menu

From Paris To Eternity Bab 13: Balutan Duka

Mode Malam
Balutan Duka

FAY termenung dalam kesendirian di keremangan ruang tengah apartemen Andrew. Kesendirian yang mencekam, yang berbeda dari malam demi malam yang pernah ia jalani seorang diri. Kesendirian yang abadi, yang mendadak baru ia sadari setelah kesadaran akan kehilangan sudah benar-benar menghinggapi perasaannya.

Fay menyeka air mata yang tahu-tahu saja sudah menetes dan membasahi pipi.

Tiga hari sudah berlalu setelah kabar kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa orangtuanya disampaikan oleh Andrew. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana jantungnya sendiri seakan berhenti berdetak saat mendengar berita itu, seolah jiwanya ikut terempas bersama pesawat yang membawa orangtuanya. Sejak itu, ruang dan waktu seakan berjalan di dimensi yang berbeda dan semua kesibukan yang terjadi di sekelilingnya hanya seperti potongan-potongan gambar dalam film singkat bertema tragedi. Fay tidak tahu berapa lama ia tidak sadarkan diri setelah mendengar kabar buruk tersebut—yang ia ingat kemudian, ia terbangun di sofa dengan Andrew yang duduk di sisinya. Selama beberapa detik setelah membuka mata, ia sempat bertanya dalam hati apakah yang baru saja ia dengar semata mimpi buruk, tapi begitu matanya beradu pandang dengan Andrew, detik itu juga kesadaran menyergap bahwa semua yang ia dengar adalah nyata dan ia pun langsung terisak histeris dalam dekapan Andrew.

Malam itu juga, Andrew menghubungkan Fay dengan Tante Linda, ibunda Lisa. Tante Linda-lah yang pertama kali mendengar tentang peristiwa nahas itu dari kerabat beliau yang bekerja di Kedutaan Indonesia di Peru, yang sempat ditemui orangtua Fay dalam kunjungan mereka ke Peru. Setelah mendengar berita itu, Tante Linda langsung berusaha menghubungi Fay ke Institute de Paris lewat nomor telepon yang beliau peroleh dari Mbok Hanim, pengurus rumah Fay.

Ketika mendengar suara Tante Linda, Fay berusaha menguatkan hati saat harus mendengar kembali berita buruk yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan singgah ke telinganya. Fay pun kembali terisak histeris ketika harapan terakhirnya akan sebuah kesalahpahaman pupus. Ia dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ia sebatang kara dalam menjalani hari-harinya ke depan. Dilahirkan sebagai anak tunggal dari seorang ibu yang juga anak tunggal dan dari seorang ayah yang sudah memutuskan pertalian darah dengan keluarga yang lain, Fay memang hanya memiliki orangtuanya.

Sejak mendengar berita duka itu, Fay bermalam di apartemen Andrew dan selama itu pula Andrew bisa dikatakan tidak pernah lepas dari sisinya. Andrew mengirim satu tim pencari ke lokasi jatuhnya pesawat di Peru dan meminta Fay untuk tetap tinggal di Paris hingga kondisi emosinya stabil dan pencarian membuahkan hasil.

Fay mengusap air mata yang sudah kembali membasahi pipi. Pengajian untuk mendoakan orangtuanya sudah diadakan kemarin di rumahnya di Jakarta, tanpa kehadiran dirinya. Bagaimana mungkin nasib begitu kejam dan membiarkan hal ini terjadi? Bahkan hak untuk melepas kepergian orangtuanya sendiri untuk terakhir kali saja seakan sudah dicabut dari tangannya!

Fay kembali terisak dalam hening, membiarkan pikirannya menerawang ke titik saat semua jiwanya seakan ikut terempas. Menurut informasi Kedutaan Besar Indonesia di Peru yang ia dengar dari Tante Linda, orangtuanya sedang mengikuti sebuah tur udara dengan pesawat charter yang melintasi Amazon saat peristiwa nahas itu terjadi. Petugas menara kontrol kehilangan kontak dengan pesawat setelah pilot memberi panggilan darurat dan menyatakan pesawat akan jatuh. Pencarian lokasi jatuhnya pesawat pun terkendala karena posisinya yang terpencil di pedalaman Amazon. Berdasarkan kejadian-kejadian yang pernah ada sebelumnya, Kedubes RI di Peru menyatakan kemungkinan ada yang selamat hampir tidak ada.

Amazon.

Fay tercenung. Kata itu selama ini hanya pernah ditemuinya di buku-buku cerita berbahasa Inggris yang dibawa orangtuanya sebagai oleh-oleh dari perjalanan bisnis mereka. Atau di buku pelajaran geografi sekolah. Tidak pernah terbayang olehnya nama itu bisa menyisip langsung ke telinganya, disertai bayangan bahwa orangtuanya, atau apa pun yang tersisa dari mereka, telah terbaring di sana.

Fay mencoba menyelami perasaannya sekarang, dengan butir air mata yang belum juga mengering. Relung perasaannya kini seperti rentetan bilik kosong. Apakah ini rasa sedih atau rasa takut? Apakah ini rasa kehilangan atau rasa sepi? Apakah ini disebabkan oleh ketidakpastian masa depan, atau karena kepiluan akan kenangan masa lalu? Ia sama sekali tidak bisa memilah apa yang bercokol di dalam sana. Yang ia tahu, kini ia hanya sendiri. Menapaki dunia yang masih berputar, menjalani hari yang akan terbentang, dan menatapi langit yang masih menaungi hari-harinya di depan, sendirian. Fay lagi-lagi membiarkan dirinya menangis, mengeluarkan semua beban yang mengganjal batinnya. Betapa bodohnya ia selama ini, mengutuki waktu-waktu yang tidak diberikan oleh orangtuanya dan bukannya menikmati waktu yang masih sempat diberikan oleh mereka... Apa yang ada di kepalanya ketika ia sebenarnya punya pilihan untuk bercengkerama dengan orangtuanya, tapi ia malah menghindar dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan para sahabatnya? Kenapa ia baru menyadari arti kebersamaan ketika ia sudah merasakan kehilangan? Andaikan ia bisa membalik waktu....

”Fay ”

Fay mendongak dan melihat Andrew yang ternyata sudah berdiri di dekat sofa tempatnya duduk. Andrew lalu duduk di sebelahnya sambil mengulurkan saputangan.

Fay menerima saputangan yang diulurkan Andrew lalu mengusap air matanya sambil berusaha menghentikan isak tangisnya.

Andrew menyentuh bahu Fay dan berkata, ”Fay, saya baru saja menerima berita dari tim pencari. Mereka sudah berhasil menemukan lokasi pesawat Namun evakuasi tidak bisa dilakukan karena

pesawat sudah habis terbakar dan tidak ada yang tersisa. ”

Air mata Fay kembali mengalir dengan isak tangis yang semakin kencang.

Andrew menarik Fay ke dalam pelukannya. ”I’m really sorry, Fay. May they rest in peace,” ucap Andrew lembut.

Fay membiarkan tangisnya pecah, membiarkan kesendirian yang menyesakkan menggerogoti ruang batinnya, membiarkan kesendirian yang sama mencabik-cabik rongga hatinya.

Keesokan harinya, Fay bangun dengan mata sembap dan mengurung diri di kamar hingga hampir tengah hari. Setelah makan siang, ia akhirnya memutuskan sudah tiba saatnya untuk pulang ke Jakarta. Fay pun langsung menemui Andrew di ruang kerja. ”Kamu yakin ingin pulang sekarang?” tanya Andrew setelah Fay mengutarakan keinginannya.

Fay mengangguk. Ia tahu duka di hatinya masih terbuka lebar, tapi ia tahu cepat atau lambat harus menghadapi kenyataan pahit yang masih akan menemani hari-harinya di depan.

”Seperti yang pernah saya katakan, saya tidak keberatan kamu pulang bila kondisi emosi kamu sudah membaik. Apakah kamu perlu ditemani?”

”Tidak usah, terima kasih. Saya... sudah lebih baik,” jawab Fay tanpa menatap Andrew. Fay tahu Andrew menatapnya lekat, jadi ia pura-pura memperhatikan Swatch di pergelangan tangannya sendiri untuk menghindari beradu pandang dengan Andrew.

Andrew akhirnya berkata, ”Kalau kamu sudah merasa lebih baik, tidak masalah. Kamu bisa pulang hari ini dengan pesawat pribadi saya.”

Fay terperanjat dan selama beberapa saat hanya bisa menatap Andrew tanpa berkata satu patah kata pun. ”Terima kasih,” ucapnya kemudian dengan suara parau.

Pintu ruang kerja terbuka dan Reno muncul. Reno mendekati Fay dengan cepat lalu langsung memeluknya erat. ”I’m so sorry to hear the news... May they rest in peace in heaven,” ujarnya lembut.

Air mata Fay langsung keluar. Semua kilasan kejadian yang menimpanya lagi-lagi berkelebatan dalam benaknya, membuka kembali luka batin yang masih bersimbah duka. Fay pun akhirnya membiarkan air matanya tumpah dalam dekapan Reno yang semakin mempererat pelukannya.

Reno menatap Fay sambil berkata lembut, ”Aku tahu betapa berat rasanya mencoba melewati semua ini seorang diri... Aku ingin kamu tahu kamu tidak akan sendirian melewati ini semua karena apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk mendampingi kamu.”

Fay mencoba mengucapkan terima kasih, tapi tidak ada suara yang keluar dari celah di antara kedua bibirnya. Air mata juga mulai terasa kembali berkumpul di pelupuk mata.

Jari Reno mengusap pipi Fay lembut, menghapus air mata yang mulai berjatuhan. Reno lalu mengecup kening Fay, ”Be strong, lil’ sis...”

Andrew bertanya, ”Reno, apa ada urusan di kantor yang harus kamu selesaikan hari ini dan besok?”

”Tidak ada. Lusa ada sesi latihan dengan Steve pada pagi hari, setelah itu saya kembali ke Zurich.”

Andrew berkata, ”Fay ingin pulang hari ini ke Jakarta.”

Reno langsung menatap Fay dan berkata cemas, ”Kenapa buruburu, Fay? Tinggal saja dulu hingga kamu merasa lebih baik.”

Fay menggeleng. ”Aku... aku harus pulang.”

Andrew berkata kepada Reno, ”Saya akan mengizinkan kamu mengantar Fay hingga tiba di rumah. Setelah itu kamu harus segera kembali ke Paris.”

”Thanks, Uncle,” ucap Reno.

”Sebaiknya kalian bersiap-siap sekarang. Kalian bisa berangkat setengah jam lagi,” ucap Andrew. Ia lalu menyodorkan satu kartu nama kepada Fay, ”Saya ingin kamu tahu saya akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka. Hubungi nomor ini kapan pun kamu siap.”

Fay menerima kartu nama yang disodorkan Andrew dan memasukkannya ke saku celana.

”Selamat jalan, young lady. Take care of yourself,” ucap Andrew kemudian sambil memeluk Fay.

Fay melayangkan pandangannya ke luar jendela pesawat, menatap bentangan langit biru yang sangat megah. Matanya pun berkacakaca ketika membayangkan orangtuanya kini sudah menjadi bagian keindahan yang ia lihat sekarang, menyatu dengan alam Yang Mahakuasa, tak terjangkau pemahaman kehidupan.

”Fay...,” tegur Reno.

Fay buru-buru menyeka matanya. ”Ya...?”

”Aku tahu kamu masih sangat berduka dan wajar untuk merasakan semua kepedihan ini hingga tuntas. Tapi aku juga ingin mengingatkan hari-hari kamu ke depan masih panjang dan duka ini tidak boleh membuat kamu putus asa.”

”Bagaimana aku tidak putus asa, Ren...? Aku masih nggak mengerti kenapa ini terjadi padaku! Hidupku selama ini baik-baik saja, aku pun tidak pernah melakukan hal-hal buruk dan jahat... Tapi kenapa Tuhan menimpakan ini semua padaku!” sahut Fay keras sambil mengempaskan tubuh ke sandaran kursi.

Reno terdiam sebentar lalu menjawab, ”Tidak selamanya kita bisa mempertanyakan keputusan Yang Mahakuasa. Selalu ada maksud dari semua kejadian yang menimpa kita, tapi kita tidak akan pernah tahu hingga Yang Mahakuasa memberikan pengetahuan itu. Satu hal yang kuyakini, pada detik kelahiran kita, pada detik yang sama pula kematian kita sudah ditetapkan. Kematian tidak bisa dihindari—caranya bisa beragam, tapi momen itu tidak pernah sedetik pun meleset.”

”Maksud kamu, waktu untuk orangtuaku di dunia ini memang sudah selesai, dan kalaupun kecelakaan itu tidak terjadi, mereka mungkin akan pergi dengan cara lain?” gumam Fay.

Reno menghela napas. ”Entahlah, Fay... mungkin saja... yang jelas, itulah yang aku yakini selama ini.”

Fay terdiam sejenak, melayangkan pandangan ke langit biru tak berbatas. ”Aku sekarang tidak punya siapa-siapa lagi...,” ucap Fay dengan suara tercekat. Butir-butir air mata yang sudah hampir keluar membuat Fay tidak bisa melanjutkan ucapannya.

”Aku pernah melalui kesedihan yang sama, Fay. Percayalah, kesedihan ini akan berlalu. Kamu harus memercayakan semuanya pada waktu, karena hanya waktulah yang bisa menyembuhkan luka yang sekarang ada di hati kamu...” Reno memajukan tubuh. ”...dan, Fay, jangan lupa... kamu selalu mempunyai aku.”

Sebuah ketulusan begitu terasa dari kalimat yang diucapkan Reno dan dengan mata berkaca-kaca Fay berkata pelan, ”Thanks ”

Reno berkata lembut, ”You’re welcome, lil’ sis.”

Setelah hening sesaat, Fay kembali bertanya, ”Bagaimana kamu dulu melaluinya... saat kamu kehilangan orangtua kamu? Kamu kan masih sangat muda. ”

Reno mengembuskan napas. ”Aku beruntung karena sebelum kejadian itu Andrew sudah menawariku menjadi bagian dari keluarga McGallaghan dan aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan Andrew. Sedikit-banyak itu memaksaku pulih lebih cepat.”

Fay mengerutkan kening. ”Apa maksud kamu dengan kamu sudah memutuskan sebelum kejadian itu? Aku pikir kamu bertemu Andrew setelah kecelakaan itu.”

”Aku bertemu Andrew mungkin satu tahun sebelum kejadian.”

”Tapi kamu kan masih kecil! Baru sekolah dasar, kan?”

”Iya, rekrutmen anggota keluarga McGallaghan memang benarbenar satu hal yang tidak biasa. Agen-agen yang bekerja di kantor direkrut pada usia minimal delapan belas tahun, tapi anggota keluarga McGallaghan sudah mulai didekati saat masih belia, antara tahun keempat sekolah dasar hingga tahun ketiga sekolah menengah. Satu-satunya pengecualian adalah Kent.”

”Bagaimana mungkin kalian memutuskan apa pun di usia semuda itu!” seru Fay. ”Atau, apakah ada paksaan?”

”Tidak ada paksaan. Kami didekati selama satu tahun dan selama setahun itu kami perlahan-lahan dikenalkan pada dunia yang akhirnya kami jalani ini sambil diamati. Pada akhir satu tahun itu kami diberi pilihan untuk terus atau berhenti.” ”Aku masih tidak mengerti bagaimana anak sekecil itu bisa memilih,” ucap Fay sambil menggelengkan kepala.

Reno tersenyum. ”Kedengarannya memang aneh, tapi kamu jangan membayangkan penawaran itu dalam terminologi orang dewasa... yang diperkenalkan terlebih dahulu adalah kenyamanan hidup dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi. Orang dewasa pun kalau diberitahu ada cara untuk mewujudkan keinginan mereka dengan mudah pasti akan senang, apalagi anak kecil yang disodori secara gamblang bahwa apa yang selama ini hanya ada di mimpi mereka bisa menjadi kenyataan.”

”Contohnya seperti apa?”

”Aku direkrut karena kemampuan fisikku sudah menonjol sejak kecil. Hampir semua cabang olahraga yang umum dimainkan sudah kukuasai dengan baik sejak di bangku sekolah dasar. Sejak dulu aku selalu memimpikan petualangan dan ada satu masa dalam hidupku saat aku ingin jadi tentara.

”Andrew memperkenalkan kehidupan sempurna yang sebelumnya hanya ada di impianku, dengan cara membawaku bertualang. Dia mengajakku mencoba semua jenis olahraga yang membangkitkan adrenalin, mulai dari mencoba arung jeram, panjat tebing, melompat di air terjun, hingga terjun payung. Dia juga mengajakku ke area latihan lapangan. Di sana aku diizinkan mencoba semua jenis senjata bahkan menjajal lapangan latihan seperti agen betulan. Untuk anak dengan cita-cita jadi tentara, itu serasa di surga! Persis sebelum aku berangkat ke Bali, tawaran itu datang. Kamu bisa bayangkan sendiri perasaanku saat mendengar apa yang ada di impianku akan segera terwujud... tidak terlukiskan!

”Saat itu pun sebenarnya sudah aku iyakan, tapi Andrew mengatakan aku tidak usah terburu-buru dan sebaiknya berpikir masak-masak selama beberapa bulan ke depan karena ada konsekuensi dan kewajiban lain yang harus aku penuhi bila aku menerima tawaran itu, termasuk tinggal jauh dari orangtuaku. Tapi kecelakaan yang merenggut keluargaku sepulangnya dari Bali mengubah segalanya dan kurang-lebih satu bulan setelah itu aku sudah berada di bawah asuhan Andrew.”

”Apakah kamu pernah menyesal?” tanya Fay hati-hati.

Reno terdiam sebentar sebelum menjawab, ”Ada banyak masa sulit, dan dalam masa-masa itu aku kadang berharap keadaan bisa berbeda. Tapi aku menjalani apa yang sudah menjadi keputusanku, jadi aku meyakini bahwa apa pun yang ada di sana adalah hal yang patut dijalani—harga yang harus dibayar untuk perwujudan sebuah mimpi.”

Fay mengangguk takjub. Rasanya waktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia hanya plonga-plongo nggak keruan dan main lari-larian dengan teman-teman... Tidak terbayang kalau di saat itu ada seorang asing yang mendekati dan memintanya melakukan hal-hal seperti yang disebutkan Reno.

Reno bersandar santai, lalu bertanya, ”Jadi, apa yang akan kamu lakukan begitu tiba di Jakarta?”

”Aku kayaknya mau ketemu dulu sama Tante Linda, ibunya Lisa,” jawab Fay. Sebelum berangkat tadi, Fay memang menelepon Tante Linda dan telah menyampaikan rencananya untuk pulang ke Jakarta.

”Apa yang mau kamu bicarakan dengan dia, dan apa rencana kamu setelahnya?”

Fay tertegun. Ia baru sadar sebenarnya ia belum tahu apa yang akan ia lakukan. Benaknya saat ini rasanya kosong, hanya dipenuhi duka dan kenangan masa lalu.

”Belum tahu, Ren,” jawab Fay ragu. Reno tidak bertanya lebih lanjut.

Fay menyandarkan kepala, merebahkan kursi, lalu membiarkan pikirannya berkelana. Pertanyaan Reno tadi mulai memicu pertanyaan-pertanyaan lain. Apa yang akan ia lakukan setelah ini, kuliah seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa? Sanggupkah ia menjalani hari-harinya seorang diri, dengan kesadaran bahwa tidak ada lagi dua hati milik Papa dan Mama yang bisa diandalkan, yang selalu siap mencurahkan perhatian kapan saja? Kenapa kenangan-kenangan yang dipenuhi oleh kasih Papa dan Mama yang selalu menyertai hidupnya baru bermunculan sekarang? Kenapa ketika Papa dan Mama masih hidup, yang terus mengisi benaknya adalah hal-hal yang tidak mereka lakukan, dan bukannya cinta yang telah mereka berikan?

Fay pun kembali membiarkan air matanya mengalir dalam diam.

”Fay,  Tante  turut  berdukacita ya, Sayang. Mudah-mudahan

orangtua kamu bisa beristirahat dengan tenang di sisi-Nya.” ”Terima kasih, Tante. Dea ada, Tante?” sahut Fay.

”Wah, Dea sedang ikut bimbingan tes. Sekarang dia ikut yang kelas intensif, jadi baru pulang nanti sore. Telepon lagi saja nanti malam ya Fay.”

”Ya, Tante. Terima kasih.”

Fay menghela napas dan menutup telepon. ”Gimana?” tanya Reno.

Fay membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Pemandangan sekitar bandara Halim di sore hari dengan mobil-mobil yang berdesak-desakan di jalan sama sekali bukan pelarian yang menyenangkan. Sambil mendesah Fay menjawab, ”Dea juga nggak ada di rumah.”

”Kenapa teman kamu nggak ada yang bisa dihubungi?” tanya Reno dengan nada agak kesal.

”Mana kutahu!” jawab Fay lebih kesal. Kalau Reno saja bisa kesal, apalagi dirinya! Sesaat setelah pesawat mendarat tadi, ia langsung menelepon rumah Lisa, tapi baik Lisa maupun Tante Linda tidak ada di rumah. Pengurus rumah Lisa memberikan nomor telepon genggam Tante Linda, tapi begitu Fay mencoba menghubungi nomor itu, ia disambut oleh sapaan mailbox. Telepon genggam Lisa malah tidak bisa dihubungi sama sekali. Setelah itu Fay mencoba menghubungi Cici, dengan hasil tak jauh beda.

Reno berdecak dan berkomentar, ”Kalau orang-orang terdekat kamu seperti itu, aku tidak tahu apa yang kamu cari di Jakarta.”

Fay merasa kepalanya tersulut dan ia langsung membalas ketus, ”Mereka sahabat-sahabatku! Setidaknya aku masih punya mereka!”

Reno menanggapi dengan tak acuh, ”Iya, tapi sepertinya kebalikannya tidak berlaku.”

Sesuatu terasa menghantam dada Fay dengan ucapan itu. Fay langsung membuang muka, membiarkan air mata keluar dari sudut matanya tanpa terlihat oleh Reno.

Sisa perjalanan dilalui dalam diam. Fay sama sekali tidak berminat memulai percakapan dengan Reno dan Reno juga sibuk mengamati sumpeknya kota Jakarta. Kadang Reno melempar komentar ketika melihat kemiripan Jakarta dengan Bangkok, tapi Fay tidak mau menanggapi dan memilih untuk menutup mata dan berpura-pura tidur.

Akhirnya mobil tiba di depan rumah Fay.

Fay langsung turun dan keningnya langsung berkerut melihat serakan daun kering di halaman depan rumahnya yang tidak terlalu luas. Sepanjang yang bisa ia ingat, Mbok Hanim tidak pernah sekali pun memulai hari tanpa menyapu pekarangan. Bisa dibilang itu ritual kedua Mbok Hanim setiap pagi, sehabis shalat Subuh.

Fay mengetuk pintu, tapi setelah beberapa waktu tidak ada jawaban.

Reno menunjuk lampu teras. ”Lampu kamu menyala, padahal hari belum gelap. Kamu yakin ada orang di rumah?”

Fay mencoba melihat lampu teras yang posisinya agak tersembunyi. ”Kok kamu tahu lampu terasku nyala? Nggak kelihatan, Ren...”

Reno tersenyum tipis. ”Kamu belum lulus Analisis Perimeter, ya...? Lihat pantulannya di kaca, Fay.”

Fay terdiam sejenak. Bukan karena fakta pantulan kaca, tapi lebih karena istilah Analisis Perimeter yang disebutkan Reno. Istilah itu bagai mengetuk sisi lain di hatinya, seakan mencoba mengingatkan dirinya tentang keberadaan sebuah dunia berbeda yang kini pun sebenarnya sudah menjadi bagian hidupnya.

Fay menepis perasaan yang timbul, lalu mengeluarkan telepon genggam dan mencoba menelepon rumah. Terdengar sayup-sayup dering telepon rumah berbunyi, namun tidak ada yang mengangkat hingga sambungan putus.

Fay kembali mencoba menelepon Tante Linda ke rumah dan ke telepon genggam, namun masih juga tidak berhasil.

”Neng... rumahnya kosong,” ucap sebuah suara dari arah jalan.

Fay menoleh dan melihat Mbak Iyam, pengurus rumah sebelah yang juga teman satu kampung Mbok Hanim sedang berdiri sambil memegang sapu lidi.

”Mbok Hanim ke mana ya, Mbak?” tanya Fay.

”Pulang kampung, Neng, kemarin... ibunya mendadak sakit. Kunci rumah Neng kalau nggak salah dititipin sama temen Neng yang suka datang ke sini itu lho... yang orangnya mungil, putih, cantik.”

Lisa.

”Makasih, Mbak,” ucap Fay pelan.

Setelah Mbak Iyam pergi, Reno bertanya, ”Ada apa, Fay?”

Fay mengulang informasi yang ia terima ke Reno, lalu kembali mencoba menghubungi Tante Linda, masih juga tanpa hasil. Pengurus rumah Tante Linda yang mengangkat telepon juga tidak tahu-menahu tentang kunci rumah Fay yang katanya dititipkan ke Lisa. Akhirnya Fay hanya berdiri di depan rumah, menatap rumahnya yang walaupun sudah ada di pelupuk mata namun terasa begitu jauh. Tak bisa dipercaya... bagaimana mungkin sebuah jejak kenangan bersama orangtuanya sendiri seakan tidak berhak untuk ia raih!

Reno bersuara, ”Fay, sebaiknya kita pergi sekarang...”

Fay terdiam sebentar sebelum berkata lirih, ”Pergi ke mana, Reno? Ini rumahku sendiri... seharusnya aku pulang ke sini. ”

Butir-butir air mata mulai menetes, melengkapi ironi.

Reno menarik Fay ke dalam pelukannya, lalu berkata lembut, ”Ayo kamu ikut aku saja dulu. Aku akan memesankan satu ka-

mar lagi untuk kamu di hotel, jadi kamu bisa beristirahat sambil mencoba menghubungi teman kamu. Kalau masih belum berhasil, malam ini kita kunjungi rumahnya.”

Fay mengangguk pasrah dan membiarkan Reno menariknya ke mobil.

Fay menelan fettucinni yang terasa begitu hambar di lidah. Pada hari-hari biasa ia mungkin akan berceloteh protes dan sibuk menambahkan garam atau saus, tapi kali ini ia tak ambil pusing.

Fay melihat berkeliling. Restoran tempat ia dan Reno makan sekarang terletak di lobi hotel dan tidak terlalu banyak pengunjung yang makan pada jam aneh seperti sekarang—sudah terlalu telat untuk makan siang tapi masih terlalu awal untuk makan malam. Fay kembali menyuap tanpa semangat sambil memperhatikan wajah-wajah yang menyantap dengan lahap. Ia tidak ingat kapan terakhir makan dengan penuh selera.

Reno menatap Fay lekat. ”Kamu nanti tinggal di mana? Di rumah kamu yang tadi?”

Fay refleks mengangguk, ”Iya.”

”Rumah itu lumayan besar, Fay, dan kamu sendirian. ” Kalimat itu membuat Fay tertegun. Benar juga... Mbok Hanim kan pulang kampung! Fay memperbaiki kucir rambutnya sambil mengeluh dalam hati. Kenapa semua fakta rasanya begitu sulit untuk dicerna otaknya sekarang?

Reno melanjutkan, ”Fay, kamu satu-satunya keluargaku sekarang, dan melihat kondisi kamu sekarang, aku rasa kebalikannya juga begitu. Aku tidak bisa membayangkan kamu berada di sini sendirian tanpa punya siapa-siapa. ”

”Lantas aku harus bagaimana lagi, Ren?” tanya Fay putus asa. ”Cuma ini pilihan yang aku punya!”

Reno tidak menjawab. Ia menyuap dan mengunyah makanannya, lalu memandang Fay lekat. ”Sebelum kita berangkat, Paman memberimu kartu nama untuk dihubungi. Dia bilang akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka.”

”Lantas?” tanya Fay sekenanya, lalu terdiam. Perlahan-lahan ia menangkap maksud Reno dan matanya langsung terbelalak. ”Apakah itu maksud Andrew? Menawari aku tinggal di Paris?”

”Ya. Dia tidak mungkin memberikan kartu nama itu bila tidak bermaksud memberimu pilihan untuk bergabung di kantor.”

”Bergabung?” tanya Fay terbelalak. ”Maksudmu dia mau aku

bekerja dan melakukan tugas-tugas seperti kemarin?” tanya Fay terbata-bata.

”Ya. ”

”Kamu gila!” potong Fay keras.

Reno meletakkan garpu di tangannya dan menatap Fay tajam. ”Apa yang salah dengan pilihan itu? Tahun ini usiamu delapan belas dan kamu semestinya sudah bisa memutuskan jalan hidupmu sendiri! Ini kesempatan bagimu untuk menetapkan pilihan melangkah ke depan ketimbang tenggelam dalam masa lalu. Lagi pula, kalau kamu tinggal di Paris, aku akan bisa bertemu denganmu secara rutin di kantor. Dan aku pun lebih tenang karena yakin kamu akan terjaga dengan baik.”

”Tidak, tidak mungkin...,” jawab Fay buru-buru. ”Kenapa tidak?”

Fay menggeleng. ”Aku harus kuliah.”

”Kata siapa itu keharusan? Semua yang ada di dunia ini adalah pilihan.”

Fay melotot. ”Tentu saja aku harus kuliah... Mau jadi apa kalau sekolah saja tidak benar!”

”Baik, kalau itu maumu, toh bisa dilakukan di Paris! Kenapa kamu membatasi pilihanmu sendiri dengan mengharuskan dirimu tinggal di Jakarta? Apa yang kamu cari di kota ini?! Setidaknya di Paris kamu akan berada lebih dekat denganku, satu-satunya orang yang benar-benar peduli dan menyayangimu.”

Kent.

Fay terdiam ketika ingatan akan Kent merasuki benaknya—satu lagi orang yang memang peduli dan menyayanginya, terlepas dari akhir hubungan mereka.

Dering telepon genggam Fay mengalihkan perhatian.

Fay mengembuskan napas lega dan buru-buru mengangkat telepon ketika melihat nama Lisa tercantum sebagai penelepon.

”Hai, Fay... aduh, sori ya gue baru telepon lagi. Gue turut berdukacita ya, Fay. Gue dan Nyokap lagi sibuk nyiapin pesta kawinan salah seorang sepupu gue, jadi belum sempat nelepon.”

”Nggak apa-apa, Lis...”

”Fay, gue sekarang masih di hotel, di tempat acara, dan belum bisa balik ke rumah. Kunci rumah lo gue titip ke sopir ya, nanti dia langsung ke rumah lo aja untuk mengantar kunci.”

”Mbok Hanim kok bisa titip kunci segala?” tanya Fay. ”Mbok Hanim telepon nyokap gue waktu dapat kabar ibunya

di kampung sakit, jadi gue dateng untuk mengambil kunci.” ”Thanks ya, Lis...”

”Sama-sama, Fay... Sori ya, gue belum bisa temenin lo.” ”Nggak apa-apa. Omong-omong, tau nggak kenapa HP Cici

nggak bisa dihubungin?”

”Si Cici udah berangkat ke Jerman, jadi HP-nya gue rasa udah dimatiin. Coba aja buka e-mail, kayaknya dia kirim e-mail kemarin... Eh, Fay, gue udah dipanggil nih... Nanti begitu acara selesai, gue telepon lagi ya. ”

”Oke, bye.”

Fay memberitahu Reno apa yang dikatakan Lisa tentang kunci rumah, tapi hati kecilnya yang terusik melarang mulutnya untuk menyebutkan kenapa Lisa tidak datang dan hanya menitipkan kunci pada sopir—untung Reno tidak bertanya lebih lanjut.

Fay dan Reno pun bergegas meninggalkan restoran dan tak lama kemudian sudah dalam perjalanan kembali ke rumah Fay.

Setelah menerima kunci dari sopir Lisa yang sudah menunggu di depan rumah, Fay segera membuka pintu dan melangkah masuk ke rumah dengan langkah yang disarati duka.

Begitu pintu terbuka, bau lembap bercampur debu langsung menyergap hidung. Rumah dua lantai yang biasanya terasa begitu hangat menyambut hari-harinya pada masa lampau kini telah kehilangan napas dan terasa sangat suram, bagai menyimpan kepiluan yang sama dengan apa yang sekarang memenuhi batinnya.

Fay menyalakan lampu untuk menghilangkan kesuraman dan langsung tertegun ketika melihat satu bidang dinding kosong di ruang tamu, yang sebelumnya terisi dengan sebuah foto keluarga berukuran besar, berisikan Mama, Papa, dan dirinya.

Fay melanjutkan langkah ke ruang makan, dan langkahnya terhenti saat melihat dua bidang kosong yang sebelumnya berisi foto Mama dan Papa. Kini di dinding tersebut hanya ada foto dirinya. Mungkin foto-foto itu diturunkan untuk keperluan pengajian beberapa hari yang lalu. Tapi, sekarang disimpan di mana?

Air mata Fay menetes ketika dipaksa mengingat kesendirian yang akan menemani hari-harinya ke depan. Tiba-tiba ia merasa dadanya sesak. Bagaimana ia mampu bertahan di rumah ini, dikelilingi sejuta kenangan yang sekarang sudah membeku? Dengan siapa ia tinggal di rumah sebesar ini?

Tanpa bisa ditahan, sesak di dada Fay mulai memicu butirbutir air mata untuk keluar, dan Fay pun sedikit demi sedikit membiarkan tangisnya tumpah hingga akhirnya tersedu sedan.

Sebuah tangan merengkuh Fay, membawanya ke dalam dekapan hangat.

Reno mengelus-elus punggung Fay, mencoba meredakan tangis yang sudah meledak. ”Sebaiknya kita pergi sekarang. Kamu bisa beristirahat di hotel,” ucap Reno lembut.

Fay tidak menjawab, membiarkan Reno menarik tangannya menuju pintu keluar.

Fay baru saja merebahkan diri di kamar hotel ketika pintu diketuk. Ia buru-buru berdiri dan membuka pintu, dan melihat Reno berdiri di depan pintu sambil menenteng travelling bag.

Reno berkata, ”Fay, aku harus kembali ke Paris sekarang juga.”

”Lantas, aku bagaimana?” tanya Fay dengan suara tercekat. Reno mengusap kepala Fay. ”Jangan khawatir. Aku sudah bi-

cara dengan Paman dan dia setuju kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau. Aku akan menghubungi kamu secepatnya setibanya aku di Paris.”

Fay mengangguk, tapi tak mampu mencegah butir-butir air matanya berjatuhan satu demi satu.

Reno memeluk Fay. ”Hei... it will be okay. Aku sudah janji akan terus menjagamu... di mana pun kamu berada. Selama aku pergi, pikirkan baik-baik apa rencana kamu selanjutnya.”

”Oke,” jawab Fay dengan suara serak. Tangannya mengucekucek matanya yang sudah basah.

Reno mengecup kening Fay dan berkata, ”Take care, lil’ sis. Don’t do anything stupid while I’m gone...,” ucap Reno sambil melambaikan tangan.

Fay menyaksikan Reno berjalan menjauh dengan perasaan hampa. Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Ia sudah berada di Jakarta, kota kelahiran dan tempat tinggalnya sendiri, tapi mengapa sebuah rasa kesendirian semakin mencabik-cabik batinnya dengan setiap langkah Reno yang menjauh?

Fay akhirnya merebahkan diri di tempat tidur, membiarkan kilasan-kilasan kejadian yang pernah dialami selama hidupnya di Jakarta terputar dalam benaknya, silih berganti. Mulai dari momen yang melibatkan kedua orangtuanya, momen yang terjadi di sekolah, hingga momen berkesan nan ceria dengan ketiga sahabatnya—kisah manis yang tidak akan pernah terlupakan.

Momen demi momen yang dialami di Paris juga langsung timbul ke permukaan—semua suka dan duka, pahit dan manis yang ia rasakan bersama Kent, Reno, Andrew, bahkan Philippe.

Fay menghela napas panjang. Benarkah kehidupan yang pernah ia miliki di Jakarta kini hanyalah tinggal puing-puing masa lalu?

Di Jakarta masih ada para sahabatnya, tapi adakah pijakan batin yang teruji antara ia dan mereka, ketika kebersamaan selama ini hanya terukir pada saat manis dan bukan pada masa sulit?

Apa yang pernah dilakukan para sahabatnya selain ber-ha-hahi-hi seputar urusan sekolah, cowok, dan pergaulan?

Akankah mereka rela berkorban untuk dirinya sebagaimana yang dilakukan Kent?

Akankah mereka bersedia mempertaruhkan nyawa seperti yang pernah dilakukan Reno?

Akankah mereka mau bersusah-payah menolong dirinya dari cengkeraman maut seperti yang dilakukan Andrew? Terlepas dari kenyataan bahwa Andrew adalah pria yang dulu menculiknya, tidak bisa dimungkiri Andrew pula yang sudah berkali-kali mengeluarkannya dari kesulitan. Fay termenung selama beberapa waktu, kembali meresapi kecamuk semua perasaannya. Akhirnya ia mengeluarkan kartu nama yang diberikan Andrew. Di kartu tertulis ”Bobby Tjan” dan sebuah nomor telepon berkode area Jakarta.

Masa depan macam apa sebenarnya yang ditawarkan oleh Andrew? Seperti apa sebenarnya tempat yang disebut ”kantor”? Seperti apa hubungan dirinya dengan Reno dan Kent di tempat yang disebut dengan ”kantor” itu?

Fay menghela napas, mencoba mengisi kekosongan di hatinya. Akhirnya ia menutup mata dan dengan sepenuh hati memohon petunjuk kepada Yang Mahakuasa. Dalam keheningan yang panjang dan damai itulah ia mendengar bisikan hatinya sendiri. Detik itu juga ia tahu sekarang, di dunia ini, ia memang cuma memiliki Reno dan Kent, dua orang dengan hati tulus yang menyayanginya tanpa pamrih. Air mata langsung mengintip di sudut mata saat ia menyadari saat ini tidak ada lagi yang pantas diperjuangkan dalam hidupnya selain kedekatan hati dengan mereka berdua.

Fay mengambil telepon genggam dan menekan tombol.

Terdengar nada sambung. Setelah lama tidak diangkat, akhirnya sambungan terputus.

Fay duduk bersila di tempat tidur dan memutar nomor lebih hati-hati, kali ini memastikan nomor yang ia tekan memang sesuai dengan apa yang tertera di kartu nama. Terdengar nada sambung dan karena ia yakin kali ini tidak mungkin salah tekan nomor, antisipasinya semakin besar dan dadanya mulai berdebar.

Tidak ada yang mengangkat. Terdengar kembali nada pendekpendek menandakan sambungan terputus.

Fay menutup telepon dengan badan bergetar menahan amarah.

Tidak adil! Kenapa Tuhan mempermainkan dirinya seperti ini! Ia kini hanya memiliki Reno dan Kent! Apa yang harus ia lakukan sekarang?! Fay merasa air matanya kembali berkumpul di pelupuk mata dan akhirnya sambil meringkuk di tempat tidur ia membiarkan tangisnya pecah sambil mendekap telepon dan kartu nama itu di pelukannya.

Ada yang mengetuk kepalanya.

Fay membuka mata dan sejenak terkena disorientasi lokasi. Perlu beberapa detik hingga ia sepenuhnya tersadar sedang berada di kamar hotel. Sekilas ia melihat telepon genggam yang tadi ia gunakan beserta kartu nama yang berisi nomor Bobby Tjan tergeletak tidak jauh dari posisinya tidur sekarang.

Fay berusaha menyimak suara ketukan yang tadi terdengar. Apakah memang ada yang mengetuk pintu, atau itu hanya mimpi?

Setelah telinganya tidak menangkap suara apa pun, Fay masih sempat menggeliat di tempat tidur hingga ia mendengar suara dari pojok ruangan. Detik berikutnya ia langsung tegak dan melompat ke belakang hingga punggungnya menabrak sandaran tempat tidur. Seorang pria berjaket sedang duduk di kursi di pojok ruangan!

Fay sudah membuka mulut untuk berteriak minta tolong ketika pria itu berbicara.

”Tenang. ”

Pria itu berdiri dan bersandar ke meja rias. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia, berwajah oriental, dan berpenampilan rapi. Di balik jaketnya, ia memakai kemeja polos lengan panjang dan celana bahan.

”A... Anda siapa?” tanya Fay dengan jantung berderu. Refleks ia menarik selimut hingga menutupi tubuh.

”Kamu menghubungi saya beberapa jam yang lalu. Nama saya Bobby Tjan.” Jantung Fay bagai melorot ke lantai dan ia bertanya terbatabata, ”Ba... bagaimana Anda bisa masuk ke kamar ini?!”

”Tidak penting bagi kamu untuk mengetahui hal itu sekarang... walaupun bisa saya jawab mudah saja melakukannya,” jawab Bobby enteng.

Bulu kuduk Fay meremang; benaknya mau tak mau bertanyatanya, sudah berapa lama Bobby ada di ruangan ini.

Bobby mengeluarkan satu amplop dari saku jaketnya, lalu melemparkannya ke tempat tidur. ”Ini tiket kamu ke Paris, berangkat besok... Tiket sekali jalan.”

Fay merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Napasnya mendadak seperti terhambat dan seluruh benak dan perasaannya mendadak seperti dicengkeram ketakutan yang amat sangat. Tiket sekali jalan?

”Sebentar!” seru Fay dengan napas menggebu. ”Saya tadi menelepon untuk bertanya tentang... mm... ke... kemungkinan...”

”Bergabung?” potong Bobby. Fay terdiam.

Bobby menatap Fay tajam. ”Saya yakin Mr. McGallaghan memberitahu kamu untuk menelepon saya hanya bila kamu sudah siap.”

”I... iya, tapi... saya tidak menyangka akan secepat ini!” seru Fay panik.

”Itu asumsi yang kamu buat sendiri,” ucap Bobby dingin. ”Sekarang yang dipertanyakan adalah keyakinan kamu dalam memilih jalan ini. Jadi, apakah kamu yakin?”

Fay menelan ludah dan dengan benak setengah menerawang mengulurkan tangan untuk meraih amplop yang tergeletak di tempat tidur. Ia terpaku menatap tiket di tangannya. Ia tadi sudah memutuskan hidupnya di Jakarta hanyalah puing-puing masa lalu yang tak bisa dikais lagi. Tapi, tiket sekali jalan? Benarkah puing-puing masa lalu ini sudah sedemikian tak menyisakan harapan? Bagaimana dengan semua jejak kenangan selama hampir delapan belas tahun ia tumbuh di kota ini? Di rumahnya sendiri?

”Saya akan menghubungkan kamu dengan Mr. McGallaghan. Ingat, Fay, tidak ada jalan untuk kembali setelah kamu bicara dengan beliau. Jadi, sekali lagi saya tanya, apakah kamu yakin?” Fay terdiam ketika bayangan rumah besar yang dingin dengan dinding-dinding berbidang kosong menghantui pikirannya. Akhir-

nya ia mengangguk.

Bobby menekan tombol di telepon genggamnya. ”Sir? Ada yang ingin bicara dengan Anda.”

Bobby menyodorkan telepon genggam dan Fay menerimanya dengan tangan gemetar.

”Fay, good to hear from you. How are you, young lady?” ”Fine, thanks. ”

”Jadi, kamu sudah bicara dengan Bobby?” ”Eh... ya, begitulah.”

”Good to hear that. Seperti yang pernah saya sampaikan, tangan saya terbuka untuk menerimamu. Selamat bergabung, Fay. Sampai jumpa di Paris segera.”

Telepon ditutup.

Fay menyodorkan telepon kembali kepada Bobby dengan benak tidak berada di tempat yang seharusnya. Tidak ada jalan untuk kembali. Perkataan Bobby kini ia rasakan kebenarannya setelah berbicara dengan Andrew.

Bobby berdiri dan berkata, ”Walaupun kamu belum resmi bergabung hingga menandatangani kontrak, saya ucapkan selamat. Sedikit nasihat dari saya... hiduplah untuk setiap detiknya. bila

dalam detik ini hidup tidak berpihak padamu, percayalah pada detik berikutnya hidup akan menjadi lebih baik. Hanya dengan kondisi mental positif seperti itulah kamu bisa lolos dari apa pun yang menantimu di depan.”

Fay terpana sejenak menatap Bobby dan akhirnya hanya menggumamkan ucapan terima kasih. Begitu Bobby berlalu dan menutup pintu, Fay langsung menyandar dengan lemas. Apakah keputusannya tepat? Tiket sekali jalan, berangkat besok.

Fay menarik dan membuang napas untuk menenangkan diri, tapi tidak berhasil. Tidak ada jalan untuk kembali, Fay, jadi hiduplah untuk setiap detiknya! serunya panik pada diri sendiri.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊