menu

From Paris To Eternity Bab 07: The Bracelet

Mode Malam
The Bracelet

FAY bermimpi ada suara ketukan di kepalanya. Semakin lama, suara ketukan itu semakin keras, dan akhirnya menjadi jelas suara yang didengarnya tadi adalah ketukan di pintu. Baru saja ia me­ ngumpulkan nyawa secara perlahan, mendadak pintu terbuka dan Philippe muncul di pintu. Sang nyawa langsung menyatu saat itu juga dan Fay langsung duduk tegak di tempat tidur, dengan dis­ orientasi waktu.

”Ganti baju kamu dan temui saya di bawah sekarang,” ucap Philippe datar, kemudian keluar dan menutup pintu kembali.

Fay mendesah. Rasanya baru saja ia terlelap ternyata sudah pagi lagi. Sekilas ia melirik jam meja. Ketika melihat angka 22.30 tertera di sana, ia menjadi agak bingung. Ia mencocokkan angka itu dengan arloji Swatch­nya, dan begitu melihat angka yang sama, ia tertegun.

Setelah berganti baju dan merapikan kucir rambutnya, Fay pun bergegas turun dengan ketegangan yang sudah memuncak hingga ke kepala. Begitu tiba di foyer, Philippe sudah berdiri tepat di depan lemari geser menuju basement, yang sekarang terbuka lebar. Fay merasa napasnya tercekat ketika Philippe memberinya kode untuk turun terlebih dahulu, dengan tatapan seperti berkata, ”ladies first”.

Sampai di bawah, langkah Fay terhenti. Tubuhnya kaku saat pandangannya beradu dengan pintu besi yang mengarah ke ruangan tempat ia berhadapan dengan Philippe hari Minggu. Na­ mun Philippe tidak mengarahkannya ke sana, melainkan ke ruang di sebelah kiri yang masih gelap gulita. Begitu sakelar dinyalakan, ruang itu langsung terlihat terang bagai bermandikan cahaya pu­ tih, menampakkan sebuah lorong dengan jeruji di kanan dan kiri yang membatasi sel­sel tak berpenghuni.

Fay tersentak. Tempat apa ini? Penjara?

Philippe membuka lemari kecil di dekat sakelar dan mengambil salah satu kunci yang tersusun rapi di sana. Ia kemudian men­ dahului Fay menuju sel yang paling dekat, membuka pintu dan mempersilakan Fay masuk, lagi­lagi dengan kesopanan ala ”ladies first”.

Dengan langkah yang serasa tidak menapak di lantai, Fay masuk ke sel. Bau lembap yang basah langsung menyergap hidungnya.

Fay tersentak ketika tangan kanannya mendadak diraih oleh Philippe tanpa permisi. Lalu pria itu memasang benda seperti gelang logam pada pergelangan tangan Fay. Terdengar bunyi ”klik” saat gelang itu terpasang rapat.

”Kamu akan bermalam di sini sebagai hukuman atas pembang­ kangan kamu hari ini,” ucap Philippe dengan suara menggema, terpantulkan dinding batu di sel. Philippe berjalan keluar sel lalu menutup dan mengunci pintu sel, kemudian mengeluarkan remote dari saku.

Terdengar bunyi ”bip” kecil di gelang yang dipakai Fay ber­ samaan dengan nyala satu titik hijau di bagian tengah. Fay me­ nelan ludah dengan susah­payah. Ia sama sekali tidak punya ide apa fungsi gelang ini tapi ia yakin apa pun ini pastilah tidak akan menyenangkan, mengingat ini melibatkan Philippe.

”Jangan mengharapkan keajaiban terjadi lagi malam ini,” ucap Philippe dingin sebelum berlalu, bagai mengonfirmasikan ke­ curigaan Fay barusan.

Fay berdiri terpaku dalam keheningan tanpa tahu harus ber­ buat apa. Ia mengangkat tangan dan mengamati benda yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Gelang ini terasa agak berat dengan lebar sekitar empat senti dan agak lebih tebal sedikit dari­ pada Swatch yang masih melingkari pergelangan tangan kirinya. Ukuran gelang ini sangat pas—Fay bisa merasakan dingin logam di bagian dalam gelang yang bersentuhan dengan kulitnya.

Pandangan Fay kemudian beralih ke ruangan tempat ia kini berada. Total ada enam sel terbuka yang dibatasi dengan jeruji besi, tiga di masing­masing sisi. Di ujung, terlihat ada dua ruangan tertutup yang berhadapan, dengan pintu besi yang persis seperti pintu ruang yang dimasukinya kemarin.

Lantai sel hanya berupa semen dan dindingnya hanyalah su­ sunan batu yang bahkan tidak diplester. Di beberapa tempat di dinding terlihat lumut kehijauan yang menempel. Dalam semua sel, tidak ada perabot atau barang selain sebuah bangku panjang dari besi yang menempel ke dinding, termasuk di sel yang ditem­ patinya.

Akhirnya Fay duduk di bangku, mencoba berpikir apa yang akan terjadi padanya, termasuk apa kegunaan gelang di tangan­ nya. Namun, segera setelah telinganya terbiasa dengan dengingan hening, ia mulai diserang kantuk. Ia pun merebahkan diri di bangku besi sambil mengomel karena permukaan keras dan di­ ngin itu sangat tidak bersahabat bagi punggungnya yang hari ini bernasib kurang baik. Tidak lama kemudian ia sudah agak me­ layang antara alam mimpi dan alam nyata.

Dalam keadaan setengah melayang, Fay bermimpi pergelangan tangannya kesemutan dan semakin lama semakin sakit. ”AARGH...!” Fay terlompat sambil berteriak kesakitan. Tangannya!

Dengan horor Fay melihat ke arah tangan kanannya yang kini rasanya seperti ditusuk beribu jarum panas. Pergelangan tangan­ nya seperti terbakar perlahan­lahan dan ia meremas pergelangan tangannya tanpa hasil. Lampu di gelangnya yang tadinya ber­ warna hijau kini berwarna oranye terang.

Fay kembali berteriak dan mengaduh, hanya ditimpali gema yang terpantulkan sel­sel kosong yang kini menjadi penonton. Ia mendekap tangannya di dada dan melorot ke lantai sambil me­ rintih dan terisak tanpa bisa berkata apa­apa lagi, merasakan pa­ nas seperti melumat pergelangan tangannya tanpa akhir.

Terdengar suara di kejauhan, ”Fay...?”

Reno?

Sebelum pikiran Fay sempat mencerna, Reno sudah berdiri di depan sel dan dengan cepat membuka pintu. Reno langsung me­ mapah dan membantu Fay duduk di bangku sambil berkata, ”Fay, duduk tenang dan jangan bergerak.”

Tangan Reno terulur ke arah Fay, mengambil tangan kanan Fay yang gemetar yang masih didekap erat di dada, kemudian Reno membungkuk di depan Fay.

”Fay, dengar aku baik­baik. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menjaga emosi supaya tetap stabil dan aliran darahmu kembali normal. Sekarang tarik napas dalam­dalam... ayo, laku­ kan!”

Fay menutup mata dan mencoba melakukan apa yang dikata­ kan Reno. Tapi, rasa sakit di tangannya begitu menggigit dan ia kembali terisak. Fay segera menarik tangannya kembali untuk didekap di dada tapi tangan Reno menahannya.

Satu tangan Reno yang lain menyentuh dagu Fay.

”Please, Fay.... Lupakan rasa sakit yang kamu rasakan dan te­ nangkan dirimu supaya denyut nadimu kembali normal.”

Fay merintih sambil menutup mata. ”Tidak bisa... Rasanya pe­ dih sekali.” Satu sentakan keras langsung terasa di dagu Fay, me­ maksanya membuka mata dan beradu pandang dengan tatapan Reno yang tajam dan penuh kekerasan hati.

”BISA! Kosongkan pikiranmu. Perintahkan dirimu sendiri un­ tuk melakukannya.”

Fay kembali menutup mata dan berkonsentrasi. Sayup­sayup terdengar suara Reno, ”Tarik napas dalam­dalam dan perintahkan dirimu untuk tenang. Ulangi perkataan itu berkali­kali tanpa me­ mikirkan hal lain... Ingat, Fay, konsentrasi hanya pada perkataan itu dan JANGAN memikirkan sakit yang kamu rasakan.”

Fay melakukan apa yang diperintahkan Reno. Ia mengulang kalimat ”Tenang, Fay” berkali­kali sambil berkonsentrasi mende­ ngar ucapan dan napasnya sendiri.

Mendadak rasa sakit yang menyiksa di tangan Fay raib. Se­ tengah tak percaya Fay membuka mata perlahan dan yang terlihat pertama olehnya adalah Reno yang sedang menatapnya.

”It’s okay,” ucap Reno menenangkan.

Fay melirik gelang di tangannya; lampu di gelang itu kini su­ dah kembali berwarna hijau. ”A... apa yang dipasang di perge­ langan tanganku ini?”

Reno duduk di sebelah Fay. ”Alat ini digerakkan oleh tenaga baterai dan diatur untuk bereaksi bila aliran darah lebih atau ku­ rang dari kondisi normal. Apa tadi kamu tertidur sebelum alat itu bekerja?”

”Iya,” jawab Fay sambil menyeka sisa­sisa air mata di pipi dan sudut matanya.

Reno berkata, ”Saat tidur, organ tubuh beristirahat dan me­ ngurangi aktivitas. Denyut nadi menjadi lebih lemah karena jan­ tung memompa lebih pelan. Bila denyut nadi berada di luar batas yang ditentukan, gelang ini pertama­tama akan mengeluarkan cairan kimia disusul dengan jarum­jarum halus yang akan me­ nusuk kulit, kemudian lewat jarum itu arus listrik dialirkan— cairan kimia yang dikeluarkan pertama tadi akan menjadi peng­ hantar arus yang cukup baik hingga ke bagian dalam kulit selain juga akan menambah rasa sakit ketika jarum mulai menusuk ku­ lit.”

”Jadi, aku harus bagaimana?”

”Yang harus kamu lakukan malam ini adalah tetap terjaga hing­ ga baterainya habis, biasanya sekitar empat hingga lima jam.”

”Bagaimana caranya aku bisa tetap terus terjaga? Aku capek sekali setelah latihan tiga hari ini... Masa aku harus olahraga lagi malam ini supaya tetap bangun?” keluh Fay.

”Tidak, Fay, kamu tidak boleh melakukan aktivitas fisik yang berat karena itu akan memicu aliran darah menjadi lebih cepat dan akhirnya malah bisa mengaktivasi alat ini lagi. Dulu waktu hukumanku masih seperti ini, yang kulakukan adalah mengoceh tidak menentu atau berpura­pura sedang mengobrol dengan orang lain supaya tetap terjaga. Dan kalau alat ini telanjur bekerja, yang kulakukan adalah mengosongkan pikiran dengan melakukan yoga—mirip seperti yang kamu lakukan tadi.”

Fay terdiam, mencoba mencerna perkataan Reno. Reno juga terdiam.

Hening sejenak, hingga Reno kembali berbicara, ”Fay, aku min­ ta maaf atas semua yang sudah terjadi. Aku memang memulai semua ini dengan sebuah kebohongan, tapi semua yang terjadi setelah itu tidak ada yang palsu.”

Fay mendesah dan menatap Reno. Perkataan Andrew terngiang kembali di telinga. Terlepas dari rasa sakit hatinya karena merasa dikhianati Reno, memang sulit baginya untuk mengenyahkan Reno dari sudut istimewa dalam hatinya, terlebih setelah semua yang telah dilakukan Reno baginya.

Akhirnya Fay bersuara, ”Cerita tentang kamu yang lahir di Ekuador dan kematian keluargamu itu benar?”

”Iya, semua benar. Bahkan nama­nama yang pernah kusebutkan padamu semuanya benar.”

”Apa hubunganmu dengan Andrew atau Philippe?” Reno menjawab, ”Kamu ingat ceritaku bahwa setelah kepergian orangtuaku, aku tinggal dengan seorang pamanku di London?”

Fay mengerutkan kening mencoba mengingat, ”Iya...?”

Reno menyambung, ”Paman itu adalah Andrew. Hanya saja kediamannya yang ada di London bukanlah rumah utamaku. Aku tinggal di kediamannya yang lain di pinggir kota Paris hingga lulus sekolah.”

Fay diam sebentar sebelum tersadar, ”Jadi kamu sebenarnya sudah bisa berbahasa Prancis?”

”Oui, Mademoiselle. Bahasa Prancis sudah seperti bahasa ibu bagiku. Maaf kalau aku terpaksa berbohong karena tugas yang diberikan padaku adalah untuk mengawasimu selama kursus de­ ngan cara masuk ke kelas pemula.”

Pantas kadang Reno berbicara dengan kata­kata yang tidak per­ nah diajarkan di kelas, pikir Fay sambil mereka ulang seluruh kejadian dengan Reno selama kursus.

Fay kemudian bertanya dengan hati­hati, ”Apa kamu kenal dengan Kent?”

”Iya. Bisa dibilang dia itu ya adikku,” jawab Reno.

”Kalau begitu, waktu kamu melarangku menemuinya, itu cuma sandiwara?” tanya Fay dengan nada mulai meninggi.

”Tidak, Fay, itu bukan sandiwara. Aku memang tidak ingin kamu menemuinya lagi karena aku tidak mau melihatmu ter­ sakiti,” jawab Reno sambil menatap Fay dalam­dalam.

Fay sejenak larut dalam sorot teduh tatapan Reno yang me­ nenangkan dan terdiam. Ia lalu menyandarkan kepala ke dinding dan menggumam, ”Apa memang seperti itu tujuan Kent?”

Reno mendesah sambil mencondongkan badan. ”Tidak seharus­ nya dia terlibat hubungan denganmu. Aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut. Pada saatnya nanti mungkin kamu bisa mengerti.”

Fay terdiam. Ia memang tidak mengerti—sekeras apa pun ia mencoba mengerti apa yang terjadi, termasuk apa yang diucapkan Kent padanya, ia tetap tidak mengerti. Mendadak Fay teringat akan cerita Reno yang lain. ”Bagaimana dengan kejadian tahun lalu waktu kamu muncul tiba­tiba dan akhirnya tertembak? Kamu bilang kebetulan melintas di sana ka­ rena sedang mencari rumah pedesaan untuk disewa selama sisa liburan... cerita itu bohong, kan??” tuduh Fay.

”Ya. Itu hanya cerita yang kukarang untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya. Aksesku ke tugas yang kamu jalankan itu sangat tertutup, tapi kupikir kalau aku mengikuti kamu mungkin aku bisa membantu jika diperlukan. Aku sudah mengawasi ke­ diaman Alfred sejak kamu masuk dan aku membuntuti mobil van yang keluar dari pintu belakang.”

Reno meraih kepala Fay dan mengusapnya lembut. ”Fay, sejak kepergian keluargaku, kamulah satu­satunya orang yang bisa mem­ buatku merasa mempunyai keluarga kembali. Selain hal­hal yang berkaitan dengan identitasku, semua yang terjadi tulus kulakukan dari hati.”

Fay merasa matanya mulai berkaca­kaca. Tangan Reno terulur untuk menyeka air mata di sudut mata Fay. ”Ssshhh... ingat, ja­ ngan terlalu emosional.”

Fay mencoba tersenyum. ”I’m okay.”

Reno berdiri. ”Aku harus pergi sekarang. Philippe tidak boleh tahu aku masuk ke sini, jadi kumohon kamu tidak berkata apa pun tentang ini.”

”Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Fay.

Reno menjawab, ”Aku tidak mungkin membiarkanmu berada berdua saja dengan Philippe, apalagi setelah kamu membuatnya marah seperti tadi sore. Aku tahu persis seperti apa pamanku yang satu itu.”

Seulas senyum membayang di wajah Fay ketika mendengar perkataan Reno.

Reno memegang kepala Fay dengan dua tangan, kemudian mendekat dan mencium kepala Fay lembut. ”Take care, lil’ sis...,” ucap Reno lalu berjalan ke luar sel dan kembali menutup serta mengunci pintu jeruji besi.

Senyum terkembang di wajah Fay melihat Reno menggerakkan jari­jarinya membuka dan menutup mengisyaratkan orang yang berbicara.

Begitu Reno tak terlihat lagi, Fay kembali ditemani kehe­ ningan.

Reno beringsut­ingsut masuk ke saluran ventilasi di basement yang posisinya di bawah tangga putar, kemudian memasang kembali jeruji besi penutup saluran tanpa kesulitan. Di ujung, saluran ini berakhir di gudang dapur, dan dari sana ia bisa keluar melalui area servis yang posisinya tidak jauh dari bekas istal di belakang rumah—sebuah usaha yang tidak mudah untuk menjangkau adik kecilnya, tapi ia tidak keberatan sama sekali selama ia bisa menjaga Fay dengan baik.

Setidaknya kini perasaannya lebih ringan. Sepertinya Fay tadi telah memaafkan kesalahannya dan ia yakin kini hubungannya dengan adik kecilnya itu sudah kembali seperti sediakala. Itu saja cukup baginya sekarang, walaupun ia sudah tahu nasib buruk akan segera menyongsongnya—ia tahu dengan pasti, karena Andrew sudah memperingatkannya tadi, sesampainya ia di markas COU setelah meninggalkan kediaman Philippe.

Saat itu Reno baru saja mendudukkan badan di kursi ruang kerja Andrew ketika pamannya itu langsung angkat bicara.

”Saya sudah dengar dari Philippe bagaimana Fay tadi melawan­ mu saat latihan.”

”Yes, Sir. Tapi saya tidak menyalahkan dia karena...”

”Saya tidak menanyakan pendapat pribadimu tentang pelang­ garan itu!” potong Andrew.

Reno menutup mulutnya. Andrew memajukan tubuh dan menatap Reno lekat­lekat, ke­ mudian berkata, ”Selama satu tahun ini saya perhatikan hu­ bunganmu dengan Fay telah terjalin dengan baik.”

Reno menatap pamannya sambil menjaga ekspresi wajahnya agar tidak berubah. Jantungnya berdegup lebih kencang.

”Saya juga melihat intensitas kepercayaan yang ditunjukkan oleh Fay kepadamu setiap kali semakin bertambah, terlihat de­ ngan nasihat­nasihat atas masalah pribadi yang dimintanya kepada­ mu... dan yang telah kamu tanggapi dengan baik... Terlalu baik malah, hingga hubungan kalian menjadi lebih dalam daripada yang seharusnya. Tentunya kamu sadar apa yang kamu lakukan adalah pelanggaran protokol yang tidak ringan,” ucap Andrew lagi tanpa melepas pandangannya ke Reno.

”Yes, Sir.” Reno menelan ludah lalu mengumpat dalam hati. Pamannya berarti masih memonitor aktivitas Fay selama setahun ini dan menyadap akun e­mail Fay di Yahoo!! Sial!

”Saya tidak heran kalau Fay marah ketika kamu muncul di hadapannya tadi siang dengan identitas yang berbeda dari yang dia kenal. Tapi kamu tidak perlu terlalu khawatir karena saya ya­ kin sebentar lagi hubungan kalian akan baik kembali seperti se­ mula. Saya tadi juga telah memberi penjelasan kepada Fay, mem­ buatnya mengerti bahwa kamu tidak punya pilihan lain tahun lalu, jadi kamu tidak bisa terlalu disalahkan karena melakukan perintah saya.”

Reno berusaha menjaga agar wajahnya tetap datar walaupun otaknya kini berputar keras—ia masih belum bisa menebak ke mana arah pembicaraan pamannya.

”Saya pribadi bisa mengerti alasan pembangkangan Fay tadi, tapi tidak demikian dengan Philippe. Berdasarkan percakapan singkat antara saya dan Philippe tadi, sepertinya Fay akan kembali menemui masalah malam ini.”

”Masalah apa, Sir?” Reno mengutuk dirinya dalam hati karena kecemasannya terdengar dengan jelas dalam nada suaranya. ”Sepertinya Philippe akan menggunakan fte Bracelet pada Fay malam ini. Saya tahu sejak kemarin dia sudah gatal ingin meng­ hukum Fay seberat­beratnya.”

Reno langsung tegak dan berseru, ”You can’t let that happen!”

Andrew tersenyum sambil menyandarkan badannya dengan santai. ”Sure I can... tapi belum sekarang.”

Reno menyandar dengan gelisah. Ia merasa telah dijebak untuk masuk permainan pamannya, entah apa.

”Saya akan memberi dua pilihan. Pilihan pertama, kita biarkan saja Fay berusaha mengatasi gelang itu sendiri—berarti kamu bisa pulang dan tidur nyenyak malam ini. Pilihan kedua, kamu masuk untuk membantu Fay, tapi kamu akan tertangkap basah oleh Philippe. Tentunya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagimu karena bisa saya pastikan Philippe akan mengorek semua informasi tentang keberadaanmu di sana, mungkin hingga di Ruang Putih kalau suasana hatinya sedang tidak enak... dan saya tidak ingin dia tahu saya yang memberikan pilihan ini, jadi kamu berjuang sendiri.”

Ruang Putih adalah sebutan lain untuk ruang interogasi di COU. Berhadapan dengan Philippe dalam ruang itu adalah hal terakhir yang diharapkan semua orang. Tapi, Reno tahu maksud lain yang tersirat di balik perkataan pamannya barusan: kalau ia sampai harus berhadapan dengan Philippe di Ruang Putih dan gagal, ia akan berhadapan dengan Andrew, dan yang terakhir itu­ lah yang benar­benar harus dihindarinya.

Reno mengerutkan kening. ”Saya yakin bisa masuk ke sana tanpa tertangkap oleh Philippe.”

Andrew tertawa ringan. ”Reno, kamu tidak menyimak pilihan yang saya sampaikan tadi.”

Reno tertegun dan tidak bisa berkata­kata sejenak. Sudah sem­ bilan tahun ia berada di bawah asuhan Andrew, tapi pamannya ini tidak pernah berhenti mengejutkannya.

”Maksudnya, saya akan disodorkan ke Philippe kalau saya me­ mutuskan untuk membantu Fay?” tanya Reno perlahan sambil meresapi kalimatnya sendiri.

”Begitulah,” jawab Andrew santai. ”Kenapa?”

”Anggap saja ini pertolongan cuma­cuma dari saya supaya hu­ bunganmu dan Fay menjadi baik seperti semula. Kamu juga bisa menganggap ini sebagai harga paling ringan yang harus kamu bayar atas pelanggaran protokol kamu.”

”Kenapa Anda ingin hubungan saya dan Fay kembali normal? Apakah Fay sudah dinyatakan lolos observasi dan akan menjadi bagian dari COU?” tanya Reno dengan ketegangan yang begitu kentara di ujung kalimatnya.

Pertanyaan itu langsung disambut hunjaman tatapan yang sa­ ngat menusuk dari pamannya.

”Saya ingatkan bahwa kamu baru saja melanggar batas dengan menanyakan pertanyaan itu... tapi khusus kali ini akan saya ja­ wab—jawabannya adalah ’Ya’. Sekarang, saya sarankan kamu tidak mencoba peruntunganmu lagi dengan menanyakan pertanyaan lain di luar otoritasmu yang akan memaksa saya bertindak lebih jauh.”

Reno terdiam.

Andrew kembali berbicara, ”Sebaiknya kamu putuskan sekarang sebelum saya menjadi terlalu kesal dan memunculkan pilihan ke­ tiga yang pasti tidak berakhir baik bagimu dan Fay. Jadi, apa pi­ lihan untuk adik kecilmu malam ini?”

Reno menatap Andrew dengan dada berdegup kencang ketika mendengar istilah ”adik kecil” yang ia gunakan di e­mail disebut­ kan oleh Andrew. ”Kedua.”

”Baik. Jadi kamu akan masuk ke kediaman Philippe untuk memeriksa keadaan adik kecilmu. Saya tidak mau dikaitkan de­ ngan pilihan ini, jadi sekali lagi saya ingatkan kamu berjuang sendirian. Gunakan imajinasimu untuk membuat skenario yang kamu suka. Pastikan saja skenario itu cukup cerdas dan terdengar masuk akal supaya kamu tidak terlalu lama berada di tangan Philippe. You know how unpleasant it can get if he is upset.”

”Tidak masalah, Sir,” gumam Reno muram.

Reno merunduk ketika berjalan ke arah bekas istal, tempat ia akan berusaha mengistirahatkan badannya selama beberapa jam malam ini, setidaknya sampai nasib buruk sudah siap mengham­ piri.

Ketika sampai di peraduannya yang menempati sudut gelap di istal paling pojok yang dialasi serakan jerami kering, Reno me­ rebahkan diri dengan seulas senyum tipis di wajah, membalas se­ nyum Maria yang ia yakin sedang ditebarkan di surga. Ia pun menutup mata, berusaha tidak ambil pusing dengan pikiran apa yang akan menimpanya.

Entah berapa lama Reno telah jatuh tertidur ketika mendadak matanya terbuka, diperintah jantungnya yang mendadak sudah berpacu kencang.

Ada orang lain di dalam istal!

Reno setengah melompat untuk berdiri lalu mengendap­endap sambil menempelkan tubuh di pembatas kayu istal menuju arah suara gesekan sepatu yang terdengar olehnya.

Bayangan hitam berkelebat di lantai, mendekat.

Sekilas Reno menunduk dan mengintip dari celah­celah kayu yang membatasi istal dengan lorong di luar. Ia sudah siap me­ masrahkan diri untuk tertangkap ketika matanya melihat celana jins yang dipakai si penyusup.

Bukan Philippe!

Secepat kilat Reno melemparkan diri keluar dari istal, me­ nerjang siapa pun yang ada di sana sebelum didahului. Tubuhnya menghantam tubuh penyusup itu dan mereka berdua bergulingan di lantai. Reno segera bangkit dan sekilas melihat penyusup yang menggunakan topeng ski itu melakukan hal yang sama. Ketika Reno bersiap menyerang dengan kepalan tangan yang sudah mengudara, terdengar suara yang ia kenal bergema pelan, ”Tahan! Ini aku!”

Kent.

Reno menurunkan tangan sementara Kent membuka topeng ski.

”Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Reno dengan kening berkerut.

”Pasti sama dengan apa yang kamu lakukan, memeriksa ke­ adaan Fay,” sahut Kent jengkel.

Wajah Reno mengeras. ”Kenapa kamu masih juga mendekati Fay?! Aku tidak main­main dengan ancaman tahun lalu, dan an­ caman itu masih berlaku sekarang!”

”Keputusanku untuk meninggalkan dia bukan atas pengaruh ancaman kamu. Aku tahu apa yang terbaik untuk dia,” jawab Kent dingin.

”Lantas, untuk apa kamu ke sini??”

”Aku hanya ingin memastikan keadaannya baik­baik saja.

Mana aku tahu kalau kamu juga melakukan hal yang sama!” ”Kalau begitu kamu bisa pergi sekarang. ”

”I will!” potong Kent sebelum bertanya lagi. ”Is she okay?”

Reno menjawab enggan, ”Paman mengirim dia ke basement

dan memasang fte Bracelet.”

Kent terpaku sejenak, kemudian menggeleng sambil berkata, ”Aku tidak mengerti apa yang direncanakan mereka terhadap Fay.... Belum ada satu minggu dia di sini tapi sudah dua kali di­ kirim ke basement!”

”Maksud kamu ini bukan yang pertama?” Reno terperangah.

Kent mendelik. ”Itu yang aku katakan tadi! Hari Minggu dia tersesat saat sedang lari di Jalur Dua. Philippe pasti mengira dia melarikan diri, karena waktu ditemukan hampir tengah malam dia ada di koordinat delapan... kamu kan tahu itu hanya tinggal dua ratus meter saja ke jalan raya. Jadi dia langsung ditanyai oleh Philippe dan Russel di basement.”

”Shit!” umpat Reno pelan. ”Apa yang terjadi di basement?” Suara Kent bergetar ketika berkata, ”Aku tidak tahu persis.

Yang jelas luka yang diplester di tangannya baru ada setelah ke­ jadian itu—kamu tahu sendiri apa yang jadi favorit Philippe. Kalau Andrew tidak datang, aku tidak terbayang akan ada berapa plester di tangannya dengan tuduhan seberat itu!”

Reno menunduk, membayangkan betapa ketakutan adik kecil­ nya itu dan dadanya bergolak penuh kemarahan. ”Kenapa dia bisa ceroboh seperti itu, tersesat di jalur sebegitu mudah!” ucap­ nya lagi.

Kent terdiam sebentar sebelum menjawab datar, ”Aku yang membuat dia tersesat. Aku mencabut papan penunjuk arah di koordinat tiga.”

Reno menatap Kent dengan gamang ketika berusaha mencerna apa yang ia dengar dan tahu­tahu tubuhnya sudah bergerak me­ nerjang Kent, yang langsung terpelanting ke belakang menghan­ tam lantai.

Dengan kemarahan yang sudah memuncak hingga ke ujung kepala dan dengan posisi berada di atas Kent, Reno menekan le­ ngan kanannya ke leher Kent. Tangan kirinya sengaja ia posisikan di pergelangan tangan kanan untuk memberi tekanan lebih be­ sar.

Wajah Kent memerah karena sulit bernapas. Sekuat tenaga Kent berusaha menahan tekanan lengan Reno dengan kedua ta­ ngan, kemudian berusaha mendorong Reno untuk membebaskan jalur napasnya.

Reno baru saja mengumpulkan tenaga baru untuk kembali menekan leher Kent ketika terdengar suara tercekik Kent yang berusaha bicara, ”...Aku... diperintah... Andrew ”

Apa???

Reno membiarkan Kent mendorongnya hingga ia terduduk di lantai dengan kedua lutut tertekuk ke atas. Setelah tidak bisa ber­ kata­kata sesaat, ia akhirnya bertanya lamat­lamat, ”Jadi maksud kamu kejadian di basement hanya sandiwara?”

”Tidak. Andrew memberitahuku untuk melakukan hal itu se­ cara diam­diam. Philippe benar­benar marah dan semua kejadian di basement pasti tidak dibuat­buat,” jawab Kent sambil menger­ nyit memegang lehernya.

”Kenapa?” desis Reno sambil menerawang memikirkan skenario yang mungkin dipikirkan pamannya.

”Mana kutahu!” sergah Kent sambil berdiri. ”Aku kira kamu bisa memberitahu aku!” ucapnya lagi sambil mengibaskan jerami­ jerami kering yang menempel di badannya. Dia kemudian me­ natap Reno dan berkata, ”Aku mengandalkan kamu untuk menjaganya. Selama kamu ada di dekatnya, aku tidak akan men­ dekatinya lagi. Tapi kalau kamu tidak ada, jangan cegah aku un­ tuk melindunginya, dengan caraku! And do me a favor, would you, jangan masukkan aku ke dalam laporanmu... Satu tahun terakhir hidupku sudah cukup susah. Perbatasan Siberia bukan tempat yang bagus walau hanya untuk dua bulan.”

Reno mengernyit mendengar lokasi itu disebut. Ia juga pernah merasakan hal yang sama. ”Tentu saja tidak. Sejak kapan aturan The Groundhouse tidak berlaku?” ucapnya sambil berdiri. The Groundhouse adalah istilah di antara para keponakan keluarga McGallaghan untuk menamai kelompok mereka dan aturan­ aturan main yang berlaku di antara mereka sendiri, di luar penge­ tahuan para paman.

Kent menjawab dengan wajah masam, ”Yang jelas, kamu me­ langgar aturan itu tahun lalu ketika memasukkan namaku di la­ poranmu ke Paman.”

Reno berkacak pinggang dan melengos. ”Oh, c’mon. Kamu kan tahu aturan pertama The Groundhouse untuk saling melindungi tidak mungkin diterapkan untuk kasus ini. Aku sedang melaku­ kan observasi atas Fay dan aku tidak tahu poin apa saja yang di­ nilai oleh Paman. Kalau aku tidak melaporkan semua hal yang terkait dengan aktivitas dan perilaku Fay, siapa tahu itu malah akan jadi bumerang untuknya dan menyebabkan Paman mengam­ bil keputusan lain di akhir observasinya.”

Tubuh Kent menegang. ”Kamu tahu apa keputusan Paman atas observasi Fay?”

”Fay lolos, jadi dia akan bergabung dengan COU.”

”Kamu yakin dia memang sudah lolos observasi dan bukannya observasi itu dilanjutkan tahun ini, dengan observer lain barang­ kali?”

”Aku sudah tanya Paman dan dia bilang begitu.”

”Apakah Fay sudah diberitahu dia akan bergabung dengan COU?”

Reno menjawab agak ragu, ”Aku rasa belum.”

Kent terdiam sejenak tapi tidak menanggapi lebih lanjut. ”Se­ baiknya aku pergi sekarang,” ucapnya kemudian sambil berlalu.

Reno tidak berkata­kata lagi, membiarkan kalimat Kent mengambang di udara sembari mencoba mencerna rentetan ke­ jadian seputar adik kecilnya. Akhirnya ia berdiri dan kembali ke peraduannya di pojok istal. Matanya kini benar­benar terjaga, dipicu pikirannya yang kalut.

Sebagaimana yang telah dipelajarinya selama bertahun­tahun menjadi bagian dari COU dan keluarga McGallaghan, ia tahu kepastian akan masa depan adalah barang langka yang tidak per­ nah nyata. Selama ini ia tidak pernah keberatan menjalaninya. Tapi kini galau timbul di hatinya, karena sepertinya hidup belum menjanjikan akhir yang membahagiakan bagi adik kecilnya.

Terdengar langkah kaki mendekat dan Reno menoleh.

Kent berlari kembali ke arahnya. ”Aku melihat bayangan Philippe mengendap­endap dari bangunan utama mengarah ke sini.”

Reno menunjuk jendela kecil di samping istal. ”Lewat sana!” Kent bergegas menuju tempat yang ditunjuk Reno. Tapi begitu menyadari Reno tidak mengambil langkah yang sama, dia segera berhenti dan menoleh kembali, ”Ayo, Philippe sebentar lagi sam­ pai.”

”Aku tidak ikut,” ucap Reno pahit. ”Kamu pergi saja.” Reno melihat Kent terpaku menatapnya dan sambil menelan ludah ia kembali mendesak Kent, ”Sana, pergi!”

”Kamu gila! Kamu bisa habis di tangan Philippe!” Kent masih mengerutkan kening, tapi sesaat kemudian keningnya melebar kembali, seperti mengerti apa yang terjadi. ”My God... Aku rasa aku cuma bisa bilang ’good luck to you’.”

Reno melengos sambil mengibaskan tangan memberi kode Kent untuk buru­buru pergi.

Kent menggerakkan tangannya seperti memberi hormat. ”Wish you the very best of luck... I mean it. Thanks.” Kent kemudian ber­ balik, dan setelah dengan sigap mengangkat tubuh melewati jen­ dela, dia segera menghilang dari pandangan.

Reno tersenyum pahit sambil berbalik masuk kembali ke istal dan duduk di peraduannya di pojok. Ia tidak heran kalau Kent bisa menebak apa yang terjadi karena dia sudah tinggal dan di­ didik Andrew sejak kecil—jenis kegilaan pamannya itu memang tidak bisa ditebak begitu saja, tapi satu hal yang mereka tahu pasti, paman mereka itu memang gila!

Reno duduk tanpa bergerak. Suasana saat ini begitu senyap. Selain napasnya sendiri, tidak terdengar suara lain—bahkan tidak suara alam. Tangannya meraba­raba lantai dan mengambil se­ genggam jerami. Tanpa berpikir tangannya melempar jerami­ jerami itu sambil berhitung dalam hati. Pada hitungan ketiga ia tahu Philippe sudah ada di dalam—instingnya berkata begitu. Bulu kuduknya meremang dan adrenalin berpacu dalam pem­ buluh darahnya. Kewaspadaannya meningkat drastis terlepas dari keinginan untuk mengabaikannya dengan alasan perbuatan yang sia­sia. Skema istal dengan Philippe yang bergerak perlahan de­ ngan keanggunan seorang elf sebagaimana deskripsi Tolkien dalam Lord of the Rings, secara visual terlihat nyata dalam pikiran Reno.

Pada hitungan kedua puluh terdengar suara ”klik” yang sangat ia kenal di dekat telinga.

”Good luck to me,” ucap Reno pasrah dalam hati ketika mata­ nya beradu pandang dengan mata Philippe yang bersorot di­ ngin.

Fay tersentak ketika tangannya terasa seperti kesemutan dan sam­ bil menggerutu ia mencubit pipinya sendiri. Cahaya kelap­kelip berwarna oranye di gelangnya berubah warna menjadi hijau dan rasa kesemutannya pun hilang. Sejak tadi ia sudah berdiri tegak di tengah ruangan, berusaha melawan kantuk yang menyerangnya bertubi­tubi. Baru sekarang ia tahu orang memang bisa ketiduran sambil berdiri!

Sekilas Fay melirik arlojinya—pukul 02.00 dini hari. Ia baru saja akan melangkah untuk memulai kembali ritual jalan modar­ mandir yang membosankan ketika terdengar langkah kaki men­ dekat.

Kemunculan sosok Philippe membuat jantung Fay berdegup. Detik berikutnya jantungnya seakan mau lompat keluar ketika melihat Reno berjalan dengan enggan di belakang Philippe!

Philippe membuka pintu sel dan memberi Fay kode untuk keluar. Philippe mengeluarkan remote dan dengan satu bunyi ”bip” kecil, lampu hijau di gelang Fay mati diikuti munculnya dua celah di gelang. Philippe meraih tangan Fay tanpa berkata­ kata dan melepas gelang itu.

”Kamu bisa beristirahat di kamar...” Ucapan Philippe terhenti ketika terdengar nada getar telepon genggam berbunyi di saku celananya dan Philippe langsung menyingkir ke arah tangga un­ tuk mengangkatnya. Fay berbisik kepada Reno, ”Apa yang terjadi?”

”Aku tertangkap basah oleh Philippe saat sedang berada di istal,” jawab Reno.

”Kamu kan sudah dari tadi meninggalkan tempat ini. Me­

mangnya kamu tidak langsung pergi?”

”Aku masih ingin menengok kamu sekali lagi.”

Air mata Fay mulai mengintip di sudut mata. ”Aku minta maaf, Reno... Kamu akan... Philippe nanti...” Bayangan ujung pisau tajam milik Philippe kembali terbayang.

”I’ll be okay, lil’ sis,” ucap Reno sambil mencoba tersenyum.

Air mata Fay menetes. Perasaan bersalah memenuhi rongga batinnya—kalau saja ia tidak bersikap kekanak­kanakan saat la­ tihan, Reno tidak akan terlibat masalah seperti ini. Fay menutup mukanya dengan kedua tangan dan mulai terisak pelan, ”Reno, aku minta maaf ”

Tangan Reno terulur untuk menyibak kedua tangan Fay yang menutupi muka dan menghapus air mata Fay yang sudah mem­ basahi pipi. Reno kemudian menyentuh dagu Fay dan berkata, ”Fay, kamu tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf. Ku­ minta mulai sekarang kamu benar­benar berusaha tidak terlibat kesulitan lagi dengan Philippe.”

Fay mengangguk dengan air mata yang semakin deras. Dengan suara tercekat ia bertanya, ”Apa yang akan dilakukan Philippe kepada kamu?”

”Aku tidak tahu. Yang pasti, Philippe tidak akan membiarkan aku mendampingi latihanmu. So, can you promise me to stay out of trouble?”

Fay mengangguk.

Terdengar langkah kaki kembali mendekat dan Reno meng­ hapus air mata di kedua pipi Fay dengan satu gerakan cepat menggunakan kedua tangannya.

Philippe menyipitkan mata. ”Well, well... Ada saat mengharu­ kan rupanya.” Pandangan Philippe beralih kepada Fay. ”Kembali ke kamarmu sekarang. Latihan pagi dimulai jam lima—tiga jam lagi.”

Fay buru­buru mengangguk lalu berlalu dari hadapan Philippe, menuju tangga. Saat kakinya menjejak di anak tangga terakhir yang membawanya ke foyer, terdengar teriakan Reno.

Fay jatuh terduduk saat itu juga. Hening sejenak.

Terdengar kembali suara teriakan yang menyayat gendang telinga.

Fay meninggalkan basement dengan langkah terseok­seok me­ nuju kamarnya di lantai dua. Begitu menelungkupkan badan di atas kasur, ia terisak histeris dengan perasaan terguncang.

Ia tahu tidak ada satu pun tindakannya yang benar sejak hari pertama ia tiba di Paris. Dan kali ini akibat yang menyakitkan dari tindakannya tidak hanya menimpa dirinya, tapi juga orang lain. Perkataan Kent yang sebelumnya menyulut kemarahan kini terasa masuk akal: ”Tidak perlu mencari sebuah alasan atas se­ buah tindakan, yang lebih penting adalah akibatnya.”

Mulai sekarang, ia tidak akan mempertanyakan lagi apa pun yang diperintahkan oleh Philippe atau siapa pun. Tak peduli apa alasannya, ia akan melakukannya tanpa bertanya, dan dengan se­ baik­baiknya, kalau itu bisa membuat hidup orang­orang yang ia sayangi lebih mudah.

Dengan pikiran itu, Fay jatuh tertidur.

Tiga jam kemudian, Fay dibangunkan suara alarm jam meja. Fay mengerang ketika tangannya terasa kaku dan nyeri saat digerak­ kan—rupanya posisinya yang menelungkup di kasur sejak jatuh tertidur tiga jam lalu sama sekali belum berubah. Sambil menarik napas panjang, Fay langsung memaksa dirinya bergerak ke kamar mandi untuk bersiap­siap—satu­satunya tekad yang berhasil mem­ buatnya bergerak adalah ingatan akan Reno.

Fay baru saja tiba di foyer ketika mendadak terlihat bayangan Philippe yang muncul dari arah lemari geser yang mengarah ke basement. Dengan napas yang langsung terasa berhenti mendadak, Fay buru­buru naik kembali ke anak tangga pertama supaya tidak terlihat oleh Philippe. Apakah Reno masih ada di basement? Bagaimana keadaannya? Pikiran itu berkecamuk dalam benak Fay hing­ ga ia disadarkan suara Philippe.

”Selamat pagi, Fay,” sapa Philippe datar, seolah kejadian tiga jam lalu bukan hal yang luar biasa.

”Se... selamat pagi,” balas Fay gugup sambil berharap Philippe menganggap dirinya baru saja turun dari lantai atas dan tidak menyadari ia sudah berdiri di sini dari tadi. Dasar apes! Fay me­ nelan ludah sebelum mengumpulkan nyali untuk bertanya, ”A... apakah Reno masih di basement?”

Alis Philippe terangkat sedikit. ”Apakah ada bedanya bagi kamu dia ada di basement atau tidak?”

Fay gelagapan sebentar dan akhirnya menjawab pasrah, ”T... tidak tahu.”

”Then, don’t ask! Keluar sekarang, latihan segera dimulai!”

Fay mengikuti Philippe sambil mengomel dalam hati. Dasar jutek! Apa susahnya sih menjawab pertanyaan tadi?!

Latihan pagi dijalani Fay dengan benak dipenuhi kekhawatiran akan nasib Reno hingga bahkan pemandangan indah dari wajah Kent yang selalu berada di sisinya tidak bisa membuatnya me­ layang seperti biasa. Saat kakinya mengayun menapaki jalur lari, benaknya sibuk bertanya­tanya apakah Reno masih ada di basement, tergolek tak berdaya setelah entah apa yang dilakukan Philippe.

Setelah sarapan, Kent bertanya, ”Sejak pagi aku perhatikan pi­ kiranmu seperti berada di tempat lain—walaupun sebenarnya ada bagusnya juga. Kamu sadar tidak waktu tempuhmu tadi baik se­ kali sampai­sampai Philippe mengecek arlojinya lagi?”

Fay membetulkan kucirnya dengan gelisah dan menjawab, ”Tadi malam aku ke basement lagi dan Philippe memasang benda seperti gelang di tanganku... sakitnya minta ampun!” Fay berhenti sebentar untuk menarik napas sambil memperhatikan Kent yang masih menatapnya dengan ekspresi tak berubah, lalu melanjutkan, ”Reno datang untuk membantuku dan tertangkap oleh Philippe dan aku tidak tahu bagaimana nasib Reno sekarang. Tadi pagi aku coba tanya Philippe tapi dia tidak mau menjawab.”

”Kamu tanya Philippe?? Ya ampun, Fay... kamu benar­benar tidak pernah pikir panjang!”

”Memangnya seharusnya nggak boleh tanya dia, ya? Habis aku tidak tahu lagi harus bagaimana,” ucap Fay membela diri.

”Aku yakin Reno sudah pergi. Tadi pagi di depan gerbang mobilku berpapasan dengan satu mobil van yang baru saja keluar. You just have to trust me on this. Aku tahu pasti kegunaan mobil van itu.”

”Apakah itu pertanda baik atau malah buruk?” tanya Fay lagi.

Kent terdiam sebentar sebelum menjawab, ”Biasanya itu berarti sudah usai.”

Latihan selanjutnya dijalani Fay dengan sepenuh hati. Kom­ binasi antara janji yang diucapkannya kepada Reno dan pikiran yang melanglang buana tidak keruan ternyata membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Fay bahkan berani bersumpah sempat melihat wajah Philippe yang terkagum­kagum padanya—yah, mungkin sedikit melebih­lebihkan sih, agak takjub mungkin lebih tepat—saat ia berhasil melalui latihan rintangan dengan sukses, dengan napas yang tidak terlalu berkejar­kejaran seperti biasanya. Walaupun ia masih tertinggal jauh di belakang Kent, setidaknya selisihnya tidak sampai satu putaran. Latihan di Jalur Dua pun tidak menyengsarakan sebagaimana sebelumnya dengan kesadaran sang kaki yang sepertinya cukup tahu diri untuk tidak beristirahat berlebihan, terutama di hadapan Philippe.

Jam tujuh malam, latihan dinyatakan selesai oleh Philippe. Fay baru saja akan naik ke kamarnya di atas ketika Philippe me­ manggilnya kembali ke foyer.

Philippe menyodorkan telepon genggamnya. ”Fay, Andrew ingin bicara. Letakkan saja di atas meja ruang tengah kalau kamu sudah selesai.”

”How is your day, young lady?” ”Not bad,” jawab Fay. Garing!

”Latihan kamu dengan Philippe sudah berakhir. Besok saya yang akan memberikan sesi selanjutnya di kediaman saya.”

”Oke,” jawab Fay dengan kelegaan yang tak bisa dilukiskan. ”Lucas akan tiba kurang­lebih satu jam lagi, jadi kamu punya

cukup waktu untuk berkemas­kemas. Sampai jumpa besok pagi, Fay.”

Begitu telepon ditutup, Fay langsung melompat­lompat ke­ girangan. Tidak bisa ia percaya secara resmi sesi latihan dengan Philippe sudah usai, tuntas, tamat, selesai! Dan ia akan meninggal­ kan kediaman Philippe sebentar lagi. Fiuuuh... Hip hip horeee...! sorak Fay norak dalam hati sambil meluruskan tangan kanannya yang terkepal di atas kepala. Merdeka!

Setelah meletakkan telepon di meja ruang tengah, setengah berlari Fay menuju kamarnya, melompati dua anak tangga sekali­ gus di setiap langkahnya dengan senyum setengah gila terpampang di wajahnya.

”Bagaimana jalannya latihan hari ini?” tanya Andrew pada Philippe. Di telepon Philippe baru saja memberitahunya bahwa Fay sudah meninggalkan kediamannya. ”Tidak buruk. Harus saya akui, saya cukup terkejut dengan perubahan drastis pada hasil latihan hari ini.”

”Apa saja yang berubah sepanjang pengamatan kamu?” ”Perubahan yang jelas terbaca adalah waktu tempuh Fay yang

membaik secara signifikan di semua jalur.”

”Jadi, bila sekarang saya meminta kamu menilai kemampuannya dalam rentang nol hingga sepuluh, berapa nilai yang akan kamu berikan?”

”Kemampuannya saat ini akan saya beri nilai enam, tapi moti­ vasinya saya beri nilai delapan. Seperti yang kamu ketahui, moti­ vasi yang dimiliki seorang agen punya andil yang cukup besar dalam penilaian. Kemampuan seseorang akan dengan mudah bisa dibentuk bila motivasinya sesuai.”

Philippe terdiam sebentar kemudian berkata, ”Hal yang ter­ akhir itu agak mengejutkan saya...”

”Ya?” tanya Andrew santai.

”Sikap Fay dalam menyikapi latihan dan menjalankan perintah berubah total padahal tidak ada perubahan yang signifikan dalam cara saya melatihnya, baik dalam memberikan ancaman ataupun hukuman.”

Andrew menjelaskan, ”Motivasi Fay tidak bisa digerakkan oleh faktor eksternal secara langsung. Selama ini, faktor eksternal se­ perti iming­iming uang atau ancaman hampir selalu bisa meng­ gerakkan para agen kita untuk berprestasi sesuai harapan, tapi ti­ dak berlaku bagi Fay.”

”Saya bisa mengerti kalau ada orang­orang yang tidak bisa di­ gerakkan oleh iming­iming uang, tapi ancaman seharusnya cukup untuk menggerakkan siapa pun, terutama para agen kita. Motivasi untuk hidup adalah hal mendasar yang harus dimiliki seorang agen lapangan yang selalu menguji batas kehidupan setiap hari. Tanpa motivasi cukup, sama saja mereka mengundang kematian mereka sendiri dalam setiap langkah.”

Andrew menanggapi, ”Bagi yang lain, motivasi yang muncul adalah imbas, sedangkan bagi Fay, motivasi adalah akar. Bila benih­benih motivasi yang sudah ada dalam dirinya dipupuk de­ ngan tepat, motivasi yang tumbuh akan menyatu dengan dirinya dan tidak bisa digeser lagi.”

Philippe berdecak. ”Pastikan saja motivasinya tetap bertahan pada level yang dia tunjukkan sekarang ini.”

Andrew tersenyum. ”No problem, Philippe... No problem at all.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊