menu

Eiffel, Tolong! Bab 11: Sebuah Keraguan

Mode Malam
Sebuah  Keraguan

HARI Kamis pagi, Fay tiba lebih awal di sekolah, seperti kebiasaannya semula. Ia tidak ingat sama sekali dengan keinginan datang telat seperti kemarin supaya tidak punya kesempatan berbicara dengan Reno, sampai melihat muka Reno lima menit kemudian muncul di pintu. Rasa kesal langsung memenuhi dirinya dan ia langsung pura-pura sibuk membuka buku pelajaran untuk melihat-lihat topik yang akan diberikan hari ini.

”Bonjour,  Fay.  Ça  va?”  Reno  menegurnya.

”Bien, merci,” jawab Fay singkat tanpa melepas pandangan dari bukunya.

Reno duduk di sampingnya dan bertanya, ”Kamu masih marah?”

Fay diam. Tangannya dengan lincah membolak-balik lembaran buku pelajaran.

”Apa ada yang salah?” tanya Reno lagi.

Kali ini Fay menoleh, tidak percaya dengan pendengarannya. Setelah yakin telinganya masih berfungsi dengan baik saat melihat Reno menatapnya dengan ekspresi bertanya tanpa perasaan bersalah sedikit pun, ia membalas tatapan Reno sambil melotot.

Kok bisa-bisanya Reno tidak menyadari kesalahannya? Kemarahan Fay yang sudah terpendam sejak dua hari yang lalu memuncak. ”Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu hari Selasa waktu aku baru pulang makan siang dengan Kent...” Napas Fay sudah tak bisa diatur, berusaha melepas emosi yang sejak kemarin tidak terlampiaskan.

Reno memajukankan badannya. ”Fay, aku cuma tidak mau kamu nanti menyesal. Kamu kan di Paris hanya sementara, jadi jangan terlibat terlalu dalam dengan orang yang baru kamu kenal.”

Reno melanjutkan lagi, ”Yah, kecuali kalau memang itu yang kamu inginkan, habis-habisan dengan seorang pemuda selama dua minggu, membiarkan diri kamu dimanfaatkan sepuas yang dia mau, kemudian ’bye bye love’.”

Rasa kesal Fay yang mulai mereda dengan perkataan awal Reno yang sepertinya masuk akal, naik lagi mendengar kalimat Reno yang terakhir.

”Dia sama sekali tidak memanfaatkanku. Kalau dia memanfaatkanku, berarti aku juga memanfaatkan dia. Jadi, tidak ada masalah, kan?” ucapnya keras kepala.

Reno menggeleng putus asa. Akhirnya dia kembali berbicara, ”Fay, pada akhirnya kamu yang akan dirugikan dengan kondisi ini. Pemuda itu tinggal melenggang pergi, meninggalkan kamu dengan mimpi ’kisah cinta sejati dengan seorang pangeran’.”

Reno melanjutkan lagi, ”Lihat saja kemarin. Aku tahu kamu berencana pergi makan siang dengan dia dan aku tahu kamu pasti sudah menantikannya. Tapi ternyata dengan gampangnya dia membatalkan janji itu. Siapa tahu dia sudah ada janji dengan gadis lain yang juga sedang mengikuti kursus musim panas di tempat lain.”

Fay mengerutkan kening, ingin bertanya bagaimana Reno tahu ia ada janji makan siang dengan Kent, tapi keinginan itu tertutup perasaan lain yang tiba-tiba muncul. Ia merasa ada sebagian dirinya yang tersulut perkataan Reno karena perkataannya mengundang pikiran lain. Ia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya yang menyebabkan Kent membatalkan janji makan siang mereka kemarin, selain penjelasan sederhana bahwa dia melakukan sesuatu yang diperintahkan pamannya. Urusan yang menyangkut pamannya adalah prioritas nomor satu, dan Fay, bahkan kalau Kent memang benar menyayanginya, ada di urutan selanjutnya.

Fay terpaku sejenak. Pikirannya barusan malah mengundang pikiran lain. Kent tidak pernah mengatakan bahwa dia menyayangi dirinya.

Fay mendadak tersadar Reno masih menatapnya dan memutuskan untuk tetap menjawab, walaupun keyakinan yang sebelumnya memberinya kekuatan sudah mulai terkikis. ”Makan siang aku dan dia kemarin memang batal karena dia ada urusan mendadak. Tapi setidaknya dia datang untuk memberitahu aku langsung.”

”Apa maksud kamu, kemarin dia datang?” tanya Reno kaget sambil menegakkan badan.

”Iya, dia kemarin datang ke sini dan dia juga janji bahwa nanti siang akan datang lagi,” jawab Fay penuh kemenangan. ”Bahkan kalaupun dia siang ini tidak bisa makan siang bersama, dia pasti akan datang. Aku rasa itu sudah membuktikan kalau dia tidak main-main,” sambungnya lagi.

Reno terdiam sebentar kemudian mengangkat bahu. ”Kita lihat saja nanti.”

Rocco masuk ke kelas dan Reno berdiri. ”Aku mau ke kamar mandi sebentar.”

Saat istirahat siang, Fay berdiri di depan papan pengumuman di lobi, melihat-lihat berbagai kertas yang ditempelkan saat terdengar panggilan tak sabar di belakangnya, ”Fay, ayo!”

Fay menoleh. Yang dilihatnya adalah Reno yang memandangnya dengan tatapan tak sabar, dan ia menjawab, juga dengan nada tak sabar, ”Aku kan sudah bilang hari ini Kent akan datang untuk menemuiku.”

Reno mengangkat bahu sambil lalu. ”Ya sudah. Aku ada di kafeteria kalau kamu berubah pikiran.” Dia pun menghilang ke balik pintu.

Satu setengah jam kemudian, Fay sudah melihat bayangan dirinya yang terpantul di kaca depan kafe yang sama yang dikunjunginya dua hari lalu bersama Kent.

Bedanya, kali ini hanya ada dirinya di pantulan kaca itu, dengan perasaan yang jauh dari melayang-layang. Perasaannya sekarang terseok-seok mengikuti langkahnya melewati kafe itu tanpa keinginan setitik pun untuk melangkah masuk. Dengan cepat ia melewati pintu kafe itu, berjalan tanpa tujuan. Yang ada di benaknya saat ini adalah membuat kakinya bergerak hingga lelah, supaya pikirannya tidak punya ide untuk memasuki relung hatinya yang sudah berharap bisa menumpahkan air mata.

Di tikungan ia berbelok ke kiri kemudian kakinya mengarahkannya lurus ke depan hingga bertemu lagi dengan perempatan jalan. Kali ini kakinya ingin menyeberang jalan. Setelah menyeberang, kakinya kembali melangkah lurus susul-menyusul seperti setengah berlari. Ada satu keluarga, sepasang suami-istri yang mendorong stroller bayi di depannya sedang berjalan pelan. Lewati.  Kakinya bergerak menyamping dan menyalip dari kanan.

Di depan ada perempatan jalan lagi, dengan lampu pejalan kaki yang merah bila lurus dan hijau bila menyeberang jalan ke kanan. Kakinya otomatis melangkah menyeberangi jalan ke kanan. Ia berjalan lurus, melewati sebuah toko bunga yang menjorok ke trotoar dan menyebarkan aroma wangi yang segar saat dilewati. Tidak jauh di depan, kembali ada lampu pejalan kaki, kali ini berwarna merah. Orang-orang bergerombol dengan sabar menunggu, tapi tidak kakinya yang memilih berbelok ke kiri untuk menghindari harus berhenti.

Ada orang berjalan dengan anjing di depannya. Fay melewatinya sambil berjalan di pinggir trotoar. Dalam keadaan kesal pun, otaknya masih tahu ia takut anjing.

Pandangannya dilemparkan ke sisi trotoar di seberang. Ada sebuah toko, seorang kakek bertopi duduk di depannya sambil membaca koran.

Di depannya ada sepasang pria dan wanita berjalan ke arah yang sama sambil bergandengan tangan. Lewati.

Fay melewati mereka dengan cepat. Sambil terus berjalan, agak terengah-engah Fay melihat jam dan mendapati bahwa ternyata baru lima belas menit ia berjalan. Di mana ia sekarang?

Ia berhenti dan dengan bingung melihat ke sekelilingnya. Ia sekarang ada di perempatan jalan yang tidak terlalu besar dan agak sepi dan di sebelah kirinya ada tembok, seperti sisi suatu gedung tinggi. Hanya ada beberapa mobil yang diparkir di jalan. Akhirnya ia berjalan lurus ke depan sambil menyesali kebodohannya, berharap ada petunjuk jalan. Sambil berjalan, ia teringat pada petanya yang kini ada dalam ranselnya di kelas dan kembali mengutuk dirinya yang tidak berpikir panjang.

Fay memutuskan untuk menyeberangi jalan, kemudian langsung berbelok di tikungan yang ada di depannya, dengan harapan ada petunjuk lokasi stasiun Metro di sekitarnya. Dengan cepat ia melakukan apa yang disuruh pikirannya dan ketika berbelok, kakinya otomatis memelankan langkah saat matanya menangkap pagar kawat di depannya. Jalan itu buntu.

Di balik kawat itu Fay bisa melihat jalan besar dengan mobil yang lalu lalang. Posisi jalan itu berarti sejajar dengan jalan ini,  jadi  tinggal  menemukan  satu  jalan  ke  kiri  yang  bisa  menembus sampai ke sana, pikirnya lega.

Dengan tak sabar ia meneruskan langkahnya lebih cepat. Di kejauhan ia melihat beberapa pemuda yang berjalan ke arahnya dengan pelan, semuanya empat orang.

Ketika sudah semakin mendekat, sontak kakinya menghentikan langkah saat matanya beradu pandang dengan salah seorang pemuda itu.

Itu pemuda yang mencegatku di stasiun Metro!

Pemuda itu mengenalinya dan meluncurkan rangkaian kalimat dalam bahasa Prancis yang tidak bisa diartikan secara persis oleh Fay. Yang ia tahu dari percakapan dengan temantemannya selama mengikuti kursus bahasa Prancis, kata-kata itu adalah makian.

Fay mundur beberapa langkah dan ketika melihat mereka maju teratur dengan tatapan marah, ia membalikkan badan dan lari sekencang-kencangnya. Terdengar derap langkah di belakangnya saling susul-menyusul. Mereka mengejarnya!

Dengan napas memburu karena panik ia berlari menyusuri jalan yang tadi dilaluinya, dengan harapan sampai ke jalan yang lebih ramai, yaitu jalan tempat tadi ada toko bunga, di tikungan depan. Matanya berkonsentrasi ke tikungan itu sementara sudut matanya melihat sekilas apa saja yang dilaluinya. Sepasang pria dan wanita yang berjalan ke arahnya, dilaluinya dengan cepat. Orang tua yang sedang membaca koran di seberang, dilaluinya. Seorang pria membawa anjing, dilaluinya. Seorang pemuda yang berjalan di pinggir... sebentar, itu Reno!

Reno membentangkan tangan untuk menolongnya berhenti dengan tatapan bertanya. Fay menabrak tangannya dan berhenti. Ia ingin menjelaskan apa yang terjadi, tapi tidak mampu melakukannya dengan deru napas seperti itu. Sepertinya Reno juga tidak perlu penjelasan karena dia segera melihat apa yang menyebabkan Fay terengah-engah sambil memegang lututnya.

Gerombolan pemuda itu berhenti ketika melihat Reno.

Reno menarik Fay ke belakangnya dan berdiri, kemudian mengatakan sesuatu dalam bahasa Prancis. Kening Fay berkerut. Rasanya selama dua minggu ini kata itu belum sekali pun diajarkan di kelas.

Salah satu pemuda itu membalas ucapan Reno dengan kedua tangan ada di saku sambil mendongakkan kepala, menantang.

Dengan dada berdebar Fay melihat Reno membalas ucapan pemuda itu dengan keras. Hanya beberapa patah kata yang berhasil ditangkapnya dari percakapan mereka: ’ada apa”, ”minggu lalu”, ”jangan ganggu”, ”adikku”.

Harusnya Reno dan aku lari saja, pikir Fay mulai panik.

Pemuda itu menatap Reno sejenak, kemudian memberi tanda kepada teman-temannya untuk pergi. Mereka pun berlalu, melewati Reno dan Fay sambil menoleh, masih dengan tatapan menantang yang sama.

Ketika akhirnya mereka berbelok dan tidak terlihat lagi, Fay merasa seluruh tubuhnya lemas dan kakinya lunglai.

Reno menggamit lengannya supaya berjalan mengikutinya. ”Thanks ya, Reno. Untung ada kamu,” ucap Fay ketika

napasnya mulai teratur.

Reno diam. Langkahnya lebar dan cepat hingga Fay sulit mengikutinya dan harus setengah berlari supaya bisa menjajari langkahnya.

”Reno...?” panggilnya lagi. Reno tetap diam.

Fay menoleh dan melihat telinga dan wajah Reno yang merah, dan ia memutuskan untuk mengerem mulutnya dulu.

Mendadak Reno berbelok ke sebuah gang kecil, masih dengan langkah cepat. Fay tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya dan baru saja berniat untuk menanyakan ke Reno kenapa dia mengambil jalan ini padahal seharusnya mereka berjalan lurus, ketika mendadak Reno berhenti dan membalikkan badan, menatap Fay dengan tajam sambil maju perlahan dengan gerakan mengancam. Fay yang kaget dengan gerakan Reno, mundur beberapa langkah, hingga akhirnya punggungnya menyentuh dinding. Kini ia menatap Reno dengan perasaan takut yang tidak bisa dijelaskan pikirannya. Mata Reno yang tajam menatapnya seakan menyala dalam suatu amarah.

Reno membentaknya dengan keras, ”Bodoh sekali tindakan kamu tadi! Berjalan tanpa tujuan, tidak memakai otak sama sekali!”

Fay merasa sekelebat tangan Reno melayang dan ia memekik ketika telinga kirinya merasakan desiran angin disertai bunyi yang keras menghantam tembok tepat di sisi kepalanya. Tangan Reno yang meninju tembok masih pada posisinya di tembok. Wajah Reno sekarang persis berada di depan wajahnya.

Fay menatap Reno dengan napas yang tertahan dan dada yang kembali mulai berdebar-debar.

Reno kembali membentaknya, ”Jangan sekali-kali kamu ulangi perbuatan tolol seperti tadi! Apalagi kalau alasannya hanya karena seorang pemuda yang tidak kalah bodohnya dengan kamu!”

Fay berkata pelan, ”Tapi…”

”Jangan membantah!” potong Reno keras. ”Kalau aku tidak datang, entah apa yang sudah mereka lakukan kepada dirimu,” bentaknya lagi.

Fay terdiam, ia tahu Reno benar walaupun gengsinya terlalu besar untuk mengakui hal itu.

Reno melanjutkan, ”Kamu membahayakan diri sendiri hanya karena pemuda bodoh yang tidak tahu cara menghargai kamu. Jangan buang-buang waktu untuk menunggu pemuda seperti itu. Untuk apa menyia-nyiakan diri demi seorang pemuda yang merasa kamu tidak layak berada di sisinya! Lupakan dia, Fay!”

Air mata Fay mulai menggenang mendengar perkataan Reno. Masih dengan sisa-sisa keyakinan yang ia punya, ia membantah, ”Tapi dia tidak seperti itu.”

Reno menghardiknya lagi, ”Mana buktinya?? Kalau dia memang menghargai kamu, dia bisa memberitahu kamu bahwa dia tidak bisa datang. Tidak perlu sampai membuat kamu menunggu selama itu, seolah kamu yang mengemis-ngemis mengharapkan kehadirannya.”

Fay menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sakit di dadanya yang sedari tadi berusaha ditahannya, memuncak dalam isak tangis karena perkataan Reno itu.

Reno menghela napas dan menarik Fay ke dalam pelukannya. Akhirnya dia berkata, ”Maaf kalau aku berbicara terlalu keras. Aku tidak punya hati untuk melihat harapan di mata kamu dipupuskan begitu saja dan berganti menjadi kecewa.”

Sebuah rasa sejuk menyiram hatinya sejenak dan Fay berusaha menghentikan tangisnya.

”Sebaiknya kita kembali ke sekolah. Kita sudah terlambat lima menit dan kamu harus membasuh diri dulu di kamar mandi. Tentunya kamu tidak mau seisi kelas bertanya kenapa mata kamu bengkak dan merah.”

Fay mengangguk kemudian mengikuti Reno yang menarik tangannya.

Pukul 16.20, Reno berjalan lambat-lambat menyusuri trotoar Rue de Rivoli menuju Le Petit St. Antoine, sebuah kafe di jalan Rue St. Antoine, tidak jauh dari tempatnya sekarang berada. Berada di distrik Le Marais yang sangat populer dengan tempat-tempat historis, kafe itu menyajikan salad dengan daging salmon yang menurutnya terenak di seantero Paris. Plat du jour atau ”menu spesial hari ini” yang ditawarkan kafe itu juga selalu berhasil memuaskannya dengan harga yang masuk akal.

Kali ini ia datang memang untuk menikmati salad yang menggoda selera itu, tidak seperti dua hari yang lalu saat ia datang dengan sumbu emosi yang sudah terbakar, ketika siangnya ia menjumpai seorang laki-laki bernama Kent di lobi sekolah datang untuk menemui Fay, bahkan berani mengajak gadis itu makan siang tepat di depan batang hidungnya. Pikiran tentang hal itu membawanya kembali ke titik awal semua ini bermula, hari Senin minggu lalu.

Senin pagi minggu lalu Reno masih meringkuk di atas tempat tidur di apartemennya yang nyaman, sepuluh menit dari pusat kota Zurich. Ia dibangunkan suara telepon genggamnya, yang menandakan ada pesan masuk. Kaget, ia melirik ke jam digital di samping tempat tidurnya. Pukul 04.00! Mengesalkan. Ia bukan orang yang gampang tidur. Tadi malam saja ia baru tidur pukul 01.00. Walaupun dibangunkan pukul 04.00 ini, sudah pasti ia tidak bisa tidur lagi sampai tengah malam nanti. ”This gotta be important or I’ll smack whoever sent it the next time we meet,” gerutunya. Ia meraih telepon genggam itu dan membaca pesannya. Kesalnya menguap ketika melihat pesan yang masuk berasal dari nomor yang tidak dikenal, berkepala +254, kode negara Kenya, Afrika Timur. Hanya satu orang yang mungkin mengirim pesan ini, dan pastinya dia tidak berada di Kenya. Ia tidak peduli untuk melihat nomor di belakangnya, karena nomor itu selalu diacak.

”Miss u so much. Pls call me. Dinah.”

Reno bahkan tidak perlu berpikir siapa perempuan yang disebut Dinah. Nama pengirimnya juga tidak pernah dibuat sama.

Ia langsung bangun, memakai jaket untuk menutupi kaus tipis dan celana jinsnya, memakai bot dan menyambar dompet, serta mengambil sarung tangan yang dipakainya sambil berjalan keluar dari apartemennya dalam gelap pagi itu. Pagi buta di musim panas di Zurich harusnya cukup hangat untuk kaus tipisnya. Tapi entah kenapa sudah dua hari terakhir cuaca di kota ini tidak mau mengikuti aturan yang digariskan alam. Sekarang pun angin dingin subuh ini menusuk kulit mukanya. Ia mengarah ke telepon umum di pojok jalan, mengangkat gagang telepon tanpa ragu karena sarung tangannya sudah terpasang dan menekan nomor telepon lokal. Setelah disambut suara mesin, ia kembali menekan tombolnya, kali ini sembilan digit angka. Ia menunggu beberapa saat. Sebentar lagi ia harus menyebutkan nama dirinya beserta kodenya, kemudian suaranya akan diverifikasi sebelum akhirnya diizinkan untuk tersambung. Terdengar nada bip dan ia pun memperkenalkan diri,

”Reno Cordero, code 45837.”

Verifikasinya diterima karena suara seseorang yang diharapkannya langsung menyapa, ”Halo, Reno. Sudah bangun sepagi ini?”

Sedikit kesal dengan humor pagi buta itu, ia pun menjawab, ”Ha ha, lucu sekali.” Reno meluruskan posisi berdirinya, menarik napas panjang dan melanjutkan, ”Ada apa?”

”Perubahan rencana. Ambil pesawat paling pagi untuk kembali ke Paris.”

”Ada yang menarik?” Reno bertanya sekenanya.

”Kamu akan diberi pengarahan setelah tiba. Sampai jumpa segera.” Setelah itu telepon ditutup.

Jadilah ia di hari Senin pagi duduk di sofa empuk ruang kerja pamannya di Paris. Paman yang mengambil dan mengasuhnya sejak ia kehilangan arti kehidupan di usia tiga belas tahun. Paman yang selalu memberikan dirinya hanya yang terbaik sebatas kesanggupannya. Paman yang kesanggupannya tidak terbatas karena sebagai pemilik Llamar Corp, kekayaannya tidak bisa dihitung lagi dengan kalkulator biasa. Paman yang juga atasannya di garis komando COU, organisasi yang otomatis menjadi rumah keduanya setelah masa berkabung yang hanya satu minggu delapan tahun yang lalu. Paman yang mengajarinya definisi kehidupan yang baru, yang ironisnya melibatkan banyak kematian.

Reno menatap Andrew yang masih berbicara di telepon di meja kerjanya, sekilas mendengar pamannya memberi perintah kepada seseorang untuk datang ke Paris. Mungkin tugas yang sama. Mungkin juga tidak. Satu hal yang sudah dipelajarinya tentang Andrew selama delapan tahun ini adalah jangan berasumsi. Andrew sudah selesai. Ia duduk di hadapannya dan langsung menjelaskan, ”Seorang gadis Asia berusia tujuh belas tahun akan mengikuti kursus bahasa Prancis selama dua minggu ke depan. Saya mau dia diawasi dengan Close Surveillance by Intervension.” Close surveillance by intervension atau ”pengawasan lekat dengan intervensi” adalah istilah di COU untuk pengawasan seseorang yang menjadi target dengan cara berinteraksi secara dekat. Berarti agen yang diberi tugas harus membuat kontak personal dan mengenal targetnya.

”Seberapa dekat saya harus mengenalnya?” tanya Reno. ”Kamu akan ada di kelas yang sama dengan dia, kelas pe-

mula.”

”Debutant? Itu penghinaan, Paman,” dengan kesal Reno melihat ke arah pamannya. Bahasa Prancis sudah hampir seperti bahasa ibu baginya sejak kepindahannya ke Paris delapan tahun lalu. Berpura-pura bodoh dalam bahasa itu tidak akan segampang yang diperkirakan.

Kembali Reno bertanya, ”Informasi apa yang harus saya korek dari dia?”

”Pekerjaan kamu bukan untuk mencari informasi, tapi untuk mencegah suatu informasi diberikan oleh gadis itu ke pihak mana pun selama dia berada di bawah pengawasanmu sepanjang waktu kursus itu.”

”Informasi apa?” tanya Reno.

”Dia diculik kemarin, dilepaskan di hari yang sama. Semua cerita yang berkaitan dengan kejadian itu tidak boleh sampai terdengar oleh pihak mana pun.”

Saat itu, dengan alis bertaut pertanda masih bingung, Reno bertanya, ”Siapa yang menculik dia dan mengapa? Dan apa yang terjadi saat dia diculik?”

Andrew menjawab, ”Saya yang memerintahkan penculikan itu. Pertanyaan ’mengapa’ dan ’apa’ tidak ada dalam wewenang kamu sebagai agen Level Dua.”

”Dan bagaimana caranya saya bisa melakukan tugas ini kalau Paman tidak mau repot-repot memberitahukan apa yang terjadi?” tanya Reno masih dengan muka error.

Andrew menangkap tatapan Reno yang masih bingung dan menghela napas. ”Kamu mulai membuat saya kesal, Reno. Kalau kamu mau memakai benda yang kamu sebut otak itu, kamu akan tahu kamu tidak perlu detail lebih lanjut untuk bisa melakukan tugas tadi.”

”Sebentar, Paman... Saya masih belum mengerti kenapa saya perlu menjadi pengasuh gadis itu. Kalau Paman hanya ingin supaya dia tutup mulut, kenapa tidak mengancamnya saja?” ujar Reno protes.

”Karena dia berada di bawah observasi saya. Saya ingin mengetahui semua hal tentang dia selain dari yang bisa saya peroleh di ruang interogasi. Jadi, awasi dia baik-baik.”

Reno terdiam. ”Observasi” di kamus COU berarti eksperimen perilaku, mengamati bagaimana seseorang bereaksi atas suatu aksi, yang bisa berupa suatu kejadian yang tidak berhubungan langsung atau suatu perlakuan terhadap orang tersebut. Sebuah observasi akan menghasilkan profil, yang pada akhirnya akan menentukan apa tindakan yang akan diambil terhadap orang yang berada di bawah pengamatan tersebut.

Andrew menyambung perintahnya, ”Satu lagi. Saya mau dia mengatur makanannya. Kamu harus memastikan dia hanya memakan ini sebagai makan siangnya,” Andrew berkata sambil menyodorkan bungkusan sachet kepada Reno. ”Sebagai tambahan, dia hanya boleh makan sayuran tanpa saus, dan tidak boleh ada minuman bersoda, es krim...,” Andrew pun terus berbicara tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan.

Di benak Reno saat itu, pamannya mungkin sudah gila. ”Dan bagaimana caranya saya bisa memaksa dia memakan

ini?” tanyanya dengan nada mulai meninggi.

Tatapan tajam Andrew mengguyur emosinya bahkan sebelum pria itu membuka mulutnya.

”Jaga bicara kamu,” ujar Andrew dengan nada keras. ”Maaf,” jawab Reno pelan sambil memalingkan wajah.

Andrew kemudian berdiri sambil berkata, ”Saya tidak peduli bagaimana kamu melakukannya. Tugas kamu sudah diberikan, sekarang gunakan imajinasi kamu. Saya menunggu laporan kamu setiap hari segera setelah kelas selesai, dimulai hari ini.” Ia sudah sampai. Reno berdiri di depan pintu masuk Le Petit St. Antoine. Dengan pintu yang selalu tertutup, kafe itu memang lebih mirip bar yang entah kenapa seperti didesain untuk tidak menarik perhatian. Bila tidak ada tulisan di jendela dan pintunya, dan bila tirainya tidak dibuka menampakkan meja dan kursi kafe yang tersusun rapi, orang yang lewat mungkin hanya berpikir bahwa tempat ini rumah biasa.

Reno meraih gagang pintu. Terdengar suara bel bergemerincing ketika pintu kafe ia buka. Dengan cepat ia duduk di tempat favoritnya dekat jendela dan memesan salad.

Pandangannya menyapu kafe dan jatuh pada tempat duduk di sudut yang posisinya agak tersembunyi. Di sisi itu, tidak terdapat kursi seperti yang didudukinya, melainkan bangku panjang berhadap-hadapan dengan sandaran tinggi bagai sekat kompartemen kereta. Ingatannya kembali melayang ke hari Selasa dua hari yang lalu, ketika wajah yang dikenalnya sangat baik sudah duduk di sana.

”Apa yang kamu lakukan di tempat kursus itu hari ini?” tanyanya tanpa basa-basi.

”Aku tidak berutang penjelasan apa pun padamu. Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?” Kent membalas dengan nada keras. Dia masih menimbang-nimbang apakah akan berpurapura menerima perintah datang ke sana dari pamannya. Reno mendadak memajukan badannya sambil membanting botol minumannya ke meja hingga mengundang beberapa pasang mata menoleh.

”HEI, aku ada di sana karena aku melakukan tugasku. Dan dalam profil tugasku, tidak disebutkan bahwa kamu akan muncul. Jadi jangan bermain seperti seorang bajingan sok pintar yang tidak melakukan kesalahan. Kalau namamu muncul di laporanku hari ini, kamu akan dapat kesulitan besar dari Paman,” ujarnya mengancam.

Kent terdiam. Dia tahu Reno benar. Kedatangannya ke sekolah Fay sama sekali di luar protokol.

Reno perlahan kembali menyandarkan badannya di sandaran bangku. Ia menenggak minumannya kemudian berkata, ”Kita coba sekali lagi. Apa peran kamu di sini? Apa hubungan kamu dengan Fay?”

Setengah hati Kent menjawab pertanyaan Reno, ”Aku menjadi mentor Fay di rumah latihan.”

Reno bertanya, ”Apa yang kamu ajarkan dan kenapa?” ”Jadi kamu tidak tahu?” Kalau begitu, aku tidak perlu men-

jawab pertanyaan kamu, Kent merasa di atas angin.

”Sekarang giliranku. Apa peran kamu sendiri?” balas Kent. Reno melihatnya dengan tajam. ”Kamu tidak dalam posisi untuk menuntut jawaban apa pun dari mulutku. Sekarang, kamu akan jawab pertanyaanku, dan kita lihat nanti apakah

kamu cukup pantas untuk mendengar penjelasanku.”

Kepala Kent seperti tersengat. Dia bisa merasakan mukanya memanas dan yang dia yakin sekarang sudah memerah, dan tanpa sadar tangannya sudah terkepal di bawah meja. Ingin sekali rasanya saat ini ia menerjang Reno dan melayangkan satu tinju yang akan mematahkan hidungnya. Butuh beberapa detik bagi sisi lain dari kepalanya yang masih tetap dingin untuk mengingatkan bahwa apa yang dikatakan Reno benar, dia sama sekali tidak dalam posisi di atas angin. Reno sudah seperti kakaknya sendiri, tapi itu di rumah. Di COU, ia adalah agen Level Dua, satu tingkat lebih tinggi darinya yang baru Level Tiga. Menyerang agen dengan level yang lebih tinggi akan menyebabkannya terkena insubordinasi. Dan hukumannya tidak ringan.

Menghela napas, akhirnya Kent melonggarkan kepalannya dan mulai berbicara, ”Paman memintaku mengajarkan dasardasar Analisis Perimeter dan membimbingnya mempelajari profil satu gadis lain bernama Seena. Dia memerlukannya karena dia akan melakukan tugas infiltrasi ke sebuah kediaman yang dimiliki target. Dia akan masuk dengan berpura-pura menjadi keponakan si target.”

”Kenapa harus dia?” tanya Reno dengan kening berkerut. ”Wajahnya persis sekali dengan keponakan si target yang

orang Malaysia, tanpa perlu modifikasi apa pun.” ”Ada informasi tentang targetnya?”

”Namanya Alfred Whitman, pria kebangsaan Inggris yang tinggal di Paris sejak kematian istrinya. Aku sudah coba untuk mencari informasi tentang pria itu di sumber-sumber umum. Yang aku tahu, dia punya beberapa perusahan investasi di Timur Tengah dan tidak punya catatan kriminal. Satu-satunya informasi yang mengaitkan pria itu dengan Paman adalah satu pemberitaan di salah satu kolom berita investasi di surat kabar tentang selentingan bahwa Llamar Corp. ingin membeli salah satu perusahaan pria itu, tapi belum ada pihak yang mengonfirmasi. Aku tidak yakin itu saja cukup untuk menjadikan pria itu sebagai target operasi.”

Reno berpikir sejenak. Dalam pekerjaan ini, perusahan investasi seringkali diasosiasikan dengan pencucian uang. Ia yakin bukan bisnis pencucian uangnya, tapi pasti sumber uangnya, yang menarik minat pamannya hingga sedemikian besar, walaupun tidak begitu jelas apa hubungannya dengan selentingan berita yang disampaikan Kent.

Reno kembali bertanya, ”Ada informasi yang berhasil kamu peroleh dari kantor?” ”Kantor” adalah istilah umum untuk merujuk markas COU.

”Kamu tentunya tahu hal itu tidak bisa aku lakukan,” jawab Kent kesal. ”Begitu aku mengetik ’Alfred Whitman’ di kolom ’search’, aku akan langsung diseret ke ruang interogasi,” lanjutnya lagi.

Reno menggeleng putus asa. Kent benar. Pertanyaannya sangat bodoh, dipicu rasa putus asa oleh ketidakmengertiannya atas apa yang sedang terjadi. Data-data di COU diproteksi tidak hanya dari kemungkinan penyusupan dari luar, tapi juga dari dalam.

”Apakah kamu mengetahui kejadian waktu Fay diculik?” Reno melanjutkan.

”Kapan terjadinya?” tanya Kent. ”Hari Minggu, minggu lalu.”

Kent mengangkat bahu, tapi kemudian melanjutkan, ”Aku baru dihubungi hari Senin. Mungkin itu waktu Fay diberitahu tugasnya apa. Sekarang giliranku. Bagaimana kamu bisa kenal Fay?”

Reno menimbang-nimbang sejenak. Akhirnya ia memutuskan untuk bertukar informasi dengan Kent secara wajar. ”Close surveillance by intervention.”

”Kenapa? Informasi apa yang mungkin dia punyai yang menyebabkan kamu mengawasinya dengan cara itu?” tanya Kent sambil mengerutkan kening. Sepanjang pengetahuannya, Fay hanya gadis biasa yang kebetulan terjebak dalam skenario pamannya. Rasanya tidak mungkin ada informasi penting yang diketahui gadis itu sehingga harus diawasi dengan cara itu.

”Dia sedang berada di bawah observasi Paman.”

Kent tertegun, badannya langsung tegak. Jelas dia tahu apa arti di balik kalimat Reno.

Kent akhirnya berkata perlahan-lahan, ”Itu berarti ada kemungkinan dia direkrut menjadi agen COU atau…,” dia berhenti.

”…ini bisa jadi akhir baginya,” sambung Reno. Ia merasakan ketegangan yang sama dari kalimat yang ia ucapkan sendiri, kemudian buru-buru menenggak minumannya.

Kent menatapnya, kali ini dengan pandangan mendesak, ”Apa saja yang kamu tulis di laporan yang kamu berikan ke Paman?”

”Tidak ada yang istimewa. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi saat jam sekolah dan sejauh ini tidak ada yang luar biasa. Tapi, kita tidak tahu apakah yang dicari Paman adalah sesuatu yang aneh atau yang biasa. Kita tidak pernah bisa menebak pikiran Paman,” jawab Reno.

Mereka berdua terdiam sebelum akhirnya Reno berkata, ”Jangan mendekati Fay lagi. Aku tidak mau dia sampai terlibat kesulitan karena berhubungan dengan kamu.”

”Aku sudah janji akan datang besok untuk makan siang lagi dengannya,” protes Kent.

”Jangan coba-coba! Kalau aku sampai melihat kamu lagi di dekat Fay, nama kamu akan masuk ke laporanku,” ancam Reno sambil bangkit dan berlalu.

Seorang pelayan datang dan meletakkan salad-nya di meja. Setelah mengatakan terima kasih, sambil tersenyum tipis Reno mengucapkan selamat tinggal pada makanan bungkusan yang dibencinya, yang terpaksa dimakannya hanya untuk memastikan bahwa Fay memakannya juga. Sambil menyuap salad itu, otaknya berputar mengulang keterangan Kent.

Menemukan alamat Alfred Whitman bukanlah hal sulit. Ia bahkan sudah melewatinya satu kali kemarin. Dari pandangannya sekilas ke kediaman itu, ia harus mengakui pengaturan keamanan di sana terlihat terlalu berlebihan untuk seorang pebisnis biasa. Pengaturan itu sekilas mendekati apa yang ada di kediaman pamannya di Paris dan London; pamannya sendiri bukan seorang pengusaha biasa dengan statusnya sebagai Kepala Direktorat Pusat COU.

Secara pribadi, Reno setuju bahwa langkah pamannya untuk mengirim seseorang masuk lewat pintu depan sudah tepat. Hanya saja, kali ini pamannya sangat keterlaluan, mengirimkan seorang gadis yang bahkan belum berusia tujuh belas tahun dan belum berpengalaman sama sekali untuk mencoba peruntungannya.

Reno menggeleng frustrasi.

Selain alamat, tidak ada informasi penting lain yang bisa diperolehnya selama dua hari ini lewat sumber-sumber umum. Sebenarnya Kent adalah sumber informasi yang paling lengkap, mengingat aksesnya ke penugasan Fay memang resmi. Sayangnya dia tidak bisa menjaga kelakuannya dan membawa pengaruh buruk bagi Fay, pikir Reno geram sambil mengingat adegan mereka berciuman di depan sekolah.

First things first, pikirnya lagi. Masalah Kent sudah beres, setidaknya pemuda itu tidak akan berhubungan lagi dengan Fay dan ia bisa menyingkirkan pemuda itu dari daftar masalah yang harus dibereskannya. Sekarang prioritasnya adalah menemukan cara supaya ia bisa tahu lebih banyak tentang tugas yang diberikan kepada Fay, termasuk tentang apa yang akan dilakukan olehnya di kediaman itu.

Reno memang tidak bisa melakukan apa-apa ketika kejadian buruk menimpa Maria, tapi sekarang ia bisa. Dan ia akan melakukannya.

Pukul 19.15. Dengan tatapan kosong Fay mengarahkan pandangan ke piringnya yang penuh berisi salad. Jari-jarinya secara otomatis memainkan garpu dengan lihai untuk menyurukkan daun-daunan yang ada di sana, kemudian menyuapkannya ke mulutnya. Mulutnya secara otomatis mengunyah tanpa merasa perlu repot-repot mengecap rasa. Dan kerongkongannya membiarkan makanan itu lewat tanpa perlawanan. Semua seakan mengerti bahwa si gadis yang ditugaskan untuk menjadi penyerta mereka di dunia saat ini sedang sibuk bermain dengan pikirannya. Sebuah permainan dengan satu objek bernama Kent, dan dengan dialog yang berputar-putar membuat mereka bingung. ”Apakah Kent menyayangiku?”

”Rasanya iya. Kalau tidak, mana mungkin dia menciumku seperti itu?”

”Bagaimana kalau Reno benar dan Kent hanya mempermainkan aku? Kalau dipikir-pikir, Kent memang terlalu agresif. Kami baru kenal, tapi sudah berciuman.”

”Tapi  kan  kami  tidak  hanya  berciuman.  Bagaimana  dengan  tatapannya,  cara  dia  berbicara,  saat-saat  menyenangkan  yang  membuatnya kelihatan bahagia juga?”

”Tapi dia belum pernah bilang sayang padaku.”

”Betul, tapi kan tidak harus dengan kata-kata. Walaupun itu harusnya suatu permulaan yang baik.”

”Mungkinkah dia terlibat kisah dengan banyak gadis lain sekarang seperti kata Reno? Itukah sebabnya dia tidak datang tadi siang?”

”Bisa saja, tapi susah dibuktikan. Dia bisa dengan mudah memakai perintah pamannya sebagai alasan untuk segala hal. Dia memakai alasan itu tadi siang, dan sore ini pun dia tidak datang, pastinya dengan alasan yang sama, ’Paman menyuruhku melakukan sesuatu.’ Hah!”

”Tapi kalau dia sayang padaku, seharusnya dia tidak bohong.” ”Apa buktinya kalau dia sayang sama aku, mengutarakannya

saja dia tidak pernah, padahal orang barat lebih ekspresif daripada orang timur.”

”Tapi kan tidak harus dengan kata-kata. Bagaimana dengan tatapannya,  cara  dia  berbicara,  saat-saat  menyenangkan  yang  membuatnya kelihatan bahagia juga?”

”Eh… Itu sepertinya kalimatku tadi.”

”Fay!”

Suara Andrew yang keras menyentak lamunannya. Ia menegakkan badan dan menatap pria itu.

”Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Sampaikan saja kalau ada yang ingin kamu tanyakan tentang topik kemarin, atau apa pun, sebelum kita lanjutkan lagi setelah makan.” ”Tidak ada. Belum ada pertanyaan. Mungkin nanti,” jawab Fay cepat.

Andrew mengangguk tanpa melepas tatapannya dari Fay. Fay menyadari Andrew menatapinya dan ia kembali mem-

buang pandangannya, lagi-lagi menatap piringnya yang dengan kaget disadarinya sudah hampir kosong.

Setelah makan malam, Andrew memulai topik bahasannya, ”Sampai saat ini, kamu sudah diberikan berbagai fakta tentang Seena dan Alfred. Sekarang, fokusnya adalah pengamatan

perilaku.”

Dia melanjutkan, ”Sekarang saya akan memperlihatkan berbagai foto dan rekaman video yang menunjukkan berbagai foto dan rekaman video yang menunjukkan berbagai kegiatan yang diikuti Seena dan Alfred.”

Gambar demi gambar pun berseliweran di depannya, dan Fay sejenak lupa dengan masalahnya tadi pagi. Ia mendapati dirinya berkonsentrasi penuh, berusaha untuk lebih jauh menghayati perannya sebagai Seena dengan mengamati perilaku gadis itu lewat bingkai demi bingkai gambar yang dipampangkan di depannya: cara gadis itu tersenyum dan tertawa, cara dia berbicara dengan teman dan orang yang lebih tua, cara dia menolehkan kepala bila dipanggil, cara dia berjalan, bagaimana tatapannya ketika sedang bersiaga untuk mendengarkan abaaba wasit sebelum mulai menggerakkan kaki dan memacunya, bagaimana matanya tersipu ketika ada seorang pemuda menyapanya, bagaimana ekspresinya ketika mendengarkan temantemannya berbicara, dan bagaimana antusiasmenya dalam menyampaikan cerita saat duduk di kafe di mal bersama temannya.

Andrew kembali melakukan hal yang sama, kali ini Alfred sebagai topiknya. Fay melihat berbagai foto dan rekaman video tentang Alfred, mulai dari foto saat dia berpidato di forum ekonomi Davos, bertemu dengan tokoh-tokoh di suatu negara, kebanyakan di Timur Tengah tempat bisnisnya berkembang, hingga cuplikan video di sebuah pesta. Satu hal yang disadari Fay, yang dikatakan Andrew di hari Senin tentang Vladyvsky benar. Pengawal pribadi yang menyertai Alfred kadang berganti-ganti, tapi tidak Vladyvsky. Pria itu tidak pernah beranjak lebih dari sepuluh meter dari Alfred. Fay bergidik memikirkan kemungkinan akan bertemu dengan pria itu nanti dan cepat-cepat mengusir bayangan pria itu dari pikirannya.

Gambar terakhir yang ditampilkan oleh Andrew adalah foto Alfred yang memasuki salah satu gedung miliknya di pusat kota Paris. Setelah Andrew menjelaskan sedikit tentang gambar itu, dia menyatakan topik malam itu sudah selesai.

Andrew berkata, ”Semua topik untuk mempersiapkan kamu menjalani peran sebagai Seena sudah saya berikan. Besok sore kamu tidak perlu datang karena kamu harus menyiapkan keberangkatan di hari Sabtu dari rumah Jacque dan Celine. Hari Sabtu kamu akan dijemput untuk kembali ke sini dan kita akan mengulang semua topik yang sudah kamu terima supaya kamu lebih yakin dalam menjalankannya.” Pria itu pun melanjutkan instruksinya tentang apa yang harus dilakukan oleh Fay hari Sabtu pagi.

Fay mengangguk dengan perasaan lega. Ia tahu harusnya perasaan itu tidak berhak menemaninya, karena itu berarti waktunya untuk menjalankan peran Seena sudah semakin dekat. Tapi pemikiran bahwa besok sore ia tidak usah datang ke rumah latihan mau tak mau membuat beban di dadanya terasa ringan barang sejenak.

Sampai di rumah, ia diterpa rasa lelah seperti yang biasa ia rasakan di hari terakhir ujian di sekolah, sebuah rasa lelah yang disirami perasaan terbebas dari suatu beban yang menguras tenaganya. Segera ia menuju kamarnya di atas dan begitu kepalanya menyentuh bantal yang empuk, dalam hitungan detik ia sudah tertidur pulas.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊