menu

From Paris To Eternity Bab 09: The McGallaghans

Mode Malam
The McGallaghans

PUKUL  18.55,  Lucas  memperlambat  laju  limusin  hitamnya dan menghentikannya di depan gerbang yang dilengkapi kamera di kedua sisi pintunya.

Fay menegakkan tubuh sambil membetulkan gaunnya dengan gugup.

Ketika pintu gerbang terbuka, terlihat gerbang kedua; peng­ aturan keamanan untuk memastikan tidak ada yang bisa menero­ bos masuk dan meloloskan diri dari penjagaan.

Begitu gerbang kedua akhirnya terbuka dan mobil diizinkan lewat, Fay langsung terperangah dengan pemandangan yang ter­ pampang. Jalan aspal yang kini ia lalui bagaikan dibangun mem­ belah hutan, dengan pohon­pohon yang tersebar rapat namun tertata di sebelah kiri dan kanannya. Beberapa pohon bahkan menjuntaikan sulur­sulur yang menaungi sebagian jalan. Tepat di kedua sisi jalan aspal, terdapat tanaman semak bunga beraneka warna yang pada akhir musim semi ini masih mekar memesona. Di balik semak bunga, di sebelah kanan jalan aspal, sebuah jalan dibangun khusus untuk pejalan kaki, lengkap dengan atap dan jendela kaca yang bisa dibuka di sepanjang sisinya. Fay berdecak kagum membayangkan betapa menyenangkannya berjalan kaki di sana ditemani harum mawar yang melenakan saraf­saraf indra penciuman.

Belum puas Fay mengagumi pemandangan di kedua sisinya, hutan itu berakhir di hadapan sebuah air mancur besar, di depan sebuah bangunan batu yang lebih cocok disebut kastil daripada rumah. Tampak seperti dibangun berabad­abad silam, bangunan batu ini kaya akan bentuk. Dari sisi depan tempatnya berada, Fay bisa melihat permukaan dinding di sisi ini bukan hanya berupa satu bidang rata yang memanjang, tapi terdapat bagian seperti silinder, diselingi bentuk­bentuk kubus yang berjendela. Di bagian atas terdapat bentuk seperti menara persegi. Di sana­sini terdapat tanaman rambat yang mengisi kekosongan dinding kastil secara acak namun tampak rapi, seakan ketidakberaturan itu merupakan pola yang ditorehkan oleh masa.

Fay tidak sempat mengamati lebih lanjut karena begitu mobil berhenti di depan teras yang hampir seperti kubus yang menjorok ke depan, pintu dibuka dari luar oleh seorang penjaga yang se­ pertinya memang selalu bersiaga di depan rumah.

Begitu kakinya menjejak lantai, Fay merasa ketegangan di da­ lam otot­otot perutnya meningkat. Dengan cepat ia melangkah ke dalam rumah, mengikuti penjaga.

Sampai di dalam, lagi­lagi Fay berdecak kagum dengan apa yang ia lihat. Area foyer yang dimasukinya merupakan sebuah ruang berbentuk bujur sangkar yang sangat luas, dengan air man­ cur di tengah­tengah dan bukaan di bagian atas, dinaungi langit yang malam ini masih cerah. Di beberapa tempat terlihat be­ berapa patung yang berdiri gagah, seolah tugasnya memang meng­ awasi tamu yang datang. Sinar matahari yang malam ini mengin­ tip malu­malu karena terlambat menghadirkan senja, masuk sebagian melalui bukaan di atas ruangan tersebut, menegaskan kemewahan ruang yang dibalut nuansa warna merah keemasan dan memberi suasana hangat yang menyenangkan.

”Fay, you look amazing!”

Fay menoleh dan melihat Reno berjalan ke arahnya dengan tatapan terperangah. Sampai di depan Fay, Reno tersenyum lebar sambil menawarkan lengannya untuk digamit tangan Fay.

Reno sekilas berkata kepada penjaga, ”Saya yang akan mengan­ tar ke ruang duduk.” Fay tersenyum jengah dan menggamit le­ ngan Reno.

Reno menggandeng tangan Fay berjalan menyusuri selasar sam­ bil sesekali menoleh ke arah Fay.

”Kenapa sih?” tanya Fay risi.

”Nggak apa­apa. Aku cuma terkagum­kagum saja melihat kamu malam ini sangat feminin dan dewasa, tidak seperti biasa­ nya. Kalau saja aku sudah melihat kamu seperti ini sejak tadi pagi, pemuda yang tadi makan siang sama kamu sudah kukejar dan kuhajar sekalian.”

Fay melepas pegangan tangannya. ”Reno! Kamu itu jahat se­ kali!”

Reno tersenyum simpul dan mengambil tangan Fay untuk di­ posisikan kembali di lengannya.

Sambil menghela napas, Fay membiarkan tangannya diambil Reno. Ia tidak pernah benar­benar nyaman berada di lingkungan baru dan bagaimanapun juga Reno satu­satunya orang yang bisa membantunya mengurangi kecemasannya.

”Berapa jumlah anggota keluarga kamu yang datang sekarang?” tanya Fay sambil meluruskan gaun yang ia pakai.

”Let’s see... lima orang pamanku sepertinya datang semua, dan kami, para keponakan, ada enam orang... Sebelas.”

Sebelas? Fay merasa ada yang menyangkut di tenggorokannya dan ia terbatuk­batuk sedikit.

Di depan mereka kini terlihat sebuah pintu berukir yang tinggi dengan dua daun pintu terbuka lebar. Fay menarik napas panjang ketika merasa perutnya mulai mulas dan mengikuti Reno melang­ kah masuk ke ruang duduk yang besar dengan dua set sofa yang diatur bersebelahan. Kesan megah di ruang ini diperoleh dari nuansa merah keemasan yang mendominasi ruangan dan lukisan di dinding yang hampir menggapai langit­langit yang juga ting­ gi.

Di sofa sebelah kiri terlihat Andrew dan dua pria lain yang pastinya adalah para paman sedang berdiskusi santai, sedangkan para keponakan sedang bergerombol di sofa sebelah kanan sambil bertukar cerita dan tertawa­tawa, termasuk Kent. Sekilas Fay melihat Philippe berdiri di sisi ruangan, sedang berbicara dengan pria oriental yang ditemuinya di rumah Philippe hari Minggu, Raymond.

Andrew menoleh dan langsung berdiri sambil menyapa hangat, ”Tamu kita sudah datang rupaya... Hai, Fay.”

Semua yang sedang berbicara langsung diam dan menoleh ke arah Fay.

”Selamat malam,” sapa Fay gugup dengan dada berdebar. Ia sama sekali tidak terbiasa menjadi pusat perhatian dan dihujani tatapan seperti ini.

Andrew menyapukan pandangan ke arah Fay mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian sambil tersenyum berkata, ”You look stunning, young lady.” Andrew lalu menjulurkan tangan­ nya dengan telapak tangan terbuka mengarah ke atas, meminta tangan Fay.

Fay menjulurkan tangannya yang sudah sedingin es sambil me­ ngeluh dalam hati, berharap secara sia­sia Andrew tidak bisa me­ rasakan suhu tangannya. Malu-maluin aja!

”Mari saya perkenalkan dengan yang lain,” ucap Andrew sam­ bil mengarahkan Fay ke sofa tempat sebelumnya dia duduk. Ke­ dua pria yang tadi duduk di sofa kini sudah berdiri.

”Ini Steve Watson,” ucap Andrew.

Fay langsung ingat cerita Kent sebelumnya tentang Sam yang akan berhadapan dengan Steve. Tidak heran kalau Kent bilang Sam sudah akan minta ampun di hari ketiga.

Steve Watson bertubuh tinggi dan besar dengan wajah kaku tanpa emosi ketika sedang diam. Rambutnya hitam dengan se­ pasang mata hitam yang begitu dalam, membuatnya tampak ber­ bahaya hanya dengan berdiri diam seperti ini.

Setelah berjabat tangan sambil menyebutkan namanya singkat, Fay kemudian cepat­cepat mengalihkan pandangan kepada pria yang satu lagi. Ia langsung tersenyum melihat pria ini. Bertubuh relatif lebih kecil daripada yang lain, dengan rambut ikal ke­ putihan, senyum yang sangat ramah, dan kacamata yang bertengger di hidungnya, pria ini langsung mengingatkannya pada Einstein.

Pria itu menjulurkan tangan. ”Hai, Fay. Saya James Priscott. Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kamu.” James kemu­ dian mengguncang tangan Fay dengan bersemangat.

”Easy, James, jangan menakut­nakuti Fay begitu,” ucap Steve santai dengan suara yang berat dan serak.

Seorang pemuda seumuran Reno mendekat, berambut pirang ikal—hampir sama pirangnya dengan Kent. Wajahnya sangat tam­ pan dengan sebuah keangkuhan dalam setiap gerakannya. Entah kenapa Fay merasa nyalinya ciut. Ia merasa seperti seekor itik buruk rupa yang berada di sebelah seekor cheetah yang anggun— begitu anggunnya hingga bahkan ketika sang cheetah sedang lapar, dia tidak sudi memangsa sang itik buruk rupa.

”Jadi, ini yang namanya Fay...,” ucap pemuda itu dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan oleh Fay.

Fay dengan gugup hanya menatap pemuda itu, hingga tangan pemuda itu terjulur untuk menyalaminya. Buru­buru Fay men­ julurkan tangannya yang suhunya masih jauh di bawah normal, dan detik berikutnya Fay menyumpah dalam hati melihat ekspresi pemuda itu sedikit berubah saat tangan mereka bersentuhan.

”Larry, pleased to meet you,” ucapnya sambil menyunggingkan seulas senyum tipis. James bersuara dengan nada tak sabar, ”Larry, apa kamu tidak bisa sabar sebentar saja. Saya belum bercakap­cakap dengan Fay.”

”Sorry, Uncle, but you know the boys... they want to meet her.” Andrew menanggapi, ”Makan malam sebentar lagi dimulai.

Nanti setelah makan malam kalian bisa berkenalan lebih lan­ jut.”

Larry mengangkat bahu kemudian berbalik kembali ke sofa tempat dia tadi duduk. Fay sekilas melirik dan langsung menyesal ketika matanya menangkap sosok Kent yang sedang tertawa de­ ngan kepala yang agak mendongak sedikit mendengar lelucon salah satu keponakan. Sebuah desiran halus kembali terasa di dadanya melihat potongan gambar yang begitu sempurna untuk diabadikan di benaknya, dan sudah pasti membuatnya semakin sulit untuk mengenyahkan Kent dari dalam hatinya.

Suara Andrew menyadarkan Fay dari kesempurnaan mimpi. ”Fay, ini Raymond Lang.”

Fay menoleh dan melihat Raymond, si pria oriental, sudah berdiri di sebelahnya sambil tersenyum ramah.

”What a pleasant surprise. Andrew tidak bilang akan ada tamu malam ini. Kita sudah bertemu, tapi belum sempat berkenalan. Saya tadi sampai tidak mengenali kamu karena kamu tampak berbeda sekali sekarang.”

Philippe yang berdiri di sebelah Raymond sambil memegang segelas anggur langsung menanggapi sambil tersenyum tipis, ”Ten­ tu saja beda, Ray... Waktu kamu bertemu Fay, dia baru saja main hujan­hujanan dalam hutan selama delapan jam.”

Fay melongo sejenak ketika tidak menangkap nada sinis dalam ucapan Philippe. Philippe malah terlihat seperti sedang berusaha melucu—cukup berhasil, karena James tertawa pelan dengan suara yang mirip orang tersedak berulang­ulang.

Terdengar suara gong dipukul dan Fay menoleh ke arah suara dengan kaget. Seorang pelayan berseragam sedang membuka sebuah pintu. Andrew kembali mengambil tangan Fay dan mengarahkannya ke pintu yang terbuka itu, yang ternyata adalah pintu ruang makan. Terdapat sebuah meja panjang dengan lima kursi di setiap sisi dan dua kursi lain di ujung­ujung meja. Andrew langsung menempati kursi yang ada di ujung meja setelah mempersilakan Fay duduk tepat di sebelahnya.

Setelah semua duduk, Andrew berbicara.

”Good evening, everyone. Malam ini adalah kesempatan yang cukup langka, karena kita tidak hanya bisa duduk bersama setelah sekian lama disibukkan oleh banyak hal, tapi kita juga kedatangan seorang tamu.” Andrew berhenti sebentar sambil menoleh ke arah Fay. ”Untuk Fay, saya ucapkan selamat datang. Semoga kamu menikmati waktu yang kamu habiskan di sini malam ini.” Andrew kembali menyapukan pandangannya ke semua orang dan berkata lebih tajam, ”And for the boys, please behave accordingly for the rest of the night since a young lady is present. Dengan ikutnya Fay dalam jamuan makan malam kita, bukan berarti kalian bisa dengan bebas memengaruhinya untuk rencana apa pun yang saya yakin sekarang sudah berputar di benak kalian. Saya tahu kalian sudah lama tidak berkumpul lengkap seperti sekarang, tapi saya harap kalian juga ingat formasi kami juga sedang lengkap. So, stay out of trouble.”

Fay merasakan emosi yang bertolak belakang mendengar per­ kataan Andrew, campuran antara tersanjung, malu, dan tidak nyaman, entah kenapa. Akhirnya ia hanya melihat ke sekeliling­ nya, mengamati reaksi yang berbeda­beda dari para keponakan atas ucapan Andrew. Reno yang duduk di sebelahnya mengang­ guk­angguk dengan kesucian malaikat Jibril. Di sisi seberang, Kent yang duduk di hadapan Reno hanya menatap gelasnya tan­ pa menunjukkan ekspresi apa pun, sementara Larry menatap Andrew dengan wajah polos seperti bayi, dan Sam nyengir sambil menatap entah siapa yang duduk di depannya.

Terdengar suara berat Steve berkomentar, ”Maaf, Andrew, saya tidak punya waktu untuk mengurusi mereka lagi karena akan si­ buk bercengkerama dengan Sam.”

Cengiran di wajah Sam langsung hilang dan dia merengut. Terdengar beberapa suara tawa ringan, termasuk dari Andrew,

dan dari Raymond yang duduk tepat di hadapan Fay. Reno me­ ngeluarkan suara tawa tertahan.

Andrew kembali bersuara, ”Okay then, let the dinner be served. Hope you all enjoy the humble serving... And the wine offering is valid only for those above eighteen.... the only exception is for our special guest ”

Terdengar suara gerutuan dari arah sebelah kanan Fay—entah siapa.

”....who will be eighteen very soon ,” tegas Andrew menanggapi

gerutuan itu.

Empat pelayan bergerak, mengisi gelas­gelas di meja dengan

wine. Fay hanya melongo ketika pelayan mengisi gelasnya.

Setelah semua gelas terisi, Andrew berdiri sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang. Semua ikut berdiri sambil mengangkat gelas—termasuk Fay yang diberi kode oleh Reno untuk melakukan hal yang sama.

Andrew berkata, ”For the glory of the McGallaghans. The world is in our hands.” Dan dimulailah jamuan makan keluarga McGallaghan.

Sepanjang makan malam, Fay lebih banyak diam mendengar­ kan. Ia masih begitu terpesona dengan segala macam ritual yang dilakukan sepanjang malam ini, hingga benaknya melayang­layang dan kadang bertengkar apakah ini kenyataan atau hanya mimpi— mulai dari rumah sebesar dan semegah istana pangeran di cerita Cinderella, pre-dinner gathering, gong tanda makan malam sudah tiba, hingga kalimat Andrew saat bersulang yang entah kenapa membuat bulu kuduknya berdiri. Benaknya sempat berpikir apa jadinya kalau Mbok Hanim ia suruh memukul pantat panci se­ bagai pengganti gong untuk memanggilnya makan malam di ru­ mahnya di Jakarta, dan ia hampir saja cekikikan sendiri dengan gila. Untung benaknya langsung sadar diri dan berhenti memikir­ kan hal yang tidak­tidak.

Raymond, yang duduk persis di hadapan Fay, beberapa kali menanyakan beberapa hal seputar keluarga dan sekolah. Dia juga bertanya tentang tugas yang dijalankan Fay tahun lalu, terutama perasaannya saat menjalani itu semua.

Raymond tampak sangat tertarik saat mendengar usaha Alfred Whitman mengorek informasi dari Fay, dan Fay merasa agak geli­ sah dengan tatapan Raymond ke arahnya yang seperti menilai.

Setelah akhirnya makan malam usai dan semua sudah bersiap­ siap beranjak meninggalkan ruangan, Andrew memanggil Reno, ”Ajak Fay berkenalan dengan yang lain. Setelah itu Fay bisa pu­ lang untuk beristirahat.”

Reno mengangguk dan berkata kepada Fay, ”Ayo kita ke gu­ dang.”

”Gudang apa?” tanya Fay dengan kening berkerut.

”Gudang itu istilah kami untuk ruang tempat kami biasa meng­ habiskan waktu kalau sedang kumpul. Nama resminya Ruang Rekreasi.”

Fay mengikuti Reno melangkah menyusuri selasar entah di ba­ gian mana dari kastil ini. Kalau tidak ada Reno, pasti sudah ter­ sesat, pikirnya.

Tiba di Ruang Rekreasi, Fay langsung ternganga dengan norak ketika melangkah masuk—ia tiba di ruang seperti gudang yang lebih cocok disebut taman hiburan. Terdapat sebuah mezanin di sebelah kiri dan terlihat meja biliar, layar LCD, dan satu set sofa. Di bagian sebelah kanan tempat langit­langitnya tinggi tanpa me­ zanin terdapat miniatur ring tinju, miniatur lapangan basket de­ ngan ringnya, dan climbing wall!

Dengan perasaan takjub, Fay mengikuti Reno menapaki tangga ke bagian atas mezanin sambil sibuk berhati­hati supaya tidak tersandung gaun sendiri. Di atas, Sam dan Larry sedang duduk di sofa dan Fay lang­ sung merasa gugup melihat pemuda pirang berambut ikal itu menatapnya tanpa ekspresi.

”Cuma keluarga yang boleh masuk ke sini,” ucap Larry datar ke Reno.

Fay merasa jantungnya berdegup kencang. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Reno sudah menanggapi dengan tajam.

”Andrew yang meminta supaya dia dikenalkan dengan kita se­ mua. Lagi pula, secara resmi gudang kita ini bukan area tertu­ tup.”

Sam menanggapi, ”Betul. Lagi pula, aku ingin tahu...” Sam ti­ dak melanjutkan bicaranya dan menoleh kepada Fay. ”Jadi, kenapa kamu bisa ada di sini? Apa yang diminta Paman dari kamu?”

Larry melotot ke arah Sam dan tanpa berkata­kata tangannya meraih ke bawah meja, mengambil sebuah benda seperti handphone, mengaktifkannya sehingga terlihat lampu berwarna hijau, kemudian meletakkannya kembali ke kolong meja. ”Pakai otak dong,” ucap Larry kesal, ”...sekalian saja kamu gedor kamar Andrew!”

”Sorry,” ucap Sam singkat sambil terkekeh.

Reno menjelaskan ke Fay tanpa ditanya, ”Pengacak sinyal, ha­ nya jaga­jaga saja siapa tahu Paman menyadap pembicaraan kita.”

Fay memutuskan tidak bertanya lebih lanjut. Hubungan dan aktivitas antara paman­keponakan yang ia dengar atau terjadi di depannya selama ini terlalu rumit bagi otaknya.

Sam kembali mendesak Fay, ”Kamu belum menjawab per­ tanyaanku. Apa yang diminta Paman untuk kamu lakukan?”

Fay megap­megap sebelum menjawab, ”Aku...”

Reno memotong keras, ”Fay, jangan pernah membicarakan tu­ gas dengan siapa pun! I mean it!”

Sam terkekeh. ”Cuma coba­coba... siapa tahu dia keceplosan dan diseret ke basement lagi.” ”Damn you, Sam!” umpat Reno.

Larry tersenyum sopan dan berkata kepada Fay, ”Jangan ditang­ gapi terlalu serius, Fay. Begitulah Sam kalau sedang bosan...”

Fay mengangguk dan merasa agak gelisah ketika menangkap kesan berbeda di nada suara Larry, yang sebenarnya jauh dari so­ pan dan ramah.

Larry melanjutkan, ”Omong­omong soal bosan...” Ucapannya berhenti ketika terdengar suara pintu terbuka disusul suara­suara bercakap­cakap.

”BOYS, up here!” teriak Larry.

Kent tiba terlebih dahulu disusul dua pemuda lain. Yang satu tinggi dan kurus dengan muka kalem, sedangkan yang satu lagi tampak sangat muda, berwajah ceria dan berkacamata, dengan rambut lurus yang jatuh di bagian samping dan berdiri ke atas tak beraturan di bagian atas kepala—seperti tokoh kartun habis kesetrum.

Si kalem menghampiri Fay terlebih dahulu. ”Aku belum kenal.

Lou,” ucapnya sambil menjulurkan tangan.

Fay menyambut uluran tangan Lou sambil tersenyum tapi men­ dadak dikagetkan oleh gerakan si kacamata yang mendorong Lou dari samping.

”Hei, sabar dong!” seru Lou.

”Maaf,” ucap si kacamata. Dari cara mengucapkannya kentara sekali dia tidak merasa bersalah. Si kacamata tersenyum ramah, lalu langsung meraih tangan Fay yang masih menggantung di udara dan menciumnya. ”Hai, Fay, aku Elliot. Pleased to meet you.”

Fay yang masih melongo baru saja akan membalas sapaan Elliot ketika Elliot sudah membuka mulut lagi.

”Ada yang mau kutanyakan kepadamu... untuk memastikan saja... kamu sudah menikah diam­diam dengan Kent, ya?” tanya Elliot dengan sorot mata berbinar­binar.

Fay ternganga dengan muka panas. Sebuah bantal melayang ke arah Elliot, dilempar oleh Kent yang tampak sewot.

Terdengar suara Larry tertawa terbahak­bahak di sebelah Reno. Reno sendiri langsung menghardik Elliot, ”HEI, geek! Sopan se­ dikit, ya! Sekali lagi kamu mengganggu Fay dengan pertanyaan tolol seperti itu, awas!”

Elliot langsung mundur sambil bersungut­sungut.

Reno berkata kepada Fay, ”Maaf, Fay, Elliot adalah yang paling muda, umurnya baru enam belas tahun. Walaupun menurut pa­ man IQ­nya tinggi sekali, menurut kami sebagian otaknya belum berkembang sebagaimana manusia biasa yang tidak TOLOL.” Dengan kata terakhir itu, Reno kembali menyapukan pandangan tajam ke arah Elliot yang sudah duduk terlindungi di belakang Sam yang badannya memang besar.

Larry kembali berbicara, ”Tadi aku baru saja akan membahas tentang kemungkinan sebuah malam yang membosankan ketika kalian masuk. Jadi, apakah kita akan membiarkan malam ini ber­ lalu begitu saja dengan meringkuk ketakutan atau ada yang punya nyali lebih?”

Lou berkata, ”Yakin mau membicarakannya sekarang? Apa Fay termasuk bagian dari rencana?”

Fay kembali merasa seperti dipukul di dada, dan buru­buru bicara, ”Kalau aku nggak boleh dengar, aku rasa sebaiknya aku keluar saja.”

Reno menjawab cepat, ”Tidak ada masalah kalau kita bicarakan sekarang. Kamu bisa dengar, tapi aku tidak mau kamu terlibat dan mendapat kesulitan yang tidak perlu.”

Kent bersuara, ”Aku tidak ikut dalam rencana apa pun malam ini. Aku ada tugas besok.”

Sam menyerukan suara ayam yang berkotek sambil menirukan kepakan sayap ayam dengan menekuk dan menggerakkan lengan­ nya.

Larry menyeringai. ”Ayolah, jangan jadi pengecut. Kamu bah­ kan belum dengar ada ide apa saja. Aku sedang perlu sesuatu yang lebih gila. Bagaimana kalau kita balapan saja?”

”Balapan apa, mobil?” tanya Lou.

”Terlalu mudah.” Larry tertawa mengejek. ”Kita berlomba me­ lewati perbatasan Prancis—di titik mana saja—dan kembali se­ belum fajar. Kita bagi jadi dua tim. Setiap tim harus memberikan bukti berupa cap perbatasan yang diperoleh untuk setiap anggota­ nya. Tim yang kalah harus jadi bumper selama satu bulan.”

”Kamu gila! Itu kan bisa masuk Daftar Oranye!” seru Lou. ”Masih ada harapan masuk ke Daftar Kuning, apalagi mereka

pasti tahu kita melakukannya cuma karena iseng... contohnya waktu kita semua kabur ke Ibiza dulu. Lagi pula aku kan tadi bilang lagi perlu sesuatu yang gila,” ucap Larry lagi santai.

Fay menoleh ke Reno, mengharapkan penjelasan cuma­cuma.

Untungnya Reno mengerti arti tatapan Fay dan menjelaskan. ”Melewati perbatasan negara tanpa instruksi atau izin adalah

pelanggaran yang masuk kategori Daftar Oranye. Kalau tim yang kalah jadi bumper, berarti mereka akan menjadi kambing hitam bagi semua pelanggaran di rumah yang dilakukan tim pemenang selama satu bulan ke depan. Itu berarti, mereka akan mengakui kesalahan­kesalahan yang tidak mereka lakukan, yang sebenarnya dilakukan tim pemenang, dengan risiko berhadapan dengan empat algojo gila yang sekarang sedang ada di ruang duduk.”

Sam mengumpat pelan, ”Sialan! Kalau kita taruhan dari kema­ rin kan ada harapan aku tidak jadi terdakwa di hadapan Steve.”

”Kamu kan belum tentu juga menang balapan,” sahut Reno, lalu berkata kepada Larry, ”satu bulan terlalu lama. Kalau dua minggu, aku setuju.”

”Baik, dua minggu.”

Sam, Lou, Elliot, bahkan Kent, langsung setuju.

Mereka membagi tim dengan melempar koin dan akhirnya terbentuk dua tim: Reno, Lou, dan Elliot di tim yang sama, se­ dang Larry, Sam, dan Kent di tim lain. Larry berdiri. ”Balapan dimulai setengah jam lagi dan berakhir pukul enam besok pagi. Let’s gather, team!”

Terdengar dering bel dan Kent yang posisinya paling dekat dengan tangga langsung beranjak turun. Tak lama, Kent kembali ke atas dan berkata kepada Fay, ”Paman memberi pesan supaya kamu menemuinya sekarang.”

Dengan gugup Fay buru­buru berdiri.

Reno berdiri, mendaratkan satu kecupan di kepala Fay dan berkata, ”Selamat istirahat. Take care, lil’ sis!”

Larry juga berdiri lalu tersenyum sopan sambil berkata, ”Aku temani Fay turun.”

Yang lain mengucapkan salam perpisahan pada Fay. Mereka sekarang sudah duduk dalam formasi tim, bersiap­siap mengatur strategi untuk memenangi balapan.

Larry mengantar Fay hingga ke pintu. Tepat sebelum Fay me­ langkah keluar melewati pintu ruang rekreasi, Larry mendekatkan wajahnya ke wajah Fay dan berkata setengah berbisik, ”Kalau Pa­ man sampai bertanya apa yang kami rencanakan dan kamu beri­ tahu, kami semua akan jadi mayat hidup. Dan percayalah, aku sendiri akan membuat hidupmu sengsara, kalau itu yang terjadi.” Fay terpaku sesaat mendengar perkataan Larry yang diucapkan dengan dingin. Akhirnya ia hanya mengangguk dan segera me­ ninggalkan ruangan mengikuti seorang pelayan yang sudah me­ nunggu di depan pintu. Fay diantar kembali ke ruang besar

tempat menunggu makan malam.

Andrew sedang duduk di sofa ketika Fay masuk dan langsung tersenyum sambil bertanya, ”Bagaimana perkenalan kamu dengan Larry dan yang lain?”

”Baik,” jawab Fay singkat. Pikiran pun melayang ke perlom­ baan yang disebutkan Larry. Siapa kira­kira yang akan menang?

”Apakah mereka menyulitkan kamu atau sedang merencanakan sesuatu yang tidak normal?” tanya Andrew lagi dengan tatapan tajam yang menyelidik. Fay langsung merasa detak jantungnya melonjak drastis. ”Ti­ dak... Semua normal,” ucapnya sambil tersenyum sopan. Ancaman Larry langsung terngiang­ngiang kembali di telinganya.

”Saya akan bermalam di sini untuk mengawasi para berandalan itu, jadi malam ini kamu hanya berdua dengan Mrs. Nord di apartemen saya. Apakah saya bisa percaya kamu tidak akan me­ lakukan hal­hal di luar protokol?”

”Seperti apa?” tanya Fay gugup.

”Seperti meninggalkan kediaman saya tanpa izin, menghubungi teman atau keluarga, atau hal­hal lain yang bisa membuat saya tidak nyaman dan mengambil langkah yang akan merugikan kamu sendiri?”

Fay buru­buru menggeleng. ”Saya tidak akan melakukan hal­ hal seperti itu... Saya hanya mau beristirahat.”

Andrew tersenyum. ”Bagus. Istirahatlah yang cukup malam ini. Besok pagi tugas kamu akan dibicarakan lebih detail. Good night, Fay.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊