menu

From Paris To Eternity Bab 06: Reno

Mode Malam
Reno

RENO  berjalan  santai  sambil  menyandang  ransel  hijau  di  se­ lasar ruang kuliah Fakultas Ekonomi Universitas Zurich. Ini akhir tahun ketiganya di sana. Langkah kakinya menggema di selasar yang hampir kosong—hanya ada suara percakapan yang sayup­ sayup terdengar dari beberapa arah, seolah secara sia­sia berusaha memecah hening yang mengambang di udara. Satu minggu ke depan tidak ada jadwal kuliah karena ada ceramah maraton dari tiga profesor tamu dari Amerika. Karena sifat ceramah itu tidak wajib, cukup banyak mahasiswa yang merencanakan kegiatan lain di luar kuliah.

Sayang hanya satu minggu, pikir Reno. Ia memang akan meng­

gunakan waktu yang singkat ini untuk mengunjungi Quito, kota kelahirannya. Seandainya liburan musim panas telah tiba, aku pasti bisa menghabiskan waktu lebih lama di sana, pikirnya lagi. Sudut bibir Reno terangkat saat ingatan tentang liburan musim panas menyambangi pikirannya. Jadi, ke mana ia akan berselancar

tahun ini? Dengan langkah yang terasa semakin ringan Reno menuruni tangga menuju koridor ruang umum, membayangkan ombak­ ombak yang deru deburannya seakan sudah hampir terasa di gendang telinganya. Hawa musim semi ini langsung terasa lebih lembap dari biasa, walaupun belum mendekati negara­negara Asia yang pernah ia kunjungi. Di ftailand, tempat ia sempat tinggal selama hampir satu tahun setelah kelulusan SMA, udara terasa begitu menyesakkan, seakan semua cahaya yang dicurahkan mata­ hari dimampatkan menjadi partikel­partikel udara yang berdesak­ desakan memaksa masuk ke jalur napasnya, menyebabkan ke­ ringatnya bercucuran tanpa ampun.

Terlepas dari semua itu, tidak ada yang bisa menghalangi niat­ nya untuk berselancar dan melebur dalam gulungan ombak—bah­ kan kalau itu menyebabkan ia harus terdampar di pantai selembap apa pun di benua mana pun, dan membuatnya kering­kerontang bagai busa diinjak gajah.

Reno tersenyum dalam hati. Selain ftailand, Hawaii sepertinya menarik, pikirnya lagi. Atau bisa juga Bali.

Munculnya pilihan terakhir itu memaksa Reno berpikir lebih dalam. Sembilan tahun berlalu sejak peristiwa yang merenggut orangtua dan adik tersayangnya, Maria, persis setelah kepulangan mereka dari Pulau Dewata. Sudah sanggupkah ia menginjakkan kaki lagi di sana dan menapaki jejak­jejak kenangan yang ber­ serakan di setiap sudut pulau itu?

Mungkin tidak—setidaknya tidak sekarang. Berarti tinggal Hawaii dan ftailand....

”Hai, Reno!”

Sebuah sapaan renyah terdengar dari sebelah kiri. Reno me­ noleh dan melihat seorang wanita muda berkulit putih pucat de­ ngan potongan kurus tinggi bak model dan rambut pirang men­ juntai yang diikat tinggi di atas kepala seperti ekor kuda Tsar. Si seksi Yugo.

Gadis Yugoslavia yang nama aslinya Karina itu kini memam­ pangkan senyum termanisnya, menatap Reno dengan kerlingan sangat mengundang dan tidak bisa dilewatkan.

Reno tersenyum dan menghampiri Karina. Sejak dulu ia ter­ biasa menerima perhatian seperti ini. Tampak lebih matang dari usianya yang 22 tahun, dengan rambut ikal yang dibiarkan sedikit agak panjang, perawakan tinggi kokoh, dan kulit kecokelatan me­ rata yang diperoleh dari petualangan ke berbagai pantai untuk memuaskan hasratnya berselancar, hampir tidak ada wanita yang tidak menoleh untuk kedua kalinya bila melihat Reno. Dengan sikap simpatik yang tidak pernah ragu ia keluarkan, hampir pasti ia berhasil memenangkan wanita secantik apa pun—seperti saat ini.

”Hai, Karina. Impressive hair style, as always. Wanita secantik kamu harusnya berada di catwalk, bukan di koridor universitas yang membosankan seperti ini.”

Pancingan Reno mengena. Wajah Karina sekarang bersemu de­ ngan warna merah muda yang membuatnya sangat menggemas­ kan. Reno menggigit bibirnya sendiri sembari memperhatikan bibir merah muda tipis Karina yang mengilap dan menawan, dan mendengarkan susunan kata mengalun keluar dari celah yang ter­ bentuk di antaranya.

”Reno, rencananya nanti malam aku dan beberapa teman mau

hang-out di kelab. Kamu sudah ada rencana? Ikut yuk.”

Reno tertawa. ”Biar kutebak, kamu memilih tidak ikut kuliah para profesor itu, ya?”

”Well, melewatkan satu hari kuliah saja kan tidak ada pengaruh­ nya. Lagi pula aku yakin kamu juga begitu... Sejak kapan seorang Reno antusias menghadiri ceramah pilihan?” goda Karina.

Reno nyengir. ”Bagian yang terakhir itu tidak terlalu salah. ”

”Jadi, kamu bisa ikut, kan?”

”Aku belum tahu...,” kalimat Reno terputus bunyi pesan sing­ kat yang diterima di telepon genggamnya. Ups. Mungkin Kaia, wanita Turki yang sedang ia pacari. Wanita mungkin memang diciptakan dengan insting berlebih, pikir Reno heran sambil membuka telepon untuk melihat pesan yang masuk. Sosok Kaia langsung lenyap dari pikirannya, di­ gantikan umpatan dalam hati ketika melihat nomor yang tidak terdaftar di buku alamatnya, diawali dengan +254, kode negara Kenya. Menarik napas panjang untuk mengusir kesalnya, ia se­ kilas membuka pesannya dan sama sekali tidak terkejut melihat kalimat, ”Miss u so dearly. Call me. Tania.”

”So, bagaimana? Kamu bisa ikut?” tanya Karina penuh harap. Reno menggeleng dengan rasa sesal yang tidak dibuat­buat, ”Sayangnya tidak bisa. Ada urusan keluarga yang mendesak.

Mungkin lain kali.” Karina tampak kecewa.

Reno kemudian mendekatkan kepalanya ke arah Karina dan memasang wajah memelas. ”Aku betul­betul mohon maaf, urusan keluarga yang satu ini tidak bisa ditunda lagi, kalau aku masih mau dianggap sebagai bagian dari keluarga. Kamu tentunya tidak mau kan kalau aku muncul di depan kamarmu membawa ko­ per?”

Karina tertawa dan berkata menggoda, ”Sejujurnya, aku tidak terlalu keberatan.”

Berhasil.

”Aku mau kamu bersumpah kamu tidak marah, dan lain kali akan mengajak aku lagi,” sambung Reno lagi dengan wajah lebih memelas.

”Tapi aku tidak mau ditolak lagi,” ucap Karina merajuk. ”Kalau itu terjadi lagi, keesokan harinya aku pasti sudah ada

di depan kamarmu, berlutut membawa bunga... dan mungkin koper.” Reno mengedipkan sebelah mata. ”Gotta go now. Tschuss,” ucapnya sambil melempar senyum terakhirnya kemudian berlalu, diiringi lambaian tangan Karina yang masih tersenyum.

Dengan langkah cepat Reno kini berjalan menuju telepon umum yang ada di area kampus. Mengirimkan pesan singkat dari nomor telepon berawalan kode negara Kenya adalah cara me­ nyebalkan pamannya untuk memberitahukan ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Yang tertulis dalam pesan singkat itu sendiri tidak penting, karena inti dari diterimanya pesan itu hanya satu, yaitu ia harus segera menghubungi sang paman. Terkadang ia he­ ran kenapa pamannya tidak menelepon saja dan langsung mem­ beritahunya. Tapi, mengingat ia berurusan dengan Andrew McGallaghan yang masuk ke kehidupannya sejak sembilan tahun silam, ia tahu mengharapkan sesuatu yang normal adalah sesuatu yang mendekati mustahil.

Tangan Reno meraih gagang telepon dan sesaat kemudian su­ dah berbicara dengan pamannya.

”Saya minta kamu datang ke Paris sekarang juga. Ada dua tu­ gas yang menanti kamu segera, satu berlokasi Paris dan satu lagi di Peru,” terdengar suara jernih Andrew berbicara.

”Sir, bulan lalu saya sudah mengajukan rencana off untuk me­ ngunjungi Quito dan sudah disetujui. Saya akan berangkat besok sore!”

”Geser jadwal kunjungan kamu setelah tugas di Peru.”

”Baik,” ucap Reno dongkol. ”Tugas apa kali ini?” tanyanya sambil lalu. Pamannya biasanya tidak pernah menjelaskan apa­apa di telepon. Pertanyaan itu ia ajukan lebih untuk membuat paman­ nya jengkel daripada untuk mendapatkan jawaban.

”Kamu akan menjadi mentor bagi Fay di Paris. Detail yang lain akan saya sampaikan saat kamu melapor di kantor siang ini.”

Fay! Jantung Reno berdegup kencang. ”Sebentar, Paman...” ”Sir!” potong Andrew keras.

”I’m sorry, Sir. Apakah tugasnya Close Surveillence by Intervension seperti tahun lalu?” tanya Reno gugup. Pamannya me­ mang menerapkan panggilan yang berbeda untuk membedakan kapasitasnya sebagai seorang paman di rumah dan seorang atasan di garis komando COU. Suara pamannya terdengar jauh lebih tidak sabar ketika men­ jawab, ”Kamu tidak menyimak perkataan saya. Yang saya katakan tadi adalah kamu akan menjadi mentor, satu hal yang sama sekali berbeda definisinya dengan apa yang kamu sebutkan. Sampai jum­ pa siang ini.” Telepon ditutup.

Lambat­lambat Reno berjalan meninggalkan area kampus, mem­ biarkan pikirannya menyeretnya pada kenangan sewaktu ia men­ dapat tugas untuk mendekati Fay tanpa membuka identitas yang sebenarnya sebagai agen COU. Saat itu ia mendaftar di tempat kursus yang sama dengan Fay dan memasang kedok sebagai te­ man sekaligus kakak di depan Fay.

Peran yang awalnya ia jalankan semata sebagai bagian dari tu­ gas, namun akhirnya ia lakoni dengan segenap jiwa ketika Fay benar­benar menjadi adik dalam hatinya. Berkah yang menurut­ nya dilimpahkan dari Sang Buddha untuk meneruskan perannya sebagai kakak di dunia setelah kepergian Maria.

Sekarang ia ditugaskan menjadi mentor bagi Fay, yang berarti identitasnya sebagai agen COU akan terungkap. Bagaimana reaksi Fay kalau tahu kemunculan Reno dalam hidupnya tahun lalu merupakan bagian dari skenario Andrew? Apa yang harus ia kata­ kan nanti bila bertemu dengan Fay?

”Hai, Fay, aku akan menjadi mentor kamu... Pria yang men­ culik kamu tahun lalu adalah pamanku... Tentu saja yang kulaku­ kan tahun lalu adalah menipu kamu... Tapi tidak semuanya bo­ hong, jadi bagaimana kalau kita lupakan semua dan mulai dari awal?”

Reno mengumpat dalam hati sambil berjalan cepat meninggal­ kan kampus. Mendadak satu pikiran lain menyergap dan meng­ hentikan langkahnya secara tiba­tiba.

Apa hasil observasi Fay? Apakah tugas sebagai mentor Fay kali ini menandakan bahwa Fay sudah lolos dan akan bergabung di COU? Ataukah observasi itu dilanjutkan tahun ini dengan ob­ server lain? Reno kembali mengumpat dalam hati dan dengan langkah le­ bar ia melanjutkan perjalanannya. Ia akan mencari tahu jawaban­ nya begitu tiba di Paris siang ini. Segera.

Hampir sampai!

Fay mengembuskan napas lega melihat pengujung jalur larinya sudah sedemikian dekat. Bangunan rumah di sela­sela pepohonan di depannya sudah mulai terlihat. Bagai mendapat semangat baru Fay pun mempercepat larinya. Ia sekarang sedang berlatih kembali di Jalur Dua pada hari Selasa siang, setelah sepanjang pagi tadi berlatih di Jalur Tiga—latihan yang benar­benar membuatnya hampir gila!

Seakan belum puas menyiksa dengan semua perlakuan kejinya itu, pagi ini Philippe memberi kejutan lain. Fay ingat betapa se­ sak napasnya tadi pagi saat melihat sebuah jalur merayap baru yang khusus dibuat untuknya.

Dibuat persis di sebelah rintangan kawat yang lama, rintangan kawat ”istimewa” ini berukuran lebih panjang, dengan bukaan lebih kecil yang dibuat sangat pas untuk mengakomodasi tubuh­ nya—bahkan untuk Kent saja tidak muat.

Fay bergidik mengingat bagaimana sepanjang latihan merayap tadi Philippe terus­menerus meneriakinya untuk bergegas sambil memukul­mukul kawat dengan tongkat, hingga ujung kawat ber­ duri yang tajamnya minta ampun itu berkali­kali menyentuh le­ ngannya—beberapa malah memang menggores lengannya! Sinting!

Sikap Philippe juga tidak melunak. Apalagi sekarang dia sudah memegang catatan rekor Kent di Jalur Tiga, dan catatan itulah yang digunakan sebagai referensi untuk menghukum Kent dan Fay.

Fay mengembuskan napas sambil menggeleng mengingat la­ tihannya tadi pagi, dan mempercepat ayunan kakinya. Tepat ke­ tika ia sudah hampir sampai di ujung jalur setapak dan memasuki area lapangan terbuka, matanya menangkap ada satu orang selain Kent yang berdiri di depan rumah memakai baju latihan hitam­ hitam yang persis sama, ditambah topi. Sudah pasti bukan Philippe, karena tubuhnya tidak sekurus dan setinggi Philippe.

Andrew? Dengan tidak yakin Fay bertanya pada diri sendiri. Rasa ingin tahu dan harap­harap cemas membuat Fay bergegas mendekat.

Pria bertopi itu menoleh dan Fay merasa ada ruang kosong dalam otaknya yang tidak bisa ia cerna.

Reno?

Fay melihat Reno menjulurkan tangan ke arahnya. Reno? Apa yang dia lakukan di sini?

Fay melihat tangannya sendiri terjulur ke depan untuk me­ nyalami Reno.

”Hai, Fay. Apa kabar?” terdengar suara renyah yang dikenal menyapa.

Apa kabar? Apa maksudnya ”apa kabar”?

Fay terpaku menatap Reno, tidak bisa bahkan sekadar me­ rangkai kata­kata dalam pikirannya.

”Aku akan menjadi mentor kamu selama tiga hari ke depan,” ucap Reno lagi.

Fay menatap Reno dengan nanar. Pemuda yang selama satu tahun terakhir sudah menjadi kakak dalam hatinya, juga penyela­ mat, pahlawan bagi hidupnya. Bagaimana mungkin pemuda yang sama memperkenalkan diri sebagai seorang ”mentor” seolah tidak ada yang salah dengan identitas itu? Bukankah peran itu sama de­ ngan peran yang tahun lalu dijalani Kent? Apakah Reno bagian dari mereka? Bagaimana dengan semua kejadian tahun lalu yang melibatkan Reno? Apakah semua itu hanya kebohongan besar?

Perlahan­lahan satu bentuk perasaan yang tidak dikenali me­ rasuk ke relung kalbu Fay yang terdalam. Perasaan dikhianati yang begitu menghunjam itu langsung membuat rasa sesak yang tidak tertahankan dan Fay merasa matanya sangat panas ketika butir­butir air mata mulai merembes dari sudut­sudut matanya.

Fay melihat bibir Reno terbuka, mengeluarkan suara yang membantunya menapak kembali ke dunia.

”Philippe tadi memintaku memberikan hukuman padamu ka­ rena waktu tempuh yang begitu lama,” ucap Reno datar, kemu­ dian melanjutkan, ”sekarang, jongkok dengan tangan di belakang kepala, dan berjalanlah dengan posisi jongkok sepanjang jalan berkerikil di depan rumah hingga ke ujung dan balik kembali.”

Apa??

Fay menatap Reno dengan kobaran benci yang pasti sangat jelas terlihat. Dengan keras kepala Fay tetap berdiri mematung. Kalau Reno ingin ia melakukan hal serendah itu, Fay tidak akan membuatnya sebegitu mudah!

”Ayo, Fay, mulai!” perintah Reno agak keras. ”TIDAK MAU!”

”C’mon, Fay, don’t do this to me. Aku memang berutang pen­ jelasan kepada kamu, tapi bisa kita bicarakan nanti. Sekarang lakukan saja yang diperintahkan oleh Philippe. Aku tidak mau harus memaksa kamu melakukannya.”

”Ya sudah, paksa saja, kenapa ragu?? Aku toh tidak kenal kamu!” sahut Fay lebih ketus sambil mendongak dan melotot kepada Reno.

”Fay, please,” ucap Reno mendesak. ”Aku minta maaf atas apa yang terjadi tahun lalu, tapi saat itu aku tidak punya pilihan ka­ rena memang diberi tugas untuk mendekati kamu. ”

Ucapan Reno tidak bisa diselesaikan karena Fay memotong sam­ bil maju selangkah, ”Saat itu kamu mungkin tidak punya pilihan, tapi selama satu tahun terakhir ini kamu terus menipuku. ” Ka­

limat Fay tidak bisa dilanjutkan. Air matanya sudah tumpah tanpa ragu dan ia menutup mukanya dengan kedua tangan.

”Fay, ayolah, jangan menangis sekarang. Kita bicarakan saja nanti. Lakukan perintah tadi.” Suara Reno sudah terdengar lebih seperti memohon dengan putus asa daripada memberi perintah. ”Ada apa?” suara Philippe yang ternyata sudah ada di belakang

mereka memutus perdebatan.

Fay langsung menghapus air matanya secara serabutan.

Philippe kembali bertanya, kali ini ditujukan ke Reno, ”Apa yang terjadi? Beri saya penjelasan yang masuk akal sekarang juga atau nasib kamu akan berakhir sama dengan Fay malam ini!”

Reno baru saja membuka mulut untuk menjawab, tapi Fay langsung menyambar dengan sengit, ”Saya tidak mau latihan de­ ngan dia!”

Fay masih sempat melihat mata Philippe yang berkilat sebelum pada detik berikutnya ia merasa kakinya terbang ke udara. Fay terjengkang ke belakang dan mendarat dengan punggung meng­ hantam tanah disertai bunyi ”buk” keras. Fay berteriak kesakitan sambil menyumpah­nyumpah dalam hati—tulang­tulangnya di punggung serasa berserakan! Minta ampun!

Philippe berjalan mengitari Fay, kemudian membentaknya, ”ITU bukan pilihan yang ada di tanganmu. Bangun!”

Sambil mengerang dan mengernyit menahan sakit Fay berusaha bangun—terasa seperti ada yang bergemeretakan di tubuhnya. Ia memaksakan diri berdiri tegak, dengan dada yang rasanya sudah pecah berantakan.

”Saya ingatkan sekali lagi, saya tidak punya toleransi terhadap sikap membangkang seperti yang kamu tunjukkan tadi! Reno akan mengawasi latihan di Jalur Tiga hingga jam makan malam, dan kamu akan melakukan perintahnya—apa pun itu—tanpa syarat!” ucap Philippe menusuk, lalu berbalik ke arah rumah.

Reno dan Kent juga langsung berbalik, mengarah ke belakang rumah, berjalan di depan Fay sambil bercakap­cakap dengan suara pelan.

Fay lagi­lagi merasa sangat dikhianati dengan kenyataan yang baru ia sadari. Bukan hanya Reno yang telah menipunya, tapi juga Kent! Momen perkenalan Reno dan Kent saat mereka ber­ dua bertemu di tempat kursus langsung terbayang kembali. Mustahil mereka baru kenal saat itu! Fay mendadak merasa perutnya mual penuh rasa muak atas semua kepalsuan yang terjadi. Ia menghapus sisa­sisa air mata yang masih terlihat di wajahnya dan dalam hati bertekad menghapus semua jejak kenangan dua pe­ muda di depannya ini dari dalam hatinya dan tidak akan ber­ bicara dengan mereka berdua seumur hidupnya!

Sampai di Jalur Tiga, Fay sengaja menjaga jarak di belakang Reno dan Kent, tidak sudi berdekatan dengan dua orang brengsek yang semua sikapnya diselubungi kepalsuan. Sejurus kemudian, Fay dikagetkan gerakan Reno dan Kent yang mendadak berbalik dan bergerak mendekatinya dengan tatapan marah. Refleks Fay mundur satu langkah, sambil bergantian memandang Reno dan Kent yang dari bahasa tubuh mereka seakan siap menyerangnya kapan saja.

”FAY, bodoh sekali tindakanmu tadi! Lain kali coba pikir pan­ jang dulu sebelum bertindak!” kata Kent keras. Matanya menyo­ rotkan kekesalan yang sudah tidak bisa ditahan.

Fay merasa dadanya bagai dihantam kembali. Ia baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas perkataan Kent, tapi sudah terdengar suara Reno yang menghardik lebih keras.

”JANGAN pernah melakukan hal bodoh seperti itu! Kamu seharusnya sudah tahu Philippe seperti apa, dan apa pun yang aku katakan atau berikan, pasti akan lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari Philippe. Jadi, turuti saja apa yang kubilang tanpa bertanya dulu! Kalau kamu butuh penjelasan, bisa kamu tanyakan setelahnya!”

Fay terbelalak memandang Reno dan langsung menyemburkan unek­uneknya. ”Kamu masih berharap aku bisa percaya apa pun yang keluar dari mulutmu?? KAMU GILA!”

Fay melihat muka dan telinga Reno merah padam, tapi ia tidak peduli dan tetap memelototi Reno. Enak aja! Kent menggeleng, ”Kamu betul­betul keras kepala!” ”Terserah!” ucap Fay ketus.

Kent berkata kepada Reno, ”Mulai saja sekarang.”

Reno mengangguk sambil mengembuskan napas seperti ber­ usaha membuang emosinya, lalu berkata kepada Kent, ”Kamu tahu prosedurnya. Lakukan semua rintangan sebanyak tiga pu­ taran. Aku akan mencatat waktu tempuh untuk setiap putaran.”

Kent mengangguk dan langsung bergerak.

Fay melihat Reno menatapnya sebelum berkata singkat, ”Ikuti Kent!”

Fay memutuskan untuk menunjukkan kepada Reno bahwa ia mengikuti perintah pemuda itu dengan setengah hati hanya ka­ rena tidak ada pilihan lain. Dengan perlahan ia berlari, merayap di jalur Kent yang lebih lebar, jongkok, memanjat, menuruni tali, hingga ketika ia selesai dengan putaran pertama, Kent sudah men­ dahuluinya lagi untuk putaran terakhirnya. Dengan perasaan puas Fay melihat Reno yang tampak kesal di sisi lapangan, tapi sampai detik ini masih belum mengambil tindakan apa­apa. Apakah Reno akan mengadukannya kepada Philippe? Terserah! Itu urusan belakangan, yang jelas sekarang ia lebih puas!

”Awww...!” teriak Fay saat kakinya tersangkut sesuatu di tanah. Fay bisa merasakan frame demi frame ketika ia melayang dan ta­ nah menjadi semakin dekat dengan wajahnya. Oh, no! Déjà vu!

Namun ternyata hasilnya tidak persis seperti yang terjadi se­ belumnya, karena kali ini Fay berhasil menggunakan tangan kiri­ nya untuk menopang tubuh, dengan hasil yang lebih parah dari­ pada yang ia bayangkan. Tangannya seperti dihunjam beribu pisau di bagian dalam!

Fay menjerit sambil berguling di tanah, mendekap tangan kiri­ nya. Terlihat bengkak berwarna kebiruan menyembul di sepanjang bagian dalam tangannya, tepat di bagian yang sama dengan luka kecilnya yang masih diplester.

Reno dan Kent langsung berhamburan ke arah Fay. Reno yang tiba lebih dahulu langsung berjongkok di sisi Fay. ”Kenapa, Fay?” Tanpa menunggu jawaban, Reno langsung mengambil tangan Fay, yang langsung direspons dengan teriakan kesakitan oleh Fay.

Kent tiba di sisi Reno dan membungkuk untuk melihat tangan Fay. Wajahnya langsung tampak cemas. ”Doesn’t look good. ”

Reno menelusuri bengkak di tangan Fay dengan sedikit te­ kanan menggunakan dua jari dan Fay langsung berteriak sambil berusaha menarik tangannya.

”Sshh, diam dulu,” ucap Reno menggagalkan usaha Fay.

Reno tampak berkonsentrasi penuh dan Fay berusaha menahan rasa sakit yang menghunjam senti demi senti bengkaknya seiring dengan telusuran jari Reno. Sejurus kemudian, sejumput lega ter­ lihat di wajah Reno. ”Aku rasa tidak ada yang patah. Yang pasti ada urat yang terpilin.” Reno berdiri, membantu Fay berdiri, sam­ bil berkata, ”Kita kembali saja sekarang. Paman bisa memperbaiki­ nya dengan mudah.”

Kent berkata seperti menggumam, ”Kemarin Philippe sudah mengobati kaki Fay dengan cedera yang sama.”

Reno menoleh kepada Fay. ”Ceroboh sekali! Bagaimana mung­ kin hal seperti ini terjadi setiap hari kepadamu! Memangnya ini akan kamu jadikan hobi baru ya?!”

Sialan! Fay membuang muka, menolak berurusan dengan se­ orang pengkhianat yang sudah menghancurkan kepercayaannya.

”Reno...,” kata Kent dengan nada seperti menegur, tapi tidak meneruskan kalimatnya. Ia hanya menatap Reno tanpa menjelas­ kan lebih lanjut.

Fay melihat ekspresi Reno yang sejenak terperangah, seperti tersadar akan sesuatu, lalu terpaku menatap Kent.

”Apa sih maksudnya?” tanya Fay kesal. Ia sedang kesakitan se­ perti ini dan alih­alih membawanya segera ke rumah untuk di­ obati, dua pemuda di depannya ini malah tatap­tatapan dengan bego seperti ini!

”Aku telepon Paman sekarang,” cetus Reno mengabaikan Fay, mengeluarkan telepon genggamnya dari saku dan menjauh untuk menelepon.

Fay ingin sekali menyikut Kent sambil bertanya ada apa, tapi ia masih kesal dengan perkataan keras Kent yang menyalahkan­ nya.

Reno kembali. ”Dia sudah dalam perjalanan ke sini.” ”Apa­apaan sih?” tanya Fay kesal.

”SUDAH, jangan banyak bicara!” hardik Reno.

Fay melotot ke arah Reno, sesaat lupa dengan sakit di tangan­ nya. Ia tidak sempat mengeluarkan ucapan apa pun karena saat itu Kent berbicara kepada Reno.

”Kita kembali saja sekarang, Philippe tidak perlu tahu apa yang terjadi.”

Reno mengangguk kemudian menoleh ke arah Fay. ”Luruskan tangan kamu dan berjalan seolah tidak ada apa­apa. Ingat, Fay, apa pun yang terjadi, jangan sampai Philippe tahu kamu ce­ dera.”

Fay mengentakkan kaki dengan kesal tapi tidak sempat tercetus dengan tatapan Reno dan Kent yang begitu tajam. Apa-apaan mereka? Philippe bisa mengobati tangannya dengan cepat seperti dia mengobati kakinya kemarin pagi—satu jam hanya lebih se­ dikit—dan kedua cowok gila di depannya ini melarangnya ber­ bicara kepada Philippe. Apa mereka ingin membuat dirinya lebih sengsara? Sambil berusaha meredam amarah, Fay berjalan meng­ ikuti Reno dan Kent yang berjalan kembali ke arah rumah.

Begitu melihat Philippe menunggu mereka di depan rumah, Reno yang berjalan di depan menoleh dan mengingatkan kembali, ”Ingat, Fay, jangan mengatakan apa pun!”

Fay hanya cemberut sambil mengomel­omel dalam hati. ”Latihan berjalan lancar?” tanya Philippe menyambut mereka

bertiga.

Reno mengangguk. ”Sesuai rencana.”

Fay melengos pelan. Apanya yang sesuai rencana! Pandangan Philippe kini beralih ke arah Fay dan Fay dengan serbasalah berusaha menatap lurus ke depan, mengabaikan tatapan Philippe.

”Saya akan menghukum kamu atas waktu tempuh yang begitu lama. Merayaplah di jalan depan rumah ini hingga ke ujung, dan kembali ke sini. Lakukan sekarang!”

Fay menatap tanpa berkedip jalan berkerikil tajam yang me­ manjang di depan rumah. Dengan tangan berfungsi dengan se­ mestinya saja, hukuman ini dijamin bisa membuatnya bercucuran air mata karena luka­luka yang pasti akan memenuhi sikunya, terlebih latihan merayap yang ia lakoni sejak kemarin juga sudah meninggalkan lecet di sikunya. Apalagi sekarang....

Perlahan­lahan Fay menjatuhkan lututnya ke jalan berbatu dan serta­merta mengaduh ketika ujung­ujung kerikil yang runcing bagai melesak ke dalam kulitnya. Ia mencoba meletakkan telapak tangan kanannya, berharap bisa menopang tubuhnya yang mulai dicondongkan ke depan, untungnya berhasil. Namun begitu ia berusaha meletakkan telapak tangan kirinya, ototnya serasa ter­ cabut dan Fay berteriak kesakitan sambil mendekap tangan kiri­ nya.

”Ada apa?” tanya Philippe. ”Tangan saya terkilir,” rintih Fay.

”Oh, kamu harusnya bicara sejak awal. Tentu saja saya tidak akan meminta kamu melakukan hukuman ini dengan tangan yang cedera.”

Fay berdiri dan mengembuskan napas lega dengan reaksi di luar dugaan itu. Untung ia tidak mengikuti ucapan dua cowok sialan ini. Bisa­bisa sebentar lagi ia akan berakhir dengan cedera dan luka yang lebih parah lagi!

”Saya akan memeriksa kamu di ruang tengah. Tunggu saya di sana,” ucap Philippe lagi.

Fay melangkah ke ruang tengah diikuti Reno dan Kent. De­ ngan perasaan menang Fay duduk di sofa sambil melirik Reno dan Kent yang tetap berdiri dengan wajah kaku. Huh, dikira mereka itu siapa, bisa menyuruh-nyuruh seenak udel!

Sesaat kemudian Philippe masuk ke ruang tengah dengan tas hitam di tangannya. Tidak seperti biasa, raut wajahnya yang biasa­ nya kaku kini terlihat santai. Philippe duduk di meja di hadapan Fay dan memeriksa tangan Fay sebentar, melakukan persis seperti yang sebelumnya dilakukan Reno, kemudian berkomentar, ”Urat kamu ada yang berpindah tempat, sama sekali bukan masalah besar.”

Sudut bibir Philippe terangkat sedikit membentuk senyum samar­samar, kemudian dia berkata kepada Kent dan Reno, ”Pe­ gangi dia.”

Reno berjalan mendekati Fay, kemudian ketika tiba di dekat sofa mendadak terjatuh ke arah depan seperti tersandung sesuatu. Tubuhnya yang kekar menimpa tas hitam yang ada di atas meja, membuat tas itu jatuh dan isinya berhamburan ke lantai. Terlihat perban, alkohol, gunting kecil, dan benda­benda lain tersebar di lantai. Reno buru­buru berdiri, tampak serbasalah ketika Philippe berteriak kesal sambil mengangkat kedua tangan ke atas, ”Unbelievable!”

”Maaf...,” ucap Reno singkat sambil berusaha mengumpulkan barang­barang yang bertebaran di lantai, dihujani tatapan marah Philippe.

Fay tertawa dalam hati. Syukurin! Makanya jangan rese. Tau rasa deh, malah dia sendiri yang jatuh!

Philippe menggeleng dan bangkit dari tempatnya untuk ber­ geser dan memberi ruang bagi Reno.

Dengan canggung Reno bangkit dari lantai sambil memegang semua barang yang tadi berjatuhan di kedua tangannya, dengan wajah panik persis seperti film kartun.

Seperti tokoh di film kartun!

Fay terkesiap. Saat itu juga kesadaran menghinggapi benaknya.

Philippe bukan ingin menyuntiknya! Philippe ingin mengobatinya tanpa bius, itu sebabnya dia memerintahkan Reno dan Kent un­ tuk memeganginya dan Reno mencoba mengulur waktu!

Fay merasa sekujur tubuhnya dingin. Ya Tuhan, tanpa dibius! Entah seperti apa sakitnya! Perkataan Kent kemarin pagi tentang Philippe langsung terngiang­ngiang kembali di telinga dan dengan wajah pucat pasi Fay melihat Reno kembali merunduk seperti berusaha keras untuk menggapai sesuatu yang seolah­olah masuk jauh ke kolong sofa.

”CUKUP! Biarkan saja dulu! Sekarang lakukan yang saya su­ ruh!” ucap Philippe tidak sabar.

Reno berdiri dan Fay tahu wajahnya sendiri sudah pias begitu melihat raut wajah Reno yang putus asa karena sudah kehabisan cara untuk mengulur waktu.

Tangan Reno terjulur ke arah Fay untuk memegang lengan Fay, kemudian perlahan Reno menarik Fay maju sambil menekan­ nya ke arah lantai, memberi sinyal supaya Fay berlutut meng­ hadap ke meja.

Fay tidak punya kekuatan untuk melawan—wajah Reno yang menyiratkan ketakberdayaan bagaikan virus menular yang lang­ sung membuat ia kehilangan harapan. Reno meraih tangan kiri Fay yang cedera dan berikutnya Fay berteriak kesakitan ketika Reno meluruskan tangannya itu di atas meja dengan satu gerakan cepat tanpa peringatan. Dasar gila! Fay melirik Reno dengan kesal tapi Reno sama sekali tidak melihat ke arahnya.

Tangan Fay kini terentang di meja, ditahan dua tangan kokoh milik Reno, satu di lengan bagian atas dan yang lain di per­ gelangan tangannya.

Fay lagi­lagi tersentak ketika tangan kanannya diraih dan di­ piting ke belakang oleh Kent. Tidak menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuatnya terkunci tanpa daya.

Philippe bergerak dan berdiri di hadapan Fay, di sisi meja yang berseberangan, kemudian merogoh tas dan mengeluarkan alat lo­ gam seperti pencapit yang ujungnya berbentuk lingkaran pipih. Philippe mencabut plester yang menutupi luka kecil Fay, lalu me­ nempelkan penjepit logam di dekat siku tempat bengkak tangan Fay bermula, kemudian menekan benda logam itu perlahan sam­ bil mulai menggesernya.

Fay pun mulai menjerit ketika ototnya terasa seakan dicabuti.

”Good afternoon, everyone!” terdengar suara tenang mengalun dari arah jalan masuk ke ruang tengah.

Philippe berhenti dan tertegun. ”Andrew! What a pleasant surprise ”

Fay merasa jantungnya bagai melorot ke tanah saking leganya. Ia juga bisa merasakan kelegaan Reno dan Kent yang langsung melepas pegangan mereka terhadap dirinya.

”Apa yang terjadi?” tanya Andrew.

Philippe menjawab, ”Fay terkilir. Saya sedang mengobatinya.” ”Kenapa perlu dipegangi, bius kamu habis?”

”Ya,” jawab Philippe singkat.

Andrew berkata santai ke arah Kent, ”Di bagasi saya ada kotak obat. Coba cek apakah di sana ada cadangan obat bius.”

Kent langsung beranjak dari tempatnya, mengarah ke luar de­ ngan langkah lebar.

Fay mengembuskan napas lega diam­diam.

Andrew bertanya kepada Philippe dan Reno, ”Bagaimana jalan­ nya latihan hari ini? Well, selain masalah cedera Fay tentunya.”

Philippe berkata tajam, ”Tidak ada perbaikan yang berarti da­ lam kondisi fisiknya! Tidak hanya itu, dia juga membangkang saat latihan!”

Andrew menatap Fay dengan tajam sambil berkata, ”Fay, tidak dibenarkan untuk melakukan pembangkangan terhadap perintah, apa pun alasannya!”

”Hanya itu saja reaksi kamu?? Tidak heran kalau dia berani bersikap seperti tadi!” ucap Philippe sambil menyapukan pan­ dangan menusuk ke Fay.

Fay menunduk, sama sekali tidak berani menatap wajah Philippe. Ingin sekali rasanya ia bersembunyi di belakang badan Andrew supaya tidak perlu merasakan tatapan Philippe yang menghunjam.

Kent masuk ke ruangan membawa tiga buah suntikan dan me­ nyerahkannya ke Philippe.

”Banyak juga persediaan obat bius di mobil kamu,” ucap Philippe dingin.

Andrew menjawab ringan, ”Hanya untuk berjaga­jaga.”

Philippe langsung bekerja dengan suntikan itu, dibantu Reno yang tetap memegangi tangan Fay sementara Kent sudah duduk di sofa.

Segera setelah tangannya kebas, Fay bisa dengan leluasa meng­ amati cara alat itu bekerja. Ternyata memang hanya menekannya dengan keras sambil menggesernya sepanjang bengkak, dan de­ ngan bius lokal, rasanya seperti dielus­elus. Terbayang betapa sakit rasanya kalau tidak dibius!

Andrew berkata, ”Fay, kamu bisa beristirahat di kamar seka­ rang. Kamu akan dipanggil tepat sebelum makan malam.”

Pukul 19.45. Lima belas menit lagi makan malam disajikan.

Fay mendesah sambil melirik ke arlojinya. Ia sudah berpakaian rapi sedari tadi dan sedang mengulur waktu menunggu saat ma­ kan tiba sambil duduk di tempat tidur, sesekali mengamati ta­ ngannya yang sudah sembuh seperti sediakala.

Baru tiga hari ia ada di sini tapi sudah sedemikian banyak yang terjadi. Tidak banyak yang bisa ia cerna dengan kedatangan­ nya di Paris kali ini. Berbeda dengan tahun lalu yang hari demi harinya terasa masih punya makna walaupun ia jalani dengan kegelisahan akan nasibnya, kali ini ia merasa semuanya ber­ langsung tanpa arti walaupun terasa begitu lama. Jam demi jam yang ia lalui seperti hanya ditujukan untuk menyengsarakan diri­ nya, seakan nasib sedang menginjak­injak harga dirinya entah atas dasar apa.

Mungkin karena dulu setidaknya masih ada kursus bahasa, jadi masih ada unsur normal, pikir Fay.

Atau mungkin karena waktu itu setidaknya yang melatih ada­ lah Andrew, pikirnya lagi.

Fay menghela napas. Yang jelas, ia kini sudah tidak berani lagi mengasihani diri sendiri akan sebuah nasib buruk, karena setiap kali ia berpikiran seperti itu, berikutnya nasib membawanya ke dalam keterpurukan yang lebih jauh lagi, yang hanya menyisakan pertanyaan tanpa jawaban.

...sikap Philippe yang begitu keji...

...kepalsuan yang diumbar oleh Reno, tapi sikapnya yang begitu melindungi...

...sikap Kent yang mendua, kadang seperti tak peduli tapi ka­ dang begitu perhatian...

Sepertinya hanya Andrew yang sekarang berpihak kepadanya. Fay menyemangati diri sendiri. ”One step at a time, Fay.” Siapa tahu langkah berikutnya adalah langkah terakhir yang akan mem­ bawa kaki kembali ke rumah, pikirnya tanpa sebuah keyakinan.

Pintu diketuk dan Andrew masuk.

Fay tersentak dari lamunan dan ketegangan yang biasa me­ nemaninya datang kembali ketika Andrew menghampirinya.

Andrew menarik kursi dan duduk menghadap ke tempat tidur tempat Fay sedang duduk. ”Bagaimana tangan kamu? Sudah pu­ lih seperti sediakala?” tanya Andrew dengan sebuah senyum yang sangat simpatik.

Fay yang jengah dengan perhatian hangat itu hanya menjawab singkat, ”Sudah.”

”Saya dengar kamu tadi menolak untuk berlatih dengan Reno.

Apa benar begitu?”

Sebersit perasaan bersalah dan takut menghampiri Fay sekaligus dan ia membuang muka ketika menjawab, ”Iya, saya tidak me­ nyangka Reno... Saya kira dia teman kursus...” Ucapannya tidak bisa ia tuntaskan, tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan se­ muanya dengan tepat kepada Andrew.

”Saya tahu kamu pasti marah, mengira bahwa Reno menipu kamu tahun lalu. Tapi saya yang menyuruhnya melakukan hal itu untuk melindungi kamu, jadi dia tidak bisa disalahkan sepenuh­ nya.”

Fay terperangah menatap Andrew. Ia tentu saja bisa menebak Reno diberi perintah itu oleh Andrew, tapi fakta bahwa Andrew berada di depannya dan mengatakan hal itu sendiri dengan nada menenangkan tanpa ancaman apa pun benar­benar tidak bisa di­ percaya!

”Jadi, saya minta mulai sekarang kamu tidak bersikap ceroboh seperti itu lagi. Saya sudah pernah memperingatkan bahwa sikap Philippe agak keras, dan pembangkangan seperti itu hanya akan merugikan kamu, karena jelas sikap seperti itu sangat menghibur bagi Philippe,” lanjut Andrew.

Lagi­lagi Fay bengong sesaat mendengar ucapan Andrew yang terakhir. Tapi, melihat sorot jenaka di mata Andrew, ia langsung mengerti bahwa itu kalimat sindiran—seolah menghukum sese­ orang adalah hobi yang menghibur bagi Philippe. Fay pun ter­ senyum.

Andrew membalas senyum Fay kemudian berdiri, ”Makan ma­ lam sebentar lagi disajikan. Mau turun sekarang?”

Fay mengangguk dan dengan agak terburu­buru ia bangkit dari tempat tidur mengikuti Andrew yang membukakan pintu untuk­ nya.

Di ruang makan, semua sudah duduk mengitari meja makan sambil mengobrol santai ketika Fay dan Andrew masuk. Philippe dan Reno duduk bersebelahan di satu sisi yang menghadap pintu masuk sedangkan Kent ada di sisi yang membelakangi pintu, di hadapan Reno.

Andrew menarik kursi kosong di hadapan Philippe dan mem­ persilakan Fay untuk duduk, lalu duduk di ujung meja di antara Philippe dan Fay.

Mrs. Rice masuk sambil membawakan makanan pembuka dan Andrew menyapanya dengan hangat, ”Mrs. Rice, maaf merepot­ kan dengan kedatangan mendadak seperti ini.”

Mrs. Rice tersenyum dan berkata, ”Tidak masalah, Mr.

Andrew. Anda tahu saya selalu suka kejutan.”

Semua tertawa penuh arti—kecuali Fay yang celingak­celinguk kebingungan—dan suasana mulai mencair. Bahkan Philippe ter­ senyum—Fay melirik Philippe sekali lagi untuk memastikan.

Andrew kembali berkata, ”Saya juga minta maaf telah meminta dua pengacau ini kembali ke sini. Kalau makanan ada yang hi­ lang di dapur, Anda tentu tahu ke mana harus bertanya.”

Reno dan Kent nyengir lebar mendengar ucapan  itu.

Mrs. Rice menanggapi, ”Jangan khawatir, Mr. Andrew. Kalau itu yang terjadi, saya tidak akan bertanya lagi dan langsung meng­ ambil sapu untuk memukul mereka seperti saat terakhir kali me­ reka berdua ada di sini... tidak, tidak berdua, tapi berempat de­ ngan Sam dan Larry. Ah, mereka itu juga lahap sekali.”

Reno dan Kent tertawa. Jelas ada cerita lain di balik insiden itu yang tidak diketahui oleh Fay.

”Kekanak­kanakan sekali,” tegur Philippe sambil menggeleng, tapi tidak ada nada marah dalam suaranya.

Reno dan Kent mengatupkan mulut tanpa berusaha menyem­ bunyikan senyum mereka yang masih tersisa.

Makan malam dijalani dengan santai, dengan percakapan se­ putar hal­hal ringan yang bisa ditimpali oleh semua orang, mulai dari kebodohan saat menyetir mobil hingga kecelakaan berburu di Irlandia yang melibatkan seorang kerabat Andrew.

Sepanjang makan, Fay lebih banyak diam mendengarkan. Ha­ nya sekali saja ia bersuara, ketika mereka sedang membicarakan tentang disorientasi arah yang diderita oleh—menurut mereka— kaum hawa. Fay menolak mentah­mentah. Tapi argumennya langsung patah ketika Andrew menggodanya dengan meng­ ingatkan insiden ia tersesat dua hari yang lalu. Fay jadi agak te­ gang ketika ingat apa yang terjadi sesudahnya, tapi kelihaian Andrew dalam membawa arah percakapan membuatnya tenang kembali.

Sebuah perasaan aneh menyelisip ke relung hati Fay. Sebuah perasaan yang seharusnya ia tepis jauh­jauh, tapi langsung datang kembali ketika semua yang ada di meja makan tertawa berderai­ derai mendengar lelucon Reno tentang salah satu famili mereka. Fay langsung ingat pada meja makan di rumahnya di Jakarta, yang biasanya hanya ia tempati sendirian selama sepuluh menit tiap malam. Pada momen­momen istimewa saat kedua orangtua­ nya hadir, waktunya bertambah menjadi dua puluh menit, maksimal. Dan sudah pasti tidak pernah ada tawa berderai­derai seperti malam ini.

Setelah menikmati makanan penutup berupa puding custard rasa vanila dengan saus jeruk, Philippe berkata, ”Andrew, besok latihan akan saya mulai pagi­pagi sekali, pukul lima. Kalau kamu tidak keberatan, saya akan meminta supaya Fay malam ini menginap di sini saja. Besok akan menjadi hari yang berat bagi­ nya dan saya tidak ingin mendengar alasan dia tidak bisa melaku­ kan latihan sesuai harapan karena kurang beristirahat.”

Andrew menoleh ke Fay. ”Apa kamu membawa perlengkapan untuk menginap seperti yang pernah saya perintahkan?”

Fay mengangguk.

”Bagus, kalau begitu tidak ada masalah,” ucap Andrew lagi sambil menatap Philippe.

Fay diam­diam menikmati kelegaan di hatinya, membayangkan ia sebentar lagi sudah bisa berbaring melepas penat. Sejujurnya ia cukup senang dengan ide Philippe, karena ia memang merasa sa­ ngat lelah. Tidur lebih cepat sama sekali bukan ide buruk, apalagi kalau besok latihannya dimulai jam lima pagi. Ia bergidik mem­ bayangkan apa yang akan ditemuinya besok, terlebih Philippe sendiri mengatakan besok akan menjadi hari yang berat! Seolaholah yang sekarang kurang berat aja.... Dasar barbar!

Fay menarik napas panjang tanpa kentara lalu bangkit dari kursi mengikuti yang lain. Ketika ia berjalan menuju tangga, ter­ dengar suara Andrew, ”Sweet dream.”

Fay tersenyum sambil menggumamkan ”thanks” pelan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊