menu

Eiffel, Tolong! Bab 05: Seena

Mode Malam
Seena

KEESOKAN harinya, Fay terbangun dengan kaki yang beratnya seperti batu dan rasa nyeri di setiap jengkal tubuhnya. Kalau ini terjadi di Jakarta, mungkin ia sudah bolos sekolah dan mengandalkan surat dokter dari papanya Lisa.

Dengan susah payah ia bangun dan segera matanya menangkap botol vitamin yang ada di meja kecil di samping tempat tidurnya. Untung tadi malam air putihnya masih tersisa, ada di meja yang sama, sehingga ia tidak perlu usaha dulu untuk mengambil air putih.

Berjalan ke kamar mandi juga merupakan perjuangan tersendiri. Semua persendiannya terasa ngilu. Beringsut­ingsut sambil meringis Fay menyeret kakinya ke kamar mandi dengan jalan seperti orang berpantomim.

Sesampainya di bawah, Celine sudah menyediakan sarapan pagi. Menu yang sama seperti ketika Fay tiba hari Minggu pagi, yang belum juga membuatnya bosan. Setelah memakan dua buah roti bulat yang diolesi mentega dan krim keju dengan lahap, Fay pun berangkat dengan agak berdebar, karena kali ini ia tidak diantar lagi oleh Jacque. Ketika akhirnya membuka pintu untuk masuk ke sekolahnya, Fay mengembuskan napas lega.

Seperti biasa, ia yang pertama datang di kelas, tapi garingnya kali ini tidak berlangsung lama, karena tak lama kemudian terdengar sapaan ramah di pintu kelas.

”Bonjour,” sapa Reno sambil tersenyum.

Fay membalas senyum dan sapaannya, ”Bonjour.  Comment  ça va?”

”Bien, merci. How about yourself?” Reno nyengir jail setelah meramu kedua bahasa itu dalam satu kalimat yang seolah nyambung.

”Bien, merci.”

Reno mengeluarkan bukunya dan berbicara dengan santai dalam bahasa Inggris, ”Kamu tahu nggak, kurasa aku membuat kesalahan dengan mendaftar ke kursus ini. Aku menyadarinya kemarin, sewaktu aku tidak bisa mencocokkan apa yang diucapkan Monsieur Thierry dengan apa pun yang tertera di buku.” Fay tersenyum lebar, ”Kukira cuma aku satu­satunya yang merasa seperti itu.” Ia pun kemudian menceritakan komentar penumpang pesawat yang ia dengar tempo hari dan mereka

berdua tertawa setuju.

”Bonjour. Well, well... what a lovely morning,” Erika masuk dengan tampang yang menurut Fay menyebalkan. Gadis itu langsung memasang tampang semanis mungkin ketika melihat ke arah Reno,

”Salut, Reno, comment ça va?”

”Baik, terima kasih,” kata Reno ramah.

Fay agak senang melihat bahwa Reno tidak terlalu kelihatan ingin bercakap­cakap dengan Erika. Tau rasa! Untung siswa yang lain segera masuk kelas dan perhatian Erika langsung beralih ke dua siswa pria lain yang tampak begitu mengidolakannya.

Begitu M. Thierry masuk, Reno langsung mencoret­coret membuat catatan. Dia menyenggol Fay dan menggeser buku catatannya. Tulisannya miring­miring dengan huruf cetak yang langsing. Di sana terbaca, ”Rescue me! Lunch together @ cafeteria?” Dia melihat ke arah Fay dengan tatapan bertanya yang mendesak.

Fay mengangguk senang.

Topik pagi ini dibuka dengan angka. Angka satu sampai dua puluh Fay serap dengan mudah, walaupun pengucapannya belum fasih benar. Apalagi masalah ”u” dan ”r” kemarin belum tuntas.

Masalah baru muncul ketika topik bahasan masuk ke angka delapan puluh. Angka 80 sampai angka 99 di bahasa Prancis diucapkan sebagai perkalian berbasis angka dua puluh. Delapan puluh dalam bahasa Perancis adalah ”quatre-vinq”, atau ”empat dua puluh” bila diterjemahkan langsung. Dijabarkan sebagai empat dikali dua puluh. Angka sembilan puluh lebih ajaib lagi, diucapkan dengan ”quatre vinq dix” atau ”empat dua puluh sepuluh”. Maksudnya adalah empat dikalikan dengan dua puluh kemudian ditambah sepuluh. Sinting!

Begitu kelas dibubarkan untuk makan siang, Reno langsung memberi kode supaya Fay segera mengikutinya. Sampai di luar, dengan kocak dia sprint ke tangga seolah ingin melarikan diri secepat mungkin dari ruang kelas tempat mereka berada. Fay tertawa terbahak­bahak sambil mengejarnya.

Di kafeteria, Fay sebenarnya sudah siap untuk melupakan makan siang bungkusan pemberian Andrew, ketika Reno berkata, ”Fay, aku cuma makan ringan saja untuk makan siang. Aku tunggu di teras ya.” Sambil berkata, Reno mengeluarkan bungkusan makanan instan persis seperti yang diberikan oleh Andrew.

Fay langsung mengeluarkan makanannya sendiri. ”Hei, makanan itu sama seperti punyaku,” ucapnya bersemangat.

”Kalau begitu, aku tanyakan saja apakah ada cangkir atau mangkuk yang bisa kita pakai,” ujar Reno, langsung bertanya kepada petugas yang ada di sana sambil memesan dua botol air mineral.

Makanan itu berbentuk bubuk sereal berwarna cokelat, tampak menggiurkan di awal tapi ternyata seperti bubur tanpa bumbu ketika sudah dicampur air.

Fay tidak bisa menyembunyikan ekspresi anehnya ketika menelan. Reno melihatnya santai, ”Ini pertama kalinya ya kamu memakan ini?”

”Yup,” Fay menjawab singkat, berjuang memerintahkan tangannya yang melawan untuk menyendokkan bubur itu ke mulutnya.

”Jangan kuatir. Lama­lama kamu juga akan terbiasa kok.

Bayangkan saja rasa kertas daur ulang yang diblender.” ”Yeak,” Fay menatap Reno kesal, yang dibalas dengan cengi­

ran degil khasnya.

”Ceritakan sedikit tentang kamu, Fay. Bagaimana ceritanya sampai kamu bisa ikut di kelas menyedihkan ini?” Reno bertanya sambil menyendok buburnya.

”C’mon, kelasnya nggak seburuk itu kok, cukup menyenangkan walau susahnya minta ampun,” jawab Fay sebelum menjawab pertanyaan Reno.

Fay pun kemudian melanjutkan ceritanya.

”Orangtuaku bekerja sebagai konsultan di Jakarta, mereka sering sekali bepergian. Awalnya, rencananya adalah aku pergi dengan ibuku yang ditugaskan di Paris selama dua minggu. Sebenarnya ada pilihan dari ayahku untuk ikut dengannya yang kebetulan bertugas juga ke Bangkok; tentunya aku memilih Paris. Waktu semua sudah beres, mendadak penugasan ibuku diubah ke Brazil. Itu sebabnya orangtuaku memutuskan aku ikut kursus bahasa Prancis, karena tiketku tidak bisa diubah lagi.”

”Wah, enak sekali ya bekerja sebagai konsultan, bepergian ke belahan dunia lain,” Reno berkomentar.

”Enak untuk mereka mungkin, tapi pastinya tidak enak untukku.”

”Maksud kamu?”

”Pada dasarnya aku tumbuh tanpa mereka.” ”Cukup seringkah mereka bepergian di waktu yang bersamaan seperti itu?”

”Lumayan sering. Contohnya waktu ulang tahunku yang keenam belas bulan Juli tahun lalu.”

”Jadi, apa yang kamu lakukan di ulang tahun kamu? Apa kamu rayakan dengan pacar?” Kali ini Reno mengedipkan mata dengan jail.

”Tidak,” jawab Fay salah tingkah. ”Aku rayakan dengan tiga teman baikku di sekolah, Cici, Lisa, dan Dea. Mereka benarbenar my super duper very good best friend.”

”Oke, aku menangkap pesan kamu.” Reno tertawa kemudian kembali bertanya, ”Kalau mereka bepergian dalam waktu bersamaan, kamu tinggal dengan saudara?”

”Tidak, hanya dengan pembantu di rumah.”

”Dan kamu mengeluh?? Itu harusnya dirayakan! Party all the time,” kata Reno mengangkat tangan ke atas sambil menggoyangkan tubuh.

”Ha... ha... bukan tipe aku.”

”Oke, jadi kamu tipe anak baik­baik ya. Nerd!” katanya jail.

”Hei, aku bukan nerd, aku cuma nggak suka keramaian,” Fay berdalih sambil senyum­senyum sendiri.

”Oke... oke...,” jawab Reno sambil mengangkat kedua tangan, pura­pura menyerah.

”Sekarang giliranku,” ujar Fay. ”Pertama­tama, kalau kamu memang segitu bencinya dengan bahasa Prancis, kenapa kamu mendaftar ke kursus ini?”

”Pamanku yang ingin aku ikut kelas ini. Dia bilang akan bagus untuk karierku nanti.”

”Kamu tinggal dengan pamanmu?” tanya Fay.

”Ceritanya agak panjang. Orangtuaku meninggal delapan tahun yang lalu, sejak itu aku tinggal dengan pamanku di London sampai aku lulus dari sekolah menengah tiga tahun lalu. Dia mengirim aku ke Bangkok selama setahun, kemudian aku masuk ke Universitas Zurich, sampai sekarang. Jadi, sekarang aku pria bebas yang tinggal sendiri di apartemen studio di Zurich.”

”I’m so sorry about your parents,” gumam Fay pelan. ”Thanks. Aku sudah terbiasa dengan fakta itu setelah de­

lapan tahun,” jawab Reno.

”Kamu ambil jurusan apa?” tanya Fay lagi. ”Ekonomi, dengan spesialisasi di Studi Asia.”

”Kenapa Asia? Bukankah seharusnya kamu mendalami Studi Eropa kalau kamu ada di Eropa?”

”Ha... ha… good point. Aku memilih Asia karena aku selalu terpesona dengan Asia, mungkin dari perjalananku ke Bangkok dan Bali. Dan aku rasa kamu ada benarnya, mungkin aku sebaiknya belajar tentang Asia di Asia. Mungkin nanti, kalau aku melanjutkan ke tingkat master… Itu pun kalau aku belum bosan belajar terus­menerus,” lanjutnya santai.

”Jadi, kamu pernah ke Bali? Kapan? Aku baru pergi ke sana tahun lalu,” ucap Fay dengan semangat.

”Sudah lama sekali,” jawab Reno singkat. ”Bagaimana liburan kamu di sana, kamu pergi dengan orangtuamu?” sambungnya lagi.

”Tentu saja bukan dengan mereka. Mereka saat itu ada di… mmm… suatu tempat. Aku pergi dengan ketiga teman baikku.”

”Wow, pasti menyenangkan sekali. Jadi, petualangan seperti apa yang kalian lakukan?” tanya Reno tertarik.

”Kami pergi ke hampir semua tujuan turis. Mencoba rafting di Sungai Ayung, bungee jumping, kayaking, parasailing, dan surfing,” jawab Fay makin semangat.

”That’s great! Kamu benar berani mencoba itu semua?” Reno melihatnya dengan pandangan menyipit seperti tidak percaya.

”Iya, masa aku bohong,” ucap Fay sewot.

”Oke, oke, aku percaya kok, cuma tidak menyangka saja kalau kamu seberani itu,” kali ini Reno memunculkan senyum jailnya. ”Kamu bilang tadi kamu mencoba surfing ya. Gimana, suka nggak? Berhasil dapat ombak bagus?” tanyanya lagi. ”Mmm… untuk surfing, harus aku akui kalau aku kurang sukses. Temanku Cici lebih berhasil. Aku bisa sih mendapat ombak bagus, terbawa sampai pinggir. Tapi aku sama sekali tidak bisa berdiri,” jawabnya sedikit menyesal.

”…”

Satu suara yang diucapkan dengan nada­nada minor dan kres, muncul di belakang mereka, ”Ah, Reno, ternyata kamu di sini. Aku mencari kamu ke mana­mana.”

Uurrggh, Erika. Dengan sebal Fay menyunggingkan senyum sopan seadanya. Dan ia langsung menyesal, karena Erika bahkan tidak meliriknya sama sekali. Gadis itu sibuk menerangkan ke Reno bagaimana dia salah pesan makanan di kafeteria, dan sambil berbicara, secara kasual dia menarik kursi dan duduk di sebelah Reno. Posisi kursinya tidak persis berada di antara Fay dan Reno, tapi sengaja dipepetkan di sebelah kursi cowok itu.

Mendadak, Reno mengernyitkan muka tanda kesakitan sambil memegang perutnya.

”Reno, kenapa? Kamu nggak apa­apa?” Erika memekik kaget. Dengan sebal Fay melihat tangan gadis itu langsung disandarkan ke pundak Reno dengan tampang penuh perhatian.

Reno mengerang kesakitan sambil berkata dengan susah payah, ”Perutku keram.” Dia pun berdiri sambil agak membungkukkan badan, masih memegangi perutnya. ”Nggak apa­apa kok, aku cuma perlu ke kamar kecil.” Dia melesat ke dalam kafeteria sambil terus memegangi perutnya.

Erika menatap Fay dan bertanya, ”Apa yang terjadi, Fay?” ”Nggak tau,” Fay berkata singkat sambil meminum air mi­

neralnya.

”Aku sebaiknya ke dalam dan memeriksa apakah dia baikbaik saja,” ujar Erika sambil berdiri.

Fay pun ditinggal sendirian.

Dengan sebal ia melihat buburnya. Lenyap sudah sekelumit keinginan mulia untuk menghabiskan cairan kental itu.  

Lima menit kemudian, Reno membuka pintu kamar mandi dan mengintip keluar. Setelah yakin tidak ada yang memperhatikan, ia segera menyelinap ke luar, berjalan dengan cepat menuju lobi dan keluar dari satu­satunya pintu di sana.

Ia berjalan di trotoar jalan utama di depan sekolahnya sepanjang dua blok, kemudian membelok ke satu jalan yang lebih kecil, di sana terdapat sebuah kafe kecil dengan beberapa tempat duduk di trotoar yang dilindungi payung yang juga kecil. Kafe ini dimiliki oleh sepasang suami­istri setengah baya yang berasal dari Italia. Bukan tempat favoritnya, tapi ini adalah satu­satunya tempat yang diketahuinya menjual sandwich dengan isi berukuran jumbo; satu hal yang sangat langka di Paris. Menu itu bahkan bukan menu andalan kafe ini. Tapi Reno tidak ambil pusing.

Ia segera masuk dan duduk di kursi dekat jendela, posisi favoritnya. Tidak persis di samping jendela sehingga tidak langsung terlihat oleh orang yang ada di luar, tapi dari tempatnya duduk ia bisa melihat keluar dengan jelas. Ia memesan satu botol air mineral dan dua buah sandwich. Seorang teman kuliahnya pernah berkata,

”Kalau kamu ke restoran Italia, jangan pernah berpikir untuk memesan pasta atau pizza bila ada risotto. Pasta dan pizza ada di mana­mana, tapi sepiring risotto yang layak hanya bisa dibuat oleh orang Italia di restoran Italia.”

Kalau saja temannya ada di sini sekarang dan melihatnya memesan bukan risotto, bahkan bukan pasta atau pizza, melainkan sandwich, dia bisa mati berdiri.

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk menyiapkan pesanannya. Tidak sampai lima menit kemudian, Reno sudah menggigit sandwich yang dipegang dengan kedua tangannya dengan lahap. Sandwich itu diisi dua bongkah daging tebal, dengan tiga irisan tomat. Ia menggigit dengan suapan­suapan besar, tanpa dikunyah terlalu banyak. Gumpalan­gumpalan besar sandwich itu dengan cepat melewati kerongkongannya dengan bunyi glek yang keras. Setelah sandwich yang ada di tangannya habis, masih ada satu lagi yang menunggunya. Dia berpikir, setelah memakan bubur dalam bungkusan tadi, sudah semestinya ia memberikan hadiah bagi perut malangnya yang tadi sempat keram.

Setelah selesai, ia segera berjalan kembali ke arah sekolah. Sepertinya ia akan tiba di sekolah tepat pada waktunya, pikir Reno puas setelah melirik jamnya.

Fay melihat jamnya dengan cemas. Satu menit lagi kelas sudah hampir dimulai dan bangku Reno sampai detik ini masih kosong. M. Thierry sekarang sudah berdiri di depan kelas, sedang membalik­balik buku untuk melihat materi yang akan diajarkan.

Persis ketika M. Thierry akan menutup pintu, seseorang menahan pintu itu tetap terbuka dari luar dan dengan lega Fay melihat Reno masuk dengan tergesa­gesa sambil meminta maaf. Fay berbisik ke arahnya, ”Kamu nggak apa­apa?”

Reno mengangguk sambil tersenyum, tangan kanannya mengelus­elus perutnya dan tangan kirinya mengacungkan jempol. Sama seperti hari sebelumnya, Fay memulai siang sudah dengan konsentrasi pas­pasan dan tidak bersisa ketika kelas berakhir. Perutnya mulai mulas. Segera ia berkemas­kemas dan bergerak keluar kelas, kali ini masih sempat untuk meng­

ucapkan ”sampai jumpa besok” kepada Reno.

Sampai di lobi, terdengar suara Reno di belakangnya, ”Hei, Fay, kamu buru­buru sekali. Ada rencana sore ini?” ”Iya,” jawab Fay. Langsung ia sambung lagi, ”Reno, di papan

pengumuman ini ada brosur tur keliling Paris. Tapi agak mahal.” Fay berdoa dalam hati Reno tidak meneruskan pertanyaannya. ”Yup. Aku rasa kamu bisa cari yang harganya lebih masuk akal di koran.”

”Wah, aku nggak yakin bisa mengerti apa yang tertulis di sana, setidaknya hingga dua minggu lagi.”

”Iya,” Reno berkata singkat. ”Jadi, kamu mau pergi ya?” ”Ya.”

”Ke mana?” tanyanya lagi.

”Ke Institute de Paris. Aku mengambil kursus tambahan di sana.”

”Oh ya? Apakah itu kursus bahasa juga atau ada topik lain yang diajarkan?”

”Topiknya berbeda, lebih ke budaya,” tepat saat itu, Lucas menongolkan muka di pintu.

”Reno, aku pergi dulu ya. Au revoir!” Fay langsung kabur meninggalkan Reno. Saved by the bell, desahnya lega.

Perjalanan sore itu ke rumah latihan Fay jalani dengan kecemasan yang semakin lama semakin meningkat. Kecemasan itu sempat raib sejenak, ketika mobil memasuki jalan yang dinaungi pohon rindang dengan sisipan sinar matahari, dan langsung datang kembali dengan tiba­tiba saat mobil berhenti di depan gerbang.

Pemandangan pertama yang dilihat adalah mobil Andrew yang diparkir di depan rumah, yang langsung membuat perut Fay melilit. Buru­buru ia masuk ke rumah, dan setelah tidak melihat Andrew sama sekali di area foyer dan ruang tamu, ia melesat ke kamarnya di lantai atas sambil mengembuskan napas lega.

Setelah berganti baju, kali ini dengan satu set baju olahraga berwarna hijau muda, Fay bertemu Andrew di depan rumah. Begitu ia melihat pria itu tidak mengenakan setelan olahraga, melainkan baju santai bernuansa biru, bayangan adegan pria itu mengejarnya dengan dahan pohon seperti kemarin langsung menguap dan Fay tersenyum dalam hati. Andrew memberikan instruksinya, ”Kamu akan berlari di jalur yang sama seperti kemarin. Di putaran pertama ini, saya harap kamu bisa mengulang rekor terbaik kamu kemarin, yaitu tiga puluh lima menit. Ada pertanyaan?”

”Tidak ada,” Fay menjawab sambil memikirkan kemungkinannya melakukan itu dalam 35 menit, mengingat ia tidak punya cukup motivasi karena lari tanpa ancaman. Jangankan 35 menit, menyamai rekor terburuknya kemarin pun yang 45 menit itu ia tidak terlalu yakin.

”Setiap menit keterlambatan kamu harus dibayar dengan dua push-up. Dan saya akan memberikan hukuman lain kalau perlu, kalau saya lihat kamu tidak berusaha dengan sungguh­sungguh untuk mencapai target,” ucap Andrew tegas.

Fay mengeluh dalam hati. Kalimat itu langsung menghadirkan potongan gambar yang tidak menyenangkan dari kejadian hari sebelumnya dan firasat buruk pun menghampirinya.

Firasatnya tidak salah. Walaupun ia sangat bangga dengan pencapaiannya dan sudah merasa seperti juara ketika berhasil menyelesaikan putaran pertama dalam waktu 44 menit, ternyata keterlambatan hanya sembilan menit itu ditanggapi berlebihan oleh Andrew. Pria itu menyuruhnya push-up delapan belas kali sambil berhitung dengan suara keras.

Sambil merengut Fay mengambil posisi dan mulai berhitung dengan gerakan setengah hati, ”Satu, dua, tiga, empat, li…,” ia tidak bisa menyelesaikan hitungannya. Rasa sakit menyergap ketika satu tendangan menyakitkan mendarat di pahanya dan ia kehilangan kontrol atas tangannya sehingga mukanya terjerembap ke tanah. Aduh, aduh aduh, erangnya sambil berguling­guling ke samping dengan kedua tangan memegang paha kanannya, atau memeluk lebih tepatnya. Sialan!

Andrew jongkok di sampingnya. ”Kalau kamu lakukan pushup seperti itu lagi, saya akan membuat kamu merangkak sepanjang malam. Lakukan seperti ini…” Andrew pun mengambil posisi push-up dan mencontohkan tiga hitungan gerakan dengan sempurna sambil berhitung dengan suara lantang. Andrew kemudian berdiri sambil terus menatapnya. ”Sekarang, young lady, coba lakukan. Mulai dari hitungan

lima.”

Dengan pasrah, Fay kembali mengambil posisi. Dengan ekor matanya, ia bisa melihat Andrew bergerak ke arahnya dan berdiri persis di sebelah kanannya. Lima, enam… dua belas, tangannya pun mulai gemetar. Sinyal kelelahan yang diteriakkan oleh otot bisepsnya itu tampaknya terbaca dengan jelas karena Andrew langsung berkata, ”Lanjutkan.”

Air mata frustrasi mulai terasa mengaburkan pandangan Fay. Di hitungan kelima belas, tangannya sudah tidak bisa diajak kompromi dan tubuhnya terjatuh.

Andrew kembali berjongkok di sebelahnya dan berkata, ”Ayo, jangan menyerah. Kerahkan semua yang ada di diri kamu untuk menyelesaikannya.”

Fay tidak tahu gengsi ataukah rasa takut yang akhirnya membuatnya menyelesaikan tiga hitungan terakhir itu.

Andrew menyuruhnya kembali mengulangi putaran itu, dengan target yang sama. Di putaran ketiga Fay berhasil mencapai 38 menit. Masih tiga menit lebih lambat dari target, tapi mengingat kadar cintanya yang nol besar dengan pelajaran olahraga, khususnya lari, enam kali push-up terakhir dilakukannya dengan berbangga hati.

Setelah makan malam, Andrew mengajaknya ke ruang kerja. Dengan enggan Fay melangkahkan kaki ke dalamnya. Rekaman ingatan kejadian hari Senin sore langsung otomatis berputar ketika matanya menangkap lemari TV.

Dengan tegang Fay melihat Andrew berjalan menuju meja kerja, memeriksa surat­suratnya. Ia sendiri saat ini berdiri di depan TV. Déjà vu.

Ketegangannya surut ketika melihat Andrew tidak berjalan ke arahnya setelah memeriksa surat, melainkan ke sebelah kanannya, tempat lemari buku menutupi dinding. Andrew meraih salah satu buku di rak dan dengan takjub Fay melihat bagian tengah lemari bergeser, menampakkan ruangan lain di baliknya. Biasanya ia cuma melihat ini di film­film Hollywood… asli keren!

Fay segera mengikuti Andrew yang sudah menggerakkan kepalanya sambil melihat ke arahnya sebagai tanda untuk mengikutinya. Setelah ia sampai di dalam, Andrew menekan tombol di dinding dan lemari itu pun menutup kembali.

Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya lebih besar sedikit daripada kelas bahasa Prancis Fay. Ada satu meja oval di tengah, dengan empat kursi mengelilinginya. Di meja tersebut ada sebuah laptop yang sudah terbuka dan menyala, beserta beberapa map berwarna kuning muda yang ditumpuk. Di dinding sebelah kanannya ada satu lemari kayu yang menutup seluruh dinding. Di dinding sebelah kirinya terdapat sebuah layar LCD yang sangat besar. Ruangan ini bernuansa putih terang, diperoleh hanya dari lampu­lampu yang berjajar di sepanjang sisi langitlangit. Tidak ada jendela. Di dinding yang berada tepat di hadapan Fay, tertempel kertas­kertas lebar dengan gambar seperti peta.

Andrew berkata, ”Silakan duduk, Fay. Hari ini saya akan memberikan sedikit pendahuluan tentang peran yang akan kamu mainkan.”

Fay duduk di dekat kertas­kertas yang ditempel di dinding dan memperhatikan Andrew menekan salah satu tombol di laptop.

”Perkenalkan, ini Seena,” ucap Andrew sambil menunjuk ke arah layar LCD yang sekarang sudah terang benderang.

Fay ternganga melihat sosok gadis di layar di depannya. Video yang sedang terpasang sedang menampilkan wajah Seena dari dekat. Muka Seena mungkin memang mirip mukanya, walaupun Fay tidak 100% percaya bahwa tampangnya sendiri seperti itu. Tapi gayanya sudah pasti beda. Gadis yang di TV itu tampak sangat cantik dan centil, tampil sangat gaya dengan make-up tipis nuansa pink dan biru muda. Rambut ikalnya diblow dan diurai seperti putri­putri dalam dongeng Cinderella dan Barbie.

Adegan di layar berubah, kali ini menampilkan Seena sedang jalan­jalan di mal bersama lima temannya, diambil dari jauh menampilkan seluruh badan. Fay berdecak kesal. Tidak heran Andrew mati­matian menyuruhnya olahraga dan diet, Seena punya potongan tubuh tanpa cela. Tidak sulit untuk menarik kesimpulan bahwa Seena adalah gadis yang gaul abis, dan dari sikapnya pastilah ia bintang sekolah.

Dan ia, Fay Regina Wiranata, diharapkan untuk menjadi seperti gadis itu dalam waktu dua minggu?? Mereka pasti sudah gila! Kalaupun bisa, ih, jijay abis! Membayangkan dirinya purapura jadi cewek gaul seperti itu langsung bikin perutnya mual. Fay pun cemberut dan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.

Andrew melihat ekspresi Fay dan mengerutkan kening. ”Ada masalah?” tanyanya.

”Pertama­tama, saya sama sekali tidak terlihat seperti dia,” protes Fay lalu menarik napas, masih tidak setuju. ”Yang kedua, saya tidak mungkin bisa menjadi seperti dia.” Kali ini benci dan minder jadi satu.

”Harus bisa, dalam waktu satu setengah minggu lagi,” kata Andrew singkat sambil memberikan map pertama dari tumpukan di depannya. Dia kemudian melanjutkan, ”Informasi di dalamnya berisi fakta­fakta tentang gadis itu. Kita akan bahas satu demi satu. Bagian pertama adalah sejarah keluarga.

”Nama gadis yang akan kamu perankan adalah Seena Fatima binti Abdoellah, anak kedua dari Abdoellah bin Razak, seorang pengusaha properti di Malaysia. Seena berumur tujuh belas tahun, baru saja lulus SMA Woodcity Highschool di Kuala Lumpur. Saat ini dia dalam proses untuk mendaftar ke Universitas Zurich, jurusan Geografi. Seena punya seorang kakak laki­laki bernama Muhammad Aziz, dua puluh satu tahun, yang sekarang sedang bersekolah di Universitas San Diego, Amerika Serikat, mengambil jurusan Teknik Arsitektur, dan seorang adik laki­laki bernama Muhammad Sahar, lima belas tahun, baru saja mendaftar ke satu sekolah berasrama di Turki dan ke sekolah yang sama dengan Seena, Woodcity Highschool. Sampai dengan saat ini, belum ada kabar di mana anak itu diterima dan yang mana yang dipilih.”

Andrew melanjutkan, ”Di dalam map itu detail tentang Seena dan rincian silsilah keluarga dari kedua orangtua Seena.”

Fay membuka map yang diberikan Andrew. Di dalamnya ada dua set dokumen. Fay meraih set dokumen pertama.

Set pertama itu terdiri atas empat lembar biografi Seena, mulai dari informasi TK tempat dia bersekolah hingga informasi yang tadi disebutkan Andrew.

Fay menyisihkan set pertama itu dan meraih set kedua. Saat pandangannya menyapu halaman pertama, seketika itu juga ia merasa ide untuk masuk ke bumi dan menghafalkan deret kimia sambil dikubur hidup­hidup sepertinya lebih menyenangkan. Halaman itu berisi bagan keluarga ayah Seena. Mimpi buruknya dimulai dari dua kotak yang berada di paling atas, kakek dan nenek Seena. Di baris kedua ada dua belas kotak, menandakan keturunan langsung dari sang kakek. Setiap kotak di baris kedua itu dihubungkan dengan satu kotak lain di sisinya, menandakan pasangan hidup mereka. Hampir setiap kotak di baris kedua dihubungkan dengan kotak­kotak di baris ketiga, di mana Seena berada. Tidak sulit menemukan di mana posisi Seena, karena kotak dengan namanya dilingkari spidol hitam yang tebal.

Keinginan menghafal deret kimia itu terasa lebih kencang ketika tangan Fay dengan nekat atas kemauan sendiri membalik kertas itu untuk melihat halaman kedua, silsilah keluarga dari pihak ibu Seena. Sama seperti halaman sebelumnya, bagan dimulai dengan dua kotak berisi nama kakek dan nenek Seena di bagian atas. Mereka mempunyai delapan anak, salah satunya adalah ibu Seena. Fay melihat bahwa selain kotak berisi nama Seena, ada satu kotak lain yang dilingkari: Alfred Whitman. Posisinya ada di baris kedua, di sebelah kotak bertanda silang berisi nama ”Zaliza”. Tidak ada kotak di baris ketiga yang dihubungkan dengan kotak Zaliza ini.

Andrew berkata, ”Seluruh isi map ini harus kamu hafalkan luar kepala. Selain informasi tentang Seena sendiri, prioritasnya adalah keluarga inti Seena, kemudian keluarga ibu Seena, baru keluarga ayah Seena. Informasi tentang Seena bukan cuma harus kamu hafalkan, tapi harus kamu hayati hingga kamu bisa menceritakan ulang dengan lancar tanpa harus berpikir lagi.

”Di halaman tiga sampai sepuluh, ada informasi tentang setiap keluarga yang kamu temui di dua bagan tadi. Informasi yang ada sudah dipilah­pilah berdasarkan prioritasnya. Sebagai contoh, kamu akan melihat tanggal lahir di keluarga inti Seena, tapi hanya umur di keluarga yang lain. Contoh lainnya, kamu akan melihat alamat lengkap di beberapa keluarga, tapi tidak di keluarga yang lain. Bahkan ada yang dilengkapi dengan foto. Ingat, Fay, semua harus dihafalkan luar kepala, tanpa kecuali.

”Di akhir minggu ini, kalau saya menunjukkan foto satu rumah, kamu sudah harus tahu siapa saja yang tinggal di sana. Dan kalau saya menyebutkan satu nama, kamu harus bisa menyebutkan berapa umurnya, siapa kakak atau adiknya, di mana dia tinggal, di mana sekolahnya, dan bagaimana hubungannya dengan Seena.”

Fay tidak tahu harus mengatakan apa. Jantungnya tidak berdebar­debar. Tangannya tidak dingin. Bahkan ia tidak panik sama sekali. Yang ia rasakan adalah udara di sekitarnya sangat berat. Udara di dalam paru­parunya bahkan seperti enggan untuk dipompa keluar­masuk.

”Sekarang kita akan bahas satu per satu. Kemudian saya akan meninggalkan kamu setengah jam supaya kamu bisa menghafalkan dan meresapi semua informasi yang saya berikan.” Andrew menekan satu tombol di komputernya dan LCD di depannya menampilkan gambar lain.

”Mari kita mulai,” ucapnya membuka pembahasan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊