menu

Eiffel, Tolong! Bab 14: Napas Terakhir

Mode Malam
Napas Terakhir

Pukul 08.00, hari Selasa.

SEORANG gadis memasuki jalur imigrasi no. 8 di Charles de Gaulle. Sambil tersenyum dia menyerahkan paspornya dan menyapa  petugas  imigrasi  yang  duduk  di  sana,  ”Bonjour,  Monsieur.”

Petugas imigrasi yang bertugas saat itu membalas senyumnya dengan  ramah,  ”Bonjour,  Mademoiselle. Parlez-vous  Français?”

”Mohon maaf, saya hanya tahu beberapa kata,” jawab gadis itu menyesal dalam bahasa Inggris.

”Tidak masalah. Berapa lama Anda akan singgah di Prancis?” tanya si petugas imigrasi ramah dalam bahasa Inggris.

”Hanya dua malam,” jawab gadis itu.

”Apakah Anda ke sini untuk berlibur?” tanya si petugas imigrasi lagi.

”Ya, berlibur.”

”Terlalu singkat. Banyak sekali yang harus dilihat di Paris,” ujar petugas imigrasi itu sambil tetap tersenyum. Ia meraih stempel imigrasi dan mencapnya pada paspor yang dipegangnya, kemudian menyerahkannya kembali. ”Bon, bien venue à Paris, semoga Anda mengalami saat yang berkesan...,” ia membalik paspor itu untuk mengintip nama yang tertera, ”…Seena Fatima Abdoellah.”

”Merci, Monsieur.” Seena pun tersenyum dan berjalan meninggalkan jalur imigrasi.

”Sir, sebuah taksi baru saja masuk ke jalan di depan kediaman Alfred dan belum keluar dari ujung jalan yang satu lagi,” seorang analis berbicara melalui headset.

Andrew berada di salah satu ruang komando COU. Ada sepuluh analis yang sedang bekerja di ruang itu, semuanya memantau operasi di mana Fay menjalani lakonnya.

”Kami tidak bisa mendapat gambar yang jelas dari penumpang taksi itu, Sir,” lanjutnya lagi.

”Catat plat nomor taksi itu dan cari informasi tentang pengemudinya. Kirim agen untuk berbicara dengannya segera setelah dia meninggalkan perimeter,” perintah Andrew.

Pukul 09.10. Kurang-lebih enam jam lagi, pikirnya. Kalau semua sesuai rencana, Fay akan menyelesaikan tugasnya pagi ini.

Sebentar lagi, gadis itu akan meminta izin untuk berbelanja ke Champs-Élysées. Di sana dia akan mampir di salah satu kafe dan membuka laptopnya, berpura-pura browsing di Internet. Kemudian dia akan masuk ke Zara, di sana dia akan membeli sebuah jaket. Setelah itu dia akan masuk ke showroom Adidas, di sana dia akan menyerahkan semua peralatan yang digunakan dalam tugas ini dengan cara meninggalkannya di ruang ganti untuk kemudian diambil oleh salah seorang agen COU yang juga menyamar menjadi pembeli. Hanya tinggal laptop dan telepon genggam Fay yang perlu diserahkan. Tepatnya ditukar dengan laptop dan telepon genggam yang persis sama, tanpa program tambahan yang digunakan untuk tugas ini dan tanpa jejak nomor yang pernah dihubungi oleh teleponnya.

Andrew menggeleng ketika teringat kejadian kemarin, ketika Fay meneleponnya dengan nada panik bercampur marah untuk memberitahunya tentang penyadap itu. Dengan setengah memaksa, Fay meminta supaya penyadap itu diambil saat itu juga dan dia bahkan berani mengancam akan membuangnya. Fay sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, pikir Andrew lagi. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam penyadap itu bekerja, Andrew sudah mendapat beberapa petunjuk, salah satunya terkait dengan lelang sebuah informasi yang diklasifikasikan rahasia, yang kemungkinan adalah daftar operasi badan

intelijen itu.

Seharusnya semua bisa berlalu dengan cepat dan tanpa masalah yang berarti, pikirnya puas. Nanti sore, setelah sampai di bandara dan masuk ke ruang check in, Fay akan dihampiri oleh salah satu petugas yang merupakan agen COU, kemudian dibawa keluar dari sana menuju rumah latihan.

Segera setelah bertemu Fay dan mendengar laporannya langsung, Andrew akan mengatur operasi penyusupan untuk mencari informasi yang diinginkan, yaitu daftar kontak Alfred di semua organisasi itu, termasuk kontak pria itu di COU. Ia yakin informasi itu ada di ruang rahasia di ruang kerja Alfred. Setidaknya kini mereka tahu ke mana harus mencari.

Luc sedang mengawasi layar televisi yang terpampang di depannya. Ia berada di sebuah ruangan di bangunan yang terpisah dari gedung utama kediaman Alfred Whitman, yang merupakan pusat keamanan di estat seluas enam hektar itu. Ia adalah salah satu petugas keamanan yang bertugas mengawasi seluruh kegiatan yang berlangsung, melalui empat puluh kamera yang diletakkan di hampir setiap sudut rumah dan halaman. Selain dirinya, ada satu rekannya dengan tugas yang sama, dan satu orang lagi yang bertugas sebagai operator telepon. Kompartemen tempat mereka berada bukan hotel berbintang lima, tapi fasilitasnya cukup lengkap. Di sudut ruangan terdapat meja kecil dengan mesin pembuat kopi. Di sudut yang berseberangan ada juga toilet kecil lengkap dengan wastafel.

Pandangannya terarah ke satu layar yang menampakkan Alfred, si bos besar. Si bos sedang makan pagi dengan Seena, keponakannya. Alangkah enaknya menjadi gadis itu, pikir Luc. Si bos tidak punya anak dan dia memperlakukan keponakannya seperti anaknya sendiri. Ia membayangkan anak perempuannya sendiri yang berusia lima belas tahun dan memikirkan fasilitas apa yang bisa ia berikan dengan gajinya sebagai petugas keamanan. Seperseratus yang didapat oleh gadis itu saja sudah bagus, pikirnya pahit.

Ada tamu.

Pandangannya beralih ke layar lain. Sebuah taksi berhenti di depan gerbang.

Salah alamat, pikirnya lagi. Alfred tidak mungkin didatangi oleh tamu yang menaiki taksi.

Luc memperbesar gambar untuk menampakkan wajah tamu yang muncul dari balik jendela taksi yang dibuka.

Butuh tiga detik untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah lihat.

Butuh lima detik untuk melihat layar lain dan mengonfirmasi bahwa apa yang dilihat tadi bukan mimpi.

Ada dua keponakan.

Satu masih di meja makan sedang bercengkerama dengan bosnya, satu lagi ada di dalam taksi di gerbang halaman.

Butuh dua detik untuk menghubungi atasannya. Detik kesebelas, ia sudah berbicara dengan Vladyvsky.

 Seorang pelayan datang mengantarkan telepon ke Alfred, menghentikan tawanya yang masih berderai-derai ketika mendengar Seena menceritakan pengalamannya ikut lomba lari antarsekolah. Seena menceritakan tentang seorang peserta yang sampai menabrak wasit saking gugupnya saat mendengar abaaba lari, hingga akhirnya pertandingan harus diulang karena semua peserta jadi tertawa dan pastinya memengaruhi waktu tempuh mereka.

”Saya tidak suka diganggu ketika makan,” ujar Alfred keras. ”Saya minta maaf, Sir. Tapi Mr. Vladyvsky bilang ini sangat

penting,” jawab si pelayan takut.

”Maaf, Sayang,” ucap Alfred kepada Seena.

”Tidak masalah, Pak Cik,” jawabnya sambil tersenyum. ”Ya?” Alfred menyimak perkataan Vladyvsky, ”Oke, saya

akan segera ke sana.”

Alfred menutup telepon dan berkata ke keponakannya, ”Sayang, saya harus menelepon sebentar, urusan bisnis. Saya benar-benar minta maaf. Kalau kamu sudah selesai sarapan, bisakah kamu naik ke ruang kerja saya?”

”Oke, Pak Cik, tidak masalah,” jawabnya. Alfred pun meninggalkan meja makan.

Fay menyaksikan Alfred meninggalkan meja makan dan menarik napas lega. Ini hari terakhirnya. Pukul 15.00 nanti ia akan diantar ke airport dan setelah itu bisa bersorak-sorai menyambut kemerdekaannya.

Sekelumit hatinya menyesali kepergiannya. Andaikata ia benar-benar Seena dan Alfred benar-benar pamannya. Ia benar-benar menikmati waktu dua hari yang dihabiskan bersama Alfred, bahkan kalau mau jujur, lebih menyenangkan daripada waktu yang dihabiskan bersama papanya kalau Papa ada di rumah. Mereka hanya bercakap-cakap untuk hal-hal standar, ”gimana sekolah?” atau ”ada masalah di sekolah?”. Kalau dipikir-pikir, sepertinya hanya seputar pelajaran sekolah, pikir Fay. Sementara dengan Alfred, ia bisa menceritakan tentang teman-temannya di sekolah, walaupun namanya ia ganti menjadi nama teman Seena dan tentang cowok.

Sedikit menghela napas, ia berpikir tentang tugas yang sudah dikerjakannya selama dua hari berada di sana. Memetakan kediaman Alfred sudah selesai dilakukannya, bisa dibilang sukses. Yang tidak sepenuhnya berhasil adalah meletakkan penyadap di ruang kerja Alfred yang ternyata umurnya hanya satu hari. Tapi Andrew kemarin sore memuji keputusannya yang segera mengambil benda itu dari ruang kerja Alfred ketika mengetahui akan ada pembersihan oleh penjaga. Pria itu bahkan mengerti keengganannya membawa benda itu kembali ke rumah Alfred walaupun Fay harus mengancam akan membuang penyadap itu ke tong sampah dulu. Sepuluh menit setelah ia menelepon Andrew, pria itu meneleponnya kembali dan memberi instruksi untuk meninggalkan penyadap itu di ruang ganti lantai dua di pusat perbelanjaan.

Fay menyelesaikan suapan terakhir mashed potatoes di piringnya, kemudian meneguk jus jeruk dengan cepat dan segera berdiri. Ia sudah tak sabar ingin mengakhiri semua petualangan ini. Pikirannya menerawang sejenak ke kamarnya yang nyaman di Jakarta. Ke bantalnya yang sudah lepek dan seprai pudar kesayangannya yang rasanya sangat dingin kalau ditiduri. Tanpa sadar ia tersenyum.

Sabar Fay, pikirnya. Enam jam lagi.

Ditemani seorang penjaga, Fay diantar ke ruang kerja Alfred.

Tidak ada orang.

Penjaga itu pun pergi meninggalkannya, sementara Fay masuk dan menunggu. Sambil menunggu, pandangannya jatuh ke deretan foto yang ada di atas satu meja yang terletak di dekat pintu. Ia memerhatikan foto-foto itu satu demi satu. Ada foto Alfred dengan mendiang istrinya saat menikah, kemudian ada foto Alfred dengan teman satu angkatan di Eton, ada juga fotonya dengan sang mendiang istri dengan anak perempuan berusia kurang-lebih sepuluh tahun. Butuh waktu beberapa saat hingga Fay menyadari bahwa itu adalah Seena kecil.

Tepat saat itu, pintu terbuka dan Alfred masuk. Melihat Fay sudah ada di dalam, ia tersenyum.

”Maaf, Sayang, saya tidak menyangka telepon itu akan memakan waktu. Sedang melihat-lihat foto?”

”Ya,” jawab Fay.

”Ini foto pernikahan kami,” ujar Alfred sambil menunjuk foto yang tadi dilihatnya. ”Bibi kamu sangat menawan.” Dia mengambil foto itu dan sejenak menatapnya. Akhirnya dia meletakkan foto itu lagi.

”Ini teman sekelas saya di Eton, diambil saat kelulusan,” lanjutnya lagi.

Alfred melingkarkan lengan di pundak Fay, merangkulnya, sambil menunjuk satu foto.

”Dan itu foto saya, Zaliza, dan... apakah kamu mengenali siapa gadis cantik di foto?” tanyanya tersenyum.

Fay tersenyum. Dengan muka jail ia menjawab, ”Well, kalau Pak Cik bilang dia cantik, seharusnya itu saya.”

Alfred tertawa.

”Iya, itu kamu. Kamu masih berumur tujuh tahun. Kamu mengunjungi kami di sini, Paris, sendirian. ’A very brave little girl,’ itu yang dibilang oleh bibi kamu.”

Fay tersenyum. ”Well, I still am.”

”Tentu saja. Waktu itu kamu juga jatuh dari kuda. Saya ketakutan setengah mati, takut ibu kamu tidak mengizinkan kamu untuk datang ke sini lagi. Untungnya dia tidak marah, kan?”

”Tentu saja tidak,” jawab Fay.

Alfred tertawa, merangkul Fay lebih erat. Semakin erat. Terlalu erat!

Fay tidak bisa bernapas!

Kedua tangan Fay mencoba menarik tangan Alfred yang kini melingkari lehernya, tapi tanpa hasil. Jantungnya berdebar kencang, paru-parunya berteriak meminta udara.

”Ibu kamu memang tidak perlu marah, karena kamu tidak pernah jatuh dari kuda. Juga, kamu tidak pernah datang ke sini, tapi ke London.”

Fay langsung menyadari kebodohannya. Alfred pindah ke mansion ini setelah istrinya tewas. Sebelumnya dia tinggal di London. Bodohnya!

Alfred menyeretnya ke arah meja kerja, kemudian pria itu membuka laci. Sekilas Fay melihat ada jarum suntik di sana. Ia kembali meronta-ronta tanpa hasil.

Satu sengatan terasa di tengkuk Fay. Seketika itu juga ada rasa sakit yang melumat kepalanya, hingga semua tampak berputar-putar, berkabut, terasa begitu menyakitkan. Kemudian seluruh ototnya seperti kaku dan detik berikutnya hanya ada hitam.

Alfred merasakan gadis yang ia sangka keponakannya itu lunglai di tangannya. Dengan sigap ia menopangnya dengan kedua tangan dan memapahnya ke sofa di ruang kerja.

Setelah gadis itu terbaring di sofa, ia sejenak memperhatikannya. Benar-benar menakjubkan kemiripannya dengan keponakannya yang asli, yang baru saja ditemuinya lima belas menit yang lalu. Tidak heran ia bisa terkecoh.

Tadi ia menyangka Vladyvsky sedang mabuk ketika di telepon mengatakan bahwa gadis yang saat itu sedang berhadapan dengannya di meja makan mungkin bukan keponakannya. Dan ketika ia melihat satu sosok Seena lain yang berdiri di ruang tamu sambil tersenyum, Alfred hampir mengira dirinya yang mabuk. Setelah mengingat-ingat apa yang diminumnya sepanjang pagi, secangkir kopi dan segelas jus jeruk, ia yakin yang ada di depannya adalah sebuah realita.

Ia menyambut senyum Seena nomor dua ini dengan kehangatan yang sama dengan yang diberikan ke keponakan nomor satu yang ditinggalkannya di meja makan. Sementara itu, otaknya berputar mencari tahu logika apa yang kira-kira masuk akal.

Logikanya memutuskan apa yang terpenting saat itu adalah mencari tahu mana keponakannya yang asli. Sambil lalu ia bernostalgia dengan Seena nomor dua, menggunakan cerita karangannya, yaitu cerita tentang Seena yang jatuh dari kuda saat mengunjunginya di Paris. Reaksi gadis itu adalah mengerutkan kening.

Reaksi itu saja sudah cukup bagi Alfred. Ia segera meminta maaf dan mengatakan bahwa ia salah ingat, itu adalah keponakannya yang lain.

Untuk berjaga-jaga, ia meminta Valyvsky untuk mengawasi gadis itu sementara ia mencari Seena nomor satu, yang sudah menghabiskan waktu dua hari bersamanya. Siapa tahu reaksi gadis itu juga sama, dan ia kembali dihadapkan pada dilema yang sama, harus mencari tahu siapa keponakannya yang asli.

Tapi nasib berpihak pada Seena nomor dua. Keponakan nomor satu itu menyambar umpan yang diberikan olehnya tanpa berpikir panjang, dan dia menggigit kail yang salah.

Sejenak Alfred memandangi gadis yang ia sangka Seena. Sayang sekali harus berakhir seperti ini, karena ia sangat menikmati waktu yang dihabiskan bersama gadis itu. Alfred merasakan ada rasa sakit di dadanya mengingat sorot mata gadis itu yang tatapannya begitu jernih, memancarkan kehangatan dan semangat seperti yang dimiliki mendiang istrinya. Rasa sakit itu terasa semakin mengiris kalbu saat mengingat betapa bahagianya ia sesaat, menganggap bahwa gadis ini merupakan obat bagi kerinduannya akan sosok yang paling dicintainya itu. Sebuah rasa sakit akibat pengkhianatan. Pertanyaan berikutnya adalah, siapa gadis ini, apa yang diinginkan, dan siapa yang menyuruhnya. Alfred yakin jawabannya akan dengan mudah ia dapatkan.

Tapi tidak di sini, pikirnya.

Ia segera meraih telepon dan menghubungi Vladyvsky.

Kent memperhatikan satu mobil van yang keluar dari gerbang area servis di rumah Alfred. Saat ini ia duduk di atas motor trail-nya, mengenakan kaus, jaket kulit, dan celana jins, dengan helm. Posisinya tidak jauh dari satu pintu gerbang yang menjadi pintu akses bagi kegiatan servis di kediaman Alfred.

Ketika tadi mendekati pintu gerbang dua lapis yang dijaga ketat itu dari bagian dalam, van itu berjalan pelan. Kent bisa melihat pengemudinya melambaikan tangan ke arah penjaga dan pintu gerbang itu pun segera dibuka. Van itu bahkan tidak berhenti sedetik pun di gerbang.

Ada yang tidak beres, instingnya berkata.

Otak Kent menganalisis apa yang disebutkan sang insting dan langsung setuju. Tanpa berpikir dua kali, ia menarik gas dan mengikuti van itu.

Tidak mungkin sebuah mobil servis bisa begitu saja keluar tanpa digeledah. Kent ingat prosedur di kediaman pamannya di London dan Paris. Ia sendiri pernah mengalami kejadian naas ketika berusaha kabur tanpa tercatat dengan menyusup ke dalam mobil laundry. Serta-merta ia ketahuan dan digiring ke ruang kerja pamannya oleh para penjaga yang tidak satu pun mengenal belas kasihan.

Apa pun isi van itu, pastinya cukup penting bagi seorang Alfred Whitman. Dan kalau itu penting bagi Alfred Whitman, pastinya juga penting bagi pamannya. Mudah-mudahan cukup penting untuk menjadi penebus bagi Fay bila pamannya punya ide gila lain yang mengakibatkan akhir dari cerita ini tidak sesuai dengan harapannya bagi gadis yang ia sayangi itu.  

”Sir, laporan tentang pengemudi taksi tadi,” seorang analis menginformasikan pada Andrew bahwa seorang agen siap untuk melapor.

Andrew mengangguk dan analis itu memindahkan jalur komunikasi ke dirinya. ”Andrew berbicara.”

”Sir, pengemudi taksi tadi berkata dia membawa seorang gadis dari bandara. Saya memberi dia empat gambar, salah satunya foto Seena, dan dia langsung menunjuk foto itu.”

Andrew terkesiap. Setengah berteriak ia mengulang informasi itu ke seluruh analisnya di ruangan.

”Saya mau laporan semua kendaraan yang meninggalkan kediaman itu sejak taksi terlihat memasuki jalan masuk,” ujarnya gusar.

Seorang analisnya berkata ragu-ragu, ”Sir, ada sebuah van

yang meninggalkan gedung dari gerbang servis.” ”Kapan?”

”Sepuluh menit yang lalu, Sir.”

”Apakah itu servis reguler?” tanya Andrew dengan suara semakin meninggi.

Sang analis dengan pucat pasi melihat profil-profil yang sudah dikumpulkan sebelumnya, dan dengan lemas menjawab, ”Ya, Sir, van itu mobil logistik, khusus untuk mengangkut bahan-bahan dari supermarket. Tapi biasanya van itu meninggalkan rumah jam sepuluh...,” sang analis melihat jamnya, ”…berarti, sekarang.”

Semua pandangan terpaku ke layar besar yang menampilkan gerbang area servis. Selang beberapa waktu, sebuah van hitam tampak muncul di jalan pekarangan dan berhenti di gerbang, tempat beberapa penjaga melakukan pemeriksaan dan penggeledahan.

Andrew berkata keras, ”Putar ulang video yang menampilkan gambar ketika van tadi meninggalkan gerbang servis, catat pelat mobilnya, dan cari posisi van itu.” Satu layar menampilkan rekaman kejadian sebelumnya, dan setelah di-zoom, semua yang ada di ruangan itu pucat pasi. Vladyvsky ada di belakang setir. Satu pria lain ada di sebelahnya yang memakai kacamata hitam adalah Alfred Whitman.

”Panggil Tim Elang ke ruang brifing, sekarang.” Andrew membuka headset-nya dan setengah melemparnya dengan marah. Analis tadi sudah pasti akan masuk ruang isolasi selama setidaknya dua minggu. Kalau dia beruntung dan masih bisa keluar dalam keadaan waras, mungkin dia masih bisa ditemukan di COU dengan pangkat yang lebih rendah. Bila tidak, mungkin tempatnya memang bukan di sini.

Rencananya berubah, pikirnya. Ia perlu bertindak cepat. Operasinya bukan lagi murni penyusupan atau ”clean operation”, tapi bisa jadi disertai penyerangan. Untuk itu ia perlu satu tim yang diberi kode ”Elang”. Dan ada satu operasi tambahan, menemukan van yang berisi Alfred Whitman dan Vladyvsky. Ia sendiri yang akan memimpin operasi kedua ini.

Kalau Alfred tidak bersalah sama sekali, yang akan dia lakukan adalah mendudukkan kedua gadis itu dan meminta penjelasan. Kemudian dia akan melaporkan insiden itu ke polisi, atau setidaknya menghubungi Kedutaan Besar Malaysia untuk meminta penjelasan adanya dua paspor Malaysia dengan nama sama, dan kedua pemiliknya ada di depannya.

Andrew yakin Fay pasti ada dalam van itu. Fakta bahwa Alfred memilih untuk bertindak sendiri dengan menyusup keluar dari kediamannya sudah merupakan penegasan bahwa Alfred pasti menyembunyikan sesuatu.

Guilty  of  something.  Anything. Dan ia, Andrew, akan mencari tahu.

Fay membuka mata dan mengerang. Kepalanya sakit dan semuanya berputar. Seperti ada palu yang menggodam kepalanya berkali-kali. Berkali-kali ia menutup dan membuka mata untuk menyesuaikan pandangannya. Ia berada di dalam mobil yang sedang berjalan, terbaring di lantai dengan mulut ditutupi kain yang terikat dengan kencang di belakang kepalanya hingga sudut bibirnya terasa perih. Kedua tangannya terikat di belakang badan. Kedua kakinya juga terikat. Bagian dalam mobil ini mirip seperti van yang biasa membawanya ke rumah latihan setiap sore. Fay mengangkat kepala, berusaha melihat dua orang yang ada di kursi depan, tapi gagal. Kepalanya terasa sakit bila digerakkan. Akhirnya ia hanya menutup mata sambil menenangkan diri, berdoa supaya setidaknya sakit kepalanya berkurang dan semoga ia bisa melalui ini semua dengan selamat. Untuk saat ini, doa yang pertama lebih kencang ia kumandangkan. Kalau sakit kepalanya sudah reda, setidaknya ia bisa menggunakan otaknya untuk berpikir.

Cukup heran ia menyadari bahwa tidak ada setetes pun air mata keluar. Rasa takutnya masih disamarkan sakit kepalanya. Ia memejamkan mata lagi.

Kent mengikuti van hitam itu berjalan ke arah pinggiran kota Paris. Dengan cemas ia menyaksikan semakin lama jumlah kendaraan yang lalu lalang semakin sedikit, membuat dirinya terekspos dengan jelas kalau pengemudi van di depannya mencari orang yang membuntuti. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mendahului mobil itu, berpura-pura secara kebetulan ada di jalur yang sama. Kemudian ia akan melaju kencang hingga van itu hanya berupa satu titik di kaca spionnya, baru kemudian ia akan menjaga jarak tetap sama.

Sambil menyusul van itu, ia menoleh sejenak memperhatikan pengemudinya. Ada dua orang, satu orang yang ada di balik setir adalah kepala keamanan di kediaman Alfred. Ada satu lagi pria duduk di sebelahnya tapi Kent tidak bisa melihatnya dengan jelas tanpa terlalu kentara memperhatikan.

Kent pun memacu laju motornya dan mendahului.  

Fay tidak tahu berapa lama ia terbaring di lantai van itu atau ke mana ia dibawa. Yang ia tahu, van itu keluar dari jalan raya dan masuk ke jalan desa. Ia bisa melihat pohon-pohon yang muncul dari jendela menjadi tidak beraturan, tidak seperti sebelumnya yang berjajar rapi seperti berbaris. Dan ia juga bisa merasakan jalan yang dilalui tidak semulus sebelumnya.

Akhirnya mobil itu berhenti. Satu sisi diri Fay bersyukur, karena ternyata setelah mobil berhenti, sakit kepalanya jauh berkurang. Sisi yang lain mulai menyemai benih-benih ketakutan yang segera tumbuh menjadi buah kepanikan yang sangat ranum.

Pintu dibuka.

Vladyvsky dengan kasar menariknya, kemudian menyelempangkannya ke bahu seperti menggotong sepotong karung. Dengan posisi terbalik Fay mencoba melihat sekelilingnya. Ia seperti ada di padang rumput. Satu sentakan dari Vladyvsky untuk membetulkan posisinya, membuatnya melihat pemandangan lain di belakangnya. Di tengah-tengah tanah lapang itu ada sebuah rumah tua dari batu, seperti rumah pertanian yang dulu sering dibacanya di buku cerita yang menggambarkan pedesaan di Inggris. Ada bangunan lain yang lebih kecil di sebelahnya, seperti gudang yang kalau di buku cerita seharusnya berisi berbagai binatang ternak, seperti sapi, domba, ayam, atau kelinci.

Bayangan idealnya pupus seketika saat Vladyvsky mendekati bangunan itu. Bangunan itu sudah ditinggalkan dalam keadaan kosong tanpa tanda-tanda kehidupan selain mereka bertiga.

Aduh! Fay dijatuhkan ke lantai, mendarat dengan lengannya yang sudah kaku dan nyeri sebagai bantalan. Teriakannya hanya terdengar seperti gumaman lewat kain penutup mulutnya. Vladyvsky meraih ikatan di belakang kepalanya dan ketika ikatan mulut itu lepas, Fay merasa kedua sudut bibirnya mendadak lepas dari derita walaupun rahangnya kini jadi terasa kaku. Pria itu kemudian meninggalkannya dengan posisi berlutut di tengah ruangan. Alfred yang sedari tadi berkeliling di dalam bangunan seperti mencari sesuatu, kini berjalan ke arahnya.

Sepasang tangan di belakang Fay menariknya berdiri dan mendudukkannya di kursi yang mendadak sudah ada di belakangnya. Pasti Vladyvsky yang mengambilnya tadi. Pria itu tetap berdiri di belakangnya.

Fay mulai gemetar. Perutnya terasa ditusuk-tusuk dari dalam. Ketakutan yang ia rasakan sekarang ternyata jauh lebih besar daripada yang pernah dirasakan ketika berhadapan dengan Andrew. Dengan Andrew, ketakutan hanyalah sebuah proses. Saat ini, ketakutannya seperti menjanjikan sebuah penutup, yang jauh dari akhir yang bahagia.

”Mari kita mulai dengan satu pertanyaan sederhana. Siapa nama kamu?” tanya Alfred.

Fay merasa mulutnya terbuka sendiri dan meluncurkan rangkaian kata tanpa bisa dihentikan, ”Seena Fatima Abdoellah.”

Alfred tertawa.

Fay sempat melihat tangan pria itu sekelebat bergerak dan sejenak hanya ada warna hitam, diiringi rasa panas dan sakit di pipi kirinya, bersamaan dengan rasa seperti sebuah palu menghantam kepalanya. Tubuhnya hampir jatuh, tapi langsung dikembalikan ke posisi semula oleh Vladyvsky. Semua yang ada di depannya seperti bergoyang.

”Kita coba satu kali lagi. Siapa nama kamu?”

Setengah tersadar, pikiran Fay mulai terbang, menghadirkan bayangan kamarnya yang nyaman di Jakarta. Andai kata di sanalah ia sekarang berada dan semua ini hanya mimpi buruk. Fay mendengar mulutnya mengatakan, ”Seena Fatima Abdoellah.”

Jawabannya segera disusul rasa yang lebih menyakitkan di pipi kanannya. Kali ini sudut bibirnya sangat pedih dan terasa basah. Sebagian bibirnya terasa menebal. Kupingnya mendengar suara lebah yang berputar-putar dengan lincah.

”Oke. Pertanyaan selanjutnya. Siapa yang mengirimmu?” Pikiran Fay kembali menampilkan gambar lain, kali ini wa-

jah Kent yang tertawa bersamanya minggu lalu bagai terpampang nyata. Sekali lagi ia mendengar satu suara yang terasa sangat jauh berkata, ”Seena Fatima Abdoellah.”

Tangan Alfred meraihnya, menariknya dari kursi hingga ia terjatuh ke lantai. Ia mengatakan sesuatu ke Vladyvsky tanpa bisa ditangkap telinga Fay yang masih berdengung. Yang ia tahu, berikutnya ia berlutut di samping sebuah ember kayu dengan sisi setinggi kira-kira tiga puluh senti dan diameter satu meter. Ember itu berisi air seperti hasil tampungan air hujan. Sebuah tangan mencengkeram tengkuk Fay dengan kencang dari belakang dan mendadak memaksa kepalanya masuk ke air. Sekuat tenaga Fay menolak tapi tangan itu terlalu kuat. Kepalanya menghunjam air dengan tangan masih terikat ke belakang tanpa daya dan Fay menahan napas. Setiap detik dilalui dengan sejuta pengharapan bahwa detik berikutnya paru-parunya diberi kesempatan kedua. Rasa sesak menumpuk di balik dadanya. Butir-butir air sudah menari-nari di ujung hidungnya, menunggu kekalahannya dengan penuh harap. Akhirnya tubuhnya memberontak. Setelah detik yang ditunggu tak kunjung tiba, sekujur tubuh Fay meregang diserang kepanikan. Kepalanya bergerak membabi-buta tanpa arah, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sang maut yang berwujud sepotong tangan. Tapi tangan itu seperti tertawa dan mencengkeramnya lebih erat, membatasi ruang geraknya untuk setidaknya men-

coba menumbuhkan harapan.

Mendadak kepala Fay ditarik keluar.

Udara. Paru-paru Fay secara serabutan mencoba menariknya sebanyak mungkin. Mulutnya megap-megap meraih kesempatan dan napasnya naik-turun tak berirama.

Alfred berjongkok di depannya, mengamati wajahnya. ”Bagaimana tadi, menyenangkan? Sekarang, pertanyaan menyenangkan yang lain. Siapa namamu dan siapa yang mengirimmu?”

Fay menggigil. Napasnya yang naik-turun tak berirama kini bukan memanggil udara, tapi mengundang air matanya untuk keluar. Ia terisak dan air matanya langsung datang memenuhi panggilan. Ia tahu jawaban apa pun yang ia berikan tidak akan bisa menghadiahinya kebebasan. Jawaban yang sebenarnya akan membuatnya dihabisi saat itu juga karena ia tidak ada gunanya lagi bagi pria yang sudah mendapatkan informasi yang diinginkan itu. Jawaban selain itu akan membeli waktu sejenak dengan harga yang tidak murah. Setiap detik yang diperolehnya akan dijalani dengan penderitaan.

Pertanyaannya adalah, sampai kapan ia mampu bertahan? Bukankah lebih baik mengakhirinya sekarang dan menyelesaikan deritanya kalau toh nanti ia akan menyerah juga?

Fay terisak lebih keras dan menjawab, ”Saya sudah bilang tadi, nama saya Seena Fatima Abdoellah.”

Tangan maut itu kembali datang, mencengkeram tengkuknya dan mendorongnya lagi ke dalam air. Rekaman kehidupannya terputar satu demi satu. Bayangan Cici, Lisa, dan Dea muncul. Disusul oleh papa dan mamanya. Fay tersenyum. Ia tadi sudah memutuskan, kalau sebuah akhir baginya sudah begitu dekat, ia ingin menjalani detik demi detiknya hingga sampai di sana. Apa yang dialaminya dalam waktu yang singkat itu mungkin tidak pantas dibeli dan dijalani, tapi memori kehidupannya selama hampir tujuh belas tahun terlalu berharga untuk tidak diputar ulang untuk mengingatkannya bahwa selama ini ia memang sudah menjalaninya dengan bermakna, penuh warna, walaupun secara sederhana.

Setelah bayangan rumahnya di Jakarta kembali muncul, bayangan Reno lewat, disusul bayangan Kent.

Rasa sesak semakin menumpuk. Tubuhnya kembali memberontak.

 Kent berlari merunduk-runduk menyeberangi lapangan terbuka, menuju sebuah bangunan yang terletak tepat di tengahnya. Van yang tadi diikutinya diparkir tidak jauh dari pintu gerbang bangunan.

Tadi lewat kaca spionnya ia melihat mobil itu berbelok ke kiri, masuk ke satu jalan yang lebih kecil. Ia langsung putar balik dan posisinya kembali menjadi di belakang van itu. Motornya sendiri sekarang dalam keadaan dirobohkan di balik pohon terakhir sebelum mencapai bukaan halaman bangunan itu. Terlalu riskan untuk membawanya melewati lapangan terbuka ini.

Kent mendekati satu bukaan jendela dan mengintip ke dalam. Ia tersentak melihat pemandangan di dalam. Alfred berdiri sambil bersedekap, memerhatikan Vladyvsky yang sedang membenamkan seorang gadis ke dalam air.

Fay!

Vladyvsky kemudian mengangkat kepala Fay dan gadis itu terbatuk-batuk, kemudian menangis.

Hati Kent seakan hancur melihat gadis itu menderita. Tapi ia tahu dalam kondisi seperti ini sang waktu tidak pernah bermurah hati. Sang waktu adalah musuhnya yang utama, sekaligus teman baiknya. Ia harus mengesampingkan emosinya dan berpikir cepat dan taktis.

Ia bergerak menjauh sedikit dari jendela, menekan satu tombol di jam tangannya dan melaporkan bahwa ia melihat Alfred dan Vladyvsky sedang mengorek informasi dari Fay di sebuah bangunan di bekas rumah pertanian. Pesan itu diterima oleh operator dan akan segera sampai di telinga pamannya. Posisinya sendiri akan langsung diketahui dari pancaran GPS di jam tangannya.

Segera ia kembali ke dekat jendela sambil merunduk dan darahnya kembali berdesir ketika mengintip ke dalam dan melihat kepala Fay sudah dibenamkan kembali ke air oleh Vladyvsky.

Waktunya untuk bertindak. Ia mengambil beberapa buah batu, kemudian melemparkannya ke van, mengenai kaca depan dan badan mobil dengan suara yang memecah pagi itu. Segera ia berlari mengitari gudang, menuju jendela di sisi yang lebih dekat dengan Fay. Bila ia terpaksa harus melumpuhkan kedua pria itu, dari jendela itu kesempatannya lebih besar.

”Sir, kita sudah mengetahui lokasi pasti dari Alfred dan Vladyvsky. Kent baru saja melapor, dia sekarang ada di lokasi yang sama dengan mereka. Mereka membawa gadis itu dan sekarang sedang berusaha mengorek informasi darinya,” operator menyampaikan pesan Kent.

Andrew baru saja melepas Tim Elang setelah memberi pengarahan dan langsung beranjak menuju ruang komando sambil memberikan perintah lewat headset, ”Cari tahu siapa saja agen dengan posisi paling dekat yang bisa segera ke sana sebagai back-up.”

”Sudah, Sir. Saat ini Reno juga berada di lokasi, hanya sekitar lima puluh meter dari posisi Kent.”

Andrew menghentikan langkahnya sejenak, kemudian kembali berkata, ”Hubungkan saya dengan Reno.”

Tidak lama kemudian Andrew sudah berbicara dengan Reno.

Andrew mengambil senjatanya, bersiap-siap memimpin tim kedua yang akan bergerak menuju lokasi Alfred. Sambil berjalan menuju landasan helikopter, ia berpikir tentang kebetulan yang terjadi. Bagaimana mungkin Kent bisa ada di lokasi yang sama dengan Alfred dan Fay, dan Reno juga berada tidak jauh dari situ? Semakin lama dipikirkan, ia semakin yakin semua itu bukan kebetulan. Ia akan mencari tahu segera setelah episode ini berakhir. Sekarang, ia harus segera ke sana.  

Vladyvsky sontak melepaskan cengkeramannya dari kepala Fay ketika mendengar suara keras sesuatu yang menumbuk kaca dan logam dari luar, dan gadis itu menyambutnya dengan terbatuk-batuk, berjuang untuk mengeluarkan air yang sempat terhirup sementara memenuhi teriakan paru-parunya akan udara.

Ia mengeluarkan senjata dari bagian dalam jaketnya dan berjalan dengan cepat menuju arah suara, yaitu dari van yang diparkir tidak jauh dari pintu gudang. Sementara itu, Alfred berjalan pelan menjauhi pintu ke sisi dinding yang paling jauh sehingga bisa melihat ke van itu dari jendela yang ada di sisi lain.

Alfred berteriak ke Vladyvsky, ”Ada seseorang di balik kemudi!”

Vladyvsky mengacungkan senjatanya ke pintu pengemudi sambil berteriak, ”Keluar dari mobil atau saya tembak! Mobil itu tidak antipeluru, jadi jangan pikir kamu aman berada di dalam mobil.”

Terdengar suara seseorang berteriak. Fay tidak bisa menangkap perkataannya.

Tidak lama kemudian, Vladyvsky berjalan kembali ke dalam gudang. Di depannya ada seseorang dengan kedua tangan di belakang tengkuk.

Butuh beberapa saat hingga Fay mengenali sosok yang mendekat. Reno!

”Rupanya kamu kenal pemuda ini,” kata Alfred.

Ya Tuhan, ternyata tadi ia menyebutkan nama Reno dengan keras!

 Terlambat. Fay sudah memekik menyebutkan namanya. Tadinya Reno mau berpura-pura menjadi seorang remaja sekitar daerah ini yang kebetulan lewat dan ingin mencuri van yang diparkir di depan. Ceritanya tidak meyakinkan, tapi setidaknya bisa membeli beberapa menit waktu berharga. Dan setiap menit adalah harapan. Harapan akan adanya sedikit ruang kesalahan bagi penangkapnya, sehingga ia bisa bereaksi dengan tepat.

Reno melihat kondisi Fay yang kepalanya basah kuyup dengan tangan terikat ke belakang sedang terduduk di sebelah ember berisi air. Kemarahan menguasainya dengan cepat, membakar setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuhnya.

Sudah sejak tadi malam ia menguntit Kent, sejak anak itu keluar dari kediaman paman mereka di Paris. Pagi ini ia juga berada di tempat yang sama dengan Kent, di depan gerbang servis kediaman Alfred Whitman. Ia berada di dalam sebuah mobil yang diparkir di belakang motor Kent, hanya dibatasi satu kendaraan lain. Pada waktu Kent bergerak mengikuti van yang keluar dari gerbang itu, Reno juga langsung bergerak menguntitnya. Ketika Kent menyusul van itu di jalan yang menuju ke luar kota, ia sempat ragu, tapi akhirnya ia bisa menebak jalan pikiran Kent dan ia memilih tetap berada di belakang van itu. Sewaktu van itu berbelok ke jalan desa, ia memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan, menunggu sejenak untuk membuktikan apakah perkiraannya benar. Setelah Kent berbalik arah dan masuk ke jalan desa, ia kembali mengikutinya masuk ke jalan kecil itu.

Saat ia melihat Kent mengendap-endap menuju gudang di tengah lapangan, ia memutuskan untuk masuk ke van untuk melihat apakah ada yang bisa dijadikan petunjuk. Ketika berada di dekat van, jamnya bergetar tanda ada telepon masuk dari kantor pusat. Telepon genggamnya sendiri tetap dalam kondisi seperti sedang tidak aktif. Setelah menekan tiga tombol di telepon genggamnya dengan urutan tertentu, terdengar suara pamannya, menyampaikan bahwa Fay ada di lokasi bersama Alfred dan Vladyvsky. Kent juga ada di sana. Pamannya memberi instruksi untuk menjaga supaya Alfred dan Vladyvsky tidak meninggalkan lokasi. Dia ingin menangkap mereka berdua hidup-hidup. Saat itu juga pikiran Reno langsung diselimuti selubung mendung. Pamannya hanya menyebutkan tentang Alfred dan Vladyvsky.

Reno mengeluarkan pisaunya dan merobek dua ban yang ada di sisi tempatnya berdiri. Kemudian ia masuk ke van itu dan mengambil kunci mobil. Ia baru saja hendak beranjak ke bagian belakang van saat sebuah batu menghunjam kaca hingga retak, disusul dengan beberapa batu lain yang mengenai badan mobil, membuat jantungnya mau melompat keluar. Saat itu ia mengumpat dalam hati, mengutuki Kent, sambil bersumpah akan menghajarnya nanti.

Tapi sekarang, setelah melihat Fay dalam kondisi seperti ini, Reno mengerti kenapa Kent melakukannya. Dia ingin mengalihkan perhatian mereka, supaya mereka menghentikan apa yang sedang mereka lakukan kepada Fay. Perutnya langsung berputar membayangkan apa yang mereka lakukan kepada Fay tadi.

Sekarang Alfred berjalan ke depannya dan berhenti tepat di depannya, ”Hai, Reno. Bisa kamu jelaskan sedikit siapa gadis ini dan apa yang dia lakukan di rumah saya?”

Reno hanya harus mengulur waktu.

”Agak sulit, Sir. Dia mungkin ingat saya siapa, tapi saya tidak ingat dia siapa.”

Satu pukulan gagang senjata dilayangkan mengenai belakang kepalanya. Reno jatuh tersungkur di lantai.

”Sudah ingat sekarang?” tanya Alfred tenang.

”Masih berusaha, Sir,” jawab Reno susah payah sambil berusaha berdiri. ”Dan sepertinya ingatan saya makin kabur karena asisten Anda yang tolol itu barusan memukul kepala saya,” lanjutnya.

Alfred berjalan mendekat dan berkata, ”Saya mohon maaf, dia memang salah. Harusnya dia melakukan ini tadi,” kakinya menendang perut Reno yang masih berusaha bangun. Reno mengerang. Ia mengeluh dalam hati. Ini benar-benar cara yang bodoh untuk mengulur waktu.

Alfred berjalan ke arah dinding. Ketika kembali, di tangannya ada sebilah papan.

Reno merasa adrenalinnya naik dengan cepat. Ia langsung berdiri dan bersiaga.

Alfred mengayunkan papan itu ke arah Reno, tapi pemuda itu sempat melompat mundur dan menghindar. Tanpa disangka olehnya, Alfred berputar dan papan itu kembali terayun, mengenai sisi kanan badannya.

Reno berteriak kesakitan dan terjatuh, tapi segera berdiri kembali. Sekarang ia mengambil kuda-kuda dan memerhatikan Alfred yang secara perlahan berjalan memutar, dengan papan itu masih di tangannya. Reno mengumpat dalam hati. Dari cara Alfred menyerangnya dan cara pria itu sekarang berjalan sambil menatapnya, ia tahu Alfred melakukannya dengan penuh perhitungan. Gerakannya yang sangat stabil dan terkontrol pastinya adalah hasil latihan bela diri bertahun-tahun. Tebakannya, Alfred terlatih dalam karate dengan kombinasi bela diri lain, mungkin salah satu yang berakar dari Amerika Latin, mengingat posisi tubuhnya saat berputar menyerangnya tadi tidak biasa dan bisa dikategorikan sempurna. Lewat sudut matanya ia melihat Vladyvsky, dengan senjata teracung ke arahnya, sepertinya menikmati tontonan ini.

Alfred menyerang kembali, tapi kali ini kaki Reno siap menyambut dan papan itu terpental kembali. Kekagetan Alfred membuka satu celah kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Reno; ia melompat menerjang Alfred dan kakinya menendang Alfred dengan telak di bagian wajah. Pria itu terjatuh ke belakang.

Reno bersiap untuk kembali menyerang Alfred. Kemudian terdengar satu suara tembakan, diiringi teriakan Fay.

Ia oleng ke depan. Satu rasa sakit yang panas menyengat dan melumpuhkan terasa di bahunya. Saat menyadari perhatiannya telah teralih, ia melihat sekelebat bayangan papan itu terayun ke kepalanya. Seketika itu juga ia sadar pertempuran ini bukan miliknya lagi. Kemudian hanya ada hitam.

Kent mengutuk keputusannya dalam memilih posisi. Tadinya ia berpikir bisa dengan leluasa bertindak dari tempatnya berdiri ini bila Vladyvsky dan Alfred menunjukkan tanda-tanda akan menghabisi Fay. Ia sama sekali tidak memperhitungkan keberadaan Reno. Dengan bergeraknya Vladyvsky dan Alfred mendekati pintu untuk berurusan dengan Reno, posisinya malah jadi tidak menguntungkan. Ia tidak bisa melihat Vladyvsky dengan jelas karena pria itu tertutup salah satu tiang penyangga bangunan ini.

Dan kini, Reno tertembak. Luka di bahu memang tidak mematikan, tapi bila tidak ditolong segera, ia bisa meninggal kehabisan darah. Belum lagi hantaman papan yang dipegang Alfred tadi.

Kent baru akan bergerak menjauh untuk melaporkan Reno tertembak, ketika suara helikopter terdengar di kejauhan. Tidak ada gunanya menjauh, suaranya sudah pasti tertutup suara helikopter. Langsung ia melaporkan keadaan sambil terus mengawasi apa yang terjadi di dalam bangunan itu.

Alfred juga mendengar suara helikopter itu dan menuju jendela untuk melihat ke luar; ia sama sekali tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Sebuah helikopter berhenti di udara, di tepi lapangan. Tali-tali dilempar keluar, terulur sampai ke tanah.

”Empat orang meluncur turun dari helikopter,” teriaknya kepada Vladyvsky. Ketegangan terdengar dalam kalimat yang diucapkannya.

”Kita harus segera keluar dari gudang ini, Sir. Tidak ada tempat berlindung di tempat ini. Kalau kita tetap di sini, sama saja dengan menyerah tanpa perlawanan,” jawab Vladyvsky tenang. Alfred mengangguk.

”Bawa dia,” perintahnya kepada Vladyvsky sambil mengangguk ke arah Fay.

Vladyvsky mengeluarkan pisau dan berjalan ke arah Fay. Fay yang tadi histeris melihat Reno terbujur di lantai bersim-

bah darah, kini terisak, menangis dilanda rasa kehilangan yang dalam. Ia tidak tahu apakah Reno masih hidup dan saat ini ia tidak bisa menerima bila yang terjadi sebaliknya. Rasa panik segera menyerbunya saat melihat Vladyvsky berjalan ke arahnya dengan pisau terhunus. Napasnya yang tadinya sudah kembali normal setelah keluar dari air kini terasa kembali sesak.

Pria itu berjongkok dan memotong tali yang mengikat kakinya, kemudian mencengkeram lengannya dan menariknya bangun.

Kent yang sedari tadi sudah membidik, menarik pelatuknya.

Terdengar satu suara tembakan yang memekakkan telinga.

Vladyvsky terjatuh sambil berteriak kesakitan, memegang pahanya yang tertembak. Pria itu kemudian berguling ke samping dan menembak ke arah jendela tempat Kent berada. Fay menjerit panik dan ia lari menjauh dari Vladyvsky.

Alfred langsung menangkap Fay dan menyeretnya ke luar bangunan, melintasi lapangan, menuju bangunan utama di sebelahnya. Sekilas Fay melihat beberapa sosok berbaju hitam sedang merunduk di kejauhan.

Andrew mendengar suara tembakan dan melihat Alfred keluar seorang diri membawa Fay ke dalam rumah pertanian. Tak lama kemudian lewat headset ia mendengar Kent melaporkan bahwa Vladyvsky sudah tertembak di kaki. Sebelumnya Andrew sudah menerima laporan bahwa Reno ada di bangunan bekas kandang dalam keadaan tidak sadar diri dengan luka tembak. Ia masih menginginkan Vladyvsky hidup-hidup tapi pria itu harus segera dipojokkan karena ia ingin Reno segera ditolong. Andrew langsung memberi kode kepada dua agennya untuk mengepung Vladyvsky. Satu agen yang ikut dengannya ke bangunan utama diperintahkan olehnya untuk berjalan memutar ke samping rumah untuk mencari jalan masuk lain. Ia sendiri memilih pintu depan, berjalan melipir dari dinding di dekat gudang menuju pintu tersebut sehingga terlindung.

Alfred menyeret Fay ke atas, membawanya ke sebuah ruangan yang sangat besar tanpa perabot dengan perapian batu di salah satu ujungnya. Dia menarik gadis itu ke tengah ruangan dan memaksanya berlutut.

”Satu gerakan saja dari kamu, dan pistol ini akan meletus.

Dan percayalah, saya tidak pernah meleset,” ancam Alfred.

Pria itu tidak menunggu Fay menjawab, langsung mengendap-endap ke sisi dinding yang menghadap ke depan. Dengan teliti dia menyusuri dinding, sambil melihat ke bawah.

Begitu sampai di sisi dinding di bagian samping rumah, Fay melihat tubuh pria itu menegang dan dia membidikkan senjatanya.

Fay menggigit bibir dan menutup mata. Begitu senjata itu meletus, ia berteriak tertahan, sementara dari arah gudang juga terdengar rentetan tembakan sahut-menyahut.

Mendadak ia merasa ada cengkeraman tangan yang menariknya berdiri. Alfred sudah ada di belakangnya dan tangan kiri pria itu dilingkarkan kuat di lehernya sementara senjata pria itu kini ditempelkan ke pelipis kanannya. Fay bisa merasakan sensasi logam dingin yang berat di pelipisnya. Saat itu ia melihat apa yang menyebabkan gerakan Alfred yang tiba-tiba itu dan darahnya langsung terasa beku. Seluruh tubuhnya kaku karena ngeri.

Enam meter di depan Fay, Andrew mengangkat senjata dengan moncong yang diarahkan kepada dirinya. Senjata itu sebenarnya diarahkan ke Alfred, tapi dengan posisi Fay yang dipaksa berdiri di depan pria itu sebagai perisai, moncong senjata Andrew seakan menganga siap menerkamnya juga.

Yang membuat kengerian Fay menumpuk dengan cepat bukanlah fakta bahwa saat ini ada dua senjata yang ditodongkan ke arahnya, melainkan ekspresi Andrew yang melihatnya datar, dengan tatapan dingin yang membuatnya menggigil dan berada pada puncak keputusasaan. Saat itu Fay seperti tersengat kenyataan bahwa walaupun yang sedang mengancam jiwanya adalah Alfred, tapi nyawanya sendiri sebenarnya berada dalam genggaman Andrew. Saat ini, Tuhan seperti sedang bermain-main dengan nyawanya melalui pria itu. Apakah nyawanya terempas atau terangkat, semuanya tergantung pada apa yang dipikirkan oleh Andrew dan apa yang akan dilakukannya. Pikiran itu bagaikan mengundang angin dingin merayapi sekujur tubuh Fay yang berdiri kaku tanpa bernapas, di antara ruang waktu yang diciptakan kedua pria itu, dengan Tuhan sebagai penonton tunggal yang sudah tahu bagaimana akhir pertunjukan ini.

Sesak! Ia butuh udara! Fay bergerak meronta-ronta, berusaha untuk setidaknya memberi sedikit ruang baginya untuk menghirup udara lebih banyak.

”Aargh,” teriak Fay kesakitan ketika merasakan moncong senjata ditekan lebih keras ke pelipisnya.

”Jatuhkan senjatamu, Andrew. Kamu tidak punya kesempatan. Saya bisa mengirim peluru ke kepala gadis ini lebih cepat daripada apa pun yang sedang berusaha kamu lakukan,” suara Alfred mengembalikan kesadaran Fay ke panggung sebenarnya.

”Oh, benarkah begitu? Dan kenapa kamu pikir saya butuh dia hidup-hidup?” kata Andrew datar.

Fay merasa dunia sudah tercabut dari jiwanya dengan ucapan itu. Dengan wajah pucat, ia hanya menatap Andrew tanpa harap, pasrah.  

Kent melihat adegan yang berputar di atasnya dengan marah. Ia berada di lantai satu, di halaman depan rumah pertanian tua itu. Di atasnya ada jendela. Dari sudut terbaik, yang terlihat melalui daun jendela yang terbuka hanyalah sebuah lengan yang sedang menodongkan senjata ke pelipis kanan seseorang. Mengingat posisi seperti itu bertahan cukup lama, Kent mengasumsikan bahwa ada satu atau beberapa orang lain yang sedang mengonfrontasi orang yang menodongkan senjata itu.

Dua detik yang lalu, asumsinya masih berputar di antara dua skenario. Skenario pertama adalah Alfred memegang senjata dengan pamannya sebagai tawanan vs agen COU. Skenario kedua adalah Alfred memegang senjata dengan Fay sebagai tawanan vs pamannya atau agen COU. Tapi skenario pertama pupus dua detik yang lalu ketika pria yang menodongkan senjata itu menggerakkan tangan kanannya sedikit dan ada resistensi yang menyebabkan tawanan itu bergeser ke kanan sejenak. Kent melihat rambut sebahu Fay. Damn!

Ia mengenal pamannya dengan baik. Terlalu baik malah, hingga ia yakin saat ini yang membuat pamannya tidak menarik pelatuk bukanlah fakta bahwa di depannya ada gadis yang nyawanya sedang terancam, tapi pasti karena dia masih menginginkan Alfred hidup-hidup. Kent merasakan darahnya menggelegak. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun melakukan pekerjaan ini, baru kali ini ia merasakan ada unsur emosi yang terlibat, kemarahan karena ketidakberdayaan yang menyatu dengan ketakutan akan kehilangan.

Kent mengeluarkan senjatanya dan secara hati-hati membidikkannya ke lengan itu, hal yang sulit dilakukan dengan kondisi adrenalin meledak-ledak. Bila nasib baik berpihak padanya, Fay tidak akan terluka sedikit pun. Bila sang nasib memutuskan untuk berpaling, tindakannya ini bisa melukai bahkan juga membunuh gadis itu. Jari Alfred bisa saja lebih lincah dari perkiraan Kent dan sempat menarik pelatuk sebelum dilumpuhkan rasa sakit semburan timah panas.

Bagaimanapun hasilnya, ini adalah satu-satunya kesempatan yang Kent miliki untuk menyelamatkan gadis yang dicintainya itu. Dan dalam pekerjaan jenis ini, kesempatan tidak pernah datang dua kali.

Dengan kesadaran penuh, Kent mengunci targetnya. Berikutnya frame demi frame bagai terjadi dalam gerak lam-

bat dengan benang merah bernama chaos.

Satu desingan peluru yang dilepas Kent memecahkan kesunyian pagi itu. Terdengar jerit kesakitan Alfred, disusul desingan peluru berikutnya yang berasal dari ruangan di lantai dua itu, yang dibarengi jerit kesakitan Fay.

God! Jantung Kent berdegup kencang. Ia langsung melesat masuk ke rumah pertanian itu, mencari tangga untuk naik.

Fay merasa gendang telinganya seakan pecah ketika suara tembakan pertama terdengar. Berikutnya ia merasakan sejenak cengkeraman lengan Alfred di lehernya melemah seiring dengan jerit kesakitan pria itu. Detik berikutnya suara tembakan kembali terdengar, kali ini terasa lebih dekat dan lebih memekakkan telinga, kemudian ada rasa panas terbakar yang menyengat lengan kanannya. Ia pun menjerit kesakitan.

Bersamaan dengan itu, Fay merasa tubuhnya oleng ke kiri. Ia jatuh dengan lengan kanan yang terasa panas dan sangat sakit. Segera Fay berusaha bangkit dan berlari menuju pintu.

 Andrew membiarkan Fay meninggalkan ruangan. Ia bisa melihat lengan gadis itu terluka. Tidak terlalu parah, peluru hanya menyerempet lengannya.

Andrew melihat senjata yang masih menggantung di tangan Alfred dengan tenang. Siapa pun yang menembak pria itu sudah melakukannya dengan sempurna. Tembakan itu sudah merobek otot lengannya, sehingga mustahil bagi Alfred untuk menggerakkan lengan, terlebih untuk mengangkat senjata yang masih ada dalam genggamannya yang kini sudah longgar.

Andrew menatap Alfred. Hanya ada serpihan-serpihan kecemasan dalam sorot mata pria di hadapannya itu.

C’est magnifique! Betapa indahnya kecemasan yang diakibatkan ketidakpastian. Betapa indahnya melihat satu demi satu serpihan kecemasan itu berubah menjadi keping ketakutan.

Terdengar satu suara di headset Andrew, ”Sir, kami sudah mendapatkan semua yang diinginkan. Di dalam harddisk Mr. Whitman ditemukan daftar lengkap nama agen-agen badanbadan intelijen yang sedang terlibat dalam operasi beserta keterangan rinci tentang operasi mereka. Di sini kami juga menemukan daftar kontak Mr. Whitman di setiap badan intelijen yang memberikan informasi tersebut.”

”Apakah ada di antaranya yang merupakan kontak di COU?” tanya Andrew.

”Ada, Sir, seorang agen senior, Level 1. Sekarang sudah diamankan dan sedang bersama Kepala Direktorat Control Unit. Tim Elang menunggu konfirmasi untuk kembali ke markas.”

”Konfirmasi diberikan,” jawab Andrew.

Selesai sudah. Semua informasi yang diinginkan sudah diperoleh. Nyawa yang sedang berlutut di hadapannya ini sekarang sudah kehilangan nilainya.

Andrew mengangkat senjata dan mengarahkannya ke kening Alfred.

Yang ia lihat sekarang di sorot mata Alfred adalah puncak dari segala keindahan itu. Ketika serpihan kecemasan terakhir berubah menjadi ketakutan tanpa bisa dicegah. Seolah serpihan terakhir itu mendapat bisikan kapan sang maut akan datang dan kapan dia harus mengubah bentuknya untuk melengkapi keutuhan keping-keping ketakutan sebelumnya.

Sebentuk keindahan yang tidak bisa diabadikan di kanvas mana pun.

Mulut Alfred terbuka, ingin mengatakan sesuatu tapi terlambat.

Andrew sudah menarik pelatuknya.

Fay mengatupkan mulut tapi terlambat. Pita suaranya sudah bergetar mengeluarkan suara pekikan yang tertahan.

Ia tadi berhenti di mulut tangga, bersiap untuk turun. Saat itulah terdengar bunyi senjata api meletup yang tertahan peredam suara, membuat kepalanya menoleh tanpa bisa dicegah. Lewat pintu yang terbuka lebar ia melihat satu titik warna merah mendadak muncul di kening Alfred, kemudian segera menjelma menjadi garis vertikal bagai digambar dengan rapi oleh satu tangan yang tak terlihat. Detik itulah Fay berteriak.

Fay jatuh terduduk di tangga dengan lutut lunglai dan air mata yang kini sudah mengalir deras, terisak dalam pasrah.

Andrew muncul di pintu. Senjatanya terangkat, dengan moncong yang kali ini diarahkan kepada Fay, dan pria itu maju dengan cepat ke arahnya.

Fay melihat sekelebat tangan pria itu bergerak, kemudian hanya ada gelap.

Andrew menyusuri lorong di salah satu gedung pendukung operasi milik COU; gedung yang sama tempat ia bertemu Fay dua minggu lalu.

Semua urusan yang berkaitan dengan Alfred sudah beres. Jasad pria itu sudah disingkirkan oleh tim pembersih, beserta seluruh bukti keberadaannya di rumah pertanian itu. Tim Elang yang dikirimnya juga sudah mengambil semua informasi yang dibutuhkan tentang Alfred, baik bisnis legalnya maupun kegiatan sampingan pria itu yang ilegal.

Andrew tersenyum tipis membayangkan rapat pemegang saham yang akan dihadirinya minggu depan untuk membicarakan penjualan salah satu anak perusahaan Alfred, yang pastinya akan diperolehnya dengan mudah sekarang. Sebuah efek samping yang begitu menguntungkan.

Penyusupan ke rumah Alfred itu sendiri berjalan dengan sangat terarah dengan korban luka minimal berkat informasi kondisi penjagaan yang sudah diperoleh dari Fay sebelumnya. Sejak kemarin, Andrew menempatkan satu unit perbaikan saluran jalan di sisi jalan gerbang servis, dilengkapi dengan mobil crane untuk mengangkat pipa-pipa. Tepat di balik pagar tembok, terdapat satu tanjakan yang menyerupai bukit kecil, dan dari ketinggian crane terlihat bahwa satu-satunya kesempatan untuk masuk tanpa terlihat penjaga adalah setelah pa-

troli keliling rumah lewat.

Diangkat crane melewati pagar dan menyeberangi jalan setapak yang menempel di bagian dalam tembok yang setiap jengkalnya diawasi kamera pengawas, Tim Elang masuk dan langsung diturunkan di bagian berumput yang dijaga anjing. Delapan orang anggota tim itu yang menggunakan seragam penjaga yang sama dengan penjaga di kediaman Alfred, langsung menyebar, Elang Alfa menuju ruang kontrol di rumah penjaga dan Elang Beta menuju bangunan utama kediaman Alfred; semua dilengkapi dengan tranquilizer untuk melumpuhkan anjing penjaga. Setelah ruang kontrol dikuasai Elang Alfa, Elang Beta langsung berpindah dari lapangan rumput ke jalan setapak, kemudian masuk ke bangunan utama, langsung menuju lantai tiga.

Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk mengumpulkan semua informasi yang ada di ruang kerja Alfred, termasuk yang ada di ruang tersembunyi. Yang agak memakan waktu adalah membuka pintu ruang tersembunyi itu; sedikit saja kesalahan akan memicu peledak yang ada di bawah meja di depan sofa—satu lagi informasi berguna yang disampaikan oleh Fay. Setelah masuk ke ruang itu, sisanya praktis berjalan dengan sendirinya. Yang dilakukan hanyalah menempelkan satu benda yang disebut Adaptor Koneksi di salah satu slot yang tersedia di komputer itu, maka komputer itu langsung terhubung melalui jalur aman lewat satelit ke server COU. Analis komputernya di markas COU langsung mengaduk-aduk isi komputer itu dan meng-copy semua data di dalamnya ke komputer di COU. Tidak lama kemudian, analis komputer menyatakan bahwa semua informasi yang diperlukan sudah berhasil diperoleh. Tanpa kesulitan mereka semua keluar melalui gerbang servis setelah

melumpuhkan penjaga.

Tidak lama setelahnya, pengkhianat dalam COU sudah disingkirkan, sedangkan nama-nama pengkhianat di badan intelijen lain sudah diserahkan ke kontak COU di masing-masing badan itu.

Informasi penting lain yang berhasil diperoleh adalah adanya keterkaitan erat antara Alfred dengan organisasi kejahatan yang berbasis di Asia. Walaupun tidak berhasil diperoleh detail tentang organisasi itu, setidaknya beberapa petunjuk alamat, kontak, dan laporan keuangan bisa digunakan untuk menelusuri ke mana semua berujung.

Urusan dengan Vladyvsky juga sudah selesai. Sekarang dia sudah kembali ke kediaman Alfred, didampingi oleh beberapa agen COU, untuk membereskan sisa-sisa masalah di sana, termasuk memastikan bahwa Seena yang asli bisa segera meninggalkan kediaman itu. 

Begitu sampai di gedung ini tadi, Vladyvsky langsung dibawa ke ruang interogasi. Sesi itu berjalan mudah. Andrew memberi penawaran ke pria itu untuk menukar nyawanya dengan semua informasi tentang Alfred, dan Vladyvsky yang tidak merasa perlu untuk berkorban demi tuannya yang sudah tidak lagi bernapas langsung setuju. Sesi itu diakhiri dengan keterangan secara kronologis oleh Vladyvsky tentang kejadian sejak Fay yang berpura-pura menjadi Seena tiba di kediaman Alfred hingga semua yang terjadi di rumah pertanian tua itu, termasuk bagian saat Fay bersikukuh untuk tidak memberi informasi apa pun ketika sedang ditanyai di bawah tekanan kekerasan oleh Alfred.

Setelah Vladyvsky, giliran Kent. Keponakannya itu tadi ikut tanpa bertanya setelah berpapasan dengan dirinya yang sedang menggotong Fay menuruni tangga di rumah pertanian itu. Dengan rinci Andrew menanyai Kent tentang keterlibatannya dengan semua kejadian di rumah pertanian, sambil sesekali memberinya pelajaran di sela-sela jawabannya. Cerita Kent tentang apa yang terjadi di rumah pertanian itu sama dengan yang ia dengar dari Vladyvsky. Setelah merasa cukup, Andrew pun menyudahi sesi tanya-jawab itu. Keponakannya keluar dalam keadaan setengah sadar, dipapah oleh dua penjaga ke ruang isolasi sesuai instruksinya. Tidak usah terlalu lama, pikirnya. Ia punya tugas lain untuk Kent, yang sebenarnya lebih cocok disebut hukuman daripada penugasan.

Yang terakhir adalah Reno. Metodenya sedikit berbeda, kali ini ia menggunakan suntikan. Berisi cairan yang umum disebut ”serum kebenaran”, suntikan ini sebenarnya bukan favorit Andrew karena kadang agak sulit untuk membedakan apakah yang dikatakan korban merupakan kebenaran atau hanya halusinasi. Tapi untuk Reno, itulah yang ingin ia ketahui. Begitu serum itu bekerja, Reno menceritakan semua kejadian yang berkaitan dengan Fay itu secara acak, diselingi cerita masa lalunya tentang Maria—sesuatu yang tidak mengejutkannya sama sekali. Sama seperti Kent, keponakannya yang satu ini juga akan segera menghabiskan waktu di ruang isolasi karena bertindak di luar protokol.

Andrew masuk ke ruang perawatan, mengamati Fay yang masih tergolek tidak sadarkan diri, dengan tangan dan tubuh terikat ke tempat tidur. Luka di lengannya sudah ditangani dan kini dibalut perban. Di sebelah tempat tidur terdapat satu baki logam seperti yang biasa ada di ruang operasi. Di atasnya tergeletak satu suntikan yang siap digunakan.

Andrew mengambil suntikan itu dan mengamati isinya. Dua puluh cc. Cukup untuk melumpuhkan seekor sapi, dan menghabisi nyawa seorang manusia.

Ingatannya melayang ke berkas berisi evaluasi tentang Fay di komputernya yang terakhir diaksesnya hari Sabtu malam, dengan rekomendasi:

”Keselamatan dalam tugas bukan prioritas. Evaluasi ulang kemungkinan eliminasi setelah tugas selesai.”

Kalimat pertama berarti, tugas yang dilakukan oleh gadis itu lebih penting daripada keselamatannya. Andrew tidak akan melakukan upaya ekstra untuk memastikan bahwa gadis itu bisa keluar hidup-hidup. Satu-satunya alasan gadis itu tetap hidup sekarang adalah keajaiban. Kalau saja Alfred dan Vladyvsky tidak pergi meninggalkan rumah setelah kebohongan itu terbongkar, ceritanya akan lain bagi gadis itu.

Arti kalimat kedua cukup lugas. Evaluasi ulang tentang nasib gadis itu harus dilakukan segera setelah tugasnya selesai.

Dan itu berarti sekarang.

Andrew mengamati kembali suntikan yang ada di tangannya.

Jarinya menekan tuas pendorong dan ia menatap butir demi butir cairan yang mengucur seperti air mancur ke udara.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊