menu

From Paris To Eternity Bab 05: Kebimbangan Hati

Mode Malam
Kebimbangan Hati

PUKUL  sembilan  pagi  keesokan  harinya,  Fay  sudah  duduk kembali di ruang tengah kediaman Philippe, siap dengan pakaian latihan. Di kediaman Andrew pun sebenarnya ia sudah berlatih. Sebelum sarapan, Andrew memintanya berlatih treadmill dan step di ruang fitness, masing-masing selama lima belas menit, disusul dengan latihan menaiki tangga ke lantai enam belas seperti yang ia lakukan di hari pertama! Hasilnya tidak sebaik yang diharapkan. Untungnya hal terburuk yang ia terima dari Andrew adalah dihujani tatapan tajam sambil diberi wejangan supaya lain kali berusaha lebih keras.

Untung bukan Philippe yang mengawasi latihan tadi pagi, pikir

Fay sambil bergidik. Jemari Fay tanpa sadar mengelus-elus plester yang menutupi luka kecil di tangan kirinya yang agak kelewat nyeri untuk sebuah luka yang hanya dua senti dan tidak perlu dijahit. Rasa ”cenut-cenut” di lukanya bahkan lebih dominan daripada nyeri di kakinya.

Fay menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan; ruangan yang sama tempat ia berada tadi malam tapi saat itu ia terlalu terpaku pada orang-orang di sekitarnya. Matanya menangkap sebuah piano di sisi ruangan, tertutup rapi. Kenangan akan denting-denting halus yang pernah dimainkan Kent seakan ingin kembali mengelus telinga dan Fay langsung mengalihkan pandangan ke meja, di sana terdapat sebuah bingkai foto di sebelah vas bunga.

Fay beranjak dari kursi untuk melihat lebih dekat. Sebuah foto berwarna yang agak pudar menampilkan enam pemuda, menurut tebakannya berusia awal dua puluhan, sedang berpose dengan pakaian tim olahraga. Kening Fay sempat berkerut melihat tongkat-tongkat yang mereka genggam, tapi akhirnya ia mengenali itu tongkat lacrosse—rasanya ia pernah melihat foto pangeran Inggris berpose dengan tongkat yang sama. Yang ia kenali pertama dari jajaran pemuda di foto itu adalah Andrew. Berdiri di tengah, Andrew adalah satu-satunya pemuda yang tidak memakai topi dan rambut pirangnya begitu bersinar. Fay berdecak kagum melihat betapa tampannya dia dulu.

Di sebelah Andrew ada pemuda lain yang pasti adalah Philippe. Fay serta-merta mengenali ekspresi merengut yang ternyata memang sudah menghias wajah Philippe sejak dulu—mungkin benar dugaannya bahwa itu sudah bawaan sejak lahir! Fay beralih ke wajah-wajah lain dan terheran-heran saat melihat pria oriental tadi malam ada di foto, dengan wajah yang bisa dikatakan sama persis! Tiga pemuda lain di foto agak sulit diamati karena wajah mereka seperti tertutup bayangan dari topi.

Terdengar suara mobil memasuki jalan berkerikil dan Fay menuju jendela untuk mengintip siapa yang datang. Sebuah sedan berwarna biru metalik masuk ke halaman dan berhenti di depan rumah. Degup jantungnya dengan tidak tahu malu langsung berpacu ketika melihat sosok pemuda pirang yang ia kenali turun dari mobil. Ia langsung dihampiri kegelisahan baru yang diselimuti bahagia, bingung, dan kesal—entah mana yang lebih dominan. Fay buru-buru duduk di sofa, menunggu dengan telapak tangan yang mulai terasa dingin. Mati deh! Apa yang harus ia katakan kalau Kent masuk? Ia punya hak untuk marah setelah ditinggalkan Kent begitu saja tanpa penjelasan. Tapi masa mendadak marah begitu saja? Apa nggak aneh, mengingat tadi malam pun ia diam saja? Tapi kan tadi malam...

Kent muncul di ruang tengah.

Perdebatan di benak Fay raib begitu saja dan Fay merasa sekujur tubuhnya bagai dirayapi arus listrik. Napasnya seperti ditarik dengan paksa ketika sesaat udara serasa membeku, seakan butir demi butir pasir waktu melayang tanpa batasan. Ia kembali mengutuki hatinya yang berdegup tanpa malu-malu, sama sekali tidak memberinya keleluasaan untuk menyelaraskan pikiran dengan perasaan.

”Selamat pagi,” sapa Kent.

Aduh, suara itu bikin lemas. ”Selamat pagi,” jawab Fay buruburu dengan norak. Ia melihat sudut bibir Kent terangkat sedikit seperti seulas senyum yang enggan, tapi itu pun dengan sukses membuat Fay ingin bersandar karena pusing. Ingat, Fay, lo kesal karena tahun lalu dia pergi begitu saja! teriaknya kesal dalam hati.

Kent duduk di kursi sofa di sebelah Fay. Ia mengenakan busana hitam-hitam persis seperti tadi malam, dengan sepatu bot yang membuatnya makin terlihat gagah.

Fay setengah menyesal kenapa tadi tidak menunggu di kamar saja supaya tidak mempermalukan diri sendiri. Menyembunyikan gugupnya, Fay pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya yang sebenarnya masih terikat erat.

”Apa kabar, Fay?”

Fay terdiam sejenak saat udara tiba-tiba terasa begitu berat untuk ditarik ke paru-paru. Yang duduk di sampingnya sekarang adalah cowok yang pernah menghangatkan perasaannya dengan menebar percik kebahagiaan hingga memenuhi batinnya, tapi tahu-tahu menghilang begitu saja seperti tertelan bumi... Dan sapaan yang keluar dari mulutnya adalah ”apa kabar”?

”Fine, thanks,” jawab Fay dengan suara seperti tercekat. Sambil memarahi diri sendiri, ia balik bertanya, ”Kabar kamu bagaimana?” Dan kenapa kamu menghilang begitu saja tanpa kabar tahun lalu?

”Baik.”

Is that it?

Fay terdiam. Adakah yang tersisa dari perasaan Kent terhadap dirinya? Bagaimana mungkin Kent bersikap dingin seolah memang tidak ada apa-apa? Bagaimana dengan perhatian yang Kent tunjukkan tadi malam? Pikiran Fay dipenuhi kilasan-kilasan kehangatan yang pernah dirasakan bersama Kent, saat dirinya dan Kent menghabiskan waktu bersama dan saat Kent mengecupnya lembut. Fay menarik napas untuk menghalau gemuruh di dadanya karena emosi yang tidak bisa diuraikan. Dalam hati ia bersumpah tidak mau lagi bicara dengan cowok di sampingnya ini.

Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan.

Fay dan Kent sontak menoleh dan ketika melihat Philippe tiba dengan ekspresi wajah yang kaku, mereka berdua langsung berdiri tanpa aba-aba.

Philippe memerintahkan Fay dan Kent untuk berdiri di hadapannya. Perlahan Philippe mendekati Kent, kemudian tanpa disangka-sangka melayangkan sebuah pukulan dengan kepalan tangannya ke ulu hati Kent.

Terdengar suara erangan dari mulut Kent, bersamaan dengan melorotnya ia ke lantai sambil memegangi perutnya.

Fay menggigit bibirnya untuk mencegah dirinya mengeluarkan suara-suara panik yang tidak perlu, merasakan jantungnya sendiri sudah berpacu tanpa kompromi.

”Saya membaca profil kalian berdua yang dibuat oleh Andrew tahun lalu dan menemukan catatan tentang pelanggaran protokol komunikasi,” ucap Philippe tanpa melepaskan pandangan ke Kent yang sudah hampir berhasil berdiri tegak kembali. ”Saya tahu kamu sudah menerima pelajaran sepantasnya untuk pelanggaran kamu yaitu melakukan beberapa kontak tidak tercatat dengan Fay tahun lalu, dan kamu harusnya sudah mengerti. Tapi saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa kalau kamu melakukan hal semacam itu lagi di bawah pengawasan saya, kamu akan menyaksikan Fay berada di tangan saya.”

Fay merasa bulu kuduknya berdiri. Sejumput sisa nyali yang pernah dimilikinya raib diisap langit dan ia sama sekali tidak mampu bersuara atau bergerak.

”Keluar sekarang juga! Latihan di Jalur Dua.”

Fay cepat-cepat berlalu dari hadapan Philippe mengikuti Kent yang berlari tidak jauh di depan. Benaknya sibuk memutar kembali ucapan Philippe tadi.

Apa maksud Philippe saat menyinggung tentang kesalahan Kent menyangkut ”kontak tidak tercatat” dengan dirinya? Apa kata Philippe tadi...? ”...kamu akan menyaksikan Fay berada di tangan saya...”

Fay bergidik ketika mengulang sendiri kalimat itu—potongan kejadian di basement terputar kembali, namun segera tergantikan permainan benaknya yang makin runyam seputar skenario apa saja yang mungkin terjadi tahun lalu. Ia mengayunkan kaki tanpa terlalu banyak mengamati keadaan sekitar, membiarkan kakinya bekerja sendiri menjejaki jalur hingga beberapa saat kemudian ia baru menyadari Kent masih berada tidak jauh di depannya.

Sekilas matanya menangkap papan penunjuk arah di sebuah simpang tiga berupa panah yang mengarah ke kanan, dan keningnya berkerut sejenak—rasanya ia kemarin tidak melihat papan itu.

Dasar bego, lari kayak orang buta! omel Fay pada diri sendiri. Pikiran akan hal itu tidak lama-lama bercokol di benaknya karena ia disadarkan kembali oleh bayangan Kent yang masih terlihat di depannya. Apa dia sengaja menjaga jarak?

Fay mencoba menguji dugaannya dengan berhenti ketika otot pahanya mulai nyeri. Ia melihat Kent tetap melaju tanpa menoleh hingga hilang di kelokan. Selang beberapa saat kemudian, Fay kembali berlari dan ketika ia sampai di kelokan, Kent masih ada di sana. 

Fay tersenyum menang dalam hati—tidak mungkin Kent masih ada di sana kalau tetap berlari tanpa henti!

Jadi apa artinya? pikir Fay lagi dengan perasaan mulai dangdut kege-eran.

Mendadak Fay merasa sesuatu tersentuh kakinya dan sebelum menyadari yang terjadi, ia sudah tersuruk di tanah.

”Awww...!” Fay berteriak kesakitan sambil memegang betis kirinya yang ototnya seperti tertarik. Matanya sekilas melihat apa yang membuatnya tadi terjerembap, akar pohon yang agak mencuat ke arah jalan setapak. Minta ampun, akar segede bagong gitu nggak kelihatan!

”Ada apa, Fay?” terdengar suara Kent yang kini sudah berlari mendekat ke arahnya.

”Aku tersandung dan sepertinya kakiku terkilir. Aku nggak tahu bisa lari lagi atau tidak,” keluh Fay sambil memegangi kakinya.

Kent berjongkok dan meluruskan kaki Fay, mendorong telapak kakinya hingga betis Fay kembali teregang.

”Aaaargh...!” teriak Fay kesakitan sambil berusaha menarik kakinya kembali.

”Maaf,” ucap Kent sambil melepas pegangannya. ”Kita harus segera kembali.”

Kent jongkok di sebelah Fay dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Lalu Kent mengambil tangan Fay dan melingkarkannya di leher sambil secara hati-hati menariknya hingga berdiri.

Dengan kikuk Fay membiarkan dirinya dibantu, sambil mengutuki sisi hatinya yang bersorak dan menikmati perlakuan ini. Sisi hati yang sama dengan giat berdoa supaya momen ini berlangsung selama-lamanya, menghiraukan bagian lain dari hatinya yang mencoba berteriak-teriak mengingatkannya tentang sakit hatinya atas kejadian tahun lalu.

Perlahan Fay melangkah tertatih-tatih dibantu Kent. Mereka berjalan perlahan tanpa berkata-kata dan setelah tersiksa beberapa saat oleh keheningan yang menegangkan, Fay memutuskan untuk melanggar sumpahnya sendiri dengan memulai percakapan terlebih dahulu.

”Menurut kamu, kira-kira bagaimana reaksi Philippe kalau melihat aku cedera seperti ini?” tanya Fay dengan nada biasa, menutupi degup kencang di dadanya.

”Yang jelas kamu pasti diobati,” jawab Kent.

”Tidak mungkin ya dia membiarkan aku seperti ini saja supaya tidak usah latihan lagi?”

Kent tertawa pelan.

Fay merasa satu-satunya kaki yang masih bisa ia gunakan langsung lemas mendengar tawa yang pernah menemani hari-harinya.

”Uups... kamu nggak apa-apa, Fay?”

Suara Kent menyadarkan Fay bahwa lututnya memang lemas betulan! Terasa pegangan Kent di pinggang dan tangannya menjadi lebih erat dan Fay merasa napasnya agak tersengal karena sebuah kebahagiaan baru. Memalukan! umpat Fay pada diri sendiri.

Fay segera meluruskan posisinya dan menjawab buru-buru, ”Nggak apa-apa.”

Kent bersuara, ”Menjawab pertanyaan kamu barusan, aku rasa Philippe tidak akan bersikap kelewat baik seperti itu, dengan membiarkan kamu melewatkan latihan.”

Fay mengangguk senang—berita apa pun terdengar menyenangkan dengan posisi dirangkul erat oleh Kent seperti ini! Namun, sebuah bisikan hati mulai mengganggunya dengan sebuah tuntutan: ”Ayo, tanya ke dia apa yang terjadi tahun lalu, kenapa dia pergi begitu saja.”

Fay menepis bisikan itu dan menanyakan pertanyaan lain, ”Apa hubungan Philippe dengan Andrew?”

Kent menjawab, ”Mereka berdua pamanku. Agak sulit untuk menjawab pertanyaan kamu secara langsung, yang jelas mereka masih famili.”

”Aku tadi pagi melihat foto mereka di ruang tengah waktu mereka masih muda. Ada empat orang lagi selain Andrew dan Philippe di foto itu. Semuanya paman kamu?”

”Ya, semuanya pamanku.”

”Aku lihat ada pria oriental yang sama dengan yang datang tadi malam.”

”Ya, Raymond Lang. Dia keturunan Vietnam-Cina dan Amerika.”

”Dia tampak... baik,” gumam Fay agak bingung sendiri kenapa juga ia harus menyampaikan penilaian atas pria yang belum pernah dikenalnya, semata atas kesan pertama yang ia tangkap.

Kent menanggapi, ”Sikapnya memang tidak sekeras yang lain.” ”Berapa usianya? Di foto sepertinya dia sepantaran dengan paman kamu yang lain, tapi tadi malam wajahnya sama persis de-

ngan di foto, seakan dia tidak pernah menjadi tua.”

”Sama seperti Andrew dan Philippe, mereka semua rata-rata berusia empat puluhan. Raymond memang terlihat muda sekali dan lebih mirip seorang pelajar yang sedang mengambil kuliah PhD. daripada posisi yang dia pegang.”

”Kalau pria yang disebut Russel tadi malam juga famili kamu?”

”Tidak, dia bukan anggota keluarga. Dia hanya bekerja di... yah kamu tahulah... kami menyebutnya ’kantor’. Semua anggota keluarga bekerja di kantor, tapi tidak semua orang yang bekerja di kantor adalah keluarga. Analoginya mungkin sama dengan sebuah perusahaan keluarga. Para anggota keluarga pasti terlibat dalam pengoperasian rutin perusahaan, bersama-sama dengan para pegawai biasa yang memang dibayar untuk bekerja. Perbedaannya terletak pada tanggung jawab yang dipikul—tanggung jawab anggota keluarga pasti lebih besar dan mereka juga diharapkan untuk berprestasi lebih baik daripada pegawai biasa.”

Fay menangkap nada final dari penjelasan Kent, jadi ia memutuskan untuk menanyakan pertanyaan lain. ”Di antara semua paman kamu, siapa yang paling kamu sukai dan siapa yang paling tidak kamu sukai?”

Kent tertawa ringan.

Oh, tidak, tertawa yang ITU. Jangan lemas lagi, pinta Fay pada sang lutut sambil menguatkan hati.

”Kalau aku jawab lebih suka untuk hidup normal dengan orangtua normal, tidak boleh ya?”

Fay menangkap nada Kent yang menggodanya sedikit—atau mungkin ia saja yang ke-ge-er-an—dan sambil tersenyum dengan perasaan melayang ia menjawab, ”Tidak ada di pilihan.”

”Aku paling suka pada Raymond, dan paling tidak suka pada Philippe.”

Fay terkekeh. ”Jadi, ternyata bukan cuma aku yang berperasaan tidak bisa menyukai Philippe. Dia itu yang paling galak, ya?”

”Istilah galak tidak tepat karena semua sama saja parahnya kalau sudah marah, dengan cara yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Mungkin lebih tepat kalau dibilang Philippe lebih banyak aturan dan lebih kaku dalam menerapkannya.”

Fay menelan ludah dan bertanya, ”Bagaimana dengan pemuda yang dipanggil Sam tadi malam? Apakah kalian punya hubungan lain di luar... eh... pekerjaan-pekerjaan semacam itu? Dari cara dia bicara tadi malam, kalian sepertinya cukup akrab.” Mulai nyerempet, pikir Fay agak gugup. Setengah hatinya yang menginginkan penjelasan mulai melakukan tari kemenangan. ”Sam dan nama-nama lain yang disebutkan, adalah sepupuku, anggota keluarga McGallaghan,” jawab Kent.

Ayo, Fay, ini waktu yang tepat... tanyakan tentang makna ucapan Sam tadi malam....

”Ada berapa orang sepupu kamu?” tanya Fay dengan dada berdebar. Sedikit lagi.

”Ada lima orang sepupu dekat.”

”Semua sama seperti kamu, tidak punya keluarga lagi?” tanya Fay lagi. Sabaaar.

”Tidak semua. Sam masih punya orangtua dan keempat saudara kandungnya juga masih ada. Secara rutin dia pulang ke rumah untuk mengunjungi mereka.”

Fay terbelalak dan bertanya, ”Apakah mereka tahu Sam melakukan... pekerjaan-pekerjaan seperti. itu?”

Kent tersenyum. ”Orangtua kamu bagaimana? Apakah mereka sudah tahu kamu punya hobi baru, latihan lari di Paris di bawah ancaman pamanku?”

Fay tersenyum. Ayo, tanya sekarang.

Fay membuka mulutnya kembali, ”Kenapa kamu sekarang ikut latihan dan bukannya mengawasi saja seperti tahun lalu?” Nyali ciut, dasar pengecut! terdengar suara-suara marah yang berseliweran di kepalanya.

”Tahun lalu peranku adalah sebagai mentor, dengan tugas untuk membantu dan membimbing kamu dalam latihan. Sekarang aku ikut latihan karena kebetulan sebentar lagi ada tugas yang harus kulakukan.”

Tubuh Fay langsung kaku. ”Maksudnya, kamu akan terlibat dalam tugas yang sama denganku?” Dengan gugup ia berkonsentrasi untuk melangkah ke depan. Suara-suara yang sedari tadi mengipasnya untuk bertanya kepada Kent langsung tutup mulut, sepertinya ikut panik.

”Bisa iya, bisa juga tidak, aku tidak tahu persis. Paman belum menyinggung tentang tugasku sejak kedatanganku kemarin, dan aku tidak berani berspekulasi apakah tugasnya sama dengan kamu atau tidak.”

Mereka tidak bercakap-cakap lagi sepanjang sisa jalan yang tidak terlalu panjang. Ketika tiba di depan rumah, Philippe menyambut mereka sambil mengerutkan kening, ”Apa yang terjadi?”

Sebelum Fay sempat menjawab, Kent sudah berbicara, ”Fay jatuh di koordinat lima dan kakinya cedera.”

Philippe tampak sangat kesal dan memberi kode kepada Kent untuk membawa Fay ke dalam rumah. Ia langsung berbalik dan menghilang dengan cepat ke dalam rumah, diikuti Fay dan Kent yang berjalan pelan.

Sesampainya ruang tengah, Philippe sudah berdiri di sebelah kursi sofa dengan sebuah tas kecil berwarna hitam tergeletak di atas meja.

Philippe berkata, ”Tengkurap di sofa.”

Fay merasa bukan hanya otot betis saja yang terpelintir, tapi otot perutnya juga sudah terpengaruh. Tapi, ia segera melakukan apa yang disuruh.

Philippe menaikkan celana panjang Fay dan meraba betis Fay dengan dua jari, kemudian membuka tas hitam di meja.

Fay menoleh ke belakang dengan canggung berusaha melihat apa yang dilakukan oleh Philippe dan terbelalak melihat suntikan yang sudah ada di tangan Philippe. Ia tidak berani bersuara dan memilih menyurukkan kepalanya ke sofa—setidaknya ia tidak perlu menyaksikan jarum itu menembus kulitnya.

Satu sengatan ringan terasa di betis Fay, diikuti rasa kebas. Fay tidak tahu apa lagi yang dilakukan Philippe setelahnya—ia hanya merasa seperti sesuatu menggosok betisnya, entah apa.

”Sudah selesai,” ucap Philippe. ”Kamu tidak boleh menggerakkan kaki selama satu jam. Setelah itu latihan bisa dilanjutkan.” Philippe bangkit dari kursi kemudian meninggalkan ruangan.

Fay berusaha duduk, dan dengan ketakutan ia melihat ke arah kakinya yang tidak terasa dan tidak bisa diperintah, hanya seperti sebongkah batu yang mengganduli tubuhnya.

Kent tampak seperti ingin tersenyum dan tanpa disuruh langsung mengangkat kaki Fay, membantu gadis itu supaya bisa duduk dengan benar. Ia meletakkan kaki Fay dengan hati-hati di atas meja, disangga sebuah bantal, lalu duduk di sofa yang sama.

Dengan sewot Fay melihat ke arah Kent yang masih berusaha keras menyembunyikan seulas senyum. Sudut bibir Kent yang melengkung ke atas, membuat wajahnya begitu melenakan. ”Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Fay berusaha kedengaran ketus.

”Maaf, wajah kamu tampak lucu sekali tadi,” ucap Kent sungguh-sungguh. Seulas senyum itu lenyap dari wajahnya.

Fay langsung menyesal kehilangan pemandangan indah, dan buru-buru bertanya, ”Barusan Philippe melakukan apa sih?”

Kent menjawab, ”Dia mencoba meluruskan kembali urat kamu yang terpelintir. Ada alatnya, bentuknya seperti pencapit. Pada dasarnya, yang dia lakukan adalah memberikan ’pijatan’ menggunakan alat itu. Itu sebabnya dia memberikan bius lokal, supaya kamu tidak merasa sakit.”

”Berarti, sekarang kakiku sudah sembuh seperti semula?” tanya Fay tak percaya. ”Hebat juga dia,” gumamnya tulus.

”Hampir semua pamanku bisa melakukan hal semacam itu dan Philippe memang termasuk yang paling hebat. Beberapa sepupuku juga sudah ada yang mulai belajar melakukannya. Setelah satu jam, efek bius lokalnya akan hilang dan kamu bisa beraktivitas seperti biasa, as if nothing had happened.”

Fay memalingkan muka—ucapan Kent yang terakhir itu terdengar begitu ironis di telinga.

Fay memajukan tubuh untuk meraih kakinya sendiri, kemudian menepuk-nepuknya. ”Tapi rasanya aneh sekali ya dibius seperti ini. Seperti kesemutan tapi ya nggak mirip juga. Terasa tebal dan... seperti agak nyeri tapi nggak sakit juga...” Ucapannya tidak ia lanjutkan ketika terdengar suara tawa yang membuatnya lemas itu. Untung lagi duduk, pikir Fay senang.

”Aku bisa bilang kamu cukup beruntung pagi ini, karena Philippe memutuskan untuk membius kamu. Dengan profesi Philippe yang sebenarnya adalah dokter bedah, bisa kamu bayangkan sakitnya bisa seperti apa kalau dia memang berniat untuk menyakiti—dia tahu persis di mana posisi semua saraf sakit di tubuh.”

Fay langsung bergidik mendengar penjelasan Kent. Ia ingat luka kecilnya yang terasa nyeri. Pisau berkilauan yang mengiris kulitnya tadi malam langsung terbayang-bayang kembali. Entah seperti apa nasibnya kalau Andrew tidak datang!

Fay melihat Kent menatapnya lekat dan dengan gugup Fay menanyakan hal pertama yang dilihatnya saat mengalihkan pandangan. ”Punggung tangan kamu kenapa?” tanya Fay sambil melihat luka di pucuk-pucuk tulang kepalan Kent.

”Nggak apa-apa. Cuma luka biasa saat latihan,” jawab Kent singkat. ”Kamu terluka?” Kent balik bertanya sambil menatap plester di tangan Fay.

”Iya, tadi malam Philippe membawaku ke basement dan...” Ucapan Fay tidak diteruskan saat ia melihat Kent menegakkan tubuh dengan kaku dan raut mukanya mengeras dengan sorot mata dipenuhi kemarahan.

”Sam tidak memberitahuku kamu dibawa ke basement!” ucap Kent keras.

Fay terperanjat, tidak mengerti kenapa Kent mengucapkan itu seperti membentaknya. ”Kenapa?” tanya Fay agak takut.

”Lamakah kamu di basement?” tanya Kent dengan suara bergetar, mengabaikan pertanyaan Fay.

Fay menjawab agak ragu, ”Tidak terlalu lama. Aku ke basement

diantar Russel...”

Fay melihat rahang Kent mengeras dan dengan kaget ia menghentikan ucapannya sejenak. Kent tampak sangat tegang—jemari tangannya ditautkan dengan keras hingga urat tangannya menyembul ke permukaan. Kent tetap menatapnya, menunggu.

Dengan gugup Fay melanjutkan ceritanya, ”...di sana sudah ada Philippe dan dia... mm... menanyaiku. Philippe berhenti setelah Andrew datang dan setelah itu aku diajak ke atas oleh Andrew.”

Kent menunduk hingga Fay tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

Fay juga hanya diam dan membiarkan benaknya bermain sendiri. Ia bertanya-tanya apa yang salah dengan ucapannya hingga Kent bereaksi seperti itu, tapi tidak bisa mendapat jawaban yang memuaskan.

Terdengar suara Philippe memanggil nama Kent dari arah foyer dan Kent mengangkat kepala. Fay langsung tersentak melihat wajah Kent yang merah padam.

Kent langsung berdiri dan berkata sambil lalu, ”Aku ke Philippe dulu.” Tanpa melihat ke arah Fay lagi, ia berbalik menuju foyer.

Fay terpaku menatap punggung Kent yang dengan cepat hilang di balik dinding. Apa yang terjadi? Kenapa sikap Kent seperti itu? Sebuah rasa pedih kembali mengintip di balik dada—Fay merasa perasaannya dipermainkan dan jatuh ke jurang kepedihan yang sama dua kali. Akhirnya ia menutup mata untuk melepas penat dan berusaha melupakan apa yang terjadi. Setelah satu jam, ia mencoba menggerakkan kakinya dan tetap terkejut ketika mendapati kakinya melakukan perintahnya tanpa kesulitan. Sakit di betisnya sudah lenyap tanpa jejak. Ia pun berdiri dan masih dengan takjub naik menuju kamarnya di lantai dua untuk sekadar membasuh muka sebelum makan siang, berharap percikan air

yang sama akan membasuh luka di hatinya juga. Tepat pukul dua belas siang, Fay turun ke ruang makan. Philippe dan Kent sudah duduk di kursi ruang makan saat Fay melangkah masuk.

Fay baru saja akan menggeser kursi dan duduk ketika matanya beradu pandang dengan Philippe yang menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sorot mata yang siap membakarnya. Jantungnya langsung berdegup kencang. Apa lagi salahnya?

”Kamu tidak akan duduk satu meja dengan saya dengan pakaian seperti itu!” ucap Philippe keras. ”Ganti pakaian kamu sekarang juga atau kamu makan di istal tempat kamu lebih pantas berada kalau ingin berpakaian seperti itu!”

Fay tertegun. Butuh waktu beberapa saat hingga otaknya selesai mencerna perkataan Philippe. Setelah yakin otaknya sudah bekerja dengan benar, Fay berbalik dengan dada sesak dipenuhi berjuta kesal dan benci yang bergumpal-gumpal.

Pria itu keterlaluan! Apa salahnya dengan pakaian yang ia pakai? Tank top dilapis kamisol dan celana jins kan pakaian normal untuk cewek seumuran dirinya! Dan apa maksudnya ia harus makan di istal...? Apakah maksudnya ia lebih pantas makan dengan kuda? Betul-betul tidak bisa diterima! Tidak ada seorang pun di dunia ini yang pernah mengatakan hal sekasar itu padanya! Dan Philippe mengatakan hal itu di depan Kent! Benar-benar tidak punya perasaan!

Sambil menaiki tangga, dada Fay yang sesak mendesak air mata untuk mulai mengintip dari sudut matanya.

Sampai di kamar, dengan gusar Fay membuka tas dan secara serampangan mengeluarkan pakaian yang terpegang tangannya. Sambil mencari, ia melempar semua pakaian yang lain ke lantai, ke tempat tidur, ke mana saja yang ia bisa.

Masih dengan emosi yang belum sepenuhnya terlampiaskan, akhirnya ia memilih blus putih berkerah lengan pendek dengan aksen ikat pinggang kain dan celana katun warna cokelat tua. Ia kemudian bergegas menyisir rambutnya dan turun dengan perasaan marah, kesal, malu, sedih, dan takut yang masih campur aduk seperti adonan kue setengah jadi.

”Seperti ini lebih pantas,” ucap Philippe dengan nada menusuk saat Fay tiba kembali di ruang makan. ”Duduk!”

Fay duduk sambil menunduk menatap meja untuk menyembunyikan sorot matanya sendiri yang ia yakin sekarang bisa membakar siapa pun yang ia pandang, sampai lebih gosong daripada terkena semburan api seekor naga.

Saat makanan pembuka dihidangkan, Fay baru menyadari ternyata Philippe dan Kent sedari tadi belum mulai makan dan menunggunya hingga ia selesai berganti pakaian. Kenyataan itu entah kenapa membuat emosinya reda sedikit dan ia menyendok supnya dengan lebih tenang.

Philippe tidak berkata-kata hingga makan siang usai dan Fay menikmati ketenangan sesaat itu sambil berusaha menguasai emosinya. Setelah makan, Philippe berkata singkat bahwa latihan dimulai pukul dua siang, kemudian ia berlalu ke arah foyer, diikuti Kent.

Fay beranjak dari kursi dan menuju ke luar rumah, berniat mengelilingi rumah sambil menurunkan makanan. Saat ia sedang menapaki halaman depan rumah yang dipenuhi kerikil tajam, terdengar suara berisik gesekan kerikil di belakangnya. Fay menoleh dan jantungnya hampir melompat ke luar ketika melihat Kent ternyata mengekor di belakangnya.

”Mau jalan ke mana?” tanya Kent dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.

Fay menelengkan kepala sedikit mendengar pertanyaan itu. Walaupun Kent bertanya dengan ramah, sepintas ia menangkap kekakuan yang dingin dalam suaranya—atau itu perasaannya saja? Entahlah.

”Hanya berkeliling rumah, menurunkan makanan,” jawab Fay sambil lalu, mengkhianati hatinya yang sudah mengepakkan sayap kebahagiaan. ”Boleh aku temani?” tanya Kent lagi. Jelas Kent tidak mengharapkan jawaban, karena ia langsung menjajari langkah Fay.

”Boleh,” jawab Fay singkat. Ia sendiri sibuk menenangkan diri dan pikirannya, berusaha keras menyusun berbagai pertanyaan yang berseliweran di benaknya.

Kent melangkah di sisi Fay dan berkata dengan nada meminta maaf, ”Aku tadi tidak sempat memberitahu kamu, Philippe paling tidak setuju dengan busana jins, terlebih dipakai saat makan.”

”Nggak apa-apa, bukan salah kamu,” ucap Fay singkat, enggan membahas masalah yang sudah mempermalukannya itu. Lagi pula, bukan itu maaf yang ditunggu, imbuhnya pahit dalam hati.

Hening sejenak.

Pertanyaan-pertanyaan di benak Fay kini sudah siap dimuntahkan perasaannya namun masih ditahan akal sehatnya. Sebuah penjelasan. Hanya sebuah penjelasan yang ingin ia dengar dari mulut cowok di sisinya ini—kenapa cowok itu menghilang begitu saja dan menarik kembali percikan-percikan kebahagiaan yang pernah dihadiahkan kepada dirinya?

Fay mulai merasa jantungnya berpacu lebih cepat dan ia langsung bersuara, ”Sakitkah waktu Philippe memukulmu tadi pagi?”

”Aku sudah terbiasa.”

”Kayaknya bukan itu deh pertanyaanku,” sergah Fay.

Kent tersenyum tipis. ”Manusia beradaptasi dengan rasa sakit. Yang lebih penting sebenarnya bukan rasa sakitnya, tapi bagaimana kita bereaksi terhadap rasa sakit itu. Dulu sih rasanya sakit sekali... Kalau habis dipukul seperti itu, aku memegangi bagian yang sakit sambil menyesali nasib, jadi secara tidak langsung aku memilih untuk merasakan sakit itu. Tapi dengan aku beranjak dewasa, tidak lagi. Aku pasti akan langsung berusaha berdiri, memilih untuk mengabaikan sakitnya dan mencoba fokus pada apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Fay terdiam dengan dada seperti ditohok batang pohon. Ia merasa disindir dengan telak—apakah itu maksud Kent dengan perkataan itu? Pertanyaan yang sudah ada di ujung lidah Fay kembali menggeliat membuat mulutnya sangat gatal. Setelah mencoba berjuang antara memenangkan perasaan atau pikiran, akhirnya Fay tidak tahan lagi.

”Apa yang terjadi tahun lalu? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa kabar?”

Ada rasa menyesal mendengar pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja dari mulutnya, tapi Fay bergeming. Ia bertekad menuntaskan semua pertanyaan yang selama satu tahun belakangan ini sudah menyiksa batinnya, sekarang juga.

Fay menatap Kent yang berjalan perlahan di sisinya, menunggu. Kent memasukkan kedua tangan ke saku celana katun berwarna hijau tua yang tampak serasi dengan atasan rajut warna krem bergaris yang sangat pas di badannya.

Dada Fay berdesir sedikit saat ia melirik dan menyadari busana yang dipakai Kent membuat cowok itu tampak sangat dewasa, bahkan bisa dibilang berwibawa. Garis wajah Kent juga terlihat lebih tegas, walaupun kini tampak muram.

Sedikit-banyak Fay berterima kasih pada Philippe yang memaksa dirinya berganti baju tadi. Kalau saja ia masih memakai tank-top dan jinsnya tadi, yang kalau dipikir-pikir memang sudah agak kumal, sekarang ia pasti sudah minder dan berharap ditelan bumi.

Ekspresi Kent tidak berubah. Ia tetap menyapukan pandangannya dengan tenang ke depan seolah sedang menikmati pemandangan yang mereka lalui.

Sekonyong-konyong Kent menoleh.

Fay merasa jantungnya berhenti memompa dan kehilangan napas selama beberapa saat waktu sorot mata mereka beradu.

”Apakah alasan penting? Bagaimana kalau aku bilang semua yang terjadi tahun lalu tidak nyata dan sebaiknya semua memori itu dikubur dalam-dalam saja?” ucap Kent. Fay terpaku sejenak. Segera dadanya panas penuh kemarahan dan ia balik bertanya, ”Bagaimana aku bisa menganggap semua itu tidak nyata kalau kenangan akan itu selalu ada?”

Kent mengalihkan pandangannya dari Fay dan menjawab, ”Anggap saja itu sebuah kesalahan.”

Fay terdiam dengan perasaan remuk redam bagai dipalu godam. Ia membuang muka, terlalu sakit hati untuk menatap wajah cowok yang hampir membuatnya gila ini.

Kent kembali berkata, ”Akan lebih mudah—untuk kebaikan kamu sendiri—kalau kamu menganggap aku sebagai seseorang yang tidak bertanggung jawab dan tidak layak untuk berada di sisi kamu.”

”Kalau itu yang aku pikirkan, aku tidak mungkin berbicara dengan kamu sekarang seperti ini,” sergah Fay.

”FAY, apa bedanya kamu tahu apa alasannya atau tidak?” tukas Kent dengan wajah mengeras karena kemarahan yang tidak dimengerti oleh Fay. ”Tidak perlu mencari alasan yang masuk akal untuk suatu kejadian, yang lebih penting adalah akibatnya. Alasan adalah masa lalu, sedangkan akibat adalah masa depan.”

What? Fay terdiam sejenak dengan sebuah kemarahan yang sudah bergumpal-gumpal di dada. Saat ini ia punya berjuta maaf yang siap diberikan begitu saja. Yang ia perlukan adalah alasan— pembenaran untuk memutuskan apakah berjuta maaf itu akan digelontorkan secara cuma-cuma atau tidak. ITU bedanya.

”Kamu mengalihkan topik bahasan!” tuduh Fay akhirnya. Ia merasa sudah dijebak dalam permainan oleh kata-kata Kent, supaya cowok itu bisa lolos dari tanggung jawabnya memberi penjelasan, bahkan hanya dalam bentuk yang paling sederhana. ”Aku cuma bertanya apa yang terjadi tahun lalu. Apa sulitnya menjawab pertanyaan itu!” tambah Fay.

Kent menghela napas kemudian berkata, ”Kamu benar, tidak sepantasnya aku berpura-pura semua kejadian tahun lalu itu tidak nyata. Aku minta maaf atas semua yang terjadi.” Kabut yang menghuni sudut-sudut gelap di hati Fay mulai terangkat—Fay menahan napas, menunggu.

Kent melanjutkan, ”Tapi terlepas dari perasaan yang terlibat saat itu, semua hanya kenangan masa lalu yang mungkin pantas dikenang—tidak lebih.”

Sesuatu menghantam dada Fay dari dalam. Kabut itu hilang, bersamaan dengan sudut hatinya yang pecah berantakan.

Kent menambahkan, ”Dan alasan yang masuk akal adalah hal terakhir yang bisa kuberikan padamu.”

Fay merasa jantungnya terkoyak sebagian, seperti siksaan yang tidak tuntas. Seluruh dirinya seakan terempas kembali ke palung yang belum berdasar.

Setelah diam sejenak, Fay berkata perlahan, ”Jadi, maksud kamu, aku tidak berhak menerima penjelasan apa pun atas kepergian kamu tahun lalu?” Ia berusaha terdengar tenang, tapi ia tahu suaranya bergetar.

”Begitulah,” ucap Kent singkat tanpa emosi. ”Itu sangat egois!” seru Fay.

”Kamu tentu punya hak untuk beranggapan apa pun tentang diriku sebagaimana aku punya hak untuk tidak menjelaskan apa pun padamu,” ucap Kent kembali dengan tenang. ”Sebaiknya kita berkonsentrasi pada latihan dan tugas.”

”Baik kalau begitu!” ucap Fay dengan suara bergetar sambil berbalik, berjalan kembali ke arah rumah dengan langkah lebar. Tidak ada gunanya lagi untuk berbaik-baik dengan cowok brengsek yang sudah menghancurkan perasaannya itu. Sekelumit bagian hatinya berharap untuk mendengar suara Kent yang memanggil namanya, tapi suara itu tidak pernah datang. Setetes air matanya mulai keluar dan segera disusul yang lain. Begitu tiba di dalam rumah, Fay segera melesat naik ke kamarnya sambil berharap dalam hati tidak pernah berkenalan dengan cowok busuk dan tidak tahu diri bernama Kent itu. Reno benar. Ia seharusnya tidak membiarkan dirinya larut dalam perasaan apa pun yang menyangkut Kent.

Ingatan akan perkataan Reno tahun lalu tentang cowok brengsek ini berkelebatan kembali dalam pikiran Fay. Begitu ia menutup pintu kamar di belakangnya, tangisnya pecah tanpa peringatan.

Kent berjalan perlahan menapaki jalan berkerikil tajam yang mengarah ke hutan.

Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa sebuah tiket pesawat sekali jalan dari London ke Paris yang diletakkan pamannya dua hari yang lalu di atas meja tulis kamarnya akan membawanya ke momen ini—momen saat ia lagi-lagi harus menyakiti perasaan tulus gadis yang begitu dicintainya. Pamannya saat itu hanya berkata singkat bahwa ada tugas yang akan menantinya, di Paris dan di Peru. Kent sama sekali tidak membayangkan ia akan terlibat kembali dalam kehidupan Fay, bahkan walaupun ia sudah tahu secara tidak sengaja bahwa Fay akan ada di kota yang sama.

Satu tahun sudah berlalu sejak kisah tentang dirinya dan Fay terpatri dalam garis nasib mereka, dengan akhir perpisahan yang tidak berpihak pada kisah itu. Ia tadinya berpikir bahwa waktu satu tahun cukup untuk mengubur semua rasa yang pernah ada tanpa bersisa. Tapi ia ternyata salah. Saat matanya beradu dengan sorot mata Fay dan ia menangkap semburat pilu di sana, detik itu juga ia tahu setiap hari yang berlalu selama satu tahun ini ternyata tidak bisa mengusir perasaan yang pernah ia miliki untuk Fay. Mati-matian ia berusaha melupakan Fay selama satu tahun ini, tapi rasa itu berkurang pun tidak. Sebuah rasa yang bercokol bagaikan virus yang tidak bisa dienyahkan dan terus menduplikasi diri hingga memenuhi hatinya. Ia tahu betapa menyakitkan perkataannya tadi bagi perasaan yang terus-menerus memancarkan cinta tanpa syarat. Ia tahu bagaimana tersiksanya perasaan Fay setelah semua asa akan cinta harus terempas begitu saja. Ia tahu, karena itulah juga yang ia rasakan.

Andaikan ia bisa berteriak ke depan Fay bahwa hanya ada satu alasan atas semua tindakan dan perkataan yang dilakukan dan diucapkan dirinya, bahwa semua dilandasi cinta!

Tapi apa gunanya menjelaskan alasan yang begitu suci, bila semua harus berakhir menyakitkan?

Tidak ada jalan lain.

Kebersamaan antara dirinya dan Fay tidak boleh ada. Sampai mereka berdua bisa meyakini hal itu, ia tahu Fay akan tetap tersakiti, entah dengan cara seperti apa.

Jam dua siang Fay turun ke lantai bawah tanpa semangat hidup, berjalan dengan langkah terseok-seok memakai baju latihan baru yang diantar Mrs. Rice ke kamarnya—untungnya setelah air matanya kering dan baju-bajunya yang berserakan sudah ia sumpalkan kembali ke tas. Di tubuhnya kini melekat kaus polos lengan pendek berwarna hitam, dengan celana panjang berbahan terpal yang juga berwarna hitam, sama persis dengan yang dipakai Kent. Yang paling tidak ia sukai adalah sepatunya, bot berwarna hitam yang walaupun pas di kakinya dan terasa empuk berkat kaus kaki tebal yang dipakainya, tapi beratnya minta ampun. Kakinya dalam kondisi tidak pegal saja belum tentu tidak protes, apalagi sekarang setelah menjalani kerja paksa selama dua hari.

Latihan lagi-lagi dibuka dengan lari, sebuah aktivitas yang dalam keadaan normal mungkin sudah mulai bisa diterimanya, tapi dengan bot sialan ini tercantel di kakinya, aktivitas ini tetap saja menjadi sangat menyiksa. Saat berlari, Fay sempat berpikir untuk menyembunyikan sepatu olahraga yang biasa dipakainya di balik semak di dalam hutan, kemudian mengganti sepatu bot yang lebih mirip batu ini dengan sepatu olahraga ketika lari di hutan. Tapi khayalan nan indah itu langsung pupus ketika ia ingat harus mengganti sepatu olahraga itu dengan bot yang sama di pengujung jalur lari. Bodohnya!

Segera setelah pikiran bodoh tentang sepatu itu musnah, pikiran tentang Kent merasuk perlahan mengisi benaknya. Dengan dada yang rasanya teriris tipis-tipis Fay menyadari Kent sudah tidak terlihat lagi di depannya. Keengganan Kent untuk menunggunya seperti sebelumnya, mau tidak mau harus bisa ia terima sebagai penutup episode yang melibatkan Kent dalam fase hidupnya yang berantakan ini.

Tiba di halaman rumah, Fay disambut oleh tatapan kesal Philippe—bukan sesuatu yang mencengangkan, jadi Fay mendekat dengan pasrah.

”KAMU kira kamu sedang berlibur?! Lima puluh push-up, sekarang!”

Fay mengomel dalam hati. Seingatnya tahun lalu ia tidak pernah melakukan lima puluh kali push-up sekaligus! Ia mengambil posisi dan melakukan push-up-nya diselingi sesekali tendangan tak manusiawi yang dilayangkan Philippe, yang kali ini ia coba tanggapi dengan mengaduh sepelan mungkin.

Begitu Fay selesai, Philippe berkata tajam, ”Saya akan memberikan hukuman berdasarkan selisih waktu kamu dengan Kent... semakin besar selisihnya, semakin berat hukuman yang kamu terima. Sekarang, latihan di Jalur Tiga!”

Mereka berjalan sekitar lima menit ke arah hutan di belakang rumah dan tiba di lapangan luas dengan atribut latihan tentara: ada ban berjejer yang harus dilewati dengan cepat, ada tempat untuk latihan merayap yang dikelilingi kawat duri, ada jaring tali yang harus dipanjat, ada papan besar yang harus dituruni dengan tali, dan entah ada apa lagi di balik papan besar itu. Fay mendadak merasa pusing... tanpa Philippe saja, latihan di Jalur Tiga ini pasti akan membuatnya sengsara, apalagi dengan Philippe yang mengawasi latihan. Rasanya ia ingin menjerit sekencang-kencangnya untuk menyalurkan rasa frustrasi yang kini menguasai benaknya. Ia sama sekali tidak yakin bisa melewati sore ini dengan selamat!

Philippe memberi perintah untuk melakukan tiga putaran dan Fay dengan resah berlatih merayap, merangkak, melompat, memanjat, sambil berharap keajaiban menghampirinya—entah dengan cara membuat Philippe terkena rabun siang lagi atau membuatnya punya kekuatan dan kelincahan seorang superwoman.

Ternyata memang ada yang dinamakan keajaiban...

Tidak dengan cara yang dipikirkan oleh Fay tadi, tapi dengan membuat seorang Kent menyertai perjalanannya. Dengan perasaan campur aduk Fay melihat Kent memperlambat semua gerakan, sehingga jarak di antara mereka tidak terlalu jauh. Ugh, apa sih maunya cowok ini?! Fay semakin kesal ketika menyadari ada sebagian hati kecilnya yang dengan tololnya menjadi begitu terharu dan kembali berbunga-bunga.

Akhirnya, di akhir putaran ketiga Fay dan Kent tiba di hadapan Philippe dengan jarak yang hanya berselisih beberapa puluh meter.

Philippe bersedekap sambil melihat ke tanah dengan ekspresi wajah seperti merenung. Tanpa melihat ke arah Fay dan Kent, dia beranjak sambil berkata seperti menggumam tanpa minat, ”Kembali ke halaman rumah.”

Fay dan Kent melihat Philippe dengan ekspresi alis terangkat yang kurang-lebih sama. Akhirnya mereka mengikuti Philippe sambil diam, masing-masing sibuk memikirkan sikap Philippe yang tidak seperti biasanya.

Ketika mereka sudah tiba di depan rumah dan sudah berdiri di hadapan Philippe di jalan berkerikil, Philippe berjalan ke belakang Kent, lalu tiba-tiba menendang bagian belakang lutut Kent hingga cowok itu jatuh berlutut. Dengan satu gerak cepat, Philippe yang masih berada di belakang Kent meraih tangan keponakannya itu, kemudian menelikung jari manis cowok itu ke arah belakang melewati kepala, memaksa Kent untuk mendongak ke arah belakang dengan posisi tubuh yang melengkung canggung. Kent langsung berteriak kesakitan.

Fay terbelalak sambil menahan napas. Gila! Jari Kent bisa patah!

”Kamu pikir saya sebodoh itu hingga tidak menyadari kamu tidak memberikan usaha yang terbaik!” Dengan satu sentakan kasar Philippe kembali mendorong jari manis Kent ke belakang, membuat cowok itu kembali berteriak kesakitan.

Philippe melepas pegangannya ke Kent. Selanjutnya Fay yang berteriak kaget ketika Philippe menendang bagian belakang lututnya. Serta-merta Fay mengaduh ketika lututnya menghunjam kerikil-kerikil runcing di jalan setapak itu.

”Letakkan tangan kalian di tengkuk! Kalian akan berada dalam posisi ini sepanjang malam, TANPA makan malam! Jangan bergerak hingga saya perintahkan!”

Philippe pun berlalu meninggalkan mereka sambil melirik kesal, masuk ke rumah.

Fay merintih merasakan kerikil-kerikil di jalan setapak ini bagai melesak ke dalam lutut dan ia berusaha menggeser posisi lututnya, tapi ia kembali mengaduh. Percuma! ratap Fay putus asa sambil menatap kerikil-kerikil tajam yang berserakan dengan rapat, berlapis-lapis di atas tanah.

Kent berkata, ”Fay, jangan bergerak. Philippe selalu serius dengan ancamannya.”

Fay menegakkan kepalanya dengan gengsi yang sudah tersulut sampai ke kepala. Setelah apa yang dikatakan cowok ini tadi siang, kenapa harus menunjukkan perhatian seperti ini...? Apa sih maksudnya?! Dengan nyolot Fay menjawab, ”Apa peduli kamu?” ”Cuma mengingatkan,” jawab Kent datar.

Uuugghh... menyebalkan! Dasar cowok nggak punya perasaan!

Sambil merengut Fay menurunkan tangan untuk memegang lututnya, dan ia langsung terperanjat ketika tangan Kent menahannya dan mengembalikan tangannya kembali ke belakang kepala. Langsung terasa desiran halus di dadanya.

”Apa-apaan sih kamu?!” seru Fay semakin nyolot, menutupi debar di dadanya yang mulai mengusung keraguan atas sikapnya menghadapi Kent.

Kent menjawab tidak kalah keras, ”Fay, kalau Philippe sampai melihat kamu gagal melakukan apa yang diperintahkannya, kamu bisa lebih sakit lagi!”

”Dia kan tidak ada!” tukas Fay tak mau kalah.

Kent menunjuk ke ujung rumah dengan menggerakkan kepalanya, ”Kamu lihat ada kamera di situ? Philippe bisa saja sedang mengawasi. Coba kamu lupakan sejenak sakit di lutut kamu dan kerikil-kerikil ini, dan pikirkan hal lain.”

”Aku tidak seperti kamu! Mudah melupakan hal-hal yang menyakitkan!” sergah Fay pedas tanpa berpikir. Ia tertegun sejenak setelah mendengar kalimat itu meluncur dari mulutnya, tapi ia langsung menyeringai puas karena bisa menyelepet Kent dengan membalikkan perkataannya sendiri. Tau rasa! HAH!

Pintu rumah terbuka dan Philippe keluar dengan raut yang lebih kesal daripada sebelumnya.

”FAY, berdiri!” perintah Philippe setengah menghardik.

Susah-payah Fay berdiri, hampir jatuh lagi ke tanah ketika merasa lututnya terlalu lemas untuk menahan tubuhnya.

”Lari di jalur satu, sekarang!”

Fay melakukannya dengan sekuat tenaga sambil mengomel dalam hati—tentu saja diselingi keluh kesah pada diri sendiri saat terpaksa harus berhenti karena paha, betis, dan lututnya nyeri. Ketika putarannya usai, Philippe lagi-lagi memberi hukuman lima puluh push-up. Siklus yang sama terulang kembali dua kali, tapi di putaran terakhir Fay benar-benar sudah tersuruk ke tanah ketika berhenti di hadapan Philippe karena kakinya sudah tidak sanggup lagi diayunkan. Kali ini Philippe tidak repot-repot menyuruhnya pushup, tapi langsung saja menendang sambil menyuruhnya bangun. Fay bangkit dengan air mata sudah berkumpul di pelupuk mata karena perlakuan kasar itu—lebih karena harga dirinya serasa diinjak daripada karena sakit yang dirasakan. Fay merasa darahnya naik ke kepala dan akhirnya ia mengalihkan pandangan-

nya supaya Philippe tidak melihat sorot marah di matanya. ”KENT, bangun!”

Kent berdiri tanpa banyak kesulitan.

”Sekarang juga kamu pergi ke kantor!” ucap Philippe kepada Kent dengan ekspresi masih kesal. ”Dan, Fay, kamu pulang sekarang!”

Fay bergegas masuk ke rumah untuk mengambil ranselnya. Ia tidak berniat mandi dan berganti baju di sini, di tempat ada seorang pria gila yang sepertinya belum bosan untuk menyakiti fisiknya, dan seorang cowok brengsek yang masih juga belum lelah menyakiti hatinya.

Lima menit kemudian limusin hitam yang dibawa Lucas sudah melewati gerbang, meninggalkan mobil sport putih dan mobil metalik biru yang masih diparkir di depan rumah.

Philippe melihat ke luar melalui jendela ruang kerjanya di lantai dua. Terlihat limusin hitam bergerak meninggalkan rumah. Tak lama kemudian, mobil biru metalik milik Kent juga mulai bergerak ke arah gerbang.

Philippe mendengus—kedua anak itu sedang bernasib baik. Kalau saja tadi Andrew tidak menelepon dan memintanya untuk mengirim mereka pergi, ia bisa memastikan kedua anak itu akan berhadapan dengan dirinya di basement tengah malam nanti dengan lutut memar dan perut kelaparan.

Philippe kemudian mengangkat telepon untuk menghubungi Andrew. Jari-jarinya mengetuk meja saat mendengar nada sambung. Begitu telepon diangkat dan ia mengenali suara Andrew yang menyapa di seberang, ia langsung bicara.

”Saya sudah mengirim mereka, Kent ke kantor dan Fay ke apartemen kamu. Mereka baru saja berangkat.”

”Jadi, apa yang kamu lakukan di antara waktu saya meminta kamu melepas mereka hingga waktu mereka akhirnya pergi?”

Sudut bibir Philippe terangkat sedikit mendengar pertanyaan Andrew—Andrew memang mengenalnya sangat baik. ”Tidak banyak,” jawabnya agak santai. ”Saya hanya menyuruh gadis itu untuk melakukan tiga putaran lagi... dan, hasilnya tetap mengecewakan!” lanjutnya agak keras.

”Apa pendapat kamu tentang hal itu?” tanya Andrew.

”Seperti yang saya katakan kemarin, gadis itu tidak punya motivasi. Hukuman yang bertubi-tubi atau ancaman sekeras apa pun sejauh ini tidak bisa menggerakkannya.”

Andrew kembali berbicara, ”Bagaimana penilaian kamu tentang kemampuan fisik Fay?”

”Dengan skala kemampuan fisik satu hingga sepuluh, nilai terendah seorang agen yang pernah saya tangani di awal rekrutmen adalah empat, tapi dia tidak lolos. Nilai terendah yang berhasil lolos adalah enam. Kemampuan Fay ada di... antara rentang empat hingga tujuh.”

”Kenapa kamu memberi rentang?”

”Saya pribadi yakin fisiknya sebenarnya bernilai tujuh. Apalagi dia baru delapan belas tahun jadi secara fisik masih bisa dibentuk dengan benar. Tapi kurangnya motivasilah yang menyebabkan nilainya sekarang hanya ada di angka empat.”

”Bagaimana saya yakin kamu tidak bias ketika memberikan nilai empat, bahwa nilai empatnya disebabkan kurang motivasi, bukan karena keterbatasan fisik?”

”Saya beri satu contoh sederhana. Di putaran ketiga tadi, dia terjatuh di depan saya seolah-olah kakinya sudah tidak kuat lagi melangkah. Tapi begitu saya memberi tendangan sedikit saja, dia langsung berdiri tegak kembali. Tenaganya sebenarnya masih banyak, tapi dia berlaku seperti orang yang sudah di ambang batas kecuali ada kejutan yang memaksanya untuk melangkah lebih jauh!”

”Apakah itu berarti diperlukan tingkat kekerasan fisik yang lebih tinggi untuk membuat Fay mengeluarkan kemampuannya?” ”Berdasarkan pengamatan saya, tidak... dan itu dia masalahnya!

Kekerasan hanya akan membuat perubahan sesaat karena yang terpicu dalam dirinya dengan tindak kekerasan adalah insting untuk bertahan hidup, bukan motivasi untuk melakukan yang terbaik.” Philippe berhenti sebentar sebelum melanjutkan, ”Saya tahu observasi adalah keputusan mutlak kamu selaku Kepala Direktorat Pusat, tapi saya harus mengingatkan kamu, kalau keadaannya tetap seperti ini saat dia mengikuti Program Latihan Dasar COU, saya akan memberi rekomendasi terminasi untuknya bahkan sebelum program berakhir!”

”Jangan khawatir, Philippe. Serahkan masalah itu kepada saya—lakukan saja yang perlu kamu lakukan. Pertanyaan terakhir, bagaimana sikap Kent selama latihan?”

Philippe menjawab dengan keras, ”Dia terlalu melindungi Fay! Tadi saja dia berusaha menyamai kecepatan Fay di Jalur Tiga supaya selisih waktu tempuh mereka tidak terlalu lama dan hukuman yang saya berikan kepada Fay lebih ringan. Kalau saja saya tidak ingat tugasnya sebentar lagi, sudah saya patahkan jarinya tadi!”

Terdengar tawa Andrew.

”Easy, Philippe... kita masih membutuhkannya untuk main piano sebelum makan malam keluarga besar.” Philippe merasa agak rileks. ”Ada rencana untuk itu dalam waktu dekat?”

”Mungkin—nanti akan saya kabari waktu tepatnya. Thanks.” Telepon ditutup.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊