menu

Eiffel, Tolong! Bab 09: Menemukan Keluarga

Mode Malam
Menemukan Keluarga

FAY duduk berhadapan dengan Reno hari Senin pagi di kafeteria sekolah. Tidak seperti biasanya, di sebelah mereka terdapat setumpuk buku. Ada buku pelajaran bahasa Prancis mereka, beberapa lembar kertas putih, sebuah kamus PrancisInggris, dan sebuah kamus Inggris-Prancis. Dua yang terakhir itu kepunyaan Reno.

M. Thierry tadi berkata bahwa untuk sore ini, mereka diberi tugas membuat sebuah family tree atau pohon keluarga, beserta karangan singkat yang menjelaskan bagan itu. Dia juga menambahkan, bahwa walaupun topik itu dimulai siang nanti, tidak ada salahnya bila mereka mulai memikirkan bagaimana pohon keluarga mereka, sehingga saat pelajaran dimulai setelah makan siang mereka hanya tinggal memikirkan karangan yang harus dikumpulkan sore ini juga.

Setelah makan siangnya habis, Fay langsung mengambil kertas dan mencoret-coret, diikuti Reno.

Tidak butuh waktu lama bagi Fay untuk menyelesaikannya. Hanya ada delapan lingkaran di dalam pohonnya: kakek dan neneknya, masing-masing dari pihak ayah dan ibu, ayah dan ibunya, adik ayahnya, dan ia sendiri. Empat lingkaran—yang berisi kedua kakek dan neneknya—diberi tanda silang kecil menandakan mereka sudah tiada.

Reno mendongak ke arah Fay dan bertanya dengan agak terkejut, ”Sudah selesai?”

”Sudah. Keluargaku kan minim sekali,” sahut Fay sambil meraih buku pelajaran bahasa Prancis mereka. Ia berniat membuat draft karangannya sekarang.

Reno kembali mencoret-coret kertasnya dan selang beberapa saat, dia tersenyum puas.

”Fay, lihat baganmu ya,” ucapnya sambil menyambar bagan Fay yang tergeletak di meja.

Reno segera menyahut lagi, ”Ya ampun, pohonmu kecil sekali.”

Fay tertawa. ”Iya, aku kan sudah bilang kalau keluargaku jumlahnya hanya sedikit. Hanya ada enam orang, kamu bisa lihat sendiri. Kakek dan nenekku pun sudah tiada. Dan aku tidak pernah bertemu dengan satu-satunya keluarga yang kupunya, pamanku.”

”Kenapa? Pamanmu tinggal di luar kota atau di luar negeri?” tanya Reno.

”Aku tidak tahu. Sepengetahuanku, ayahku pernah ribut besar dengannya waktu aku masih kecil dan sejak itu mereka tidak pernah berhubungan lagi. Aku bahkan tidak tahu apakah pamanku itu sudah menikah dan punya anak.”

Reno menggeleng. ”Tidak ada orang yang bisa memutuskan hubungan darah dan menurutku semua persoalan seharusnya bisa diselesaikan. Kamu pernah bertanya tentang pamanmu ke ayahmu?”

”Pernah. Tapi jawabannya waktu itu ’Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti.’ Ya sudah, sejak itu aku malas bertanya lagi.”

”Sayang sekali,” ucap Reno singkat.

”Bagan kamu seperti apa, coba aku lihat,” kata Fay.

Ia mengamati lingkaran-lingkaran yang memenuhi pohon Reno, ada sekitar empat puluh lingkaran, dan berdecak kagum campur iri, ”Wah, banyak sekali keluargamu. Pasti ramai sekali ya kalau ada acara kumpul keluarga.”

Reno tertawa. ”Wah, Fay, itu bukan ramai lagi, tapi chaos.” ”Seringkah ada acara-acara seperti itu?” tanya Fay.

”Setiap tahun semua berkumpul saat liburan Natal. Beberapa keluarga yang ada di luar negeri pulang ke Quito hanya dua tahun sekali, jadi pada saat itu pasti lebih ramai daripada biasanya. Itu yang resmi merupakan kumpul keluarga. Tapi kalau yang tidak resmi seperti acara perkawinan atau acara ulang tahun, ya cukup sering, walaupun tidak akan seramai acara di liburan Natal.”

”Kamu juga pulang dua tahun sekali?”

”Kalau aku pengecualian, Fay. Sejak kepergianku, aku baru pulang satu kali, tiga tahun yang lalu. Itu pun bukan saat Natal, tapi saat kelulusan.”

Fay memperhatikan bagan itu lagi dan bertanya, ”Lingkaran yang ada nama kamu di mana ya?”

Reno memajukan badannya dan menunjuk satu lingkaran yang sebenarnya sudah dibuat sedikit berbeda dari lingkaran lain, dengan penulisan berupa huruf kapital semuanya dan diberi garis bawah.

Mata Fay otomatis menjelajah ke sekitar lingkaran itu, melihat keluarga inti Reno. Bahwa orangtua Reno sudah meninggal dunia, ia sudah tahu. Tapi dengan heran ia menemukan satu lingkaran lagi di sebelah Reno yang juga diberi tanda silang. ”Kamu punya saudara kandung?”

Reno menjawab dengan sedikit enggan, ”Iya.”

Fay mendongak, melihat Reno dengan pandangan penuh tanya seperti menunggu penjelasan.

Akhirnya Reno berkata, ”Keluargaku meninggal karena kecelakaan waktu aku berumur tiga belas tahun. Waktu itu kami sekeluarga baru pulang liburan dari Pulau Bali. Sesampainya di Quito, kami dijemput oleh dua mobil, mobil keluargaku yang dibawa oleh sopir dan mobil sepupuku. Aku ikut mobil sepupuku sementara mereka semua—ayah, ibu, dan adik perempuanku—ada di mobil yang satu lagi. Saat sedang dalam perjalanan pulang itulah, aku melihat mobil yang membawa mereka meledak dan hancur. Laporan resmi dari kepolisian menyebutkan, ada bom dengan pengatur waktu yang diletakkan di bawah mobil.”

Fay terbelalak menatap Reno.

Reno berhenti. Sebuah beban berat seperti terangkat dari dadanya dan dia meraih air mineralnya.

Fay bertanya dengan tak sabar, ”Kamu tahu kenapa sampai ada orang yang berniat melakukan hal itu kepada orangtua dan adikmu?”

Reno menjawab, ”Ayahku diplomat untuk PBB. Aku rasa kejadian ini berkaitan dengan pekerjaannya. Yang aku sesalkan adalah kematian adikku, Maria.” Dia terdiam.

Fay terdiam sebentar sebelum kembali bertanya, ”Berapa umurnya waktu kejadian itu?”

”Sembilan tahun.”

Fay berkata pelan, ”Aku ikut sedih.”

Reno tidak berucap, pikirannya menerawang, larut dalam cerita sendiri.

Fay yang merasa tidak enak dengan suasana hening itu, kembali bertanya, ”Kamu tinggal dengan paman kamu yang mana?”

”Maaf...?” tanya Reno yang pikirannya baru menapak dunia kembali.

”Kamu tinggal dengan pamanmu yang mana setelah kejadian itu?”

Reno melihat bagan itu masih dengan linglung kemudian tersentak seperti tersadar dan berkata, ”Tidak ada di bagan yang ini. Pamanku adalah keluarga jauh ibuku.”

Pembicaraan mereka terputus dengan lewatnya Erika diikuti dua punggawanya, sambil berkata riang, ”Hai, Reno. Wah, kamu rajin sekali ya. Aku juga baru mau mengerjakan tugas itu.” Reno menjawab ramah, ”Sebaiknya memang kamu buat sekarang, karena ternyata tidak semudah yang dikira.”

Erika melirik ke arah bagan yang ada di depan Reno. ”Keluarga kamu hanya sedikit ya, kalau keluargaku banyak sekali.”

”Ini punya Fay, bagan punyaku sedang dilihat oleh Fay.”

Erika menoleh kepada Phil dan Jose. ”Guys, bisa tolong carikan tempat kita bisa menulis tanpa diganggu? Jangan yang terlalu banyak sinar matahari ya, nanti kulitku rusak.” Dia duduk di kursi sebelah Reno kemudian berkata ke arah Fay, ”Fay, aku bisa lihat bagan Reno?”

Fay mengulurkan kertas yang dipegangnya sambil menyumpah dalam hati.

”Wah, banyak sekali keluargamu. Kira-kira keluargaku juga seperti ini. Kalau sudah berkumpul, semuanya heboh.”

Jose memanggil Erika dari kejauhan.

Erika berdiri. ”Aku ke sana dulu ya. Kalau aku perlu bantuan untuk membuatnya, nanti aku minta tolong kamu ya.”

Dengan kesal Fay melihat Erika yang kecentilan itu dengan genit menepuk pundak Reno dari belakang dengan kedua tangan sambil mendekatkan kepalanya ke telinga Reno, sebelum berjalan meninggalkan mereka.

Fay menjulurkan lidah sedikit ke arah Erika yang berjalan membelakangi mereka tanpa sadar bahwa Reno memperhatikan, dan jadi malu sendiri waktu mendapati Reno tersenyum melihatnya.

”Kalau aku perhatikan, kamu sepertinya selalu saja kesal pada Erika. Kenapa?”

”Menurutku dia itu memang menyebalkan,” jawabnya. ”Apanya yang menyebalkan?” tanya Reno heran.

”Dia selalu saja berusaha mengganggu kalau kamu sedang berdua dengan aku. Dan terlihat jelas dia tidak suka padaku. Jangankan menyapa, melirik aku saja dia tidak pernah. Mungkin dia bahkan tidak tahu aku ada,” jawabnya dengan nada mulai meninggi. ”Kamu terlalu sensitif saja,” kata Reno berusaha menenangkannya.

”Apanya yang sensitif? Jelas-jelas dia menganggapku tidak ada kalau dia sedang sibuk-sibuknya mendekati kamu dengan agresif. Contohnya tadi, apa perlunya dia pegang-pegang segala waktu bicara, memang dasar saja kecentilan,” sahut Fay sewot.

Reno tertawa. ”Kamu tahu tidak, kamu barusan terdengar seperti istri yang cemburu?”

”Bukan, bukan cemburu, hanya saja menurutku dia tidak pantas untuk kamu,” jawab Fay lebih sewot.

”Menurut kamu, yang pantas buatku itu seperti siapa?” tanya Reno menggodanya.

”Pokoknya yang lebih baik dari dia. Yang jelas, di sini tidak ada,” jawab Fay ketus.

Reno kembali tertawa geli. ”Oke, Nona, lain kali kalau ada kandidat yang lebih pantas, tolong saya segera diberitahu ya.”

Fay akhirnya tersenyum.

Senyumnya semakin lebar ketika Reno berkata dengan muka yang dibuat sangat serius, ”Ayo kita pindah ke ruang belajar di dalam, sebelum ada yang datang lagi untuk minta diajari cara membuat bagan keluarga, dan membuat Nona Fay yang terhormat ini kesal.”

Di sore hari, Fay kembali bertemu dengan Andrew di rumah latihan. Setelah menyelesaikan dua putaran lari, ia dibawa oleh Andrew ke halaman belakang rumah yang tertutup oleh deretan pohon. Di balik pepohonan itu ternyata terdapat satu jalur lari sepanjang 200 meter.

Awalnya, menyelesaikan jalur yang pendek dan rata itu tampaknya mudah, mengingat selama satu minggu Fay sudah berhasil melalui jalur yang lebih panjang dengan kontur naikturun. Tapi setelah mencobanya, ternyata sama sekali tidak sama antara berlari di jalan setapak yang panjang dengan berlari di jalur yang pendek seperti ini. Di jalur yang panjang, ia harus menjaga supaya larinya stabil dan tenaganya bertahan hingga langkah terakhir. Caranya adalah dengan tidak menggunakan tenaga secara penuh di awal. Tapi di jalur pendek ini, ia harus mengerahkan tenaga sekuat-kuatnya sejak awal, dan masih harus menyisakan tenaga ekstra untuk menggenjotnya di beberapa langkah akhir. Alhasil, kakinya sangat kaku, hampir kram karena belum terbiasa.

Setelah makan malam, seperti biasa Fay menemui Andrew di ruangan kecil di belakang lemari ruang kerjanya. Dengan kecewa ia mendapati tidak ada tanda-tanda keberadaan Kent di sana.

”Saya akan memberi sedikit latar belakang Alfred Whitman.”

Foto Alfred Whitman terpampang di depan. Pria itu baru turun dari mobilnya, mengenakan jas dan celana putih. Pria itu berambut cokelat agak bergelombang, bermata juga cokelat, dan tubuhnya tegap cenderung berotot.

Layar menampakkan foto kedua, menampilkan pria itu sedang berbusana santai di atas yacht-nya. Foto ketiga diambil di pelataran sebuah kafe, pria itu sedang duduk menikmati kopi sambil menelepon.

Fay tidak tahu apakah ini hanya perasaanya saja, tapi ia merasa ada keramahan yang tampak di wajah pria itu, walaupun mata pria itu seolah menyimpan kesedihan.

”Alfred Whitman, di usia empat puluh tiga tahun, adalah pengusaha yang sangat sukses. Dia ada di daftar ’Who’s Who’ Eropa, yang mengurutkan nama orang-orang terpandang dan berpengaruh di benua ini. Bisnisnya beragam, mulai dari otomotif, retail, keuangan, hingga telekomunikasi. Perusahaannya tersebar di seluruh dunia dengan konsentrasi di Eropa dan Timur Tengah, tapi semuanya berbasis di Inggris, dijalankan olehnya dari Paris. Kamu tentunya masih ingat, dia pindah ke Paris sejak istrinya meninggal dunia. Kantornya secara resmi berada di pusat bisnis di Paris, tapi pria itu sangat sering berkantor di rumahnya sendiri.

”Alfred Whitman juga terkenal sebagai kolektor barang antik. Dia bukan penggemar barang seni seperti lukisan, tapi lebih ke artefak arkeologi.

”Tingginya normal menurut standar Eropa. Sangat atletis, gemar olahraga bela diri, dan di waktu luangnya dia sering berlayar menggunakan yacht-nya di akhir pekan.

”Sejak kematian istrinya, belum ada tanda-tanda dia terlibat dengan wanita mana pun.”

Gambar di depan kembali berganti, kali ini menampakkan foto seorang pria dengan kepala hampir botak. Mata pria itu kecil dan bulat seperti burung elang, tapi agak dalam. Bibir pria itu sangat tipis, hingga hampir-hampir hanya terlihat seperti garis. Hidung pria itu sangat mancung.

”Ini Vladyvsky, kelahiran Serbia, tangan kanan Alfred Whitman yang juga kepala keamanan di kediaman pria itu. Dia juga menjadi penasihat keamanan untuk semua aktivitas bisnis Alfred Whitman.

”Pria ini tidak punya kehidupan lain di luar dunia Alfred Whitman. Sebelum bergabung dengan Alfred, dia anggota badan intelijen di negara bekas Uni Sovyet. Sekarang, di mana ada Alfred, di situ bisa dipastikan ada Vladyvsky. Kamu harus sangat berhati-hati dengan pria ini. Dia terkenal kejam dan tidak pernah berkompromi.”

Fay bergidik. Ia tidak mau membayangkan sampai harus bertemu pria itu.

”Kembali ke Alfred, pria itu punya satu account e-mail yang dia pakai khusus untuk urusan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan bisnis, seperti menerima newsletter dari beberapa website Internet, sebagian besar berhubungan dengan hobi berlayarnya, dan surat-menyurat dengan keluarga mendiang istrinya.”

Andrew menyodorkan map, ”Ini sebagian korespondensi yang berhasil diperoleh antara Alfred dan Seena, yang dimulai kira-kira dua bulan lalu. Dibuka dengan Seena yang bertanya tentang kemungkinan dia datang bulan lalu, tapi setelah diiyakan oleh pamannya, dia berubah pikiran dan menggagalkannya.

”E-mail itu, yang berisi permohonan maaf Seena untuk membatalkan kunjungannya, berhasil diintervensi kemudian diganti isinya sebelum sampai ke alamat mailbox Alfred. Di e-mail pengganti itu, Seena memohon maaf karena harus mengganti jadwal kunjungannya menjadi hari Minggu besok. Surat itu juga sudah dibalas oleh pamannya, yang menjawab bahwa jadwal baru itu tidak masalah baginya. Surat dari Alfred juga diganti isinya sebelum sampai ke mailbox Seena. Kamu bisa lihat di dalam map ini, surat yang ditandai dengan ’X’ berarti tidak pernah sampai ke tujuannya.”

Fay tertegun sejenak. Pikirannya melayang ke larangan Andrew kemarin untuk membalas e-mail-e-mail dari teman dan keluarganya. Kalau Andrew tidak punya kesulitan untuk ”mengintip” e-mail Alfred, pastinya e-mailnya juga bisa dibaca dengan mudah.

Fay membuka map itu dan mulai membaca.

Surat 1 – Dari Seena untuk Alfred

Subject: Hi

Hi, Uncle Alfred, how are you? It’s been a while since the last time we heard from you. I hope everything’s fine. I also would like to apologize for not contacting you for so long.

Just want you to know that I just graduated from high school and will continue my study in University of Zurich this  year.  Mak  suggested  that  I  contacted  you  to  ask  whether I could stop by in Paris to meet you on my visit there next month to settle some administrative processes.

Looking forward to hear from you, Uncle. I hope I can meet you soon. Surat 2 – Dari Alfred untuk Seena

Subject: Re: Hi

Hi, Seena, what a pleasant surprise! How are you? It has indeed been quite a while since the last time I talked to any of the family in Malaysia.

I truly apologize if I have not contacted you or any of your family for quite some time. I have been busy taking care of my business although I know that alone cannot justify my misbehavior. It is not you who owes me an apology and the blame should be put on my shoulders only.

Of course I will be delighted to accept you in my custody here in Paris. Your mother should have nothing to worry about because she can be sure that you will be in good hands. Please let me know in advance so that I can make possible arrangement to allow myself to accompany you during your stay.

Surat 3 – Dari Seena untuk Alfred

Subject: Re: Hi

Uncle Alfred,

Good to hear from you! Mak was very happy when she read your reply. She sent her best regards and wishes for you.

Thank  you  for  accepting  me  in  your  resident.  I  will  be  in Zurich on the 5th next month to settle a lot of things regarding my entrance. If you don’t mind, I will drop by from  2nd   to  5th.  Will  you  be  available  on  those  dates?

Surat 4 – Dari Alfred untuk Seena

Subject: Re: Hi

Dear Seena,

I’ll be delighted to welcome you on the dates mentioned. I have managed to release myself from as many business obligations as possible, although with regret I must say, not entirely. Please do not worry though, since I have made arrangements so that you can still get the best out of your stay here. Looking forward to meeting you again.

Surat 5X – Dari Seena untuk Alfred orisinal

Subject: Re: Hi

Uncle Alfred,

I am deeply sorry to tell you that my visit will need to be rescheduled. One of Mak’s family is ill and she will be hospitalized for an operation in the hospital on the 3rd. All of  us  will  need  to  be  on  her  side.  I  will  let  you  know  should everything has worked out fine. Again, truly sorry for the trouble, Uncle.

Surat 5 – Dari Seena untuk Alfred modifikasi

Uncle Alfred,

I am deeply sorry to tell you that my visit will need to be rescheduled. One of Mak’s family is ill and she will be hospitalized for an operation in the hospital on the 3rd. All of   us   will   need   to   be   on   her   side.   The   university administration office has been very kind to reschedule my appointment to the third week in same month. Can I visit you  on  Sunday  before  I  depart  to  Zurich?  Again,  truly  sorry for the trouble, Uncle.

Surat 6X – Dari Alfred untuk Seena orisinal

Subject: Re: Hi

Dear Seena, you do not need to apologize.

One of the things that I admire most from your entire family is the strong willingness to support each other during difficult times. Up to this moment, I have never stopped feeling grateful to all of you for everything that you had done to support Zaliza during the difficult times—may God bless her soul in heaven—and to support me after her departure.

Please know that my door will always be open for any of you. The only reason for me to ask for your confirmation before you come is solely for the reason of your convenience and not anything else.

During the course of the third week, with regret I have been    engaged    in    another    commitment    that    cannot, unfortunately, be rescheduled. However, as I mentioned previously, I will make sure that you will be taken care of properly the way you plan it even though I’m not available next to you.

Please send my best regards and wishes to your family and my prayers to the ill. And do not forget to send the detail of your flight.

Surat 6 – Dari Alfred untuk Seena modifikasi

Subject: Re: Hi

Dear Seena, you do not need to apologize.

One of the thing that I admire most from the family is the strong willingness to support each other during difficult times. Up to this moment, I have never stopped being grateful to all of you for everything that you had done to support Zaliza during difficult times—may God bless her soul in heaven—and to support me after her departure.

Please know that my door will always be open for any of you.

Send my best regards and wishes to your family and my prayers to the ill.

”Ada pertanyaan?” Andrew menyentak lamunannya. ”Kalau Seena membatalkannya bulan lalu, berarti modifikasi

e-mail Seena yang mengatakan bahwa dia akan datang terjadi sebelum saya diculik,” komentar Fay bingung.

”Good  catch.  Pengamatan tentang Alfred beserta keluarganya memang sudah dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebelum kamu datang. Kalau kamu tidak ditemukan, rencana ini akan tetap dilakukan oleh orang lain. Modifikasi e-mail Seena yang menjadwalkan ulang kunjungannya dilakukan saat itu semata untuk mengulur waktu hingga agen saya siap karena itu adalah satu-satunya kesempatan untuk mendekati Alfred.”

Andrew melanjutkan lagi, ”Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah membuat satu e-mail lagi yang mengonfirmasikan pesawat dan jam kedatanganmu.”

”Saya yang membuat e-mailnya?” tanya Fay kaget.

”Ya. Saya mau kamu berpikir sebagai Seena saat menulis e-mail itu.”

Fay membaca e-mail-e-mail itu berkali-kali sambil berpikir. Akhirnya ia memberanikan diri meraih pensil dan mulai menulis.

Subject: Flight Detail Hi Uncle Alfred,

How are you? I have received the detail itinerary of my flight.

I will arrive on Sunday with Air France from Kuala Lumpur at 9 am in Charles de Gaulle, Paris. I will then continue to Zurich on Tuesday with Air France at 6 pm.

See you soon, Uncle.

Fay membacanya sekali lagi sebelum menyerahkan kertas itu kepada Andrew. Ia melihat Andrew membacanya dan dengan cemas menunggu tanggapan pria itu.

”Kalimat kamu kurang efisien. Kalau kamu perhatikan, dalam menulis e-mail, kepribadian Seena yang sebenarnya sama sekali tidak bisa terbaca. Dia menulis dengan kalimat-kalimat yang tampak seperti sebuah iklan terbatas di surat kabar: bila dilihat sekilas sepertinya singkat, tapi sebenarnya setiap kalimat menyampaikan pesan yang bermakna. Mungkin lebih tepat untuk mendeskripsikannya sebagai ’ringkas’. Surat yang kamu buat mengandung rasa sungkan yang tidak pernah ada di suratsurat Seena sebelumnya,” Andrew berkomentar sambil mengembalikan kertas itu ke Fay.

Fay kembali mengamati e-mail Seena dan setelah beberapa saat kembali menulis.

Subject: Flight Detail Uncle Alfred,

I will arrive at Charles de Gaulle on Sunday, 9 am with Air France, then I will go to Zurich on Tuesday, 6 pm. Good bye, Uncle.

Belum sempat ia menyerahkan kertas itu ke Andrew, pria itu sudah berkomentar, ”Terlalu singkat. Mungkin kamu bisa menyinggung sedikit tentang tujuan utamanya berkunjung ke universitas.”

Dengan perasaan agak dongkol Fay kembali membaca surat yang ia buat dan kembali membandingkannya dengan suratsurat Seena sebelumnya. Akhirnya ia setuju dengan pendapat Andrew dan memulai surat baru.

Setelah ia selesai, Andrew membacanya sebentar sebelum mengangguk dengan puas.

Subject: Flight Detail Uncle Alfred,

Thank you for allowing me to visit you despite your busy schedule. I have received confirmation from the university for my appointment on Wednesday. I will board Air France and will arrive in Paris on Sunday at 9 am, then I will leave for Zurich on Tuesday at 6 pm.

I’m very glad that we will actually meet very soon.

 Reno sedang duduk di meja tulis di kamar apartemennya, sibuk mengobrak-abrik dompetnya untuk mengeluarkan uang-uang receh yang terselip dan membuat dompetnya mulai menebal. Laptop yang dalam keadaan terbuka di depannya sama sekali tidak diacuhkan. Baru saja ia pulang dari kedai 24 jam berlokasi di sebelah apartemennya, tempat ia mengalami insiden kecil yang mengganggu saat hendak membayar roti dan minuman kaleng yang dibelinya. Dompetnya tidak bisa dikeluarkan, tepat di depan si kasir berambut merah yang cantik nan seksi dengan belahan baju rendah dan senyum menggoda. Tiga kali ia mencoba mengeluarkan dompet itu dari kantong belakang celananya dan ketika akhirnya dompet itu sudah di tangannya, keinginan untuk menanyakan nama si kasir yang masih tersenyum ke arahnya sudah lenyap.

Mendadak satu kertas yang terselip dari lipatan terdalam dompetnya terpegang jarinya. Tekstur kertas itu terasa sangat familier bagi indra peraba di ujung jarinya dan membangkitkan getaran kenangan bahkan sebelum kertas itu ditarik keluar dari dompetnya. Seketika itu juga pikirannya menolak, tapi sudah terlambat. Sinyal penolakan yang dikirim oleh otaknya tidak bisa mengejar sinyal lain yang menggerakkan jari-jarinya untuk secara refleks menarik kertas itu keluar. Sebuah sinyal kerinduan yang dikirim hatinya.

Maria.

Dari seluruh kertas-kertas yang ada di dompetnya, kenapa harus foto itu yang terambil? Reno memandangi foto lusuh berukuran 5x6 cm itu. Di foto itu ada dirinya di atas sepeda dengan Maria di belakangnya berdiri di pijakan kaki yang ada di roda belakang sepeda, sambil memeluk dirinya. Ayahnya yang mengambil foto itu, tepat sebelum Reno mengantar Maria ke kursus baletnya yang terakhir, dua minggu sebelum kepergian mereka ke Bali. Maria sudah mengenakan stoking merah muda kebanggaannya. Stoking yang dia yakini membuatnya tampil cantik seperti putri-putri dalam buku cerita yang bertebaran di kamarnya, yang sesekali tersasar ke kamar Reno bila adiknya sedang bermalas-malasan di kamarnya. Setiap kali menatap foto ini, Reno selalu bertanya bagaimana bisa sebuah foto mampu membekukan sebuah kenangan, lengkap dengan pancaran emosi yang saat itu ada. Seakan-akan makhluk yang terabadikan itu tadinya sedang dihujani kristalkristal air yang mendadak berubah bentuk menjadi sebongkah es dalam waktu secepat kilasan cahaya, sehingga bukan hanya makhluk itu yang terjebak dalam keabadian, tapi juga partikelpartikel emosi yang meliputinya tidak sempat menyisip keluar dan ikut terperangkap dalam bingkai waktu yang sama dengan si empunya. Maria yang saat ini ada di depannya itu seakan membalas tatapannya dengan wajah ceria dan senyum bahagia. Kebahagiaan yang saat ini hanya menyisakan pedih bagi Reno.

Delapan tahun sudah waktu yang dijalaninya seorang diri. Reno tercenung memikirkan betapa banyak kejadian yang akan menjadi kenangan bila delapan tahun ini tidak dijalaninya sendiri. Kenangan yang akan terabadikan dalam berpuluh bahkan mungkin beratus lembar kertas bernama foto. Mulai dari acara keluarga, kegiatan piknik, dan momen rutin seperti ulang tahun. Bila Maria masih bersamanya hari ini, usianya sudah hampir tujuh belas tahun.

Seperti Fay.

Pikirannya mendadak mengkhianatinya di tengah kenangan akan adik tersayangnya. Selain umur, tidak ada kesamaan antara Maria dan Fay yang bisa ditemukan olehnya. Tapi dengan Fay, ia mengingat Maria bukan melalui persamaan, melainkan melalui perbedaan di antara keduanya.

Reno akhirnya menyelipkan foto itu dengan hati-hati kembali ke dompetnya. Ingatan akan Fay mengembalikannya ke dunia kini dan ia mengalihkan perhatiannya ke laptop yang ada di depannya yang menampilkan jurnal selama mengikuti kursus bahasa Prancis dan mulai membaca potongan-potongan tulisannya.

Senin, Minggu 1

…Seorang peserta adalah gadis berasal dari Indonesia, dipanggil Fay,  tinggal  di  Jakarta.  Tidak  sempat  berbicara  banyak  dengannya karena dia terburu-buru pergi ketika dijemput seorang pria dengan van putih…

Selasa, Minggu 1

…Fay menceritakan pertemuannya dengan seorang pria di pesawat yang memuji ”keberaniannya” untuk belajar bahasa Prancis (dalam konteks bahasa Prancis adalah bahasa yang sulit).

Makan  siang  bersama  di  kafeteria  sekolah.  Fay  memakan  makanan diet, menurutnya baru kali ini dia coba, dan sama sekali tidak suka.

Bercerita tentang orangtuanya yang bekerja sebagai konsultan dan  banyak  melakukan  perjalanan  ke  luar  negeri.  Bila  mereka  tidak ada, Fay hanya ditemani pembantu di rumahnya, tidak ada keluarga atau teman orangtuanya yang mendampingi.

Saat ini kedua orangtuanya sedang betugas, ibunya ke Brazil dan  ayahnya  ke  Thailand.  Awalnya  tugas  ibunya  adalah  ke  Paris, dan Fay ikut untuk berlibur. Tapi karena mendadak tugas ibunya diubah,  Fay  mengikuti  kursus  ini  sebagai  jalan  keluar  atas  tiketnya yang tidak bisa diubah.

Waktu ulang tahunnya yang terakhir (16) di bulan Juli, kedua orangtuanya  juga  pergi  bertugas  bersamaan.  Fay  merayakan  ulang tahunnya  dengan  ketiga  teman  baiknya  di  sekolah,  Cici,  Lisa,  Dea (dengan penekanan di ”teman baik”). Sepertinya belum ada pemuda yang berhubungan dekat dengannya.

Menolak ketika kesendiriannya diasosiasikan dengan kebebasan untuk bertindak semaunya, seperti pesta.

Liburan  tahun  lalu  Fay  pergi  ke  Bali  bersama  teman-temannya. Mencoba rafting, kayaking, parasailing, bungee jumping, dan surfing (belum bisa berdiri).

Sore hari, ia mengambil kursus tambahan di Institute de Paris.

Tidak terlalu jelas apa yang dipelajari di sana….

Rabu, Minggu 1

…Makan   siang   bersama   di   kafeteria.   Fay   masih   memakan makanan diet yang sama dan masih menunjukkan ketidaksukaannya. Ketika ditanya kenapa dia memaksakan diri untuk memakannya, jawabannya dia ingin mengurangi berat badannya.

Setelah makan siang, dia membaca e-mail-nya di ruang komputer. E-mail-nya di Yahoo!. Terlihat ada lima e-mail baru yang diterima, tapi tidak terlihat dari siapa saja. Dia tidak jadi menulis balasan e-mail-e-mail itu karena semua komputer di sekolah mendadak mati….

Kamis, Minggu 1

…Fay bercerita bahwa dia dicegat oleh empat pemuda yang meminta  sumbangan  di  stasiun  Metro  Montgallet.  Tanpa  pikir  panjang dia menerima papan yang disodorkan oleh salah satu dari mereka dan  ketika  dia  kembalikan  tanpa  memberi  sumbangan,  mereka  marah dan berteriak ke arahnya.

Ketika  ditanya  tentang  kelas  yang  diikuti  di  sore  hari,  dia  berkata bahwa  semuanya  berjalan  lancar.  Ada  empat  orang  di  kelasnya  dan salah satu pemuda yang ada di sana menarik perhatiannya. Tapi dia menambahkan bahwa tindak-tanduk pemuda itu tidak bisa diterimanya: sudah tidak ramah kepadanya sejak awal dan sengaja memberi pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya ketika mendapat tugas di kelas.

Situs favoritnya di Internet adalah blog. Dia punya blog yang tidak terlalu sering di-update, tapi dia sering sekali mengunjungi blog dua temannya (Dea, Lisa) untuk memberi komentar.…

Jumat, Minggu 1

…Makan siang bersama seluruh kelas di kafeteria sambil membicarakan rencana akhir pekan. Fay berkata akan pergi ke Nice dengan Jacque dan Celine….

Minggu, Minggu 1

…  Sedang  berada  di  Le  Petit  St  Antoine,  melihat  di  kejauhan  Fay lewat dengan seorang pemuda berambut pirang. Tidak sempat melihat pemuda itu dari dekat dan tidak sempat menyapa karena mereka berlalu dengan cepat…. Reno membaca jurnalnya berulang-ulang sementara pikirannya kembali menjelajahi waktu, berloncatan antara masa lalu yang berpangkal di delapan tahun yang lalu dan berujung di minggu lalu.

Maria sangat manja, Fay sangat mandiri. Maria pastinya akan menjadi seorang bintang di sekolah, Fay biasa-biasa saja. Maria akan tumbuh menjadi seorang bunga yang cantik merekah, Fay seperti gadis Asia lain, masih tampak belia. Maria tumbuh di lingkungan yang mencintainya, Fay harus mencari lingkungan yang mencintainya. Maria menjadikan keluarganya sebagai tempat berlindung, Fay berlindung kepada teman-temannya.

Satu hal yang disadari Reno, ketidakmiripan Fay dengan Maria malah menjadikannya sebagai pemicu yang menyuburkan ingatannya kembali akan kenangan tentang adik tersayangnya. Sebuah hubungan sebab-akibat yang aneh.

Kembali Reno memikirkan kejadian minggu lalu, mulai dari mimpinya yang mendadak datang setelah memilih untuk duduk manis di pojok selama dua tahun hingga foto yang mendadak muncul dari dompetnya hari ini. Pikirannya membawanya kembali ke percakapan tadi pagi, ketika untuk pertama kalinya selama delapan tahun ini akhirnya ia bisa menceritakan kejadian yang merenggut keluarganya kepada orang lain.

Setelah kejadian itu, pamannya secara rutin mengirimnya berkonsultasi ke seorang psikiater untuk membantunya menghilangkan trauma akibat menyaksikan kejadian itu. Selama dua tahun psikiater itu melakukan berbagai cara untuk mengeluarkan cerita itu dari mulut Reno, bahkan dengan hipnotis, tapi tanpa hasil. Ia seperti ingin menyimpan kenangan pahit itu untuk dirinya sendiri dan tidak ingin berbagi, hingga alam bawah sadarnya pun seperti terbangun dan tetap menjaga kenangan itu dengan membungkusnya rapat-rapat ketika sedang dihipnotis. Di akhir tahun kedua, psikiater itu berkata kepada pamannya, bahwa alam bawah sadar Reno merasa bahwa itu adalah potongan gambar terakhir yang harus tetap dijaga supaya Reno tidak melupakan kenangan akan keluarganya. Pamannya akhirnya menghentikan sesi konsultasi setelah psikiater itu mengonfirmasikan bahwa selama Reno tetap sadar untuk hidup di alam kini, tidak akan ada kerusakan atau perubahan perilaku yang berakibat fatal.

Reno sangat percaya pertanda. Entah apa maksudnya, tapi ia tahu pasti ada maksud lain di balik pertemuannya dengan Fay. Sejak menganut Buddha tiga tahun lalu, teori reinkarnasi sempat terlintas di benaknya. Tapi, setelah satu minggu menghabiskan hari bersama Fay, ia yakin bukan itu maksud semua ini. Mungkin ini adalah berkah sang Buddha, seorang adik yang lain. Bukan dimaksudkan untuk menggantikan Maria, tapi meneruskan kewajibannya terhadap Maria. Untuk menjalankan salah satu kewajiban dan takdirnya di dunia, menjadi seorang kakak.

Dengan pemikiran baru, Reno menuliskan jurnalnya hari ini.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊