menu

Eiffel, Tolong! Bab 12: Refleksi

Mode Malam
Refleksi

FAY ada di rumah latihan, duduk di meja belajar di kamarnya sambil melihat ke luar jendela di hadapannya. Tidak ada yang menarik di luar selain bahwa pemandangannya sangat menyegarkan mata, kombinasi berbagai warna hijau pucuk pepohonan dengan warna biru cerah yang dimiliki langit yang sedang ceria.

Sambil lalu ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya: pukul 16.00, hari Sabtu. Yup, ia tidak salah lihat. Sudah pukul 16.00. Kurang dari 24 jam lagi waktunya tiba untuk menjalani perannya.

Ia mendesah dalam galau.

Waktu memang sangat tidak bersahabat pada dirinya di minggu keduanya di Paris. Kejadian demi kejadian terjadi dan lewat begitu saja. Waktu kecil ia selalu membayangkan bahwa detik berjalan dan hari berganti karena sang waktu yang berwujud sebuah beker yang sangat besar, diputar engkolnya oleh seorang raksasa berjanggut yang memakai topi kurcaci. Itulah sebabnya menjalani satu satuan waktu tidak pernah sama rasanya. Suatu waktu raksasa itu memutarnya dengan malas sambil tersandung-sandung mengantuk, di saat lain ia terburu-buru menyelesaikan tugasnya, memutar engkol penggerak waktu dengan cepat dan bersemangat, seperti saat ini.

Perpisahannya di sekolah kemarin sama sekali tidak berkesan dan berlalu begitu saja. Selain Reno, teman sekelasnya yang lain mengambil kelas empat minggu, jadi masih ada waktu dua minggu lagi bagi mereka. Di jam makan siang, semua makan bersama di kafeteria, termasuk M. Thierry. Reno segera menjadi pusat perhatian dengan kelucuan dan keramahannya, dan Erika tidak ragu-ragu menunjukkan ketertarikannya pada Reno. Fay sendiri mengambil tempat duduk di pinggir, sejauh mungkin dari Reno dan Erika, dan lebih banyak diam. Siang itu diakhiri dengan foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Reno juga seperti mengerti keengganan Fay untuk bercakapcakap setelah kejadian hari sebelumnya dan tidak banyak berbicara dengannya. Hanya sekali saja ia sempat bercakap-cakap dengan Reno kemarin, ketika Erika yang sebelumnya sibuk mengganduli Reno pergi ke kamar mandi. Saat itu mereka hanya bercakap-cakap sebentar seputar rencana menghabiskan sisa liburan, kemudian mereka bertukar alamat e-mail. Sebelum berpisah di sore hari, Reno mengecup kening Fay sambil berbisik lembut supaya ia menjaga dirinya baik-baik. Entah perasaan saja atau bukan, Fay merasa tatapan Reno memancarkan perhatian yang berbeda, yang tidak pernah diterima oleh dirinya yang dibesarkan sebagai anak tunggal. Tapi kalau seperti ini rasanya diperhatikan oleh seseorang yang pantas menjadi kakaknya, Fay tidak keberatan. Walaupun kadang Reno bisa sangat menyebalkan, pikirnya sambil tersenyum tipis mengingat kejadian minggu itu.

Fay melirik kopernya yang tergeletak di sudut ruangan. Secara resmi, ia sudah pergi meninggalkan Paris tadi pagi. Setidaknya menurut Jacque dan Celine, pikirnya.

Celine menemaninya membereskan koper itu tadi malam. Fay tersenyum mengingat bagaimana Celine berusaha keras membantunya supaya barang-barangnya tersusun rapi di koper. Sambil memasukkan barang-barang itu, Celine mengulang kembali pernyataannya dulu bahwa dia berpendapat tidak sepatutnya jadwal Fay terlalu padat liburan ini, sehingga ia jadi kurus begitu. Tapi dia buru-buru menambahkan dia ikut senang dengan perubahan itu. Yang membuat Fay agak menyesal adalah ketika Celine mengatakan sayang sekali mereka tidak banyak menghabiskan waktu bersama, padahal dia ingin sekali tahu apa rasanya ada anak perempuan yang tinggal di rumahnya. Saat itu Fay hanya menjawab kalau jadwalnya tidak sepadat itu, ia pasti akan lebih sering ada di rumah.

Sementara Celine membantunya beres-beres, Jacque duduk di kursi depan meja komputer dan bercerita dengan bersemangat tentang banyak hal, mulai dari toko bukunya yang ramai sekali dikunjungi pelanggan selama dua minggu ini, hingga partai buruh yang sudah sedemikian dekat memberi instruksi mogok kerja. Pria itu berceloteh tidak berhenti—di sela-sela ocehan Celine—seakan berusaha mengejar ketinggalan selama dua minggu ini tidak bisa mengobrol dengannya. Fay menanggapi semua cerita pria itu dengan antusiasme yang diiringi perasaan bersalah.

Perasaan bersalah itu semakin memenuhi dirinya, saat melihat Jacque dan Celine melambaikan tangan di depan rumah setelah memeluknya erat, melepas kepergiannya dengan pandangan hangat yang masih sama dengan saat mereka menyambutnya dua minggu yang lalu. Ia pun membalas lambaian tangan mereka dari dalam mobil yang membawanya ke bandara, mobil yang sama dengan yang membawanya dua minggu lalu ke rumah itu.

Setelah sampai di bandara dan diturunkan di terminal keberangkatan, ia langsung masuk ke terminal. Ketika melihat mobil yang mengantarnya berlalu, ia kembali keluar dan menelepon ke satu nomor yang diberikan oleh Andrew. Tidak lama kemudian Lucas datang dan dengan berat hati ia masuk ke mobil dan membiarkan Lucas membawanya kembali ke rumah latihan ini. Fay ingat ketika melangkah masuk ke terminal, terpikir olehnya apa yang akan terjadi kalau ia nekat check in dengan tiket yang ada di tangannya, kemudian naik ke pesawat dan meninggalkan kota ini. Tapi pikiran itu entah kenapa tidak membuat kakinya melangkah lebih jauh dan mencoba pilihan tersebut.

Kembali Fay mendesah dan melirik jamnya. Sepuluh menit lagi ia harus menemui Andrew di ruang kerjanya. Tadi pagi pria itu sudah membahas ulang semua topik yang sudah diajarkan, termasuk detail tentang Seena. Sore ini ia akan membahas sekali lagi tugas yang harus dikerjakan Fay saat menjadi Seena dan hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukannya.

Untuk segala hal yang berkaitan dengan Andrew, lebih baik datang lebih awal daripada terlambat, pikir Fay sambil beranjak pergi.

Setelah makan malam, Fay merebahkan tubuh di tempat tidur kamarnya di lantai dua. Ia menatap langit-langit sementara pikirannya melayang, menapaki hari demi hari yang dijalani sejak menginjakkan kaki di bumi Paris.

Tidak terhitung banyaknya kejadian yang telah terjadi dan dialami selama dua minggu dirinya berada di tempat ini. Emosinya sudah bergejolak naik-turun, fisiknya juga sudah terkuras habis. Yang membuatnya kini bertanya-tanya adalah nasibnya setelah besok. Rasanya seumur hidupnya ia tidak pernah segundah ini menghadapi hari esok. Perasaan cemas mau ujian tanpa belajar saja tidak pernah sebesar ini, pikirnya gelisah sambil membalikkan badan, seolah menyiapkan diri untuk mendengar kemungkinan terburuk yang akan segera diumbar pikirannya.

Seperti apa pertemuan dengan Alfred, yang akan menjadi pamannya?

Bagaimana kalau ia gemetar hingga ketahuan?

Atau bagaimana kalau ia tidak sanggup berkata-kata karena ketakutan ketika melihat Alfred? Apa yang terjadi kalau ia ketahuan? Apakah ia akan mati?

Apa kata Mama, Papa, dan teman-temannya?

Tapi kalau mati, ia tidak perlu lagi khawatir akan apa yang mereka pikirkan.

Apakah mereka akan menangis kalau ia mati? Apakah ia akan mereka lupakan?

Apakah mati itu rasanya sakit?

Apa rasanya dikubur di dalam tanah? Dosanya banyak tidak ya?

Ia kan masih muda, apakah ia layak mati?

Pertanyaan yang terakhir dijawab dengan mudah oleh pikirannya sendiri. Bahwa semua orang bisa mati, Fay sudah tahu. Berdasarkan keyakinan yang dianutnya, tidak ada yang pantas menentukan kelayakan seseorang hidup di dunia kecuali yang Mahakuasa, dengan alasan yang hanya Dia yang tahu. Tapi kenapa rasanya penjelasan itu rasanya tidak berlaku baginya saat ini? Seolah ada tangan lain yang berusaha ikut campur dengan rencana-Nya.

Atau inikah rencana-Nya pada dirinya, menggunakan tangan itu sebagai penentu nasibnya?

Fay membalikkan badan membelakangi pintu dengan gelisah. Kali ini yang muncul adalah Kent. Di dadanya kini ada rasa perih. Batu besar yang sebelumnya sudah bercokol menimpa dadanya hingga sakit, terasa seperti menambah massanya.

Kenapa dia tidak muncul sama sekali tanpa penjelasan? Tidak ada artinyakah ciuman yang dia berikan?

Tidak ada artinyakah semua yang mereka jalani minggu lalu berdua?

Jujurkah dia ketika berkata tidak bisa datang karena ada tugas dari pamannya?

Kalau Kent jujur, lantas sampai kapan Fay harus menunggu?

Bagaimana kalau ia mati tanpa pernah bertemu pemuda itu lagi? Betapa egoisnya Kent, membiarkan Fay menunggu tanpa berani berkorban untuk dirinya.

Andrew memang kejam, tapi kalau Fay bisa berkorban untuk pemuda itu, kenapa Kent tidak bisa melakukan hal yang sama untuk dirinya?

Bayangan demi bayangan kejadian selama hampir dua minggu bersama Kent berkelebatan di benak Fay, dimulai dari pertemuan pertama mereka, saat-saat menjengkelkan sewaktu Kent sengaja menyusahkannya, saat ia berdiri di depan Andrew berusaha menjawab pertanyaannya sementara Kent melihat dengan gelisah, saat mereka berdua menghadapi Andrew dan merasa senasib ketika mendapat ganjaran pukulan di tangan, saat Kent mengajarinya dengan sabar dan sungguh-sungguh di Nice, saat mereka berciuman untuk pertama kalinya, saat Kent datang mengajaknya makan siang, diakhiri dengan saat Kent datang untuk memberitahunya dia tidak bisa pergi.

Air mata mulai menggantung di pelupuk mata Fay. Bayangan Reno kemudian muncul.

Ketika ingatan akan perkataan Reno tentang Kent muncul di benaknya, air mata itu tumpah tanpa ragu. Semua emosi Fay tumpah ruah dalam tetes demi tetes air mata yang kini sudah mengalir deras, membawa berjuta ketakutan, berjuta kekecewaan, berjuta kesedihan, dan berjuta empasan mimpi akan hari esok, tapi meninggalkan jutaan lainnya yang tidak ada habisnya dalam hatinya.

Terdengar suara pintu terbuka. Andrew masuk.

Tidak seperti biasanya, kali ini hati Fay menolak untuk menghentikan tangisnya. Kedatangan pria itu bagaikan menghadirkan kembali jutaan perasaan buruk yang berusaha dilepasnya. Fay tetap terisak di tempat tidurnya, tidak peduli lagi apa yang akan terjadi.

Dari sudut matanya yang kini sudah membiaskan semua gambar lewat pantulan butir-butir air mata yang ada di sana, ia melihat Andrew mendekat, berjalan mengitari tempat tidur ke hadapannya. Andrew meraih lengan Fay, menariknya untuk berdiri dan tanpa disangka-sangka olehnya, pria itu menariknya ke dalam pelukannya. Tangisnya kembali pecah.

Andrew memeluknya erat, menenangkan Fay dengan sesekali mengusap punggungnya hingga akhirnya gadis itu bisa mengatur isak dan napasnya. Kemudian pria itu mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.

Fay berkata dengan suara sengau dan gemetar, ”Bagaimana kalau saya tidak bisa melakukan tugas ini? Bagaimana kalau saya ketahuan? Apa yang akan terjadi?”

Dengan lembut Andrew menjawab, ”Fay, saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan kamu, tidak ada yang bisa menjawab apa yang akan terjadi hari esok. Tapi satu hal yang pasti, saya sudah mempersiapkan kamu untuk melakukan tugas ini, dan kamu memang sudah siap melakukannya.”

Andrew kemudian melanjutkan dengan nada lebih tegas, ”Saya tidak pernah salah menilai orang dan penilaian saya mengatakan bahwa kamu bisa melakukan tugas ini. Hasil tes yang kamu kerjakan hari Minggu lalu di Nice juga mengonfirmasikan keyakinan saya. Dan percayalah Fay, kalau ada setitik ragu saja dalam diri saya, perjalanan kamu tidak akan sampai sejauh ini.”

Fay tidak tahu ia harus berbesar hati atau makin menciut dengan pernyataan terakhir Andrew yang bisa diartikan ganda, tapi akhirnya ia memilih untuk berbesar hati.

Andrew berdiri dan berkata, ”Cobalah untuk beristirahat malam ini. Buatlah agar pikiran kamu yang menguasai hati, dan bukan sebaliknya.” Dia menunduk, mengecup kening Fay, kemudian berlalu sambil berkata, ”Selamat istirahat.”

Fay mendapati dirinya terbengong-bengong menatap pintu yang ditutup oleh Andrew, tidak yakin apakah kejadian tadi nyata atau hanya khayalannya akibat rasa putus asa.

Akhirnya ia berdiri.

Khayalan atau bukan, perkataan Andrew benar, pikirnya. Ia harus mulai menggunakan pikirannya dan meninggalkan hatinya yang dipenuhi segudang kenangan tentang Kent, setidaknya sampai semua ini berakhir. Reno juga benar. Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya untuk pemuda itu, terlebih sekarang ketika hari untuk menjalankan tugas ini sudah hampir terasa tiupannya.

Sekarang, ia akan menggunakan peralatan mandi Seena untuk membasuh dirinya, kemudian menyemprotkan sebanyak mungkin parfum Seena ke tubuhnya. Supaya malam ini ia tidur bukan sebagai dirinya tapi sebagai Seena, pikirnya membulatkan tekad sambil beranjak ke kamar mandi.

Kent duduk termenung di tepi tempat tidurnya, di kediaman pamannya di pinggiran Paris. Matanya tepekur menatapi foto yang dipegang di tangannya, yang dicetak dari gambar di telepon genggamnya. Gambar ini adalah satu-satunya yang tersisa dari kenangan akan seorang gadis bernama Fay, yang baru dikenalnya dua minggu belakangan ini namun telah membawa begitu banyak pergolakan dalam dirinya. Baik dan buruk.

Baik, karena si ceriwis Fay yang ada di gambar itu, telah menghangatkan hari-harinya dengan gelak tawanya, telah meluluhkan hatinya dengan sorot jenaka matanya, telah mengingatkannya betapa berharganya detik demi detik yang dijalani dengan cinta.

Kent tidak tahu bahwa rasa cinta masih bisa menyinggahi dirinya, yang tidak pernah dicintai dan mencintai. Rasa yang pada awalnya tidak diketahuinya ada, tapi rasa yang ketika ada begitu menenangkan batinnya. Sebuah rasa yang mendadak muncul saat melihat gadis itu berdiri dengan tegar di depan pamannya dan melakukan pengorbanan bagi dirinya.

Ia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya tapi ia yakin Fay tahu dan juga menikmati saat-saat yang mereka jalani berdua. Cara gadis itu tertawa, binar-binar yang tertangkap matanya ketika gadis itu membalas tatapannya dan kecupan bibirnya, rasanya tidak mungkin salah ia artikan.

Tapi ini juga berarti buruk, karena Kent tidak boleh membiarkan dirinya jatuh cinta. Tidak mungkin, dengan hari-hari yang akan dijalaninya. Cinta bisa melemahkannya. Rasa yang indah itu pun sekarang sudah menjelma menjadi sakit yang terasa hingga ke tulang, seperti jiwa dan raganya dikikis dari dalam oleh entah apa.

Ia tahu rasa itu tidak boleh dibiarkan tumbuh, bahkan sebelum kejadian dua hari yang lalu. Tangan kanannya tanpa sadar menyentuh luka di bagian dadanya yang masih sakit. Ingatan akan kejadian dua hari yang lalu memanggil ingatan kejadian di hari Minggu yang mengawali semuanya.

Malam itu ia tiba di rumah pukul 18.50, setelah sebelumnya menemani Fay menghabiskan sore dan mengalami saat-saat yang terasa mengangkat hatinya hingga seringan kapas. Ia berlari kecil menuju pintu, dengan langkah yang seringan hatinya. Hampir pasti terlambat untuk ritual makan malam, mengingat ia masih di pintu masuk, sama sekali belum bersiap-siap, dan kamarnya ada di sayap lain dari rumah yang lebih cocok disebut kastil itu. Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Andrew yang sedang menuruni tangga yang melingkar turun ke ruang penerimaan tamu yang luas. Pamannya itu sudah berpakaian rapi untuk makan malam dan menyambut kedatangannya dengan tatapan dingin.

”Tidak seharusnya kamu menghabiskan waktu dengan Fay. Tugas kamu mengawasi Fay sudah selesai ketika saya menyuruh kamu pulang ke Paris tadi pagi.”

Kent mengumpat dalam hati. Ia tidak mengerti bagaimana pamannya bisa tahu padahal ia yakin tidak dibuntuti.

”Saya hanya mengajaknya berjalan-jalan di distrik Le Marais. Fay belum sekali pun berkesempatan menikmati liburannya di Paris, jadi saya menemaninya melihat objek-objek wisata di sekitar distrik itu,” Kent berusaha berkata sedatar mungkin seolah hal itu tidak penting, tapi ia mengutuk dirinya dalam hati karena ia bisa menangkap nada ringan dan bahagia yang ada di intonasinya.

”Itu bukan alasan.” ”Maaf, Paman,” katanya sambil menghindari tatapan pamannya. ”Saya akan segera bersiap-siap untuk makan malam.” Ia pun berlalu, menaiki tangga yang melingkar itu. Ia sama sekali tidak menyesal.

Keesokan harinya, pamannya mendadak memberitahunya bahwa hari itu ia tidak perlu datang ke rumah latihan, dan memberikannya tugas lain. Kent yakin hal ini pasti berkaitan dengan kejadian di hari sebelumnya.

Hari Selasa, ia memutuskan untuk menemui Fay. Tanpa disangka-sangka ia bertemu dengan Reno, yang kemudian mengajaknya bertemu sore itu. Sebuah ajakan yang langsung ia tanggapi karena rasa ingin tahunya juga terusik dengan keberadaan Reno di tempat yang sama. Jantungnya seperti berhenti berdegup ketika tahu Fay berada di bawah observasi pamannya.

Keesokan harinya, pamannya kembali memberikan tugas. Kali ini menyita waktu Kent hingga seharian sehingga janji makan siang dengan Fay terpaksa batal. Untungnya ia berhasil menyempatkan diri untuk mampir dan bertemu gadis itu untuk sejenak melepas resah sambil menyampaikan sendiri kabar kurang menyenangkan itu. Ia saat itu sempat menimbang-nimbang untuk memberikan satu telepon genggam secara diamdiam yang bisa dipakainya untuk berkomunikasi dengan Fay tanpa termonitor. Tapi ide itu ditepisnya sendiri, karena risikonya terlalu tinggi. Sebenarnya ia masih bisa menanggung konsekuensinya, tapi ia tidak sanggup membayangkan bila Fay juga sampai harus merasakannya.

Kamis pagi, Kent sudah berada di gerbang depan ketika penjaga menyampaikan pesan pamannya yang menyuruhnya kembali. Dengan heran ia memutar mobilnya dan kembali. Ketika turun dari mobil, ia langsung disambut oleh dua orang penjaga yang langsung berdiri di sisi kiri dan kanannya. Salah satu dari mereka berkata padanya, ”Silakan ikuti kami.”

Jantung Kent berdegup, ada yang tidak beres. Sambil berusaha berpikir apa kira-kira kesalahan yang ia buat, ia mengikuti mereka ke bawah melewati tangga batu yang ada di selasar menuju ruang tengah. Melihat arah mereka berjalan, hanya ada dua kemungkinan yang menjadi tujuan mereka saat itu, salah satunya adalah The Meeting Room atau Ruang Pertemuan, sebuah ruangan dengan meja besar dan kursi yang mengelilinginya, yang hanya digunakan oleh Andrew beserta pamannya yang lain bila mereka akan memutuskan sesuatu tanpa risiko termonitor oleh pihak mana pun.

Pintu masuk ke Ruang Pertemuan tepat berada di sebelah kanan mereka dan mereka melewatinya begitu saja. Jantung Kent berdegup lebih kencang, berarti tujuan mereka adalah The White Room atau Ruang Putih. Ruang ini adalah versi yang lebih ringan dari ruang sejenis yang ada di markas COU, dimasuki hanya oleh mereka yang berbuat kesalahan atau perlu dipaksa untuk mengungkapkan suatu kebenaran. Di COU, ruang ini juga dimasuki oleh seorang pimpinan operasi di akhir tugas, tapi tidak di rumah. Dan mengingat bahwa tugasnya belum selesai, Kent yakin bukan yang terakhir itulah alasan ia dibawa ke sana.

Otaknya berpikir keras, berusaha mengingat tugas yang akhir-akhir ini diberikan kepadanya dan apakah ia melakukan kesalahan yang cukup fatal hingga harus memasuki ruang ini, tapi tanpa hasil. Mereka berhenti di depan pintu masuk Ruang Putih dan salah satu dari pengawal itu membuka pintu tanpa suara. Sesuai namanya, ruang itu bernuansa putih, mulai dari lantai, dinding, langit-langit, sehingga berada di dalamnya akan terasa seperti melayang di tempat yang tak bertepi tanpa arah. Mungkin memang itu tujuannya. Di tengah ruangan ada satu kursi kayu yang terpatri ke lantai, yang merupakan satu-satunya benda yang berada di ruangan itu. Ke sanalah kedua penjaga itu sekarang mengarahkannya.

Mereka menyuruh Kent menanggalkan bajunya, menyuruhnya duduk, mengikat tangan dan kakinya dengan pengikat dari kulit yang ada di kursi, setelah itu mereka keluar, salah satu masih memegang bajunya, dan menutup pintu.

Kent menatap pintu yang tertutup, yang di sisi ini juga berwarna putih, dengan perasaan tegang menanti seseorang masuk, sambil sesekali melirik ke kamera yang terpasang di atas pintu, terarah ke kursi tempat ia sekarang terikat tidak berdaya. Ia yakin Andrew atau seseorang pasti sedang memperhatikan dirinya di layar TV di suatu ruangan di kastil ini, dan tidak lama lagi orang itu akan masuk untuk memberinya hukuman atas entah apa yang telah ia lakukan. Tubuhnya terasa dingin dan ia mulai gelisah.

Dugaan Kent tidak salah, selang tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan Andrew masuk. Jantung Kent kembali berdegup ketika melihat apa yang dibawa oleh Andrew. Di tangannya ada benda yang ukurannya sebesar walkie-talkie, hanya saja ujungnya bisa mengeluarkan arus listrik. Dan tidak seperti alat sejenis yang akan membuat korbannya tidak sadarkan diri sejenak, alat ini dirancang untuk membuat korbannya tetap dalam keadaan sadar dan bisa merasakan gigitan demi gigitan arus listrik yang merasuk hingga ke tulang.

Setelah menutup pintu, Andrew berjalan lurus ke arahnya. Kengerian Kent tumbuh seiring dengan langkah kaki Andrew yang makin mendekat ke arahnya, dan memuncak ketika Andrew tanpa bicara sepatah kata pun, menempelkan alat tersebut ke dadanya yang telanjang. Dengan penuh horor, Kent menyaksikan jari pria itu membuka klip pengaman dan menyentuh tombol merah yang ada di sana.

Selanjutnya Kent merasa napasnya terputus ketika tubuhnya mengejang, setiap inci tubuhnya teregang, semua ototnya tertarik, dan detak jantungnya seakan kehilangan irama. Entah berapa lama alat itu menempel di dadanya, pastinya hanya beberapa detik walaupun rasanya seperti neraka yang takkan pernah berakhir.

Mendadak Kent merasakan suatu kehampaan yang melegakan ketika alat itu ditarik dari tubuhnya, yang kini rasanya seperti tidak bertulang, dan semua otot di sekujur tubuhnya terasa gemetar. Suara teriakan yang sedari tadi sudah tertahan pun keluar dari mulutnya, disusul dengan deru napas yang memburu. Kelegaannya tidak bertahan lama karena alat itu dilekatkan lagi ke tubuhnya dan kembali napasnya terasa seperti ditarik tangan-tangan tak terlihat di dadanya. Ototnya kembali teregang seakan ingin melompat keluar dari tubuhnya yang bergerak liar tanpa arah.

Ketika alat itu ditarik kembali, Kent sudah tidak punya nyali untuk merasa lega. Suara napasnya yang memburu diselingi erangan lirih menahan sakit di sekujur tubuhnya adalah satusatunya suara di ruangan itu, seakan berusaha menyesuaikan tempo dengan jantungnya yang masih berdegup tanpa irama.

Suara Andrew yang tenang dan bening bagaikan membelah ruangan, ”Buang jauh-jauh pikiran itu.”

Kent menatapnya dengan bingung, masih berusaha menyesuaikan napasnya dan belum mampu mengeluarkan suara lain, dan sepertinya Andrew membaca arti tatapannya. ”Buang jauhjauh semua pikiran tentang Fay. Bagi kamu, dia tidak nyata. Jadi apa pun yang kamu rasakan, tidak boleh ada.”

Setengah tidak percaya Kent mendengarkan apa yang dikatakan Andrew, sejenak lupa dengan segala rasa sakit yang saat itu ada.

Ini tidak masuk akal, bahkan untuk mencintai saja aku tidak punya hak!

Andrew melanjutkan kalimatnya, kali ini dengan nada tajam sambil menatapnya tanpa berkedip, ”Kalau kamu sekali lagi menghubungi Fay tanpa perintah dari saya, yang akan duduk di kursi ini adalah dia. Dan dia akan merasakan hal yang sama dengan yang baru saja kamu rasakan, hanya saja rasa sakit itu tidak akan disebabkan tangan saya, karena saya akan memastikan tangan kamulah yang melakukannya. Jadi, kecuali kalau kamu memang menikmati pikiran tentang Fay yang menjerit kesakitan di ujung tanganmu, saya sarankan kamu tetap mengikuti protokol.” Kalimat yang sangat lugas maknanya, dan keluar dari mulut Andrew, Kent tidak ragu bahwa itulah yang akan terjadi jika ia tidak mundur.

Menghela napas, tangan kanannya meraih sepucuk korek api yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidur. Dengan tatapan yang masih lekat ke wajah Fay di foto, hanya dengan satu tangan ia membuka lipatan koreknya, menyobek batang korek dari tempatnya dan menggesekkannya hingga api tersulut dan mulai menyala di pucuk batangnya.

Belum rela, ia membiarkan batang pertama itu hampir habis di tangannya sebelum akhirnya ia tiup dan ia lempar ke tempat sampah yang berada di sisi meja.

Ia menyulut batang kedua.

Lagi-lagi belum rela. Kembali dilemparkan batang yang tersisa. Kali ini bahkan ia tidak melihat ke arah mana ia melempar.

Batang ketiga. Ia dekatkan apinya ke foto, ke sisi yang paling jauh dari wajah Fay, sehingga ia masih punya waktu untuk menikmati senyum yang ada di wajah itu, Senyum yang begitu menenangkan, batin Kent berkata sambil setengah berharap api itu akan mati tiba-tiba sehingga ia bisa lebih lama lagi menikmatinya.

Ketika api mulai menjilat gambar wajah Fay, Kent bangkit dari tempat tidur dan membuang apa yang tersisa di tangannya ke tempat sampah.

Ekspresi di wajahnya tidak berubah ketika ia membuka tas yang tergeletak di tempat tidur dan mengeluarkan sepucuk senjata.

Ia menepis bayangan Fay jauh-jauh. Ia sangat mencintai Fay, amat sangat mencintainya, hingga ia tidak boleh melibatkan Fay dalam hidupnya. Andrew memperhatikan gerak-gerik Fay di laptopnya di ruang kerja. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi dan sedang bersiap-siap untuk melakukan ritual agamanya.

Andrew tersenyum. Profil yang disusunnya tentang gadis itu tidak meleset; gadis itu cenderung untuk melakukan ritualnya dalam keadaan tertekan. Entah karena itu merupakan tempat pelarian semata atau karena gadis itu menemukan kekuatan di sana.

Well, bila dengan melakukan ritual itu Fay bisa melakukan tugasnya lebih baik, saat ini Andrew tidak ambil pusing.

Tangannya kemudian meraih salah satu berkas berisi laporan Reno tentang pengamatannya terhadap Fay selama di L’ecole de France. Ia membaca ulang cuplikan tulisan yang menarik perhatiannya di minggu kedua:

Selasa

...Kent datang ke sekolah dan pergi makan siang bersama Fay... berciuman di depan sekolah….

…memperingatkan Fay supaya tidak menganggap serius hubungan dengan Kent dengan menimbulkan kesan seolah-olah Kent hanya mempermainkannya... ditanggapi dengan kemarahan yang tidak diungkapkan langsung (silent treatment)....

…menghubungi Kent dan memperingatkannya untuk tidak datang lagi ke sekolah (catatan: Kent berencana untuk kembali mengajak Fay makan siang besok)….

Rabu

…Fay masih menunjukkan kemarahannya dengan diam. tidak

terlihat tanda-tanda dia akan mengungkap kemarahannya secara terbuka....

Kamis—urgent—

Baru menerima laporan bahwa Kent tetap datang ke sekolah kemarin, walaupun tidak makan siang bersama Fay.

Fay baru menunjukkan kemarahannya secara frontal ketika dikonfrontasi.... Kamis

…Kent tidak datang di jam makan siang. Fay mengekspresikan kekecewaan dan kemarahan dengan berjalan cepat tanpa tujuan. Dia bertemu empat pemuda yang mencegatnya minggu lalu di stasiun Montgallet dan ketika mereka mengejarnya, Fay berlari kembali ke arah jalan yang sebelumnya dilewati...

…memberi peringatan lagi kepada Fay supaya tidak menganggap apa   yang   terjadi   pada   Kent   sebagai   sesuatu   yang   serius... pertahanannya akhirnya pecah dan dia menangis….

Andrew melirik kolom ”Rekomendasi” di laptopnya yang harus diisi dengan tindakan yang akan diambil sehubungan dengan gadis ini, dan ia termenung sesaat.

Menurut pengamatannya selama dua minggu ini, Fay adalah gadis yang belum terlalu matang, dengan emosi yang masih meledak-ledak. Spontanitas gadis itu cukup tinggi; berarti dia tidak pernah berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, dan itu berarti dia belum terbiasa menimbang-nimbang risiko.

Kelebihan gadis ini sejauh pengamatan Andrew hanyalah bahwa dia secara alami merupakan seorang pengamat yang baik, dan hasil tes minggu lalu di Nice juga menunjukkan dia mempunyai daya analisis yang cukup tajam. Sayangnya dengan kebiasaannya yang sering kali tidak pikir panjang sebelum melakukan sesuatu, kemampuannya yang terakhir itu jarang dipakai.

Fay juga mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar, dan membuka diri terhadap suatu pengalaman baru, sesuatu yang bisa berarti baik tapi bisa juga mematikan dalam bisnis ini.

Andrew bersandar ke kursi dan membiarkan otaknya berputar sejenak mengingat Alfred Whitman yang akan menjadi target operasinya besok, yang baru saja ditemuinya kemarin. Fakta bahwa pria itu menunjukkan keberatan atas syarat yang ia ajukan dalam penawaran pembelian saham dan mengusulkan penjadwalan ulang untuk membahas masalah yang sama setelah revisi, tidak membuktikan apa pun selain bahwa dia adalah seorang negosiator yang teliti dan tahu cara berbisnis. Bila pria itu memang seperti yang ditunjukkan, seorang pengusaha sukses biasa, maka rencana Andrew ini tidak akan menempatkan gadis itu dalam posisi berbahaya. Tapi bila tidak, risikonya akan sangat besar. Dalam kasus normal, ia akan menyiapkan satu tim cadangan yang akan langsung menyerbu masuk bila ada yang berjalan tidak sesuai rencana.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang sesaat, Andrew mengetik rekomendasinya:

”Keselamatan dalam tugas bukan prioritas. Evaluasi ulang kemungkinan eliminasi setelah tugas selesai.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊