menu

From Paris To Eternity Bab 12: Kejutan

Mode Malam
Kejutan

FAY  membuka  mata  dengan  enggan  ketika  merasa  sepasang tangan mengguncang-guncang lengannya. Ketika mengenali suara Andrew yang memanggil namanya, Fay tersadar ia tertidur di dalam Unit dan langsung tegak dengan wajah terasa sangat panas. Memalukan, tidur kayak kerbau dibius!

Andrew berbicara dengan suara yang di telinga Fay terdengar sayup-sayup. Perkataan itu seperti tertutup helaian kelambu tipis di telinga, masuk dengan rambatan udara yang sangat lambat, hingga Fay merasa setengah membayangkan perkataan itu.

”Maaf?” tanya Fay memastikan sambil mengucek-ucek mata.

Andrew mengulanginya dengan tenang, ”Ada satu tugas lagi yang harus kamu lakukan.”

Apa? Jantung Fay serasa berhenti sejenak mendengar perkataan Andrew. Ia bahkan tidak bisa bersuara karena otaknya sedang dengan susah-payah mencerna apa yang baru saja didengar telinganya.

Andrew melanjutkan, ”Saya ingin kamu mengambil satu barang dari sebuah gedung perkantoran. Interior gedung sedang dalam renovasi, hanya lantai sepuluh dan lantai lima belas yang terisi penyewa. Barang yang diinginkan ada di sebuah brankas di lantai sepuluh, ruang 10-03.” Andrew merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sebuah foto. Terlihat satu kotak kayu berwarna cokelat mengilap, seukuran kotak perhiasan yang ada di meja rias mama Fay di rumah.

”Akses yang akan kamu pakai untuk masuk dan keluar dari gedung itu adalah tangga darurat yang terhubung langsung ke jalan servis di belakang gedung. Kamu akan diturunkan dan dijemput di mulut jalan.”

Fay tidak bisa berkata-kata, hanya terperanjat menatap Andrew. Orang ini sudah gila! Apakah Andrew pikir ia melakukan tugastugas ini karena hobi?!

Andrew meraih satu tas yang tergeletak di lantai dan menyodorkannya kepada Fay. ”Kita akan tiba di perimeter dua puluh menit lagi. Sekarang, saya dan Russel akan keluar dari Unit supaya kamu bisa berganti pakaian. Setelah itu saya akan memberi pengarahan tugas.”

Andrew beranjak diikuti Russel. Sebelum pintu ditutup, Andrew melongokkan kepala kembali ke dalam Unit dan berkata, ”Lima menit, Fay, tidak lebih.” Pintu ditutup.

Fay berdiri sambil memeluk tas yang diterimanya dari Andrew, melihat pintu Unit yang sekarang tertutup. Perasaannya melayang, tidak menapak sepenuhnya ke bumi. Perlahan-lahan Fay bergerak ke bangku yang ada di sisi mobil, meletakkan tas di atas bangku, lalu mengeluarkan dan menggeletakkan isi tas satu per satu di bangku. Dengan nanar Fay melihat pakaian hitam-hitam, lengkap dengan sepatu bot yang juga hitam. Ingin rasanya ia menyerudukkan kepalanya ke dinding mobil untuk mengembalikan nyawanya yang sekarang melayang-layang tak tentu arah supaya bisa kembali ke dunia nyata—sayangnya, tak ada ruang yang lebih nyata, karena inilah dunia nyatanya sekarang.

Fay menarik napas panjang lalu mulai berganti baju.  Dua puluh menit kemudian, Fay sudah berdiri di tangga darurat dan mulai menapaki tangga, berusaha mengabaikan detak jantung yang terasa seperti menggedor dadanya dari dalam. Saat ini tidak ada suara yang terdengar selain napasnya sendiri. Kakinya menapak anak tangga tanpa suara dengan sol karet di bagian bawah bot. Ia sudah mengenakan pakaian hitam-hitam, lengkap dengan headset terpasang erat di telinga kanannya. Di bagian depan dan belakang bajunya terpasang kamera seukuran bros kecil. Penerangan tangga darurat yang remang-remang diperoleh dari lampu putih yang ditempelkan di dinding.

Sambil melangkah, Fay membiarkan pikiran membawanya ke hidupnya yang normal di Jakarta. Dulu ia pernah berpikir betapa membosankan hidup yang ia jalani. Selain kejutan-kejutan ringan dari pertemanannya dengan Cici, Lisa, dan Dea, atau friksi-friksi kecil dengan Tiara, Mayang, dan geng borju sialan, relatif tidak ada kejadian yang luar biasa. Betapa ia kini merindukan kehidupannya yang membosankan itu. Memang benar perkataan: Be careful with what you wish for.

Fay menggelengkan kepala mengusir pikirannya. Konsentrasi pada tugas, Fay.

Pertanyaan demi pertanyaan mendadak menyerbu benak Fay. Akankah semua ini usai? Setelah ia pulang ke Jakarta dan menjalani hidup normalnya, berapa lama ia bisa bernapas lega sebelum akhirnya datang kembali sebuah panggilan dari Institute de Paris dengan entah beasiswa apa lagi yang akan ia menangkan? Akankah suatu hari nanti ia punya keberanian untuk menolak permintaan itu? Apa yang akan terjadi bila ia menolak?

”Fay, kamu sudah tiba di lantai sepuluh,” terdengar suara Andrew di headset-nya.

”Saya keluar sekarang,” jawab Fay dengan napas pendekpendek. Fay membuka pintu tangga darurat dan langsung disambut suasana gelap gulita. Ia hampir saja terserang panik ketika terdengar kembali suara di headset-nya.

”Pakai kacamata kamu. Bergerak ke kanan, cari pintu kamar mandi wanita.”

Dengan perasaan agak malu Fay memasang kacamata yang sejak tadi menggantung di lehernya. Di Unit, Andrew sebenarnya sudah memberitahukan apa saja yang akan ia temui dan apa yang harus ia lakukan. Tapi, dengan pengarahan hanya lima belas menit, tanpa ruang untuk mempersiapkan mental, jangan salahkan ia kalau kena serangan lupa. Sudah bagus nggak jantungan!

Fay melangkah dengan hati-hati dalam ruangan yang kini tampak jelas dalam pandangannya, seperti diterangi lampu bernuansa kehijauan—kacamata yang dipakainya ini memang khusus untuk melihat dalam gelap. Sambil berdoa dalam hati supaya tidak ada bayangan-bayangan yang mendadak muncul dan menyebabkan jantungnya berhenti, ia pun mempercepat langkah, berkonsentrasi pada sebuah pintu yang terlihat ada di sebelah kanan. Setelah dekat, ia melihat lambang toilet wanita tertempel di pintu dan buru-buru masuk.

”Di dinding tepat di atas wastafel ada lubang ventilasi. Buka penutupnya lalu masuk ke lubang itu. Tas terlebih dahulu.”

Fay melihat penutup lubang ventilasi yang disebutkan Andrew dan setelah membukanya, ia melongo sebentar. Pantas saja Philippe mati-matian memaksanya latihan merayap! Dengan perasaan tertekan Fay masuk ke lubang ventilasi dan sedikit bernapas lega ketika menyadari lubang ventilasi ini agak lebih besar sedikit dari rintangan yang dilaluinya saat latihan—tak ada kawat berduri pula.

”Fay, lakukan dengan hati-hati, sebisa mungkin jangan sampai menimbulkan suara.”

Perlahan-lahan Fay merayap, berusaha meminimalisasi suara yang ditimbulkan, terutama oleh geseran sepatunya yang berat. Sepanjang jalan, terdengar instruksi Andrew di telinganya, memberi petunjuk arah di tiga persimpangan, hingga akhirnya ia tiba di depan sebuah jeruji. Dengan satu dorongan, jeruji itu terbuka dan ia keluar dari lubang ventilasi. Seketika itu juga ia terpana.

Ia berada di sebuah ruang kerja berbentuk persegi panjang, mungkin seukuran 5 x 8 meter. Dari interior dan bentuk meja serta kursi yang ada di ruangan, ia langsung tahu ruang ini pasti milik seorang direktur atau petinggi perusahaan. Tapi bukan itu yang membuat dirinya ternganga dengan bego, melainkan sejenis permainan cahaya yang tertangkap matanya tepat di sebelah kanannya.

Terlihat garis-garis hijau bergerak terus-menerus secara acak, saling melintang bersilangan, dari langit-langit ke lantai, dari sisi kiri ke sisi kanan, memenuhi area selebar tiga meter di antara posisinya berdiri sekarang hingga ke pintu masuk.

”Yang kamu lihat di sebelah kanan adalah laser dinamis. Kamu akan langsung tercacah kalau melewati bagian itu. Fokuskan perhatian kamu ke seberang lubang ventilasi. Geser lukisan yang ada di dinding.”

Fay berjalan mendekati dinding yang disebutkan Andrew sambil memperhatikan meja kerja berukuran besar dengan sebuah kursi yang juga besar di baliknya. Ada satu papan nama bertuliskan ”Nicholas Xavier” di atas meja. Setelah sampai di depan lukisan, ia berhenti dan mengamati sebentar sebelum mencoba menggesernya—ternyata lukisan bisa digerakkan ke kanan. Terlihat satu lemari besi dengan dua kunci putar.

”Putar sesuai instruksi, seperti yang kamu lakukan tadi di dalam Unit. Tiga putaran ke kanan, delapan ke kiri. ”

Fay menahan napas ketika jari-jarinya yang terasa begitu kaku dalam balutan sarung tangan berusaha memutar kunci kombinasi mengikuti arahan Andrew di headset-nya. Tepat sebelum turun dari Unit tadi, ia memang sudah berlatih melakukannya menggunakan satu pelat besi dengan bentuk kunci yang persis sama. Satu-satunya kesulitannya sekarang adalah dadanya yang bergemuruh sangat kencang, membuatnya sulit menghitung putaran tangannya sendiri. Ia memaksakan diri untuk berkonsentrasi pada arahan Andrew dan akhirnya ketika selesai, ia merasa ketegangannya memuncak.

”Hati-hati, Fay. Buka perlahan-lahan.”

Fay menggigit bibirnya dan memutar gagang lemari besi—terdengar bunyi klik keras yang membuatnya tersentak. Ia lalu menarik pintu lemari besi perlahan-lahan. Di dalam lemari besi ada tiga rak. Di rak teratas terlihat kotak kayu seperti yang dilihatnya di foto yang diberikan oleh Andrew.

”Buka sarung tangan kamu dan raba pinggiran kotak secara perlahan tanpa mengubah posisinya. Cari apakah ada kabel yang terhubung dengan kotak itu. Jangan menyentuh benda lain.”

Fay hampir tersedak mendengar perkataan Andrew. Apa maksud Andrew dengan ”kabel”? Apakah ada bom atau jebakan yang dipasang di kotak ini? Dasar sinting!

Fay membuka sarung tangannya sambil setengah mengomel dalam hati. Dengan dada sesak seperti akan pecah ia meraba keempat sisi kotak. ”Tidak terasa apa pun,” ucapnya sambil menahan napas.

”Pakai kembali sarung tangan kamu lalu ambil kotaknya dan masukkan ke tas kamu. Setelah itu tutup kembali pintu lemari besi, kembalikan lukisan ke tempatnya semula dan segera keluar dari sana.”

Fay mengembuskan napas lega dan dengan cepat melakukan perintah Andrew. Tak lama kemudian ia sudah merayap di lubang ventilasi untuk keluar dari tempat itu.

”Saya ingin mendengar pendapat kalian,” ucap Andrew lewat

headset-nya ke Philippe dan Steve, yang sedari tadi ikut mengawasi jalannya operasi dari markas COU. Sekilas Andrew melirik layar yang menampilkan gambar kamera yang dipasang pada tubuh Fay—terlihat Fay sudah tiba di kamar mandi dan sedang memasang penutup lubang ventilasi. So far so good.

Philippe menjawab, ”Harus saya akui, saya cukup terkesan. Terus terang, sebelumnya saya berpikir kamu sudah gila karena memberitahukan tugas ini ke dia hanya setengah jam sebelum dimulai. Saya setuju ini cara yang paling tepat untuk menilai bagaimana gadis ini bereaksi di bawah tekanan, tapi saya pikir risikonya akan terlalu besar—kegagalan dalam operasi ini bisa menyebabkan kerugian yang tidak sedikit, menyangkut opportunity lost bagi Llamar Corp,” ucap Philippe.

Steve langsung berkomentar, ”Philippe, apa maksud kamu dengan kalimat, sebelumnya kamu pikir Andrew gila? Sekarang pun saya pikir dia masih gila!”

Andrew tersenyum. ”You know me very well, Steve. Ada pendapat lain tentang Fay?”

Steve menambahkan, ”Pendapat saya tidak berubah. Dia kandidat yang potensial.”

”Tidak berubah sejak kapan? Maksud kamu saat berkenalan di jamuan makan?” tanya Philippe. ”Kalian praktis tidak berbicara satu sama lain, bagaimana mungkin saat itu kamu sudah bisa menarik kesimpulan dia kandidat yang potensial?”

”Intuisi, Philippe.”

Philippe mendengus. ”Kalau intuisi kamu berkata demikian saat pertama kali melihat Fay, saya tidak tahu apakah intuisi itu bisa dipercaya atau tidak!”

Steve berkata tajam, ”Satu hal yang harus kamu ingat, Philippe, jangan pernah meragukan intuisi saya! Intuisi yang kamu ragukan ini telah menyelamatkan nyawa saya dan banyak nyawa orang lain, termasuk kamu, dan sudah terbukti bisa diandalkan dalam operasi seberat apa pun.”

Philippe menimpali tidak kalah keras, ”Kamu memang terlibat operasi lapangan, tapi sayalah yang selama ini menangani agenagen baru yang terlibat operasi denganmu! Walaupun saya sekarang setuju Fay adalah kandidat potensial, bisa saya pastikan itu keluar dari penilaian objektif, bukan semata mengandalkan...”

”Easy, gentlemen,” potong Andrew. ”Tidak masalah bagi saya bagaimana cara kalian membentuk persepsi tentang Fay, yang penting kesimpulan kalian sebenarnya sama: kalian setuju Fay kandidat yang potensial. That will be all. Thank you, gentlemen. Out.”

Andrew mematikan sambungan dan bersiap membukakan pintu untuk Fay, yang di layar terlihat sudah berlari mendekati Unit.

Fay mengempaskan diri ke bangku, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengembuskan napas lega di sela-sela tarikan napasnya yang masih terengah-engah.

Unit bergerak tanpa kesan terburu-buru, menapak aspal dengan kecepatan stabil dengan bunyi mesin yang terserap udara malam.

Sosok Andrew menyadarkan Fay untuk segera menuntaskan apa yang sudah dimulainya malam ini, dan dengan tangan yang masih bergetar Fay menyodorkan kotak berwarna cokelat yang ia ambil.

Andrew menerima kotak tersebut, membuka isinya, mengamatinya sejenak.

Fay melirik isi kotak dan melihat sebuah tanaman yang diawetkan dalam kotak kaca serta beberapa kertas kecil berisikan coretan tangan.

Andrew berkomentar, ”Kerja yang bagus.”

Fay memandang Andrew dengan tatapan kesal, tapi merasa sedikit aneh ketika menyadari ada sebagian dirinya yang memang mengecap rasa puas. Rasanya persis seperti ketika keluar dari ruang kelas setelah mengerjakan ulangan dengan hasil yang ia tahu pasti sukses, bahkan sebelum nilai diumumkan—biasanya untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris.

”Thanks,” jawab Fay singkat. Agak heran ia mendapati ketakutannya akan Andrew yang biasanya bercokol di setiap sudut hati dan pikirannya saat ini raib entah ke mana.

Mungkin kemenangan atas pencapaian bisa menutupi sebuah ketakutan, pikir Fay kemudian, yang langsung disanggah satu sisi lain dari benaknya dengan marah. Bagaimana mungkin ia mengategorikan ini sebagai pencapaian, mengingat yang dilakukannya barusan tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan pencuri! Kalau tertangkap melakukannya di tempat lain, mungkin tangannya sudah dipotong!

Andrew menghampiri Russel kemudian menekan satu tombol di panel. ”Osiris Satu ke Pusat. Misi selesai. Konfirmasi diberikan untuk mengaktifkan Osiris Dua. Komando Unit kembali ke Russel.” Andrew kemudian melepas dan meletakkan headset-nya di meja dan duduk di samping Fay. ”Tugas kamu sudah selesai, jadi kamu bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Kita akan menuju titik pemberangkatan dan di sana Russel akan membantu kamu melepas semua peralatan yang kamu pakai, lalu kamu bisa berganti pakaian sebelum pulang. Saya tidak bisa menemani kamu karena harus kembali ke kantor, jadi sampai jumpa besok.”

Andrew tersenyum lagi. ”Good job, Fay.”

Sudut bibir Fay terangkat sedikit mendengar pujian Andrew. Ingatan akan rumah membuat dirinya mendadak dihinggapi rasa lelah yang teramat sangat. Hari ini hari yang sangat panjang, menguras tidak hanya fisiknya tapi juga emosinya hingga hampir tak bersisa. Akhirnya Fay hanya menatap lurus ke depan sambil menyandar ke dinding mobil dan tak lama ia pun kembali jatuh tertidur.  Kent membiarkan jemarinya mengayun di tuts piano, mengalunkan nada lewat denting lembut yang mendamaikan hati.

Begitu tiba sepuluh menit yang lalu di rumah, ia langsung menuju ruang duduk untuk mencari satu-satunya pelarian yang bisa membuat benaknya sejenak meninggalkan lempengan realitas yang semakin lama semakin membuat jiwanya terpuruk, membawa gadis yang begitu ia cintai ke dalam keterpurukan yang sama. Fay-nya.

Sebelum kejadian hari ini, ia masih punya sedikit harapan tersisa akan sebuah kebersamaan dalam diam, membiarkan hatinya dan hati Fay bertaut dengan sendirinya tanpa perlu ungkapan kata-kata di bawah cengkeraman lempeng realitas yang sama, yang tidak menginginkan kebersamaan antara mereka menjadi nyata. Tapi ia kini tidak punya nyali untuk berharap, terlebih setelah apa yang ia lakukan tadi.

Masih terbayang dengan jelas sorot mata Fay yang sangat ketakutan ketika berhadapan dengan penyekapnya. Dan ia bisa membayangkan bagaimana sorot ketakutan Fay itu berubah menjadi semburat luka ketika gadis itu tahu bahwa lagi-lagi telah ditinggalkan begitu saja untuk berjuang dalam kesendirian.

Maafkan aku, Fay.

Kent menutup mata, membiarkan hatinya membimbing ke mana jemarinya harus mengarah, sebagaimana hatinya telah membimbingnya untuk mengambil keputusan saat tugas tadi; meninggalkan Fay di ruang itu bersama para penyekap yang tidak mengenal belas kasihan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Keputusan yang harus ia ambil untuk memperpanjang napas hidup Fay. Keputusan yang di saat bersamaan juga memorakporandakan hati Fay, membuat napas hidup yang diperoleh gadis itu tidak akan diperuntukkan bagi dirinya. Kenapa garis nasib harus mempermainkan pertautan yang berlandaskan cinta, hingga bahkan perasaan tulus yang mengusungnya harus berkali-kali menyakiti dan tersakiti?

Kent mengakhiri denting nada yang dimainkan hatinya dengan sebuah sentuhan lembut tanpa tekanan pada tuts, mengeluarkan nada seperti bisikan lirih yang menggambarkan keengganan hatinya untuk merasakan cinta kembali.

Begitu nada penutup itu habis tertelan udara, Kent langsung berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan. Langkah Kent terhenti ketika melihat Reno berdiri menyandar ke dinding sambil bersedekap dengan wajah kalut, menatapnya kosong.

Kent menjulurkan tangannya yang terkepal ke arah Reno. Reno menatapnya sebentar, kemudian menjulurkan kepalannya dengan cara persis sama hingga tangan mereka beradu. Salam sederhana dari fte Groundhouse.

”Thanks,” gumam Kent pelan.

Reno tidak menjawab. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Kent tetap berdiri di tempatnya menyaksikan Reno berjalan menjauh dengan kepala tertunduk. Ia berutang budi selamanya

pada Reno.

Kent menghela napas. Malam panjang ini belum berakhir baginya. Ada satu tugas lagi yang harus ia lakukan di belahan dunia lain, yang lagi-lagi akan menguras fisiknya.

Kent pun beranjak untuk bersiap-siap.

Reno mencuci tangannya di wastafel, membiarkan air di keran mengalir deras membasahi tangannya. Tidak ada cukup air di dunia ini yang bisa membasuh tangan kotornya setelah kejadian hari ini. Sepasang tangan yang harus menyakiti... lagi dan lagi... menyiksa tanpa henti, menghiraukan ikatan batin yang begitu suci. Betapa rendah dirinya di mata Maria!

Reno menyapukan tangannya yang basah ke kulit lehernya yang agak gatal. Ia memilki alergi terhadap satu bahan kimia yang ada di perekat topeng lateks yang kadang harus ia pakai saat tugas. Seperti tadi; ia terpaksa memakai sebuah topeng lateks untuk menyamar setelah diberikan tugas mendadak oleh pamannya untuk menjadi ”interogator pasif”. Sebagaimana yang diisyaratkan titel itu, ia akan terlibat dalam proses interogasi terhadap target, namun perannya di situ hanyalah seperti boneka—selain tidak diperkenankan berbicara, semua kontak fisik yang ia lakukan ke target diatur sepenuhnya oleh Pusat, tanpa kebebasan untuk menambah atau mengurangi.

Tugasnya tadi diawali dengan menyergap target yang akan diinterogasi, yang sedang membuntuti kontak COU.

Setelah mengenakan samaran, ia mendapat instruksi untuk bersiap di posisi. Saat sedang berjalan menuju posisinya itulah ia melihat Kent sedang mencium Fay di sudut jalan. Jantungnya seperti terbakar dan menguap tiba-tiba! Satu-satunya yang menahan dirinya supaya tidak menyerang Kent saat itu juga adalah ingatan bahwa ia sedang berada di tengah-tengah tugas, dan benar-benar butuh usaha keras untuk itu!

Ia pun berusaha meredam emosi dengan mempercepat langkah menuju posisi yang diberikan Pusat, yang dipegang oleh Andrew. Tak lama kemudian, terdengar suara Pusat di ear tablet-nya, memberitahukan bahwa target yang harus disergap adalah Kent dan Fay!

Sepanjang perjalanan mengikuti Kent dan Fay, otaknya berpikir keras tentang maksud semua ini, tapi ia tidak bisa memahaminya sama sekali. Dari ekspresi Kent saat tertangkap ia tahu sepupunya itu juga tidak punya ide sama sekali apa yang terjadi di balik skenario yang sedang dia mainkan tanpa sadar.

Dengan detik yang terus berlalu yang semakin lama semakin membuntukan pikiran, akhirnya ia memutuskan untuk bertindak terlepas dari ketidakmengertiannya atas maksud sang paman. Mengikuti aturan pertama dalam fte Groundhouse: sebisa mungkin saling melindungi satu sama lain. Reno harus membuat Kent tahu bahwa pria bertopi hijau yang membuntuti Kent dan Fay adalah dirinya.

Dengan kamera yang mengawasi ruang penyekapan Kent—dan ia juga tahu persis bahwa mikrofon Fay dan Kent menyala—satusatunya cara yang terpikirkan olehnya adalah memberi tanda yang mungkin dikenali Kent.

Sengaja ia memperlakukan Fay dengan kasar untuk membangkitkan amarah Kent. Rencananya berhasil. Kent terpancing dan langsung menyerang, dan ia pun menyerang balik dengan gerakan yang persis sama dengan yang ia lakukan di istal kediaman Philippe. Ia berharap Kent mengenali gerakan yang ia buat, terutama saat ia membuat gerakan menekan leher Kent dengan posisi tangan yang persis sama namun dengan tenaga yang hanya seadanya, lalu mendudukkan diri di lantai setelah Kent berhasil mendorongnya. Ia juga berharap Kent bisa membaca sorot matanya saat wajahnya tepat berada di atas Kent—bukan sorot mata seorang musuh.

Sempat merasa pusing dan ruangan berputar sendiri di luar kendali, ia tidak punya pilihan ketika terdengar suara Andrew di headset-nya dengan instruksi yang sangat detail seperti ”pukul Fay dengan tangan kiri kamu”, atau ”lingkarkan tali di leher Fay dan tarik kedua ujungnya sehingga dia tidak bisa bernapas”, atau ”tarik tali lebih kencang, kamu tidak sungguh-sungguh menariknya”. Atau yang membuat ia ingin muntah saat itu juga, ”tahan kedua tali itu hingga saya memerintahkan kamu untuk melonggarkannya”—dan menjalani detik demi detik ketika tangan kotornya menyiksa adik kecilnya, tidak punya daya untuk melawan karena ia tahu akibatnya bisa lebih parah tidak hanya baginya tapi juga bagi adik kecilnya. Ketika lampu menyala kembali dan Kent sudah tidak terlihat, kesadaran mendadak menyergap dan ia langsung bisa menebak apa maksud sang paman. Untunglah Kent bisa pergi meninggalkan Fay.

Maaf, adik kecil—aku pernah bilang hubunganmu dengan Kent tidak seharusnya terjadi.

Reno tercenung menatap air yang sudah membanjiri tangkupan telapak tangannya, lalu membasuh mukanya dengan air yang berkelimpahan. Penyesalannya belum selesai sampai di sini. Ada satu tugas lain yang tak kalah berat yang harus ia lakukan.

Reno mematikan keran lalu beranjak sambil berdoa dalam hati semoga Maria memaafkannya dari surga.

Andrew masih berada di ruang kerjanya di COU. Di komputer di depannya terbuka tiga profil agen COU yang sedang dalam masa evaluasi. Mereka bertiga telah terlibat dalam satu operasi yang sama, yang ia gulirkan dengan satu landasan sederhana: keraguan.

Tangan Andrew bergerak untuk memperbesar profil pertama. Scott Preston, agen level satu dari unit COU di Amerika Serikat. Selama satu tahun belakangan ini Scott tidak berprestasi sesuai harapan dan seperti kehilangan motivasi—kesalahan fatal bila terjadi di jajaran COU. Di dunianya ini, motivasi adalah hal mendasar yang membuat seseorang tetap hidup. Tanpa motivasi yang cukup, cepat atau lambat seorang agen akan melakukan kesalahan yang bisa berakibat fatal tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi anggota yang lain.

Sudah berkali-kali Scott tercatat melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang agen Level Satu. Setelah melakukan evaluasi yang mendalam atas profil dan perjalanan karier Scott di COU bersama dua Pilar COU yang lain, Philippe dan Raymond, akhirnya Andrew memutuskan untuk memberi tes terakhir bagi Scott.

Scott diberi tugas untuk menemui seorang kontak yang mengetahui informasi transaksi senjata ilegal, di sebuah rumah di Fontainebleau—tentunya kontak palsu. Dia ikut tur yang membawanya ke Fontainebleau tanpa curiga sama sekali bahwa sedang diawasi oleh Kent dan Fay. Dia bahkan sama sekali tidak sadar telah dibuntuti oleh Kent dan Fay hingga dia masuk ke rumah kontak, dan sampai harus diinformasikan oleh Russel bahwa dia kemungkinan sedang dibuntuti.

Kelalaian Scott tidak berhenti di situ. Dia bahkan tidak repotrepot menggeledah Kent dan Fay ketika menangkap mereka berdua dan Fay tetap dibiarkan memegang tasnya sampai mereka tiba di rumah penyekapan—kesalahan yang bahkan sudah sulit dimaafkan bagi agen Level Dua.

Satu hal lain yang menjadi puncak keraguan Andrew atas Scott adalah nasib beberapa orang yang menjadi target operasi yang dipimpin Scott. Ada beberapa kasus saat sebenarnya target tidak perlu kehilangan nyawa, namun mereka malah berakhir tragis di tangan Scott. Hal terakhir yang diinginkan di profil agen-agen COU adalah kecenderungan penyimpangan perilaku yang mengarah pada kekerasan yang tak perlu.

Selama ini kasus-kasus itu tidak pernah menguak ke permukaan karena operasi Scott sendiri berakhir sukses. Namun sekarang, keraguan Andrew terbukti. Scott bertindak sendiri dengan membawa Fay pergi tanpa instruksi Pusat dan tanpa melapor ke Pusat—tindakan solo di luar protokol yang menyebabkan Pusat kehilangan kontrol atas kejadian selanjutnya.

Andrew meraih keyboard untuk mengubah status Scott menjadi ”pasif” dan di kolom catatan ia menulis ”rekomendasi terminasi sudah dijalankan”. Tangannya lalu bergerak untuk membuka dua profil lain, Reno dan Kent, keponakannya sendiri.

Sudah sejak tahun lalu keraguan menggerogoti kepercayaan Andrew kepada Reno, sejak Reno meracau di bawah serum kebenaran tentang bagaimana dia menganggap Fay sebagai adiknya sendiri. Keraguan itu semakin nyata setelah ia memantau komunikasi Fay selama satu tahun terakhir dan mendapati bahwa Reno ternyata membuat kontak dengan Fay—pelanggaran protokol yang berat, yang dengan penuh kesadaran tetap ditempuh oleh Reno.

Demikian juga dengan Kent. Tidak butuh mata seorang ahli untuk tahu bahwa keponakannya ini memiliki perasaan yang tidak pada tempatnya terhadap Fay. Tahun lalu Kent berkali-kali melanggar protokol untuk menemui Fay. Bahkan tahun ini dia tetap menunjukkan sikap peduli dan berkorban untuk Fay walaupun selama satu tahun dia sudah menjalani hukuman yang tidak ringan atas perbuatannya itu.

Keterlibatan emosional kedua keponakannya ini dengan Fay sudah berada pada taraf yang mengkhawatirkan, hingga akhirnya Andrew memutuskan untuk menguji mereka. Yang ingin diketahui olehnya hanya satu, bila kedua keponakannya itu dihadapkan pada dua pilihan, COU atau Fay, mampukah mereka memilih yang pertama?

Andrew lalu memasang Reno dan Kent di operasi Blueray. Kedua remaja itu masing-masing diberi latar belakang tugas yang berbeda. Reno diminta untuk menjadi agen pendukung bagi Scott dan menyergap dua target yang dianggap membahayakan operasi, sedangkan Kent diminta membuntuti Scott untuk mengambil chip.

Untunglah mereka mengambil keputusan yang tepat. Reno tanpa ragu menjalankan perintah demi perintah untuk melakukan kontak fisik kepada Fay, dan Kent juga akhirnya meninggalkan Fay demi mengikuti perintah Pusat, walaupun awalnya sempat ragu.

Tangan Andrew bergerak untuk memperbarui hasil tes Reno dan Kent, lalu ia membuka profil keempat, profil Fay. Terlepas dari keyakinannya bahwa Fay merupakan kandidat yang potensial, ia harus tahu dulu sejauh mana gadis ini membawa dampak negatif pada dua aset McGallaghan yang sudah dipupuk sejak dulu, Reno dan Kent. Keputusan kedua keponakannyalah yang sebenarnya menentukan nasib Fay—kalau saja pilihan salah satu keponakannya salah, ia tadi akan membiarkan Scott menghabisi Fay dulu sebelum ia sendiri masuk dan menembak Scott.

Andew menggerakkan jemarinya di keyboard dan membaca laporan Raymond tentang dua tugas Fay yang dia kepalai.

Andrew tersenyum puas, lalu menutup profil Fay, membiarkan kolom status rekrutmen Fay tetap kosong.

Tidak ada yang perlu diperbarui sekarang. Belum.

Telepon berdering. Tangan Andrew terulur untuk mengangkat telepon, ”Andrew is speaking.”

Terdengar suara James Priscott, sepupunya. ”Hai, Andrew. Spesimen tanaman sudah diterima di laboratorium COU. Apa bisa saya artikan tugas Fay sukses dan dia lolos?”

”So far so good, James,” jawab Andrew santai. ”Jadi, berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk menduplikasi BioticX di laboratorium?”

”Yang agak memakan waktu adalah menemukan lokasi penyemaian tanaman itu di daerah Amazon. Walaupun koordinatnya sudah diketahui, saya tetap harus mengirim tim ke sana untuk melihat secara langsung. Pembuatan BioticX sendiri tidak akan lebih dari dua minggu. Dengan formula dan sampel bahan baku di tangan kita, tidak ada yang istimewa dari apa yang akan saya lakukan. Tidak ada bedanya dengan mengikuti resep brownies di majalah wanita.”

Andrew tertawa diikuti James. Semua tahu James tidak bisa masak.

James melanjutkan, ”Setelah berhasil diduplikasi, saya akan langsung menyerahkan obat itu ke Llamar Health & Life supaya bisa segera diproduksi massal. Harus saya akui, penemuan ini benar-benar luar biasa. Kepala peneliti Llamar Health & Life bisa mendapat hadiah nobel kalau penemuan ini dipublikasikan atas namanya.”

Andrew tersenyum. ”Tidak perlu, James. Produksi obat itu dengan jumlah terbatas di Laboratorium COU dan beri nama julukan lain, lalu peti eskan penelitian itu.”

Hening sejenak.

James berseru, ”Apa maksud kamu?! Di tangan kamu ada sebuah obat ajaib yang bisa menggantikan hampir semua obat di dunia dan kamu minta supaya ini dipetieskan?? Kamu gila!”

Andrew tertawa kecil. ”James, lantas apa yang akan saya lakukan dengan Llamar Health & Life bila obat ini saya lepas ke pasaran?”

”Apa maksud kamu? Llamar Health & Life akan mendominasi pasar bila meluncurkan obat ini...”

”DAN membunuh beratus-ratus ratus merek obat yang sudah dikeluarkan oleh Llamar Health & Life yang saat ini diserap dengan baik oleh pasar? Itu yang gila!” potong Andrew. ”Penemuan BioticX terlalu dini. Melepaskan produk itu ke pasar dalam waktu dekat akan mengakibatkan guncangan serius, tidak hanya pada Llamar Health & Life, tapi juga pada semua perusahaan obat di dunia. Bayangkan kekacauan ekonomi yang terjadi kalau semua perusahaan obat di dunia gulung tikar, hanya karena sebuah obat yang ditemukan oleh peneliti ambisius yang tidak bisa melihat masalah secara makro!

”Ada saatnya dunia akan membutuhkan BioticX dan dengan persiapan yang matang Llamar Health & Life akan mendapatkan keuntungan maksimal tanpa menimbulkan polemik dan kekacauan yang tidak perlu, tapi tidak sekarang. Belum.”

James menarik napas panjang. ”Saya pikir setelah mengenal kamu selama ini saya sudah tidak bisa dikejutkan lagi.”

Andrew tertawa. ”Life is full of surprises, indeed.” James berkata, ”Baik. Saya akan membatasi akses ke semua data yang berhubungan dengan BioticX. Akses ke sana hanya bisa dilakukan dengan otoritas kita berdua secara bersamaan.”

Andrew tersenyum. ”Thanks, James.” Telepon ditutup.

Semua berakhir sesuai harapan, pikir Andrew. Dengan suksesnya Osiris Satu, BioticX ada dalam genggamannya. Dan setelah Osiris Dua dijalankan, Nicholas Xavier tidak lagi menjadi ancaman bagi kestabilan ekonomi dunia sebagaimana definisi Llamar Corp. Bila Osiris Satu gagal, nasib Nicholas Xavier akan berbeda. Namun, tentu saja kehidupan hanya berpihak pada orang-orang yang mampu menggoreskan nasib, bukan pada mereka yang menerima goresan nasib begitu saja—dan seorang Nichoas Xavier tentu bukan tandingan bagi dirinya, penerus klan McGallaghan.

Keesokan harinya, Fay bangun tidur dengan perasaan ringan yang sangat menyenangkan—rasanya seperti hari pertama liburan sekolah! Sekilas ia melirik jam dan hampir terlompat dari tempat tidur ketika melihat angka 10.10 tertera di sana. Ternyata ia tidur hampir sepuluh jam! Fay menggeliat sebentar, tapi ingatan bahwa ia akan pulang hari ini membuatnya terlalu bersemangat, jadi ia langsung bangun dan bersiap-siap.

Masuk ke ruang kerja Andrew setelah sarapan, Fay disambut sapaan ramah dari Andrew, ”Hai, Fay, silakan duduk.”

Fay duduk di hadapan Andrew yang mengenakan busana kasual nuansa putih-biru dan tampak sangat santai.

”Tugas kamu sudah selesai, jadi hari ini kamu bisa pulang. Tiket kamu sudah diperbaharui untuk kepulangan hari ini,” ucap Andrew sambil menatap Fay lekat. ”Saya yakin saya tidak perlu lagi memberi penekanan tentang pentingnya menjaga kerahasiaan semua aktivitas kamu di Paris ini kepada siapa pun.”

Fay buru-buru mengangguk. Andrew menyodorkan satu amplop. ”Sama seperti tahun lalu, sebagai ungkapan terima kasih, sejumlah uang akan ditransfer ke rekening kamu di Singapura dan kamu bisa menghubungi penasihat keuangan kamu untuk mengambilnya. Di amplop ini ada sebagian dari uang itu.”

Fay menerima amplop yang diberikan Andrew dengan perasaan campur aduk. Entah kenapa, kelegaan di dadanya tidak terasa penuh seperti yang ia bayangkan saat bangun tidur tadi.

Andrew bersandar dengan santai. ”Ada yang ingin kamu tanyakan sebelum kamu pergi?”

”Apakah Reno dan Kent akan datang ke sini?” tanya Fay harap-harap cemas.

”Tidak. Mereka sedang melakukan tugas lain,” jawab Andrew singkat. ”Ada pertanyaan lain?”

”Apakah saya diizinkan untuk berhubungan dengan Reno lewat e-mail?” tanya Fay hati-hati.

Andrew menatap Fay sebentar lalu menjawab, ”Tidak. Saya membiarkan Reno melakukannya sepanjang satu tahun kemarin karena kamu belum tahu identitas Reno yang sebenarnya.”

Fay menelan kekecewaannya, lalu menarik napas dan bertanya, ”Apakah saya akan dihubungi lagi untuk... tugas-tugas semacam ini?”

”Selama ada kebutuhan khusus yang memerlukan kamu, kemungkinan itu selalu terbuka.”

Fay menelan ludah dan menunduk, berpura-pura memperhatikan amplop di tangannya. Ide bahwa ia bisa dihubungi kapan saja oleh Andrew dan dikagetkan perintah-perintah ajaibnya sama sekali tidak ingin diterima otaknya, tapi ada sebuah perasaan aneh yang tidak ia mengerti—seolah-olah ia memang sedikit berharap semua belum usai.

Andrew berdiri lalu berkata, ”Sampai jumpa lagi, Fay. Have a nice flight home.”

Fay terpaku ketika Andrew memeluknya hangat sambil tersenyum. Ia akhirnya membalas pelukan Andrew dengan benak yang belum sepenuhnya menyatu. Ia lalu melangkah keluar dengan pikiran setengah melayang dan mengikuti Andrew ke pintu, masih dengan otak yang rasanya kosong melompong.

Fay mengayunkan kaki tanpa tergesa-gesa, membiarkan kesadaran perlahan-lahan merasuk kembali ke dalam otaknya.

Apakah ini artinya tidak akan pernah ada hidup yang aman untuknya... seumur hidup... sampai ia mati? Apakah berarti setiap saat ia bisa saja dikagetkan telepon Andrew, dengan tugas-tugas entah apa? Apa yang harus ia lakukan hingga saat itu tiba? Menjalani detik demi detik dalam ketegangan yang menunggu untuk dipecahkan sebuah dering telepon? Tapi di sisi lain, bila Andrew tidak memanggilnya, akankah ia berjumpa dengan Reno dan Kent lagi?

”Sudahlah, Fay!” ucap Fay kepada diri sendiri sambil mencoba menarik napas panjang untuk mengusir kekesalan atas pergulatan batin yang terjadi. ”Kan belum tentu tugasnya datang secepat itu... Siapa tahu tidak ada tugas yang secara khusus membutuhkan elo... Siapa tahu setelah lima tahun tugas semacam itu tidak ada, Andrew memutuskan menghapus nama lo dan membiarkan lo hidup tenang. Lagi pula, kalau sudah lulus kuliah dan kerja, lo kan bisa pindah sehingga Andrew kehilangan jejak.” Sisi hati Fay yang lain berusaha menyuarakan nama Reno dan Kent yang kemungkinan besar akan ikut hilang dari kehidupannya dengan skenario tadi, tapi langsung ditepis.

Akhirnya Fay menuju kamar, menunggu saatnya pulang. Pulang, Fay... pulang! ulangnya pada diri sendiri, masih dengan kehampaan yang tidak ia ketahui penyebabnya.

Fay melayangkan sekilas pandangan ke para penumpang yang sedang berbaris mengantre untuk check-in di konter penerbangan— rasanya ia masih tak percaya semua sudah usai dan ia akan pulang. Ia masih ingat bagaimana sepertinya waktu tak kunjung bergeser saat sedang mengayunkan kaki di bawah ancaman Philippe.

Sudut bibir Fay terangkat sedikit ketika menyadari bagaimana waktu ternyata memang punya definisi yang aneh bagi setiap manusia—dan mengingat ada satu miliar penduduk dunia, berarti bukan cuma dirinya yang mengalamai fenomena aneh sang waktu!

Fay kembali membiarkan matanya melanglang buana mengamati para penumpang dengan kehebohan masing-masing yang kadang memancing senyum, hingga matanya menangkap satu wajah yang ia kenal.

Lucas!

Agak jauh di bagian belakang deretan antrean, terlihat Lucas sedang berjalan pelan dengan mata mencari.

Dengan gugup Fay melihat antrean di depannya yang masih juga belum bergerak, lalu kembali melihat Lucas yang mulai bergerak mendekat namun masih belum menemukan apa yang dicari. Apa yang dilakukan Lucas? Apakah Lucas mencari dirinya? Fay menggigit bibirnya, merasakan jantungnya mulai berdebar.

Bagaimana kalau iya? Kenapa Lucas mencari dirinya lagi, padahal baru saja pria itu menurunkannya di pintu masuk bandara? Jadi sekarang gimana, kabur?

Pada detik pertanyaan itu singgah, pada detik itu juga pandangan Lucas terkunci ke arah Fay dan Fay akhirnya hanya berdiri dengan pasrah, menunggu Lucas yang berusaha keras menyibak antrean dengan permohonan maaf yang sangat sopan hingga tiba di sebelah Fay.

”Ada apa?” tanya Fay, berusaha tampak datar dengan kegelisahan yang sebenarnya sudah tidak kira-kira.

”Sebaiknya kita keluar dari antrean sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan.”

Fay mengangkat alis dan menatap Lucas sesaat, tapi tidak ada yang bisa dibaca di raut wajah pria itu. Akhirnya Fay membiarkan Lucas mengambil alih koper di tangannya dan mengikutinya bergerak keluar dari antrean.

Begitu keluar dari antrean, Lucas tidak menunjukkan tandatanda memelankan langkah dan malah berjalan semakin cepat.

”Tunggu!” seru Fay.

Lucas berhenti dan menoleh. ”Ada apa?”

Fay terbelalak. ”’Ada apa’? Saya yang harusnya tanya kenapa saya disuruh keluar dari antrean? Saya kan sudah diizinkan pulang!”

Lucas berjalan mendekat dan berkata, ”Ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Mr. McGallaghan.”

Fay ternganga dengan bego dan akhirnya berkata setengah berteriak, ”Apa yang mau dia sampaikan? Tadi pagi saya sudah ketemu dia dan dia nggak ngomong apa-apa!”

Lucas mengangkat bahu dengan tak acuh. ”Saya tidak tahu. Saya cuma diminta membawa kamu kembali. Sisanya bisa kamu tanyakan sendiri nanti.”

Fay tetap berdiri tanpa berkata-kata dan akhirnya setelah mematung beberapa saat, ia serta-merta membalikkan badan, kembali menuju konter check-in. Bodo amat! Kalau Lucas mau bawa koper itu, bawa gih sana... siapa juga yang butuh koper! Dengan atau tanpa koper, ia mau pulang!

Dengan perasaan berapi-api Fay kembali mengantre. Ia berusaha ngomel-ngomel dalam hati karena harus mulai mengantre dari awal, demi menutupi sisi lain dirinya yang mulai panik. Ia berusaha tidak melihat di mana Lucas atau apa yang sedang dilakukan pria itu, tapi lewat sudut matanya mau tak mau ia melihat Lucas berjalan mendekat.

Lucas menyodorkan telepon genggam kepada Fay. ”Mr.

McGallaghan...”

Fay menerima telepon dengan kemarahan menggebu-gebu, ”Halo... kenapa saya...” ”Fay...,” potong Andrew dengan sebuah tekanan lembut di nada suaranya.

Fay terdiam.

”Ada berita yang baru saja saya terima, yang harus saya sampaikan kepadamu. Percayalah, Fay, kalau ini bukan hal mendesak, saya tidak mungkin memintamu kembali.”

Kata-kata Andrew yang diucapkan dengan sebuah ketegasan di satu sisi namun penuh kelembutan di sisi lain langsung menyurutkan amarah Fay. Fay kini dihinggapi kegelisahan dan kecemaasan baru, yang belum bisa ia resapi alasannya. ”Berita apa?”

”Saya tidak bisa menyampaikan berita ini melalui telepon. Lucas akan membawa kamu kembali. Kepulangan kamu bisa diurus dengan mudah begitu semua menjadi jelas.”

”Baik,” jawab Fay akhirnya. Ia pun menutup telepon dengan sejuta pertanyaan mulai berseliweran dalam benaknya. Apa yang menjadi ”jelas”? Kenapa tidak bisa disampaikan di telepon? Kalau ini tentang tugas, kenapa tidak ada kesan dingin yang biasanya bisa ia tangkap dengan mudah di suara Andrew? Tapi kalau tidak berkaitan dengan tugas, lalu tentang apa?

Setelah menghela napas panjang, Fay akhirnya meninggalkan antrean dan mengikuti Lucas kembali ke mobil.

Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen Andrew, Fay berusaha tidak membiarkan otaknya melayani pertanyaan-pertanyaan yang hilir-mudik dengan memperhatikan jalan dan mencoba membaca semua tulisan yang tertangkap mata. Usahanya bisa dibilang cukup berhasil karena rasanya tidak terlalu lama kemudian ia sudah mengenali jalan kecil tempat gedung kediaman Andrew. Begitu mobil berhenti di depan gedung, Fay buru-buru masuk dan menemui Andrew di ruang kerja.

”Kemari, Fay,” ucap Andrew lembut sambil mengulurkan tangan saat Fay masuk ruangan.

Fay mendekat ke arah Andrew, perlahan-lahan meresapi perasaan aneh yang menyelisip ke dalam dada ketika melihat sorot mata Andrew yang lembut.

Andrew mengambil satu tangan Fay dan menggenggamnya erat dengan kedua tangan. ”Fay, saya minta kamu menguatkan diri.” Fay bisa merasakan ketegangan tanpa alasan dan tubuhnya langsung kaku. ”Ada apa?” tanyanya pelan. Sensasi aneh yang

menyergap perasaannya kini membuat perutnya sangat mual.

Andrew sejenak menatap Fay, kemudian menjawab, ”Salah satu kenalan kamu di Jakarta baru saja menghubungi Institute de Paris dan menyampaikan berita kurang baik. Saya sudah berusaha mengonfirmasi berita itu dengan menghubungi kontak saya di Peru, dan sayang sekali memperoleh hasil yang sama.”

Fay merasa bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya dirayapi rasa dingin menggigit yang mencengkeram seluruh pori-porinya. Jantungnya berdebar kencang dan napasnya mulai sesak. ”Berita apa...?” tanyanya dengan suara tercekat.

Andrew mempererat genggaman tangannya ke tangan Fay dan menjawab, ”Pesawat yang ditumpangi orangtua kamu jatuh di Amazon tadi malam.... Kemungkinan tidak ada yang selamat.”

Fay merasa semua tampak kabur dan ruangan beserta segala isinya berputar di pelupuk mata. Telinganya berdenging dan tubuhnya menggigil ketika sebuah kegelapan merayap dan melumatnya hingga semua menjadi gelap. Ia pun tumbang ke lantai.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊