menu

Lelaki Harimau Bab 01

Mode Malam
Satu

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana.

Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir.

Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih mujair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang. Ia tengah melemparkan dedak yang dimintanya dari penggilingan padi, serta daun singkong dan pepaya, dan ikan-ikan menyundul riang, kala ia mendengar deru mesin motor di suatu jarak, di antara deretan batang cokelat, pekak di telinganya.

Ia terlalu mengenal bunyi itu untuk memaksanya menoleh, seakrab bunyi beduk dari surau lima kali sehari, sebab ia bisa mendengarnya lebih dari itu sebagaimana telinga tetangga lain telah bersahabat dengannya. Itu Honda 70 milik Mayor Sadrah, dengan warna merahnya yang masih cemerlang, penjelajah jejalan setapak di antara rumah, mengantarkan pemiliknya ke surau, mengirim istri pemiliknya ke pasar, dan kala lain sekadar berputar-putar  di antara dinding rumah tetangga, dan setiap senja yang tak ada kerjaan, Mayor Sadrah akan membawanya berkeliling ke tempattempat yang lebih senyap.

Kini umurnya lewat delapan puluh, Mayor Sadrah itu, dengan tubuh tetap bugar. Bertahun lampau berhenti dari dinas militer, pensiun dan berdiri di hari Kemerdekaan pada rombongan para veteran, dan pemerintah kota konon telah memberinya sepetak tanah di taman makam pahlawan sebagai balasan atas pengabdiannya, yang sering disebutnya sebagai undangan untuk segera mati. Lelaki ini menggiring motornya, berbelok dan berhenti di tepi tegalan kolam, membunuh mesinnya dan mengusap mulutnya yang tersembunyi di balik kumis gelap, sebab tanpa gerakan itu serasa ia bukan dirinya. Kyai Jahro belum juga menoleh, hingga Mayor Sadrah berdiri di sampingnya, dan mereka berbincang tentang hujan badai semalam, yang untung tidak datang saat perusahaan jamu memutar film di lapangan bola, namun jelas hampir bikin patah hati para pemilik kolam.

Hujan badai semacam itu pernah datang berbulan-bulan lalu, satu minggu tak ada henti, seolah pipa-pipa pemadam kebakaran yang ada di muka bumi tercurah serentak di sana. Sungai kecil yang dijejali lebih banyak lumpur daripada arus itu meluap setinggi satu depa, melemparkan angsa-angsa yang menghuninya ke muara, dan menenggelamkan kolam-kolam dengan sempurna. Masihlah untung jika ikan-ikan itu hanya tertukar-tukar, barangkali anak tetangga sendiri yang bakalan memakannya, sebagian besar hengkang entah, dan ketika air mereda, mereka hanya disisakan bekicot dan batang pisang yang berlayar dari udik. Kyai Jahro menoleh pada Mayor Sadrah dan berkata, kini ia telah bersiap dengan jala yang akan mencungkupi kolamnya, melindungi ikan-ikan dari banjir macam mana pun.

Itulah kala seorang lelaki tua mengayuh sepeda membungkuk menghindari dahan-dahan cokelat yang terulur di atas jalan setapak dan berseru memanggil Kyai Jahro. Sepedanya melaju kencang, nyaris tanpa kendali, dan tanpa rem, namun sang pengemudi terlampau mahir untuk tidak membuatnya terjerembab. Ma Soma, ia guru mengaji anak-anak di surau, melompat sejenak sebelum sepeda membentur tegalan, dan dengan tangan menggenggam kuat stang, sepeda itu berhenti terlonjak, serupa kuda yang ditarik tali kekang. Dengan hidung tersengal-sengal, ia memberitahu mereka bahwa Margio telah membunuh Anwar Sadat. Ia mengatakannya dalam satu kesan agar Kyai Jahro bergegas untuk memimpin salat jenazah, sebab itulah salah satu tugasnya sepanjang tahun-tahun terakhir.

“Demi Tuhan,” kata Mayor Sadrah selepas satu ketercekatan kacau yang pendek. Sejenak mereka bertukar pandang, seolaholah itu sebuah lelucon dan mereka tak juga menemukan di bagian mana terdapat kekonyolannya. “Tadi siang aku melihatnya menenteng samurai bangka berkarat sisa perang. Anak celaka, kuharap ia tak mengambilnya selepas kurampas benda celaka itu.” “Memang tidak,” kata Ma Soma. “Bocah itu menggigit putus urat lehernya.”

Tak seorang pun pernah mendengar seseorang membunuh dengan cara seprimitif itu. Ada dua belas pembunuhan yang mereka kenal sepanjang sepuluh tahun terakhir sejarah kota, dan mereka mempergunakan golok atau pedang. Tak ada pistol, tak ada keris, apalagi gigitan. Ada ratusan kasus orang saling menggigit, terutama jika dua perempuan berduel, tapi  tak satu pun berakhir dengan kematian. Berita itu jauh lebih menakjubkan, disebabkan pelaku dan korbannya. Mereka terlalu mengenal baik si bocah Margio maupun si tua Anwar Sadat, dua makhluk yang tak akan terpikirkan ambil bagian dari suatu drama tragis semacam itu, tak peduli senafsu apa pun Margio ingin membunuh seseorang, dan semenyebalkan apa pun lelaki yang bernama Anwar Sadat.

Masih lenyap beberapa waktu saat mereka tercenung, serasa hilang sadar, mencium bau amis darah yang menggelosor dari leher serupa pipa ledeng yang bocor, dan seorang bocah berjalan panik sempoyongan, dihantam kesembronoannya sendiri, dengan mulut dan gigi penuh warna merah, semacam moncong ajak meninggalkan sarapan paginya. Tamasya itu, yang berkelayap di kepala mereka, terlalu memesona untuk memercayainya. Bahkan Kyai Jahro yang saleh dibikin lupa membisikkan innalillahi, Mayor Sadrah bergumam tak ada maksud, juga lupa mengusap mulutnya yang ternganga, sementara Ma Soma jemu berdiri di tentang keduanya. Ia mengangkat sepeda itu berbalik, memberi pertanda pada mereka untuk bergegas, dan bergeraklah mereka, menjadi lebih panik seolah pembunuhan itu belum terjadi dan mereka hendak mencegahnya.

Adalah benar Mayor Sadrah melihat bocah itu menenteng samurai tadi siang di pos ronda, saat ia masih mengenakan sarung pulang dari salat di surau. Semua orang membicarakan samurai itu sekarang, menjelaskan bahwa niat membunuh itu telah jauh ada di kepalanya. Pos ronda itu berdiri di tengah permukiman, di depan pabrik batu bata yang tak lagi hidup dan hanya menghasilkan belukar serta anak-anak jin. Samurai itu tergantung di tangan si bocah, yang berjalan lalu lalang di sekitar, meninggalkan garis sengkarut di tanah. Lain waktu ia duduk di bangku, menebas-nebaskan samurai ke kentongan kayu dan tiang, tanpa menyisakan jejak terkelupas. Beberapa orang melihatnya, dan tak peduli, sebab samurainya telah rongsok dan berkarat, tak akan mempan mengiris leher ayam paling pesakitan sekalipun.

Selepas perang puluhan tahun lampau, ada banyak samurai ditinggalkan Jepang dan dipelihara orang-orang sebagai hiasan dan jimat, namun sebagian besar terbengkalai dan rusak oleh udara penuh garam, sebagaimana diingat Mayor Sadrah. Barangkali Margio menemukannya di pembuangan sampah, atau terselip di satu tempat di dalam pabrik batu bata. Mayor Sadrah melihatnya dan tak mengabaikan serongsok apa pun benda itu tetaplah sebuah samurai, meskipun ia tak memberi kecurigaan berlebihan bocah itu berniat bengis menghentikan hidup Anwar Sadat. Tak ada tanda-tanda mereka berselisih, sebanyak yang diketahui semua orang di sekeliling rumah mereka.

Ia meminta samurai itu lebih karena khawatir Margio mabuk arak ketan putih dan membikin keributan yang tak perlu. Anakanak ini doyan mabuk, dan tak terhitung berapa banyak masalah sepele datang karena itu. Ia tak membunuh orang dengan samurai rongsok tersebut, tapi barangkali mabuk membuatnya memukul anjing tetangga, dan si tetangga balas melemparnya dengan batu, dan meletuplah keributan. Lagi pula tadi malam perusahaan jamu memutar film di lapangan bola, dan di setiap kerumunan selalu mengancam iblis culas memancing perkelahian anak-anak, yang akan bertele-tele hingga esok dan berhari-hari kemudian. Bagaimanapun Mayor Sadrah punya alasan cukup untuk mencemaskan samurai telanjang yang ditenteng orang di tepi jalan, tak peduli sejinak apa pun benda itu.

“Kenapa?” tanya Margio, enggan menyerahkan mainannya. “Lihat, sekadar besi tua tak ada guna.”

“Tapi kau bisa bunuh orang dengan itu jika kau mau,” kata Mayor Sadrah.

“Itulah maksudku.”

Bahkan meskipun anak itu dengan jelas berkata bermaksud membunuh orang, Mayor Sadrah mengabaikan pesan yang gamblang tersebut. Ia membujuknya, dan setelah satu ancaman akan membawanya ke rayon militer, ia berhasil memperoleh samurai itu dan membawanya pulang, melemparkannya begitu saja ke atas kandang anjing di belakang rumah.

Sepanjang sore Mayor Sadrah segera melupakan episode samurai berkarat tersebut, tak melihat tanda-tanda petaka, barangkali karena ia telah sepuh dan tak lagi waspada. Kini ia rada menyesal telah merampas senjata tak ada guna itu. Dengan senjata usang di tangan Margio, barangkali Anwar Sadat tak akan mati berapa kali pun itu menebas lehernya, kecuali menyisakan memar dan patah tulang. Ia bergidik membayangkan bagaimana bocah itu memeluk Anwar Sadat dan rahangnya kuat mencengkeram leher.

Sore itu ia telah menyuruh anak-anak tersebut untuk rehat, jika perlu bersenang-senang di akhir pekan mencari betina, sebab besok pagi ia akan mengajak mereka berburu babi seperti biasa. Biasanya mereka menurut, tak mabuk di Sabtu malam ketika musim berburu datang, sebab mereka tak akan diajak atau hendak menyerahkan diri pada moncong dan taring babi. Mereka akan berbondong-bondong ke pesisir, menyeret betinabetina liar, atau menemui perempuan baik-baik di rumah mereka, dengan sekantung jeruk dan senyum malu-malu. Mereka akan pulang sebelum pukul sepuluh, menjadi begitu manis dan patuh demi babi, dan tidur pulas hingga muadzin membangunkan mereka di kala subuh. Anak celaka, pikir Mayor Sadrah atas ingatannya pada Margio, bukannya rehat dan bersiap untuk perburuan berikut, malahan ia pergi ke rumah Anwar Sadat dan membunuhnya, meski semua orang sering berpikir Anwar Sadat sedikit mirip dengan babi.

Perburuan babi itu telah menjadi kesenangan mereka sejak tahun-tahun yang tak lagi diingat, masa ketika Mayor Sadrah masih pemimpin militer di kota mereka. Anwar Sadat sendiri penuh antusias di setiap musim panen berakhir kala orang tak lagi terikat pada tanah yang sejenak dibiarkan gembur kembali, meski dirinya tak pernah ambil bagian mengangkat tombak dan berlari naik-turun bukit, namun selalu menyediakan bagi mereka truk yang mengangkut rombongan hingga tepi rimba raya, serta nasi kotakan berlauk telur mata sapi. Tiga kali setahun mereka memperoleh kemeriahan ini, sekali musim pergi dua atau tiga kali di hari Minggu yang tak berbadai, dan di antara itu mereka menjinakkan ajak-ajak petarung dan melatih mereka mengurung mangsa.

Di antara gerombolan pemburu yang hingga tahun-tahun terakhir masih dipimpin Mayor Sadrah, Margio bolehlah disebut jagoannya. Ia masih punya warisan luka di punggungnya disabet taring babi, namun semua kawannya tahu berapa babi menyerah diterjang tombaknya, sebelum diseret ke arah perangkap dan dijebak hidup-hidup. Mereka tak menginginkan babi yang mati, maka meskipun tubuh telah berhadap-hadapan dengan babi yang meradang, mereka tak akan berusaha membunuhnya. Mereka akan melukainya, sedikit saja, sebelum memaksanya terjebak. Di antara perburuan yang penuh muslihat melawan binatang yang jelas tak ada otak itulah, Margio dikenal sebagai penggiring, dengan larinya yang tangguh dan tombaknya yang tanpa ampun. Mereka tak menginginkan babi mati, sebab mereka akan mengadunya dengan ajak dalam satu pertunjukan umum selepas musim berburu berakhir. Tak banyak yang punya cukup nyali mengambil tugas sebagai penggiring, yang mesti berlari sama cepat di samping si babi, dan dengan cara itulah Margio dipuja.

Beberapa minggu ke belakang, Mayor Sadrah mendengar kabar buruk itu, ketika seseorang memberi tahu Margio minggat. Minggat, sebab tak seorang pun di rumahnya tahu ke mana ia pergi, pun kawan-kawan mainnya tak ditinggali pesan macam mana pun. Beberapa kawan sempat mencarinya ke pesisir, tempat ia sering menghilang dan ikut nelayan menarik jaring atau berburu ikan pari, namun tak seorang pun di sana mengetahuinya. Itu waktu-waktu ketika satu rombongan sirkus berhenti di lapangan bola dan membuat pertunjukan selama dua minggu, dan akhirnya semua orang bersepakat barangkali Margio ikut rombongan sirkus tersebut ke kota-kota yang tak tentu. Ini membuat panik Mayor Sadrah yang telah bersiap dengan ajak-ajak bengis menyongsong musim perburuan, sebab tempat penggiring itu hampir pasti tak tergantikan. Demikianlah perburuan pertama minggu lalu berakhir mengecewakan, mereka hanya menangkap dua ekor babi yang terperangkap lebih karena kecerdikan ajakajak, hingga di hari yang sama mereka mendengar Komar bin Syueb mati.

Lelaki itu ayah Margio, dan kematiannya membuat si anak hilang kembali ke rumah. Tak ada yang lebih senang dengan kepulangannya selain Mayor Sadrah, sakit hati pada beberapa ekor babi yang lolos gemilang. Namun tempo itu pun Mayor Sadrah tak berani mengajaknya kembali masuk hutan Minggu berikutnya, menghormati hari-hari berkabung bocah itu. Ia datang saat rombongan perburuan turun dari truk, dengan dua ekor babi di dalam sangkar menguik-nguik, dan puluhan ekor ajak terikat satu sama lain oleh tali kulit. Ia melambaikan tangan pada mereka, namun saat itu ayahnya belum juga dimakamkan.

Namun, tak lama selepas pemakaman Komar bin Syueb, Margio telah datang ke rumah Mayor Sadrah dan menepuk ajakajak di pekarangan rumah penuh sayang. Ia jongkok di sana, mendekapi binatang itu satu-satu, membersihkan kotoran di telinga mereka, dan membiarkan binatang-binatang itu menggigit ujung celana dan sandal jepitnya. Tak ada aroma berkabung sedikit jua di wajahnya, malahan ia begitu senang tak kepalang, seolah memperoleh taruhan besar tak disangka-sangka.

Telah lama Mayor Sadrah tahu bocah itu tak akur dengan ayahnya, dan barangkali berharap melihatnya mati. Ia telah mengenalnya sejak keluarga itu pertama kali datang dan Margio masihlah bocah ingusan yang menenteng kantung kelereng dan mengadu bersama kawan-kawan sebayanya. Ia juga mengenal ayahnya, dan telah sering melihatnya bagaimana lelaki bengis itu memukul si bocah untuk kejahilan-kejahilan sepele. Bocah itu terlalu lugu untuk menyembunyikan rasa senangnya, pikir Mayor Sadrah, dan saat si bocah melihatnya datang, Margio tanpa ragu bertanya apakah masih ada perburuan minggu depan. Ia ingin ikut, bahkan meskipun harus menenteng bekal dan tak diberi tempat sebagai penggiring.

Tentu saja Mayor Sadrah memberinya tempat sebagai penggiring. Namun sudah jelas Minggu besok ia tak akan ada di sana, menggiring babi sebagaimana maunya. Anak celaka, pikir Mayor Sadrah. Sewaktu Mayor Sadrah membawa pulang samurai itu, menopangnya di bahu dengan kaki diselimuti sarung serasa hidup di zaman kalifah penuh perang, tak terpikirkan olehnya Margio akan ambil bagian jika memang ada perkelahian. Ada banyak perkelahian anak-anak, mabuk atau tidak. Mereka begitu mudah bikin perkara, hanya karena salah senggol di depan panggung dangdut, atau kepala menghalangi gambar di film layar tancap, atau disebabkan gadis pujaan hati berjalan dengan lelaki lain. Hidup damai sepanjang sejarah republik dan segala urusan perang diurusi para prajurit membuat anak-anak itu terlalu sembrono mengumbar perkelahian, katanya suatu waktu. Selama bertahun-tahun memimpin militer kota, tugas paling menyibukkannya adalah melerai perkelahian-perkelahian ini. Bahkan sejauh yang ia tahu, dalam perkelahian-perkelahian ini Margio tidaklah menonjol, meskipun semua orang tahu ketangguhannya.

Ia anak pemurung yang tak betah di rumah, tapi sesungguhnya anak yang manis dan santun. Ia tak terlalu bodoh menyianyiakan kekuatan tubuhnya dalam perkelahian, dan sepanjang hari mengambil kerja serabutan untuk menyia-nyiakannya dalam bungkus rokok dan botol bir, tapi tetap saja ia anak manis meski pemurung. Semua orang tahu ia membenci  ayahnya,  dan semua yakin ia bisa menghabisinya, tapi sampai Komar bin Syueb mati ia tak pernah mencobanya sedikit pun. Ia sungguh tak banyak polah. Maka ketika mendengar Margio membunuh, bagaimanapun Mayor Sadrah masih belum memercayainya.

Keyakinan bahwa anak itu tak berbahayalah yang kemudian membuatnya lupa siang hari itu Margio telah mengungkapkan maksudnya membunuh orang. Ketika sore datang, selepas memberi ajak-ajak itu dengan goreng jeroan ayam yang diperolehnya dari tempat pemotongan, ia mengeluarkan Honda 70 itu. Motor tersebut diperolehnya bertahun-tahun lampau dari kepala polisi, tanpa surat-surat dan plat nomor namun percayalah tak sekali pun memperoleh surat tilang. Kepala polisi barangkali menyitanya dari tangan pencuri, dan berbulan-bulan tak seorang pun mengakuinya, hingga beralih ke tangan Mayor Sadrah. Banyak motor serupa itu, hingga seringkali kepala polisi menawari lelaki tersebut motor-motor dari jenis-jenis yang lebih baru, namun Mayor Sadrah bertahan dengan bebek tuanya. Barangkali kesan kunonya yang ia sukai, meskipun mesinnya sering ngadat dan suaranya lebih pekak dari mesin penggiling padi.

Ia akan berkeliling kota hingga tepi pesisir dan tegalan-tegalan sawah, jalan setapak perkebunan, tanpa helm dan hanya mengenakan sandal jepit. Ia menyukai angin sore, memuja tamasya kotanya, membalas orang-orang yang menyapa di tepi jalan. Sekali dua ia berhenti di bengkel, meminta orang mengencangkan sekrup-sekrup motornya, lain kali berhenti di warung dan meminta segelas kopi, sebelum kembali berkelana dengan pipa mengepul di mulutnya mengalahkan kepul knalpot. Ia hanya hendak mampir sebentar waktu melihat Kyai Jahro di kolamnya, ketika tamasya sore itu mesti berakhir dengan kabar yang dibawa Ma Soma.

Mayor Sadrah segera memburu motornya yang tergolek di batang kelapa, mengangkang di atasnya dan berusaha mengengkolnya, susah payah selalu begitu, dan beberapa kali hidup untuk mati lagi. Kemudian, sekali ada kesempatan mesinnya hidup, ia menahan gas kencang, membuat mesinnya menderu-deru serupa genderang kaleng. Ia memberi isyarat pada Sang Kyai untuk segera duduk, cemas mesin mati lagi, dan Sang Kyai terhenyak di belakangnya selepas mencuci tangan dan kaki di pancuran, serta melemparkan pakan tersisa ke dalam kolam. Motor itu bergerak merangkaki setapak membukit, licin oleh hujan semalam, tampak payah kelebihan beban, lebih ringkih dari keledai demam, hingga kaki keduanya mesti menggapai tanah kasih bantuan tenaga. Lajunya sedikit kencang kala bertemu jalan lurus-datar di tepian lapangan bola, diikuti Ma Soma dengan sepeda onta di suatu jarak.

“Mencuri ayam, itulah satu-satunya kelakukan jahil anak itu,” kata Kyai Jahro. “Dan ayam-ayam itu milik ayahnya sendiri.”

Dan itu bukan lagi rahasia. Semua orang di kampung itu tahu Margio sering mencuri ayam ayahnya, bukan karena butuh ayam itu, tapi lebih karena jengkel pada ayahnya. “Tak tahulah aku apa isi usus anak itu hingga terpikir menggerogoti leher orang,” kata Mayor Sadrah.

Anwar Sadat sendiri kini mengambang kaku di lantai ruang tengah rumahnya yang benderang namun murung oleh duka tanpa ampun, penuh senggukan isak perempuan-perempuan cengeng, tenggelam di balik kain batik cokelat. Kain batik itu bergelombang mengikuti bentuk tubuhnya, digenangi kuyup warna merah, dan darah itu masih juga mengapung di lantai. Beku dan gelap. Tak seorang pun punya nyali membuka tirai yang memisahkan dunia hidup dan mati itu, sebab mereka tahu di sana ada luka menganga, koyak, lebih bengis dari segala hantu. Memikirkannya pun telah bikin orang mual dan menyingkir.

Ada dua orang polisi datang bersama mobil patroli dengan lampu masih berputar-putar merah, meski sirinenya telah mati dibunuh. Keduanya termangu di pintu, hanya mereka berdua yang sempat menyingkap kain tersebut, sejenak saja, sebelum bergegas menutupnya kembali dan tak beroleh kesempatan membawa mayat itu untuk satu pemeriksaan, kini masih di sana tak ada kerja dan hanya cari-cari muka. Istri Anwar Sadat telah menolak pemeriksaan macam apa pun atas mayat tersebut. Itu benar, semua orang tahu dengan cara apa lelaki itu mati, dan tahu pula siapa yang melakukannya. Anwar Sadat tak membutuhkan pemeriksaan, dan satu-satunya yang harus diberikan kepadanya tak lain adalah memandikannya, menyumpal luka itu dengan kapas, menyalatkannya, dan segera menguburkannya.

Tampaknya ia tak akan dikuburkan sampai besok pagi. Maharani, anak bungsunya sekolah di luar kota dan tak akan datang sampai besok subuh. Cukup dramatis, sebab gadis itu masih di rumah ini semalam. Ia ada di sini sepanjang minggu mengisi liburan panjangnya, sebelum sekonyong pamit pergi tadi pagi. Orang-orang harus membayangkan tragedi itu sampai ke pondokan Maharani, saat si gadis barangkali masih kecapekan dan tengah memuntahkan isi tasnya. Ia akan memasukkan barang-barang itu kembali ke tas, atau mengabaikannya sama sekali, dengan banjir air mata dan beribu pertanyaan sebab tahu pasti ayahnya masih bugar saat ditinggalkannya. Tak seorang pun memberi tahu Anwar Sadat dibunuh, hanya pemberitahuan singkat bahwa ia mati, dan kini si gadis barangkali tengah mengejar bis atau kereta terdekat.

Di rumah duka, beberapa perempuan bergerombol memenuhi pekarangan dan teras rumah, berbisik satu sama lain dan membikin-bikin cerita sendiri di antara mereka. Ada halaman luas di depan rumah, berhias lima batang kelapa cina dan sebatang belimbing tempat anak-anak kecil bermain, di sana  ada ayunan ban mobil tergantung di dahannya. Di tepi jalanan ada flamboyan yang agung dengan sampah kelopaknya terserak di hamparan rumput jepang serupa karpet, tempat anak-anak kecil bertarung dan berguling-guling dan segerombolan kalkun berkeliaran. Di kedua sudut terdapat kolam kecil, dengan ikanikan mas gemuk serta bunga padma, dan air mancur mungil memercik-mercik. Di tepian kolam dan di tengahnya terdapat beberapa patung batu, perempuan-perempuan setengah telanjang mencuci baju dan anak-anak yang berenang pura-pura, semuanya dihasilkan dari tangan penuh bakat Anwar Sadat sendiri.

Satu lagi karya seninya yang dikenali tetangga adalah kentongan kayu berbentuk penis tergantung di depan rumah. Itu pengganti bel bagi tetamu. Bertahun-tahun lalu ia datang sebagai jebolan institut seni, menjual lukisan di pinggir pantai, sebelum kawin dan menetap. Ia selalu bilang sebagai pemuja Raden Saleh, dan memajang beberapa reproduksi pelukis agung itu di rumahnya, termasuk pertarungan harimau dan banteng itu, dan tanpa malu-malu meniru semua metodenya. Ia sama sekali tak terganggu oleh kenyataan reputasi seninya hanya dikenal di antara orang sekitar rumah belaka.

Ia kawin dengan seorang gadis calon bidan, yang suatu kali datang kepadanya minta dilukis potret, pewaris hampir separuh tanah desa dan hanya seorang janda tua bernama Ma Rabiah semasa hidup bisa memecundanginya dalam kepemilikan atas tanah. Lukisan itu membuat si gadis jadi jauh lebih cantik dari aslinya, dan si gadis jatuh cinta kepadanya. Anwar Sadat tak membiarkan si gadis patah hati dan sesegera mengawininya, dan menemukan dirinya cukup kaya untuk tak lagi terlalu bernafsu mengejar kemasyhuran seni macam apa pun, ditopang warisan sang istri yang kemudian bekerja sebagai bidan di rumah sakit. Tapi tentu saja ia masih melukis dan membuat patung, sebagian besar lukisan potret orang yang dikenalnya, dan tiruan-tiruan sembrono atas mahakarya Raden Saleh. Mayor Sadrah termasuk yang masih memiliki potret dirinya di rumah, namun lebih banyak perempuan-perempuan cantik ditumpahkan ke atas kanvasnya.

Di tengah waktu luangnya yang melimpah-limpah, sebab sesungguhnya ia tak punya pekerjaan sejak berhenti menjual lukisan, ia merupakan teman bermain catur Mayor Sadrah, sponsor klub sepak bola kota, dan berburu perempuan. Kelakuannya yang terakhir, dilakukan lebih bergairah daripada melukis, menemukan gadis-gadis dan meniduri mereka, kadang-kadang janda dan istri orang jika mau. Ini juga bukan rahasia, sebab  tak banyak rahasia tersimpan di telinga penduduk kota. Meski begitu, kesan tanpa moral dalam dirinya tak menyembunyikan rasa hormat orang padanya, dan di setiap pertemuan mereka akan melimpahinya kesempatan berpidato, dan ia selalu tampak sebagai tukang bicara yang cerdas. Ia pandai bergaul, dan dengan cara inilah orang memaafkannya, ditambah kenyataan kebanyakan sahabatnya juga tidak menjalani hidup dengan baik.

Pagi itu tak satu orang pun melihat malaikat maut telah bertengger di bahunya. Ia setan bahagia yang tak pernah terlihat muram, seolah tahun kematiannya tak pernah dicatatkan. Ia datang ke warung serabi untuk sarapan, sebagaimana biasa, dan berdesak-desakan dengan anak-anak berseragam sekolah yang cemas lonceng sekolah segera berdentang. Semua orang yang bertemu dengannya bisa mendengar leluconnya yang penuh semangat, dengan mulut dijejali goreng tempe dan serabi. Anwar Sadat duduk di bangku kecil itu, di depan tungku yang membara, sementara si penjual menuang adonan ke cobek di atas tungku, membolak-balik gorengan di wajan penuh minyak mendidih, dan Anwar Sadat menjawili dagu gadis-gadis berseragam sekolah hingga mereka merengek akan kecabulannya, menjauhinya sebab ia bisa dengan tiba-tiba menyosor mencium pipi mereka. Mereka masih akan mengingatnya dengan baik, ia mengenakan kolor putih polos dan singlet Toko Mas ABC. Tubuhnya tambun dan sedikit loyo, disebabkan waktu dan kekurangan gerak, meski ia akan membanggakan kemaluannya yang sekukuh tanduk, dan tak menyembunyikan semangatnya yang meletupletup. Pagi itu ia bicara banyak mengeluhkan anak bungsunya, yang baru saja menjinjing tas melenggang ke terminal bis tak mau diantar dan memutuskan pergi meninggalkan sisa liburan tanpa alasan.

Semalaman, selepas melihat film di lapangan bola, gadis itu tak mau bicara dengan siapa pun. Ia tak menyentuh makan malamnya, tidak menongkrongi televisi sebagaimana biasa, dan sepanjang malam tak membiarkan radionya berbunyi, juga sebagaimana biasa. Ia bahkan tak keluar tengah malam untuk buang air, dan Anwar Sadat bertanya-tanya gadis itu tampaknya tak juga salat Subuh, sebab setahunya si bungsu itu cukup saleh. Ia keluar dari kamar pagi itu, tidak juga bicara, dengan mata murung berkaca-kaca. Anwar sadat tak tahu apa yang terjadi, dan takut mengajukan pertanyaan, takut gadis itu dongkol kepadanya dan pertanyaan hanya membuat kemarahan meledak tak karuan.   Ia bertanya-tanya apakah ia telah berbuat suatu dosa, dan tak menemukan apa pun. Si bungsu hanya lewat di mukanya, menenteng handuk dan ke kamar mandi. Ini di luar kebiasaan pula, sebab Maharani tak menghabiskan banyak waktu di sana, masuk kamar dan berias seadanya, seolah terlalu percaya dirinya secantik semestinya. Tapi kemudian ia keluar menenteng tas, tanpa sarapan pagi, dan berkata pendek, “Aku mesti pergi.”

Mata sendu dan wajah murung itu seolah mengerti ayahnya akan mati di sore hari. Tapi ia meninggalkan Anwar Sadat begitu rupa, tak mau diantar ke terminal bis, seolah waktu begitu melimpah bagi mereka untuk berjumpa kembali. Bagaimanapun Anwar Sadat tak berhenti mengeluhkan  kepergian  Maharani di warung serabi itu, mengatakannya tidak dengan cara yang sedih, meskipun benar ia sedih dengan kepergian anak gadis itu, namun lebih ketara sebagai upaya tak tersembunyikan untuk membanggakan anak bungsunya.

Anwar Sadat punya tiga anak perempuan dari istrinya, yang lahir di awal-awal perkawinan mereka kala keduanya masih penuh nafsu untuk saling menghabisi di tempat tidur. Bertahuntahun kemudian banyak orang lupa pada nama perempuan ini, Kasia, dan lebih mengenalnya dengan sebutan yang lebih umum sebagai Bu Bidan. Anwar Sadat beruntung tak punya anak dari gundik-gundiknya, sebab anak-anak haram jadah selalu akan jadi petaka sebuah keluarga daripada gundiknya sendiri. Hasratnya untuk berlaku nakal, tampaknya sempurna diwariskan pada anak-anaknya, selain tanpa ragu dunia juga mewariskan wajah menarik untuk mereka.

Lelaki ini tampan selengkapnya, telah memesona banyak gadis sejak kedatangannya dahulu kala, bahkan di umur tua ketika tubuhnya membengkak dan rambutnya tinggal segenggam demi segenggam, ia tetap pujaan para pecinta liar. Ketampanan ini merupakan suatu kontras yang ajaib berhadapan dengan istrinya. Kasia berhidung bengkok serupa paruh beo, dengan rahang yang terlalu tinggi, ditambah sikap dingin ningratnya, yang membuatnya tampak lebih sebagai penyihir jahat daripada putri ayu, meski tentu saja ia sesungguhnya tak buruk-buruk amat, namun jelas ia jenis perempuan membosankan bagi kebanyakan lelaki. Banyak orang percaya seniman kapiran ini mengawininya lebih karena uang yang dimilikinya, dan dengan uang itu Anwar Sadat bisa meniduri banyak perempuan, sebagian besar akhirnya diketahui si istri yang memilih tak peduli, sejauh ia tak bikin anak di tempat lain.

Si sulung Laila mewarisi kenakalan semacam ini sepenuhnya. Cantik dengan dada yang menyerobot menggoda, kulit selembut potongan keju, dengan wajah lembab dan sedikit keangkuhan pura-pura. Pada umur enam belas tahun, ia sudah terlalu montok sebagai anak sekolah, dada dan pahanya jadi sasaran jahil teman lelaki dan gurunya, hingga suatu hari ayahnya menemukan gadis itu telah bunting. Anwar Sadat berlepotan cari dukun untuk mengeluarkan isi perutnya, sebab istrinya tak mau melakukan itu, dan sekolah tak mau menerima gadis bunting. Segera setelah ia keluar dari sekolah, Anwar Sadar segera menggiringnya ke hadapan penghulu, disandingkan dengan teman sekelas yang konon menanam benih, namun dua hari setelah perkawinannya, teman sekelas itu memergoki Laila di tempat tidur bersama lelaki lain.

Itu skandal kota paling menghebohkan, yang membikin Anwar Sadat sendiri merah mukanya, dan Kasia menghilang beberapa hari ke rumah kerabat. Kedua lelaki itu, yang meniduri Laila dua hari setelah perkawinan dan si teman sekelas, kemudian hengkang meninggalkan dirinya. Sejak itu orang menyebutnya sebagai Si Janda dengan bisikan tambahan, “ia bisa dipakai.”

Maesa Dewi, adiknya dan yang tercantik di antara mereka bertiga, bagaimanapun tak sekurang ajar itu. Ia tak semontok kakaknya, dengan roman lembut misterius, dan penampakan yang lebih santun, dan penampakan lahiriah ini masih bertahan sampai hari ketika Anwar Sadat mati, dan barangkali hingga bertahun-tahun kemudian, sebab begitulah dirinya. Maesa Dewi menyelesaikan sekolah tanpa keributan, semua orang percaya   ia masih perawan saat itu, hingga ia membujuk ayahnya untuk mengirim dirinya sekolah ke universitas dan pergi. Si Cantik ini, di luar dugaan telah pulang dalam setahun tanpa gelar diploma apa pun, malahan menenteng bayi merah dan seorang pemuda pengangguran yang kemudian kawin dengannya. Tak seorang pun berbisik tentangnya bahwa ia bisa dipakai, sebab tampaknya ia hanya tidur dengan pemuda itu dan tidak dengan yang lain. Tapi kedua kasus anak perempuan ini telah membangkitkan kecurigaan orang-orang yang berpikir dirinya saleh bahwa mereka memang nakal dan tak karuan.

Dengan sedikit hasrat moral yang tersisa, itulah bagaimana Anwar Sadat menyayangi dan memuja anak bungsunya, yang tak menunjukkan kecenderungan nakal berlebihan. Setiap semester ia membawa laporan guru yang memuji-muji kecerdasannya, yang tak pernah diperbuat kedua kakaknya, dan satu-satunya dari rumah itu yang dibawa sekolah untuk lomba matematika. Anwar Sadat telah berhasil membujuk istrinya untuk menjual sepetak tanah guna mengirimnya ke universitas, meskipun Kasia tak lagi percaya ada yang waras di antara ketiga anak perempuannya, sebagaimana orang-orang masih sering bertaruh suatu hari Maharani akan pulang membawa bayi merah, tak peduli mereka telah mengenal gadis itu dan tak ada tanda-tanda ia akan membawa bayi merah.

Dan gadis inilah yang tanpa henti dibicarakan Anwar Sadat di warung serabi setelah kepergiannya yang tergesa. Ia menceritakan hal-hal remeh yang dibawa pulang liburan anaknya. Maharani meninggalkan pisau lipat untuk ayahnya, sisir besar untuk ibunya yang berambut ikal, dan kotak musik bagi keponakan kecilnya. Tanpa ragu Anwar Sadat menceritakan lelucon-lelucon yang dibikin si gadis, meskipun sebagian orang telah mendengarnya langsung dari mulut Maharani sepanjang liburan itu. Kasia telah berusaha menyumpal bualan berlebihan ini, dan kedua anak perempuannya tak menyembunyikan api kecemburuan mereka, tapi hanya Margio tampaknya yang bisa menghentikannya.

Kini ia berbaring mati, menanti kuburannya selesai digali dan keranda dibersihkan, dan terutama menunggu anak bungsunya kembali, untuk memamerkan luka menyedihkan itu seolah berharap tangis yang lebih kencang, lebih sedu dari yang telah diberikan Kasia, Laila, dan Maesa Dewi. Lihatlah mereka, Kasia duduk sayu, lebih kusut dari hari biasanya, bersimpuh di lantai menggigiti ujung kain yang bergelung di pangkuannya, tak ada yang tahu mengapa ia membawa kain, barangkali ia ingin ikut tenggelam dalam kematian. Dan di sampingnya Si Janda Laila, mencoba menghibur ibunya dengan cara sia-sia, sebab dirinya sendiri membutuhkan satu penghiburan, baru terbangun dari ambruk yang tak sadar sebelum orang memercikkan air putih ke mukanya. Yang paling terguncang adalah Maesa Dewi, masih menggerung dengan tangis meletup-letup, serasa ada air mendidih di dalam lambungnya, mendekap bayi kecilnya yang menangis tak karu-karuan, sebab perempuan inilah yang pertama melihat Anwar Sadat terpenggal leher.

Perempuan pelayat menambah-nambah beban duka tersebut, mengiringi mereka dalam tangis yang lebih lirih, lebih sendu, serupa paduan yang membagi siapa yang mesti meraung lebih kencang. Mata mereka bengkak membiru, bahkan masih bisa bersedih pada lelaki yang jelas tak setia itu. Dan orang-orang ini, tak seorang pun sejak Ma Soma yang masih berkeliaran di sekitar surau menemukan mayat Anwar Sadat, membawanya dari tempat pembunuhan di dekat sofa dan menutupinya dengan kain batik tersebut, mengambil urus mayat itu semestinya, sementara Ma Soma ambil sepeda dan mencari Kyai Jahro. Kain itu ia temukan di kamar lukisnya, ditulis berdasarkan rancangannya sendiri, tak akan pernah dibayangkan Anwar Sadat itu dibuat untuk menutupi mayatnya. Hingga kemudian Kyai Jahro dan Mayor Sadrah datang, dan orang-orang menoleh pada mereka bagai mata yang memohon ampun, atau barangkali berharap pertolongan. Sang Kyai masih berkerabat dengan istri Anwar Sadat, dan dengan segera mengambil kendali atas rumah duka itu.

Bersama Mayor Sadrah, ia menggotong tubuh tersebut, tanpa menanggalkan tirai penutupnya, membentuk bayangan jejak merah dari rumah ke halaman. Beratnya mencapai delapan puluh kilo, pikir Mayor Sadrah, seandainya itu seekor  babi pasti habis dicabik ajak. Mereka membawanya ke bangku di  tepi sumur, telah dipersiapkan Ma Soma bersama setumpuk handuk, sabun sulfur, dan air kembang, serta tak lupa borak. Di sanalah Sang Kyai membuka kain penutup, perlahan seolah akan memperoleh kejutan tak ada sangka-sangka, disaksikan beberapa lelaki, terkuak dan mempertontonkan rahasianya. Meluncur istigfar dari mulutnya, berkali-kali mohon ampun, yang  lain ikut bergumam, demi melihat luka tercabik-cabik di leher yang pasi. Mereka menjadi saksi darah itu masih menggelontor tak ada habis, beriak-riak, dengan gelembung udara meletup-letup. Tamasya itu memualkan, lebih bengis dari mimpi buruk, bikin beberapa orang menyingkir.

Mayor Sadrah memeriksanya, didorong rasa takjub yang kekanak-kanakan, berharap tahu dengan cara apa Margio telah menghabisinya, dan benar adanya urat leher itu telah putus, menggelayut serupa kabel radio yang poranda. Lebih ganas dari yang kubayangkan, pikirnya, demi melihat leher itu sesungguhnya hampir putus. Seperti penyembelihan yang tidak tuntas. “Ayahnya mati beberapa hari kemarin menyusul anak kecilnya yang lewat seminggu selepas dilahirkan,” kata Kyai Jahro. “Kupikir bocah ini jadi gila.”

“Tanpa alasan apa pun, ia gila menggigit orang dengan cara ini,” kata Mayor Sadrah.

Udara menjadi dingin dan di kejauhan Mayor Sadrah mendengar ajak-ajaknya mulai melolong minta dikandangkan, atau mereka telah mencium bau amis darah ini dibawa angin senja ke hidung pemakan daging mereka. Sebelum gelap merayap turun dan menjejak di tanah, Kyai Jahro menyuruh orang mengangkut berember-ember air, maka bunyi pompa menderu menumpahkan air, dan Ma Soma datang setelah menghilang sejenak bersama berkantung-kantung kapas. Kyai Jahro sendiri yang membasuh luka tersebut, dengan cara demikian khidmat, percaya ia bisa menghentikan arus merah tak ada henti itu, seolah rekahan tersebut sekadar luka kesandung anak kecil, dan mulutnya bergumam memanjatkan doa. Sikap dinginnya bahkan membuat Mayor Sadrah yang teruji ganasnya perang gerilya, dan pernah melihat mayat hidup yang lebih poranda diterjang mortir, terpesona tanpa pamrih. Hampir saja dikatakan untuk tidak ambil peduli atas luka tersebut, mengingatkan Sang Kyai bahwa mayat itu pada akhirnya akan membusuk di dalam kuburnya.

Tangan Sang Kyai masih menari, menyambut gumpalan kapas dan membenamkannya di sana, seketika berubah warna demikian dramatis, sebelum membalutnya, menyembunyikannya di balik kain kasa, dan kini itu tampak serasa luka kecil manusia hidup, dengan kain kasa melilit sebagai kalung. Sementara ia bekerja, orang-orang memandikan mayat tersebut, menelanjanginya dari pakaian, menggosoknya dan membiarkannya wangi kembang. Ada bau borak menguap dari tubuhnya, mengambang kelabu di kepala orang-orang. Ma Soma membawa kain kafan dari surau dan mereka membalutnya di tempat itu juga. Tak patut membiarkannya telanjang sepanjang malam, kata Kyai  Jahro sembari melanjutkan, jika    si gadis Maharani masih ingin melihat wajah ayahnya, mereka masih bisa membuka ikatan kafan pucuk kepalanya. Tapi seandainya si gadis tahu bagaimana rupa ayahnya, barangkali ia tak sudi melihatnya, sebagaimana terjadi atas ibu dan kedua kakaknya, sebab mereka akan kehilangan nafsu makan untuk hari-hari yang tak tentu, dan mimpi buruk tak ada henti. Tiga orang bergegas membopongnya ke surau, sebab gelap sungguh telah turun dari langit, membawa udara dingin dan rasa hening, dan mereka bersiap untuk salat jenazah, bersama magrib yang segera datang, di udara yang bertambah-tambah remang.

Di luar tabiatnya yang berlebihan atas perempuan, Anwar Sadat sesungguhnya pengunjung surau yang taat. Seandainya   ia tak ke mana-mana, sebab ia selalu merasa sibuk dan pergi ke mana-mana, Anwar Sadat tak akan pernah lupa untuk pergi ke surau sepanjang waktu-waktu salat yang wajib. Malahan ia sendirilah yang memukul beduk, dan melantunkan adzan, atau komat, meski tak seorang pun memercayakan ruang imam untuknya. Perilaku saleh ini sebagian barangkali karena rasa segan oleh kenyataan bahwa sebagian besar kerabat istrinya merupakan para penghidup surau, beberapa di antaranya haji dan kyai dan guru mengaji. Sebagian alasan lain adalah rasa segan yang ditimbulkan oleh kenyataan bahwa surau itu berdiri di pekarangan samping rumahnya, dibangun mertuanya bertahun-tahun sebelum ia sendiri datang dan menjual lukisan. Untuk alasanalasan yang masuk akal, tak ada orang yang sungguh percaya ia bersahabat dengan Tuhan.

Pembunuhan itu, sebagaimana kemudian diyakini semua orang, terjadi tepat pada pukul empat sepuluh menit, sebab sepuluh menit sebelumnya Margio masih bersama beberapa kawan dan sepuluh menit setelahnya, ia telah bersama mereka pula, dalam keadaannya yang mengejutkan. Mereka bergerombol di lapangan bola, melihat beberapa orang totoan merpati, hirukpikuk oleh teriakan dan desing peluit di ekor para burung. Anakanak bermain dengan merpati-mereka sendiri, yang tak bisa pulang di sejarak tapal batas desa, dan karenanya hanya diterbangkan dari satu ujung lapangan untuk memburu betinanya yang diayun di tangan si anak, di ujung lain lapangan. Merpatimerpati terbaik diterbangkan dari desa-desa tetangga, dibawa dengan ojek yang ngebut, dan terbang kecil di tepian awan, sebelum menukik mengenali betinanya. Sepuluh menit sebelum pembunuhan, Margio ada di sana, berbaring di rumput melihat bintik-bintik kecil hitam dan cokelat di angkasa.

Laila juga ada di sana, malahan berkesempatan ngobrol dengannya. Laila ada curiga kepergian Maharani yang mendadak ada urusannya dengan Margio, sebab selama satu minggu itu ia melihat mereka berdua, setiap hari, dan di malam hari Margiolah yang menemaninya di depan layar film perusahaan jamu. Margio mengelak dan bersikeras ia tak ada urusan dengan kepergian Maharani, bahwa gadis itu bukan gadis ingusan untuk tahu kapan ia ingin pergi dan kapan terus di sini, meski ketika ia menjawab itu, Laila bisa melihat wajahnya yang murung dan sendu. Laila tak lagi banyak tanya, dan seperti yang lain, ia tak punya prasangka Margio akan membunuh ayahnya.

Tiba-tiba Margio berkata pada Agung Yuda, begundal desa kawan mainnya, “Aku ada pikiran memalukan.”

Ia tak menjelaskan apa pikiran memalukan itu dan malahan mengajak Agung Yuda ke warung minum Agus Sofyan di pojok lapangan bola. Ia bilang punya sedikit uang dan ingin segelas bir. Warung itu dulunya kantin untuk para pegawai perkebunan dan desa, menyediakan makan siang dan sayuran serta lauk bagi ibu-ibu yang enggan memasak, namun karena terpencil disulap menjadi tongkrongan para begundal. Menyendiri di tepian perkebunan cokelat, Agus Sofyan mulai menjual bir dan arak, kadang ada bungkus-bungkus kecil ganja dan pil tidur yang dijual lebih diam-diam, mendesak tempat itu menjadi tempat mabuk dan kencan mesum, pengganti pos ronda di kala siang.

Laila Si Janda sering di sana, menjadi sasaran bocah-bocah liar yang meraba tubuhnya di pojok warung dan ia hanya cekikikan, lain waktu jika ia sedang berbaik hati, Laila mau diajak pergi ke tempat tidur dengan cuma-cuma. Beberapa perempuan barangkali mau diajak ke kebun cokelat, ditiduri di sana, tapi tidak Laila. Di warung itulah, saat itu Laila masih menonton totoan merpati, Margio minta sebotol bir dingin pada Agus Sofyan, maksudnya bir dengan botol direndam di antara balok-balok es dan bukan bir yang diberi balok-balok es. Sebab rasanya berbeda, begitu ia selalu bilang, dan paling emoh memaksakan diri pada bir yang tidak dingin. Ia dan Agung Yuda berbagi sebotol bir, Margio sendiri yang menuangkannya ke dalam dua gelas, duduk di bangku kecil di belakang warung, dan sementara bir berbuih, ia berkata lagi.

“Aku takut kali ini sungguh-sungguh kubunuh seseorang.”

Beberapa waktu sebelum minggat, Agung Yuda telah mendengar Margio berniat membunuh ayahnya. Ia mengaku tubuhnya ada isi, dan sanggup membunuh tak ada ragu. Agung Yuda tak pernah tanya apa isinya, sebab ia pikir tanpa isi apa pun, seorang penggiring babi bisa membunuh siapa pun dengan enteng. Meski begitu, tentu saja tak seorang pun yang mendengarnya, percaya pada omongan Margio. Ia yang paling manis dan santun di antara mereka, itu benar. Semua orang tahu ayahnya kasar minta ampun, terutama pada ibunya, dan betapa Margio mengasihani ibunya, namun Margio sangatlah pengalah pada semua polah si ayah, sebagaimana ia selalu menjadi penengah pada cekcok antarteman.

Bahkan jika benar hasrat itu ada, omong kosong ia mengatakannya sekarang, saat Komar bin Syueb telah diuruk tanah permakaman. Tak ada tanda-tanda Komar bin Syueb hidup lagi, dan Margio harus membunuhnya kembali, sebagaimana tak ada tanda-tanda ia punya musuh. Bahkan musuh tak tahu malu pun akan digampar kawan-kawannya, dan Margio tak perlu turun tangan, sebab ia anak manis dan santun.

Mereka tak berkata-kata lagi, sebab Agung Yuda tak membalas apa katanya, duduk mencicipi minuman mereka, dengan mata memandang perkebunan cokelat yang compang-camping oleh tegalan sawah dan kolam dan kebun kacang. Di sana kegelapan sudah datang, dan kabut nyamuk tengah merajalela, namun di tepian rawa tetaplah benderang, dengan orang-orang mengurusi peliharaan mereka. Saat itu ia melihat pula Kyai Jahro menenteng daun singkong dan pepaya, dan satu kantung semen berisi dedak. Ayahnya pernah menanam padi pula di sana, namun jelas tak ada bakat bertani, kini terbengkalai dan hanya tersisa batang-batang singkong yang tak minta diurus, daunnya rontok oleh kawanan domba yang melabrak-labrak. Margio tak pernah punya niat mengambil alih petak tanah itu, juga sekarang ketika ayahnya telah mati.

Selama bertahun-tahun, di masa ia masih sekolah yang bangunannya megah sejak masa kolonial di ujung lapangan bola, itu tempat mereka minggat dari pelajaran yang membosankan, bersembunyi di antara batang-batang dan cecabang cokelat untuk belajar mengisap rokok, suatu kali mencampurnya dengan bunga kecubung bikin mereka teler, dan membaca buku stensilan Anny Arrow, jika bukan petualangan mesum Nick Carter. Roman kacangan dan komik juga terlarang di sekolah, dan tak seorang pun berani bicara tentang Si Buta dari Gua Hantu, atau Panji Tengkorak yang menenteng peti mati kekasihnya, di belakang meja belajar, maka mereka harus membacanya di kebun cokelat.

Lain waktu di sana merupakan tempat perkelahian, kencan monyet, dan sekali-dua ada pembunuhan di antara para begundal terminal. Musuh utama mereka adalah mandor, yang selalu curiga mereka merampok buah cokelat dan kelapa, dan sesungguhnya kadang memang benar, hingga seringkali mereka harus ambil lari berkejaran dengan mandor yang ngebut bersepeda, jika tertangkap, mereka akan menyeretnya di telinga dan menyerahkannya pada guru olah raga yang bengis. Kadang-kadang, perkebunan beralih fungsi di malam hari, saat orang tanpa kakus buang kotoran di sana. Margio masih memandangnya dan melihat tahun-tahun susah dirinya seperti ada di sana.

Agung Yuda salah satu saksi yang melihat betapa bocah itu senang tanpa ampun ketika pulang dan melihat ayahnya mati. Ia pikir dengan kematian Komar bin Syueb semua persoalan di rumahnya akan berakhir. Kini ia menyaksikan betapa itu omong kosong. Agung Yuda berpikir, Margio hanya sedikit kecewa dan semua ocehannya tentang pikiran memalukan dan membunuh orang tak berdasar sama sekali. Semacam orang yang tak tahu mesti ngomong apa lagi.

Ada Laksmana Raja di Laut dari radio dua band milik Agus Sofyan, tergantung di dekat pintu, kekayaan warung yang membuat siang dan sore dan malam jadi semangat, suaranya cempreng dan kencang, pada putaran volume terujung. Panasonic model kuno, tanpa colokan listrik membuat pemiliknya mesti mengakali sendiri bagaimana mengalirkan arus ke dalamnya. Penutup wadahnya telah hengkang entah ke mana, suatu kali dipakai orang untuk kipas-kipas dan lupa dikembalikan, membuat kabel-kabelnya menjuntai tak karuan. Tapi benda setengah bangkai itu cukup untuk membuat bising separuh lapangan bola, dan di hari tertentu orang bergerombol mendengarkan siaran liga sepak bola, sisanya memberi mereka lagu dari satu stasiun yang bersetia pada dangdut dan sedikit lagu pop. Kebisingannya ditambahtambah oleh teriakan orang di totoan merpati, yang terlampau semangat berharap menang taruhan.

Agung Yuda mengeluarkan separuh bungkus Marlboro dari sakunya, memberi Margio satu batang, yang hanya diputar-putar di antara jemari tanpa menyulutnya. Ia mahir melakukan itu, mempelajarinya dengan bolpen di kala bosan pada sekolah, dan beberapa kawan menirunya, mencobanya dengan rokok tersulut. Malahan Margio menyeruput tanpa sisa birnya, lalu berdiri hendak pergi.

“Aku lupa harus jumpa Anwar Sadat,” katanya, pendek, dan seolah tanpa pertanda.

Ia menyulut rokok itu sebelum pergi. Bahkan dengan rangkaian tanda-tanda tak langsung semacam itu, Agung Yuda tak bisa menangkap kesan Margio hendak membunuh Anwar Sadar. Ia melihatnya melangkah, jelas kakinya tersentak ragu, antara kehendak pergi dan keinginan untuk tetap bersama Agung Yuda di bangku itu, namun setelah menoleh sejenak pada kawannya, ia berlalu dengan rokok tergigit di celah bibir. Rokok itu merepet, lebih banyak diisap angin daripada mulutnya, dengan kepul asap dibawa angin sore ke belakang kepalanya. Agung Yuda masih mengekorinya, hanya dengan tatapan, tak ada pula tanda tanya di kepalanya. Dua puluh menit setelah itu barulah Agung Yuda menyesal telah membiarkannya pergi, serasa ia ditahan tangan nasib bahwa peristiwa itu memang harus terjadi dan  tak  seorang  pun boleh menghalanginya. Ia masih terbenam di bangkunya, berpikir dirinya tak punya urusan dengan Anwar Sadat sehingga tak ada nafsu untuk mengikuti Margio. Birnya masih separuh gelas, telah menjadi kebiasaan mereka untuk minum sececap demi cecap, hingga segelas bir bisa mengawani perbincangan lama berjam-jam, namun dengan kepergian Margio bersegera ia menghabiskannya tanpa sisa. Beberapa butir meleleh di bibirnya, dan ia mengelap dengan ujung kemejanya, serta melemparkan puntung rokok ke tanah, menggerusnya dengan alas sandal. Di dalam warung duduk perempuan genit yang menggoda dirinya, Agung Yuda melingkarkan tangan di lehernya dan perempuan itu tertawa-tawa, hingga tangan si lelaki merayap ke balik kutang dan meremas daging di dalam sana.

Perempuan itu menggelinjang dan memaki, gesit tangannya mengibas, tapi Agung Yuda telah pergi tertawa-tawa. Ia kencing di tiang listrik, berjalan ke lapangan bola, dan belum juga sadar waktu telah semakin dekat Anwar Sadat mati di tangan Margio.

Di waktu yang sama, Anwar Sadat tengah memberi makan kalkun peliharaannya, memaksa mereka lebih gembur dari semestinya, berharap bisa memotongnya di Lebaran yang akan datang, dengan nasi sisa dapur. Di sampingnya bekerja Ma Soma menyapu halaman surau, berarti halaman rumahnya sendiri, dari daun-daun belimbing yang rontok kuning, serta buahnya membusuk dijejali belatung, lembek oleh hujan terlampau melimpah. Mereka tak saling lempar kata, hanya mengetahui keberadaan satu sama lain, sebelum Ma Soma pergi untuk membersihkan bak mandi surau yang telah rimbun oleh lumut dan pakis, dan Anwar Sadat masuk ke dapur rumahnya mengembalikan piring kotor.

Tak ada orang di rumah selain dirinya dan Maesa Dewi, kini tengah tergolek bergelung di atas tempat tidur menemani anak kecilnya tidur siang. Tak banyak yang diperbuat perempuan ini, sejak kepulangannya menenteng bayi merah dan calon suami, kecuali menemani anaknya tidur dan menghabiskan nasi di lemari dapur. Suaminya telah diusir Kasia untuk mencari pekerjaan, dan pergi memperoleh pekerjaan sebagai manajer bioskop yang hampir bangkrut, di luar kota dan hanya pulang sebulan sekali membawa uang yang segera dihabiskan Maesa Dewi dan anaknya dalam seminggu pertama. Kasia tak lagi mau memikirkannya, dan Anwar Sadat tak bisa membantu banyak sejauh keuangan utama mereka masih dipegang Kasia, dan membiarkan ibu dan anak itu menjadi benalu bagi keduanya, sebagaimana juga dilakukan oleh Laila.

Margio telah datang namun Anwar Sadat tak melihat bocah itu telah luntang-lantung di pekarangan, tampak cemas dan pasi tak karuan. Ia berdiri bersandar ke pohon belimbing, memandang kedalaman rumah Anwar Sadat, dan melihat lelaki itu berkelebat. Sesungguhnya sangatlah meragukan Margio berhasrat membunuhnya. Beberapa orang di lapangan bola melihatnya, dan Ma Soma kemudian menenteng keranjang sampah membuang lumut dan pakis ke belumbang memergokinya, dan bersaksi ia tak bersenjata. Ia harus membawa pisau atau golok atau tali, bagaimanapun, untuk membunuh Anwar Sadat kecuali ia telah yakin bisa membunuhnya dengan sekali gigit. Ketika Ma Soma lewat sekali lagi, mereka pun tak bertukar kata, Margio hanya menendangi ayunan ban mobil, tak ada gairah dan nyaris pergi meninggalkan pekarangan. Ia masih di sana beberapa waktu, serupa pencuri mencari celah, mengamati pergerakan  orang-orang  dan bercuriga pada mereka, merasa diri tengah diawasi. Orangorang di lapangan bola tentu melihatnya, tapi mereka terlampau mengenal Margio untuk diberi kecurigaan. Tak seorang pun peduli, dan Ma Soma tampaknya tak  akan kembali, terdengar ia sedang menimba air sumur di surau untuk memenuhi bak mandi. Pintu rumah terbuka dan tampak Anwar Sadat cari angin, Margio bergerak.

Itu hampir pukul empat sepuluh menit, Anwar Sadat berkehendak meninggalkan rumah dan cari kawan berbincang di lapangan bola. Ia tak begitu doyan merpati, sebagaimana tak ada nafsu pada sabung ayam, namun sekali-dua ia datang untuk menontonnya, dan bertaruh demi satu persahabatan. Ia masih mengenakan kolor dan singlet Toko Mas ABC yang dikenakannya di warung serabi tadi pagi, dan akan mati dengan kostum yang sama. Demi melihat Margio berjalan ke arahnya, Anwar Sadat tertahan kaki, tak bergerak memapasi pintu, menunggu bocah itu, berpikir barangkali ada sesuatu urusan. Waktu itu ia berpikir tentang Maharani. Sebagaimana Laila, Anwar Sadat tahu gadis itu bersama bocah ini semalam di pemutaran film pabrik jamu, dan ia berharap memperoleh penjelasan mengapa gadis itu sekonyong pergi. Ia menunggu sampai Margio masuk dan berdiri di depannya, dan ia tak berkata apa pun tentang Maharani. Wajahnya masih pasi dan bibirnya menggigil, seolah Anwar Sadatlah yang hendak tumpahkan bencana kepadanya.

Seperti kemudian menjadi pengakuannya pada polisi, ia memang membunuhnya dengan cara menggigit putus urat lehernya. Tak ada senjata lain untuk melakukannya, ia bilang. Tadinya ia berpikir untuk memukulnya, tahu pasti Anwar Sadat telah begitu loyo dan tak ada tenaga untuk melawan. Tapi Margio meragukan pukulannya sendiri bisa membuat tamat lelaki itu. Tidak juga percaya pada cengkeramannya untuk mencekik Anwar Sadat. Tidak pula mengangkat kursi dan menghantamnya, sebab ia pikir hanya bikin patah tulang dan akan terlalu ribut untuk membangunkan Maesa Dewi. Ia tak melihat Maesa Dewi di kamarnya yang tertutup, tapi tahu perempuan itu ada di kamarnya sebagaimana hari-hari lain.

Pikiran itu datang sekonyong-konyong, semacam wahyu cemerlang yang meletup di otaknya. Ia bilang ada isi di dalam tubuhnya, sesuatu yang tak sekadar jeroan usus, yang menggelosor keluar dan menggerakkan seluruh raganya, mengendalikannya dan mengajak dirinya membunuh Anwar Sadat. Sesuatu itu sangatlah kuat, ia berkata pada polisi, sehingga ia memang tak butuh senjata macam mana pun. Ia mendekap erat Anwar Sadat, yang terkejut dan berusaha meronta, namun dekapan itu kuat di bawah lengannya, tangan Margio menjuntai ke atas merenggut rambut Anwar Sadat bikin kepalanya tak banyak kutik. Saat itulah Margio menancapkan gigi-giginya di leher kiri Anwar Sadat, seperti ciuman kekasih yang membara ke permukaan kulit di bawah telinga, mendengus dan hangat penuh nafsu, dan lelaki itu masih terpana untuk tahu apa yang diperbuat Margio. Meski begitu, rasa sakit yang sejenak, menusuk menyentak dadanya, membuat Anwar Sadat menggeliat dengan kaki gaduh menendang kursi, menggulingkannya. Suara kursi menghantam lantai dan pekikan kecil Anwar Sadat membangunkan Maesa Dewi yang terbangun dan bertanya dari kamar, “Papa, apa itu?”

Anwar Sadat tak ada daya untuk menjawabnya, kecuali lolongan kasar mangsa yang hampir binasa. Margio membalasnya dengan satu gigitan mematikan, mencengkeram dan merenggut segumpal daging, yang membuat rompal lehernya. Segumpal daging itu tercerabut dari sana, dengan serat-serat koyak segar menjulur tipis, dan darah menyembur tak ada kendali. Sepotong daging tanpa rasa, kini tertinggal di mulut Margio yang segera menyepahkannya ke lantai dan berguling-gulinglah itu di sana. Anwar Sadat mulai terbang, kerongkongannya bunyi sendiri, wajah Margio mandi darah memancur dari sana.

“Papa, apa itu?” Maesa Dewi mengulang pertanyaannya.

Anwar Sadat telah mengepakkan sayap dan terseret arus badai ketidaksadaran. Margio masih mendekapnya, menjaganya dari tenggelam lebih jauh dan jatuh. Demi mendengar suara Maesa Dewi, nada tinggi dan penuh kecemasan, serta bebunyi selimut yang dihentakkan dan ranjang berderak serta kaki menjejak ke lantai, Margio kembali menyarangkan giginya ke rekahan merah gelap dan basah itu, ciuman kedua yang lebih mematikan dan dikuasai nafsu. Mengatupkan rahang kuat, memperoleh segumpal daging di mulutnya, dan menyepahkannya ke lantai. Ia melakukannya kembali, perulangan yang jadi monoton tanpa irama, hingga rekahan itu semakin dalam dan compang-camping, bagai didorong rasa lapar yang tak kepalang dan kerakusan memaharaja, meninggalkan jejak letupan-letupan serta gelembung darah terjun bebas tumpah ke bumi.

Ia hampir memenggalnya, menggergaji leher itu hingga batang tenggorokan Anwar Sadat telah tampak, sekilas berwarna gading sebelum banjir oleh merah, saat pintu kamar  tidur  terkuak dan Maesa Dewi berdiri di sana, mengenakan pakaian tidur satin putih dengan motif bunga peoni, pipinya berhias garis peninggalan lipatan bantal, matanya setengah redup namun bersegera insaf, dan tangannya yang ramping terangkat, jemari menutup bibirnya yang terkuak kecil melontarkan kata tanpa bunyi. Tamasya itu tak mungkin lenyap dari mata Maesa Dewi, barangkali hingga bertahun-tahun dan generasi-generasi kemudian, lebih brutal dari film horor mana pun yang pernah dilihatnya bersama Anwar Sadat di video. Ia menyaksikan leher yang separuh koyak, bahkan leher sapi yang dipotong pada Hari Kurban tak seganas itu, dengan gumpalan-gumpalan daging bergelimpangan di lantai, serasa kuah makaroni yang tumpah. Lantai itu putih keramik, warna merahnya kontras serupa bendera nasional. Dan masih berdiri di sana adalah Margio, roman mukanya hampir tak lagi dikenali, tertutup topeng kental yang cair dan lengket, dan kotor pula tangan dan kemejanya. Sejenak mereka saling memandang di batas kesadaran yang paling ganjil, di satu keadaan ketika mereka berdua menyadari apa yang sesungguhnya terjadi.

Ada hawa aneh berputar di kepala Maesa Dewi, semacam bau bawang putih pekat mengapung menciptakan awan kelabu menggenang di antara rambutnya yang meriap jatuh ke bahu, begitu berat dan mengajaknya melayang. Rasa campur aduk yang lain bergejolak di perutnya, rasa asam yang basi, terkocok oleh keributan serangga yang masuk entah dengan cara apa, berdengung dan mengaduk-aduk ususnya. Maesa Dewi melihat bayangan cemerlang yang tak dikenalinya, memancar memberi silau kepada matanya, mendesaknya ke belakang dan suatu benturan menghantam kepalanya saat itu menentang dinding pintu di belakang, menghentikannya sejenak sebelum merosot dan tumbang ke lantai. Tubuhnya terhempas di sana, tak serupa tidur yang tenteram, namun serasa seorang putri yang dikutuk sekonyong jadi batu. Ia bahkan lupa bagaimana cara menjerit, dan lupa sekarang ada di mana. Semua potongan peristiwa itu menimbulkan keributan yang membangunkan anak kecilnya, kini anak itu duduk dan membuka mulut lebar, menangis tanpa aba-aba, ngompol, memanggil ibunya tidak dengan namanya namun jelas tak membangunkan Maesa Dewi dari tidur kedua, di lantai dan tanpa selimut.

Margio mengendorkan belitannya, melepaskan pelukan atas Anwar Sadat, dan mendapati sejumput rambut lelaki itu rontok di tangannya. Tubuh Anwar Sadat sejenak menari, tanpa irama pengiring, sebelum condong meliuk dan berdebam ke lantai diseret beban tubuhnya sendiri. Margio memandangnya, menjelajahinya hingga cukup yakin lelaki itu mati sempurna. Bahkan seandainya penggerogotan leher itu tak membuat Anwar Sadat bertemu malaikat maut pemangsanya, benturan kepalanya ke lantai cukup untuk memberinya rasa ajal. Di sanalah ia telentang, dengan pusar menguap di balik singlet Toko Mas ABC yang tersingkap, serupa lelaki tua tuna daya yang memperoleh serangan ganas ajak liar, sebagaimana kemudian ditemukan Ma Soma dan orang-orang, berselimut bau amis dan nada riuh kematian.

Hampir ambruk pula Margio, bagai ular boa kekenyangan. Betapapun itulah hasil jerih payahnya, ia harus mengakui betapa dirinya terpesona oleh mahakarya tersebut, lebih menggetarkan jiwa daripada reproduksi murahan lukisan Raden Saleh yang tergantung di atas televisi. Badai puyuh serasa memutar kepalanya, dan ia lupa di mana arah pintu, meraba-raba sebab dunia menjadi gelap tiba-tiba. Seperti Anwar Sadat, ia menari sejenak, terbang meliuk-liuk dan tak empas oleh sepasang kaki yang cukup tangguh, sebelum memandu dirinya pada punggung sofa yang seketika penuh tanda jejak warna merah. Margio menyeret dirinya keluar, merayap sejengkal demi sejengkal dan roboh di teras samping.

Sesuatu di mulutnya mengingatkan dirinya pada pembantaian yang belakangan baru ia sadari maknanya, dan dengan naluri asali menggiringnya untuk menjauh. Margio berdiri lagi, terseok tak sungguh tegak, merayap ke bawah pohon belimbing dan menyepahkan daging leher Anwar Sadat yang tersisa di mulutnya. Ia melihatnya terlempar ke tanah, sebesar potongan tahu, dan itu bikin seluruh isi perutnya meluap naik, mengganas di tenggorokannya, pahit dan asam. Bertopang pada batang pohon, bocah itu muntah-muntah, berisi mie yang dimakannya tadi pagi. Butuh beberapa tempo ia menghentikan gejolak di lambungnya, masih mengohek walau tak ada lagi isi perut, berjalan meninggalkan pohon belimbing, dituntun suara ramai para petaruh dan peluit di ekor merpati.

Saat itulah Ma Soma keluar dari surau dan melihatnya merayap dengan tangan berlepotan darah. Ia hampir berlari mengejarnya, cemas namun segera tertegun, melihat tanda jejak yang menggumpal sepanjang pekarangan, menuju rumah Anwar Sadat. Ia melihat genangan yang melimpah di ambang pintu, dan kakinya memaksa diri membawa ke sana, melihat mayat yang khidmat menunggu. Ada kekosongan yang tak dimengerti kepalanya, sebelum suatu bisikan menjelaskan segalanya, memapah Maesa Dewi ke sofa, dan mengambil kain batik untuk menenggelamkan mayat Anwar Sadat. Seseorang yang lain, di tepi lapangan bola, melihat Margio dan bergumam.

“Demi Tuhan, Margio dipukul orang hingga berdarah.”

Keriuhan sejenak terhenti, kepala-kepala menoleh, Margio berjalan ke arah mereka menghentikan mobil dan motor yang terpukul cakram rem dan para pengemudi menatapnya serasa jumpa setan kepagian. Burung-burung berhenti terbang, anakanak berhenti berlari, menyiratkan waktu yang berhenti dipatok. Mereka melingkarinya, menjaga jarak serasa ia akan meledak, tergagap-gagap sebelum salah satu dari mereka, Agung Yuda, memperoleh satu kalimat jernih. “Siapa memukulmu?”

Margio, tentu saja tak memahami pertanyaan tersebut, tak buka mulut menjawabnya. Wajah-wajah itu dikenalinya, sekaligus tak dikenalinya, ada rasa asing berkelebat. Agung Yuda, yang kepala bebalnya tak juga bisa memperoleh penjelasan penuh makna atas serentetan peristiwa yang semestinya telah dimengerti jauh sebelum terjadi, mendekatinya, menciuminya dengan hidung bukan anjingnya, memastikan itu sungguh-sungguh darah dan bukan cat tembok, meyakini dirinya bahwa ia melihat wajah tragis yang tak lagi manis dan santun itu, hingga ia menemukan penjelasan yang gamblang, tercekat ketika menyadarinya, dan meletup dalam kata-kata penuh makna.

“Ia tak terluka.” Itulah penjelasan yang paling sempurna.

Kini, ketika malam telah runtuh ke bumi mengapungkan bintang-bintang dan bulan sepotong tergantung enggan, lampulampu dinyalakan di pelataran rumah dan pinggir jalan, dan codot tak lagi tampak beterbangan disebabkan hitam yang menghapus hitam tubuhnya, Margio diseret Joni Simbolon ke rayon militer. Selalu begitu sebelum seseorang dibawa ke kantor polisi, sebab tanpa itu para prajurit tak punya lagi keriangan di dunia republik yang tak ada perang. Mereka mengurungnya di dalam sel, mengganti pakaiannya dengan seragam hitam bau kapur barus dan lemari kayu, meringkuk di satu dipan menghadapi susu hangat yang tak dicecapnya, menghadapi sepiring nasi ikan tongkol yang tak dilumatnya.

Mayor Sadrah mengunjunginya selepas salat jenazah, memastikan mereka tak mengasarinya, sebab para prajurit piket selalu gatal menghadapi mangsa tangkapan. Mereka masih menghormati veteran tua ini, dan akan mendengarkan apa katanya, maka ia bergegas ke sana, melihat orang-orang masih berkerumun penuh tanya di seputar patung Siliwangi dan tiang bendera, menoleh padanya berharap ia membawa satu kisah yang lebih menakjubkan.

“Aku menahannya, menghindari satu pembalasan dendam yang tak perlu,” kata Joni Simbolon pada Mayor Sadrah.

“Omong kosong, ketiga anaknya perempuan,” kata veteran tua itu.

Tapi masih ada sejumlah kerabat, dan siapa pun yang bakalan tak suka kebengisan terjadi di sekitar mereka. Mayor Sadrah menyuruh mereka mengurungnya di sana, sebelum subuh polisi mengambilnya. Ia bertanya-tanya tentang gadis itu, Maharani, jika pagi besok ia pulang dan menemukan ayahnya mati, dan berjumpa pembunuhnya yang telah mengawani dirinya semalam melihat film perusahaan jamu. Tragedi itu demikian gamblang, siapa yang mati dan siapa yang kirim petaka, namun ia masih mencari-cari iblis jahat di belakang itu, suatu motif rahasia, yang tak diketahui siapa pun. Istrinya, yang ada di antara perempuan pelayat dan ikut dirinya ke rayon militer, membisikkan sesuatu yang telah jadi pengetahuan orang, bahwa gadis itu tergila-gila pada Margio. Tapi Mayor Sadrah tak melihat suatu pertanda Anwar Sadat menghalangi mereka.

Kakinya membawa ke sel tersebut, berdiri di pintu menatapnya menggigil di dipan, dan berharap menguak rahasia tersembunyi ia bertanya, tapi suaranya lenyap oleh kegetiran berat, sebelum Margio menoleh dan mengerti pertanyaannya.

“Bukan aku,” kata Margio tenang dan tanpa dosa. “Ada harimau di dalam tubuhku.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊