menu

From Paris To Eternity Bab 15: Welcome Home (Tamat)

Mode Malam
Welcome Home (Tamat)

FAY memajukan tubuh ke arah meja rias dan dengan hati-hati memulas sekali lagi lipgloss warna pink di atas lipstik warna moka yang sudah menghiasi bibirnya.

Fay melirik arloji di tangannya—harusnya ia sudah dijemput dua puluh menit yang lalu, karena jamuan makan McGallaghan sudah akan dimulai sepuluh menit lagi. Ia menarik napas panjang untuk menghalau rasa gugup menghadapi acara yang akan segera dimulai.

Malam ini akan menjadi pertemuan pertamanya dengan Andrew setelah insiden menyakitkan di ruang serbaputih tempo hari. Selama satu minggu sejak kejadian itu, ia dirawat intensif di sebuah ruangan dengan peralatan seperti di rumah sakit. Di sana luka dan cedera di tubuhnya diobati dan ia tidak diizinkan oleh dokter untuk berbicara atau bertemu dengan siapa pun. Hari ini, setelah diizinkan pulang oleh dokter, ia langsung dibawa ke kastil Andrew di pinggir kota Paris dengan cara yang tidak umum. Bukan hanya kendaraan yang ia naiki mengambil jalan berputarputar, ia juga harus berpindah-pindah kendaraan beberapa kali. Tiba di kediaman ini dua jam yang lalu, ia disambut seorang pelayan yang langsung membawanya ke kamar dan memberitahunya tentang jamuan makan McGallaghan. Ia mencoba bertanya ke mana Reno, Kent, bahkan Andrew, dan mendapat jawaban singkat mereka semua sedang bersiap-siap dan akan datang ke ruang duduk setengah jam sebelum jamuan makan malam dimulai.

Fay kembali mematut diri di depan cermin. Gaun merah muda dengan kombinasi warna krem berbahan sifon yang sekarang melekat di tubuhnya tersampir dengan rapi di atas tempat tidur saat ia masuk ke kamar. Entah siapa yang memilihkan gaun ini, yang jelas ukurannya sangat pas di tubuh dan berhasil membuat kulit sawo agak matangnya jadi sedikit lebih cerah. Not bad at all.

Terdengar suara ketukan di pintu. ”Masuk,” ucap Fay.

Pintu terbuka dan napas Fay langsung tertahan melihat Andrew muncul di pintu.

”Hai, Fay. Bagaimana keadaan kamu, young lady?” Andrew tersenyum menghampiri Fay dengan tangan terentang.

”Ba... baik...,” jawab Fay gugup sambil buru-buru berdiri dan menyambut pelukan hangat Andrew. Yang bertanya dengan ramah di depannya ini dan yang kini memeluknya hangat adalah pria yang sama yang belum lama ini menyiksanya, bagaimana ia harus menjawab?

”You look marvelous. Pilihan saya ternyata tidak salah,” ucap Andrew sambil menyapukan pandangan ke Fay.

Fay terdiam sebentar; bayangan Andrew yang berdiri bergeming di pojok ruangan saat menyaksikan dirinya tengah disiksa langsung bermain dalam benaknya. ”Thanks,” balas Fay singkat.

Andrew berdiri di hadapan Fay lalu berkata, ”Ini rumah baru kamu sekarang. Saya harap kamu bisa beradaptasi dengan baik dengan semua aturan yang berlaku di keluarga ini. Saya yakin kamu tidak akan menghadapi kesulitan yang berarti.” Fay hanya diam, tidak tahu bagaimana cara memuntahkan isi kepalanya.

Andrew melanjutkan, ”Saya tahu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranmu. Saya akan memberimu kesempatan untuk menanyakan hal yang mengganggu pikiranmu.”

Fay menatap Andrew sebentar lalu mulai bicara, ”Saya masih tidak mengerti dengan apa yang saya jalani... Sebenarnya apa artinya ketika saya diberi kartu nama untuk bergabung...?”

Andrew tersenyum tipis.

”Saya menawarkan pilihan untuk menjalani hidup di jalur yang tidak biasa. Hanya itu yang perlu kamu ketahui sebelum memutuskan untuk bergabung. Bahwa saya ingin menjadikanmu bagian dari keluarga McGallaghan selain sebagai seorang agen yang bekerja di kantor, itu urusan lain.”

”Kenapa saya ditawari menjadi anggota keluarga McGallaghan?

Apa bedanya bagi saya?” tanya Fay ragu.

”Klan ini bukan keluarga biasa yang mendasari sesuatu berdasarkan hubungan darah, tapi berdasarkan kontribusi yang bisa diberikan oleh para anggotanya. Mereka yang terpilih untuk bergabung dianggap punya kelebihan yang bisa mengembangkan kejayaan klan McGallaghan dan meneruskannya ke generasi selanjutnya. Menjadi seorang McGallaghan berarti mengukuhkan nama kamu dalam sejarah peradaban manusia, karena memang itulah yang menjadi tujuan keluarga ini.”

Fay merasa bulu kuduknya berdiri dan ia berseru, ”Tapi saya tidak merasa punya kelebihan apa pun. ”

Andrew tersenyum tipis. ”Fay, kalau kamu tidak merasa punya kelebihan apa pun, itu berarti kamu tidak menghargai hidupmu sendiri. Semua orang lahir ke dunia ini dengan keunikan dan kelebihan masing-masing. Semakin kamu menyadari di mana keunikan dan kelebihan itu, semakin besar kesempatanmu untuk menemukan tempat di dunia ini, tempat kamu bisa berperan menggerakkan roda kehidupan—itulah bedanya orang-orang yang menjadi penggores nasib dengan mereka yang mengaku menjadi korban keadaan.”

Andrew meletakkan dua tangannya di pundak Fay dan berkata, ”You are part of the family now. Pada detik pertama saya bertemu kamu, pada detik itu juga saya tahu kamu seorang kandidat keluarga McGallaghan.”

”Dari mana Anda tahu?” tanya Fay takjub.

Andrew mengangkat bahu sambil lalu, ”Bisa dibilang intuisi yang sampai saat ini tidak pernah terbantahkan.... Seperti seekor singa yang tahu kehadiran seekor singa lain di wilayahnya.” Sudut bibir Andrew terangkat sedikit, membentuk seulas senyum.

Fay akhirnya memaksakan diri untuk tersenyum. Sebelum kejadian penuh kekerasan beberapa hari lalu terjadi, ia masih merasa yakin bisa mengartikan gerak-gerik Andrew dengan tepat, tapi tidak sekarang.

”Tapi tentu saja intuisi itu harus dibuktikan,” lanjut Andrew. ”Dan sepanjang pengamatan saya sepanjang tiga tugas yang kamu lakukan, kamu memang mempunyai kualitas yang diperlukan.”

Fay bertanya pelan, ”Apa yang terjadi minggu lalu? Why did you do that to me?”

”Tidak mudah bagi saya meyakinkan anggota keluarga lain untuk menerimamu menjadi bagian dari keluarga. Kamu memang berhasil melakukan tugas, tapi itu hanya cukup untuk membuatmu diterima sebagai agen di kantor, tidak lebih.

”Semua anggota keluarga McGallaghan direkrut sejak usia masih sangat muda sedangkan usiamu sudah jauh di luar kriteria. Kemampuan fisikmu juga tidak terlalu menonjol seperti anakanak lain, jadi saya perlu menunjukkan kepada mereka bahwa kamu adalah pengecualian yang layak untuk dipertimbangkan—tidak hanya sebagai agen yang bekerja di kantor, tapi juga sebagai bagian dari keluarga. Untuk itu saya mengusulkan tes yang minggu lalu kamu jalani—Head or Tail. Tes yang sebenarnya hanya diberikan kepada calon pemegang posisi puncak di kantor. Saya tahu tidak akan ada yang menolak proposal itu—mereka tahu tidak sembarang orang bisa lolos dari Sang Perenggut karena mereka pernah menjalani tes yang sama dan juga menjadi saksi bagi banyak kegagalan. Bisa dibilang kamu adalah pendobrak tradisi sebagai orang termuda yang pernah menjalani tes ini. Saat ini saya bahkan belum tahu apakah akan ada di antara para keponakan yang pada akhirnya harus terbaring di peti mati setelah gagal menaklukkan Sang Perenggut.”

Fay terperanjat sesaat sebelum bertanya, ”Jadi... Reno, Kent, dan yang lain belum pernah menjalani tes itu?”

”Belum. Seperti saya katakan tadi, tes Head or Tail hanya di berikan kepada orang-orang tertentu ya ng akan menduduki posisi-posisi penting di COU dan mereka belum sampai pada level itu.”

”Bagaimana kalau kemarin saya gagal?” tanya Fay lagi. ”Berarti penilaian saya tentang kamu salah.”

Fay terdiam. Bulu kuduknya langsung meremang. Semudah itukah keputusan atas nyawanya dibuat?

Andrew menambahkan dengan tajam, ”Kamu dilarang membuka mulut tentang pengalamanmu beberapa hari terakhir ini.”

Fay buru-buru mengangguk.

”Saya tidak main-main dengan ancaman yang satu ini. Hanya sedikit orang yang mengetahui tentang Head or Tail. Kamu dilarang untuk bahkan mengakui keberadaan tes itu bila berada di luar kantor. Di kantor pun kamu hanya boleh membicarakannya dengan saya atau petinggi lain. Kegagalan menjaga kerahasiaan ini akan membuatmu kembali berada di ujung Sang Perenggut, dan bila itu terjadi, tidak akan ada lagi suntikan penawar.”

Fay menelan ludah dan mengangguk.

Andrew mengulurkan lengannya dan dengan gugup Fay melingkarkan tangannya ke lengan Andrew, membiarkan pria itu membawanya ke ruang duduk.

Fay berjalan di sisi Andrew, memikirkan ancamannya barusan. Kenapa mudah sekali bagi pria di sampingnya ini mengeluarkan ancaman untuk menghilangkan sebuah kehidupan? Padahal kehidupan adalah milik Tuhan yang dikaruniakan terhadap seorang manusia dan tidak ada yang berhak mencabutnya selain Dia. Tugas manusia hanyalah mencintai kehidupan yang merupakan pemberian-Nya itu.

Pengertian itu juga yang waktu itu membuat ia memilih untuk membuang isi suntikan bening di ruang putih, karena ia tahu kehidupan adalah karunia yang harus dijaga. Begitu Sang Perenggut bekerja dan rasa sakit terasa merayap di dalam badan, Fay tahu harus segera mengenyahkan suntikan bening itu sebelum tergoda untuk bermain-main menjadi Tuhan dan mencabut nyawanya sendiri. Ia tahu keputusannya akan berakibat pada kesengsaraan panjang, tapi ia percaya Tuhan Mahaadil dan tidak akan membiarkan hamba-Nya telantar dalam penantian tak berkesudahan.

”Ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?” tanya Andrew.

Fay berpikir sebentar lalu bertanya, ”Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?”

”Banyak hal yang harus kamu pelajari terkait dengan aturan rumah dan kantor. Karena kamu anggota keluarga, pendidikan kamu tidak hanya berlangsung di kantor, tapi juga di rumah. Dan, Fay, akan ada tes-tes secara berkala sepanjang perjalananmu di keluarga ini, jadi bersiaplah untuk selalu menunjukkan kemampuan yang terbaik.”

Fay tidak bertanya lebih lanjut, membiarkan benaknya mencerna dan meresapi penjelasan Andrew, hingga tiba di depan pintu tinggi ruang duduk.

Di dalam, baru ada tiga orang yang sedang duduk mengobrol, Steve, James, dan Philippe. Ketiganya langsung berdiri dan Philippe langsung berkomentar, ”Well, well, look who’s here... our new member. Welcome back, Fay.”

Steve langsung bicara, ”Apa kabar, Fay?” ”Baik,” jawab Fay.

Steve tertawa dengan suara berat, ”Tidak terdengar meyakinkan.”

James Priscott ikut tertawa dengan suara khasnya yang seperti tersedak berulang-ulang dan akhirnya Fay tersenyum.

Steve kembali bertanya, ”Jadi, apakah Andrew sudah menjelaskan tentang Head or Tail dan kenapa kamu bisa ada di sini?”

Fay sudah membuka mulut untuk menjawab ketika sekilas ia melihat wajah James yang sedikit menegang. Detik itu juga Fay mengubah jawaban yang sudah ada di ujung lidah. ”Head or Tail? Never heard of it,” jawabnya tak acuh dengan deru jantung yang mendadak langsung berpacu.

Steve kembali tertawa.

James terlihat seperti mengembuskan napas lega diam-diam dan wajahnya kembali santai dengan mata berbinar-binar di balik kacamatanya.

”Very good, Fay,” ujar Philippe sambil mengangkat gelas anggurnya dengan sudut bibir terangkat sedikit.

Steve berkomentar, ”I guess you’re right, Andrew... She is indeed a true McGallaghan.”

Terdengar suara berisik dari arah pintu masuk, campuran antara suara tertawa, menggerutu, berteriak, dan entah apa lagi.

”Sepertinya para pengacau sudah tiba,” gumam Philippe.

Para keponakan masuk ke ruangan, diikuti Raymond yang menggeleng-gelengkan kepala dengan frustrasi. Kedatangan Raymond langsung disambut komentar Philippe.

”Kamu terlambat.”

Sebelum Raymond sempat membalas, Steve sudah menimpali, ”Ha, sepertinya kamu tidak sadar, bukan hanya Raymond yang terlambat. Selain Raymond ada juga semua berandalan itu, Andrew, Fay, dan bahkan kamu pun tadi terlambat... Saya rasa ini jamuan makan paling kacau sepanjang sejarah McGallaghan yang saya tahu!” ”FAY...”

Fay menoleh dan langsung tersenyum melihat Reno mendekat. ”How are you, Fay? Kapan kamu datang?” tanya Reno sambil

memeluk Fay erat.

”Eh... mm... baru hari ini,” jawab Fay gugup. Lewat sudut matanya ia tahu lima pasang mata milik para paman mengamatinya tanpa kentara.

Kent mendekat dan langsung memeluk Fay hangat. ”Good to see you again. I’m so sorry about your parents. May they rest in peace.”

Fay sesaat larut dalam kedalaman biru sepasang mata Kent, tapi begitu merasakan lima pasang mata di sekelilingnya menatap lebih tajam, ia berhasil menepis rasa yang berusaha hadir. Ia sekarang mengerti kenapa kebersamaan antara dirinya dan Kent tidak boleh ada.

”Good to see you, too. Thanks, Kent,” ucap Fay singkat sambil tersenyum sopan.

Fay baru saja akan berbicara kepada Reno ketika terdengar bunyi gong, tanda pintu ke ruang makan akan dibuka.

Andrew berkata, ”Waktunya kita masuk. Kalian bisa bercakapcakap setelah makan malam.”

Semua masuk berbondong-bondong ke ruang makan dan setelah semua duduk di posisi masing-masing, Andrew berbicara.

”Good evening everyone. Malam ini adalah malam yang istimewa. Pertama, sepertinya hampir semua orang malam ini datang terlambat...”

Terdengar suara gerutuan dari segala arah.

”...dan untuk membuat para keponakan bahagia, saya terpaksa mengakui di antara para paman pun hanya dua yang datang tepat waktu... dan saya bukan di antaranya...”

Terdengar suara tawa kecil di sana-sini.

”Jadi, supaya adil bagi semua, besok pagi kita akan mengadakan latihan bersama, dimulai jam lima pagi.” Suara gerutuan langsung terdengar lagi, diselingi keluh kesah di sana-sini.

Andrew melanjutkan, ”Yang kedua, malam ini saya ingin mengumumkan bahwa kita punya anggota keluarga baru.”

Terdengar suara bisik-bisik di sepanjang meja dari para keponakan.

Andrew kembali bersuara, ”I would like to have a toast... As usual, wine is only for those above eighteen. ”

Fay tersenyum geli mendengar suara gerutuan dari arah sebelah kanan—pasti Elliot.

Empat orang pelayan bergerak, mengisi gelas di meja dengan

wine.

Setelah semua gelas terisi, Andrew berdiri sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang dan berkata, ”For the glory of the McGallaghans. The world is in our hands.”

Fay menempelkan gelas di bibirnya dan sekilas melirik Andrew.

Selama berada dalam perawatan, ia berpikir apakah keputusannya untuk bergabung salah. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menjadi bagian dari keluarga yang tidak bisa menilai ketulusan dengan gamblang, yang menjadikan kepura-puraan sebagai jiwa dalam hubungan, dan yang menerima kekerasan sebagai keseharian.

Tapi di akhir perenungan satu minggu itu akhirnya ia yakin tidak ada yang salah dengan keputusannya, karena ketika memilih untuk berada di dekat dua hati milik Reno dan Kent yang begitu tulus menyertainya selama ini, ia telah memutuskan dengan hati.

Ia tidak pernah meminta untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Ia tidak tahu apa maksud Tuhan memberi keluarga ini sebagai pengganti keluarganya, tapi ia percaya perkataan Reno benar, ”Tidak selamanya kita bisa mempertanyakan keputusan Yang Mahakuasa. Selalu ada maksud dari semua kejadian yang menimpa kita, tapi kita tidak akan pernah tahu hingga Yang Mahakuasa memberikan pengetahuan itu.”

Andrew kembali mengangkat gelas anggurnya dan berkata, ”Please welcome our newest family member, Fay Regina... McGallaghan.”

Semua orang mengangkat gelas.

Fay mengangkat gelasnya, lalu menempelkannya ke bibir. Sampai ia tahu maksud Tuhan menimpakan ini semua pada dirinya, ia sebaiknya mencoba menikmati waktunya di tengah-tengah keluarga gila ini.

Keluarganya. 

EPILOG

ANDREW berjalan tanpa tergesa-gesa menyusuri lorong putih L'Hôpital du Dent Blanche, menikmati setiap gema yang ditimbulkan ketukan sepatunya di lantai.

Dikelilingi puncak-puncak pegunungan Peninne Alps yang berada di bagian barat pegunungan Alpen distrik Valais di Swiss, rumah sakit miliknya ini dilengkapi landasan pesawat sendiri dan hanya bisa diakses lewat udara menggunakan helikopter atau jet pribadi. Dengan limitasi akses seperti itu, rumah sakit ini dikenal oleh khalayak terbatas sebagai tempat peristirahatan dan pemulihan kesehatan bagi kalangan atas.

Sepenuhnya benar. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa dari lima gedung utama yang berdiri di atas tanah berbukit dan berlereng di antara dua gunung itu, hanya tiga gedung yang memberi layanan kesehatan eksklusif yang bisa dinikmati oleh kalangan berpunya, sedangkan dua gedung lain mempunyai fungsi lain.

Di salah satu gedung itulah Andrew kini berada. Unit Pemulihan Khusus—sebuah fasilitas penting penunjang kegiatan COU yang diperuntukkan hanya bagi pasien-pasien istimewa dengan identitas tidak tercatat, mulai dari agen-agen COU yang sedang dalam masa pemulihan baik fisik maupun mental, hingga seorang menteri negara dunia ketiga yang mendadak ”hilang”.

Andrew berhenti di depan satu pintu dan menggunakan kartu akses khusus untuk membukanya. Di dalam, terdapat pengamanan tambahan berupa pintu dan dinding kaca antipeluru sebelum memasuki ruang perawatan yang tidak berjendela. Di balik dinding kaca itu terlihat dua orang terbaring di dua tempat tidur, pria dan wanita.

Andrew menggunakan akses khusus kedua berupa pin logam yang dilengkapi smart card, berfungsi sebagai kunci, kemudian masuk tanpa suara. Di dalam ruang ini hanya terdengar nada ”bip” yang teratur, dikeluarkan peralatan penunjang hidup yang ada di ruangan.

Sambil mendekati tempat tidur, matanya sekilas melirik status yang ditempelkan di tempat tidur. Di status mereka, di bawah nomor registrasi pasien, tercantum nama Batman dan Catwoman—atau dengan kata lain, anonim. Andrew tersenyum. Para pegawai administrasi rumah sakit ini memang sangat kreatif dalam memberi julukan bagi para pasien dengan identitas yang tidak boleh diketahui—detail kecil yang berguna dalam keadaan genting karena para dokter dan petugas akan lebih mudah mengingat nama julukan para pasiennya ketimbang hanya berpatokan pada nomor registrasi delapan angka.

Batman masih berada dalam kondisi koma—dan sampai detik ini masih dijaga untuk tetap berada dalam kondisi itu, sedangkan Catwoman sedang tertidur. Mengingat mereka baru saja terempas ke tanah dari ketinggian 2.000 kaki, kondisi Catwoman yang hanya menderita gegar otak ringan benar-benar sebuah keajaiban. Tidak seperti Batman yang di sekujur tubuhnya dipenuhi kabel dan alat penunjang hidup, tidak ada peralatan yang menempel pada Catwoman selain infus dan perban di sebagian kepalanya. Andrew berdiri di antara kedua tempat tidur yang diletakkan berjejer dengan jarak tidak terlalu jauh, sejenak memperhatikan keduanya. Akhirnya ia mendekati Catwoman dan membangunkannya dengan satu tepukan ringan di bahu.

Catwoman membuka mata perlahan. Kelopaknya bergetar ketika dia mencoba memfokuskan pandangan.

Andrew tersenyum. ”Selamat pagi.” Sekarang sebenarnya jam sembilan malam, tapi dengan kondisi ruang tanpa jendela, tidak penting apa yang ia katakan.

Catwoman merespons dengan baik sesuai harapan, ”Selamat pagi.”

”Bagaimana keadaan Anda? Saya harap Anda sudah merasa lebih baik.”

”Y... ya... Anda dokter?” tanya Catwoman ragu.

”Ah, maaf, betapa tidak sopannya saya tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu.” Andrew mengangkat tangan sambil lalu untuk memberi penekanan pada penyesalannya atas kealpaan yang disengaja. ”Nama saya Andrew, pemilik fasilitas yang merawat Anda ini.” Ia tidak repot-repot menjulurkan tangan, ia tahu tangan Catwoman pasti diikat ke tempat tidur di balik selimutnya—prosedur standar.

”Oh... berarti Anda bisa memberitahu saya di mana kami berada? Dan sudah berapa lama kami ada di sini? Saya sudah berusaha bertanya ke semua dokter dan perawat yang datang kemari, tapi tidak ada yang bersedia menjawab,” tanya Catwoman cemas.

Andrew memberikan senyumnya yang paling menenangkan. ”Mereka mungkin tidak menjawab karena tidak ingin Anda dibebani pikiran-pikiran yang tidak perlu. Kalau begitu, izinkan saya menjelaskan. Anda sekarang berada di L'Hôpital du Dent Blanche yang berlokasi di Swiss. ”

Catwoman tampak terkejut dan langsung memotong ucapannya, ”Bagaimana kami bisa sampai di Swiss?” Andrew menjelaskan dengan sabar, ”Pesawat yang Anda tumpangi jatuh dari ketinggian dua ribu kaki. Adalah suatu keajaiban ada penumpang yang bisa selamat—dan dalam kenyataannya ada dua keajaiban yang terjadi. Selanjutnya, saya tentu saja tidak bisa mengandalkan rumah sakit kota kecil di negara berkembang untuk membuat keajaiban berikutnya, jadi Anda dibawa ke fasilitas terbaik yang tersedia.”

Catwoman tampak berusaha mencerna perkataan Andrew. Akhirnya dia berkata, ”Saya berterima kasih sekali atas kebaikan Anda. Tapi bagaimana dengan... Anda tahu... masalah administrasi yang berkaitan dengan ini semua...? Kemudian saya juga harus memberitahu keluarga saya. ”

Klasik. Andrew sudah tahu kecemasan wanita di depannya ini akan mengarah ke mana.

Andrew kembali memberikan senyum terbaiknya. ”Seperti yang saya katakan tadi, Anda dihantui kecemasan yang tidak perlu. Bila tebakan saya benar dan Anda sedang membicarakan tentang biaya yang harus dikeluarkan, Anda tidak perlu khawatir. Fokuskan saja diri Anda untuk pulih.”

Catwoman menatapnya dan berbicara perlahan, ”Terima kasih.”

Mengagumkan. Ada sebuah keraguan yang ditangkap telinganya dari ucapan wanita di depannya ini. Wanita ini cukup cerdas untuk tahu ke mana arah pembicaraan ini. Bukan sesuatu yang ia harapkan, tapi tentu saja ia tahu bagaimana menghadapinya.

Andrew berkata sambil lalu, ”Kalau Anda tidak keberatan, ada beberapa surat yang ingin saya minta untuk Anda tanda tangani. Ini akan menjawab pertanyaan Anda tadi mengenai keluarga.”

Keraguan kini terlihat dengan jelas di wajah wanita di depannya ini. Matanya menyipit dan suaranya terdengar curiga ketika bertanya, ”Surat apa?”

Perlu pendekatan berbeda.

Andrew berkata ramah, ”Izinkan saya menjelaskan semua sesuai urutan yang terbalik. Saya akan menjelaskan dulu apa yang akan terjadi bila Anda tidak menandatanganinya, kemudian saya akan memperlihatkan kepada Anda isi surat-surat itu.”

Tubuh wanita di depannya ini tampak lebih kaku karena antisipasi. Tapi Andrew bisa memastikan tidak ada antisipasi yang cukup untuk mengerti apa yang terjadi berikutnya.

Dengan tenang Andrew mendekati Batman dan lewat sudut matanya ia bisa melihat Catwoman memperhatikan dengan raut penuh tanya dan tubuh yang semakin kaku.

Andrew tersenyum tipis ke arah Catwoman seolah berkata ”everything will be alright”. Tangannya meraih kabel penunjang hidup Batman, kemudian dengan gerak cepat ia mencabutnya. Terdengar nada panjang konstan yang dihasilkan alat penunjang hidupnya.

”TIDAAAK...!” jeritan Catwoman yang melengking terdengar membahana di ruang kecil ini.

Secepat kilat tangan Andrew memasang kabel pada tempatnya, dan kembali terdengar nada putus-putus.

Catwoman terisak histeris.

Andrew bergerak ke arah Catwoman, menyibak selimut dan membuka ikatan tangan kanannya, kemudian menegakkan sandaran tempat tidur Catwoman sehingga dia berada dalam posisi duduk. Andrew lalu mengambil tisu dan menyodorkannya kepada Catwoman.

Catwoman berusaha berhenti menangis dan menyeka air matanya. Dia kemudian menatap Andrew dengan sorot mata takut bercampur marah.

Amazing. Bahkan kemarahan itu bisa dengan jelas terbaca, pikir Andrew.

”Kenapa?” tanya Catwoman dengan suara bergetar. ”Pertanyaan itu tidak ada dalam perjanjian kita tadi,” jawab

Andrew tenang. Ia merogoh jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. Ia mengambil tiga berkas dokumen dari dalam amplop kemudian mengulurkannya kepada Catwoman, ”Silakan ditandatangani. Saya harap akan lebih mudah setelah tadi Anda tahu apa yang akan terjadi kalau Anda menolak.”

Catwoman menerima dokumen itu dengan tangan gemetar, meletakkan dokumen itu di pangkuannya, kemudian dengan gerakan kikuk karena hanya menggunakan satu tangan ia membalik halaman pertama. Seketika itu juga dia terbelalak. ”Apa-apan ini...?” bisiknya lemah.

”Just sign them... please,” ucap Andrew memberi penekanan. Air mata mengalir di pipi Catwoman. Ia menoleh dan menatap

Batman dengan kepiluan yang begitu dalam. Dengan tangan gemetar ia menandatangani ketiga berkas itu.

Andrew mengambil dokumen-dokumen itu dari pangkuan Catwoman kemudian menurunkan kembali tempat tidur seperti posisi semula, memasang ikatan tangan Catwoman, membenarkan posisi selimutnya, lalu beranjak ke pintu kaca.

Lebih mudah daripada yang kukira semula, pikirnya. Tanda tangan Catwoman di dokumen-dokumen ini sebenarnya tidak berarti apa-apa dan tidak akan memengaruhi kejadian apa pun yang telah dan akan bergulir di luar gedung putih L'Hôpital du Dent Blanche yang akan menjadi rumah Catwoman mulai sekarang. Bila Catwoman bersikeras untuk menolak menandatangani dokumen, Andrew dengan mudah bisa memerintahkan analis terbaiknya di COU untuk memalsukan tanda tangannya dengan sempurna. Tapi yang ingin dicapai dari tindakan sederhana berupa pembubuhan tanda tangan adalah kondisi psikologis berupa kepasrahan untuk menerima konsekuensi yang akan terjadi. Catwoman tahu apa yang akan dihadapinya ketika membaca dokumen-dokumen itu. Ketika dia membubuhkan tanda tangan, pikirannya secara sadar mengakui konsekuensi yang akan ia terima setelahnya. Kondisi emosi yang Andrew perlukan untuk menempatkan Catwoman—dan Batman kalau dia sadar—di gedung sebelah: Unit Eksperimen Pikiran dan Perilaku. Andrew mengeluarkan pin logam untuk membuka pintu kedua. Sebelum melangkah ke luar ruangan, ia menyapukan pandangannya kembali ke Catwoman lewat dinding kaca. Tubuh wanita itu terguncang-guncang di atas tempat tidurnya—jelas dia sedang menangis histeris walaupun dari tempat Andrew berdiri sekarang tidak ada suara yang bisa terdengar.

Andrew menutup pintu, turut bersimpati atas apa yang dirasakan Catwoman. Ia tidak bisa menyalahkan Catwoman. Wajar saja seseorang bereaksi seperti itu bila harus menyerahkan anak semata wayangnya kepada orang lain—satu hal yang ia ketahui dengan persis bagaimana rasanya.

Dengan pikiran itu Andrew berlalu, membiarkan pintu tertutup otomatis di belakangnya, kemudian kembali menapaki lorong putih dingin dengan suara gema yang ia nikmati di setiap ketukannya.

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊