menu

Eiffel, Tolong! Bab 15: Home Sweet Home (Tamat)

Mode Malam
Home  Sweet Home (Tamat)

FAY sudah selesai berkemas-kemas. Kopernya sudah tergeletak rapi di lantai, menunggu diangkat ke mobil untuk memulai perjalanan panjangnya ke Jakarta. Fay menarik napas panjang sambil menikmati kelegaannya.

Akhirnya.

Ia berdiri di pinggir jendela dan melihat ke luar. Matahari agak enggan menerangi pagi ini, dan tiupan angin sesekali membawa daun-daun meliuk, bercengkerama satu sama lain.

Hari Kamis di minggu ketiga ia di Paris. Cepat juga waktu berlalu, pikirnya.

Tangannya menyentuh lengannya yang terluka. Masih agak nyeri.

Ia ingat perasaannya dua hari yang lalu sewaktu membuka mata dan yang ia lihat hanya putih. Sejenak ia bertanya-tanya apakah ia sudah mati. Ia baru yakin dirinya belum mati sewaktu ingin menggerakkan tangannya dan ternyata tidak bisa; tertahan ikatan di lengannya, dan yang ia sadar belakangan, mengikat kakinya juga. Tidak mungkin Tuhan mau bersusah payah mengikatnya di tempat tidur. Tidak lama kemudian Andrew masuk. Sambil menggulirkan sapaan khasnya, sopan dan singkat, pria itu membuka ikatan Fay dan memberitahunya bahwa ia berada di tempat yang sama dengan dua minggu sebelumnya. Pria itu juga memberi ucapan selamat atas keberhasilannya menyelesaikan tugas. Setelah itu, ia dibawa ke rumah latihan, hingga pagi ini.

Dugaan Fay bahwa Andrew mengintervensi e-mail-e-mail yang dikirim ke orangtua dan temannya terbukti kemarin. Pria itu menyodorkan setumpuk e-mail yang ditulis atas namanya kepada mereka. Fay membacanya dengan takjub, menelaah percakapan yang terjadi antara dirinya dengan teman-teman dan orangtuanya seputar kursus bahasa, acara jalan-jalan di Paris, dan jadwal kepulangan ke Jakarta yang mundur tiga hari.

Andrew kemudian memberi instruksi bagaimana ia harus menjawab pertanyaan seputar luka di lengannya bila sampai ada yang tahu. Dia juga memberikan nama dan nomor telepon seorang dokter yang harus dikontaknya ketika sampai di Jakarta.

Ia sempat bertanya kepada Andrew tentang Reno, teman sekolahnya yang entah bagaimana bisa ada di sekitar gudang tua itu dan tertembak. Pria itu menjawab singkat dia tidak tahu bagaimana Reno bisa ada di sana dan bahwa Reno sudah mendapatkan perawatan semestinya. Permintaan Fay untuk mengunjungi Reno ke rumah sakit ditolak oleh Andrew.

Fay juga sempat bertanya kepada Andrew tentang keberadaan Kent. Pria itu hanya menjawab singkat bahwa Kent sejak hari Rabu sudah tidak berada di Paris lagi.

Di mana dia sekarang? Fay tidak mengerti kenapa Kent seperti mendadak hilang ditelan bumi tanpa kabar sama sekali. Kalau memang berniat menghubunginya, seharusnya pemuda itu bisa menemukan jalan, seperti waktu mereka bertemu sepulang dari Nice. Pikiran bahwa Reno mungkin benar dan Kent hanya ingin memanfaatkan Fay di sela-sela waktu luangnya terasa menyakitkan dan…. ”Maaf, Miss, apakah koper bisa dibawa turun sekarang?” suara Lucas yang ternyata sudah berdiri di pintu menyadarkannya. Fay mengangguk, mengambil ranselnya dan turun ke lantai dasar, diikuti oleh Lucas. Koper yang bagi Fay beratnya tidak ketulungan itu dibawa oleh Lucas dengan langkah ringan di satu tangan seolah isinya bulu angsa. Sampai di bawah, Andrew sudah menunggu. Fay melihat sekilas ke sekelilingnya, berharap ada sosok lain yang ia kenal, yang sangat ingin ia sapa, tapi ia kecewa.

”Sebelum kamu berangkat, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan,” kata Andrew sambil mulai berjalan ke arah jalur lari yang sudah menjadi sahabat Fay selama dua minggu. Fay mengikuti Andrew yang berjalan ke arah jalan setapak di sisi jalur itu yang jaraknya lebih pendek.

”Saya berterima kasih secara pribadi atas kesediaan kamu untuk melakukan apa yang diminta,” Andrew berhenti sejenak melihat ekspresi tidak setuju yang jelas-jelas tertera di wajah Fay dan tertawa, kemudian dia menambahkan, ”Saya tahu kamu tidak punya banyak pilihan saat itu, tapi tetap saya berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan.”

”You’re welcome,” jawab Fay. Garing abis, pikirnya. Tapi ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

”Sebagai rasa terima kasih, ada kompensasi yang akan diberikan kepada kamu. Tapi karena umur kamu masih di bawah dua puluh satu tahun, uang itu tidak bisa diserahkan langsung kepada kamu melainkan akan disimpan di sebuah bank di Singapura dan akan dikelola oleh seorang penasihat keuangan sampai kamu berusia dua puluh satu.”

”Hah?” Fay merasa ia salah dengar atau mulai menderita kebodohan parsial hingga salah mengartikan ucapan Andrew. ”Apa bisa diulang? Saya tidak terlalu mengerti maksudnya.”

Andrew meliriknya. ”Saya yakin kamu mengerti sepenuhnya maksud saya. Tapi biar saya ulangi sekali lagi dan beritahu saya bagian mana yang tidak kamu mengerti, kalau masih ada.”

Andrew kembali menjelaskan, ”Sebagai rasa terima kasih, kamu diberi kompensasi berupa uang sejumlah lima ribu Euro. Uang itu tidak akan langsung diberikan kepadamu saat ini juga. Selain karena kamu masih berusia di bawah dua puluh satu tahun, uang tunai sejumlah itu di tangan seorang gadis tujuh belas tahun mungkin akan menimbulkan kecurigaan, dan itu adalah hal terakhir yang saya inginkan. Uang kamu akan disimpan di sebuah bank di Singapura dan akan dikelola oleh seorang penasihat keuangan. Saya akan memberikan kontaknya supaya kamu bisa menghubunginya kalau ada keperluan untuk mengambil uang tersebut.”

Fay melongo. Lima ribu Euro, waaaaah, ia jadi jutawan, dan senyumnya pun merekah. Dengan antusias, pikirannya tanpa disuruh langsung melayang ke baju, tas, dompet, mmmm sepatu Adidas, celana kapri model jungle boy yang ia lihat seharga 120 euro, kemudian...

Suara Andrew memecah khayalan indahnya, ”Dari ekspresi kamu sekarang, saya asumsikan kamu sedang berpikir untuk menghabiskan semua uang itu sesegera mungkin.”

Andrew menatapnya dengan tidak sabar.

”Tidak secepat itu, young lady. Seperti yang saya katakan tadi, hal terakhir yang diinginkan adalah menarik perhatian yang tidak perlu. Jumlah maksimal yang bisa kamu tarik setiap bulan adalah dua ratus Euro dan itu harus melalui persetujuan penasihat keuangan kamu. Kamu akan diberi dua ratus Euro tunai sekarang, sisanya harus sabar menunggu.”

Penjelasan tambahan itu tidak mengubah suasana hati Fay yang sangat gembira walaupun berarti barang yang ia beli tidak akan seheboh khayalannya. Ini adalah uang pertama yang diterima hasil jerih payahnya, yang diperoleh dengan keringat dan air mata. Dan keringat dan air mata dalam arti yang sebenarnya! Fay merasa seperti burung yang terbang lepas keluar dari sangkar dan ayunan langkahnya terasa sangat ringan.

Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah.

Andrew menatap Fay cukup lama, kemudian berkata, ”Saya yakin saya tidak perlu menekankan lagi pentingnya merahasiakan semua yang terjadi selama dua minggu ini. Itu berarti kamu tidak boleh berbicara tentang hal ini kepada siapa pun, termasuk orangtua dan teman kamu.”

Fay mengangguk.

Ia akan terbebas dari semua ini sebentar lagi. Begitu tiba di pesawat, I’m a free girl! Ia sudah tidak sabar untuk menceritakan semua ini ke teman-temannya dan membayangkan ekspresi heboh mereka. Mereka pasti sangat kaget dengan perubahan fisiknya yang kini lebih atletis. Fay merasa, hal itu membuatnya lebih percaya diri, dan tentu saja ia merasa lebih cantik. Apalagi kalau ia bercerita tentang penculikannya, perannya sebagai Seena, tentang Reno dan Kent. Sebersit rasa kecewa mendadak menyergapnya, tapi ditepis bayangan wajah temantemannya yang menganga mendengar cerita yang pastinya sangat heboh itu.

Andrew mengeluarkan amplop putih dari balik jasnya dan menyerahkannya kepada Fay. ”Di dalamnya ada nama penasihat keuangan kamu dan bagaimana cara menghubunginya. Ada juga beberapa barang di dalam yang saya rasa kepunyaan kamu, termasuk uang dua ratus Euro yang tadi saya sebutkan. Kamu bisa membukanya nanti.”

Mereka sudah sampai di samping mobil. Fay berhadapan dengan Andrew, siap mengulurkan tangan untuk bersalaman. ”Jaga diri baik-baik, young lady. Until next time,” Andrew memegang kepala Fay dengan dua tangan, mencium keningnya, menepuk pipinya, dan membukakan pintu sambil tersenyum. Fay tercengang. Rasanya seperti menghadapi orang yang berbeda, bukan Andrew yang dikenalnya selama lebih dari dua minggu ini, yang tidak sabaran, tak ada toleransi, tidak punya perasaan, dingin, kejam, dan sadisnya tidak ketulungan. Hanya sekali saja sikapnya mirip dengan sekarang, di malam sebelum

ia menjalankan tugasnya.

Terperangah, Fay hanya bisa mengangguk dan berkata singkat,  ”Okay,  bye  now.” Ia masuk ke mobil dan Lucas mengemudikannya dengan pelan di jalan berbatu itu. Ketika mencapai gerbang dan bertemu dengan aspal yang licin, mobil itu langsung melaju dengan kencang ke Charles de Gaulle.

Setelah melewati proses imigrasi, Fay baru ingat akan amplop putih yang diberikan Andrew. Ia masuk ke salah satu kafe di sana, memesan secangkir cappuccino dan mencari tempat duduk di sisi yang agak tersembunyi.

Yang pertama dilihat olehnya adalah bayangan dua lembar uang seratus Euro dan ia langsung tersenyum lebar. Bisa belanja euy, pikirnya berbunga-bunga sambil menyelipkan uang itu baik-baik di dompetnya.

Kemudian ada kartu nama putih polos bertuliskan ”Francois Bertrand”, dengan posisi ”Financial Advisor”, beserta alamat e-mail di Yahoo! dan nomor telepon genggam berkepala +65, Singapura. Fay hafal karena beberapa kali pernah menelepon orangtuanya yang sering bertugas ke negeri singa itu.

Selanjutnya ada amplop cokelat yang berisi kertas-kertas. Fay mengeluarkan isinya sekaligus, ternyata sekumpulan foto.

Lembar pertama ia amati dan Fay pun terenyak, jantungnya serasa jatuh ke lantai.

Fokus dari foto itu adalah gambar utuh seorang wanita dewasa berambut pendek memakai kacamata hitam, yang dengan busana kerja formal sedang berjalan di trotoar membawa tas laptop dan tas tangan, bertanggal satu minggu yang lalu.

Itu foto Mama!

Dengan tangan yang mulai gemetar Fay melihat lembar kedua, takut perkiraannya menjadi kenyataan.

Ternyata tidak salah, foto kedua adalah foto papanya yang berjalan masuk ke gedung perkantoran. Jantung Fay kembali mau copot, foto itu bertanggal dua hari yang lalu! Tidak mungkin! Fay tidak pernah menceritakan tentang orangtuanya kepada Andrew. Bagaimana mungkin pria itu bisa dengan tepat tahu keberadaan mereka? Ide bahwa ada yang membuntuti orangtuanya dan diam-diam mengambil foto mereka benar-benar tidak bisa diterima akal Fay!

Fay menarik napas, berusaha menenangkan dirinya tapi tidak berhasil. Andrew tidak main-main ketika berkata bahwa apa yang terjadi dua minggu terakhir ini tidak bisa diceritakan ke siapa pun, termasuk kepada orangtuanya, dan dia punya akses untuk melakukan apa saja.

...Sudah merupakan kebiasaannya untuk menghukum seseorang dengan mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi orang tersebut, sehingga pesan yang ingin disampaikannya mengena....

Ucapan Kent minggu lalu terngiang-ngiang kembali di telinga Fay.

Fay menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran buruk yang menghinggapinya.

Tangannya meraih dua foto terakhir dan mukanya menjadi sangat pucat. Keduanya foto lama, terlihat dari warnanya yang tidak seterang dua foto sebelumnya, dan dari kertasnya yang sudah tidak licin lagi.

Foto yang satu adalah foto orangtuanya beserta dirinya ketika masih SMP. Foto yang lainnya adalah foto Fay bersama teman-temannya, Dea, Lisa, dan Cici, diambil ketika mereka bersama-sama ke Dufan sekitar enam bulan yang lalu.

Foto bersama orangtuanya seharusnya berada di deretan ketiga foto-foto yang mengisi meja panjang di ruang keluarga di rumahnya di Jakarta!

Sedangkan foto bersama teman-temannya itu adalah foto yang ditempelkan di meja belajar di kamar tidurnya!

Sebuah kehampaan langsung menelannya. Rumah yang selama ini dirindukannya setiap hari ternyata tidak lebih aman daripada kediaman Celine & Jacque.

Setelah terdiam sejenak, dengan kedua tangan yang masih lemas, Fay meraih cappuccino. Untuk pertama kalinya dalam dua setengah minggu ini, ia merasa tidak ingin pulang.

Penasaran dengan kelanjutan kisah Fay, Kent, Reno, dan Andrew? Intip sinopsisnya di halaman berikut.  

Setelah menyelesaikan “tugas” dari Andrew McGallaghan, Fay Regina Wiranata kembali ke Indonesia, kembali menjadi siswa SMA biasa. Tak secuil pun kisah serunya di Paris ia bocorkan kepada sahabat-sahabat dan orangtuanya.

Fay hampir yakin kehidupannya akan berjalan normal seperti biasa. Namun, ia mendapat kejutan lain yang mau tak mau menyeretnya kembali ke peristiwa di Paris: ia menjadi juara lomba mengarang berbahasa Prancis dengan hadiah kursus singkat selama satu minggu di Paris!

Yakin dirinya tidak pernah mengikuti lomba yang dimaksud, tambahan lagi berita itu disampaikan oleh Institute de Paris yang merupakan kedok penculiknya tahun lalu, Fay tahu ia tidak punya pilihan lain kecuali berangkat ke Paris memenuhi panggilan Andrew.

Hari-harinya ternyata berjalan lebih berat daripada yang ia sangka. Selain mendapatkan pengawasan dari rekan Andrew bernama Philippe Klaan yang sikapnya sangat tidak bersahabat, Fay juga harus menata kembali perasaannya kepada Kent, juga Reno.

Selesai melaksanakan tugas, hidup memberikan kejutan lain yang amat mengguncang Fay: pesawat yang ditumpangi kedua orangtuanya mengalami kecelakaan dan orangtuanya dikabarkan meninggal dunia. Fay harus membuat keputusan terberat dalam hidupnya: tetap di Jakarta dengan ketidakpastian akan masa depan, atau pergi ke Paris demi sebuah kepastian masa depan namun sekaligus membuatnya terpuruk sepanjang masa.

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊