menu

Eiffel, Tolong! Bab 07: Malaikat Penjaga

Mode Malam
Malaikat Penjaga

FAY terbangun dan melihat jam di samping tempat tidurnya. Pukul 06.00, hari Kamis.

Entah kenapa, pagi ini mendadak ia terbangun, sepertinya dibangunkan mimpi yang tidak terlalu baik, tapi ia tidak bisa ingat sama sekali mengenai apa.

Setelah membalik bantal—trik yang diberikan oleh Dea, menurutnya supaya mimpi buruk tidak berlanjut—Fay kembali memejamkan mata dengan harapan bisa mengistirahatkan nyawanya kembali barang sejenak. Tapi rupanya pikirannya sudah melanglang buana tanpa bisa diatur dan sang nyawa seperti mengalah, menyerahkan kendali kepada sang pikiran. Dengan kesal Fay mendapati pikirannya hanya menampilkan sosok Kent, pemuda yang sekarang dibencinya setengah mati.

Tapi itu kata pikirannya. Kata hatinya lain lagi.

Pertentangan itu semakin membuat matanya menyala dalam gelisah. Setelah membolak­balikkan badan puluhan kali, akhirnya jam menunjukkan pukul 07.00. Fay pun bergegas ke kamar mandi.

Entah karena mimpi itu, atau karena bayangan Kent yang tidak mau sirna dan menguasai pikirannya selama hampir sejam tadi pagi, Fay merasa hatinya sangat suram dan tidak punya semangat sama sekali untuk menjalani hari itu. Dalam hati ia bertanya­tanya apakah ini yang dirasakan Harry Potter ketika berhadapan dengan makhluk Dementor di buku karangan JK Rowling yang setiap bukunya sudah dibacanya paling tidak tiga kali.

Untuk melengkapi kesuraman yang ia rasakan, dalam perjalanan menuju sekolah ia mengalami sebuah insiden kecil yang menyebalkan. Di jalan bawah tanah yang mengarah ke stasiun metro ia bertemu segerombolan pemuda yang menyodorkan satu map yang diterima dengan polos oleh dirinya. Ternyata mereka meminta sumbangan. Ketika Fay mengembalikan map itu sambil menggeleng, mereka marah dan berteriakteriak ke arahnya dengan suara keras. Untung salah seorang dari mereka memberi tanda untuk membiarkannya lewat. Setengah berlari dengan jantung yang mulai deg­degan Fay pun melangkahkan kaki secepat mungkin, menjauhi mereka.

Tiba di sekolah, Reno menyambutnya dengan senyum; sebuah senyuman yang meniupkan sedikit keceriaan di pagi itu. ”Selamat pagi, Fay. Apa kabar pagi ini?”

Fay mengempaskan diri ke kursi dan menjawab, ”Tidak terlalu baik.”

”Kenapa? Kamu sakit?” tanya Reno cemas.

”Aku tadi bertemu dengan segerombolan pemuda yang menghadangku minta sumbangan,” jawabnya.

Kening Reno berkerut. ”Maksud kamu, menghadang seperti apa?”

”Waktu aku lagi berjalan di lorong ke stasiun metro, ada empat pemuda yang berdiri, masing­masing memegang kertas yang dialasi satu papan. Waktu aku melewati mereka, salah satu dari mereka menyodorkan papan itu dan aku terima.”

Reno merasa satu bentuk kekesalan merayapinya. ”Fay, jangan pernah menerima apa pun dari orang yang tidak kamu kenal.” ”Yah, tadi aku terima. Waktu aku sadar mereka ternyata meminta sumbangan dan mengharapkan aku menulis jumlahnya di kertas itu, langsung aku kembalikan lagi,” Fay berhenti untuk menarik napas.

”Kemudian apa yang terjadi?” tanya Reno tidak sabar. ”Pemuda itu berteriak ke arahku, untungnya dalam bahasa

Prancis sehingga aku tidak mengerti,” ia terkekeh, kemudian melanjutkan, ”tapi kemudian dua temannya mendekat dan berbicara ke pemuda itu, juga dalam bahasa Prancis, dan akhirnya pemuda itu membiarkan aku lewat.”

”Di mana kejadiannya, Fay?” tanya Reno.

”Di stasiun Montgallet. Sialnya, itu stasiun yang paling dekat dengan tempat tinggalku, jadi aku setiap hari harus berjaga­jaga. Mungkin kalau aku datang lebih pagi seperti kemarin, aku tidak akan bertemu mereka,” Fay mendesah kesal. Reno menggeleng­geleng. ”Fay, dengar aku baik­baik ya.

Jangan, JANGAN PERNAH, menerima apa pun dari orang yang tidak kamu kenal. Oke?”

Dengan kaget, Fay menatap Reno yang melihat ke arahnya dengan tampang sangat serius. Masih sambil cengengesan ia menjawab, ”Oke, Bos.”

Reno mengambil salah satu buku Fay dan dengan gemas membuat gerakan seolah­olah menepuk kepala Fay dengan buku itu. Fay tertawa senang dengan kejutan itu. Selama ini yang bisa memberikan perhatian seperti itu hanya Cici, Dea, dan Lisa.

Dengan perasaan yang sedikit lebih ceria, Fay menyongsong hari yang sepertinya baru saja dimulai.

Saat istirahat, Reno kembali mengajaknya makan siang bersama. Di kafeteria Fay melihat teman­teman sekelasnya juga sudah tidak bergerombol lagi dan itu sedikit menghilangkan perasaan bersalahnya karena selama ini seperti tidak berusaha berbaur dengan mereka. Di bagian dalam kafeteria, Erika duduk dengan dua punggawanya, Phil dan Jose. Sedangkan di salah kursi di teras terlihat Eliza dengan Julia. Pandangan Fay berkeliling untuk mencari di mana Rocco, tapi tidak berhasil menemukannya.

Reno bertanya, ”Bagaimana kelas sore kamu kemarin, lancar?”

Dengan kaget Fay melihat ke arah Reno yang sedang sibuk mengaduk makanan bungkusannya.

”Lancar­lancar saja,” jawabnya singkat.

”Ada berapa orang di kelas kamu dan apa yang kamu pelajari di sana?” Reno kemudian menggeleng sambil menambahkan, ”Aku masih saja tidak habis pikir kenapa kamu masih mau menyengsarakan diri sendiri dengan ikut kelas tambahan.”

Fay berpikir sebentar kemudian menjawab, ”Hanya ada empat orang di satu kelas, termasuk aku.”

Andrew, Kent, Lucas, dan dirinya.

Sambil tersenyum simpul Fay melanjutkan, ”Kata siapa sengsara? Yang dipelajari memang tidak lebih menarik daripada kelas di sini, tapi yang jelas ada seorang siswa yang sangat keren di sana.”

”Oo, pantas kamu sepertinya bersemangat sekali kalau sudah menjelang sore. Apakah ada harapan untuk ’summer love’?” tanya Reno lagi sambil tersenyum iseng.

”Jauh. Apalagi kelakuannya tidak sebagus tampangnya, jadi aku rasa sama sekali tidak ada harapan ke sana,” ujar Fay dengan rasa kesal yang sebenar­benarnya.

”Oh ya? Apa saja yang ia lakukan yang membuat kamu berpikiran seperti itu?” tanya Reno lagi.

Fay berpikir sebentar untuk memodifikasi ceritanya sedikit. ”Waktu baru kenalan saja, entah kenapa dia sudah tidak ramah kepadaku. Kemudian di dalam kelas, waktu setiap murid disuruh membuat pertanyaan untuk dijawab oleh yang lain, dia sengaja memberi pertanyaan sulit yang tak bisa kujawab.”

”Wah, kalau sesuatu terasa terlalu berlebihan, biasanya yang terjadi malah sebaliknya,” ujar Reno.

Fay mengangkat bahu sambil lalu. Kalau saja Reno tahu, pikirnya getir sambil membayangkan apa yang dilakukan Kent kemarin. Tapi Reno tidak tahu, dan ia harus segera mengakhiri topik ini kalau tidak ingin Reno jadi tahu karena ia tidak bisa menahan mulutnya.

”Komputer sudah betul belum ya?” tanyanya mendadak seperti baru teringat.

Dengan lega ia melihat Reno menjawab pertanyaannya dan sisa siang itu mereka isi dengan perbincangan ringan seputar komputer dan situs­situs Internet yang menjadi favorit masingmasing.

Di sore hari, seperti biasa Fay tiba pukul 16.00 di rumah latihan. Sampai di depan rumah, ia tidak melihat mobil Bentley hitam diparkir di depan pintu seperti biasanya. Tidak ada juga kendaraan lain. Fay bertanya dalam hati bagaimana cara Kent datang ke sini.

Huh. Mengingat anak itu, Fay langsung bete. Sebagian dirinya, tentunya. Sebagian yang lain sedang bersiap­siap bersolek untuk menyambut Kent.

Setelah berganti baju dan menunggu di luar, ia agak heran ketika tidak melihat satu orang pun di sana selain Lucas yang berdiri di sisi mobil. Fay menghampiri Lucas dan bertanya apakah dia tahu di mana Kent, tapi Lucas hanya mengangkat bahu tanda tak peduli. Sepertinya tugasnya memang hanya mengantar, pikir Fay. Ia pun masuk ke rumah, mencari Kent di ruang tengah, di dalam ruang kerja Andrew, bahkan ia memberanikan diri membuka lemari rahasia di ruang kerja itu. Dengan sedikit takut ia mencoba­coba menggeser buku­buku untuk membuka lemari itu. Ia terlompat ke belakang waktu pintu itu mendadak terbuka dengan bunyi yang menurutnya lebih keras daripada biasanya. Di ruang belajar itu pun tidak ada Kent.

Fay meraih map Seena dan dengan iseng membolik­balik halaman tentang Seena. Hari ini seharusnya ia mempelajari silsilah keluarga Seena dari pihak ibu. Ia melihat bagan silsilah keluarga Seena. Pandangannya otomatis terarah ke satu nama selain Seena yang dilingkari spidol hitam, Alfred Whitman. Pria itu menikah dengan adik ibu Seena yang bernama Zaliza. Mereka tidak punya anak hingga Zaliza meninggal dunia.

Hanya itu yang bisa disimpulkan dari bagan ini. Fay membalik halaman. Ternyata ada keterangan yang lebih lengkap tentang keluarga Alfred Whitman.

Alfred menikah dengan Zaliza selama dua belas tahun. Pernikahan mereka dilangsungkan di Hotel The Westin yang berbintang lima di Kuala Lumpur, dihadiri oleh kerabat Zaliza. Mereka tinggal di London hingga Zaliza didiagnosis menderita kanker. Zaliza meninggal dunia tiga bulan kemudian. Alfred mempersembahkan rumah kaca yang terdapat di kediamannya di London sebagai tempat peristirahatan terakhir mendiang istrinya. Di tengah­tengah rumah kaca yang menjadi tempat favorit mereka menghabiskan waktu, Zaliza dikuburkan. Sejak kematian istrinya, Alfred pindah ke Paris.

Fay membaca keterangan itu berulang­ulang. Fakta bahwa seorang pria menguburkan istrinya di tengah­tengah rumah kaca sebagai persembahan terakhir bagi istrinya benar­benar membuatnya terkesima. Pria ini tentunya sangat mencintai istrinya. Ia langsung membayangkan Alfred sebagai seorang pangeran dalam cerita dongeng.

Kalau Alfred seorang pangeran, lantas Andrew siapa? Ia langsung bergidik dengan pikirannya.

Cepat­cepat Fay menutup map Seena dan keluar. Sempat terpikir apakah ia sebaiknya lari saja sendiri di jalur itu tanpa perlu menunggu Kent atau siapa pun datang dan memberi perintah. Tapi ide itu langsung disambut dengan tawa terbahakbahak oleh pikirannya sendiri.

Udah mulai gila lo, Fay, ujarnya dalam hati.

Mendadak Fay teringat dengan onggokan e­mail di Yahoo! yang sudah saatnya ia balas. Sekelebat ingatan hari Senin lewat, tapi akhirnya ia membulatkan tekad untuk membalas e­mail­e­mailnya. Kalau besok Andrew mempermasalahkan hal ini, ia akan berdalih bahwa bila ia tidak membalasnya segera mereka semua malah akan jadi curiga, pikirnya lagi.

Jadi, sore ini akan Fay habiskan di kamar, menulis balasan e­mailnya di atas secarik kertas sambil tidur­tiduran. Baru nanti malam ia akan menyalinnya ke Yahoo!. Dengan semangat ia naik ke kamarnya.

Kent melirik jamnya. Sudah pukul 17.30 dan pesawatnya masih berada di atas Swiss.

Ia mendesah.

Sejak tadi malam, baru sekarang ini ia sempat memikirkan kewajibannya yang lain. Yang berseliweran di benaknya sejak kemarin hanyalah komposisi­komposisi yang akan dimainkan oleh kedua maestro idolanya itu. Dan tentunya komposisi yang dimainkannya pagi tadi, Sonata A Minor dari Mozart. Sebuah komposisi kelam yang digubah oleh Mozart setelah kematian ibunya.

Sejak ia bangun tadi pagi yang ada hanya gelisah, muncul karena antusiasme yang tak tertahankan untuk menyongsong hari ini. Ia tersenyum sendiri, mengingat betapa cepat kegelisahan itu melarikan diri begitu jemarinya menyentuh tuts piano. Bahkan rasa gugup akibat bermain di bawah pengamatan dua pasang mata maestro itu pun hilang begitu ia merasakan hanya ada keheningan yang menunggu satu nada pembuka dipecahkan. Hasilnya juga tidak jelek. Salah satu dari mereka bahkan memujinya dengan berkata bahwa dia sendiri di umur seperti Kent tidak bisa bermain komposisi itu sebagus dirinya.

Tapi itu tadi.

Sekarang ia harus menghadapi tugas yang diberikan pamannya.

Kent termenung. Pamannya tidak pernah melarang kegiatannya berpiano, tapi tidak pernah setuju untuk menjadikannya sebagai jalan hidup. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah musik di Salzburg tidak pernah berani ia utarakan, karena ia sudah tahu jawabannya.

Bagi pamannya, COU tetap prioritas nomor satu. Yang lain ada di urutan selanjutnya. Kali ini Kent merasakannya sendiri, cita­citanya adalah prioritas kedua. Ia sendiri sebenarnya tidak pernah terlampau banyak memikirkan pilihan yang ia punya. Dibesarkan oleh pamannya sejak berumur tiga tahun, masa depan Kent sudah ditorehkan di hadapannya. Ia hanya tinggal menjalaninya dengan baik, tanpa bertanya. Pertanyaan yang tidak pada tempatnya akan menyebabkan dirinya mendapat masalah besar dari sang paman. Hukumannya tidak pernah ringan, semakin berat dengan pertambahan umurnya. Jadi ia belajar untuk diam dan patuh.

Kent meregangkan jemari kedua tangannya dan mengamati jari­jari nan panjang itu. Fakta bahwa sampai sekarang kesepuluh jari tangannya masih utuh dan masih bisa digunakan untuk memainkan tuts piano sudah merupakan keajaiban mengingat posisinya di COU masih sebagai agen lapangan. Jari yang menekan tuts dengan elegan itu adalah juga jari yang menggenggam senjata api, memainkan pisau, dan bertempur.

Sekarang, satu lagi rencana pamannya yang harus ia jalani. Kembali mendesah, pandangan Kent menyapu langit di luar yang masih tampak terang.

Hanya langit itu yang terang. Hatinya sama sekali tidak bisa melihat keindahan yang terpancar dari setiap bias sinar matahari yang menggubah cahaya bagai menggodanya, karena hatinya masih tertinggal di Salzburg dengan nada dalam gubahannya.

Ia setengah mengharap Fay sudah bosan menunggunya dan sudah pulang. Atau pesawat yang dinaikinya ini jatuh di Alpen.

Jangan,  jangan  yang  terakhir, pikir Kent. Ia masih ingin mengikuti workshop itu besok. Malam ini ia akan pergi lagi ke Salzburg, menumpangi pesawat carter yang sama dengan yang membawanya sekarang. Besok pagi ia akan mengikuti workshop itu, tapi ia harus segera meninggalkannya setelah makan siang.

Pikiran yang terakhir itu menyakitinya dan ia memaki dalam hati, sambil menerawang kembali ke luar jendela pesawat. Besok pamannya baru datang setelah makan malam. Sore hari ia akan tiba lebih cepat, dan memberi materi hari ini dan besok ke gadis itu. Mungkin ia hanya akan menyuruh Fay lari satu kali saja besok supaya waktunya cukup, pikirnya.

Fay baru selesai makan malam dan sudah hampir tertidur di tempat tidur empuk kamarnya ketika ia mendengar suara mobil masuk ke pekarangan berbatu dan berhenti di depan rumah. Pukul 19.30.

Melompat dari tempat tidur, ia menuju jendela dan mengintip keluar. Posisi jendela kamarnya persis menghadap ke bagian depan rumah dan ia melihat Kent turun dari mobil dengan tergesa­gesa. Fay segera memakai sepatunya dan setengah berlari turun ke bawah saat ia mendengar suara tidak sabar cowok itu meneriakinya untuk turun.

Uh, benar-benar mengesalkan anak ini, pikir Fay jengkel. Yang telat dia, yang marah­marah dia juga.

Sesampainya di bawah, perasaan jengkelnya langsung hilang bagaikan diisap oleh langit. Terkesima ia melihat Kent berdiri di sana, memakai jas hitam dengan kemeja putih lengan panjang, celana hitam, sepatu hitam. Sebuah dasi garis­garis yang sudah dilonggarkan melingkari kerahnya, yang kini kancing teratasnya sudah terbuka.

Fay mendadak tersadar ia sudah menatapi Kent entah dengan pandangan seperti apa dan ia merasakan muka dan telinganya panas. Saat ini ia benar­benar bersyukur warna kulitnya sawo matang. ”Tadi kamu sudah latihan lari?” ”B...belum,” jawab Fay gelagapan.

”Kalau begitu, dua puluh push-up. Sekarang,” perintah Kent datar.

”Tapi aku menunggu kamu datang…” ”Itu bukan alasan. Lakukan sekarang.”

Dadanya sakit, penuh rasa sakit seperti yang ia rasakan tadi malam. Fay menggigit bibirnya. Matanya terasa panas. Dengan air mata yang mulai terasa akan tumpah, ia mengambil posisi push-up dan melakukan gerakan tanpa berhitung dengan kencang. Di hitungan kelima, air matanya menetes ke lantai.

”Sekarang kamu latihan lari di jalur biasa. Tiga puluh lima menit.”

Fay langsung berlari ke luar, diterangi matahari malam yang terangnya seperti senja di Jakarta.

Sama seperti kemarin, hari ini ia juga dipulangkan lebih cepat, dengan aktivitas yang berkisar pada lari dan push-up. Fay ingat instruksi Andrew kemarin, bahwa hari ini ia seharusnya menerima topik baru, Analisis Perimeter. Ingin rasanya ia menanyakan hal itu ke Kent, tapi lidahnya serasa kelu ketika sudah berhadapan dengan pemuda itu. Akhirnya setelah Kent memberi instruksi untuk datang lebih cepat besok, ia buru­buru masuk ke mobil tanpa bertanya sama sekali.

Kalau ada apa-apa, itu toh bukan salahnya, pikir Fay menenangkan diri sendiri.

Di rumah, Fay membuka komputernya dengan perasaan agak berdebar­debar, tapi memutuskan untuk tetap maju pantang mundur.

Ia login ke Yahoo! dengan debar yang semakin kencang. Tenang Fay, ujarnya dalam hati.

Ternyata ada tiga e­mail baru. Dengan tidak sabar ia membaca isinya satu per satu. From: Papa Cc: Mama Hari: Selasa

Fay, Papa sudah di Thailand. Kata Mama, kamu belum kasih kabar ya? Terlalu asyik sepertinya di Paris. Segera beri kabar ya.

Papa

Fay   berdecak   kesal.   Garing    betul,    lagi    pula pertanyaannya tidak perlu ditanyakan, pikirnya sambil bersungut­sungut.

Tangannya dengan tidak sabar mengarahkan

mouse­nya ke e­mail kedua.

From: Lisa Cc: Cici, Dea Hari: Rabu

Wooooiiiii….  Ke  mana  sih  ni  anak?  Fay,  masih  hidup nggak sih?

Lisa

Fay tersenyum. Tak sabar rasanya ingin membalas e­mail si bawel yang satu ini. E­mail selanjutnya membuat senyumnya makin lebar.

From:  Cici Cc: Lisa, Dea Hari: Rabu

Fay, gue udah di S’pore nih. Kok e-mail kita belum ada yang dibalas sih…? Kasih nomor telepon lo dong spy bisa gue telepon.

Luv, Cici

Ia berhenti sejenak, menunggu dering telepon dengan tangan yang sudah dingin. Selang beberapa detik, setelah dering yang ditunggu tidak datang, tangannya langsung menari di kibor, dimulai dengan membalas e­mail teman­temannya.

To: Cici, Lisa, Dea

Halo, gals…. G kangen banget deh sama lo semua.

Sori  ya  baru  bisa  balas  sekarang.  Hari  Minggu  malam g udah capek banget abis jalan-jalan. Apalagi ditambah dengan jetlag.

Trus, hari Senin komputer yang ada di kamar g rusak. Kena virus kayaknya, dan baru dibetulin hari ini.

G agak bingung deh mau cerita apa. Soalnya semuanya seru 

Di  tempat  kursus,  teman  sekelas  g  ada  delapan  orang. Ada cewek yang asli nyebelin banget, namanya Erika. Pasti lo pada ngetawain g ya, jauh-jauh ke Paris ketemunya yang nyebelin kayak dia juga.

Tapiiiii… di kelas g juga ada cowok keren banget, namanya  Reno.  Guess what,  duduknya  persis  di  sebelah g  dan tiap siang makannya bareng g 

Tapi jangan nyangkain g ngelaba ya… walaupun seneng  juga  dekat-dekat  cowok  yang  kerennya  kayak  dia. Buat g sih dia terlalu dewasa, mungkin kayak abangnya si Dea.

Oh iya. Dea, trik loe ngebalik bantal abis mimpi buruk  nggak  manjur  tuh,  tadi  pagi  malah  gue  nggak  bisa tidur lagi.

Udah ah, itu dulu. Tangan g udah pegel nih.

Ciaooo…

Fay membaca e­mail itu sekali lagi dan tanpa terasa beberapa tetes air mata menyelinap keluar di kedua ujung matanya. Ada perasaan bersalah melihat kebohongan yang telah diumbar kepada teman­teman tersayangnya. Alasan komputer rusak karena virus adalah kebohongannya yang paling ringan kalau dibandingkan dengan kesan bahagia penuh kepalsuan yang membalut e­mail itu.

Kalau saja ia bisa berkata jujur, isi e­mailnya akan dipenuhi bukan dengan keceriaan dan kebahagiaan, tapi dengan keluh kesah, tangisan, dan jeritan putus asa. Tapi bagaimana caranya mencurahkan isi hati yang sebenarnya tanpa membuka kebenaran yang ditabukan?

Sebuah pertanyaan retoris, pikirnya.

Ia harus berpuas hati dengan kebohongannya itu dan berharap teman­temannya bisa menerima kepalsuan itu.

Bahkan untuk memberi nomor telepon Jacque saja ia tidak berani. Ia yakin yang akan dilakukan begitu mendengar suara temannya di telepon adalah menangis, dan tentunya itu tidak boleh terjadi kalau ia tidak ingin mereka curiga ada yang tidak beres. Sempat terpikir untuk menulis sedikit tentang Kent, yang membuat jiwanya melayang tapi yang tindak­tanduknya selalu membuat hatinya terempas berkeping­keping. Tapi lagilagi tidak jadi ia lakukan, karena hanya akan menambah daftar kebohongannya kepada teman­teman yang paling disayanginya itu. Apalagi mereka pasti akan bertanya banyak hal tentang pemuda itu, mulai dari di mana Fay dan Kent bertemu, apa saja yang telah mereka lakukan, seperti apa tampangnya, dan sebagainya, dan pasti tidak semuanya bisa Fay jawab.

Fay buru­buru menghapus butir­butir air mata yang ada untuk mencegah mereka memanggil anggota koloninya yang lain. Sekarang, ia mau menulis e­mail untuk papa dan mamanya.

To: Mama, Papa Halo, Ma, Pa,

Sori baru sempat balas. Komputer Jacque rusak dan baru  dibetulkan  hari  ini.  Jadwalku  di  sini  memang  padat sekali.  Pagi  kursus  dan  sorenya  harus  mengerjakan  tugas dan PR. Capek juga, tapi senang sih jadi tambah teman. Belum sempat jalan-jalan terlalu banyak, baru di sekitar Eiffel saja, itu pun hanya dari luar karena kalau mau masuk antreannya panjang.

Papa & Mama apa kabar? Kapan pulang ke Jakarta?

Udah dulu ya. Bye.

Di saat yang sama, Reno berada di dalam Metro yang membawanya ke stasiun Montgallet.

Tiba lima belas menit kemudian, ia keluar dari kereta dan menyusuri lorong jalan keluar yang menghubungkan perhentian itu dengan dunia di atas. Tidak menemukan apa yang dicari, ia kembali turun dan masuk ke jalan bawah tanah itu. Di peron, Reno melihat dua petugas sedang patroli, satu pria dan satu wanita. Ia langsung menghampiri mereka, memasang wajah seramah dan sesimpatik mungkin.

Tersenyum ramah, Reno berkata dalam bahasa Prancis, ”Selamat sore, apa kabar? Maaf kalau saya mengganggu kesibukan Anda berdua. Saya harap Anda tidak keberatan kalau saya bertanya sedikit.”

Kedua petugas itu membalas senyumnya, dan petugas yang wanita langsung berkata, ”Tidak masalah. Ada yang bisa kami bantu?”

”Begini. Adik saya yang baru berumur tiga belas tahun, tadi pagi lewat di stasiun ini. Ada seorang pria dewasa yang mencoba mengganggunya, sayangnya dia tidak ingat sama sekali seperti apa orangnya.”

Reno melihat kedua petugas itu mendengarkan ceritanya dengan intensitas yang bertambah besar, dan ia pun melanjutkan, ”Untung saja ada beberapa orang yang meneriaki pria itu, sehingga pria itu langsung pergi. Menurut adik saya, penolongnya itu adalah beberapa orang yang meminta sumbangan kepada para pejalan kaki. Tapi karena dia masih sangat ketakutan, dia langsung saja pergi, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih,” kali ini wajah Reno menunjukkan penyesalan yang dalam.

Petugas yang pria langsung bertanya, ”Apakah Anda ingin melaporkan kejadian ini secara resmi kepada polisi?”

”Tidak, Pak, karena adik saya sama sekali tidak ingat ciriciri pelakunya. Sebenarnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada para penolong adik saya. Tapi saya lihat, mereka sudah tidak ada. Apakah Bapak atau Ibu kebetulan tahu siapa mereka atau di mana saya bisa menemui mereka?”

Petugas pria menjawab, ”Banyak kelompok yang melakukan itu, sebagian rutin dan sebagian lain hanya pada waktu­waktu tertentu saja. Yang tadi pagi itu adalah kelompok yang meminta sumbangan rutin, menurut mereka untuk orang­orang di Nigeria. Tapi mereka selalu berpindah­pindah dari satu stasiun ke stasiun lain.”

Petugas wanita menambahkan, ”Sebentar. Biasanya kalaupun berpindah­pindah, mereka hampir selalu ada di jalur kereta yang sama. Mungkin bisa kita bantu cek ke teman­teman lain.”

Petugas wanita itu meraih radio dan menyampaikan pertanyaannya ke operator, apakah ada ”grup Nigeria” di stasiun lain di jalur itu. Tidak lama kemudian, Reno sudah mendapatkan jawabannya, mereka ada di perhentian kedua dari tempatnya sekarang.

Dengan penuh rasa terima kasih, kali ini tidak bersandiwara, Reno menyalami kedua petugas itu, sambil mengucapkan selamat bertugas. Segera ia masuk ke kereta berikutnya, menuju perhentian Faidherbe Chaligny.

Sampai di tujuan, segera setelah melalui mesin pengecekan tiket, Reno melihat mereka. Ada empat orang, masing­masing membawa sebuah alas tulis dari kayu yang di atasnya terdapat kertas untuk menulis nama bila memberi sumbangan. Reno menebak mereka semua berumur di awal dua puluhan, dengan kata lain seumur dengannya. Dua orang dari mereka memakai jaket, satu jaket berbahan parasut dan satu lagi bahan kaus seperti jaket olahraga. Yang terakhir tampaknya paling senior di antara mereka.

Reno berjalan mendekati si senior, dan mendadak terpeleset tepat ketika si senior itu menyodorkan kertas beralas papan ke hadapannya. Setengah limbung ia menabrak pria itu sebelum akhirnya jatuh ke lantai, beserta papan yang tadi dipegang si senior.

Si senior langsung berteriak, ”Kamu mabuk ya?”

Berusaha berdiri, sambil memegangi papan itu, Reno meminta maaf dalam bahasa Prancis, ”Maaf, maaf, saya memang ceroboh sekali. Tadi saya sedang berpikir untuk meraih papan ini ketika kamu berikan ke saya dan saya mendadak terpeleset. Saya memang menderita penyakit ’ketidakseimbangan parsial’ karena ada saraf di gendang telinga saya yang rusak. Maaf sekali ya.” Reno kemudian membaca tulisan di papan itu.

Pria itu tidak menyia­nyiakan kesempatan, ”Tidak masalah. Kami kebetulan sedang mengumpulkan dana untuk saudarasaudara kami yang kurang beruntung di Nigeria. Mau ikut menyumbang?”

”Tentu. Tadi sebenarnya saya sedang memikirkan mau menyumbang berapa ketika terpeleset,” jawab Reno sambil merogoh kantongnya, mengeluarkan uang sepuluh Euro. Sambil menuliskan jumlah uang yang disumbangkan di kertas itu, Reno membuka percakapan, ”Wah, kalau dilihat dari daftar ini, sudah lumayan juga sumbangan yang masuk.”

Pemuda itu menjawab, ”Tidak terlalu buruk untuk hari ini, tapi masih kurang untuk membantu semua saudara­saudara kami di Nigeria.”

”Jam berapa kalian biasanya selesai?” tanya Reno sambil lalu.

”Sebentar lagi kami akan pulang.”

”Oh ya, apakah kalian tinggal jauh dari sini?” tanya Reno lagi. Ia sudah selesai menulis, tapi baik kertas maupun uang sepuluh Euro belum ada yang diserahkan kembali ke pria itu. Pria itu sekilas melirik ke tangan Reno yang masih belum bergerak dari sisi tubuhnya, dan menjawab, ”Tidak juga, sekitar dua blok dari sini, ke arah selatan. Kamu sendiri bagaimana, apakah tinggal di sekitar sini?”

Reno memberikan kertas dan uang itu sambil menjawab, ”Tidak terlalu jauh, sekitar dua blok juga dari sini, tapi ke arah yang berlawanan. Oke, kalau begitu, bon chance.” Reno berjalan meninggalkan pria itu, naik ke tangga yang membawanya keluar dari jalan bawah tanah ke area terbuka di atas, kemudian berbelok ke arah yang disebutkan pria tadi.

Ia berjalan menyusuri jalan itu sampai akhirnya menemukan apa yang dicari. Sebelum sampai ke akhir blok pertama, tidak jauh dari stasiun kereta tempatnya datang, Reno menemukan sebuah gang kecil di sebelah kiri antara dua gedung yang menjadi akses ke area servis kedua gedung tersebut. Ada sebuah kontainer berukuran sedang yang ada di mulut gang itu, menutupi hampir separuh jalan masuk. Reno bisa melihat bahwa ujung jalan itu buntu, tertutup dinding gedung lain yang ada di sisi lain yang sejajar dengan jalan utama yang tadi dia susuri. Di sisi dinding yang ada di kiri dan kanannya, masingmasing terdapat sebuah pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam. Ia berbalik, berjalan kembali ke arah stasiun Metro tempatnya datang, tapi berhenti tidak jauh dari mulut gang yang tadi ia tinggalkan, tepat di balik sebuah pohon besar. Setelah yakin dengan posisinya, ia menunggu dengan sabar.

Sepuluh menit kemudian, Reno melihat keempat pria tadi berjalan dengan santai. Mereka berjalan dalam dua baris, si senior berjalan di depan dengan temannya yang tidak memakai jaket, dua lainnya berjalan di belakang mereka.

Reno membalikkan badan, membiarkan mereka lewat di belakangnya. Setelah mereka lewat, Reno segera berjalan mengikuti mereka dengan menjaga jarak. Ketika mereka sudah persis berada di samping gang kecil tadi, Reno mendadak berlari maju menerjang salah satu pria yang berjalan di belakang, meninju tengkuknya dari belakang sehingga dia terjerembap ke depan, menabrak si senior yang berada di depannya. Proses itu berlangsung sangat cepat, disaksikan hanya oleh teman yang tadi berjalan bersisian dengannya. Butuh waktu beberapa detik sampai mereka semua menyadari apa yang terjadi. Dimulai dari tatapan tak percaya pemuda yang berjalan di sebelahnya ketika melihat temannya jatuh, si senior yang serta­merta menengok ke belakang dengan ekspresi kaget, temannya yang menunjuk ke arah dirinya sambil berbicara, hingga pandangan mereka yang berubah bagaikan banteng yang melihat lambaian selendang merah sang matador. Sementara itu terjadi, Reno berjalan mundur, dan menghilang masuk ke gang.

Segera setelah tersadar, mereka langsung maju menyerbu menyusul Reno ke arah gang sempit. Mereka mendadak berhenti dengan wajah puas ketika melihat gang itu buntu. Pemuda yang tadi dipukul Reno sekarang juga sudah masuk ke gang, berdiri paling belakang sambil memegang tengkuknya.

Si senior maju ke depan, kedua tangannya ada di dalam saku jaket.

”Hei, kamu orang yang di stasiun tadi. Apa masalahnya?” Reno diam tanpa ekspresi.

Si senior tampak semakin marah, lalu bergerak maju, ”Hei, kamu tuli ya? Jangan belagak tolol. Mati kau!”

Reno tidak bergerak satu inci pun.

Si senior maju dengan marah, kali ini siap menyerang. Dia mengeluarkan tangannya dari kantong, tapi Reno lebih siap. Kaki Reno langsung melayang, tepat mengenai tangan si senior yang sudah memegang pisau. Pisau yang sudah diketahuinya ada di saku kanan jaket pria itu ketika tadi ia menabraknya di stasiun Metro untuk mencari tahu senjata apa yang dimiliki si pemimpin. Pisau itu terlempar ke tanah, dan satu detik kemudian pria itu bernasib sama.

Dua temannya kaget dengan pemandangan itu dan maju dengan membabi buta. Reno dengan cepat melayangkan kembali kaki kanannya, kali ini lurus ke samping, tepat mengenai perut penyerangnya. Kaki kanan itu kemudian langsung menjadi tumpuan sementara Reno berputar dengan sempurna dengan kaki kiri yang mengayun, tepat mengenai muka penyerang berikutnya.

Tinggal satu pria lagi, yang tadi pertama kali dihantamnya di jalan. Pria itu melotot melihat tiga temannya terkapar di jalan dan mundur teratur, bersiap untuk kabur. Tapi Reno lebih cepat. Ia berlari mengejar pria itu dan kepalannya melaju, kembali mengenai belakang kepala pria itu. Tidak cukup untuk membuatnya pingsan, tapi cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan sehingga jatuh ke tanah. Satu tendangan berikutnya ke wajah membuatnya tidak mampu berdiri, mengerang kesakitan dalam kondisi setengah sadar.

Reno melihat ke belakang, ke arah ketiga pria yang sudah dilumpuhkannya. Si senior masih terbaring di tanah tapi sudah mulai bergerak, memiringkan posisinya untuk memudahkannya bangun. Pria yang tadi merasakan tendangannya di perut sekarang juga sedang bersusah payah bangun.

Reno berjalan menuju si senior. Urusannya belum selesai. Sambil lalu ia melayangkan tangannya untuk memukul tengkuk pria yang mulai bangun itu, mendaratkan pukulan tegak lurus yang serta­merta membuat pria itu terjerembap kembali ke tanah, kali ini sepenuhnya hilang kesadaran. Sesampainya di depan si senior, Reno menendang perutnya hingga pemuda itu berteriak kesakitan. Kemudian ia mengambil pisau lipatnya sendiri yang selalu ada di kantong celananya. Satu tekanan di tombol pengaman dan mata pisau itu melesat keluar dari kandangnya.

Pisau itu dipegang di tangan kanannya sementara tangan kirinya menarik lengan si senior, memaksanya berdiri. Kemudian dilemparkannya pria itu ke dinding yang berada di balik kontainer dan ditempelkannya pisau itu ke leher pria itu. Pria itu membuka mulutnya dengan panik, ”Sebentar, apa salah kami?”

Reno menjawab datar, ”Tidak ada. Saya cuma mau kalian tidak berkeliaran di semua stasiun Metro sepanjang Jalur 8 selama dua minggu ke depan. Apakah bisa dimengerti?”

”Tidak masalah,” ujar si senior ketakutan.

”Yakin kamu bisa melakukannya?” tanya Reno lagi.

”Bisa, tidak masalah. Kami bisa mencari tempat lain,” jawabnya lagi.

”Bagus. Kalau begitu kalian tidak akan melihat saya lagi.” Reno menjauhkan pisaunya dari leher pria itu dan mundur perlahan. Kemudian ia berbalik dan pergi, berjalan ke arah stasiun Metro yang sama, tapi melewatinya dan berjalan terus hingga satu blok kemudian. Ia berhenti di halte bus dan naik bus pertama yang membawanya menjauhi daerah tempatnya berada saat ini.

Hari Jumat sore, sebagaimana instruksi Kent kemarin, Fay datang lebih cepat setengah jam dari biasa. Ia tadi meminta izin ke M. Thierry dengan bahasa Prancis terbata­bata untuk pulang lebih dulu. Alasannya, tuan rumahnya di sini, Jacque & Celine, ingin mengajaknya pergi ke Nice. Sambil tersenyum ramah dan penuh semangat, M. Thierry langsung mengeluarkan rentetan kalimat berbahasa Prancis yang hanya sebagian bisa ia tangkap, bahwa Nice adalah kota pantai yang sangat menarik dan ada juga ucapan yang kemungkinan artinya ”selamat berlibur”.

Sampai di depan rumah latihan, ia melihat Bentley hitam Andrew ada di sana dan serta­merta ia merasa ada sesuatu berputar dalam perutnya sejenak. Rasa takut sepertinya memang selalu menyelimutinya bahkan hanya dengan menyadari keberadaan pria itu.

Ia baru saja melangkahkan kaki ke pijakan tangga pertama untuk menuju kamarnya di atas, sewaktu telinganya menangkap suara­suara dari ruang tamu di sebelah kirinya. Fay bergerak mendekati jalan masuk ke ruang tamu dan melongokkan kepalanya sedikit. Di ruangan itu ada Andrew dan Kent berdiri berhadap­hadapan. Mendadak Andrew melayangkan satu pukulan di perut Kent, membuat pemuda itu mengeluarkan suara kesakitan yang tertahan. Dia langsung jatuh dengan posisi berlutut sambil membungkukkan badan, memegang perutnya.

Fay menahan napas.

Andrew berkata, ”Saya baru saja menerima laporan dari kepala keamanan rumah bahwa kemarin pagi­pagi buta kamu pergi meninggalkan rumah dan tidak pulang ke rumah tadi malam. Kamu tentunya tahu bahwa tidak kembali ke rumah tanpa izin adalah pelanggaran yang cukup berat.”

Andrew berhenti sejenak dan melihat ke arah Kent yang masih memegang perutnya sambil terduduk di lantai. Kemudian dia melanjutkan, ”Tapi bukan itu yang ingin saya permasalahkan sekarang. Saat ini, yang ingin saya ketahui adalah apakah kamu melakukan tugas yang saya instruksikan untuk mengawasi Fay?”

”Ya, saya melakukan apa yang Paman suruh,” jawab Kent susah payah.

Andrew memegang kedua lengan Kent, memaksanya berdiri, dan ketika dia sudah tegak kembali berdiri, Andrew kembali melayangkan tinjunya ke ulu hati cowok itu.

Fay memekik dan refleks tangannya menutup mulutnya. Suaranya tertutup teriakan tertahan Kent. Tubuh pemuda itu ambruk ke depan, lututnya tidak mampu menopang badannya, dan dia pun berlutut di lantai sambil mengerang.

Andrew kembali berkata, kali ini nada ancaman terdengar jelas dari ucapannya, ”Tidak pulang ke rumah setelah jam malam memang pelanggaran yang cukup berat, tapi masih tidak ada apa­apanya dibandingkan dengan kelalaian dalam tugas, dalam bentuk sekecil apa pun. Berharaplah saya tidak menemukan bukti bahwa kamu lalai dalam tugas, atau kamu berhadapan dengan saya tidak di sini, tapi di kantor.” Kemudian pria itu meninggalkan Kent yang masih bersimpuh di lantai, menuju ruang kerjanya. Fay tidak bergerak. Ia masih terpaku di tempatnya, menyaksikan Kent berdiri dengan susah payah. Wajahnya merah, mengernyit menahan sakit.

Ketika pemuda itu mulai bergerak ke arahnya, cepat­cepat Fay naik tangga dengan dada yang masih berdebar­debar karena apa yang dilihatnya tadi.

Setelah berganti baju, Fay turun ke bawah dan bertemu Andrew tepat ketika ia sampai di foyer.

Andrew menyapanya, ”Halo, Fay, kamu datang lebih cepat hari ini. Apakah sekolah selesai lebih cepat dari biasanya?”

”Ya,” jawab Fay cepat dengan jantung yang mulai berdebar. Ia tidak yakin apakah yang dilakukannya tepat. Ia tidak biasa berbohong.

”Untuk target kali ini, saya harap kamu bisa menyelesaikan jalur itu dalam waktu dua puluh lima menit. Garis akhirnya adalah ruang kerja saya,” Andrew memberikan instruksinya.

Fay bergerak melakukan apa yang disuruh dan sambil berlari sepanjang jalur itu pikirannya memutar ulang kejadian yang baru ia lihat. Perutnya mulas mengingat bagaimana Andrew dengan datar memukul Kent, padahal pria itu belum tahu apakah Kent melanggar perintahnya atau tidak. Ekspresi wajah Kent saat terkena pukulan itu juga masih tergambar dengan jelas dalam ingatannya. Rasanya  pasti  sakit  sekali,  pikirnya sambil ikut mengernyitkan wajah.

Ia sekarang mulai menyesali dirinya yang tidak pikir panjang waktu menjawab pertanyaan Andrew tadi. Seharusnya tadi aku bilang saja kalau hari ini datang cepat karena diinstruksikan seperti itu oleh Kent, pikirnya penuh sesal. Pasti Andrew akan langsung bertanya kenapa, dan ia bisa dengan polos menjawab bahwa kemarin Kent datang telat. Tapi pasti Kent akan mendapat masalah besar. Tadi ia dengar sendiri Andrew berkata akan menghukumnya dengan keras kalau ketahuan Kent melalaikan tugasnya. Fay bertanya dalam hati apakah keterlambatan Kent kemarin bisa dikategorikan melalaikan tugas dan ia pun bergidik sendiri karena tahu jawabannya.

Lagi pula, mana mungkin ia mengadukan hal itu, seperti anak SD mengadukan temannya? Tapi dia kan bukan teman, pikir Fay lagi. Apalagi sejak pertemuan mereka dua hari yang lalu, belum sekali pun pemuda itu berbaik hati. Tapi mengingat perlakuan Andrew kepadanya tadi, rasanya ia tidak tega. Fay menggeleng, frustrasi dengan perdebatan dalam pikirannya sendiri yang tak berujung.

Fay melirik jamnya sesaat sebelum masuk ke ruang kerja Andrew. Setengah tak percaya ia melihat hanya terlambat tiga menit.

Sampai di dalam ruangan, ia melihat Andrew berdiri di tengah ruangan dan Kent duduk di sofa sambil menunduk. Tanpa berkata­kata, Fay langsung melaksanakan hukumannya.

Setelah Fay berdiri, Andrew bertanya, ”Apa yang sudah kamu pelajari dalam dua hari terakhir ini?”

Fay kaget dengan pertanyaan itu. Dari sudut matanya ia melihat Kent mengangkat kepala dan menegakkan tubuh.

Fay berusaha menjawab dengan biasa tapi bisa merasakan napasnya mulai pendek­pendek dan darahnya mengalir lebih deras, ”Seperti biasa, dimulai dengan lari, kemudian membahas tentang Seena.”

”Bagaimana dengan topik analisis perimeter?” Andrew menatap Fay dengan lekat.

”Tidak sempat diberikan, karena saya minta izin untuk istirahat sebentar karena sakit kepala,” jawab Fay. Sebuah kebohongan bodoh yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Kepalang basah, keluhnya dalam hati. Ia merasa suaranya mulai bergetar, tapi satu hal yang ia tahu dari sebuah buku yang pernah dibacanya, sebagian besar kebohongan di dunia ini terbongkar karena tatapan, setelah itu baru bahasa tubuh yang lain. Jadi, walaupun debar jantungnya sudah tidak keruan, ia tetap berusaha menatap Andrew lurus tanpa kedip, sementara hatinya menyumpahi kebodohannya memulai kebohongan ini.

”Baik. Kalau begitu mari kita lihat apa saja yang sudah kamu pelajari. Saya akan memberi kamu pertanyaan, dan kamu punya tiga detik untuk memikirkan jawabannya. Ada pertanyaan?”

”…” Tanpa sadar Fay menatap Andrew dengan pandangan terperanjat.

Andrew menatapnya dengan tajam dan bertanya, ”Ada alasan kenapa saya tidak bisa melakukannya?”

”Tidak ada, tidak masalah,” jawabnya gugup. Fay mengumpat dalam hati. Kemarin Kent memberinya lima detik untuk setiap pertanyaan dan itu pun ia hanya betul separuhnya. Jantungnya sekarang mulai berlari, adrenalin berpacu dalam aliran darahnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Kent mulai gelisah.

”Kita mulai sekarang... ”

Kent menatap Fay yang berusaha menjawab pertanyaan pamannya. Ia tahu gadis itu gentar dan ketakutan, tapi dia berusaha menutupinya.

Perasaannya campur aduk. Sebagian dirinya mengagumi kegigihan gadis itu tapi sebagian dirinya marah. Marah kepada dirinya sendiri, yang membiarkan kejadian yang ada di depan matanya sekarang berlangsung tanpa berbuat apa­apa. Marah kepada gadis itu, karena setelah apa yang menimpanya, dia masih mempunyai kebesaran hati untuk melakukan pengorbanan ini. Egonya terusik dengan fakta bahwa gadis yang sudah sengaja dibuatnya sengsara selama dua hari ini memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa­apa tentang kesalahan dirinya dan sekarang malah menemui kesulitan akibat keputusannya itu.

Kent mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa itu adalah salah gadis itu sendiri, tidak ada yang menyuruhnya untuk berbohong. Tapi rasa gelisah yang muncul sama sekali tidak bisa disangkalnya.

Lima pertanyaan pertama dari Andrew adalah pertanyaan yang sama dengan yang diberikan Kent hari Rabu malam. Fay menjawab dengan lancar dan dengan heran Kent mendapati dirinya sangat lega.

Tubuhnya menegang ketika mendengar pertanyaan keenam. Pamannya sepertinya mulai beranjak ke topik yang seharusnya diberikannya kemarin, yaitu tentang peran Alfred dalam keluarga Seena dan kepribadian Seena. Agak terkejut Kent mendengar Fay tahu bahwa Alfred pindah ke Paris setelah kematian istrinya. Pertanyaan ketujuh mengenai lokasi pernikahan Alfred dan Zaliza juga secara mengejutkan dijawab dengan benar oleh Fay.

Harapan Kent mulai tumbuh, tapi pupus di pertanyaan kedelapan, ketika pamannya meminta Fay untuk menyebutkan makanan apa saja yang membuat Seena alergi. Dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya.

Akhirnya setelah enam pertanyaan berturut­turut tidak bisa dijawab oleh Fay yang saat ini sudah menjadi pucat pasi, Andrew berhenti.

Kent menunduk, menunggu.

”Kent, berdiri di sini,” kata pamannya sambil menunjuk ke sebelah Fay.

Kent melakukan apa yang disuruh.

”Hasilnya benar­benar tidak bisa diterima,” Andrew menatap Fay dengan tajam. Fay sama sekali tidak berani membalas tatapannya, dan hanya melihat lurus ke depan, menembus dada Andrew seolah pria itu tidak nyata.

Andrew beralih menatap Kent.

”Dan itu bukan kesalahan satu orang. Kamu seharusnya juga memastikan bahwa materi yang kamu berikan sudah diterima dan dimengerti dengan baik.”

Kent tidak berkata­kata. Ia tahu pernyataan pamannya adalah hal mutlak yang percuma untuk dibantah. Apalagi kali ini ia memang punya porsi yang sangat besar dalam kesalahan itu.

Andrew melanjutkan, ”Besok pagi kamu dan Fay akan pergi ke Nice. Cari waktu yang tepat untuk kembali membahas semua topik itu sehingga Fay bisa menghafalnya luar kepala. Hari Minggu pagi, saya akan memberikan tes ini sekali lagi. Catat baik­baik Kent, untuk setiap hukuman yang akan diterima oleh Fay, kamu akan mendapatkannya dua kali lipat. Jadi lakukan cara apa pun supaya dia bisa melakukannya dengan baik. Mengerti?”

”Ya, Paman,” jawab Kent pelan. Andrew beralih ke Fay,

”Kamu mengerti?”

”Ya,” Fay menjawab dengan suara tercekat di tenggorokan. ”Bagus.” Andrew berjalan ke meja kerjanya dan menge­

luarkan sesuatu dari laci.

Fay menahan napas melihat apa yang dipegang pria itu. Sebuah kayu seperti penggaris dengan panjang sekitar tiga puluh senti, hanya saja berpenampang bundar, dengan diameter hanya satu senti.

”Ini saya lakukan supaya kalian benar­benar mengerti apa yang saya katakan, dan supaya kalian tahu saya sama sekali tidak main­main dan seharusnya kalian juga begitu,” kata Andrew keras. Ia menoleh kepada Fay, ”Berikan tangan kirimu.”

Fay mengangkat tangan kirinya dengan ragu. Andrew langsung menyambar dan mencengkeram tangannya, membalik telapak tangannya sehingga menghadap ke atas, dan sebelum Fay sempat berpikir, kayu itu mengayun dengan bunyi ”wusss” membelah udara dan berakhir dengan satu bunyi keras yang tidak pernah dia dengar sebelumnya dengan rasa seperti membelah telapak tangannya juga.

Fay menjerit, tangannya langsung ia kepit di bawah lengan kanannya, tapi sama sekali tidak membantu mengurangi sakitnya. Telapaknya terasa menebal, panas berdenyut­denyut hingga ke tulang. Dan sekarang tangannya gemetar tidak terkontrol.

Andrew beralih ke Kent yang langsung memberikan tangannya tanpa disuruh. Terdengar bunyi kayu menebas tangan yang segera disusul oleh bunyi kedua. Kent sama sekali tidak bersuara.

Andrew berkata, ”Untuk satu hukuman yang diterima Fay, Kent akan menerima dua kalinya. Saya rasa sudah cukup jelas apa artinya bagi kalian berdua. Sekarang, saya beri kalian waktu dua puluh menit untuk menyelesaikan jalur di luar.”

Andrew mengamati dari jendela, memperhatikan Fay dan Kent menghilang masuk di antara pepohonan yang menaungi jalur lari yang mereka tempuh.

Ia benar­benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya terlalu terlatih untuk dikelabui oleh seorang gadis yang masih pemula di arena ini. Bahwa gadis itu berbohong bisa langsung diketahuinya. Tapi kenapa? Kenapa Fay mau bersusah payah berbohong untuk menutupi kesalahan keponakannya? Fay tidak bodoh, pasti dia tahu ada konsekuensi berat yang menantinya bila tertangkap basah berbohong. Tapi kenapa dia tetap melakukannya?

Tidak sulit untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sudah jelas bahwa Fay tidak menerima semua materi yang seharusnya diajarkan oleh Kent. Tidak mungkin Fay yang melanggar aturannya, karena ia tidak menerima laporan adanya penyelewangan protokol dari Lucas. Kemungkinannya tinggal satu, Kent yang sudah melanggar aturannya, mungkin dia terlambat datang, pulang lebih awal, atau tidak datang sama sekali. Tidak sulit untuk mengetahuinya dengan pasti karena ia hanya tinggal mencari tahu dari Lucas. Tapi hal itu tidak menjawab pertanyaannya, kenapa Fay berbohong untuk keponakannya? Andrew melihat Bvlgari­nya. Sudah dua puluh menit, tapi belum ada tanda­tanda salah satu dari mereka sudah tiba. Andrew kembali mengamati dari jendela. Lima menit kemudian, Kent muncul bersama­sama Fay.

Tidak bisa dipercaya, pikirnya takjub. Kent bisa menyelesaikan putaran ini dalam waktu lebih cepat dari lima belas menit. Tapi keponakannya itu memilih untuk menyamai kecepatan Fay dan menerima konsekuensi perbuatannya. Apakah ini sekadar upaya balas budi ataukah ada hal lain?

Ia tidak suka dengan apa yang ia lihat.

Ada sesuatu yang terjadi di luar kendalinya dan ia akan segera berbuat sesuatu untuk memastikan semua kembali dalam genggamannya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊