawa dan menyambut kehangatan yang ditawarkan Enrique dengan memberi pelukan ringan. ”Good  to  see  you  again.”

Enrique mengecup Fay ringan di pipi.

Fay terperangah sejenak dan menatap Enrique dengan kaget. Tapi, ia melihat wajah Enrique biasa saja, seolah kecupan itu bagian dari sapaan biasa.

Enrique memperhatikan Fay. ”Kamu tampak beda sekali... Kapan kita terakhir ngobrol menggunakan video? Baru beberapa hari lalu, kan? Rasanya sudah lama sekali... You  look  great!”

Fay tersenyum jengah melihat sorot kagum di mata Enrique, dan berkata,  ”Thank  you...  You  look  great,  too.  Aku  juga  hampir  tidak mengenalimu... Kulitmu lebih cokelat.”

”Kita keluar saja ya,” ucap Enrique lalu memegang tangan Fay. Fay tertegun sesaat, tapi tak sempat berpikir karena Enrique lang-

sung menariknya ke luar gedung, menembus kerumunan anak-anak yang mondar-mandir tak tentu arah dan berteriak-teriak serta tertawa-tawa gaduh.

Di luar, Enrique melepas pegangannya ke tangan Fay sambil mengembuskan napas, lalu meletakkan satu tangannya di punggung Fay dan mendorongnya ke arah pinggir trotoar untuk menghindari orang-orang yang lalu-lalang. ”Aku rasa antrean turis di Menara Eiffel bahkan tak sebanyak barusan.”

Mereka melangkah perlahan menyusuri trotoar.

Fay memperhatikan kulit Enrique. ”Kamu surfing terus, ya? Kalau lebih lama lagi di Afrika Selatan, aku rasa kamu akan gosong dan kering.”

”Tiap hari aku surfing, malah bisa beberapa kali sehari aku turun ke laut. Bagaimana liburanmu?” tanya Enrique, lalu tertegun dan mendadak terdiam. ”Maaf, Fay. Seharusnya aku nggak menanyakan pertanyaan sebodoh itu setelah kamu kehilangan orangtuamu. Bagaimana kamu menghadapinya?”

Mereka berbelok mengikuti jalan.

”Masih mencoba. Kadang masih sulit, terutama kalau ada hal-hal yang mengingatkanku pada mereka. But  it’s  getting  better.”

Enrique merangkul Fay. ”Everything will be alright. Butuh waktu, memang,  tapi  semua  kesedihan  itu  akan  berlalu.”  Ia  lalu  menepuknepuk pundak Fay.

Fay menghela napas lalu tersenyum ketika melihat sorot mata Enrique yang begitu tulus. ”Thanks.”

Enrique melepas tangannya dari pundak Fay lalu mengajak gadis itu menyeberang jalan dan berbelok ke sebuah jalan lain. ”Bagaimana keadaanmu sekarang, setelah orangtuamu tiada? Apakah mereka meninggalkan uang untuk keperluanmu, atau kamu harus bekerja?”

”Mereka tidak meninggalkan banyak, tapi cukup hingga aku selesai kuliah.”

”Kenapa kamu kembali ke Paris? Apakah tidak ada keluargamu di Jakarta yang bisa membantu?”

Fay menggeleng. ”Ayahku memiliki adik, tapi hubungan mereka tidak  baik,  jadi  bisa  dibilang  aku  tidak  punya  keluarga  di  Jakarta.” Ia sejenak terdiam ketika ingat satu berkas yang diberikan Andrew bulan lalu, berisi cerita karangan latar belakangnya. Ia akhirnya melanjutkan, ”Ada seorang kenalan lama ayahku yang tinggal di pinggir kota Paris, namanya Bobby Tjan. Dialah yang mengusulkan agar aku tinggal di Paris dan menyewa apartemen di tempat yang dekat dengan tempat kursus.” Ia menatap batu-batu yang menyusun trotoar, berharap dalam hati semoga pembicaraan tentang topik ini  segera usai. Kebohongan yang keluar dari mulutnya membuat  perutnya  mual.

Mereka kini melewati sebuah gereja kecil yang tampak ceria dengan taman-taman penuh bunga di beberapa petak tanah sempit.

”Kursusmu dimulai Senin depan, kan?” tanya Enrique.

Fay mengembuskan napas lega diam-diam. ”Iya. Kamu sendiri bagaimana? Masih kebagian tempat untuk mulai minggu depan?”

”Untungnya masih. Minggu ini aku bakal sibuk sekali mengurusi kepindahanku dan ibuku ke sini. Besok dan Jumat ini ada kontainer barang yang akan datang dari Venezuela.”

”Bagaimana ceritanya sehingga kamu bisa mendadak memutuskan pindah ke Paris?” tanya Fay.

Enrique tersenyum simpul sebelum menjawab, ”Kamu ingat aku pernah cerita bahwa kehidupan kami ditopang oleh teman baik ayahku?”

Fay mengangguk.

”Dia sudah bersahabat dengan ayahku sejak di sekolah dasar. Mereka lalu masuk sekolah menengah yang sama, bahkan kuliah di universitas yang sama. Dia juga menjadi pendamping ayahku saat ayahku menikahi ibuku. Aku memanggilnya Barney, seperti nama boneka hadiah darinya di ulang tahunku yang ketiga. Perjalananku    ke Afrika Selatan kemarin sebenarnya adalah untuk mengunjungi  dia... selain karena hubungan kami memang dekat, aku juga kadang kadang bekerja paruh waktu di perusahaannya, terutama di waktu liburan.”

”Apakah dia yang meminta ibumu untuk pindah ke Paris?”

”Iya. Saat tiba di rumah sepulang surfing, aku tahu-tahu diberitahu kabar itu oleh ibuku.”

”Wah,  kamu  pasti  kaget  dong,”  seru  Fay.  ”Kamu  nggak  protes?” Perhatian Fay teralih sedikit ketika hidungnya mencium aroma roti-roti yang baru dipanggang dari sebuah toko roti yang mereka lewati.

”Awalnya aku ingin protes, karena membuat keputusan mendadak seperti itu di luar kebiasaan ibuku, apalagi tanpa minta pendapatku. Tapi, kemudian aku melihat cincin berlian di jari manis ibuku...” Fokus Fay kembali ke Enrique. Ia terbelalak menatap Enrique. ”Cincin berlian? Maksudmu...”

Enrique tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat berderet. ”Iya, Barney melamar ibuku.”

”Waaah... berarti kamu akan punya ayah lagi?”

”Yah, selama ini Barney juga sudah seperti ayah bagiku. Dan aku percaya, kalau melihat semua ini dari surga, ayahku akan memberikan restu. Tidak ada pria yang layak menggantikan posisi ayahku di sisi ibuku selain Barney.”

Fay merasakan sedikit kepedihan dalam hatinya, seperti ada ujung pena yang tiba-tiba menoreh permukaan hatinya. Ia akhirnya bertanya, ”Kuliahmu bagaimana?”

”Aku mau cuti dulu satu tahun sekalian belajar bahasa Prancis,  lalu mengusahakan transfer kredit. Kalau tidak berhasil, berarti aku mengulang tahun pertama di sini.”

”Yaaah... tapi kalau kamu mengulang kan sayang, waktumu setahun kemarin terbuang percuma...”

”Semua kejadian dan pengalaman pasti punya makna. Pada akhirnya, semuanya memperkaya hidup kita, jadi aku rasa tidak ada yang sia-sia.”

Fay mengangguk, tapi tidak mengatakan apa pun. Sampai detik ini ia masih berjuang mencari makna kematian orangtuanya. Ia sudah mengais setiap sisi pikiran dan hatinya tanpa hasil, bahkan sudah tak yakin lagi bahwa makna itu ada.

”Kamu ada acara nggak sekarang?” tanya Enrique. Fay menggeleng. ”Nggak. Kenapa?”

”Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku belum puas ngobrol denganmu, dan aku hanya punya waktu hari ini. Atau, ada rencana mengajak aku tur ke apartemenmu? Aku mau lihat pisau dapur yang kamu bangga-banggakan itu, yang motifnya jelas-jelas masih kalah keren  dibandingkan  dengan  tatoku.”  Enrique  mengangkat  tangan dan menunjukkan tato yang tersembunyi di balik gelang etnik. Senyum mengembang di wajahnya.

Fay tertawa. ”Well?” ”Jangan  sekarang,”  jawab  Fay  akhirnya.  Ia  masih  belum  yakin apartemen itu tampak seperti ditinggali, dan ia masih ragu dengan ide mengundang seorang cowok untuk datang ke apartemennya.

”Kalau begitu, kita jalan-jalan saja sambil ngobrol... gimana? Ayolah... aku baru bisa ketemu kamu lagi minggu depan!” bujuk  Enrique.

Fay menyapukan pandangan ke sekelilingnya. ”Bukankah kita sekarang sudah jalan-jalan sambil ngobrol? Aku sama sekali nggak ada ide kita ada di mana.”

”I know... Aku memang genius sekali. Kamu sekarang tidak punya pilihan selain mengikutiku, kalau tidak mau tersasar.”

Fay mencibir, lalu memekik kaget ketika Enrique tahu-tahu saja menarik tangannya dan mengajaknya melangkah lebar dan tergesa. ”Kenapa?” tanyanya, sambil agak terseret mengikuti Enrique yang masih menarik tangannya.

”Aku mau mengajakmu ke toko es krim favoritku, tapi kita mampir   dulu   ke   rumahku.  Telepon   genggamku   ketinggalan,”   jawab Enrique tanpa memperlambat langkah.

”Kenapa buru-buru?”

Enrique diam sebentar, menoleh ke Fay, lalu nyengir. ”Tidak ada alasan khusus... Mungkin karena aku sudah tak sabar ingin makan es  krim  itu...,”  ucapannya  tidak  selesai.  Ia  tergelak  ketika  Fay  mendaratkan satu tonjokan ringan ke lengannya.

***

Andrew McGallaghan membuka laporan bulanan tentang aktivitas keponakan yang berada di bawah pengawasannya. Ia adalah main handler bagi Kent dan Fay, dan second handler bagi Reno.

Laporan ini sudah sampai ke tangannya tiga  hari  lalu,  tapi  ia  tidak menganggapnya perlu untuk segera dibaca, hingga sekarang. Ia berharap laporan ini bisa memberi indikasi tentang identitas ”teman” yang ditemui Fay hari ini.

Andrew mulai membaca laporan pergerakan yang dilacak dari pemancar di telepon genggam. Terlihat bahwa selama sebulan terakhir Kent berada di London, Edinburgh, dan Paris; Fay di Paris; Reno  di Zurich dan Paris. Tak ada yang aneh.

Andrew membuka laporan komunikasi dan dahinya berkerut ketika melihat angka yang menjulang, milik Fay. Bila dilihat sekilas, terlihat bahwa keponakannya itu mengirim dua puluh e-mail—dua kali lipat e-mail yang dikirim Kent atau Reno, di luar percakapan online. Hampir semua e-mail tersebut dikirim dalam rentang dua minggu terakhir dan ditujukan ke satu orang saja, bernama Enrique. Pemuda yang sama juga mengirimkan e-mail yang tak kalah banyak, enam belas. Percakapan online juga terjadi hampir setiap hari selama seminggu terakhir ini. Komunikasi yang sangat intensif.

Andrew masuk ke detail laporan untuk melihat salah satu e-mail yang dikirim Fay. Ia membuka foto-foto yang dikirim oleh Fay dan melihat tangan menggenggam pisau, jempol tangan memegang gagang pintu, dan tempat sampah. Ia lalu membuka foto yang dikirim Enrique dan melihat gambar kaki berpasir, kemudian tato. Andrew berdecak sambil menggeleng. Pisau, kaki, tato, jempol,

tempat sampah—apa yang ada di pikiran remaja-remaja ini?

Ia akhirnya menemukan satu foto yang menampilkan wajah  Enrique secara utuh, tampak seperti pemuda biasa seumuran Kent. Tidak ada yang aneh—Fay memang menyandang nama McGallaghan, tapi dia tetap seorang remaja yang bisa tertarik dengan lawan jenis. Tak beda dengan dirinya sendiri, bertahun silam.

Andrew beranjak dari kursi dan menuang anggur dari salah satu koleksinya. Urusan pertemanan para keponakan memang tidak pernah jadi hal sederhana dan perlu penanganan hati-hati di keluarga ini. Di satu sisi, para keponakan yang berusia muda harus diberi ruang gerak untuk berekspresi layaknya remaja biasa di luar sana— berteman dengan siapa saja dan melakukan aktivitas bersama remaja lain, baik dalam kapasitas teman biasa maupun teman istimewa. Namun di sisi lain, para paman harus memastikan pertemanan itu tidak berpotensi menempatkan keluarga ini dalam posisi yang dirugikan dan menyeret mereka dalam kesulitan yang tak perlu. Kedekatan emosional dengan pihak luar juga bisa menjadi bumerang dalam menjaga informasi sensitif tentang keluarga ini. Andrew kembali ke komputer, meletakkan gelas anggurnya di meja, lalu membaca beberapa e-mail yang ditulis Fay dan Enrique. Dari komunikasi yang terjadi antara Fay dengan pemuda ini, kelihatannya keberadaan pemuda ini bisa membantu Fay untuk lebih cepat keluar dari pusaran kesedihan dan gangguan kenangan masa lalu, sehingga Fay bisa menapaki hari-hari normal sebagaimana gadis

muda sebayanya.

Keberadaan pemuda ini juga bisa menetralkan  hubungan  antara Fay dan Kent yang belakangan ini semakin dekat—konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Andrew sampai mengirim Kent ke London minggu lalu supaya ada jeda dalam interaksi antara dua keponakannya itu.

Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah menyeimbangkan interaksi antara Fay dan pemuda bernama Enrique ini, karena komuni kasi yang terlalu intens bisa mengganggu fokus keponakannya.  Ia akan segera menyibukkan Fay dengan latihan sehingga waktu yang tersedia bagi Fay dan pemuda ini berada dalam batas normal, dan interaksi mereka berlangsung wajar. Close, but not too close.

Andrew memegang gelas anggurnya dan bersandar sambil mengamati foto Enrique yang sekarang terpampang di  layar  komputernya.

Setidaknya, selera Fay tidak buruk, pikirnya  sambil  tersenyum, lalu menyesap anggurnya sedikit sebelum bangkit dan beranjak ke salah satu lemari kaca di sisi ruang kerja. Ia membuka lemari dan mengambil sabre—sejenis pedang di permainan anggar.

Terdengar suara ketukan di pintu dan pintu terbuka.

”Wine?”  tanya  Andrew  pada  sepupunya,  Raymond  Lang,  yang melangkah masuk ke dalam ruangan.

”No, thanks. Sebentar lagi aku berangkat ke kantor, dan aku tidak minum anggur sebelum ke kantor.”

Andrew berjalan ke meja kerja sambil menggenggam sabre, lalu meletakkannya di meja. Sepupunya yang satu ini bisa dibilang yang paling lunak dalam menerapkan disiplin ke para keponakan, tapi terkenal paling keras dalam mendisiplinkan dirinya sendiri.

Raymond mengangkat sabre yang diletakkan Andrew kemudian melakukan gerakan menebas ke samping. Terdengar bunyi angin terbelah mata pedang. ”Kenapa kau mengeluarkan sabre ini?” tanyanya.

Andrew  menjawab,  ”Aku  ingin  berlatih  di  aula  bawah  tanah.” Setiap pertarungan dalam olahraga memiliki aturan-aturan tersendiri yang dibuat untuk meminimalisasi cedera, namun sudah menjadi kesepakatan tak tertulis bahwa pertarungan apa pun yang dilakukan   di aula bawah tanah tidak dibatasi aturan-aturan tersebut.

”Kalau saja tidak akan ke kantor, pernyataanmu barusan itu sudah pasti kusambut dengan gembira... dengan tangan yang juga memegang  sabre,  tentunya,”  ucap  Raymond  sambil  mengembalikan sabre ke meja.

”I  know. Sekarang aku terpaksa mencari lawan lain.” ”Akan ada lain waktu,” jawab Raymond.

”Bukankah seharusnya Steve yang bertugas di kantor pagi ini?” tanya Andrew, kemudian duduk dan menyilangkan kaki.

Tempat yang disebut kantor adalah COU atau Core Operation Unit, badan intelijen setara milik negara maju yang dibentuk untuk  mendukung kebijakan korporasi milik keluarga McGallaghan, Llamar Corp. Di COU, Raymond menjabat sebagai Chief of Operation bersama-sama dengan sepupunya yang lain, Steve Watson, dan bertanggung jawab atas semua operasi lapangan yang digulirkan COU.

Raymond mengempaskan diri ke kursi, kemudian menambahkan, ”Dia barusan menelepon dan meminta aku menggantikannya. Aku berutang padanya satu kali shift, karena kalah tanding dengannya di aula bawah seminggu yang lalu.”

Andrew tertawa kecil. Ia ingat melihat Raymond berjalan sedikit pincang minggu lalu. Ia kemudian bertanya, ”Ada perkembangan terbaru dari Operasi Echo?”

”Laporan pertama dari Bobby akan masuk besok malam. Aku akan langsung mengabarimu begitu menerimanya.”

”Kalau begitu, kenapa kau memutuskan untuk menggangguku sekarang?” tanya Andrew santai. ”Pastinya bukan karena ingin berkeluh kesah karena harus menggantikan Steve di kantor?”

”Aku melihat nama Fay di daftar tunggu para agen yang siap diaktifkan. Apakah aku tidak salah? Philippe pasti meradang bila melihat seorang keponakan yang belum ikut  pelatihan  dasar  di  kantor didaftarkan dalam operasi. Aku pun tidak bisa mendukungmu dalam hal ini.” Raymond menggeleng, lalu berseru, ”C’mon, Andrew! Dia bahkan belum kaubawa ke kantor!”

Andrew menanggapi dengan tenang, ”Aku ingin dia terlibat dalam satu lagi operasi sebelum ikut pelatihan dasar, dan keputusan  itu  sudah final. Fay memang belum ikut pelatihan, tapi sudah melaku kan beberapa tugas dengan hasil memuaskan.”

”Itu bukan alasan kuat. Sekarang Fay sudah menjadi anggota keluarga dan tentunya dia harus mengikuti aturan dan kode etik yang berlaku. Kau tidak bisa terus-menerus memberikan pengecualian baginya dan memperlakukannya seperti anak emas.”

”Ray,   dia   baru   saja   kehilangan   orangtua   dan   aku   sengaja memberinya waktu untuk berkabung. Setelah itu barulah dia akan beradaptasi secara penuh dengan semua aturan dan kode etik keluarga  ini,  tanpa  kecuali...”  Andrew  terdiam  sebentar,  kemudian melanjutkan, ”Walaupun begitu, aku perlu satu bantuan darimu...”

”Bantuan apa?”

”Fay belum dijadwalkan untuk ke kantor, jadi aku ingin kau menyusun program latihan Fay di rumah, segera.”

”Kapan kau ingin latihannya dimulai? Setelah jamuan?” ”Lebih tepatnya, besok.”

Dahi Raymond berkerut, kemudian seulas senyum terpampang di wajahnya. ”Bukankah permintaan ini terdengar kontradiktif dengan ucapanmu barusan? Kau baru saja bilang akan memberi waktu bagi Fay untuk berkabung.”

”I  know...  masa  berkabungnya  mungkin  belum  usai  dan  masih banyak pengecualian yang masih akan diberlakukan atasnya, tapi tak ada ruginya memulai latihannya sesegera mungkin, bukan?” tanya Andrew santai. Ia menyesap anggurnya, kemudian melanjutkan, ”Tidak seperti keponakan kita yang lain, Fay  diterima di keluarga  ini di usia hampir delapan belas. Aku ingin tahu apakah rekrutmen anggota keluarga di usia seperti Fay ini bisa dijadikan model untuk rekrutmen selanjutnya.” Raymond memperhatikan Andrew sejenak, kemudian berkata lamat-lamat, ”Maksudmu, kau ingin tahu apakah kemampuan dan prestasi Fay nantinya bisa setara dengan Kent atau Lou yang usianya terpaut hanya satu tahun  namun  sudah  direkrut  bertahun-tahun  lebih awal?”

”Kau kelihatannya bisa membaca pikiranku.”

”Aku harus bilang bahwa kau bermimpi di siang bolong. Kalau Steve dengar, aku yakin dia berani mempertaruhkan yacht kesayangannya bahwa kau akan gagal.”

”Aku bicara denganmu, dan bukan dengan Steve, karena kau pengawas kedua Fay. Tapi, aku tidak keberatan bila Steve  mengajakku bertaruh dengan yacht-nya. Bila cara ini terbukti berhasil, keluarga ini bisa punya lebih banyak keponakan perempuan yang direkrut  belakangan...,”  Andrew  berhenti  sebentar,  lalu  sudut  bibirnya sedikit naik ketika melanjutkan, ”...dan aku akan memperoleh yacht  baru.”

Raymond berdiri. ”Aku akan segera menyusun program latihan Fay—draft-nya bisa kaulihat malam ini. Dan aku juga akan mengevaluasi operasi mana yang bisa mengakomodasi keinginanmu tanpa membahayakan jalannya operasi di lapangan dengan keikutsertaan seorang agen yang masih benar-benar mentah,” sindirnya halus.

Andrew tertawa kecil. ”Kau tampak sangat terpaksa, Ray.” ”Apakah kau memberiku pilihan lain?” tanya Raymond santai,

jelas tidak mengharapkan jawaban dari Andrew. Ia kemudian bertanya, ”Jadi, siapa yang mendapat kehormatan berlatih denganmu sekarang di aula bawah?”

”Philippe.”

Raymond membiarkan sebuah senyuman mengembang di wajahnya. ”Semoga kau belum lupa bahwa keahlianmu adalah bermain pedang ganda, bukan sabre, sementara Philippe adalah pemain anggar nomor satu di keluarga ini... setidaknya hingga sekarang.”

”Ray, aku tidak mungkin berlatih anggar dengan Steve... Bila dia punya waktu luang pun, dia hanya mau bertempur dengan tangan kosong. Sementara kau sebentar lagi akan berangkat ke kantor.  Apakah kau memberiku pilihan lain?” balas Andrew. Raymond tertawa kecil lalu beranjak pergi dan berkata sambil lalu, ”Aku sarankan kau turun dengan membawa kotak obat     you’re

going to need it. Usahakan jangan sampai terbunuh supaya Philippe tidak  terlampau  besar  kepala,”  ucapnya  ringan  sebelum  menghilang di balik pintu.

Andrew tersenyum mendengar lelucon Raymond. Pertandingan anggar melawan Philippe tidak akan mudah. Kesempatan untuk meraih kemenangan pasti ada dalam kondisi apa pun, tapi untuk mendapatkannya, terlebih dulu seseorang harus menunjukkan keberanian dengan mengambil risiko, termasuk risiko untuk kalah.

Risiko yang sama telah ia tempuh sebelum ini dengan keputusannya untuk merekrut Fay—gadis biasa yang tak punya profil fisik memadai sebagaimana kriteria perekrutan pada umumnya. Rencana   ini disusun berdasarkan intuisi setelah melihat hasil tes Fay di Nice tahun lalu. Namun, ternyata rencana ini memberikan hasil memuaskan. Andrew punya rencana besar untuk Fay, tapi keponakannya itu harus pulih terlebih dulu dari duka yang menggayutinya.

Setelah menjalankan pola pendidikan yang telah dirancang khusus, barulah Fay akan layak menyandang nama McGallaghan. Setelah itu Fay bisa memainkan perannya di keluarga ini—peran yang ia,  Andrew, gariskan.

Andrew mengambil sabre di meja, lalu beranjak ke luar ruangan. Waktunya untuk berlatih dengan Philippe. Raymond benar, Philippe adalah pemain anggar terbaik di keluarga ini. Namun, semua yang mengenal Andrew pasti tahu, sebuah risiko tidak pernah membuat Andrew mengerut dan lari bagai pengecut. Ia tidak keberatan berakhir dengan luka-luka bila memang itu yang diperlukan  untuk  meraih kemenangan besar di belakang—sebuah totalitas seorang pemenang, yang membuatnya pantas  menjadi  pimpinan  klan  ini,  hingga sekarang.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊