menu

From Paris To Eternity Bab 14: The Bitter Truth

Mode Malam
The Bitter Truth

DÉJÀ VU.

Fay mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah

apartemen Andrew tempat ia sekarang berada. Ia menghela napas dan mengempaskan tubuh ke sofa, kemudian bersedekap sambil membiarkan pikirannya melayang tak menentu. Tiket sekali jalan. Tidak terbayang sebelumnya ia akan menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Ia pun tidak punya bayangan sama sekali seperti apa kehidupannya kini. Di mana ia akan tinggal? Apa yang akan

ia temui di depan? Bagaimana dengan kuliahnya?

Kuliah adalah rencana terakhir yang masih sempat ia buat bersama-sama orangtuanya—melakukannya bukan hanya terasa sebagai keharusan, tapi juga amanah yang akan selalu menghubungkan jiwanya dengan jiwa mereka.

”Hai, Fay,” sapa Andrew sambil berjalan mendekat. Andrew mengenakan busana kerja berupa jas hitam yang sangat formal dengan dasi. Di belakang Andrew ada dua pengawal, berbusana serupa, berjas hitam dengan kemeja putih dan dasi. Fay berdiri.

Andrew memeluk Fay. ”Bagaimana kabar kamu?” ”Baik. ”

Andrew tersenyum. ”Saya senang kamu akhirnya mengambil keputusan sendiri atas masa depan kamu.”

”Apa yang akan saya lakukan mulai sekarang?” tanya Fay raguragu.

Andrew meletakkan tangan kirinya di pundak Fay, lalu menjawab, ”Itu bisa menunggu.”

Fay mengangguk sambil mencoba menyelami sepasang mata biru milik Andrew ketika tangan Andrew yang masih ada di pundaknya mendadak mencengkeram bahunya.

Fay berteriak sambil mencoba mengibas bahkan mendorong tangan Andrew dari bahunya, namun tangan Andrew sama sekali tidak bisa digerakkan.

Di sela-sela perjuangan menahan rasa sakit yang meremukkan bahunya, Fay melihat dua pengawal Andrew mendekat.

Terasa satu pukulan menghantam bagian belakang kepala.

Fay mengerang saat jatuh ke sebuah kedalaman yang pekat. Badannya menyentuh lantai seperti ditarik ke tepi satu pusaran yang berputar kencang, membuatnya hanya bisa melihat warna abu-abu pekat yang siap menyambarnya ke dalam arus yang berputar. Tergeletak di lantai seperti seonggok kayu mati, sayupsayup ia mendengar sebuah suara yang semakin mendekat, seperti mengambang dalam air. Suara Andrew.

”Enter your new world, Fay.”

Fay berusaha membuka mata, tapi sangat sulit untuk berkonsentrasi menggerakkan kelopak matanya dengan pusaran yang menyeretnya semakin kencang. Ia mendengar suara gesekan sepatu yang menyapu karpet tebal, mendekat ke arahnya Terasa sebuah

tangan membalikkan tubuhnya, kemudian mencengkeram tengkuknya. Sebelum ia sempat bersuara, murka kegelapan menerkam dan hanya ada hitam.  Fay membuka matanya perlahan. Semua putih.

Mungkin masih bermimpi.

Fay mengatupkan mata, tapi anehnya malah merasa seperti terbangun dari tidur. Ia pun segera membuka matanya lagi.

Semua masih putih.

Fay menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang masih tampak berbayang di pelupuk mata. Kini ia berada di tengah-tengah ruangan yang seluruhnya berwarna putih, mulai dari lantai, dinding, plafon, hingga pintu, dengan penerangan cahaya putih menyilaukan dari langit-langit. Bajunya pun kini berwarna putih, seperti baju pasien di rumah sakit. Tidak butuh waktu lama hingga ia tersadar sedang terduduk di atas kursi dengan kedua tangan terikat ke belakang. Di sebelah kursi tempatnya duduk ada sebuah meja beroda yang di atasnya terdapat sebuah baki logam kosong.

Sedikit demi sedikit potongan ingatan yang terserak mulai tersusun. Ketika semua keping ingatan itu bersatu dengan utuh, ia merasa bagai diterjang deru angin yang menerpa wajah dan menyentak benaknya. Kesadaran menjalari setiap senti tubuhnya hingga saraf seluruh tubuhnya mengirimkan sinyal-sinyal untuk mengingatkan otaknya atas apa yang terjadi sebelumnya. Saat itu juga ia sadar bahwa putih yang dilihatnya dan apa yang dialaminya sekarang bukan mimpi.

Setelah pertemuan singkatnya dengan Andrew, Fay tahu-tahu terbangun di sebuah lubang yang terasa seperti kuburannya sendiri—lubang tempatnya disekap itu gelap total, berkedalaman satu meter, dan berukuran hanya lebih lebar sedikit daripada tubuhnya. Fay ingat bagaimana ia berusaha menggedor pintu besi di atas kepalanya dan ketika ia akhirnya bernapas lega karena dikeluarkan dari lubang, ternyata ia memasuki sebuah neraka baru—ia dibawa keluar hanya untuk dihadapkan pada tiga orang berpakaian serbahitam dan bertopeng ski hitam yang menghujaninya dengan berbagai pukulan dan tendangan tanpa alasan. Dengan perasaan hancur berkeping-keping Fay melihat Andrew berdiri di pojok ruangan, hanya menyaksikan ketiga pria itu menyiksanya, tanpa berkata-kata dan tanpa berusaha mencegah mereka. Fay pun menangis dan memohon, sambil berdoa dalam hati semoga semua ini segera usai. Tak butuh waktu lama untuk tahu bahwa air mata, rintihan, dan permohonannya sama sekali tidak menggerakkan hati Andrew dan tidak akan mengubah nasib di ujung tangan para penyiksanya yang tidak mengenal belas kasihan. Setelah Andrew memberi tanda, ketiga pria itu berhenti dan Fay pun dikembalikan ke lubang. 

Setelah itu, dua kali kejadian yang sama terulang kembali. Saat kembali ditarik keluar dari lubang untuk keempat kalinya,

Fay sudah berhenti memohon. Ia sudah yakin bahwa Tuhan memang memilih untuk membiarkan ini terjadi, entah karena alasan apa, dan ia hanya pasrah menerima semua yang terjadi, mengikuti pesan Bobby untuk hidup pada setiap detiknya sambil berharap pada detik selanjutnya keadaan akan lebih baik.

Suara pintu terbuka.

Pikiran Fay memijak kembali ke ruang putih dan Fay menoleh untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan.

Andrew.

Fay menggigil tanpa bisa dicegah.

Fay mencoba membuang muka ke arah lain dengan napas sesak penuh rasa takut yang tidak bisa dilukiskan. Tapi, pakaian Andrew yang serbahitam ditambah warna pirang rambutnya membuat pria itu tampak begitu berwarna dan tidak bisa diabaikan di ruang serbaputih ini. Pertanyaan demi pertanyaan menghampiri Fay seiring dengan langkah Andrew yang mendekat.

Apa yang ia lakukan di sini? Salahkah keputusannya ketika memilih untuk menjalani ini untuk masa depan?

Ia memilih tanpa punya pilihan. Masa depan macam apa ini? Sampai kapan ia harus menjalani ini semua?

Apakah siksaan ini akan pernah berakhir?

Ke mana kini ia harus berpaling setelah tidak punya siapa-siapa lagi?

Air mata perlahan mulai terasa mengintip dari kedua jendela mata Fay. Satu-satunya pria yang diharapkan bisa menggantikan posisi orangtuanya sudah mengecewakannya. Pria yang sama, yang diharapkan bisa memberinya kehidupan baru, malah seperti berusaha mengambil napas hidupnya—secara perlahan, dengan cara yang paling menyakitkan.

Andrew kini berdiri tepat di hadapan Fay. ”Bagaimana keadaan kamu?”

Fay menatap lurus ke depan, tidak berniat membalas tatapan Andrew atau menjawab pertanyaannya.

Plak!

Satu sengatan menyakitkan terasa di pipi kiri Fay seiring dengan kelebatan tangan Andrew. Air mata Fay mengalir keluar diiringi pedih di dada.

Andrew mengulurkan tangan dan dengan lembut mengelus pipi Fay yang terkena pukulannya. ”Tadi saya bertanya, bagaimana keadaan kamu...”

Rasa takut yang sedemikian memenuhi relung batin Fay seakan pecah. Tangis yang sudah sedari tadi berusaha ditahannya pun meledak diiringi isakan yang membawa rasa pedih hingga ke tulang. Susah-payah Fay mencoba menghentikan isakannya dan dengan bibir bergetar ia menjawab di sela-sela tarikan napasnya, ”Tidak baik.”

Andrew mengelus pipi Fay yang masih terasa sakit dan menyentuh bibir Fay yang bengkak dengan ujung-ujung jemarinya. Masih dengan kelembutan yang sama, ia berkata, ”Bertahanlah. Ini masih belum usai.”

Dengan perasaan takut yang membuat isi perutnya seakan terkuras, Fay menatap sepasang mata biru yang begitu menyejukkan di hadapannya ini. Monster apa yang ada di dalam sana? Kenapa kejahatan bisa bercokol di balik mata biru yang begitu menenangkan? Apa yang diinginkan pria di depannya ini? Bagaimana mungkin sebelumnya ia sempat berharap pria ini bisa menggantikan sosok seorang ayah di sisinya?

Fay melihat Andrew kembali berdiri dengan tegak lalu mengeluarkan dompet berwarna hitam dari kantong, mirip seperti yang biasa dibawa oleh almarhum Papa bila bepergian ke luar negeri. Andrew membuka ritsleting di ketiga sisi dompet dan meletakkan dompet itu dalam posisi terbuka di atas baki logam. Di satu sisi dompet terlihat dua suntikan yang sudah terisi, satu berisi cairan berwarna bening, dan satu lagi cairan berwarna biru. Di sisi yang lain terdapat sebuah suntikan berukuran sama, hanya saja semua bagiannya, bahkan badan dan tuas suntikan, mem-

punyai warna logam keperakan hingga tak terlihat isinya.

Suara Andrew memecah keheningan, ”Cairan yang berwarna bening akan mengundang kematian dalam waktu singkat, relatif tanpa rasa sakit. Setelah disuntikkan ke tubuh, selama dua puluh detik tidak ada perubahan apa pun yang bisa dirasakan, hingga pada detik kedua puluh satu, otak memerintahkan semua organ untuk menghentikan aktivitas secara serentak. Pada detik kedua puluh lima, semua sudah berakhir. Sebuah cara yang sangat efektif dan efisien untuk melepas nyawa.”

Fay hanya diam dan berusaha mencerna kenapa Andrew memberitahukan ini semua.

Andrew melanjutkan, ”Cairan berwarna biru ini, oleh beberapa orang yang tubuhnya pernah dialiri olehnya dan secara beruntung bisa melaluinya, dijuluki fte Grabber, atau Sang Perenggut...,” ia berhenti sebentar, ”...bukan hanya karena cairan ini bisa merenggut nyawa, tapi karena selama perjalanan cairan ini dalam tubuh, apa pun yang dilewatinya terasa direnggut olehnya. Dimulai dari setiap mili pembuluh darah yang terasa seperti ditarik hingga seperti akan putus, katup jantung yang seperti tercabut dari tempatnya, dan jantung yang seperti... tercabik-cabik. Dan ketika cairan ini mulai masuk ke pembuluh darah di otak, kepala akan terasa sangat sakit seperti akan pecah.”

Fay menatap Andrew dengan kengerian yang serasa hampir menggilas napasnya. Perkataan Andrew seperti terpantul-pantul di dalam otak, membuat kepala Fay berdenyut-denyut. Berbagai skenario sudah bermain di ujung benak Fay, tapi ia mencoba tidak menggubris mereka dan menutup semua celah yang bisa menyuarakan mereka.

Andrew menatap Fay dalam-dalam kemudian berkata, ”Kematian tentunya akan datang. Tapi sayangnya tidak secepat yang diharapkan. Ironisnya, yang akan menyebabkan kematian itu bukanlah cairan itu sendiri, tapi reaksi tubuh atas persepsi yang dibentuk otak setelah merasakan sakit itu. Bisa jadi diafragma akan menutup karena otak merasa paru-paru akan dimasuki benda asing. Atau mungkin pembuluh akan mempersempit diri dengan kecepatan yang mengagumkan, menyumbat aliran darah dan akhirnya memecahkan pembuluh. Atau mungkin otak merasa jantung sudah bekerja terlalu keras sehingga memerintahkannya untuk menurunkan kecepatan memompa darah sebelum akhirnya berhenti sama sekali.”

Fay kini merasa napasnya sesak. Desah kematian seperti sudah mengelus telinganya, terasa begitu dekat.

Andrew kembali berucap, ”Suntikan ketiga adalah penetralisir bagi Sang Perenggut. Cairan di dalam suntikan logam ini bagaikan membasuh semua luka yang diakibatkan oleh cairan biru itu, menegasi rasa sakit yang terasa dalam sekejap.”

Andrew bergerak ke belakang Fay dan membuka pengikat kedua tangan Fay. Pria ini sudah gila! Kenapa Tuhan harus mempertemukan aku dengan pria ini! Apa maksud ini semua?? Apa lagi yang akan dilakukan oleh pria ini sekarang??

Perlahan Andrew membimbing Fay untuk berdiri.

Fay mengerang ketika sekujur tubuhnya terasa sakit ketika digerakkan dan setiap sendi tubuhnya memberontak ketika ia berdiri. Dengan lunglai ia merosot ke lantai.

Andrew menangkap Fay tepat sebelum jatuh, mengangkat gadis itu dengan kedua tangan, kemudian membopongnya menuju dipan dari besi beralaskan matras di sisi dinding tepat di belakang kursi. Dengan hati-hati Andrew menidurkan Fay di atas matras, kemudian berjalan menuju meja.

Dengan tegang Fay melihat apa yang diambil oleh Andrew.

Sang Perenggut.

Andrew kembali mendekat dan meraih tangan Fay.

Tidak punya kekuatan untuk melawan, Fay menutup mata dan menggigit bibirnya yang gemetar. Ketika ia merasakan sengatan ringan seperti gigitan semut dan membuka mata, Andrew sudah memegang suntikan kosong di tangannya. Segera Fay merasakan panas secara perlahan menjalari tangannya dari titik tempat Andrew tadi menyuntiknya.

”Kenapa...?” bisik Fay lemah.

”Hidup adalah sebuah pilihan, dengan segala konsekuensinya... Terlalu sering seseorang menjatuhkan pilihan hidup tanpa bersedia menerima konsekuensi atas pilihan itu. Ini jalan yang kamu pilih, dan bila ternyata konsekuensinya menyakitkan, then be it,” ucap Andrew.

Fay menyaksikan Andrew melangkah menuju baki logam dan menyimpan suntikan kosong di dalam dompet.

Andrew lalu mengeluarkan satu suntikan dan menggeletakkannya di atas baki logam, kemudian berjalan mendekati Fay sambil memasukkan dompet hitam ke jasnya. Ia lalu berkata, ”Mari kita lihat apakah kamu merupakan golongan orang-orang lemah yang dikalahkan oleh nasib di jalan pilihan sendiri atau kamu akan menjadi penggores nasib yang tidak terjebak dalam konsekuensi pilihan kamu.”

Fay membiarkan air matanya menetes saat Andrew berada tepat di hadapannya. Bagaimana mungkin sebelumnya ia bisa menggantungkan harapan begitu besar di pundak pria ini?

Andrew mencium kening Fay dan berkata lembut, ”Selalu ada cara untuk menyerah kalah, tapi hanya ada satu cara untuk menang.”

Fay menangis tanpa suara, membiarkan air mata membanjiri wajahnya sambil menatap Andrew yang berjalan meninggalkan ruangan hingga akhirnya lenyap di balik pintu putih yang langsung tertutup rapat.

Sudah mulai terasa.

Fay menggigit bibirnya dan meremas tangannya yang panasnya semakin bergolak. Detik berikutnya panas itu terasa seperti mulai membakar tangannya dari dalam. Mulutnya langsung mengeluarkan jeritan kesakitan yang bahkan terlalu memilukan untuk didengar telinganya sendiri. Terengah-engah menahan rasa sakit yang menggerayanginya, mata Fay kini terfokus pada suntikan berisi cairan bening yang tergeletak di atas baki.

Andrew melangkah ke ruang observasi. Di dalam ruangan, empat Pilar COU lain sedang mengamati Fay lewat kaca satu arah sambil bercakap-cakap.

Tepat setelah Andrew menutup pintu terdengar jeritan Fay di pengeras suara. Percakapan di ruang observasi terhenti sejenak; semua perhatian terarah kepada Fay yang kini sudah jatuh ke lantai, sedang menggeliat menahan sakit dengan napas terengah-engah.

Steve yang pertama berbicara. ”Ada yang berani bertaruh untuk gadis ini?” ”Percuma saja,” ujar Philippe menanggapi. ”Saya rasa selain Andrew, tidak ada yang yakin gadis ini bisa lolos... Kelihatannya bahkan Andrew saja tidak berani mempertaruhkan uangnya untuk yang satu ini.”

Andrew tidak menanggapi ucapan Philippe dan memilih untuk memperhatikan Fay dengan saksama, menyaksikan bagaimana Fay perlahan-lahan merayap ke arah meja, dengan tubuh meregang sambil merintih dan sesekali terisak.

Raymond memperhatikan Fay sambil menggeleng. ”What a waste. Saya percaya dia calon yang potensial. Tes ini terlalu berat untuknya.”

Terdengar kembali jeritan Fay di pengeras suara.

James mengernyit dan membetulkan posisi kacamatanya yang melorot, lalu bangkit dari kursi dan memelankan volume, ”That’s awful.”

Steve tertawa. ”Kenapa kamu jadi sentimental seperti itu, James? Ingat masa lalu?”

James hanya menggeleng dan menggumam tidak jelas, lalu kembali duduk.

”Gentlemen, pay attention,” ucap Raymond.

Di ruang sebelah terlihat Fay sudah hampir mencapai meja. Philippe memainkan gelas anggur di tangannya dan berkata,

”Sayang sekali Andrew tidak berani bertaruh... Saya pasti menang.”

Raymond berdecak. ”Philippe, kita sedang membicarakan nyawa seseorang... Sama sekali bukan hal yang layak untuk dijadikan taruhan.”

Philippe mengangkat bahu sambil melirik Andrew. ”Bukan saya yang punya usul memberi ujian Head or Tail kepada gadis ini.”

Andrew tidak menanggapi sindiran Philippe, mengarahkan pandangannya lekat ke arah Fay yang dengan susah-payah berusaha merangkak dengan tubuh bergetar menahan sakit.

James mendekat ke arah kaca dan langsung mengeluarkan suara tertahan ketika melihat Fay sudah berhasil tiba di kaki meja, sedang berusaha menggapai suntikan yang ada di atas baki.

”C’mon... don’t do that,” ucap James sambil memegang rambutnya yang acak-acakan. ”Andrew, apa tidak bisa kamu batalkan saja tes ini sekarang?” tanyanya lagi dengan cemas.

Andrew mengeraskan volume pengeras suara. Tepat saat itu, tangan Fay yang gemetar berhasil meraih baki logam namun baki itu terdorong tangannya. Terdengar bunyi berkelontangan dari logam yang beradu dengan lantai marmer; suntikan terlempar agak jauh ke arah dinding.

”Damn!” maki Steve.

Terdengar teriakan putus asa Fay di sela-sela jeritan kesakitannya. Terlihat Fay kembali merangkak, berusaha mendekati suntikan yang kini tergeletak di lantai.

Philippe berkata, ”Saya rasa ini kasus pertama seorang Direktorat Pusat gagal dalam penilaian profil... Well, selalu ada kali pertama dalam segala hal.”

Semua yang ada di ruangan tidak berbicara lagi, menyaksikan kejadian di ruang sebelah dengan tubuh tegak.

Akhirnya Fay berhasil meraih suntikan. Susah-payah ia menyusun jemarinya pada posisi yang seharusnya di suntikan.

James tampak putus asa dan memajukan wajah ke kaca. ”No... no... don’t do that... fight it...,” ucapnya pelan seperti berkata kepada diri sendiri.

”Ini dia saatnya,” gumam Philippe. ”Ucapkan selamat tinggal kepada Fay Regina...”

Ucapan Philippe tidak selesai; ia tertegun ketika melihat Fay menekan tuas suntikan, membiarkan butir-butir cairan mengucur seperti air mancur ke udara.

Sejenak semua yang ada di ruangan terpana dan tak ada yang berkata-kata. Setelah hening beberapa saat, Steve berkomentar, ”Wow, I’ve never seen anything like that.” Tangan Steve bergerak untuk mengecilkan pengeras suara yang memperdengarkan isak tangis Fay.

Andrew menepuk pundak Philippe dan berkata, ”Jelas ini bukan ’kali pertama’ yang kamu maksud...”

Tanpa melepaskan pandangan ke Fay yang kini terbaring di lantai dengan napas naik-turun, Philippe menjawab, ”Saya pikir kamu gila ketika mengusulkan memberi tes ini kepada Fay... dan fakta bahwa Fay lolos hanya membuktikan kamu ternyata lebih gila daripada yang saya sangka.”

Steve tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Philippe. Philippe menggeleng sambil mengangkat gelas anggurnya,

”Toast untuk menghormati Kepala Direktorat Pusat.”

”Thank you, Philippe,” ucap Andrew sambil tersenyum tipis.

James bersuara, ”Andrew, sebaiknya kamu segera masuk dan membantu Fay... Dia terlihat sangat kesakitan!”

”Saya rasa semua sudah setuju gadis ini dinyatakan lolos,” tambah Raymond.

Andrew melihat Bvlgari di tangannya. ”Memang sudah saatnya.” Sambil mengeluarkan suntikan penangkal dari dompet hitam di jasnya, Andrew beranjak keluar dari ruangan, diikuti Philippe.

Steve memperhatikan Andrew masuk ke ruang sebelah lalu menggumam, ”Hanya ada satu orang yang pernah bereaksi seperti itu di bawah pengaruh Sang Perenggut, mengundang kehidupan dengan membuang satu-satunya pilihan yang bisa melepaskan diri dari kesengsaraan.”

”Apa bedanya?” tanya James sambil mengerutkan kening. ”Yang penting Fay lolos.”

Raymond menimpali, ”Tentu beda, James. Kamu tentu masih ingat bagaimana rasanya berada di bawah kuasa Sang Perenggut— bukan satu hal yang bisa kita lupakan begitu saja. Walaupun kita berusaha keras untuk menerima rasa sakit, kita masih ingin pilihan untuk mengakhirinya masih tersedia. Yang dilakukan oleh Fay adalah menghilangkan satu-satunya kesempatan itu, seolah mengatakan ia siap menerima sisi terburuk yang ditawarkan oleh hidup.”

James menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat, lalu berkata lamat-lamat, ”Kamu benar... it was good to have the option open. Steve, kamu tahu siapa yang pernah melakukan hal seperti itu?”

Steve tidak langsung menjawab, memperhatikan Andrew yang membopong Fay ke dipan setelah menyuntik Fay dengan suntikan penangkal. Dengan sudut bibir terangkat sedikit, ia akhirnya menjawab, ”Siapa lagi yang segila itu selain Andrew?”

Raymond tertawa kecil. ”Mudah ditebak,” ucapnya sambil mengeraskan volume pengeras suara.

Terdengar suara Andrew di ruang sebelah, ”Welcome to the McGallaghans family, Fay.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊