menu

From Paris To Eternity Bab 11: Tugas

Mode Malam
Tugas

PUKUL  08.20  keesokan  harinya,  Fay  dan  Kent  sudah  tiba  di depan concierge. Semua peralatan telekomunikasi dan mikrofon mereka berdua kini dalam posisi aktif.

Sudah ada sepasang kakek-nenek yang menunggu untuk ikut tur yang sama, ditemani seorang pria yang mengenakan topi berlogo perusahaan tur. Pria itu menyambut mereka ramah dan menyapa dengan bahasa Inggris yang sempurna tanpa logat Prancis sama sekali, memperkenalkan diri sebagai Alec Nicholas, pemandu tur. Dia juga memberikan buku panduan tur yang tebal.

Scott datang tak lama kemudian, ikut bergabung dengan mereka bertiga.

Kedatangan Scott membuat Kent semakin membabi buta dalam bersandiwara. Kent terus-menerus menatap Fay dengan tatapan mesra bercampur kagum, seolah Fay adalah dewi dari langit yang dijatuhkan ke bumi khusus untuknya—benar-benar mengada-ada!

Ingin rasanya Fay tertawa, tapi untung ia berhasil menahan mulutnya. Fay akhirnya malah iseng dan sengaja meminta air putih kepada Kent di depan Scott dan Alec! Dengan tergesa-gesa Kent langsung menjalankan titah yang diterima dengan menuju konter minuman di hotel untuk membeli air minum dalam kemasan. Ketika melihat Kent kembali tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh dan menyodorkan botol minuman, Fay benarbenar harus berusaha keras untuk tidak tertawa melihat tatapan Alec dan Scott yang cenderung iba kepada Kent.

Alec akhirnya berkata mereka semua sudah siap untuk berangkat dan dia beranjak untuk mengambil mobil. Scott juga berlalu dan beralih menyapa si kakek-nenek.

Kent merangkul Fay dari belakang; satu lengannya menutupi bandul di leher Fay dan satu tangan lain diposisikan di atas arlojinya sendiri. Kent lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Fay dan berbisik, ”Awas kamu ya, nanti aku balas.”

Fay tersenyum simpul menatap Kent yang masih memandanginya dengan penuh kekaguman dan cinta.

Alec datang tak lama kemudian membawa mobil van berkapasitas sembilan penumpang di bagian belakang, terdiri atas tiga baris tempat duduk. Si kakek-nenek langsung duduk di baris pertama, tepat di belakang Alec, yang ternyata tidak hanya menjadi pemandu tapi juga merangkap sebagai pengemudi. Kent buru-buru menarik tangan Fay untuk masuk mobil, mengambil baris ketiga atau paling belakang; ketika Scott masuk, dia tidak punya pilihan selain menempati baris kedua.

Begitu mobil bergerak, Alec langsung berceloteh tentang tujuan pertama mereka yang akan ditempuh dalam waktu kurang-lebih satu jam. Fontainebleau berjarak sekitar 60 km di sebelah selatan kota Paris. Ada tiga atraksi utama yang akan mereka nikmati dalam kunjungan ini. Yang pertama adalah château atau istana Fontainebleau yang kesohor sebagai tempat tinggal para raja Prancis termasuk Napoleon. Yang kedua adalah berjalan-jalan di kota kecil Fontainebleau yang sangat apik dan menjadi kediaman bagi banyak kalangan atas Prancis. Yang terakhir adalah kota kecil Barbizon, yang terkenal sebagai kota yang telah melahirkan banyak sekali pelukis beraliran impresionis.

Fay mendengarkan keterangan Alec dengan sepenuh hati dan merasa agak aneh dengan fakta bahwa ia merasa sangat santai. Mungkin perasaan itu karena ada Kent di sisinya, atau mungkin juga karena ia sudah ditenangkan oleh penjelasan Kent semalam. Memang bukan akhir yang diharapkan, tapi setidaknya ia tahu Kent meninggalkannya bukan karena dia menganggap seorang Fay Regina Wiranata tidak layak berada di sisinya.

Setelah mobil mulai bergerak, awalnya Fay masih berusaha mengamati Scott dengan saksama, tapi lama-lama ia bosan juga. Apalagi tidak ada yang aneh dengan aktivitas Scott—dia tampak menyimak keterangan Alec dengan penuh minat, bahkan sesekali bertanya.

Fay juga merasa konsentrasinya terganggu dengan kelakuan Kent yang terus-menerus mendekatkan kepala untuk menggoda atau menciumnya di sela-sela usahanya untuk membaca buku panduan. Akhirnya ia menyibukkan diri dengan menanggapi godaan dan ciuman Kent, sambil sesekali melihat ke luar atau mendengar penjelasan Alec.

Kurang-lebih satu jam kemudian, mereka tiba di tempat tujuan.

”Selamat datang di kota Fontainebleau. Pagi ini kita akan bersama-sama menuju château Fontainebleau. Saya akan memandu Anda berkeliling di château kurang-lebih selama satu jam, lalu Anda dipersilakan menikmati château sesuai kehendak Anda selama setengah jam. Setelah itu Anda dipersilakan mengikuti panduan yang sudah diberikan untuk berkeliling di kota kecil Fontainebleau ini selama satu jam. Baru kita berangkat menuju Barbizon,” ucap Alec.

Si kakek bertanya, ”Apakah kami tidak dipandu saat berjalan di kota Fontainebleau nanti?” ”Tidak, Sir. Kota ini sangat kecil, Anda bisa dengan mudah mengikuti panduan untuk berkeliling. Saya jamin tidak akan tersasar,” jawab Alec sambil tersenyum kocak.

Mereka semua bersiap turun dari mobil. Sekilas Fay mendengar si kakek-nenek menggerutu sambil menyebutkan tentang betapa sia-sianya membayar ikut tur kalau akhirnya harus berkeliling mencari jalan sendiri sambil membaca panduan!

Fay tersenyum dalam hati. Di Paris memang tersedia banyak sekali pilihan tur dengan kombinasi servis dan harga yang beragam. Bila tidak jeli dalam memilih, apalagi bila hanya berpatokan pada harga dan kata-kata manis di brosur, konsumen bisa merasa tidak puas dan bahkan merasa dirugikan. Pasangan kakek-nenek ini pasti melewatkan keterangan tambahan di brosur, bahwa tur yang mereka ikuti sekarang ini memang merupakan kombinasi antara self-walking-tour (tur jalan mandiri) dan guidedtour (tur dipandu)—pemandu hanya bertugas di Istana Fontainebleau, sedangkan untuk tujuan lainnya peserta tur dipersilakan mengikuti rute yang diusulkan di buku panduan tanpa didampingi pemandu.

Begitu Fay keluar dari mobil, yang pertama-tama terasa adalah udara yang sangat segar dan dingin, menyapa kulit dan jalur napasnya. Tidak heran, posisi kota ini persis di perbatasan hutan Fontainebleau yang menjadi andalan untuk menyangga kota-kota di sekitarnya. Mereka sekarang ada di Place Napoleon Bonaparte, sebuah area terbuka yang di pinggirnya berderet stan penjual suvenir dan makanan. Fay berdecak kagum melihat château Fontainebleau berdiri megah di kejauhan. Dan begitu tersadar bahwa statusnya saat ini adalah turis gadungan, matanya langsung mencari Scott, yang ternyata sedang berdiri memperhatikan merpati yang bercengkerama tanpa malu-malu.

Mereka semua kemudian berjalan perlahan, dipandu oleh Alec, melintasi Jardin de Diane, taman yang tepat berada di depan château, yang menyambut para pengunjung dengan anggun. Selama satu jam berikutnya, di dalam château mereka masuk ke ruang demi ruang yang tidak berkesudahan. Fay sibuk menyimak penjelasan Alec sambil berdecak kagum di hampir setiap ruangan melihat betapa mewah dan megah interior semua ruangan itu, mulai dari ruang tidur, ruang kerja, ballroom, perpustakaan, kapel, hingga ruang singgasana. Hampir semuanya didominasi warna keemasan dan tidak ada satu bagian pun yang luput dari sentuhan tangan-tangan seniman berbagai zaman yang meninggalkan jejaknya di château ini. Ornamen patung, ukiran, dan lukisan memenuhi dinding hingga langit-langit.

Fay langsung membayangkan kehidupan zaman kerajaan dulu, ketika para prianya memakai rambut palsu warna putih bergulung-gulung dan para wanitanya mengenakan gaun-gaun yang menyapu lantai dengan anggun.

Setelah satu jam menelusuri ruang yang tak ada habisnya, mereka tiba di area yang dinamakan Cour des Fontaines. Alec mengatakan peserta tur bisa berjalan-jalan selama setengah jam. Acara bisa dilanjutkan oleh peserta tur dengan berjalan-jalan di kota Fontainebleau selama satu jam.

Scott langsung mengarah keluar, menuju Etang de Carpes, sebuah telaga yang posisinya persis di belakang château. Di tengah telaga ini terdapat sebuah paviliun yang berdiri tegak tanpa jalan akses, sehingga tampak seakan muncul dari dalam air. Beberapa perahu berseliweran di telaga, berisi turis-turis yang ingin melihat paviliun lebih dekat.

Kent menggamit Fay untuk mengikuti Scott yang berdiri di sisi telaga, mengagumi pemandangan yang indah di depan mata ini.

Mendadak terlihat Scott seperti tersentak, lalu dia mengeluarkan telepon genggam.

”Kent ke Pusat. Scott mengambil telepon genggam, sepertinya menerima panggilan.”

”Roger. Amati terus.” Scott memasukkan telepon genggam kemudian berbalik dan berjalan dengan langkah lebar melewati Fay dan Kent, masuk kembali ke bangunan château.

Kent langsung menggandeng Fay untuk mengikuti Scott yang meninggalkan château dengan cepat, melintasi Jardin de Diane, mengarah kembali ke Place Napoleon Bonaparte, tapi tidak berhenti di sana, melainkan berjalan terus menuju Rue Grande, yang merupakan jalan utama yang membelah kota Fontainebleau.

”Menurut GPS, posisi kalian ada di Napoleon Bonaparte. Konfirmasi?”

Fay tertegun sejenak mendengar suara Russel di ear tablet-nya tapi ia lalu tersadar Russel pasti mengharapkan jawaban dari Kent.

Kent merangkul Fay sambil tetap berjalan dan menjawab sambil lalu, ”Konfirmasi diberikan. Target tetap berjalan, mengarah ke Rue Grande.” Kent lalu mengeluarkan buku panduan dan menggandeng Fay untuk berjalan sambil sesekali berpura-pura membaca panduan dan menyapukan pandangan ke sekeliling. Di depan mereka terlihat sebuah taman kecil, Place Franklin Roosevelt, dan tidak jauh dari sana, di sisi seberang, Hotel de Ville.

Scott mendadak belok ke kiri.

Dengan dada mulai berdebar Fay melirik Kent yang melapor dengan tenang, ”Scott belok ke Rue de La Corne. Posisi Scott persis di depan kami.”

”Roger. Hati-hati. Unit bergerak dari Posisi Tiga.”

Fay memperhatikan jalan sepi yang kini mereka lalui. Jalan berbatu ini khusus untuk pejalan kaki, dengan deretan bangunan berlantai tiga hingga lima saling menyambung, membentuk jajaran gedung yang rapi bagaikan berbaris, namun tidak kaku. Tak jauh di depan terlihat sebuah persimpangan yang tidak simetris mengarah ke beberapa jalan yang masing-masing mempunyai karakter tersendiri, baik ditandai ornamen jalan yang berbeda, maupun oleh perbedaan lebar jalan atau gedung di sepanjang jalan. Scott terlihat agak jauh di depan, tapi sama sekali tidak ada penghalang antara posisi mereka dan Scott.

Scott berbelok di persimpangan dan Kent kembali melapor sambil mempercepat langkahnya.

Mereka kini ada di sebuah jalan berbatu yang agak lebar, juga khusus untuk pejalan kaki, yang dipenuhi toko dengan etalase yang mengundang lirikan para turis. Fay mengembuskan napas lega sejenak melihat jalan ini lumayan ramai dengan gerombolan turis di sana-sini yang berjalan pelan menikmati suasana khas dengan keriaan seakan menggantung di udara.

Scott mengambil telepon genggam dan memperlambat langkahnya.

Kent langsung berbicara, ”Scott mengambil telepon genggam, sepertinya menerima panggilan.” Kent lalu merangkul Fay dan mencium kepala dan pipi Fay sambil memelankan langkah.

Scott menutup telepon dan mendadak berjalan dengan langkah lebar dengan tergesa-gesa.

”Scott berjalan cepat ke arah Rue des Bouchers,” lapor Kent sembari menarik tangan Fay.

Fay mendengar suara Russel di ear tablet-nya, ”Roger that, jangan sampai lepas.”

Menghiraukan jajaran toko dan suasana yang begitu nyaman untuk dinikmati, Scott berbelok kembali dan tak lama kemudian sudah mencapai jalan raya. Dia menyeberang dengan cepat dan berbelok ke sebuah jalan kecil.

Kent menarik tangan Fay dan setengah berlari ikut berbelok, tapi begitu sampai di mulut jalan, mereka tertegun. Pintu berjejer di kedua sisi, dan Scott tidak terlihat!

Kent mengumpat pelan. ”Apa yang terjadi? Laporkan!”

”Scott tidak terlihat lagi. Ada banyak pintu di jalan ini,” lapor Kent sambil menarik tangan Fay untuk menepi di mulut jalan. ”Jalan ramai?” ”Negatif.”

”Tetap di posisi dan amati.” ”Roger.”

Fay menggenggam tangan Kent dengan erat dengan jantung sudah berdebar kencang. Ia mengintip ke jalan kecil dan menunggu sesuatu terjadi.

Mendadak satu pintu terbuka dan Fay sekilas melihat seorang pria bertopi hijau keluar dan berjalan ke arah mereka. Berikutnya Fay langsung gelagapan ketika Kent tiba-tiba mendorongnya ke tembok dan langsung menciumnya.

Fay melingkarkan tangannya di leher Kent, berusaha terlihat santai. Lewat sudut matanya ia melihat pria bertopi hijau itu berjalan melewati mereka sambil sekilas melirik acuh tak acuh.

Kent melapor sambil menatap Fay mesra, ”Seorang pria bertopi hijau keluar dari pintu kedua di sebelah kanan. Bukan Scott.”

Fay sempat tersenyum sedikit di sela-sela debaran jantungnya mendengar laporan Kent yang diucapkan sangat datar, benarbenar bertolak belakang dengan ekspresi wajah Kent yang menatapnya dengan begitu berbunga-bunga.

Kent menarik tangan Fay untuk masuk ke gang. Scott sudah berjalan menuju mulut gang di sisi berbeda. ”Scott keluar dari pintu yang sama dengan pria bertopi. Dia berjalan cepat menuju Rue Grande... mengarah ke Rue Aristide Briand,” lapor Kent.

”Unit ke Kent. Saya kehilangan posisi. Cek pemancar GPS kamu.”

Dengan kening berkerut Kent mengecek arlojinya dan berkata, ”GPS aktif.”

”Unit ke Kent. Do you copy? Saya ulangi, saya kehilangan posisi. Cek pemancar GPS kamu.”

”Roger, GPS aktif,” jawab Kent. ”Unit ke Kent. Do you copy?”

Kent mengumpat pelan, ”Damn. Kita hilang kontak.” Terdengar kembali suara di ear tablet, kali ini suara Raymond,

”Pusat ke Kent. Do you copy?” ”Roger,” jawab Kent.

”Pusat ke Kent. Do you copy?”

Kent mengeluarkan iPod dan mencoba menggunakannya tanpa hasil, kemudian meraih telepon genggam untuk menelepon, juga tidak berhasil.

Fay mendengar suara Raymond di ear tablet-nya, ”Pusat ke Fay.

Do you copy?”

Fay mencoba menjawab, ”Roger.”

Kent mengumpat pelan sambil menggeleng ke Fay. ”Percuma.” Terdengar kembali suara Raymond, ”Komunikasi putus. Frekuensi yang sama tetap saya buka. Posisi terakhir yang saya terima berdasarkan laporan Kent, kalian ada di Rue Grande, menuju Rue Aristide Briand. Saya akan secara berkala mencoba menghubungi kalian. Lakukan hal yang sama bila keadaan memungkinkan. Tetap ikuti Scott hingga tiba kembali di Paris. Unit pendukung akan ber-

siaga di Posisi Dua.”

Scott berjalan dengan langkah lebar yang stabil namun tidak tergesa-gesa dan Fay berdoa sepanjang jalan supaya Scott tidak menoleh ke belakang. Walaupun jarak mereka cukup jauh, jalan ini sepi dari pejalan kaki.

Di depan, terlihat Scott belok ke kanan dan Kent langsung menarik tangan Fay untuk mempercepat langkah.

Saat belok ke kanan, Fay sekilas melirik ke jalan yang baru saja mereka tinggalkan dan ia langsung terkesiap. Sekujur tubuhnya langsung terasa dingin dan dengan panik ia berseru, ”Kent, pria bertopi hijau yang tadi kita lihat, sekarang ada di jalan raya, persis sebelum kita belok ke jalan ini!”

Kent tidak berkata-kata dan setelah beberapa saat menyapukan pandangannya ke kaca-kaca di sekeliling mereka, ia kemudian menggumam, ”Dia ikut berbelok ke jalan ini.”

”Jadi bagaimana?” tanya Fay mulai panik. ”Kita sekarang belum tahu siapa target pria bertopi hijau ini, kita atau Scott. Kita ikuti Scott dulu.”

Di depan mereka terlihat Scott belok ke kiri.

Kent menarik Fay untuk berjalan lebih cepat, kemudian mereka ikut berbelok. Mereka tertegun ketika melihat Scott sudah tidak ada. Tidak jauh di depan mereka jalan bercabang dua— Scott bisa jadi belok ke kiri atau ke kanan.

”Ayo, Fay, kalau setelah persimpangan ini ada persimpangan lagi, kita bisa kehilangan jejak Scott!” seru Kent dengan langkah lebar.

Mereka hampir berada di ujung jalan ketika tiba-tiba Scott muncul dari sebuah lekukan di pinggir jalan, berdiri menghadap mereka dengan wajah tenang.

Kent menyapa ringan, ”Hai, Scott, kamu tersesat, ya? Sejak tadi kami mengikuti kamu.”

Jantung Fay sempat lompat mendengar ucapan Kent, tapi akhirnya ia tersenyum santai mengikuti ekspresi Kent.

Scott mengangkat alis. ”Oh ya? Kenapa kalian membuntuti saya?”

Kent mengangkat bahu dengan tak acuh. ”Kami pikir Anda tahu tempat-tempat menarik di sekitar sini, jadi daripada repotrepot baca panduan, kami memilih untuk mengikuti Anda saja. Tapi kelihatannya dugaan kami salah dan saya rasa kita samasama tersesat sekarang.”

Fay mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu dengan merangkul Kent dan tersenyum ke arah Scott.

”Tapi jangan khawatir, Scott. Saya membawa peta. So, see you at Place Napoleon,” lanjut Kent sambil berbalik.

Fay mengikuti Kent berbalik sambil melambaikan tangan ke Scott, dan tersentak ketika melihat pria bertopi hijau sudah berdiri di mulut jalan. Mereka terjebak!

”Tidak secepat itu,” terdengar suara Scott dari belakang mereka. Sebuah mobil van warna biru tua datang dari belakang Scott, lalu berhenti di sisi jalan, tepat di sebelah mereka. Begitu pintu belakang terbuka, satu pria berhidung melengkung seperti paruh mengacungkan senjata.

”Masuk!” perintah Scott.

Fay meremas tangan Kent lebih erat dan bersiap masuk ke van ketika terdengar kembali suara Scott, ”Bukan kamu, Miss, tapi teman kamu.”

Fay tertegun.

Kent langsung bersuara, ”Apa-apaan ini?! Dia bersama saya!” ”Tidak lagi,” ucap Scott. ”Fe akan ikut saya sebagai jaminan

supaya kamu tidak melakukan hal-hal bodoh yang tidak semestinya.”

Fay terpekik ketika mendadak Scott menarik lengannya hingga pegangannya ke tangan Kent terlepas. Fay berusaha menggapai Kent, tapi tidak berhasil karena Scott langsung memeluknya dari belakang sambil menariknya menjauhi Kent.

Kent maju dengan muka merah padam. ”Jangan sentuh dia!” Langkah Kent terhenti ketika terdengar bunyi klik dari mobil, suara senjata yang dikokang.

Scott berkata, ”Seperti saya bilang tadi, jangan bertindak bodoh!”

Pria bertopi hijau mendorong Kent ke dalam van dan begitu pintu ditutup, van langsung melaju.

Fay melihat van bergerak menjauh dengan perut mulas yang berputar-putar.

Scott bertanya, ”Apa kamu juga punya kecenderungan untuk melakukan hal-hal bodoh? Kalau iya, bilang saja sekarang supaya saya bisa menyuruh mereka menghabisi teman kamu sekarang juga.”

Fay menggeleng.

”Bagus,” ucap Scott yang berdiri dengan santai, bahkan sempat membetulkan posisi lengan kemeja rajutnya yang melorot ke pergelangan tangan.

Baru saja Fay bertanya-tanya dalam hati apa maksud pria di depannya, sebuah Renault putih memasuki gang dan berhenti di sebelah mereka. Scott langsung membuka pintu belakang, menarik lengan Fay untuk masuk, kemudian masuk ke mobil sambil menyapa pengemudi, ”Lama sekali. Saya sudah tidak sabar ingin mengobrol dengan nona di sebelah saya ini.” Scott lalu menyeringai ke arah Fay.

Fay merasa bulu kuduknya berdiri dan ia mengalihkan pandangan ke jalan, berusaha mengamati jalan untuk mencari penunjuk arah. Ia tidak tahu sebesar apa harapan untuk meloloskan diri, tapi hatinya terus berdoa semoga ada keajaiban yang bisa membuat Kent dan dirinya lolos.

Andrew melongokkan kepala di ruang komando COU, tempat Raymond sedang memantau operasi pengintaian terhadap Blueray. ”Sudah berapa lama Pusat kehilangan kontak dengan Kent dan Fay?”

”Setengah jam,” jawab Raymond singkat.

”Saya akan berangkat ke lokasi sekarang. Semua di posisi?” tanya Andrew lagi.

Raymond mengangguk. ”Semua di posisi. Unit ada di Posisi Dua.”

”Perintahkan semua tetap bersiaga hingga saya datang.”

Mobil Renault putih yang membawa Fay berhenti lima belas menit kemudian di sebuah jalan sempit. Sepanjang jalan, Fay berusaha menghafalkan petunjuk jalan tapi tidak ada nama jalan yang bisa ia tangkap. Area yang ia lewati berada di luar lingkaran perimeter yang ia hafalkan sebelumnya, apalagi sepertinya pengemudi sengaja berputar-putar, masuk dan keluar gang untuk mengecoh arah. Yang ia tahu pasti, mobil ini sudah menyeberangi terusan jalan besar Rue Grande yang membelah kota. Selanjutnya ia hanya ingat mobil melewati sebuah sekolah, tidak jauh dari tempat mereka berhenti sekarang ini.

Scott menyuruh Fay keluar dari mobil, kemudian masuk ke gedung melalui salah satu pintu.

Fay hanya sebentar sempat memperhatikan ruangan tempat ia berada, seperti toko yang masih belum jadi. Scott segera mendorong punggungnya, mengarahkannya ke belakang dan turun ke basement dari tangga yang ada di sana. Terlihat juga tangga ke bagian atas—Fay melihat sekilas, sepertinya ada dua tingkat lagi di atas.

Di basement, ada dua pintu yang berseberangan. Scott membuka pintu di sebelah kiri lalu mengambil tas selempang Fay tanpa permisi. Scott kemudian mendorong Fay masuk ruangan dan tanpa berkata-kata, menutup dan mengunci pintu.

Fay bergerak ke arah dinding, lalu duduk bersila di lantai ruang yang seperti gudang ini. Beberapa kaleng cat bergeletakan di lantai. Cahaya ruang hanya seadanya, diperoleh dari sebuah lampu kuning yang ada di langit-langit dengan daya pas-pasan.

Pikiran Fay mulai menerawang dengan gelisah. Bagaimana nasibnya kini? Apa yang terjadi pada Kent? Apakah Kent ada di ruang seberang?

Pikiran yang terakhir itu membuat Fay terlonjak dan ia langsung berdiri. Apa yang akan terjadi kalau ia menggedor pintu dan meneriakkan nama Kent? Tidak ada salahnya dicoba, pikirnya nekat.

Ia kemudian berdiri di depan pintu, dan setelah menarik napas dalam-dalam, tangannya mulai terangkat menggedor pintu. ”Pusat ke Fay. Do you copy?”

Fay terlompat kaget dan sambil lalu ia menjawab, ”Roger.” Tangannya bersiap menggedor kembali ketika terdengar suara Raymond, ”Suara jernih. Harap laporkan situasi.”

Fay merasa lututnya lemas saking leganya. Ia langsung melapor, ”Kami tertangkap oleh Blueray. Pria bertopi hijau yang sebelumnya kami lihat ternyata teman Scott dan dia membuntuti kami.”

”Di mana posisi kamu sekarang?”

”Saya tidak tahu persis, seperti di sebuah toko yang belum jadi, atau malah sudah ditinggalkan, sepertinya tiga lantai. Tapi saya tahu pasti posisinya tidak jauh dari sebuah sekolah, kalau tidak salah namanya Ecole Lagrosse.”

”Apakah Kent bersama kamu?”

”Tidak. Kami tadi dibawa dengan mobil terpisah. Saya dengan Renault putih dan Kent dengan sebuah mobil van biru.”

”Pelat nomor?” ”Tidak sempat lihat.”

”Roger. Tunggu instruksi lebih lanjut.”

”Baik... eh, roger that,” kata Fay gugup. Untung belum sempat gedor pintu, pikirnya sambil mendesah lega.

Kent mendengar suara langkah kaki yang mendekat, kemudian suara pintu terbuka dan menutup kembali dari ruangan di seberang tempatnya disekap sekarang. Ini sudah yang kedua kalinya ia dengar selama sepuluh menit ia ada di sini. Bisa jadi Fay ada di sana, atau ruang itu malah merupakan pusat komando para penyekapnya.

Kent mendekat ke pintu dan menempelkan telinganya di pintu, berharap ada petunjuk suara-suara lain, tapi nihil. Ia juga tidak menemukan celah yang bisa dipakai untuk mengintip ke luar—tidak ada lubang kunci karena pintu diamankan menggunakan gembok di sisi luar.

Akhirnya Kent kembali mengelilingi ruangan, berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata bila terpaksa. Ruangan 4 x 5 m ini tidak berjendela. Cahaya terang benderang diperoleh dari deretan lampu putih di langit-langit, dengan bola lampu yang terlindung di balik kawat besi. Seperti diperuntukkan bagi penyimpanan makanan, ruang ini dilengkapi dengan sebuah lemari yang mempunyai rak-rak besi di satu sisi yang memanjang, dan lemari penyimpanan anggur di sisi yang lebih sempit—keduanya kosong. Kedua lemari itu ditanam ke dinding dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Besi-besi penyangga rak juga tidak bisa dibuka tanpa alat bantu—tadi sudah ia coba. Setelah mengelilingi ruangan tanpa hasil, ia akhirnya berhenti dan bersandar ke dinding.

Tidak ada bedanya ada senjata di ruang ini atau tidak, pikirnya muram. Senjata yang dipegang para penyekapnya jauh lebih berharga—Fay-nya.

Terdengar suara dari ear tablet, dan tubuhnya langsung tegak. ”Pusat ke Kent. Do you copy?”

”Roger,” balas Kent.

”Suara jernih. Komunikasi sudah pulih seperti sediakala, tapi GPS belum. Ada informasi posisi?”

Kent mengembuskan napas lega dan langsung melapor, ”Negatif. Tertangkap oleh target di Rue Comairas, terpisah dari Fay. Dibawa ke lokasi lima belas menit dari posisi dengan van biru. Jarak tidak bisa diperkirakan karena van mengambil jalan berputar-putar.”

”Informasi tentang perimeter?”

”Negatif. Mata ditutup kantong hitam sepanjang perjalanan, baru dibuka kembali di tempat penyekapan, di sebuah basement. Ruang seluas 4 x 5, dari dalam tidak ada gagang pintu dan tidak ada lubang kunci. Di seberang pintu ruang ini ada pintu lain. Ruang ini tidak berjendela, tidak ada cahaya masuk dari luar sama sekali, cahaya ruang diperoleh dari lampu putih yang diamankan di langit-langit oleh kawat. Di ruang ini juga ada rak makanan dan rak anggur, tapi tidak ada yang bisa dipakai sebagai senjata.”

”Lemari bisa digeser?” ”Negatif.”

”Informasi tentang pihak lawan?”

”Sejauh ini ada empat orang. Scott, pria bertopi hijau yang kami lihat sebelumnya, pria berhidung bengkok dengan senjata SIG kaliber 9 mm, dan pengemudi van biru. Scott tadi bersama Fay sedangkan sisanya bersama saya. Sampai saat ini baru satu senjata yang terlihat, tapi bisa diasumsikan yang lain juga punya.”

”Roger. Tunggu instruksi lebih lanjut.” ”Sebentar... ada kabar tentang Fay?” ”Serahkan ke Pusat. Standby.”

Kent mengumpat dalam hati dan dengan galau ia duduk di lantai, menunggu.

Di markas COU, di hadapan Raymond sudah duduk James Priscott, sepupunya yang juga rekannya sesama Pilar COU, yang bertanggung jawab atas semua urusan teknologi. Di sebelah James duduk Elliot Phearson, keponakan mereka yang termuda. Elliot tampak gugup dan sejak tadi sibuk membetulkan posisi kacamatanya yang melorot ke hidung. Dengan usianya itu, Elliot memang punya jam terbang yang baru sedikit dan jarang sekali berhadapan dengan Pilar COU selain James, yang memang adalah pengawas utamanya kalau di rumah.

Raymond menjelaskan situasinya, ”Kita perlu mematikan listrik di satu area di Fontainebleau.” Raymond menunjuk posisinya di peta, kemudian bertanya kepada James, ”Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?”

James menoleh ke Elliot. ”Bagaimana? Apakah kamu bisa? Atau kamu perlu bantuan?”

Elliot tampak sedikit tersinggung dan dia menjawab, ”Saya bisa! Hanya perlu waktu sepuluh detik!”

”Jangan sesumbar!” tegur James. ”Sepuluh detik itu dihitung dari sejak kamu tahu titik kontrol yang mengatur listrik daerah itu. Itu sudah semudah main video game! Yang sulit adalah menemukan letaknya setelah kamu masuk ke komputer kontrol dinas kelistrikan kota Fontainbleau.”

Elliot tampak agak malu dan menjawab pelan, ”Sepuluh menit?”

James menjawab, ”Tujuh menit. Anggap ini ujian buat kamu. Kalau gagal, jangan harap kamu bisa menyentuh komputer satu minggu ke depan!”

Elliot tampak panik, dan akhirnya mengangguk.

Raymond berkata, ”Laporkan ke saya bila posisi sudah ditemukan. Tunggu instruksi saya untuk eksekusinya.”

James keluar ruangan diikuti Elliot yang bersedekap sambil mengelus-elus lengannya sendiri seperti kedinginan.

Kent tersentak ketika pintu terbuka.

Fay!

Fay didorong masuk ke ruangan dengan kasar oleh si hidung bengkok.

Kent langsung berdiri dengan tangan terjulur siap menangkap Fay yang oleng karena kehilangan keseimbangan. Berhasil menahan Fay sehingga tidak tersungkur di lantai, Kent langsung memeluk gadis itu yang langsung meringkuk dalam rangkulannya. Kelegaan langsung menyapu kerisauan Kent ketika melihat Fay tidak kurang suatu apa pun. Namun perasaan itu tidak berlangsung lama. Si hidung bengkok masuk, diikuti Scott dan si topi hijau.

Scott tertawa mengejek. ”Wah, jahat sekali kita memisahkan dua kekasih di ruang yang berseberangan.” Kalimatnya langsung disambut seringai si hidung bengkok, sedangkan ekspresi si topi hijau tetap datar.

”Sekarang, pertanyaan sederhana untuk... Nona Fe.”

Refleks, Kent menarik Fay hingga terlindungi di balik punggungnya.

Si hidung bengkok maju sambil menodongkan senjata ke arah Kent, sementara Scott berkata dengan wajah mengejek, ”Jangan bodoh! Begitu peluru ini menghancurkan kamu, peluru berikutnya pasti akan diarahkan ke gadismu, dan saya bisa menyarankan beberapa tempat yang menyakitkan supaya kematiannya tidak mudah.”

Kent mengatupkan rahangnya dengan keras. Hatinya teriris ketika merasakan tubuh Fay yang menempel ke punggungnya gemetar. Tidak ada hal yang bisa membuat seseorang begitu tak berdaya selain menyaksikan tangan-tangan nasib mempermainkan orang yang disayangi tanpa bisa berbuat apa pun.

Si hidung bengkok menarik tangan Fay dan menyeretnya ke samping Scott.

Scott menjambak rambut Fay dan bertanya, ”Nona Fe, bisa kamu katakan siapa kalian dan kenapa kalian membuntuti saya tadi?”

Fay mendengar suara Raymond di telinganya, ”Fay, karang cerita.”

Fay menjawab dengan suara bergetar, ”Seperti yang dibilang pacar saya tadi, kami tidak mau repot-repot membaca peta jadi kami memilih mengikuti Anda yang sepertinya sudah familier dengan lingkungan ini... Anda kan bilang sendiri Anda pernah ke sini.”

Scott memberi tanda ke si topi hijau dengan kepalanya. Si topi hijau langsung mendekati Kent dan melayangkan satu pukulan ke ulu hati. Kent jatuh ke lantai dan si topi hijau menendang Kent.

Kent mengerang dan melihat semua mulai berputar. Sayupsayup terdengar teriakan Fay di kejauhan dan suara Raymond di telinganya, ”Bagus, Fay, gunakan terus cerita itu. Jangan terpengaruh. Kent, bertahan.”

Kent berusaha bangkit dengan susah-payah, dan terbantu dengan sentakan di lengan kanan dan kirinya yang ditarik oleh si topi hijau dan si hidung bengkok.

”Sekali lagi,” ucap Scott. ”Jangan...,” isak Fay mengiba.

”Baik, jadi kamu sudah siap untuk mengubah cerita kamu?” tanya Scott.

Fay menggeleng. ”Saya kan sudah bilang...”

Kent kembali mengerang ketika satu pukulan kembali terasa di ulu hatinya. Terdengar kembali teriakan Fay yang mengiba meminta para pemukulnya berhenti.

Scott berkata, ”Mari kita balik situasinya.”

Tanpa berkata-kata, si topi hijau keluar ruangan dan kembali membawa satu kursi. Setelah itu ia mendorong Fay ke kursi dengan kasar, lalu membawa kedua tangan Fay ke belakang dan mengikatnya dengan lakban, menyentak lengan Fay berkali-kali ketika melakukannya hingga Fay berkali-kali mengaduh. Kedua kaki Fay juga disatukan dengan lakban dan si topi hijau terlihat seperti sengaja menendang kaki Fay.

Fay kembali mengaduh.

Kent merasa amarah menguasainya dan tanpa pikir panjang ia pun maju untuk menyerang si topi hijau.

Gerakannya disambut dengan gegap gempita oleh si topi hijau, yang langsung menerjang balik hingga Kent terpelanting ke belakang menghantam lantai, dengan si topi hijau menindihnya. Kent megap-megap ketika lengan si topi hijau menekan lehernya sehingga jalur napasnya terblokir. Tekanan itu terasa semakin kuat ketika tangan kiri si topi hijau sengaja diposisikan di pergelangan tangan kanannya sehingga bisa menekan leher Kent lebih keras. Tanpa kesulitan Kent mendorong si topi hijau dari atas tubuh-

nya.

Berhasil!

Kent melihat bedebah ini terduduk di lantai sejenak dengan lutut tertekuk ke atas sebelum akhirnya bangkit dan kembali memasang kuda-kuda.

Terdengar suara Raymond yang tipis di telinganya, ”Tindakan yang ceroboh, Kent!”

Berikutnya, Kent dikejutkan bunyi pukulan disusul teriakan Fay.

Scott menarik kepala Fay hingga menengadah dengan sepucuk senjata ditekan di dagu gadis itu. Bersamaan dengan itu, si hidung bengkok mengacungkan senjata ke arah Kent, lalu memaksanya berlutut menghadap kursi tempat Fay duduk terikat dengan wajah ketakutan yang memilukan hati.

”Kita coba sekali lagi,” ucap Scott tajam. ”Siapa kalian dan kenapa kalian membuntuti saya?”

Terdengar suara Raymond, ”Kent, jangan dijawab. Fay, bertahanlah.”

Kent menunduk. Tangannya sudah terkepal di sisi badan, menahan amarah dan rasa putus asa yang sedemikan memenuhi rongga batinnya.

Terdengar suara plak keras dari pukulan yang dilayangkan si topi hijau dan Fay berteriak kesakitan.

”Kent, jangan bereaksi.”

Scott berkata, ”Mari kita buat atraksi menarik...” Dia mengangkat tangan ke kedua temannya, memberi kode, lalu menatap Kent. ”Kita lihat seberapa besar nyali kamu melihat pertunjukan di depan.”

Kent melihat si topi hijau mengeluarkan seutas tali lalu berjalan ke belakang Fay dan saat itu juga ia merasakan rasa takut perlahan merasuki dadanya. Dengan dada serasa diinjak-injak ia melihat si topi hijau melingkarkan tali ke leher Fay lalu menarik kedua ujungnya. Fay langsung megap-megap mencari udara.

”JANGAN!” teriak Kent. ”Dia tidak bisa bernapas!” Kent bergerak maju, tapi ditahan tangan si hidung bengkok yang mencengkeram bahunya dan senjata yang ditekan lebih keras ke pelipisnya.

”Easy, Kent.... Saya sudah bilang, jangan bereaksi!”

Kent menatap Fay yang megap-megap kehabisan udara dengan perasaan remuk redam, dihancurkan ketidakberdayaan yang menyakitkan. Setelah detik demi detik yang tidak pernah berakhir, si topi hijau melonggarkan tarikan talinya. Fay langsung tersengalsengal, berusaha memanjakan paru-parunya dengan menarik udara sebanyak-banyaknya.

Kent kembali menunduk. Badannya bergetar menahan amarah.

Terdengar kembali suara pukulan dan teriakan Fay.

”Pusat ke Kent. Lingkaran perimeter lokasi kalian sudah diketahui walaupun koordinat tepatnya belum. Elliot sudah menyusup ke komputer kontrol dan akan mematikan listrik di area perimeter. Dari deskripsi kamu tadi, ruangan akan menjadi gelap total dan kamu bisa mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Kamu punya sepuluh detik sebelum listrik kembali menyala.”

Kent terdiam sesaat. Raymond tadi memanggil namanya secara

khusus, berarti ada kemungkinan Fay tidak mendengar instruksi ini... apa artinya?

”Fay...?” tanya Kent pelan, diucapkan seperti memanggil Fay. Scott sempat menoleh sesaat, tapi kembali memperhatikan Fay.

”Tidak ada back-up. Tinggalkan Fay!”

Kent merasa ruang berputar dan dirinya kehilangan pijakan. Dengan nanar ia melihat Scott mengeluarkan pisau dan mendekati Fay. Ia melihat Fay-nya berusaha tegar walaupun ia tahu sebenarnya gadis itu begitu ketakutan. Scott kembali berbicara, ”Nona, kamu lihat betapa tajamnya pisau ini? Saking tajamnya, saya jamin tidak akan terasa kalau benda ini menggores kulit.... Baru beberapa detik kemudian, saat darah mulai menetes, rasa sakit akan datang.”

”Tidak...,” ucap Kent pelan. Scott menoleh kembali sambil menyeringai, menganggap bahwa ucapan barusan ditujukan kepadanya.

Suara Raymond kembali menyentak di telinga, ”Kent, ini perintah Pusat! Insubordinasi tidak bisa diterima! Elliot perlu waktu sepuluh detik untuk melakukannya dan ini satu-satunya kesempatan yang kamu punya.”

Gila! Tidak mungkin ia meninggalkan Fay begitu saja! ”Hitung mundur mulai dari... sekarang! Sepuluh...”

Kent menggeleng dengan dada yang rasanya sudah sangat sesak, serasa sudah akan pecah.

”Sembilan... delapan...”

”Jawab pertanyaan saya! Siapa kalian?” terdengar suara Scott. ”...tujuh... enam...”

Si topi hijau melingkarkan tali kembali ke leher Fay, menariknya ke belakang hingga kepala Fay mendongak, memampangkan leher yang terbuka. Scott mendekatkan pisau ke leher Fay, dan terdengar suara rintihan bercampur isakan dari gadis yang disayanginya itu.

”...lima... empat...”

Ruangan kini serasa berputar membentuk pusaran yang menariknya ke dalam sebuah relung kosong.

”...tiga...”

Di sela-sela pusaran yang membungkusnya, Kent melihat Fay menatapnya dengan sorot mata ketakutan yang begitu memilukan, bagaikan sebuah permohonan terakhir di atas sebuah keputusasaan.

”...dua...”

Sebuah kesadaran perlahan menghampiri. Déjà vu! ”...satu...”

”SEKARANG!” suara Raymond terdengar begitu mendesak di telinganya.

Lampu mendadak mati dan ruangan kini diselimuti kegelapan nan pekat.

Dalam gelap, Kent meraih tangan si hidung bengkok yang masih menodongkan senjata, memelintirnya sehingga terdengar bunyi ”krak” dan bunyi senjata yang jatuh ke tanah, disusul suara teriakan kesakitan. Kent langsung berlari menuju pintu. Terdengar suara teriakan Scott yang mengeluarkan sumpah serapah.

Begitu berada di luar, Kent segera naik dan berlari keluar, menuju limpahan sinar matahari yang menerangi penglihatannya, tapi tidak hatinya. Tanpa menoleh sedikit pun ia segera lari menuju jalan terdekat yang cukup ramai, kemudian menemukan jalannya kembali ke Posisi Dua sesuai instruksi.

Fay tersentak ketika lampu mati. Seketika ia merasakan tali di lehernya melonggar dan ia bernapas lega sejenak dalam gelap. Dengan perasaan cemas ia mendengarkan derap langkah kaki susul-menyusul, diiringi teriakan di sana-sini.

Apa yang terjadi?

Lampu mendadak menyala kembali dan saat itu juga Fay tahu perasaannya yang sudah rapuh langsung pecah berantakan, ketika melihat hanya ada Scott di ruang ini selain dirinya.

Setetes air mata menitik dari sudut mata Fay. Bagaimana mungkin Kent tega meninggalkannya sendirian menghadapi pria tak kenal belas kasihan ini? Setelah semua yang mereka bicarakan tadi malam, setelah Kent kembali meyakinkan hatinya bahwa perasaan yang dia miliki nyata walaupun mereka tidak bisa bersama, Kent lagi-lagi pergi meninggalkannya begitu saja!

Mungkinkah Kent pergi untuk meminta bantuan? Pikiran itu berhasil menenangkan hati Fay sesaat, hingga terdengar kembali suara Scott.

”Rupanya teman kamu merasa tidak terlalu penting untuk mengajak kamu pergi bersamanya.”

Setitik air mata kembali menetes ke pipi Fay. Ia terdiam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa hatinya yang kembali pecah berantakan. Apa artinya perkataan Kent tentang perasaannya yang tidak akan pernah pupus? Apa makna kata sakral tentang cinta yang keluar dari mulut Kent tadi malam? Apa maksud Kent ketika meminta dirinya percaya bahwa apa yang dilakukan oleh Kent adalah hal yang terbaik?

Scott mendekati Fay dan membuka ikatan di tangan dan kaki gadis itu kemudian memaksa Fay berdiri. Scott lalu kembali mengikat kedua tangan Fay ke belakang dengan lakban dan menutup mulut Fay, juga dengan lakban.

”Pusat ke Fay, do you copy?”

Fay mencoba mengeluarkan suara dari mulutnya, berharap Raymond bisa mendapat petunjuk mulutnya ditutup, tapi suara paling keras yang bisa dikeluarkan mulutnya hanya terdengar seperti gumaman.

”Pusat ke Fay, do you copy?”

Percuma. Air mata frustrasi mulai keluar dan Fay mencoba menahannya dengan menarik napas panjang. Dengan langkah setengah terseret Fay mengikuti Scott yang menarik lengannya dan berjalan dengan cepat menaiki tangga, menuju pintu keluar, mengarah ke satu mobil warna hitam yang diparkir di pinggir jalan, tidak jauh di belakang Renault putih. Scott membuka bagasi dan mendorongnya masuk. Begitu pintu bagasi ditutup, keadaan langsung gelap total dan udara terasa sangat pengap.

Ke mana Scott akan membawanya? Bagaimana ia bisa memberitahu Raymond bahwa sekarang Scott membawanya pergi dari lokasi? Bisakah ia memercayai langkah yang diambil Kent? Kalau Kent pergi untuk meminta pertolongan, kenapa bantuan itu sekarang belum datang untuk melepaskannya dari ketakutan?

Mobil bergerak.

Dalam gelap Fay berusaha mengusir semua ketakutannya dengan menutup mata dan mencoba berkonsentrasi untuk menghirup udara yang terasa sangat berat untuk ditarik. Ia membiarkan pikirannya berusaha berdoa, sementara hatinya sudah menangis.

”Unit ke Pusat. Fay tidak ada di lokasi,” lapor Andrew di headsetnya. Ia dan Russel sekarang berada di rumah tempat sebelumnya Fay dan Kent berada. Ia memberi tanda pada Russel untuk keluar, kembali ke Unit yang diparkir tidak jauh di mulut gang.

Russel membuka komputer kemudian membuka foto jalan yang diambil tidak lama sebelumnya. ”Gambar ini diambil pada saat Unit menyisir lokasi beberapa saat yang lalu. Peugeot hitam yang diparkir di pinggir jalan kini sudah tidak ada. Nomor pelat terbaca dengan jelas.”

Andrew mengangguk. ”Raymond, do you copy?” ”Roger. Saya akan kerahkan unit pencarian.”

Andrew kembali berkata di headset-nya, ”Make it fast, Ray!”

Fay mengerjapkan mata ketika pintu bagasi dibuka; udara yang segar langsung membanjiri paru-parunya. Sekilas terlihat ada tangan terjulur dan dengan kasar ia ditarik keluar. Ia sekarang berada di ujung gang buntu yang diapit gedung bertingkat tiga. Bukan pemandangan yang istimewa. Langit di atasnya sudah memasuki senja—ia tidak tahu persis sudah berapa lama ia berada di dalam bagasi, yang jelas sudah lama sekali rasanya mobil berhenti. Scott menarik lengan Fay, membawanya masuk ke gedung lewat satu pintu yang posisinya persis di sisi mobil. Lewat tangga sempit yang persis berada di balik pintu, dia membawa Fay masuk ke satu ruangan di lantai dua yang tampak seperti apartemen studio. 

Scott mengambil satu-satunya kursi dari sebuah meja makan kecil di tepi dapur yang juga mungil, kemudian mendorong Fay dengan kasar hingga duduk. Dia kembali mengeluarkan lakban dan tanpa repot-repot membuka ikatan tangan Fay terlebih dulu, dia langsung saja melingkarkan lakban ke tubuh Fay hingga terikat ke sandaran kursi.

”Aww...!” Fay mengaduh ketika lakban yang menutup mulutnya tiba-tiba dicabut oleh Scott.

”Pusat ke Fay. We copy that. Usahakan mendeskripsikan posisi.”

Dengan dada seperti digedor dari dalam, Fay melihat Scott yang berjalan pelan di dalam ruangan, kemudian mengitarinya perlahan.

Fay berkata pelan, ”Kenapa saya dibawa ke sini? Di mana ini?”

Satu sengatan terasa di pipi kanan Fay, begitu keras, hingga sejenak ia merasa dirinya dibaluti kegelapan. Begitu terang perlahan-lahan kembali menyapa, pipinya terasa sangat panas dan telinganya berdenging.

”Bukan kamu yang dalam posisi bertanya!” hardik Scott yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Fay.

Fay merasa sangat mual karena rasa takut yang mengaduk-aduk perut.

”Fay, coba bertahan tanpa menimbulkan kemarahan Scott. Kami sedang berusaha mencari posisi kamu lewat kekuatan sinyal mikrofon. Usahakan supaya ada yang terus bicara di ruangan itu supaya pelacakan lebih mudah.”

Fay menelan ludah. Ia tidak berusaha melawan ketika ketakutan menguasainya dengan cepat dan ia pun memohon dengan sangat memelas, ”Tolong lepaskan saya.” Suaranya terdengar seperti terpantul-pantul di telinga kanannya yang masih berdenging.

”Bagus, Fay.”

Scott melengos. ”Kamu belum menjawab pertanyaan saya. Mudah sekali sebenarnya... Kita mulai dengan identitas kamu. Kamu siapa?”

Fay kembali menelan ludah dan ia pun berkata, ”Saya tadi bohong...”

Scott menegakkan tubuh dan berkata, ”Lanjutkan!”

”Nama saya memang Ferina, tapi saya bukan mahasiswi di Universitas Birmingham...”

”Bagus, Fay.”

”...saya hanyalah turis yang sedang berkunjung ke Paris hingga bertemu dengan pemuda yang bernama Ken itu—Anda tahu kan... pacar saya. Dia meminta saya untuk menjadi pacarnya dan menemani dia ikut tur ”

”Bohong!” hardik Scott. ”Kalau kejadiannya seperti itu, tidak mungkin sikap kamu ke dia seperti yang kamu tunjukkan!”

”Dia yang menyuruh saya seperti itu,” ucap Fay sambil terisak. ”Dia bilang itu seperti permainan, supaya perjalanan kami lebih seru. Dia bahkan membelikan saya semua pakaian dan barangbarang ini.”

”Bagus, Fay, lanjutkan. Kamu atau dia harus tetap bicara. Sinyal di Unit semakin jelas.”

”Ceritakan tentang pacar kamu itu. Apa yang kamu ketahui tentang dia?”

”Tidak banyak yang saya ketahui. Dia bilang dia mahasiswa di University of Birmingham dan saya percaya saja.”

”Kenapa dia membuntuti saya?” ”Saya tidak tahu. ”

Plak! Tangan Scott kembali melayang, kali ini menghantam pipi kiri Fay.

Fay tersentak ketika mendengar suara gemeresik dari ear tablet di telinganya diikuti dengan sesuatu yang terasa bergerak dalam telinga. Gawat! pikir Fay panik, hingga ia bahkan tidak sempat terlalu memikirkan rasa sakit di pipinya.

Scott mengerutkan kening kemudian mengulurkan tangannya untuk mencengkeram rambut Fay. Tangan Scott memaksa kepala Fay berputar sedikit, kemudian memiringkannya hingga telinga kiri Fay menghadap ke bawah.

Fay menahan napas ketika terasa sesuatu tergelincir dari telinganya dan jatuh ke lantai.

Scott membungkukkan badan, dan ketika berdiri kembali, wajahnya terbelalak menatap benda berwarna cokelat seukuran tablet yang ada di telapak tangannya. Ekspresi itu segera berubah menjadi suatu bentuk kemarahan yang tidak terkendali.

Scott melempar ear tablet itu ke dinding dengan murka. Tatapannya langsung menghunjam Fay. ”Siapa kamu sebenarnya?” tanya Scott dengan suara seperti menggeram dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh.

Fay menggeleng panik, tidak mampu bersuara sedikit pun. Sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi nasib dirinya seperti sudah tertera dengan jelas di wajah Scott.

Scott mengulurkan tangan ke leher Fay dan langsung menarik kalung Fay dengan kasar.

Fay mengaduh ketika kalung itu lepas, meninggalkan rasa panas dan pedih di tengkuk dan kedua sisi lehernya.

Scott membanting kalung ke lantai dan menginjaknya, kemudian tanpa berkata-kata mengeluarkan pisau lipat dari kantong celananya. Ia menempelkan pisau ke leher Fay, tepat di bawah dagu, dan menekannya dengan keras.

Fay merintih. Ia tahu pisau itu lagi-lagi sudah menggores lehernya. ”Saya tidak suka dibohongi,” ucap Scott dengan mata merah menyala penuh kobar kemarahan.

Tiba-tiba saja Fay tahu akhir sudah begitu dekat. Sorot mata pria di depannya ini tidak sekadar berusaha membuatnya takut, tapi juga menebarkan pesona sang maut yang sudah siap menjemput. Fay merasa dirinya begitu takut hingga ia merasa seperti berada di ambang batas kesadaran—semua yang terjadi bagaikan mimpi buruk yang sedang menggantung, menunggu diakhiri. Telinga Fay kembali terasa berdenging dan wajah Scott terlihat semakin jauh dan mengabur.

Detik berikutnya, kesadaran Fay mendadak pulih seperti sediakala, bersamaan dengan bunyi keras daun pintu yang mendadak terbuka.

Scott melepas tekanan ke pisau Fay dan menoleh ke pintu, lalu tertegun.

Andrew ada di pintu, mengacungkan senjata ke arah Scott. Scott mengerutkan kening dan berusaha bicara, ”Apa yang ter-

jadi. ”

Terdengar suara letusan senjata berperedam.

Fay memekik ketika tubuh Scott jatuh menimpanya, kemudian perlahan-lahan roboh ke lantai.

Andrew mendekat, masih mengacungkan senjatanya ke arah Scott, lalu menunduk dan memegang leher Scott. Andrew berbicara di headset-nya, ”Unit ke Pusat. Misi tercapai. Kirim tim pembersih.”

Dengan tubuh masih gemetar, Fay menatap tubuh tak bernyawa yang kini tergeletak dekat kakinya hingga sebuah suara dari arah pintu menyadarkannya.

”Fay, are you okay?” Kent!

Fay mengangguk lega, membiarkan Kent membuka lakban yang mengikat tubuhnya, membiarkan rasa sejuk sebuah kepercayaan kembali mengisi hatinya.  

Fay duduk di dalam Unit, tepat di sebelah Andrew. Kent sudah pergi dengan mobil terpisah. Komando operasi di Unit sudah kembali ke tangan Russel yang kini duduk di depan panel, masih memakai headset untuk berkomunikasi dengan Raymond.

Mobil berjalan dengan kecepatan stabil dan Fay membiarkan pikirannya menerawang dengan kosong, meresapi pertemuan singkatnya dengan sang maut yang berwujud seorang Scott Preston.

Suara Andrew memecah keheningan, ”Bagaimana keadaan kamu?”

Fay menghela napas dan menjawab, ”Lumayan.” Ia menatap Andrew sejenak, membiarkan dirinya menyelami sepasang mata biru yang begitu dalam dan menenangkan. Sepasang mata biru yang menjadi dalang penculikannya, tapi sepasang mata biru yang juga sudah berkali-kali datang di saat yang tepat untuk menolongnya. Tidak hanya membantunya saat harus menghadapi Philippe, tapi juga menyelamatkan hidupnya dari tangan-tangan maut yang siap merenggut nyawanya—milik Alfred Whitman dan Scott Preston.

Andrew meraih kotak obat dan mengeluarkan sebuah plester. ”Tidak terlalu lebar,” ucapnya sambil mengamati luka di leher Fay dengan saksama, lalu menempelkan plester. ”There you go,” ucap Andrew lagi sambil tersenyum menenangkan.

Fay mencoba membalas senyum Andrew dan akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal yang mengganggunya. ”Saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi... Apakah chip berhasil diperoleh?”

”Tidak,” jawab Andrew singkat.

”Kenapa Scott Person ditembak?” tanya Fay lagi tanpa berpikir.

Ia langsung menyesal ketika Andrew menatapnya tajam.

”Ada pertimbangan tertentu di balik setiap pengambilan keputusan dan tidak semuanya perlu diketahui oleh agen-agen yang terlibat.”

Fay terdiam sebentar, lalu kembali bertanya, ”Bagaimana dengan kejadian saat lampu mati?”

”Raymond ingin memecah kekuatan lawan dan mendapat informasi posisi kalian, jadi dia mematikan listrik di area perimeter dan memerintahkan Kent untuk melarikan diri saat lampu mati. Begitu Kent melaporkan posisinya, unit pendukung langsung bergerak untuk membantu Kent melumpuhkan dua pengejarnya. Satu unit lain, dipimpin oleh saya, datang ke lokasi penyekapan kalian, namun kamu sudah tidak ada. Kami punya informasi tentang kendaraan Scott dan tempat-tempat yang pernah didatangi oleh Scott sebelum kunjungan kali ini, jadi Unit mencoba menyusuri lokasi-lokasi itu sambil memantau kekuatan sinyal yang diterima dari mikrofon yang kamu pakai.”

”Kenapa saya tidak diberitahu tentang rencana tersebut?” protes Fay.

”Pusat tidak pernah punya kewajiban untuk menjelaskan apa pun. Perencanaan tindakan adalah wewenang Pusat, sedangkan agen lapangan adalah pelaku. Apa pun alasannya, perintah dari Pusat dihasilkan dari pertimbangan yang matang dengan dukungan berbagai informasi, dan harus dilaksanakan tanpa keraguan, tanpa mempertanyakan latar belakang atau tujuannya.”

”Apakah Kent mengetahui rencana itu?” tanya Fay pelan. ”Tidak. Kent hanya diberi instruksi untuk melarikan diri ketika

lampu mati dan perintah itu harus dia laksanakan, apa pun risikonya. Pembangkangan akan dikategorikan sebagai insubordinasi dan hukumannya tidak ringan. Tidak ada pengecualian!” jawab Andrew tajam.

Fay terdiam. Jadi Kent tadi memang meninggalkannya begitu saja....

Keping-keping pertanyaan yang sebelumnya terserak kini mulai tersusun dalam benak Fay. Ia tidak punya keraguan bahwa Kent mengutarakan isi hati yang sebenarnya tadi malam, tapi ia kini mengerti kenapa Kent menyebutkan tentang kebersamaan yang tidak boleh ada. Bagi Kent, seorang Fay Regina Wiranata tetaplah bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menempati urutan pertama dalam hidupnya; bukan karena perasaan Kent mengatakan demikian, tapi karena keadaan memang tidak mengizinkan hal itu terjadi.

Fay memalingkan muka ketika merasa butir-butir air mata mulai keluar dari sudut matanya. Ia lalu menyeka air matanya tanpa kentara dengan berpura-pura menutup mukanya sebentar untuk kemudian menyapukan kedua tangannya ke kepala. Ia kini tahu, Kent akan selalu ada dalam hatinya, namun dalam episode yang sudah tertutup rapat—ia sudah tidak punya keberanian untuk berpikir sebaliknya.

Fay menyandarkan kepala ke dinding mobil dan setelah menerawang dengan kehampaan dalam hati, tak lama kemudian jatuh tertidur.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊