menu

Lelaki Harimau Bab 05 (Tamat)

Mode Malam
Lima (Tamat)

Di bawah remang lampu penjual kacang rebus, ia secantik gadisgadis dekorasi guci Cina, dengan rambut lurusnya meriap lebat namun lentur, begitu mudah tersibak liukan angin dan menari kala sang pemilik melangkah mengikuti setiap polah sikap tubuhnya. Ia setinggi seratus enam puluh, beratnya barangkali lima puluh kilo, seramping burung-burung kuntul, dengan sepasang dada ranum merupakan kekayaannya yang tersembunyi, belum terjamah, dan roman muka cerianya sungguh kenes, bibirnya memagut setiap melempar kata. Ia bisa menaklukkan siapa pun, tampaknya, sebagaimana begitulah namanya. Maharani. Ratu segala ratu. Yang ketika tangannya tanpa ragu menggapai tangan lelaki di sampingnya, Margio lelaki itu dibuat tergagap dan hilanglah si anak muda perkasa penakluk babi liar, serasa ia gadis imut malu-malu.

Orang-orang berjejalan di depan layar yang terpasang di tengah lapangan, sementara di tentangnya teronggok mobil boks kecil milik perusahaan jamu dengan seorang lelaki yang bicara di depan mikrofon memamerkan khasiat jamu-jamu mereka sementara orang jemu menanti film segera berkisah. Orang-orang ada juga berkerumun di sekitar mobil boks, membeli jamu penguat kejantanan, jamu perapat mahkota perempuan, jamu peramping tubuh, jamu nafsu makan, jamu masuk angin, jamu lesu-letih, segala jamu sebab perusahaan itu mengiming-imingi pula hadiah payung dan kipas angin dan jam dinding dan yang termewah adalah televisi delapan belas inci.

Di belakang penjual kacang rebus, keduanya berdiri. Maharani tampak serupa gadis kota sepenuhnya, berbulan-bulan telah menjadi bocah universitas, tapi tampaknya tak ada lelaki di sana yang berkenan untuknya, sebab ia selalu kembali dan mencari Margio. Gadis ini mengenakan sweater kuning yang rapat di tubuhnya, menghalau udara lembab dingin, dengan celana jeans berpipa lebar, dan kaki mengenakan selop. Ia masih menggenggam tangan si lelaki, yang menjawabnya dengan satu sentuhan canggung, dan si gadis menarik-narik tangan Margio memagutnya manja.

Tak pernah mereka berpegangan tangan seperti itu, dan Margio dibuat terpukau oleh keberanian si gadis merampok tangannya. Itu membuat dirinya serasa lembek, dan tak berkutik, bahkan tak mampu menoleh untuk melihat wajah yang demikian dipujanya itu, menatap siluet manusia-manusia hilir mudik yang dipantulkan layar, mencoba melarikan diri ke sana. Namun si gadis terus memagut tangannya, menarik perhatiannya, dan itu semua merontokkan peluh di kuduknya. Suatu masa ia pernah pergi ke tempat pelacuran yang pertama kali, bersama rombongan kawan, dan saat ia memperoleh giliran untuk menunggangi perempuan setengah baya yang membuncah di atas ranjang, Margio sangat menggigil dan ngeri daripada berahi. Perasaannya sekarang melebihi kepanikan yang dirasainya saat itu, yang tertanggulangi hanya karena kecakapan si pelacur yang mengelus dan membangkitkan hasratnya perlahan. Kini ia mencari pertolongan entah pada siapa, berharap si gadis Maharani bisa membebaskannya dari keadaan kikuk tersebut, dan itu datang saat si gadis menarik tangannya lebih kencang. Margio menoleh dan mereka saling tatap, ada wajah kilau di sana, dengan bulu mata yang berlekuk, hidung ramping, dan bibir bercelah terbuka.

Berkatalah Maharani kepadanya, “Tahukah kau, aku mencintaimu?”

Jika ia bukan anak Anwar Sadat dan adik dari Laila serta Maesa Dewi, barangkali Margio semakin terkejut mendengarnya mengatakan itu. Bocah ini tergeragap dan mengangguk pendek, mencoba tak membuat si gadis sakit hati dengan balas memegang tangannya, dan itu tampaknya membuat senang Maharani, hingga untuk sementara Margio bisa berpaling kembali memandang layar kosong penuh bebayang dengan tatapan bolong.

Hubungan mereka tak pernah sedrastis itu, merentang sejak tahun-tahun panjang yang lewat. Ketika Margio menemaninya menerobos hujan dan malam sepayung berdua, kala itu mereka masihlah bocah-bocah kecil, tapi bahkan telah dirasakan oleh Margio rasa kikuk yang segan. Gadis itu sejenis kecantikan tak tersentuh, pikirnya, seseorang yang duduk di kursi menonton televisi bersama keluarga yang tak pernah memukul, dilindungi kehangatan rumah, sementara dirinya duduk di bilah batang kelapa yang menjadi kursi, di teras melihat televisi yang sama menerobos kaca jendela, tak terlindungi oleh apa pun dari deras angin malam dan percik air. Ada dinding yang memisahkan mereka, tak peduli itu dinding kaca yang tembus pandang hingga mereka bisa saling menoleh dan bertukar cerita tak terungkap, dan dinding itu sebuah jarak yang jauh tak tergapai. Maka ketika ia mendapati dirinya melangkah di bawah hujan tumpah menimpa payung, bahu mereka kadang bersentuhan, begitu pula kaki yang melangkah, berimpit meniadakan jarak, serasa itu ketidaksenonohan yang tak termaafkan. Dan Margio selalu merasa segan oleh keberadaan dirinya di tempat salah semacam itu, bahkan hingga tahun-tahun yang datang. Jauh di luar itu semua, dari dasar kelelakiannya, Margio menyukai gadis tersebut. Barangkali karena kecantikannya yang asali, yang datang dari dunia di mana kecantikan sesungguhnya berasal, atau barangkali disebabkan gadis itu terus-menerus melenyapkan jarak di antara mereka. Malam-malam jahanamnya selalu dihiasi wajah ayu tersebut, ia pun lupa entah sejak kapan, dan Margio akan sangat menderita sebab bayangan jarak dan ketidaksentuhan selalu menghantui dirinya untuk memiliki Maharani. Baginya, rasa cinta yang sekonyong datang itu lebih serupa gagasan cemerlang yang terlampau membingungkan untuk menjelma. Tapi Maharani, di sisi lain, telah jatuh cinta kepadanya dari masa yang juga entah, dan semakin mencoba untuk memastikan bahwa mereka bisa saling memiliki.

Malam penuh hujan itu hanyalah awal dari perasaan yang berleret-leret tak karuan, mulanya barangkali tak lebih dari sebuah persahabatan kecil dua anak. Mereka sebaya, bagaimanapun, dan kemudian menemukan diri mereka sekolah di tempat yang sama, di seberang lapangan bola dengan gedung yang abadi sejak Belanda masih hilir-mudik tak lama selepas para tukang patok berdatangan. Margio akan berbelok untuk menjemputnya di kala pagi berangkat sekolah, sebab Maharani tengah menunggu di sana, dan dua bocah berseragam melintasi lapangan bola berceloteh tentang karib-karib mereka. Barangkali di saat-saat semacam itu dewa-dewi cinta terbang di atas keduanya, merajutkan tali asmara dengan gencar, kadang putus namun lebih sering makin terjalin kencang, hingga tak satu pun dari mereka menyadari kapan persisnya mulai bermimpi tentang persekutuan, tentang hasrat untuk berbagi dan memiliki yang lain untuk diri sendiri. Dan kala tiba waktunya pulang, Maharani akan menanti di gerbang sekolah, atau Margio mesti menunggu, untuk berjejer melintasi kehijauan rumput yang sama. Ikatan redup yang timbul-tenggelam itu terus meringkus bersama hari-hari Margio melewatkan banyak waktu di rumah Anwar Sadat. Anwar Sadat telah memperlakukan bocah itu serupa anaknya sendiri, meskipun sekadar demi hal-hal praktis kebutuhan akan tenaga anak lelaki, namun  menyayanginya  atas dasar kebaikan sikap Margio. Anwar Sadat tampaknya mulai bercuriga anak bungsunya jatuh hati pada bocah itu, tapi didorong bersikap tak peduli, tak hirau dengan macam lelaki mana pun yang akan diambil anak perempuannya, setelah bosan dengan segala peristiwa yang menimpa Laila dan Maesa Dewi.

Maharani akan memaksa dirinya untuk duduk di sofa yang sama, melihat televisi sore berdua, serasa mereka sepasang kekasih terjinakkan yang semua orang mesti tahu bahwa keduanya dilahirkan untuk menjadi pasangan tunggal abadi. Bahkan bersama berlalunya kebiasaan-kebiasaan tersebut, yang membawa Margio mengakrabi rumah Anwar Sadat lebih karib dari rumahnya sendiri, yang menggiringnya untuk menikmati sekantung keripik kentang bersama Maharani, tak menghilangkan juga sikap kikuk yang mendasar dalam dirinya. Ia selalu, dan terus-menerus, mengingatkan dirinya bahwa keintiman tersebut barangkali semu dan hanya kesenangan sejenak. Maharani bakalan menemukan seorang lelaki lain dan akan jatuh cinta kepadanya dan segera melupakan seorang bocah bernama Margio. Bocah itu selalu dalam keadaan bersiap untuk memperoleh waktu ketika nama Maharani hanyalah sebuah kenangan manis di masa lampau.

Ketika Anwar Sadat mengirim si gadis ke timur untuk masuk universitas, Margio melihat sebuah celah pembebasannya, sebab jauh lebih baik untuknya melihat gadis itu memilih lelaki lain dan mengabaikan dirinya daripada tersiksa oleh pikiran cinta yang tak akan pernah terungkapkan. Keyakinan itu demikian kental bahwa di universitas akan ada banyak lelaki, sebagian besar cerdas keparat dan tak seorang pun akan lalai menyadari seorang gadis cantik di sekitar mereka, dan lelaki-lelaki ini akan bersitegang menaklukkannya, dan demi waktu Maharani akan terjinakkan oleh satu di antara mereka. Margio ada di sana mengiringi kepergiannya penuh harapan semacam itu, ikut menenteng tasnya yang penuh berisi pakaian. Maharani akan pergi bersama Anwar Sadat dengan mobil travel yang menanti di depan rumah mereka, di samping kelapa cina tersebut. Margio melesakkan tas-tas besarnya ke bagasi sementara Maharani mencium tangan ibunya, Laila, Maesa Dewi, lalu berdiri di depannya serta sekonyong meminta cium tangannya pula. Margio merelakan tangannya dikecup, membikin gemuruh ribut di lambungnya, namun itu belum seberapa dibanding tangan yang menggenggam serta-merta demikian erat, bukan untuk sebuah kecupan perpisahan, tapi untuk sentuhan penuh cinta, di malam ketika perusahaan jamu memutar film cuma-cuma di lapangan bola.

Dan kepergiannya ternyata tak juga membebaskan Margio, sebab setiap sempat Maharani akan muncul meliburkan diri, dan setiap kepulangannya ia selalu berharap Margio ada untuknya, memilikinya untuk diri sendiri, dan rajut-rajut di antara mereka bertambah-tambah rekat dan bukannya melonggar. Dalam pertemuan-pertemuan kecil semacam kencan tersebut, Maharani akan berkisah tentang apa pun yang dikenalinya di universitas, dan ia menceritakan itu seolah semuanya juga milik Margio. Waktu itu Maharani belum menyentuh tangannya dan mereka berjalan beriringan belum bergandengan tangan, meski iringiringan keduanya telah membuat orang sekampung bersepakat keduanya saling jatuh cinta, atau versi istri Mayor Sadrah adalah, “Gadis itu tergila-gila pada Margio.” Kini, malam film perusahaan jamu itu, si gadis tampaknya mulai tak sabar untuk memastikan Margio tahu tentang cinta yang tertanam kukuh di sekujur tubuhnya, dan kini jelas bagi Margio bahwa gadis itu miliknya, meski rasa jengah dan risih itu terus mengurung dirinya, masih menganggapnya sebagai Maharani si cantik yang tak tersentuh.

Mereka mundur dari penjual kacang rebus ke sebuah gundukan tanah berumput tempat biasanya orang duduk kala ada pertandingan bola, tepat di bawah pohon ketapang satu-satunya yang rindang memberi kegelapan. Betapa dekat mereka berimpit hingga Margio bisa menghirup aroma tubuhnya, dan sibak rambutnya menerpa wajah kala angin nakal menggelayutinya, dan ia masih tak percaya gadis itu telah mengatakan cinta kepadanya, suatu penegas bahwa wajah yang bulat telur ini, yang tetap bercahaya di dalam gelap, boleh dimilikinya untuk dibuat menjadi mahakarya apa pun. Itu hanyalah gagasan liarnya, sebab ia masih terhenyak di sana, menghirup bau tubuh si gadis serasa mencium aroma roti di balik etalase toko yang tak terbeli.

Menyadari keterdiamannya, Maharani memungut tangan Margio yang jatuh di tanah, menariknya dan melingkarkannya ke tubuhnya sendiri. Kini Margio memeluk si gadis dengan canggung, tak tahu apakah ia mesti mendekapnya erat hingga menekuk jauh kulit pinggang si gadis, atau membiarkan tangannya tergantung di permukaan sweater yang membalut Maharani. Gadis itu merebahkan kepala, melingkarkan tangannya sendiri ke tubuh Margio, hingga mereka semakin berimpit, dengan napas megap seirama. Jadi seperti inilah rasanya saling memiliki, hampir bersamaan mereka memikirkan itu, dan dewa-dewi cinta berdengung di atas ubun.

Di lapangan orang-orang mulai cemas dan sebagian berteriak, sebab malam bertambah dalam dan mereka telah bosan membeli jamu. Si pedagang yang cerewet, yang menjual jamu seolah perusahaan itu miliknya sendiri, meminta maaf sebab masih ada enam pembeli lagi yang menunggu, dan terutama karena televisinya belum dimenangkan siapa pun. Senyatanya, televisi itu hanya barang pameran yang tetap tak beralih tangan hingga akhir, perayu paling mujarab melebihi mulut berbuih si lelaki  di depan mikrofon tersebut. Lalu selepas pembeli keenam, ia menutup pintu boks mobil, untuk dibuka kembali entar saat pergantian rol film, dan kini cahaya proyektor telah jatuh ke layar putih yang bergoyang disibak angin. Orang-orang bertepuk dan sebagian bersuit.

Sebagaimana telah diumumkan sejak seminggu sebelumnya, itu film lama Cintaku di Kampus Biru, yang penuh cium pembangkit berahi.

Margio dan Maharani tak terlampau hirau pada film tersebut, selain jarak pandang yang terlampau jauh dan suara yang lenyap oleh keriuhan orang, mereka terjerumus dalam kegundahan sendiri untuk menafsirkan tubuh mereka yang masih terus berimpit, bertukar rasa hangat dari udara yang semakin kental, sebab tampaknya nanti malam hujan lebat bakalan datang. Margio bahkan bisa merasakan tubuh di balik sweater itu mengalirkan darah bertambah kencang, sebagaimana darah di tubuhnya sendiri.

Kemudian Maharani menggeliat dan kepalanya mendongak, menatap dagu Margio yang mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar namun terpotong pendek. Mata itu masih di sana, seolah ada sesuatu bergerak di dagu Margio dan ia tengah memerhatikannya tak terganggu, bikin Margio serasa lenyap napas, namun tersadar ia mesti bersikap sebagai lelaki dan kekasih, maka ia menoleh ke samping, balas menatap mata itu. Kini jarak mereka semakin dekat dan mereka bisa saling bertukar udara yang dihirup, merasai aroma napas bersama, dan kedua dada bergejolak jadi satu. Mata si gadis yang teduh di bawah naungan bebulu lentik, yang redup di antara cahaya kilas remang dari lampu jalan dan rembulan tersapu kabut, memandangnya penuh permohonan, dan Margio tahu apa yang diinginkan, namun ia tak tahu bagaimana memberikannya.

Margio bodoh, pikir si gadis. Maharani memburu, dan Margio hampir tersedak, namun mempertahankan harga dirinya sendiri, ia diam menanti, hingga bibir si gadis menyentuh miliknya, keduanya telah sama basah dan bibir itu menghujam deras dan mereka sama tak tahu bagaimana awalnya berciuman kecuali saling menyentuh bibir dan berbagi rasa hangat dan merasakan lidah yang lembut.

Mereka tercerabut sejenak, menyadari keberadaan diri di lapangan bola meski tak seorang pun mengintip, saling pandang dengan mata berbinar di wajah si gadis dan tatap sedih di roman Margio. “Ada hal yang kau tak tahu,” kata Margio getir, lirih dan tak terdengar oleh telinga si gadis maupun dirinya. Ada rasa sakit menyadari telah mencium si gadis, namun ia belum juga bisa mengungkapkan rasa pedih itu. Maharani sendiri tampaknya mulai waspada pada sikap dinginnya, kini duduk tegak tanpa bersandar ke bahunya lagi, membuat Margio merasa semakin perih, di sisi lain takut kehilangan gadis terpuja ini. Maharani memberinya pandangan tanya, namun hanya terjelaskan ketika ia membuka mulut.

“Apakah kau tak suka aku?”

Pertanyaan itu menusuk. Tentu saja itu tidak, Margio sangat memuja Maharani demi langit dan bumi, dan akan pedih hatinya kehilangan sosok ini suatu masa, meski ia terus dibebani rasa tak patut yang mengungkung. Bocah ini pendusta liar yang mencoba jujur, mencoba mencari cara membebaskan dirinya dari rasa tertekan penuh tuduhan tersebut, dan berbisik.

“Aku gugup.”

Untuk sementara itu membuatnya terbebas. Maharani tampaknya suka dengan gagasan, aku gugup. Itu sangat romantis, pikirnya, menghadapi kekasih yang gugup. Tentu saja mereka mesti gugup, sebab ini ciuman pertama, dan harus diakui dirinya sendiri gugup tak main-main. Ia suka gagasan ini, dan menggelayut semakin manja pada Margio, seolah dengan cara itu mereka tengah belajar bagaimana mengusir rasa semacam itu. Hanya Margio yang mengutuki dirinya dalam hati, atas ketololan keparatnya, yang tak juga mau mengakui bahwa dirinya tak sekadar gugup, namun merasa tercabik dan luka. Sebab ada sesuatu yang tak diketahui si gadis, yang menghalanginya untuk merengkuh membalas cinta membara tersebut, sesuatu yang lebih dari sekadar jarak pemisah. Sesuatu yang membuatnya memaki sebab tak juga sanggup mengatakannya.

Maharani pulang sehari setelah kedatangan Margio kembali, barangkali gadis itu juga mendengar kematian Komar bin Syueb. Maharani bilang sedang liburan, Margio percaya bahkan seandainya tidak liburan pun gadis itu akan pulang untuk menghibur dirinya, menyapunya dari duka. Niat itu sungguh sia-sia, sebab Margio tampak tak berduka sama sekali.

Setiap hari  Maharani  mendatangi  rumahnya,  bahkan kadang ikut makan bersama mereka, membalas waktu-waktu lampau kala Margio bersantap di rumah  Anwar  Sadat.  Harihari itu mengintimkan keduanya, mengentalkan rasa suka yang mengendap lama, dan tampaknya telah memberi keyakinan pada si gadis untuk mengungkapkannya. Suatu kali Maharani bahkan meminta dibawa ke kuburan Komar, dipenuhi keluguan bahwa bocah itu akan membawanya ke sana, tapi Margio dengan tegas berkata tidak. Maharani mulai mengenang cerita lama saat semua orang mengatakan kegalakan Komar bin Syueb dan ia sendiri pernah melihat bagaimana Margio kecil dihantam galah jemuran. Ia baru menyadari bocah itu membawa luka yang demikian panjang, dan berhasrat mengobatinya dengan cinta tulus.

Margio sendiri baru pergi tak lama setelah kematian Marian, menghindari suatu kecerobohan ia bakalan membunuh Komar bin Syueb sebagaimana dikatakannya kepada Mameh, sebab kini ada harimau di dalam tubuhnya, dan ia belum juga mengerti bagaimana mengendalikannya. Ia pergi bersamaan dengan kepergian rombongan sirkus, dan sesungguhnya memang mengikuti rombongan tersebut ke kota yang tak jauh, hanya satu jam perjalanan. Ia telah membujuk manajer Holiday Circus untuk memberinya pekerjaan serabutan, katakanlah memberi makan gajah dan kuda. Manajer sirkus yang melihat tubuh kekarnya, dan mata yang memohon, mengabulkannya, dan terbukti ia bisa mengerjakan banyak hal penuh kesungguhan. Tapi niatnya yang paling asali tak lebih ingin melihat bagaimana pawang-pawang itu menaklukkan harimau mereka, mengintip saat mereka berlatih, selama dua minggu bergaul bersama orang-orang itu, namun selepas penutupan pertunjukan berikut dan rombongan sirkus itu hendak berangkat kembali ke kota-kota yang membentang sampai timur, Margio melihat kesia-siaannya, dan mengerti harimau sirkus itu berbeda dengan yang bersemayam di dirinya.

Ia menerima upah dua minggu kerjanya, dan tak lagi mengikuti rombongan sirkus, namun menetap di kota tersebut dengan harapan terus mendengar segala perihal akan kotanya. Bagaimanapun ia tak bisa mencerabut dirinya dari sana, tak peduli di kota itu bersimaharaja ayah yang kejam, sebab ia sekalidua merindukan ibunya, Mameh, dan lain kali menyelinap raut muka si cantik Maharani, kawan-kawannya, warung Agus Sofyan, surau, pos ronda, dan ia tak sanggup kehilangan itu semua. Di sanalah ia berdiam, mewanti-wanti sopir dan kenek bis yang dikenalnya untuk tidak kasih tahu siapa pun bahwa ia ada, dan mendengar kabar apa pun yang dibawa mereka.

Hingga suatu siang, seorang sopir bis memberitahunya, “Ayahmu mati hampir membusuk.”

Ia naik bis itu, duduk di tepi jendela yang dibiarkan terbuka, hingga angin laut yang menerobos deretan pandan menerpa wajahnya. Sepanjang jalan pikirannya menjelajah, seolah ayah yang berbaring mati membusuk di depannya, dan baginya tak ada keajaiban apa pun kecuali mendengar Komar bin Syueb mati tanpa perlu ia menggorok lehernya.

Ia turun dari bis bersamaan dengan datangnya truk yang membawa rombongan pemburu babi, darahnya terkesiap menyadari ia tertinggal dari perburuan penuh gelora itu. Puluhan ajak turun dari truk terikat tali-tali kulit, melonjak-lonjak dan berpusing   di trotoar jalan sebelum seseorang membawanya ke pekarangan rumah Mayor Sadrah tepat di pinggir jalan samping kantor rayon militer. Dua ekor babi gemuk, dengan mata yang menatap kosong, terikat kakinya ke bambu yang digendong empat pemuda untuk setiap babi. Ajak-ajak itu bakalan senang jika hari adu babi tiba, pikirnya, dan saat babi itu mati di arena adu, kemudian para pemakan daging babi di restoran-restoran milik orang Cina di tepi pantai pasti akan berpesta. Mereka tampak penuh lemak, meski dagingnya berserat banyak. Ada bau lumpur yang diakrabinya, menambah-nambah rasa sesal ia tak bersama mereka. Margio hanya melambaikan tangan, terutama untuk Mayor Sadrah, sebab Komar bin Syueb belum juga dikuburkan. Awalnya ia ingin menentang saat tahu Komar bin Syueb akan dikuburkan berdampingan bersama Marian, tapi Mameh bersikeras sebab itulah permintaan terakhir ayah mereka. Melihat kesungguhan Mameh mempertahankan gagasan tersebut, Margio menyerah dan membiarkan takdir bicara jika Komar bin Syueb dibikin mati berkali-kali di neraka oleh dendam si kecil Marian. Ia pergi ke surau sebab Komar telah dibawa ke sana, hari menjelang sore, dan ikut mendirikan salat jenazah. Ketika Kyai Jahro bertanya kepadanya apakah ia ingin melihat wajah Komar, penuh kesungguhan Margio menggeleng, seolah cemas jika ia melakukannya, Komar bin Syueb akan terbangun lagi.

Keranda mulai ditopang, Margio bahkan belum sempat rehat, dan menerima keranjang penuh kelopak bunga dari Mameh. Apa pula gunanya bunga-bunga untuk lelaki bangsat busuk ini, pikirnya. Namun sekali lagi, ia melihat tatapan mata Mameh yang memohon dengan sungguh bahwa ia akan menyawer keranda Komar dengan bebunga tersebut, dan tidak membuangnya ke selokan. Margio baru menyadari, di rumah 131, Mamehlah tampaknya yang paling waras di antara mereka, dengan sikap tulusnya yang teruji nyaris tanpa dendam. Ia memandang adiknya, ikut bersedih mengenang masa-masa gembira yang barangkali tak pernah mereka miliki, seolah ingin berkata, sekaranglah saatnya kita riang, setelah yang satu ini mampus ke neraka.

Kyai Jahro mengumandangkan doa dan beberapa kawan dari truk yang masih berlepotan lumpur ikut mengiringi keranda. Margio berjalan di belakangnya, meraup bebunga dan melemparkannya ke atas tubuh yang berbaring, membuat kelopak-kelopak itu terbang serupa tirai penuh warna, memancarkan hawa yang semakin bertambah murung, di antara riuh orang yang berdendang memuji Nabi. Mereka berjalan beriringan, menerobos setapak yang memotong perkebunan cokelat meranggas, di bawah pijar matahari sore yang membikin segalanya mulai merah, ke tempat permakaman Budi Dharma.  Harimau  itu  menggeliat di tubuh Margio, namun Margio menenangkannya, berbisik lirih, lihat, lelaki itu telah mati, istirahatlah. Kembali tangannya meraup kelopak bunga, melambungkannya, dan kini mereka melambai pasi serasa enggan untuk jatuh, serasa mewakili ketidaksudian pemiliknya, melayang tenggelam dan terhenyak di jalan berpasir, sebelum lumat terinjak kaki-kaki yang berpijak.

Penggali kubur telah menantinya penuh sabar, bertopang pada ujung tiang cangkul sambil menghirup lintingan rokoknya. Benarlah kata Mameh, liang kuburan itu menganga di samping gundukan tanah milik Marian, dan Margio masih terkenang saatsaat ia membenamkan tubuh mungilnya di sana, menancapkan nisan bernama dirinya. Kini ia berdiri di sampingnya, menjatuhkan segenggam bunga di atasnya, dan kecengengan yang tak terduga hampir juga membuatnya menangis.

Mereka menurunkan keranda dan menyingkap penutupnya, kini tampak Komar bin Syueb berbaring berselimut kafan, sejenis kain yang sama dipergunakannya untuk membalut orang di tempat cukurnya. Kyai Jahro mengucapkan doa-doa yang tak dimengerti Margio, sebab pelajaran mengajinya tak tuntas betul, pernah khatam namun tak pernah memahami makna, membuatnya sekadar mengangkat tangan dengan telapak tangan terbuka sementara keranjang berisi kelopak bunga tersisa dijejakkannya di gundukan tanah, ia amin berkali-kali mengikuti orang lain. Kyai Jahro menutup doa dan orang-orang mengucap amin penutup, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, lalu penggali kubur mulai turun ke dasar liang lahat, menyuruh Margio untuk datang membantu. Margio mencincing celananya, lalu bergegas turun, berdiri di samping penggali kubur, merasakan tanah basah di hamparan kakinya, tanah yang akan menjadi rumah penghabisan ayahnya.

Dua orang kawan mengangkat tubuh Komar dari keranda, dan memberikannya kepada Margio dan penggali kubur. Tubuh itu demikian berat, sungguh tak disangka oleh Margio yang telah melihatnya menjadi tua dan ringkih, apalagi ditambah cerita Mameh betapa lelaki itu menjadi sakit renta selepas kepergian Margio. Namun sungguh, tubuh itu berat, dua kawan di atas itu merasakannya dan tampak keterkejutan di wajah mereka menilik tubuh berkafan tersebut sesungguhnya tak lebih ramping dari batang pisang, dan kini penggali kubur serta Margio dibuat terkesima pula. Mereka sedikit terhuyung, kaki menekuk dan meletakkan Komar di dasar sumur kematiannya, dengan napas tersengal dan di sana tubuh si mati meringkuk.

Ternyata lubang kuburan itu terlampau kecil untuk tubuhnya, sehingga Komar tak bisa terbujur lepas di sana. “Demi Tuhan,” kata penggali kubur setengah memaki, “aku telah mengukurnya.” Margio juga melihatnya, dan berpikir barangkali masih butuh satu atau dua jengkal lagi. Maka dengan payah mereka kembali mengangkatnya, bikin  kain  kafannya  melorot  tak  karuan  dan digeletakkan kembali di dalam sangkar keranda. Margio menunggu di satu sudut liang lahat, sementara sambil bersungut penggali kubur meminta kembali cangkulnya, dan menambah sekitar dua jengkal liang kubur tersebut. Ia bekerja bergegas, mencungkil tanah, melemparkannya ke atas, sebab hari semakin petang dan warna merah merajalela.

Kembali mereka menurunkan mayat Komar, dan semakin bertambahnya waktu bertambah pula beratnya. Entah bagaimana bobot itu meningkat, tapi keempat orang yang membopong mayat tersebut merasakannya, seolah di dalam tubuh itu tersimpan satu beban yang membuncah. Margio berpikir pastilah itu dosa, dan ia merengut dalam hati mesti ikut menanggung beban dosa sang ayah di bahunya sendiri. Bersama penggali kubur, ia menjatuhkan mayat itu demikian rupa untuk tak terlampau melelahkan diri.

Kini mereka melihatnya lagi, kuburan itu masih terlampau sempit bagi Komar bin Syueb. Tak ada yang tahu apakah tubuh itu terus memanjang sebagaimana bobotnya semakin bertambah, atau kuburannya menyempit kembali selepas penggali kubur menambahnya. “Demi Tuhan,” kali ini penggali kubur sungguh memaki, “Tanah ini tak sudi menerima tubuhnya.” Margio dan lelaki itu mesti melemparkan kembali mayat tersebut dengan payah ke dalam keranda, dan liang kuburan kembali ditambah, dua jengkal. Mereka menurunkannya, kembali sesak, menambah liangnya dua jengkal, menurunkannya lagi dan tetap sesak, seolah liang itu mengatup dan enggan melahapnya.

Wajah penggali kubur mulai pucat diterpa angin sore menggigilkannya, didera rasa lelah yang menjadi-jadi. Di sampingnya Margio perlihatkan muka yang mulai marah, darah segar membikinnya merah. Semua mereka memandang Kyai Jahro yang berdiri di atas gundukan tanah, tampak sang kyai juga gelisah. Kini ia tampak bergumam, merapalkan doa memohon pada Sang Hakim untuk menerima tubuh itu sebab manusia hidup tak menginginkannya tak terkubur dan membusuk. Sepanjang doanya yang gumam, daun-daun berguguran dan angin berembus tambah galak. Mata sang kyai terpejam, mulut tak henti bergerak, sebelum ia membuka muka, menatap mayat yang meringkuk di bawah sana, lalu memandang orang-orang, dan berkata, “Kuburkan dengan cara apa pun.”

Demikianlah Komar bin Syueb dibenamkan di sana, tak peduli ruang yang sesak baginya, hingga tubuhnya mesti menekuk serupa anjing meringkuk. Setiap orang yang melihatnya merasakan derai rasa iba itu, bahkan Margio yang lama membencinya, tapi barangkali itulah kutukanmu, pikir Margio, memandang tubuh yang serasa tengah menahan sakit. Margio dan penggali kubur mengganjal tubuhnya dengan gumpalan-gumpalan tanah, agar tak berguling, sebab cacing-cacing ingin memakannya tak terganggu, kemudian memasang kayu-kayu penopang, berderet menutupi bebayang putih kain kafan. Deretan kayu tersebut menjadi benteng kukuh yang memisahkan dunia hidup dan mati, dan di sanalah Komar bin Syueb terkurung, merenungi akhir hidupnya.

Hari telah sungguh remang ketika mereka menguruknya dengan tanah merah bercampur pasir. Penggali kubur menginjakinya perlahan, namun tidak sampai padat, sebab selalu merupakan tindakan berjaga-jaganya seandainya si orang mati hidup lagi dan menyisakan kemudahan baginya untuk kembali menggali. Ia menancapkan nisan bertuliskan nama lelaki itu semasa hidup, berderet dengan nama ayahnya, menghiasinya dengan batu-batu kerikil kecil. Didorong rasa ibanya yang aneh, Margio menancapkan batang pohon kamboja di salah satu ujung kuburan, dan melemparkan kelopak-kelopak bunga yang tersisa, meruapkan bau mawar dan melati dan kenanga. Komar bin Syueb ditinggalkan di sana, bersama angin laut dan hantu-hantu.

Kini mereka kembali menenteng keranda kosong, sementara udara semakin hening, menempuh jalan pulang dengan langkah bergegas. Peluh mengucur di dahi Margio, namun ia tak ada merasakan lelah, dan mulai memandang segala sesuatunya dengan cara yang sedikit menyenangkan. Berkali-kali ia memberi tahu dirinya, pikirkanlah, jahanam itu telah mati, kini semua di tangan mereka bagaimana hidup selanjutnya hendak dijalani. Di rumah Mameh telah menunggu, mengadu padanya habis ditampar ibunya, dan Margio tercenung apakah Komar bin Syueb telah mewariskan kekejian itu pada Nuraeni, namun demi mendengar penjelasan Mameh, hendak ketawa juga ia jadinya. Namun gagasan Mameh tampaknya benar, ada baiknya juga membiarkan perempuan itu kawin lagi. Ia masih terlampau muda, berapa? Belum empat puluh, pikir Margio, dan belum saatnya untuk menjadi janda dan membusuk. Ia akan sangat bahagia siapa pun lelaki yang hendak mengambilnya bini, asal tidak lelaki serupa Komar, dan suatu jaminan tak akan kasih polah bengis kepadanya. Margio akan melakukan apa pun demi kedamaian Nuraeni, dan kawin merupakan satu yang dipikirkannya sebagaimana Mameh. Hanya saja tampaknya memang terlampau tergesa mengatakan itu di kala lakinya mati di hari yang sama. Sebenci apa pun Nuraeni pada Komar, ia bakalan menampar Mameh untuk mulut lancang anak perempuannya. Margio menghibur Mameh bahwa bersama berlalunya waktu, ibunya akan pulih dari segala kesintingan, dan mereka akan mendapatkan perempuan yang manis itu.

Mameh kemudian menyuruh Margio untuk memotong ayamayam Komar yang tersisa. Awalnya Margio enggan, tak bisa memahami gagasan Mameh yang hendak membikin selamatan untuk lelaki yang bahkan ditolak bumi. Ia tak menceritakan kejadian di kuburan itu, takut menambah duka Mameh, namun tetap enggan mengikuti maunya bikin acara mendoakan lelaki paling keji yang pernah dikenalnya. Tapi kembali Mameh bersikeras, menyadarkannya orang mati tetap butuh selamatan, dan Komar masih menyisakan beberapa ekor ayam dan kelinci. Melihat gadis yang mulai mengendalikannya dengan penuh kewarasan itu kembali Margio menyerah dan meminta bantuan seorang kawan untuk memegangi ayam-ayam tersebut, dan menenteng pisau dapur ia mulai memenggali leher mereka, sementara Mameh bersiap di dapur.

Itu membuat Margio terkenang saat-saat ia sering mencuri ayam Komar untuk menunjukkan rasa sebalnya. Tampaknya Komar tahu siapa yang sering mencurinya, tapi disebabkan saat itu Margio telah tumbuh jadi pemuda akhir belasan tahun, Komar tak lagi berani mengadu untung dengannya. Mameh juga tahu siapa yang mencuri ayam-ayam itu, sebab ia bisa menandainya, mendengar Komar mengeluh kehilangan seekor ayam di Kamis pagi. Satu-satunya kecurigaan mestinya ditujukan untuk para peronda di malam Kamis, dan Margio ada di antaranya, sejak bertahun-tahun lalu menggantikan tugas ronda ayahnya sebagaimana berlaku bagi anak-anak lain yang menggantikan tugas ayah-ayah mereka.

Ayam-ayam telah dipotong dan Mameh menenteng ember berisi air panas tempat mereka dibenamkan di sana. Ia telah bersiap untuk menguliti, sementara di dapur kompor telah menyala  menjerang air untuk merebus daging, dan rupanya Mameh telah bersiap pula dengan nasi yang tanak saat mereka pergi ke permakaman Budi Dharma. Saat itulah Nuraeni muncul di ambang pintu, sementara adzan Magrib mulai dilantunkan Ma Soma dari surau, memandangi kesibukan mereka. Roman mukanya tak memberi pertanda apa pun, wajah itu dingin, semakin keruh sejak kematian Marian dan kini ditambah tumbangnya Komar. Margio menoleh dan hanya memohon pada semesta, semoga waktu bisa memberinya sedikit riang yang pernah dilihat saat Marian dilahirkan ke dunia.

Bayi itu telah hampir sekarat sejak Margio melihatnya, kecil tak lebih besar dari betis kakinya sendiri, hanya kepala yang sedikit membesar, namun dengan rongga cekung dan dagu menonjol, sejenak serupa belalang. Margio tak melihat itu awalnya, sebab si bayi merah masih terbungkus kain belit-membelit, dan selimutnya sedikit memalsukan dirinya serasa itu gemuk, sebelum pagi ketika Mameh datang membawa rantang air hangat dan Nuraeni membuka gulungan kain si bayi untuk membasuh tubuhnya. Demikianlah belalang itu tampil mengenaskan, tangis kencang yang diteriakkannya menjelang subuh tak lagi muncul kecuali tergolek dengan mata separuh terpejam.

“Tampaknya ia bakal mati,” kata Nuraeni.

Air susunya tak mengalir deras, malahan sekonyong habis oleh sedotan pertama si bayi. Kasia datang menjelang sore memberi susu dalam botol, namun bayi mentah itu hanya mencicipinya dengan enggan, hanya mengatup-buka mulut mungilnya dan susu meleleh di pipinya. Napas kecilnya bergerak kencang, kadang ia menangis kecil, namun lebih banyak bisu seolah bakalan jadi gadis kecil manis tak banyak polah. Margio duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur ibunya, penuh kecemasan memandang kehidupan yang rapuh tersebut, hanya memandang Nuraeni dan Mameh dan mereka saling bertanya dalam hati apakah si kecil itu akan sanggup melihat matahari besok.

Margio menghirup udara kamar yang lembab, masih bau amis sisa persalinan dan merasai ketidaksehatannya. Langitlangit bilik bambu itu berhias genangan cokelat oleh rintik air hujan yang memercik dari atap, dengan kapur mengelupas dan laba-laba tak ada henti membangun sarang. Ada lampu kecil kemerahan tergantung, tak memberikan kehangatan macam apa pun, dan tak memberi terang pula. Kain-kain bertumpuk di satu sudut kasur, juga pada keranjang, dan tas sekolah usang Mameh di atas lemari, sepatu-sepatu tak terpakai di kolong tempat tidur. Bagi Margio, semua itu tampaknya tengah bersekongkol untuk mencekik si bayi kecil. Ia berdiri dan meminta izin membuka jendela, Nuraeni dan Mameh tampaknya sepikiran dengannya, maka merayaplah Margio mendorong mencari cahaya yang datang dari pekarangan samping rumah, bersama hawa segar yang bergelombang menyatroni kamar. Itu sedikit menghangatkan, dan memberi aroma dedaunan serta bebunga, dan tanah gembur. Sepercik cahaya menyentuh si bayi, Mameh memindahkannya cemas itu bakal menjadikannya gosong, namun si bayi masih juga setengah terpejam, seolah tak merasakan kehadiran semesta indah yang datang menyambutnya.

“Tampaknya ia bakalan mati,” kata Nuraeni lagi. Roman perempuan ini menjadi sedih selepas kalimat keduanya, menyapu seluruh riang yang berlabuh di wajahnya. Tak ada senyum penghiburan di bibirnya, juga tak lagi bersuara kecil dalam dendang nina bobo, dan tangannya tak lagi membelai rambut jarang si bayi mentah. Kini ia memandangnya dengan mata sayu, serasa tengah menghadapi mayat sungguhan, atau ia tahu kematian bayi tersebut memang telah ditakdirkan dan ia tengah melihat bagaimana jiwa si kecil melompat dari raganya. Margio tak sanggup melihat tamasya tersebut, baik si bayi maupun ibunya, sebab ia pun tak mampu mengusir rasa cemas tersebut, dan pilih meninggalkan kamar menghindari menyaksikan proses kematian dan kejatuhan mendalam seorang ibu yang sedih.

Sepanjang hari itu Komar bin Syueb masih juga belum pulang, dan ingin benar Margio memenggal kepalanya. Lelaki itu tampaknya tidak pergi ke kios cukurnya, sebab kotak perkakas itu ada di kamarnya. Tapi sepedanya lenyap, begitu pula ayam bangkoknya. Margio segera tahu Komar pergi ke tempat sabung ayam di reruntuhan stasiun kereta sejak kemarin sore, dan hanya Tuhan yang tahu di mana semalam dirinya.

Stasiun itu tak jauh dari 131, beberapa ratus meter ke arah belakang, dan kini Margio pergi ke sana dengan tangan melesak ke kantung celana, melewati deretan rumah, hanya mengangguk pendek kala jumpa seorang kawan, menerobos pabrik batu bata hingga ia sampai di dua batang besi rel yang berjejer nyaris tak ada ujung. Jalan kereta api itu telah lama tak lagi berguna, papanpapan kayunya telah lapuk, besinya berkarat, dan sebagian lenyap tenggelam dalam arus rumput liar setinggi lutut. Rumah-rumah sekitar kini memakainya untuk menggelar kasur dijemur, yang lain menjejer kayu bakar memanggangnya di bawah terik, yang lainnya lagi menghamparkan terpal dan memandikan gabah dengan cahaya matahari. Beberapa penggembala membiarkan domba-domba dan sapinya menghabiskan rumput liar tersebut, meski tak pernah terpangkas betul sebab mereka tumbuh lebih cepat daripada hewan-hewan mencerna, dan para pejalan mempergunakannya sebagai jalan pintas yang lengang tak hiruk-pikuk.

Margio masihlah ingat waktu kereta masih ada, tak lama sejak kedatangan mereka di sana. Rute itu merupakan jalur buntu, dan beberapa kilo ke arah barat kereta bakalan bertemu stasiun penghabisan. Hanya ada satu kereta melintasi rel membentang itu, bolak-balik sendirian, sebab itu ia bisa berhenti sesuka hati tanpa waswas bertubrukan dengan sesama. Ada lelucon seorang penumpang bisa turun di depan rumahnya dan tidak di stasiun, dan penumpang lain menghentikannya untuk ikut naik, dan lain waktu masinis menarik rem sebab rel kereta dipenuhi kayu bakar atau onggokan tubuh sapi, untuk sejenak mereka mesti mengusirnya sebelum melanjutkan perjalanan. Bagaimanapun lelucon itu benar sepenuhnya, sejauh yang diingat penduduk kota. Hingga suatu hari kereta tak pernah lagi datang, tanpa kabar dan penjelasan, serupa pacar yang enggan melanjutkan hubungan.

Tapi kepala stasiun masih ada di tempatnya, tak ada orang yang tahu apakah ia pensiun atau masih menunggu kereta hantu, tinggal di samping gedung tua yang menjadi ambruk bersama datangnya hari, dan orang-orang masih memanggilnya sebagai Kepala Stasiun. Gedungnya sendiri tak tertempati, perkakasnya hilang satu persatu, hanya meninggalkan gentanya yang abadi, serta papan nama. Kotak penjualan tiket telah dipergunakan beberapa orang pelacur menjual kekayaan badaniah mereka, beralas tikar daun pandan, dan peronnya mulai dijejali kandangkandang merpati serta kurungan ayam. Itulah istana para petaruh sabung ayam dan totoan merpati, setiap sore yang cerah bisalah dilihat iringan burung-burung itu terbang di atas rel lebih cepat dari lokomotif yang pernah mereka miliki, dan di sudut yang lain ayam-ayam melompat menguji taji ke tubuh sesama.

Bagaimanapun, ketika Margio datang ke sana, hari masih terlampau dini untuk semua hiruk-pikuk tersebut. Ia hanya menemukan ibu-anak gelandangan tergolek di atas kardus dan seekor anjing mengaduk sampah.

Tak ada seorang pun bisa ditanyai perihal Komar bin Syueb. Margio hanya bersandar pada palang, dahulu untuk mengganjal kendaraan lewat sementara kereta melesat, menampilkan wajahnya yang paling keruh. Seharusnya bajingan itu ada di sini, pikirnya, sambil melihat kotoran ayam dan merpati berceceran di teras stasiun seolah mencari yang mana kiranya telah dikucurkan bokong bangkok Komar bin Syueb. Ada orang-orang datang mendaki jalan yang membukit melintasi rel, mendorong sepeda mereka yang diganduli pisang-pisang hijau tua serta karung-karung tak jelas apa isi, tampaknya hendak ke pasar, dan perempuanperempuan menenteng keranjang hendak pulang belanja. Ditendangnya kerikil, dan ia pergi lagi berjalan di seruas besi sambil berjaga keseimbangan tubuh.

Stasiun tak pernah menjadi tempatnya, sejak kereta api hilang. Dahulu kala, saat ia masih terpesona oleh lokomotif yang mendengus-dengus dengan cerobong mengepul kelam, Margio sering lewatkan sore untuk memandanginya. Kadang naik ke lokomotif saat mereka melangsir, ikut berputar bersama bocahbocah periang yang bergelantungan tak ada takut. Lain waktu, sementara kereta berdengung di kejauhan, ia menaruh sebuah paku sembilan inci di atas rel, membiarkannya gepeng terlindas roda ganas kereta, dan setelahnya ia bakalan punya pisau kecil yang cukup dipalu-palu sejenak untuk membikinnya lebih tajam. Kadang kakek-kakek tua yang memergokinya sering takuti dirinya bahwa jika ia melakukan itu, barangkali kereta bakal terguling. Tapi Margio tak percaya dan terus melakukannya. Bahkan  suatu tempo mereka menabrak sapi gemuk, dan tidak terguling, malahan sapinya terbelah dua nyaris.

Komarlah penguasa stasiun, bersama kawan-kawannya para petaruh, terutama sejak Nuraeni sinting menjadi-jadi, dan belukar bunga tumbuh di depan rumah, dan bininya hengkang tak lagi mau tidur dengannya. Hampir setiap sore, selepas balik dari kios cukur dan mengempaskan sepeda ke gerumbul mawar, ia akan menenteng si bangkok dan pergi ke sana. Di bawah lampu merkuri yang masih menyala sejak masa stasiun hidup, ia bisa bertahan hingga malam, kadang sama sekali tak mengadu, hanya menonton dan kasih makan ayamnya, dan memandikannya dengan apa yang ia sebut sebagai ramuan.

Tak seorang pun di rumah peduli dengan urusannya ini, dan terlebih dengan masyuknya Komar bersama jagonya, ia jadi tak banyak bersikap bengis di rumah. Naluri hewaniahnya tampak tersalurkan di stasiun, dan mereka memperoleh sedikit rasa damai dari amarah dan pukulan, hingga tiba hari ketika Komar mengamuk menemukan istrinya bunting, namun itu pun malahan membuatnya semakin sering tak ada di rumah. Seseorang berkata pernah melihat Komar tidur di stasiun, barangkali bersama pelacur di kotak penjualan tiket, dan Margio yang mendengarnya tak peduli. Semakin Komar tak ada di rumah, semakin ia tak mencemaskan keadaan ibunya, yang waktu itu telah babak belur memperoleh hajaran.

Kini tak ada tanda-tanda lelaki itu di sana, meskipun ia hengkang bersama jago bangkok tersebut. Barangkali ia berselisih dengan seseorang, seseorang itu menggorok lehernya, memotongmotong tubuhnya, memasukkannya ke dalam karung sebelum membuangnya ke sungai diganduli batu. Komar bin Syueb hilang untuk selama-lamanya, dibawa kebungkaman sang pembunuh, dan memikirkan itu menyenang-nyenangkan Margio yang kini pulang lesu sepanjang rel hendak menerobos kembali pabrik batu bata.

Di rumah, lelaki itu ternyata telah teronggok di atas kursi, mengisap rokok kreteknya, sementara di pekarangan si jago bugar di dalam kurungan yang dibebani batu biar tidak tersibak angin atau diterjang si unggas. Dongkol sekali Margio dibuatnya, dan ada terbersit di hatinya untuk memaki, bertanya dari manakah engkau, Tuan. Tapi demi melihat wajah lelah itu, dengan garisgaris bergulir sekujur permukaan kulitnya, rasa sedih lain menyelinap ke jiwanya, memandang lelaki yang pada hari ini, barangkali belum, melihat seorang bayi dilahirkan istrinya dan bayi itu bukan anaknya.

Duduklah Margio di tentang jauh, memandanginya tanpa kata, berpaling ke pintu kamar di mana Nuraeni masih memandang duka si kecil yang sekarat dan Mameh menungguinya, dan kembali lagi pada Komar dengan karat menggerogoti umur senjanya. Keluarga itu lengkap sekarang, namun tampak tak terhubungkan oleh apa pun selain sebuah ruang remuk. Itu membuat mereka semua gelisah. Komar menoleh pada Margio, sejenak saja, tak sanggup berbalas tatap, dan kembali merenungi kretek di jarinya. Margio menatap kosong, setengah terpejam, bahkan tak tahu apa yang tengah dipikirkannya, hanya merasai napas sendiri. Hanya Mameh yang bergerak, keluar mengembalikan rantang air ke dapur, lalu kembali ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Nuraeni mendongak melihat Margio, ini pun sejenak saja, sebelum menekun si bayi yang mulai tertidur, barangkali tak akan bangun lagi.

Tapi ia masih hidup ketika hari baru datang, walau tetap mungil dan semakin tak banyak gerak. Susu ibunya telah tuntas kering, dan susu dari Kasia hanya terjilat kecil walau Nuraeni mencoba membenamkan itu di mulutnya. Rongga matanya bertambah-tambah cekung, dan dagunya semakin menggelayut, ataukah pipinya yang semakin lenyap? Bahkan bau ajal serasa mengapung, seperti kebul nasi di atas panci.

Bahkan selama hari payah tersebut, sementara si bayi bertarung dengan malaikat maut yang hendak membawanya ke surga, Komar bin Syueb tampaknya tak juga mau sudi melihatnya. Tak pernah sekalipun ia masuk ke kamar, dan si bayi tak pernah sekalipun dibawa keluar, sebab ibunya takut angin akan membawanya pergi tak kembali. Si ayah busuk ini hanya duduk di kursi depan, menghabiskan rokok kretek, lalu jika perut minta isi, ia pergi ke dapur dan makan sendiri, tanpa meminta tanpa menawari. Margio masih di tempatnya, selama itu ia tak banyak beranjak, bahkan tidur di kursi dan sejenak melupakan kawankawannya, menonton adegan-adegan seolah sebuah lakon dimainkan di rumah mereka, dan ia tengah mengawasi seandainya seseorang memerankan satu bagian yang tak semestinya.

Pukul sembilan Komar kembali ke kios cukurnya, dan mereka damai sejenak, meskipun Nuraeni tak tersembuhkan sama sekali dari kecemasan kehilangan si kecil. Margio sesungguhnya tak terlampau cemas dengan kehidupan bayi itu, ia lebih khawatir jika boneka setengah hidup itu mati, kesintingan semakin merajalela melanda ibunya. Pada saat itulah ia berharap Komar melakukan sesuatu, tak peduli itu bukan darahnya, demi Nuraeni, dan tak sekadar memandikan ayam jago semata. Namun jelas bagi siapa pun, Komar tampaknya merayakan kepayahan anak haram jadah tersebut, dan sepenuhnya berharap kematiannya.

Pada hari ketujuh, lelaki itu malahan menghilang, padahal mereka tengah bersuka ternyata si bayi mampu bertahan sejauh ini, hanya dengan tetesan susu botol yang dijilatinya dengan payah. Nuraeni, Mameh, dan Margio mulai merasa penuh pengharapan. Jika ia bisa bertahan selama seminggu, maka ia bisa terus hidup sampai bertahun-tahun, meski sosok tubuhnya tak menandakan ia bakalan terus bernapas dalam beberapa menit ke depan. Mulai ada senyum kembali di wajah Nuraeni, dan kini perempuan itu mulai bernyali untuk membawa bayinya keluar kamar, berbalut kain yang membentenginya dari segala marabahaya.

Tapi Komar pergi lagi dan tak jelas di mana hidungnya, padahal ia mestinya kasih nama, sebab bagaimanapun anak itu lahir di sini, dan semua orang hanya tahu itu anaknya. Margio kembali mencarinya, dan kembali tak menemukannya. Ia tak membawa perkakas cukur, juga tidak si jago aduan. Nuraeni telah bersiap sejak pagi di kursi depan, menyanyikan nina bobo yang menghasut sambil mengayun si bayi lirih di pangkuannya, dan berbisik sebentar lagi kau akan bernama. Tapi Komar hengkang dan tak ada pertanda akan kembali.

Mamehlah yang kemudian menyuruh Margio untuk mencukur saja si bayi. Tanpa keramaian dan tanpa karnaval, ia membongkar kotak perkakas ayahnya dan mencari gunting kecil serta silet pencukur. Si bayi masih setengah terpejam di pangkuan Nuraeni, kerepusnya diturunkan dan Margio membasuh rambut tipisnya dengan telapak tangan yang basah. Dengan dua jari, perlahan ia mengapit sejumput rambut hitam legamnya, lalu tangan lain mengangakan gunting, memangkasnya, dan rambut tanggal itu dihamparkan di selembar kertas yang disediakan Mameh    di meja. Berat rambut yang tanggal mesti diganti beras dengan bobot yang sama untuk diberikan pada seorang fakir miskin, maka Margio dan Mameh menjaga tak sehelai rambut pun terbang mengurangi hak orang lain.

Mereka menyelesaikannya dalam sepuluh menit, dan Nuraeni tampak berkaca-kaca saking senangnya. Kini si bayi gundul plontos, ditutupi kerepus dari udara mengancam. Namun ia belum juga bernama, maka Margio berkata pada ibunya, “Beri ia nama.”

Demikianlah kemudian Nuraeni memberinya nama Marian, muncul begitu saja dari mulutnya. Barangkali itu nama seorang tokoh dalam sandiwara radio yang tengah populer di waktu-waktu terakhir, yang sering didengar Nuraeni sebab tetangga sebelah selalu meletakkan radionya di halaman pada sebuah kursi setiap pukul setengah tiga sore, dan orang-orang jongkok di sekitarnya mendengarkan suara tanpa mulut. Atau ia memperoleh nama itu jauh dari masa gadisnya, seseorang yang ia kenal. Tak seorang pun di antara Margio dan Mameh mempertanyakan makna nama tersebut. Ia telah bernama, Marian, bagi siapa pun di rumah itu telah cukup.

Tapi bayi tersebut mati tak lama kemudian, hanya berselang jam-jam yang lewat dengan lesat, dan ayam bangkok yang dipotong Margio dengan penuh dendam serta dimasak Mameh bahkan belum habis pula disantap. Bayi itu mati tanpa bilang-bilang, redup begitu saja seperti senja yang menjadi gelap. Sangatlah sedih Nuraeni, tapi dengan tubuh yang mencoba kukuh ia pergi ke taman belukarnya, memetiki bebunga sambil mendendangkan lagu-lagu sedih membanjirkan air mata.

Inilah yang tidak diketahui oleh si gadis Maharani, bahwa ada luka dalam di keluarga tersebut dan segalanya tersangkut-paut dengan si gadis sendiri. Malam di pemutaran film perusahaan jamu tersebut, Margio masih mengecamuk diri dengan pikiran apakah ia mesti kasih tahu bahwa Marian adalah anak Anwar Sadat, dan tidak mungkin bagi mereka untuk menjadi sepasang kekasih, demi sejarah keluarga yang sengkarut ini. Tapi dorongan untuk menguak borok tersebut selalu terjegal oleh rasa pemujaan yang mendalam padanya, ditambah-tambah si gadis yang menunjukkan cinta nyaris tak ada ujung, saling mendekap di sudut lapangan bola, berciuman, walau Margio masih beku dikutuk takdir.

Gadis itu masih berpikir sikap tak hangatnya disebabkan rasa gugup yang tak pergi-pergi, dan terus-menerus mencoba melumerkannya dengan sentuhan-sentuhan menggoda. Margio hanya menoleh dengan tatapan tersayat, menyadari ia bakalan kehilangan dirinya, cepat atau segera, dan bertanya-tanya kapan ia akan menghentikan seluruh persekutuan memabukkan ini.

Ia tak mungkin mengisahkan apa yang dilihatnya suatu  hari, tak lama setelah Komar bin Syueb menemukan Nuraeni tengah bunting dan dihajarnya hampir mampus. Nuraeni tidak mampus, malahan terus berdendang dan berias, sementara Komar pergi. Ada memar di tubuhnya, tapi tak terasai betul, dan Margio dibuat terpesona oleh daya tahan perempuan tersebut. Semua siksa itu tak membikin dirinya kehilangan roman riang yang menjadi miliknya di hari-hari terakhir, membuat Margio ingin mengetahui siapa sesungguhnya yang telah mendatangkan rasa suka melimpah-limpah kepada ibunya.

Pagi itu ia masih pergi ke rumah Anwar Sadat, selepas kepergian Komar ke kios cukur, dan Nuraeni pulih ajaib dari semua memar, sebelum pemukulan-pemukulan datang kembali bertubi dan menjatuhkannya lama di tempat tidur hingga si bayi Marian lahir sebelum waktunya. Nuraeni tampak segar, serasa tak ada aniaya, bergaun cokelat muda, bergegas pergi dengan perut mulai bundar. Diam-diam Margio mengikutinya, dengan langkah kecil tak acuh, tidak masuk ke rumah Anwar Sadat, tapi berbaring di bangku depan surau. Waktu itu ia telah mulai bercuriga Anwar Sadatlah orangnya, mengetahui otak busuk dan mata-keranjangnya, dan kenyataan bahwa Nuraeni tak pernah pergi ke lain tempat sebanyak ke rumah itu. Ia hanya ingin membuktikan¬nya, meski setelah tahu ia belum juga ada pikiran hendak berbuat apa.

Kakinya menyeret, yang kiri menyusul yang kanan dan disusul yang kiri kembali, langkah gontai menuju rumah yang diakrab¬inya. Margio tahu di sana ada Anwar Sadat, Maesa Dewi dan bayinya, dan ibunya, dan tak tahu jika dugaannya benar, dengan cara apa mereka membuat anak. Ia masuk melalui pintu samping tanpa mengetuk, sebagaimana terjadi sejak bertahun-tahun lam¬pau kecuali kesempatan-kesempatan langka saat ia terpaksa un¬tuk menalu pintu dengan buku jari, menemukan dirinya di teras dalam tempat menjemur pakaian. Ia tak menemukan ibunya, se¬mestinya Nuraeni ada di sumur mencuci, atau di dapur menyiap¬kan santapan siang. Rumah itu lengang, tak ada juga Anwar Sadat. Margio melangkah masuk, tanpa hiruk-pikuk, mata memandangi lukisan yang bertengger di dinding, dan hanya menemukan Maesa Dewi masih berbaring bersama bayinya di kamar dengan celah pintu sedikit terkuak. Ia kembali lagi ke dapur, dan tetap tak menemukan ibunya, berputar kembali, dan berdiri di tentang pintu kamar Anwar Sadat. Ia hendak membukanya, namun me¬milih untuk lalu.

Ada sebuah pekarangan sempit di sebelah barat rumah, hanya menyisakan teras dan sedikit tanah sebelum dihentikan oleh pagar tembok setinggi pinggang. Di tanah sedepa tersebut mereka menanam jeruk dan pisang, dan di dinding rumah berjejer jendela-jendela terbuka, berlapis kaca dan tirai. Pekarangan itu hampir tak terjamah orang, kecuali Margio yang kerap ke sana untuk menebas daun pisang meranggas. Jendela kamar depan memperlihatkan isinya yang tak berpenghuni, Laila tak ada di tempatnya. Kamar kedua sebagaimana yang telah ia lihat, Maesa Dewi si pemalas masih berbaring tak terganggu, menutupi dirinya dengan selimut tak peduli cahaya siang telah berpendar masuk peraduannya. Jendela ketiga selalu tertutup, itu milik Maharani, dan hanya terbuka di kala gadis itu bertandang liburan. Margio terdiam sejenak di kamar berikut.

Sayup didengarnya dengusan berahi, dan ia tak ada ragu menebak penuh kejituan itu adalah Anwar Sadat dan ibunya. Dorongan rasa penasaran, atau nakal, membawanya untuk kembali ambil langkah, tak peduli kebenaran telah direngkuhnya, dan dari balik kaca yang tersapu tirai merah tua, melalui celah yang kecil bergoyang, ia melihat ibunya telanjang mengangkang diimpit Anwar Sadat. Tubuh-tubuh itu terguncang, abai terhadap pengintip yang tak diundang, demikian intim dan tak terpisahkan. Ingin sekali Margio melihat rupa ibunya kala itu, menyaksikan wajah yang berpeluh dan rona cemerlang, membilas semua memar yang bersarang sepanjang dua puluh tahun, dan ikut berbahagia untuk percintaannya yang melenakan. Itu terlalu gamblang untuk dibuat berlanjut-lanjut, meski ia masih tertancap pada tubuh-tubuh menggelinjang mengisut dan lebur tersebut, sebelum rasa sadar membuatnya mundur dan melenggang pulang ke rumah, terhenyak di kursi dengan pikiran suwung, pening yang tiba-tiba lebih meradang daripada rasa mual mabuk, dan untuk pertama kali genangan basah meliuk di matanya, tak tersadari.

Sore hari ia segera hengkang ke pos ronda dan mulai minum sebanyak-banyaknya, membawa botol-botol bir yang dioplos arak dari warung Agus Sofyan, terkapar di sana muntah-muntah dan mengigau tentang betina keparat dan rubah haus darah, yang tak dimengerti Agung Yuda maupun kawannya yang lain, dalam sadar maupun tidak. Dan mengigau lagi, “Demi senyum keparat itu, kuampuni dirimu tidur dengan bangsat mana pun.” Hampir gila ia memikirkan semua sengkarut keluarganya, sebelum dengan satu kesadaran yang aneh, ia memutuskan untuk berpihak pada ibunya, demi mempertahankan roman riang di wajahnya.

Maka ketika Marian mati, dan ibunya jatuh ke dalam duka yang tak tersembuhkan lagi, Margio sungguh berhasrat untuk memenggal leher Komar. Lelaki itu muncul kembali tak lama setelah mereka membenamkan Marian di permakaman, penuh kemenangan, namun Margio tak juga sanggup mengayunkan golok, demi bayang-bayang tubuh telanjang Nuraeni dan Anwar Sadat. Kepala busuknya sendiri mencoba memahami sikap jumawa Komar bin Syueb, menatapnya dengan nada sedih yang sama, dan daripada didengki, wajah itu lebih tepat mesti dikasihani. Namun gelora kehendak menghentikan hidupnya tak juga mau hengkang, ditambah-tambah kala suatu pagi ia menemukan harimaunya. Selalu dirasainya, harimau itu hendak melesat dari tubuhnya dan menerkam Komar bin Syueb tepat di lehernya. Beban antah-berantah semakin menggelayuti kepalanya, menghadapi si gadis Maharani yang nongol sehari setelah kematian Komar. Margio hampir merayakan seluruh pembebasan mereka, menghadapi hari cemerlang yang bakal dilakoni bertiga tanpa manusia laknat tersebut, sebelum ia menemukan Maharani yang mengatakan cinta untuknya di malam ribut tersebut. Ia harus menjelaskan segalanya pada gadis ini, dan menghentikan ambisi mereka untuk meraih cinta satu sama lain, dan semakin berleretnya waktu, keadaan itu semakin mendesaknya.

Maharani, selepas rol kedua diputar dan itu berarti mendekati satu jam mereka duduk saling mendekap dan mencoba saling mencium dengan hangat, mulai putus asa menghadapi sikap kikuk Margio, kini berhenti menyodorkan mulutnya, berhenti menyandarkan kepalanya, menatap lelaki itu dengan pandangan penuh tuduhan yang minta penjelasan. Margio tak menoleh, penuh rasa sesal dan salah, siap memperoleh hukuman yang ia sendiri tak tahu apa kejahatannya.

“Katakan padaku, kau tak suka aku,” kata Maharani lagi, akhirnya, dan bahunya mulai berguncang, nyata ia secengeng kebanyakan gadis. Margio barulah menoleh, mendengar tangis yang deras itu, merengkuh tangannya, namun Maharani mencabut menjauhkan diri dan semakin deras menumpahkan kesedihannya sendiri. Margio meraih bahunya, kembali Maharani mengelak, sikap ngambeknya tak lagi pura-pura, dan tak ada ragu     ia merasa ditolak, dan sebab itu merasa perlu untuk menolak kembali. Kalut dengan keadaan yang tak terkendali, dan tak melihat jalan keluar lain, Margio mendengus dan tak berusaha untuk menghentikan keriuhan tersebut.

“Ada yang tidak kau ketahui,” katanya. Kali ini suara itu nyata terdengar, di tengah suara mengerang si gadis. Maharani tak terhentikan, tak dibuat tertarik oleh kalimat yang penuh rahasia, seolah penjelasan apa pun berakhir pada ujung yang sama, bahwa hubungan mereka omong kosong, bahwa pelukan dan ciuman tadi sia-sia, bahwa ungkapan cintanya mengapung tanpa makna, bahwa lelaki itu hanya akan berkata ia tak ingin memperoleh cinta apa pun darinya. Dan begitulah memang, gadis itu terlampau cerdas untuk mengerti ujung dari permainan kata-kata Margio, meski si lelaki masih perlu memperjelasnya, tepat di telinga Maharani, “Tak mungkin kita saling mencinta.”

“Kenapa?” Dengan hidung merah dan lembab, si gadis mendongak. Rambutnya sebagian lengket di pipi yang banjir. Memandang wajah itu membuat Margio kembali mundur, menyesali semua yang telah meluruh, berharap semua kejadian tak ada, untuk memiliki wajah yang memandang tersebut, kembali mencium bibirnya dengan kehangatan yang urung ia berikan, memeluk tubuhnya yang dulu tak terjamah. Tapi kini Maharani memandangnya lurus, menuntut jawab, dan ia akan bergeming sebelum semua penjelasan didatangkan kepadanya.

Kembali Margio mendengus, dan deretan kalimat ini deras keluar dari mulutnya. “Ayahmu Anwar Sadat meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah si gadis kecil yang mati di hari ketujuh bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat.”

Jelaslah itu pun sanggup menghentikan tangis si gadis, yang kini menganga dengan kata-kata yang bangsat dan tak sanggup dicernanya. Namun Margio telah mengatakan kebenaran tersebut, sebermakna khotbah Kyai Jahro di pengeras suara masjid setiap Jumat siang dan Maharani berkali mendengarnya, sesungguh para penyiar televisi membisikkan kebenarankebenaran tersembunyi. Maharani berdiri, masih memandang lelaki itu serupa memicing pada makhluk pendusta namun ia tak mampu membuktikan semua kebohongannya, tergeragap ingin melontarkan kata yang entah, sebelum tertinggal hanya menggigit bibir dan Margio balas menatapnya kirim isyarat bahwa semua itu benar adanya tanpa perlu ia berkisah tentang jendela kamar di mana ia berdiri dan di sana kedua orang itu bergumul saling membakar. Maharani bisa membayangkan adegan itu, tergambar nyata di mata Margio, membuatnya mengayun langkah meninggalkan si lelaki yang tak beranjak. Kaki yang berselimut celana berpipa lebar tersebut memburu, menyeberangi jalan bahkan tanpa menoleh tak peduli walau mobil bakalan datang memecah-belahnya, menyapu matanya yang tak juga henti menumpahkan basah, memburu rumah dan itulah malam yang dikenang Anwar Sadat sebagai malam ketika anak bungsunya berlaku tak biasa. Diam tak bicara, tak menyentuh makan malam, mengurung diri di kamar, sebelum pagi datang dan berkata ia hendak pergi.

Margio sendiri pulang sebelum film berakhir, dengan perasaan lapang meski rasa sakit kehilangan gadis itu juga tak terperi. Ia duduk di teras rumahnya, memandang belukar bunga ibunya, dan berjanji semua kesialan hidup ini harus berakhir. Ia telah menyakiti hati seorang gadis, juga dirinya, tapi percayalah semua itu harus ditempuh, katanya menenang-nenangkan diri. Ia masih di sana ketika malam semakin dalam, dan rintik pertama mulai jatuh membasuh bumi. Ada hawa segar yang menenteramkan, dengan aroma debu basah mengapung. Mameh membuka pintu menyuruhnya masuk, tapi Margio masih ingin berada di sana. Mameh kembali masuk, Margio tenggelam dalam pusaran pelamunan.

Hujan semakin deras dan dingin, dengan air menggenang dari selokan. Ia berharap air itu tumpah semua dari langit, hingga lusa tak ada lagi yang tersisa, dan ia akan pergi berburu babi. Mengingat itu semua menjadikannya bergairah, dan merapal hari-hari yang bakal cemerlang. Ia telah memiliki harimau itu, telah kehilangan ayah yang dengki, telah kehilangan Maharani yang mengganjal, dan semua itu cukup bagi hidupnya bersama Mameh dan ibu mereka.

Ketika pagi datang, ia belum juga tidur, meski hujan telah reda, dan tahu dari angin yang berembus gadis itu memutuskan pergi. Sempat juga ia berharap untuk menemuinya, berdamai dengannya, bahwa semua perkara bangsat ini tak datang darinya, namun takdirlah yang telah memutuskan. Ia tahu dari aroma yang mengalir, gadis itu masih bersimbah air mata, menenteng tas bergegas ke terminal bis, bahkan Anwar Sadat ditampik untuk mengantarkannya. Ia semestinya ada di sampingnya, seperti dulu mereka berimpit di bawah satu payung, menenteng tasnya, membantunya naik pintu bis sambil berjanji akan berada di sana kala si gadis datang kembali, dan melambaikan tangan ketika mesin menggeram dan roda berpusing menyentak aspal. Tapi ia tak di sana, dan tak hendak menemuinya, percaya segalanya telah usai, dan memperoleh pelajaran berharga bahwa cinta selalu memiliki sisinya yang paling menyakitkan.

Matanya merah meski tak juga ia hendak tidur, sementara Mameh dan Nuraeni telah terjaga. Mameh membuat dapur hiruk pikuk, ruang itu telah menjadi kekuasaannya di tahuntahun terakhir, sementara Nuraeni duduk di kursi depan dengan kopi manis hangat mengepul dibikinkan Mameh. Wajahnya jauh menyusut, lebih kisut dari masa-masa sedih Komar memukuli dirinya, seolah kematian Marian merupakan pemukul paling laknat dan maha rotan penggebuk kasur. Margio melihatnya dan bertanya dalam hati, tidakkah kematian Komar membayar semua itu, dan pertanyaannya jelas tak butuh jawab, sebab ia bisa membaca di wajah yang mulai serupa tanah.

Pemandangan itu memurungkan, maka selepas menemukan sepotong tahu dari meja makan, Margio pergi melayap tak  hirau pada mata yang lelah, menyergap hangat matahari yang telah meninggi. Maharani tentunya telah di perjalanan, sebab ia melihat Anwar Sadat dengan kolor dan singlet Toko Mas ABC di warung serabi mengeluhkan anak perempuannya itu. Mereka bersitatap sebentar, dan dalam hati Margio berkata, hanya kau yang bisa membahagiakan ibuku. Ia tak mampir di warung itu, melangkah gontai ke rumah Mayor Sadrah dan bermain-main dengan ajak-ajak di sana. Mereka menyenangkan, tapi pikirannya terus berenang ke Nuraeni dan Anwar Sadat, membikinnya gelisah.

Sepanjang hari ia tak pulang, menerabas gang-gang kecil di perkampungan, berjumpa kawan namun tak banyak bicara. Ia hanya memakan jambu batu yang dipetiknya dari pekarangan pegadaian, serta mengendus rokok dari Agung Yuda. Tadinya ia hendak tidur di pos ronda, namun matanya tak juga mau terpejam, dan kegelisahan datang bersama pikiran-pikiran aneh tentang ibunya.

Ia ingin membicarakan hal itu dengan Agung Yuda karibnya, tapi jengah dan malu, maka ia menunda-nunda. Mereka bermainmain di lapangan bola, berbaring melihat sayap merpati berkepak di kedalaman langit, sebelum menyeret si teman ke warung Agus Sofyan. Di sana ia tak juga sanggup berbagi cerita pada Agung Yuda, dan memaki diri seandainya Maharani ada bersamanya, barangkali mereka malahan bisa membahas perkara di otaknya.

Inilah akhir dari semua pengelanaannya sepanjang hari itu, saat Margio akhirnya terdampar di halaman rumah Anwar Sadat. Ia tak bersenjata, dan tak punya maksud membunuhnya, meski ia memang ingin bertemu dengannya untuk bercakap. Jika keraguan merongrong dirinya, itu lebih karena rasa malu daripada takut. Namun ketika dilihatnya pintu terbuka dan Anwar Sadat terlihat di sana, masih mengenakan pakaian yang sama sebagaimana hidup di otaknya sejak pagi, Margio datang dan menghampirinya.

Di depannya, tanpa membuang tempo sebab dirinya sadar waktu bisa melenyapkan seluruh nyali, ia berkata kepada lelaki itu, “Aku tahu kau meniduri ibuku dan Marian anak kalian,” katanya. Kalimat itu mengapung di antara mereka, Anwar Sadat pasi menatap wajahnya. Margio melanjutkan, “Kawinlah dengan ibuku, ia akan bahagia.”

Tergagap Anwar Sadat menggeleng, dan dengan kata terpatah ia bergumam. “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak.” Tatapan itu jelas mencela gagasan konyol Margio. Dan kalimat selanjutnya memberi penjelasan melimpah, “Lagi pula aku tak mencintai ibumu.”

Itulah kala harimau di dalam tubuhnya keluar. Putih serupa angsa.

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊