menu

Lelaki Harimau Bab 04

Mode Malam
Empat

Tidaklah sering bagi Margio melihat ibunya bahagia, hingga seringkali ia berpikir untuk berbuat sesuatu menyenang-nyenangkan dirinya. Pulang ke kampung mereka dan membawa sesuatu dari sana sekali dua membuat  Nuraeni  senang,  tapi tak lama dan tak sering. Jika ia punya sedikit uang dari kerja sembarang di rumah orang, Margio akan membelikan ibunya sepuluh tusuk sate atau selop baru, itu bisa bikin Nuraeni senang tapi tak lama juga, hingga Margio selalu berpikir tak ada lagi yang bisa bikin ibunya bahagia, dan barangkali sejak itulah ia selalu menyalahnyalahkan Komar.

Sepanjang hidupnya, ia telah sering melihat Komar memukul Nuraeni di depan matanya sendiri, menghajarnya hingga babakbelur. Margio terlampau kecil untuk melerai, dan ia sendiri sering dapat bagiannya pula. Ia hanya berdiri menyandar ke pintu, dengan Mameh di sampingnya menggigit ujung baju, sementara Nuraeni meringkuk di pojok rumah dengan Komar berdiri di depannya, tangan menggenggam rotan penggebuk kasur. Komar selalu punya alasan apa pun untuk mengayunkannya.

Kadang-kadang itu dilakukan pula di depan orang, hingga Nuraeni mesti berlari mengelilingi rumah dan Komar mengejarnya, dan di antara mereka iblis-iblis terbang menyulut marah, hingga Nuraeni masuk ke rumah mencoba membentengi diri dengan pintu namun Komar selalu berhasil mendobraknya, sekali waktu sempat hancurkan pintu tersebut, dan Nuraeni akan tertangkap dalam dekapan, dibantingnya ke lantai, dan ditendang pahanya berkali. Tetangga yang melihat bakalan mengelus dada, sementara Margio melengos membuang muka. Hanya Mameh yang akan menangis selepas itu, sambil memeluk ibunya sesenggukan.

Margio sendiri mulai mewarisi sikap bengal ibunya, tak melawan pada Komar namun selalu memancing-mancingnya untuk mengayunkan rotan bengis tersebut. Kadang-kadang Komar tak suka ia pergi ke kampung kakeknya, tapi Margio akan memaksa dan pergi tak bilang-bilang di Sabtu siang, kembali lagi di Minggu malam dengan Komar menanti penuh api membara di matanya. Hari Senin itu Margio akan pergi sekolah dengan kaki sedikit terpincang, setelah Komar menggebukinya, dan menenggelamkannya ke bak mandi, dan menjewer kupingnya, dan melemparinya dengan gayung tempurung kelapa. Komar juga sering sirik melihatnya anteng dengan mainan berupa kelereng atau gambar umbul serta jangkrik, dan Margio akan semakin menjadi-jadi jika Komar mengomelinya, membikin Komar habis sabar dan menempeleng Margio. Margio tak pernah melawan, sebagaimana semua orang tahu, tapi tetap anteng dengan mainannya, sampai Komar merampas itu dan membuangnya ke belumbang. Margio akan memungutinya, dan Komar memburunya, menyeretnya di kaki hingga si bocah terkapar menggerus tanah, diangkat dan dilemparkan ke dalam rumah membentur betis kursi. Bocah itu hanya akan meringis, dan Komar akan datang lagi tak terpuaskan, mencengkeram rambutnya dan membantingnya ke tiang kayu, sekali waktu membuat dahinya mengucur darah, tapi tak sekalipun menghentikan lakunya. Mereka menjalani hari yang murung, saat-saat yang damai hanyalah ketika Komar pergi dengan sepedanya ke kios cukur  di pasar hingga waktu pulang datang. Bahkan Mameh yang tak banyak polah, sekali waktu dapat juga pukulan rotan penggebuk kasur itu, sebagaimana kucing lewat sekali dua dihajarnya pula.

Ketika akhirnya mereka memperoleh tanah itu dari Ma Rabiah, Komar membeli pasir dan semen untuk bikin lantai plester. Itu adalah usaha terakhirnya untuk membungkam mulut pengomel Nuraeni, dan ia menyuruh Margio untuk membantu. Margio sendiri telah lewat lima belas tahun, cukup punya otot untuk mengaduk pasir dan semen, dan telah sekali ikut perburuan babi Mayor Sadrah. Mereka bekerja di hari Minggu, Komar mencampur adonan semen dengan sedikit kapur agar lebih lengket, dan sementara Margio mengaduk menjungkirbalikkan adonan, Komar membenamkan lantai tanah lembab mereka dengan plester kebiruan. Nuraeni menyediakan bagi mereka teh manis, sesikat pisang ambon dan goreng ubi, tapi tak juga riang dengan rencana besar Komar.

Lantai mereka tak bisa muncul dalam satu hari, dan mereka melakukannya sepenggal demi sepenggal. Pertama ruang tamu, membiarkannya kering tak terlewati, dan saat agak mengeras mereka menanam papan untuk kaki berpijak, disambung Minggu berikutnya untuk mengalasi lantai kedua kamar tidur. Butuh empat minggu hingga sekujur rumah telah keras mencapai dapur dan bahkan teras, dan kini Mameh bisa duduk di lantai bermain congklak bersama temannya, menggelar tikar dan tiduran. Masamasa itu Komar begitu manis, memuji-muji hasil kerja Margio, meski Nuraeni tetap bergeming dan tak tersentuh.

Lima bulan berlalu dan mereka menemukan retakan di lantai. Awalnya Komar berpikir itu karena kapurnya masih mentah dan yakin tak akan berlarut-larut, namun terbukti ia terlampau yakin diri dan keliru, sebab retakannya bertambah-tambah dan di akhir bulan telah amblas meliuk serasa sebuah bola besi seberat lima ton menghantamnya. Seorang tetangga bilang itu barangkali disebabkan tanah yang lembab, tetangga lain kasih tahu dahulu kala di sana belumbang sampah jika bukan sumur. Lubanglubang bermunculan, satu di ruang depan dan dua di dapur, dan lubang kecil di kamar tidur.

Sebagaimana terjadi dengan dinding bilik bambu dan atap genting, Nuraeni merayakan kehancuran usaha Komar dengan mendesas-desuskannya bersama bebanda di dapur. Mendengarkan ocehan ini, Margio hanya bisa segera berlalu, sebab ia tahu di batas kesabarannya, Komar tak bisa berbuat lebih banyak kecuali menyeret Nuraeni ke kamar dan menggamparnya di sana, jika tidak langsung menyungkurkannya ke atas kompor saat itu juga.

Rumah ini sangatlah liar, pikir Margio, yang mengakui dengan kerendahatian sepanjang tahun-tahun hidupnya ia tak mengerti bagaimana hubungan Komar dan Nuraeni sesungguhnya. Ia hanya melihat mereka yang saling mengganas satu sama lain, Nuraeni yang terus mencibir dengan kata-kata pedas dan seandainya ia Komar, Margio sendiri yakin tak akan tahan dengan sindiran kejam macam begitu, sementara Komar keparat tak ada habis, tak ragu pergunakan tangannya untuk menyiksa dan mengirim keluarganya ke liang kubur selangkah demi selangkah. Akhirnya Komar menyerah dan berteriak pada Nuraeni, semua urusan rumah ini di tanganmu, dan begitulah memang. Komar mulai lebih sibuk memelihara ayam dan kelinci, ia punya ayam bangkok dan membawanya ke tempat sabung, dan memelihara pula merpati aduan untuk ikut totoan di lapangan bola atau bekas gedung stasiun kereta. Selepas Komar tak lagi mau tahu, kenyataannya Nuraeni mulai merias rumahnya, meski belakangan baru Margio dan Mameh menyadari caranya merias sangatlah aneh. Suatu hari ia menggunting beberapa lembar bekas kalender lama, dan memperoleh gambar Taj Mahal serta artis Meriam Bellina, yang ditempelkannya di dinding bilik, ditopang paku payung, terpampang di ruang tengah di atas kursi kayu tempat menerima tetamu. Ia juga memotongi buku gambar Margio yang tak terpakai, dan di sana ia memperoleh gambar-gambar Margio yang sama sekali tak ada bakat, berupa tamasya gunung dan kaligrafi, dan menempelkannya pula di samping pintu. Tak seorang pun bersuara atas itu, tidak Margio tidak pula Mameh, khawatir itu membuatnya lebih murung, meski nyata kelakuannya tak juga bikin ia riang.

Hingga suatu hari ia memperoleh benih alamanda dari tetangga jauh, dan menanamnya di pekarangan rumah. Sebelum ini pekarangan itu hening belaka, tempat anak-anak bermain kelereng, kini ia mengeduk tanah dan menancapkan benih alamandanya. Margio mulai merasa senang melihatnya punya kesibukan, tak peduli remeh-temeh belaka, juga meski kehilangan ladang main kelereng. Setiap pagi Nuraeni menyirami bunganya, dan kala itu mulai tampak kukuh, kelopak daunnya tak lagi lesu, ia telah datang lagi dengan seikat benih anak nakal. Ia menjadikannya pagar hidup, menjejernya sekeliling pekarangan depan, hanya menyisakan sedikit saja untuk pintu masuk. Anak nakal ini juga disiraminya, kadang Mameh berpikir ia mengurusnya lebih telaten daripada kepada anak kandungnya sendiri.

Satu per satu bunga-bunga lain berdatangan, sementara alamanda dan anak nakal itu semakin gemuk dan segar. Ia menanam melati di samping dinding dapur, menancapkan empat gerumbul mawar dekat pagar anak nakal, nusa indah datang kemudian, dan ratnapakaya dibiarkan liar di sepanjang selokan pinggir gang samping rumah. Bahkan belukar lantana pun ditanamnya di tepi teras dengan tembok yang rompal-rompal, bakung mencuat di dekat belumbang sampah, dan dari alamanda lama yang telah meninggi ia menanam benih lain di sudut pekarangan sebelah timur. Tampaknya pekarangan mereka akan menjadi taman bunga paling lengkap di seluruh kota, mengalahkan toko kembang mana pun, sebab kesumba pun ditanam Nuraeni, berbarengan dengan kana yang meminta lebih banyak tanah lembab, dan sripagi dibiarkan merambat pada tiang bambu yang terjulur ke pohon randu.

Generasi bunga-bunga terakhir yang datang adalah kembang sepatu dan soka, kini mulai tampak berjejalan di pekarangan yang tak lapang, bersamaan dengan kembang kertas yang benihnya diminta dari Margio yang mengambilnya dari sekolah, sebelum ditutup oleh beberapa anggrek yang ditanam di serabut kelapa dan digantung di nok rumah. Komar mengamati semua perkembangan itu penuh rasa takjub, berpikir istrinya tengah mempercantik hunian rumah mereka, dan sedikit banyak berharap mengubah perangainya. Tetanam itu mulai menghijau bersama datangnya musim yang segar, dan beberapa mulai mengeluarkan kuncup yang mekar, warna-warna keluar dari rimba kehijauan, dan sebagaimana ayahnya, Margio mencoba mencuri lihat seandainya Nuraeni memperlihatkan roman riangnya melihat semua itu tumbuh dengan lebat.

Ternyata itu tumbuh terlampau sehat. Pekarangan rumah penuh bunga, yang semula dikira bakalan  menjadi  taman  yang cantik dan menghiasi rumah mungil mereka, makin lama berubah menjadi rimba raya dengan bunga-bunga bermunculan. Bulan-bulan berlalu dan alamanda itu mulai menjulang, kini pucuknya meliuk melebihi atap rumah,  dengan  bunganya  yang kuning cemerlang di tentang langit biru, mendatangkan beragam kupu-kupu yang terpesona olehnya. Melati di dinding dapur berkedip putih di antara latar hijau tua, seperti bintang di gelap malam. Semuanya meriap cepat, sebagaimana anak nakal itu sungguh telah menjadi dinding pagar kukuh.

Kemudian Margio mulai menyebutnya sebagai belukar bunga, sebab tak lagi terbedakan dengan semak pejal mana pun. Daun-daun meranggas, mereka saling berimpitan menerobos sesamanya. Komar mulai menyadari pikiran kelirunya, dan memperlakukan belukar itu sama kejinya. Ia sering datang dari kios cukur dan roda sepedanya dibiarkan menggilas pagar anak nakal, kemudian melemparkan sepedanya begitu saja hingga tersandar di gerumbul mawar. Kelakuan buruk ini membikin beberapa tetanam rebah, mati, namun yang lain tetap meranggas, menambahnambah sengkarut.

Dalam dua tahun, tak lagi orang bisa melihat muka rumah tersebut, diselimuti sepenuhnya oleh daun-daun yang hijau gemerlap, dan jika tetamu datang, ia mesti bertanya-tanya di mana pintu masuk. Pohon yang mati menjadikan tanah makin gembur, dan pohon yang hidup semakin gemuk.

Suatu hari Mameh melihat seekor ular merayap di teras dan menjerit-jerit sebelum Margio menangkapnya. Itu ular pohon kecil biasa, jenis yang tak akan menggigit dan tak berbisa, biasa dimainkan anak-anak di jemari mereka, serta disuruh tukang sulap untuk menerobos lubang hidung sebelum muncul di lubang hidung yang lain. Tapi itu membikin Mameh berpikir untuk membabat bunga-bunga Nuraeni, paling tidak mengembalikannya menjadi taman yang cantik, dengan pohon-pohon yang ramping, tercukur dengan baik. Ia telah bersiap dengan golok dan kayu, namun ketika Nuraeni melihatnya, pendek ibunya berkata, jangan: Bagaimanapun Mameh tak berani menentang sepotong kalimat itu, ditambah roman ibunya yang bersikeras tak membiarkan seseorang menyentuh belukar bunganya. Mameh menyerah dan mengembalikan golok serta kayu tersebut ke dapur.

Baru belakangan Mameh mengerti sarkasmenya. Nuraeni tampaknya berharap membuat rumah itu seburuk yang bisa dipikirkannya, seremuk sebagaimana dikatakannya waktu pertama kali datang ke 131. Atas sarkasme berlebihan Nuraeni, tak ayal bikin Mameh takut juga, dan sebisa mungkin tak pernah menyentuh bunga-bunga itu. Tak peduli betapa inginnya ia memetik melati yang cemerlang, atau mawar yang serupa darah, ia selalu menahannya, takut ibunya murka. Mameh belum pernah melihat Nuraeni murka, sebab kemurkaan selama ini selalu milik Komar, tapi sebab ia tak pernah melihatnya, ia menjadi lebih takut sebab dipikirnya, jika ibunya murka maka itu bakalan lebih jahat dari segala kebengisan.

Kini barangkali belukar bunga itu tak hanya jadi sarang ular dan ulat, mungkin rubah dan maling pun pernah bersembunyi di sana. Tetangga tak hanya ketawa-ketawa, dan Komar sekadar menerjangnya dengan sepeda. Jika seseorang bertanya untuk apakah bunga-bunga itu, Nuraeni akan menjawabnya pasti, “Guna saweran pemakamanku.”

Hanya sekali Mameh melihat Nuraeni memetik bunga-bunga itu, yakni ketika Marian mati beberapa waktu kemudian. Nuraeni memetikinya sambil mendendangkan kidung-kidung aneh, yang tak dikenali Mameh, barangkali datang dari masa gadis ibunya. Kidung itu sedih terdengar, sembari jarinya menjentik bebunga dan memasukkannya ke dalam keranjang. Seolah memetik bunga itu serupa membunuh mereka, dan kesedihannya setara dengan rasa kehilangan bayi kecil manis itu. Ketika Komar bin Syueb mati, bagaimanapun Mameh menirunya, dan memetik bunga-bunga itu untuk mayat ayahnya. Awalnya ia berpikir ibunya akan merelakan itu, sebab rasanya tak banyak yang telah diberikan untuk si mati, tapi dari mukanya jelas Nuraeni tak sudi, seolah ia berkata, telah terlalu banyak yang kuberikan kepada si mati keparat tersebut. Tapi waktu itu Mameh sudah tumbuh jadi seorang gadis, dan ia tak terlampau menuruti kehendak ibunya, maka ia terus memetik bunga-bunganya, tak peduli sebesar apa pun rasa sakit diberikannya kepada Nuraeni.

Peristiwa-peristiwa ini memberikan kesimpulan bagi Margio bahwa tak ada yang bisa bikin Nuraeni bahagia. Tidak pula bungabunga itu. Sepanjang mereka memaharaja di pekarangan dan menjadikannya semak belukar, Nuraeni tak terhentikan dari omong kosong bersama kompor dan panci, sebagai pertanda bahwa kemurungan itu tak juga pergi darinya. Bahkan jika pun belukar bunganya bikin ia bahagia, kebahagiaan itu sedikit saja. Dan demi yang sedikit itulah Margio selalu menjaga pekarangan rumah tak rusak dari kesemrawutannya, sejauh ia pikir demikianlah yang dikehendaki ibunya.

Hingga suatu hari ia melihatnya demikian berbeda. Ia pulang ke rumah karena lapar di pagi hari selepas tidur di pos ronda yang sesaat sebab ia hampir begadang melihat pertunjukan wayang dengan lakon Semar Papa. Ia melihat wajah ibunya lebih berseri, ia tahu pasti sebab tak pernah begitu sebelumnya, dengan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya, walau tak mengembalikan kemontokan sebagaimana sering diceritakan paman-paman dan bibi-bibi. Tapi ia bisa melihat perbedaannya, mata bulatnya kini lebih berbinar, dan lihatlah, ia mengenakan gincu, juga pupur, dan sepagi itu telah mandi pula. Di meja makan telah tersedia pula nasi hangat dan ikan bawal serta sayur lodeh, tak sering ibunya segasik ini. Tadinya ia berpikir bakalan menemukan sisa makan malam, dan ia terpesona oleh perubahan mendadak tersebut. Ia bertanya diam-diam pada Mameh adakah sesuatu terjadi pada ibunya, dan Mameh sama tak tahu apa pun, tak peduli ia sering bersamanya di rumah. Mereka berdua mencoba mengingat-ingat apakah ini salah satu hari istimewa, tapi tak menemukan penjelasan apa pun dari kalender maupun weton. Mereka menyerah dan bertaruh roman ceria itu hanya berlaku sehari saja, dan jelas mereka keliru, sebab Nuraeni tampak semakin bahagia dari hari ke hari, meskipun sikap judesnya pada Komar tak berubah sama sekali.

Baru lama kemudian Margio mengetahui apa yang terjadi. Nuraeni tengah hamil, dan jauh di dalam perutnya tengah berbaring si bayi kecil yang kelak diberinya nama Marian.

Ia mengetahuinya karena perut ibunya semakin membuncit bersama datangnya hari dan minggu, dan ia sudah menebak pula bayi itu bakalnya perempuan sebab begitulah jika perempuan cantik menjadi-jadi di kala hamil kata orang. Nuraeni juga ngidam macam-macam, termasuk minta buah cokelat muda bikin Margio mesti jelajahi perkebunan bangkrut mencari sebatang pohon terselamatkan masih punya buah. Lain waktu ia minta lodeh jantung pisang, dan Mamehlah yang membikinkannya.

Sesungguhnya kehamilan ibunya sedikit bikin dongkol baik Margio maupun Mameh. Pikirkanlah, kata Margio pada adiknya, kini ia hampir dua puluh tahun, dan sekonyong bakal punya adik bayi merah mentah. Tapi demi melihat roman cemerlang di wajah ibunya, Margio tak banyak cakap dan malahan ikut kasih perhatian berlebih pada Nuraeni, khawatir sesuatu terjadi pada rahimnya mengingat perempuan itu sendiri telah beranjak tua, berapa umurnya sekarang? Margio berhitung, paling tidak Nuraeni telah tiga puluh delapan tahun. Kenyataannya Nuraeni masihlah muda, pikir Margio, dan dengan binar di mata itu serasa mengembalikan kejayaan masa gadisnya. Tahun-tahun terakhirlah yang membikinnya menjadi begitu tua dan udzur. Ia masih bisa hamil dua-tiga kali, kata si anak.

Hari-hari pertama itu kehamilannya memang belum menonjol benar, hanya Mameh dan Margio yang mengetahuinya, lebih karena terpesona oleh perangai dan penampakan lahiriahnya. Komar tampaknya belum menyadari, disebabkan sikap tak pedulinya pada Nuraeni, dan karena Nuraeni masih sebagai sedia kala di depannya. Ia masih bicara dengan kompor dan panci, meski kini nadanya riang dan penuh canda, dan ia juga masih pergi ke rumah Anwar Sadat untuk kasih bantu-bantu di rumah tersebut.

Kerja bantu-bantu ini telah berlangsung lama, juga sepengetahuan Komar, disebabkan tak banyak perkara di rumah untuk diurus tangannya. Ia sering diminta istri Mayor Sadrah untuk memasak jika anak-anaknya datang, atau kala tamu militer berkunjung, dan bisa membawa pulang sebagian untuk makan di rumah. Rumah pegadaian juga sering pakai kerjanya, untuk memasak atau bikin kue-kue, tapi yang paling sering ia kasih bantu di rumah Anwar Sadat, terpisah satu rumah belaka dari 131. Itu karena Kasia sendiri harus ke rumah sakit setiap hari, dan masih bekerja kala pulang ke rumah, dan anak-anak perempuan mereka tak lebih begundal-begundal pemalas semata.

Di sana Nuraeni akan bantu memasak nasi dan bikin sayur, semua bahan telah disediakan Kasia di lemari. Ia juga mencuci untuk mereka, menyetrika, menyapu lantai dan halaman, dan sisanya mengurus pula bayi kecil Maesa Dewi. Setiap hari, kala Komar telah mengayuh sepedanya menuju pasar ke bawah pohon ketapang, selepas makan pagi, Nuraeni akan bergegas ke rumah tersebut, masuk tanpa pernah mengetuk pintu, pertama ia akan memandikan si bayi kecil yang baru terbangun, menenteng pakaian-pakaian kotor ke kamar mandi sementara Maesa Dewi dan Laila berbaring di sofa menggerogoti keripik kentang dan Anwar Sadat terayun di kursi goyang mengisap kretek. Nuraeni memasak buat makan siang sementara pakaian kotor direndam deterjen. Kala ia hamil, Nuraeni masih melakukan itu, dan barangkali karena itulah Komar tak menyadari bahwa mereka bakal punya anak ketiga.

Sebelum Nuraeni, Margiolah senyatanya yang datang pertama kali ke rumah Anwar Sadat dan sering dimintai kerja tetekbengek di sana. Itu masa mereka baru datang ke 131 dan Margio disuruh ayahnya untuk pergi ke surau belajar mengaji pada Ma Soma. Belajar mengaji itu merupakan pelarian yang bagus bagi Margio menghindari rumah yang menjemukan, dan di sanalah ia beroleh teman baru. Dan beroleh hiburan baru.

Selepas isya, bersama beberapa bocah, mereka akan bergerombol di teras rumah Anwar Sadat, tepat di samping kaca jendela besar dengan tirai yang dibiarkan terbuka. Tak ada televisi di rumah bocah-bocah itu, dan Anwar Sadat punya serta membiarkan mereka melihatnya. Demikianlah ia akan berjejalan, berselimut sarung, kadang bersama lelaki-lelaki tua mengepulkan asap tembakau, di kursi-kursi batang kelapa yang berderet di teras, untuk menonton televisi. Rada segan bagi mereka untuk masuk, sebab di sana duduk menghadap televisi sebuah keluarga yang demikian khidmat tak terganggu, dengan anak-anak gadis duduk bersila mengunyah kacang polong. Tak patut mengganggu kedamaian macam begitu, dan mesti mencukupkan diri mengintip televisi melalui kaca jendela.

Tapi di waktu-waktu tertentu, Anwar Sadat membolehkan mereka masuk, dan seringkali dengan nada menyuruh, duduk di tikar menggusur kursi, meja dan sofa. Kadang-kadang mereka mau, lain kali tidak jika tak hendak  menonton  lama-lama,  tapi pasti mau jika ada gelagat Anwar Sadat bakalan memutar video. Lelaki itu sering pergi ke penyewaan video di satu hotel tepi pantai, terutama malam Minggu, dan membiarkan anakanak dari surau ikut pula menontonnya. Kini Margio kenal pula Kungfu Shaolin sebagaimana mengenal Rambo.

Suatu kali Margio ada di samping jendela kaca seorang diri dan hujan turun deras. Bocah lain telah berlarian pulang tapi tidak Margio, sebab sepanjang sore Komar habis memukuli Nuraeni dan Margio enggan melihat itu berlanjut sampai hari gelap serta berniat untuk menghabiskan malam melihat televisi di sana dan melewatkan sisanya berbaring di surau. Di dalam rumah, keluarga itu lengkap duduk mempercakapkan sesuatu hingga seseorang mengeluh lapar dan bisalah Margio mendengar ternyata mereka tak bersiap dengan lauk buat santap malam. Melihat dirinya ada duduk di teras, Anwar Sadat keluar menemui Margio, dan bertanya sekiranya ia mau disuruh membelikan lauk ke pasar. Malam begitu biasanya masih ada penjual gorengan, sate ayam, bahkan ikan bakar. Sebelum Margio mengiyakan, sekonyong datang si bungsu Maharani dan berkata pada ayahnya bahwa ia mau pergi asal ditemani.

Itulah awal Margio sering bekerja untuk Anwar Sadat sekaligus hubungan ajaibnya dengan si gadis Maharani. Mereka berdua sebaya, berjalan di bawah atap payung melintasi hujan dan gelap.

Disebabkan Anwar Sadat tak punya anak laki dan ia satusatunya lelaki di rumah itu, setiap ia punya gawean berat ia akan datang ke 131 dan meminta Margio membantu. Margio bisa mengangkut karung-karung beras ke gudang, membetulkan talang yang bocor, dan menebangi belukar di pekarangan depan rumah tersebut. Untuk itu semua Anwar Sadat sering kasih ia uang, atau bahkan menyuruhnya bersantap di meja makan mereka, dan di kala Lebaran kasih celana dan sepatu baru. Hingga suatu ketika Anwar Sadat bertanya apakah ia bisa memanggil ibunya untuk bantu memasak, dan ia menjemput Nuraeni.

Bagi Nuraeni, itu juga berarti pelarian yang menyenangkan, terbebas dari rumah yang lebih remuk dari apa pun. Ia senang pergi ke rumah Anwar Sadat, tak peduli banyak pekerjaan menunggunya di sana, tak peduli seandainya tak ada uang diberikan Kasia kepadanya dan merasa cukup dibiarkan membawa pulang serantang sayur dan beberapa potong lauk. Di sana ia bisa mendengar lagu-lagu sendu diputar Anwar Sadat dari ruang melukisnya, melihat gadis-gadis cantik yang riang, dan tak peduli pula betapa anak-anak itu, terutama Laila dan Maesa Dewi, sering menyuruhnya hal-hal remeh dan tak masuk akal. Berkali Laila menyuruhnya untuk memijat, Maesa Dewi memintanya merebus mie, dan ia akan melakukannya dengan suka. Di rumah itu Nuraeni tak pernah bicara dengan kompor, dan menjelma menjadi perempuan manis sebagaimana mestinya.

Di waktu-waktu belakangan, datang ke rumah itu dan bekerja di sana telah menjadi demikian rutin hingga Anwar Sadat dan Kasia tak perlu lagi memanggilnya. Malahan sering pula ia sekonyong muncul bagai dijatuhkan langit-langit di waktu masih remang dan bertanya pada Kasia, apakah ia hendak memasak sendiri atau dimasakkan pagi itu. Biasanya Kasia menguasai dapur di kala sarapan, namun di waktu-waktu malas ia merelakan itu pada Nuraeni.

Serasa itu jadi rumahnya sendiri, sebab Nuraeni akan menggilas lantai lebih kilau dari pemiliknya, menjelajahi batas-batas ubin dengan kain lap kecil memastikannya tak menyisakan debu senoda pun, menggosoknya berulang seolah kucing yang tak ada puas menjilati kaki. Dan kaca-kaca jendela dibuatnya serasa tak ada, menipu kumbang dan ngengat membentur-bentur, sesuatu yang tak dilakukannya di 131, sebab di sana meskipun ada dua jendela kaca besar, penampakannya telah pudar oleh kapur dinding bilik yang tercecer kala Komar dan Margio melaburnya. Nuraeni juga tak membiarkan bunga-bunga meranggas di pekarangan, tidak sebagaimana belukar bunganya sendiri, dan itu menambah-nambah senang Kasia, hingga perempuan itu mempertahankannya serasa memiliki seorang pembantu setia yang bersedia kerja tanpa upah sekalipun.

Rasa senangnya barangkali ditopang perlakuan Kasia dan Anwar Sadat yang bagus betul kepadanya, bandingkanlah dengan Komar yang kerap menghadiahinya pemukul rotan dan memerkosanya hampir di segala lubang. Komar tampaknya tahu Nuraeni senang berada di sana, dan tak ayal ini kerap bikin lelaki itu cemburu buta, menghukum Nuraeni dengan segala keji yang dipikirkan setiap otak busuk, namun tak pernah berhasil menghentikan kepergian Nuraeni, terutama di saat-saat ia sendiri mesti pergi ke pasar memangkas bulu kepala orang. Lagi pula tampaknya Komar tak banyak daya melihat Anwar Sadat dan Kasia memberi uang pada Nuraeni dan Margio lebih banyak dari yang diberikannya sendiri. Ia tak bisa menghentikan mereka, maka ia hanya bisa memberi rasa pedas dan sakit, mengganti sikap manis yang tak mampu ia kasih.

Namun sikap baik itu memberi jebakannya sendiri, yang menggoda dan menghasut, dan bikin Nuraeni hilang akal. Bukan sikap pengabdiannya yang hampir tanpa pamrih, yang dengan tulus akan ia berikan pada orang-orang yang bagus budi kepadanya, tapi bahaya itu mengancam pada sikap hidung belang Anwar Sadat, yang tampaknya masih melihat warisan gadis cantik dimiliki Nuraeni, dibandingkan dengan istrinya sendiri yang sejak awal tak pernah sungguh menghidupi rasa berahinya.

Sekali waktu, Nuraeni tengah mengiris-iris bawang berdiri menghadap meja di samping kompor yang berdengung oleh   air mendidih, Anwar Sadat datang sekonyong melewatinya dan tangannya terayun meremas bokong Nuraeni. Telah lama ia berhasrat melakukannya, melihat pinggul yang membuncah itu, mengkhayalkan selangkangan yang terjepit olehnya, dan daging yang lesak di bagian belakangnya, dan penuh kesengajaan jarinya meremas menerjang daging penuh itu, membikin Nuraeni nyaris memenggal jemarinya sendiri. Awalnya Nuraeni terhenyak, meski telah lama ia tahu dari desas-desus bahwa lelaki ini matakeranjang dan tak bisa tahan atas perempuan, menoleh dan matanya bertambah bulat. Tapi demi dilihat senyum tanpa dosa itu, di wajah yang lembut dan sama sekali serasa tak ada nafsu, milik bocah-bocah kecil perengek, ia tak bisa marah. Senyum itu manis, dan apa yang bisa ia lakukan hanyalah mengusirnya jauh, dengan alasan tak lebih itu tak patut, terutama jika mata anak gadisnya menangkap kelakuan tak senonoh itu.

Kedua anak gadisnya tak banyak muncul hidung. Laila sering pergi dan Maesa Dewi lebih suka ngamar di tempat tidur. Dan terutama sebab Nuraeni tak menampik galak, Anwar Sadat semakin doyan meremas bokongnya, atau menepuknya, setiap kali mereka berpapasan, atau menyempatkan diri menghampirinya kala lengah. Nuraeni tak lagi menoleh dengan mata semakin bulat, tapi malahan menampakkan wajah semu merah, dengan senyum tertahan yang sulit diterka. Sebab ia merasakan sentuhan tersebut hangat, awalnya pendek dan tak tergopoh, suatu sentuhan yang tak pernah dirasakannya. Ia bersemu merah sebab barangkali menyukainya, sekaligus melihat ketidakpatutannya. Maka setiap kali lelaki itu tampak, melangkah dengan senyum tanpa dosa penuh pertanda, ia merasai dada bergemuruh serupa kereta rongsok, menanti tangan itu menggapai sekaligus takut merajalela.

Suatu hari Anwar Sadat tak hanya lewat dan tangan terulur meremas daging pantatnya serupa pembeli yang merabai buahbuahan terpajang merasakan kematangannya, namun berhenti di belakangnya sementara Nuraeni tengah berdiri memilah-milah bayam membuang daun-daun yang digerogoti ulat. Perempuan itu sejenak tertahan, merasai dengus napas menembus rambutnya dan membelai tengkuknya, didera rasa seram yang tak karuan mengirim rasa beku sekujur tubuhnya, sementara tangan Anwar Sadat masih melekat di gaunnya, mencengkeram gundukan daging belakangnya, dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya, dan apa mesti ia buat. Anwar Sadat membenturkan dirinya perlahan, Nuraeni terdorong kecil memepet meja, dan keduanya berimpitan tiada jarak, bikin si perempuan tak berani menolehkan wajah, sebab jika itu dilakukannya mereka akan beradu pandang, beradu muka, dengan hidung bertabrakan. Nuraeni masih terdiam menggigil, tangannya menggantung kaku dengan batangbatang bayam berjatuhan gugur ke atas meja, sementara di belakangnya Anwar Sadat bersandar ke punggungnya, menekan bokong Nuraeni yang mengembung dengan tubuhnya, dan tangannya yang tadi mencengkeram kini mengendur, ditambah satu tangan lain, merabanya dalam usapan lembut yang mengirimkan kehangatan menembus gaun dan celana dalam hingga terasa gesekan perlahan itu ke pori si perempuan. Nuraeni hampir hilang napas merasai sepasang tangan tersebut menari di sana. Serasa ia mangsa yang telah takluk dicengkeram tengkuk. Anwar Sadat, menyadari tubuh itu telah menjadi miliknya, menurunkan belaian tangannya, menelusuri  rok  mengembang  itu mengelus gumpalan paha, menekan kain rok ke kulit si perempuan lalu menariknya kecil perlahan dengan ujung jari, sesibak demi sesibak seolah ia tengah menggaruk, hingga rok itu terangkat dan kala ujungnya terkait di ujung telunjuk, tangannya tanpa tergopoh masuk dan sentuhan kulit mereka membuat bebulu kecil berdiri awas. Anwar Sadat tidak lagi mencengkeram, namun merabanya, merasai paha Nuraeni dengan cara menarik jemarinya ke atas, kemudian turun, lalu memutarinya, dan rasa dingin yang beku sekonyong mengentakkan si perempuan, yang tersadar dan terlonjak.

Segera kedua tangannya jatuh dan menurunkan rok, menyentuh tangan Anwar Sadat dan menjauhkannya dari pangkal kakinya, lalu dengan sentuhan kecil sikunya menyodok si lelaki agar menjauh dari punggungnya. Penolakan itu demikian tersamar, membuat Anwar Sadat masih sempat meraih bokongnya lagi, dan menjauh penuh kesadaran, seolah mengerti belum tiba waktunya untuk mencebur lebih dalam, sebab bagaimanapun ia pecinta yang handal.

Nuraeni menoleh, dan rona merah di wajahnya melebar-lebar, warna marah yang aneh sebab tampaknya tak sungguh galak, lebih seperti rasa segan semata. Anwar Sadat hanya tersenyum, kembali dengan wajah tanpa dosa itu, sebelum berlalu dan membiarkannya jadi penguasa dapur yang sempurna.

Bagaimanapun itu membikin Nuraeni bekerja lebih ringkas, dan tak membuang banyak waktu untuk segera pulang membawa serantang sayur bayam bening. Selama tiga hari ia tak muncul di rumah tersebut, meski di hari kedua Kasia datang untuk melihatnya, dan untuk itu Nuraeni mesti berdalih badannya sedang tak enak betul. Senyatanya memang tak enak badan, berkali-kali tubuhnya menggigil setiap kepalanya mengenang tubuh yang mengimpit itu, serta tangan yang berenang di kulit pangkal paha, hampir naik menerobos sudut paling rahasianya. Semua penggalan peristiwa itu terus berulang, dan ia masih juga merasakan belaian tersebut, kadang hangat lain waktu dingin, dan semakin mencoba, bertambah tak bisa ia mencampakkannya.

Di hari ketiga demam itu mampu ditanggulanginya, sebab kini ia bisa mengenangnya tanpa rasa beku, dan mulai melihat sisi intimnya yang mengejutkan, rasa hangat yang tak dikenali, dan tiba-tiba walau ada rasa malu menyelinap, Nuraeni sedikit merindukannya, mendamba satu sentuhan di gumpalan daging pantatnya, yang akan menjalar jauh ke dalam, menyentuh setiap pori tubuhnya. Demikianlah kemudian ia datang lagi, tubuhnya sedikit gugup kali ini, tercenung sejenak di depan pintu seolah tamu yang pertama datang, masuk ke dapur dan bekerja namun pikirannya terbang berkelepak. Ia mendengar langkah kaki itu, telah dikenalinya sebab caranya mempergunakan sandal selalu diseret, dan tak perlu menoleh untuk mengetahui Anwar Sadat tengah merayap menuju dirinya. Meski begitu, menoleh pula akhirnya, melihat lelaki itu hanya mengenakan kolor dan kemeja terbuka satu kancing, tersenyum namun tak lagi tanpa dosa, lebih tepat jika senyum godaan. Nuraeni membalasnya dengan sikap jengah, senyum yang malu-malu, sebelum tertunduk meski ekor mata masih tertancap ke sosok yang menghampiri. Anwar Sadat sadar perempuan ini telah tertaklukkan, dan datang untuk menangkapnya.

Kali ini Anwar Sadat tak semata menjawil bokongnya dan meremas dunia lentur di sana, sebab kini ia kembali berdiri di belakang perempuan itu dengan tangan melingkar memeluknya, menghentikan segala gerak dan membisukan segalanya. Serasa Nuraeni melihat udara yang menjepit dan ia terpaku, sepenuhnya sadar lelaki ini akan berlaku lebih ganas oleh semacam penyerahan dirinya, dan merasakan kepalanya terbenam di rambutnya, menyentuh hangat sampai tengkuknya, dan terasalah riuh dengus napas berembus, terpompa satu-satu, tak berirama mengiringi letupan napasnya sendiri yang terpenggal-penggal. Tangan itu melingkar di pinggangnya, mengapit serasa jari kepiting, mengirimkan aroma panas ke tubuh dan hawa sekitar.

Keduanya sejenak menari, entah oleh dorongan irama macam apa, di tengah dapur yang lengang, serasa pengantin baru bermanja-manja. Tangan Anwar Sadat merayap perlahan, begitu perlahan menghindari kejutan yang sekonyong, sebab ia tahu ketergesaan bakalan mematahkan segalanya, mengelus tubuh si perempuan hingga tergapai menuju atas pinggangnya. Di sanalah kedua telapak tangan itu, mencungkupi kedua dada Nuraeni, tangan kanan menggenggam dada kiri, dan tangan kiri menggenggam gundukan kanan, tidak meremasnya, hanya membelainya lembut. Dada itu tak seranum masa gadisnya, meskipun kini kembali kencang oleh hawa hangat yang menguap, telah sedikit menggelayut oleh sedotan mulut Margio dan Mameh kala masih bocah-bocah mentah, dan terutama oleh gilasan tangan Komar yang melumat.

Anwar Sadat menyadarinya, seandainya ia memperoleh perempuan itu belasan tahun sebelumnya, ia bakalan menemukan seluruh penampakan badaniah yang hampir sempurna. Telah berbulan-bulan perempuan itu datang ke rumahnya, bergerak  di depan matanya, dan demikian menyesal memperolehnya semakin terlambat lagi. Sepanjang bulan-bulan itu ia memindai kecantikannya yang terpendam, di balik roman sendu yang tak banyak celoteh, menyibukkan diri dengan benda-benda di tangan. Ia belum pernah menggodai perempuan yang terlampau dikenal, tetangga sendiri, dan ia mengenali pula lakinya, dan terutama masuk rumahnya hilir-mudik serasa perempuan itu ipar sendiri. Tapi penampilannya yang penuh kabut, dan pemahamannya yang memadai untuk melihat roman menderita atas perlakuan lelakinya yang tak tahu untung, memaksanya untuk merenungi perempuan itu lebih banyak. Memandanginya sembari berpikir seperti apa tubuh pedalamannya, yang terbalut gaun terusan itu, dan bertanya-tanya sungguhkah dirinya telah habis diremuk Komar sebagaimana ia tahu, dan terpesona juga memikirkan apakah perempuan ini pernah mengharapkan satu sentuhan lembut pecinta agung, yang dengan sudi bakalan diberikannya untuk si murung itu.

Kini Anwar Sadat menyadari kemerosotannya, melalui tangan yang menggenggam buah dadanya, tak peduli itu masih terbalut kutang dan lapisan gaun, ia bisa mengerti namun sekaligus mengaguminya, sebab setelah tahun-tahun yang menderitakan tersebut, perempuan ini masih menyimpan buah dada yang tak dibiarkannya terlampau matang hingga membusuk. Berahi perempuan itu naik, sebab bola-bola itu menggelembung pejal, pemahaman Anwar Sadat atas perempuan memberitahunya, dan memberi jawaban lama bahwa perempuan ini memang membutuhkan sentuhan macam itu.

Tentu saja tak ada keberatan bagi lelaki ini untuk memberikan kehangatan kepadanya. Tangan penuh bakat itu, yang menciptakan patung-patung naturalistik di depan rumahnya, yang menyapu kuas meniru tanpa malu lukisan Raden Saleh, yang telah membikin banyak perempuan menggelinjang diimpit tubuhnya, mulai deras bergerak, jarinya terangkat sebelum terbenam, menyapu dan menggaruk, dan benarlah Nuraeni mulai bersandar ke tubuhnya, pandangan mata kosong ke langit-langit, dan bernapas dengan mulut bercelah. Anwar Sadat mencengkeramnya lebih erat, mencungkupinya lebih menekan, telapak tangannya berputar serupa membuka tutup stoples, sekali-dua itu membikin mereka oleng saling mendorong sebab otak tampaknya tak lagi jalan dan kaki-kaki tak lagi kukuh, dan tubuh keduanya telah disiram dari pedalaman mereka sendiri. Nuraeni mengenakan gaun dengan dua kancing di lehernya, satu tangan Anwar Sadat perlahan membukanya dengan gerakan tiga jari serasa mereka punya mata, menguak ngarai dalam yang lunak, dan kini kedua tangannya terlepas dari gundukan tersebut, hendak berpindah, menyelisip ke balik gaun dan kutang dan menemukan harta karunnya di sana.

Ingin sekali Anwar Sadat merampok daging itu, menggilasnya dan mereka semakin liar, hingga terdengar suara pintu terbuka, di suatu tempat di depan rumah, menghentikan berahi tersebut. Kala Maesa Dewi muncul ke dapur, Nuraeni tengah menghadapi meja menggenggam pisau, tanpa apa pun di depannya untuk diiris-iris, hanya berdiri tak ada nyali berbalik, sebab Maesa Dewi bakalan melihat leher gaunnya yang menganga, dan kutangnya yang sedikit terkuak. Sementara itu Anwar Sadat menghadapi poci, menuang air ke gelas dan meminumnya, pun tak hendak menoleh. Sesuatu di dalam kolornya lunak penuh kesegeraan. Maesa memandangi keduanya sejenak, sebelum berjinjit bergegas ke kamar mandi, hilang di sana memberi bebunyi deras kencing yang tumpah ke lubang toilet. Anwar Sadat pergi meninggalkan dapur, tak sepatah kata pun tertukar di antara mereka.

Sesungguhnya, jika Margio dan Mameh jeli, semestinya mereka telah melihat roman riang itu sejak hari tersebut di wajah Nuraeni. Semu merahnya telah membayang kala sore ia pulang ke rumah, demikian juga binar matanya, serasa waktu mundur bagi Nuraeni. Ia mandi sangat lama dan  mengenakan  gaun  tercantiknya, dibeli Lebaran empat tahun sebelumnya, bermain-main dengan anak kucing di depan kompor sementara menanti nasi menjadi tanak. Tak biasanya ia begitu terhadap makhluk semacam kucing, mengelusi bulunya, membiarkan jemarinya digigit, dan bernyanyi kecil seolah memberinya nina bobo. Ketika Mameh melihatnya, lalu Margio memergokinya, belakangan Komar memelototinya, tak seorang pun telah menyadari gelagat anyarnya, dan masih melihatnya sebagai bentuk kesintingan yang lain.

Nuraeni masih merenungi siang yang ganas itu, baginya tak ada yang lebih indah daripada apa yang telah diperolehnya, dan merindukan telapak tangan Anwar Sadat sejadi-jadinya. Tampaknya tak ada lagi yang menjadi kepeduliannya, selain merenungi kenangan tersebut, berdebar menanti apa yang bakal kejadian atas mereka setelahnya, sebab sisi kewarasannya  tahu  semua itu tak akan berhenti di sana, dan masih ada saat-saat lain yang dengan sabar telah menanti mereka untuk mengisinya.

Ia melangkah ke rumah Anwar Sadat pukul sepuluh sehari kemudian dengan tubuh hampir menggigil dan sejenak nyaris bikin ambruk di tengah jalan. Ia mengenakan atasan dengan kancing berderet, dan rok yang mengembang, serasa ia telah memasrahkan dirinya, memberi Anwar Sadat jalan yang lebih mudah untuk meraih dirinya. Ia berharap mengulang hari kemarin, dadanya berderak menyengal, sekaligus cemas Maesa Dewi akan jadi iblis pengusik yang merusak rasa intim mereka. Ia memasuki rumah tersebut dengan langkah tak ada bunyi, telapak kakinya menyentuh ubin demikian lirih, menuju dapur purapura tak mengharapkan siapa pun, sebab matanya memandang lurus tak menoleh mencari-cari. Namun di sana ia berdiri di tengah ruang, pedalaman dapur yang lengang, kompor berderet di satu sisi dan meja serta lemari teronggok di sisi lain, dan di antara benda-benda itu menjulang dirinya, kali ini tampaknya tak hendak menyentuh apa pun, tidak wajan tidak panci, tidak pisau tidak kentang. Ia di sana, menunggu dirinya sendiri yang disentuh.

Didengarnya pintu kamar yang terbuka, dan ia bertanya-tanya Anwar Sadatkah atau anak perempuannya? Nuraeni masih di sana, tak menoleh untuk cari tahu, sebab dirinya terlalu lesu. Namun dari langkahnya kembali ia mengenalinya, itulah makhluk yang ia nantikan. Anwar Sadat rupanya mengerti, melihat sosok si perempuan tak berdaya di tengah dapur, bahwa siang itu akan menjadi milik mereka berdua, semuanya kini di tangannya, dan perempuan itu tanpa kata-kata telah berkata, terserah apa yang hendak kau lakukan hingga kita tak akan terpatahkan oleh apa pun juga.

Demikianlah Anwar Sadat mendatanginya, menarik tangannya, dan dengan langkah terseret menggiring dirinya ke kamar tidur, menutup pintu dan mengunci mereka di dalamnya. Itulah dunia intim sesungguhnya, tak terjangkau oleh apa pun juga, bahkan tidak Maesa Dewi maupun Kasia.

Anwar Sadat masih berdiri di tentang pintu, sementara Nuraeni canggung di depannya, muka menunduk tak tahu mesti bersikap, kemudian mundur teratur hingga membentur ujung tempat tidur, dan terduduk di atas kasur. Tangannya menyentuh seprei, matanya merenungi, seprei itu putih bersih dan tebal, dengan motif ekor murai berwarna cokelat tua, permukaannya lembut serasa bulu randu. Kasurnya busa, ia bisa merasainya, padat namun bisa melesak. Ingin sekali ia berbaring di sana, dengan kepala ditopang kedua tangan, meringkuk dengan lutut sedikit menekuk, dalam tidur abadi yang hangat, tak ada lagi tukang pukul yang merongrong dirinya, dan tak ada lagi hidup penuh cemas. Anwar Sadat melangkah menghampirinya, terlihat kakinya bergerak, dan itu menghentikan renungan Nuraeni hingga ia terdongak memandang penakluk berwajah tanpa dosa itu.

Sejenak mereka bertatapan, dan Nuraeni tersenyum malu, kembali menunduk, dan memandang sesuatu menonjok di balik kolor Anwar Sadat. Itu membuatnya kembali beku, namun Anwar Sadat telah menyentuh bahunya, membuatnya kembali hangat, lalu dengan satu sentuhan kecil mendorongnya rebah di peraduan. Di sana ia telentang, dengan kaki masih menjuntai ke lantai, rambutnya melebar tumpah, sepasang dadanya berguncang oleh sengal napas. Anwar Sadat membuka kedua kaki perempuan itu, di antara keduanya ia berdiri, menjatuhkan dirinya,  mengimpit di atas tubuh Nuraeni. Tekanan itu mendebarkan, namun menggelorakan, seolah tahu kini tak lagi ada yang tertunda.

Sangatlah jelas Anwar Sadat seorang penyabar dalam bercinta. Tanpa bersegera menanggalkan tameng-tameng mereka, ia membenamkan bibirnya ke bibir perempuan itu, sementara tangannya melingkar mendekapnya, tak membiarkannya hengkang. Pada awalnya Nuraeni hanya terdiam, membiarkan garis-garis bibir yang semula kering saling bersentuhan, di batas jarak semacam itu ia tak bisa memandangnya tajam, namun bisa merasai mulut lelaki itu mengatup-ngatup serupa ikan di permukaan kolam, mengirim aliran basah ke rekahan mulutnya. Anwar Sadat terus memancingnya untuk membalas, memagut bibir bawahnya dan sedikit menariknya, melepaskannya dan mengatup sepasang bibir tersebut, hingga lama-kelamaan akhirnya balasan itu datang, dalam gerakan-gerakan kecil, sebelum sekonyong telah mengatup mulut si lelaki, dan Nuraeni menjadi lebih pemberani. Selepas itu segalanya menjadi lebih gampang, Anwar Sadat mengendusi leher perempuan itu, menyelusup ke tepian rahangnya, menuju balik telinganya, kembali ke bibirnya, mencari telinga yang lain, dan mereka bergerak, berputar, Nuraeni mendorong dirinya dengan kaki, hingga keduanya telah berada di atas tempat tidur selengkapnya.

Bagaimanapun mereka tak berlanjut ganas, namun lebih perlahan dan khidmat, serasa pecinta-pecinta agung yang mengerti bagaimana seni persetubuhan yang sesungguhnya. Anwar Sadat melepaskan kelima kancing atasan perempuan itu perlahan, demikian lambat sehingga di antara mereka sendiri hampir tak menyadarinya kala itu telah menganga semua, dan Nuraeni harus menarik tangannya untuk menanggalkan pakaian tersebut. Kini ia tampak setengah polos, membuka sendiri penutup dadanya, yang tampak serupa puding tumpah bergelinjang sendiri tak kukuh, berguncang, sementara Anwar Sadat duduk di pahanya, membuka kaos oblongnya, memperlihatkan dadanya sendiri yang lebat oleh bebulu, di antaranya telah separuh putih. Setengah polos keduanya masih saling memandang, hingga Anwar Sadat menaruh kedua telapak tangan di puding langsat tersebut, mengguncang dan meremasnya tanpa terhancurkan, sebelum tubuhnya tumbang tanpa melepas genggaman, kembali menumpahkan cium berahi di mulut Nuraeni. Rok dan celana mereka tanggal tanpa tubuh keduanya terpisahkan, didorong tangan terampil yang menarik-narik dan melemparkan itu semua ke lantai. Kini mereka polos sempurna, dengan lutut Nuraeni terangkat dan kedua kakinya memutar mengapit tubuh Anwar Sadat, di sana mereka bercinta lama, penuh peluh dan dengusan pendek, mengerisutkan seprei ekor murai hingga berpusing.

Momen itu demikian menakjubkan bagi mereka, sesuatu yang nyaris tak terenungkan. Berbaring sama telanjang mereka tak berkata-kata, sebab tak banyak mereka berbincang, sebab berahi tampaknya tak membutuhkan  kata.  Dengan  tubuh  dan jiwa yang lelah, keduanya berbaring berdampingan, mata setengah redup menatap langit-langit dengan lampu mati dan satu-satunya cahaya datang dari tirai tipis yang menghalangi jendela, sinar matahari yang beranjak siang. Nuraeni sendiri masih takjub dengan keberanian tubuhnya sendiri, namun tak terperi ia demikian bahagia, dan tak perlu bertanya pada lelaki itu apa yang dirasakannya. Hingga tanpa ragu, perempuan itu berbalik, menimpakan pahanya ke tubuh Anwar Sadat, dan memejamkan mata. Ada garis lurus di bibirnya.

Siang itu ia pulang ke rumah dan belum seorang pun di sana menyadari perubahan perangainya. Barangkali ia terlampau menyembunyikan rasa suka, atau penghuni rumah terlampau abai terhadap perempuan ini. Hanya Anwar Sadat yang merasakannya, terpesona bisa membuat perempuan itu menjadi pengantin baru sepenuhnya, dan ia akan menyediakan dirinya untuk Nuraeni, di hari-hari mereka yang panas dan semakin liar, di tempat tidur yang sama dan lain waktu di tempat-tempat berganti. Adakalanya Maesa Dewi pergi juga dari rumah, dan berdua mereka akan menutup semua pintu dan gorden dan meredupkan lampu-lampu, dan berahi di atas sofa, di meja dapur, di bak mandi, dan sekali waktu di lantai ruang tempat Anwar Sadat melukis.

Nuraeni menyadari kemudian kehadiran jabang bayi di perutnya, tanpa perlu ia bertanya pada bidan atau mantri, sebab naluri perempuannya telah gamblang menjelaskannya sendiri. Itu sama sekali tak membikinnya panik, malahan tambah membuatnya suka, dan sering membikin ia duduk merenungi si bakal bayi, mengelusi perutnya yang belum juga membuncit, seolah itulah satu-satunya anak sejati yang ia miliki. Serasa anak pertama yang lama dinanti-nanti, dan ia akan berkaca-kaca mendamba hari ketika ia bakal menumpahkannya ke dunia, mendengarnya menangis, melihatnya tumbuh, dan demi apa pun, ia pasti akan sangat mencintainya. Sering ia bernyanyi-nyanyi kecil, seolah bayi itu telah lahir dan tengah dihiburnya dari cengeng kanak-kanak.

Pada masa itulah Margio merasakan perubahannya, melihatnya lebih berias dan cemerlang dan cantik tanpa pernah ia melihat ibunya seperti itu di tahun-tahun kebersamaan mereka, dan lama setelahnya kemudian Margio sadar roman cantik itu datang dari bayi perempuan yang meringkuk di rahimnya, membisikkan itu pada Mameh bahwa ibu mereka tengah hamil, dan keduanya terpesona akan penantian jabang bayi yang tak terduga-duga. Masa itu Margio masih berpikir itu adik kandungnya, dari ayah yang sama, meskipun ia sempat bertanya-tanya dengan cara apa Komar mengangkanginya. Telah bertahun-tahun, tampaknya sejak belukar bunga datang, Nuraeni minggat dari sampingnya dan tidur dengan Mameh di kamar lain, dan demi melihat tubuh udzurnya, serta pernah juga mengeluhkan kelaminnya yang bengkak, Margio meragu jika Komar masih memburu Nuraeni untuk menyodok lubang kemaluannya, tak peduli sebesar apa pun nafsu berahinya.

Margio belum menyadari keberadaan Anwar Sadat dalam semua keajaiban rahim Nuraeni, masih berbaik sangka Komar memang masih mampu melakukannya, dan terbayang olehnya suatu malam Komar menyeret Nuraeni dari kamar Mameh dan mengempaskannya di tempat tidur, atau di peti gudang beras, dan menodongnya mahakejam. Tentu ia melakukannya berkali-kali, hingga perempuan itu kembali hamil, tanpa memedulikan kenyataan kedua anak yang mereka miliki pun hampir sering kurang makan. Ia tak membicarakan hal itu dengan adiknya, menyimpan sendiri pertanyaan-pertanyaan, dan dibikin heran setelah perut Nuraeni tampak semakin bulat, Komar tampaknya belum juga menyadari, sebab tak ada kata apa pun terucap mengenai adik bayi, juga tak beri perhatian berlebih untuk bininya. Seolah-olah jika pun Komar telah meniduri istrinya, ia tak yakin bisa membuahinya, dan tak pernah menelisik adakah sesuatu berubah di penampakan rahim Nuraeni.

Ketika Komar bin Syueb akhirnya tahu, gempa amukan itu datang sejadi-jadinya, mengejutkan Margio dan Mameh sekaligus, sebab telah lama Komar demikian abai pada istrinya, meski masih kerap memukulinya. Kini amuk itu datang lebih ganas, seperti amarah yang lama tertahan, menyeret perempuan itu dari dapur ke tengah rumah, dan menempelengnya tanpa mengatakan apa pun. Nuraeni menjerit, kini tampaknya perempuan itu hendak melawan, barangkali mempertahankan gumpalan tercinta di rahimnya, meneriakkan kata bangsat dan anjing dan babi, dan Komar bin Syueb membalasnya dengan bangsat  dan  anjing dan babi pula. Melihat Nuraeni yang melawan, Komar semakin bengis mengayunkan lengannya, kali ini tidak dengan telapak tangan terbuka, tapi telah tertutup menjadi kepalan, menimpa deras dahi istrinya.

Nuraeni terempas ke dinding, menimpa palang kayu, dan bikin bilik bambu sedikit tambah menggelayut. Komar datang memburunya, mengayunkan kaki menghajar betisnya, dan Nuraeni terpojok, ambruk di lantai. Itu pun tidak cukup, maka ditendang pula pinggulnya, sebelum Nuraeni menangkap kaki itu dan mendorongnya. Dengki melihat perempuan yang tak juga mau dikalahkan, Komar mencengkeram rambutnya, membuat Nuraeni kembali berjinjit meringis, dan pada saat mereka telah sejajar, tangan Komar datang menimpuk rahangnya, kali ini kembali ia terhuyung ke sudut lain, dengan pipi membiru semu merah, sedikit bengkak, namun tetap bertahan tak mengucurkan tangis, hanya tangan memeluk perutnya membentengi.

“Perempuan sundal!” pekik Komar bin Syueb, sambil melemparkan asbak seng ke mukanya, dan pergi meninggalkan mereka.

Margio dan Mameh ada di sana, demikian cepat semua adegan itu, hanya bikin mereka pasi tak karuan. Ketika tersadar untuk berbuat, Komar bin Syueb telah pergi. Mameh menghampiri ibunya, memapahnya dan membawanya ke tempat tidur. Hanya Mameh yang kadang tak bergeming, pada saat-saat tak tertahankan ia bisa menangis, dan sambil sesenggukan ia mengipasi ibunya, mengelus memar-memar tersebut dan bertanya apakah ingin diambilkan air kompres, tapi Nuraeni hanya menggeleng dan menggenggami tangan Mameh.

Kini Margio menyadarinya, bayi kecil di dalam perut ibunya bukanlah benih Komar. Kemarahan membengkak itu sangat terjelaskan, dan sejenak ia gamang di mana mesti berkubu. Ia sendiri hampir tak percaya Nuraeni memperoleh benih dari seseorang, dan Margio belum juga punya gagasan siapa yang telah menumpahkan itu di rahim ibunya, sebab menyadari ibunya telah memperoleh itu tidak dari Komar pun telah membikin Margio terguncang.

Ada rasa malu membuncah di dirinya, dan menuntunnya pergi dari rumah, terdampar di pos ronda, dan terus merenungi semua itu sebab ke mana pun pikirannya pergi, kenyataan tersebut demikian gamblang di depan matanya. Ia tak bicara pada seorang pun kawan, meski satu dua bertanya mengapa ia demikian murung, sebab tahu hal begitu bukan untuk dipercakapkan. Apa jadinya jika semua kawan, dan lalu semua orang di seantero bumi tahu, bahwa ibunya tengah bunting oleh seseorang yang bukan ayahnya. Ingin sekali ia membakar kedua orang keparat itu, yang baginya serasa mereka berdua berkomplot untuk menganiaya dirinya dan Mameh, tapi jauh di dalam hatinya ia tak bisa mengutuk ibunya yang telah melewatkan tahun-tahun menderitakan tersebut, dan tak bisa menyumpahserapahi ayah yang telah dikhianati demikian seronok.

Bagi Komar bin Syueb sendiri, tak ada yang lebih menyakitkan diri daripada apa yang terpampang di hadapannya, seorang istri yang memamerkan rahim berisi benih lelaki asing, lebih sakit daripada memikirkan kenyataan bahwa ia tak pernah sanggup membuat mereka senang. Ia pergi ke kios cukur dan lebih banyak suwung, nyaris mengiris kuping pelanggannya, dan pelanggan lain hampir dibuat rambutnya tercabik-cabik. Matanya semakin berkaca-kaca, menyedihkan keadaan diri sendiri, mengenangi tahun-tahun lewat yang penuh keputusasaan dan ia mencoba mengurai dari mana segala kesalahan ini berawal, seandainya memang ada kekeliruan.

Tahun-tahun itu berlalu demikian cepat, pikirnya, seperti kereta yang tepat jadwal dan enggan menunggu. Ia mengenang masa muda yang payah, kala ia pergi merantau dari kampung dan mencari kerja di pabrik-pabrik. Berbulan-bulan ia di sana, memotong kulit untuk bengkel sepatu, mengangkut gandum di perusahaan mie, dan selepas bulan-bulan yang lewat ia mendapati dirinya penuh rasa sakit tanpa uang, hingga ia membuka kembali kotak perkakas cukur dan mencari tempat di bawah rindangan pohon, menanti pelanggan, mencukur kepala orang, dan tetap tak banyak beroleh apa pun. Ketika Syueb menyuruhnya pulang untuk mengawini si gadis Nuraeni itu, ia hanya mengantongi cincin kawin enam gram, barangkali ia keliru terlalu membanggakannya. Bahkan di masa kawin itu pun ia telah melihat sosok gadis yang enggan, barangkali marah sebab tak pernah dikiriminya surat, dan ia tak pernah meminta maaf soal itu. Sebab bukan ia tak mau menulis omong kosong di kertas merah muda dengan wewangi dari bedak, tapi ia sungguh tak tahu apa mesti diperbincangkan, sebab tak ada yang menarik sepanjang hidupnya di rindangan pohon menanti orang yang gelisah sebab rambut telah mencolok mata. Tapi perempuan itu telah jadi milikku, pikirnya, sejak perkawinan tersebut, maka ia seharusnya ada untuk dirinya. Maka jika ia menginginkannya dan perempuan itu tak ada untuk dirinya, izinkanlah ia memiliki amarah, dan kemarahan itu tak tertangguhkan, menimpa perempuan tersebut dalam kepingan pukulan.

Duduk di kursi pelanggannya, Komar bin Syueb menyeka matanya dengan kain mori, cemas seseorang dari kios mie ayam akan memergokinya secengeng itu. Sekali lagi ia mengeluhkan waktu yang terlalu bersegera, bagaikan tak memberinya kesempatan apa pun. Ia bertanya-tanya mengenai tangannya yang ratusan kali mencederai bininya, dan anak-anak mereka, matanya kembali berlinangan berpikir semua kekeliruan itu datang dari dirinya. Tapi sisi lain pikirannya akan membela, mengenang saat ia lelah pulang ke rumah dan mendapati istri yang muram, anak-anak yang sebengal setan, dan tak lagi ada yang bisa dipikirkannya kecuali menimpuk mereka dengan apa pun, berharap membuat mereka sadar ia telah dikutuk untuk letih sepanjang masa, meminta kesediaan makhluk-makhluk itu untuk bersekutu dengannya, dan jika tampak mereka tak hendak mengekor di belakangnya, biarkan dirinya menyeruakkan amarah.

Seorang ayah datang memintanya mencukurkan  bocah  kecil yang digiringnya, dan Komar mesti memalingkan muka, menyembunyikan mata yang redup, mempersilakan si bocah duduk di kursi yang tadi ditungganginya. Sambil bersiap ia memberi kesimpulan pada renungannya sendiri: dan kini ia melihat Nuraeni bakalan beranak dan anak itu tidak datang dari kemaluan Komar bin Syueb.

Tadinya ia telah bersiap untuk berserah pada alam yang memberi kisah tragis ini, tapi setiap kali pulang dan kenangannya membuncah kembali demi melihat perut istrinya, rasa marah itu meluap lagi dan ia mesti menghajar istrinya, meneriakkan belasan kata sundal, mencederainya, menggetoknya dengan gayung, menggebraknya dengan rotan pemukul kasur, dan rasa hatinya menjadi sayup selepas melihat perempuan itu bersimpuh di sudut rumah tak lagi ada perlawanan. Komar akan masuk ke kamarnya sendiri, berbaring menyendiri dan jika malam datang bersama keheningannya, ia bakalan menangis tanpa bunyi, membuat malaikat-malaikat turun dan mencatat kemalangannya.

Bakal bayi itu sendiri terus tumbuh di rahim yang penuh guncangan, tampaknya demikian kuat menahan dera yang menimpa induknya, dan sejak awal barangkali menyadari ayah tiri yang ganas itu tak sudi membiarkannya tumpah. Mameh terus mendampingi ibunya, kini lebih banyak berbaring ringkih, menyusut lesat oleh kebengisan bertalu-talu, dengan si anak perempuan kasih kompres sekujur tubuh yang memar, dan membalurnya dengan beras kencur yang dimamahnya sendiri. Bahkan, dengan segala rasa pedih itu, Nuraeni tak kehilangan roman bahagianya, yang mengharukan bagi Margio dan Mameh, sebab sepanjang tahun-tahun kehidupannya, tak banyak perempuan itu memberi senyum, dan kini ia membagikan itu bagi mereka serasa diserakkan begitu saja dan orang hanya perlu memungutinya. Kepada kedua anak itu, ia berkata pelan: “Jika ia lahir, ia akan datang membalas dendam membunuh Komar bin Syueb.”

Mameh hanya menangis menanggapinya, sementara Margio semakin menemukan kristal-kristal hasrat membunuh ayahnya.

Semakin besar perut itu, Margio melarangnya untuk pergi ke rumah Anwar Sadat dan bahkan menghalanginya mengerjakan apa pun di rumah. Margio sangat senang melihat roman bahagia itu, tak peduli rasa malu masih bersemayam di pedalamannya demi mengenang apa yang telah dilakukan ibunya, telanjang untuk lelaki lain, dan mengabaikan segalanya demi wajah yang riang tersebut. Mamehlah yang kemudian mengurus rumah, menyiapkan makan bagi mereka dan tetap mengerjakan semua tugas rutinnya. Kala itu keduanya telah menyelesaikan sekolah mereka, dan masa-masa itu, sepanjang kehamilan ibunya, Margio sering berada di rumah kecuali waktu-waktu sejenak ia pergi untuk gaul bersama kawannya, mencemaskan ibunya dari tangan ayahnya. Komar bin Syueb sendiri mulai menemui ketenangannya, dengan cara menyedihkan mulai menerima petakanya, tak lagi hirau pada perempuan yang menenteng bayi haram jadah di rumahnya, dan lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Belakangan ia malah sering pulang sangat larut, dan pergi bergegas, dan tak seorang pun tahu di mana dirinya. Barangkali ia membuka kios cukurnya lebih dini dan lebih larut, atau ia tak membuka kios cukurnya dan malahan pergi entah. Penghuni rumah lain abai juga kepadanya, tak peduli apa hendak ia buat, dan lebih senang seandainya ia memang jarang di rumah, dan lebih bagus jika ia punya kewarasan untuk hengkang, sebab lelaki yang membiarkan rahim istrinya dibuahi lelaki lain mestinya tak patut tampilkan muka.

Kasia sering datang sejak Nuraeni tak lagi datang ke rumahnya dan tahu ia tengah hamil untuk periksa keadaan dirinya. Ia mencemaskan memar-memar itu, namun membesarkan hati Nuraeni bahwa bayinya baik-baik saja. Kasia sering datang membawakannya pisang dan susu, sebab itu baik untuk perempuan hamil, katanya. Atas kebaikan bidan ini, Nuraeni sering merasa jengah, menyadari Kasia tak pernah tahu bahwa bayi yang ikut diperhatikannya tak lain hasil perampokan atas lakinya demi kesenangan perempuan lain. Ia sering merasa sesak setiap Kasia datang, dan bersedih pada perempuan itu sewaktu si bidan pergi.

Bulan-bulan berlalu dan di bulan ketujuh Mameh memandikan ibunya dengan air kembang. Bukan bunga-bunga yang dipetik dari belukar depan, sebab Mameh masih takut itu mengembalikan riang ibunya, tapi dibeli Margio dari nenek tua penjual bunga di pasar, yang aromanya telah ditambah-tambah oleh minyak wangi.

Margio tengah tertidur di pos ronda, berimpitan dengan Agung Yuda selepas mabuk arak ketan putih, sambil mengigau “ibuku bunting dan bakal beranak, menambah-nambah bocah kurang urus di rumah” kala Jafar tetangga yang bertugas ronda membangunkannya dan memberi tahu, “Ibumu hendak melahirkan.” Udara malam dingin menyemut di kulit yang tak berbalut selimut, hanya tergeletak beralas tikar dibuai angin menghantamhantam menerobos perkebunan cokelat runtuh datang dari laut. Setengah mabuk dan pening Margio terbangun dan tak memahami makna kalimat si peronda, sebelum Jafar kembali mengulang dan menyuruhnya untuk pergi ke rumah Anwar Sadat, memanggil Kasia untuk bantu persalinan.

Terseok Margio pergi tanpa berkata-kata, melewati surau sebagai jalan pintas dan berdiri di rumah Anwar Sadat dan mencoba mengembalikan segenap kesadarannya. Rumah itu remang, hanya ada lampu teras dan lampu-lampu kecil mengeluarkan cahaya dari celah pintu, menerobos jendela yang tertimbun tirai. Mereka mestinya tengah lelap di malam beku keparat ini, katanya, tapi seseorang mesti mengurus ibuku. Ia melangkah mendekati pintu, menggelengkan kepala mengusir rasa pening, dan mengetuk tajam. Hening. Ia kembali mengetuk pintu, lebih keras dan lebih berulang.

Terdengar seseorang berkerisut dari tempat tidur, dan itu menghentikan Margio dari usaha membangunkan mereka lebih lanjut, demi sopan santun. Didengarnya pintu kamar depan terbuka, menyeruakkan cahaya ke ruang tengah, dan tirai tersibak, di balik kaca tampak wajah Laila. Sejenak selepas mengenali bocah itu, Laila memutar kunci membuka pintu, ia mengenakan pakaian tidur membikin Margio rada segan untuk menancapkan mata ke wajahnya, sampai Laila bertanya, mendengus bau arak dari mulut Margio.

“Kenapa?” tanya perempuan itu. “Kau mabuk mengetuk pintu orang?”

“Tidak,” jawab Margio. “Ibuku hendak beranak.”

Sejenak Laila memandanginya, memastikan Margio sungguh tidak mabuk dan mengigau, kemudian pergi meninggalkan Margio dan pintu yang tetap terbuka mencari Kasia. Margio berdiri melangkah-langkah di teras, mengembuskan uap ke permukaan tangannya guna merasai benarkah napasnya bau arak, dan mendengus-dengus semakin banyak untuk mengusirnya.

Kasia muncul dengan kotak perkakas serupa kopor dan gulungan-gulungan kain, kotak perkakasnya diberikan kepada Margio untuk ditenteng, dan tanpa banyak cakap ia bergegas pergi diekori Margio sementara Laila melipat pintu di belakang mereka. Langkah Kasia memburu, kakinya seolah tak ada henti bergerak, di umurnya yang beranjak tua itu, menyadari beban tugas yang diembannya. Sebagian besar anak-anak yang lahir di kampung itu datang ke dunia melalui tangannya, dan seandainya Margio dan Mameh lahir di sana, pasti Kasialah yang menggenggam mereka pertama kali.

Di rumah, Mameh telah menunggu bersama seorang perempuan istri Jafar, sementara Nuraeni mengerang di tempat tidur. Komar bin Syueb tak ada di rumah, tampaknya ini salah satu malam-malam di mana ia mulai tak pulang, hengkang dan hanya kembali saat lelah dan lapar. Margio melontarkan kata bangsat mengetahui ketiadaan ayahnya, didengar Kasia membikin perempuan itu menghardik untuk tidak membuat kata-kata kasar. Tak baik untuk bayi kecil, katanya. Margio hanya duduk di kursi kayu ruang depan, sementara Mameh dan istri Jafar menunggu di dekat pintu seandainya bidan Kasia membutuhkan sesuatu atau meminta tangan mereka.

Padahal baru tiga hari lalu Mameh memandikan Nuraeni dengan air kembang itu, pikir Margio. Bayi ini datang terlampau cepat, meski telah cukup matang untuk hidup. Ia menanti gelisah, seolah itu anaknya sendiri, menemukan rokok kretek dari celananya, dan merokok tanpa henti selama menit-menit yang menekan, mendengar suara Kasia yang terus memberi penghiburan dan kata-kata dorongan, mendengar Nuraeni mengerang hendak membocorkan si bayi kecil menuju dunia.

Menjelang pukul tiga malam, sebab Margio menoleh pada jam dinding tak sabar, bayi itu terdengar tangisnya, memukul dada semua orang. Bayi itu tak mungkin serupa Komar bin Syueb, pikir Margio, tangannya gemetar mengapit rokok sebelum itu dibenamkan ke dasar asbak. Ia ingin menengok, melihat serupa apa bayi itu, dan tetap bertaruh yang akan dilihatnya makhluk perempuan. Mameh dan istri Jafar masih di ambang pintu, nyata belum waktunya bagi mereka masuk hingga Kasia menyuruhnya, meski tangis si bayi telah mengiris malam. Istri Jafar keluar membawa gulungan-gulungan kain, seprei dan selimut, tampaknya penuh darah, ke kamar mandi. Mameh menenteng bungkusan lain. Ada bau amis terbang melayang.

Kasia muncul dari pintu, membuka kaus tangan karetnya dan memasukkannya ke kantung plastik, yang diberikan pada Mameh untuk dibuang dan mengingatkan Margio untuk mengubur baikbaik bungkusan di tangan Mameh. Margio berdiri, tadinya hendak mengerjakan itu, namun tertahan di pintu kamar memandang pedalamannya.

Di sanalah ibunya berbaring, dengan si bayi terbalut rapat oleh kain membelit-belit di sampingnya, tak lagi menangis sebab mulutnya telah disumpal oleh putik dada Nuraeni. Tamasya itu demikian sendu, di bawah remang lampu yang sampai hari itu masih diperoleh dari rumah tetangga melalui seutas kabel yang menggelayut di atap. Nuraeni memandangi wajah si bayi lekat, membelai rambut di kepalanya yang tipis.

“Lihatlah, Komar,” gumam Margio, “Wajahnya terkutuk sangat bahagia.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊