menu

Lelaki Harimau Bab 02

Mode Malam
Dua

Harimau itu putih serupa angsa, ganas sebengis ajak. Mameh pernah melihatnya suatu kali, sejenak, keluar dari tubuh Margio, seperti bebayang. Sebelumnya tak pernah ia melihat itu, pun setelahnya. Hanya satu pertanda bahwa harimau itu masih ada di sana, dan Mameh tahu, meski ia tak tahu apakah orang lain tahu. Pertanda itu hanya tampak di dalam gelap, di mata Margio, yang mendadak berkilau kuning, serupa milik kucing. Awalnya Mameh takut melihat mata itu, dan lebih cemas harimaunya sungguh keluar dari sana, namun bersama berlalunya waktu, dan sebab terlampau sering melihat sepasang cahaya dalam gelap itu, ia tak lagi cemas. Itu bukan musuhnya, ia tak akan melukainya, dan sebaliknya, barangkali harimau itu ada di sana untuk melindungi mereka.

Margio sendiri menemukannya suatu pagi, kala terbangun dari tidur seorang diri di surau, berminggu lalu sebelum ia minggat. Bukan kopi hangat mengepul di atas tatakan, bukan pula sepiring nasi goreng sarapan pagi, tapi seekor harimau putih rebah di sampingnya, tengah menjilati kakinya sendiri. Ia terbangun disebabkan ekor si harimau yang menari, menyapu kaki telanjangnya, dan sejenak ia pikir itu tepukan tangan Ma Soma membangunkannya, mengajaknya salat Subuh. Tapi ternyata hari telah pagi, dan di luar hujan turun dengan wajah semesta yang kelabu, nyata semalam hujan besar dan tak ada orang datang di kala subuh. Tentu saja ia rada terkejut, demikian terguncangnya hingga apa yang bisa ia lakukan hanya diam tercekat, dan memandang takjub pada binatang gempal yang iseng sendiri itu.

Ia tahu binatang ini tak sungguh-sungguh hidup. Sepanjang dua puluh tahun hidupnya, ia telah keluar masuk rimba raya di pinggiran kota, dan tak pernah menemukan harimau semacam itu. Ada harimau pohon yang kecil, ada babi, dan ada ajak, tapi tak ada harimau putih hampir sebesar sapi. Itu mengingatkan dirinya pada kakeknya, bertahun-tahun lampau. Matanya dibikin berkaca-kaca, dan tangannya terulur perlahan, mencoba meraih kaki depan si harimau. Benda itu sungguh-sungguh ada di sana, dengan bebulu selembut kemoceng, kuku-kukunya tersembunyi pertanda suatu tawaran bersahabat, dan kaki terangkat, tangan Margio meraihnya lagi, dan kaki si harimau menepuk kecil, serupa anak kucing genit bermain-main. Margio meraihnya gesit, namun si harimau menghindar berguling, lalu mengambil kudakuda, siap menyerang, sebelum Margio sempat menghindar, ia telah menubruknya, dan di sana mereka berguling-guling dan hanya karena Margio tak sanggup menahan beban binatang itu mereka berhenti. Margio masih berbaring, si harimau kembali menjilati kakinya, bersimpuh di sampingnya. Lembut Margio menepuk bahunya, sambil menyapa.

“Kakek?”

Dahulu kakeknya tinggal jauh di desa. Sebuah motor ojek bisa mengantarkannya ke tepi hutan, tempat deretan warung yang dikenal orang sebagai Pasar Jumat menjadi tempat pemberhentian segala kendaraan, sebab berikutnya adalah jalan tanah membukit. Gerobak sapi barangkali bisa memaksakan diri, tapi pemilik ojek enggan melakukannya. Untuk mengunjungi sang kakek, Margio harus berjalan kaki naik bukit melintasi hutan angsana dan cengkih, jejalanan dihias pula pohon mahoni, hingga rimba liar yang hanya diakrabi para pemburu. Satu jam perjalanan melintasi hamparan bukit itu, Margio sangat mengenalnya, sebagaimana babi-babi korbannya kelak juga mengenalnya. Di seberang bukit terdapat sebuah perkampungan, berbatasan dengan sebuah pesantren yang memiliki sawah-sawah dan kolam ikan, tapi kakeknya tidak tinggal di kampung itu. Margio bisa melepas lelah di sana, beberapa orang telah dikenalnya setelah berkali melewatinya, dan ia akan melanjutkan perjalanan sebelum sore jatuh, sebab ia mesti melintasi sungai lebar dan tak ada rakit setelah petang tiba. Rakitnya terbuat dari lonjoranlonjoran bambu, diikat pada satu kawat yang membentang dari satu tepi sungai ke tepi lain. Pengemudinya berdiri di haluan, dengan menarik tambang kawat ia menyeret rakit perlahan, dan jika arus membuat rakit tak terkendali, ia akan mempergunakan galah panjang. Sungainya dalam dan berair tenang, tak ada buaya, namun ada Tikar Penggulung, binatang mitologis yang tak pernah ditemukan, namun sungguh ditakuti anak-anak. Rakitnya mampu membawa puluhan orang, kadang sapi dan domba dan berkarung-karung padi dan hasil bumi, dan mereka cukup membayar sepuluh perak untuk sekali lintas. Turun dari rakit bukan akhir perjalanan Margio, ia mesti naik bukit lagi   di jalan setapak yang licin betul, dan di puncak bukit ia akan melihat hamparan sawah mahaluas. Di tengah keluasan itulah terdapat sebuah kampung, penuh tetanam dan rumah-rumah, dengan nyiur menyundul langit, serupa oase gurun pasir, dan di sana kakeknya tinggal.

Pada umur delapan tahun, Margio telah melakukan perjalanan itu seorang diri untuk pertama kali. Selepas itu ia akan mempergunakan setiap kesempatan untuk pergi ke sana, berjumpa kakeknya, tak peduli waktu perjalanan yang bisa merampok separuh harinya. Perjalanannya selalu merupakan saat-saat menyenangkan, dan setiap kali berkunjung ia akan membawa pulang setandan pisang, atau sekeranjang durian, atau sekarung duku, yang pasti bikin senang Mameh, juga ibu dan ayahnya. Kadangkadang jika ia begitu ingin pergi namun tak ada uang untuk ojek, ia akan berjalan pula sampai Pasar Jumat, dan terus berjalan sampai rumah kakek, dan tetap senang. Demikian seringnya    ia melalui setapak itu, lain waktu ia menjelajah beberapa jalan baru, membuatnya cepat bersahabat dengan banyak penghuni kampung serta jin-peri penghuni rimba, dan di kala ia menjadi bagian pemburu babi, orang tak akan cemas tersesat selama ia ada bersama mereka.

Kakeknya tinggal bersama nenek di sebuah pondok, tetap bugar bahkan hingga ketika orang menemukannya telah mati dengan damai di atas tempat tidurnya. Sehari-hari ia mengurus sawah dan kebun, sebelum kelak sawah dan kebun itu lenyap dijual ayahnya tanpa bekas. Margio sangatlah menyukai kakeknya, yang tak bongkok meski rambutnya perak tanpa cela, sebab sang kakek akan membawanya ke parit kecil dan menyebutnya sebagai kerajaan jin. Jangan sekali-kali menggoda gadis jin, katanya selalu, namun jika seorang gadis jin jatuh cinta kepadamu, ambillah sebab itu anugerah. Kakeknya bilang, gadis-gadis jin sangatlah cantik, dan ia selalu berharap suatu kali berjumpa dengan gadis jin, dan berharap pula salah satu dari mereka jatuh cinta kepadanya, meskipun kemudian tampaknya itu tak pernah datang, walau berkali ia mendatangi parit kecil tersebut.

Di atas segalanya, harimau kakek merupakan kisah yang paling menakjubkan. Sebagaimana diceritakan Ma Muah, pendongeng desa mereka, banyak orang di kampung itu memiliki harimau. Beberapa dari mereka mempunyainya sebab kawin dengan harimau, yang lain memperolehnya dari warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kakek memiliki itu dari ayahnya, dan ayahnya dari ayahnya, dari nenek moyang yang barangkali tak lagi diingat siapa yang pertama kawin dengan harimau.

Ma Muah akan mendongeng di teras rumah, di malam-malam yang hangat. Anak-anak bergerombol di samping dan belakang dan di kakinya, dengan beberapa gadis memijit-mijit pundaknya. Jika ia mendongeng di sore hari, gadis-gadis itu akan mencari kutu di rambutnya. Ia selalu punya cerita yang belum dikisahkan, dan ia tak perlu mengarang-ngarang itu semua, sebab sebagaimana katanya, semua itu sungguh terjadi, di masa lampau sebagaimana ia dengar dari pendongeng sebelumnya dan pendongeng itu mendengarnya dari yang sebelumnya lagi, atau kisah-kisah itu memang terjadi juga saat ini, dan hanya dimengerti oleh orangorang terpilih, dan tentu saja Ma Muah merupakan nenek tua yang terpilih.

Sepanjang yang diingat Margio, Ma Muah tak punya laki dan anak, dan tak punya kerja pula, kecuali mendongeng dan mendongeng. Ia boleh pergi ke dapur siapa pun dan makan di sana, atau seseorang akan datang ke gubuknya membawa makanan. Orang-orang mencintainya, terlebih anak-anak. Ia punya cerita tentang buta yang berkutu ular dan kalajengking di rambutnya, namun hanya makan umbi rumput teki. Ada cerita tentang putri-putri jin yang menculik pemuda tampan dan membawanya ke kerajaan mereka, jin-jin ini tidaklah jahat asal tempat-tempat mereka tidak diganggu. Tempat-tempat itu telah dikenali Margio, berupa mata air, palung sungai, puncak bukit, pohon besar, dan menara masjid. Namun tetap saja tak ada yang lebih menarik minat Margio melebihi harimau putih yang menjaga mereka.

Kata Ma Muah, harimau itu ada bersama pemiliknya dan selalu menjaga dari segala marabahaya. Kata Ma Muah pula, kakeknya termasuk salah satu yang memelihara harimau putih. Tapi kakeknya tak pernah mau cerita tentang harimau itu, sebab ia masih kecil, katanya, dan tak mungkin bisa menjinakkan binatang buas semacam itu. Ia lebih besar dari harimau pohon, lebih besar dari yang dilihat orang di kebun binatang atau sirkus, atau buku pelajaran sekolah. Jika seseorang tak bisa mengendalikan binatang ini, ia bisa begitu ganasnya hingga tak ada apa pun bisa menahannya jika ia mengamuk.

“Tapi aku sekadar ingin melihat,” kata Margio. “Kelak saja, barangkali kau akan memilikinya.”

Ia telah sering mendengar kemasyhuran kakeknya, juga tetua kampung yang lain, bagaimana mereka bertahan dari penculikan orang-orang Belanda yang akan membuang pemuda-pemuda terbaik ke tanah Deli untuk kerja paksa. Mereka tak mempan atas peluru senapan, juga samurai Jepang yang datang belakangan, dan jika mereka marah, harimau putih itu akan keluar dari tubuh mereka menyerang setiap musuh. Bahkan kaum gerombolan yang lama setelah itu bergerilya di dalam hutan, bisa mereka usir, dan kata Ma Muah, itu disebabkan persahabatan asali mereka dengan harimau-harimau tersebut, yang menjadi berkerabat oleh perkawinan silang di antara mereka.

Bagi Margio sendiri, tak pernah jelas apa makna perkawinan tersebut. Tak terbayangkan olehnya seorang lelaki duduk di pelaminan, dan di sampingnya duduk pula seekor harimau di kursinya, lengkap dengan rumbai-rumbai dan pupur di pipi serta gincu di bibir, dan penghulu berkata, semoga perkawinan si anu dan harimau diberkati oleh Yang Mahakuasa. Setelah agak sedikit dewasa, hal ini semakin aneh membayangkan seseorang bersetubuh dengan istrinya yang harimau di atas tempat tidur, dan bertanyatanya anak macam apa yang akan dilahirkan dari persekutuan macam begitu. Ma Muah akan tertawa memamerkan gusi tanpa giginya, terkekeh setiap kali ia menceritakan bayangannya tentang perkawinan manusia dengan harimau. “Hanya lelaki yang kawin dengan harimau,” kata Ma Muah, “meski begitu tak semua harimau ini betina.”

Kakeknya sendiri tentu saja punya istri, seorang perempuan dari ras manusia, dan jelas harimau itu berarti madunya. Kakek tak pernah mengawini harimau itu, sebab ia memperolehnya dari ayahnya, namun bagi mereka tetap saja harimau semacam itu adalah istrinya yang lain, disayang dan dipuja, kadang melebihi istri manusianya. Si nenek ini mati lebih dulu oleh satu serangan tbc yang tanpa ampun, memorak-porandakan malam-malam mereka dengan batuk tanpa henti, demam tak ada ujung, hingga tubuhnya menyusut sampai mati. Kakeknya tak pernah kawin lagi, barangkali sudah cukup dengan istri harimaunya, dan lagi pula hidup kakek juga tak terlampau lama bertahan, terlampau sedih ditinggal istri manusianya.

Hingga suatu sore pada kunjungan Margio yang penghabisan sebelum kakeknya mati, si kakek berkata kepadanya, memastikan, “Harimau itu putih serupa angsa.”

Itu semacam pertanda seandainya harimau itu datang kepadanya, sehingga ia bisa segera mengenalinya. Kakeknya berkata, jika harimau itu suka, ia akan datang pada ayahnya, dan ia akan jadi miliknya, hingga Margio mesti menunggu sampai si ayah mati dan mewariskan itu kepadanya. Namun jika harimau itu tak suka pada ayahnya, ia akan datang kepada Margio suatu hari, dan Margio akan memilikinya. “Dan jika ia tak menyukaiku?” tanya Margio cemas.

“Ia akan datang pada anakmu, atau cucumu, atau barangkali tak akan pernah datang lagi jika keluarga ini melupakannya.”

Harimau itu kini datang kepadanya, berbaring di sampingnya di atas karpet surau yang hangat sementara alam semesta begitu dingin di luar. Sebagaimana kata kakeknya, ia berwarna putih, serupa angsa, serupa awan, serupa kapas. Tak terbayang betapa senang hatinya, melebihi apa pun yang pernah dimilikinya. Ia membayangkan bagaimana harimau ini akan menemani hari-hari perburuan mereka, membantunya menggiring babi-babi perusak sawah dan ladang, dan di kala lengah sementara seekor atau dua babi menyerangnya, ia akan melindunginya dari segala yang terburuk. Tak pernah terpikirkan olehnya ia akan datang di pagi yang dingin keparat ini, sebagai pertanda bahwa itu miliknya, seperti seorang gadis yang berserah pada kekasihnya. Lihatlah bagaimana harimau itu berbaring, masih menjilati ujung kakinya dengan lidah yang panjang terjulur keluar-masuk, sejenak ia serasa kucing, namun tampak ningrat dan agung oleh kebesaran tubuhnya. Margio memandang dalam pada wajahnya, ia tampak begitu cantik, dan bocah itu jatuh cinta tak kira-kira.

Ia merengkuhkan tangan ke lehernya, memeluknya dan merasakan bulunya hangat ke tubuhnya. Serupa pelukan pada seorang gadis di pagi yang dingin dan telanjang di tempat tidur, kemesraan yang paling intim selepas percintaan sepanjang malam. Margio memejamkan matanya, dalam puncak kebahagiaan atas penantian panjang penuh kerinduan, telah meyakinkan dirinya atas semua kebenaran dongeng yang didengarnya semasa kecil. Namun tiba-tiba ia merasakan rasa kehilangan itu, sesuatu yang dicerabut serta-merta, gadis kekasih yang pergi tanpa pamit, ketika tak lagi terasa kehangatan itu. Margio membuka matanya, dan tak lagi melihat harimau itu di sana.

Ia terperanjat melebihi kala pertama ia melihatnya. Bocah itu bangun dan mencarinya, namun pedalaman surau tersebut tidaklah luas, dan tak ada jejak tertinggal yang bisa dikenali. Tak ada sehelai bulu pun tersisa. Hujan di luar masih bergemuruh, pasti membikin anak-anak sekolah mengeluh, dan kala seperti itu bakalan banyak pohon pisang dipangkasi daunnya, pengganti payung sekali pakai, tapi Margio masih memikirkan harimaunya dan tidak yang lain. Ia berdiri dan memanggil tanpa suara, sebab ia tak tahu dengan apa harimau itu mesti dipanggil, kakeknya tak pernah memberinya nama, dan tidak pula Ma Muah. Barangkali ia sendiri harus memberinya nama, tapi itu tak ada guna, kini binatang itu telah pergi entah ke mana.

Itu lebih patah hati daripada penolakan sebelas gadis paling dicintai, dan hampir membuat Margio sungguh menangis cengeng sambil terus menjelajah ke empat sudut surau. Tidak, itu bukan mimpi, katanya pada diri sendiri. Ia telah datang untuk menunjukkan kini ia miliknya. Ia merasakan lembut bulunya, dan sejenak bermain dengannya. Itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi di pagi yang hening. Setelah berkali mencari dan tak lagi yakin bisa menemukannya, rasa sakit hati itu berubah menjadi satu rasa marah yang bergemuruh. Dirasakannya tubuh yang menggigil hebat, dan jemari tangan yang mencengkeram. Tak pernah ia sendiri merasakan suatu amarah semacam itu, begitu kejam dan penuh dendam, tapi ia tak bisa mengelak dari itu, disebabkan nilai rasa sakit yang mesti ditanggungnya. Harimau itu telah membuatnya jatuh cinta, puncak dari hasrat bertahuntahun, dan ia tak akan sudi ditinggalkan demikian rupa. Digedornya pintu surau, mencakarnya, meninggalkan jejak guratan panjang mengelupas cat hijau tua dan kayu mahoninya, dan dari mulutnya keluar geraman berat membuat udara koyak. Cakarannya begitu kuat mengejutkan dirinya sendiri, membuat Margio diam mematung reda dari amarahnya, melihat tiga guratan yang bakal jadi luka panas jika ditaruh di punggung seseorang, kemudian memeriksa tangannya sendiri. Kuku-kukunya tidaklah panjang sebab ia sering memotongnya, sebab jika tidak akan menjadi gangguan saat menggengam tombak berburu babi, rasanya tak mungkin melukai pintu dalam tiga garis guratan tersebut. Tapi jelas di kuku yang pendek itu ia melihat serpihan kayu dan cat, memastikan itu memang perbuatannya. Lama Margio terdiam antara terpesona dan penuh tanya, sebelum ia mengerti di mana duduk soalnya. Ia tak pergi meninggalkanku, pikirnya. Harimau itu masih di sana, di dalam dirinya, dan mereka tak akan terpisahkan lagi, hingga kelak ketika kematian datang kepadanya sebagaimana itu selalu terjadi. Ia bersandar ke dinding, meraba pusarnya, merasakannya bersemayam. Ia tidak jinak bagaimanapun.

Kepada Agung Yuda, ia sempat berseloroh serupa ini, “Aku tak lagi lajang.”

Agung Yuda pikir itu maksudnya tak lagi perjaka, dan disebabkan tak banyak bocah dua puluh tahunan di antara mereka masih perjaka, Agung Yuda tak menganggap serius omongan itu. Pikirnya, Margio hanya ingin memamerkan diri ia telah tidur dengan si gadis Maharani itu. Siapa lagi, hanya gadis itu yang kerap bersamanya, di waktu-waktu sejenak kala si gadis pulang liburan. Tak seorang pun tahu ada harimau di dalam tubuhnya, hingga ia mengakuinya sendiri tak lama selepas membunuh Anwar Sadat, kecuali Mameh yang sekali itu memergokinya. Malam sebelum Margio berjumpa dengan harimaunya, untuk pertama kali ia bilang pada Mameh ingin membunuh ayah mereka. Mameh pernah mendengar itu dari seseorang, sebab Margio berkalikali memaki di pos ronda dan kata-kata yang keluar adalah semacam itu, bahwa jika sempat ingin dibunuhnya Komar bin Syueb, tapi hal itu tak pernah terjadi dan tak ada tanda-tanda akan terjadi. Itu hanya omongan seorang bocah yang marah tanpa ampun kepada ayahnya, dan kemarahan itu sering reda bersama berlalunya waktu. Maka ketika Margio mengatakannya pada Mameh, gadis itu juga mengabaikannya, atau barangkali ia sendiri memang berharap Margio melakukannya.

Waktu itu tentu saja belum ada mata kucing di wajah Margio, namun Mameh bisa merasakan amarah yang mengapung dari ubun-ubunnya. Rasa itu semakin menjadi-jadi, di hari-hari itu, tak lama setelah Marian adik kecil mereka mati hanya satu minggu selepas dilahirkan. Mameh selalu berpikir segala sesuatu bisa dipergunakan Margio untuk membunuh ayah mereka, maka ia selalu menjauhkan pisau dan golok darinya, dan selalu mengawasinya. Sejujurnya Mameh sendiri tak peduli seandainya benar Margio mau membunuh ayah mereka, tapi sudut-sudut kewarasannya yang tersisa mendorong Mameh untuk mencegah niat tolol semacam itu.

Kesal karena menyadari dirinya tak bisa melakukan apa yang dikehendakinya, Margio pergi dari rumah. Di lapangan bola ada tenda-tenda dengan lampu-lampu serta gadis cantik yang menjual tiket, suara dengkuran gajah, auman harimau, dan musik riang jenaka pengiring para gadis plastik. Di waktu-waktu tertentu, Holiday Circus datang ke tempat mereka dan mengadakan pertunjukan sepanjang dua minggu. Tak seorang pun bisa meramalkan kapan mereka datang, kadang setahun sekali, kadang dua tahun, tapi pernah pula lima tahun mereka tak datang, meski begitu setiap kali datang selalu menjadi hiburan yang melimpahlimpah bagi penduduk kota, tak peduli mereka telah mengenal baik seluruh atraksinya, sebab tak banyak yang berubah dari tahun ke tahun, kecuali gadis-gadis plastik yang berganti dengan bocah-bocah periang yang lebih merah dan lebih belia.

Ia pergi seorang diri, membeli tiket tanpa banyak omong, dengan tangan melesak ke dalam celana jeans yang tak tercuci sepanjang delapan belas hari. Telah lama ia tak melihat sirkus, sejak ayahnya mengajak pertama kali jauh di masa lampau, dan kali ini ia melihatnya tidak karena keinginan untuk melihat pertunjukan menakjubkan, namun lebih didorong keinginannya untuk menenggelamkan diri di dalam arus penonton, kebisingan, dan bersembunyi di sana. Ia mengambil tempat duduk yang paling tinggi, hampir menyentuh langit-langit terpal, dan di sana duduk menanti sirkus dibuka dengan menopang dagu.

Pikirannya kosong kala direktur sirkus berjas hitam dengan dasi kupu-kupu terpasang simetris menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah tak pernah berubah, berpidato singkat menceritakan sedikit perjalanan Holiday Circus yang dibawanya berkeliling pulau-pulau nusantara, kota-kota, bahkan bermain pula di atas kapal pada hari ulang tahun Angkatan Laut dan sedikit membocorkan rencana mereka mengunjungi beberapa kota lain selepas singgah di lapangan bola mereka. Bahkan ketika seorang perempuan cantik dengan topi tinggi berhias jumbai ekor bulu merak, mengenakan rompi merah menyala dengan rok mini sewarna yang memperlihatkan celana pendeknya, berstoking hitam dan bersepatu merah berkilau, berbicara pada mereka membacakan urutan pertunjukan, dengan bibir bergincu penuh godaan, Margio bertahan dalam ketermenungannya dan tak memikirkan kecabulan macam apa pun sebagaimana sering ia lakukan saat melihat perempuanperempuan cantik dengan dandanan provokatif macam begitu.

Ia masih bertopang dagu, malahan kini sedikit memejamkan matanya, diapit seorang perempuan gembrot yang datang bersama anak kecilnya, kedua mereka tak henti-hentinya mengunyah kacang hingga suara gigi mereka lebih ribut di telinga Margio daripada musik pengiring sirkus, dan di samping yang lain seorang pemuda yang duduk tak begitu nyaman sebab gadisnya terus-menerus rebah ke bahunya dan minta dipeluk dan si pemuda barangkali segan pada Margio yang duduk khusyuk minta tak diganggu.

Tadinya ia berharap bisa menghibur diri dan melupakan kabut kemarahan yang dibawa dari rumah dengan melihat  gadis plastik. Tak ada hal lain yang dipikirnya menarik, kecuali gadis-gadis kecil dengan tungkai kaki indah dan tubuh meliukliuk di atas meja bulat  berputar,  kadang  bergelantungan  di tali lintang-melintang. Ia memejamkan mata sebab tak ingin melihat orangutan yang naik motor kecil, berputar-putar dan kala berhenti pawangnya harus menarik motor itu dari belakang, juga tak ada hasrat melihat burung beo mengayuh sepeda kecil mereka meskipun anak-anak bertepuk ramai. Badut-badut yang membanyol lebih tampak menyebalkan daripada jenaka, hingga ia berpikir untuk mengutuk mereka jadi badut kartu sungguhan. Namun kala gadis-gadis plastik keluar dan mereka berlompatan membikin menara tinggi sebelum ambruk dengan cara paling indah, apa yang ditunggu itu tak juga memberi kesan apa pun.

Margio hampir pergi meninggalkan tempat duduknya, dan berpikir untuk pergi ke warung Agus Sofyan untuk minum, kala mereka mengeluarkan kerangka-kerangka besi dan membuat kurungan. Ia tahu apa maknanya, dan kakinya tertancap di sana, menunggu penuh debar. Para lelaki itu bekerja cermat tak bertele-tele, dan sekonyong berdiri kandang megah setinggi enam meter, dan Margio mendengar suara menggeram binatang yang membuat jantungnya berdegup semakin kencang dan darahnya mengalir bertambah-tambah deras. Ia tak lagi duduk bertopang dagu, tangannya jatuh di atas lutut, dan pakaiannya jadi kuyup oleh peluh mengguyur. Ia menantikannya dengan sangat sabar, melihat pintu kandang disambung dengan bokong sebuah truk, seorang pawang menunggu di sana dengan pakaian peraknya berkilauan serta cambuk terjulur ganas. Pintu truk  terbuka, dan dengan enggan binatang anggun itu melenggang menuju kandang, kadang ia hendak balik lagi ke truk, sebelum si pawang memaksa, mencambuk lantai menakutinya, dan si harimau, masih enggan, melompat ke tengah kandang.

Rasa akrab yang hangat melimpahinya, menyeretnya pada kenangan lama, melihat tubuh yang belang itu melenggang dan bersemayam di kursi kayu bulat tinggi, di sana ia jongkok dan menggaruki hidungnya. Tepatnya ia menjilat kakinya, dan basah di kakinya dipakai untuk mencuci mukanya. Barangkali ia bangun dari tidur, atau berias di depan tuan-puan penonton. Tak berapa lama datang pasangannya, serta sepasang lain singa India. Bagaimanapun mereka tidak putih serupa angsa, melainkan cokelat serupa foto lama yang jadi sefia, dengan tubuh tak sebesar sapi, meski tak kehilangan keagungannya sedikit juga. Margio mengabaikan kenyataan bahwa mereka bukan binatang yang dinantikannya, menyadari kekerabatan mereka, dan terharu atas perjumpaan tak terencanakan tersebut, seolah nasib telah menuntun mereka dan ia hanya tinggal menjalaninya.

Lama setelah kakeknya mati, ia terus menunggu hari ketika harimau putihnya datang. Hari-hari melelahkan, hingga ia berpikir harimau itu tak akan pernah datang dan mencoba mengabaikannya, bahkan bercuriga itu telah jadi milik ayahnya. Itulah barangkali yang membuatnya berhati-hati pada Komar bin Syueb, berjaga, mengawasi apakah lelaki itu sungguh telah mewarisi sang harimau. Selama tahun-tahun itu, ia tak melihat tandatanda bahwa ayahnya memiliki si makhluk itu, sekaligus tak juga melihat pertanda Komar bin Syueb tak memilikinya. Sepanjang hari-hari yang penuh amarah, ia semakin tak terkendali dibakar kecemburuan. Margio terus mengintip Komar bin Syueb, dari dekat dari jauh, serupa jin pengiring, untuk memastikan apakah ia ada bicara dengan piaraannya. Lama-lama itu melelahkan, dan Margio telah berserah untuk mendengar Komar bin Syueb telah memilikinya, atau di antara mereka berdua tak satu pun akan didatanginya.

Hingga malam di sirkus itu. Kala pertunjukan usai dan ia berdesakan di antara kerumunan, dengan tangan kembali melesak ke kantung celana, kini pikirannya penuh oleh kesan atas tubuhtubuh liar yang tetap tak terjinakkan sungguh-sungguh itu. Ia terus memikirkannya, melihat gambarnya di dinding tenda sirkus, hampir gila oleh semacam godaan melihat perempuan binal dan kehendak untuk meremas tubuhnya. Di bawah lampu sorot dan mesin diesel yang berdengung dekat penjual tiket, ia bersandar ke pagar dan hampir masuk lagi untuk berkencan dengan sepasang harimau tersebut, kala ia menyadari tak lagi punya uang untuk tiket. Ia berjalan mengelilingi pagar sirkus, berharap melihat mereka di kandangnya, pada mobil-mobil besar yang teronggok di tengah lapangan bola, namun orang-orang itu tampaknya mengurung mereka rapat. Ada dirasakan darahnya menghangat, dan berpikir barangkali harimau itu sudah ada    di dalam dirinya, yang diperlukan adalah suatu cara untuk mengeluarkannya. Malam itu ia tak pulang, tak hendak berjumpa orang, hanya ingin ditemani bebayang harimau di kepala. Ia pergi ke surau menjelang tengah malam dan berbaring di sana, melihat harimau itu di langit-langit, di tempat pengimaman, di rangka beduk, di mana pun. Sejak masa kanak ia telah sering tidur di surau, selain di pos ronda, barangkali lebih banyak daripada mondok di rumahnya sendiri. Malam itu ia bermimpi tentang putri jin yang keluar dari mata air, mengajaknya kawin, dan putri itu wajahnya serupa Maharani. Lalu bangun di pagi hari, dengan harimau putih rebah menjejerinya. Begitulah awalnya.

Margio sendiri tak pernah bisa melacak dari mana asal-usul kemarahannya atas Komar bin Syueb. Baginya itu serupa piutang yang mesti ditagihnya, yang telah menumpuk sehingga hampir membikin dirinya sendiri bangkrut secara mental. Rasa cinta yang tak kepalang pada ibu dan adiknyalah, barangkali, yang telah menahannya dari kemarahan memaharaja. Ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa Komar bin Syueb tetap tiang bagi mereka, tak peduli betapa keropos dan limbungnya tiang itu, serta oleng dan sumber badai yang mestinya merobohkan dirinya sendiri. Margio hanya tahu bahwa ia ingin menghabisinya, berpikir itu akan terjadi dan ini hanyalah masalah waktu yang tak kunjung tiba, dan sepanjang kehidupannya, usaha yang lebih membuatnya menderita adalah upaya untuk meredam kehendak itu, didorong harapan udik bahwa segalanya akan baik dengan sendirinya, dan cara yang ingin dipilihnya tak akan memberi jalan bertabur bunga apa pun.

Ia selalu menyebut dirinya semacam Kresna, yang di puncak kemarahan tanpa ampun bisa sekonyong menjelma brahala, dengan seribu kepala seribu tangan dan seribu nafsu menghancurkan, dan tak seorang pun bisa menghalanginya, tidak pula dewadewa. Satu-satunya hal terpuji dari sang prabu, demikian ia akan memanggilnya, bahwa ia tak pernah membiarkan brahala itu keluar dari tubuhnya, kecuali sekali yang tak berlanjut-lanjut. Margio akan berpikir bahwa ada sesuatu di dalam dirinya, hendak keluar bersama aroma marah, dan adalah tugasnya untuk tidak membuat itu keluar, sebab segala sesuatu telah ditulis dewa-dewa. Tak peduli betapa besar rasa marah itu untuk ditanggungnya.

Sepanjang tahun-tahun yang lewat, ia masih bisa menahannya, hingga malam ketika Marian adik bungsunya mati. Itulah yang membikin ia tak terkendali, dan kepada Mameh berkata hendak menghentikan hidup Komar bin Syueb. Baginya, kematian Marian melebihi bencana apa pun yang bisa dipikirkannya datang ke rumah mereka, serupa satu pengkhianatan kejam, dan ia tak lagi berkehendak menahan nafsu brutalnya, suatu nafsu yang seringkali dilampiaskannya sedikit pada bokong babi di musim perburuan. Ia akan melihat bokong itu menjelma menjadi dada ringkih Komar bin Syueb, menusuknya dengan tombak, sedikit saja untuk membuatnya tersadar ada sesuatu mengancam. Kini ia berharap bisa menusuk dada yang sesungguhnya, mengirimnya ke kerak neraka, dan meletup dalam kata-kata.

Marian mati seminggu sebelum Holiday Circus datang dan mendirikan tenda mereka. Mati dalam keadaan tubuh kering kurang susu, bahkan selama seminggu hidupnya ia telah setengah mati. Ia tak ada demam, tapi jelas hendak mati. Semua orang akan merasakan ajal itu mengerubuti dirinya seperti lalat terbang di atas bangkai, terpampang di matanya yang tak ada bayangan hidup panjang, dan setiap kali Margio melihat itu, sedihnya berlipat-lipat oleh duka di wajah ibunya. Komar bin Syueb tampaknya satu-satunya yang tak peduli apakah bayi merah itu akan terus mengisi dunia atau bakal sarang cacing di kuburan, melihatnya serupa kotoran yang salah tempat, dan semua orang berani bersumpah ia tak pernah menyentuhnya, apalagi sekadar menyapa ‘ciluk-ba’. Pada hari itu, seharusnya Komar mencukur rambutnya, mengadakan kenduri kecil demi keselamatannya, dan tentu saja memberi nama indah untuknya, dan sebagaimana semua akan bersumpah pula, ia tak melakukannya.

Margio akhirnya menyembelih sendiri ayam jago Komar, tanpa meminta pada pemiliknya, dan menggelar selamatan kecil bertiga bersama Mameh dan ibu mereka. Ia mengambil perkakas cukur ayahnya, menyumpah-serapahi si tukang cukur yang tak hendak mencukur si anak bungsu, dan mencukur sendiri bayi yang rebah tak bisa nangis di pangkuan ibunya. Dan mengenai nama itu, Komar tak memberi gagasan sedikit jua, malahan pergi entah ke mana, dan akhirnya ibu mereka memberinya nama pendek, tanpa nama keluarga tanpa nama panjang.

“Marian.”

Paling tidak, seandainya ada satu yang membahagiakan, Marian mati setelah dicukur dan punya nama. Margio bisa memahatkan nama pendek itu di nisannya yang mungil, yang ditanami Mameh dengan bunga cempaka, dan dipenuhi aroma kenanga. Sekaligus kematian ini menambah-nambah minyak bagi api kebencian Margio pada ayahnya hingga ia berpikir, jika selama ini dirinya ingin membunuh Komar bin Syueb, sekaranglah saatnya.

Komar bin Syueb pulang tak lama setelah mereka menguburkan Marian subuh-subuh, tanpa dosa dan bengis di wajah. Barangkali ia tidur di tempat pelacuran, atau pembuangan sampah, kini tak ada lagi yang peduli. Tak seorang pun kasih sapaan padanya kala ia datang, tidak keluarga tidak tetangga, sebab jika ada yang paling tidak berduka pada kematian Marian, tampaknya lelaki inilah makhluknya. Ia menampilkan dirinya sebagai lelaki udzur setengah mampus yang tanpa kendali rasa apa pun, masuk rumah duka sekonyong dan tak juga bertanya apa yang sedang kalian sedihkan, sebab betul tampaknya ia sendiri tahu kematian Marian dan itulah yang menyeretnya pulang untuk merayakannya, duduk di dapur dan memakan ayam sisa selamatan tak ada malu, dan tidur mendengkur penuh kekejian. Hingga kemudian, tak tahan oleh kelakuan tanpa alingaling, Margio meraih panci dan satu-satunya panci yang mereka miliki, membantingkan ke lantai menimbulkan ledakan heboh yang tentu membangunkan Komar bin Syueb.

Gencatan senjata bertahun-tahun itu kini berakhir, demi peristiwa panci dibanting tersebut. Komar bin Syueb tahu itu ditujukan kepada dirinya, dan tahu bocah itu telah di luar batas kesabarannya sendiri, berjaga-jaga dan tak memberi jawaban apa pun membuatnya diam terus di tempat tidur tak tahu apa-apa secara pura-pura. Bagi Margio sendiri, itulah pengumuman pertamanya, kemarahan yang diungkapkan, sesuatu yang tak pernah dikeluarkan dan kini ayahnya telah tahu bahwa ia menyimpan beludak kemarahan di lambungnya. Ada rasa terkejut kala ia menyadari telah mengakhiri kebungkamannya, namun segalanya telah bermula dan ia harus bersiap menghadapinya. Pada umurnya yang kedua puluh, ia berpikir, tak ada apa pun lagi yang mesti ditakuti menghadapi ayah yang kini menjelang lima puluh. Dan si ayah, masih di tempat tidurnya, juga menyadari batas umur itu, mengakui dengan kepasrahan menyedihkan bahwa Margio bukan bocah merah yang dulu itu lagi, menginsafi amukan apa pun tak bakal bisa ditahannya lagi.

Demikianlah hari-hari itu mereka menjaga jarak, mempersiapkan pertarungan sekaligus menghindarinya. Komar bin Syueb menjadi demikian lembek dan menjauh, dan Margio menyadari ketakberdayaan ayahnya, mulai menahan diri untuk tak membiarkan kebenciannya meletup, meski itu ngepul mendidih, sampai pagi ketika ia berjumpa harimau putihnya. Brahalanya.

Mameh melihatnya tak berapa lama, menggelosor dari raga Margio, serasa sosok yang tanggal dari baju, membikinnya terlempar ke belakang, sebab dipikir itu hendak menerkam dirinya, sebelum si liar bersarang kembali, tertancap jauh di dada Margio. Itu kala Margio pulang suatu petang, menemukan ayah mereka tengah memotong lima ekor ayam peliharaannya, seorang diri saja. Komar bin Syueb merepotkan diri dengan ayam-ayam, tak minta bantuan siapa-siapa, menjepit kaki dan sayap mereka dengan telapak sandalnya sendiri, satu tangan mencengkeram kepala unggas malang tersebut, dan satu tangan lain mengayun pisau dapur. Cres, cres, ia memenggal kepala mereka satu demi satu, melemparkannya ke dalam kurungan, di sana mereka menggelepar melawan rasa ajal.

“Apa hendak ia bikin?” tanya Margio pada Mameh, tanpa Komar mendengar.

“Pikirnya ia hendak bikin selamatan tujuh hari Marian.”

Itulah barangkali yang bikin harimaunya keluar dari sarang. Margio tak bakalan rela lelaki tua celaka itu berbuat baik untuk Marian, yang telah disia-siakannya, dan bahkan sering ia berpikir, Komar bin Syueb telah membunuh si bungsu, atau sengaja membiarkannya mati. Dan kini Komar celaka itu hendak bikin selamatan tujuh hari, maka terkutuklah untukmu, pikir Margio, bayi tersebut tak bakalan menerima kebaikan apa pun darinya. Mameh melihat wajah merah yang remang, seperti berbulu, dengan mata berkilau kekuningan, dan suara menggeram yang kasih gema, sebelum bebayang putih itu menari di matanya. Hampir saja ia menjerit, sebelum itu lenyap kembali, bersemayam dengan pintu kandang seolah terkunci rapat. Margio telah mengurungnya, menahannya tak liar, dan tak berharap melanjutlanjutkan perkara, bocah itu masuk rumah dan pergi lewat dapur.

Selepas episode singkat panci dibanting, Komar mengurung diri di biliknya, keluar untuk pergi ke kios cukur, dan balik untuk bersarang kembali di tempat tidur. Itu adalah waktu-waktu ketika dipikirnya Margio bakalan kasar padanya, jika tidak sungguhsungguh hendak membunuhnya. Sosok si bocah mendadak jadi monster yang lebih hantu dari segala setan, terhenyak menyadari berapa umurnya sekarang, tinggi tubuhnya, berat bobotnya, dan barangkali ia mewarisi harimau keparat itu. Lelaki tua ini bertindak bijak untuk tidak menambah-nambah urusan dengan si cikal ini, sebab tampaknya Margio tak lagi anak penurut dan pengalah yang akan duduk diam di pojok rumah, atau pergi tanpa kata-kata. Segalanya telah datang bocah itu sanggup melawan, dan Komar bin Syueb terlalu waras untuk menentang ototnya.

Kemudian Mameh melihatnya keluar dari bilik, dan ia tampak begitu manis kini. Tak banyak bicara sebagaimana semula, Komar bin Syueb ambil alih kerja-kerja yang sering ia abai untuk dilakukan. Ia mengambil sapu ijuk dan menyapu lantai, begitu berkali walau tak ada remah tercecer, dan di pagi serta petang, ia mengisi bak untuk mereka mandi. Sehari kemudian tak dinyana-nyana, ia bahkan mencuci pakaian, dan Mameh kehilangan lebih banyak pekerjaan rutinnya. Mameh hendak menghentikan semua sikap manis tersebut, sebab ayahnya harus bersiap pergi ke kios cukur, dan sepulangnya tentu Komar bakalan lelah, tapi lelaki ini tak ambil peduli, mengacuhkan Mameh dan membiarkan anak perempuannya nyaris tak ada kerja.

Belakangan Mameh menyadari pamrihnya, dengan tatapan sedih melihat lelaki itu memotong ayam seorang diri untuk selamatan tujuh hari Marian. Tanpa kata-kata, terlampau gamblang bagi Mameh untuk membacanya, serasa tulisan nasib yang tertera di dahi, betapa Komar bin Syueb ini secara sia-sia hendak berdamai dengan mereka, menghilangkan jejak busuk yang bertele-tele mengulur jauh ke belakang. Sia-sia, sebab tak seorang pun tersentuh hatinya oleh kebaikan melimpah-limpah tersebut. Menyedihkan sebab semua orang berpendapat kelakuan manisnya terlampau terlambat.

Tengoklah Margio, rasa benci itu bertambah-tambah, serasa memperoleh minyak baru bagi apinya, secepat ia tahu niat tersembunyi ayahnya. Jangan pikir aku akan memaafkanmu, pikirnya. Ia pergi dari rumah, tak hendak mendukung apa pun yang dibuat Komar, dan terdampar di berbagai tempat, menendangnendang dinding pos ronda, minum di warung Agus Sofyan, dan melempari kelapa di perkebunan terbengkalai, sementara ayahnya mencuci ayam-ayam itu sendiri, menanggalkan mereka dari bebulunya, menentengnya ke dapur, dan di sana Komar bin Syueb merebus, menggoreng mereka, serta menanak nasi pula. Menjelang magrib ia mendatangi tetangga, mengundang mereka datang selepas Isya, untuk berkumpul membaca Yassin, demi keselamatan Marian.

Margio pulang selepas tetangga menghilang, meninggalkan tikar yang terhampar, dan selama itu segala urusan di tangan Komar bin Syueb semata. Tidak Mameh dan tidak ibunya. Komar bin Syueb menyuruhnya makan, ada tersisa ayam goreng dan nasi dan lodeh kentang untuknya, tapi Margio tak ada ingin menyentuh apa pun. Ia hanya pergi ke dapur untuk muncul lagi di ruang tengah, berjalan masuk ke kamar dan keluar lagi, pergi ke kamar mandi untuk buang kencing, masuk dapur dan berdiri di teras di bawah lampu. Mameh datang dan ikut membujuknya makan, Margio hanya mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Di semesta yang remang, Mameh bisa lihat matanya yang bertambah-tambah kemilau dan tambah-tambah pijar kuning. Masih diingat kehendak Margio untuk membunuh Komar, dan kehendak itu tambah menjadi-jadi tanpa mesti mengatakannya. Matanya menyorot benderang, setiap lariknya seperti menancap, dan pikir Mameh, mata itu sendiri barangkali bisa bikin mati Komar bin Syueb. Namun ia juga bisa melihat penderitaannya. Margio yang manis tengah berperang melawan Margio yang jahat, sebelum satu di antara mereka bisa membunuh Komar bin Syueb, dan di sana Mameh lihat wajah lelah, serasa kalah bukan oleh musuh tapi disebabkan pertarungannya sendiri. Bagaimanapun, sebagaimana kemudian ia tahu, Komar bin Syueb tidak mati oleh Margio, tidak pula oleh harimau piaraannya. Malam itu, selepas dibuangnya puntung ke pekarangan, Margio bilang pada Mameh, “Aku akan pergi.” Dan menambahkan, “Jika tidak, aku bakalan membunuh lelaki ini.”

Bagi Mameh, yang tak menguping sungguh-sungguh dan tak berpikir Margio sungguh akan pergi, serasa ia hanya berkata, “Aku ingin pergi.” Sebab tak ada alasan ia mesti pergi. Di tahuntahun terakhir, sudah sangat jelas Margio tak betah tinggal di rumah, dan tempat hunian abadinya adalah pos ronda dan surau. Bahkan kalaupun sungguh ia mau pergi, Mameh pikir ia masih bisa ditemukan di tempat-tempat itu. Belakangan Mameh tahu pikirannya keliru.

Suatu hari, pagi datang sebagaimana biasa dan mereka kehilangan Margio tiba-tiba. Kawan-kawannyalah yang pertama menyadari Margio pergi, sebab ia tak ditemukan sampai siang datang. Seseorang berkata ia melihat sirkus itu, dan malam tadi mereka berkemas untuk pergi tanpa seorang pun tahu ke mana. Semua berprasangka bocah itu kecantol gadis plastik dan hengkang mengikuti jejak rombongan Holiday Circus, sambil bertaruh ia bakalan kembali sebab cinta sesungguhnya tertambat di kampung halaman sendiri, sebagaimana mereka bercuriga bocah ini memiliki hubungan diam-diam dengan Maharani anak Anwar Sadat. Kemudian, dikarenakan beberapa kawannya datang ke rumah dan bertanya, Mameh lalu sadar Margio sungguh pergi.

Kepergiannya membuat banyak orang sedih, terutama Mayor Sadrah yang bersiap menghabisi babi-babi, dan terutama lagi ternyata Komar bin Syueb. Selama seminggu ia mencoba mengabaikan ketidakadaan anak sulungnya, menempuh hidup sebagai biasa, bangun tidur dan memberi makan ayam tersisa serta tiga pasang kelinci. Setiap pagi Komar mengeluarkan sepeda untanya, aus oleh karat dan kurang gemuk, dengan suara rantai berderak, dan sebagaimana kebanyakan sepeda di kampung itu, tanpa rem dan berko. Komar pergi ke pasar untuk memungut wortel dan kol busuk di tempat sampah penjual sayur, lalu pulang selepas mampir di pondok penggilingan padi meminta dedak, dan memberikan semua itu untuk piaraannya. Dedaknya mesti dikasih air hangat, diaduk dan dihidangkan di beberapa tempurung kelapa, biar unggas-unggas itu tak berebut, sementara kol dan wortel busuk cukup dilempar ke kandang kelinci dan mereka akan menggerogotinya. Komar cukup sibuk, ditambah kerja-kerja berlebihannya, untuk membuat seolah ia tak peduli Margio telah hengkah. Tapi Mameh tahu ia mulai merindukannya, sebab suatu pagi Komar bin Syueb bertanya kepadanya.

“Adakah Margio balik?”

“Belum,” kata Mameh acuh. “Percayalah ia bakalan balik kala waktunya kawin.” Komar sama sekali tak terhibur oleh kata-kata Mameh yang tak menghibur, dan dengan segera tubuhnya merosot dalam sakit yang datang serempak. Rasa kehilangan itu rupanya tidak main-main, sebab ia mulai tak beranjak dari tempat tidur, kurus tak karuan dan mengigau tak ada henti. Berbelas hari ia tak   lagi memangkas belukar di kepala orang, kecuali memangkas nyawanya sepenggal demi sepenggal. Komar mengeluh ada  paku bersarang di lambungnya, dan memang benar kemudian ia muntah-muntah penuh darah, dan kulitnya membiru benjolbenjol. Mameh pergi memanggil mantri, yang menyuruhnya untuk diseret ke rumah sakit, maka Mameh memanggil dua orang paman adik ibunya, yang menandu Komar bin Syueb. Ada begitu banyak penyakit, kata dokter, dan ia dikutuk untuk tidur di bangsal dingin penuh hantu orang mati.

Sepanjang waktu-waktu sekarat itu, istrinya tak mau ambil urus dirinya, dan Mameh harus menanggung semua kerepotan seorang diri. Barangkali ia telah merasakan waktu kematiannya semakin dekat, dan Mameh mulai yakin saat ajal itu memang telah hinggap. Serasa bunga kenanga mekar segera, begitu pula kamboja dan cempaka dan gagak-gagak hitam berkaok-kaok di suatu jarak. Dua hari di bangsal rumah sakit, Komar akhirnya minta pulang sambil bertegas pada Mameh. “Jangan panggil dokter mana pun lagi. Aku cukup sehat untuk menanti kuburanku selesai digali.”

Itu masa Komar masih bisa ngomong. Suatu pagi mulutnya tak lagi bisa dibuka, bungkam memberontak pada sang tuan, dengan rahang mengejang lengket tiada kira. Itu pernah terjadi sekali waktu, dan sembuh lama setelahnya melalui serangkaian pijatan dukun, yang mengurut leher dan ujung kakinya dengan air bawang. Kali ini Mameh tak lagi yakin Komar bisa membuka kembali mulut itu, pertanda kematiannya yang terlampau gamblang, selepas kegagalan tiga orang dukun urut melenturkan kembali rahang tersebut. Komar sangat tersiksa, di kasur ia berguling, memukul-mukul pipi, menggigit tangan dan menarik rahangnya, tapi itu semakin menyiksa belaka. Ia tak bisa makan kecuali segala sesuatu dibikin lembek, dan Mameh mesti menyuapkan bubur tim, Komar mendorongnya dengan telunjuk, bikin ia batuk-batuk dan sepahannya meleleh ke kasur. Kemudian tangan itu tak bisa bergerak pula, serasa putus urat dipenuhi bintik-bintik cokelat ajaib, hingga Mameh harus kasih mulut  itu teh manis. Tak banyak yang bisa dimakan Komar, dalam beberapa hari tubuhnya menyusut serupa cicak menggelepar.

Suatu malam Mameh mendengar Komar menggeram. Ia datang dan bertanya adakah sesuatu yang sakit. Rasa sakit itu tak lagi dihiraukan Komar, dan membalas dengan geraman yang lain. Rupanya ia ingin bicara, Mameh pasang telinga tajam, tapi suara Komar tak lebih baik dari tetalu. Mameh berpikir cerdik, memberinya kertas dan pensil sisa masa sekolahnya, dan itu menambah kesia-siaannya semata, sebab tangan Komar tak lagi ada faedahnya. Mameh berpikir semakin cerdik. Ia ambil kertas dan pensil tersebut dan setiap kali ia menulis dengan benar, Komar mengangguk pendek dengan mulut coba menyeringai senang. Sebuah kalimat pendek meleret, menghabiskan separuh malam mereka, serasa membuang waktu menebak teka-teki silang, dan jawabannya adalah kehendak terakhir yang sederhana orang mau mati, “Kuburkan aku di samping Marian.”

Keesokan harinya Mameh menyampaikan pesan itu pada ibunya. Telah lama perempuan ini tak banyak buka mulut, namun pada permintaan ini, ia berbaik hati berkata, “Katakan itu pada penggali kubur.”

Bagaimanapun sangatlah jelas Komar bin Syueb mencari jalan damai di sisa hidupnya, terutama pada si kecil yang barangkali mati olehnya. Malam terakhir itu Mameh mendengar seekor gagak hinggap di bubungan, dan di sana si gagak ribut sendiri, sebelum terbang menyisakan gema gaoknya. Pikirnya, sebentar lagi Komar sungguh mati. Ia ingin tak percaya tahayul, tapi semua orang telah bilang, setiap seekor gagak hinggap di bubungan, seseorang mati di bawahnya. Ia tak bisa tidur hingga menjelang subuh, dan saat itulah Komar bin Syueb mati, dalam sakit dan penderitaan menanti anak sulung yang minggat kembali. Jika ada hal yang bikin Mameh sedih, lelaki ini lewat tanpa sempat berjumpa Margio, meskipun ia cukup yakin, seandainya Margio datang sebelum Komar mati, kedatangannya tak lebih untuk menghabisi nyawanya belaka.

Mameh melihatnya subuh itu mengambang lelap di tempat tidur. Tubuhnya merosot tajam menjadi rongsokan daging, yang tak akan memuaskan nafsu si gagak pemakan bangkai sekalipun. Tak ada orang menggorok lehernya, meski Komar selalu berpikir seseorang di rumah itu akan melakukannya, atau Margio datang dan memenggalnya, lebih disebabkan sakit berlipit-lipit tersebut. Ia mati saat bokongnya telah gila dan ada bisul di pikirannya. Sayonara, katanya, dan ia pergi menggelosor melewati kisi jendela digandeng malaikat maut, memandangi hari-harinya berakhir, kasurnya yang asin, kamarnya yang pengap, dan dunianya yang garing.

Setiap menjelang subuh, Mameh orang pertama yang terjaga di rumah 131, rumah mereka. Masih serupa pejalan tidur, ia selesaikan seluruh tugas untuk ayah yang teronggok setengah mati, datang ke kamarnya menenteng ember kecil dari dapur, berkecipak air hangat di dalamnya, dengan lap berenang di atasnya. Di hari-hari terakhir, saat rasa sakit menancap ganas dan bau tanah permakaman mengapung di ujung hidung, Komar sedikit tobat dan memaksa waras mendirikan salat. Mamehlah yang ambilkan wudhu untuknya, membasuh tangan serta kaki dan muka, dan membiarkannya salat sembari berbaring. Lima kali sehari. Satu sentuhan tangan Mameh cukup untuk membangunkan Komar, memberitahunya adzan subuh segera datang, tepatnya bikin Komar buka mata, tanpa beranjak sebab ia lengket ke atas seprei, dengan kepala terbenam pada tiga lapisan bantal lapuk, serta tubuh bonyoknya tenggelam di dasar selimut belang garis hitamputih yang terangkut dari rumah sakit.

Subuh itu sentuhan tangan Mameh tak bikin Komar bangun, membuat Mameh mengguncangnya, dan tetap tak ada geliat kecil apa pun. Pertama, karena mata itu telah terbuka, dan kedua, sebab Komar telah mati. Mengetahui ayahnya tamat, Mameh hampir tersedak. Sebelum terjun, ember itu segera dijejakkan di lantai. Si gadis meraba dadanya sendiri, komat-kamit tak mesti, lalu dengan ajaran berguna dari film, ia mengatup mata ayahnya. Sayonara, katanya, gunting dan sisir akan jadi saksimu. Ia mencari-cari sekiranya roh Komar tersangkut di langit-langit, tapi sekadar menemukan rantang air sisa mengompres dahi Komar semalam, bubur tim tak lumat, pisang ambon tak tersentuh dan teh manis yang meragi, di atas meja tepi ranjang.

Itulah anak perempuan yang sepanjang hidupnya, kini delapan belas tahun, bahkan lupa diberi anting-anting. Di telinganya tak lebih tergantung gulungan benang kasur, berjaga lobang tindik tak merapat, siapa tahu kelak ada dua-tiga gram batang emas. Memang benar Komar pernah ajak Mameh kecil tamasya di laut, dan dengan pongah ia mengajari gadis itu cara bikin istana pasir. Juga betul, Komar pernah suruh Mameh pergi ke tukang jahit guna pesan baju Lebaran, dan satu masa pernah juga menggiringnya melihat Pandawa Lima di bioskop. Berani bertaruh, ketika ia mati, tak satu pun itu dikenang Mameh, dan Komar yang tamat tahu itu.

Lamat-lamat suara muadzin datang dari surau di sisi timur rumah Anwar Sadat, parau milik Ma Soma, disusul suara pintupintu rumah tetangga yang terbuka, kunci-kunci diputar atau selot ditarik, dan ditutup kembali, dan suara-suara sandal diseret sepanjang gang kecil menuju surau, digonggongi anjing-anjing kampung yang terganggu dari tidur nyenyak, dan ayam-ayam jago mengepakkan sayap sebelum kukuruyuk dalam empat nada, yang terakhir panjang melenguh. Mameh pergi ke biliknya, di sana ia tidur dengan ibunya, menggugah perempuan itu memberitahu, “Ayah sedang mati.” Ibunya bangun dan memastikan lakinya sungguh mati, sewajarnya, dan tidak karena dicekik anak perempuannya.

Tapi selepas itu Nuraeni,  perempuan  ini,  malahan  pergi ke dapur dan duduk di bangku kecil  menghadapi  kompor  dan bergumam sendiri, atau bicara dengan kompor dan panci sebagai¬mana biasa. Perempuan ini rada sinting, paling tidak begitulah pikir anak perempuannya sendiri. Mameh hanya mengikutinya ke dapur, berdiri di ambang pintu, memandang keremangan dan menanti, sebab ia sendiri tak tahu apa mesti dibikin menghadapi ayah yang mati. Ia berharap Margio segera datang dan membebas¬kan mereka dari kebingungan ini, atau mereka berdua akan mem¬biarkan Komar bin Syueb terus berbaring di tempat tidurnya sam¬pai membusuk.

Dalam keheningan itu, Mameh mendengar semacam isak tangis, sedu kecil, tak meragukan itu datang dari mulut ibunya, di tengah gumaman tak ada makna. Betapa mengejutkan itu bagi Mameh, menyadari perempuan ini bisa bersedih pada suami yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk memukuli dirinya, untuk salah ini dan salah itu dan tanpa salah sama sekali. Mameh cukup yakin, jika ibunya bersedih, itu bukan karena ia mencintai Komar, tapi disebabkan oleh kebiasaan hidup bersamanya, semenderita apa pun.

Piaraan Komar yang tersisa mulai ribut di pekarangan, me¬minta jatah pakan pagi hari mereka. Semenjak Komar sekarat, tak ada lagi sayur busuk dan dedak bagi makhlukmakhluk malang itu, dan Mamehlah yang kemudian ambil alih mengurus me¬reka, hanya memberi apa yang bisa ditemukannya tersisa di da¬pur. Kini kalian ditinggal mati tuan agung ini, pikirnya, dan nanti sore barangkali menyusul untuk selamatan, seandainya seseorang berharap memberinya doa. Mameh akan merasa senang untuk memenggal leher mereka, sebagaimana berkali dilakukan Margio diam-diam.

Tangis itu masih berdengung dari dapur, dan Mameh masih berdiri di ambang pintu, serasa adegan sandiwara yang kehabisan kata-kata. Mameh hendak mengusik ibunya, memaksanya untuk berbuat sesuatu, tapi dipikirnya kemudian,  pasti  perempuan ini sama tak tahu apa mesti dibuat. Maka Mameh menyalakan lampu dapur, tombolnya ada di gudang beras. Sesungguhnya itu bukan gudang beras, hanya terdapat peti besar tempat pepaya dan pisang kadang diperam, dan selebihnya tak lebih dari dua atau tiga kilo beras yang dibeli Komar dari pasar selepas ia membabat rambut orang. Di bawah cahaya benderang, dengung tangis Nuraeni terjeda sejenak, namun tanpa bergeming ia melanjutkan karnaval kesedihannya, memunggungi Mameh menancap ke raga kompor.

Mencoba menyibukkan diri dan berpikir barangkali dengan cara itu segalanya berjalan begitu saja, Mameh mengambil  panci teman ngobrol Nuraeni dan mengambil air dari sumur. Dinyatakannya sumbu kompor, dan api yang merayap naik semakin menambah tampak wajah sembab ibunya, tiba-tiba merosot begitu tajam menjadi boneka kecil yang diremas lumat, lebih pasi dari si mayat sendiri. Mameh bertanya-tanya, seduka itukah yang dirasakan ibunya, sebab dirinya sendiri jauh lebih merasa riang daripada sedih atas berita ajal Komar bin Syueb, sambil meletakkan panci di atas kompor menjerang air, sebagaimana akan ia lakukan selepas membangunkan ayahnya setiap subuh.

Lama mereka tak bertukar kata hingga ia mendengar kembali langkah-langkah kaki orang kembali dari surau, beberapa saling bercakap, dan sempat terpikirkan untuk keluar menyambut mereka dan bilang Komar bin Syueb sedang mati, berharap mereka akan datang dan memberi sedikit pertolongan bagaimana mesti mengurus orang mati, tapi ia tak tahu bagaimana mengatakannya. Ia merasa jengah dan tak patut berkata, “Paman, ayahku sedang mati,” sebab pasti mereka akan menemukan nada riang dari kata-katanya. Mameh kembali diam hingga kaki-kaki para pejalan lenyap di rumah mereka, berdiri di belakang ibunya, berharap Nuraeni memberi sedikit gagasan, paling tidak menyuruhnya mendatangi rumah seseorang untuk memberi kabar kematian ayahnya. Ketika Marian mati, segalanya di tangan Margio. Seandainya ia tahu siapa yang harus dipanggil jika seseorang mati!

Suara-suara mulai datang dari kiri-kanan, di rumah-rumah tetangga, kala tungku dan kompor dinyalakan, dan anak-anak membuang kencing di batang pohon pisang. Piring-piring kotor berlabuh di tempat cucian, dan timba air dikerek orang dan bakbak mandi dipenuhi. Ada suara sepeda lewat, memburu pasar menenteng keranjang-keranjang kosong, atau penuh jika ia seorang penjual, dan jauh di jalan, suara lonceng kuda delman berdentang seirama dengan ketoplak sepatu besinya. Kembali anjing-anjing menggonggong, sebelum berguling di tanah pasir, melanjutkan tidur yang terpenggal. Di dapur mereka, hanya suara air yang mulai menghangat dan guncangan bahu Nuraeni yang tak ada henti.

Inilah perempuan yang sekali waktu pernah ditunggangi Komar bin Syueb dengan ganas, pikir Mameh.

Peristiwa itu telah jauh berlalu, tapi Mameh tak akan pernah melupakannya, terjadi di suatu malam yang dingin, membikin tubuh menggigil dan sepanjang malam ingin kencing. Rasa pejal yang harus ditahannya tak lagi mampu membendung bah dalam perutnya, membikin Mameh beranjak dari tempat tidur dan tak menemukan ibunya. Ia pergi ke kamar satunya, dan di sana ia hanya menemukan Margio tidur lelap serupa bangkai. Malam itu demikian kelam bikin Mameh tak ada nyali pergi ke kamar mandi seorang diri, tapi tidur Margio yang sentosa menghalangi Mameh untuk membangunkannya. Sambil bertanya-tanya ke mana ibu dan ayahnya, Mameh merayap menuju dapur yang gelap meraba-raba tombol lampu di gudang.

Malam itu Mameh tak pernah menyalakan lampu. Gudangnya diremangi oleh lampu teras tetangga yang menerobos kisi-kisi, dan di atas peti ia melihat dua sosok saling bergumul sama-sama telanjang, serupa pacuan kuda. Ia pernah melihat pacuan kuda sekali waktu, pada suatu Minggu di kebun kelapa, dan kala ia melihat bayangan di atas peti, gambar pacuan kuda berkelebat di benaknya. Di sana Nuraeni menungging, serupa kuda, dan Komar bin Syueb menyodok dari belakangnya. Mameh bisa melihat bokong Komar yang mengguncang ganas, dan setiap guncangan disusul lenguhan Nuraeni serupa sapi yang digorok leher. Itu juga datang berkelebat, sebab Mameh pernah lihat leher sapi digorok di Hari Kurban. Nyaris itu bikin ia ngompol sungguhan di tempat, melihat tubuh yang banjir peluh dan mendengar ibunya merintih sekarat disodok Komar dengan ganas. Ia merayap ke kamar mandi, menumpahkan isi perutnya, kembali ke biliknya tanpa kehendak menoleh ke gudang beras, dan tak bisa tidur setelahnya, takut ibunya mati ditunggangi ayahnya di atas peti. Bertahun-tahun selepas itu ia masih akan mengenangnya, melihat roman ibunya dengan tatapan sedih, dan memandang ayahnya dengan satu perasaan jijik tertentu.

Hal ini ditambah-tambah oleh peristiwa kamar mandi.

Tempo itu Mameh baru berumur empat belas, tengah gelo dengan gumpalan daging yang, “tiba-tiba menyodok di dadaku,” katanya. Gumpalan itu membuncit, ranum dan kemilau serupa balon baru diembus, kemerahan dengan kuncup warna cokelat. “Hendak melesat bagai pelor,” Mameh menggambarkannya dengan lebih tepat, bibirnya cemberut, sedikit rasa sebal pada tubuh yang tak tersembunyikan itu. Ia jadi gelo sebab banyak lelaki suka lirik tonjolan itu, terutama jika lubang kancingnya terkuak, meski sedikit saja. Setiap pagi, keduanya menggeliat semakin menggelembung, dan Mameh semakin gelo, serasa mereka hendak pergi tinggalkan dirinya.

Sebaliknya, hal itu berbeda di kamar mandi. Mereka memajang pengilau akbar di atas bak mandi, serasa jendela ajaib melihat dunia kembar, sisa kaca lemari yang pecah diterjang kucing. Separuh waktu mandi Mameh diboroskannya untuk berdiri telanjang mengagumi potongannya sendiri, dengan dada bengkak itu, dan Mameh serasa lengkap jadi perempuan. Ia suka daging pejalnya, memujanya, mencungkupinya dengan genggaman tangan, mengukur pertumbuhannya dari waktu mandi ke waktu mandi lain, kadang mengguncangnya sedikit, bertanya-tanya apa isi di dalamnya, serta didorong kekaguman melihat perempuan dewasa yang berjalan dan memperlihatkan dada yang bergoyang terguncang-guncang. Dadanya masih mungil, tidak bergoyang, maka ia mengguncangnya dengan tangan, begitulah.

Sesungguhnya ia berdiri di suatu dunia kecil yang rawan, sebab pintu kamar mandi tak terkunci, selotnya hilang entah. Semua orang selalu ingat akan beli selot baru kala mandi, lalu alpa setelahnya. Satu-satunya pertanda kamar mandi berpenghuni adalah gebyur air. Kala itu Mameh belum menyentuh air,  masih melayari gundukan dadanya dengan telunjuk, merasakan kegeliannya sendiri, waktu pintu terkuak mendadak, merekah dan menghentikan waktu.

Komar bin Syueb berdiri di sana, mengenakan kolor dan singlet, rokok lintingan mengepul di mulut, tangannya menggenggam erat tali kolor menangkalnya merosot, serupa monumen yang telah ada sejak berabad-abad. Mameh memekik, sejenak mengambang dan melayang, sebelum ambruk jongkok dan menguburkan wajah di celah kedua lutut. Mameh selalu berpikir momen itu sangat lama, meleret hingga lebih lama dari hidupnya sendiri. Tanpa mengangkat wajah, Mameh tahu Komar bin Syueb menutup kembali pintu, gontai berlalu dengan kaki mengangkang menahan beban kotoran yang hendak menjebol, tak ada sepatah kata jua dari mulutnya, meninggalkan Mameh yang mendadak ngompol.

Kini ayah tahu dadaku monyong, dan ada belukar di kemaluan, pikirnya. Komar bin Syueb telah membongkar semua rahasia anak gadisnya. Sepanjang tahun-tahun yang kemudian berlalu, Komar tahu Mameh berharap ia melupakan perisiwa dramatik tersebut. Komar tak pernah lupa, entah kenapa, dan Mameh tahu ia tak lupa, dengan keyakinan tertentu. Hari-hari pertama, Mameh menyingkir tak hendak bersua dengannya, dan Komar mesti geletakkan uang logam jajan sekolah di meja. Bagaimanapun ia tak ada maksud memergoki tubuh bugil anak perempuannya, tak peduli setan dan iblis sering merasuki dirinya, tapi Mameh pasti berpikir serasa dicabuli ayah sendiri. Dan dicabuli ayah sendiri tidaklah menyenangkan, membikin Komar bersiap suatu masa Mameh akan mencabiknya pakai pisau dapur. Hari demikian tak pernah datang, dan sebagaimana Margio, Mameh tak cabut nyawanya, malahan urus tubuh sekaratnya.

Maka kematian Komar membangkitkan rasa senang pada Mameh, rasa senang yang bagi dirinya sendiri aneh. Rasa senang itu semestinya datang pula pada Nuraeni, dan barangkali dengan tangis mengguncang kecil itulah ia merayakannya.

Pagi telah datang dan keduanya masih mengabaikan mayat yang terbaring kaku di tempat tidurnya, masih mengurung di dapur, kadang bergerak sedikit melepas pegal. Air telah mendidih memancarkan bunyi desing nyaring, dan Mameh telah mengentaskannya, mematikan kompor. Semestinya ia menanak nasi, tapi melihat Nuraeni tak pula beranjak dari bangku di depan kompor itu, membikin nafsu Mameh untuk memasak jadi rontok.

Di luar anak-anak sekolah telah lewat dan semesta menjadi hangat, penuh nyanyian dan polah, hanya di dalam rumah kesuraman makin menjadi-jadi oleh pintu-pintu yang masih tertutup, dua perempuan yang semrawut tak cuci muka sejak subuh, dan tak ada kehendak mandi. Waktu serasa berhenti di sana, Mameh kembali bersandar ke tiang pintu, sementara Nuraeni telah berhenti dari tangis, namun tetap tak beranjak, dan bau kematian mulai menguap bersama udara panas yang datang, menerobos langit-langit yang bolong, dan kisi-kisi dan celah dinding bilik. Hari telah pukul satu, sekonyong-konyong, ketika Mameh masuk ke kamar mandi membuang kencing, kemudian tanpa sadar melangkah membuka pintu, membiarkan cahaya siang menerobos dapur membuat silau mata keduanya, lalu kakinya melangkah tanpa satu tujuan pasti, dengan hidung mengembang menghirup aroma segar pekarangan yang rimbun oleh belukar bunga. Di teras ia berdiri, dengan pakaian yang masih kusut dan rambut tak terikat, sekilas menyerupai memedi sawah yang semalam dihantam badai menerjang-nerjang, hingga seorang lelaki tetangga, Jafar, melangkah melewati depan rumah dan berhenti memandang dandanan Mameh yang tak ada bagusnya. Mereka saling memandang, Jafar melihatnya dengan tatapan ajaib serasa gadis itu kehilangan kewarasan, sebab matanya kosong tak ada binar.

“Kenapa kau, Nak?” tanya Jafar.

Entah dari mana datangnya suara itu, Mameh sendiri tak sungguh-sungguh bermaksud mengatakannya, “Ayahku mati dan sedang membusuk.”

Sejenak Jafar mengabaikan kalimat tersebut, sebelum menyadari maknanya. “Demi Tuhan, telah berapa minggu?”

“Tadi malam.”

Demikianlah seseorang akhirnya mengambil urus mayat itu, belum sungguh-sungguh membusuk, tapi telah lembek dan bau lembab. Jafar memberitahu Kyai Jahro dan beberapa tetangga berdatangan selepas Ma Soma kasih tahu mereka dengan pengeras suara surau. Seseorang menggotong dipan dan mempersiapkan berember-ember air, dan Komar bin Syueb dimandikan dengan segera. Penggali kubur datang tergopoh membawa galah lentur dari bambu, mengukur tubuh Komar dan pergi lagi selepas meminta sebatang rokok pada sang kyai. Mameh telah berpesan kepadanya untuk buatkan kuburan di samping Marian, mewantiwanti untuk tak mengabaikan kehendak tersebut.

Bahkan sepanjang kesibukan orang keluar-masuk rumah menenteng mayat Komar bin Syueb ke teras, ke sumur, ke surau, Mameh dan Nuraeni masih sebagaimana sedia kala, memandang linglung pada semua itu. Mameh barangkali sedikit waras, ia bicara pada beberapa orang, menemui beberapa pamannya, meski tak juga mengurus diri, paling tidak menyisir rambut dan mengganti pakaian, jika tidak mencuci muka dan pergi mandi. Nuraeni, sebaliknya, masih duduk di dapur, menyadari semakin dekat waktu Komar dibenamkan ke tanah, ia kembali duka dan sesenggukan. Tak ada orang yang mengganggunya, mengetahui ketidakwarasan jiwanya yang tak disangka-sangka, dan membiarkannya sesuka hati, kecuali ia memaksa ingin ikut dikuburkan.

Itulah kala Margio kemudian datang, dengan rona wajah yang cemerlang seolah seluruh cahaya berasal dari dirinya. Semua orang bisa menangkap kesan terbuka bahwa ia senang dengan kematian ayahnya, meski ia kemudian mengambil alih pemakaman itu, menyisakan dirinya sebagai anak tahu diri, dan ikut ke surau untuk beri salat jenazah. Mameh memetik bungabunga yang tumbuh di pekarangan, seluruhnya punya Nuraeni, dan tampak jelas ibunya tak suka dengan apa yang ia lakukan, perempuan sinting ini dengan cara aneh memperlihatkan kedukaan sekaligus ketidaksudian bunga-bunga dipetik untuk si orang mati yang adalah suaminya. Tapi Mameh tak peduli, terus memetik dan mengumpulkan bunga-bunga di keranjang.

Keranda mulai datang dari surau, Komar bin Syueb telah berbaring di dalamnya, diselimuti kain keemasan dengan rumbai-rumbai perak, bertuliskan kalimat syahadat. Kyai Jahro memimpin doa di depan, dan iring-iringan orang mengekor di belakang, sedikit saja, sebagian besar kawan Margio yang baru turun dari gunung berburu babi, tak memedulikan pakaian mereka yang berlepot lumpur. Margio ada di antara mereka, persis di samping keranda ayahnya, menabur bunga yang dipetik Mameh sepanjang perjalanan. Komar bin Syueb akan dikubur di permakaman umum Budi Dharma, berteman kamboja dan cempaka, ditunggu dengan penuh marah si kecil Marian.

Mereka telah pergi, dan rumah itu kembali hening, hanya doa yang lamat-lamat menghilang menjauh, meninggalkan Mameh dan Nuraeni kembali dalam kebisuan mereka. Nuraeni telah beranjak dari dapur, tampaknya ia merasa lapar dan pegal, tapi tak ada makan tersedia bagi mereka, menyeretnya berjalan ke ruang tengah, menggelosor ke teras memandang pekarangan dengan bunga-bunga kesayangannya telah lenyap, duduk di bangku tempat Komar tadi dimandikan. Mameh mengikutinya dengan mata, masih terbayang wajah menyedihkan yang hampir mati disodok kemaluan lakinya di atas peti dan melenguh serupa leher sapi digorok, dan tiba-tiba pikiran itu meletup di kepalanya. Mameh berjalan menghampirinya, dengan suara tajam berkata.

“Ada baiknya kau kawin lagi, Bu.”

Nuraeni tersentak dan tangannya deras menampar anak perempuannya. Mameh mengelus pipinya, panas dan pedas. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊