menu

From Paris To Eternity Bab 08: Persiapan

Mode Malam
Persiapan

FAY  menyuap  sendok  terakhir  omelette  sarapannya  tanpa  ter­ gesa­gesa. Di hari Kamis pagi ini ia duduk sendirian di kursi ruang makan kediaman Andrew dan sejak tadi ia melakukan hal yang persis dengan apa yang ia lakukan saat menghuni meja ma­ kan seorang diri di rumah: menerawangkan pikiran untuk meng­ usir bosan.

Fay menyandar ke kursi, membiarkan pandangannya melayang ke luar jendela dengan pemandangan deretan puncak gedung. Belum juga satu minggu ia tiba di Paris, tapi rasanya sudah empat windu! Ia ingat perasaannya ketika meninggalkan kediaman Philippe tadi malam—ia seperti dihinggapi perasaan ”home sweet home” yang biasanya muncul sehabis menginap semalam atau dua malam di luar rumah. Seolah ada sisi hatinya yang merasa nya­ man karena akan segera pulang ke rumah. Tadi malam ia masih bisa menegur dirinya sendiri, ”Rumah yang mana?!”, tapi ia tidak bisa mengingkari perasaannya sekarang yang begitu nyaman, se­ olah semua telah berakhir dan ia sudah tiba di rumah. Aneh... mungkin karena saking senangnya bisa meninggalkan kediaman Philippe, pikir Fay lagi.

Ingatan Fay langsung melayang pada papa dan mamanya yang sekarang pasti sedang menikmati liburan mereka di satu tempat entah di mana di Amerika Selatan. Ia berpikir alangkah menye­ nangkannya kalau bisa menikmati liburan bersama mereka—walau­ pun dijamin detik demi detiknya akan berlangsung garing bak kerupuk kulit, sudah pasti lebih baik daripada apa yang sekarang ia hadapi di Paris.

”Tapi di sini kan ada Kent,” sanggah satu sisi pikiran Fay yang kecentilan.

”Tapi percuma aja kalau sikapnya kayak batu,” sergah sisi judes­ nya tanpa ampun.

Fay tercenung ingat bagaimana kemarin, di sesi latihan yang berlangsung hampir sepuluh jam, hanya satu kali ia dan Kent sempat bercakap­cakap, yaitu saat membicarakan Reno setelah sarapan. Di luar itu, ia hanya menerima sapaan standar ”selamat pagi” dan ”apa kabar” dari Kent. Basi!

Ingatan Fay melayang kepada Reno. Suara teriakan Reno yang ia dengar di basement langsung kembali menghantui, mengundang pertanyaan­pertanyaan lain. Apa yang terjadi pada Reno dini hari kemarin? Di mana Reno sekarang? Bagaimana kondisinya?

Fay menarik napas panjang dan akhirnya memutuskan untuk duduk­duduk di ruang tengah. Tanpa pretensi, Fay melangkah masuk ke ruang tengah dan berikutnya langsung melompat sam­ bil memekik kaget ketika sebuah bantal mendarat tepat di muka­ nya. Setelah bengong beberapa detik, pikirannya baru bisa men­ cerna.

Reno?!

”Hi, lil’ sis? How are you?” Reno memampangkan cengiran lebarnya yang jail dan dengan muka bandelnya ia berjalan ke arah Fay.

”Ya ampun, Reno, kabar kamu gimana?” tanya Fay dengan perasaan sangat lega seperti batu besar baru saja diangkat dari dadanya.

Reno melingkarkan tangannya di bahu Fay dan mengecup ri­ ngan kepala gadis itu, sebelum mengajaknya ke sofa. ”Kabarku baik... berhubung kamu tanya sekarang dan bukan kemarin pagi.”

”Kamu sudah di sini rupanya,” ucap Andrew yang tiba­tiba sudah berdiri di jalan masuk ke ruang tengah. Andrew melirik bantal yang tergeletak di lantai sambil berdecak, lalu memungut dan melemparkannya ke sofa. ”Bagaimana keadaan kamu?”

”Not bad,” jawab Reno tak acuh.

”Kamu ditunggu dua jam lagi di kantor oleh Steve untuk mem­ bicarakan latihan,” lanjut Andrew.

Reno mengangguk.

Andrew tersenyum ke arah Fay, ”Bagaimana kabarmu? Saya dengar dari Philippe tadi malam, ada kemajuan signifikan dalam latihanmu?”

Fay merasa pipinya hangat. ”Lumayan.”

”Sebentar lagi saya akan memberi penjelasan tentang tugas kamu di ruang kerja saya. Akan saya panggil kalau waktunya tiba.”

”Oke,” jawab Fay sambil mengangguk, menyaksikan Andrew berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah tegap.

Begitu Andrew tidak terlihat, Fay langsung bertanya, ”Apa yang terjadi di basement? Aku mendengar teriakanmu saat di tangga.”

Reno menjawab enggan, ”Tidak terlalu menyenangkan, but I survived.”

”Kenapa sih semuanya harus disembunyikan segala?” gerutu Fay. ”Aku kan juga sudah pernah berhadapan dengan Philippe. Lagi pula aku bukan anak kecil yang bakal nangis kalau di­ ceritain.”

Reno tertawa. ”Umur sih sudah bukan anak kecil, tapi ke­ lakuan masih.” Sebelum Fay sempat protes, Reno melanjutkan lebih serius, ”Ada hal­hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.”

Fay pantang menyerah. ”Kamu mau latihan apa? Untuk tugas?

Atau itu termasuk yang tidak boleh diketahui juga?”

Reno menggeleng sambil berdecak. ”Fay, kamu itu bisa nggak ya memasang rem sedikit kalau bertanya? Kalau Paman dengar, kamu pasti dapat masalah lagi.”

”Lho, wajar dong aku tanya, kan dia tadi ngomongnya di depanku. Kalau dia nggak mau ada yang tahu, ya ngomongnya jangan di depan orang lain dong. Tadi dia juga menyebutkan nama ’Steve’... Aku sih rencananya mau tanya ke kamu Steve itu siapa,” ucap Fay sambil lalu.

Reno tertawa kecil. ”Dasar keras kepala. Untuk tugas, tidak bisa kuberitahukan. Mengenai Steve, bisa aku jawab—dia juga pamanku.”

”Galak juga?”

Reno nyengir lebar. ”Iya... siapa sih yang nggak?”

”Kent pernah bilang paman kamu yang namanya Raymond lumayan baik kok.”

”Dia memang yang paling baik...,” Reno berpikir sebentar se­ belum melanjutkan, ”...sebenarnya ada yang lebih baik daripada Raymond. Namanya James, tapi dia tidak... mm... gimana ngo­ mongnya ya... James agak berbeda. Dia bukan tipe operasional seperti yang lain, jadi aku hampir tidak pernah berurusan dengan dia.”

”Maksudnya operasional seperti apa?”

Reno mendesah. ”Agak susah menjelaskannya... James bukan tipe orang yang menangani masalah­masalah fisik... Dia lebih ke otak.”

Fay tertawa. ”Jadi maksud kamu, yang lain nggak pakai otak, gitu?”

Reno ikut tertawa sambil mengangkat kedua tangannya. ”Oke, aku menyerah. Ternyata sulit juga ketika harus membungkus satu cerita supaya masih bisa dimengerti tanpa membuka inti cerita­ nya. Sabar saja dulu, lain kali aku ceritakan lengkap.”

”Hah! Memangnya suatu hari nanti hal­hal ini jadi tidak ra­ hasia dan bisa diceritakan ke aku, gitu?” sindir Fay.

”Mungkin saja.”

Fay menelengkan kepala mendengar jawaban Reno yang ter­ dengar enggan dan seperti diucapkan dengan hati­hati. Fay me­ nyipitkan matanya sedikit ketika akhirnya bertanya, ”Kalau yang kamu sebut ’kantor’ tadi, pasti aku tidak boleh tanya­tanya sama sekali ya...?”

Reno kembali berdecak dan menggeleng, kemudian tatapan matanya beralih ke arah jalan masuk ke ruang tengah.

Fay mengikuti arah pandangan Reno dan melihat Kent masuk ke ruangan. Sambil membuang muka Fay mengutuki diri sendiri yang dadanya masih saja berdesir setiap kali melihat cowok pirang nyebelin itu... Yah, kadang dia baik sih... tapi tetep nyebelin... tapi bikin melayang... tapi...

”Good morning,” sapa Kent.

Standar, pikir Fay masam sambil membalas sapaan Kent pe­ lan.

Kent berjalan ke arah Reno yang masih duduk dan menjulur­ kan tangannya yang terkepal seperti tinju sambil menyapa, ”Are you okay?”

Reno menyambut dengan gerakan yang sama, menjulurkan kepalan tangannya juga hingga menyentuh kepalan Kent, sambil nyengir. ”Kapan­kapan kamu harus coba juga... Nggak jelek kok... apalagi kalau pingsannya cepat.”

Kent tertawa ringan. ”Dasar bodoh. No thanks.”

Fay masih sempat lemas sebentar mendengar tawa Kent yang mengalun, meskipun sebenarnya ia sedang bengong melihat apa yang dilakukan kedua cowok itu di depannya. Baru kali inilah ia benar­benar melihat mereka bercakap­cakap santai—walaupun menggunakan bahasa planet. ”Apa sih maksudnya?” akhirnya Fay bersuara.

”Bukan apa­apa, just a normal chat between family members,” jawab Reno santai sambil mengucek­ucek rambut Fay.

”Kamu sempat pulang kemarin?” tanya Kent sambil duduk di hadapan Reno.

”Nggak. Kenapa?”

”Tadi pagi aku dengar sekilas dari Larry, kemarin ada peng­ geledahan. Steve sedang bermalam di rumah dan rupanya sedang kurang kerjaan, dan Andrew tentu tidak menolak kalau ada yang mengambil inisiatif seperti itu.”

”Whooa... Ada yang kena?” Reno menegakkan tubuh dengan raut tertarik.

”Cuma si Sam. Si kuda nil tolol itu menggeletakkan pisau tem­ pur begitu saja di laci meja. Steve langsung kegirangan dan sepertinya Sam akan dirumahkan dengan Steve. Taruhan, dia pasti sudah minta ampun ke Steve pada hari ketiga.”

Fay menyimak dengan perasaan tersisih dan bertanya dengan muram, ”Kalau bukan family member nggak boleh ngerti, ya?”

Reno tersenyum dan menggodanya, ”Adik kecilku marah... It’s okay, urusan rumah. Kamu boleh tau kok. Bagian mana yang ingin kamu tanyakan?”

”Cerita tentang Sam dan Steve tadi, maksudnya apa?” Reno menyandar santai dan menjelaskan.

”Yang paling ditakuti oleh kami, para keponakan yang polos­ polos ini, adalah bila sewaktu kami lagi kumpul dan bersenang­ senang, setidaknya hadir dua orang paman dengan salah satunya sedang dalam kondisi jiwa yang labil.” Reno berhenti sebentar ketika mendengar Kent tertawa pelan, kemudian sambil nyengir ia melanjutkan, ”Dalam kondisi seperti itu, biasanya muncul ide yang aneh­aneh dari mereka, salah satunya yang paling umum adalah inspeksi mendadak untuk mengetahui kejahatan apa yang mungkin sedang direncanakan oleh kami semua.”

”Kejahatan seperti apa?” tanya Fay terperangah. Reno mendesah. ”Yah, kadang sangat tidak penting dan tidak berguna... seperti pergi tanpa izin untuk gila­gilaan semalam sun­ tuk di Ibiza... Atau mengempiskan semua ban mobil di garasi... Atau menghabiskan semua persediaan makanan Mrs. Rice dan memindahkan semua peralatan dapurnya ke gedung bekas istal di belakang rumah Philippe... Atau membantai anjing herder Sir Callaway, tetangga Paman yang sudah rabun dan setengah gila. ”

Fay terbelalak.

Kent tertawa. ”Jangan didengar, Fay. Tidak pernah separah yang terakhir itu kok.”

Fay mengangguk masih shock, lalu bertanya, ”Jadi, apa yang dilakukan paman kalian saat inspeksi?”

”Menggeledah semua sudut yang pernah kami kunjungi, mulai dari kamar, ruang belajar, mobil, hingga kamar mandi. Tujuannya adalah menemukan benda­benda terlarang atau petunjuk lain yang bisa berguna untuk mengetahui rencana kami,” jawab Kent.

”Kenapa Sam menyimpan pisau di kamarnya?” tanya Fay lagi.

Kent menjawab, ”Sam kolektor pisau langka. Pisau yang di­ temukan di laci itu adalah salah satu koleksi baru miliknya.”

Fay mengerutkan kening. ”Kalau begitu, kenapa paman kamu marah?”

Kent menjawab, ”Banyak kegiatan dan barang yang masuk kategori terlarang di rumah. Walaupun semua tergantung pada kasusnya, secara umum ada tiga kategori: Merah, Oranye, dan Kuning. Semua barang yang punya potensi untuk melemahkan fisik dan mengakibatkan kecanduan, dikategorikan ke Daftar Me­ rah. Contohnya adalah obat­obatan psikotropika, beberapa jenis minuman keras, dan rokok.”

”Kenapa rokok dan minuman keras disamakan dengan obat­ obatan psikotropika?” tanya Fay. ”Paman memastikan bahwa kami tidak punya ketergantungan fisik dan psikologis terhadap benda apa pun. Dia tidak mau kami memiliki kelemahan yang punya potensi untuk menggagalkan tugas dan membahayakan kami. Bayangkan saja kalau kami sudah kecanduan, bisa saja saat tugas kami menyempatkan diri untuk mencari barang­barang itu, dan itu tentu menjadi kelemahan yang fatal untuk kasus­kasus tertentu.”

”Jadi kalian tidak ada yang pernah merokok atau minum mi­ numan keras?” tanya Fay takjub.

Kent menjawab, ”Aku bisa pastikan beberapa dari kami pernah mencobanya, tapi kami tahu bagaimana membatasi diri sehingga tidak punya ketergantungan.”

Reno menambahkan, ”Meminum beberapa minuman keras ti­ dak dilarang untuk mereka yang berumur di atas delapan belas tahun, dalam jumlah wajar, contohnya wine. Tapi Paman tidak memperbolehkan kami menyimpan sendiri untuk konsumsi pri­ badi. Di rumah, wine dan minuman keras lain disimpan di tem­ pat­tempat tertentu, sehingga konsumsinya bisa dimonitor. Bila sempat ditemukan barang­barang itu di tempat lain, sudah pasti masuk Daftar Merah dan kami semua akan diinterogasi.”

”Bagaimana dengan pisau milik Sam?” tanya Fay lagi. ”Barang­barang persenjataan seperti pistol atau pisau, masuk ke

Daftar Oranye. Tapi ada juga di antara barang­barang sejenis yang masuk ke Daftar Kuning—boleh dimiliki asal dengan izin. Pisau yang dimiliki Sam masuk kategori terakhir—masalahnya, Sam ti­ dak meminta izin terlebih dulu sebelum membeli.”

”Apa itu berarti Sam akan mendapat masalah juga?”

Reno tertawa. ”Menemukan benda di Daftar Kuning bagi para pamanku seperti mendapat hiburan cuma­cuma... Mereka tidak benar­benar marah, tapi bisa mengerjai terhukum sampai mereka puas.”

Kent menimpali, ”Dalam kasus Sam, dia akan dirumahkan bersama Steve, salah seorang paman kami, selama satu minggu... sebenarnya mirip dengan latihan yang kamu jalani dengan Philippe, hanya mungkin kadarnya lebih berat.”

Fay meringis. Latihannya dengan Philippe saja sudah cukup menyengsarakan, tidak terbayang seperti apa latihan yang akan dijalani Sam kalau Kent mengatakan kadar latihan Sam akan le­ bih berat.

Reno menambahkan sambil tersenyum, ”Tenang, nggak separah kedengarannya kok. Sipir­sipir itu kalau untuk urusan di rumah lebih punya toleransi. Aku rasa mereka memang sengaja memberi ruang supaya kami bisa melampiaskan emosi berlebih akibat urusan­urusan kantor, asalkan bukan Daftar Merah...”

Reno mendadak berhenti bicara dan mengarahkan tatapannya ke jalan masuk ruang tengah.

Ternyata Andrew sudah berdiri di sana dan langsung berkata, ”Saya akan membicarakan tugas Fay dan Kent di ruang kerja saya sekarang. Reno, kamu sebaiknya ke kantor sekarang juga untuk menemui Steve—dia tadi menelepon dan sepertinya agak terlalu bersemangat.”

Kent mengeluarkan bunyi suara tawa tertahan.

Andrew kembali berkata ”Malam nanti saya mengadakan jamuan makan malam. Saya minta kalian bersiap­siap.”

”Fay ikut?” tanya Reno.

Andrew mengangguk. ”Ya. Fay juga saya undang. Make sure you all make the necessary preparation.”

Reno dan Kent mengangguk.

Setelah Andrew pergi, Fay bertanya, ”Memangnya apa yang harus disiapkan untuk makan malam?”

Reno nyengir. ”Kamu nggak bakal percaya kalau nggak lihat sendiri. Ini ritual yang aneh sekaligus seru. Semuanya begitu resmi dan penuh tata krama, bahkan harus pakai tuksedo se­ gala—kamu tahu kan... jas dan dasi kupu­kupu.”

”Kayak pesta aja,” seru Fay takjub. ”Wah, berarti aku juga ha­ rus pakai baju resmi dong. ” Kent menimpali, ”Makan malam sebenarnya dimulai pukul setengah delapan, tapi ada ketentuan setengah jam sebelumnya semua sudah harus berkumpul di ruang duduk. Selama menunggu pintu ruang makan dibuka biasanya kami mengobrol sambil ma­ kan atau minum yang ringan­ringan. Baru pada pukul setengah delapan pintu ruang makan dibuka dan semua masuk ber­ bondong­bondong.”

”Berapa orang yang hadir?” tanya Fay lagi.

”Biasanya baru diadakan kalau setidaknya ada delapan anggota keluarga yang bisa hadir.”

”Nggak ada ceweknya, ya?” Fay baru sadar selama ini semua selalu menyebutkan kata nephew atau keponakan laki­laki, dan uncle atau paman.

”Sepanjang sejarah McGallaghan yang aku tahu, hanya ada beberapa wanita, tapi sekarang tidak ada,” jawab Reno sambil berdiri lalu mengecup kepala Fay. ”Gotta go now... good luck, lil’ sis.”

”Thanks... good luck to you too,” balas Fay sambil tersenyum.

Reno lalu melangkah menuju lift, sedangkan Fay dan Kent menuju tangga mengikuti Andrew.

Di ruang kerja Andrew, sebuah foto sudah terpampang di layar kaca besar di salah satu dinding ruangan ketika Fay dan Kent masuk, menampilkan seorang pria dengan kepala plontos mema­ kai kacamata hitam yang sedang berbicara di telepon genggam.

Begitu Fay dan Kent duduk, Andrew langsung menjelaskan. ”Pria yang dikenal dengan nama sandi ’Blueray’ ini adalah se­

orang middleman atau perantara. Jadi dia menjadi penengah un­ tuk dua pihak yang tidak ingin berhubungan langsung dengan alasan apa pun. Tidak lama lagi dia akan menjadi perantara bagi sebuah transaksi. Sebuah barang akan diberikan kepadanya oleh pihak pertama untuk kemudian diantar olehnya ke pihak ke­ dua—barang itulah yang saya inginkan.”

Fay bertanya, ”Barang apa?” Andrew menjawab, ”Sebuah chip.”

Terdengar suara Kent seperti mengomel di sebelahnya. Fay me­ noleh ke arah Kent dengan bingung, dan lebih bingung lagi ke­ tika melihat raut muka Kent yang tampak kesal.

Andrew tersenyum tipis kemudian berkata pada Kent, ”Mungkin kamu bisa menjelaskan kepada Fay apa arti keterangan saya tadi.” Kent menjelaskan, ”Ukuran sebuah chip sangat kecil, jadi me­ dia yang digunakan untuk mengirimkan chip itu bisa apa saja. Bila pria ini cukup cerdas dan berhati­hati, akan sangat sulit bagi kita untuk tahu apakah barang itu sudah di tangan dia atau

belum.”

Hah???

Kent pasti melihat tampang bego Fay karena dia menjelaskan kembali, ”Kalau dia membeli rokok, bagaimana kita tahu bahwa rokok yang diberikan ke tangannya memang benar­benar rokok dan bukannya sudah ada chip yang diselipkan di dalamnya? Atau kalau dia masuk ke kamar mandi kemudian keluar lagi, bagai­ mana kita bisa tahu apakah chip itu sudah diletakkan sebelumnya di kamar mandi? Atau kalau dia bertabrakan dengan seseorang di jalan, apakah itu murni tabrakan atau chip itu berpindah ta­ ngan?”

Fay spontan bertanya, ”Harus serumit itukah?”

Andrew menjawab, ”Sebagian besar—kalau tidak semua—aktivi­ tas yang dijalankan Blueray adalah ilegal. Sebisa mungkin semua pihak yang terlibat tidak mau terlihat, jadi hampir pasti sebuah pertemuan biasa bukanlah sebuah pilihan.”

”Akan sulit sekali untuk membuntutinya tanpa dicurigai, ter­ lebih dengan kondisi seperti tadi, berarti kami harus ada dalam posisi yang cukup dekat,” ucap Kent.

Andrew kembali menerangkan, ”Blueray akan tiba di Paris be­ sok malam dengan pesawat charter dari Munich. Dia membuat reservasi atas nama ’Scott Preston’ di sebuah hotel bintang empat untuk satu malam, lalu akan berangkat dengan pesawat menuju Paloma hari Sabtu sore. Satu hal yang pasti, tidak mungkin dia pergi ke Paloma kalau barang itu belum ada di tangan.”

”Pembelinya ada di Paloma?” tanya Kent.

”Ya. Dan begitu dia tiba di Paloma, tidak akan ada kesempatan sama sekali untuk mendekatinya karena risikonya terlalu besar— menurut informasi yang saya terima, pihak yang akan menerima barang itu adalah keluarga mafia Italia yang berkuasa di Paloma.”

”Jadi kemungkinannya hanya Sabtu pagi,” gumam Kent. ”Hari Sabtu pagi dia akan mengikuti tur mengunjungi objek

wisata di luar kota Paris—bukan hal yang lazim dilakukan se­ orang pebisnis biasa untuk mengisi waktu luang yang hanya se­ tengah hari. Saya yakin serah terima barang akan dilakukan di salah satu objek wisata yang dikunjungi olehnya.”

Kent bertanya, ”Apakah kami akan ikut tur yang sama?” ”Tentu saja. Kalian akan check-in di hotel yang sama dan akan

mengikuti tur yang sama dengannya. Karena posisi kalian dengan Blueray cukup dekat, saya tidak menyiapkan tim lengkap untuk mendukung operasi—saya tidak mau Blueray curiga dan meng­ gagalkan pengambilan barang. Satu­satunya tim pendukung di lapangan adalah Russel. Tugas kalian adalah membuntuti Blueray dan melaporkan ke Pusat bila barang sudah ada di tangannya. Bila keadaan memungkinkan, Kent akan mengambil barang itu, tapi bila tidak, Russel yang akan menyelesaikan pekerjaan selanjut­ nya—keputusan itu akan ada di tangan Raymond, yang akan menjadi pemimpin operasi ini. Ada pertanyaan?”

Kent dan Fay menggeleng.

Andrew melanjutkan, ”Sekarang, sedikit pengantar untuk Fay tentang teori pengintaian.

”Tujuan utama pengintaian terhadap seorang target adalah mengawasi gerak­gerik target tanpa diketahui olehnya, untuk men­ dapat petunjuk tentang informasi atau aktivitas tertentu.

”Ada banyak jenis pengintaian: dengan alat atau tanpa alat, diam atau bergerak, dengan kendaraan atau tanpa kendaraan. Apa pun jenisnya, inti dari semua itu sama, lakukan ’tanpa diketahui target’—sangat mudah bila dilakukan terhadap orang awam, tapi sangat sulit bila target sudah waspada terhadap usaha­usaha pengintaian.

”Dalam operasi normal, pengintaian adalah kerja tim, bukan perorangan. Tapi ada kalanya pengintaian harus dilakukan seorang diri, dengan risiko yang lebih besar untuk dikenali target. Secara umum, pihak yang melakukan pengintaian tidak boleh mencolok dan tidak mudah dikenali. Dalam kasus kalian tidak berlaku, ka­ rena kalian akan ada di tur yang sama, dan dengan tur kecil se­ perti itu sudah pasti kalian akan dikenali oleh Blueray. Selama tur berlangsung, hal ini tentu akan memudahkan kalian, karena ka­ lian bisa dengan tenang mengamatinya atau bahkan bercakap­ cakap dengannya. Tapi pada acara bebas saat peserta tur bisa berjalan­jalan di luar rombongan tanpa pemandu, kalian akan lebih sulit mengikutinya karena dia mengenali kalian.

”Supaya lebih mudah membayangkannya, sekarang anggap ka­ lian ada di posisi target, yang sedang dibuntuti. Ada banyak cara untuk mengecek kalian dibuntuti atau tidak. Cara yang paling umum adalah dengan memainkan kecepatan langkah—kadang dipercepat dan kadang diperlambat tanpa kentara, misalnya ber­ pura­pura mengejar bus yang akan berangkat, atau berhenti untuk mengikat tali sepatu. Bila orang yang kalian curigai masih ada dengan jarak sama, berarti dia memang menjaga jarak dan ke­ mungkinan besar dia memang membuntuti. Cara lain yang juga umum adalah masuk ke satu toko atau restoran selama beberapa saat, kemudian amati pintu apakah orang tersebut masuk atau tidak, dan bila tidak, ketika kalian keluar perhatikan apakah orang tersebut masih ada atau tidak.

”Dalam kasus kalian sebagai pihak yang membuntuti, bila tar­ get kalian melakukan hal­hal seperti itu—memainkan kecepatan langkah, berhenti di etalase, masuk ke toko—kalian bisa meng­ asumsikan dia curiga sedang diikuti. ”Musuh sekaligus teman terbaik saat dibuntuti atau mem­ buntuti seseorang adalah pantulan kaca—dan kaca ada di mana­ mana. Pantulan dari kaca etalase, kaca mobil yang melintas dan yang sedang diparkir di pinggir jalan, kaca gedung perkantoran... percaya atau tidak, kita dikelilingi kaca dan cermin, dan itu bisa jadi senjata yang menguntungkan atau merugikan di posisi mana pun kamu berada.”

Andrew menatap Fay dan berkata, ”Untuk melepaskan diri dari penguntitan, kemampuan Analisis Perimeter dan Antisipasi Peri­ laku akan sangat membantu. Karena kamu akan bersama Kent sepanjang waktu, saya tidak akan memberikan penjelasan secara mendalam. Yang harus kamu lakukan nanti adalah melihat reaksi Kent dan melakukan hal yang sama.” Dia menyodorkan satu ber­ kas dokumen kepada Fay. ”Ini informasi tempat­tempat yang akan kamu kunjungi. Di dalamnya ada denah château Fontainebleau, peta kota Fontainebleau, dan peta kota Barbizon. Saya minta kamu menghafalkan bagian­bagian yang ditandai dengan lingkaran merah sebagai persiapan tugas kamu besok. Kent sudah menerima berkas yang lebih lengkap di kantor.”

Andrew melanjutkan, ”Besok pagi Raymond akan datang un­ tuk memberi pengarahan tugas kepada kalian berdua. Fay, saya mengizinkan kamu makan di luar siang ini. Setelah itu ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Kent, kamu ke kantor seka­ rang.”

Setelah Andrew berlalu, Kent beranjak sambil bertanya, ”Kamu mau makan siang di mana?”

”Nggak tau. Mungkin aku mau minta diantar ke sekitar tem­ pat kursusku dulu saja.”

Kent mengangkat alisnya sedikit. ”Baik, sampai jumpa setelah makan siang.”

 ”Heh, kok lewat sini?” tanya Reno kepada Kent yang sedang me­ megang kemudi mobil. Mereka baru saja makan siang dan Reno menumpang mobil Kent karena mobilnya sedang diservis di beng­ kel. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan kembali ke apar­ temen Andrew.

Kent tidak menjawab.

Reno melirik Kent, dan setelah melihat tidak ada tanda­tanda Kent akan menanggapi pertanyaannya, ia mengulurkan tangan dan menggoyang setir mobil.

”HEI...!” seru Kent.

Terdengar suara klakson dengan keras dari arah kanan. ”Kamu gila, ya?” gerutu Kent.

”Aku tadi tanya kenapa kamu lewat sini, ini kan memutar!” Reno berdecak kesal dan akhirnya memilih melihat gedung­ge­ dung di luar. Tubuhnya langsung tegak ketika melewati tempat kursusnya tahun lalu. Ia ingat tadi Kent sekilas berkata Fay akan makan siang di sekitar tempat kursus.

”Kamu cari Fay, ya? Aku kan sudah bilang kamu tidak usah mendekatinya lagi...”

”Aku tahu!” potong Kent. ”Would you just shut your mouth for a minute?”

Kent memelankan laju kendaraannya setelah satu blok melewati tempat kursus dan membiarkan mobil perlahan menyusuri ja­ lan.

Reno mengerutkan kening dan baru saja akan kembali mem­ buka mulut ketika melihat Fay sedang melambaikan tangan sam­ bil tersenyum ke arah seorang pemuda bertopi. Wajah pemuda itu tak terlihat dan segera dia menjauh lalu menghilang ke ti­ kungan di seberang jalan. Fay kemudian berjalan di trotoar se­ belum masuk ke limusin hitam yang diparkir di tepi jalan.

”Siapa itu?” tanya Reno sambil menegakkan tubuh.

Kent mendengus. ”Mana kutahu! Kalau tadi dia menyeberang di depan mobilku, pasti sudah aku serempet.” ”Kamu sudah tahu Fay makan siang dengan pemuda tadi?” ”Tidak tahu, cuma insting,” gumam Kent. ”Aku lihat Fay ma­

kan siang dengan pemuda itu hari Minggu kemarin di sekitar sini. Dan tadi waktu Fay bilang mau makan lagi di daerah sini, aku agak curiga.”

Reno terdiam. Tidak mungkin Fay punya hubungan istimewa dengan seseorang tanpa ia ketahui—untuk urusan­urusan remeh seperti sahabatnya, Lisa, yang naksir pemuda bernama Doni saja, Fay tidak pernah ragu untuk menceritakannya dalam e­mail­e­mail­ nya! Berarti Fay baru kenal dengan pemuda itu. Di mana mereka bertemu?

Dengan gelisah Reno menarik sabuk pengaman yang mendadak terasa menyesakkan. Skenario yang diusung otaknya terasa kurang pas. Kalau baru kenal, bagaimana Fay bisa bertemu lagi dengan pemuda itu—kebetulan biasa?

Mobil Kent dengan mulus menyalip limusin hitam yang di­ tumpangi Fay.

Reno menahan diri supaya tidak menoleh untuk mencoba me­ lihat Fay—satu hal yang sebenarnya juga percuma dengan kaca gelap pekat seperti itu.

Setelah beberapa saat menyelami pikiran dalam keheningan, Reno akhirnya bertanya, ”Kamu tidak coba tanya Fay siapa pe­ muda yang kamu lihat hari Minggu itu?”

Sorot mata Kent yang jengkel saat melirik menyadarkan Reno bahwa pertanyaan itu tidak perlu—sudah pasti Kent membuntuti Fay diam­diam. Sesaat Reno dihinggapi kekesalan baru karena Kent ternyata masih juga belum bisa menjauhi Fay sepenuhnya. Namun kekesalan itu tidak bisa berlama­lama bercokol karena mereka sudah tiba di tujuan. Dengan langkah lebar Reno masuk ke dalam gedung.

Adik kecilnya makan siang ditemani orang asing yang ditemui­ nya di jalan? Dua kali pula?

Not acceptable, lil’ sis.... Not acceptable at all!  

Fay melangkah di foyer dengan benak yang masih memutar per­ temuannya dengan Enrique siang ini. A nice and simple lunch, nothing more. Not yet, pikir Fay iseng saat mengingat secarik ker­ tas bertuliskan alamat e­mail Enrique di kantongnya dan po­ tongan kertas lainnya di kantong jaket Enrique. Fay tersenyum ketika membayangkan akhirnya ada juga cerita yang bisa dibagi kepada para sahabatnya. Sebenarnya ia tidak merasakan getaran apa pun ketika berada di depan Enrique, tapi yang jelas dengan cowok sekeren itu ceritanya dijamin bakal bikin heboh!

Di ruang tengah, melihat Reno dan Kent sudah duduk di sofa, Fay langsung menyapa dengan riang, ”Hai! Sudah lama ya datang­ nya?”

Langkah Fay langsung terhenti dan mulutnya langsung terkatup rapat ketika melihat dua pasang mata yang menatap tajam tanpa keramahan.

Reno berdiri lebih dulu dan menghampiri Fay. ”Kamu tadi makan di mana?”

Kening Fay berkerut. ”Di Café du Temps... Kamu tahu kan, di dekat sekolah kita dulu.”

”Sama siapa?”

Fay mendongak. Harga dirinya baru saja diusik. ”Memangnya kenapa?”

”SAMA SIAPA?!”

Fay mengentakkan kaki dengan kesal. ”Kenapa kamu ngomong­ nya bentak­bentak begitu sih??”

”Aku perlu tahu siapa pemuda bertopi yang tadi aku lihat! Se­ lama ini aku tidak pernah dengar kamu punya teman di Paris, jadi kamu pasti baru kenal dengan pemuda itu.   Bagaimana

mungkin kamu belum satu minggu di Paris tapi sudah dua kali kencan dengan pemuda yang baru kamu kenal!? Ingat, Fay,  aku dulu pernah bilang jangan percaya begitu saja pada orang  asing!”

Fay terdiam sejenak, berusaha menyatukan perkataan Reno de­ ngan fakta di benaknya, dan segera kemarahan menyergap. ”Bagai­ mana kamu tahu aku sudah dua kali bertemu dia...? Kamu mem­ buntuti aku ya? Keterlaluan! Ini sama sekali bukan urusan kamu!” Fay berhenti untuk menarik napas.

Kent yang sudah ada di samping Reno langsung menimpali dengan keras, ”Tentu saja ini urusan kami, karena bisa menyang­ kut keselamatan kamu juga!”

”What is going on?” suara Andrew yang tiba­tiba terdengar membuat mereka bertiga menoleh.

Andrew masuk ke ruangan.

Fay mengatupkan mulutnya rapat­rapat, berusaha mengatur napasnya yang memburu.

”Tidak ada apa­apa,” jawab Reno datar.

”Tidak ada apa­apa? Suara kalian bertiga yang berteriak satu sama lain terdengar hingga ke ruang makan dan kamu bilang ’tidak ada apa­apa’?”

Reno tidak menjawab, masih memberikan ekspresi datar. ”Fay, ada apa?” tanya Andrew.

”Tidak ada apa­apa,” jawab Fay dengan suara bergetar. Fay lalu menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih me­ rengut.

Andrew menghela napas dan berkata lebih tenang, ”Kent, kamu tahu saya bisa mengorek informasi ini dengan cepat. Biasa­ nya otak kamu lebih jernih daripada Reno, jadi bisa tolong kata­ kan ada apa?”

Andrew melirik ke arah Fay sebelum kembali menatap Kent dan menunggu.

Akhirnya Kent menjawab dengan enggan, ”Reno dan saya se­ dang bertanya pada Fay mengenai acara makan siang Fay tadi.”

Andrew menatap Kent sebentar lalu tersenyum sedikit sebelum kembali berucap, ”Pasti menarik sekali acara Fay siang ini hingga kalian bertengkar seperti itu.”

Fay akhirnya buka mulut, ”Tidak juga. Saya hanya bercakap­ cakap sebentar dengan seseorang, tapi mereka ini marah­marah tidak keruan!”

Andrew terlihat tertarik. ”Teman kamu?”

”Bukan... well, sekarang iya. Saya baru kenalan dengan dia hari Minggu kemarin.” Fay terdiam sebentar saat pikirannya memberi peringatan tentang kemungkinan tanggapan Andrew yang mung­ kin lebih parah daripada Reno, tapi karena sudah telanjur, akhir­ nya ia lanjutkan, ”Tadi kebetulan saya ketemu lagi dengan dia dan akhirnya kami mengobrol.”

”Apa yang kalian perbincangkan?” tanya Andrew sambil lalu.

Fay buru­buru menjawab, ”Tidak ada yang istimewa, hanya hobi, buku, sekolah, dan kursus bahasa. Kebetulan dia sekarang sedang kursus di L’ecole de Paris, jadi kami banyak bertukar cerita.”

”Well, tidak terdengar membahayakan. Selama kamu tidak bi­ cara tentang aktivitas dan alasan kamu ada di Paris, saya rasa ti­ dak ada masalah. Tapi, seperti yang bisa saya tangkap dari te­ riakan Reno tadi, tidak ada salahnya kamu berhati­hati. Bagaimanapun juga, kalian baru kenal.”

Fay buru­buru mengangguk.

”Baik kalau begitu. Lima menit lagi, masuk ke ruang kerja saya, ada yang mau saya bicarakan. Boys, sampai jumpa nanti ma­ lam,” ucap Andrew sebelum beranjak meninggalkan ruangan.

Begitu Andrew menghilang dari pandangan, Reno langsung bersuara kembali, ”Kamu dengar kata Paman tadi kan, hati­hati dengan orang yang baru dikenal!”

”Tapi kan tidak dilarang!” balas Fay sewot. ”Lagi pula, apa urusannya sih sama kamu??”

Reno memajukan wajahnya ke arah Fay. ”Kamu sudah aku anggap adikku sendiri... Dan yang namanya keluarga dalam ka­ musku berarti mencampuri urusan satu sama lain kalau dianggap perlu!”

Fay mengentakkan kakinya sambil mengepalkan kedua tangan­ nya kencang melihat Reno berlalu dari hadapannya dengan wajah penuh kemenangan, diikuti Kent yang senyam­senyum nggak keruan. Akhirnya sambil menggerutu Fay naik untuk menemui Andrew.

”Hai, Fay, silakan duduk,” sapa Andrew saat Fay masuk ke ruang kerja.

”Saya tahu kamu sudah berusaha keras selama menjalani la­ tihan dengan Philippe. Sekarang saya akan mengizinkan kamu mengecek e­mail dan membuat dua e­mail sebagai balasan, satu ke teman kamu dan satu lagi ke orangtua kamu. Saya juga meng­ izinkan kamu menelepon satu kali ke rumah, untuk sekadar me­ nitipkan pesan atau mengecek kondisi rumah karena orangtua kamu sedang tidak ada.”

Fay sempat mengangkat alis sebentar, lalu buru­buru menerima

laptop yang disodorkan Andrew.

”Saya percaya kamu sudah tahu aturan­aturan dalam menulis­ kan e­mail kepada mereka dan akan melakukannya dengan bijak. Setelah kamu kirim, e­mail itu akan singgah dulu ke komputer lain untuk memastikan isinya tidak melanggar aturan yang sudah ditetapkan, jadi pastikan saja kamu sudah melakukannya dengan benar.”

Fay mengangguk dan dengan cepat tangannya segera bergerak di keyboard untuk mengecek e­mail­nya di Yahoo!.

Ada empat e­mail yang belum dibuka. Dua e­mail yang ber­ tanggal empat hari lalu datang dari Reno dan Cici, satu e­mail bertanggal kemarin datang dari Dea, dan yang terakhir, bertanggal hari ini, adalah dari mamanya. Tangan Fay segera bergerak untuk mengecek e­mail dari Cici.

”Ya ampun, Fay... lo emang kacau deh! Baru aja lo bilang kemarin lo nggak pergi ke mana-mana, eh, tau-tau gue denger dari Lisa, lo pergi ke Paris! Gue setuju ama Lisa, kalau lo kali ini nggak cerita-cerita lagi, lo bakal kami musuhin! Bales ya, Non...”

Fay tersenyum lalu membuka e­mail dari Dea.

”Fay, apa kabar? Kok nggak ada kabar sih? Emang lo sibuk banget, ya? Kalau gue dan Lisa sih memang lagi sibuk banget karena bimbingan belajarnya udah mulai lagi nih. Lo kok nekat banget ya, mau ujian seleksi perguruan tinggi malah kabur ke Paris...? Ya udah deh, pokoknya disempetin aja belajar sebisanya. Nanti kalau lo udah balik, gue nggak keberatan kok ngajarin lo, secara kalau kita bantuin teman kan berarti kita ikutan belajar juga.”

Fay kembali tersenyum lalu membuka e­mail mamanya.

”Halo, Fay sayang, gimana kursusnya? Wah, di sini seru banget lho. Mama dan Papa memperpanjang perjalanan, dua malam tambahan di Lima. Wah, Papa jatuh cinta sekali dengan kota ini. Memang tepat keputusan Papa untuk memulai bisnis di sini. Ceritanya nggak bisa panjang-panjang karena Mama dan Papa cuma punya waktu sepuluh menit. Ini pun kebetulan ketemu komputer yang kosong di lobi hotel.... Wah, biasanya sih berjubel. Sudah ya, Sayang, nanti Mama sambung lagi ceritanya.”

Senyum di wajah Fay lenyap. Bagaimana mungkin mamanya hanya menyapa seadanya, dan lebih tertarik untuk menceritakan apa yang dia lakukan bersama Papa tanpa peduli pada apa yang sedang dialami anak gadis mereka sekarang ini? Tidak tahukah mereka anak gadis mereka selama beberapa hari terakhir ini begitu sengsara?

Tentu saja tidak tahu, Fay, pikir Fay kesal kepada diri sen­ diri.

Fay menghela napas. Tangannya menggerakkan mouse untuk membuka e­mail balasan dari Reno yang belum sempat ia baca karena keburu berangkat ke Paris.

”Hi, lil’ sis! Senangnya mendengar kamu akan ke Paris lagi! Begitu kamu sudah sampai di Paris, langsung kabari aku... lebih bagus lagi kalau kamu punya nomor yang bisa aku kontak. Aku ke Quito hari Rabu dan hari Sabtu sudah terbang lagi ke Zurich. Aku akan coba mengubah penerbanganku supaya bisa singgah dulu di Paris. Jadi, lil’ sis, aku tidak terima alasan apa pun dari kamu untuk menolak ketemu aku... Kalau alasan kamu sibuk atau jadwal padat, well, kan bolos beberapa jam saja setiap hari tidak akan membuat kamu dideportasi. Kalau kamu ada alasan lain, I’ll find a way. Lebih baik begitu daripada aku sampai datang ke Jakarta dan mengobrak-abrik rumah kamu sambil marah-marah, kan?

So, see you soon, lil’ sis! Don’t talk to strangers and stay away from troubles!

Setitik air mata menetes di pipi Fay. Kekesalannya atas sikap Reno tadi langsung menguap. Kalimat terakhir di e­mail Reno tentang larangan bicara dengan orang asing yang biasanya di­ tanggapi hanya dengan senyum, kini mengusik keharuan sekaligus kesedihan dalam hatinya—seorang pemuda yang baru menjadi ”kakaknya” selama satu tahun saja bisa menunjukkan perhatian yang lebih besar daripada orangtua yang sudah membesarkannya selama delapan belas tahun.

Tangan Fay bergerak cepat untuk membuat satu e­mail untuk para sahabatnya, menceritakan bagaimana kursusnya berlangsung dengan para teman baru. Ia juga menceritakan guru bahasa Prancis yang mengajarnya tahun lalu sudah pindah ke Seychelles dan gurunya yang sekarang sangat kaku dan galak. Philippe. Ia juga bercerita tentang seorang cowok keren yang ditemuinya di kafe. Enrique.

Setelah e­mail terkirim, Fay menutup layar Yahoo! dan menyo­ dorkan laptop ke depan Andrew.

Andrew menatap Fay lekat, hingga telepon genggamnya ber­ dering. Dia mengangkat telepon dan mendengarkan dengan sak­ sama lalu bertanya kepada Fay dengan alis terangkat, ”Kamu hanya mengirim satu e­mail?”

Fay mengangguk tegas.

Andrew mengatakan sesuatu di telepon kemudian menyodorkan telepon genggamnya ke tangan Fay sambil berkata, ”Satu kali sam­ bungan telepon ke rumah. Akan disambungkan oleh operator.”

Fay menerima telepon genggam Andrew dan menunggu.

Berikutnya terdengar suara Mbok Hanim. ”Halo?”

”Halo, Mbok, ini Fay.”

”Eh, Neng Fay, apa kabar, Neng? Waduuh, Mbok di sini ke­ sepian banget. Ibu dan Bapak nggak ada, Neng juga pergi. Kapan balik, Neng? Mbok kangen juga ditemenin nonton tipi sama Neng.”

Dengan suara bergetar menahan air mata, Fay menjawab, ”Be­ lum tau pulang kapan, Mbok. Mama dan Papa udah nelepon ke rumah?”

”Belum, baru Neng aja yang nelepon ke sini. Mbok juga se­ benarnya mau ngomong ke Ibu dan Bapak... Tapi Neng duluan yang nelepon.”

”Ngomong apa, Mbok?”

”Gini, Neng, ibunya Mbok di kampung kan udah tua dan sakit­sakitan... yang ngerawat kan adik Mbok, tapi sebentar lagi dia mau pergi ikut suaminya dagang bakso. Jadi ibunya Mbok minta supaya Mbok pulang.” ”Jadi, Mbok nanti nggak balik lagi?”

”Ya kayaknya sih nggak, Neng. Tapi kan Mbok mau ngasih tau Ibu dan Bapak dulu, jadi mudah­mudahan masih sempat ke­ temu Neng kalau Neng pulang duluan.”

”Oke, Mbok, hati­hati ya di rumah.” Tangan Fay bergerak me­ nyeka air mata yang sudah keluar.

”Ya, Neng, hati­hati ya. Mbok lihat di tipi kalau di luar negri suka banyak orang jahat... namanya teroris.”

”Dah, Mbok,” ucap Fay sambil menutup telepon tanpa me­ nunggu jawaban dari seberang, lalu mengembalikan telepon geng­ gam ke tangan Andrew yang masih duduk di hadapannya sambil menatapnya lekat.

Andrew bertanya, ”Is everything okay? Kamu tampak agak pu­ cat.”

Fay mengangguk. ”Everything is fine.”

Andrew berdiri, ”Kamu bisa beristirahat sambil mempelajari dokumen yang saya berikan tadi pagi. Are you sure everything is okay?”

”Tidak masalah,” tegas Fay lagi. Ia mencoba tersenyum. ”Cuma

homesick biasa.”

Andrew mengangguk. ”Baik kalau begitu. Sore nanti Ms. Connie akan datang dan membantu kamu menyiapkan diri untuk acara nanti malam. Setelah itu kamu akan diantar oleh Lucas. Sampai jumpa nanti malam.”

Fay mengangguk dan meninggalkan ruang kerja Andrew de­ ngan perasaan yang belum sepenuhnya pulih. Sebagian hatinya seperti kosong melompong dan ia tidak tahu sebelumnya bagian itu terisi oleh apa. Akhirnya ia memutuskan kembali ke ruang tengah untuk membaca dokumen yang diberikan Andrew.

Fay baru saja mengempaskan diri di sofa ketika Reno masuk ke ruangan.

”Hi, lil’ sis, kenapa kamu merengut begitu? Masih marah?” ta­ nya Reno. Fay melirik Reno yang duduk tepat di sebelahnya. Melihat ekspresi Reno yang nyebelin seolah tidak ada yang salah, Fay jadi jengkel lagi. ”Iya, aku masih kesal. Emang kenapa?!” jawab Fay judes.

Di luar dugaan, Reno tertawa. ”Baguslah.”

Fay bengong sebentar melihat wajah Reno yang tampak puas dan dengan nyolot ia bertanya, ”Apanya yang bagus??”

Reno tersenyum menang. ”Kalau kamu kesal, berarti sebenar­ nya kamu mengakui aku benar... bahwa kamu memang bertindak ceroboh tadi siang.”

Hah?

Reno melanjutkan, ”Bukan tanpa alasan aku mengkhawatirkan keselamatan kamu. Alasan pertama, kamu bukan penduduk Paris.... Turis adalah sasaran empuk bagi mereka yang punya niat tidak baik. Dengan waktu kunjungan yang terbatas, bila seorang turis tertimpa kemalangan atau musibah, kemungkinannya kecil untuk menyelesaikan masalah lewat jalur hukum. Alasan kedua, kamu masih tampak sangat muda dan pergi seorang diri. Bila diartikan dari sudut pandang negatif, kamu ibarat membawa iklan di badan bertuliskan ’saya mudah ditipu’.”

”Kalau aku sudah hati­hati dan tetap dijahatin juga, ya itu namanya sedang sial!” tukas Fay.

”Yang namanya hati­hati itu tidak termasuk mengundang pen­ jahat untuk duduk di meja yang sama!”

”Kamu itu gimana sih! Kalau dia memang mau jahatin aku ya pasti sudah dia lakukan sejak pertama dong. Aku bisa jaga diri kok. Aku kan bisa memilah­milah mana yang bahaya mana yang nggak. Kalau dia mau ngajak aku pergi malam­malam, ya pasti aku tolak. Tapi kalau cuma ngajak makan siang, kenapa nggak? Toh masih ramai dan aku nggak berduaan aja sama dia.”

”Sejauh ini kalian sudah ke mana aja?”

”Cuma makan siang. Itu pun ketemu nggak sengaja!” ”Berarti bukan kamu yang menghampiri dia ke tempat kur­ sus?”

”Ya bukanlah...”

”AHA!” potong Reno puas. ”Berarti kamu belum tahu kan dia bohong atau tidak waktu dia bilang ikut kursus yang sama.”

Fay terbelalak. ”Ngapain juga dia harus bohong segala?”

”Aku sih bisa kasih seribu alasan kenapa seorang lelaki ber­ bohong kepada wanita. ”

Fay melotot dan tangannya langsung menyambar bantal untuk dilempar.

Reno menangkap bantal yang dilempar Fay sambil tertawa. Ia lalu memajukan badannya dan melanjutkan dengan serius, ”Fay, aku benar­benar nggak sanggup membayangkan satu hal buruk terjadi padamu, apalagi kalau hanya karena kesalahan bodoh yang sebenarnya bisa dicegah.”

Fay menarik napas panjang. ”Apa itu berarti sikap kamu akan seperti tadi untuk segala hal?”

”Begitulah.”

Fay langsung mengeluh, dibalas tawa Reno.

”Get used to it, Fay,” tambah Reno ringan. ”Aku bersungguh­ sungguh waktu bilang kamu adalah bagian dari keluargaku dan aku lebih serius lagi dengan ide mencampuri urusan kamu bila aku anggap perlu.”

Fay menggeleng frustrasi, tidak tahu lagi bagaimana harus me­ nanggapi ucapan Reno.

Reno melihat arlojinya. ”Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa nanti malam,” ucapnya sambil mengucek­ucek rambut Fay.

Fay menyaksikan Reno berlalu meninggalkan ruangan. Walau­ pun masih belum bisa menerima sikap Reno, ia tahu bahwa bagian kosong dalam hatinya sedikit demi sedikit mulai terisi kembali.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊