menu

Eiffel, Tolong! Bab 10: Tugas

Mode Malam
Tugas

PUKUL 11.50. Fay keluar kelas dengan tawa yang masih tersisa karena adegan lucu di kelas tepat sebelum istirahat siang. Ia dan Jose baru saja maju ke depan kelas, memainkan dialog antara seorang nenek dengan cucu laki-lakinya. Jose dengan gilanya memilih untuk menjadi si nenek sementara Fay kebagian menjadi cucu laki-lakinya. Adegan mereka disambut dengan gelak tawa seluruh kelas, khususnya ketika Jose berbicara dengan mimik benar-benar serius menirukan seorang nenek yang sedang ngobrol dengan cucunya. Selain tubuh bulatnya yang dibungkukkan dan suara yang dibuat tinggi dan bergetar, matanya juga sampai merem-melek mengisyaratkan kerabunannya.

Di depan kelas, Reno menyusul dan melewatinya setengah berlari. ”Fay, aku ke kamar mandi dulu.”

”Oke, aku tunggu di lobi ya,” Fay menjawab riang.

Sesampainya di lobi, tiba-tiba matanya mengangkap sosok berambut pirang yang berdiri di ruang tunggu.

Kent!

Jantungnya membuat pernyataan keras dengan degup yang kencang, dilanjutkan dengan debar yang tidak kira-kira. Kent bergerak ke arahnya sambil menyunggingkan senyum tipis yang membuat Fay melayang.

”Hai, kok kamu ada di sini?” tanya Fay tanpa menyembunyikan ekspresi gembira di wajahnya.

”Kebetulan aku lewat di sekitar sini dan kupikir kenapa tidak mampir saja sekalian, siapa tahu kamu bisa kuajak makan siang.”

Suara di belakang Fay memotong ucapan Kent.

”Ayo, Fay, perutku sudah berteriak-teriak memanggil namaku,” kata Reno dengan cengiran degil khasnya.

Cengiran itu langsung hilang ketika melihat Kent ada di depan Fay. Reno menatap Kent dengan pandangan tajam yang tidak bisa diartikan oleh Fay. Fay juga melihat ekspresi kaget di wajah Kent. Suasana langsung menjadi kaku dan Fay merasa kikuk.

”Oh, ada teman kamu ya,” ujar Reno sambil menjulurkan tangan. ”Reno.”

”Kent,” balas Kent singkat, kemudian melanjutkan, ”Fay dan aku mau pergi makan siang bersama. Silakan saja kalau mau bergabung.”

Fay terperangah, melihat ke arah Kent yang mengucapkan hal itu tanpa bertanya kepadanya. Dengan gugup ia mengalihkan pandangannya ke Reno, tanpa sanggup menyanggah ucapan Kent.

Beberapa saat Reno menatap Kent sebelum akhirnya berkata, ”Terima kasih untuk ajakannya, tapi aku ke kafeteria saja. Silakan.” Reno berlalu tanpa melihat ke arah Fay.

Perasaan bersalah langsung menyergap Fay. Makan siang bersama Reno memang bukan suatu kewajiban, tapi itu sudah seperti perjanjian yang tidak tertulis selama satu minggu ini. Akhirnya, Fay hanya mengikuti ketika Kent menggandeng tangannya dan mengajaknya keluar.

 Kent mengajaknya ke sebuah kafe yang berlokasi tidak jauh dari sekolah, hanya sepuluh menit berjalan kaki. Fay menimbang-nimbang untuk melupakan dietnya barang sejenak dan ikut memesan croissant isi tuna pilihan Kent yang tampak sangat menarik, tapi akhirnya ia memantapkan hati dan memesan salad. Sambil menelan ludah, ia mengucapkan selamat tinggal pada saus krem yang tampak sangat menggoda yang harusnya disiramkan ke atas salad-nya.

”Fay, Reno yang tadi kamu kenalkan ke aku, murid juga di sana?” tanya Kent membuka percakapan.

”Iya. Dia teman sekelasku,” ucap Fay.

”Sejak kapan kamu kenal dengan dia?” tanya Kent lagi. ”Sejak hari Senin minggu lalu. Dia datang agak terlambat,

baru mengikuti kelas setelah makan siang,” jawab Fay. ”Kenapa?”

”Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja,” jawabnya Kent singkat.

”Kamu kok kemarin tidak datang?” tanya Fay.

”Kemarin pagi Paman menyuruhku melakukan hal lain. Kamu sendiri bagaimana, apa saja yang kamu lakukan kemarin sore?” ”Aku berlari di jalur biasa, tapi kemudian aku ditunjukkan jalur lain yang ada di belakang rumah, jalur lari jarak pen-

dek.”

”Sudah lihat danau di sebelahnya?” tanya Kent lagi. ”Pemandangannya kalau sore bagus sekali.”

Pikiran Fay melayang sejenak ke pemandangan di sekitar jalur pendek kemarin, tapi tidak berhasil menangkap potongan gambar yang disebutkan Kent.

”Danau yang mana ya?

”Posisinya persis di sebelah jalur pendek, tapi tertutup satu tanjakan seperti bukit kecil yang agak curam. Kamu bisa berjalan mendaki atau berjalan memutar.”

”Kamu sering pergi ke sana?” tanya Fay.

”Sebenarnya sih tidak. Aku mendadak ingat karena minggu lalu aku sempat berpikir akan membuat kamu berenang melintasi danau itu sebagai pengganti lari,” ujarnya sambil mengulum senyum.

Fay membuat gerakan seolah akan melempar botol air mineralnya yang hampir kosong ke arah Kent. Pemuda itu tertawa.

Fay bertanya lagi, ”Kenapa sih kamu menyusahkan aku minggu lalu?”

”Aku sudah terdaftar untuk ikut workshop piano di Salzburg waktu paman memberiku perintah untuk datang ke Paris dan menjadi mentor kamu.”

Dia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan, ”Syarat untuk ikut ke workshop itu sulit sekali, Fay. Aku harus ikut seleksi selama dua bulan karena untuk seluruh Inggris hanya dipilih dua orang. Dan ini tahun terakhir aku bisa mencoba karena umur maksimal untuk partisipasi adalah delapan belas tahun.”

”Wah, aku minta maaf ya kalau gara-gara aku kamu jadi tidak bisa ikut,” kata Fay menyesal.

Kent buru-buru menjawab, ”Itu sebenarnya bukan salah kamu, jadi kamu tidak perlu minta maaf kepadaku. Sebenarnya aku yang harus minta maaf karena melampiaskan kesal kepadamu. Lagi pula aku akhirnya sempat ikut workshop itu walaupun tidak penuh. Itu sebabnya aku datang terlambat hari Kamis.” ”Apa Andrew tahu kamu terlambat gara-gara workshop itu?”

tanya Fay.

”Tidak. Jangan sampai dia tahu. Aku bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan kalau sampai tahu, dan aku tidak sanggup.”

Fay merasa perutnya mulai tegang. ”Memangnya apa yang akan dia lakukan?”

Kent menatapnya dan berkata, ”Sudah merupakan kebiasaannya untuk menghukum seseorang dengan mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi orang tersebut, sehingga pesan yang ingin disampaikannya mengena. Kalau dia sampai tahu, pasti aku tidak bisa main piano lagi seumur hidupku. Apalagi memang itu alasan yang menyebabkan aku melanggar perintahnya.”

”Tapi kemarin kamu bilang, sekarang pun Andrew memang tidak setuju kamu melanjutkan ke sekolah musik untuk jadi pianis, jadi apa bedanya?” tanya Fay lagi.

”Fay, walaupun aku tidak bisa jadi pianis, setidaknya sekarang aku kan masih bisa main piano.”

Fay mengerutkan keningnya. ”Tapi kalau sekadar bermain, dia kan tidak bisa melarang kamu main. Selama kamu masih punya jari...” Fay tertegun dan tidak bisa melanjutkan bicaranya.

Kent tersenyum pahit. ”Itu dia maksudku.”

Fay menggigil dan langsung menghabiskan air mineralnya. Setelah hening sejenak, Kent kembali bertanya, ”Jadi, kebagi-

an push-up berapa kali kemarin?”

Fay menjawab dengan lebih santai, ”Mmmmm… Yang pasti lebih sedikit dibandingkan hari-hari sebelumnya.”

”Bagaimana dengan setelah makan malam, ada yang menarik?”

”Andrew menceritakan sedikit tentang Alfred dan memintaku mengarang satu e-mail atas nama Seena untuk dikirim kepadanya.”

”Oh ya? Lantas, kamu menulis apa?”

”Tidak banyak, hanya terdiri atas beberapa kalimat yang intinya hanya menyampaikan jadwal pesawatku waktu datang hari Minggu. Yang sulit adalah mengurutkan kalimat yang singkat itu sehingga tampak seperti tulisan Seena. Tulisanku baru diterima oleh Andrew setelah diedit beberapa kali.”

”Apa saja yang dijelaskan oleh Paman tentang Alfred?” Fay pun mengulangi informasi yang diberikan Andrew ten-

tang pria itu, termasuk Vladyvsky.

Setelah makan, Kent mengajak Fay berjalan perlahan-lahan kembali ke sekolah, sambil berbicara tentang objek wisata yang terlihat sepanjang perjalanan layaknya seorang pemandu wisata. Fay menikmati permainan itu dan mengambil peran sebagai turis bodoh yang berulang kali bertanya sambil melakukan halhal khas turis yang dilakukan secara berlebihan sehingga menggelikan, seperti minta difoto dengan patung yang sama sekali bukan objek wisata atau difoto dengan latar belakang tembok. Mereka tertawa sepanjang jalan hingga ketika tiba di depan sekolah, rahang mereka rasanya sangat kaku.

Masih enggan mengucapkan perpisahan, Kent mengeluarkan telepon genggamnya yang sedari tadi sudah mengambil gambar Fay dengan pose-pose aneh, kemudian dia menarik Fay ke sisinya dan merangkulnya untuk mengambil foto mereka berdua.

Fay akhirnya bertanya, ”Nanti sore kamu datang?”

”Hari ini tidak, aku masih melakukan tugas yang diperintahkan Paman kemarin. Mudah-mudahan besok aku datang, karena tugas itu selesai hari ini, dan dia belum mengatakan apa-apa tentang besok,” jawab Kent.

Mereka berdiri berhadap-hadapan tepat di depan pintu masuk sekolah. Kent menatap mata Fay, kemudian wajahnya mendekat dan bibir mereka beradu, kali ini menyatu dalam rindu dan harap.

Fay masuk ke sekolah dan berjalan melintasi lobi dengan perasaan yang melayang-layang, dengan senyum tipis yang masih terpampang manis di wajahnya, dan pipi yang masih merona hangat.

Reno mendadak muncul di hadapannya, dan ketika Fay menangkap satu bentuk kemarahan yang tidak bisa diterjemahkan dari sorot tajam mata pemuda itu, perasaan bahagia yang baru saja menghampirinya perlahan-lahan luruh.

Sebelum ia sempat menyapa, Reno sudah bertanya, ”Bagaimana makan siangmu tadi, menyenangkan?”

”Lumayan,” jawabnya canggung. Fay sebenarnya ingin mengucapkan maaf karena tadi pergi dengan Kent, tapi sebagian pikirannya menolak dan merasa tidak berutang penjelasan apalagi maaf kepada Reno. Ia toh punya hak untuk makan siang dengan siapa saja, pikirnya menguatkan hati.

”Kamu kenal dengan pemuda itu di mana?” tanya Reno lagi.

Fay melihat sorot mata Reno yang tajam dan itu agak mengganggunya. Ia menjawab singkat, ”Di kelas sore.”

”Sudah berapa lama kamu kenal dia?” tanya Reno lagi. ”Aku ikut kelas sore sejak hari pertama di sini, jadi aku ke-

nal dia sudah satu minggu,” jawab Fay mulai kesal.

”Jangan sembarangan terlibat dengan orang lain, Fay. Kamu ada di Paris hanya untuk sementara waktu. Jangan sampai kamu dimanfaatkan,” kata Reno tajam.

”Maksud kamu apa?” tanya Fay mulai sewot.

”Maksudku, kamu baru satu minggu di sini dan sudah berciuman dengan pemuda yang juga baru kamu kenal selama satu minggu. Apa kamu masih perlu penjelasan lagi tentang seperti apa kesan yang ditimbulkan?” kata Reno keras.

Fay merasa sebuah batu seperti baru dihantamkan ke dadanya seiring ucapan Reno itu. Langsung ia berbalik dan meninggalkan Reno tanpa berbicara sepatah kata pun.

Dengan cepat ia masuk ke kamar mandi untuk menenangkan napasnya yang sudah mulai memburu naik-turun, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, yang menurutnya sudah di luar batas.

Who in the hell does he think he is?!

Sebentuk kesal mulai berubah bentuk menjadi sejumput benci, dan dengan susah payah Fay menjaga supaya perasaan itu tidak berubah wujud menjadi tetesan air mata. Akhirnya ia memutuskan menendang tembok kamar mandi untuk melepas kesalnya dalam wujud lain selain air mata. Berkali-kali kakinya bergantian menendang dinding di bagian bawah sambil membayangkan ada gambar wajah Reno di sana. Setelah tendangan kedelapan, dengan sedikit heran ia mendapati teorinya berhasil, karena sekarang setidaknya air mata tadi sudah tidak berdiri lagi di ambang pintu keluar. Fay baru masuk ke kelas lagi tepat ketika kelas dimulai. Tanpa melirik sedikit pun ke arah Reno, ia duduk di bangkunya.

Untung bagi dirinya, siang ini M. Thierry tidak menyuruh mereka mengerjakan latihan sama sekali, yang hampir selalu membutuhkan bantuan kamus. Selama ini Fay jarang sekali menggunakan kamusnya sendiri dan lebih sering menggunakan kamus Reno yang jauh lebih lengkap. Jadilah ia terhindar dari kewajiban untuk berbicara dengan Reno untuk meminjam kamusnya.

Segera setelah kata ”au revoir” keluar dari mulut M. Thierry menutup pertemuan hari ini, Fay beranjak dari tempat duduk membawa ranselnya yang sudah disiapkan dari lima menit sebelumnya, sambil menyambar buku dan pensil yang masih tergeletak di meja. Untuk pertama kalinya, tidak ada kata perpisahan sedikit pun yang dilontarkan kepada Reno. Fay membereskan bukunya di lobi dan untuk pertama kalinya juga, menunggu Lucas di pinggir jalan di luar.

Sepanjang jalan, Fay merasa pikirannya menerawang tak terarah dengan perasaan yang tidak bisa dimengerti olehnya. Ia merasa marah, dengan campuran bumbu kecewa dan sedih dalam rasa itu, dan Fay tidak punya bayangan bagaimana ia bisa mengenyahkan perasaan itu serta melalui sore ini dengan selamat. Bahkan pemandangan bagai negeri dongeng sebelum sampai ke gerbang rumah latihan pun tidak bisa mengangkat perasaannya barang sedikit.

Latihan lari sore itu dijalaninya setengah hati, tapi anehnya waktu tempuhnya membaik dengan drastis, baik di jalur panjang maupun jalur lari cepat. Kalau saja matanya tidak melihat Andrew yang mengangguk puas ke arahnya, Fay akan menarik kesimpulan jamnya salah.

Fay sempat berpikir untuk minta izin sebentar ke Andrew untuk melihat danau yang disebutkan oleh Kent, tapi keinginan itu sudah pupus sewaktu melihat Bentley hitam milik Andrew yang diparkir di depan pintu waktu ia datang tadi. Lihat mobilnya saja sudah mulas, gimana mau bicara minta izin? pikirnya sebal pada diri sendiri.

Begitu sampai di foyer, Andrew berkata sambil lalu, ”Dua puluh menit lagi, temui saya di ruang kerja. Saya akan menyinggung tentang tugas kamu nanti.”

Fay mengangguk. Perutnya mulai mulas mendengar bahwa sebentar lagi dia akan tahu apa sebenarnya yang diminta oleh Andrew. Sebuah inti yang menyebabkannya harus menjalani dua minggu ini dengan kerja keras dan air mata. Padahal ini harusnya menjadi liburan paling indah seumur hidup, pikirnya.

Fay baru saja akan melangkah ke atas waktu Andrew berbalik dan berkata,

”Oh ya, Fay. Saya akan memberikan tes dari waktu ke waktu untuk menjaga supaya apa yang sudah kamu pelajari minggu lalu tidak kamu lupakan. Sebaiknya kamu selalu bersiap-siap, karena dengan waktu yang semakin dekat, saya tidak akan mentolerir kesalahan sedikit pun.”

Fay melihat Andrew yang berjalan meninggalkannya menuju ruang kerja. Kini perutnya benar-benar mulas.

Dua puluh lima menit kemudian, Fay sudah berada di ruang belajar setelah sebelumnya Andrew memberi tes singkat tentang Seena yang untungnya bisa dengan sukses ia jawab. Sekarang ia memperhatikan sebuah foto yang terpampang di layar, menampilkan gerbang hitam berjeruji yang kedua pintunya tertutup rapat. Dari sela-sela jeruji terlihat beberapa penjaga berdiri dan ada gerbang lain yang tertutup rapat di belakang mereka.

”Ini akses utama untuk masuk ke kediaman Alfred. Kamu bisa lihat bahwa gerbang itu berlapis dua, dengan penjagaan yang sangat ketat dan kamera tersebar di mana-mana,” kata Andrew.

Selang beberapa waktu, gambar berubah, menampakkan sebuah rumah yang sangat besar, dipotret dari atas, berbentuk huruf L. Di sekeliling rumah itu tampak hijau rumput dan pepohonan.

”Ini gambar kediaman Alfred dari atas.”

Gambar kembali berubah. Kali ini menampilkan sebuah gerbang lain, juga dua lapis, dengan penjaga.

”Gambar ini foto area gerbang servis, yang penjagaannya tidak kalah ketat dengan gerbang utama.”

Andrew melanjutkan, ”Tugas kamu ada dua, saling berkaitan satu sama lain. Yang pertama adalah memetakan kediaman Alfred dan memberikan informasi sebanyak-banyaknya tentang penjagaan keamanan di kediaman itu. Yang kedua adalah memasang penyadap di ruang kerja pria itu.”

Layar di depannya kini berubah kosong. Fay menatap Andrew dengan tatapan bertanya dan pria itu menjawabnya,

”Hanya itu yang berhasil kami peroleh tentang kediaman Alfred. Rumah pria itu bagaikan benteng yang tidak bisa ditembus dari luar. Satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan mengetuk pintu depan. Dan itu akan dilakukan olehmu.”

Fay meneguk ludah dengan susah payah. Bahwa ia akan masuk ke rumah Alfred dengan berpura-pura menjadi keponakan pria itu, ia sudah tahu sejak diculik di hari pertamanya di Paris. Tapi bahwa kediaman Alfred ternyata dijaga seperti istana presiden, ia baru tahu. Kalau seorang Andrew saja tidak bisa memperoleh akses untuk mendapatkan informasi lebih banyak daripada itu, mengutus dirinya ke sana sama saja mengirimnya untuk bunuh diri!

Andrew menatapnya seakan tahu apa yang ada di pikirannya.

”Tiket untuk masuk dan keluar dari kediaman itu adalah dengan memerankan Seena dengan sempurna dan melakukan tugas yang diberikan kepadamu tanpa menimbulkan kecurigaan siapa pun. Itu sebabnya saya memaksamu bersusah payah selama dua minggu ini, dengan latihan fisik yang tidak ringan dan dengan semua kerumitan informasi yang harus kamu pelajari tanpa kesalahan. Semua itu tiket untuk keluar dengan utuh dalam keadaan bernapas. Status kamu sebagai keponakan yang masih remaja akan sangat membantu dalam tugas ini. Seorang dewasa yang berkeliling-keliling, bertanya tentang banyak hal, atau tertangkap masuk ke ruangan yang salah akan langsung memancing kecurigaan. Tapi, bila hal yang sama dilakukan oleh seorang remaja, ada harapan untuk lolos dengan dalih bahwa hal itu dilakukan karena keingintahuan belaka.”

Fay merasa napasnya tercekat, seakan kerongkongannya memutuskan untuk memblokir udara masuk. Kejadian yang menimpanya ini memang sesuatu yang luar biasa yang tidak pernah diimpikan bisa terjadi pada dirinya. Dan ketika semua ini ia pikir hampir berakhir, ia dihadapkan pada realita baru, bahwa sebenarnya perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai hari Minggu nanti, saat memasuki kediaman itu. Selama ini ia tidak pernah berpikir bahwa ada kemungkinan baginya untuk tidak keluar hidup-hidup. Mungkin itu alasannya ia tidak pernah mau berpikir, karena pilihan yang ada terlalu menakutkan. Hingga sekarang, pilihan kematian seakan dipampangkan di depannya.

Andrew melanjutkan, ”Malam ini dan besok, saya akan membahas tentang tugas kamu.”

Andrew memulai penjelasannya dengan kembali menampilkan gambar pertama, foto gerbang utama Alfred.

”Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kediaman Alfred, selain yang jelas terlihat dari gambar bahwa keamanannya sangat ketat. Jalan di depan rumah Alfred bukanlah jalanan yang umum dilewati karena satu-satunya pintu di jalan itu adalah pintu gerbang masuk ke kediamannya. Kalau kamu bisa membayangkan, posisi jalan ini seperti garis horizontal penghubung di huruf ’H’. Satu saja mobil yang berhenti akan langsung dihampiri. Mobil yang sama yang lewat berkali-kali pun akan langsung memancing kecurigaan. Vladyvsky juga mengatur supaya ada patroli yang mondar-mandir di jalan itu.”

Andrew menekan satu tombol di komputer dan di layar sekarang terpampang sebuah gambar yang menampakkan foto kediaman Alfred yang cukup detail dari atas. Terlihat bahwa bangunan rumahnya berbentuk huruf L dengan sebuah kolam renang, dan dengan penjaga yang bertebaran di halaman.

”Ini gambar satelit, menampakkan kediaman Alfred dari atas. Gambar ini cukup detail, tapi tidak bisa menangkap semua informasi yang dibutuhkan. Alasan pertama, karena keterbatasan akses ke satelit, proses monitor tidak bisa dilakukan terusmenerus selama dua puluh empat jam. Alasan kedua, tidak semua detail bisa terlihat di sini karena diambil dari atas.”

Andrew men-zoom satu bagian halaman hingga tampak sangat besar. Ia menunjuk satu pohon, kemudian berkata, ”Kalau kamu perhatikan dari sela-sela dahan dan daun, ada sebuah kamera yang diletakkan di pohon ini. Kebetulan posisinya tidak terlalu terlindung sehingga kamera itu terlihat dari atas. Kita tidak tahu pasti apakah kamera seperti ini ada di pohonpohon lain dan tempat-tempat lain yang terlindung. Bila itu kasusnya, akses ke semua satelit di dunia pun tidak akan bisa membantu.”

Andrew berhenti sejenak sebelum melanjutkan, ”Untuk melakukan tugas ini, kamu akan dilengkapi oleh satu buah laptop. Folder dokumen di laptop itu sudah diisi dengan file-file Seena yang diambil dari PC-nya di rumah. Bila dilihat di bagian aplikasi, laptop itu hanya berisi aplikasi standar, ditambah dengan beberapa permainan komputer biasa. Tapi sebenarnya ada program lain yang disisipkan di folder lain dan disamarkan sebagai bagian dari sistem operasi, yaitu program yang akan kamu pakai untuk menggambar denah itu. Program itu dibuat sangat user-friendly, dengan konsep user interface seperti program-program yang dirancang untuk digunakan oleh anak-anak, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang cara menggunakannya. ”Denah yang harus kamu gambar terdiri atas denah bagian luar rumah dan denah per lantai. Prioritas pertama adalah lantai tempat ruang kerja Alfred dan jalan menuju ke sana, setelah itu baru yang lain.

”Ada tiga hal mendasar yang harus tergambar dalam denah itu, yaitu posisi semua jalan akses, titik penjagaan elektronik, dan titik penjagaan non-eletronik.

”Untuk jalan akses, standar yang harus tergambar adalah: pintu, jendela, dan tangga. Kadang jalan akses bisa juga berupa lemari yang tembus ke ruang lain seperti pintu di ruang belajar ini, cerobong asap, lubang di dinding untuk binatang peliharaan, atau yang lain. Selain jalan akses, kamu juga harus menandai titik-titik penjagaan baik elektronik maupun nonelektronik. Untuk mengenali penjagaan elektronik diperlukan penglihatan yang tajam, sedangkan untuk mengenali penjagaan non-elektronik diperlukan pengamatan yang tajam. Dan itu membawa kita ke topik bahasan selanjutnya.

”Sesuai namanya, penjagaan elektronik adalah titik-titik ditempatkan peralatan elektronik untuk mengawasi atau menjaga keamanan. Ada banyak jenis peralatan elektronik yang digunakan dalam penjagaan keamanan, mulai dari yang paling umum seperti kamera, penyadap suara, dan laser, hingga yang rumit seperti detektor tekanan dan temperatur, bahkan pemindai struktur tulang. Karena tidak mungkin kamu bisa menguasai semuanya dalam waktu sesingkat ini, yang saya harapkan dari kamu saat memetakan rumah Alfred hanyalah posisi kamera pengawas.

”Umumnya sebuah kamera diletakkan di pojok sebuah ruangan, di bagian atas, sehingga bisa didapat sudut gambar yang luas. Jadi, setiap kali kamu masuk ke satu ruangan, kamu harus bisa melihat di mana saja posisi kamera. Ingat, jangan sekalikali mengarahkan pandangan kamu ke atas seperti mencari sesuatu di sana. Biarkan pandangan kamu menyapu ke sekeliling ruangan dengan ketinggian sejajar dengan mata kamu, sementara sudut mata kamu terfokus ke bagian atas. ”Penjagaan non-elektronik adalah titik-titik ditempatkan penjaga berupa manusia atau hewan. Untuk mengenalinya secara akurat, diperlukan pengamatan yang tajam. Ingat, bukan penglihatan tapi pengamatan, karena apa yang terlihat bukan selalu apa yang terjadi. Contohnya adalah seorang penjaga yang berdiri di pintu depan. Kalau kamu hanya melihat sekilas, informasi yang kamu simpulkan adalah: ”Pintu masuk dijaga oleh seorang penjaga’.

”Kalau kamu mengamatinya dalam waktu dua puluh empat jam, yang kamu peroleh bukanlah sebuah informasi, tapi sebuah pola. Mungkin laporan kamu akan berbunyi seperti ini: ’Pintu dijaga oleh penjaga selama empat jam. Setiap jam, penjaga menginspeksi jalanan di sekitar pintu. Di akhir jam keempat, penjaga itu digantikan oleh penjaga lain’.

”Semakin lama waktu yang diperlukan untuk mengamati, semakin lengkap dan akurat pola yang terbentuk. Misalnya untuk contoh tadi, mungkin setelah diamati selama satu minggu penuh baru diketahui bahwa jadwal tadi berlaku hanya di hari kerja. Untuk kasus terdapat keterbatasan waktu dalam pengamatan, cara termudah untuk mendapat informasi tanpa menghabiskan waktu terlalu banyak adalah dengan memperoleh informasi itu dari orang lain, atau bertanya.

”Karena waktu kamu di rumah Alfred terbatas, bertanyalah sebanyak-banyaknya tanpa menarik perhatian. Ingat, kalau orang yang ditanyai jumlahnya terlalu sedikit, kamu akan bertanya terlalu banyak ke satu orang saja sehingga bisa memancing kecurigaan. Tapi, kalau orang yang ditanyai jumlahnya terlalu banyak, kamu akan menarik perhatian, dan itu juga mengundang kecurigaan.”

Fay terdiam. Semakin lama ia mendengar penjelasan Andrew, semakin terasa bahwa kemungkinannya untuk melakukan tugas itu dan keluar dalam keadaan hidup-hidup semakin tipis. Jiwanya seakan menyelam ke sebuah palung, semakin lama semakin dalam dan menyesakkan.

Andrew melanjutkan, ”Semua hasil kerja kamu akan disimpan dalam sebuah file yang juga disamarkan sebagai bagian dari sistem operasi. Kamu harus mengirimkan file itu dengan cara menghubungkan diri ke Internet menggunakan telepon genggam yang nanti juga akan diberikan. Di kediaman Alfred, telepon genggam itu hanya boleh dipakai untuk keperluan koneksi ke Internet dan bukan untuk menelepon atau untuk mengirimkan pesan singkat. Saya tidak mau mengambil risiko ada yang mencuri dengar apa yang kamu katakan di telepon. ”Besok saya akan menjelaskan lebih detail tentang protokol penggunaan telepon, termasuk cara mengirimkan informasi itu.

Sekarang, saya mau kamu membiasakan diri dengan isi laptop dan program yang akan kamu pakai.”

Keesokan harinya, Fay bangun lebih siang dari biasa dan dengan tergesa-gesa pergi ke kamar mandi. Sebenarnya ia memang secara sengaja berencana untuk datang lebih siang supaya tidak sempat berbicara dengan Reno, tapi karena tidak terbiasa datang pas, tetap saja ia agak panik karena takut malah jadi terlambat.

Rencananya cukup berhasil. Ketika sampai di kelas, semua sudah datang dan saling berceloteh satu sama lain. Ia langsung duduk tanpa menoleh atau berbicara sepatah kata pun dengan Reno, dan tepat saat itu M. Thierry masuk untuk memulai pelajaran pagi ini. Dari sudut matanya, Fay melihat Reno memerhatikannya tapi ia tidak peduli.

Saat makan siang, Fay pun langsung turun menuju lobi untuk menunggu Kent.

Kali ini keadaan tidak berpihak pada dirinya. Setengah jam merayap dan berlalu, tapi sosok pemuda itu belum tampak juga. Dan kini perutnya mulai keroncongan.

Andaikata telepon genggamnya bisa difungsikan secara aktif seperti di Jakarta, pikirnya kesal. Rasanya komunikasi di Jakarta tidak pernah sesulit ini, setidaknya SMS pasti dengan lancar lalu lalang antara ia dan teman-temannya bila mempunyai janji bertemu.

Pintu terbuka dan sontak Fay menoleh penuh harap.

Kent!

Sebuah senyum langsung terkembang di rona wajahnya yang kini merekah, siap menyambut wajah yang sudah dirindukannya.

Kent tersenyum melihatnya dan mendaratkan satu kecupan ringan di pipinya sambil merengkuhnya ketika Fay mendekat.

Fay menatap matanya dan menangkap sebersit warna kelam di sorot mata pemuda itu.

”Ada apa?” tanyanya kuatir.

”Aku minta maaf, Fay. Sepertinya aku tidak bisa menemani kamu makan siang. Ada tugas dari Paman yang harus kulakukan,” jawabnya sambil menghela napas.

Rasa kecewa segera mengikis perasaan berbunga-bunga yang tadi mulai merekah, tapi Fay berusaha menutupinya. Ia berkata sambil tetap tersenyum, ”Tidak masalah. Kamu selesaikan saja dulu tugas dari pamanmu. Aku tidak mau kamu sampai terlibat kesulitan.” Lalu ia bertanya lagi, ”Apakah kamu akan datang sore ini?”

”Aku rasa tidak,” kata Kent penuh sesal. ”Tapi aku janji besok siang akan datang. Kalaupun aku tidak bisa pergi makan siang bersama kamu, aku akan mampir sebentar untuk bertemu kamu,” sambung pemuda itu lagi.

Fay tersenyum dengan secercah harapan yang mulai tumbuh.

”Ini penyadap yang harus kamu pasang di ruang kerja Alfred,” ujar Andrew di hari Rabu sore. Fay duduk berhadapan dengan Andrew di meja kerjanya, setelah menyelesaikan kedua jalur yang ada di luar rumah.

Fay melihat dua benda yang ditunjuk Andrew dengan takjub. Benda itu berwarna hitam berbentuk bundar dengan ukuran kurang-lebih sama dengan kancing baju. Salah satu sisinya agak melengkung dan sisi yang lain datar.

”Kecil sekali,” gumamnya kagum.

”Itu masih termasuk kategori raksasa. Masih banyak peralatan sejenis yang berukuran lebih kecil, hingga setipis jarum.”

Andrew menyambung penjelasannya, ”Ukuran penyadap berbanding lurus dengan jangkauannya. Semakin kecil ukuran suatu penyadap, semakin lemah jangkauan signalnya, baik dari sisi penerimaan suara maupun dari sisi pancaran sinyal ke unit penerima terdekat.

”Seperti yang saya jelaskan kemarin, jalan di depan rumah Alfred diawasi oleh para penjaga sehingga unit penerima sinyal tidak bisa ditempatkan di sana. Satu-satunya lokasi yang memungkinkan terletak agak jauh, di jalan yang ada di sisi rumah, dan itu berarti penyadap yang dipasang harus mempunyai pancaran sinyal yang cukup kuat.”

Andrew mengambil satu penyadap dan memainkannya di jari-jemarinya.

”Jenis inilah yang direkomendasikan untuk tugas kamu. Hanya dua unit yang diperbolehkan untuk dipasang bersamaan dalam radius lima puluh meter.”

”Kenapa hanya dua buah?” tanya Fay.

”Itu adalah jumlah maksimal yang bisa ditolerir sebelum gelombang yang dipancarkannya bisa mengganggu peralatan elektronik lain dalam radius hingga lima puluh meter.”

Andrew melihat wajah Fay yang bingung dan menambah penjelasannya, ”Dalam keadaan aktif, penyadap ini baru bisa dideteksi bila sebuah detektor didekatkan dengan jarak tiga meter dari benda ini. Tapi, bila ada lebih dari dua penyadap ini yang aktif dalam radius lima puluh meter, akan ada gangguan sinyal yang diterima oleh peralatan elektronik lain yang ada di sekitarnya hingga jarak lima puluh meter. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau mendadak gambar di TV penjaga tidak mulus, suara telepon dari telepon genggam terputus-putus, dan suara headset penjaga tidak jernih. Mereka akan segera mencari penyebab gangguan sinyal, dengan tebakan awal ada usaha untuk memasang penjagaan elektronik secara diam-diam. Dalam kondisi seperti itu, pasti akan diadakan penyapuan dengan detektor, dan tempat pertama yang mereka geledah pasti ruang kerja Alfred.”

Fay mengambil satu penyadap yang masih tergeletak di meja. Lebih berat sedikit daripada sebuah kancing. Rasanya lebih seperti magnet yang digunakan untuk menempel hiasan di pintu kulkas.

Andrew melanjutkan lagi, ”Untuk mengaktifkannya, yang harus kamu lakukan hanyalah membuka penutup sisi yang datar. Di baliknya ada perekat yang bisa menempel di hampir semua permukaan keras.”

Fay bertanya, ”Di mana saya harus menempelkan benda itu?”

Andrew merentangkan tangannya. ”Bayangkan ruang kerja saya ini sebagai ruang kerja Alfred.” Dia kemudian menunjuk ke arah pintu masuk. ”Anggap saja kamu baru masuk dan melakukan Analisis Perimeter ketika masuk ke dalam ruang ini. Berdiri di pintu, amati ruang ini dan beritahu saya pendapat kamu di mana kamu akan meletakkan kedua benda ini.”

Fay berdiri dan melakukan apa yang disuruh. Setelah yakin dengan idenya, ia kembali ke hadapan Andrew dan kembali duduk di kursi.

Andrew melihatnya dengan tatapan bertanya. ”Well?” ”Saya akan meletakkan satu di meja kerja ini dan satu lagi

di meja dekat sofa.” ”Kenapa?” tanya Andrew.

”Karena menurut saya di kedua tempat itulah paling mungkin terjadi percakapan.”

Andrew tersenyum. ”Alasan kamu cukup tepat. Ada dua hal yang harus diperhatikan ketika memutuskan lokasi penempatan penyadap seperti ini. Yang pertama adalah sumber informasi, yang kedua baru posisi.

”Pertimbangkan dulu di mana sumber informasi kamu kemungkinan akan berbicara. Lokasi yang paling umum adalah lokasi terdapat meja dan kursi, dan peralatan telekomunikasi. ”Setelah kamu bisa mengenali lokasi sumber informasi, baru kamu menentukan posisi penempatan penyadap ini. Yang jadi pertimbangan adalah, kemampuan teknis alat, kemungkinan terdeteksi, dan kemungkinan untuk melepaskannya tanpa ke-

tahuan.

”Cara paling mudah untuk mendeskripsikan keduanya adalah, ’Sembunyikan alat ini sehingga tidak mudah terdeteksi, tapi jangan terlalu tersembunyi sehingga sulit kamu ambil dalam keadaan terdesak.’”

Andrew bangkit dari kursi dan mengajaknya duduk di sofa. Dia melanjutkan, ”Kalau kamu ingin meletakkan penyadap di suatu tempat, pertama-tama pastikan dulu tempat itu jarang diakses, baik oleh sumber informasi atau orang lain seperti petugas kebersihan. Di meja sofa ini, periksa bagian bawah meja dan cari petunjuk apakah bagian itu sering diakses, misalnya tombol tanda bahaya seperti yang ada di kolong meja di kasir bank, atau senjata yang ditempelkan sebagai cadangan.

”Setelah kamu yakin akan meletakkannya di sana, letakkanlah di bagian yang masih bisa dijangkau dengan mudah sehingga bisa kamu lepaskan dalam keadaan mendesak. Jadi, letakkan agak ke pinggir, tidak lebih jauh dari jangkauan jari yang diselipkan.”

Andrew menatapnya sebentar kemudian berkata, ”Sekarang kamu saya beri waktu sepuluh menit untuk mengelilingi rumah, kemudian dua puluh menit untuk menggambar denah di laptop kamu. Setelah selesai, kita akan memasuki setiap ruangan satu per satu, dan kamu harus memberitahu saya di mana kamu akan meletakkan dua buah penyadap di setiap ruangan itu. Setelah makan malam, saya akan menjelaskan tentang protokol penggunaan telepon dan pengiriman data.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊