menu

From Paris To Eternity Bab 10: Pre-Job

Mode Malam
Pre-Job

FAY baru saja selesai sarapan ketika Andrew memanggilnya ke ruang kerja. Ternyata Raymond dan Kent sudah ada di dalam, dan tanpa basa­basi Raymond langsung memulai pengarahan.

”Untuk operasi ini, saya ada di posisi Pusat, pemegang garis komando tertinggi, dan akan memonitor operasi ini dari kantor. Berikutnya di garis komando ada Russel, yang akan memonitor operasi dari Unit di lapangan.

”Tiga titik akan menjadi posisi Unit. Dua merupakan pick-up point atau titik penjemputan dan yang satu adalah titik peman­ tauan.

”Titik penjemputan ada di Place Damesme sebagai Posisi Satu, dan di Rue du Chateau sebagai Posisi Dua.”

Raymond menekan tombol keyboard laptop dan di layar tam­ pak peta kota Fontainebleau. Ia lalu menunjukkan lokasi yang disebutkan di peta. ”Kalian harus hafal lokasi keduanya di luar kepala karena dalam protokol komunikasi di lapangan, detail informasi titik penjemputan tidak boleh disebutkan. Bila tidak ada instruksi tambahan, jika Pusat atau Unit menyebut ’titik pen­ jemputan’, itu artinya Posisi Satu, atau Place Damesme. Hal yang sama juga berlaku bila kalian menghadapi situasi genting.

”Titik pemantauan ada di area parkir di ujung Rue Chancellerie, sebagai Posisi Tiga. Di tempat inilah Unit akan ber­ siaga dan memantau situasi selama kalian berada dalam château Fontainebleau,” lanjut Raymond sambil menunjukkan posisinya di peta.

Fay mengamati peta dan mengingat­ingat posisi ketiganya. Raymond bertanya, ”Ada pertanyaan?”

Fay menggeleng.

”Sekarang, saya minta kamu berdiri,” perintah Raymond.

Fay mengangkat alis sesaat sambil melirik Andrew yang ekspre­ sinya tidak berubah, lalu melakukan perintah Raymond. Jantung­ nya sedikit demi sedikit mulai mempercepat detak, tapi melihat ekspresi Raymond yang tetap santai, ia tidak sepanik biasanya.

Raymond melirik Andrew sekilas, ”Saya harap kamu tidak ke­ beratan.”

Andrew tersenyum sopan. ”Tentu saja tidak. Silakan.”

Raymond tepat berdiri di hadapan Fay lalu bertanya, ”Kalau kamu ada di Rue des Sablons, mana rute tercepat untuk sampai ke titik penjemputan? Sebutkan nama jalan dan arahnya.”

Fay melongo. Mati gue! Susah­payah ia menggali otaknya, berusaha melihat sisa­sisa peta yang tertempel di sela­sela ba­ yangan Kent, Reno, Enrique, Philippe, bahkan ingatan nggak penting tentang Lucas.

Tebak, Fay, tebak! pikir Fay panik. Ia berdeham. ”Mm... dari Rue des Sablons ke arah timur laut hingga ujung... lalu belok kiri sampai ujung, dan belok kanan... jalan terus sampai persimpangan Place Damesme.”

Raymond menggeleng. ”Salah.”

Fay melirik Andrew yang bersedekap sambil menatapnya de­ ngan wajah prihatin dan ia langsung merasa perutnya melintir, lebih karena malu daripada takut. Siapa juga yang bisa hafal sam­ pai detail begitu! pikirnya kemudian sambil bersungut­sungut dalam hati.

”Kent, berdiri dan jawab pertanyaan saya!”

Kent berdiri. ”Dari Rue des Sablons ambil jalan yang mengarah ke timur laut hingga bertemu dengan perempatan besar. Jalan yang melintang adalah salah satu jalan utama, Rue de la Paroisse, sedangkan jalan yang lurus adalah Rue des Pins. Seberangi Rue de la Paroisse untuk masuk ke Rue des Pins dan jalan terus hingga ujung sebuah pertigaan tempat jalan berakhir. Jalan yang me­ lintang adalah Rue de la Croche. Ambil arah ke kiri atau barat laut hingga sampai di perempatan. Jalan yang melintang adalah Rue Beranger, ambil arah ke kanan. Begitu tiba di perempatan, seberangi Rue des Bois, jalan terus hingga jalan berakhir. Ambil arah ke kiri atau Barat, Rue Sergent Perrier. Bundaran pertama adalah Place Damasme. Area parkir ada di sebelah kiri.”

Raymond mengangguk dan Kent kembali duduk.

”Fay, saya ingin kamu menghafalnya hingga seperti itu. Tidak hanya dari posisi Rue des Sablons tapi juga dari jalan­jalan lain di sekitar perimeter, ke kedua titik penjemputan,” ujar Raymond.

Fay mengangguk dan langsung mengembuskan napas lega begitu Raymond memberi kode untuk duduk.

”Pukul dua siang kalian akan pergi ke sebuah rumah kosong yang menjadi titik pemberangkatan. Di sana Russel akan memerik­ sa dan melengkapi barang­barang yang kalian bawa, kemudian memberi pengarahan singkat. Saya juga bisa pastikan dia akan memberi tes seperti yang saya berikan tadi. Jadi, Fay, kamu masih punya waktu beberapa jam untuk mempelajari peta ini lagi.”

Raymond melanjutkan, ”Dari titik pemberangkatan, kalian berangkat menuju hotel menggunakan taksi. Setelah check-in di hotel dan masuk kamar, mendaftarlah untuk ikut tur Fontainebleu di resepsionis hotel. Keesokan paginya, turun ke ruang makan untuk sarapan dalam kondisi siap untuk berangkat ikut tur.” Kent bertanya, ”Apa kami perlu melakukan intervensi...?” Kent menatap Fay yang tampak bingung dan menambahkan, ”...Mem­ buat kontak dengan target untuk mengenal target lebih dekat?”

Raymond menjawab, ”Tidak dilarang, tapi tidak usah diusaha­ kan secara khusus. Biarkan saja semua berjalan secara alami—ka­ lau memang kondisinya mengharuskan kalian untuk berbasa­basi atau bercakap­cakap, lakukan saja. Tapi jangan sampai hal itu malah menggagalkan operasi.

”Beberapa peralatan komunikasi akan diberikan sebagai perleng­ kapan operasi. Untuk komunikasi dua arah, masing­masing akan dilengkapi dengan telepon genggam. Kalian juga akan diberikan satu iPod yang sudah dimodifikasi, bisa dipakai bergantian kalau perlu. Untuk komunikasi satu arah dari pusat, kalian berdua akan dipasangi ear tablet.”

Fay bertanya, ”Apa itu ear tablet?”

”Sebuah benda seukuran tablet yang sangat kecil, yang di­ pasang agak dalam di telinga,” jawab Raymond.

”Bagaimana dengan komunikasi ke pusat?” tanya Kent. ”Gunakan arloji kamu. Fay akan diberi kalung yang bandulnya

berfungsi sebagai mikrofon.”

Raymond melanjutkan, ”Karena kalian akan berada sangat de­ kat dengan target, pertimbangkan masak­masak sebelum kalian menggunakan alat komunikasi yang tersedia. Saat tiba di tempat tujuan dan melakukan acara bebas, kalian mungkin bisa meng­ gunakan telepon genggam kalau perlu. Tapi kalau kalian sedang berada dalam kendaraan, saya tidak menganjurkan kalian meng­ gunakan iPod atau telepon genggam.”

Fay bertanya, ”Kenapa tidak boleh mendengarkan iPod kalau sedang dalam kendaraan? Bukankah itu hal yang wajar?”

Raymond menjawab, ”Tergantung apakah pemandu kalian ber­ bicara sepanjang jalan atau tidak. Lagi pula, bukan pemandangan yang wajar bila sepasang kekasih kelewat asyik mendengarkan musik di waktu senggang, terlebih di tempat seromantis Paris dan Fontainebleau.”

Apa? Fay merasa sejenak darahnya berhenti mengaliri wajah. ”A... apa?” terdengar suara Kent yang terperanjat di sebelah­

nya.

Raymond menoleh kepada Andrew dan bertanya, ”Kamu be­ lum bilang apa peran mereka?”

”Belum,” jawab Andrew singkat.

Raymond kembali menatap Fay dan Kent, lalu menjelaskan, ”Kalian berperan sebagai sepasang kekasih, mahasiswa tahun per­ tama University of Birmingham, England, yang sedang berlibur ke Paris.”

Fay membalas tatapan Raymond dengan jalur napas yang se­ akan tertutup rapat, membuat mulutnya membuka dan menutup bagai kucing tenggelam yang megap­megap mencari udara segar— setelah beberapa detik, barulah ia berhasil mengatupkan mulutnya rapat­rapat. Tidak terdengar suara apa pun dari Kent dan Fay sama sekali tidak punya keberanian untuk menoleh dan menatap wajah cowok itu. Dengan horor Fay menyimak Raymond yang melanjutkan pembahasan seakan tidak menyadari informasi tadi hampir menyebabkan ia mati muda kena stroke!

”Dokumen identitas kalian akan diserahkan oleh Russel di titik pemberangkatan. Pagi ini Ms. Connie akan datang membantu Fay memilih baju­baju mana yang pantas dibawa supaya perannya sebagai mahasiswa akhir tahun pertama meyakinkan. Ada per­ tanyaan?”

Kent bertanya, ”Tidakkah aneh sepasang mahasiswa tinggal di hotel berbintang empat dan mengikuti tur? Bukankah pada umumnya mahasiswa punya keterbatasan finansial dan lebih me­ milih untuk backpacking?”

Raymond tersenyum, ”Good catch, Kent! Kita punya dua kon­ disi yang bertolak belakang. Kondisi pertama, kalian harus ikut tur yang sama dengan Blueray. Kondisi kedua, status kalian yang masih mahasiswa sebenarnya membatasi pilihan itu. Untuk itu, akan ada tambahan latar belakang supaya skenario tadi jadi ma­ suk akal. Fay akan menjadi mahasiswa dari Asia yang kaya raya, sedangkan kamu pemuda dengan latar belakang keluarga yang tidak istimewa.”

Fay menatap Raymond dengan ekspresi tak mengerti yang su­ dah lebih mirip frustrasi, terlebih ia melihat Kent mengangguk tanda mengerti.

Raymond membalas tatapan Fay dan melanjutkan, ”Cukup banyak kalangan atas dari Asia yang menghabiskan waktu di Eropa dan mereka terkenal sebagai pembelanja yang sangat royal. Sepanjang tur saya ingin kamu bertindak sebagai seorang anak manja yang tidak punya keterbatasan uang. Bersikaplah royal, egois, mau menang sendiri, dan selalu minta diprioritaskan.”

”Saya masih tidak bisa terbayang seperti apa...,” ucap Fay sam­ bil menggeleng. Ia mencoba membayangkan sikap Cici yang anak konglomerat, tapi Cici selalu saja rendah hati... Tiara! Fay hampir saja terlompat dari kursi ketika ingat kelakuan ketua geng borju nyebelin itu. Sekonyong­konyong ia bagai mendapat pencerahan bagaimana harus memerankan lakonnya.

Raymond mengangkat alisnya dan bertanya, ”Bagaimana? Su­ dah terbayang atau kamu masih perlu bantuan?”

Fay mengangguk yakin, ”Sudah!”

”Baik kalau begitu, selamat bertugas. Kalian akan berangkat dari sini pukul dua siang dan secara resmi tugas kalian akan di­ mulai saat check-in di hotel. Saya akan memonitor dari Pusat.”

Andrew dan Raymond meninggalkan ruangan.

Fay tetap terpaku di tempatnya dan dengan gugup melirik Kent yang sepertinya juga merasakan hal yang sama.

Kent yang memecah keheningan terlebih dahulu, ”Jadi tugas kita dimulai sore ini ya. ”

Fay mengatupkan kedua tangannya yang terasa dingin. Kalau saja berita dari Raymond tadi tidak membuat ia jantungan, ia mungkin sudah tertawa menang mendengar nada suara Kent yang begitu gugup dan garing.

”Begitulah,” jawab Fay singkat seolah sedang ikut lomba garing melawan Kent. Mati gaya!

”Siapa yang menang balapan tadi malam?” tanya Fay buru­ buru untuk menutupi rasa gugupnya.

”Tidak ada pemenang karena balapan terpaksa dibatalkan. Pa­ man ternyata sudah curiga dan menugasi anak buahnya untuk membuntuti kami. Tim Reno yang tersadar terlebih dahulu bah­ wa mereka dibuntuti saat masuk ke hanggar pesawat. Reno lalu menghubungi tim kami tepat sebelum kami membeli tiket kereta. Kami semua langsung kembali, untungnya sebelum jam malam berlaku, jadi tidak ada masalah sama sekali.”

”Ada jam malam?” tanya Fay melongo.

Kent tersenyum. ”Ada. Jam satu pagi di hari kerja dan jam tiga pagi di hari libur.”

Fay menggeleng­geleng takjub.

Kent berdiri lalu membukakan pintu, mempersilakan Fay le­ wat. ”Oke. Kalau begitu sampai jam dua siang nanti.”

Fay melangkah lebar­lebar melewati Kent dengan detak jantung yang hampir tak berjarak saking berderunya.

Kent dan dirinya—sepasang kekasih. Sama sekali bukan skenario yang buruk. Tapi mungkin itu alasannya kenapa ia sedemikian gugup—karena apa yang selalu diimpikannya dalam diam akan menjadi nyata dalam sebuah kepura­puraan.

Fay mengomel dalam hati. Sebuah kepura-puraan. Sayang sekali itu yang jadi kata kunci, ratapnya kesal dalam hati.

Ms. Connie datang tak lama kemudian, membantu Fay memilah­ milah baju mana saja yang pantas dibawa dan mengajarkan kem­ bali cara berias supaya Fay terlihat lebih dewasa. Ms. Connie juga membawa beberapa pakaian baru bermerek yang tampak mewah yang sebenarnya agak kelewat mencolok, dengan logo­logo merek tersebut tercantum sebesar gaban di mana­mana.

Ketika sedang melipat baju­baju untuk disusun di koper yang akan dibawa Fay nanti sore, Ms. Connie berkata, ”Jadi, Fay, bagai­ mana perasaan kamu sebelum tugas ini? Berdebar­debar tidak?”

Fay mendongakkan kepala untuk melihat Ms. Connie dan be­ ngong sebentar ketika melihat Ms. Connie menatapnya sambil tersenyum simpul penuh arti. ”Berdebar­debar kenapa?” tanya Fay.

”Iya, saya dengar dari Andrew, kamu dan Kent akan berperan sebagai sepasang kekasih.”

Fay merasa mukanya panas dan menanggapi singkat, ”Biasa aja. Kenapa harus berdebar­debar?”

Ms. Connie mengangguk. ”Baguslah kalau begitu. Kamu kan masih sangat muda dan berasal dari Asia yang relatif lebih konser­ vatif; tadinya saya membayangkan kamu akan sedikit gugup ka­ rena harus tidur di kamar yang sama dengan Kent.”

Fay terkesiap. Darah di wajahnya seperti surut ke arah jantung. ”Saya... satu kamar...?” Ucapan Fay tidak selesai. Jantungnya seperti memutuskan berhenti berdetak secara sepihak. Mati deh!

Ms. Connie tersenyum geli. ”Tenang, Fay, kan cuma tugas.” Fay tidak benar­benar mendengarkan ucapan Ms. Connie—pi­

kirannya langsung disibukkan dengan informasi tentang tidur se­ kamar yang disebutkan Ms. Connie. Bagaimana mungkin ia bisa tidur kalau Kent ada di kamar yang sama? Dan, bagaimana kalau ia ngorok? Gawat!

Pikiran itu memicu pikiran lain. Bagaimana kalau hanya ada satu tempat tidur besar dan tidak ada sofa? Apakah Kent akan berbaring di ranjang yang sama?

Fay terlonjak kaget oleh pikirannya sendiri. Dengan gugup ia kembali menyambar satu baju. Ms. Connie berseru, ”Fay, itu sudah saya lipat tadi...”

”Maaf, Miss,” gumam Fay. Pikirannya sibuk menggali lebih dalam, mencoba mengingat apa ada komentar dari para sahabat­ nya kalau ia habis bermalam bersama mereka. Kalau ngorok sih kayaknya nggak, tapi rasanya ada ucapan pedas Lisa tentang ke­ lakuannya saat tidur. Apa ia tidur dengan mulut mangap? Tidak, tidak. Itu Dea.

Mendadak Fay ingat dan napasnya langsung tercekat. Lisa per­ nah mengomelinya di pagi hari karena Fay tidur menyeruduk ke kiri dan kanan, bahkan sempat memeluk Lisa yang badannya mungil karena menyangka Lisa guling!

AAAARRRGGHHHH, mati!

Suara Ms. Connie yang terdengar cemas menyadarkan Fay. ”Kamu nggak apa­apa, Fay? Kok kamu kelihatan pucat sekali.

Saya akan minta izin Andrew untuk memberimu vitamin, seperti­ nya kamu kurang darah.”

Fay dengan nanar menatap Ms. Connie. Kurang darah? Tentu saja ia kurang darah kalau semua darahnya melorot ke ujung jem­ pol kaki! Setelah dapat asupan vitamin penambah darah, mungkin ia akan jauh lebih tenang menanggapi berita bahwa ia akan tidur di ranjang yang sama dengan Kent... Yeah, right!

Jam dua siang, Fay dan Kent naik ke mobil boks dengan logo kain pel dan ember—cleaning service. Dengan mobil inilah me­ reka akan dibawa ke titik pemberangkatan tempat mereka akan menerima pengarahan dari Russel.

Begitu mereka berdua masuk, ternyata Russel sudah ada di dalam mobil, sedang duduk sambil mengutak­atik laptop di depan panel yang berisi berbagai peralatan. Selain laptop, di hadapan Russel ada dua layar LCD, berbagai macam tombol, headphone, dan layar­layar TV kecil. Setelah Kent menutup pintu, mobil terasa berjalan dengan sta­ bil. Fay langsung duduk di bangku panjang di sisi mobil, tepat di sebelah Kent. Sekilas ia memperhatikan tidak ada jendela sama sekali di bagian belakang mobil ini. Ventilasi diperoleh dari lubang­lubang AC di langit­langit—lebih mirip sebuah ruang di gedung daripada bagian belakang mobil boks.

Fay menyapukan pandangannya sekilas ke panel yang ada di hadapan Russel, tapi pikirannya tidak bisa ia fokuskan sama se­ kali. Ucapan Ms. Connie tadi terngiang­ngiang terus di telinga­ nya. Ia sampai tidak berani menatap wajah Kent sejak mereka bertemu lagi!

Laju mobil semakin melambat dan terasa mobil menepi dan akhirnya berhenti.

”Ada apa?” tanya Kent pada Russel sambil mengerutkan ke­ ning.

Russel berdiri dan berkata, ”Kita sekarang ada di persimpangan menuju Champs­Élysées. Saya ingin kalian turun dan berjalan sepanjang Champs­Élysées hingga saya memberi instruksi lebih lanjut lewat telepon genggam. Tugas kalian dimulai sekarang.” Russel menyodorkan dua telepon genggam.

Kent tidak bertanya lebih lanjut dan langsung mengarah keluar setelah mengambil telepon genggam yang disodorkan Russel. Fay juga melakukan hal yang sama dan buru­buru mengikuti di bela­ kang Kent.

Fay dan Kent berjalan bersisian, melangkah perlahan­lahan di trotoar lebar tanpa berkata­kata, masing­masing berusaha meng­ analisis perubahan rencana yang tidak terduga ini.

Akhirnya Fay tidak tahan lagi. ”Apa sebenarnya rencana Russel? Bukankah kata Raymond tugas kita secara resmi baru dimulai nanti, saat check-in di hotel? Apa yang dia ingin kita lakukan sekarang?” sembur Fay berikutnya.

Kent menjawab datar, ”Aku tidak tahu. Yang jelas, di garis ko­ mando tugas ini, dia ada di urutan selanjutnya setelah Raymond, jadi perintahnya harus kita ikuti. Seperti yang dia bilang tadi, kita berjalan saja sampai dia menelepon.”

Fay baru saja akan menanggapi ucapan Kent ketika terdengar satu suara dari arah belakang memanggil namanya.

”FAY!”

Fay menoleh dan langsung terperangah. Enrique! Celaka!

Dengan gugup Fay melihat Enrique yang berlari­lari kecil menghampiri sambil tersenyum.

”Hai, Fay, good to see you again.”

Fay hanya bisa megap­megap melihat Enrique berdiri di ha­ dapannya sambil tersenyum lebar. Fay baru tersadar kembali ke­ tika Enrique menatap Kent dengan pandangan bertanya.

”Oh... ya... mm... good to see you too... This is Kent.”

Kent menjulurkan tangan ke arah Enrique dengan ekspresi kaku dan dingin.

Enrique tampaknya juga menyadari sambutan yang tidak ber­ sahabat itu karena setelah menyalami tangan Kent, ia langsung menoleh kembali kepada Fay. ”Mau jalan­jalan ke mana?”

”Mm... nggak ada tujuan khusus, menyusuri Champs­Élysées saja,” jawab Fay garing. Ia buru­buru menambahkan, ”Kamu sen­ diri bagaimana? Bukannya kemarin kamu bilang pagi ini akan pulang ke Venezuela?”

”Perubahan rencana. Ibuku ada urusan mendadak dan pergi ke rumah kerabat di Afrika Selatan, jadi aku mengubah penerbangan­ ku dan akan langsung ke Brazil saja nanti malam. Baru setelah itu aku menyusul ibuku sekalian berlibur di Afrika Selatan,” ja­ wab Enrique.

Fay mengeluarkan suara ”o” bulat dari bibirnya, lalu terdiam. Enrique yang tampak kikuk dengan adanya Kent juga terdiam sejenak.

Fay memutuskan mengakhiri kekakuan di antara mereka de­ ngan kembali berbicara. ”Eh, aku bisa minta alamat e­mail kamu lagi? Kertas yang kemarin ada di kantong celanaku tercecer.” Fay mengeluh dalam hati mendengar kalimat itu meluncur dari mulut­ nya. Sama sekali tidak tepat, tapi ia benar­benar sudah keram otak!

”Tentu saja boleh,” jawab Enrique sambil merogoh tasnya un­ tuk mengambil secarik kertas dan pensil. Menggunakan telapak tangannya sebagai alas kertas, ia menuliskan satu alamat e­mail di Yahoo! dengan huruf cetak besar­besar.

Kent menggamit tangan Fay sambil berkata tajam, ”Kita harus segera pergi.”

Enrique buru­buru memberikan secarik kertas itu kepada Fay dan memasukkan pensil ke tas sambil berkata, ”Fay, nanti e­mail aku ya...”

Fay mengangguk dengan perasaan tidak enak. ”Pasti. Sampai nanti ya.”

Enrique berbalik ke arahnya datang tadi sambil melambai,

”Bye!”

Kent langsung bertanya dengan tajam, ”What was that all about?!”

Fay berhenti melangkah dan menatap Kent yang wajahnya me­ rah padam. Benar-benar tidak masuk akal! Cowok di sampingnya ini menolak memberi penjelasan yang masuk akal atas kepergian­ nya begitu saja tahun lalu dan hampir selalu memasang sikap dingin dan kaku selama beberapa hari mereka menjalani latihan bersama, tapi sekarang dia bersikap seperti pacar yang cemburu? C’mon!

”Apa maksud kamu?” tanya Fay dengan nada meninggi.

Kent menyapukan pandangan ke sekeliling mereka. ”Kita se­ dang bertugas. Simpan saja semua keramahan sosial kamu untuk lain waktu!”

Fay terbelalak. ”Dia yang memanggil aku duluan! Lantas aku harus bagaimana, pura­pura tidak dengar atau tidak kenal? Itu malah lebih aneh lagi!”

Kent kini menatap Fay dengan sorot mata menyala­nyala. ”Ti­ dak perlu menanyakan e­mail­nya segala! Yang harus kamu laku­ kan hanyalah menyapa dia seperlunya, memberi kesan seolah ti­ dak mau diganggu sehingga akhirnya dia pergi sendiri!”

Fay baru akan membalas ucapan itu ketika terdengar dering telepon genggam di kantongnya. Agak gugup ia mengeluarkan telepon dari saku dan menjawabnya, ”Ya?”

Terdengar suara Russel, ”Unit ada di depan kalian, sekitar se­ ratus meter di sisi jalan. Kembali ke unit sekarang.” Telepon di­ tutup.

”Ada apa?” tanya Kent.

”Russel menyuruh kita kembali,” jawab Fay sambil menunjuk mobil boks bergambar ember dan pel yang sudah terlihat di tepi jalan.

Sampai di mobil, pintu dibuka dari dalam oleh Russel yang langsung menyambut dengan ekspresi dinginnya yang biasa.

Fay masuk ke mobil dan langsung berdiri di hadapan Russel sambil menyandarkan tubuh ke dinding mobil, sibuk bertanya­ tanya dalam hati apakah Russel pernah punya emosi lain—rasanya tidak terbayang Russel bisa nyengir atau tertawa terbahak­ba­ hak.

Kent menutup pintu mobil, kemudian bersandar ke dinding dekat pintu sambil menyilangkan kaki dan bersedekap.

Sesaat kemudian mobil bergerak perlahan.

Russel berkata tajam, ”Saya tadi bilang tugas dimulai setelah turun dari unit.”

Fay menatap Russel dengan bingung. Ia lalu melirik Kent yang tetap bersedekap sambil melihat ke bawah, seolah sibuk memper­ hatikan sepatunya sendiri. Setelah tidak melihat tanda­tanda Kent akan bicara, Fay kembali menatap Russel dan berkata, ”Saya tidak mengerti... kami disuruh melakukan apa?”

”Saya perlu tahu apakah kalian mampu menjalankan rencana yang sudah disusun. Kalau kalian melakukannya seperti cara ka­ lian berjalan tadi, orang yang paling bodoh pun tidak akan bisa kalian tipu dengan kedok sebagai sepasang kekasih!”

Fay merasa mukanya panas.

Russel menoleh ke Kent dan berseru, ”KENT! Kamu mengerti maksud saya atau tidak?!”

”Mengerti,” jawab Kent dengan suara parau, lalu membalas tatapan Russel.

Russel menatap Kent tajam dan berkata, ”Baik, mari kita lihat apa kamu memang benar­benar mengerti. Sekarang juga saya min­ ta kamu mencium Fay!”

Apa???

”A... apa?” Kent terperangah. Ia berdiri tegak dan menurunkan tangannya.

”Kamu dengar ucapan saya barusan. Cium Fay!” tegas Russel lagi.

Wajah Kent mengeras sebelum berkata, ”Saya... tidak bisa!” Tatapan Russel langsung berpindah dari Kent ke Fay. Sontak

Fay megap­megap sambil menggeleng panik.

Tanpa berkata­kata, Russel melemparkan satu borgol ke Kent yang dengan sigap langsung menangkapnya. ”Pakai dan kaitkan ke pegangan besi,” ucap Russel lagi.

Kent tertegun sejenak, tapi tanpa membantah atau bertanya langsung memasang borgol di kedua tangannya sambil menyelip­ kan borgol ke pegangan besi di atas kepala sehingga kedua tangan­ nya terkunci di atas kepala.

Russel melirik Kent lalu berkata, ”Lihat baik­baik!” Wajah Kent berubah tegang.

Detik berikutnya, Fay ternganga ketika tatapan Russel beralih dari Kent ke dirinya.

Russel menatap Fay hangat dengan seulas senyum tipis yang sangat lembut. Sorot mata Russel yang biasanya sangat dingin tanpa emosi kini menatap Fay dengan pancaran penuh kasih, se­ olah dilanda rindu yang sedemikian dalam. Fay merasa napasnya sesak dan perutnya seakan terpelintir. Tu­ buhnya langsung tegang dan kaku, berusaha menepis skenario yang sama sekali tidak bisa diterima akal sehatnya.

Perlahan Russel maju mendekati Fay sambil tetap memampang­ kan senyum lembut.

Pria ini sudah gila!

Fay berusaha melangkah mundur, dan napasnya langsung ter­ sengal ketika merasakan dinding mobil yang dingin sudah me­ nempel ke punggungnya—ia sudah terpojok!

Dengan perut mual Fay menyaksikan Russel melangkah ke arahnya dengan sorot mata seakan begitu haus akan dirinya. De­ bar jantungnya kini sudah tidak bisa diatur lagi dengan setiap langkah Russel yang semakin mendekat. Ketika Russel sudah ber­ ada di depannya, Fay menahan napas.

Tangan Russel terulur dan mengelus pipi Fay lembut sambil berkata lirih, ”I’m sorry for what I’m about to do. But I think you’ll understand.” Dengan perkataan itu Russel memajukan wajahnya. ”Tidak!” pekik Fay panik. Secara refleks kedua tangannya ia

posisikan di depan wajahnya sambil berusaha mengelak. ”JANGAN SENTUH DIA!” teriakan Kent membahana di da­

lam ruang mobil yang sempit ini. Kent maju dengan wajah me­ rah padam dan tangannya yang terborgol ke pelat besi mengepal hingga urat­uratnya terlihat jelas.

Russel mencengkeram tangan Fay kemudian merentangkannya ke samping dengan paksa.

Fay kembali memekik. Napasnya memburu karena rasa panik dan takut. Kedua tangannya kini seperti terpaku ke dinding, sama sekali tidak bisa digerakkan dengan cengkeraman Russel yang sedemikian erat.

Wajah Russel tidak berubah dan tetap memampangkan kelem­ butan yang sama, seolah cengkeraman yang ia berikan ke kedua pergelangan tangan Fay sama sekali tidak memengaruhi hasratnya. Perlahan­lahan, Russel kembali mendekatkan wajahnya ke Fay. ”JANGAN!” Fay memalingkan muka sambil menahan napas dengan dada yang rasanya sudah mau meledak.

”JANGAN COBA­COBA MENYENTUH DIA!” Teriakan

Kent kembali membahana, gerakannya semakin liar berusaha me­ nerjang dengan percuma. Terdengar bunyi gesekan logam pe­ gangan besi dan borgol yang menahan tubuhnya.

Fay menutup mata dengan air mata yang sudah mengintip dari sudut matanya ketika merasakan desah napas Russel menyapu pipinya dan perlahan­lahan mendekat ke arah bibirnya. Harga dirinya terasa begitu direndahkan dengan pelecehan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan dan tubuhnya kini bergetar, ber­ usaha menahan segala emosi yang ada.

Mendadak napas itu tidak terasa lagi dan cengkeraman di ke­ dua pergelangan tangan Fay terlepas.

Fay membuka mata dan menyandar lemas ke dinding mobil. Russel berjalan ke arah Kent yang wajahnya masih dipenuhi ko­ bar kemarahan. Begitu tepat berada di hadapan Kent, satu tangan Russel mencengkeram leher pemuda itu.

Russel mendekatkan wajahnya ke depan wajah Kent hingga hanya berjarak beberapa senti saja, kemudian berkata dengan suara rendah, ”Kalau kamu tidak mau saya yang menyentuhnya, KAMU yang harus melakukannya.”

Russel melepas cengkeramannya di leher Kent dan berbalik menatap Fay dengan tatapan dingin yang membekukan. ”Apa kamu bisa melakukannya?” Ekspresi hangat Russel yang tadi begitu melenakan sekaligus menakutkan sudah menguap entah ke mana.

Fay mencoba menyelaraskan napasnya dengan degup jantung­ nya yang begitu kencang sambil menatap Kent. Belum sempat Fay menjawab, Russel sudah melayangkan pukulan ke ulu hati Kent.

Kent mengelurkan suara tertahan, sesaat kehilangan kendali atas tenaganya dan jatuh, namun tertahan ikatan tangannya. Se­ gera Kent memijakkan kaki dan berdiri tegak, menatap Russel dengan pandangan muak berbalut amarah.

Russel menatap Fay kembali seakan menegaskan pertanyaannya lagi lewat sorot matanya.

Fay buru­buru mengangguk dengan rasa panik yang sudah mengaduk­aduk dada.

Russel mengeluarkan kunci dan menyelipkannya ke genggaman Kent, yang dengan cepat langsung membuka borgolnya sendiri.

Setelah borgolnya terlepas, Kent menatap Russel dengan ko­ baran marah yang tidak berusaha ia sembunyikan. Wajah Kent merah padam dan kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuh, siap untuk dilayangkan ke arah Russel.

Russel menatap Kent tajam. ”Ingat di mana posisi kamu dalam operasi ini. Insubordinasi sama sekali tidak bisa diterima.”

Kent terlihat berusaha keras menguasai emosinya hingga tubuh­ nya turut bergetar. Ia akhirnya berkata dengan suara rendah se­ perti menggeram, ”Saya ingin bicara dengan Fay. Beri saya waktu lima menit!”

Russel menuju interkom dan berbicara dengan pengemudi. Se­ telah mobil berhenti, Russel berjalan ke arah pintu dan tanpa menoleh dia berkata, ”Tiga menit, tidak lebih.”

Begitu Russel keluar dari mobil, Fay merasa semua ototnya sangat lemas dan ia pun membiarkan dirinya melorot ke lantai sambil menyandar ke dinding mobil. Ia mengatupkan kedua ta­ ngannya ke wajah, berusaha menenangkan napasnya yang naik­ turun diterpa kelegaan yang datang tiba­tiba, sekaligus menghapus air matanya yang sempat menyelinap keluar dari sudut mata.

Terdengar langkah kaki mendekat dan Fay mendongak. Kent sudah ada di hadapannya.

Perlahan Kent jongkok di depan Fay, kemudian meraih tangan­ nya. Wajah Kent langsung terkejut ketika merasakan tangan Fay sangat dingin. Kent meremas kedua tangan Fay lembut, menular­ kan kehangatan yang ia punya. ”Maaf, Fay...,” bisik Kent dengan wajah terluka.

”Tadi itu... menakutkan sekali,” ucap Fay lirih. Tangannya ia lingkarkan untuk mendekap tubuhnya sendiri yang masih ge­ metar.

Kent berkata dengan suara parau, ”Maafkan aku... Seharusnya tadi aku tidak ragu dan langsung melakukan apa yang diperintah­ kan. Tapi rasanya sulit sekali untuk berpura­pura ketika apa yang aku rasakan adalah nyata.”

”Aku sudah tidak tahu lagi yang mana yang nyata,” bisik Fay dengan dada yang masih bergemuruh karena kecamuk amarah bercampur takut.

Kent mengusap rambut Fay, ”Maafkan aku, Fay... Semua yang aku lakukan selama ini ternyata hanya menyakiti perasaanmu. Bukan maksudku seperti itu...”

”Bagaimana sekarang?” tanya Fay lemah sambil menyandarkan kepalanya ke dinding mobil. Badannya masih gemetar dan kepala­ nya masih belum mampu berpikir jernih.

”Aku tidak akan memberi kesempatan kepada keparat itu un­ tuk menyakiti kamu!” desis Kent.

”Aku rasa kamu tidak punya pilihan itu...,” ucap Fay pelan, ”...kita tidak punya pilihan itu.”

Kent menunduk dan tidak berkata­kata.

Fay mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan menarik napas panjang, lalu berkata, ”Kita anggap saja satu hari keber­ samaan ini sebagai pemberian cuma­cuma...”

Kent mendongak tiba­tiba dan berseru, ”Begitu semua berakhir, kamu akan lebih sakit lagi!”

Fay balik bertanya dengan nada mulai tinggi, ”Bagaimana de­ ngan kamu? Apakah akhir kebersamaan singkat ini akan menya­ kiti kamu juga atau kamu memang hanya berpura­pura?”

Kent tampak terluka dengan pertanyaan itu dan menjawab, ”Fay, tidak ada satu hari pun yang tidak kujalani selama satu ta­ hun ini tanpa rasa sakit itu. Aku memang memilih untuk merasa­ kannya, untuk mengenang apa yang pernah ada.”

Angin sejuk serasa menyapu permukaan hati Fay yang sempat tergores dan Fay mencoba tersenyum.

Kent tersenyum getir dan bertanya, ”Jadi... kamu tidak ke­ beratan kalau aku mencium kamu sekarang?”

Fay menelan ludah yang tersangkut di tenggorokan. Dadanya yang sedari tadi sudah berdegup kencang kini mulai kehilangan irama. Berikutnya, ia tahu walaupun mulutnya belum bersuara, sorot matanya sudah menyatakan perasaannya dengan tepat, ka­ rena Kent sudah memajukan wajah dan menempelkan bibirnya dengan lembut. Bibir mereka pun bertaut dalam kepasrahan tan­ pa sebuah nafsu yang menggebu, dan sejenak keduanya menik­ mati rasa damai yang ada dalam hati mereka.

Sayup­sayup terdengar suara pintu terbuka dan ketika akhirnya wajah Fay terlepas dari magnet wajah tampan bermata biru dalam itu, ia baru menyadari mobil sudah bergerak.

Yang terjadi selanjutnya hanya seperti potongan film yang serasa tidak nyata. Russel yang membawa mereka ke tempat pemberang­ katan—Russel yang membuka tas mereka dan memeriksa isinya dengan sistematis—Russel yang mengganti arloji yang dipakai Kent dengan arloji yang dilengkapi mikrofon—Russel yang me­ masang kalung dengan bandul mikrofon di leher Fay—Russel yang menyodorkan satu tas berisi peralatan tambahan: handycam, kamera digital kecil, satu set peta dan brosur tentang Paris dan Prancis, buku panduan wisata, sebuah novel, dan iPod, yang se­ gera mereka posisikan di tas masing­masing. Setelah itu, pema­ sangan ear tablet; Kent terlebih dahulu, di telinga kanan.

Ear tablet ternyata berbentuk seperti tablet cokelat yang sangat kecil, mungkin seukuran ujung cotton bud. Fay melihat Russel memasukkan benda itu ke telinga Kent menggunakan alat seperti pistol mainan, dengan sebuah tuas di bagian tengah yang dimasuk­ kan ke telinga. Di ujung tuas itulah ear tablet menempel dengan magnet. Tuas kemudian diputar oleh Russel untuk mengeluarkan tiga buah ”kaki” dari sisi­sisi ear tablet yang berfungsi sebagai pe­ nyangga ke dinding telinga. Setelah itu tuas ditarik keluar dengan ujung yang sudah kosong dan ear tablet sudah berada di dalam telinga.

Fay meringis dan mengaduh sedikit ketika Russel memasukkan tuas ke telinga kirinya—rasanya seperti disodok! Dan setelah tuas dicabut dari telinganya dengan ear tablet duduk manis di dalam, rasanya seperti sehabis memakai cotton buds dengan ujung kapas yang tertinggal di telinga... mengganggu sekali!

Russel berkata kepada Kent, ”Usahakan untuk selalu berada di sebelah kiri Fay supaya ear tablet kalian posisinya lebih terlin­ dungi.” Russel lalu menyodorkan dokumen.

Fay menerima satu paspor negara Singapura, namanya adalah ”Ferina Sutomo”.

Di paspor Kent tertera ”Kenneth Briggs”, kebangsaan New Zealand.

Russel berkata, ”Walaupun identitas kalian palsu, nama pang­ gilan kalian akan terdengar sama dengan nama asli kalian untuk mencegah kesalahan kecil yang tidak perlu.” Russel lalu mem­ berikan tes ke Fay tentang titik penjemputan, dan memberi pengarahan singkat tentang teknis pelaksanaan serta protokol ko­ munikasi.

”Sepanjang komunikasi, saya akan menggunakan istilah Unit untuk menyebutkan posisi saya. Pusat adalah Raymond. Bila saya memberikan instruksi tanpa menyebut nama, itu berarti berlaku untuk kalian berdua dan jika kalian sedang bersama­sama, ja­ waban dari Kent saja cukup. Bila saya menyebutkan nama, instruksi itu hanya berlaku untuk nama yang disebut—kadang saya hanya akan bicara ke ear tablet yang bersangkutan saja untuk instruksi yang spesifik.”

Russel menyodorkan kacamata hitam dengan logo Gucci se­ besar bagong di gagang kacamata kepada Fay. ”Pakai ini. Jangan lupa untuk bertindak­tanduk sesuai peran kamu.”

Fay mengangguk dan keluar dari rumah bersama Kent. Di de­ pan rumah sudah ada taksi yang menunggu.

Kent membukakan pintu untuk Fay sambil bertanya pelan, ”Siap?”

Fay mengangguk agak gugup sambil tersenyum.

Begitu mereka berdua masuk, taksi langsung bergerak menuju hotel.

Setengah jam kemudian, Fay dan Kent sudah tiba di depan hotel. Turun dari taksi, Fay langsung berdiri di pelataran dan meman­ dang berkeliling dengan tak acuh. Di tubuhnya saat ini menempel beberapa logo terkenal—selain kacamata yang tadi diberikan Russel, ia juga memakai rompi dengan logo tipis Aigner, sepatu kasual dari Tods, dan tas selempang Bally.

Kent sok sibuk menurunkan barang mereka—satu hal yang sebenarnya tidak perlu dengan adanya petugas hotel yang siap membantu asalkan diberi tip.

Fay berkata dengan jengkel ke Kent, ”Ayo dong masuk, biar aja barangnya diurus petugas.”

Kent tergopoh­gopoh menghampiri Fay. Kontras dengan Fay, di tubuhnya sama sekali tidak ada identitas logo apa pun selain kacamata hitam Oakley. Sepatu olahraga putih yang dipakainya juga semakin membuatnya tampak biasa, terutama karena dia berdiri di sebelah Fay yang sudah seperti etalase berjalan.

Kent langsung merangkul Fay dan mencium kepalanya. ”Kamu lelah, ya?” Fay menyandar sambil tersenyum manja. ”Iya. Besok kan kita akan sibuk sekali.”

Mereka langsung check-in—tepatnya Kent yang mengurus se­ muanya di resepsionis sementara Fay hanya duduk di sofa lobi sambil membaca sebuah novel ringan yang memang merupakan pelengkap identitasnya. Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di kamar dan setelah koper mereka datang—Fay yang memberi tip ke petugas tentunya—mereka pun turun kembali untuk men­ daftar ikut tur.

”Bonsoir, kami ingin mendaftar ikut tur ini besok pagi,” ucap Kent sambil menunjuk brosur yang ada di tangannya.

”Bonsoir, Monsieur. Tur Fontainebleau? Bisa. Untuk berapa orang?”

”Dua orang,” jawab Kent sambil tersenyum menatap Fay.

Fay membalas senyum Kent sambil menatap cowok itu dengan campuran antara kagum dan terpesona—sama sekali bukan sandi­ wara!

”Seratus enam puluh euro,” ucap petugas.

Kent menatap Fay sambil tersenyum mesra dan berkata, ”Se­ ratus enam puluh euro, Sayang.”

Fay memberikan uang sejumlah itu kepada Kent sambil ter­ senyum jaim, padahal ia sudah hampir mati menahan ketawa melihat ekspresi Kent dan ekspresi petugas yang membelalak tidak percaya.

Kent mengulurkan uang itu kepada petugas sambil bertanya, ”Apakah turnya padat?”

”Tidak, Monsieur, sejauh ini baru ada lima orang, termasuk Anda dan kekasih Anda. Sebentar, Monsieur, saya catat nama Anda dulu. Bisa saya pinjam identitas Anda?”

Kent memberikan paspornya dengan tak acuh, lalu menarik Fay lebih dekat ke arahnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Fay, bibirnya mencari.

Fay sempat gelagapan sebentar, tapi langsung ingat di sini wa­ jar saja berciuman di tempat umum, jadi akhirnya ia membalas ciuman Kent dengan dada berdebar kencang, sebagian karena risi melakukannya di depan petugas tur.

”Ehm, Monsieur... paspor Anda.”

Kent melepas tautan bibirnya dengan bibir Fay dan mengambil paspor yang disodorkan petugas.

”Harap berkumpul di depan concierge pukul setengah sembilan pagi. Selamat menikmati kota Paris. Merci beaucoup.”

Mereka pun naik kembali ke kamar sambil bercengkerama layaknya sepasang kekasih dan masuk ke kamar dengan Kent me­ meluk Fay erat dari belakang seolah mereka tak terpisahkan.

Setelah pintu ditutup, Fay yang menduga Kent akan melepas pelukannya, langsung tersentak ketika merasakan pelukan Kent makin erat dan Kent mencium kepalanya dari belakang.

”Kent...”

”Ya...,” jawab Kent enggan.

Fay bisa merasakan bibir Kent masih menempel di kepalanya. ”Kita kan sudah di kamar.”

”Aku tahu...,” jawab Kent tanpa melonggarkan pelukannya. ”Kent!”

”Oke... oke...” Kent melepas pelukannya sambil mendesah, ”Kenapa peran kita harus berhenti kalau sedang di kamar...?!”

Fay merasa pipinya panas. Sebagian perasaannya langsung me­ layang mendengar perkataan Kent barusan, tapi yang sebagian lagi memberi peringatan tajam. Ingat, Fay, ini semua hanya se­ mentara!

Perkataan terakhir itulah yang kini didengar oleh Fay—bukan semata karena prinsip yang dipegang teguh olehnya, tapi karena ia tidak sanggup kalau harus kembali terempas begitu keras se­ telah semua ini usai.

Fay menatap ranjang besar di tengah ruangan dengan perut mulas. Sejak pertama masuk ke kamar ini setelah check-in tadi, benda inilah yang pertama ia perhatikan dan benda ini meman­ cing rasa mulas yang sama. Bagaimana pengaturan tidur mereka malam ini? Fay melirik sebuah chaise lounge—kursi malas—satu­ satunya kursi yang ada di kamar ini. Ukurannya terlalu kecil untuk dijadikan tempat tidur, terlebih untuk tubuh sebesar Kent.

”Fay, aku tidur di sisi kanan ya...”

Ucapan Kent membuat Fay terlonjak kaget dan Fay menoleh dengan cepat ke arah Kent dengan ekspresi shock yang tidak bisa disembunyikan.

Di luar dugaan, Kent tersenyum lebar dan akhirnya tergelak. ”Maaf, aku tidak tahan... Kamu harus lihat mukamu sendiri tadi, lucu sekali.” Setelah tawanya reda, Kent kembali berkata sambil tersenyum simpul, ”Aku bisa tidur di kursi atau di lantai. Jangan khawatir.”

”Ih, jahatnya! Aku bisa kena serangan jantung kalau begini te­ rus!” gerutu Fay.

Kent tersenyum lalu berbicara di arlojinya, ”Kent ke Pusat. Sudah mendaftar ikut tur.” Ia menyimak suara di ear tablet-nya sebentar, lalu berkata pada Fay, ”Kita bereskan tas dulu.”

Fay melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. ”Kita makan malam di mana?”

Tubuh Kent mendadak tegak dengan kaku.

Fay sempat terkejut melihat ekspresi Kent, tapi segera tersadar Kent sedang mendengarkan suara yang berbicara di ear tabletnya.

Kent mengaktifkan arlojinya sambil berkata, ”Blueray baru da­ tang. Kita ke bawah sekarang, sekalian makan malam.”

Mereka pun turun dengan tergesa­gesa, sampai lupa berperan sebagai sepasang kekasih hingga tiba di lobi. Kent langsung me­ rangkul pinggang Fay sambil mencium kepala Fay, sekaligus me­ nahan langkah Fay yang masih tergesa­gesa.

”Tenang, Fay... kita punya waktu sepanjang malam,” bisik Kent menggoda. Fay mendelik sewot. ”Awas kamu ya...!” Kent tertawa lepas.

Fay tersentak melihat ekspresi Kent yang begitu bahagia. Apa­ kah ini perasaan Kent yang sebenarnya atau bagian dari sandi­ wara? Fay akhirnya mengomeli dirinya sendiri. Sudahlah, Fay, lakukan saja tugas ini hingga selesai!

Mereka mengarah ke resepsionis dan terlihat sosok yang me­ reka cari sedang check-in dan berbicara dengan petugas.

Dengan jantung mulai berdebar, Fay berjalan di samping Kent sambil tetap tersenyum dan tertawa­tawa menanggapi godaan Kent hingga mereka berdiri tepat di sebelah Blueray. Kent memandang ke arah petugas yang masih berbicara dengan Blueray, seolah­olah sedang menunggu giliran untuk dilayani. Fay menggunakan ke­ sempatan ini untuk memperhatikan Blueray sejenak. Wajah Blueray tidak istimewa, dengan hidung mancung yang agak beng­ kok, seperti pernah patah. Fay bergidik sedikit melihat mata Blueray; bentuknya seperti mata elang, kecil dan tajam. Ada sorot bengis yang ditangkap Fay dalam mata Blueray di balik keramahan yang coba ditampilkannya saat berbicara dengan petugas hotel.

Petugas akhirnya mengulurkan kunci ke Blueray. ”Kamar Anda 301, selamat beristirahat.”

Blueray berbicara, ”Saya sudah mendaftar untuk ikut tur Fontainebleau besok pagi. Bisakah Anda cek status pendaftaran saya?”

Petugas memainkan tangannya di keyboard. ”Anda sudah ter­ daftar untuk ikut tur itu besok pagi. Harap berkumpul di concierge pukul setengah sembilan pagi.”

Kent menyela, ”Pukul setengah sembilan? Anda yakin? Petugas yang tadi melayani saya saat mendaftar berkata kami harus ber­ kumpul di concierge jam setengah sepuluh! Tur Fontainebleau, kan?”

Fay menyimak dengan dada berdebar. Ia belum terbayang ke arah mana pembicaraan akan dibawa oleh Kent. Petugas itu mengerutkan kening kemudian mengecek komputer sekali lagi.

Blueray menoleh ke Kent. ”Anak muda, kamu ikut tur Fontainebleau juga besok?”

”Ya. Kami baru check-in tadi sore dan langsung mendaftar ikut tur itu atas rekomendasi teman,” jawab Kent ramah. ”Anda baru tiba? Pasti bukan kunjungan pertama ke Paris, ya...?”

Blueray tampak tertarik. ”Kenapa kamu berkesimpulan begi­ tu?”

Fay merapatkan tubuhnya ke Kent sambil tersenyum tipis de­ ngan perut yang makin melilit.

Kent menjawab dengan antusias, ”Biasanya kalau baru pertama, orang lebih suka ikut tur di dalam kota Paris. Kami sendiri se­ perti itu.”

Blueray bertanya, ”Kalian sudah sering ke Paris?”

”Ini yang kedua untuk saya. Kalau kekasih saya ini sudah se­ ring sekali ke Paris untuk berbelanja. Karena kami sekarang pergi bersama­sama, kami memutuskan untuk mencari tur yang lebih sepi,” jawab Kent sambil tersenyum penuh arti ke arah Fay.

Fay membalas senyum Kent, berusaha terlihat tersipu­sipu, padahal perutnya sudah melintir.

”Kalian hanya berdua atau ikut rombongan?”

”Hanya berdua,” ucap Kent sambil menjulurkan tangan. ”Kenneth Briggs. Panggil saya Ken. Ini kekasih saya, Ferina—sing­ katnya Fe.”

Blueray menjulurkan tangannya. ”Scott Preston. Pleased to meet you. Kalian dari mana?”

”Kami mahasiswa di University of Birmingham, sedang li­ buran,” jawab Kent. ”Anda dari mana, Amerika ya kalau dari logatnya?”

Scott mengangguk.

”Jadi, Scott, bagaimana? Tebakan saya benar ini bukan kali pertama Anda ke Paris?” tanya Kent sambil nyengir. Scott menjawab sambil tersenyum tipis, ”Benar, ini entah su­ dah yang keberapa kali untuk saya. Bisnis saya mengharuskan saya untuk bepergian ke Paris secara rutin.”

Petugas menyela dan kembali menegaskan, ”Messieurs, turnya berangkat pukul setengah sembilan dari concierge.”

Kent tampak panik dan menoleh ke Fay dengan takut­takut. ”Sayang, ternyata pukul setengah sembilan! Apakah kamu bisa bangun sepagi itu? Atau kita batalkan saja?”

Fay hampir saja gelagapan dengan reaksi tak terduga itu, tapi ia segera tersadar dan langsung membayangkan reaksi Tiara. ”Aduh, kamu gimana sih? Kalau tahu sepagi itu sih aku tidak mau ikut!” ucapnya setengah merajuk.

Kent tampak semakin panik dan bertanya ke petugas, ”Pukul berapa turnya berakhir dan kami sampai kembali di sini?” tanya Kent.

”Pukul setengah dua.”

Kent kembali menatap Fay dan berusaha membujuknya, ”Nggak lama kok... Setelah itu kan kamu masih bisa belanja.”

Scott tersenyum dan ikut berkomentar, ”Saya sudah pernah ke Fontainebleau, istana yang sangat indah. Kota Fontainebleau yang ada di sekitar istana juga sangat menarik. Selain sangat apik, di sana juga banyak toko kecil yang unik. A sophisticated young lady like you will find the visit very interesting.”

Fay mengeluarkan tampang ragu­ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat bahu dengan tak acuh. ”Oke.” Ia berusaha menahan senyum ketika melihat ekspresi Kent yang tampak sangat lega mendengar jawaban itu.

Scott mengucapkan terima kasih kemudian meninggalkan re­ sepsionis sambil berkata, ”Baik kalau begitu, selamat beristirahat, Ken dan Fe!”

”Sampai besok,” balas Kent sambil mengangkat tangannya.

Fay mengembuskan napas ketika mereka berbalik dan berjalan menjauhi Scott. Ia langsung tertegun ketika mendengar suara Russel di ear tablet­nya, ”Bukan hal yang lazim mengunjungi tempat wisata yang sama berkali-kali. Kalian harus lebih hati-hati besok karena dia berarti lebih mengenal medan daripada yang kita harapkan.”

Kent berbicara, ”Roger.”

”Kalian bisa makan malam di kafe sebelah hotel. Saya akan mengawasi pintu keluar hotel untuk berjaga-jaga bila Blueray meninggalkan hotel. Stand­by.”

Kent secara sambil lalu menyapukan tangannya ke atas arloji­ nya untuk mematikan mikrofon, kemudian berkata, ”Yuk, kita harus buru­buru nih,” ucap Kent.

”Kenapa?” tanya Fay.

Kent menjawab dengan resmi, ”Karena, Miss Ferina Sutomo yang terhormat, sebagai seorang ’sophisticated young lady’, tentunya Anda tidak ingin tidur terlambat. Dan di kota seromantis Paris ini pasti Anda sudah tidak sabar lagi untuk segera kembali ke kamar dan bercengkerama dengan kekasih tercinta, Mr. Kenneth Briggs.”

Fay mencibir ke Kent, disambut gelak Kent.

Fay duduk di atas ranjang, menatap Kent melangkah keluar dari kamar mandi. Kent baru saja selesai mandi dan rambut pirangnya yang basah acak­acakan membuat wajahnya tampak begitu lucu. Setelah makan malam, Russel memerintahkan mereka untuk masuk ke kamar dan beristirahat, kecuali ada instruksi lebih lan­

jut.

Kent berjalan ke arah ranjang dan Fay cepat­cepat mengalihkan pandangan ke TV yang kini memutar film Prancis. Sedari tadi pikirannya sudah melayang­layang memikirkan semua kejadian yang telah berlangsung beserta kemesraan yang menyertainya. Se­ lama mereka tadi keluar untuk membeli makanan saja, Kent menciumnya dua kali, belum lagi kalau dihitung ciuman­ciuman sebelumnya, atau gerakan­gerakan lain yang menyiratkan ke­ dekatan dan kemesraan mereka.

Itu saja sebenarnya belum membuat benak Fay bertanya­tanya, karena ketika dilakukan di depan umum, Fay masih bisa mengang­ gap semua itu dilakukan semata karena alasan tugas.

Namun, bagaimana dengan keengganan Kent untuk melepas pelukannya dan sikapnya yang masih saja hangat sesampainya mereka di kamar? Tapi kalau kedekatan itu merupakan keinginan Kent, kenapa Kent pergi begitu saja tahun lalu?

Fay menghela napas, berusaha membuang semua ketidakmenger­ tian atas semua sikap Kent yang bertolak belakang. Terlepas dari sisi hatinya yang bersorak­sorai karena peran ini mengharuskan ia bermesraan dengan cowok pirang tampan ini, sedikit bagian hati­ nya terusik—ia merasa telah dimanfaatkan oleh Kent, seakan co­ wok itu bersikap aji mumpung. Entah apa anggapan Kent, yang jelas ia merasa... murahan!

”Ada apa, Fay?” tanya Kent sambil duduk di atas ranjang. Fay tersentak. Mungkin helaan napasnya tadi terdengar oleh

Kent. ”Tidak ada apa­apa,” jawabnya buru­buru. Fay mengarah­ kan pandangan ke depan, seolah­olah ia menyimak setiap kata bahasa Prancis yang diucapkan para tokoh di film. Lewat sudut mata, Fay melihat Kent masih mengamati.

”Pasti ada apa­apa. Sejak kapan kamu tertarik melihat film ber­ bahasa Prancis? Seingatku tahun lalu saja kamu mengomel se­ panjang kursus. Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?” tanya Kent sambil menegakkan tubuh.

Kent menggeser duduknya hingga berada tepat di sebelah Fay, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Fay.

Refleks Fay menyentakkan kepalanya ke samping untuk meng­ hindar. ”Jangan!” ucap Fay keras. Apa sih maksud cowok ini sebenarnya?!

Kent tampak kaget dan langsung menarik tangannya kembali. ”Apa salahku?” Fay menegakkan tubuh. ”Kita sudah tidak di depan umum lagi, tapi kamu terus­menerus menunjukkan sikap seolah peduli dan ingin berdekatan denganku. Apa sih sebenarnya mau kamu?!” tanya Fay setengah berteriak. Kekesalan yang sudah lama ia pen­ dam kini sudah memuncak.

Kent menegakkan tubuh, wajahnya tampak bingung. ”Kamu yang bilang ingin menganggap kebersamaan kita yang singkat ini sebagai pemberian cuma­cuma...”

”Maksudku dalam tugas!” potong Fay ketus.

Kent terdiam sesaat lalu berkata, ”Maaf kalau aku terkesan me­ manfaatkan kamu. Selama satu tahun aku menanggung perasaan bersalah karena telah mengecewakan kamu, dan mendadak hari ini aku seperti diberi hadiah cuma­cuma untuk menebus semua­ nya. Bukan maksudku melakukan hal itu.”

Fay melihat Kent dengan tatapan tak percaya. Kembali ter­ bayang olehnya malam demi malam sepulangnya dari Paris yang ia habiskan dengan simbahan air mata karena seorang cowok me­ ninggalkannya begitu saja tanpa memberi penjelasan apa­apa... rasanya lebih menyakitkan daripada diturunkan di tengah jalan tol! Dan cowok yang sama yang duduk di depannya ini mengang­ gap satu hari cukup untuk menebus itu semua? Betul­betul nggak punya perasaan!

”Kamu pikir satu hari ini bisa menebus apa yang telah kamu lakukan?! Kamu nggak tahu betapa menyiksanya satu tahun ini aku lewati! Aku bertanya­tanya apa salahku hingga kamu pergi begitu saja—seakan aku tidak ada harganya! Sebegitu sulitkah untuk memberi penjelasan yang masuk akal untukku?” Fay ber­ henti dengan napas terengah­engah, dipenuhi emosi yang selama ini telah ia pendam. Wajah Kent tampak mulai mengabur, ter­ tutupi air mata yang sudah mendesak keluar dan berkumpul di pelupuk mata.

”Fay, tidak ada hal yang tidak kutempuh untuk kebaikan kamu!” balas Kent keras dengan wajah mulai merah. ”Mana buktinya!” ucap Fay setengah berteriak. ”Cuma sekadar memberi kabar atau memberi penjelasan saja kamu tidak bisa!”

Kent menatap Fay dengan wajah merah padam dan menjawab, ”BAIK! Kamu mau tahu apa alasan aku pergi begitu saja me­ ninggalkan kamu tanpa kabar? Aku diancam oleh Paman untuk tidak mendekati kamu lagi...”

”Hanya itu jawaban terbaikmu?!” potong Fay dengan dada se­ rasa ingin meledak. ”Kamu selalu saja menjadikan pamanmu se­ bagai alasan untuk setiap tindakanmu dan aku tidak akan pernah tahu apakah memang itu alasan yang sebenarnya!”

Dengan satu gerak cepat, Kent membuka kaus yang ia pakai. Fay terperanjat dengan gerakan tiba­tiba itu. Refleks ia mundur dengan jantung yang langsung berdegup kencang, dan terkesiap memandang Kent yang menatapnya dengan sorot mata menyala­

nyala.

Kent berkata dengan suara bergetar, ”Dia meninggalkan jejak ini, Fay! Tapi bukan jejak di dadaku ini yang membuatku mun­ dur, melainkan karena dia mengancam untuk meninggalkan jejak yang sama padamu bila aku tidak melakukan perintahnya. Dia bahkan akan memastikan jejak itu akan ditorehkan oleh tangan­ ku!”

Fay merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak saat matanya menangkap satu lingkaran berwarna gelap di dada Kent.

Kent melanjutkan, ”Ancaman pamanku bukan hanya supaya aku memupuskan perasaanku kepadamu, tapi dia secara khusus melarangku untuk melakukan kontak denganmu dalam bentuk apa pun. Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan ter­ jadi padamu kalau aku menempuh risiko dengan mengontakmu.” Kent memakai kembali kausnya, lalu bersandar ke kepala tempat tidur. ”Aku memang berutang penjelasan ke kamu. Maaf kalau aku tidak punya nyali untuk itu,” ucapnya seperti menggumam.

Hening sesaat.

Fay memeluk kakinya sendiri sambil mengarahkan pandangan­ nya yang kosong ke TV. Penjelasan Kent mulai tersusun di benaknya, melengkapi pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini terserak. Ia tidak bisa membayangkan perlakuan macam apa yang telah diterima Kent hingga bekas luka kecokelatan masih menampakkan jejak walau satu tahun telah berlalu. Jadi, itukah yang dilakukan Kent ketika menghilang begitu saja, melindungi­ nya? Fay menghela napas kembali, berusaha menghalau perasaan bersalah yang sedikit demi sedikit mulai menyisip masuk ke relung hatinya.

Akhirnya Fay berkata, ”Selama satu tahun ini aku bertanya­ tanya, apakah semua yang terjadi di antara kita tahun lalu itu nyata... atau bagi kamu aku cuma pelampiasan sementara di sela­ sela tugas...” Ucapan Fay tidak bisa diteruskan. Air mata yang sedari tadi berusaha ditahan kini sudah melesak keluar dan me­ netes satu demi satu.

Kent mendekat dan menarik Fay ke dalam pelukannya. ”Fay, perasaanku kepadamu tidak pernah berubah sedikit pun. Aku tahu aku tidak pernah mengatakannya, but I love you... and will always do.”

Fay membiarkan air matanya tumpah dalam pelukan Kent, merasakan sebuah kehangatan kembali menyelisip masuk ke da­ lam rongga hatinya, sedikit demi sedikit mengikis kekecewaan atas dirinya sendiri, dan perlahan­lahan menepis kesedihan ten­ tang betapa tidak bernilai dirinya di hadapan Kent. Percikan­per­ cikan kebahagiaan mulai terasa kembali menyejukkan rongga ko­ song dalam hatinya. Tangisnya perlahan­lahan mereda dan ia terdiam dengan perasaan begitu damai, membiarkan tangan Kent mengusap­usap punggungnya.

Kent berbisik lembut di telinga Fay, ”Apa pun yang dilakukan pamanku tidak mungkin bisa menghapus perasaan yang pernah ada di sana untukmu. Kebersamaan kita berdua memang tak bo­ leh ada, tapi sampai kapan pun aku tahu bahwa di hatiku kamu akan selalu ada dan tidak ada yang bisa mengubahnya.” Kent meraih kepala Fay dengan dua tangan lalu mengecup ke­ ning Fay, membiarkan bibirnya beberapa saat menempel di sana. Ia lalu berkata, ”Seandainya akhirnya bisa berbeda, Fay... atau kalau aku tahu akhirnya harus seperti ini, mungkin aku tidak akan mengambil risiko sama sekali untuk mendekatimu.”

”Kenapa waktu itu kamu lakukan?” tanya Fay.

”Mungkin karena kamu berbeda. Di mataku kamu begitu... tulus. Perasaan itu menyergapku begitu saja saat melihat kamu berhadapan dengan Paman tahun lalu akibat berusaha melindungi­ ku dengan cerita itu.” Kent tersenyum. ”Ceritamu itu benar­benar tidak meyakinkan. Kamu memang tidak pernah pikir panjang sejak dulu.”

Fay menikmati wajah Kent yang sesaat begitu bersinar dengan sudut bibir yang terangkat simetris ke samping, menampakkan deretan giginya yang putih. Tapi yang paling ia sukai bukan itu, melainkan mata biru Kent yang tampak begitu dalam dan jernih, berbinar dengan keriaan yang langka.

Tangan Kent terulur, menyentuh pipi Fay dan menelusuri tepi rambut Fay di sekitar telinga.

Fay tersenyum dengan perasaan yang sedikit demi sedikit mulai tertata kembali dan berkata, ”Kalau aku bisa kembali ke masa lalu, pasti akan aku ulangi lagi hubungan kita walaupun sudah tahu akhirnya seperti ini.” Kenangan tentang Kent adalah sebuah bab dalam kehidupannya yang tidak akan pernah ia sesali, apa pun akhirnya.

Kent juga tersenyum dan sambil melepas pegangannya ke Fay ia mendesah, ”Satu­satunya penyesalanku adalah karena ini harus berakhir.”

Setelah hening sesaat, akhirnya Fay bertanya pelan, ”Kamu tahu alasan paman kamu melarang hubungan kita? Aku ingat Sam pernah berkata tentang hal ini—kamu ingat kan, waktu dia bilang tidak mengerti kenapa Andrew bersikap sekeras itu atas hubungan kita yang kurang dari dua minggu?” Kent terdiam sesaat sebelum menjawab, ”Aku tidak tahu per­ sis.”

Fay menatap Kent yang tampak ragu, dan akhirnya memutus­ kan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Kent merebahkan diri di tempat tidur sambil menatap Fay, dan melanjutkan dengan santai, ”Sejak kecil aku diajari untuk tidak memercayai orang lain, karena sebuah kepercayaan bisa me­ nurunkan kewaspadaan. Kemunculan kamu dalam hidupku bagai mengoyak nilai­nilai yang selama ini aku anut. ”

Mendadak Kent berteriak sambil memegang telinga kanannya dan mengumpat. Tubuhnya langsung tegak dengan kaku dan ia langsung menekan tombol di arlojinya sambil berkata setengah berteriak, ”Don’t do that again!”

Kent menatap Fay kemudian menggumam, ”Maaf aku tadi mengumpat—bukan ditujukan ke kamu. Si Russel keparat itu tadi membesarkan volume dan memberi frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Dia menegurku karena sedari tadi mikrofon mati dan lampu kamar kita masih menyala.” Kent nyengir sedikit kemudian melanjutkan, ”Aku rasa dia takut kita sedang melaku­ kan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan tugas.” Kent melirik arlojinya. ”Memang sudah waktunya kita beristirahat. Kamu tidur saja dulu, nanti aku yang menyalakan mikrofon di arlojiku.”

”Aku merinding kalau mendengar nama Russel... Dia itu me­ ngerikan sekali!” ucap Fay sambil bergidik sedikit, kemudian menyusup ke bawah selimut.

”Pendapat kamu tidak salah. Sebisa mungkin aku selalu meng­ hindari berurusan dengan dia di kantor, tapi sayangnya dia favorit para pamanku, jadi... yah... suka atau tidak suka, dia selalu saja muncul di hadapanku, di kantor dan di rumah.”

Kent duduk di tepi tempat tidur, menatap Fay dengan sepa­ sang mata biru yang kembali memancarkan kehangatan yang dulu pernah dirasakan Fay. ”Aku ingin kamu tahu semua yang aku lakukan hanyalah yang terbaik untukmu Yang harus kamu laku­

kan adalah percaya padaku.”

Fay tersenyum tipis, membiarkan tangan Kent mengelus kepala­ nya.

”Good night, Fay,” ucap Kent lembut, lalu mengecup kening Fay.

”Good night, Kent.”

Kent mulai menyusun bedcover dan bantal di lantai.

Fay menutup mata dengan perasaan damai yang untuk pertama kalinya ia rasakan sejak meninggalkan Paris tahun lalu. Ketika ia sudah di batas ambang kesadaran, sayup­sayup ia merasa men­ dengar suara Kent yang semakin jauh, ”...love you.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊