menu

From Paris To Eternity Bab 04: Demon Angel

Mode Malam
Demon Angel

FAY menatap  sebutir  air yang berada di punggung  telapak  tangannya tanpa berkedip. Sebutir air itu memiliki bentuk sangat sempurna dengan permukaan melengkung memantulkan bayangan di permukaan yang begitu bening. Fay mendongak dan melihat satu lagi butiran air yang muncul di antara buraian udara begitu saja, melesat ke arahnya bagaikan bilah yang dilempar langit yang marah dan mendarat tepat di keningnya, kemudian langsung pecah dan mengalir turun membasahi pipinya tanpa menunggu.

Fay menggeleng, tidak bisa percaya bahwa dari 365 hari dalam satu tahun, butir-butir air ini memilih untuk menetesi bumi tempatnya berpijak pada hari ini, detik ini, pada satu masa di akhir musim semi saat seorang Fay Regina Wiranata sedang tersesat dalam hutan asing di sebuah negara di benua lain di seberang lautan!

Menolak untuk menyerah, Fay tetap mendongak menantang langit. Namun, butir demi butir air yang datang susul-menyusul, semakin lama dengan interval semakin singkat, berhasil memaksanya percaya bahwa nasib memang sangat tidak berpihak padanya. Ia pun akhirnya berlari-lari kecil menuju sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi dan berdaun agak rimbun, dan berdiri di bawahnya.

Aturan pertama ketika hujan: jangan berteduh di bawah pohon supaya tidak tersambar petir, sisi pikiran Fay yang normal langsung angkat bicara.

Yang bilang begitu pasti tidak sedang tersesat dalam kondisi tertekan disuruh lari sama bule gila di bawah ancaman, sisi pikirannya yang sudah jelas kurang waras serta-merta membalas.

Dan yang terakhir inilah yang didengarkan oleh Fay sekarang, setelah menengadah kembali untuk memastikan tidak ada petir atau kilat yang berseliweran di langit.

Sambil bersedekap, Fay memperhatikan hujan yang mulai turun. Hujan tidak deras—seperti gerimis agak besar yang konstan—memberi kesan seolah bisa berlangsung sepanjang malam. Ia menghirup bau tanah bercampur tanaman yang basah dan merasa tenang sejenak. Sejak kecil ia suka aroma lembap tanah bercampur tanaman yang diakibatkan hujan. Dulu ia sering kali menyelinap ke teras rumahnya ketika hujan untuk menikmati harum yang khas ini.

Fay menggigil saat sapuan angin menusuk kulit tangannya yang telanjang. Ia mempererat sedekapan tangannya, berharap itu saja cukup untuk menghindarkan dirinya dari rasa dingin yang mencubit-cubit permukaan kulitnya, tapi tak butuh waktu lama hingga ia tahu ia sudah kalah. Angin yang datang di sela-sela gemercik air seakan sengaja membuatnya sengsara. Rasa dingin yang menggerayangi permukaan kulitnya kini sudah menyebabkan rasa ngilu di sekujur tubuh.

Di sela-sela gemeletuk giginya, Fay teringat pada cerita Bang Dino, abang Dea sahabatnya, yang sudah sejak lama menjadi anggota pecinta alam. Suatu kali Bang Dino bercerita tentang pengalamannya menolong seorang penderita hipotermia saat sedang mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Hipotermia adalah kondisi saat seseorang kehilangan panas tubuh sehingga suhu badan menurun drastis.

Menurut cerita Bang Dino, dalam kondisi yang sudah parah seorang penderita hipotermia malah akan merasa kepanasan, bukannya kedinginan, karena suhu tubuhnya sudah lebih rendah daripada udara sekitar—teman pendaki yang ditolong Bang Dino malah sudah buka baju segala. Bila keadaan sudah separah itu, hanya ada satu cara yang bisa dilakukan dengan fasilitas terbatas, yaitu menempelkan badan orang lain yang suhu tubuhnya masih normal ke badan penderita supaya perpindahan panasnya terjadi perlahan-lahan dan korban tidak shock.

Fay memonyongkan bibir. Kalau menilik cerita Bang Dino, secara teoretis mestinya saat ini ia harus bersyukur karena setidaknya ia masih merasakan dingin. Tapi yang jelas, rasa dingin menusuk yang membuat permukaan kulitnya seperti sudah menebal dan terasa ngilu setiap kali tersentuh sama sekali tidak bisa membuatnya lega. Kakinya yang sedari tadi sudah protes kini juga sudah berteriak-teriak minta diistirahatkan.

Setelah celingak-celinguk beberapa kali, akhirnya Fay duduk di salah satu akar pohon yang mencuat keluar tanah, sambil berharap posisi tidak nyaman ini tidak akan berlangsung lama. Harapan itu semakin lama semakin terkikis hingga tak bersisa, ketika ia melihat hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, sementara detik berlalu menjadi menit kemudian menjadi jam, hingga gelap menyelimutinya tanpa kompromi.

Fay menyalakan lampu arlojinya dan menggigil—sudah hampir tengah malam! Matanya sudah sedari tadi mulai beradaptasi dengan gelap—pepohonan dan dedaunan di sekelilingnya mulai muncul samar-samar sebagai siluet hitam yang lebih pekat daripada udara yang sudah pekat. Hujan sudah berhenti tapi sesekali tetesan air sisa hujan yang bergelantungan di cabang-cabang pohon di atasnya jatuh menimpa kepala dan Fay merasa kepalanya seperti ditusuk dinginnya air. Udara dingin yang dihirup napasnya juga menyakiti paru-parunya. Ingin rasanya ia menangis, tapi rasanya hal itu sangat bodoh. Pelepasan emosi yang jangankan memberi solusi, lega sesaat pun tidak.

Sampai kapan ia mampu bertahan dengan dingin yang menggigit dan kegelapan yang pekat seperti ini? Di mana ia harus mencari tempat berlindung untuk beristirahat? Mungkinkah ia tidur dalam kondisi seperti ini, basah dan dingin? Bagaimana caranya ia bisa menemukan tempat yang lebih kering, atau bahkan sekadar beranjak tanpa mencederai dirinya sendiri dalam kegelapan seperti ini? Bagaimana kalau tidak ada orang yang mencarinya? Bagaimana kalau Philippe memutuskan dirinya tidak terlalu berharga untuk dicari?

Sepertinya menangis adalah salah satu pilihan jangka pendek yang harus dijajal, pikir Fay frustrasi sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.

Atau berdoa.

Dengan perasaan agak tertekan Fay mencoba mengingat Tuhan, memberanikan diri meminta bantuan-Nya untuk bisa keluar dari kekacauan ini. Pikirannya melayang ke sajadah dan mukenanya yang masih ada di koper, yang tidak dikeluarkan tadi siang karena ia berpikir masih bisa menunda ibadahnya hingga sore. Shame on you, Fay! pikirnya sebal.

Di tengah-tengah kekalutan pikirannya, terdengar suara teriakan di kejauhan. Fay menegakkan tubuh dan menajamkan pendengaran. Benarkah itu suara orang, atau ia hanya berhalusinasi positif karena habis berdoa?

Suara teriakan itu semakin dekat dan akhirnya terdengar jelas suara seorang pria meneriakkan namanya.

Fay langsung berdiri dan sontak berteriak sekencang-kencangnya, ”DI SINI... TOLOOONG!”

Terlihat di kejauhan sebuah cahaya kuning seperti berasal dari senter, dan sayup-sayup terdengar suara pria berteriak, ”Saya segera sampai di sana. Tunggu di sana dan jangan bergerak ke mana-mana!”

Fay mengembuskan napas lega. Dadanya terasa begitu ringan dan beban yang sedari tadi bercokol di kepala dan perasaannya kini sudah terangkat. Mendadak udara tidak terasa terlalu dingin menyengat kulit dan paru-parunya tidak terasa sakit lagi karena isapan udara yang dihirupnya. Bergerak-gerak mengentakkan kaki, Fay menunggu pria itu tiba. Yang terbayang olehnya sekarang adalah semangkuk sup hangat dan roti, kemudian tidur di kasur empuk dengan pakaian kering di bawah selimut hangat.

Terdengar suara aneh yang baru disadarinya belakangan berasal dari perutnya sendiri.

Fay meringis sambil memegangi perutnya. Sepertinya, bayangan akan sepiring sup hangat dan roti sudah membangunkan macan tidur di lambungnya.

Cahaya berwarna kuning semakin dekat dan akhirnya pria itu tiba.

Fay mengangkat tangan melindungi matanya sambil mengerjap ketika sorot senter yang menyilaukan diarahkan tepat ke mukanya.

”Kamu Fay Wiranata?”

Bukan, saya Cinderella.

”Iya,” jawab Fay cepat setengah dongkol. Pake nanya-nanya, lagi!

”Balikkan badan, berlutut, lalu letakkan kedua tangan di belakang kepala.”

Hah?

Hening sejenak.

Terdengar suara lolongan di kejauhan.

Terdengar suara gemeresik tumbuh-tumbuhan yang bergoyang bergesekan.

”BALIKKAN BADAN, BERLUTUT, LALU LETAKKAN KEDUA TANGAN DI BELAKANG KEPALA!” Hardikan pria ini menyadarkan Fay bahwa sedari tadi ia pastinya hanya terdiam dengan bego tanpa bergerak sedikit pun seperti orang pandir. Tapi apa yang harus ia lakukan? Balikkan badan, berlutut, letakkan kedua tangan di belakang kepala, ulang Fay kepada diri sendiri.

Fay pun akhirnya bergerak perlahan untuk melakukan apa yang diperintahkan, tidak terlalu yakin mengerti sepenuhnya apa yang diminta dan merasa sedikit tolol ketika melakukannya. Begitu lututnya menyentuh tanah, Fay mengeluh dalam hati ketika beceknya tanah yang basah terasa merembes melalui celananya.

Terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakang, disusul sebuah bunyi klik di pergelangan tangan kiri Fay.

”Aww...!” Fay berteriak ketika kedua tangannya diturunkan dengan kasar, kemudian disatukan di belakang punggung—pastinya dengan sebuah borgol. Lengannya kemudian ditarik ke atas hingga ia kembali berdiri.

”Target sudah ditemukan, kembali ke pusat sekarang,” ucap pria ini dengan suara berat.

Terdengar sebuah suara lain.

”SAM, apa-apan kamu ini? Lepaskan Fay, dia bukan tahanan!”

Fay terpaku sejenak. Hatinya mengenali alunan suara yang pernah membuat dirinya melayang dalam bahagia sebelum pikirannya sempat mencerna. Sekujur tubuhnya dijalari rasa hangat dan ia seakan melayang dalam ruang waktu yang tak berbatas, diterbangkan suara melenakan yang menyapa telinganya itu.

Suara pria yang dipanggil Sam tadi membuat Fay kembali menapak bumi.

”Kamu dengar perintah Philippe tadi untuk membawa gadis bernama Fay ini kembali ke rumah. Kamu kan tahu prosedurnya.”

”Tapi tidak ada alasan untuk mengikatnya seperti itu!” Sam tertawa ringan. ”Listen to yourself! Kalau Paman mendengar kamu bicara seperti itu, kamu pasti dihajar habis.”

Fay menahan napas. Ingin rasanya menoleh untuk melihat pemilik suara yang selalu ada di hatinya, tapi lehernya terasa kaku. Apakah ini hanya mimpi? Benarkan itu suaranya?

Sam kembali berkata, ”Dengar ya, aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian dan aku nggak mau tahu. Aku cuma diperintahkan untuk mencari dan membawa gadis ini kembali, dan kecuali Paman memberikan instruksi khusus, cara inilah yang sesuai dengan protokol.”

Terdengar suara langkah kaki menapak di tanah yang basah diselingi gemeresik rerumputan tersapu langkah yang semakin mendekat. Fay terkesiap ketika mendadak sosok pemuda berambut pirang dengan wajah tampan yang selama ini tidak pernah luput mengisi semua sudut hatinya, sudah berada di hadapannya.

Kent.

Dimensi ruang bagaikan terlebur menjadi satu massa yang menyesakkan benak dan perasaan Fay. Sebersit rasa yang selama ini sudah berusaha ia pendam kembali hadir.

Tanpa berkata-kata Kent membuka jaket yang ia pakai dan menyampirkan jaket itu di pundak Fay. Kent lalu menarik ritsleting jaket secara penuh hingga ke leher Fay.

Fay menahan napas dan berusaha tidak melihat wajah Kent saat wajah tampan itu berada begitu dekat dengannya. Rasa hangat langsung menjalari tubuhnya bahkan ketika yang bersentuhan hanyalah ujung-ujung napas yang mereka embuskan, yang bertautan bagaikan jemari yang berusaha mengetuk kembali gerbang hatinya. Susah-payah Fay berusaha menepis rasa apa pun yang hadir dengan mencoba mengingat kekesalannya tahun lalu kepada Kent. Gagal.

Sam memegang dan menarik lengan Fay, kali ini tidak terlalu kasar, dan Fay mengikuti arahan Sam tanpa bicara. Kent mengikuti di belakang mereka. Fay merasa langkah kakinya setengah melayang, sebagian disebabkan karena rasa bahagia yang dengan tak tahu diri muncul begitu saja, dan sebagian karena tunas-tunas panik yang bermunculan dengan setiap langkah yang membawa mereka lebih dekat ke rumah. Lengan jaket yang kosong terasa bergoyang-goyang di kedua sisi tubuh Fay dan sesekali ranting-ranting terasa melibas bagian lengannya, untungnya bagian itu terlindungi jaket Kent. Wajah Kent yang tadi begitu dekat dengan wajahnya langsung terbayang-bayang di benaknya dan dengan kesal Fay merasakan ada desiran halus di dadanya setiap kali momen itu melintas.

Terdengar suara Sam, ”Jadi, ini gadis yang menghebohkan itu, ya?”

Fay tertegun mendengar pertanyaan Sam yang jelas ditujukan pada Kent. Sambil berusaha menghindari ranting-ranting di sebelahnya, Fay menyimak.

”Shut up, Sam. You don’t know what you’re talking about!” Terdengar gumaman Kent.

Sam tertawa. ”Of course I don’t... officially. Tapi dinding kan bisa bicara, terutama di rumah. Jadi, hubungan kalian seserius apa?”

Fay tetap menyimak dengan debar jantung yang langsung memburu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sam itu.

”Rasanya tadi kamu bilang kamu nggak mau tahu.”

”Secara resmi aku tidak mau tahu... dan mungkin seharusnya memang tidak usah tahu. Tapi jangan salahkan aku kalau penasaran gadis macam apa yang membuat nasib kamu satu tahun terakhir ini buruk begitu. Bukan cuma aku yang penasaran, tapi yang lain juga... Larry bahkan sudah membuka taruhan untuk ini.”

”Taruhan apa?!” Suara Kent terdengar lebih banyak kesal daripada bingung.

”Tentang sejauh mana hubungan kalian. Semua menebak hubungan kalian sudah serius karena kalau tidak untuk apa Andrew repot-repot mengasingkan kamu satu tahun terakhir ini. Aku berganti pacar mungkin setiap tiga atau empat bulan sekali. Lou sudah tiga tahun pacaran dengan gadis yang sama. Untuk dua kasus itu, Andrew tidak pernah ambil pusing. So tell me, kalian sudah bertunangan diam-diam atau sebangsanya?”

”Kalian tidak punya topik taruhan lain, apa!”

Dengan dada berdebar nggak keruan, Fay tersenyum sedikit mendengar gerutuan Kent. Wajah tampan yang serius dengan kening berkerut dan bibir tipis yang mengerucut langsung menari-nari di pelupuk mata.

”Tidak ada yang semenarik ini. Sejauh ini ada tiga pendapat. Larry yakin kalian belum berbuat terlalu jauh dan kamu diasingkan semata untuk menjauhkan kamu dari... dia. Aku dan Lou ada di kubu kedua, menurut kami kalian sudah bertunangan diam-diam. Sedangkan si Elliot lebih parah lagi, menurut dia kalian sudah menikah diam-diam... si geek satu itu sangat terobsesi dengan ide tersebut dan dia yakin akan menang.”

”Tolol sekali!”

Fay senyam-senyum ke-ge-er-an sendiri mendengar ucapan Sam dan gerutuan Kent. Fakta bahwa ada taruhan yang khusus membahas hubungan dirinya dengan Kent membuktikan bahwa hubungan mereka berdua memang istimewa walaupun tidak berakhir seperti yang diharapkan, pikirnya senang agak-agak dangdut dengan hati setengah melayang.

Hening sejenak.

Fay hanya mendengar degup jantungnya sendiri yang ia yakin sudah terdengar hingga ke pinggir hutan.

”Jadi, siapa yang menang?” desak Sam. ”Tidak ada. Tutup saja taruhan kalian!”

”Dasar perusak kesenangan,” ucap Sam menggerutu.

Mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi, yang terdengar hanyalah keheningan yang diselingi suara-suara binatang malam dan suara gesekan kaki mereka dengan rumput-rumput yang basah. Fay membiarkan kakinya melangkah tanpa dirasa dan benaknya bertanya-tanya tanpa mencerna. Apa maksud Sam dengan nasib buruk yang menimpa Kent? Dan kenapa muncul pertanyaan tentang keseriusan hubungan Kent dengan dirinya? Apakah keduanya berkaitan? Memangnya sejauh mana hubungan mereka? Apakah maksudnya Kent diasingkan? Diasingkan seperti apa? Apakah itu sebabnya Kent menghilang begitu saja dan tidak pernah mengontaknya?

Wujud rumah yang terang-benderang terlihat di antara pepohonan dan segera mereka meninggalkan jalan setapak dan memasuki area halaman di belakang rumah. Seliweran pertanyaan di benak Fay yang sudah tumpang-tindih langsung buyar, digantikan sup dan roti seperti yang sebelumnya dibayangkan.

Sam menggiring Fay memasuki pintu belakang yang tembus ke dapur.

Fay mengembuskan napas lega ketika merasakan kehangatan menyapa, perlahan-lahan menyapu dingin yang sedari tadi bercokol di kulitnya. Sekilas ia melirik ke meja dapur dan kompor. Di atas kompor ada sebuah panci yang dengan sepenuh hati ia harap berisi sup. Perutnya langsung keruyukan. Tidak ada makanan lain sejauh mata memandang.

Mendadak Kent sudah berdiri di depan Fay.

Fay lagi-lagi terkesiap dan serta-merta menahan napas ketika Kent tanpa bersuara membukakan ritsleting jaket dan membantu melepaskannya. Dengan dada berdebar kencang, Fay mencuri-curi pandang ke Kent dan sukses kembali melayang tanpa daya melihat wajah tampan dihiasi hidung mancung sempurna di antara dua mata biru terang itu. Dasar norak! Ingat, Fay, dia ninggalin lo begitu saja!

Omelan terakhir itu membuat Fay mengalihkan pandangan ke Sam. Dengan cahaya benderang di dapur ini, baru terlihat bahwa usia Sam ternyata masih muda, kemungkinan di awal dua puluhan. Rambut Sam kecokelatan bergelombang dan raut wajahnya sangat percaya diri, hingga bahkan dalam keadaan diam seperti ini dia terlihat seperti cenderung mengejek. Pakaiannya sama dengan Kent, hitam-hitam dengan sepatu bot yang juga berwarna hitam. Sebuah headset melingkari telinga kanannya. Agak bergidik Fay melihat sarung senjata berisi sepucuk senjata berwarna hitam terpasang di tubuh Sam—sesuatu yang tidak ada di Kent.

Tepat saat mereka meninggalkan dapur, Philippe datang dari arah berlawanan dan Fay langsung merasa jantungnya copot saat beradu pandang dengan pria itu. Sorot marah dalam pandangan Philippe membuat pria itu terlihat siap menyantapnya kapan saja.

”Kent, kembali ke kantor sekarang juga!” perintah Philippe. Kent tampak seperti akan protes, tapi akhirnya urung dan ber-

jalan dengan langkah lebar ke arah foyer.

Fay menelan ludah melihat Kent berjalan meninggalkannya. Ia merasa kepergian Kent memupuskan sisa-sisa keberaniannya yang memang tinggal sedikit.

Sam mendorong lengan Fay, mengarahkannya ke ruang tengah. Begitu melangkah masuk, Fay disambut tatapan dua pria lain, berusia tiga puluhan dengan busana hitam-hitam seperti Sam.

Yang satu duduk di sofa dan yang satu lagi berdiri.

Pria yang berdiri berambut hitam yang dibiarkan gondrong hingga hampir menyentuh bahu, dengan postur yang sangat proporsional. Pria ini memperhatikan Fay dengan saksama dengan sorot mata dingin.

Fay buru-buru mengalihkan pandangannya, beradu dengan tatapan pria yang ada di sofa. Pria ini berwajah oriental dengan rambut hitam disisir rapi dan tampak sangat terpelajar. Ekspresi pria ini sangat tenang dan tatapannya tidak menghakimi dan tidak terlihat dingin menyelidik seperti si gondrong. Fay merasa langsung bisa menyukai pria ini, kalau saja keadaannya berbeda. ”AAARRGH...!” Detik berikutnya Fay berteriak ketika mendadak sebuah tangan mencengkeram pundak kirinya, begitu menyakitkan, hingga ia merasa bahunya lepas dari tempatnya. Fay berusaha menggeliat ke segala arah untuk melepaskan cengkeraman itu, tapi dengan kondisi kedua tangan masih diborgol di belakang tubuh, usahanya tidak membuahkan hasil. Sambil berteriak, ia mencoba menahan rasa sakit hingga matanya berair.

Cengkeraman itu mendadak terlepas dan seseorang maju ke depan Fay.

Philippe.

Fay merintih menahan sakit; bahunya seperti remuk terburai dan ia sempat menoleh dengan rasa takut untuk memastikan apakah bahunya masih ada di tempatnya. Susah-payah ia berusaha menahan mulutnya untuk tidak bersuara. Dadanya perlahan-lahan mulai sesak penuh kemarahan. Ia merasa sangat dilecehkan dengan perlakuan kasar yang dilakukan Philippe di depan tiga pasang mata yang mengamati reaksinya seolah ia tontonan di pasar malam!

”Kamu lihat saja sendiri seperti apa gadis ini!” ucap Philippe pada si pria oriental.

Pria oriental itu menanggapi dengan suara yang tenang dan ringan, ”Tidak perlu terburu-buru menyimpulkan apa pun. Fokuskan saja pada apa yang perlu diketahui saat ini, misalnya rencana pelarian gadis ini.”

Philippe mendelik, sepertinya kesal karena tidak mendapat dukungan sebesar yang diharapkan.

Fay mencoba berbicara, marahnya tadi mulai dicampuri rasa panik, ”Saya tidak melarikan diri... saya tersesat.” Suaranya terdengar pelan dan parau di telinganya sendiri.

”Tidak mungkin kamu ada di tempat kamu tadi kalau tidak punya niat melarikan diri!”

Philippe menoleh kepada si pria oriental, ”Saya ingin meminjam Russel malam ini.”

”Silakan,” jawab si pria oriental, kemudian berdiri. ”Target sudah ditemukan, jadi kami akan pergi sekarang.” Philippe mengangguk kemudian berkata kepada si gondrong yang ternyata bernama Russel, ”Bawa dia ke basement.”

Terdengar suara siulan kecil keluar dari mulut Sam.

Fay menoleh ke samping dan melihat pada wajah Sam terulas cengiran yang semakin membuat ekspresinya tampak mengejek. Sam menunduk, mendekatkan kepalanya ke telinga Fay, kemudian menepuk-nepuk pundak Fay sambil berbisik, ”Good luck. Ada yang akan bersenang-senang malam ini dan pastinya bukan kamu.”

Fay merasa bulu kuduknya kembali meremang. Apa maksudnya?

”Sam...,” tegur si pria oriental.

”Cuma ucapan ’good luck’ biasa kok,” ucap Sam sambil mengangkat tangan.

Philippe mendelik dengan raut kesal yang begitu kentara, ”Hilarious.”

Diiringi tatapan Philippe yang menusuk, Sam buru-buru berlalu mengikuti si pria oriental. Sepertinya Sam cukup familier dengan omelan Philippe dan sudah tahu kapan harus menutup mulut. Philippe mengikuti langkah Sam.

Russel menarik tangan Fay ke luar ruangan dan mereka berhenti di depan sebuah lemari di dekat tangga, tepat sebelum memasuki foyer. Fay terbelalak melihat lemari itu sudah bergeser dari tempatnya semula, menampakkan tangga batu yang melingkar ke bawah, diterangi cahaya remang-remang dari lampu kecil yang menempel di dinding.

Perlahan Fay menuruni tangga melingkar dibantu oleh Russel. Sampai di bawah, mereka tiba di satu area yang luasnya kuranglebih sama seperti foyer. Ada satu jalan menuju ruang lain yang gelap gulita di sebelah kiri dan di sebelah kanan ada sebuah pintu besi.

Russel menarik Fay ke arah pintu besi lalu membuka pintu, menampakkan sebuah ruang dengan cahaya remang-remang dari sebuah lampu kuning di langit-langit. Philippe sudah berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan bersedekap.

Fay mengaduh ketika Russel menendang kakinya dari belakang, memaksanya berlutut di hadapan Philippe. Benar-benar penghinaan! Fay mendongak dengan marah dan perutnya langsung terasa mual ketika matanya beradu pandang dengan sorot mata Philippe yang dingin.

Philippe berkata, ”Saya sudah memperingatkan kamu bahwa saya tidak punya toleransi sama sekali terhadap kesalahan kecil, dan usaha kamu untuk melarikan diri adalah pelanggaran yang sangat berat.”

Fay menggeleng dengan putus asa. ”Saya tidak melarikan... AARRGGHH!” Ia menjerit ketika sebuah tangan mencengkeram pundaknya, persis di tempat yang sama dengan sebelumnya. Fay berteriak sambil mencoba menggeliat untuk melepas cengkeraman itu, tapi satu lagi tangan Russel mencengkeram tengkuknya, hingga ia tidak berkutik. Fay akhirnya hanya merintih kesakitan sambil memejamkan mata, mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh bercucuran.

”Saya belum mengizinkan kamu bicara,” ucap Philippe dingin. ”I’m sorry... please...,” Fay mencoba memohon di sela-sela rin-

tihannya. Air mata kini sudah mengalir di pipinya.

Cengkeraman itu lepas.

”Ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk membuat kamu bicara, tapi sebelum memulainya, saya akan memberikan kesempatan terakhir padamu. Pertama, saya ingin kamu mengakui kamu melarikan diri. Kedua, saya ingin kamu mengatakan apa rencana kamu dengan pelarian itu.”

Fay menunduk dengan benak kalut dan tubuh gemetar. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Philippe bahwa ia tersesat, bila yang ingin didengar Philippe adalah sebuah pengakuan palsu? Ia mencoba mengatur napasnya yang sudah mulai naik-turun, dipicu rasa takut yang sudah menyeruak dari dalam perutnya. ”Apakah kamu melarikan diri?” tanya Philippe.

Fay menelan ludah dan menjawab dengan suara gemetar, ”Tidak...” Detik berikutnya tangan Philippe berkelebat ke arah Fay dan Fay berteriak ketika sebuah sengatan panas terasa di pipi kirinya. Belum sempat Fay memulihkan diri, tangan Russel sudah mencengkeram rambutnya, memaksa kepalanya mendongak untuk menatap Philippe.

”Bagaimana kamu menjelaskan bahwa kamu ditemukan hanya beberapa ratus meter saja dari jalan raya?”

”Saya tersesat,” jawab Fay dengan suara yang terdengar seperti terkulum di telinganya sendiri.

Tanpa berkata-kata, Philippe berjalan ke sudut ruangan dan menggeser sebuah meja kayu berukuran 1 x 1 meter ke tengah ruangan. Di saat bersamaan, Russel menarik Fay hingga berdiri, lalu membuka borgol yang menyatukan dua tangan Fay di punggung.

Fay mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa perih, namun tidak sempat merasa lega ketika melihat Philippe meraih kantong jasnya lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna hitam.

Napas Fay langsung tercekat melihat apa yang diambil Philippe. Sebuah pisau berukuran kecil dengan ujung tajam berkilauan, seperti pisau bedah. Terasa satu desiran kuat di perut dan Fay menahan napas. Akal sehatnya tidak bisa memberi penjelasan yang masuk akal, tapi perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

Detik berikutnya, tangan Russel menyambar pergelangan tangan Fay dan memitingnya ke belakang, dan satu tangan Russel yang lain mendorong punggung Fay hingga ia terjerembap ke atas meja.

Philippe menarik tangan kiri Fay dan merentangkannya dengan paksa di atas meja.

Fay mencoba menggerakkan tangannya dengan panik dan ia berteriak kesakitan ketika lengannya dipiting lebih keras oleh Russel.

”Saya bersumpah tidak berusaha melarikan diri... saya tidak membawa apa-apa... paspor, uang, apa pun!” sembur Fay seperti meracau. Ia menatap mata Philippe dengan pandangan memohon dan menangkap kilatan sangat keji pada sorot mata Philippe. Saat itu juga ia tahu apa pun yang ia katakan tidak ada artinya. Philippe tidak membutuhkan penjelasan apa-apa—pria ini memang ingin menyakitinya! Kesadaran itu membuat Fay menggigil dan air matanya tanpa bisa dicegah kembali mengintip dari sudut matanya.

”Mari kita lihat sejauh mana kamu bisa bertahan,” ucap Philippe lagi.

Fay menggeleng sambil berusaha meredam isaknya yang jelas tidak akan mengubah nasibnya malam ini. Dengan ngeri ia menyaksikan pisau tajam berkilauan di tangan Philippe bergerak mendekati tangannya. Fay menahan napas ketika merasakan dingin logam menyentuh kulit tangannya.

”Good evening!” Mendadak terdengar sebuah suara tenang dan berwibawa dari arah pintu masuk.

Fay menoleh dengan gemetar dan melihat Andrew berjalan mendekat.

Philippe tetap membiarkan pisau menempel di tangan Fay dan menyapa Andrew dengan kening berkerut, ”Ada kunjungan kehormatan rupanya.”

”Kamu sepertinya cukup sibuk malam ini,” ucap Andrew tenang.

”Sangat sibuk! Gadis ini melarikan diri dan dia masih belum mau mengakuinya. Saya juga tidak bisa menerima kesalahan seberat itu terjadi di bawah pengawasan saya!”

Andrew menatap Philippe dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak dan kembali berkata dengan tenang, ”Saya minta kamu ke kantor sekarang, ada yang ingin saya bicarakan.” Philippe menatap Andrew tajam—terlihat sekali dia sangat keberatan.

Fay menelan ludah sambil memandang mata pisau tajam yang masih menempel di kulitnya, tanpa tanda-tanda akan disingkirkan oleh Philippe.

”Sebaiknya kamu berangkat sekarang karena ada yang harus kamu lakukan sebelum pertemuan itu—berkasnya sudah ada di mejamu. Untuk urusan Fay malam ini bisa kamu serahkan ke saya,” tegas Andrew.

”Baik,” jawab Philippe datar.

Fay mengembuskan napas lega diam-diam dan... ”Aaarrgghh...!” Fay berteriak ketika tanpa disangka-sangka ujung pisau melesak ke dalam dagingnya. Butir demi butir darah keluar dari luka sepanjang dua senti yang kini tertoreh di tangannya dan Fay langsung merintih menahan sakit.

Philippe mengangkat kedua tangannya sambil menatap Andrew. ”Ups, sepertinya tangan saya tergelincir.” Tanpa terburu-buru Philippe menyimpan pisau di tangannya, lalu beranjak keluar diikuti Russel.

Fay melihat luka sayatan di tangannya dan berusaha menyeka darah yang keluar dengan jari tangan kanannya yang masih gemetar. Tapi, satu tangan putih kokoh milik Andrew mencegahnya.

Andrew mengangkat tangan kiri Fay yang terluka dan memperhatikannya sejenak, kemudian mengeluarkan saputangan dari sakunya dan membebat luka Fay dengan hati-hati. ”Ini saja seharusnya cukup untuk menghentikan perdarahan sekarang juga. Tidak perlu dijahit. Lukamu tidak dalam.”

Fay tidak bisa bicara. Napasnya masih tersengal-sengal karena tangisan yang siap dipecahkan di setiap ujung napasnya. Ia berusaha keras untuk tidak kembali menangis dengan menggigit bibirnya.

Tangan Andrew meraih dagu Fay dan mendorongnya sedikit ke atas sehingga Fay menengadah menatapnya, lalu bertanya, ”Kamu tidak apa-apa?”

Nada khawatir di suara Andrew begitu jelas terdengar dan pertahanan Fay langsung pecah. Fay pun menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai terisak tanpa bisa berhenti.

Andrew menarik Fay mendekat lalu mendekapnya.

Untuk pertama kalinya di malam yang panjang ini Fay merasa begitu hangat dan terlindungi. Rasanya ia tidak mau berhenti menangis dan ingin melepas semua beban di dadanya lewat air mata yang ia tumpahkan.

”It’s okay now,” ucap Andrew berusaha menenangkan Fay, mengusap-usap punggung gadis itu hingga tangisnya reda.

”Sebaiknya kita naik sekarang. Saya sudah meminta Mrs. Rice memanaskan sup dan menyiapkan roti serta segelas susu hangat. Tentunya kamu harus makan dulu... luka kamu juga harus dibersihkan. Setelah itu baru kita pulang,” lanjut Andrew.

Satu piring sup hangat dengan roti, ditambah susu hangat pula. Sepertinya nasib sudah siap untuk berdamai, pikir Fay dengan sedikit kelegaan di sela-sela rasa lelah yang muncul tiba-tiba.

Andrew meletakkan satu tangan di punggung Fay dan mengusap-usapnya sebentar, kemudian membimbingnya berjalan menuju tangga dengan sebuah dorongan lembut di punggung.

Fay melihat Andrew yang tersenyum tipis seperti berusaha menenangkannya, dan akhirnya ia mencoba tersenyum—bukan senyum yang terkembang sepenuhnya, hanya seulas senyum seadanya di sela-sela rasa lelah, tapi cukup untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Andrew atas penutup malam yang panjang ini. Thank God... finally.

Andrew menyodorkan segelas anggur kepada Philippe, yang duduk di hadapannya, di ruang kerjanya di markas COU. ”Bagaimana jalannya latihan hari ini?”

”Saya masih tidak bisa terima dia punya nyali untuk melarikan diri!” jawab Philippe keras, lalu menghirup anggurnya.

Andrew tidak menanggapi dan hanya tersenyum tipis. Philippe menggeleng lalu kembali berkata, ”Satu hal yang mem-

buat saya geram, dia tidak terlihat takut seperti yang seharusnya, baik saat latihan maupun tadi, saat di basement.”

”Mungkin kamu yang terlalu lunak sekarang. ”

Philippe menangkap sebuah sindiran dalam nada suara Andrew dan langsung membalas, ”Kamu juga tidak memberi saya kesempatan untuk benar-benar keras kepada gadis itu!”

Sudut bibir Andrew terangkat sedikit ketika berkata, ”Jangan bilang kamu tidak sempat menikmati acara intim kalian tadi di basement ”

”Sebenarnya bisa dikatakan saya belum mulai ketika kamu datang.” Philippe memainkan gelas di tangannya lalu menambahkan, ”Anyway, harus saya akui, saya cukup terkejut dengan cara gadis itu bereaksi di bawah tekanan.”

”Saat latihan atau saat di basement?”

”Dua-duanya. Saya cukup keras saat melatihnya, dan saya lihat dia sama sekali tidak tergerak untuk berusaha lebih baik—seakanakan semua ancaman dan kekerasan yang dia terima tidak bisa memengaruhinya sama sekali. Saat di basement juga kurang-lebih sama—dia tidak setakut yang seharusnya.”

Andrew mengangkat bahu dan bertanya sambil lalu, ”Benarkah begitu? Saya mendapat kesan dia sangat ketakutan saat berhadapan dengan kamu di basement.”

Philippe berdecak. ”C’mon, Andrew, kalau yang berdiri di hadapan saya bukan dia, tapi gadis delapan belas tahun lain, mungkin mereka sudah meratap-ratap minta ampun. Jangankan gadis lain, Elliot saja kalau sampai harus berhadapan dengan saya seperti tadi pasti sudah kencing di celana!” Andrew tertawa membayangkan reaksi Elliot, keponakan mereka yang paling muda.

Philippe kembali berkata, ”Kalau hukuman dan kekerasan tidak bisa menjadi motivasi bagi gadis ini untuk memberikan usaha yang terbaik, ini semua hanya buang-buang waktu.”

Andrew tersenyum tipis. ”Relax, Philippe.... Masih ada beberapa hari lagi sebelum tugasnya dimulai. We shall see.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊