menu

From Paris To Eternity Bab 01: Panggilan Nasib

Mode Malam
Panggilan Nasib

FAY  REGINA  WIRANATA  melirik  arloji  Swatch  kesayangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Ia berada di pengujung tahun ketiganya di SMA, tepatnya sedang berusaha menyelesaikan tiga soal yang tersisa dari lembar soal ujian kimia yang merupakan mata pelajaran terakhir yang harus dilewati dari rangkaian ujian yang melelahkan. Dua menit lagi bel akan berbunyi, tanda lembar jawabannya harus dikumpulkan sekaligus juga tanda berakhirnya tahun ajaran yang menyesakkan ini. Selama setahun terakhir, hidupnya hanya berkisar pada les-les tambahan dengan berbagai bentuk. Semuanya demi sebuah angka yang tercetak di selembar kertas dan gengsi dari perguruan tinggi papan atas yang dipercaya punya pengaruh pada kesuksesan hidup seseorang.

Fay menghela napas dan menyandarkan tubuh ke kursi sambil

memperbaiki kucir yang menjaga supaya rambut sebahunya yang ikal tidak mengganggu konsentrasinya.

Percuma! Fay melirik tiga soal cerita yang dibaca saja belum sambil mengucapkan selamat berpisah. Ingin rasanya ia bangkit dari kursi sekarang juga dan menyerahkan lembar jawaban itu kepada Bu Lusi, guru kimianya yang kebetulan menjaga kelas, tapi ingatan akan ucapan-ucapan pedas yang selalu dilontarkan guru itu kepada siswa-siswi nonfavorit mengurungkan niatnya dalam sekejap.

Fay membayangkan apa yang akan menjadi sasaran Bu Lusi kalau ia nekat maju ke depan kelas. Tidak ada ciri-ciri fisik yang terlalu menonjol pada dirinya—beratnya sedikit di atas rata-rata, 56 kg dengan tinggi 160 cm, tapi rasanya masih kurang untuk menjadi target celaan pedas. Mungkin Bu Lusi akan menghantam warna kulitnya yang sawo matang, ”Kenapa kamu cepat-cepat keluar? Mau menggosok kulit kamu supaya lebih terang?” Fay bergidik dengan khayalannya sendiri.

Suara bel memecah kesunyian.

Sontak kelas menjadi riuh rendah penuh suara gerutuan dari segala arah. Para siswa secara serabutan mempercepat gerak tangan untuk menulis di lembar jawaban.

Bu Lusi menggedor papan tulis dan tangan-tangan yang menulis segera meletakkan pensil dan bolpoin, diiringi gerutuan yang terdengar makin keras. Satu per satu siswa maju dan meletakkan lembar jawaban di meja. Fay sempat melirik Bu Lusi saat meletakkan lembar jawaban. Di wajah Bu Lusi terpancar ekspresi puas, seakan-akan menyengsarakan siswa adalah suatu pencapaian luar biasa dalam hidupnya.

Fay bergegas meninggalkan kelas. Begitu tiba di selasar, ia langsung celingukan mencari para sahabatnya.

”Fay, bisa jawab semua?” teriakan Lisa langsung menyambut. ”Ya nggak laaah...,” jawab Fay sambil tersenyum lebar.

Lisa melirik Bu Lusi yang keluar dari kelas sambil memegang lembar jawaban, kemudian sambil memelankan suara berkata, ”Idih, si bulu halus (kepanjangan dari ”Bu Lus”) itu kok ada di kelas lo? Ih, jijik bin jijay. Gue bisa diare deh kalau kebagian dijaga dia.” Fay tertawa.

Di kejauhan, tampak dua sahabat Fay yang lain, Dea dan Cici, melambaikan tangan sambil berusaha menyelinap di antara para siswa yang tumpah ruah di koridor kelas lantai tiga. Tidak sulit menemukan mereka di antara kerumunan karena tinggi Dea yang di atas 170 cm itu.

Dea langsung berkeluh kesah, ”Gimana ujiannya, pada bisa semua nggak? Aduh, gue kesel banget deh, nggak sempat periksa ulang semua jawaban gue. Jawaban untuk tiga soal terakhir belum sempat dilihat, lagi.”

Fay dan kedua temannya yang lain kini melotot ke arah Dea yang tampaknya akan segera melanjutkan keluh kesahnya dan mungkin akan segera membahas semua jawaban untuk mengetahui apakah yang ditulisnya sudah benar atau belum.

Lisa langsung memotong, ”Dea, tolong ya toleransi sedikit sama gue, yang separuh soal pilihan ganda cuma pakai cara tebak kancing dan separuh soal cerita cuma bisa mengandalkan jawaban si Ruben karena gue nyontek sama dia!”

Cici dan Fay tertawa terbahak-bahak. Giliran Dea yang melotot dengan shock ke arah Lisa.

Satu suara tidak harmonis terdengar dari belakang Cici dan memutus tawa mereka.

”Ci, lo liburan ke mana? Gue mau ke Eropa nih sama Nyokap. Ikutan dong, biar kita bisa jalan dan belanja bareng, pasti seru.”

Tiara. Dengan dongkol Fay menatap cewek cantik yang tampak kenes dengan rambut panjang yang digerai sebagian ke depan, dan tangannya sibuk membetulkan rok yang sengaja dibuat kependekan.

Tiara adalah ketua geng borju yang dari dulu tidak pernah putus asa mengajak Cici yang menyandang status anak konglomerat, untuk bergabung dengan gengnya. Tiara juga tidak pernah lupa cari gara-gara dengan Dea, Lisa, atau Fay, yang dianggap menghalangi keinginannya untuk mendekati Cici. Sepertinya cewek ini tidak pernah mengerti bahwa ada kecocokan lain yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan dalam berteman selain jumlah uang yang ada di rekening orangtua.

Cici menjawab santai, ”Gue ada rencana pergi, tapi kayaknya sih masih lama. Mungkin Fay mau pergi.” Cici menoleh ke arah Fay. ”Fay, lo ke Paris lagi nggak liburan ini?”

Sebelum Fay sempat menjawab, Tiara langsung memotong, ”Ya udah deh, Ci. Kalau lo berubah pikiran, kabari gue, ya! Mayaaaaang...!” Tiara pun berbalik dan berlalu sambil berteriak memanggil salah satu anggota geng borju lain yang sudah seperti dayangnya.

Lisa melotot ke punggung Tiara yang segera menghilang di antara kerumunan siswa. ”Iiih, nggak sopan banget sih, tuh anak? Heran deh gue, dari dulu nggak pernah berubah. Nggak pernah sekali pun dia menghargai orang lain!”

Cici menengahi, ”Udah deh, mengharapkan Tiara berubah jadi beradab sama dengan mengharapkan Bu Lusi jadi Ibu Peri Cinderella. Sekarang kita ngomongin yang seru-seru aja, seperti liburan. Fay, lo belum jawab pertanyaan gue tadi. Liburan ini lo ikut kursus bahasa lagi nggak di Paris?”

”Nggak,” jawab Fay singkat. Ingatannya otomatis melayang sejenak ke liburan kenaikan kelas tahun lalu, saat ia belajar bahasa Prancis selama dua minggu di Paris.

Lisa menatap Fay dengan sewot. ”Udah deh. Kalau Fay sih nggak usah ditanya, percuma! Pergi jauh-jauh ke Paris ceritanya garing amat. Udah gitu, dua minggu di Paris fotonya nggak lebih dari sepuluh. Alasannya nggak masuk akal, lagi! Sibuk kursus karena ikut kelas tambahan sore. Padahal yang namanya kursus bahasa itu kan cuma kelas iseng-iseng, bukannya kayak kelas bimbingan belajar kimia. Dasar sableng!”

Fay hanya meringis menanggapi omelan Lisa. Andai saja mereka tahu, pikirnya. Di hari pertamanya di Paris tahun lalu, Fay diculik oleh seorang pria bernama Andrew. Pria itu memintanya berpura-pura menjadi seorang gadis Malaysia bernama Seena yang akan singgah ke rumah pamannya yang bernama Alfred Whitman. Selama dua minggu, sepulangnya dari kursus bahasa, Fay mengikuti latihan yang diberikan Andrew. Dan untuk menutupi aktivitas ”latihan tambahan” itu, Andrew memberikan alasan yang sempurna untuk dipampangkan ke keluarga dan teman-teman Fay: Fay mendapat bonus untuk mengikuti kelas tambahan sore di Institute de Paris, institusi yang dikepalai Monsieur Guillard—baik lembaga maupun pimpinannya sama-sama fiktif—yang bergerak di bidang pengajaran bahasa dan budaya.

”Fay, ortu lo pergi?” tanya Cici lagi, menyelamatkan Fay dari berondongan tatapan Lisa yang tak kenal ampun.

”Iya, mereka mau ke Peru. Katanya mau ketemu calon klien.

Abis itu mau sekalian liburan juga,” jawab Fay.

”Mereka kayaknya lebih sibuk lagi ya sekarang, sejak buka perusahaan konsultan sendiri?” tanya Cici.

Fay menjawab singkat, ”Gitu deh.”

”Lha, lo nggak ikut sekalian?” tanya Lisa dengan nada yang lebih berdamai.

Fay baru akan menjawab pertanyaan Lisa, tapi Dea sudah menyahut, ”Mana bisa liburan begitu? Kan nggak lama lagi kita ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi. Gue juga nggak pergi ke mana-mana. Paling ikut les tambahan aja.”

”Aduh, Dea, kayak kurang aja ya lo jadi juara umum!” sambar Lisa gemas. ”Dua universitas yang udah memohon-mohon supaya lo mau masuk ke tempat mereka, cuma dianggap angin, ya? Gue doain lo masuk surga deh!”

”Udah... udah...,” ucap Cici, ”...nanti kita ngobrol lagi deh.

Sekarang, gue mau pulang dulu. Daaah... Ayo, Fay!” Fay pun mengikuti Cici yang rumahnya memang searah dengan dirinya.

Di mobil, Cici memasang lagu dari Jason Mraz sambil bertanya, ”Fay, lo jadi pilih universitas negeri di sekitar Jakarta?”

”Jadi. Memang mau ke mana lagi?” Fay balik bertanya. ”Kan ada Bandung.”

”Nggak boleh sama ortu gue. Mereka kan selalu bepergian, jadi waktu mereka ketemu gue di Jakarta sudah terbatas. Kalau gue ke Bandung, bisa-bisa setahun nggak pernah ketemu.”

”Kan ke Bandung sekarang cuma dua jam.”

Fay terdiam sebentar sebelum berkata, ”Mungkin mereka pikir buang-buang waktu kalau harus menghabiskan dua jam ekstra untuk gue.” Seulas rasa pedih mengintip di dada dan Fay segera balik bertanya untuk meredamnya, ”Kalau lo gimana? Jadi kuliah ke Amerika?”

”Belum tahu. Anyway, gue baru daftar tahun depan.”

”Lho, kok lo nggak pernah cerita baru akan kuliah tahun depan?”

Cici mengangkat bahu. ”Gue juga baru tahu minggu lalu. Bokap datang khusus dari Singapura untuk diskusi masalah ini sama gue. Bokap bilang, ada perubahan strategi dalam rencana bisnisnya. Lima tahun lagi fokusnya ekspansi ke pasar Eropa, bukan ke Amerika. Dia minta gue ambil kuliah teknik industri di Jerman, setelah itu dia mau gue belajar manajemen di Swiss.”

”Terus, satu tahun ini lo mau ngapain?”

”Belajar bahasa Jerman. Kemungkinan sih sekalian belajar bahasa Prancis. Paling juga habis itu gue pingsan,” ucap Cici sambil meringis hingga mata sipitnya hilang.

Fay terkekeh.

Mobil berhenti tepat di depan rumah Fay.

”Ci, thanks ya,” ucap Fay sambil menyambar tas dan membuka pintu. ”My pleasure, dear Fay. Nanti gue telepon ya.... Mungkin kita bisa janjian jalan bareng besok. Daaah!”

Mobil Cici segera melaju lagi.

Gerbang rumah Fay dibuka oleh Mbok Hanim, wanita paruh baya yang sudah tinggal sepuluh tahun di sana sebagai pengurus rumah.

Di dalam rumah, Fay melihat pintu menuju ruang tengah terbuka dan sayup-sayup terdengar suara bercakap-cakap. Fay mengintip dan melihat kedua orangtuanya sedang berbicara serius dengan seorang pegawai yang bekerja di perusahaan mereka.

Fay segera beranjak ke kamarnya di lantai dua. Yang dilakukannya pertama-tama di dalam kamar adalah membuka tas dan membalikkannya sehingga isinya bertebaran di lantai, mulai dari buku pelajaran, berbagai alat tulis, dompet, agenda, hingga uang receh. Fay tersenyum lebar melihat serakan berbagai barang di lantai, hasil kebiasaan aneh setiap akhir semester untuk merayakan kebebasannya. Sebenarnya itu tidak berlaku semester ini, karena akan ada ujian seleksi masuk perguruan tinggi yang harus diikuti, tapi setidaknya masih ada waktu satu bulan lagi. Fay langsung duduk di depan komputernya di sudut kamar dan setelah menyambung kabel telepon, segera memeriksa e-mail-nya di Yahoo!.

Hanya ada satu e-mail baru dari Reno, teman kursusnya tahun lalu.

Hai, Fay

Bagaimana ujian kamu? Sukses? Mudah-mudahan keberuntungan kamu dalam pelajaran kimia lebih besar daripada keberuntunganku di sekolah dulu. 

Tiketku untuk ke Quito sudah confirmed untuk Rabu.

Akhirnya, setelah tiga tahun aku pulang juga!

Jangan lupa beritahu aku rencana liburan kamu ya (*ya ya ya... aku tahu kamu harus menyiapkan diri untuk masuk ke universitas.... Tapi, kalau kamu tidak ada rencana ke Paris lagi—atau Eropa—siapa tahu aku mendadak punya ide untuk ke Jakarta!). Just let me know, okay?

Gotta go now. Ciao lil’ sis. Take care, always.

–r–

PS: never accept anything from stranger!

Seulas senyum menghias bibir Fay saat membaca panggilan ”lil’ sis” atau adik kecil yang tak pernah lupa dicantumkan Reno di akhir setiap e-mail-nya. Dalam waktu hanya dua minggu, Reno sudah menempati sudut yang istimewa dalam hati Fay; bukan hanya sebagai seorang kakak, tapi juga sebagai malaikat pelindung yang telah menyelamatkan dirinya. Selama satu tahun belakangan ini, Reno tidak pernah lupa mengontaknya secara rutin melalui e-mail dan mereka sering bertukar cerita. Fay meringis saat ingat tatapan iri bercampur sirik bin mupeng para sahabatnya saat melihat foto Reno dan mendengar ceritanya sepanjang tahun ini tentang cowok keren itu.

Pintu kamar mendadak terbuka.

Fay mengangkat alis melihat mama dan papanya masuk sambil tersenyum lebar.

”Fay, Mama bangga sekali padamu...,” ucap Mama dengan mata berbinar-binar.

Setengah melongo, Fay menatap orangtuanya. ”Apaan sih? Perasaan pengumuman kelulusan juga belum deh,” ucapnya sambil mengerutkan kening. Mengingat ujian kimia tadi, rasanya kalimat tadi tidak ditujukan ke sana, pikirnya lagi.

Mama menyodorkan satu surat yang baru datang dan Fay membukanya. Apa yang ditangkap pertama kali oleh matanya membuat jantungnya serasa mau lompat keluar.

Tulisan Institute de Paris ada di kop surat!

Fay otomatis melihat ke bagian bawah surat, dan ia membaca nama sang direktur, M. Guillard! Dengan tangan yang rasanya membeku dan tatapan yang terasa mengabur, Fay mulai membaca.

Inti surat tersebut adalah ia terpilih untuk mengikuti kursus singkat selama satu minggu di institut tersebut karena karangan berbahasa Prancis-nya yang pernah diikutkan di lomba tahun lalu berhasil terpilih menjadi karya asing berbahasa Prancis terbaik kategori remaja.

Fay semakin pucat. Menulis karangan dalam bahasa Indonesia pun cuma kalau terpaksa dalam pelajaran bahasa, apalagi dalam bahasa Prancis!

Setengah melayang Fay melihat mamanya berbicara, dengan gerakan bibir bagaikan frame film dalam gerak lambat. Ia tidak bisa menangkap satu patah kata pun yang keluar dari mulut mamanya. Sayup-sayup ia mendengar suara telepon, suara Papa berbicara di telepon, kemudian suara Papa memanggil namanya. Ia masih sempat melihat lembar kedua dan ketiga surat tersebut, sebuah surat berbahasa Prancis yang ditujukan ke pihak imigrasi Prancis dan tiket elektronik atas namanya, untuk keberangkatan... ya ampun, mata Fay terbelalak, besok malam!

”Fay, telepon untuk kamu, Sayang.”

Telepon cordless yang disodorkan Papa mengembalikan Fay ke dunia.

Fay menerima telepon itu, ”...H... halo...”

”Hello, Fay! How are you doing, young lady? It’s been a while.” Napas Fay tercekat.

Andrew!

Fay menggigil. Angin dingin seperti lewat menembus tubuhnya.

”Saya yakin kamu sudah membaca surat yang dikirim oleh M. Guillard beserta tiket pesawat untuk keberangkatan besok malam. Kamu tidak perlu khawatir tentang visa, karena sebentar lagi akan ada kurir yang datang untuk mengambil paspormu untuk keperluan aplikasi visa. Dengan rekomendasi yang tepat, pengurusan visa itu tidak akan memakan waktu lebih dari dua jam, jadi yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah berkemas-kemas. Apakah cukup jelas, Fay?”

”Ya,” jawab Fay dengan suara tersangkut di tenggorokan. ”Bagus. Sekarang, M. Guillard ingin menyampaikan kabar baik

ini secara langsung kepada orangtuamu, jadi tolong berikan telepon ini kepada salah satu dari mereka. Dan, Fay, tolong gunakan ekspresi yang agak ceria ketika kamu melakukannya atau setidaknya tunjukkan sedikit antusiasme. Sampai jumpa segera.”

Hari Sabtu, Fay menatap cakrawala tak bertepi dari jendela pesawat yang membawanya terbang dari Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta ke Bandara Changi, Singapura, dilanjutkan dengan penerbangan ke Bandara Charles de Gaulle di Paris.

Kedua orangtuanya sudah berangkat dini hari tadi. Fay tidak punya kesulitan untuk bangun dan mengucapkan salam perpisahan kepada kedua orangtuanya, karena ia sendiri tidak bisa tidur semalaman, dibayangi rasa cemas menyongsong hari ini.

Sebelum berangkat, Mama sempat dengan heboh berkata, ”Aduh, Fay, Mama senang sekali kamu pergi ke Paris malam nanti. Mama tadinya sempat merasa bersalah karena pergi berdua dengan Papa saja, meninggalkan kamu sendirian di rumah. Tapi... ini semua Mama dan Papa lakukan demi kamu juga. Kalau Mama dan Papa berhasil dapat klien ini, wah, kehidupan kita pasti akan lebih baik lagi. Untunglah semua berjalan baik dengan sendirinya.”

Mendengar kalimat itu disebutkan mamanya, Fay hanya tersenyum pahit. Ini bukan pertama kali mereka bepergian tanpa mengikutsertakan dirinya. Kalau dihitung-hitung, mungkin dari 52 minggu dalam satu tahun, ia hanya bertemu orangtuanya selama sepuluh minggu. Selebihnya mereka pergi bergantian, meninggalkannya sendiri menjalani rutinitas hidup dengan pembenaran ”toh semuanya demi kamu juga”. Dulu ia pernah protes, tapi protesnya berhenti setelah kelulusan SD, setelah menjalani perayaan akan prestasinya sebagai juara umum di sekolah seorang diri. Setelah itu ia lebih suka menyingkir ke dalam kamar atau berkumpul dengan teman-temannya bila mereka ada. Dan kini, untuk pertama kalinya sejak kelulusan SD-nya, Fay membayangkan betapa menyenangkan kalau saja antusiasme yang ia lihat bergulir di depan matanya ini miliknya juga.

Mama seperti menangkap jeritan hati Fay—setidaknya sebagian—karena setelah melihat Fay tidak menanggapi ucapan itu, Mama langsung bertanya, ”Kenapa sih, Fay, kamu kok lemas sekali? Harusnya kamu bangga, karena kesempatan seperti ini tidak datang dua kali lho. Mama dan Papa bangga sekali sama kamu.”

Fay pun hanya menjawab sekenanya, ”Senang kok, Ma, cuma masih ngantuk aja.”

Akhirnya setelah kehebohan di kiri-kanan, termasuk saling menyalahkan tentang kunci koper, paspor, dan tiket, orangtua Fay berangkat juga. Perjalanan mereka ke Peru akan memakan waktu lebih dari 24 jam dengan transit di sana-sini.

Setelah pintu pagar ditutup dan deru mobil yang ditumpangi orangtuanya berlalu, yang tersisa hanya rasa hening yang begitu mencekam dan membuat perasaan Fay tertekan. Seolah di dalam hening itu sang kegelapan berteriak mengingatkan bahwa ia akan segera memasuki masa-masa kelam, yang dipenuhi ketakutan yang hanyalah miliknya seorang. Perasaan tertekan itu semakin nyata dengan berlalunya setiap jam. Apalagi setelah Fay menelepon para sahabatnya dan menyampaikan berita kepergiannya ke Paris itu. Yang Fay telepon pertama kali adalah Cici, tapi sayangnya Cici tidak mengangkat telepon genggam. Telepon kamarnya pun tidak diangkat. Akhirnya setelah menarik napas panjang, Fay memberanikan diri menelepon Lisa, yang langsung menanggapi dengan heboh, dibuka dengan jeritan panjang dan disambung dengan cerocosan yang tidak berkesudahan.

”Aaaaaaaaarrrrrrrrgggghhhhhhhhh... Fay, lo bener-bener gila ya! Kemarin lo bilang kalau lo nggak ke mana-mana liburan ini, eh, tau-tau lo mau ke Paris lagi. Kapan, Fay?”

”Nanti malam...”

”Aaaaaaaaaaarrrrrggggghhhhhh... Emang kebangetan lo ya, ke Paris lo anggap kayak ke pasar inpres! Pokoknya awas ya kalau lo bilang ke gue lo nggak sempat pergi-pergi lagi. Jangan kasih alasan kalau lo nggak sempat, gue tahu yang namanya kunjungan model begitu pasti di agendanya terselip kunjungan wisata. Dan kali ini lo harus foto yang banyak. Gue nggak mau tau!”

Saat itu Fay setengah menyesal tidak menelepon Dea saja. Tapi ia ingat ceramah Dea yang mungkin akan lebih panjang lagi tentang perlunya belajar sebelum tes masuk perguruan tinggi. Akhirnya, kata demi kata omelan Lisa ia terima dengan sebersit haru dan sedih yang kali ini begitu menenangkan, membuatnya merasa masih berpijak di bumi yang normal.

Begitu sesi bersama Lisa usai, Fay langsung membalas e-mail Reno, mengabari bahwa ia akan pergi ke Paris untuk kursus bahasa. Walaupun ia tahu sangat tipis kemungkinan bertemu Reno, harapan untuk bertemu dengan cowok itu adalah satu-satunya pelarian ke dunia normal dalam kunjungan ke Paris kali ini.

Fay kembali menghela napas entah untuk keberapa kalinya hari ini. Sebelum ia mendengar kembali suara Andrew yang menyapanya kemarin, bayangan seluruh kejadian di Paris sudah sedemikian mengabur, hanya bagaikan potongan cerita yang pernah ia baca tapi dijalankan oleh raga yang berbeda. Kini, ia bagaikan ditarik masuk ke mimpi buruk baru, yang menghantuinya dengan kecemasan yang tak bisa dijelaskan.

Benak Fay perlahan-lahan menampilkan siluet yang matimatian berusaha ia lupakan; seorang pemuda berambut pirang bermata biru yang pernah membuatnya melayang dalam bahagia, tapi juga telah mengempaskan semua rasa bahagia itu ketika pemuda itu menghilang begitu saja tanpa mengucapkan kata berpisah, tanpa memberi sedikit pun kabar.

Fay mendesah galau, sambil mencoba menghalau bayangan yang mencoba lewat. Matanya kini lekat memandang semburat jingga di hamparan cakrawala, yang entah kenapa dalam pandangannya kini tidak memperindah, melainkan menodai langit.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊