menu

From Paris To Eternity Bab 02: Pertemuan

Mode Malam
Pertemuan

TEPAT  pukul  delapan  pagi  hari  Minggu,  pesawat  Air  France dari Singapura mendarat dengan mulus di Bandara Charles de Gaulle, Paris.

Déjà vu, pikir Fay masam sambil mempercepat langkah. Setengah jam kemudian, Fay sudah berada di depan meja infor-

masi, tidak jauh dari pintu keluar. Dada Fay berdegup sedikit ketika mengenali seorang pria yang sudah pasti adalah penjemputnya. Lucas, pria yang sama dengan yang mengantar-jemputnya ke rumah latihan selama ia berada di kota ini tahun lalu.

Setelah menyapa singkat, Lucas meminta Fay menunggu di luar, sementara dia pergi untuk mengambil mobil. Tak lama kemudian, mobil datang—sebuah limusin hitam.

Fay mengeluh dalam hati. Sampai kapan pun ia takkan bisa merasa nyaman dijemput dengan kendaraan mewah yang pernah menculiknya. Dijemput pakai ojek sepeda aja masih mending! Sambil mengomel-omel dalam hati Fay pun masuk ke limusin.

Dari papan petunjuk yang terbaca sepanjang jalan, Fay tahu Lucas membawanya ke pusat kota Paris. Semakin lama, jalan yang dilalui semakin ramai dengan gedung-gedung yang semakin rapat, disertai kerumunan orang dengan kesibukan ala kota Paris.

Di taman-taman terlihat orang-orang menggerombol, menikmati aksi para seniman jalanan yang tak berkesudahan, baik pantomim, konser kecil dengan instrumen lengkap, atau sekadar goresan kuas para pelukis di pinggir jalan.

Para wanita dan pria berpotongan seperti model berseliweran bagaikan etalase berjalan yang menampilkan rancangan desainer papan atas, tampak mencolok bila dibandingkan dengan para turis yang menggerombol di berbagai penjuru dengan baju santai yang sama sekali tidak seperti Parisiens, julukan untuk penduduk kota Paris.

Sejenak Fay terbius dengan suasana yang begitu sempurna untuk dinikmati dan melupakan kecemasannya. Tapi, beberapa saat kemudian mobil berbelok memasuki area dengan jalan yang lebih sempit dan lengang, lalu berhenti tepat di depan sebuah bangunan tinggi yang menyatu dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Fay masuk ke gedung melalui sebuah pintu kaca putar didampingi Lucas. Ia tiba di area penerimaan tamu bernuansa merah yang tidak terlalu luas namun mewah. Dua lampu kristal yang bercabang-cabang menggantung di langit-langit yang tinggi, seperti pucuk pohon rindang yang tumbuh terbalik dengan dasar langit-langit.

Lucas menuju pintu lift di sebelah kiri, lalu menekan satu tombol di sisi pintu dan berbicara dengan bahasa Prancis lewat mikrofon yang tertempel di dinding.

Fay melongo. Bagaimana mungkin! Hanya beberapa patah kata yang bisa ditangkap telinganya. Keterlaluan, dasar otak batu! Ia sudah lupa semua bahasa Prancis-nya!

Pintu lift yang terbuka menyelamatkan Fay dari omelan pada dirinya sendiri. Begitu melangkah masuk, perhatian Fay langsung tersita interior lift yang hampir semuanya dilapisi kayu dengan ukir-ukiran dan ornamen klasik. Aroma kayu yang tidak familier menyergap hidungnya; harum dan tebal seperti orang tua yang bijak. Tidak ada satu pun tombol bertuliskan angka nomor lantai di panel lift, hanya ada satu tombol darurat dan satu tombol untuk berbicara di mikrofon.

Pintu lift tertutup otomatis dan lift bergerak naik perlahan. Ketika akhirnya pintu terbuka, Fay langsung berdecak kagum. Pemandangan pertama yang terlihat adalah sebuah ornamen oriental berbentuk cakram besi yang menempel di permukaan dinding lima meter di depan lift. Begitu melangkah ke luar lift dan melewati ruang berdinding cakram, Fay ternganga dengan lebih norak ketika tiba di area terbuka dengan tangga di sisi kanannya. Fay menengadah dan melihat bukaan yang sangat lapang dengan atap kaca yang meneruskan sinar mentari pagi yang hangat. Terlihat bahwa kediaman ini terdiri atas tiga lantai. Barulah Fay sadar ia berada di area foyer atau ruang penerima tamu sebuah kediaman mewah berupa apartemen atau suite. Berarti lift tadi merupakan lift pribadi! pikirnya takjub.

”Selamat pagi. Saya Mrs. Nord, pelayan di rumah ini.”

Fay menoleh dan melihat seorang wanita berumur yang bertubuh agak bulat berjalan ke arahnya. Wanita ini mengenakan baju lengan panjang putih bermotif bunga-bunga kecil dengan panjang selutut, yang sebagian tertutup celemek putih. Rambutnya yang berwarna putih disanggul dan sebentuk kacamata berbingkai bundar bertengger di hidung.

Mrs. Nord mengangguk ramah lalu kembali berkata dengan bahasa Inggris beraksen kental yang sama sekali tidak terdengar familier, seperti diucapkan berundak-undak di akhir setiap kata, ”Kamarmu ada di lantai dua. Mari, saya akan mengantarmu ke atas.”

Fay mengikuti Mrs. Nord, diikuti Lucas yang menjinjing koper dengan satu tangan. Diakses dari pintu pertama yang ditemui di lantai dua, ruangan ini berukuran lebih besar daripada kamar Fay di Jakarta, dengan nuansa retro yang chic dan didominasi warna ungu.

Lucas meletakkan koper di samping lemari baju dan meninggalkan ruangan.

Mrs. Nord berkata sambil membuka pintu lemari baju, ”Saya sudah menyusun baju-bajumu di lemari dan saya rasa sudah tidak ada tempat lagi untuk baju-baju yang ada di koper ini.”

Setengah melongo Fay melihat baju yang tertumpuk dan tergantung rapi di lemari. Butuh beberapa saat hingga ia mengenali bahwa itu adalah baju-baju yang ia gunakan saat menjadi Seena. Waduh, masih muat nggak ya? pikirnya cemas, mengingat berat badannya sekarang, yang kalau diibaratkan sedang mendaki gunung, mungkin sudah menancapkan bendera kebangsaan di puncak.

Mrs. Nord kembali berkata, ”Mari saya antar ke ruang tengah.

Saya akan memberitahu Mr. Andrew kamu sudah datang.”

Sambil mengeluh dalam hati, Fay mengikuti Mrs. Nord. Benda seperti gasing berputar di perutnya, yang tadi sepertinya sudah kehabisan semangat hidup kini mendapat tenaga baru dan kembali berputar kencang.

Diakses dari foyer, ruang tengah berukuran cukup luas, berdesain klasik dengan perabotan yang didominasi warna ungu tua dan abu-abu, terkesan anggun dan sangat menyejukkan. Terdapat seperangkat sofa yang dialasi karpet bermotif warna ungu kemerahan menghadap lemari besar dengan panel kayu yang berfungsi sebagai latar sebuah layar LCD raksasa. Di salah satu dinding terdapat rak besar berisi jajaran buku.

Fay menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan dan matanya menangkap lilin-lilin yang ditata di hampir semua meja dan lemari dengan berbagai wadah berwarna perak, membuat desain ruangan yang dimasukinya ini begitu berkelas.

”Hello, young lady, very pleased to see you again. How are you?” Fay terlompat dan berbalik saat mendengar suara yang begitu ia kenal. Lututnya langsung terasa sangat lemas saat menyaksikan Andrew berjalan ke arahnya, masih dengan ketampanan yang tanpa cela dengan rambut pirang yang berkilau dan mata biru terang yang memancarkan sorot tajam. Penampilan pria berusia di pertengahan empat puluhan itu santai namun sangat rapi, dengan rompi berbahan rajut berwarna krem di atas baju berwarna biru tua dan celana katun yang berwarna senada dengan rompinya.

Andrew tersenyum hangat dan Fay merasa tempurung lututnya seakan lenyap.

Sambil menguatkan hati menatap Andrew dan berusaha menyunggingkan senyum sopan, Fay menjawab singkat, ”Baik.” Dengan dada mulai berdebar ia melihat Andrew berjalan mendekat lalu... memeluknya! Fay terpaku dan hanya diam membatu sambil berusaha mencerna apakah perlakuan hangat Andrew ini hanya halusinasi.

”Silakan duduk,” ucap Andrew sambil menunjuk ke salah satu sofa besar di tengah ruangan.

Perlahan-lahan Fay duduk di sofa sambil memperhatikan Andrew yang duduk tepat di hadapannya, masih dengan wajah yang memancarkan kewibawaan yang menenangkan. Ia berusaha memperhatikan lebih saksama dan merasa agak aneh ketika tidak bisa menemukan kesan dingin yang membekukan di balik mata biru Andrew. Yang ada sekarang hanya keramahan yang malah bisa dibilang begitu hangat. Entah kenapa ini malah membuatnya makin gelisah. Gue mulai buta, kali, pikir Fay cemas sambil menggeser posisi kaki dan menegakkan badan.

Andrew menuang teh ke dalam dua dari tiga cangkir yang sudah disiapkan di meja dan segera aroma mint merebak, terbawa kepulan asap yang keluar dari permukaan cangkir.

”Bukan rasa favorit saya untuk dinikmati di pagi hari, tapi masih bisa diterima di akhir musim semi seperti sekarang.” Andrew menatapnya. ”Gula?” Fay terserang kepanikan saat matanya beradu dengan mata biru tajam milik Andrew dan ia buru-buru mengangguk. Ia kembali mengubah posisi kakinya.

Andrew mengambil gula balok yang tersedia dengan sebuah penjepit logam berdesain unik dengan lubang-lubang di sepanjang sisinya, menambahkan masing-masing satu balok ke setiap cangkir. Kemudian Andrew menyodorkan cangkir teh kepada Fay yang dengan agak gugup langsung menerimanya. Andrew lalu mengambil cangkirnya sendiri dan menghirup isinya, lantas bersandar dan bertanya dengan santai, ”Bagaimana perjalanan kamu ke sini, apakah semua lancar? Tidak ada masalah dengan imigrasi?”

”Semua lancar... tidak ada masalah,” jawab Fay.

Andrew menatap Fay sambil tersenyum kemudian berkata, ”Kamu sudah terlihat lebih dewasa sekarang. Mengherankan memang, bagaimana waktu satu tahun punya arti yang tidak sama untuk umur manusia yang berbeda-beda. Di usia anak-anak hingga belasan tahun seperti kamu, waktu satu tahun membawa perubahan yang cukup berarti. Tapi ketika seseorang menginjak usia tiga puluhan, segalanya terkesan stagnan. Waktu satu tahun kembali terasa berharga dan memberi dampak ketika seseorang menginjak usia lima puluhan, tapi tentu saja dengan grafik kehidupan yang sudah berlawanan arah, menuju degradasi.”

Fay hanya mengangguk-angguk, berusaha tersenyum sopan. Karena tidak tahu bagaimana menanggapi ucapan Andrew, ia memilih untuk menghirup tehnya. Sensasi mint yang dingin memberi rasa menyegarkan dan menenangkannya sejenak.

Andrew bertanya, ”Bagaimana ujianmu?”

”...” Fay hampir saja tersedak! Perlahan ia menyandarkan cangkir teh di pangkuan sambil tetap memegangnya erat.

”Oke,” jawab Fay dengan suara tertahan.

”Bagaimana kabar orangtuamu? Mereka seharusnya sudah pergi, kan? Ibumu sangat antusias ketika berbicara dengan saya tentang rencana perjalanan bisnis dan liburan mereka. Saya telah meyakinkan mereka bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan kamu selama kepergian mereka. You’re in good hands,” ucap Andrew lagi dengan santai kemudian menghirup tehnya.

Fay mengangguk sambil menatap Andrew dengan takjub. Kalau saja tahu apa yang telah terjadi, Mama pasti sudah menjeritjerit histeris!

Andrew kembali bertanya, ”Apa kamu sudah menentukan pilihan untuk kuliah di jurusan apa?”

Fay mengangguk. Napasnya tertahan sedikit. Andew menatap Fay sambil mengangkat alis.

”Eh... mm... saya berencana untuk mengambil jurusan teknik industri,” ucap Fay buru-buru.

”Kenapa kamu tertarik dengan fakultas teknik? Saya tahu nilaimu selalu tinggi untuk pelajaran eksakta, terutama matematika— hanya nilai kimia yang agak rendah walaupun tidak separah nilai biologi. Tapi kalau hanya itu, seharusnya bukan jadi alasan untuk pilihanmu.”

Fay menahan napas ketika cangkirnya bergoyang di pangkuannya. Bagaimana Andrew tahu!

Andrew melanjutkan, ”Hanya karena kamu memiliki nilai baik di bidang tertentu di sekolah bukan berarti bidang itu tepat dijadikan sebagai pilihan hidup. Sekolah hanya mengajarkan segelintir dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan kehidupan. Tetapkan dulu pilihan hidupmu, baru cari jalan untuk mencapainya. Destination should NOT be determined based on the map you have. Destination should be determined first, only then you can find the right map.”

Muka Fay langsung panas! Untung kulit gue sawo agak matang, pikirnya menghibur diri. Fay melihat Andrew menghirup tehnya, kemudian mendadak Andrew menatapnya dengan lekat. Fay mencoba membalas tatapan Andrew, tapi sepasang mata biru itu menusuk terlalu dalam hingga akhirnya Fay mengalihkan pandangan ke cangkir tehnya. ”Apakah kamu sudah siap mengikuti ujian masuk perguruan tinggi bulan depan?”

”Eh... mm... saya rasa saya siap...,” jawab Fay dengan muka yang terasa agak panas dengan ucapannya yang tidak meyakinkan itu. Malu-maluin!

”Believe it, then do it. Otherwise, leave it. Saya berharap persiapan kamu sudah tuntas, karena dengan kedatangan kamu di sini, praktis kamu tidak punya waktu untuk memikirkan masalah itu lagi.”

Andrew meletakkan cangkirnya di meja dan melanjutkan, ”Saya rasa kamu sudah bisa menebak bahwa kamu diminta datang karena ada satu hal yang ingin saya minta kamu lakukan.” Fay menyimak dengan ketegangan yang begitu terasa di sekujur tubuhnya. Suara Andrew tetap terdengar santai, tapi kesan dingin

yang begitu ia kenal mulai terasa.

”Saya ingin kamu mengambil satu barang milik seseorang. Detail akan diberikan nanti, pada saatnya. Tugas kamu akan dilakukan beberapa hari lagi dan sama seperti sebelumnya, kamu akan diberi latihan yang diperlukan. Sebenarnya tidak dibutuhkan keterampilan khusus untuk melakukan tugas ini, lagi pula kamu akan mendapat bantuan pada saat melakukannya, jadi kamu tidak perlu khawatir.” Andrew menuang kembali teh ke cangkirnya yang hampir kosong di meja, kemudian mengambil dan menghirup isi cangkirnya.

Fay hanya bisa terdiam dan duduk membisu, mencoba membayangkan nasib seperti apa lagi yang sudah digariskan baginya. Apa pun antisipasinya sebelum bertemu dengan Andrew, tidak ada yang bisa mempersiapkannya untuk menerima berita ini—dua hari yang lalu ia masih seorang anak normal yang baru selesai ujian, tapi dalam waktu dekat ia akan menjadi kriminal! Pikiran Fay tanpa bisa dicegah melayang membayangkan apa yang sedang dilakukan teman-teman dan kedua orangtuanya saat ini. Apa reaksi mereka kalau mendengar kabar ia dipenjara karena tertangkap mencuri di negeri orang? Sementara pria yang duduk di depannya ini enak saja memberitahunya untuk ”tidak perlu khawatir”!

”Satu hal lagi yang perlu kamu ingat, kamu tidak diizinkan berhubungan dengan siapa pun menggunakan cara apa pun dan semua bentuk komunikasi akan dimonitor. Kamu sudah pernah menjalani hal yang sama, jadi saya yakin kamu tahu ini perintah dan sudah tidak perlu diingatkan lagi apa yang akan terjadi bila larangan ini dilanggar,” tandas Andrew dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.

Fay mengalihkan pandangan ke cangkir tehnya ketika kepingan kenangan buruk waktu Andrew menghukumnya datang tanpa diundang. Bayangan para sahabat dan orangtuanya langsung memudar dari benaknya. Bayangan pertemuannya dengan Reno sebagai satu-satunya hal normal yang tadinya masih begitu ia harapkan, ikut pupus dengan ucapan itu. Dadanya terasa sesak dengan rasa takut akan sebuah kesendirian saat menapaki perjalanan yang belum berujung ini. Siapa lagi yang bisa ia harapkan?

Kent?

Huh, apa yang bisa diharapkan dari cowok yang mendadak hilang ditelan bumi...?

”Ada pertanyaan?”

Suara Andrew langsung memutus semua pikiran yang berseliweran di benak Fay.

”Kenapa... mm... harus saya? Apakah tidak ada orang lain yang bisa melakukannya?” tanya Fay dengan suara yang terdengar agak serak di telinganya sendiri. Ia berdeham pelan sambil menguatkan hati menatap Andrew.

Andrew tersenyum. ”Pertanyaan yang menarik. Tidak seperti tugas sebelumnya, saat memang peran kamu sangat spesifik, tugas kali ini sebenarnya bisa dilakukan orang lain. Alasan saya memilih kamu hanya satu, yaitu karena saya memang ingin kamu yang melakukannya Tentunya kamu tidak beranggapan saya melupakan kamu begitu saja setelah apa yang kamu lakukan tahun lalu.”

Fay mengambil cangkirnya dan menghirup isinya perlahan, mencoba menutupi rasa dingin di sekujur badannya setelah mendengar jawaban itu.

Andrew kembali berkata, ”Ada banyak urusan penting yang harus saya selesaikan minggu ini, jadi selama beberapa hari ke depan kamu akan berlatih tidak di bawah pengawasan saya, melainkan di bawah pengawasan rekan saya, Philippe Klaan. Otoritas yang dimiliki Philippe sama dengan saya. Sikapnya agak keras, jadi kamu perlu ekstra hati-hati dalam menyikapi semua perintahnya. Lakukan saja semua yang diperintahkan tanpa pertanyaan dan tanpa kecuali.”

Fay mendongakkan kepala, sekadar meyakinkan diri sendiri ia tidak salah dengar. Apa maksud kalimat ”sikapnya agak keras”? Sikap Andrew sendiri sepanjang ingatan Fay sangat jauh dari kategori lemah lembut. Kalau Andrew saja berpandangan demikian terhadap pria yang dipanggil Philippe itu, Fay sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa pengawasnya itu!

Andrew menambahkan, ”Kamu akan bermalam di sini dan akan berangkat ke tempat Philippe seusai sarapan setiap paginya. Siapkan baju secukupnya untuk dibawa ke tempat Philippe, untuk berjaga-jaga kalau-kalau kamu harus bermalam di sana.”

Tepat setelah itu terdengar suara langkah kaki dari arah jalan masuk ke ruangan. Seorang pria berambut abu-abu serta berkumis tipis masuk dan berjalan mendekati sofa. Pria itu berumur kira-kira sama dengan Andrew, mengenakan kaus turtle neck lengan panjang berwarna hitam dan celana hitam yang tidak hanya tampak serasi dengan rambut abu-abu dan mata hitamnya yang memancarkan pesona yang berbeda, tapi juga tampak begitu menyatu dengan karisma yang terpancar dari ruangan ini. Andrew berdiri untuk menyambutnya dan ketika pria itu berhenti di sebelah Andrew, baru terlihat posturnya lebih tinggi sedikit daripada Andrew. Fay juga buru-buru berdiri.

Andrew menyapa pria itu, ”Saya tadi sudah mulai khawatir kamu tidak bisa siap tepat pada waktunya.”

Pria itu tersenyum tipis kepada Andrew kemudian mengarahkan pandangan kepada Fay. Senyum tipis itu langsung hilang dan alis pria itu terangkat sedikit.

Gawat, apa yang salah?

Jantung Fay langsung berdegup kencang. Ada kesan menghakimi yang sama sekali tidak berpihak pada dirinya dalam sorot mata pria di depannya ini. Fay buru-buru mengalihkan pandangannya kepada Andrew.

Andrew berkata, ”Philippe, ini Fay.”

Pria itu mengulurkan tangan dan Fay memaksakan diri untuk kembali menatap kedua matanya, menahan rasa terpelintir di perutnya ketika tatapan pria itu bagai menembus ke dalam kepalanya.

”Philippe Klaan,” ucap pria itu lalu bertanya kepada Andrew, ”Apa saja yang sudah diberitahukan kepada Fay?”

”Hanya yang mendasar, memastikan dia kali ini mengikuti protokol komunikasi yang sudah ditetapkan.”

”Apakah protokol itu pernah dilanggar?” Kening Philippe berkerut dan nada heran jelas terdengar dalam suaranya yang bening dan berat.

Andrew mengangguk.

”Bila saya yang berada di sana saat dia melanggar aturan itu, saya bisa memastikan dia tidak akan mampu berdiri dengan tenang di ruangan ini seperti sekarang!” ucap Philippe tajam.

Aduh, mati gue! Fay mengalihkan pandangannya ke meja. ”Saya yakin Fay sudah mengerti bahwa ada konsekuensi yang

tidak ringan untuk setiap perintah yang dilanggar,” ujar Andrew menanggapi ucapan Philippe dengan tenang.

Lewat sudut mata, Fay bisa merasakan Philippe mengarahkan pandangan kepadanya, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lagi-lagi Fay menangkap ketidaksukaan terpancar dari Philippe, dan jantungnya berdegup lebih kencang—ia sama sekali tidak berani mengalihkan pandangan dari meja.

Philippe mengeluarkan telepon genggam dan memberi instruksi dalam bahasa Prancis yang bisa ditangkap oleh Fay sebagian, memerintahkan siapa pun orang yang diteleponnya itu untuk datang.

Berikutnya terdengar suara Philippe bertanya kepada Andrew, ”Kamu yakin dia bisa melakukan tugas ini?”

Kesan merendahkan terdengar begitu jelas dalam nada suara Philippe, dan Fay merasa setengah harga dirinya bangkit dengan kalimat yang terdengar lebih seperti hinaan daripada sekadar pertanyaan. Di saat yang bersamaan, ia tahu setengah harga diri yang sama juga langsung menciut.

”Kamu punya kewenangan untuk memastikan Fay bisa melakukan apa yang diharapkan,” jawab Andrew tajam.

Philippe menggeleng tak sabar dan berkomentar, ”Kewenangan itu merupakan imbas dari penilaian yang kamu buat.”

”Penilaian saya tidak pernah salah!”

Philippe melirik Fay dan berkata datar, ”Mungkin tidak berlaku kali ini.”

Fay merasa dadanya terhantam mendengar kalimat yang diucapkan Philippe itu. Sembarangan aja ngomong... penghinaan!

Terdengar suara langkah mendekat dan Lucas muncul. Philippe berbicara dalam bahasa Prancis yang terdengar seperti rentetan lagu terkulum, sama sekali tidak bisa dipilah-pilah telinga. Fay membayangkan kalau di atas kertas, pastinya kalimat itu mempunyai banyak huruf bertopi kutip satu, dengan huruf vokal yang tidak diucapkan di setiap akhir kata dan langsung disambung dengan kata berikutnya—sesuatu yang sampai detik ini masih dirasanya tidak masuk akal bila diucapkan.

Tiga pasang mata menatapnya.

Fay tersentak dari lamunannya ketika tersadar semua yang ada di ruangan itu melihat ke arahnya seperti menunggunya melakukan sesuatu. ”...A... ada apa?” Sebuah pertanyaan harakiri.

Philippe mengerutkan kening ketika berkata, ”Kamu dengar apa yang saya katakan ke Lucas. Lakukan sekarang!”

Rasa dingin mulai terasa merayapi tulang. Fay berkata dengan suara pelan, ”Saya tidak mengerti apa yang dikatakan tadi.”

Philippe sontak menoleh ke arah Andrew, ”Kamu bilang gadis ini sudah bisa berbahasa Prancis!”

Fay melihat wajah Andrew mengeras dan ia langsung mencoba membela diri, ”Tapi saya sama sekali tidak pernah berbahasa Prancis lagi selama satu tahun ini. Saya... sudah lupa.”

Andrew berbicara datar dalam bahasa Inggris, ”Philippe ingin kamu mengikuti Lucas turun ke lantai dasar, kemudian naik kembali ke lantai ini menggunakan tangga. Lakukan sekarang juga.” Fay tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menghilang dari pandangan Philippe dan Andrew. Terburu-buru ia pun segera berlalu ke arah Lucas yang sudah menunggu di lorong

menuju foyer.

Begitu berada dalam lift dan pintu tertutup, yang pertama Fay lakukan adalah mengembuskan napas lega, menikmati detik demi detik lift ini menjauhi lantai tempat dua pria setengah gila itu. Pikirannya bermain seputar apa yang ia rasakan tentang Philippe. Kenapa Philippe tidak menyukainya? Kenapa ia merasakan ada kemarahan dalam setiap sapuan pandangan Philippe, padahal mereka baru bertemu? Apakah ini perasaannya saja?

Pintu lift terbuka dan Lucas mengajak Fay ke arah belakang meja resepsionis, membuka satu pintu besi yang posisinya agak tersembunyi di ujung lorong, tepat di sebelah pintu keluar menuju taman kecil di belakang.

Tangga darurat.

Fay menengadah dan sepanjang mata memandang, hanya ada pegangan tangga yang tampak seperti tak berujung. Ia baru ingat bahwa ia tidak tahu posisi kediaman tadi, terlebih di lift yang dinaikinya tidak tercantum nomor lantai. ”Lucas, lantai berapa kediaman tadi?”

”Enam belas,” jawab Lucas tanpa menghentikan langkah cepatnya yang sudah setengah perjalanan ke lantai dua.

Ya ampun! Fay mengerang tanpa malu-malu. Di sekolah saja ia tidak pernah absen untuk mengeluarkan omelan sambil mengeluh kalau harus naik ke laboratorium yang ada di lantai empat. Dan sekarang ia disuruh menaiki tangga hingga lantai enam belas! Mendengar angka itu disebutkan saja, ia bisa merasa lututnya bergetar bahkan sebelum melangkahkan kaki ke anak tangga pertama.

Fay berdecak dan berkacak pinggang, kembali menengadah untuk melihat putaran tangga. Akhirnya, setelah beberapa detik berkeluh kesah pada diri sendiri, ia melangkahkan kaki dan memulai perjalanan yang masih sangat panjang itu.

Dua puluh menit berlalu dan gadis itu belum muncul juga. Philippe melirik arlojinya lalu menghirup teh; wajahnya mengernyit ketika indra perasanya tersapu cairan beraroma mint yang sudah tidak hangat. Cangkirnya langsung ia letakkan dan ia bangkit menuju telepon untuk menghubungi Mrs. Nord di dapur dan meminta teh serta cangkir baru.

Kembali duduk di sofa, Philippe melirik Andrew yang sedang sibuk mengetik sesuatu di telepon genggam. Rekannya ini, yang juga sepupunya, masuk jajaran salah satu orang terkaya di Eropa dengan statusnya sebagai pemilik Llamar Corp. dan waktunya sudah pasti tidak pernah terbuang sia-sia. Terlebih Andrew juga merupakan pimpinan tertinggi di Core Operation Unit atau COU, sebuah unit rahasia dengan kemampuan yang setara dengan badan intelijen negara maju. Membawahi lebih dari tiga ribu orang yang tersebar di hampir seluruh belahan bumi, COU dibentuk di bawah bendera salah satu anak perusahaan Llamar Corp. untuk memuluskan visi korporasi itu sebagai penguasa perekonomian dunia.

Baru saja dua jam lalu ia dihubungi oleh Andrew lewat telepon, saat sedang menyempurnakan gerakan neuvieme dan riposte dalam permainan anggarnya. Secara singkat Andrew memintanya melatih seorang gadis remaja tanggung yang tidak berpengalaman untuk melakukan sebuah operasi yang akan segera digulirkan. Sebagai pemegang jabatan Kepala Direktorat Unit Kontrol (Control Unit—CU) di COU, ia memang bertanggung jawab atas semua masalah internal di COU, termasuk pelatihan dan perekrutan.

Tanpa bertanya lebih lanjut, tadi pagi Philippe langsung menyimpan sabre-nya—-jenis pedang dalam permainan anggar—lalu bergegas menuju ruang kerja untuk membaca sekilas profil gadis bernama Fay itu.

Segera informasi yang dibacanya di baris pertama membuat keningnya berkerut: Fay berada dalam observasi Andrew.

Observasi adalah satu bentuk rekrutmen yang tidak biasa di COU, dengan pilihan akhir yang juga tidak biasa, yaitu penawaran atau kematian. Mereka yang selama menjadi target observasi berhasil memenuhi kriteria profil yang telah ditetapkan akan mendapat tawaran untuk menjadi agen COU—yang sebenarnya lebih tepat disebut ”pemberitahuan” daripada ”penawaran” karena tidak tersedia ruang untuk memilih. Sedangkan bagi mereka yang dinilai tidak memenuhi kriteria, satu-satunya akhir yang tersedia adalah kematian.

Hanya segelintir orang yang bergabung dengan COU menggunakan cara ini. Dengan pilihan sebuah akhir yang begitu terbatas, otoritas untuk menetapkan seseorang berada dalam observasi hanya dimiliki oleh Andrew selaku pimpinan tertinggi di COU. Rekan-rekan Andrew yang lain, termasuk Philippe, yang juga memegang posisi kunci di COU, hanya bisa memberikan usul, semua keputusan ada di tangan Andrew—termasuk hasil akhir dari observasi itu sendiri.

Setelah membaca profil Fay lebih lanjut, Philippe kembali menggelengkan kepala. Fakta bahwa Fay sempat berada di bawah observasi saja sudah mengejutkannya, apalagi dengan fakta bahwa Fay berhasil lolos; berarti Andrew sudah memutuskan Fay akan direkrut menjadi agen COU. Itu juga artinya gadis yang jelasjelas tidak kompeten ini akan berada di bawah tanggung jawab direktorat yang ia pimpin!

”Teh Anda sudah siap, Sir.” Mrs. Nord masuk sambil membawakan teko dan cangkir-cangkir baru. Dengan cekatan Mrs. Nord menuang teh yang masih hangat dari teko dan dengan efektivitas seorang pelayan yang sudah mengabdi puluhan tahun, langsung mengangkat cangkir-cangkir yang berserakan di meja dan berlalu tanpa mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu.

Philippe mengambil cangkirnya dan sesaat ditenangkan oleh sensasi pahit yang disertai aroma mint. Setelah beberapa teguk, pikirannya kembali mengevaluasi Fay.

Ia masih tidak mengerti apa yang menjadi landasan keputusan Andrew untuk menempatkan gadis bernama Fay ini dalam observasi. Selain umurnya masih terlalu muda untuk direkrut sebagai agen COU, secara fisik pun tidak ada yang bisa diunggulkan dari Fay. Postur tubuh Fay terlalu kecil, sebagaimana bangsa Asia pada umumnya. Tinggi dan beratnya pun tidak proporsional, tanpa ada tanda-tanda menjaga stamina dengan latihan fisik secara rutin. Dari profil yang dibacanya tentang Fay, tidak juga ada kelebihan nonfisik lain yang terlalu menonjol di luar kemampuan analisis yang tajam.

Philippe melirik Andrew yang sedang memasukkan telepon genggam ke saku, kemudian berkata, ”Sudah lebih dari dua puluh menit dan gadis ini belum muncul juga. Kemampuan fisiknya benar-benar jauh di bawah standar. Saya tidak tahu kualitas apa yang kamu nilai dari gadis ini sehingga kamu menempatkannya dalam observasi dan kamu loloskan.”

”Saya punya pertimbangan sendiri ketika menempatkan Fay dalam observasi. Keputusan untuk meloloskan Fay juga sudah saya buat tahun lalu—Fay akan bergabung dengan COU setelah lulus dari sekolah menengah, berarti tahun ini. Umurnya pun segera akan menjadi delapan belas tahun. Tentunya kamu tahu keputusan itu sudah final.”

”Andrew, umur Fay masih terlalu muda. Saya tahu dalam protokol rekrutmen disebutkan bahwa usia minimal agen COU adalah delapan belas tahun, tapi dalam praktiknya kita hanya merekrut mereka yang berumur di atas dua puluh satu tahun, dan bukannya tanpa alasan. Di umur dua puluh satu tahun, kita bisa berharap seseorang sudah matang dan bisa menimbang risiko serta menerima konsekuensi atas tindakan yang diambil.”

”Umur bukanlah faktor penentu. Kita punya banyak agen muda lainnya,” ucap Andrew menanggapi dengan santai.

”Mereka bukan anggota COU biasa!” tandas Philippe dengan kening berkerut. ”Mereka keponakan kita, anggota keluarga McGallaghan. Mereka kita rekrut sejak usia masih sangat muda dengan cara yang berbeda dan kita didik dengan metode berbeda, melalui program khusus di kantor dan di rumah yang memang dirancang untuk itu. Kalaupun Fay nanti lolos program pendidikan dasar COU dan sama-sama berkantor dengan para keponakan kita, jelas Fay tidak bisa dibandingkan dengan mereka!”

Andrew tersenyum tipis. ”Saya tahu. Saya hanya meminta kamu membuka diri terhadap anomali umur yang terjadi. Semua pengecualian terhadap praktik standar sudah dipikirkan secara matang sebelum diputuskan. Dalam kasus ini, yang harus dilakukan hanyalah membuat penyesuaian dalam program latihannya.” Philippe bersikeras, ”Saya juga membuka diri terhadap pilihan itu, hanya saja saya berharap dengan pengecualian yang kamu buat ini, yang akan berdiri di hadapan saya adalah seseorang dengan kualifikasi jauh di atas rata-rata!”

Fay masuk ruangan.

Philippe melirik jam tangannya. Dua puluh delapan menit. Napas Fay yang terengah-engah terdengar begitu jelas oleh telinga Philippe dan mungkin masih bisa ditangkap dengan jelas dari jarak berpuluh meter!

Fay berjalan mendekati Philippe dengan tertatih-tatih sambil meringis dan begitu berada tepat di hadapan pria itu, langsung membungkuk memegangi lutut.

Segera Philippe meletakkan cangkirnya dan berdiri. Ketika melihat Fay masih memegangi lututnya tanpa berusaha untuk tegak dan menatapnya, amarahnya segera bangkit.

Gadis ini tidak disiplin sama sekali!

”Hampir setengah jam hanya untuk naik ke lantai ini?”

Susah-payah Fay menegakkan tubuh, melawan rasa sakit di otot pahanya yang semakin teregang ketika ia meluruskan punggung. Satu-satunya kekuatan untuk melakukannya hanya diperoleh dari rasa gengsi yang tersulut sejak berkenalan dengan Philippe tadi. Fay menggigit bibir untuk menahan mulutnya mengeluarkan erangan yang ia yakin hanya akan membuat harga dirinya semakin terinjak.

Philippe menyapu Fay dengan pandangan yang seakan mengulitinya kemudian berkata, ”Latihan kamu akan dilakukan di kediaman saya, dimulai jam dua siang. Jangan terlambat!”

Andrew mendekati Fay kemudian merangkul dan menepuk pundak Fay sambil berkata, ”Lucas akan mengantar kamu sekarang dan kamu bisa berhenti di salah satu kafe atau restoran yang dilalui untuk makan siang. Jaga diri kamu baik-baik, young lady. Jangan lupa membawa pakaian dan perlengkapan seperlunya untuk ditinggalkan di rumah Philippe—hanya untuk berjaga-jaga. Sampai jumpa nanti malam.”

Fay hanya bisa mengangguk sebelum berbalik sambil mengembuskan napas lega. Tidak ada hukuman tambahan! Mungkin Philippe tidak seburuk yang dikatakan Andrew, walaupun judesnya nggak nahan, pikirnya sambil berlalu.

”Fay...,” terdengar suara Philippe memanggilnya lagi. ”Ya?” Fay sontak berbalik dan menahan napas.

”Berharaplah waktu beberapa hari ke depan cukup untuk memperbaiki semua kekurangan kamu, karena jika tidak, saya akan membuat kamu menyesal pernah bertemu dengan saya.”

Philippe memperhatikan Fay meninggalkan ruangan. Begitu gadis itu hilang dari pandangan, ia mendengus, ”Satu hal yang pasti, dia harus diajari tentang disiplin! Dia juga harus tahu dia sedang berhadapan dengan siapa. Kamu pasti terlalu lunak tahun lalu hingga gadis itu masih punya nyali untuk bersikap seperti yang dia tunjukkan tadi.”

”Kamu punya beberapa hari untuk memperbaiki sikapnya kalau memang kamu anggap perlu. Lakukan saja apa yang memang perlu dilakukan. She’s all yours,” kata Andrew santai.

Philippe berdecak, ”Dengan kemampuan seperti itu, bila dia disandingkan dengan agen lain, dia hanya akan menjadi beban!” ”Tugasmulah membuatnya tidak menjadi beban bagi siapa pun,” ucap Andrew sambil tersenyum tipis kemudian berjalan ke arah jendela. Andrew menyingkap tirai jendela. Terlihat limusin yang tampak begitu kecil berlalu meninggalkan lokasi, menyisip masuk

di antara mobil boks putih dan sebuah sedan biru metalik. ”Apa saja yang sudah dia ketahui tentang COU?” ”Saya belum memberitahunya,” jawab Andrew singkat.

Philippe mengerutkan kening lalu langsung menanggapi. ”Kamu belum memberitahunya tentang COU, tapi malah memberinya tugas terlebih dahulu? Ada banyak agen lain yang terlatih, yang siap melakukan tugas apa saja!” ”Waktu yang tepat untuk membuka informasi tentang COU kepada Fay akan saya tentukan nanti. Sebelumnya, saya terlebih dulu ingin mendengar pendapat kamu selama melatihnya beberapa hari ke depan dan setelah mengevaluasi kinerjanya dalam melaksanakan tugas.”

Philippe menghirup tehnya, meletakkan cangkirnya di meja, lalu beranjak pergi tanpa berkata-kata lagi.

Andrew berkata sambil lalu, ”Saya tunggu laporan kamu setiap malam.”

”Jangan mengharapkan berita baik,” ucap Philippe tanpa menoleh atau menghentikan langkahnya.

Andrew tersenyum tipis menyaksikan Philippe meninggalkan ruangan membawa kemarahan yang begitu kentara. Sepupunya yang satu ini memang terkenal sangat tidak sabaran dan tampaknya ia tadi sudah menyulut sumbu yang tepat untuk menjalankan rencananya.

Keputusan untuk meloloskan Fay dan membuatnya menjadi bagian dari COU sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Andrew sudah punya rencana untuk Fay, tapi waktu dan caranya harus tepat kalau ia ingin hasilnya sesuai harapan. Sampai waktunya tiba, ia harus tampak bagai malaikat, begitu suci, hingga Fay tidak akan ragu untuk bahkan menitipkan nyawa ke tangannya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊