menu

Eiffel, Tolong! Bab 08: Akhir Minggu di Nice

Mode Malam
Akhir Minggu di Nice

SABTU pagi, dering beker yang biasanya datang sayup-sayup diawali dengan belaian lembut di telinganya, kali ini langsung menyeruduk genderang telinganya, mengguncang tubuhnya sehingga matanya langsung menyala saat itu juga.

Fay bangkit dari tempat tidur dengan perasaan meluap-luap untuk segera memulai hari itu. Tidak ada keengganan seperti yang sering kali disaksikan selimutnya selama satu minggu ini, saat ia membuntalkan dirinya lagi, menyelinap ke dalam rangkulan hangat sepotong kain itu.

Bibirnya membentuk sedikit lengkungan senyum karena siluet Kent yang terpatri di benaknya sejak pemuda itu mengiringi larinya kemarin sore. Tergopoh-gopoh ke kamar mandi, Fay pun bersiap-siap untuk menyambut hari.

Ia dijemput tepat pukul 07.30 oleh Lucas dan segera dibawa melewati jalan-jalan kota Paris menuju pelabuhan udara Le Bourget, di pinggiran kota. Mulai beroperasi sejak tahun 1919, Le Bourget merupakan pelabuhan udara pertama di Prancis, sebelum pemerintah membangun Orly, dan belakangan Charles de Gaulle. Fay mengarahkan pandangannya ke jalan yang dilalui. Jalan itu kadang lebar dengan pemandangan luas yang seakan membuat dirinya lepas dari kungkungan batas, kadang sempit berbatu dan berkelok-kelok seperti membawanya bertualang ke labirin penuh imajinasi dengan dinding-dinding ramah yang merentangkan tangan dengan hangat. Fay terkekeh sendiri karena pikirannya itu. Entah apa yang sudah mengenai otaknya, yang jelas hari terasa indah.

Sampai di tujuan, dengan heran Fay melihat mobil yang ditumpanginya langsung masuk ke area parkir pesawat, kemudian berhenti di sisi sebuah pesawat putih berukuran kecil. Fay turun dari mobil sambil bertanya-tanya dalam hati apakah Lucas tidak tersasar, dan pertanyaan itu perlahan pupus ketika Lucas menyerahkan koper kecil yang Fay pinjam dari Celine ke seorang petugas yang berdiri di sisi pesawat yang menerima dan memasukkannya ke bagasi pesawat. Pertanyaan itu tak lama hilang sepenuhnya saat Fay melihat pramugari yang tersenyum ke arahnya di mulut tangga pesawat.

Lucas tidak salah jalan, ia akan dibawa ke Nice menggunakan jet pribadi! Perlahan Fay menaiki anak tangga yang sebenarnya merupakan sisi pintu bagian dalam, menikmati langkah demi langkah sambil mempersiapkan dirinya melihat bagian dalam. Sampai di atas, dengan takjub ia melihat interior pesawat yang sangat jauh berbeda dengan pesawat komersial. Ruang ini lebih mirip ruang untuk mencoba peralatan audio kelas satu yang pernah dilihatnya dari luar etalase kaca tembus pandang showroom peralatan audio terkenal di salah satu mal di Jakarta.

Interior pesawat ini bernuansa krem. Kursi penumpang yang lebar-lebar dan tampak sangat empuk—dilapis kulit warna krem—tidak semuanya berjajar menghadap depan seperti kursi penumpang pada umumnya. Dua kursi di sebelah kanan bersisian menghadap depan, dilengkapi sebuah meja. Dua kursi di sebelah kiri berhadapan, juga dilengkapi meja di antaranya. Di bagian belakang, dibatasi sekat di bagian tengah pesawat, terdapat dua kursi lagi beserta satu kursi panjang, juga dengan meja yang lebih panjang, persis seperti satu set sofa ruang tamu.

Seumur hidup, Fay tidak pernah bermimpi akan duduk di udara dalam kenyamanan pesawat pribadi seperti ini!

Fay segera duduk di kursi sebelah kiri, menghadap depan dan segera pandangannya bertumbukan dengan dua layar LCD raksasa yang diletakkan di dinding pesawat bagian depan.

Lima menit kemudian, pesawat tinggal landas. Fay merasa wajahnya bukan menampilkan senyum lagi, tapi sudah sebuah seringai. Entah karena sangat senang, sangat puas dengan kejutan ini, atau mungkin karena ia merasa semua ini hanya halusinasi dan ia mulai gila.

Pesawat yang Fay tumpangi mendarat di Nice kira-kira satu setengah jam kemudian. Masih dengan seringai senang atau puas (atau gila) di wajahnya, dan dengan perut kenyang akibat makan daging salmon asap dengan roti, ia turun dari pesawat dan langsung disambut oleh seorang pengemudi yang berdiri di sebelah limusin hitam.

Ketika naik ke mobil, lekuk bibir Fay menyusut sedikit tanpa bisa dilarang, berubah dari sebuah seringai menjadi senyum tipis, kemudian kandas. Ia tidak terlalu ingat seperti apa limusin hitam yang menculiknya minggu lalu, tapi yang jelas bayang-bayang tak menyenangkan itu kembali datang.

Kecemasannya tidak berlanjut setelah mobil keluar jalan raya bandara dan mulai memasuki Nice, sebuah kota kecil yang sangat kesohor di kawasan Cote d’Azur, pesisir selatan dataran Prancis. Kota ini memanjang di pesisir yang berkontur, dari jauh terlihat seperti teluk yang didominasi bangunan berwarna putih yang naik-turun. Warna putih yang meliputi kota itu terlihat sangat kontras dengan biru gelapnya lautan yang membentang, hanya dibatasi cakrawala biru cerah. Pemandangan yang menyegarkan mata dan membuat Fay berdecak kagum.

Mobil bergerak menanjak menjauhi kota dan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang berdesain sangat modern. Rumah itu tampak seperti balok-balok putih yang disusun saling melintang, dengan kaca-kaca bening persegi yang terpasang acak di sisi-sisi balok-balok tersebut. Begitu pintu dibuka, di foyer Fay disambut patung besar dari kayu yang lebih tinggi daripada dirinya, berbentuk meliuk-liuk seperti sepasang kekasih sedang berpelukan. Belum selesai mengagumi patung itu, Fay sudah kembali dibuat ternganga saat keluar mendapati dirinya ada di ruang tamu yang sangat besar dengan langitlangit yang tingginya berbelas bahkan berpuluh meter, seperti di lobi hotel berbintang di Jakarta. Yang membuat dirinya ternganga dengan norak bukan itu, melainkan apa yang membatasi ruangan ini. Seluruh bagian dinding, dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, hampir semuanya terbuat dari kaca tembus pandang, dengan pemandangan laut biru.

”Selamat pagi, Fay. Bagaimana perjalananmu ke sini tadi?” suara Andrew dengan sangat terpaksa menyeret Fay dari keindahan di depan mata masuk ke sebuah kekuatiran.

”Selamat pagi. It was okay,” jawabnya.

”Lima belas menit lagi, temui saya di ruang kerja di lantai tiga. Pintu pertama di sebelah kanan,” ujar Andrew. Dia pun berlalu setelah Fay mengangguk.

Lima belas menit kemudian, Fay sudah berada di ruang kerja pria itu. Di sana, ada seorang wanita yang duduk di kursi, yang dikenalkan oleh Andrew sebagai Ms. Connie. Mendekati empat puluh, demikian menurut perkiraan Fay, wanita itu berperawakan tidak terlalu tinggi untuk standar Eropa, tapi proporsional. Rambutnya lurus, lebih panjang sedikit dari bahu, berwarna pirang kecokelatan, dan diurai dengan elegan. Wanita itu tersenyum ramah saat mengulurkan tangan, memperkenalkan diri dengan menyebut namanya yang singkat.

Andrew berkata, ”Miss Connie pagi ini akan mengajarimu bagaimana bertindak-tanduk seperti Seena.” Dia menoleh ke Miss Connie, ”Bisa dilakukan di kamar tidur di lantai dua.”

Ms. Connie mengangguk dan tanpa ragu bangkit lalu berjalan menuruni tangga—bukan tangga yang Fay lewati saat naik tadi, melainkan di sisi berseberangan—kemudian masuk ke salah satu kamar tidur di lantai dua yang menghadap ke laut. Sepertinya bukan kunjungan pertama, pikir Fay.

Sampai di kamar, Fay lagi-lagi harus berdecak kagum melihat pemandangan yang sangat menakjubkan dengan seluruh dinding pembatas menghadap laut juga terbuat dari kaca. Ia membayangkan betapa beruntungnya penghuni kamar ini, yang setiap pagi disambut dengan keindahan yang memanjakan mata setelah puas terlena.

Ms. Connie langsung memulai penjelasannya.

”Yang akan kamu pelajari pagi ini adalah bagaimana menjadi Seena. Bukan dari fakta-fakta tentang dirinya, tapi dari kebiasaannya sehari-hari. Seena adalah seorang gadis yang sangat memperhatikan penampilan. Saya yakin kamu juga memperhatikan bahwa dalam acara apa pun dia selalu memoles wajahnya. Hasilnya selalu memikat, membuatnya menjadi lebih bersinar.”

Fay menyimak penjelasan Ms. Connie dengan penuh minat. Ia sendiri tidak suka berdandan, dan tidak bisa. Sepertinya ini satu-satunya topik yang memang menarik perhatiannya dan akan dengan senang hati diikuti tanpa paksaan.

Ms. Connie mengeluarkan empat tas kecil dari dalam sebuah koper di sisi tempat tidur.

”Ada empat kategori yang akan kamu pelajari, yaitu peralatan mandi, perawatan badan, perawatan wajah, dan make-up.” Wanita itu meraih satu tas sambil berkata, ”Tidak ada yang istimewa dengan peralatan mandi Seena selain bahwa dia sangat fanatik dengan satu merek tertentu. Dia sudah menggunakannya sejak beranjak remaja dan tidak pernah berganti hingga sekarang.” Dengan takjub Fay melihat Ms. Connie mengeluarkan satu demi satu peralatan mandi Seena.

Ternyata standar Fay memang beda jauh dengan Seena, karena definisi ”tidak ada yang istimewa” hanya membuat Fay membayangkan sabun, sampo, dan conditioner. Tapi ternyata masih ada barang lain: loofah sponge, sikat punggung, sabun batang, sabun bubble bath, dan scrub badan. Fay meraih botol sampo untuk membaca mereknya, L’Occitane. Ia sekilas melihat merek yang sama juga tertera di botol sabun dan di kertas pembungkus sabun batangan.

Ms. Connie meraih tas lain, kemudian kembali menjajarkan isinya dengan dikelompokkan di satu sisi di meja rias, disusul tas ketiga berisi perawatan wajah. Dengan takjub Fay melihat botol-botol yang dijajarkan di meja rias, jumlahnya sudah tidak terhingga hingga membuatnya sakit kepala.

Mulailah Ms. Connie menjelaskan satu demi satu barang yang tergeletak di meja rias, mulai dari kegunaannya, cara memakainya, hingga kapan memakainya, dan Fay merasa dirinya terseret ke dalam arus ritual yang selama ini hanya dilihatnya dilakukan oleh orang lain, tapi tidak pernah dikenalnya.

Setelah penjelasan Ms. Connie selesai, dengan tercengang Fay melihat handuk beserta peralatan mandi yang disodorkan wanita itu. Sinting! Aku disuruh mandi pukul 11.00 supaya bisa merasa seperti Seena, pikirnya tak percaya. Akhirnya Fay tidak tahan lagi dan bersuara,

”Miss Connie, kenapa harus repot-repot mengikuti cara mandinya segala? Toh itu semua dilakukan di kamar mandi, tidak akan diketahui oleh siapa pun.”

Ms. Connie menjelaskan, ”Ada dua alasan, Fay. Yang pertama adalah supaya kamu bisa lebih meresapi peran sebagai Seena. Percayalah, kamu akan lebih merasa percaya diri untuk melakukannya bila kamu sendiri yakin kamu sudah melakukan apa yang Seena lakukan dan wangi kamu pun sudah persis sama seperti Seena. Yang kedua, ini salah satu identitas yang melekat pada Seena, yaitu seorang gadis yang sangat teliti dengan caranya merawat diri. Identitas ini harus ditampilkan baik secara simbolis maupun riil, supaya tidak ada keraguan bahwa kamu adalah Seena.

”Secara simbolis, semua peralatan ini harus ditampilkan supaya terlihat, misalnya dengan menjajarkan di meja rias di kamar dan di kamar mandi. Pelayan yang membersihkan kamar mungkin orang yang sama dengan yang pernah melayani Seena di London dan tahu persis tentang kebiasaannya.

”Secara riil, identitas itu juga harus melekat di diri kamu. Alfred atau orang lain mungkin punya kesan khusus terhadap aroma Seena yang masih ada dalam ingatan mereka sampai sekarang.

”Jadi, walaupun ini hal pribadi, bisa jadi ada orang yang akan mengenali anomali sekecil apa pun.”

Fay agak terperangah dengan kenyataan bahwa hal-hal sekecil itu ternyata juga diperhatikan, padahal itu tak pernah terlintas di benaknya sama sekali. Ia yakin cuma dirinya satusatunya orang yang waras di rumah itu, tapi akhirnya ia bergerak juga ke kamar mandi.

Keluar dari kamar mandi, Ms. Connie menyuruhnya mencoba semua hal yang baru dia ajarkan, mulai dari yang paling sederhana seperti mengoleskan losion ke tangan dan kaki, hingga ritual yang rumit seperti menggosok tumit kaki dengan kombinasi beberapa jenis sikat, air hangat, dan dua losion.

Setelah Fay mengeringkan rambut dan mem-blow-nya sedikit sehingga agak mirip Seena, Ms Connie mengajarinya cara memakai make-up ala Seena. Dia meraih tas berisi make-up dan kembali mengeluarkan isinya, menambah jajaran botol dan peralatan perang wanita lain yang sejak tadi sudah berbaris di meja. Selain peralatan standar seperti bedak, lipstik, dan sisir, Fay sama sekali tidak punya ide untuk apa itu semua dan ia tidak habis pikir ada orang yang mau bersusah payah mengenakannya.

”Make-up ini digunakan hanya untuk acara-acara resmi. Sengaja saya mulai dari riasan jenis ini, karena inilah yang paling sulit. Kalau kamu bisa melakukannya dengan baik, kamu tidak akan menemui kesulitan untuk acara lain yang membutuhkan riasan lebih tipis.”

Dimulai dengan pelembap, kemudian foundation matte tipis, kemudian foundation mata, bedak tabur, blush on, eye shadow, eye liner, maskara, lipliner, kemudian lipstik, terakhir ditutup dengan semprotan cairan yang katanya akan membuat make-up tahan lama.

Fay melihat bayangan dirinya di kaca dan hampir terlompat dari kursi meja rias ketika yang ia lihat di cermin bukanlah bayangannya. Kalau sendirian di kamar itu mungkin ia sudah kabur keluar karena rasanya menakutkan sekali melihat cermin hanya untuk menemukan bayangan orang lain.

Sedang sibuk-sibuknya Fay mengagumi bayangannya, Ms. Connie menyuruhnya menghapus semua make-up, tentunya dengan ritual pencucian muka ala Seena dengan tiga botol cairan, untuk kemudian memakai semua make-up itu sekali lagi tanpa bantuan Ms Connie.

Siklus pertama diulang dengan sukses setelah Fay salah urutan, membubuhkan blush on sebelum menggunakan foundation. Siklus kedua sampai kelima dinyatakan gagal oleh Ms. Connie, setelah Fay mencolok matanya sendiri dengan eyeliner, membubuhkan blush on tidak simetris antara pipi kiri dan kanan, dan menggambar bibirnya dengan lipliner miring-miring. Di siklus keenam, keadaan sudah lebih baik, hanya saja terlihat seperti topeng monyet karena olesannya terlalu tebal. Ms. Connie akhirnya mengangguk sedikit setelah siklus ketujuh dan tersenyum puas setelah siklus kedelapan.

Setelah itu, Ms. Connie mengajarinya membubuhkan riasan harian, yang jauh lebih tipis dengan warna-warna lebih muda.

Ms. Connie benar, jauh lebih mudah daripada tadi, pikir Fay setelah percobaan kedua dan dinyatakan lulus oleh wanita itu. Ia kemudian dibawa ke lemari baju. Fay ternganga melihat lemari itu penuh baju yang selama beberapa hari ini akan menjadi miliknya. Bahkan pakaian dalam lengkap saja ada di sana.

”Ini baju-baju Seena. Kamu tentunya juga sudah tahu bahwa dia sangat fanatik dengan beberapa merek tertentu, bahkan untuk baju dalamnya. Sekarang saya akan memberitahu kombinasi apa saja yang boleh dan tidak boleh kamu pakai untuk setiap jenis acara.”

Kembali Fay mendengarkan penjelasan Ms. Connie tentang pakaian yang dipakai di acara minum teh, sarapan pagi di rumah, makan siang formal/informal, makan malam formal/informal, kunjungan ke galeri dan museum, olahraga, kunjungan ke daerah pedesaan, tur dalam kota, pemakaman, pesta koktail, peluncuran buku, dan sebagainya.

Fay kembali protes, ”Tapi saya hanya akan tinggal di sana selama dua malam.”

Dengan sabar Ms. Connie menjawab, ”Iya, Fay, tapi kan kita tidak tahu apa saja agenda sang paman untuk keponakannya. Semua mungkin terjadi. Dan mengingat teman kita si Seena ini begitu canggih dalam hal pergaulan sosial, tidak mungkin dia memilih busana yang salah atau kombinasi yang kurang cocok untuk menghadiri suatu acara. Berarti kamu juga harus begitu.”

Fay berdecak dan menggelengkan kepala.

Ms. Connie melanjutkan penjelasannya dan menutupnya dengan memberikan kuis, untungnya Fay bisa menjawabnya dengan mudah.

Pelajaran terakhirnya adalah berjalan menggunakan sepatu ala Seena. Sepatu dan sandal yang dipakai Seena sehari-hari tidak berhak sehingga sama sekali tidak ada masalah bagi Fay. Tapi untuk ke pesta, Seena memakai sepatu atau selop dengan hak minimal 5 cm. Dan ini ternyata sangat menyiksa Fay yang belum pernah menggunakan sepatu hak sama sekali.

Butuh waktu tiga puluh menit hingga Fay bisa berjalan normal dan lurus, tidak berjingkat, tidak membungkuk ke depan, tidak menunduk, dan tidak oleng.

Ketika akhirnya Ms. Connie menyatakan waktunya sudah habis, Fay mengembuskan napas lega, tapi betis, mata kaki, dan telapak kakinya terus menjerit-jerit.

Sebelum turun, Ms. Connie memberikan pesan terakhir, ”Fay, saya mau kamu berlatih menggunakan sepatu itu setiap hari. Setiap malam, cobalah untuk membiasakan diri berjalan dengan sepatu pesta itu. Untuk bisa melakukannya dengan sempurna, hanya bisa dengan latihan, latihan, dan latihan.”

Fay mengikuti Ms. Connie menuruni tangga yang ada di ruang tamu sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia baru menyadari bahwa pinggiran tangga di sebelah kirinya menempel ke dinding kaca, sedangkan pinggiran tangga di sisi kanannya juga dibatasi kaca yang membentang dari langit-langit yang tinggi ke setiap pijakan tangga. Ia seperti berada dalam sebuah akuarium manusia yang sangat modern dan mewah.

Sampai di bawah, Fay melihat Andrew berdiri di dekat sofa dan keningnya langsung berdenyut-denyut diiringi semriwing kesal di perutnya. Ia baru sadar ternyata ia sangat lapar.

Andrew bertanya sambil tersenyum, ”Jadi, Nona-nona, bagaimana sesi khusus wanita tadi, menyenangkan?”

Ms. Connie tersenyum dan menjawab, ”Tentu saja menyenangkan, kami hanya berbicara tentang hal-hal menarik yang tidak dimengerti para pria.”

Andrew tersenyum simpul.

”Pastinya begitu.” Dia kembali bertanya kepada Ms. Connie, ”Jadi, kamu masih tidak bersedia makan di sini? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk membuatmu berubah pikiran?”

”I wish there is. Saya benar-benar harus pergi sekarang,” kata Ms. Connie sambil melihat arlojinya kemudian tersenyum ke arah Andrew.

”Saya antar kamu keluar,” kata Andrew lalu menoleh ke arah Fay, ”makan siang sudah siap di ruang makan. Kamu bisa mengambil sandwich di meja dan membawanya ke teras yang menghadap ke laut. Saya minta maaf tidak bisa menemani kamu makan siang karena ada yang harus saya diskusikan dengan Ms. Connie. Temui saya jam satu di ruang kerja saya.” Dia pun berlalu bersama Ms. Connie yang melambaikan tangan sekilas ke arah Fay.

Di meja makan yang ada di lantai dua, Fay melihat makan siang berupa beberapa bungkus sandwich yang tebal dan lebar, serta beberapa macam minuman dalam kemasan karton dan kaleng. Ia mengambil satu sandwich dan satu minuman kaleng, sambil memikirkan makanan diet yang ada di kopernya. Salah sendiri kalau Andrew lupa, pikirnya senang sambil tersenyum sendiri.

”Hai, Fay.”

Fay terlonjak kaget dan setengah melompat langsung berbalik.

Kent!

Debar di dadanya yang tadi muncul karena kaget, langsung berlanjut.

Kent juga kaget, sambil tersenyum dia berkata, ”Maaf ya, aku tidak bermaksud membuat kamu kaget.”

”Hai juga, nggak apa-apa kok. Sedang apa di sini?” tanya Fay kikuk. Tapi kemudian ia sangat malu dengan pertanyaannya yang garing dan basi itu. Bodohnya kamu, Fay, kamu kan sudah tahu dia bakal datang, omelnya kepada diri sendiri.

”Masih ada utang yang belum selesai, aku harus mengajari kamu dua topik yang waktu itu belum aku berikan.”

”Kapan, setelah makan siang?” tanya Fay lagi.

”Belum tahu. Aku diminta untuk menemui Paman jam satu siang nanti. Mungkin setelah itu.”

”Iya, aku juga diminta datang.”

Celaka, jawabannya terlalu standar. Suasana terasa kikuk dan Fay mulai salah tingkah. Ia mengeluh dalam hati. Kalau ia mempunyai keluwesan Lisa si bawel sepersepuluhnya saja, pasti percakapan barusan tidak akan menjadi segaring itu.

”Mau makan di teras? Pemandangannya superbagus, dijamin tidak menyesal,” ajak Kent.

”Boleh. Tadi Andrew juga mengusulkan seperti itu,” ujar Fay lega.

Di teras ada dua meja bundar, masing-masing dengan tiga kursi. Kent yang berjalan di depan menarik satu kursi di dekat pintu yang menghadap ke laut, mempersilakan Fay duduk di sana.

Fay duduk di kursi itu dengan rasa melayang-layang yang membuat jiwanya seakan ingin melepaskan diri dari kungkungan tubuhnya. Kent kemudian menggeser satu kursi yang lain sehingga mendekat ke arahnya dan duduk di sana

”Kamu sudah sering ke sini?” tanya Fay buru-buru untuk menutupi rasa groginya.

”Tidak terlalu sering. Aku lebih suka pegunungan,” jawab Kent. Dia berhenti sebentar, seperti menimbang-nimbang sesuatu, akhirnya melanjutkan, ”Lagi pula, ini bukan rumah Paman. Rumah ini milik salah seorang pamanku yang lain…,” Kent melihat ke arah belakang sekilas, seolah takut ada yang mencuri dengar, ”…lebih gila daripada Andrew,” lanjutnya kocak.

Fay tertawa melihat ekspresinya. Untuk pertama kalinya ia merasa santai di sebelah pemuda itu.

Kent tersenyum dan bertanya, ”Kalau kamu sendiri bagaimana, lebih suka gunung atau pantai?”

”Aku lebih suka pantai.”

”Kalau di pantai kamu melakukan apa? Berjemur?” tanya Kent lagi.

”Tidak, tidak… Kulitku sudah cokelat,” jawab Fay sambil tertawa. ”Aku lebih suka main air, berenang-renang sambil main ombak, atau surfing. Tapi aku masih belajar, berdiri saja belum bisa,” buru-buru ia menambahkan.

”Ah, kulit kamu tidak secokelat itu. Aku pernah lihat ada yang kulitnya lebih gelap daripada kamu tapi tetap berjemur.”

”Kalau kamu, kenapa suka pegunungan?” tanya Fay.

”Aku senang main ski. Sekarang aku sedang belajar skiboarding. Mungkin rasanya mirip surfing juga, hanya saja dilakukan di atas salju.”

Mereka pun kemudian bercakap-cakap ringan seputar aktivitas yang sering dilakukan saat liburan.

Setelah sandwich mereka habis, Kent mengajak Fay masuk ke ruang duduk. Kent langsung menghampiri sebuah grand piano yang ada di sudut ruangan, membukanya, dan memainkan tutsnya dari ujung ke ujung dengan ahli.

”Wow, kamu bisa main piano?” tanya Fay agak kaget. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping piano.

”Bisa. Ada permintaan khusus lagu yang mau dimainkan?” ”Wah, apa ya? Apa saja deh, asal lagu yang tidak terlalu

berat.”

Kent duduk dan memainkan intro sebuah lagu dengan satu jari, yang disambut tawa mereka berdua. Dia memainkan Twinkle-Twinkle Little Star, lagu anak-anak yang sebenarnya juga merupakan musik klasik.

”Kamu bisa main alat musik?” tanya Kent.

”Tidak bisa, sama sekali,” jawab Fay sambil meringis. Sebenarnya ia pernah belajar piano selama tiga tahun waktu masih SD dulu, tapi melihat jari-jari Kent menari di atas tuts rasanya terlalu memalukan untuk mengakui hal itu sekarang.

Kent meregangkan jari-jarinya dan memegang telapak kirinya.

”Kenapa? Sakitkah?” tanya Fay sambil memegang telapaknya sendiri yang masih agak nyeri.

”Tidak. Aku rasa aku harus bersyukur karena pukulan itu telak di telapak tangan dan tidak menyentuh jariku sama sekali.” Kent menggeser duduknya sehingga dia menempati setengah bagian kursi. ”Duduk, Fay, aku mainkan musik-musik instrumental yang ringan. Setidaknya sambil menunggu makanan turun.”

Fay merasa dunia mendadak berhenti berputar selama satu detik, kemudian melanjutkan putarannya dengan gerak lambat. Tidak mampu berkata-kata, ia mendekat dan duduk di samping Kent. Fay berdoa dalam hati semoga ia tidak pingsan dan mempermalukan diri sendiri, karena ia merasa sudah agak sulit menarik napas. Bukan karena air matanya hampir keluar sebagaimana yang selama satu minggu ini sering terjadi, tapi karena muncul gelembung-gelembung baru, kali ini bukan memenuhi kepalanya, tapi dalam dadanya. Gelembung-gelembung itu dengan bahagia memompa diri semakin besar sehingga dada Fay sesak terisi suatu bentuk eforia.

Fay memperhatikan jari-jemari itu melompat-lompat di atas tuts.

Dalam diam, Fay mendengar alunan nada yang terasa mengangkat jiwa dan melepas nestapa.

Dalam diam, hati mereka bertaut, disatukan kesendirian, direkatkan satu beban yang harus ditanggung bersama.

Sampai mereka sama-sama dikejutkan bunyi lain, yang tidak sesuai dengan susunan denting nada yang sedang dinikmati, suara alarm di jam Kent.

Sudah pukul 13.00.

Kent menutup piano dan tanpa aba-aba mereka mengarah ke tangga menuju lantai tiga.

Di dalam ruang kerja, sudah ada Andrew. Tanpa basa-basi pria itu berkata kepada Kent, ”Waktu kamu untuk mengulang topik Seena hanya nanti malam, setelah makan malam. Tes akan saya berikan besok pagi setelah sarapan, jam sembilan pagi. Tugas kamu selesai setelah tes dan kamu bisa kembali ke Paris karena penyampaian topik Analisis Perimeter akan saya ambil alih. Ada pertanyaan?”

Kent menggeleng dan segera beranjak keluar.

Andrew mengalihkan pandangan kepada Fay dan menatapnya sebentar dengan sorot mata seolah menembus pikiran. Fay merasa makhluk bernama gelisah mulai berputar-putar seperti gasing dalam perutnya.

Akhirnya pria itu berkata, ”Fay, saya tahu kamu mengirim e-mail ke teman dan keluarga kamu hari Kamis. Saya tidak akan mempermasalahkan hal itu karena kalau dilihat dari apa yang kamu tulis, saya yakin kamu sudah mengerti batasanbatasan yang harus kamu jaga. Tapi mulai sekarang, saya tidak mau ada kontak antara kamu dengan orangtua atau teman kamu, jadi jangan membalas e-mail dari mereka atau menghubungi mereka lagi.”

Perkataan itu menghantam dada Fay dengan keras, memunculkan garis-garis retak dalam pikirannya seperti porselen yang terluka.

”Kenapa? Bagaimana mungkin saya membiarkan e-maile-mail mereka bertumpuk tanpa dibalas?” tanyanya dengan mata mulai berkaca-kaca. Bukan kenyataan e-mail bertumpuk itu yang sebenarnya membuat matanya berkaca-kaca, tapi kenyataan bahwa satu-satunya tali penghubungnya dengan dunia yang masih membuatnya merasa normal akan diputuskan begitu saja.

”Saya tidak akan membahas panjang-lebar. Itu perintah, bukan permintaan. Sekarang ada hal lain yang lebih penting yang harus kamu lakukan,” jawab Andrew datar sambil beranjak ke pintu.

Fay mengikuti pria itu masih dengan perasaan tertekan, masuk ke ruangan lain di lantai yang sama.

 Empat jam kemudian, Fay keluar dari ruangan itu dengan otak yang rasanya sudah membatu karena berpikir terlalu keras, tanpa jeda.

Di ruangan itu, ia tadi dihadapkan pada satu tes yang melelahkan otaknya, beratus-ratus soal gila, yang merupakan kombinasi antara matematika, kemampuan analisis, logika, pemahaman cerita, bentuk tiga dimensi, dan entah apa lagi.

Ia pun turun ke bawah dengan perut yang lagi-lagi baru ia sadari sudah keroncongan.

Sesampainya di ruang duduk besar yang menghadap ke laut, Fay mendapati Kent sedang duduk sambil minum teh, dilayani oleh seorang pelayan pria.

”Hai, Fay,” sapa Kent antusias.

Fay menyunggingkan senyum tipis, yang menyiratkan kelelahan otaknya. Ia duduk sambil mengembuskan napas panjang, kemudian meminum teh yang disodorkan pelayan.

Kent bertanya kepada Fay, ”Apa yang kamu lakukan tadi?

Kok kamu kelihatan lelah sekali?”

Fay menceritakan soal-soal gila tadi dan Kent mengangguk sambil tersenyum geli.

”Kok kamu senyum-senyum sih? Aku capek betulan nih.” Dengan senyum yang makin lebar, Kent bertanya, ”Jadi,

mana yang lebih menarik menurut kamu, tes tadi atau topik Seena? Atau kamu lebih suka lari?”

Fay menangkap nada Kent yang agak menggoda dan merasa agak tersipu. Untuk menyembunyikan rasa malunya, dengan sewot ia menjawab, ”Lebih baik aku ikut tes tadi sepuluh kali lagi, setidaknya tidak ada yang mengada-ada menyuruhku pushup,” sambungnya menang.

”Hei…,” Kent pun tertawa ringan, terpojok. ”Salah kamu sendiri waktu aku suruh push-up kamu malah bengong.”

”Huh, dasar sok berkuasa,” ujar Fay pura-pura marah. Kent kembali tertawa dan menghirup tehnya, diikuti Fay.

Fay bertanya, ”Tes besok pagi seperti apa ya? Aduh, kenapa ya perutku selalu mulas setiap kali aku harus bertatap muka dengan pamanmu?”

”Ha... ha…! Jangankan kamu, Fay. Sampai detik ini pun, kalau dia ingin berbicara berdua denganku, perutku serasa terpelintir,” jawab Kent.

Andrew masuk ke ruang duduk dan berjalan menuju tangga. Sambil tetap berjalan dia berkata, ”Kent, temui saya di ruang konferensi sekarang. Fay, makan malam disajikan jam tujuh.” Kent langsung bangkit diiringi tatapan kuatir Fay. Pemuda itu tersenyum ke arah Fay seolah ingin menenangkannya, ke-

mudian berkata singkat, ”Sampai nanti ya.”

Fay baru bertemu Kent dan Andrew lagi saat makan malam. Rupanya Andrew sudah ingat dengan menu dietnya, karena setelah mereka bertiga menikmati sup yang disajikan pelayan, hanya Fay yang menerima satu piring salad. Sementara Fay melihat Kent dan Andrew masing-masing menerima satu piring berisi potongan calamari dan bola-bola entah apa, disusul dengan satu piring berisi makanan yang terlihat terlalu sayang untuk dimakan. Ada mashed potatoes yang dicetak berbentuk silinder, di atasnya ditumpuk satu potong daging dengan bentuk sama, di atasnya lagi terdapat sayuran, kemudian ada saos putih yang disiramkan ke atasnya, dan dicipratkan ke bagian piring yang masih kosong di sekeliling tumpukan itu. Fay meneguk ludah dan memakan salad yang rasanya jadi sangat polos dan datar.

Mereka tidak banyak berbicara saat makan malam. Fay hanya menunduk berusaha menikmati salad-nya. Tapi ia merasa Andrew memperhatikan dirinya dan Kent dan pikiran itu membuatnya makin tidak antusias untuk memulai pembicaraan. Benaknya juga masih dipenuhi kerisauan akibat larangan Andrew untuk mengontak teman-teman dan orangtuanya.

Setelah Andrew dan Kent menikmati makanan penutup— Fay ditawari untuk menambah satu porsi salad sebagai pengganti, yang ditolak olehnya—Andrew berkata, ”Saya ada di ruang kerja kalau kalian memerlukan saya. Kent, kamu bisa menggunakan ruang konferensi untuk membahas topik Seena.”

Ketika masuk ke ruang yang disebutkan Andrew di lantai tiga, Fay langsung setuju bahwa ruang itu memang sangat cocok disebut ruang konferensi. Dengan satu meja oval di tengah dikelilingi delapan kursi dengan sandaran tinggi dan roda, dan enam layar LCD yang sangat besar berjajar di salah satu dinding, ruang ini bahkan lebih mewah daripada ruang rapat direktur di kantor papa Fay. Di tengah-tengah meja, berdiri tegak delapan layar LCD berukuran kecil, satu di hadapan setiap kursi.

Begitu ia duduk, Kent langsung membahas topik Seena dengan serius. Fay mendapati dirinya juga berusaha memahami dengan keseriusan yang sama. Keduanya kini bagaikan dua jalinan benang yang harus lolos dari lubang jarum yang sama, hanya bisa melewatinya dengan menjalinkan diri satu sama lain. Setiap kali Kent selesai membahas satu bagian topik, dia memberikan tes yang harus dijawab oleh Fay. Kali ini tidak ada hukuman. Dengan sabar Kent mengulang lagi bila Fay masih belum bisa menjawabnya dengan sempurna.

Akhirnya, ketika mereka sudah merasa cukup, dengan kaget mereka melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 22.00.

Kent baru saja ingin mengajak Fay mengobrol di teras ketika mereka berpapasan dengan Andrew di tangga, ”Sudah jam sepuluh. Sudah waktunya kalian beristirahat.”

Keluar dari mulut pamannya, ucapan itu lebih merupakan perintah daripada usulan atau sapaan basa-basi biasa. Kent menelan niatnya untuk menghabiskan waktu beberapa menit bersama Fay.

”Sampai besok, Fay.”  

Pukul 09.00. Fay sudah duduk bersama Kent di ruang kerja. Tidak ada yang mampu berkata-kata, keduanya dengan tegang menunggu Andrew yang masih sibuk berbicara di telepon.

”Baik. Mari kita mulai,” suara Andrew membuyarkan ketegangan yang sudah terkumpul. Fay merasa ketegangan itu pecah di dadanya, memberi ruang bagi yang baru untuk tumbuh lebih besar.

”Silakan berdiri di depan.”

Fay melihat Andrew memegang sesuatu di tangannya tapi tidak tahu apa. Perutnya langsung bereaksi, otot perutnya melintir dan berputar seperti kain yang diperas, tidak menyisakan ruang kelegaan sama sekali.

Kent berdiri di sisinya, persis seperti hari Jumat.

Andrew berdiri di depan mereka. Yang dipegang olehnya tampak seperti bolpoin, berwarna perak. Pria itu kemudian menarik ujungnya dan benda itu memanjang, persis seperti antena. Andrew kemudian mengibaskan benda itu di udara sehingga terdengar bunyi udara yang terbelah.

”Kent, kamu tunggu di luar.”

Dengan panik Fay menatap Kent, yang juga terlihat kaget. Kent membuka mulutnya, ”Tapi, Paman…”

”Tunggu di luar,” potong Andrew.

Ingin sekali rasanya Fay memohon supaya Andrew mengizinkan Kent berada di sisinya. Tapi ia sadar itu sia-sia. Kepanikan sudah menguasai dirinya sekarang.

”Kamu saya beri dua detik untuk berpikir,” ujar Andrew.

Kent menempelkan telinga di pintu. Suara Andrew dan Fay hanya terdengar seperti orang menggumam di kejauhan. Ia mencoba berkonsentrasi, mencoba mendengarkan siapa yang sedang berbicara. Setidaknya kalau ia bisa mengenali suara Andrew dan Fay berbicara bergantian, berarti Fay bisa menjawab pertanyaan pamannya.

Mendadak, terdengar suara tumbukan dua benda disusul teriakan Fay, membuat Kent terlompat ke belakang karena kaget. Jantungnya sendiri kini semakin cepat berdetak dan ada rasa marah bercampur takut yang mulai mengisi hati dan pikirannya.

Ia mengepalkan tinju karena frustrasi dan kembali menempelkan telinganya di pintu.

Suara Andrew… disusul suara Fay… Suara Andrew… disusul suara Fay… Suara Andrew… disusul suara Fay… Suara Andrew… disusul suara Fay… Suara Andrew…

Sialan! Ia terlompat mundur. Bunyi keras yang sama kembali mengejutkannya, langsung disusul teriakan Fay.

Kent menjauhi pintu, berjalan mondar-mandir dan dengan tinju terkepal memukul tembok di sisi ruangan yang berseberangan.

Ia mengaduh-aduh kesakitan dan memutuskan untuk kembali menguping di pintu, ketika mendadak pintu terbuka dan Andrew menyuruhnya masuk.

Fay masih berdiri di tempat yang sama dengan wajah pucat pasi.

”Dua kesalahan dari lima puluh pertanyaan. Tidak sempurna,” Andrew menatap Kent.

”Dua puluh push-up untuk Fay. Dua kali lipat untuk kamu,” ucap Andrew.

Mereka berdua melakukan push-up. Di hitungan kedua puluh, Fay berdiri, sementara Kent menyelesaikan dua puluh hitungan lagi.

Begitu berdiri dan melihat Andrew sudah berada di belakang meja menyimpan benda yang tadi dipegangnya, Kent merasa sebuah batu besar baru diangkat dari pundaknya. Setelah Andrew mengizinkan mereka keluar, mereka pun bergegas menuju teras.

Fay mengempaskan diri ke kursi sambil mengembuskan napas lega.

Kent juga merasakan kelegaan yang sama.

”Fay, apa yang terjadi di dalam? Di luar aku mendengar suara pukulan dan teriakanmu. Kamu dipukul?” tanya Kent.

”Tidak, aku tidak dipukul. Pamanmu memukulkan benda yang dia pegang itu ke kaki meja yang ada di belakangku. Aku kaget dan berteriak,” jawab Fay.

Kent mengembuskan napas kemudian menunduk. ”Thanks, Fay,” ucapnya tiba-tiba.

”Untuk apa?” tanya Fay kembali, agak kaget dengan ucapan itu.

”Untuk melakukan apa yang kamu lakukan hari Jumat. Kenapa kamu melakukannya? Kalau kamu mengatakan aku datang terlambat, kamu akan terbebas sama sekali dari masalah,” tanyanya lagi.

Fay menimbang-nimbang apakah ia perlu mengatakan kepada Kent bahwa ia melihat Andrew memukulnya sebelum itu. Akhirnya ia memutuskan tidak perlu.

”Aku juga tidak tahu kenapa melakukannya, mungkin karena sebelumnya aku sudah terlanjur bohong. Sebelum aku masuk ke ruangan, Andrew menanyakan apakah aku datang cepat karena sekolah bubar lebih cepat. Waktu itu aku pikir lebih mudah untuk mengucapkan ’ya’, karena dia tidak akan bertanya lagi. Kalau aku bilang ’tidak’, kan pasti aku harus cerita panjang-lebar kenapa aku datang cepat,” jawab Fay cepat. ”Aku tidak menyangka…”

Fay melihat sosok Andrew muncul dari belakang Kent dan ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

”Kent, tugas kamu sudah selesai untuk hari ini. Kamu bisa kembali ke Paris sekarang. Fay, temui saya di ruang konferensi sekarang.” Kent bangkit dari kursi dan mengucapkan salam perpisahan singkat. Fay segera mengikuti Andrew naik ke lantai tiga.

”Pagi ini saya akan memberikan pengantar untuk topik Analisis Perimeter,” Andrew membuka penjelasannya, kemudian melanjutkan, ”dalam bentuk yang paling sederhana, Analisis Perimeter, atau AP, adalah pengamatan terhadap lingkungan di sekitar kita. Semua orang secara alami melakukannya seharihari tanpa disadari, secara refleks. Sebagai contoh, saat kamu masuk ke ruang tunggu dokter yang dipenuhi orang di rumah sakit, yang akan kamu lakukan adalah mencari tempat duduk kosong. Setelah kamu duduk, kamu akan mencari di mana posisi pintu masuk ke ruang dokter, mencari posisi orang yang bisa dimintai informasi seperti asisten dokter atau suster, mengira-ngira berapa banyak pasien yang menunggu dan berapa lama lagi kira-kira giliranmu, mencari petunjuk apa saja fasilitas di ruang tunggu, mulai dari kamar mandi, TV, pengumuman, atau poster yang ditempel di dinding, dan mengamati orang-orang yang menunggu.”

Fay mengangguk setuju.

”Yang membedakan apa yang kamu lakukan sehari-hari itu dengan AP adalah alasannya. Kalau dalam keseharian pengamatan itu dilakukan lebih untuk alasan kenyamanan, di AP alasannya adalah untuk antisipasi, baik terhadap bahaya maupun terhadap kesempatan. Perbedaan alasan ini otomatis akan mengubah cara kamu melakukan pengamatan itu. AP itu sendiri bukanlah tujuan akhir, melainkan hanyalah alat untuk mencapai tujuan.

”Langkah pertama dalam AP adalah menganalisis setiap objek yang kamu amati dan mengasosiasikannya dengan salah satu dari tiga kategori: ’threat’, ’opportunity’, atau ’undefined’.

”Threat atau ancaman adalah hal-hal yang bisa membahayakan atau menggagalkan rencana kamu, apa pun itu. ”Opportunity atau kesempatan adalah kebalikannya, hal-hal yang bisa membantu mewujudkan rencana kamu.

”Undefined adalah hal-hal yang BELUM bisa kamu kategorikan sebagai ancaman atau kesempatan.

”Untuk contoh tadi, bila kamu masuk ke ruang tunggu itu dengan tujuan melarikan diri dari kejaran seseorang, tentunya fokus pertama kamu dalam mengamati ruangan tersebut beserta isinya adalah pintu atau jalan akses. Katakanlah ada dua pintu lagi selain jalan akses yang baru saja kamu lalui untuk masuk ke ruang itu, yang satu adalah pintu ke ruang dokter dan yang satu lagi adalah pintu kamar mandi. Menurut kamu, kedua pintu tadi termasuk kategori yang mana?” tanya Andrew.

”Mm, mungkin kesempatan,” jawab Fay ragu-ragu. ”Kenapa?” tanya Andrew lagi.

”Karena kalau saya dikejar, mungkin saya bisa sembunyi di dalam sana,” jawab Fay lagi, mulai malu dengan jawabannya yang terdengar agak bodoh.

”Pintu yang mana yang akan kamu pilih terlebih dahulu dan apa alasannya?”

”Saya akan memilih pintu kamar mandi, karena ada kemungkinan di dalamnya ada kompartemen kosong tempat saya bisa sembunyi. Kalau saya memilih ruang dokter, akan menarik perhatian orang-orang yang sedang menunggu dan dokter serta pasien di dalam juga pasti akan marah,” jawab Fay yakin.

”Mari kita bahas pendapat kamu. Jangan lupa bahwa tujuan kamu adalah melarikan diri. Jadi pastikan bahwa pilihan kamu terhadap suatu kesempatan akan membuka kesempatan lain dan demikian seterusnya hingga tujuan kamu untuk melarikan diri bisa tercapai. Untuk contoh tadi, menurut kamu mana yang lebih punya kemungkinan untuk memiliki jalan akses meloloskan diri berikutnya seperti pintu yang lain atau jendela, ruang dokter atau kamar mandi?”

Fay menjawab ragu, ”Ruang dokter. Biasanya kamar mandi tidak punya pintu atau jendela lagi, sementara ruang dokter kemungkinan ada di bagian pinggir dan mempunyai jendela” ”Tepat sekali. Itu alasan dan pilihan paling logis dengan kondisi pengamatan yang terbatas. Kesimpulan itu mungkin berbeda bila kondisinya berbeda. Seorang agen yang berpengalaman yang sudah melakukan pengamatan sejak dari luar gedung mungkin sudah melihat jendela kecil yang biasanya adalah jendela kamar mandi. Ketika dia masuk dan memetakan posisi ruang dokter yang sebenarnya berada di tengah-tengah bangunan, tanpa jendela, tentu saja dengan mudah dia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi.”

Andrew berhenti sejenak, memberi waktu bagi Fay untuk meresapi penjelasannya sebelum kembali berkata, ”Sekarang, bayangkan diri kamu sebagai seorang pengejar yang mengincar seorang gadis tujuh belas tahun, dan sampai di ruang tunggu itu. Menurut kamu apa yang akan dilakukan orang itu? Coba lakukan Analisis Perimeter dari sudut pandang seorang pengejar.”

Fay terdiam sejenak kemudian menjawab, ”Kalau saya menjadi pengejar, saya akan melihat ke sekeliling ruangan untuk melihat apakah ada jalan keluar dari sana. Kemudian saya akan mencari gadis itu di antara pengunjung yang duduk. Kalau tidak ada, saya akan melihat tempat-tempat gadis itu mungkin bersembunyi, seperti kolong meja, atau sisi lemari.” Fay terdiam lagi.

Andrew mengangguk sambil berkata, ”Berikutnya, yang mana yang akan dipilih, pintu ke ruang dokter atau pintu ke kamar mandi?”

”Kamar mandi,” jawabnya lagi dengan hati-hati, sambil mencerna perkataannya sendiri.

”Sebagai seorang pengejar, kenapa kamu memilih kamar mandi terlebih dahulu dan bukan ruang dokter?”

Fay berpikir sejenak, ”Karena saya tidak mau menarik perhatian.”

Andrew berkata, ”Jadi, kalau kamu sudah bisa membayangkan reaksi pengejar kamu yang akan mencari ke kamar mandi, pintu mana yang kamu pilih?” ”Pintu ke ruang dokter.”

Andrew menjelaskan, ”Analisis seperti ini, saat kamu menempatkan diri posisi lawan untuk membayangkan reaksinya, untuk kemudian mengambil tindakan yang bertolak belakang, disebut Antisipasi Perilaku. Kemampuan ini merupakan kemampuan tingkat lanjut yang akan semakin terasah dengan bertambahnya pengalaman. Untuk kamu, yang saya harapkan adalah pengambilan keputusan secara logis berdasarkan Analisis Perimeter.”

Fay hanya manggut-manggut, berusaha mencerna sebisanya semua penjelasan Andrew yang semakin membuatnya ragu kalau episode ini akan berakhir dengan bahagia.

Sisa pagi itu diisi oleh Andrew dengan menampilkan gambar di layar dan bermain ”what-if” dengan berbagai skenario, hingga jam 11.00, Andrew menyatakan sesi itu berakhir dan berkata, ”Ada satu topik lagi yang harus kamu pelajari, yaitu bahasa Malaysia. Topik akan diberikan oleh seorang pria bernama Faisal selama satu setengah jam. Setelah sesi itu selesai, kamu bisa makan siang di sini seperti kemarin sebelum kembali ke Paris. Ada pertanyaan?”

Fay berpikir sejenak sebelum bertanya, ”Apakah saya diharapkan untuk menguasai bahasa Malaysia dalam satu minggu ke depan?” Gila  aja.  Bahasa Prancis yang ia pelajari lima jam sehari saja sampai detik ini sudah membuatnya ngos-ngosan, apalagi kalau ditambah satu lagi!

”Tidak. Tujuannya bukan itu. Ada beberapa percakapan dasar dalam bahasa Malaysia yang harus kamu ketahui, tapi yang lebih penting adalah mempelajari bahasa Inggris yang diucapkan dengan intonasi Melayu. Bahasa Inggris kamu bisa saya kategorikan sangat baik untuk ukuran seseorang yang sama sekali belum pernah tinggal di negara yang bahasa ibunya adalah bahasa Inggris, tapi sangat kentara logat kamu Amerika, terutama di awal pertemuan minggu lalu. Saya ingin sesekali kamu menyelipkan bahasa Inggris berlogat Melayu dalam percakapan kamu, untuk menegaskan identitas kamu.” Seorang pria berumur awal tiga puluhan dan berwajah Melayu kemudian masuk dan diperkenalkan Andrew sebagai Faisal. Dia ternyata berasal dari Malaysia dan tidak butuh waktu lama bagi Fay untuk merasa santai di depan pria yang sangat ramah dan menyenangkan itu, terutama setelah Andrew meninggalkan ruangan. Sesi bahasa Malaysia itu pun dijalaninya dengan riang, dipenuhi cekikikan di sana-sini karena logat yang terdengar lucu dan tidak biasa di telinganya.

Satu setengah jam berlalu tanpa terasa dan setelah mengucapkan salam perpisahan dengan gurunya, seperti kemarin, Fay juga membawa makanannya ke teras. Bedanya, kali ini ia memandang batas cakrawala dalam heningnya embusan angin.

Pesawat belum lama mengudara, ketika pramugari menghampiri dan menyapa Fay. ”Ada pesan dari Monsieur Andrew yang disampaikan oleh Monsieur Kent tadi,” ucapnya sambil menyodorkan satu amplop putih.

Fay menerima amplop itu dengan kaget dan buru-buru membukanya untuk melihat isinya. Ada sebuah kartu telepon dan selembar kertas berwarna krem dengan tulisan tangan:

Hai, Fay,

Bisakah kamu menelepon nomor yang ada di kartu dari telepon umum yang ada di dalam bandara? Kamu akan dijemput oleh Lucas di dekat pesawat. Berpura-pura saja kamu ingin ke kamar mandi setelah mobil bergerak ke arah jalan keluar dan minta dia berhenti sejenak di depan gedung pertama yang kamu lihat.

PS: Tolong buang amplop dan kertas ini di tempat sampah di bandara. Thanks.

Kent Fay menggeleng-gelengkan kepala dan membaca surat itu sekali lagi.

Dan sekali lagi. Dan sekali lagi.

Masih dengan perasaan tak percaya ia mengamati kartu yang ada di dalam amplop. Di belakangnya ditempelkan satu kertas kecil bertuliskan nomor telepon.

Dengan gelisah ia melirik jamnya. Baru dua puluh menit yang lalu pesawat ini tinggal landas, masih ada satu jam lagi hingga tiba di Le Bourget. Satu jam yang paling panjang dalam hidupku, desahnya kesal sambil berdiri untuk pindah tempat duduk.

Fay menekan tombol di telepon umum di dalam gedung bandara dengan dada berdebar tak keruan. Jarinya saja sampai kaku hingga tidak ada bedanya dengan menekan tombol-tombol nomor itu dengan sebuah pensil.

Terdengar nada sambung. Tangannya sekarang mencengkeram gagang telepon dengan erat.

Telepon diangkat. ”Fay?” Suara Kent.

”Kent, ada apa?” tanyanya senang bercampur gugup. ”Kamu sore ini ada acara? Bisa temani aku jalan-jalan?” ta-

nya pemuda itu cepat.

Gelagapan Fay menjawab, ”B... bisa. Ke mana?”

”Fay, tolong percaya dulu padaku. Nanti aku jelaskan kalau kita sudah bertemu. Sampai di rumah, bilang ke Jacque atau Celine kamu ingin pergi ke toko dua puluh empat jam yang ada di dekat toko buku mereka untuk membeli sesuatu—karang saja. Ambil jalan ke kanan begitu keluar rumah, tapi begitu kamu menemui perempatan jalan pertama, jangan menyeberangi jalan dan berjalan lurus, melainkan berbeloklah kanan dan berjalan terus hingga tiba di toko lain yang ada di sudut jalan. Masuklah ke toko itu, aku menunggu di dalam. Apakah sudah jelas?”

”Jelas,” ucap Fay sambil mengulang petunjuk itu sekali lagi.

”Fay, jangan membawa barang apa pun ya, termasuk dompet dan telepon genggam,” Kent menambahkan.

Fay baru akan bertanya alasannya, tapi akhirnya ia berkata, ”Oke.”

”Sampai jumpa nanti,” ucap Kent singkat kemudian menutup telepon.

Ketika Fay tiba di rumah, hanya ada Celine. Wanita itu menyambutnya hangat dengan agak heboh, memberondongnya dengan pertanyaan seputar acara di Nice: sempatkah Fay berjalan sepanjang Promenade des Anglais dan menelusuri jalanjalan kecil di Vieille Ville? Dan apakah ia melihat Pangeran Albert II dari Monaco yang menurut tabloid gosip yang dibaca Celine sering sekali menghabiskan akhir pekan di Nice?

Fay sempat tertawa oleh pertanyaan terakhirnya itu. Muka pangeran itu saja ia belum pernah lihat, jawabnya setengah menggoda wanita itu. Pertanyaan lainnya ia jawab singkat, bahwa ia terlalu sibuk mengikuti kursus yang ternyata diadakan di pinggir kota, sehingga ia hanya sempat jalan-jalan di kota sebentar saja sebelum pulang. Saat Celine mengambil napas— tampaknya ingin bertanya lagi, Fay buru-buru mengutarakan maksudnya untuk membeli odol di toko 24 jam di dekat toko buku. Celine langsung menunjukkan arah dengan semangat. Sebenarnya cara paling rumit untuk mendeskripsikan arah ke sana hanyalah ”jalan lurus melewati dua perempatan jalan, toko itu ada di sebelah kanan,” namun entah bagaimana petunjuk itu bisa dibumbui dengan heboh sehingga bisa mencapai dua paragraf lebih kalau ditulis. Fay pun mengangguk takzim dan langsung pergi begitu Celine selesai berbicara. Mengikuti petunjuk dari Kent, ia tiba di depan toko itu tak lama kemudian. Ia pun masuk, dan sampai di dalam langsung ditarik oleh satu tangan yang ternyata milik Kent. Pemuda itu menarik tangannya menuju satu pintu yang ada di sisi lain toko itu. Tergesa-gesa Fay mengikuti Kent yang mengajaknya setengah berlari menjauhi toko, belok kanan di perempatan jalan pertama, berbelok ke kiri di perempatan berikutnya, hingga akhirnya mereka tiba di pinggir jalan besar.

Kent mengarah ke stasiun Metro dan tanpa berkata-kata dia menyerahkan satu kartu tiket pada Fay dan mereka berdua pun masuk ke stasiun, menuju peron, kemudian masuk ke kereta pertama yang berhenti di depan mereka. Fay yang masih merasa sangat tegang bahkan tidak tahu kereta yang dinaiki berujung di mana dan tidak berani bersuara sepatah kata pun sepanjang perjalanan. Terlebih selain menggandeng tangan Fay, perhatian Kent sama sekali tidak terpusat ke dirinya. Fay tahu pemuda itu sedang memerhatikan sekelilingnya dengan gelisah, walaupun berusaha untuk tidak dia tunjukkan.

Ketika akhirnya Kent menariknya turun, Fay sempat mendengar perhentian mereka, Hotel de Ville, atau balai kota.

Sampai di atas, Fay baru melihat senyum kelegaan di wajah Kent.

”Menegangkan sekali,” desah Fay ikut lega.

Kent tersenyum tipis. ”Kamu tidak bawa telepon genggam, dompet, atau benda lain, kan?” sambungnya lagi.

”Tidak. Uang dan fotokopi paspor aku sumpalkan ke saku celana. Memangnya ada apa?” tanya Fay.

”Aku minta maaf, Fay, karena akhirnya jadi serumit ini. Aku sebenarnya hanya ingin menghabiskan sore bersama kamu, tapi aku tidak mau Paman tahu.”

Kening Fay berkerut. ”Aku masih tidak mengerti apa hubungannya dengan segala kerumitan yang baru kita lakukan.” Kent berpikir sejenak sebelum menjawab, ”Kalau kamu membawa telepon genggam, posisi kamu akan dengan mudah terlacak. Itu juga sebabnya aku tidak mau menghubungi kamu ke telepon genggam dan meminta kamu untuk menghubungiku dari telepon umum yang ada di bandara, supaya pembicaraan tadi tidak terlacak.”

”Maksud kamu, Andrew bisa mendengar apa yang kukatakan di telepon genggam?” tanya Fay kaget.

”Aku tidak tahu persis, tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga,” jawab Kent singkat.

Fay kembali bertanya, ”Lalu, kenapa aku harus menemui kamu di toko dua puluh empat jam itu? Kenapa tidak langsung saja kita bertemu di sini, toh tidak ada yang tahu dan telepon genggam itu sudah aku tinggal di rumah.”

”Untuk mengecoh pria yang membuntuti kamu,” jawab Kent seolah itu hal biasa.

”Apa maksud kamu, aku dibuntuti?” tanya Fay kaget.

Kent mengangkat bahu. ”Kamu sudah mengenal pamanku selama satu minggu, tentunya kamu tidak beranggapan bahwa dia akan membiarkan kamu berkeliaran sendirian tanpa dipantau, kan? Aku berani bertaruh pasti ada seseorang yang ditugasi membuntuti kamu ke mana pun kamu pergi.”

”Tapi kalau pria itu kehilangan aku, berarti pada akhirnya Andrew juga akan tahu,” ucap Fay dengan benih-benih panik yang mulai tersemai.

”Belum tentu,” jawab Kent. ”Jangan lupa kalau jalan keluar kita tadi adalah pintu resmi yang memang mengarah ke luar. Kan bisa saja kamu memang keluar dari jalan tadi kalau pergi sendiri.”

Kent menambahkan, ”Tenang saja, kamu tidak melanggar perintah pamanku. Selama dia belum pernah mengeluarkan larangan dan kita tidak melanggar perintahnya, yang terburuk yang akan terjadi adalah dipelototi olehnya.” Kent memajukan mukanya sambil memelototkan matanya.

Fay tertawa kecil mendengar lelucon itu, tapi cemasnya belum hilang.

Kent melanjutkan lagi, ”Tapi, Fay, kalau Paman entah bagaimana berhasil mengetahui bahwa kamu pergi menemui aku dan dia bertanya ke kamu, ceritakan saja bahwa aku yang meminta kamu menemuiku. Aku tidak mau kamu sampai menemui kesulitan lagi.”

Mereka masuk ke sebuah kafe yang berada dalam jajaran toko di pinggir jalan. Dinding di kedua sisi pintu masuk yang agak sempit, dihiasi tulisan-tulisan yang tampak seperti potongan-potongan surat kabar yang ditempel. Di dalam, tepat di dinding yang berseberangan dengan kasir, terdapat sebuah jam dinding raksasa berwarna perak, seperti jam yang terpasang pada peron stasiun kereta di Eropa.

Setelah memesan makanan berupa brioche—roti kekuningan ala Prancis—untuk Kent dan salad untuk Fay serta dua cangkir cappuccino, mereka duduk di dalam kafe untuk menikmati makanan ringan mereka sambil bercakap-cakap.

”Kamu sudah lama ya tinggal dengan Andrew?” tanya Fay membuka percakapan.

”Sejak aku berumur tiga tahun. Sampai saat ini aku bahkan tidak tahu siapa dan di mana orangtuaku,” ucap Kent seolah itu hal biasa.

Dengan kaget Fay menatap Kent.

”Bagaimana mungkin kamu tidak tahu siapa orangtua kamu sendiri? Kamu kan bisa bertanya ke pamanmu. Lagi pula kan ada akte kelahiran dan dokumen-dokumen lain.” Hubungan Fay dengan orangtuanya sendiri memang tidak bisa dikategorikan dekat, tapi bahwa seseorang tidak tahu siapa orangtuanya sama sekali tidak masuk akal baginya.

”Ada sepasang nama di akta kelahiranku, yang menurutku hanyalah nama fiktif. Aku juga bukannya tidak pernah mencoba mencari tahu tentang kedua nama yang tertera itu, tapi hasilnya memang nol besar. Nama orang yang disebut sebagai ibuku adalah nama seorang wanita di Irlandia Utara yang sudah lama meninggal dunia. Kalaupun dia masih hidup, umurnya seratus lima tahun pada saat melahirkan aku, dan itu mustahil. Sementara pencarian nama yang tertera sebagai ayahku malah tidak membuahkan hasil sama sekali.” Kent melanjutkan, ”Yang bisa dijadikan pegangan adalah satu akta adopsi dengan nama pamanku dan sebuah perintah pengadilan yang menyebutkan bahwa dialah yang menjadi pelindungku sampai aku berusia dua puluh satu tahun.”

Fay, yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, kembali bertanya, ”Apa kamu tidak pernah bertanya kepada pamanmu? Kamu kan berhak tahu siapa orangtuamu.”

Kent tersenyum getir. ”Tentu pernah, Fay. Kamu sudah mengenal Andrew dan aku rasa kamu bisa membayangkan jawaban apa yang dia berikan. Yang jelas, sama sekali tidak menjawab pertanyaan.” Dia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, ”Jawabannya kira-kira begini, ’Sesuatu yang tidak pernah kamu punyai adalah sesuatu yang tidak nyata, dan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak nyata adalah pertanyaan yang siasia. Yang perlu kamu ketahui hanyalah bahwa kamu berada di bawah pengawasan saya. Dan walaupun perintah pengadilan menyebutkan itu berlaku hanya sampai kamu berumur dua puluh satu tahun, baik kamu maupun saya sama-sama tahu kenyataannya tidak akan seperti itu. Jadi belajarlah untuk menerima masa kini dan melihat masa depan, daripada membuang-buang waktu memikirkan masa lalu yang tidak pernah kamu miliki.’” Kent mengangkat bahu dan kembali menikmati brioche-nya.

Fay terperangah mendengarnya. Ia berusaha mencerna apa yang dimaksud dengan ucapan itu tapi tetap tidak bisa menemukan sesuatu yang pas dengan logikanya. Setelah terdiam sesaat, ia kembali bertanya, ”Mengingat tugas-tugas yang diberikan kepadaku dan kamu, apakah Andrew bekerja untuk badan rahasia atau sejenisnya?”

Kent terdiam sebentar kemudian menjawab dengan sungguhsungguh, ”Fay, untuk kebaikan kamu sendiri, sebaiknya jangan pernah bertanya atau bercerita tentang apa pun yang berkaitan dengan Andrew atau apa pun yang berkaitan dengan aktivitas kamu selama dua minggu ini kepada siapa pun. Bahkan kepadaku sekalipun. Terkadang, dinding pun bisa punya mata dan telinga.” Fay agak terpukul dengan jawaban Kent, tapi ketika ia mengangkat kepala, matanya beradu dengan sepasang mata biru yang memancarkan ketulusan. Dadanya memberi reaksi, memercikkan sejumput rasa dalam darah yang dipompa jantungnya. Buru-buru ia memalingkan wajah, menatap lurus ke arah saladnya.

Kent kembali berbicara, ”Kalau kita sekarang sedang diikuti dan Paman memang berniat untuk mendengarkan pembicaraan kita, dia bisa melakukannya dengan mudah dengan cara yang mungkin tidak terbayangkan.”

Fay termenung. Pikirannya menerawang ke perkataan Andrew kemarin pagi tentang e-mail yang dikirimnya hari Kamis lalu dan ke kejadian minggu lalu, saat ia menulis e-mail untuk teman-temannya dan Andrew mengetahuinya. Masih belum terpikir olehnya bagaimana cara pria itu bisa tahu, tapi yang jelas, kejadian itu nyata dan konsekuensi yang ia terima sangat berat.

Kent merasa gadis di depannya itu mulai digelayuti perasaan tertekan dan dia mengganti topik pembicaraan,

”Kapan kamu lulus dan masuk perguruan tinggi?”

”Aku sekarang kelas tiga SMA dan tahun depan masuk perguruan tinggi,” jawab Fay agak lega dengan topik ringan yang diusung pemuda itu.

”Sudah memutuskan akan memilih jurusan apa?” tanya Kent lagi.

”Wah, aku masih belum tahu. Kemungkinan sesuatu yang berbau teknik, seperti teknik sipil atau teknik industri.”

”Di mana kamu akan berkuliah?”

”Aku juga belum tahu. Yang pasti lokasinya harus di Jakarta. Orangtuaku pernah bilang mereka tidak setuju kalau aku harus pindah ke luar kota, karena itu berarti kami jadi lebih jarang lagi bertemu. Sekarang pun mereka selalu sibuk tugas ke luar kota atau ke luar negeri. Kalau kamu sendiri bagaimana?” Fay balik bertanya.

”Aku lulus tahun ini. Sebenarnya aku ingin jadi pianis dan melanjutkan ke sekolah musik di Salzburg. Tapi Paman tidak mungkin setuju.”

”Oh ya, kamu mau jadi pianis? Tidak heran kamu bermain bagus sekali kemarin,” ucap Fay tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.

Kent merasa sebentuk rasa tersanjung yang melenakan menghinggapinya dan pemuda itu agak marah kepada dirinya sendiri yang mendadak terlepas dari belenggu yang selama ini dia kenali. Dia menjawab singkat menekan perasaan yang tidak dikenalinya itu,

”Thanks.”

Fay sebenarnya ingin menanyakan kenapa Andrew tidak setuju, tapi ia merasa pertanyaan itu agak sia-sia dan tidak pada tempatnya. Jadi, ia menahan diri. Akhirnya ia kembali bertanya, ”Kalau pamanmu tidak setuju, jadi kamu akan mengambil jurusan apa?”

”Belum tahu, Fay. Kemungkinan aku baru akan kuliah tahun depan.”

Fay menyadari jawaban yang menggantung itu dan memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut tentang apa yang akan dilakukan Kent tahun ini.

Seusai makan, Kent mengajak Fay melintasi taman di depan Place des Vosges, sebuah alun-alun besar yang dulunya adalah sebuah istana. Sekarang di bangunan itu terdapat banyak toko dan kafe, dan taman yang ada di depannya tidak pernah sepi dari pengunjung yang duduk-duduk sambil melepas penat.

Sambil berjalan pelan menyusuri jalan lebar di dalam taman, mereka berbincang ringan seputar sekolah, kota tempat mereka tinggal—London dan Jakarta—dan tempat liburan favorit. Dengan semangat ’45 Fay menceritakan tentang ketiga temannya dan liburan mereka ke Bali yang sangat berkesan tahun lalu. Kent mendapati dirinya tertawa mendengar Fay yang sangat ekspresif menirukan temannya Dea yang suka menanyakan hal-hal yang tidak penting, ”Kenapa ya banyak sekali orang yang berjemur di Pantai Kuta. Apa mereka tidak takut kepanasan dan kulitnya jadi gosong?” Kent juga bercerita tentang tempat liburan favoritnya di Alpen. Dia mendeskripsikan sebuah desa di Switzerland yang posisinya di lembah, dikelilingi empat puncak pegunungan di Alpen. Dia menceritakan kehijauan desa itu yang dikelilingi putihnya puncak gunung yang diselimuti salju di musim panas dan betapa menakjubkan pemandangan di musim dingin ketika pegunungan dan desa itu menyatu dalam hamparan putih salju yang mengaburkan tapal batas.

Fay menyimak cerita Kent dengan tatapan kagum sambil mencoba membayangkan desa yang kedengarannya seperti di negeri dongeng itu.

Mendadak pemuda itu menoleh dan tatapan mereka beradu.

Sorot mata mereka terkunci.

Setelah itu, alam mendadak seperti berkonspirasi dan memutuskan untuk menisbikan suara dan menunggu, karena setelah itu yang terdengar oleh mereka berdua hanyalah debar jantung dan desah napas masing-masing.

Wajah mereka mendekat, ditarik magnet yang dipancarkan oleh yang lain, dan sejenak hanya ada damai ketika bibir mereka bertaut, menciptakan perasaan yang menjalari setiap jengkal tubuh dengan kehangatan yang mengempas sepi. Entah berapa lama mereka kehilangan arah akan waktu, tapi masingmasing bisa merasakan bahwa ketika bibir mereka akhirnya berpisah, hati mereka tidak.

Fay membuang muka terlebih dahulu. Wajahnya panas, telinganya seperti terbakar, dan lututnya lemas dengan debar jantung yang berlari.

Kent meraih tangannya dan sekarang tangan mereka yang bertaut, berbicara dengan bahasanya sendiri yang bisa diterjemahkan dengan mudah oleh hati mereka.

Tanpa banyak bicara mereka berjalan melintasi taman. Kent yang akhirnya berbicara terlebih dahulu, ”Aku ber-

harap apa yang kulakukan tadi tidak menyebabkan pita suaramu terganggu kesehatannya.” Fay tertawa mendengar kalimat Kent yang sama sekali tidak diduga. Kent juga ikut tertawa ringan.

Kent kembali berkata, ”Sudah hampir jam enam, Fay. Aku rasa sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku hanya bisa mengantarmu ke stasiun Metro yang paling dekat dari rumahmu.”

Fay mengangguk. Kini ia mulai merasa pita suaranya agak terpengaruh.

Sesampainya di stasiun Metro itu, mereka berdiri berhadapan, enggan memulai perpisahan.

Mendadak Fay melontarkan pernyataan yang menurutnya sendiri tidak perlu, ”Aku melihat Andrew memukul kamu hari Jumat.” Pipinya panas setelah mengucapkan hal itu.

Kent terdiam dan Fay mengumpat dalam hati. Ingin rasanya melesak ke dalam bumi sekarang juga dan menghilang dari pandangan.

Kent menatapnya dan berkata, ”Aku tahu. Aku melihat sekilas bayanganmu yang lari ke tangga waktu aku berdiri.” Kalimat itu diakhiri dengan kedua tangannya yang merengkuh Fay dan menariknya ke pelukannya sementara bibirnya mencari. Rasa hangat kembali menghampiri mereka berdua. Ketika akhirnya pertautan itu kembali harus berakhir, Kent berkata pelan sambil melihat dalam ke mata Fay, menghunjamkan rasa yang membahagiakan dan menaklukkan, ”Thanks again.”

Fay tersenyum. Ia berbalik sambil melambaikan tangan dan pergi.

Kent menatap punggung Fay hingga gadis itu menghilang dari pandangannya. Dia ingat kejadian sore itu ketika Andrew memukulnya. Dia tahu dari awal bahwa Fay melakukan kebohongan itu untuk dirinya. Egonya memang terusik, tapi hatinya tidak.

Dengan perasaan yang melayang dan melenakan, dia berbalik dan pergi.

 Andrew membaca dua laporan di tangannya dengan sebersit rasa marah yang terkendali.

Laporan pertama berisi informasi tentang hilangnya kontak antara markas dengan seorang agen COU yang namanya kebetulan tercantum di daftar yang ditemukan di markas teroris di Algeria. Belum bisa dipastikan apakah operasi itu sendiri bisa dikatakan gagal, tapi berita ini benar-benar tidak berpihak padanya.

Laporan kedua berisi laporan harian Fay yang sama sekali tidak membantu mendinginkan kemarahannya. Di dalam laporan ini, terdapat dua informasi yang dibuat terpisah oleh dua orang berbeda. Biasanya ia cukup hanya meluangkan waktu lima menit untuk membaca keduanya. Tapi tidak kali ini. Masing-masing informasi ia baca dengan cermat untuk kedua kalinya.

Informasi yang satu menyebutkan gadis itu sampai di rumah pukul 16.00 kemudian pergi ke toko 24 jam yang ada di dekat rumahnya. Setelah itu agen yang bertugas mengikuti gadis itu melihatnya masuk ke sana sebelum kehilangan jejaknya. Dia baru menyadari bahwa ada pintu kedua setelah lima belas menit berlalu dan gadis itu belum keluar juga.

Andrew berdecak kesal dengan kebodohan itu.

Informasi yang lain menyebutkan gadis itu terlihat berjalanjalan dengan Kent di Paris, di sekitar distrik Le Marais, pukul

18.00. Dengan keponakannya!

Itu saja sebenarnya belum cukup untuk membuat amarahnya keluar. Yang akhirnya membuat kemarahannya bangkit adalah ketika ia meminta laporan ketiga ke analisnya di COU, laporan posisi Fay selama hari Minggu itu lewat pancaran GPS yang diselipkan di telepon genggamnya waktu gadis itu diculik minggu lalu. Posisi Fay setelah pukul 16.00 menurut laporan itu tidak pernah bergeser dari rumah Jacque and Celine.

Satu hal yang pasti, berarti gadis itu pergi dari rumah dengan niat untuk tidak terlacak. Selama satu minggu ini, profil Fay menunjukkan konsistensinya dalam membawa telepon genggam ke mana pun dia pergi, walaupun dia tidak pernah menggunakannya. Apa pun itu, pasti ada pengaruh Kent di sana.

Dengan marah Andrew meletakkan laporan di tangannya ke meja.

Korban  sudah  mulai  berjatuhan.  Tidak ada ruang untuk sebuah kesalahan dengan waktu yang terus berjalan, tidak juga bagi keponakannya sendiri.

Dan ia merasa kemarahan itu semakin menggelegak di bawah kendalinya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊