menu

Eiffel, Tolong! Bab 06: Prince Charming

Mode Malam
Prince Charming

DERING beker yang tidak tahu diri membangunkan Reno pagi ini, berteriak memanggil nyawanya untuk kembali bersatu dengan raga. Rasanya Reno sadar ketika secara perlahan nyawa itu merasuki tubuhnya, diawali dari kakinya, kemudian naik sejengkal demi sejengkal, dan diakhiri dengan satu sentakan yang menyengat di dadanya ketika akhirnya nyawa itu berhasil masuk ke cangkang peraduannya.

Reno bangun dan terduduk di tempat tidur dengan sekujur tubuh basah berpeluh. Napasnya masih terengah­engah, seperti habis berenang pada kedalaman tanpa dasar. Dadanya juga masih berdebar­debar, seperti seekor buruan yang baru lepas dari kejaran pemangsa. Sudah lama ia tidak dihampiri mimpi itu. Mimpi yang singgah hampir setiap hari delapan tahun yang lalu, tapi semakin lama semakin berkurang hingga tidak pernah menyapanya dua tahun belakangan ini. Perasaan ngeri yang ditimbulkan pun masih sama dengan saat ia memimpikannya untuk pertama kali delapan tahun yang lalu. Mimpi yang dimulai sejak kejadian yang merenggut segenap jiwanya. Usianya saat itu tiga belas tahun. Ia masih ingat menatap bola api yang mendadak membubung di hadapannya bagai kobaran neraka, dengan alasan hidup yang terempas berkepingkeping. Yang ia lihat sebagai bola api, tadinya adalah sebuah mobil yang berada tepat di depan mobil yang membawanya dari bandara di Quito, ibukota Ekuador, menuju rumah. Di mobil yang sudah menjelma menjadi nyala lidah merah yang berputar­putar bercampur gumpalan asap hitam itu ada kedua orangtuanya dan Maria, adiknya yang berusia sembilan tahun. Mereka baru saja pulang liburan dari Bali, sebuah pulau indah yang ada di benua Asia.

Reno tidak menumpang mobil tersebut karena ikut mobil pamannya, supaya bisa bercerita mengenai liburannya pada sepupunya, Eduardo.

Saat ini, delapan tahun kemudian, di apartemen yang baru ditempatinya dua malam di Paris, perasaan itu muncul kembali, menghantui setiap sudut hati dan pikiran Reno. Yang berbeda kali ini adalah, ia sudah tidak menangis. Bukan karena air matanya sudah kering, tapi karena air matanya sudah dihinggapi keengganan yang diakibatkan kematangannya menghadapi hidup, yang tumbuh cepat selama delapan tahun terakhir.

Reno melirik bekernya. Pukul 07.30, satu jam sebelum kelas bahasa Prancis­nya dimulai pukul 08.30. Sebenarnya hanya butuh setengah jam untuk bersiap­siap, sudah termasuk sarapan. Dengan waktu tempuh ke tempat kursus yang hanya sepuluh menit, sebenarnya ia bangun terlalu pagi. Tapi ia tidak pernah bisa melupakan perkataan adiknya yang diucapkan dua minggu sebelum liburan mereka ke Bali. Waktu itu Maria merengek­rengek minta diantarkan ke tempat les balet naik sepeda. Reno masih mengerjakan PR dan menurutnya masih ada waktu setidaknya dua puluh menit lagi sebelum tiba waktunya mengantarkan adiknya. Sambil cemberut, Maria berkata, ”Reno, aku mau jadi yang pertama datang. Aku tak suka kalau ada yang datang lebih dulu dari aku dan aku diperhatikan mereka waktu masuk.”

Dengan bingung Reno bertanya kenapa. ”Kan kalau aku duluan, aku bisa memperhatikan temantemanku waktu mereka datang satu per satu. Baju yang dipakai mereka, sepatu mereka, jepit mereka. Lagi pula, mereka tak punya kesempatan untuk membicarakan dan menertawakan aku kalau aku sudah datang.”

Saat itu, Reno meninggalkan PR­nya dan bergerak mengambil sepeda. Bukan karena ia mengerti maksud adiknya, tapi hanya untuk menghentikan ocehannya, selain karena ia memang menyayangi Maria dan tidak bisa melihatnya kecewa.

Setelah kejadian mengenaskan itu, perkataan adiknya itu meresap dalam relung hidupnya sebagai pesan terakhir yang diucapkan si ceriwis yang manja itu dan harus dijalankan untuk mengikat ingatan akan adik tersayangnya itu dalam hati. Sekarang, setelah delapan tahun menerapkannya dan memetik banyak manfaat dari pesan sederhana itu, kebiasaan itu

sudah menyatu dengan dirinya.

Reno pun beranjak ke kamar mandi.

Di saat yang sama, Fay masih berada di kamarnya sambil memegang celana jins yang baru saja dipakainya dan menatapnya dengan tatapan tak percaya. Baru minggu lalu ia terakhir memakai jins itu, ketika pergi ke mal di Jakarta bersama Cici, Lisa, dan Dea hari Selasa sore. Jins yang biasanya sangat pas di tubuhnya itu sekarang betul­betul longgar. Ada jarak setidaknya dua sentimeter dengan perutnya dalam keadaan dikancingkan. Setelah otaknya bisa mengkonfirmasi bahwa ia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, senyum lebar langsung terpampang di wajahnya dan ia pun melompat­lompat kegirangan di dalam kamarnya, mengelilingi ruangan, melompati tempat tidur, ke kamar mandi, dan berakhir kembali di depan kaca. Ia turun ke bawah untuk sarapan sambil tetap memasang senyum lebar di mukanya.

”Bonjour,” ucapnya riang dan langsung dibalas dengan hangat oleh Celine. ”A lovely morning, isn’t it? You look very happy.”

”Saya baru menyadari pagi ini berat badan saya sudah turun,” ujar Fay tanpa bisa menyembunyikan keriangannya.

”Dari ekspresi kamu, saya berasumsi itu sesuatu yang kamu harapkan. Saya ikut senang.” Celine kemudian buru­buru menambahkan, ”Tapi mudah­mudahan itu bukan berarti kamu akan melewatkan sarapan yang saya siapkan.”

Fay tertawa. ”Saya tidak pernah melewatkan sarapan, terutama kalau seenak ini.” Tangannya langsung bergerak mengambil roti bulat buatan Celine yang menjadi satu­satunya pelarian sejak diberikan makanan bungkusan itu oleh Andrew. Makanan bungkusan yang kayaknya udah mulai gue cintai, pikirnya sambil senyum­senyum sendiri mengingat dua sentimeter tadi.

Saat makan siang, rasa cinta yang mulai tumbuh terhadap makanan bungkusan itu ternyata tidak membantu memperbaiki rasanya. Fay mengernyit ketika rasa pahit bercampur apek yang masih bersisa di mulutnya sudah harus diperbaharui lagi dengan suapan kedua. Bubur di atas sendok yang mendekati bibirnya juga secara tidak tahu diri mengirim aroma seperti bau steril rumah sakit yang menyeruduk hidungnya yang sudah mati­matian menahan napas.

Reno yang duduk di seberangnya tertawa terbahak­bahak. Bukan hanya wajahnya yang tertawa, tapi juga seluruh tubuhnya seperti menertawakan kesengsaraan Fay. Dengan jengkel Fay menatapnya, sambil melepas tujuh kurcaci yang membawa pentungan dalam sorot matanya.

Dengan susah payah Reno berusaha menghentikan tawa. ”Maaf, Fay, habis kamu kelihatan lucu sekali.” Kembali dia

tertawa, kali ini tidak seheboh tadi.

Reno menyendok buburnya sendiri, masih tersenyum. Kemudian dia bertanya, ”Kalau kamu memang tidak suka, kenapa masih kamu makan?”

”Aku mau menurunkan berat badanku lagi,” jawab Fay singkat. ”Tapi kamu kelihatan baik­baik saja kok, kenapa sih harus berjuang sekeras itu? Aku punya teman di kampus yang mengidap anoreksia. Dia sebenarnya baik­baik saja waktu pertama kali masuk kuliah, tapi sekarang dia terlihat seperti tengkorak berjalan. Aku tidak bisa mengerti apa yang kalian para wanita pikirkan,” katanya sambil menggeleng.

”Well, aku sih tidak berencana untuk sekurus itu, tapi aku rasa akan menyenangkan kalau punya tubuh seperti Erika misalnya.”

”Dia oke, tapi juga tidak ada yang salah dengan kamu.” ”Kenapa ya kita mendiskusikan ini?” tanya Fay semakin nyo­

lot.

”Oke, oke. Maaf. Kita membicarakan yang lain saja.”

”Aku mau cek e­mail setelah makan, ada e­mail dari orangtua dan teman­temanku yang belum sempat aku balas,” kata Fay.

”Kamu mau cerita apa tentang kelas bahasa ini? Betapa menarik dan mudah pelajarannya… atau betapa gila teman­teman kamu?” tanya Reno iseng.

”Mmm…,” Fay berpikir gimana caranya untuk mengucapkan ”ada deeeeh” dalam bahasa Inggris tapi tetap nggak bisa menemukan kalimat yang tepat, akhirnya dia hanya berkata singkat, ”…secret.”

Reno menegakkan kepala. ”Hei, aku pikir sudah tidak ada rahasia lagi di antara kita,” protesnya bercanda.

Fay berdiri membereskan mangkuknya sambil tersenyum. ”Ayo, buruan, nanti kita tidak kebagian komputer.”

Prediksinya tidak meleset, sampai di sana hanya tinggal tiga komputer yang tersisa. Satu di meja yang ada sisi pintu, dua lainnya bersebelahan ada di sisi meja yang berseberangan. Fay mengarah ke komputer yang terdekat, di sisi meja dekat pintu, tapi Reno segera menariknya ke sisi seberang tempat ada dua komputer bersebelahan. Keinginan protes Fay langsung surut ketika tiba di depan komputer itu dan melihat browser dengan alamat Yahoo! sudah terbuka, rupanya pemakai sebelumnya tidak mau repot­repot menutupnya. Fay langsung login sambil berpikir apa yang akan dilakukan. Pertama­tama ia akan membaca semua e­mail­nya, baru kemudian ia akan mulai membalas e­mail itu satu per satu. Ia juga mulai memikirkan kemungkinan untuk menceritakan pengalamannya, tapi ingatan tentang hari Senin memupus keinginannya.

Wah, ada enam e-mail baru, pikir Fay semangat. Satu e­mail yang pastinya sampah, langsung ditandai dan hilang dari kotak suratnya. Dengan antusias ia membuka sisanya satu per satu.

From: Mama Hari: Senin

Halo, Sayang, apa kabar? Wah, baru aja Mama buka e-mail  pagi  ini  di  kantor,  ternyata  sudah  ada  e-mail  kamu. Gimana acara jalan-jalannya? Nggak nyangka anak mama udah langsung jalan-jalan lihat Eiffel di hari pertama.

Semua   baik,   kan?   Bagaimana   rumah   baru   kamu?

Mudah-mudahan kamu betah ya.

Hati-hati ya, pintar-pintar jaga diri. Jangan keluar malam-malam sendirian dan jangan ke tempat sepi seperti taman, bahaya untuk anak gadis seperti kamu.

Have to go,  Sayang,  ada  meeting sebentar  lagi  dengan klien baru. Bye.

Love, Mama

Hmmm, standar. Apa kira-kira reaksi Mama kalau tahu gue diculik di hari pertama, digebukin di hari kedua, dan ditendang di hari ketiga? Entah kenapa pikiran itu membuat Fay geli, dan ia pun cekikikan dalam kepahitan.

”Kenapa, ada yang lucu?” Reno menoleh ke arahnya.

Fay hanya menggeleng, fokusnya tetap ke e­mail­e­mail di hadapannya, yang sejenak membuatnya kembali ke dunia normal yang dikenalnya sangat baik, dunianya yang biasa­biasa saja. From:  Cici Cc: Dea, Lisa Hari: Senin

Halo, Fay…. Aduh, senangnya denger kabar dari lo. Gaya deh, baru nyampe udah ke Eiffel segala. Sendirian, lagi.  Gimana,  ketemu  cowok  keren  nggak?  Udah  deh  nggak usah jaim-jaim, sikat aja, toh cuma summer love, hi... hi…

Cerita  dong  gimana  jalan-jalannya,  kamar  lo,  trus  host parent lo. Mereka baik nggak? Lo udah mulai sekolah belum? Anak-anaknya gimana, oke nggak?

Buruan ya bales, udah nggak sabar niiih….

Luv,

Cici

From: Dea Cc: Cici, Lisa Hari: Senin

Fay, lo tuh emang nekat banget ya jadi anak. Nggak takut nyasar apa jalan-jalan sendirian? Jangan gila deeeh. Kan lo belum bisa bahasa Prancis.

Udah, nasihat Cici nggak usah didengerin. Dia lagi kumat karena nggak bisa nyusul lo dan sebentar lagi harus ke S’pore ke acara bokapnya.

Cici,  tapi  kalau  acaranya  udah  selesai,  buruan  balik  ya ke Jakarta. Kan si Sassy ulang tahun sebentar lagi. Gue mau cari kado bareng lo aja.

Bye, Dea

From:  Cici Cc: Dea, Lisa Hari: Selasa

Fay, buruan dong bales… lo sibuk banget, ya? Gue udah nggak sabar nih. Atau kasih nomor telepon lo di Paris deh, ntar gue telepon dari S’pore. Gue berangkat Rabu.

Luv,

Cici

From: Lisa Cc: Cici, Dea Hari: Selasa

Buset deh ni anak. Ditungguin ceritanya kok nggak nongol-nongol.  Jangan  kasih  alasan  sibuk  ke  gue  deh….  Lo kan   di   sana   belajar   bahasa   doang,   bukannya   tugas menggambar pake Rotring. Pokoknya kalau besok nggak ada balesan juga, gue nggak mau nulis e-mail lagi.

*dan gue ceramahin seharian kalau lo udah pulang :­) Love & kisses,

Lisa

Fay terdiam. Keempat e­mail temannya ia baca berulangulang, mengundang bayang mereka untuk menemaninya saat ini, menjalani petualangannya yang belum berujung di Paris. Air mata sudah mulai mengaburkan pandangannya. Andai bayang­bayang itu bisa tampak kasat di depan mata, ia tidak akan ragu menumpahkan air matanya dan mencurahkan semua emosinya.

Sayangnya ia ada di dunia nyata tempat bayang­bayang pun enggan menampakkan wujud.

Kembali ke pijakan nyata di ruang komputer sekolahnya, Fay mulai membalas e­mail itu, diimulai dari e­mail mamanya. Ditekannyalah tombol ”reply” dan mendadak layar komputer di depannya berubah hitam, diiringi umpatan­umpatan di sekelilingnya. Ternyata semua komputer di ruang itu mendadak mati. Fay baru akan berbicara ke Reno ketika sadar Reno ternyata sudah tidak ada di sampingnya.

Terdengar suara Reno di pintu, ”Apa yang terjadi?” ”Entahlah. Mendadak komputer mati,” seorang siswa menyahut.

”Aku rasa virus,” siswa lain menimpali.

Fay melihat layar komputernya sendiri. Layarnya gelap, dengan kursor yang berkelip­kelip di pojok kiri atas. Ia melongokkan kepalanya melihat ke komputer Reno di kiri dan komputer siswa lain di kanannya, ternyata sama.

Tidak lama kemudian, masuk seorang petugas administrasi sekolah memeriksa komputer­komputer itu dan pria itu lalu menelepon ke perusahaan komputer yang menjadi rekanan sekolah.

Dengan perasaan kecewa, Fay keluar dari ruangan itu diiringi oleh siswa­siswa lain.

”Kamu lihat apa yang terjadi? Aku cuma ke kamar mandi sebentar, mendadak, ’boom’, semua mati,” tanya Reno.

”Aku nggak tahu kenapa, mendadak layar jadi gelap. Mungkin yang dibilang siswa tadi benar, serangan virus,” ujar Fay tanpa bisa menyembunyikan kekecewaannya.

”Hmm, mungkin. Kalau begitu kita ke perpustakaan saja yuk.”

Fay mengangguk setuju dan mengikuti Reno menuju perpustakaan untuk menghabiskan siang itu.

Sore itu, dengan terengah­engah Fay berlari menanjak menyusuri jalan setapak yang tampaknya sengaja dibuat di bukit itu untuk membuatnya sengsara. Masih jalan setapak yang sama dengan yang dilaluinya pertama kali bersama Andrew hari Senin dua hari yang lalu. Hanya saja di hari ketiga ini kesadaran Fay akan kontur jalan setapak itu sudah tumbuh. Ia sudah mulai hafal di bagian mana jalan agak menanjak, di mana datar, dan di mana ia mendapat bonus jalan menurun. Jalan menanjak di depannya ini adalah penanda garis akhirnya sudah dekat. Fay berhenti sebentar, membungkukkan badan sambil memegang lututnya, berusaha untuk menyelaraskan napasnya yang hampir habis dan kakinya yang hampir tidak terasa. Ia melirik ke jam Adidas yang masih melingkar dengan keren di tangannya. Sialan,  sudah  terlambat  hampir  lima  menit. Dengan sisa­sisa kekuatannya, ia berlari menanjak. Dengan lega ia melihat atap rumah muncul di depannya dan ia pun sudah sampai di area halaman rumah.

Ketika berbelok ke depan rumah, Fay melihat bahwa ada orang lain selain Andrew. Seorang pemuda, sepertinya seumuran dengan dirinya kalau dilihat dari cara berbusananya yang santai memakai topi, celana jins, dan sepatu kets. Wajahnya tidak terlihat karena dia agak menjauh dari Andrew dan berdiri membelakangi Fay. Dari gerak­geriknya, sepertinya dia sedang menelepon.

Andrew menatap Fay dengan datar.

”Kamu terlambat enam menit,” ucapnya tanpa melihat jam.

Tanpa disuruh Fay mengambil posisi push-up dan mulai menghitung. Dua belas kali push-up bukan hal sulit setelah pengalamannya kemarin.

Sudah dua belas hitungan. Fay pun berdiri sambil mengibaskan kedua tangan, sibuk membersihkan debu jalan yang menempel.

Suara Andrew menyadarkannya, ”Fay, perkenalkan, ini Kent.”

”Kent,” ujar pemuda yang membelakanginya tadi, yang sekarang sudah berada di sebelah Andrew. Tangan kirinya membuka topi dan tangan kanannya dijulurkan ke depan untuk bersalaman. Saat itu juga Fay merasa dunianya berhenti sejenak dan udara di sekelilingnya terisap ke dalam pusaran yang seolah berpusat di dadanya. Ia merasa sesak seiring dengan detak keras jantungnya yang seolah detak terakhir, karena setelah itu sang jantung seperti lupa cara memompa darah dengan benar dan Fay merasa ada kekacauan tidak berirama di dadanya. Wajah pemuda itu tidak setampan Reno, tapi sangat menarik dengan bola mata biru yang menatapnya tajam, membuat bukan hanya darah Fay yang berdesir, tapi seluruh tubuhnya. Rambutnya sangat pirang, terang menyilaukan seperti memantulkan setiap cahaya yang mendarat di setiap helainya.

Fay mengulurkan tangannya yang sedingin es batu dan menjadi lebih panik ketika menyentuh tangan Kent yang ternyata sangat hangat. Kehangatan itu perlahan­lahan menjalar dari telapak tangan ke seluruh bagian tubuh Fay, memberi sensasi ringan yang luar biasa, dan semakin membuat sang jantung lupa akan tugas rutinnya.

Fay melihat kedua alis cowok itu bergerak naik, dan seketika itu juga ia sadar sudah terlalu lama membiarkan tangannya dan bahkan rahangnya menggantung dengan tatapan bego di depan pemuda ini.

”Fay,” gelagapan ia membalas, ”Pleased to meet you,” kemudian menarik tangannya tiba­tiba. Aduh, terlalu mendadak nggak ya, jangan-jangan ketara gue panik, pikirnya cemas.

”Kent akan menjadi mentor kamu dan membantu kamu dalam beberapa subjek selama pelatihan dua minggu ini,” kalimat Andrew membantu memutus kecemasan Fay.

Andrew melanjutkan, ”Sekarang, satu putaran lagi.”

Dengan patuh Fay berbalik dan mulai berlari. As if there’s other option gitu loh, pikirnya getir.

Tiba kembali di depan rumah dengan waktu lebih baik dua menit dari sebelumnya, hanya terlambat empat menit. Fay melihat hanya ada Kent di sana.

Aduh, senangnya. Makhluk kecil dalam perutnya kembali menari­nari, memberikan perasaan menggelitik di perut sekaligus perasaan ringan yang membuatnya ikut terbang. Dengan jantung berdebar tidak tahu diri ia berhenti di depan Kent dengan niat untuk bertanya kepada pemuda itu di mana Andrew. Niat yang disambut gegap gempita oleh jantungnya yang kembali memompa darah dengan semangat hingga Fay bisa merasakan arusnya yang mengalir deras di dalam tubuhnya. Belum sempat ia melaksanakan niatnya, Kent sudah berkata, ”Terlambat tujuh menit, berarti empat belas push-up.”

Jantung Fay berhenti memompa secara mendadak dan menoleh sejenak, membuat darahnya terpental bagaikan arus deras yang menabrak keran yang mendadak tertutup. Fay berkata dengan gugup, ”A… Aku lihat jam hanya empat menit.”

”Kamu salah lihat. Dan kalau kamu tidak mulai sekarang, segera akan jadi delapan menit,” ujar Kent masih dengan ekspresi yang sama, datar.

Fay hanya bengong dengan bego menatap Kent dengan tatapan setengah percaya. Otaknya belum mampu menerjemahkan berita yang diterima oleh saraf yang terhubung ke telinganya. Atau belum mau menerima kenyataan, lebih tepatnya.

Mendadak pintu rumah di belakang Kent terbuka dan Andrew keluar. ”Bagaimana hasilnya?”

Dengan cepat Kent menjawab, ”Masih meleset delapan menit, Paman.”

Refleks, Fay menggeleng dengan panik dan membuka mulut untuk protes, tapi kalah cepat.

Andrew langsung berjalan ke depan Fay dan berbicara dengan suara yang mulai meninggi, ”Kamu harus menganggap latihan ini sebagai hal yang serius. Setelah push-up, lakukan satu putaran lagi. Kalau waktu kamu tidak membaik juga, saya akan berbicara empat mata dengan kamu di ruang kerja.”

Fay melihat Andrew yang menatapnya dengan kening berkerut dan seketika keinginannya untuk membela diri surut. Ia tahu posisinya sudah kalah bahkan sebelum Andrew mengucapkan sepatah kata pun; ia sudah seorang terhukum ketika Kent menjatuhkan vonis tujuh menitnya tadi. Tanpa berkatakata, Fay mengambil posisi push-up, melakukan enam belas hitungan dengan sempurna, sesuatu yang tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh rasa marah yang mulai membakar sumbu di dalam dadanya. Dengan sumbu yang mulai tersulut, ia berdiri setelah mulutnya mengucapkan hitungan keenam belas dan langsung berlari mengulangi putarannya dengan campuran rasa marah, benci, kesal, dan takut menjadi satu.

Sambil berlari Fay sempat berpikir apakah dirinya yang tadi salah melihat jamnya. Tapi rasanya tidak mungkin. Lagi pula, apa maksud Kent tadi kalau ia tidak memulai push-up­nya maka keterlambatannya jadi delapan menit? Berarti Kent sengaja. Tapi kenapa? Berbagai analisis dan pertanyaan berputarputar di otak Fay dengan akhir yang kembali ke titik nol. Satu hal yang ia mengerti dengan pasti adalah perkataan Andrew terakhir tadi. Dan satu hal yang ia tahu pasti adalah ia tidak mau sampai harus menghadapi pria itu di ruang kerjanya.

Rasa marah dan takut ternyata bahan bakar terbaik bagi kakinya, karena begitu ia keluar dari jalan setapak, ia melirik jamnya dan bernapas lega penuh kemenangan, terlambat hanya dua menit. Sedikit cemas yang tersisa juga segera menguap ketika matanya menangkap dua sosok pirang di depan rumah, bukan hanya satu seperti sebelumnya.

”Dua menit, young lady. Masih meleset, tapi setidaknya ada perbaikan,” Andrew menyambutnya dengan wajah yang tidak sekeras sebelumnya.

Sambil mengambil posisi push-up, Fay sempat melirik sebentar ke arah Kent dengan perasaan menang. Tampang anak itu tidak berubah, tetap datar seperti ekspresinya ketika berbohong ke Andrew tadi.

Otak Fay mengutuk pemuda itu.

Tidak berlangsung terlalu lama, karena sang otak segera beralih mengutuk hatinya sendiri yang dalam kondisi seperti ini masih berdebar dihinggapi perasan melayang­layang yang tetap sama.

 Seusai mandi, Fay segera turun menuju ruang kerja Andrew. Sampai di depan pintu, ia berhenti.

Rasa enggan yang sama setiap kali berada di depan pintu itu masih juga tak mau hengkang. Menarik napas panjang kemudian mengembuskannya, Fay menyentuh gagang pintu, beranjak masuk. Di dalam, Andrew dan Kent duduk berhadapan di depan meja kerja, sedang berdiskusi. Andrew duduk di kursi tinggi, menghadap ke pintu, sedangkan Kent duduk di kursi yang berseberangan dengan Andrew, membelakangi pintu tempat Fay masuk. Mendengar dirinya masuk, keduanya menghentikan pembicaraan dan menoleh ke arahnya. Andrew memberinya kode untuk duduk.

Fay berjalan menghampiri mereka dan duduk di kursi yang ada di sebelah Kent. Ia memerhatikan di meja kerja itu ada map yang persis seperti yang ia pegang kemarin, yang berisi informasi tentang Seena.

Andrew membuka pembicaraan.

”Fay, ada urusan yang mengharuskan saya pergi segera. Besok saya tidak bisa datang sama sekali dan lusa saya akan datang terlambat. Kent yang akan menjadi pengawas kamu selama saya tidak ada. Aktivitas kamu malam ini adalah mempelajari tokoh Seena lebih dalam lagi. Untuk besok, selain lari seperti biasa, akan ada topik baru yang akan kamu terima, tentang Analisis Perimeter. Ada pertanyaan?”

Fay menggeleng. Tangannya mulai dingin, jari­jarinya ditautkan rapat­rapat.

Andrew melanjutkan, ”Hari Sabtu ada agenda yang sedikit berbeda. Kamu akan menginap di luar kota selama satu malam. Pagi ini Jacque dan Celine sudah diinformasikan bahwa sekolah kamu, Institute de Paris, mengadakan satu malam kunjungan budaya ke Nice. Semua transportasi dan akomodasi akan diurus oleh sekolah. Kamu akan dijemput di rumah hari Sabtu jam setengah delapan pagi, kemudian diantar kembali ke rumah hari Minggu sore. Hanya itu yang perlu kamu ketahui. Kalau ada pertanyaan Jacque dan Celine yang tidak bisa kamu jawab, walaupun saya tidak berharap demikian, kamu bisa bilang bahwa detailnya belum diberikan oleh sekolah dan mereka bisa menelepon ke sekolah kalau mereka mau. Sampai sini ada pertanyaan?”

Fay kembali menggeleng.

”Saya sudah memberitahu Kent apa saja yang perlu kamu pelajari hari ini dan besok.” Andrew bangkit dari tempat duduknya, menuju lemari yang menyembunyikan ruang belajar di belakangnya. Kent segera berdiri mengikuti dan Fay terburuburu ikut berdiri juga, menyusul Andrew.

Begitu pintu lemari terbuka, Andrew berdiri di pinggir pintu, memberi jalan kepada Fay dan Kent untuk masuk.

”Sampai jumpa hari Jumat,” Andrew bersiap memutar tubuh.

”Paman, tunggu,” Kent memanggil Andrew. ”Ya?” Andrew kembali menoleh.

”Saya cuma mau memastikan, apa otoritas yang saya punya selama Paman tidak ada?” tanya Kent.

Andrew melihat ke arah Kent sambil mengerutkan kening. ”Kamu tahu aturannya, otoritas kamu terbatas hanya satu tingkat di atas posisi kamu sekarang.”

”Saya tahu itu. Tapi Fay mungkin harus mengerti juga apa maksudnya,” tambah Kent buru­buru.

”Fay tidak perlu tahu sampai sejauh itu.” Andrew sekarang menatap Fay.

”Saya yakin kamu mengerti bahwa waktu saya berkata Kent akan menjadi pengawas kamu menggantikan saya, berarti kamu harus melakukan apa yang ia suruh. Betul?”

Fay hanya bisa mengangguk. Kali ini ada sedikit desiran rasa panik di dadanya, seperti seekor buruan yang merasakan kehadiran sang pemangsa.

”Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa hari Jumat,” ucap Andrew singkat, kemudian beranjak pergi.

Fay melihat Kent duduk dan mengutak­atik laptop yang ada di depannya. Desiran­desiran itu kembali menyapu dadanya dari dalam, melumpuhkan sebagian dirinya, sementara sebagian lagi tetap berusaha siaga.

Fay melihat punggung Andrew menghilang di balik pintu ruang kerja yang ditutup olehnya, dan seketika itu juga ia merasa bagaikan seekor anak singa yang baru ditinggal oleh ayahnya. Begitu rapuh. Begitu tak berdaya.

Instingnya tidak salah.

”Sebelum mulai, aku akan memberikan tes,” kata Kent sambil lalu seolah itu hal biasa.

Fay hanya diam. Ia masih berdiri di ruangan itu, berjuang melawan keinginan untuk memisahkan diri menjadi dua kepribadian, yang satu menyerah takluk pada makhluk di depannya, dan yang satu marah atas kebohongan pemuda ini tadi.

Kent berdiri dan menutup pintu, kemudian berdiri di depan, tangannya memegang beberapa lembar kertas yang sepertinya berisi informasi tentang Seena.

Fay merasa tekanan di dadanya makin keras dan perutnya mulai mulas.

”Aku beri kamu lima detik untuk berpikir, untuk setiap pertanyaan yang kuajukan.”

Perut Fay makin mulas. Tangannya sekarang juga sudah dingin.

Kent, ”Nama saudara laki­laki Seena.”

Fay, ”Muhammad Aziz dan Muhammad Sahar.” Kent, ”Nama sekolah Seena.”

Fay, ”Woodcity Highschool, Kuala Lumpur.” Kent, ”Nama Ibu.”

Fay, ”Siti Halima.”

Kent, ”Ulang tahun ayah.”

Fay, ”…” Sialan, sialan, sialan. Tebak. ”24 Januari.” Kent, Salah. ”Sekolah Muhammad Sahar.”

Fay, ”Universitas San Diego.”

Kent, Salah. ”Nama sahabat Seena.” Fay, ”Lana and Sherly.”

Kent, ”Ulang tahun Seena.” Fay, ”27 Feb.”

Kent, ”Siapa yang berulang tahun pada tanggal 18 Maret?” Fay, ”…” Sialan, tebak. ”Muhammad Aziz.”

Kent, Tebakannya benar. ”Alamat Seena.” Fay, ”…” Anjrit.

Kent, ”Hobi Seena.” Fay, ”Belanja, atletik.”

Kent, ”Tempat kumpul favorit dengan teman­teman.” Fay, ”…di mal di KL.”

Kent, Kurang tepat. ”SMP Seena.” Fay, ”…” Mati gue.

Kent, ”SMA Muhammad Aziz.” Fay, ”…” Sialan, dia sengaja nih. Kent, ”TK Muhammad Sahar.” Fay, ”…” Makin sengaja, bikin bete.

Kent berhenti sebentar, menatapnya datar,

”Hasilnya benar­benar tidak bisa diterima. Tolong maju ke depan.”

Fay merasa napasnya berhenti sebentar ketika ia maju sambil ditatapi oleh cowok ini.

Kent melanjutkan, ”Dari empat belas pertanyaan, kamu hanya bisa menjawab benar tujuh pertanyaan.”

”Ulang tahun ayah Seena tanggal 22 Maret.

”Muhammad Sahar adalah adik Seena. Dia baru lulus dari SMP dan sekarang sedang dalam proses mendaftar ke dua SMA. Jawaban kamu tadi adalah ’Universitas San Diego’. Kamu tertukar dengan kakaknya, Muhammad Azis.

”Seena tinggal di Jalan Damai No 7, Ampang, Kuala Lumpur.

”Tempat favoritnya untuk hang-out adalah Aseana Café di Suria KLCC.

”SMP Seena adalah di Batari Elementary School, KL. ”SMA Muhammad Aziz adalah di Techpark High for Boys,

KL.

”TK Muhammad Sahar adalah di Batari, KL.” Kent berhenti.

Fay melihat lurus ke depan, sama sekali tidak berani melirik sedikit pun ke pemuda itu. Ini benar-benar kacau, pikirnya.

Kent melanjutkan, ”Tiga push-up untuk setiap pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab.” Dia mundur, meletakkan kertas yang dipegangnya di meja, kemudian bersedekap serta menatap Fay dengan lekat.

Fay melihat ke arah Kent dengan sewot dan ia pun protes, ”Tapi itu tidak adil. Kamu tidak memberitahu aku akan ada hukuman push-up untuk setiap pertanyaan yang tidak bisa ku­

jawab.” Fay berhenti untuk mengambil napas.

Kent bergeming. ”Tidak ada bedanya kamu diberitahu dari awal atau tidak. Lagi pula, dalam waktu beberapa hari ini kamu harusnya sudah tahu bahwa ketidakpatuhan adalah dosa besar di rumah ini. Terserah kamu. Yang harus aku lakukan cuma menelepon Paman dan setelah itu aku bisa duduk santai untuk menyaksikan apa pun yang dia lakukan ke kamu. Yang jelas, pasti tidak akan berupa push-up.”

Fay terdiam. Kepalanya kini seperti dipenuhi gelembung panas nan rapuh, yang siap pecah dan mengalirkan air yang juga panas dari kedua sudut bola matanya. Napasnya mulai tidak teratur karena berusaha menyesuaikan dengan gerakan gelembung­gelembung panas itu supaya tidak pecah. Kilasan kejadian hari Senin langsung berseliweran di benaknya. Wajah Andrew dengan pandangannya yang sedingin dan sepedih permukaan es muncul begitu saja. Sambil menggigit bibirnya, dengan emosi yang bercampur aduk, Fay mengambil posisi pushup, berusaha sekuat tenaga bukan untuk menyelesaikannya dengan sempurna, tapi untuk menjaga supaya air matanya tidak tumpah keluar. Setidaknya tidak di depan pemuda ini.

Setelah hitungan ke­21, Fay langsung berdiri dan sambil lalu berkata ia ingin ke kamar mandi. Begitu kakinya melangkah ke kamar mandi, air mata mengalir membasuh pipinya tanpa permisi. Segera ia membuka keran wastafel dan membasuh mukanya, menghilangkan jejak bulir­bulir air mata yang belum sempat menyelesaikan tugasnya.

Fay tiba di rumah Jacque dan Celine pukul 20.00, lebih cepat daripada biasanya yang mendekati pukul 21.00. Setelah memberi tes tadi, Kent hanya sebentar membahas tentang Seena. Fay bisa merasakan nyawa Kent tidak sepenuhnya ada di ruangan itu, pikirannya seperti menerawang dan dia agak gelisah. Walaupun heran dengan sikap Kent, ia bersyukur dalam hati waktu pemuda itu menyuruhnya pulang.

Jacque dan Celine sedang mengobrol dengan santai di ruang tamu ketika Fay datang. Tadinya Fay berharap mereka ada di dapur dan tidak mendengarnya masuk. Tapi Jacque memanggilnya dengan kehangatan yang terlalu sulit untuk ditolak. Jacque menyinggung tentang telepon yang diterimanya hari ini dari Institute de Paris mengenai perjalanan Fay ke Nice akhir pekan ini. Jacque menunjukkan rasa khawatir akan jadwal Fay yang terlalu padat. Tapi Fay berlagak riang dan mencoba menunjukkan antusiasmenya akan perjalanan itu. Setelah obrolan ringan tentang kegiatan Fay dan bagaimana pendapatnya tentang hari­harinya di Paris, akhirnya Fay bisa mengakhiri percakapan tanpa kentara dan masih dengan senyum lebar ia menuju kamarnya.

Sampai di kamar, senyum itu langsung punah. Fay masuk kamar mandi dan berganti baju. Setelah meminum vitaminnya, ia mematikan lampu dan langsung tengkurap di atas tempat tidur.

Ia sangat lelah.

Bukan kakinya yang sudah disuruh lari berkeliling entah berapa puluh kali selama tiga hari terakhir ini. Bukan juga tangannya yang sudah fasih melakukan gerakan push-up mendekati sempurna. Bukan juga otaknya yang sudah dipaksa untuk memutar ulang semua rangkaian kejadian yang tidak masuk akal ini dan masih belum berhasil menganalisisnya juga. Tapi ada rasa lelah yang menekan di dadanya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya seumur hidupnya. Rasa itu tidak muncul ketika mama dan papanya harus pergi bertugas dan tidak bisa merayakan ulang tahun bersamanya tahun lalu. Tidak juga ketika ia sedang ribut dengan Lisa, Dea, atau Cici. Rasa itu tidak ada ketika nilai ulangannya jeblok sebecek­beceknya—nilai dua dari skala sepuluh untuk ulangan geografi—diperoleh karena ia sama sekali tidak ingat untuk bahkan mencolek bukunya di malam sebelum ulangan.

Rasa lelah yang kali ini dirasakannya, menimbulkan pedih, seolah kulit yang ada di bagian dalam dadanya terkelupas perlahan­lahan.

Sekelebat bayangan Kent muncul di benak Fay, mengundangnya untuk kembali menghampiri rasa yang tadi sempat menghinggapinya ketika pertama kali pandangannya beradu dengan mata biru nan dalam pemuda itu.

Mata biru yang sama yang menatapinya dan menyampaikan hukuman tanpa ragu.

Mata biru yang seharusnya dikutuki dan disumpahinya, tapi mata biru yang malah membuatnya kembali ke perasaannya semula, melayang­layang dalam rindu, berusaha meraih bahagia.

Gelembung­gelembung yang sedari tadi sudah menyesaki benaknya mendadak pecah. Dalam gelap Fay terisak tanpa tahu kenapa. Yang ia tahu, gelembung­gelembung itu harus segera enyah dari pikirannya yang semakin lama terasa meninggalkannya sendiri tanpa ia bisa mengerti alasannya.

Kent pulang ke rumah dengan perasaan lebih puas dibandingkan dengan ketika sore tadi datang ke tempat latihan. Keadaan sepertinya berbalik menjadi bersahabat dengan dirinya.

Niatnya untuk menyengsarakan gadis itu tercapai, walaupun ia bisa lebih keras lagi kalau mau. Tidak hanya itu, ia bahkan diserahi tanggung jawab dengan otoritas penuh atas gadis itu. Kent tersenyum mengingat betapa tadi ia berusaha keras untuk tidak bersorak ketika pamannya memerintahkan Fay untuk melakukan apa yang diperintahkan dirinya, dan melihat ekspresi gadis itu yang seperti direndam dalam air es. Yang terakhir itu sepertinya ide yang menarik kalau ia punya waktu besok. Ia bisa saja menyuruh Fay berenang melintasi danau kecil yang ada di perbatasan rumah latihan. Walaupun ini musim panas, tapi air danau tetaplah air danau, dingin dan menggigit, terutama bagi mereka yang berasal dari belahan dunia yang berbeda.

Bonusnya yang kedua adalah ketika mendengar pamannya tidak datang besok. Rencananya berarti berubah. Ia bisa mendapat kepuasan yang lebih besar, bukan dengan cara menyengsarakan Fay, tapi dengan mengikuti workshop yang tadinya terancam batal karena harus menjadi mentor bagi gadis itu, yang sejak awal menjadi pemicu niatnya untuk membuat gadis itu ikut sengsara bersamanya.

Sejenak pikirannya menerawang. Salzburg.

Mozart.

Sonata in A Minor.

Sekelebat rasa ringan yang membahagiakan mendadak membawanya melewati kota Paris, melewati pegunungan Alpen di Switzerland dan sebagian Austria, dan menukik turun, mendarat di institut musim panas Universitat Mozarteum, Salzburg.

Di institut itu sedianya ia akan mengikuti workshop piano tingkat lanjut oleh dua maestro piano dunia yang namanya sudah melegenda, Philippe Entremont dan Alfred Brendel.

Workshop dua hari yang dimulai lusa itu diadakan untuk kalangan terbatas, yaitu sepuluh remaja usia 13­18 yang dipilih melalui seleksi ketat di lima negara yang berpartisipasi di Eropa: Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan Austria. Hanya dua orang dari setiap negara yang mendapat kesempatan langka ini. Dua bulan Kent berjuang mengikuti tahap seleksi, dimulai dari seleksi di sekolahnya, sebuah sekolah privat di London tempat ia terdaftar sebagai siswa kelas tiga SMA, kemudian maju ke tingkat wilayah, hingga masuk ke putaran terakhir, bersaing dengan lima siswa lain dari seluruh penjuru Inggris. Dengan usianya yang menginjak delapan belas tahun tiga bulan lagi, Kent sadar ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk berpartisipasi dan ia mencurahkan segenap hati dan pikirannya pada partitur dan tuts yang menari di bawah sentuhan jemarinya. Ia berhasil menempati urutan kedua, setelah Lionel yang berusia lima belas tahun.

Perjuangan itu yang hampir menjadi sia­sia, digagalkan begitu saja oleh satu perintah sederhana dari pamannya lewat telepon Senin pagi itu, ”Datang ke Paris segera.” Penjelasan singkat pamannya di telepon hanya menyebutkan bahwa Kent ditugasi menjadi mentor bagi seorang gadis tujuh belas tahun bernama Fay. Detail akan menyusul sesampainya di Paris.

Setelah menerima telepon itu, Kent segera keluar untuk berdiri di balkon kamarnya, di lantai dua estat milik pamannya di Hertfordshire, sebuah wilayah pedesaan yang berada di sebelah utara kota London. Dari tempatnya berdiri ini, ia bisa dengan leluasa menikmati pemandangan sebuah danau kecil dan hutan yang ada di halaman belakang estat seluas dua puluh hektar itu.

Saat itu Kent menatap surga dunia yang ada di depannya bukan untuk menikmati keindahan hijaunya pohon­pohon yang pucuknya meliuk dielus angin. Bukan juga untuk merasakan ketenteraman riak kecil air yang memantulkan sedikit kilau matahari pagi. Ia ada di balkon itu karena tidak sanggup melihat sepucuk undangan dan tiket British Airways untuk keberangkatan pukul 14.00 hari itu yang tergeletak di meja tulis kamarnya.

Kakinya terasa berat ketika dilangkahkan kembali ke dalam kamarnya. Yang pertama dilihatnya adalah sebuah koper berukuran kecil yang masih dalam keadaan terbuka di lantai. Baju­baju masih bertumpuk di tempat tidur. Ia sedang memasukkan baju­baju itu ke koper ketika telepon berdering dan harus mendengar perintah pamannya.

Pandangannya beralih ke meja tulis, melihat tiket dan undangannya. Lama Kent menatapnya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap mengantongi undangan itu sambil berharap ada keajaiban sehingga tetap bisa menghadirinya hari Kamis. Ia pun turun ke lantai bawah. Di sana terdapat mobil yang akan segera membawanya ke bandara. Bukan ke Heathrow, tapi ke Gatwick, tempat jet pribadi pamannya diparkir.

Segera setelah Kent berada di dalam mobil, pikirannya kembali berputar mengingat perkataan pamannya tadi pagi. Saat itu, ia memang belum tahu apa yang diharapkan oleh pamannya dengan menjadikannya mentor gadis bernama Fay itu, tapi satu hal sudah jelas, ia tidak akan membiarkan gadis yang menghancurkan mimpinya itu hidup tenang di bawah pengawasannya.

Tapi sang keajaiban ternyata memilih untuk datang hari ini. Ia bersyukur mengikuti instingnya untuk tetap membawa undangan workshop itu ke Paris.

Kent tersenyum dan pikirannya mendahuluinya, menyelam ke dalam denting halus yang mengentak dari setiap tuts yang disentuh perasaannya yang kini lepas tak terkekang.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊