menu

Lelaki Harimau Bab 03

Mode Malam
Tiga

Mereka datang ke 131 kala Margio masih tujuh tahun dalam satu perjalanan yang kelak sering disebut Margio sebagai “Tamasya Keluarga Sapi”. Mereka menempuh tiga jam perjalanan dramatik, ke sebuah tempat yang disebut-sebut Komar bin Syueb sebagai “rumah milik sendiri”, menempuh jalan koral yang di banyak tempat menjelma kubangan kerbau dan mereka harus melaluinya serupa orang-orang Yahudi melintasi Laut Merah, sebagaimana kemudian kadang diceritakan Ma Soma di surau selepas mengaji.

Keluarga itu berjejalan di atas gerobak yang ditarik dua ekor sapi gemuk, gerobak dan sapi itu dipinjam cuma-cuma dari pemilik penggilingan padi, dan dari sanalah sebutan itu datang, dan Komar bin Syueb sesungguhnya telah bertindak bijak untuk tidak menyewa truk yang akan menguras banyak isi pundinya. Lelaki itu duduk di kursi kemudi, menggenggam tali kekang yang menggelayut nyaris tak ada guna, tangan lain mengacungkan cambuk penuh nafsu, juga tak ada guna sebab tak pernah bisa membikin kedua sapi itu melangkah lebih kencang. Di sampingnya duduk Nuraeni memangku si kecil Mameh, terbenam di balik kerudung hijau tua bermotif bunga perak, berkali-kali harus menenangkan kedua anaknya yang terus mengeluh atas perpindahan mereka. Margio sendiri duduk terguncang-guncang di atas gulungan kasur, menahan panci dan ember tidak hengkang, dan sekali waktu satu guncangan batu bisa juga membikin benda-benda terlompat, hingga Margio harus turun memungutinya sementara gerobak terus bergerak, berlari mengejarnya, melemparkan benda-benda terjatuh, dan dirinya sendiri naik kembali untuk duduk dan kadang berbaring melihat elang terbang jauh di langit yang biru.

Sesungguhnya ada jalan pintas berupa jalan raya beraspal yang membujur sepanjang tepi pantai, tempat bis dan truk lewat, namun Komar bin Syueb khawatir sapi-sapi ini terganggu atau mengganggu mereka. Maka ia menempuh perjalanan sesat, melintasi bukit-bukit kecil dan memotong sawah, menelusuri perkampungan dengan rumah-rumah yang berderet di bawah rumpun bambu dengan perempuan-perempuan menjemur padi di pekarangan rumah dan para lelaki mencari kayu bakar. Di setiap kampung terlewati orang-orang berhenti dari polah mereka dan memandang takjub pada tamasya yang lewat, membuat Nuraeni semakin menenggelamkan diri di balik kerudungnya, namun tak membikin Komar bin Syueb kehilangan muka, malahan menyapa mereka dan jika seseorang bertanya mau pindah ke mana, tanpa ragu ia menyebut tujuannya.

Margio tak peduli dengan anak-anak yang bertelanjang kaki dan dada yang berdiri di pinggir jalan memandang mereka, lebih sibuk membacai gambar umbul di tangannya, memindai dengan baik mana Arjuna dan mana Karna, dan mati-matian berusaha membedakan Nakula dan Sadewa, dan hanya terganggu jika poci atau tas pakaian yang tak terikat betul terlempar sejenak setelah roda gerobak menghantam batang pohon yang rebah,  atau  batu sebesar kepala yang suatu ketika konon dilemparkan jauh dari gunung meletus. Ia masih tak rela untuk pergi dari tempat mereka selama ini, dengan teman-teman bermain adu gambar dan kelereng dan layang-layang dan berburu jangkrik. Tak ada jaminan di tempat baru ia bakalan memperoleh teman-teman sebaik sebelumnya.

Mereka datang dari sepetak rumah yang berdiri di tepi perempatan jalan koral, seminggu sekali menjelma menjadi Pasar Senin, sebab setiap Senin pagi akan dijejali pedagang-pedagang yang meletakkan bakul-bakul di pinggir jalan, di teras rumah, atau di tanah kosong sudut jalan yang lain. Mereka menjual kelapa dan pisang dan pepaya dan singkong, beberapa menggelar bajubaju cantik di kerangka kayu yang dipajang di sepeda mereka, seorang nenek tua menjual bunga-bunga di tempayah, dan ada pula orang menyeret sapi dan kerbau dan domba untuk menjualnya, dan ayam-ayam diikat kakinya bersama bebek, dan berember-ember ikan dijual bersama lele. Perempuan-perempuan datang untuk membeli, juga truk-truk kecil yang akan mengangkut kelapa dan pisang dan singkong dan pepaya hampir tanpa sisa. Jika ada yang tetap bertahan di teras rumah di luar hari Senin, itu adalah si tukang cukur Komar bin Syueb, berbekal cermin besar dan kotak perkakas, serta meja tempat cermin tersandar dan kursi tempat pelanggan duduk, juga paku tempat handuk dan kain mori menggantung.

Rumah mereka sesungguhnya bukanlah rumah, awalnya tak lain dari gudang kelapa. Di sampingnya, berdiri rumah gedong agung, dengan kaca-kaca menyelimuti sekeliling rumah, dengan lantai keramik gading yang terus berpijar sebab seorang pembantu terus-menerus mengepelnya, dikelilingi kebun kecil yang rindang oleh pohon jambu air, jeruk, dan mangga, dan hamparan kecil tempat dua buah truk sering menginap. Suatu kali pemilik gedong itu membikin gudang kelapa lebih besar, di belakang pabrik minyak, meninggalkan istri dan anak-anaknya, dan gudang kelapa yang menjadi kosong. Komar bin Syueb datang bersama Nuraeni menempatinya, Margio masih meringkuk di perut ibunya, menyewanya seharga dua belas kepala di kursi cukur setiap bulan, serta kewajiban untuk menjagai rumah besar tersebut bersama penghuninya.

Itu bukan rumah, sebab tak ada kamar kecuali kotak tembok selebar dan sepanjang beberapa depa belaka. Mereka menggelar kasur di ruangan itu, yang pada awalnya harus dibersihkan dari serabut kelapa dan kalajengking dan kadangkala keluarga kepik dan tikus, berjejalan dengan sepeda dan lemari pakaian dan tikar untuk duduk-duduk. Tak ada dapur, hingga Nuraeni mesti meletakkan kompor dan rak piring dan ember-ember di teras belakang rumah, di bawah pohon melinjo. Ia harus melindungi kompor dengan papan kayu lapuk dari angin jahat yang menggodai apinya, dan usai memasak ia akan membawa rantang dan mangkuk sayur serta bakul nasi ke dalam rumah, meletakkannya di samping kasur dan di sana pula mereka makan. Juga tak ada kamar mandi, maka setiap pagi dan petang mereka datang ke rumah gedong, dan beruntunglah mereka memperoleh sendiri kamar mandi dan kakus yang berbeda dengan istri serta anakanak pemilik rumah. Margio dan Mameh lahir di sana, hidup dengan cara demikian, dan tampaknya hidup cukup bahagia.

Di tahun-tahun terakhir, Margio beroleh kewajiban untuk mengisi bak mandi sampai penuh, dan mengangkut tiga ember air ke teras belakang tempat Nuraeni menjadikannya sebagai dapur, untuk air minum dan cuci piring. Ia melakukannya sebelum berangkat sekolah, dan melakukannya lagi sebelum pergi bermain layang-layang ke pesisir di sore hari. Ia punya banyak teman di sekitar tempat itu, termasuk anak penjual es yang berbaik hati sering memberinya es lilin, hingga mereka mesti pindah ke rumah 131. Pemilik gedong datang untuk membawa istri dan anakanaknya, dan ia menjual rumahnya beserta kebun jambu air dan tentu saja gudang kelapa, hingga itu berpindah tangan. Komar bin Syueb menjelajah daerah-daerah sekitar, hingga tersesat dekat lapangan bola, tak jauh dari rayon militer dan pasar kota, dan menemukan 131 tak lagi dihuni sepanjang delapan belas bulan terakhir. Ia bertanya dari satu manusia ke manusia lain, dari mulut satu ke mulut lain, mencari pemiliknya yang tak lagi tampak batang hidung, dan saat berjumpa, ia tak sulit betul memperolehnya, sebab si pemilik lama malahan berpikir itu akan ambruk dan tak lagi ada guna. Ia pulang menemui keluarganya, berkata telah menemukan rumah buat mereka, dan mesti pindah, tapi ia mesti membujuk Nuraeni untuk menanggalkan cincin kawinnya, guna membayar hunian baru mereka.

Tak mudah baginya meyakinkan anak-anak itu untuk pindah, bahkan Nuraeni sendiri tampaknya enggan, tak peduli bertahuntahun mereka tinggal tanpa punya dapur dan kamar mandi. Tapi Nuraeni bukanlah bocah kecil ingusan, ia menanggalkan cincin kawinnya dan membiarkan Komar bin Syueb pergi ke pasar kota untuk menukarnya dengan uang, dan uang itu ditukarnya kembali dengan rumah. Hal ini berbeda dengan Margio, yang berkalikali membujuk untuk tetap di sana, dan tak mau mendengarkan satu penjelasan jernih bahwa pemilik baru rumah gedong tak berniat menyewakan gudang kelapa itu pada mereka, dan sebaliknya hendak menjadikannya sebagai toko kelontong yang menjual sikat gigi dan sabun dan gula-gula.

“Lagi pula,” kata Komar bin Syueb, “kita akan tinggal di rumah sendiri.”

Margio tak terkesan oleh rumah sendiri. Pada umur tujuh tahun, ia telah begitu populer di antara kawannya, yang mengajak mereka pergi berburu belut di hari Minggu yang riang, menjualnya di Pasar Senin dan sisanya dimasak Nuraeni untuk makan mereka. Ia juga pergi bersama anak-anak untuk cari kayu bakar di perkebunan, masa itu perkebunan belum juga terbengkalai dan ia harus punya nyali menghadapi mandor yang tak suka anakanak menjatuhkan pelepah-pelepah kelapa kering sebab itu bisa bikin buahnya juga rontok. Kayu bakar itu dijualnya pula, sebab ibunya tak pakai tungku, dan dengan itu ia bisa membeli kertas dan benang layang-layang, dan kelereng. Jangan lupa ia pemilik kandang-kandang jangkrik terbanyak di antara sebaya. Margio kecil selalu berpikir ia memiliki segalanya, dan memandang kepindahan mereka penuh kecurigaan akan mencerabutnya dari itu semua.

Hingga sempat pula ia ngambek dan mengancam untuk tidak ikut pindah, memilih tetap di sana walau mesti tidur di teras tetangga, atau gubuk di tengah kebun cokelat, sebelum Komar bin Syueb menyeretnya ke pojok rumah dan memarahinya di sana, mengatainya sebagai anak badung tak tahu adat, dan Margio hanya diam, dan Komar bin Syueb menyuruhnya buka mulut, dan ketika Margio hendak buka mulut itu dikira Komar bin Syueb sebagai pembantahan, maka melayanglah tamparan pedas ke wajah Margio. Romannya jadi merah, matanya berkaca-kaca, tapi Margio tak pernah mengizinkan dirinya menangis, maka ia hanya diam saja, dan sebab Margio terus membisu, Komar bin Syueb mengambil rotan penggebuk kasur, dan membantingkan itu ke betis anak lelakinya, bikin Margio oleng dan bersandar ke dinding mengangkat sebelah kakinya. Bagaimanapun kemudian Margio ikut serta pindah.

Demikianlah kemudian kasur digulung, diikat kencang dengan tambang plastik, ditumpuk di atas gerobak sapi yang telah dialasi tikar. Rak piring diikat di tepi belakang, sementara piring dan gelas dimasukkan ke dalam keranjang dan diselimuti dengan kain dan bantal. Perkakas cukur dilipat dan tertimbun di bawah tas berisi pakaian mereka, kursi dan meja, juga ember-ember, panci, kompor, dan baskom. Margio menyelipkan kandang-kandang jangkriknya, kotak kelerengnya, sementara gambar umbul diikat karet terjejal di saku celana merah ati seragam sekolah yang dikenakannya. Ia berdiri di sana, di tepi gerobak sapi, dengan kemeja kehilangan dua kancingnya, rambut kaku kemerahan, bersandal jepit beda warna, dan Komar bin Syueb menyuruhnya segera naik, setelah pintu ditutup, dan kata selamat tinggal diucapkan.

Jika ada hari paling sedih dalam hidupnya, inilah hari itu. Margio bisa melihat wajah ibunya yang enggan, menenggelamkan diri dalam kerudung yang tak pernah dipakainya, duduk di samping Komar bin Syueb. Roman itu juga sedih, tapi Nuraeni lebih banyak diam, dan Margio bertanya-tanya, manakah yang membuatnya lebih sedih, kepindahan ini atau kehilangan cincin kawin. Tadinya ia berharap ibunya bisa jadi sekutu, namun melihatnya hanya membisu tak alang membuatnya jengah, dan dengan murung ia naik ke atas gerobak dan duduk di atas kasur, dilihat teman-temannya yang berdiri di teras, tempat bertahuntahun Komar bin Syueb mencukur orang.

Sesungguhnya perjalanan mereka tidaklah begitu jauh, menjadi lama karena kaki sapi yang melangkah lambat dan jalan memutar yang dipilih, sebagaimana kemudian hari Margio bisa datang menemui teman-temannya cukup berjalan kaki. Tapi tetap saja bagi Margio itu serasa perjalanan jauh tak ada ujung. Di atas kasur ia lebih banyak membisu, kadang-kadang telentang memandang awan dan segerombolan kuntul, lain waktu tertelungkup melihat jalan yang berkelok bergerak menjauh, atau bertopang dagu melihat tamasya sawah dengan bau padi menyengat. Nuraeni juga membisu, bahkan setengah tertidur, seolah ini perjalanan penuh aib, dan setiap mereka berpapasan dengan manusia, perempuan ini bergeming tak menoleh, bagai pengantin baru menjaga harkat diri, memeluk anak perempuan kecilnya yang tertidur pulas di bawah guncangan semena-mena, dan kemudian hari Margio sering mengingatkannya betapa ia beruntung telah tidur sepanjang perjalanan yang memalukan tersebut.

Hanya Komar bin Syueb duduk dengan dada tegap, kadang menyanyikan kidung menghibur diri sendiri. Kadang mereka beristirahat jika terlihat kedua sapi telah lelah, dan membiarkan mereka buang kotoran semau-mau, sementara para penumpang ambil minum dan memakan pisang serta kerak nasi yang digoreng.

Mereka mulai masuk ke jalan beraspal ketika Komar bin Syueb berkata sebentar lagi hendak sampai, meninggalkan jejak lumpur dua garis sepanjang petilasan roda gerobak yang terbuat dari kayu dengan pelapis karet tebal bergerigi. Mereka telah sampai di kota, untuk menyebut daerah pinggiran dengan rumah-rumah cantik yang berderet sepanjang jalan. Tak satu orang pun pernah melihat rumah mereka yang baru, tapi demi melihat rumah-rumah cantik itu, dengan pagar berwarna mengilau berhias besi-besi kecil serta lampu neon dan kotak pos, tak alang bikin Margio bersemangat. Ia melirik ibunya, berharap hasrat menyenangkan itu bisa dibaca di sana, tapi Nuraeni tetap mengubur diri. Margio tak memedulikannya lagi, melihat orang-orang di teras rumah mereka yang penuh kaca dengan tanaman kuping gajah digantung di pot dan anggrek menempel di tiang. Ia bertanya-tanya, di rumah mana mereka akan berhenti. Bagaimanapun mereka tak berhenti di salah satu rumah cantik sepanjang jalan itu, malahan berbelok masuk gang kecil yang hampir tak dapat dilalui gerobak mereka sampai Margio mesti menarik rak piring yang terjulur menghalangi dan membenturbentur pagar rumah orang. Di sana gerobak berjalan lebih pelan, lebih terguncang, melewati gubuk-gubuk yang berjejalan, dan kebun-kebun tak terawat, tersembunyi di balik rumah-rumah riang yang baru lalu. Hingga mereka berhenti di sebuah tanah lapang, tepat di bawah pohon randu yang baru merontokkan bunga-bunganya. Di hadapan mereka teronggok 131.

“Inilah rumah itu,” kata Komar bin Syueb, tak tersembunyikan rasa senangnya, yang tak beroleh tanggap dari Margio maupun Nuraeni. Mameh bangun dari tidur panjangnya.

Rumah itu sedikit lebih besar dari rumah lama mereka, pasti ada kamar tidur dan dapur dan kamar mandi. Panjang dan lebarnya tak lebih dari tujuh depa, menurut Margio, satu badai laut yang jahat cukup untuk membuatnya lenyap, dan satu buah kelapa jatuh menimpanya, cukup untuk bikin itu ambruk. Sekilas orang bisa melihat kemiringannya ke sebelah timur, meskipun memang tampaknya tak akan roboh begitu saja untuk tahuntahun yang akan datang. Tampak redup dan bau mati, lembab, dan sengsara. Atapnya genting tanah merah yang telah kusam, hitam oleh lumut yang terpanggang terik siang dan terendam hujan, Margio berani bertaruh banyak lubang yang akan bikin air menggelosor ke tengah rumah. Dindingnya tak lebih dari bilik bambu, disebabkan musim yang datang dan pergi, telah menggelayut ke luar dan ke dalam, bergelombang tanpa aturan, dengan pulasan kapur yang telah rontok membuat penampang irisan bambunya telanjang.

Komar bin Syueb membuka kunci gembok yang  tergantung di pintu, sementara yang lain berdiri di belakangnya, terpukau oleh harta karun yang mengecewakan ini. Pintunya rada sulit dibuka, barangkali telah memuai hingga ketika mereka berhasil membukanya, pintu itu dengan keparat tak lagi mau tertutup dengan sempurna, sebagaimana juga berlaku dengan jendelajendela. Pedalamannya gelap sebelum cahaya menerobos dari jendela, bau busuk oleh sampah yang tertinggal delapan belas bulan, penuh sarang laba-laba, tikus yang berlarian mendengar langkah kaki, codot yang terusik dan berputar-putar di ruangan, sebelum berhasil memperoleh celah untuk kabur. Bau kotoran codot dan tokek memaharaja menguap bersama udara yang mencoba mengalir lamban.

Lantainya tak lebih dari tanah lembab, benar kata Margio, disebabkan air hujan yang terjun bebas ke tengah rumah, bergerinjul tak nyaman di kaki. Mereka tak mungkin menggelar tikar dan kasur di lantai sebagaimana di rumah sebelumnya, dan harus bersiap dengan ranjang.

“Tak adakah yang lebih remuk dari ini?” Untuk kali pertama, Nuraeni buka mulut,

“Jangan cerewet, remuk-remuk ini rumah sendiri,” kata Komar.

Itu benar. Semestinya Nuraeni mengerti dengan cincin kawin emas seberat enam gram tak banyak yang bisa mereka peroleh. Rumah ini milik mereka, meskipun tidak termasuk tanah tempatnya berdiri.

Sepanjang minggu mereka membersihkannya, mengusir sarang laba-laba dan menangkapi tikus-tikus yang beranak-pinak di lubang-lubang yang segera mereka timbun. Komar bin Syueb meminjam cangkul dan meratakan permukaan lantai serta membersihkannya dari beragam kotoran binatang, dan bersama Margio naik ke atap rumah untuk membetulkan genting yang sengkarut diterjang angin dan kaki merpati. Rasa dongkol Margio semakin bertambah-tambah, tapi tak banyak yang bisa diperbuatnya kecuali mengikuti keinginan ayahnya, atau rotan pemukul kasur itu kembali bakal menghajarnya. Mereka juga harus memangkas pakis dan jamur, dan membabat belukar dadap di belakang rumah di samping sumur.

Beruntunglah mereka punya sumur, meski harus membersihkannya pula dan memasang tali timba. Kamar mandinya merupakan yang termewah di rumah itu, dibuat dengan tembok beralaskan pecahan ubin keramik, dengan kakus yang mampet dan butuh waktu sebulan untuk membuatnya  bisa  dipakai, dan selama itu mereka harus buang kotoran ke kebun cokelat atau ke parit kecil di belakang pabrik batu bata. Kamarnya ada dua, Komar mendatangkan ranjang kayu suatu pagi, satu kamar untuknya dan Nuraeni dan si kecil Mameh, dan yang tersisa untuk Margio seorang diri, sebelum kelak kepemilikan kamarkamar itu berubah, saat satu kamar untuk Nuraeni dan Mameh, yang tersisa untuk Komar bin Syueb, dan Margio tergusur ke dipan di ruang tengah, atau pos ronda, atau surau, atau warung Agus Sofyan.

Tanahnya sendiri milik nenek tua bernama Ma Rabiah, yang sebagaimana Kasia istri Anwar Sadat, ia memiliki tanah-tanah yang menghampar melewati tapal batas desa-desa. Rumah 131 menumpang begitu saja, juga rumah-rumah di sekitarnya, kecuali rumah-rumah sepanjang pinggir jalan yang berhasil membeli tanah-tanah mereka dari pemilik sebelumnya. Itu adalah masamasa ketika banyak keluarga datang dan pergi menenteng kerangka-kerangka rumah, serasa semua itu bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam karung. Kerangka-kerangka kayu tersebut datang dengan truk, diturunkan di sebuah tanah kosong, beberapa bahkan tak pernah bilang pada Ma Rabiah hingga sang pemilik melihatnya telah berdiri dengan dinding bercat putih dan pekarangan berhias melati cantik. Hingga ketika pemilik rumah memutuskan untuk pindah lagi, ia akan membobol dinding bilik bambunya, menggulungnya, dan menenteng kembali kayu-kayu rangka rumah, kemudian seseorang datang dan menggantikan tempatnya.

“Di sinilah kita tinggal, menunggu Ma Rabiah mengusir dan kita mesti melipat semua ini,” kata Nuraeni tak lama selepas mereka membersihkan rumah dengan sia-sia.

Sepanjang sejarahnya, Ma Rabiah tak pernah mengusir seorang pun, mereka sendirilah yang datang dan pergi. Bahkan nenek tua itu tak pernah pula memungut sewa, atau minta bantuan untuk pajak, kecuali datang menemui mereka untuk bicara  hal-hal lain dan tertawa terkekeh-kekeh dengan perempuan-perempuan dan pulang kembali ke rumahnya. Ia nenek tua baik hati, janda seorang veteran, dan satu-satunya ikatan di antara mereka sebagai pemilik tanah dan para penumpang hanyalah kalengkaleng biskuit yang dikirimkan para pemilik rumah ke ruang tamunya setiap hari Lebaran tak peduli Ma Rabiah tak pernah memintanya, dan belakangan tak pernah pula memakannya sejak kehilangan banyak gigi.

Jauh bertahun-tahun sebelumnya, kala tempat itu masihlah belukar raya kecuali sepanjang pantai yang ditinggali para nelayan, tanah-tanah itu barangkali tak bertuan sama sekali, sebab para perompak pun enggan menjadikannya sarang, hingga datang segerombolan pendatang dari timur yang membuat patokpatok dan membagikannya di antara mereka. Orang-orang inilah, konon dua belas lelaki yang datang menunggang keledai, gagah berani mengusir babi-babi dan ajak menjauh, yang pertama membikin rumah-rumah dan ladang-ladang, tuan atas tanah yang menghampar dengan batas tak terjangkau pandangan, memukau para nelayan dan penghuni sebelumnya yang lebih banyak berkerumun sepanjang sungai-sungai. Mereka membabat belukar, menanam padi, dan dikenang sebagai leluhur kota.

Mereka mendatangkan perempuan-perempuan cantik dari desa-desa sekitar, atau dari kampung-kampung nelayan, mengawininya dan beranak-pinak, mewarisi tanah-tanah tersebut, ladang-ladang dan sawah-sawah dan kebun kelapa. Di antara mereka, satu keluarga melahirkan Ma Rabiah, dan keluarga lain menyisakan Kasia, serta beberapa yang lain pula. Kasia datang dari generasi keempat tukang patok itu, sementara Ma Rabiah konon datang dari generasi ketiga, meskipun begitu, apa yang dimilikinya nyaris tak terhitung dan terpetakan juga, meski ia telah membaginya di antara saudara-saudara sepupu. Ketika Komar bin Syueb datang dan menumpang, patok-patok itu konon masih ada sebagaimana patok-patok pertama dulu ditancapkan.

Si gadis Ma Rabiah kawin dengan seorang prajurit di masa awal republik, dan keduanya hidup cukup makmur tanpa harus memiliki tanah-tanah tersebut, ditopang oleh penyelundupan terbuka yang diurus militer kota sepanjang tahun-tahun revolusi dan setelahnya sebagaimana bisa ditanyakan kebenarannya pada Mayor Sadrah. Demikianlah kemudian tanah-tanah itu jadi terbengkalai di tangan kedua orang yang tak peduli dan barangkali tak ingat pernah memilikinya, mengembalikannya menjadi belukar raya di mana kaso dan alang-alang tumbuh liar, hingga orang-orang berdatangan di masa kota menemukan bentuknya, dan melihat tanah-tanah kosong itu penuh tanda tanya. Mereka mendatangi rumah Ma Rabiah, berharap menyewa atau membeli, namun karena Ma Rabiah tak membutuhkan uang macam apa pun, ia malahan menyuruh mereka untuk menempatinya begitu saja. Hanya beberapa pemilik rumah di sepanjang jalan bersikeras membayar, sebab mereka tak ingin terusik dan terusir, dan tentu saja punya uang untuk itu.

Mereka, Ma Rabiah dan suaminya, beroleh delapan anak lakilaki dan perempuan, yang dikenal orang kota atas naluri usaha mereka yang tanpa ampun. Salah satu dari merekalah yang pertama kali mendatangkan bioskop dengan film yang diputar setiap hari, tiga kali dalam satu hari, tanpa libur. Salah satu dari mereka pulalah yang belakangan membuka toko donat, dan memamerkannya sebagai donat nomor satu di dunia. Yang lain membikin pabrik udang, tepatnya memborong udang dan ikan dari seluruh nelayan sepanjang separuh pantai selatan untuk menjualnya kembali ke negeri-negeri pemakan udang, dan orang-orang menyebut bak penampungan serta lemari es raksasanya sebagai pabrik. Mereka hilir mudik di jalanan dengan mobil gemerlap, pujaan kota, sekaligus malapetaka bagi para penumpang di tanah ibu mereka.

Tak lama selepas kematian ayahnya, anak-anak itu mulai ribut soal tanah warisan, tak peduli tanah-tanah itu milik ibu mereka, dan Ma Rabiah masihlah hidup dengan bugar. Anak sulung mengusir sebuah keluarga yang telah tinggal di sana sepanjang delapan belas tahun, bergeming oleh permintaan penundaan sementara pemilik rumah meminta waktu untuk mencari tempat pindah, sebab ia hendak mendirikan pabrik es di sana, dan si pemilik rumah harus membongkar rumahnya dan pergi entah. Polah si sulung membikin sirik adik-adiknya, dan mereka mengusir beberapa keluarga lain, mendirikan toko dan pabrik dan kolam ikan atau bahkan membiarkannya menjadi sarang demit. Mereka membikin patok-patok baru, membagi-bagikannya di antara mereka sendiri, tanpa bicara dengan ibunya. Meskipun tak pernah terungkap dengan kata-kata, Ma Rabiah bisa melihat wajah-wajah cemas melekat di roman orang-orang itu. Ia sering berjalan-jalan menelusuri kerajaannya tersebut, singgah dari satu pondok ke gubuk lain, berbincang-bincang dengan mereka, dan mulai mencemaskan pula kelakuan kedelapan anak tak tahu diuntung itu. Ia menegur mereka atas segala polah mengusir orang tanpa bincang kepadanya, tapi mereka lebih keras kepala dari setan dan dari yang dibayangkannya, tak hanya tak membalas teguran, malahan menjawab itu dengan berkali pengusiran lain.

Sakit hati pada bocah-bocah itu, ia mulai berpikir mencari cara untuk tak memberi mereka apa pun yang dimilikinya. Kepada beberapa orang, tanpa canda ia berkata, “Carikan aku cara mencabut mereka sebagai ahli warisku.”

Gagasan itu datang dengan sendirinya, suatu masa, tanpa seseorang perlu menyulutnya. Ia bicara dari satu rumah ke rumah lain, duduk bersama laki-laki dan perempuan, mengatakan bahwa ia hendak menjual tanahnya, dan menyuruh mereka membayar tanah-tanah yang ditempatinya. Tentu saja tak ada orang yang tak berharap memiliki itu sendiri, sebagaimana Komar bin Syueb juga berharap, tapi tak banyak di antara mereka memiliki uang semestinya untuk berdiri tak terusir dari sana. Ma Rabiah tampaknya telah berhitung dengan itu, datang dengan rencana gamblang tak bertele-tele.

“Kujual semurah mungkin.”

Bagi Komar bin Syueb sendiri, semurah mungkin itu berarti cukup memangkas rambut orang sebanyak seratus dua puluh kepala untuk memiliki tanah tempat rumahnya berdiri dengan pekarangan kecil di depannya. Itu setelah delapan tahun mereka tinggal, dan Komar punya simpanan yang tadinya ia pikir untuk menebus kembali cincin kawin yang hilang, dan sampai ketika kematiannya datang ia tak pernah mengembalikan cincin kawin itu. Tetangga-tetangga yang lain menarik tabungan-tabungan yang tak seberapa, meminjam uang dari Makojah rentenir kota, atau menjual motor dan kalung, hingga dalam waktu satu tahun dengan deras tanah-tanah menjadi petak-petak yang beralih milik.

Surat-surat perjanjian dibuat, ditandatangani, diberi cap jempol si nenek tua, diberi materai. Kecemasan itu menguap, sebab tak ada lagi alasan mesti melipat rumah ke dalam karung, dengan selembar surat pembelian yang belakangan dipigura orangorang dan dipajang di ruang tamu, serupa piagam penghargaan yang lebih berharga dari benda duniawi macam mana pun, dan menyayangi Ma Rabiah semakin bertambah-tambah, walau tak lebih dengan sekaleng biskuit sebagai pengungkapannya.

Dan harga yang semurah mungkin itu pun, barangkali disebabkan begitu banyak surat-surat jual-beli dibubuhi cap jempolnya, bikin Ma Rabiah kaya betul-betul mendadak. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa ia sungguh kaya betulan, melihat lembar-lembar uang yang bertumpuk di atas tempat tidurnya, sebab ia tak tahu kalaupun harus disembunyikan, tak ada tempat untuk itu. Kecemasan giliran datang kepadanya, takut delapan anak culas itu melihat uang berhamburan, dan mengetahui duduk soalnya, hingga ia menemukan penyelesaiannya, yang bakalan menggemparkan penduduk kota lama setelahnya, dan menjadi kisah yang didongengkan untuk anak-anak serupa sebuah legenda kota yang patut dikenang.

Di hari tuanya yang tersisa tak banyak, Ma Rabiah menghabiskan uangnya membeli sepasang kuda yang dibiarkan berkeliaran di tepi pantai, jadi mainan anak-anak saking jinaknya. Ia juga membeli sebuah bis, konon karena sejak kecil ia begitu senang naik bis, dan disebabkan ia tak bisa mempergunakan bis, kendaraan itu teronggok di belakang rumah jadi kandang ayam. Suatu hari ia pergi ke bioskop milik anaknya, tanpa sepengetahuan pemiliknya, dan memborong semua tiket untuk menonton film seorang diri. Mereka masih ingat film itu, Puteri Giok, sebab setelah itu ia memborong lagi semua tiket untuk membuat bioskop dilihat orang cuma-cuma sepanjang dua hari.

Ia tak berhenti membelanjakan uangnya, pergi ke toko pakaian dan membeli lima gaun pengantin yang tak pernah dipakainya, kecuali satu saja untuk tidur malam itu, dan satu lagi menjelang ia mati. Ia membeli sekarung roti dan membagikannya pada anak-anak, dan menghabiskan yang tersisa untuk membawa pulang sepeda roda tiga, yang dikendarainya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Barulah kedelapan anak ini mengetahuinya, setelah mereka tak berhasil mengusir beberapa rumah sebab pemiliknya menunjukkan surat jual-beli berpigura itu, selepas melihat sepasang kuda berkeliaran, selepas melihat dengan cemas bis yang penuh kotoran ayam, dan terutama setelah manajer bioskop mengadukan kelakuan ibu mereka. Penuh kegeraman, mereka berkumpul dan berkomplot untuk merampas apa pun yang tersisa, membuat surat panjang yang menyatakan bahwa ibu mereka telah mewariskan semua yang tersisa, dan memaksa Ma Rabiah untuk menerakan cap jempolnya. Belajar dari kekeraskepalaan anakanaknya, perempuan tua itu menggeleng, dan tak sudi berbagi.

Sebagaimana kelak akan tetap diingat, Ma Rabiah pagi itu mengenakan gaun pengantinnya yang terakhir kali, selepas menolak bujuk rayu bengal anak-anaknya, dan duduk di sebuah bangku kecil di halaman rumah, ia memakan tanah pekarangan segumpal demi segumpal. Beberapa orang mencoba menghentikannya, namun ia bersikeras lebih baik memamah tanah-tanah tersebut daripada jatuh pada anak-anak celaka yang merampok ibunya kala masih hidup, dan terus meraupi tanah memenuhi mulutnya. Seseorang melaporkan ini pada mereka, juga pada polisi dan tentara di rayon militer. Waktu mereka datang, ia telah terkapar demikian cantik dengan gaun pengantin satin berenda-renda, mati tak ada nyawa, seseorang menyebutnya sebab ia tersedak segumpal kerikil. Bagaimanapun anak-anak ini memperoleh apa yang mereka inginkan, tapi kekeraskepalaan Ma Rabiah untuk mempertahankannya sampai mati akan jadi legenda kota tak ada henti.

Lepas dari itu semua, kini Komar bin Syueb memiliki sendiri rumah itu dan tanahnya. Tak henti-hentinya ia dibuat heran oleh kesempatan baik yang menimpanya, sebab ia tak yakin bisa memilikinya sebelum itu, kecuali ia mesti memangkas rambut ratusan kepala orang dan tak mencicipi sedikit pun uangnya. Kini ia tak lagi mencukur di teras rumah, sebaliknya ia melakukannya di pasar, mangkal dengan sepedanya di bawah pohon ketapang, berjejer dengan pedagang mie ayam, dan jika malam ditempati penjual bajigur.

Meskipun begitu, kekecewaan asali yang dibawa sejak kedatangan mereka dan menyaksikan rumah 131 tak lebih manis dari kandang dedemit tak juga mau hilang dari Margio dan Nuraeni, dan kini setelah menjadi gadis kecil Mameh juga tak menunjukkan rasa senang apa pun. Tak satu pun di antara mereka tampak merayakan kepemilikan atas tanah itu, sebab kenyataannya tak banyak yang berubah sejak delapan tahun mereka tinggal di sana, kecuali Margio dan Mameh yang semakin tinggi dan besar, dan Nuraeni yang menyusut semakin kusut. Seseorang yang mengenalnya dari masa gadis, akan mengerti dengan terang perempuan ini telah merosot begitu rupa. Lihatlah kartu tanda penduduknya yang telah kadaluarsa, yang dibuat di awal perkawinannya, memperlihatkan perempuan cantik dengan rambut ikal dan pipi montok, cemerlang dengan mata bulat yang berbinar. Bandingkanlah itu saat ini dengan wajah sesungguhnya, meski ia tak kehilangan jejak cantik asal-usulnya, dengan mata yang jadi kelabu dan redup, pipinya menyusut cenderung cekung, kulit putihnya tak lagi cemerlang namun mendekati pasi. Roman ini menunjukkan dengan sepenuhnya rasa kecewa yang dideritanya, tanpa ia mesti berbuih berkata, dan Komar bin Syueb tahu itu. Ketika ia mengatakan bahwa tanah itu dibelinya dari Ma Rabiah, Nuraeni tak menganggapnya lebih berarti daripada sore ketika ia berkata telah membeli tiga kilo beras dari pasar.

“Paling tidak kau bisa menanaminya dengan bunga dan tak seorang pun bakalan datang untuk membabatnya,” kata Komar berupaya memancing gairahnya.

Gairah itu tak juga datang. Nuraeni hanya pergi ke dapur, begitulah kelakuannya belakangan itu jika hendak melarikan diri dan tak hendak bersuara untuk lakinya. Ia duduk di bangku kecil menghadapi kompor. Komar telah mengenal baik polah ini, mengikutinya dengan gemas, dan melihatnya tengah bicara sendiri, tampaknya dengan kompor dan panci. Pada  awalnya  itu seperti gerutuan kecil saja, tanpa maksud menujukkannya pada siapa pun, namun semakin hari sangatlah jelas Nuraeni selalu bicara dengan kompor dan panci, dan tampaknya mereka berbincang-bincang dan hanya mereka yang memahami.

Itulah waktu ketika ia berpikir bininya barangkali telah sinting. Tidak, barangkali itu hanya pura-pura sinting, sebab sering pula ia waras dan bisa diajak bicara. Masih sempat mengomelkan hal ini dan hal itu, dan menyuruh anak-anak melakukan sesuatu, memarahi Mameh yang abai menyapu rumah, memanggil Margio untuk mengusir tokek, namun sering juga ketika ia tak sewaras itu dan hanya mengenali dirinya sendiri. Komar bin Syueb menyadarinya sebagai kesintingan, dan ketidakwarasannya tampak mulai bertambah-tambah, sebagaimana kemudian Mameh dan Margio juga tahu.

Ia mengawininya saat Nuraeni enam belas tahun, dirinya sendiri mendekati tiga puluh. Sebagaimana banyak gadis di kampung mereka, nasib perkawinan Nuraeni telah ditentukan sejak empat tahun sebelumnya, saat dadanya sendiri belum tumbuh dan belukar kemaluannya belum menyemak, kala Syueb datang dengan sebaskom beras dan mie dan selendang biru tua melamarnya untuk Komar. Tentu saja ayah si gadis telah membicarakan hal itu jauh-jauh hari sebelumnya lagi dengan Syueb, memastikan Nuraeni tak jatuh ke pemuda lain dan Komar tak mencari gadis lain. Mereka bersepakat bahwa kelak, barangkali empat tahun lagi kala Nuraeni telah cukup subur buat punya anak, keduanya akan dikawinkan di surau terdekat. Lamaran itu hanya melibatkan Syueb dan ayah si gadis, didampingi istri mereka semata, serta satu-dua kerabat, sementara Komar pergi entah sebagaimana banyak pemuda lain, dan Nuraeni barangkali tengah mencuci pakaian di pancuran atau mencari kerang di sungai dengan kawan sebaya.

Si gadis tak diberi tahu sampai sore tiba ketika ayahnya berkata, “Nyai, kelak kau kawin dengan Komar bin Syueb.”

Ia tak mengenal lelaki itu bagaimanapun, kecuali ingatan sekilas sebagai penghuni kampung yang sama. Dan itu tak bikin ia terlampau terkejut, sebab nama mana pun barangkali sama asingnya untuk didengar. Lagi pula ia telah menanti petang semacam itu, saat ayahnya akan berkata dengan siapa kelak ia akan kawin, sebab itulah yang selalu ditunggu para gadis di sana. Berita itu, sebaliknya, cukup membuat riang si gadis dua belas tahun, meski ada sedikit waswas serupa apa perangai calon lakinya. Paling tidak, kini dan seterusnya sampai ia kawin, Nuraeni boleh berkata pada kawan karib bahwa ia ada punya pacar. Tak ada yang lebih memalukan bagi gadis di atas dua belas tahun tanpa dikenal siapa pacarnya yang kelak akan jadi lakinya.

Sore itu segera mengubah banyak hal, sebab Nuraeni kecil menjadi Nuraeni si gadis. Ibunya membelikan lipstik merah ati dan pupur serta pensil alis, dan ia tak lagi membiarkan dadanya yang mulai sedikit monyong dibiarkan terbuka di tengah udara sejuk desa berbukit. Kabar itu beriak deras, menyerbu telinga kerabat dan sahabat, bahwa gadis itu setengah terikat nasib dengan Komar bin Syueb, dan mereka ikut riang bersama dirinya.

Ia tak lagi mengikuti ayahnya ke sawah di pagi hari, ikut menunggangi bajak agar melesak ke dalam lumpur sementara dua ekor kerbau mengisut berjalan sepanjang petak-petak, membuatnya mandi tanah. Tak juga mengeluarkan sepasang domba mereka dan menggiringnya ke padang rumput di punggung bukit menggembala bersama bocah-bocah lain, dan waktu pulang menenteng dua pelepah kelapa kering sebagai kayu bakar. Tidak, itu semua telah diwariskan pada adik-adiknya yang lelaki, dan ia mulai ikut ibunya dalam segala hal. Pagi-pagi ia telah menyalakan tungku, menanak nasi dan belajar banyak tentang sayur lodeh. Tentu saja ia masih ke sawah, tidak untuk membajak, namun untuk menabur benih padi yang telah direndam semalaman, dan ketika jarumjarum hijau muda telah mencuat, perempuan-perempuan dan ia ada bersama mereka, mencerabutinya untuk menanamnya di petak-petak sawah yang telah diberi garis-garis penanda silangmenyilang oleh ayah dan adik lelakinya. Sementara menunggu padi tumbuh tua, ayah dan adik pergi untuk memberi mereka pupuk, mengawasi air agar tidak mampet atau menggenang, dan ia bersama ibunya menenteng rantang makan siang ke gubuk di tepi tegalan. Bersama ibunya ia akan turun ke sawah lagi kala ganggang dan rerumputan mesti dihalau, dan akan tiba saatnya ia datang kembali untuk memangkasi padi  tua  dengan  aniani, sebelum datang masa ketika mereka cukup membabatnya dengan arit. Selebihnya Nuraeni mesti merawat tubuhnya jadi gadis cantik, dan belajar menjaga kata-katanya menjadi patut. Sebab ia telah punya pacar dan bersiap ke pelaminan.

Komar sendiri, mengikuti suatu kebiasaan yang lazim, telah pergi dari desa tak lama selepas umur dua puluh tahun, sebab tak banyak yang bisa diperbuat di rumah bagi anak-anak sebaya itu. Syueb memiliki beberapa petak sawah dan ladang, tapi ia masih bisa mengurusnya seorang diri bersama istri tanpa banyak perlu bantuan, dan waktu begitu luang baginya untuk menjadi tukang cukur satu-satunya di desa. Selepas pelajaran singkat bagaimana mencukur rambut kepala orang, bagaimana menggunakan pisau untuk mengiris kumis dan jambang, dan mencobanya beberapa kali menggantikan ayahnya, Komar pergi merantau mengikuti seorang karib berbekal pengetahuannya tentang mencukur itu. Tentu saja awalnya ia tak hendak menjadi tukang cukur, dan hendak melakukannya kala terjepit belaka, sebaliknya ia berharap memperoleh kerja di pabrik, sebagaimana begitulah yang lain.

Ia hanya akan pulang setahun sekali, menjelang Lebaran, berombongan dengan banyak pemuda dan keluarga-keluarga perantau, yang pada hari-hari itu akan tampak berbaris sepanjang jalan berbukit dengan kardus-kardus dan tas ditenteng dan dipanggul. Rambutnya kelimis oleh pomade, mengenakan kemeja dengan lengan bergulung hingga siku, celana korduroy masih bau toko, dan jam tangan bergelung di pergelangan, sepatu pantovel hitam berkilau yang dijaga tak tersentuh jebakan lumpur di mana-mana.

Di dalam tas besarnya ada tembakau untuk Syueb, kain untuk ibunya, gaun cantik untuk kedua adik perempuannya, dan tentu saja ia telah mengetahui lamaran atas Nuraeni tersebut, dan membawa oleh-oleh untuk bakal bininya. Sebagaimana si gadis sendiri, Komar tak terlampau mengenal Nuraeni, tapi tahu ia seorang gadis cantik dan tak ada sesal untuk memperolehnya. Ia bahkan ingat kala gadis itu dilahirkan, sebab ia tengah bermain di samping rumahnya, melihat orang-orang berkerumun menantikan si bayi lahir. Ia juga berkali melihatnya kala Nuraeni mulai tumbuh jadi anak sekolah, dan sekolah itu tak jauh dari rumahnya. Tapi pengetahuannya tak lebih dari sekadar bahwa Nuraeni memiliki rambut ikal yang gelap dibiarkan panjang, sering diikat karet berpita, hidungnya  bangir  dengan  pipi  yang gembur, matanya bulat berkilau, dan ketika seseorang memberitahu ayahnya telah memilih gadis itu untuknya, tak  ada ampun Komar memimpikannya bermalam-malam, hingga ia memutuskan untuk pulang lebih dini dari biasanya.

Mereka bertemu di malam Lebaran, Komar membawa biskuit kaleng dan dompet merah muda yang manis, serta selembar foto dirinya yang diberikan pada gadis itu secara malu-malu. Di sana lelaki itu bergaya, tampaknya difoto seluruh badan di depan Volkswagen Combi warna kuning menyala, jelas bukan milik dirinya sebab Komar tampak canggung dengan tangan menyiku setengah masuk ke saku celana, dan mobil tersebut gamblang teronggok di sebuah tempat parkir umum. Tapi roman mukanya riang dan jumawa, serasa tak ada pose yang lebih baik dari itu. Di hari Lebaran mereka berkencan seharian, keluar masuk pintu tetangga dan kerabat untuk bersalam-salaman, barangkali sekaligus memamerkan inilah calon laki dan bini, sebagaimana dilakukan banyak pasangan lain yang barangkali baru berjumpa hari itu. Komar dan Nuraeni berjalan beriringan sepanjang jalan, berkali-kali mesti berhenti kala jumpa orang lewat, wajah keduanya semu merah antara senang dan jengah. Nuraeni menggenggam erat dompet merah mudanya, Komar kikuk tak tahu mesti meletakkan tangan di mana, kadang menyelipkannya ke saku korduroy, lain waktu menyilangkannya di dada, kala lain menggantung di belakang punggung, sebab tentu saja belum tiba waktunya bagi mereka untuk bergandengan tangan, sebab bersentuhan sedikit saja serasa membikin tubuh keduanya menggigil dan muka bertambah-tambah merah.

Komar membawanya untuk mencobai mie bakso Wa Dullah, yang dikenal enak walau sedikit mahal, terletak di tepi sungai pada deretan warung tempat orang menunggu rakit datang. Di sanalah orang-orang berdesakan, sebab tak banyak tempat jajan lainnya untuk dikunjungi, dan ketika pesanan datang, mereka mesti cari batu besar untuk duduk dan memakannya sambil menggenggam mangkuk di sebelah tangan, dan tangan lain mengayun sendok. Sekali waktu itu bikin bakso Komar melompat, dan mereka tertawa kecil, demikian hangat dan penuh cinta, sebab begitulah selalu awalnya. Makan sore mereka adalah ikan bakar, bersama beberapa teman memancing di kolam Wa Haji, yang selalu mengundang banyak orang untuk membawa nasi timbel ke lereng bukit miliknya, pada sebuah rumah pondok di bawah pohon kedondong. Hari berlalu tapi kencan mereka tak juga berakhir.

Barangkali karena waktu tak terlampau melimpah bagi mereka. Malam itu Komar membawa Nuraeni, juga dalam rombongan banyak kawan, untuk melihat sandiwara di tobong. Malam selepas Lebaran selalu jejal di sana, sebab sebagaimana tak banyak tempat jajan, tak banyak pula tempat menghibur diri, kecuali mau pergi jauh ke kota. Mereka masih mengingat baik judulnya, meski tidak siapa yang main, berkisah tentang anak durhaka serupa Malin Kundang, itulah Titian Rambut Dibelah Tujuh, dengan gambar besar di pintu masuk penjual tiket penuh wajah dibakar api neraka. Mereka tak melupakannya, sebab itulah kali pertama Komar menyentuh tangannya, dan di dalam gelap sementara mereka duduk bersampingan pada kursi-kursi papan, keduanya saling menggenggam. Tidak saling meremas, hanya menggenggam dan itu pun cukup bikin mereka panas serupa api disulut di dalam perut. Malam itu keduanya pulang dan sama mimpi dipatuk ular.

Tak berapa lama selepas Lebaran, Komar mesti pergi lagi bersama rombongan kawan sebayanya, dan Nuraeni mengantarnya di teras balai desa dengan mata berkaca-kaca. Ia pikir saat itu dirinya sungguh jatuh cinta, dan berharap perkawinan itu akan datang tak terlampau lama, tapi Komar meyakinkan dirinya ia harus pergi, dan pasti akan balik lagi, Lebaran datang. Tas-tas berjejalan di lantai balai, berisi pakaian dan barangkali nenas serta pisang mentah, atau panganan yang dibuat ibu-ibu mereka untuk bekal di jalan. Sebelum Komar sungguh melangkah menuju balik bukit dan di sana rakit telah menunggu, Nuraeni berpesan pendek, hal sederhana yang bakal dikatakan seluruh gadis, “Kirimi aku surat.”

Surat-surat itu biasanya datang setiap Senin pukul sepuluh. Seorang tukang pos akan datang menenteng tasnya berjalan kaki, dengan sepatu pasti berlepot tanah liat merah genting warnanya, memberikan surat-surat ke balai desa, dan selama setengah jam ia mesti beristirahat di sana, disuguhi teh manis hangat dan keripik kentang, sebelum mesti berjalan lagi menelusuri rute pulang, untuk datang Senin depan. Para gadis akan menunggu di depan balai, menunggu surat-surat dari pacar mereka, beberapa akan memperolehnya, yang lain akan bersungut-sungut kecewa sambil menghibur diri barangkali seminggu lagi. Tentu saja ada suratsurat bukan untuk mereka, tapi percayalah, itu tak banyak.

Senin satu minggu selepas kepergian Komar, Nuraeni telah bersiap sejak subuh mengharapkan suratnya datang. Ia membereskan rumah dan mengepel lantai agar waktunya luang saat mesti pergi dan menanti di balai desa. Kala itu sebagian besar rumah berupa panggung, dengan lantai lampit yang mesti dipel setiap pagi berjaga tidak kusam dan berdebu. Saat ayahnya kembali dari surau, lantai itu telah berkilat kena bayangan lampu minyak yang belum padam sebab hari masih remang. Nuraeni bergegas ke dapur, menyalakan tungku dengan serabut kelapa, membuat bara dan meniupnya menjadi api pakai corong bambu, dan ketika api menari ia menyorongkan bilah-bilah kayu bakar dari para-para. Di atas tungku ia menjerang air, dan sementara menunggunya mendidih, ia mencuci beras dan menyerahkan urusan selanjutnya pada si ibu, sebab dirinya mesti bergegas ke pancuran untuk mencuci pakaian dan piring kotor.

Si gadis melakukannya lebih gesit dan cekat hari itu, menenteng ember pakaian kotor dan mengapit baskom penuh piring dan gelas kotor di sisi lain tubuhnya. Mereka  punya kolam ikan di mana di sana ada pancuran, tempat mereka mandi dan mencuci, airnya menggelosor melalui pipa-pipa bambu yang disambung-sambung bahkan hingga berkilo-kilo menuju mata air jauh di bukit. Pancurannya dikelilingi dinding setinggi dada dari anyaman bambu, beratap daun aren, dan merupakan kamar mandi keluarga. Sementara ia mencuci, ayahnya memberi makan ikan-ikan dengan daun talas yang dipotong dari tegalan kolam.

Hari telah pagi ketika Nuraeni selesai mencuci dan menumpahkan kotoran dapur ke kolam, membiarkan mulut-mulut ikan berebut remah nasi dan sayur basi, dan cahaya matahari jatuh memercik ke tanah menerobos celah daun kelapa dan rindangan pepohonan lain. Orang-orang mulai lewat menenteng cangkul, berkaus compang-camping dengan kolor usang, siap bergumul dengan bumi, yang lain menenteng golok untuk menengok ladang dan mencari kayu. Kabut telah mengapung merayap sampai puncak bukit, sementara dua orang gadis berbincang dari satu pancuran dan pancuran lain dengan suara kencang mengalahkan burung pipit dan pelatuk di pelepah kelapa. Anakanak sekolah berderet sepanjang tegalan, melemparkan kerikil ke tengah kolam, dengan tas terayun-ayun di punggung dan topi membenamkan kepala-kepala kecil mereka.

Nuraeni menanggalkan pakaiannya, menyampirkannya di dinding bambu, menutupi pintu pancuran dengan handuk yang terentang, sebab tak ingin seseorang melihatnya telanjang, meski anyaman bambu tetap membuat tubuhnya membayang. Ia duduk mendekap lutut di bawah air yang tumpah dari lubang bambu, deras dan jernih, memukul ujung kepalanya hingga rambutnya terurai menyelimuti dirinya, dan air mengalir mengikuti permukaan kulitnya yang langsat dan ranum. Setelah banjir peluh dan di bawah udara yang menjadi hangat, mandi membuat jiwanya melambung, menggosok tubuhnya dengan sabun tanpa beranjak dari bawah kucuran air, memeriksa celah-celah di antara jemari kakinya, melunturkan daki, membilas rambut dengan lidah buaya, dan tetap tak beranjak kala ia menggosok gigi, kecuali bergerak kecil menggeliat kala ia mesti menjangkau sudut-sudut tubuhnya. Suara para gadis di pancuran lain telah lenyap pertanda mereka telah beranjak dan barangkali beberapa telah menyesaki beranda balai desa, menunggu tukang pos yang kepayahan datang. Nuraeni keluar dari kurungan air, menghanduki dirinya dan melilitkan handuk di tubuhnya, menutupi dada yang belum tumbuh benar dan sepotong pahanya, kembali menenteng ember berisi cucian yang hendak dijemur dan tangan lain mengapit piring dan gelas yang telah berkilau oleh bersih. Rambutnya digelung dan ia bergerak dengan langkah kaki kucingnya, menelusuri tegalan antara kolam dan kolam, demikian indah ditentang pijar matahari dari timur, hampir tak menyadari kecantikan dirinya sendiri.

Menjelang pukul sepuluh ia telah ada di balai, dengan rambut yang menjelang kering selepas dikipasi agak lama, dan kini dikelabang dua dengan ujungnya terikat pita kuning pudar. Benarlah dugaannya, gadis-gadis lain telah berjejalan di bangku panjang di bawah papan pengumuman yang berisi jadwal puasa lalu serta beberapa pengumuman yang mudah diabaikan. Beberapa gadis tak beroleh tempat duduk, bergerombol di bawah gerumbul nusa indah di tepi pagar bambu, dan Nuraeni bergabung bersama mereka, berceloteh tentang lelucon-lelucon Lebaran.

Bagaimanapun pikirannya masih membayang surat tersebut, sebab inilah kali pertama ia menunggu surat dari seorang pacar, meski ia tahu kebiasaan para gadis ini sebelumnya. Ada gelegak di jantungnya, bertanya-tanya tentang kejutan apa bakalan ia dapat di surat pertama, dan bahkan melihat tulisan jelek Komar sekalipun barangkali cukup untuk bikin Nuraeni berdesir-desir tak karuan, apalagi jika ia menaburinya dengan bedak wangi, sebagaimana sering dilakukan pacar Nyai Sri teman karibnya. Kejutan itu adalah bahwa ia tak memperoleh surat yang diangankannya. Si tukang pos kepayahan itu datang dengan setumpuk surat diikat karet gelang, dan tak satu pun di antaranya ditujukan untuk si gadis Nuraeni. Mereka menggelar suratsurat tersebut di atas meja sementara si tukang pos mengipasngipasi dirinya dengan koran bekas, dan beberapa gadis menjerit mendapati amplop putih bercorak garis biru-merah di tepinya bertuliskan nama mereka, sementara yang lain mendengus tak beroleh apa pun. Nuraeni ada di antara gerombolan mereka, meski masih mengacak-acak surat tersisa, sebagian besar untuk kantor kepala desa dan sedikit untuk beberapa keluarga dari anakanak mereka. Ia berdiri memandangi amplop-amplop berserakan, hampir menangis lantaran sedih tak kepalang, sebelum mencoba menghibur diri sebab yang dihantam kecewa bukanlah dirinya seorang. Ia pulang, bagaimanapun, dengan mata memerah dan bibir mengatup tajam, berharap barangkali Senin depan, tapi tak ayal itulah sakit hati pertama yang dialaminya, yang diperolehnya dari Komar.

Sakit hatinya semakin bertambah-tambah kala minggu depannya tak juga ada surat datang, juga minggu berikutnya, sebagaimana minggu-minggu yang datang setelahnya. Gadis-gadis lain barangkali tak memperoleh surat di satu Senin, tapi mereka memperolehnya di Senin lain, paling tidak sekali dalam sebulan. Beberapa beroleh kiriman-kiriman cantik, dan satu atau dua diberi uang guna cincin beberapa gram, ada pula yang menemukan mesin jahit atas nama mereka, sebagaimana suatu kali ada yang beroleh gaun pengantin, tapi Nuraeni tak menemukan apa pun tertulis untuknya.

Ia tak pernah datang lagi ke balai desa selepas beberapa minggu yang mendongkolkan, dan foto Komar di depan Combi yang tadinya dipigura dan dipajang di samping tempat tidurnya, kini dilemparkan ke kotak rongsokan di bawah tempat tidurnya,  meski sesungguhnya ia ingin mencabik-cabik itu sebelum menghempaskannya ke dalam tungku mendidih. Tak lagi ia mengharapkan apa pun, tak hendak membincangkannya, apalagi menyeretnyeretnya ke dalam mimpi, dan jika pun itu menyelinap ke dalam tidurnya, hal ini bakalan jadi mimpi buruk penuh sebal.

Semakin bertambah hari, jika sesuatu mengingatkan dirinya pada lelaki itu, malahan ia mulai bercuriga Komar tak sungguh mencintainya dan tak ada maksud mengawini dirinya. Pikirkanlah, katanya pada diri sendiri, di hari Lebaran lalu ia tak dibawanya ke studio foto di dekat pesantren itu, seolah memang tak menginginkan dirinya dalam bentuk apa pun, tak hendak menyelipkan gambarnya di dompet, dan merasa cukup meninggalkan foto dirinya yang sesungguhnya tak begitu gamblang mempertontonkan tampang, sebab diambil terlalu jauh barangkali dengan foto sekali jadi. Ia pantas bersirik sebab gadis lain digiring pacar-pacar mereka ke studio Tan’s Brother, satu-satunya keluarga Cina yang mereka kenal, dengan gaun-gaun manis dan pupur dan lipstik dan di depan lampu menyorot, sebagaimana gadis-gadis itu kemudian bercerita kepadanya, mereka dipotret di depan gambar kolam penuh angsa.

Gagasan tentang perkawinan itu semakin menguap bersama berlalunya waktu, dan ia kembali menjadi gadis kecil, meski tetap berjaga tak turun ke sawah membajak dan menggembala domba, tapi tak lagi bersikukuh untuk mendandani dirinya dan berharap waktu akan tiba ketika keajaiban datang bahwa ia tak perlu mengawini lelaki itu, dan barangkali kemudian lelaki lain datang melamarnya, lelaki yang mau mengiriminya surat-surat, membawanya untuk difoto, dan siapa tahu memberinya pula cincin cantik dan mesin jahit agar ia bisa belajar bikin gaun pengantin sendiri.

Hidupnya serasa tak punya pacar, dan ia dengan cara menyakitkan harus menutupi keadaan dirinya sendiri. Barangkali seorang teman mengetahuinya belaka, tapi ia meyakinkan dirinya mereka terlalu sibuk mengurusi diri untuk tahu seorang karib tak pernah beroleh surat cinta. Jika seseorang bertanya kabar Komar, bahkan Syueb sendiri sering datang padanya untuk tahu apa dan bagaimana anak lelaki tak kenal adat itu, Nuraeni akan bilang bahwa Komar baik adanya, tak akan pulang sebelum Lebaran datang. Serasa baginya ia dukun serba tahu yang mampu meneropong kekasihnya melalui cermin kecil, dan seandainya memang begitu, ingin sekali ia melemparinya dengan batu dan menimpuknya dengan penumbuk padi, sebab tak ada lagi yang bisa menandingi rasa sebalnya atas lelaki itu.

Lebaran kemudian datang lagi, tapi Nuraeni tak menantinya dengan bunga-bunga di jiwa, selebihnya tak lain adalah api beku yang mengeluarkan segenap kejudesannya. Ia berjanji untuk tak bertanya perihal surat dan tak hendak mendengar penjelasan macam mana pun. Ia bahkan tak berpikir untuk menyambutnya, dan jika ia datang, tak lebih menganggapnya sebagai tamu jauh yang barangkali hendak menyambang meminta segelas minum. Tak ada anjangsana dan tak ada kerinduan. Komar mesti bersusah-payah mengembalikan kehangatannya, sebagai bayaran atas polah yang telah ditimpakan kepadanya.

Demikianlah Komar akhirnya datang pula, masih dengan rambut berminyak pomade dan jam tangan yang lalu, korduroynya lenyap berganti jeans biru berikat pinggang kulit imitasi, dan ia tak mengenakan kemeja tapi kaus oblong lengan panjang. Tahun ini ia memelihara kumis dan jenggot, dan membiarkannya tumbuh lebat meriap-riap. Tak ada penjelasan apa pun perihal surat dari mulutnya, sebagaimana tak ada oleh-oleh berupa dompet cantik untuk Nuraeni kecuali sekaleng biskuit. Jika tahun lalu  ia demikian santun dengan sikap duduk malu-malu dan rona merah menggelayut di pipinya, kini ia demikian norak duduk  di tentang si gadis dengan kaki menimpa kaki yang lain dan tangannya sigap mengeluarkan rokok kretek sebelum merepet oleh api yang disulut membuat Nuraeni bergegas mencari asbak dan meletakkan itu di depannya.

Nuraeni tak ajukan tanya, hanya diam di kursinya bermain dengan kuku jari sendiri selepas menyuguhkan limun dingin di samping asbak. Tak ada kabar bertukar dan tak ada rayu-merayu. Komar malahan membuka sendiri kaleng biskuit pemberiannya dan tanpa malu mencicipinya, sambil berceloteh sendiri tentang ikan Wa Haji tahun lalu.

Malamnya, Nuraeni tak keberatan untuk diajak pergi ke tobong, walau merasa enggan tapi segan pada ayah dan bakal mertuanya jika mereka tahu ia berlaku dingin pada bakal lakinya. Kali ini mereka melihat Nyai Dasima, ingat judul dan lupa siapa yang main, sebab rombongan sandiwara selalu datang dan pergi dan bukan kebiasaan berlarut-larut untuk datang ke tobong kecuali di musim-musim tertentu. Bagi Nuraeni sendiri ini kunjungan ketiga, sebelumnya ia pernah melihat sandiwara lain bersama rombongan teman-teman gadisnya di malam Hari Kemerdekaan yang penuh karnaval. Tak ada hal ajaib sepanjang pertunjukan kecuali Komar berusaha meremas tangannya, tapi ada yang memualkan di perjalanan pulang.

Mereka melambat membiarkan rekan pergi di depan, dan di suatu setapak hening Komar tanpa malu minta cium pada Nuraeni. Terhenyak oleh permintaan tak diduga-duga, Nuraeni mengkeret dan menggeleng bergidik, tapi Komar menggenggam tangannya kencang dan memaksa. Tidak, kata Nuraeni. Komar bersikeras, hanya sedikit, pintanya, satu sentuhan pendek. Tampaknya tak ada pilihan lain, sebab menjerit pun malahan bakal bikin malu mereka bersama, dan pikirnya Komar tak akan berlaku lebih edan, sebab jauh di belakang masih ada pejalan lain yang hendak datang. Tanpa menerima dan tak ada penolakan, ia membiarkan mulut itu menyosor ke mulutnya, sementara dirinya terdesak ke batang pohon waru. Bibir Komar mendesak ke bibirnya, ternyata tidak pendek, tapi melumat basah, menggigitinya kecil, meruakkan bau tembakau, dan selepasnya Nuraeni sungguh mual tak ada ampun.

Bagaimanapun itu tak mengembalikan kemesraan mereka dan Nuraeni terus menjalani sikap bekunya sepanjang hari selepas itu, hingga datang waktu Komar mesti kembali pergi. Penuh basa-basi ia mengantarnya ke balai desa, dan di sana, sakit hati terkenang kembali pada surat-surat yang tak pernah datang, Nuraeni tak mengajukan permintaan manja apa pun. Malahan Komar yang berkata.

“Tidakkah kau tanya apa kerjaku?”

Pikir Nuraeni, kenapa ia harus peduli apa yang dikerjakannya sementara dirinya tidak peduli seorang gadis menunggu kabar setiap minggu sampai merasa berlumut dan berkarat. Ia hanya memandangnya dengan tatapan tajam nyaris kejam, merengutkan bibir yang pernah dilumatnya, kemudian mengawali sikap sinisnya yang berlarut-larut, barulah ia membuka mulut, “Jadi apa kerjamu?”

“Tukang cukur,” jawab Komar.

Jadi ia pergi jauh hanya jadi tukang cukur, pikir Nuraeni.   Ia tak peduli dengan itu, bahkan seandainya Komar ternyata perampok, tukang pukul, preman, dan maling, semuanya tak berarti apa lagi setelah satu tahun yang membinasakan rasa cinta meluap itu. Ketika Komar mulai melangkah menenteng tas mengikuti rombongan para perantau, Nuraeni bahkan tidak melambaikan tangan, hanya anggukan kecil sebagai kata-kata hilang ya aku tahu kau pergi, dan tentu saja tak ada mata berkilau merah, apalagi derai air mata. Begitu Komar lenyap di kaki bukit, ia segera bergegas ke pancuran untuk mencuci dan mandi. Benar, ia mengantarkan calon lakinya tanpa berpikir mesti mandi dan mematut diri. Hari itu ia tak sudi melakukannya.

Pada umur enam belas tahun, kenyataannya ia membiarkan dirinya diseret ke penghulu dan kawin dengan lelaki itu. Mas kawinnya berupa cincin enam gram dengan inisial nama mereka terpahat di sana, dan Komar selalu membanggakan itu dipesan pada seorang tukang patri ahli di kota. Nuraeni mengenakan kebaya putih dengan rambut disanggul, tampak cantik dengan kejudesan yang bertambah-tambah. Komar mengenakan setelan jas hitam dengan peci pinjaman, dan penghulunya Wa Haji. Ayah Nuraeni merelakan domba betinanya untuk dipotong, sebab si betina ini telah beranak lima dan besar-besar pula,  serta mengeruk beras di dalam peti simpanan mereka. Tak ada tanggapan, tapi mereka memasak banyak untuk membingkisi para tetamu yang datang.

Permusuhan itu mulai datang sejak malam pertama, kala Nuraeni telah teronggok di tempat tidur kelelahan, dan masih mengenakan kebaya pengantinnya, dengan pinggul dan kaki dibelit kencang kain batik. Komar yang keburu nafsu mengajaknya telanjang dan bercinta, tapi Nuraeni hanya menggeram tanpa mengubah ringkukan. Tanpa banyak tanya Komar melucuti pakaiannya sendiri, meninggalkan celana dalamnya yang menggelembung oleh batang kemaluan yang mengacung kencang, lalu mendorong tubuh istrinya agar bangun. Nuraeni hanya berguling dan menggeram dan meraba guling. Sedikit jengkel, Komar mulai menarik kain pembelit kakinya, mengulurnya hingga Nuraeni berguling-guling tak karuan, dan kala itu telah tanggal, tampaklah kaki langsat hanya mengenakan celana dalam hijau muda berbunga-bunga. Tanpa memedulikan baju kebayanya, Komar segera menerjang dan jatuh di atasnya, menarik turun celana dalam Nuraeni, lalu celana dalamnya sendiri, kemudian menusuknya. Mereka bercinta tanpa kata-kata, hingga pegal dan jatuh tertidur. Selepas hilang keperawanan, Nuraeni tarik kembali kainnya, menyelimuti diri sendiri, berbalik memunggungi lakinya, mengangkang sedikit sakit di selangkangan.

Seminggu selepas perkawinan, Komar bin Syueb pergi turun bukit menuju kota mencari tempat untuk mereka, dan sebulan kemudian membawa Nuraeni ke gudang kelapa di Pasar Senin tersebut. Di sana ia telah menyediakan kasur bagi mereka, juga kompor dan perkakas, selain meja dan kursi dan kotak peralatan cukurnya sendiri. Mereka bahkan memiliki sepeda unta tua, yang dibeli Komar di pasar dadakan depan teras mereka. Keadaannya merosot deras dibandingkan kala hidup bersama keluarganya di kampung, tapi Nuraeni menjalaninya tanpa banyak tanya.

Masa-masa bercinta selalu merupakan saat yang sulit bagi mereka, sebab Nuraeni selalu menampilkan keengganan tertentu, dan Komar hampir selalu memaksanya jika nafsu telah naik ke tenggorokan, dan kerap kali itu hampir serupa pemerkosaan bengis di mana Nuraeni akan ditarik dan dilemparkan ke atas kasur, dan disetubuhi bahkan tanpa ditanggalkan pakaiannya, lain waktu disuruhnya mengangkang di atas meja, kali lain disuruhnya nungging di kamar mandi. Adakalanya untuk menanggulangi keengganan Nuraeni yang makin menjadi-jadi, Komar mesti memukulnya, menampar pipinya bukanlah hal yang jarang, malahan sering pula menempeleng betis indahnya dengan kaki ganasnya, membuatnya roboh dan tak berdaya, dan saat tak ada tenaga itulah Komar bisa merampok selangkangannya.

Bagi Nuraeni sendiri, saat-saat bengis itu serasa kematian yang datang sepenggal-sepenggal, dan ia tak tahu bagaimana mengelaknya. Tak terpikirkan olehnya untuk pergi dan kembali ke ayahnya, sebab tampaknya hanya akan menambah-nambah murka orang kepadanya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan tak lebih dari membungkam diri, sebab sekali waktu kadang Komar cukup manis juga dan memperlakukannya patut. Betapapun, hari hari menderitakan tersebut tak pernah mengizinkannya untuk menjadi cengeng, kelak ini diwariskan kepada anak-anaknya.

Demikianlah Margio lahir melalui persetubuhan macam begitu, dan anak ini tampaknya penghibur bagi Nuraeni yang melimpah-limpah, selain juga mengurangi kebrutalan lakinya. Si bocah kecil menjadi mainan bagi mereka berdua, dan seringkali membuat mereka lupa harus bergumul di tempat tidur, dan Nuraeni mencintai Margio bertambah-tambah. Namun bersama berlalunya waktu, kala si bocah kecil mulai tumbuh, merangkak dan berjalan, berahi Komar memuncak-muncak lagi kerap bikin ia sendiri menggigil, dan selalu mengincar Nuraeni lengah untuk pelampiasannya. Nuraeni, menyadari hasrat itu telah kembali pada lakinya, bertahan lagi dari seluruh keganasannya. Sebisabisa tak membikin dirinya telanjang di depan Komar, tapi itu tak menghalangi lakinya merebut tubuhnya. Selalu ada saat ia bisa menyingkap roknya, memelorotkan celana dalamnya, dan berdiri di pintu ia mengguncang bokongnya menembus tubuh bininya. Ritual itu datang lagi, dengan tamparan keji dan pukulan gayung tempurung kelapa, dan dengan cara itulah kemudian Nuraeni bunting lagi, dan Mameh lahir dua tahun selepas Margio.

Delapan tahun hidup di sana cukup untuk membikin Nuraeni merosot memudarkan semua pesona cantiknya, meski garisgaris itu masih tersisa di wajah dan tubuhnya. Sikap judes dan bekunya bertambah-tambah kala Komar meminta kembali cincin kawinnya guna membeli rumah 131, dan meski Nuraeni memberikannya, ia membenamkan wajahnya di balik kerudung saat mereka pindah guna menyembunyikan rasa sedih yang tak terperi.

Di rumah baru, di luar kebiasaannya setelah delapan tahun perkawinan, Nuraeni mulai banyak bicara dan kata-katanya merupakan warisan rasa keji nan pedas yang telah tumbuh sejak lampau itu. Masalahnya, kata-kata tajam ini tak diajukan pada siapa pun, melainkan pada kompor dan pancinya, yang tak tergantikan sejak awal perkawinan. Kompor itu telah penuh karat, nyala apinya tak lagi sejajar, dan lubang sumbunya telah payah betul. Pancinya sendiri telah berkali-kali digerogoti lubang, sebelum diselamatkan tukang patri keliling yang menambalnya sebanyak sebelas kali. Kepada kompor dan panci itu, ia akan mengeluhkan dinding bilik bambu yang menggelayut, yang tak lebih apik dari kandang sapi.

Komar telah menyadari sindirannya, dan suatu hari,  setelah satu tahun mereka tinggal di 131, ia membeli bergulung-gulung bilik bambu baru, dan dibantu Margio mereka melucuti dinding usang dan menggantinya. Sepanjang satu minggu mereka bekerja keras, memotong dan memaku, menjepitnya dengan kayu kecil, dan selepas itu memberinya cat kapur. Kini rumah itu jadi lebih bersinar oleh warna putih kemilau, hasil kerja Komar dan Margio, tapi sama sekali tak bikin Nuraeni tersentuh. Memang betul, tak berapa lama disebabkan angin laut yang datang melintasi perkebunan cokelat dengan mudah menghantam-hantamnya, dan bersama bergantinya musim dinding itu kembali meliuk menciptakan gelombang badai. Cat kapurnya rontok berserak di tanah dalam kepingan-kepingan, menambah-nambah bahan omongan bagi pembicaraan Nuraeni dengan kompor dan pancinya.

Masih ada perkara lain, tentu saja. Genting tuanya, meski   di hari pertama telah dibereskan Komar dari sengkarut, telah banyak yang retak digunting terik dan basah, membiarkan air hujan tercurah. Nuraeni mesti memajang ember dan baskom  di tengah rumah, atau membiarkan lantai tanah mereka menjelma kubangan kerbau. Komar mesti pergi  ke  pabrik  batu bata dan membeli genting eceran untuk mengganti yang retak, menggantinya membuang waktu mencukur orang di pasar seharian. Sejenak itu mengatasi perkara kubangan kerbau mereka, namun bersama datangnya musim penghujan yang makin deras, bertambah pula genting retak dan ember serta baskom mesti dipajang kembali. Bersama kompor dan panci Nuraeni menertawakan diri sendiri.

Meskipun ia sendiri tak yakin bisa membangun rumah cantik serupa yang berderet di pinggir jalan guna membungkam mulut comel istrinya yang selalu cari-cari perkara, Komar punya dalih bagus mengenai ini, “Kita tak bisa berbuat banyak selama tanah ini milik Ma Rabiah.”

Bahkan meskipun kemudian mereka berhasil memilikinya, itu sama sekali tak menghentikan percakapan Nuraeni dengan benda-benda di dapur. Komar mulai berpikir bininya memang sinting, tapi tak mengurangi hasrat untuk merampok daging langsatnya. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊