menu

From Paris To Eternity Bab 03: Terusik

Mode Malam
Terusik

LIMUSIN  yang  dibawa  Lucas  bergerak  perlahan  dan  tak  lama kemudian sudah berada di tengah keramaian pusat kota, mencoba menyelinap dengan kaku di antara seliweran mobil-mobil yang memiliki beragam model, warna, dan ukuran. Suara klakson yang frekuensinya bermacam-macam sesekali terdengar dan ikut menemani perjalanan.

Fay membiarkan pikirannya menerawang tak menentu, berlompatan antara kejadian masa lalu dan skenario masa depan, terutama dengan akan hadirnya seorang pria gila bernama Philippe dalam hari-harinya ke depan!

Sayang bukan Andrew saja yang mengawasi latihan, desah Fay sambil membetulkan kucir rambutnya. Hidup memang berputar dengan aneh. Sebelum bertemu Andrew tadi pagi, ia menyesali goresan nasibnya yang mengharuskan dirinya bertemu dengan pria itu. Tapi kini ia malah menyesali goresan nasibnya yang baru, yang sebenarnya merupakan harapannya di awal perjalanan ini, yaitu berada sejauh mungkin dari Andrew. Jadi, mau lo apa sih, Fay! omel Fay pada diri sendiri, lalu mengembuskan napas dan mencoba berkonsentrasi pada jalan yang dilalui.

Itu gedung Opera!

Fay langsung menegakkan tubuh dengan benak yang sepenuhnya menapak kembali ke masa kini melihat gedung Opera—terlihatnya gedung itu adalah penanda ia akan segera memasuki area tempat kursusnya dulu. Perasaan antusias menjalari Fay yang mulai bersemangat memperhatikan gedung demi gedung dan jalan yang dilewati, berusaha mencari bentuk-bentuk yang familier dengan perasaannya.

Itu stasiun Opera!

Fay memajukan badannya ke arah jendela dan mengamati stasiun Metro yang menjadi tujuannya setiap pagi untuk mencapai tempat kursus. Stasiun itu pun dilewati dengan cepat oleh Lucas yang sama sekali tidak berniat memperlambat laju mobil.

Gedung L’ecole de Paris!

Sebersit rasa haru menghampiri Fay melihat bangunan berdesain gotik tempat ia menjalani hari-harinya ketika kursus. Lucas mulai memperlambat laju mobil dan Fay punya waktu cukup untuk menghayati perasaannya sambil mengamati jalan di depan pintu sekolah yang di hari Minggu ini tertutup rapat.

Gedung itu pun dengan cepat berganti menjadi gedung lain, disusul gedung lain, dan gedung lain, hingga beberapa blok kemudian mobil menepi dan berhenti di sisi trotoar.

Lucas turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Fay. ”Pukul satu siang harap tiba kembali di sini, dan harap hatihati. Copet ada di mana-mana,” ucap Lucas.

Fay menatap Lucas sambil mengangkat alis. Seingatnya, pria ini tidak pernah bersikap seolah ia bukan hanya barang yang perlu dibawa-bawa. Ia bahkan tidak ingat kalau Lucas pernah berbicara dengannya.

”Merci,” jawab Fay singkat. Fay melangkah di trotoar dan mulai menapaki jalan. Perlahan namun pasti, kakinya melangkah menuju satu tempat yang sama sekali tidak ingin dihampiri pikirannya namun dikalahkan dengan mudah oleh panggilan hatinya—sebuah kafe tempat ia pernah makan siang bersama Kent. Ruang waktu seakan tidak nyata saat ia melangkah, dan ketika waktu sudah kembali berwujud dalam kekinian, ia mendapati dirinya sudah berada di depan tempat itu.

Fay berhenti sejenak. Di kaca jendela terbaca ”Café du Temps”—nama ini bahkan tidak sempat ia perhatikan saat masuk bersama Kent dulu. Fay mengatupkan kedua tangannya yang mendadak terasa dingin. Berada di depan sebuah tempat yang begitu disesaki kenangan indah yang sekarang hanya menyisakan pedih membuatnya sudah tidak tahu lagi apa yang ia harapkan. Bagaimana kalau Kent ada di dalam...? Apa yang harus ia lakukan dan katakan kalau bertemu Kent? Tapi kalau Kent tidak ada, akankah ada kesempatan untuk bertemu cowok itu lagi? Jadi, mana yang ia pilih: bertemu Kent sekarang atau tidak?

Fay menggeleng sebal. Whatever! Tangannya bergerak meraih gagang pintu.

Pintu dibuka dengan suara bergemerencing dan begitu berada di dalam, mata Fay menyapu ruangan dengan cepat. Rasa kecewa segera menyelisip masuk ke hatinya ketika tidak melihat sosok yang ia kenali. Saat itu juga ia menepis bayangan Kent yang mencoba lewat di benaknya.

Fay langsung menempati satu-satunya meja kosong yang ada di sisi tembok, mendudukkan ranselnya di kursi, kemudian memesan makanan: satu porsi salad tuna dengan pilihan roti croissant dan minuman bersoda. Pesanannya datang tidak lama kemudian dan saat ia sedang setengah menerawang sambil menikmati saladnya, terdengar sapaan yang ditujukan padanya dalam bahasa Prancis dengan lafal kaku.

”Excuse-moi... syesyesyefakang?” Fay menoleh dan setengah melongo melihat seorang cowok berambut hitam dengan potongan model tentara sedang berdiri di depannya dan menatapnya dengan ramah sambil tersenyum.

”Pardon me?” tanya Fay dalam bahasa Inggris, sambil mengutuki kebodohannya. Hanya bagian ”excuse-moi” yang bisa ditangkap telinganya, sedangkan sisanya, lupakan saja!

Cowok itu membalas dalam bahasa Inggris, ”Boleh aku duduk di sini? Tidak ada lagi kursi kosong di kafe ini dan...,” dia memegang perutnya dengan wajah memelas, ”...aku sudah kelaparan.” Waduh. Peringatan Lucas tentang copet tadi langsung ter-

ngiang-ngiang di telinga.

Jangan bodoh, Fay, mana ada copet yang minta izin duduk di tempat calon korban.

Fay mencoba tersenyum dan menjawab singkat, ”Silakan.” Segera Fay mengangkat ranselnya dari kursi dan meletakkannya di pangkuan. Lebih aman begini, pikir Fay sambil memeluk tasnya. Lagi pula, lumayanlah daripada nungguin makhluk yang nggak pantas ditunggu, pikirnya sinis kepada sisi hatinya yang masih berharap bertemu dengan Kent.

”Fiuh, thanks ya...” Cowok itu tampak lega lalu mengempaskan diri ke kursi. Dengan bahasa Prancis terbata-bata dia langsung memesan satu menu pembuka berupa sup dan satu menu utama sandwich kebab.

Fay memperhatikan cowok ini sejenak. Kulit mukanya putih dan mulus, dengan rambut hitam yang agak jabrik karena dipotong model tentara. Cowok ini memakai T-shirt biru tua yang ukurannya pas di badan, dengan sebuah kalung etnik melingkari lehernya. Di tangannya juga ada gelang etnik dengan batu-batu yang menutupi sebuah tato yang melingkari pergelangan tangannya. Hmm, not too bad.

Mendadak tangan cowok ini terulur ke arahnya. ”Enrique. Very pleased to meet you.”

Fay tersentak dan dengan jengah menyambut uluran tangan Enrique sambil berharap Enrique tidak sadar tadi sedang ia perhatikan. ”Fay. Pleased to meet you too.”

”Fay? Cukup unik. Kamu berasal dari mana?” Enrique bertanya dalam bahasa Inggris yang kental dengan aksen Amerika Selatan.

”Aku dari Indonesia. Kalau kamu dari mana?”

”Aku dari Venezuela. Memangnya kentara sekali ya aku bukan penduduk Paris?” tanya Enrique dengan raut jenaka dan aksen yang masih juga begitu kental.

Fay tertawa.

Enrique ikut tertawa kemudian kembali bertanya, ”Kamu lagi liburan di Paris?”

”Iya,” jawab Fay singkat. Ia agak enggan memulai suatu kebohongan. Dan sebelum terpaksa harus melakukannya, ia langsung balik bertanya, ”Kalau kamu, liburan juga?”

”Yap. Aku sekarang sedang ikut kursus bahasa Prancis. Aku di sini tinggal beberapa hari lagi, kemudian aku akan mampir ke Brazil sebelum pulang ke Venezuela.”

”Wah, itu sih agendaku tahun lalu,” ucap Fay sambil menyendok saladnya. Ia mulai santai.

”Yang mana agenda kamu, kursus bahasa, pergi ke Brazil, atau pergi ke Venezuela?” tanya Enrique sambil mengangkat alis.

”Kursus bahasa...”

Enrique memotong dengan bersemangat, ”Kalau begitu, kamu bisa membantu aku berlatih bahasa Prancis. ”

Ganti Fay yang memotong dengan panik sambil melambaikan tangannya yang masih memegang pisau, ”Tidak... tidak. aku

sudah lupa sama sekali. Sudah satu tahun aku tidak berbahasa Prancis. Kalau membaca atau mendengar orang bicara, kadangkadang aku bisa, tapi kalau disuruh merangkai kata-kata dan bicara, aku menyerah.”

Enrique melirik tangan Fay yang melambai-lambai di udara. ”Oke. Aku tidak akan meminta hal mustahil seperti itu lagi—aku tidak mau kalau sampai terluka,” ucapnya pura-pura serius. Fay meringis dan meletakkan pisau di tangannya. ”Sorry.” Pelayan datang dan meletakkan pesanan Enrique di meja. Sup-

nya kental berwarna krem, disajikan dengan satu iris roti baguette. Kebab pesanan Enrique tampak sangat menarik dengan roti agak kecokelatan dan menggembung dipenuhi dedaunan hijau dan ungu, serta daging.

Fay menelan ludah dan menyendok saladnya yang tinggal sedikit.

Enrique kembali bertanya sambil mengaduk-aduk supnya, ”Kamu kursus bahasa di mana tahun lalu?”

”Di L’ecole de Paris, tidak jauh dari sini.”

”Hei, itu tempat kursusku juga,” cetus Enrique cepat.

Fay bertanya dengan bersemangat, ”Oh ya? Yang mengajar kamu siapa, Monsieur ftierry, bukan?”

”Bukan, nama guruku Monsieur Leonard. Monsieur ftierry sudah pindah dan tidak mengajar lagi di sana. Waktu perkenalan di hari pertama Monsieur Leonard cerita bahwa dia guru baru, menggantikan Monsieur ftierry yang pindah ke Seychelles,” cerita Enrique sambil mencelupkan roti ke dalam sup.

”Hah, ke mana?” tanya Fay terbelalak. Nilai geografinya memang tidak terlalu bagus, tapi ia yakin Dea yang nilainya selalu sempurna saja mungkin tidak pernah mendengar nama yang baru disebutkan Enrique—atau setidaknya tidak bisa menunjukkan posisinya di peta.

”Seychelles, negara kepulauan di Samudra Hindia. Posisinya di lepas pantai sebelah timur benua Afrika.”

”Kamu pernah ke sana?” tanya Fay lagi sambil melirik sup Enrique yang permukaannya turun dengan cepat.

”Tahun lalu aku ke sana. Sebenarnya tujuan utamaku adalah mengunjungi famili dan surfing di Wild Coast, Afrika Selatan, tapi sebelumnya aku mampir ke Seychelles. Pemandangan di sana benar-benar spektakuler dengan pantai berpasir putih dan laut yang sangat biru,” jawab Enrique sambil menghirup habis supnya, lalu beralih ke kebab.

Fay memperhatikan kebab yang gendut itu masuk ke mulut Enrique. Sambil bersumpah dalam hati untuk memesan makanan itu kalau lain kali datang ke sini, Fay bertanya, ”Kamu sering surfing, ya?” Ia baru memperhatikan dada Enrique yang bidang dan lengannya yang tampak keras, mirip postur Reno.

”Iya, itu sih sudah aku lakukan sejak aku kecil. Mendiang ayahku malah pernah bilang dia curiga aku bahkan mulai surfing waktu masih di perut ibuku, karena aku melintir-lintir hingga terlilit tali pusar.”

Fay tidak tahu ia harus tertawa karena lelucon itu atau harus menunjukkan simpati dengan fakta bahwa ayah Enrique sudah meninggal, dan akhirnya ia memilih untuk mengajukan pertanyaan yang dirasanya cukup aman, ”Kamu sekarang tinggal di Venezuela?”

”Iya. Aku tinggal berdua bersama ibuku di Maracay, kota industri di utara Venezuela, sejak ayahku meninggal beberapa tahun yang lalu.”

”Kamu sekolah atau sudah kerja?” tanya Fay lagi, berharap bisa mendapat petunjuk tentang umur Enrique tanpa terlalu kentara. ”Dua-duanya. Aku bekerja pada salah satu teman ayahku. Dia

yang membiayai kuliahku serta kehidupan aku dan ibuku.” ”Wah, baik sekali dia. Pasti hubungan dia dengan ayahmu sa-

ngat baik,” Fay menanggapi. Ia sendiri tidak pernah terbayang siapa yang akan menjadi tumpuannya bila dihadapkan pada situasi serupa.

”Begitulah,” jawab Enrique singkat sambil menyuap kebab terakhirnya.

”Kamu ambil jurusan apa?” tanya Fay lagi.

”Ekonomi, baru akan masuk ke tahun kedua,” jawab Enrique, kemudian tersadar, ”Hei, dari tadi aku terus yang bercerita. Sekarang giliran kamu dong.” Ia melap mulutnya dan bertanya, ”Kamu sudah kuliah atau belum?”

Fay menjawab sambil setengah protes, ”Memang aku kelihatan seperti masih sekolah, ya? Aku akan kuliah sebentar lagi.” Ia berhenti sebentar lalu melanjutkan sambil nyengir, ”Yah, mudahmudahan sih, kalau aku lulus.”

Enrique tersenyum tipis dan berkata menenangkannya, ”Iya, aku tahu bangsa Asia biasanya tampak lebih muda daripada usia yang sebenarnya, makanya aku tanya apakah kamu sudah kuliah.” Ia melanjutkan, ”Rencananya kamu mau kuliah jurusan apa?”

”Aku ingin ambil jurusan teknik industri.”

Di pintu masuk terlihat beberapa orang berdiri dengan mata mencari tempat duduk kosong. Fay mengajak Enrique membayar apa yang mereka pesan kemudian mereka segera keluar.

Begitu mereka melangkahkan kaki di luar, udara terasa begitu segar; sangat berbeda dengan suasana di dalam yang mulai dipenuhi asap rokok.

Enrique berkata, ”Aku mau berjalan-jalan di sekitar sini sebentar. Mau temani aku?”

”Wah, aku harus pergi lagi pukul satu siang,” jawab Fay ragu.

”Ayolah, sekarang kan baru pukul setengah satu, kita bisa keliling blok sebentar dan kembali ke tempat ini lagi,” ajak Enrique lagi.

Fay berpikir sebentar kemudian mengangguk. Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan sambil bertukar cerita. Tidak butuh waktu lama hingga Fay merasa nyaman berbicara dengan Enrique. Rasanya seperti bercakap-cakap dengan seorang sahabat lama dan topik yang bahkan begitu sederhana, seperti cuaca dan suara klakson mobil lewat, mengalir seperti air.

Saat tiba kembali di depan kafe, Fay berkata, ”Sudah hampir pukul satu, aku harus pergi sekarang.”

”Okay. It’s been very nice talking to you,” ucap Enrique. ”Likewise.” Fay berdiri sebentar, berharap Enrique akan menanyakan cara mengontaknya. Walaupun ia kini tidak bisa memberikan apa-apa selain alamat e-mail-nya di Yahoo! yang juga tidak diperkenankan oleh Andrew untuk dibuka, setidaknya ia akan bisa menghubungi Enrique lagi setelah sampai di Jakarta.

”I hope we can bump into each other again one of these days,” ucap Enrique ramah.

Sebuah kekosongan langsung memenuhi rongga hati Fay. ”Sampai jumpa lain waktu. Bye,” balas Fay singkat sambil berbalik menuju mobil. Fay masih menyempatkan diri untuk menoleh saat membuka pintu mobil, berniat untuk melambaikan tangan, tapi Enrique sudah berjalan menjauh ke arah berlawanan, melewati sebuah mobil berwarna biru metalik yang diparkir tidak jauh di belakang limusin.

Dengan perasaan agak terganggu Fay masuk ke mobil.

Apakah ia begitu membosankan hingga Enrique berlalu begitu saja tanpa menanyakan cara mengontaknya kembali? Sepertinya tidak ada yang salah dengan percakapan dan perjalanan mereka tadi, walaupun memang tidak ada yang istimewa. Atau apakah ia yang berharap terlalu banyak dari perkenalan biasa yang harusnya malah bersifat anonim, seperti dua orang asing yang bercakapcakap tanpa mencoba mengenal satu sama lain? Apakah itu juga yang dirasakan oleh Kent hingga cowok itu pergi begitu saja dan memilih untuk menghilang tanpa kabar?

Pertanyaan Fay yang terakhir mengundang beban yang menekan dadanya, menggugah butir-butir air mata untuk mulai berkumpul di pelupuk mata. Fay buru-buru mengusap matanya untuk menghilangkan jejak perasaan yang tertuang di sana, dan mencoba lari dari apa pun yang sekarang mengganggu perasaannya dengan memperhatikan jalan yang dilalui.

 Lucas membawa limusin hitam yang ditumpangi Fay menjauh dari pusat kota Paris, keluar dari jalan raya, dan masuk ke jalanjalan kecil pedesaan. Jalan yang dipilih semakin kecil dengan suasana semakin lengang, hingga empat puluh menit kemudian akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang sudah berkarat. Di balik gerbang hanya terlihat satu jalan menanjak dinaungi rimbunnya pepohonan yang tidak teratur. Rumput ilalang berada di sana-sini, menegaskan ketidakpedulian siapa pun yang menjadi pemilik lahan itu.

Agak takjub Fay mendapati gerbang terbuka otomatis tanpa diiringi bunyi derit logam berkarat. Dalam pikirannya tadi, dengan kondisi setua itu, gerbang ini mempunyai gembok besar yang harus dibuka manual dengan sedikit perjuangan karena sudah berkarat. Begitu mobil sampai di puncak tanjakan, barulah terlihat kediaman yang secara mengejutkan ternyata sangat bertolak belakang dengan apa yang terlihat di sekelilingnya. Rumah dua lantai ini tampak mungil tanpa teras dan balkon, didominasi warna putih dan krem, dengan bunga-bunga warna ungu menghiasi setiap jendela di kedua lantai, lengkap dengan cerobong asap; sangat terawat dan tampak apik seperti yang biasa dibaca di buku-buku

anak-anak.

Fay tersenyum sedikit—dalam bayangannya, pemilik rumah ini seharusnya sepasang kakek-nenek bermuka ramah, bertubuh bundar, bermuka juga bundar, dengan kacamata yang lagi-lagi bundar bertengger di hidung.

Senyum Fay tidak bertahan lama. Ketika matanya melihat satu mobil sport dua pintu berwarna putih diparkir tidak jauh dari pintu masuk. Bayangan kakek-nenek langsung pudar, digantikan bayangan Philippe yang judes dan jutek.

Dengan enggan Fay turun dari mobil dan menapaki jalan berkerikil tajam di depan rumah, sama sekali tidak punya keinginan untuk menjejakkan kaki di dalam rumah yang tampak sangat bersahabat itu. Begitu pintu rumah dibuka, Fay mau tak mau tersenyum kembali saat melihat seorang wanita berumur yang bertubuh bulat berdiri menyambutnya—sangat mirip dengan sosok ideal penghuni rumah yang ia bayangkan sebelumnya. Wanita ini lebih bulat daripada Mrs. Nord, menggunakan celemek putih di atas seragam hitamnya dengan rambut cokelat disanggul. Wanita ini mengangguk dan menyapa Fay ramah dengan bahasa Inggris, ”Selamat siang. Saya Mrs. Rice, pelayan di rumah ini. Silakan masuk.”

Dengan keengganan yang sudah berkurang karena keramahan wanita ini ditambah rasa geli karena disambut oleh seorang wanita dengan nama yang kalau diterjemahkan berarti ”Nyonya Nasi”, Fay pun melangkah masuk dan mendapati dirinya tiba di foyer dengan kesan yang sama seperti yang tampak dari luar rumah, rapi dan sangat apik.

”Saya akan menunjukkan dulu kamarmu di lantai dua,” kata Mrs. Rice sambil mengarah ke tangga batu di sebelah kanan, naik menuju sebuah kamar yang tampak kosong—hanya ada sebuah ranjang dengan satu meja nakas dan lemari baju. ”Mr. Klaan mengharapkan kehadiranmu di ruang tengah tepat pukul dua siang, siap dengan pakaian latihan—sudah saya siapkan di lemari.”

Fay mengangguk dan Mrs. Rice keluar dari kamar. Dengan perasaan tertekan Fay mengganti pakaiannya dengan satu setel pakaian olahraga lengkap dengan sepatu, dan segera turun. Ia setengah melompat di anak tangga terakhir yang membawanya ke foyer ketika langkahnya terhenti... Ups, Philippe! Sontak jantungnya berdegup kencang.

Philippe berdiri tegap di tengah foyer mengenakan kaus lengan panjang warna hitam, celana kanvas berwarna hitam, dan sepatu bot yang juga berwarna hitam. Fay maju perlahan mendekati Philippe dan jantungnya serasa mau copot melihat sebuah tongkat kayu sepanjang setengah meter ada dalam genggaman Philippe. Philippe menjulurkan tongkat itu ke depan, memberi kode supaya Fay berdiri di hadapannya, kemudian berkata, ”Hanya ada satu aturan di rumah ini, yaitu aturan yang saya buat. Saya tidak punya kesabaran sebagaimana yang dimiliki Andrew sebagai seorang pengawas, jadi jangan harapkan toleransi bila kamu melakukan kesalahan, terlepas kamu sebut itu sebuah kelalaian atau ketidaksengajaan.”

Fay merasa degup jantungnya dengan cepat mulai beradaptasi. Ia kini menatap lurus ke depan, seolah tatapannya menembus dada Philippe.

Philippe menambahkan, ”Saya tidak punya keyakinan kamu punya kemampuan untuk melakukan tugas yang akan diberikan. Tapi keputusan sudah diambil—pastinya bukan oleh saya—dan saya harus terima kalau tidak setiap saat bisa mendapat anak didik dengan kualitas seperti yang saya harapkan. Jadi jangan harap hariharimu ke depan akan bisa kamu nikmati layaknya liburan!”

Fay merasa dadanya bagai dipukul saat mendengar perkataan Philippe itu. Sebagian dirinya langsung menciut. Lewat sudut matanya ia melihat Philippe menyapukan pandangan ke arahnya mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki dan ia merasa seperti sapi yang telah gagal dalam sebuah inspeksi kelayakan sebagai hidangan, menyebabkan sebagian kecil dirinya yang masih belum menciut merasa begitu terhina.

Detik berikutnya Fay berteriak ketika melihat kelebatan tongkat dalam genggaman Philippe mengarah ke wajahnya. Benda itu berhenti tepat sebelum menyentuh lehernya dan dengan deru napas memburu Fay merasakan kayu keras itu ditempelkan oleh Philippe di bawah dagunya. Tongkat itu ditekan ke atas, memaksanya untuk mendongak menatap Philippe yang kini sudah maju hingga hanya berjarak dua langkah di depan.

”Aturan pertama: berdiri tegak kalau saya ada di ruangan yang sama dan jangan bergerak sampai saya perintahkan. Ke halaman, sekarang!” Philippe menuju ke luar rumah dan Fay dengan tergesa-gesa mengikuti. Fay segera berdiri di hadapan Philippe sambil menautkan jemari kedua tangannya yang sudah dingin di depan badan.

”Berdiri tegak!” ucap Philippe sambil mengayunkan tongkat di tangannya hingga terdengar bunyi berdesis membelah udara.

Fay tersentak ketika ujung kayu yang keras terasa kembali di bawah dagunya.

Philippe memberi tekanan ringan hingga kepala Fay mendongak sedikit. Kemudian pria itu berjalan perlahan mengitari Fay sambil mengayunkan tongkat kayu di tangannya, memberi tepukan ringan di pundak, punggung, kaki, dan perut Fay. Di setiap tepukan, Fay tersentak sambil membetulkan posisi berdirinya, yang ternyata jelas belum memenuhi syarat bagi Philippe.

Kembali berdiri di depan Fay, Philippe berkata, ”Di kediaman ini terdapat tiga jalur lari. Jalur Satu adalah jalur lari yang mengitari halaman di depan rumah, berbatasan dengan hutan, Jalur Dua adalah jalan setapak yang memotong dan masuk hutan, dan Jalur Tiga adalah jalur rintangan yang ada di belakang rumah. Untuk latihan pembuka, saya ingin kamu berlari tiga putaran di Jalur Satu. Ada pertanyaan?”

”Tidak ada.” ”Lakukan sekarang!”

Fay segera menapakkan kaki di jalan berkerikil tajam yang dibuat mengitari halaman depan rumah. Tidak butuh waktu lama hingga ia merasa betis dan pahanya protes—olahraga tidak pernah menjadi pelajaran favoritnya. Fay sekilas menoleh dan melihat Philippe masih berdiri di tempat yang sama, mengawasinya. Aduh, gawat! Fay mencoba menahan rasa nyeri dan tegang di kakinya, tapi akhirnya ia tidak tahan lagi dan menghentikan ayunan langkahnya. Setelah beberapa saat mencoba berjalan cepat, ia melanjutkan larinya. Begitu seterusnya hingga akhirnya ia melintas kembali di hadapan Philippe—tentunya dengan tubuh lebih tegak dan ayunan langkah lebih lebar daripada sebelumnya. Ia sudah bersiap melakukan putaran kedua ketika terdengar suara Philippe, ”Berhenti!”

Fay berhenti tepat di hadapan Philippe dengan napas terengahengah, tapi langsung mengatupkan mulut ketika melihat sorot mata Philippe.

Philippe berjalan mengitari Fay sambil berkata, ”Siapa bilang kamu boleh berhenti berlari di tengah-tengah latihan?”

”Kaki saya sakit!” protes Fay. Mendadak terasa satu sengatan panas di paha Fay dan Fay langsung mengaduh-aduh sambil memegangi kakinya.

”ITU baru namanya sakit,” ucap Philippe pedas. ”Dan kata siapa kamu punya hak untuk bergerak bila belum saya perintahkan? Berdiri tegak!”

Fay menggigit bibir dan menegakkan badan ketika tongkat di tangan Philippe kembali diposisikan di dagunya.

”Sekarang, lanjutkan dua putaran kamu. Saya tidak mau melihat kamu berhenti hingga dua putaran itu selesai!”

Fay melakukan apa yang diperintahkan dengan tekad yang cukup kuat, tapi segera kakinya punya pikiran sendiri. Tidak butuh waktu lama hingga ia terpaksa menuruti keinginan kakinya, tapi kali ini ia berhasil memaksa si kaki untuk tidak terlalu berlamalama bersantai. Di pengujung putaran kedua ini, dengan perut yang terasa terpelintir—karena capek dan panik—Fay melintas di depan Philippe sambil berdoa semoga pria itu terkena rabun siang sehingga tidak melihatnya lewat. Agak terkejut Fay mendapati Philippe tidak mengatakan apa-apa dan membiarkannya lewat. Jangan-jangan memang ada penyakit rabun siang, pikirnya lagi.

Setelah putaran ketiga yang begitu menyengsarakan dan tentunya diselingi dengan jalan cepat beberapa kali, Fay tiba kembali di hadapan Philippe. Saat itu juga ia tahu deru jantungnya yang masih belum pulih setelah lari sepertinya tidak akan pernah pulih ketika melihat ekspresi tidak setuju yang begitu jelas terbaca di wajah Philippe. ”Push-up tiga puluh kali!”

Fay memosisikan dirinya lalu mencoba melakukannya dengan sesempurna mungkin, tapi sudah gagal di hitungan kedelapan belas—tangannya mulai gemetar dan kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya. Dua tendangan yang dilayangkan Philippe ke kakinya berhasil memaksa tangannya melanjutkan dengan baik hingga hitungan ke-25. Di hitungan ke-26, Fay kembali terjatuh.

Fay baru saja mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan pushup-nya ketika mendadak sepatu Philippe sudah menapak di atas punggung telapak tangannya dan menginjaknya dengan keras.

”Aargh...!” teriak Fay sambil berusaha menarik tangannya dengan jemari yang rasanya sudah remuk di bawah sepatu bot Philippe.

Philippe menekan kakinya lebih keras dan Fay kembali berteriak sambil berusaha menarik tangannya.

”Kenapa berhenti? Lanjutkan sekarang!” bentak Philippe.

Orang gila! Air mata merembes dari sudut mata Fay dan ia pun memaksakan diri untuk melanjutkan push-up-nya sambil menahan sakit. Di hitungan ketiga puluh, barulah Philippe melepas injakan kakinya.

Fay langsung menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya lalu berdiri tegak, berusaha mengabaikan rasa sakit di punggung telapak tangannya. Tulang-tulangnya terasa sudah berserakan. Ia bertekad untuk tidak terlihat kalah dan tidak akan memberikan kesempatan pada Philippe untuk merasa puas setelah melakukan hal-hal tidak manusiawi ini padanya!

”Sekarang kamu akan berlatih di Jalur Dua. Jalur itu dimulai di sana...,” Philippe menunjuk satu jalan setapak tepat di sebelah kiri rumah yang terlihat jelas mengarah ke arah pepohonan rimbun, ”...dan berakhir di sana.” Philippe menunjuk ke arah sebelah kanan rumah.

Mata Fay menyipit mengikuti arah yang ditunjuk. ”Jalur ini agak panjang. Ikuti saja jalan setapak dan penunjuk arah yang ada di sepanjang jalan.”

Fay berlari di jalan setapak yang mengarah ke hutan. Begitu ia memasuki area dengan pepohonan yang semakin rapat dan sudah yakin dirinya telah menghilang dari pandangan Philippe, ia langsung berhenti, memberi kesempatan pada kakinya untuk istirahat sejenak.

Fay mengelus-elus pahanya yang terasa panas dan meregangkan jemari tangannya yang terasa nyeri. Pria itu lebih gila daripada Andrew... tidak, tidak cuma lebih gila, tapi juga jahat, pikir Fay sambil mulai berlari secara perlahan. Udah gila, jahat, jutek pula! Kenapa untuk segala hal harus melibatkan kekerasan?! Benarbenar penghinaan terhadap intelektualitas! Dasar manusia barbar! umpat Fay lagi dengan sebal.

Fay kembali mengayunkan langkah, berlari-lari kecil. Setelah beberapa waktu, langkah kakinya terhenti ketika melihat jalur di depannya berbelok ke kiri dengan sebuah cabang ke arah kanan, tapi tanpa banyak berpikir ia memilih jalur kiri setelah melihat betapa sempitnya jalur di sebelah kanan dengan pepohonan yang lebih rapat.

Pikiran Fay kembali melayang ke Philippe. Sampai detik ini ia masih tidak tahu apa yang menyebabkan sikap Philippe sungguh tidak berpihak padanya. Pasti bukan karena ia melakukan kesalahan, karena sikap Philippe sudah seperti itu sejak pertama kali mereka bertemu. Mungkin dari orok udah jutek begitu, kali, pikir Fay kesal, sambil menyesali kenapa bukan Andrew saja yang berada di sini—bukan pilihan yang terbaik, tapi setidaknya Andrew lebih manusiawi.

Cukup lama Fay membiarkan benaknya bermain sendiri hingga ia disadarkan kembali oleh paha dan betisnya yang mulai protes. Ia segera berhenti dan mengistirahatkan kakinya sejenak sambil mengatur napas. Ketika ia akan kembali memulai perjalanannya, ia terpaku. Di depannya terlihat jalur terbagi dua; jalur di kiri mengarah ke bawah sedangkan jalur di kanan agak menanjak.

Mati deh! Yang mana yang harus ia pilih?

Fay berpikir sejenak. Philippe tadi berkata jalur ini mengelilingi rumah ke arah belakang dan di awal tadi ia berlari ke arah kanan. Berarti kalau ia secara konsisten mengambil arah ke kanan, jalurnya akan berbentuk lingkaran dan pasti pada akhirnya ia akan tiba di rumah lagi.

Fay memutuskan untuk mencoba jalur yang mengarah ke kanan dan sepuluh menit kemudian ia terbelalak ketika tiba di persimpangan yang sama.

Sialan, jalurnya hanya memutar!

Fay mengomel-ngomel sambil mengayunkan kaki ke jalur yang mengarah ke kiri. Sambil mengeluh dalam hati, ia berusaha mengusir bayangan Philippe yang ia yakini akan menemukan cara menghukum yang paling kreatif untuk sepuluh menit yang sia-sia ini.

Kent mengibaskan kedua tangannya, berusaha membersihkan serpihan tanah yang tadi melumuri tangannya dan yang kini berjatuhan bagaikan hujan serbuk bagi semut-semut kecil yang mungkin bersembunyi di tanah.

Tidak masalah. Bisa dicuci saat melalui sebuah sungai kecil tidak jauh di depan, pikirnya.

Sekilas ia melihat papan penunjuk arah dari kayu yang kini terpasang kembali dengan rapi di tempatnya, berada di tengahtengah persimpangan antara dua jalur, berbentuk seperti anak panah yang menunjuk ke kanan dan disangga sebuah pasak kayu yang tertanam di tanah. Pesan yang disampaikan papan itu sangat jelas; semua orang yang melewati tempat ini, bahkan untuk mereka yang baru pertama kali, akan langsung tahu yang harus dilewati adalah jalur sebelah kanan yang sekilas tampak lebih suram karena pohonnya lebih rimbun dan jalannya lebih sempit.

Kecuali Fay.

Tanpa penunjuk jalan, Fay tadi tanpa ragu memilih jalur di sebelah kiri. Kent tahu persis, karena ia tadi memperhatikan Fay lewat dari sebuah lekuk pohon yang posisinya agak terlindung dari pandangan siapa pun yang berada di jalan setapak.

Fay-nya.

Gadis yang tahun lalu telah berkorban untuk dirinya, membuat sekujur tubuhnya dijalari rasa hangat yang penuh dengan berjuta kasih yang siap dipancarkan saat itu juga.

Gadis yang akhirnya membuatnya mengenal kembali arti cinta setelah selama lima belas tahun ia menutup hati untuk percaya dan tidak bersedia membiarkan perasaannya menjadi tempat persemaian bagi sebentuk kasih dalam wujud apa pun.

Gadis yang sudah menghangatkan hari-hari dinginnya dengan tawa dan tatapan tulus yang melepaskan berjuta rasa cinta yang tanpa ragu ia reguk kehangatannya.

Gadis yang pada akhirnya harus ia campakkan begitu saja!

Sekonyong-konyong Kent menghantam batang pohon dengan kepalan tangannya untuk melampiaskan kemarahan yang mendominasi kepala dan perasaannya. Terdengar bunyi berderak yang labil, campuran antara bunyi retak kulit pohon yang sudah tua dan rapuh dengan bunyi gemeretak tulang di kepalan tangannya.

Kent mengumpat sambil memperhatikan pucuk-pucuk tulang kepalannya yang kini mengeluarkan darah. Ia lalu menarik napas panjang, berdiri tanpa bergerak dengan kedua tangan memegang kepalanya yang serasa akan meledak, dipenuhi berbagai kontradiksi yang semuanya melibatkan gadis yang begitu dicintainya.

Sudah sejak pagi tadi ia mengikuti Fay, dimulai saat gadis pujaannya itu menjejakkan kaki di Charles de Gaulle. Secara tidak sengaja ia tahu Fay akan datang ke Paris hari ini, bersamaan dengan kedatangan dirinya ke Paris untuk sebuah tugas. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan dari pertemuan dengan Fay sebelum tugasnya resmi dimulai, tapi desakan hati itu tidak tertahankan. Dadanya berdegup dengan kencang ketika melihat Fay masuk mobil yang dikendarai Lucas dan ia pun langsung memacu mobil-

nya membuntuti Fay.

Ia ingat betapa bergemuruh dadanya siang tadi, penuh rasa bahagia yang terkungkung saat melihat Fay masuk ke Café du Temps, tempat mereka tahun lalu menghabiskan siang bersama. Ternyata Fay belum melupakan dirinya dan memilih menapaki tempat yang memberikan begitu banyak kebahagiaan bagi mereka. Namun, beberapa saat kemudian rasa itu terempas berkepingkeping ketika ia melihat Fay keluar dari tempat tersebut ditemani seorang pemuda.

Siapa pemuda itu? Apakah Fay sudah membuat janji untuk bertemu dengan pemuda itu sebelumnya? Kenapa harus tempat ini yang dipilih? Fay-kah yang memilih atau pemuda itu?

Ingin rasanya Kent menerjang pemuda itu dan menghantamkan kepalanya ke beton pembatas jalan. Betapa lancang pemuda itu berjalan dengan gadis yang begitu ia dambakan keberadaannya dan mencuri momen indah yang seharusnya menjadi miliknya! Andaikan Fay tahu betapa sulitnya ia tadi menahan diri untuk tidak menginjak pedal gas saat pemuda brengsek itu melintas di depan mobilnya!

Kent kembali menghela napas, lalu melirik arlojinya.

Lima belas menit sudah berlalu sejak Fay mengambil jalan yang salah ke arah kiri. Dengan sedemikian banyak persimpangan yang akan ditemui setelah itu, sudah mustahil untuk menemukan jalan yang akan mengarahkan Fay kembali ke jalur yang benar tanpa bantuan siapa pun. Cuaca yang saat ini memilih untuk tidak bersahabat juga akan membuat hari menyongsong gelap lebih cepat daripada biasa. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Fay nanti ketika sadar sudah tersesat dan telah diselimuti kegelapan—Kent tahu persis seperti apa rasanya ketika hidup begitu enggan menyisakan harapan.

Kent kembali mengibaskan tangan. Ia lalu berbalik dan mengayunkan langkah dengan cepat meninggalkan lokasi, mencoba melarikan diri dari usikan sebuah nurani.

Andrew sambil lalu melirik Bvlgari yang melingkari pergelangan tangannya. Ia sedang berada di ruang kerja apartemennya dan baru saja hendak beranjak dari kursi ketika telepon genggamnya berbunyi. George, asisten pribadinya di Llamar Corp.

”Yes, George?”

”Sir, saya baru saja dihubungi oleh kontak kita di Bio-Element. Dia menginformasikan bahwa Monsieur Nicholas Xavier menolak undangan yang Anda ajukan. Tidak hanya Anda yang ditolak, Sir. Rupanya di saat bersamaan ada satu undangan lain yang ditolak, yaitu dari Bruce Redland, pemilik perusahaan farmasi berbasis di Swiss yang sekarang tinggal di Capetown, Afrika Selatan.”

Hening sejenak.

”Apa ada yang bisa saya lakukan lagi untuk Anda, Sir?” tanya George akhirnya.

”Ada informasi tentang aktivitas Nicholas Xavier sekarang?” tanya Andrew sambil lalu.

”Dokumen legal sedang disusun oleh pengacara Nicholas, tapi Nicholas sendiri sudah pergi berlibur ke Brazil sejak kemarin. Konferensi pers akan dilakukan minggu depan, setelah Nicholas pulang.”

”That will be all, George. Akan saya urus sisanya.” ”Terima kasih, Sir.”

Andrew menutup saluran telepon lalu beranjak ke sudut ruang kerjanya dan menuangkan segelas anggur merah untuk dirinya. Ia tidak suka penolakan, bahkan untuk yang telah diprediksi sekalipun.

Sedikit demi sedikit sebuah gejolak yang begitu ia kenali mulai mengalir di darahnya; sebuah gejolak yang sama dengan apa yang dipancarkan salah satu koleksi lukisannya yang berharga: Storm at Sea oleh Mulier, Pieter the Younger, seorang pelukis dari Belanda yang hidup di Italia pada abad ketujuh belas. Lukisan ini secara resmi tercatat berada di Galeri Nasional Slovenia di Ljubljana, hanya saja yang sekarang tergantung di sana adalah salinannya. Lima tahun lalu Andrew membayar seorang pelukis Italia untuk membuat tiruan lukisan itu. Butuh waktu tiga tahun untuk membuat senti demi senti lukisan itu seperti aslinya dan delapan bulan lalu pertukaran itu dilakukan tanpa jejak, tepat setelah dilakukan restorasi terhadap lukisan yang asli.

Menggambarkan laut yang sedang dipenuhi amarah, ombak tinggi berwarna hitam dengan buih putih yang marah di sana-sini berusaha mengempas apa pun yang bisa dijamah pucuk ombak yang pecah di tebing yang menjulang tinggi. Sebuah kapal yang sedang terombang-ambing, berusaha bertahan dengan sia-sia di sebelah kapal lain yang sudah kandas terempas ke tebing. Beberapa pelaut yang selamat berada dalam sekoci penyelamat, masih berjuang dan mencoba bertahan dalam kehendak alam, bertumpu pada secercah harapan yang digambarkan dengan cantik oleh Mulier melalui sekelumit langit biru cerah yang mengintip dari sela-sela awan hitam pekat yang memenuhi langit.

Andrew kembali duduk di kursi meja kerjanya lalu menyesap anggur merahnya, membiarkan setiap ujung saraf perasa dalam mulutnya mengecap rasa hangat menggigit yang melenakan sembari merasakan amarah yang dibawa gulungan ombak merasuk ke dalam tubuhnya dan menghuni setiap sendi dalam badannya. Benaknya menyusuri awal semua ini bermula, sebuah laporan yang masuk ke e-mail-nya minggu lalu tentang penemuan obat generasi baru bernama BioticX. Baru dua bulan sebelumnya Llamar Corp. menuntaskan pendirian Llamar Health & Life, hasil dari akuisisi dan merger dua perusahaan farmasi besar di Eropa, dan berita penemuan semacam itu tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Menurut apa yang ia baca di laporan itu minggu lalu, penemuan BioticX dimotori oleh seorang pria bernama Nicholas Xavier, peneliti sekaligus pemilik perusahaan biokimia kecil bernama Bio-Element. Obat itu dibuat dari sebuah spesimen tanaman yang dirahasiakan, yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Nicholas di hutan Amazon.

Laporan itu juga menyebutkan dua keunggulan utama BioticX, yaitu kemampuan untuk bekerja dengan efektivitas sama pada virus dan bakteri, serta sifatnya yang tidak akan menyebabkan resistensi terhadap sel—sebuah terobosan yang luar biasa besar di bidang kedokteran dan pengobatan.

There’s always the first time for everything, pikir Andrew. Tanpa berpegang pada prinsip itu, tidak akan ada penemuan teknologi di dunia dan manusia tidak pernah sampai ke bulan.

Saat itu juga Andrew langsung memberikan instruksi kepada George untuk mengusahakan pertemuan dengan Nicholas Xavier. Ia akan memberikan penawaran pembelian saham pada Nicholas. Di saat yang bersamaan, ia meminta analis terbaiknya di COU untuk menyusun profil Nicholas Xavier.

Awalnya Andrew cukup yakin Nicholas tidak akan menolak angka yang akan ia sodorkan. Tapi setelah menerima profil lengkap Nicholas Xavier beserta semua informasi yang terkait dengan Bio-Element, keyakinan itu hampir tak bersisa.

Keahlian Andrew dalam membaca profil seseorang tidak pernah diragukan oleh siapa pun dan dari apa yang ia baca tentang Nicholas Xavier, ia tahu pria itu tidak bisa dibeli. Menjadi seorang peneliti adalah mimpi pria paruh baya itu, dan satu-satunya obsesi yang tersisa dari seseorang yang sudah mengejar mimpi adalah pengakuan akan pencapaian, bukan uang. Nicholas Xavier juga tercatat pernah menghubungi Andrew beberapa tahun lalu untuk masalah pendanaan penelitiannya, tapi saat itu Andrew yang sedang disibukkan oleh akuisisi dua perusahaan farmasi yang menjadi cikal bakal Llamar Health & Life, tidak menggubrisnya.

Andrew meletakkan gelas anggurnya di meja, lalu membuka laptop-nya. Setelah terkoneksi dengan komputer di COU, ia membuka bagan operasi yang diberi kode ”Osiris”. Operasi ini masih berstatus nonaktif dan baru ia buat minggu lalu setelah membaca profil Nicholas Xavier dan mempelajari segala hal yang bisa diperoleh tentang pria itu serta perusahaannya.

Satu hal yang pasti, konferensi pers tentang BioticX yang dijadwalkan oleh Nicholas minggu depan tidak akan terjadi— Andrew akan memastikannya. Tidak seperti Mulier yang masih menyisakan secercah warna biru cerah di langit di antara awanawan hitam dalam Storm at Sea, seolah berkata bahwa dalam keadaan seburuk apa pun pasti ada harapan, Andrew sudah memutuskan tidak akan membiarkan ada harapan yang tersisa bagi seorang pria bernama Nicholas Xavier. Bagi pria itu, badai tidak akan berhenti dan langit biru yang tersisa di langit segera akan ditutupi gulungan awan hitam.

Perfect timing, pikir Andrew puas. Rencananya untuk memulai rekrutmen Fay sekarang benar-benar tepat. Gadis itu lagi-lagi akan berguna untuk mencapai tujuannya.

Dengan saksama Andrew menganalisis bagan strategi yang telah ia susun itu dan setengah jam kemudian, status ”Osiris” sudah berubah menjadi aktif.

Andrew menyandarkan badannya ke kursi dan kembali menyesap anggur merahnya dengan takzim. There’s a purpose for every scene in life, pikirnya. Kejadian dalam hidup bagaikan susunan kartu domino, setiap kartu menunggu dijatuhkan oleh kartu domino yang lain, dan akan memengaruhi posisi kartu-kartu yang lain. Yang bisa menghentikan efek domino hanyalah intervensi tangan-tangan yang punya kuasa untuk membelokkan tuntutan sang nasib, dan ia tahu tangannya adalah salah satu di antaranya.

Andrew kembali menyesap anggur merahnya lalu menutup mata, membiarkan seluruh saraf perasanya terlena.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊