menu

Eiffel, Tolong! Bab 13: Hari-H

Mode Malam
Hari-H

CHARLES DE GAULLE, pukul 09.00, hari Minggu.

Lagi-lagi déjà vu.

Fay sudah berada di samping ban berjalan, menunggu koper Seena keluar.

”Koperku,” katanya mengingatkan diri sendiri.

Dengan gugup Fay melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Lagi-lagi ia kembali diingatkan pentingnya hari ini, ketika yang ia lihat adalah arloji Gucci yang elegan, bukan Swatch kesayangannya. Ia berdecak kesal.

Kegelisahannya sudah dimulai sejak pukul 06.00 tadi, saat ia berdiri di ruang tamu, menunggu Andrew yang masih berada di ruang kerja untuk menginstruksikannya masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan pintu. Rasanya ingin sekali menggoyangkan kaki untuk menyalurkan kecemasan dan kegugupannya, tapi otaknya melarang karena itu bukanlah apa yang akan dilakukan seorang Seena, sebagaimana yang sudah ditunjukkan penampilannya kini.

Selain arloji Gucci, Fay sudah memakai baju seperti yang layaknya dipakai Seena. Sepasang anting bulat sederhana bermata berlian dan kalung dari emas putih dengan liontin huruf ”S” yang juga bertatahkan berlian sudah dipakainya. Riasan tipis sudah ia ulas ke mukanya seperti yang diajarkan Ms. Connie minggu lalu. Semua kosmetik yang dipakainya itu ada di dalam tas sachel Longchamp sportif berbahan kain yang disandangkan di bahunya, bersama paspor Malaysia dengan visa keluaran kedutaan besar Prancis di KL lengkap dengan cap imigrasi bertanggal hari ini, identitas diri yang diterbitkan di KL, tiket Air France kelas bisnis dengan rute KL-Paris-ZurichKL, dan satu boarding pass rute KL-Paris bertanggal kemarin.

Andrew menghampirinya dan berkata, ”Fokus, Fay. Begitu meninggalkan gerbang di depan, kamu sudah bukan Fay lagi. Tiket masuk ke kediaman Alfred dan keluar dari sana dengan selamat adalah memerankan Seena dengan sempurna, dan di saat yang bersamaan menganalisis kondisi sesuai dengan apa yang sudah kamu pelajari.”

Fay kemudian dibawa dengan sedan hitam menuju bandara. Di dalam bandara, mobil itu membawanya berbelok ke satu jalan yang pastinya bukan jalan umum, kemudian melewati beberapa gerbang yang memerlukan akses khusus. Diturunkan di depan salah satu pintu, ia disambut oleh seseorang dengan pakaian petugas bandara yang membawanya lewat berbagai pintu, melewati gang-gang yang tidak dilewati orang umum. Satu kali bahkan mereka melewati gang penuh pipa, mirip dengan yang Fay lewati ketika diculik di hari pertamanya di Paris.

Satu pintu kemudian dibuka, dan Fay ternyata muncul di dekat toilet di ruang tempatnya sekarang menunggu bagasi. Ia tidak perlu melewati imigrasi lagi. Entah bagaimana caranya Andrew bisa mengatur supaya kopernya bisa disusupkan di deretan bagasi penumpang pesawat ini.

Itu dia kopernya.

Fay meraih satu koper berukuran besar dan memindahkannya ke kereta dorong. Ia segera berjalan keluar menuju area kedatangan tempat penjemputnya menunggu. Ketika melihat pintu keluar, Fay melambatkan langkahnya dan berhenti sejenak. Ia kemudian menghirup napas panjang sambil menutup mata, mengucapkan bismillah dalam hati.

Matanya terbuka.

Namaku Seena Fatima Abdoellah.

Dengan tegak ia berjalan keluar, mencari penjemputnya.

Limusin yang membawanya berhenti di depan gerbang hitam. Dua kamera terdapat di dua tiang yang kini mengapit mobil. Sopir membuka jendela pengemudi dan jendela tempat ia duduk.

Gerbang itu terbuka dan mobil bergerak masuk, berhenti di depan gerbang kedua yang masih tertutup rapat, sementara gerbang pertama tertutup di belakang. Empat penjaga siaga di antara kedua pagar ini, masing-masing memegang senjata otomatis.

Tiga kamera. Dua terletak di tembok yang mengapit gerbang, yang sekarang menyorot sisi kanan dan kiri mobil. Satu lagi di tembok bagian dalam di dekat gerbang pertama, menyorot bagian belakang mobil.

Kunci mobil terbuka. Pintu sopir dan pintu di sisi tempat dirinya duduk, dibuka oleh penjaga secara bersamaan. Pintu bagasi juga begitu. Satu penjaga berdiri agak jauh bersisian dengan mobil.

Genius, pikir Fay. Kalau ada sesuatu yang salah, tidak ada celah untuk melarikan diri.

Keempat penjaga mengangkat tangan, memberi tanda bahwa mobil bisa lewat, dan gerbang kedua terbuka.

Mobil berjalan pelan di atas jalan aspal menanjak yang diapit pohon rimbun yang tertata baik. Setelah belokan pertama, muncul bangunan putih yang sangat besar. Bangunan yang ada di depannya itu terlihat seperti tiga bangunan yang dibangun saling menempel. Bagian tengah yang lebih menjorok ke depan adalah bangunan yang paling besar, dengan bentuk simetris antara lebar dan tinggi seperti sebuah bujur sangkar. Terdapat tiang-tiang penyangga yang sangat besar di bagian depan, menyangga bagian atap yang menaungi jalan masuk ke dalam rumah. Dua bangunan di sisi kanan dan kirinya lebih rendah dan lebar, seperti persegi panjang yang merebahkan diri.

Mobil berhenti di depan rumah. Seorang pria berdiri depan pintu.

Vladyvsky.

Pria itu mendekat dan membukakan pintu. Fay turun dan tersenyum.

Vladyvsky tersenyum sopan dan menyapanya dalam bahasa Inggris dengan aksen yang terdengar agak kaku, ”Selamat datang, Miss, senang sekali bisa bertemu Anda lagi. Bagaimana perjalanan Anda?”

”Despite  the  fact  that  it’s  very  boring,  it  was  quite  okay,” jawab Fay sambil tersenyum.

Vladyvsky berkata, ”Pastinya begitu. Anda begitu… segar. Saya asumsikan perjalanan Anda menyenangkan. Mr. Whitman menunggu Anda di ruang tamu besar.”

Masuk ke rumah, Fay berada di area penyambutan tamu atau foyer. Foyer ini besarnya hampir seperti aula olahraga di sekolahnya di Jakarta. Ada satu tangga besar yang bercabang dua di bagian atas.

Vladyvsky mengajaknya ke bukaan ruang di sebelah kiri, menuju ruang tamu.

Alfred Whitman.

Pria itu menyambut dengan tangan terbuka lebar dan senyum yang tak kalah lebar, ”Seena, my  dear,  look  at  how  you’ve grown over the years.”

”Hai, Pak Cik,” jawab Fay tersenyum sambil menyambut pelukan hangat pamannya.

”Bagaimana khabar… Mak kamu? Sihat?” tanyanya lagi dalam bahasa Malaysia terpatah-patah.

”Alhamdulillah, Pak Cik. Semua sihat.” ”Your big brother Aziz is still in US, isn’t he? How about your little brother… Sahar? The last time I met him, he’s still a young boy,”  kata  Alfred  sambil  memperhatikan  gadis  di  depannya dengan mata berbinar. Dia kemudian melanjutkan dalam bahasa Inggris, ”Kamu juga sudah dewasa sekarang. Terakhir kita bertemu, kamu juga masih seperti anak-anak. Rasanya belum lama saya menggendongmu di pundak, dan sekarang kamu sudah jadi remaja yang cantik sekali,” Alfred menggelengkan kepala.

Fay tertawa dan berkata, ”Pak Cik, tiga tahun lepas Pak Cik dah tak dapat lagi mendukung saya di pundak.” Ia kemudian menjawab pertanyaan Alfred dengan bahasa Inggris sambil berusaha memasukkan logat Melayu, ”Bang Aziz masih di Amerika, pulang hanya di Hari Aidil Fitri. Sahar baru saja lulus dari junior high dan sudah mendaftar di beberapa senior high.”

”Kamu sudah sarapan, Sayang?” tanya pamannya lagi. ”Sudah, Pak Cik, saya makan di pesawat. Tadi disajikan roti

dan omelet,” jawabnya mengarang cerita.

”Wah, kamu naik pesawat kelas bisnis, kan? Biasanya yang disajikan lebih baik daripada hanya sekedar roti dan omelet,” ujar Alfred agak kaget.

”Well, mungkin ada pilihan lain, saya tidak terlalu memperhatikan. Masih mengantuk,” ucap Fay lagi, sempat tercekat, tapi dengan cepat mengarang jawaban.

”Oh ya. Kamu sebaiknya istirahat dulu,” kata Alfred lagi sambil melambai ke Vladyvsky yang sedari tadi hanya berdiri seperti patung di dekatnya.

Vladyvsky mengatakan sesuatu di headset yang dipakainya dan tidak lama kemudian datang seseorang dengan seragam hitam-putih pelayan.

”Julian akan menunjukkan kamarmu. Kalau kamu masih lelah, kamu bisa minta supaya makan siang kamu diantar ke kamar. Sampaikan saja ke Julian. Nanti malam saya ingin mengajakmu makan malam di restoran favorit saya,” ucap Alfred. Fay mengangguk dan berlalu setelah Alfred mengucapkan selamat beristirahat dan mengecup keningnya.

Julian berjalan di sisinya. Pria itu kemungkinan berumur awal tiga puluhan. Badannya tegap dan cara jalannya sangat kaku. Fay memutuskan untuk membuka percakapan, ”Wah, besar sekali rumah ini. Saya rasa saya akan tersasar kalau ditinggalkan sendiri. Ada berapa lantai di rumah ini?”

”Ada tiga lantai, Miss. Lantai satu adalah ruang umum, seperti ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dan sebuah aula besar yang disebut the ballroom. Lantai dua adalah kamarkamar. Ada delapan belas kamar tidur, delapan merupakan kamar utama dan sisanya adalah kamar tamu. Di lantai tiga terdapat ruang kerja Mr. Whitman, perpustakaan, dan ruang museum tempat Mr. Whitman menyimpan semua koleksi barang antiknya.”

”Wow, banyak sekali kamar tidurnya. Apakah ada tamu lain?” tanya Fay lagi.

”Tidak, Miss. Mr. Whitman sangat jarang menerima tamu, bahkan bisa dibilang tidak pernah ada yang menginap selama saya bekerja di sini, sekitar tiga tahun.”

”Kamar yang saya tempati, kamar utama atau kamar tamu?” ”Anda menempati kamar utama, Miss, di bangunan utama, tepat di seberang kamar Mr. Whitman. Ada dua bangunan lain yang merupakan perpanjangan bangunan utama, masing-masing di sayap barat dan timur. Bangunan tambahan itu hanya terdiri atas dua lantai. Di setiap bangunan itu, terdapat lima kamar

tamu.”

”Apakah museum Pak Cik bisa dikunjungi?” tanya Fay lagi.

”Saya rasa Anda harus menanyakannya kepada Mr. Whitman, atau Mr. Vladyvsky. Ruang museum itu satu-satunya ruang yang selalu terkunci dan penjagaannya sangat ketat.” ”Ada penjaganya?”

”Bukan, Miss. Kamera pengintai. Gang di lantai tiga itu berakhir buntu. Tepat di atas tangga, sebelum memasuki gang itu, ada satu kamera yang mengawasi siapa saja yang naik. Untuk yang satu ini, saya tahu persis karena salah satu tugas rutin saya adalah mengantarkan makanan ke ruang kontrol keamanan.”

”Ruang kontrol keamanan? Di mana lokasinya dan ada apa di dalam sana?” tanya Fay, mulai khawatir Julian akan curiga dengan keingintahuan dirinya yang sangat besar.

Julian menjawab bangga, ”Ruang kontrol ada di dekat gerbang servis. Di sana adalah pusat kendali keamanan di seluruh bangunan. Ada berpuluh TV yang dihubungkan dengan seluruh kamera yang ada di dalam dan di luar gedung.”

Fay tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.

”Ah, kamera yang mana, dari tadi saya tidak melihat satu kamera pun,” pancingnya lagi.

”Kamera ada di sekeliling gedung, Miss, dan di semua ruang umum lantai satu. Di lantai dua, kamera hanya terdapat di bagian atas kedua sisi tangga, yang salah satunya tadi kita lewati,” jawabnya.

Julian berhenti di depan kamar. Mereka sudah sampai.

”Ini kamar Pak Cik?” tanya Fay sambil menunjuk ke satu pintu tepat di seberang pintu kamarnya.

”Betul, Miss. Itu kamar Mr. Whitman.” ”Kenapa tidak ada kamera di sekitar sini?”

”Tentunya Mr. Whitman tidak ingin privasinya terganggu, diawasi oleh sekuritinya sendiri setiap kali beliau akan keluarmasuk kamar.”

Pintu dibuka dan Fay melihat kopernya sudah diletakkan di dekat lemari baju.

”Miss, apakah Anda perlu bantuan untuk membereskan koper? Saya atau teman saya, Mrs. Worth, bisa membantu,” tanya Julian.

”Tidak usah, Julian, terima kasih.” ”Baik, Miss, saya pergi sekarang. Kalau Miss butuh bantuan apa pun, silakan panggil saya, Julian. Miss tinggal mengangkat telepon. Selamat istirahat, Miss.”

Fay menghela napas setelah pintu ditutup oleh Julian. Kamarnya sangat besar, bergaya klasik. Wallpaper bermotif bungabunga menghiasi dindingnya. Tempat tidurnya juga sangat besar, dengan empat tiang yang dihiasi tirai berlipat-lipat, seperti tempat tidur putri-putri raja di buku cerita. Fay berjalan mengelilingi kamar dan melihat lemari baju, rak TV, dan meja tulis. Pemandangan dari jendelanya adalah sisi depan rumah. Satu pintu yang ada di dalam kamar mengarah ke kamar mandi yang juga sangat mewah, semuanya dilapisi marmer. Ia berdecak kagum, tidak bisa membayangkan seperti apa kamar Alfred kalau kamarnya saja seperti ini.

Fay kemudian mengeluarkan laptopnya dan menjalankan aplikasi yang akan dipakainya untuk menggambar denah rumah Alfred. Ia mencoret-coret sebentar, kemudian mengetikkan informasi yang sudah berhasil diperolehnya sejauh ini, mulai dari kondisi penjagaan di pintu masuk, pengamatannya tentang rumah itu sendiri, serta informasi yang diberikan Julian.

Fay mengeluarkan telepon genggamnya dan menyambungkannya dengan kabel ke komputer. Di layar, ia membuka sebuah blog yang berisi kumpulan puisi. Menurut penjelasan Andrew tadi malam, blog ini adalah blog palsu yang dibuat khusus untuk tugas ini. Di sisi kanan blog itu ada banyak link yang sebagian besar terhubung ke website lain. Salah satu link tersebut bila diklik akan membawanya ke halaman lain yang masih berada di blog yang sama, berisi puisi dengan sebuah ”counter” atau penghitung jumlah pengunjung di pojok kanan atas. Yang sebenarnya terjadi setelah ia mengklik link itu adalah, satu program yang dijalankan oleh server tempat blog itu berada pertama-tama mengenali identitas komputernya, kemudian menjalankan program lain yang secara otomatis akan mengambil file berisi denah yang sudah digambarnya. Proses upload itu tidak terlihat, karena berjalan secara otomatis di background. Untuk mengetahui apakah proses upload sudah selesai, Fay tinggal memerhatikan counter yang ada di sana; bila nomor yang tertera di counter bertambah satu, berarti proses itu sudah selesai.

Sudah selesai, pikirnya lega.

Ia menimbang-nimbang apakah akan membongkar kopernya terlebih dahulu atau langsung keluar untuk berjalan-jalan. Tapi akhirnya ia memutuskan bahwa sebagai Seena, ia harus membereskan kopernya dulu, meletakkan semua baju dan sepatunya di lemari, serta menyusun semua peralatan perang wanitanya di meja rias serta kamar mandi.

Setengah jam kemudian, ia sudah keluar kamar. Ia berencana menemui Alfred dan meminta izin berkeliling di dalam dan di luar rumah.

Sampai di pinggir tangga, Fay baru terpikir bagaimana caranya mencari pria itu. Pandangannya menyapu sekitarnya dan jatuh di tangga menuju lantai tiga. Dengan penasaran ia mendekat dan melihat ke atas. Tangga itu tidak terlalu besar, lurus ke atas, dengan ujung sebuah meja berisi bunga yang menempel ke tembok, dengan kaca sebagai penghias. Terlihat satu kamera yang dipasang di pojok, dekat kaca, mengarah ke mulut tangga. Siapa pun yang muncul atau turun melewati mulut tangga bagian atas, pasti langsung tertangkap kamera.

”Saya pikir kamu sedang beristirahat,” satu suara di belakangnya mendadak muncul.

Ia menoleh dan tersenyum. ”Hai, Pak Cik. Saya baru saja akan mencari Pak Cik.”

”Ada apa, Sayang?” tanya Alfred.

”Saya tidak bisa tidur, jadi saya mau minta izin untuk berkeliling di dalam dan sekitar rumah,” ucapnya.

”Seena, kamu tidak perlu minta izin. Tentu saja saya tidak keberatan,” jawab Alfred lagi. ”Tapi saya minta maaf, Sayang, tidak bisa menemani kamu jalan-jalan dan makan siang. Saya ada undangan dan mendadak harus pergi. Makanan siap disajikan jam dua belas tepat. Seperti yang saya bilang tadi, kamu bisa minta supaya makanan diantar ke kamar kalau kamu mau istirahat. Beritahu saja pelayan, pilihan mana yang lebih kamu suka.”

”Paman, tadi Julian bilang Paman punya perpustakaan ya?

Kalau boleh saya ingin membaca-baca.”

”Perpustakaan ada di atas. Boleh saja kalau kamu mau, tapi untuk ke atas, kamu harus minta ditemani oleh seorang penjaga,” kata pamannya.

Fay pura-pura terkejut, ”Kenapa? Apakah saya bisa tersasar di sana?”

Alfred tersenyum.

”Di atas sana ada koleksi benda antik saya, sehingga semua yang naik ke lantai atas diawasi oleh penjaga lewat kamera. Kalau kamu tidak ditemani oleh seorang penjaga saat melewati kamera, akan ada segerombolan penjaga yang akan langsung datang menangkapmu.”

”Wow, apakah saya boleh lihat koleksi Pak Cik nanti?” ujar Fay pura-pura antusias.

”Tentu saja. Nanti kalau ada waktu, saya akan membawa kamu melihat-lihat. Untuk siang ini, kalau setelah makan siang kamu ingin keluar rumah, bicara dengan Vladyvsky. Dia akan mengurus semuanya. Untuk malam nanti, saya sudah membuat reservasi di restoran favorit saya. Saya harap kamu bersiap-siap untuk berangkat jam tujuh malam. Sampai nanti, Sayang,” kata Alfred sambil mengusap rambut Fay lembut dan mencium kepalanya.

Fay merasa ada satu desiran halus di dadanya, campuran antara rasa haru dan bersalah. Papa saja tidak pernah seperti itu, pikirnya.

Ia ikut turun bersama Alfred dan sampai di bawah, pamannya menegaskan sekali lagi di depan Vladyvsky bahwa kalau Fay ingin pergi keluar rumah, pria itu akan mengatur segalanya. Setelah Alfred pergi, Fay memutuskan untuk mengitari rumah, kemudian masuk dari pintu lain, kalau ada. Baru setelah itu ia akan mengamati bagian dalam rumah.

Saat menyusuri jalan setapak di samping rumah, ia berpapasan dengan dua penjaga yang sedang berpatroli keliling rumah beserta seekor anjing penjaga. Anjing itu menggonggong tanpa henti ke arah Fay hingga ia tanpa sadar mundur ketakutan. Salah seorang penjaga menyapanya, ”Maaf, Miss, anjing-anjing ini memang selalu seperti itu terhadap semua orang yang tidak dikenal.”

Ingin sekali rasanya langsung kabur dari situ saat itu juga, tapi Fay tahu harus menggunakan kesempatan ini. Ia pun akhirnya buka suara, ”Ada berapa anjing penjaga di rumah Pak Cik-ku ini?”

”Semuanya ada dua puluh, Miss,” jawab pria itu.

”Apakah ada yang berkeliaran tanpa diikat?” tanya Fay khawatir. Kali ini tidak berpura-pura.

”Kalaupun tidak diikat, anjing itu sudah dilatih untuk menjaga area tertentu saja, dan pasti ada penjaganya tidak jauh dari situ. Asal Miss tetap berada di jalan setapak, anjing itu tidak akan menyerang kecuali disuruh, hanya akan menggonggong tanpa henti. Tapi kalau Miss maju selangkah saja ke area kekuasaannya di luar jalan setapak, tanpa disuruh pun anjing itu pasti langsung menyerang.”

Fay mengangguk ngeri. Ide mengelilingi rumah ini sepertinya tidak terlalu menarik lagi.

”Kalau anjing ini, kenapa diikat?” tanyanya lagi.

”Anjing yang diikat adalah bagian dari patroli. Kami berpatroli mengelilingi rumah setiap jam. Ada lagi teman lain yang berpatroli di bagian lain dari kediaman ini.”

”Di mana lagi? Saya harus tahu supaya tidak kaget lagi nanti,” potong Fay cepat.

”Patroli ada lagi di sisi paling luar dari kediaman ini, menyusuri jalan setapak yang dibuat di sisi dalam pagar. Juga ada di sekitar bangunan servis di bagian belakang, dekat rumah penjaga,” jawabnya.

”Baik kalau begitu. Terima kasih informasinya,” sahut Fay sambil berlalu, segera kabur sejauh-jauhnya dari binatang itu. Ingat, jangan keluar dari jalan setapak, pikirnya.

Sampai di bagian belakang rumah, ia melihat teras belakang yang terbuka luas, menghadap ke kolam renang. Ternyata setelah kolam renang ada turunan seperti lereng ke bawah. Di bawah ia melihat dua anjing berkeliaran di sisi kiri dan kanan tangga yang menuruni lereng itu, dan saat itu juga ia memutuskan bahwa tidak ada satu orang pun di dunia yang bisa memaksanya menuruni tangga itu, dengan risiko digonggongi anjing kurang dari satu meter di kedua sisinya sepanjang jalan. Tidak juga Andrew.

Fay berbalik hendak masuk ke dalam rumah dan seketika teringat bahwa rumah itu sebenarnya berbentuk huruf L. Ternyata di ujung rumah ada bangunan kecil yang dihubungkan dengan bangunan utama lewat satu lorong pendek yang diselubungi kaca.

Ia mendekati bangunan itu, tapi tidak menemukan pintu di sisi ini. Akhirnya dengan memantapkan hati ia menyusuri jalan setapak yang mengitari bangunan itu sambil memerhatikan posisi jendela. Di bagian depan ternyata ada jalan mobil, berakhir di teras yang cukup luas, dengan pintu masuk yang juga besar. Ia mendongak ke atas, melihat bahwa bangunan ini terdiri atas tiga lantai.

Pintu terbuka dan Julian keluar. Pria itu langsung membungkuk hormat sambil menyapanya, ”Selamat siang, Miss. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.

”Hai, Julian, saya sedang berkeliling untuk melihat-lihat rumah Pak Cik. Ini bangunan apa?” tanya Fay.

”Ini bangunan servis, Miss. Di dalam sini ada dapur, kamar para pelayan, tempat cuci, dan gudang bahan makanan.”

”Kalau jalan aspal ini, mengarah ke mana? Rasanya tadi waktu saya datang, tidak ada jalan masuk yang bercabang,” tanya Fay lagi. ”Jalan ini mengarah ke pintu gerbang servis, di sisi yang lebih dekat ke arah kota,” jawabnya.

”Tadi saya lihat banyak anjing penjaga. Kandangnya di sebelah mana? Saya mau memastikan saya tidak ada di dekat mereka,” Fay bergidik, tidak pura-pura.

Julian tertawa ringan.

”Kandang mereka ada di rumah penjaga, di ujung jalan ini, persis sebelum bertemu dengan pintu gerbang,” Julian melanjutkan, ”memang, Miss. Anjing-anjing itu sangat mengerikan. Saya pernah melihat salah satu dari mereka menyerang seorang pelayan baru. Pelayan itu mungkin tidak menyimak ketika diberitahu jangan berjalan di atas rumput. Hasilnya adalah dua puluh dua jahitan di pahanya.”

Kening Fay berkerut. ”Saya tidak mengerti kenapa aturannya dibuat seperti itu? Kenapa anjing hanya menyerang di rumput tapi tidak di jalan setapak? Bukankah itu malah membuka jalan bagi orang yang berniat jahat untuk masuk dan berjalan dengan bebas di jalan setapak?”

”Bukan seperti itu, Miss. Jalan setapak sudah diawasi dengan kamera pengintai. Anjing-anjing itu dilepas di area yang lebih luas supaya liputan area yang terjaga lebih besar, karena tidak mungkin hanya mengandalkan kamera pengintai untuk area seluas ini.” 

Bibir Fay membentuk huruf ”o” tanpa bersuara. Ia tersenyum dan berkata, ”Oke, Julian, thanks untuk infonya. Apa saya bisa masuk ke rumah lewat bangunan ini?”

”Silakan, Miss. Mari saya antar.”

Fay mengikuti Julian melintasi dapur yang sangat besar. Dua orang memakai topi koki tampak sedang memasak.

Akhirnya ia tiba di lorong berselubung kaca yang tadi terlihat dari kolam renang. Tepat di bagian atas pintu masuk yang ada di ujung lorong itu, terdapat sebuah kamera.

Sambil lalu ia bertanya, ”Julian, itukah kamera pengawas yang kamu sebut tadi?”

”Ya, Miss. Semua akses ke dalam rumah diawasi, baik pintu maupun jendela. Di dalam rumah, semua ruang di lantai satu dipasangi kamera. Tapi di lantai dua, hanya di tangga bagian atas. Begitu juga di lantai tiga.”

”Kamu yakin, di dalam kamar tidak ada yang mengintai saya?” tanya Fay lagi, tapi ia langsung menyesal ketika melihat tatapan Julian yang seperti agak kaget dan marah.

”Tentu saja tidak ada, Miss. Saya yakin paman Anda tidak punya niat untuk mengintai tamu-tamunya sendiri dengan cara seperti itu.”

”Julian, jam berapa makan siang disajikan?” tanya Fay buruburu untuk mengalihkan topik pembicaraan.

”Jam dua belas siang makanan sudah siap disajikan, Miss. Anda tinggal mengangkat telepon di dalam rumah dan memberitahu kalau Anda ingin makan.”

”Telepon itu dihubungkan ke dapur?” tanya Fay lagi. Ia berharap dalam hati pertanyaannya tidak memancing kecurigaan yang tidak perlu setelah insiden salah bicara tadi.

”Semua telepon masuk dan keluar diterima oleh operator yang ada di rumah penjaga. Nanti dia yang akan menghubungi dapur.”

”Baik kalau begitu. Saya akan ke ruang makan jam dua belas nanti.”

Julian pun pergi meninggalkannya setelah mengangguk sopan. Fay melanjutkan berkeliling, memasuki semua ruangan di lantai satu dengan rasa ingin tahu seorang remaja tujuh belas tahun. Sambil lalu matanya menyapu ruangan, mencatat baikbaik dalam benaknya posisi pintu, jendela, posisi perabotan utama, sementara sudut matanya mencari lokasi kamera. Setelah selesai, ia naik ke kamarnya untuk melaporkan hasilnya.

Pukul 11.30, Fay sebenarnya ingin tidur-tiduran ketika ingat ia seharusnya berganti pakaian dan berdandan dulu. Setengah hati ia bangkit dari tempat tidur paling empuk yang pernah ditidurinya, untuk melakukan ritual cuci muka dan dandan ala Seena.

Tepat pukul 12.00 ia turun dengan kondisi lebih segar. Julian sudah siap di ruang makan ketika ia masuk. Segera setelah Fay duduk di salah satu dari dua belas kursi dari meja makan yang memanjang itu, pria itu langsung menyampirkan serbet di pangkuannya dan menghidangkan makan siangnya satu per satu, dimulai dengan makanan pembuka, sup kental berwarna krem dihias daun-daun hijau dan tetesan warna oranye di atasnya, yang ternyata adalah labu.

Sepanjang makan, otak Fay berputar memikirkan apa yang harus dilakukannya lagi setelah makan.

Setelah makanan penutupnya habis, chocolate mousse dengan siraman cokelat putih di bagian atas, Fay merasa perutnya sudah mau meletus, walaupun kalau untuk satu porsi lagi sepertinya masih ada celah. Tapi akhirnya ia menunda keinginannya dan bangkit dari kursi. Ia akan berjalan-jalan di sisi kolam renang hingga makanannya turun, pikirnya kemudian.

Sampai di kolam renang, ternyata ada Vladyvsky. Tidak membuang waktu, Fay bertanya, ”Hai, tadi Pak Cik pesan kalau ingin ke perpustakaan, saya harus ditemani oleh penjaga. Apakah ada yang bisa menemani saya sekarang? Saya ingin membaca-baca sambil menurunkan makanan.”

”Bisa, Miss. Saya akan menemani Anda.”

Mereka naik dan Fay kembali bertanya, ”Saya sebenarnya agak bingung kenapa harus ditemani segala. Saya kan bisa naik sendiri.”

”Ada kamera pengawas di atas tangga. Aturannya adalah, hanya Mr. Whitman dan saya yang bisa naik tanpa dikawal. Yang lain harus atas seizin saya.”

”Tapi tadi kata Pak Cik, saya bisa ditemani oleh penjaga yang mana saja.”

”Iya, tapi tetap petugas yang mengawasi di ruang kontrol akan menginformasikan saya bahwa ada yang naik.” Sampai di tangga menuju lantai tiga, Vladyvsky menunjuk ke arah kamera di atas kaca yang tadi sudah dilihat oleh Fay.

Fay mengangguk-angguk seperti baru tahu.

Sampai di atas, mereka sampai di sebuah lorong. Ada tiga pintu, satu di sebelah kanan dan dua di sebelah kiri. Vladyvsky menunjuk pintu di kanan mereka. ”Ini ruang koleksi barang seni dan barang antik Mr. Whitman. Yang bisa masuk hanya Mr. Whitman sendiri.”

”Kenapa tidak ada kamera di situ?” tanya Fay.

”Tidak perlu lagi. Di dalamnya ada pengamanan ekstra,” jawab Vladyvsky singkat.

Pria itu berhenti di satu pintu di kiri dan membukanya. ”Ini ruang perpustakaan. Silakan.”

Ruang itu berbentuk persegi panjang, tidak terlalu besar tapi nyaman, dengan sofa tidur dan rak-rak tinggi berisi buku dari bagian bawah hingga atas.

Vladyvsky berkata, ”Sekarang, saya akan meninggalkan Anda. Kalau perlu sesuatu, Miss bisa menyampaikannya ke operator lewat telepon di ruangan ini.”

”Kalau saya ingin keluar dan turun, apakah harus memanggil penjaga lagi?” tanyanya.

”Tidak, Miss. Tapi kalau setelah turun dari anak tangga pertama Anda memutuskan untuk naik lagi, Anda perlu memanggil penjaga.”

”Oke, thanks.”

Setelah sepuluh menit mondar-mandir di dalam perpustakaan, Fay bergerak keluar. Ritme di dadanya mulai menyesuaikan diri dengan berdebar lebih kencang. Tangannya sekarang sudah dingin, hingga terasa sangat kaku waktu membuka pintu.

Lorong itu sekarang kosong.

Fay berjalan ke arah tangga dan mengintip ke bawah, sambil menjaga supaya dirinya tidak tertangkap kamera. Kosong.

Debar jantungnya sekarang sudah seperti sehabis berlari. Tenang,  Fay, ujarnya pada diri sendiri. Langsung ia berbalik dan berlari melewati pintu perpustakaan, menuju satu pintu lagi di ujung ruangan. Pintu ruang kerja Alfred.

Tangannya meraih gagang pintu. Tidak  terkunci.  Ia membuka pintu dengan napas yang sudah memburu.

Sampai di dalam, matanya menyapu ruangan dengan cepat. Ruang itu posisinya di sudut rumah. Ada dua sisi dinding yang mempunyai jendela, masing-masing ada dua jendela, dengan tirai tebal bertumpuk yang menyapu lantai yang kini terbuka lebar, dan vitrage tipis yang menutupi pemandangan dari luar. Ada satu set sofa dari kulit warna hitam di tengah ruangan dengan meja persegi di tengah-tengah. Di depannya, tepat diapit dua jendela di depannya ada sebuah lemari dengan TV dan audio. Di sebelah kanannya, juga diapit dua jendela, terdapat meja kerja Alfred. Ada satu pintu lagi di sebelah kiri, tepat di sebelah lemari yang menghiasi seluruh dinding dengan sebuah panel yang dihias lukisan di tengah-tengahnya. Fay berjalan ke sana dan membuka pintunya, ternyata sebuah kamar mandi yang sangat besar, lengkap dengan bathtub dan pancuran air terpisah.

Sebuah ”kesempatan”, pikirnya. Setidaknya ia bisa menggunakan alasan ingin mencari kamar mandi kalau tepergok.

Sekarang ia beralih ke meja kerja Alfred. Ada baterai laptop tergeletak di sana, tapi tidak ada laptop. Pasti Alfred membawanya.

Terdapat juga telepon tanpa kabel, sebuah lampu meja, sebuah kalendar, sebuah notes, serta beberapa pemberat kertas, dan sebuah jam meja yang mempunyai penyangga.

Fay berjongkok, mengamati bagian bawah meja kerja dan tidak menemukan senjata, tombol bahaya, atau apa pun yang dipasang di sana. Ia ingat instruksi Andrew, kalau di bagian bawah meja ada sesuatu, jangan meletakkan penyadap di sana karena berarti ada kemungkinan tangan Alfred akan menjamah ke sana. Segera ia meraih bagian bawah celananya dan mengeluarkan benda sebesar kancing berwarna hitam yang disimpan di balik lipatannya yang seperti kantong. Benda itu kemudian ia tempelkan di bawah meja kerja itu.

Ia bergerak ke sofa, kemudian berjongkok dan mengintip ke kolong meja di depannya. Ada satu benda berwarna perak berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira lima belas sentimeter, seperti kepingan uang logam raksasa. Ia ragu sejenak, tangannya meraih untuk meraba, tapi akhirnya tidak jadi ia lakukan karena ia sama sekali buta untuk apa benda itu dan seperti apa cara kerjanya. Siapa tahu itu alarm yang akan berbunyi bila disentuh, pikirnya lagi. Yang jelas, sudah pasti benda itu akan masuk ke laporan yang akan dikirimnya nanti.

Ia kembali ke meja kerja dan memperhatikan. Akhirnya ia mengeluarkan penyadap yang tersisa dan ditempelkan di jam meja. Telepon sama sekali tidak disentuhnya karena pesan Andrew adalah jangan meletakkannya di peralatan komunikasi, karena di situlah mereka pertama akan mencari.

Setelah selesai, Fay langsung lari ke pintu, membukanya perlahan dan setelah melihat tidak ada orang, lari secepat kilat ke pintu perpustakaan dan masuk ke sana. Di dalam, ia menjatuhkan diri ke sofa baca sambil mengatur napas. Perlu tiga menit hingga napasnya tidak memburu lagi, dan ia pun segera keluar untuk turun menuju kamarnya.

Di kamar, ia segera mengeluarkan laptopnya dan menulis laporannya. Setelah melihat angka di counter blog puisi bertambah satu, Fay mengembuskan napas lega dan mendadak ia merasa sangat letih. Dengan emosi yang sudah terkuras habis, ia langsung rebah di tempat tidur dan tertidur tidak lama kemudian.

Fay dibangunkan suara telepon. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ia sedang melakoni perannya dan sedang berada di kediaman Alfred.

Ternyata Julian yang meneleponnya, memberitahu bahwa teh dan kue-kue sudah tersedia di teras belakang rumah. Fay melirik arlojinya dan dengan kaget mendapati bahwa saat ini sudah pukul 17.00.

Dengan malas ia turun setelah mencuci muka dan membetulkan riasannya sedikit serta berganti baju. Setengah hatinya takut untuk turun dan bertemu dengan siapa pun yang ada di bawah, mengingat apa yang sudah dilakukannya siang tadi. Setengah yang lain penasaran, apakah ia memang telah melakukannya dengan sukses dan bisa lolos. Pikiran itu membuatnya berdebar sedikit ketika turun.

Sapaan ramah dari Julian yang sudah siap di teras membuat debar jantungnya menguap entah ke mana dan Fay pun dengan kepala lebih tegak dan senyum lebih lebar membalas sapaannya. Setelah satu gelas teh dan dua buah pai, Fay kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap makan malam bersama Alfred.

Untuk malam itu, ia menggunakan gaun elegan berwarna biru muda dari Chloe, dan sepatu pesta dengan hak lima sentimeter.

Sambil menuruni tangga, pikirannya mengucapkan terima kasih kepada Ms. Connie, yang sudah menyuruhnya berlatih menggunakan sepatu itu setiap malam, walaupun tidak selalu ia lakukan.

Alfred menunggu di bawah tangga sambil tersenyum kagum. ”Kamu benar-benar cantik, Sayang. Saya rasa malam ini saya akan menikmati tatapan iri para pemuda yang berharap mereka

adalah saya.”

Fay hanya tertawa. ”Terima kasih, Pak Cik. Saya juga yakin malam ini banyak wanita yang melihat ke arah saya dengan tatapan iri yang sama.”

Alfred tertawa ringan, menyambut tangan Fay serta mendekatkannya ke bibirnya, mengecupnya.

Fay merasa pipinya panas oleh rasa tersanjung bercampur malu, dan langsung mengajak Alfred bicara untuk mengalihkan perhatian. ”Pak Cik, apakah restorannya jauh?” ”Kenapa? Kamu sudah lapar?”

”Belum. Malah saya masih kenyang karena tadi sore tidak bisa menahan diri dan memakan dua pai. Habis enak sekali sih,” ujar Fay menyesal.

Alfred tertawa.

”Jangan khawatir. Kamu bisa makan sebanyak atau sesedikit yang kamu mau. Kalau masalahnya adalah kamu takut berat badan kamu naik, besok pagi kita bakar kalori yang masuk. Kamu masih suka lari?”

”Masih dong,” jawab Fay sambil tersenyum menang.

”Oke kalau begitu, saya tantang kamu lari besok ya,” kata Alfred.

”Boleh. Tapi harus ada taruhannya,” kata Fay, dengan sesal kemudian atas kenekatannya.

”Baik, apa taruhannya?” tanya Alfred antusias.

”Nanti ya, saya pikirkan dulu,” kata Fay jail. Sudah telanjur, ujarnya dalam hati.

Alfred tertawa dan membukakan pintu mobil. ”Take your time, my little princess.”

Fay masuk dengan jantung yang kembali berdegup dan darah yang dipenuhi desiran perasaan bersalah.

Fay dibawa ke sebuah restoran yang berada di puncak sebuah gedung tinggi, menghadap ke Menara Eiffel. Dengan kagum ia melihat lantai yang berputar dengan pelan, sehingga semua tamu akan bisa menikmati pemandangan 360 derajat. Cici pernah bercerita dia makan di restoran yang lantainya juga bisa berputar di Jakarta. Tapi Fay yakin pemandangannya tidak akan seindah yang terlihat sekarang, dengan Menara Eiffel yang menyala keemasan berdiri dengan anggun, siap ditatapi dengan kagum oleh setiap pengunjung restoran ini. Sebuah seruan terdengar dari belakang memanggil nama Alfred.

Fay menoleh dan jantungnya serasa ingin melompat ke luar.

Alfred berbalik dan menyahut tidak kalah antusias sambil memberi sambutan lebar,

”Andrew, my friend. How are you?”

Alfred dan Andrew berpelukan, dan berjabat tangan dengan erat.

Fay merasa wajahnya pucat pasi dan angin dingin merayapi tubuhnya.

”Alfred, siapa nona muda yang kamu bawa?” tanya Andrew menggoda.

Alfred menoleh ke arahnya dan dengan bangga memperkenalkannya kepada Andrew, ”Andrew, ini keponakan saya, Seena. Ibunya adalah kakak kandung Zaliza.”

”Very delighted to meet you, young lady,” Andrew menjabat tangan Fay sambil tersenyum.

Fay menyambut tangan Andrew sambil tersenyum, ”Pleased to meet you, too.”

Alfred bertanya kepada Andrew, ”Datang sendiri?” ”Sayangnya begitu. Saya tidak punya kesempatan untuk di-

temani seorang keponakan yang sangat menarik seperti dia,” Andrew mengedipkan mata ke arah Fay dengan jail.

Alfred tertawa.

Fay tersenyum jengah. Dalam hati ia mengagumi Andrew yang tampak sangat alami mengucapkannya.

Andrew berkata lagi, ”Baiklah kalau begitu. Meja saya ada di dekat piano. Saya tidak akan mengganggu kalian lagi.”

Alfred mengangguk dan berkata, ”Saya akan bicara denganmu lagi minggu depan tentang akuisisi yang kamu usulkan ke pemegang saham.”

”Baik, tidak masalah. Bon apetite,” jawab Andrew.

 Segera setelah Alfred memesankan makanan untuk mereka berdua, Fay bertanya, ”Pak Cik, tadi itu siapa?”

”Oh, dia teman baik saya. Kami sering sekali main golf bersama.”

”Teman bisnis?” tanya Fay lagi.

”Belakangan ini iya. Perusahaannya membuat penawaran untuk membeli salah satu anak perusahaan saya. Saya kurang setuju dengan penawarannya. Kebetulan saya pemegang saham terbesar,” ujarnya lagi. ”Tapi keputusan itu belum final, kami masih ingin mendiskusikannya lagi.

”Cukup tentang bisnis,” sambung Alfred lagi. ”Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu sudah pasti akan bersekolah di Zurich? Jurusan apa yang kamu minati?” tanyanya.

”Mmm… Saya sudah menetapkan hati untuk memilih jurusan geografi. Mudah-mudahan kunjungan ke sana tidak membuat saya menjadi berubah pikiran,” ucap Fay.

Makanan mereka datang.

”Jadi, besok pagi kita jadi taruhan?” tanya Alfred.

”Boleh. Sekalian Pak Cik mengajak saya tur seputar rumah supaya saya tidak tersasar. Apakah anjing juga menggonggong kalau saya lewat bersama Pak Cik?”

Alfred tersenyum.

”Anjing-anjing itu memang dilatih untuk bersikap agresif dengan orang yang tidak dikenal. Mereka sudah dilatih untuk mengikuti perintah saya, jadi kamu tidak perlu kuatir. Saya pasti tidak akan membiarkan mereka mengganggu kamu.”

Mereka pun makan sambil mengobrol seputar keluarga Seena. Alfred menanyakan kabar hampir setiap orang di keluarga Seena, dan Fay jawab dengan fasih. Beberapa yang tidak diketahui, dengan jujur dijawabnya tidak tahu. Alfred sepertinya juga menyadari bahwa dengan keluarga sebesar itu, wajar bila di antara keluarga ada yang sudah lama tidak mendengar kabar yang lain. Beberapa yang lain, Fay karang ceritanya, sambil berharap ia bisa mengingat kebohongannya sendiri nantinya.  

Keesokan pagi, Fay berlari bersisian dengan Alfred tanpa kesulitan sama sekali, mengitari jogging track yang dibuat mengelilingi rumah di sisi pagar tembok bagian dalam. Kalau saja Andrew ada di depannya mungkin Fay akan sungkem, berterima kasih atas jasa pria itu memaksanya lari setiap sore. Ingatan akan latihan lari yang sudah dijalaninya, tekadnya untuk melakoni Seena dengan sempurna, dan adrenalinnya yang selalu siaga menunggu panggilan, ternyata berhasil membuat larinya kali ini sangat stabil. Dengan tegap dan tenang Fay menyamai kecepatan Alfred, sambil mengamati keadaan sekitarnya.

Yang dikatakan Julian benar, semua jalan setapak diawasi dengan kamera pengawas, termasuk jalan yang sekarang sedang dilaluinya. Hampir semua kamera yang dilihatnya di jalan ini ditempatkan di batang pohon yang berderet di sampingnya. Kamera itu tidak berputar seperti yang sering dilihatnya di film, tapi diam dengan sudut tertentu, menyorotnya dari depan. Beberapa puluh meter kemudian, ada lagi kamera yang menyorot dengan sudut yang sama. Beberapa saat Fay berpikir alasannya, hingga setelah melewati beberapa kamera ia baru menyadari bahwa penempatan kamera itu memastikan tidak ada yang luput dari pengawasan. Begitu ia lewat dari jangkauan kamera yang satu, segera sosoknya akan terlihat di kamera yang lain, begitu seterusnya.

Sesekali ia bertanya dengan penuh minat seputar aktivitas dan keamanan di kediaman Alfred, yang dijawab tanpa curiga oleh pria itu, termasuk tentang rumah penjaga yang berada di dekat gerbang servis.

Ketika hampir mencapai rumah kembali, Alfred berteriak, ”Lomba, sekarang!” dan pria itu langsung sprint menuju kolam renang. Fay menyusul sekencang mungkin dan dengan sebal mendapati dirinya kalah. Alfred mengangkat kedua tangannya seperti seorang juara, ”Saya menang!”

”Pak Cik curang,” protes Fay sambil cemberut. Alfred tertawa dan mengucek-ucek rambutnya.

”Sayang, karena saya yang menang, saya berhak menentukan taruhannya.”

”Itu lebih curang lagi!” ujar Fay protes lebih keras.

Tawa Alfred lebih lepas. Pria itu kemudian duduk di teras dan mengamati dirinya.

Dengan risi Fay bertanya, ”Ada apa, Pak Cik?”

Alfred tersenyum, padangannya agak menerawang. ”Semangat hidup yang terpancar dalam dirimu mengingatkan saya pada Zaliza. Di akhir hayatnya dia bahkan masih bisa tertawa renyah dalam memandang hidup.” Alfred kembali melanjutkan, ”Ah, sudahlah, tidak pada tempatnya saya menceritakan ini. Maafkan pak cik-mu yang suka melantur ini. Kamu masih terlalu muda untuk dihadapkan dengan sebuah kesedihan dan kehilangan,” ujarnya lagi cepat-cepat. Dia melihat arlojinya. ”Masih ada waktu setengah jam sebelum sarapan dihidangkan, jadi masih ada waktu untuk mandi dan berganti baju.”

Fay membersihkan diri di kamar mandi dan mendapati dirinya terganggu sesuatu tapi tidak bisa memutuskan apa penyebabnya.

Sambil mandi ia mereka ulang semua yang sudah ia kerjakan kemarin, membayangkan satu demi satu apa saja yang sudah diamati dan dilaporkannya, apakah ada yang terlewatkan. Akhirnya ia menggeleng dan menyerah.

Baru ketika ia membuka lemari untuk mengambil baju, ia tersentak. Ada sesuatu yang terlewatkan olehnya.

Ia segera mencari laptopnya, membuka file yang dibuatnya kemarin dan melihat denah yang tergambar di sana. Ada yang tidak pas di denah ruang di lantai tiga tempat ruang kerja Alfred dan perpustakaan.

Akhirnya Fay menemukan apa yang mengganggu pikirannya. Kamar mandi di ruangan Alfred sangat luas, berbentuk persegi panjang dengan lebar menghabiskan separuh dinding di ruang kerjanya. Separuh dinding lagi diisi dengan lemari. Logikanya, di ruang perpustakaan yang persis ada di balik dinding itu, rak di dindingnya tidak mungkin berupa satu unit yang lurus. Karena di bagian itu harusnya ada bagian yang menjorok ke depan, yang di baliknya merupakan kamar mandi.

Fay ingat ruang kerja Andrew di rumah latihan, tempat terdapat satu ruangan di balik lemari. Pasti kondisinya sama dengan ruang kerja Alfred Whitman. Ada ruang lain yang tersembunyi, berada di antara lemari buku perpustakaan dengan rak di ruang kerja itu. Fay segera merevisi gambarnya, kemudian mengirimkannya lagi.

Dengan lega ia melihat file itu tersimpan dan terkirim dengan sukses.

Terburu-buru ia berdandan dan menuju ke ruang makan.

Alfred sudah ada di sana, sedang mengoleskan roti panjang berwarna cokelat dengan butter. Fay duduk di kursi sebelah pria itu dan segera mereka terlibat percakapan tentang pilihannya untuk mengambil jurusan geografi.

Akhirnya Alfred bertanya, ”Apakah kamu pernah memikirkan pilihan bersekolah di Paris? Bagaimana kalau kamu bersekolah di Paris saja? Kamu bisa tinggal bersama saya di rumah ini.”

Fay tersentak dan sebentuk perasaan haru muncul lagi. Perasaan yang seharusnya tidak ada di sana, karena semua ini tidak nyata. Tapi ternyata perasaan haru itu tetap muncul dan kini menimbulkan perasaan bersalah yang mengisi seluruh pelosok hatinya. Ia menunduk dan hanya menjawab bahwa pilihannya sudah bulat. Sambil lalu ia bertanya tentang kemungkinan menghabiskan akhir pekan di tempat Alfred sekali-sekali. Alfred tampak sangat senang dengan ide itu, dan bahkan menyebutkan tentang kemungkinan mengirimkan jet pribadinya ke Zurich.

Fay menelan makanannya dengan susah payah, terperangkap dalam rasa bersalah yang tidak semestinya menampakkan diri saat melihat sebersit kebahagiaan muncul di mata pria itu. Ia menunduk dan menyibukkan diri dengan mengoleskan mentega ke rotinya.

Pamannya kemudian berkata, ”Sayang, saya harus minta maaf. Siang ini lagi-lagi saya tidak bisa menemani kamu makan siang. Apakah kamu ada rencana keluar?”

”Belum ada, Pak Cik. Tapi kalau Pak Cik tidak bisa makan siang bersama saya, mungkin saya akan pergi keluar, berkeliling kota Paris. Pak Cik ada urusan bisnis?”

”Ya, Sayang. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, jadi saya makan siang di ruang kerja saya.” Dia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih menyesal, ”Dan saya juga tidak bisa menemani kamu makan malam karena saya ada janji makan malam dengan rekan bisnis.”

”Yaaaa, jadi kapan dong saya bertemu Pak Cik lagi?” tanya Fay pura-pura kecewa.

”Sebentar, Sayang, coba saya cek dulu.” Alfred berdiri menuju telepon.

”…Sambungkan saya dengan Vladyvsky.”

”…Vlad, jam berapa penjaga akan membersihkan ruang kerja saya?”

”…Oke.”

Alfred kembali duduk di kursi. ”Nanti sore saya ada waktu untuk minum teh bersama, saya harap kamu bersedia menemani saya.”

”Tidak masalah, Pak Cik.”

Perasaannya tidak enak.

Fay kembali bertanya dengan nada sealami mungkin dan dengan ekspresi sepolos mungkin, ”Pak Cik, kenapa tadi Pak Cik bilang ruang kerja Pak Cik dibersihkan oleh penjaga bukan oleh pelayan?” Alfred terdiam sebentar, kemudian tersenyum lebar. ”Yang dimaksud dengan ’membersihkan’ ini bukanlah membersihkan secara harfiah, tapi memeriksa dan menyingkirkan segala sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

Fay mengerutkan kening seperti bingung, tapi dadanya sudah berdebar kencang. ”Seperti apa contohnya?”

”Seperti benda elektronik yang dipasang untuk mencuri dengar atau kamera video tersembunyi yang dipasang tanpa sepengetahuan saya.”

Mata Fay terbelalak. ”Wah, maksud Pak Cik ada orang yang mau melakukan itu semua kepada Pak Cik? Kenapa?”

”Ada banyak alasan, Sayang. Orang melakukan banyak hal yang tidak pernah bisa kita duga.”

Kuping Fay terasa panas oleh perkataan itu. Tapi hatinya tidak. Hatinya sekarang meringkuk kedinginan di sudut dalam ketakutan.

Ia bertanya lagi, ”Selama ini, pernahkah ditemukan barangbarang seperti itu?”

”Pernah, hanya satu kali ketika saya belum lama pindah ke sini. Tapi setelah itu saya tidak mau ambil risiko.”

”Jadi pemeriksaan itu dilakukan rutin?” tanya Fay dengan tangan yang sekarang mulai kaku karena sangat dingin.

”Ya. Dua kali seminggu secara acak. Untuk hari ini mereka akan melakukannya jam dua siang.”

Fay mengangguk. Kepanikan mulai menyerang, tapi ia mengingatkan dirinya untuk tetap tenang bergeming.

Pukul 13.50. Dengan gelisah Fay mondar-mandir di lorong lantai tiga. Ia tadi minta diantar ke perpustakaan setelah makan siang. Ia akan menunggu kesempatan hingga Alfred keluar ruangan, kemudian akan masuk ke ruang kerja itu lagi dan mengambil penyadap yang sudah dipasangnya kemarin.

Tapi rencananya tidak semudah itu terlaksana. Lebih dari satu jam sudah berlalu dan Alfred masih juga betah berada di ruang kerjanya.

Fay melirik arlojinya. Waktunya tinggal lima menit lagi hingga penjaga naik. Kalau ia tidak mengambil tindakan apa pun dalam lima menit ini, nasibnya bisa-bisa selesai sampai di sini.

Ia kembali mondar-mandir, sesekali mengintip ke bawah. Akhirnya apa yang ditakutkannya datang juga. Terdengar langkah penjaga yang menggema di foyer. Fay melihat mereka naik ke lantai dua dan ia langsung lari ke depan ruang kerja Alfred Whitman, mengambil napas panjang, dan setelah mengetuk dengan terburu-buru langsung masuk.

Alfred sedang duduk di kursi meja kerjanya dan langsung mendongak melihat ke arah Fay dengan kaget. ”Halo, Sayang, ada apa?”

Fay berjalan dengan cepat ke depan pamannya dan berkata manja, ”Paman masih sibuk, ya?”

Tujuan pertamanya adalah penyadap di jam meja.

”Iya, Sayang, sebentar lagi akan datang penjaga untuk memeriksa ruang ini. Ada apa, kamu perlu sesuatu?”

Fay berdiri di sisi meja kerja, berhadapan dengan Alfred yang masih duduk.

”Saya sedang berpikir untuk pergi keluar sebentar. Saya mampir untuk bertanya ke Pak Cik, apakah Pak Cik punya usul ke mana saya bisa pergi kalau waktunya hanya beberapa jam?” Tangannya meraih pemberat kertas yang ada di meja kemudian mengamatinya sambil lalu dan meletakkannya lagi. ”Apa yang mau kamu lakukan, melihat-lihat monumen di kota Paris, atau kamu mau berbelanja?” tanya Alfred. Sementara Alfred bertanya, tangan Fay mengambil kalender dan se-

kilas membalik-baliknya.

”Kalau bisa keduanya, dengan prioritas berbelanja dahulu.” Kalender diletakkan kembali di tempatnya dan sekarang tangannya meraih jam meja. Jantung Fay sudah berdebar sangat kencang. ”Kamu bisa pergi ke Lafayette…” Terdengan suara ketukan di pintu.

Alfred berkata, ”Masuk.” Pria itu menoleh ke arah pintu. Jari tangan kiri Fay mencongkel benda hitam sebesar kan-

cing itu. Ia meletakkan kembali jam meja itu di tempatnya semula, dengan penyadap sudah ada di genggamannya.

Tinggal satu lagi!

Pintu dibuka dan dua penjaga masuk. Di tangan mereka ada benda seperti tongkat dengan panjang kira-kira tiga puluh senti.

Fay bergerak ke sisi meja kerja pamannya.

Pamannya bangkit dari kursi dan berjalan ke arah para penjaga itu. ”Kalian bisa mulai.”

Tangan kiri Fay dengan cepat meraba bagian bawah meja dan begitu jarinya menyentuh benda itu, dengan cepat ia mencongkelnya. Tangan kanannya dimasukkan ke saku untuk mengambil telepon genggamnya.

Seorang penjaga mendekat ke arahnya… Lima meter lagi.

Telepon genggamnya tergelincir. ”Ups,” katanya. Dengan cepat ia mengambil telepon itu sambil memasukkan kedua penyadap dalam genggamannya ke kantong kiri celananya, di sana terdapat penutup benda itu yang juga merupakan alat untuk menonaktifkan signal yang dipancarkan.

Ketika Fay bangkit sambil memegang telepon genggamnya, seorang penjaga sudah ada di sisi meja dengan jarak kurang dari dua meter dari dirinya, sambil mengayunkan detektor di tangannya ke arah meja. Seorang penjaga lagi sudah mulai menyapu ruangan, dimulai dengan meja di dekat pintu yang dipenuhi foto.

Fay mendekati Alfred yang berdiri di tengah ruangan dan berkata,

”Pak Cik, sebaiknya saya keluar sekarang. Saya akan memberitahu Vladyvsky saya ingin jalan-jalan ke kota Paris.”

Alfred berkata, ”Oh iya, maaf, Sayang, tadi terpotong. Kalau kamu mau berbelanja, kamu bisa ke Lafayette atau ChampsÉlysées. Kamu bisa minta supaya mobil berkeliling di sekitar Eiffel setelah kamu berbelanja.”

”Baik, Pak Cik, terima kasih. Saya pergi dulu ya.” ”Oke. Hati-hati, Sayang.” Alfred membukakan pintu.

Fay berjalan meninggalkan ruang kerja Alfred, berusaha supaya tetap tenang dan tidak berlari.

Sampai di kamar, Fay mengembuskan napas panjang. Rasanya ia tadi sudah hampir pingsan saking takutnya.

Ia segera menyelipkan penyadap itu di balik kaki celananya dan mengambil tasnya.

Begitu  sampai  di  tempat  terbuka,  ia  akan  menghubungi  Andrew dan  meminta  supaya  penyadap  sialan  itu  dienyahkan  saja.  Ia  tidak mau membawa barang ini kembali ke rumah ini nanti. Kalau Andrew tidak setuju, akan dibuangnya di tempat sampah di Lafayette atau di Champs-Élysées.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊