menu

Eiffel, Tolong! Bab 04: Hari Pertama

Mode Malam
Hari Pertama

”BONJOUR.” Selamat pagi.

”Je m’appelle Fay. Je suis de Indonesie.” Nama saya Fay. Saya

berasal dari Indonesia.

Demikian ia memperkenalkan diri secara sederhana di kelas, mengikuti contoh dari gurunya, Monsieur Thierry.

Kelasnya menempati lantai dua sebuah bangunan di sudut jalan di sentral Paris. Dengan desain gotik dan lokasi yang tidak jauh dari gedung Opera, bangunan itu seakan menegaskan identitasnya sebagai karya seni masa lampau. Fay yakin, kalau saja kemarin ia tidak diculik, mungkin acara jalan­jalannya sudah akan merambah area sekolahnya ini.

Tadi pagi Jacque menemaninya pergi ke sekolah dengan metro, kereta bawah tanah kota Paris. Ada enam belas jalur Metro di kota ini; ia naik dari stasiun Montgallet yang ada di Jalur 8, hanya lima menit berjalan kaki dari rumah. Sepanjang jalan, Jacque menjelaskan setiap detail perjalanan mereka, mulai dari cara membeli karcis, cara mengantre di depan kereta, cara mengenali sudah sampai di stasiun mana, bahkan kadangkadang sejarah suatu area yang mereka lewati, yang tentunya sebenarnya tidak bisa dilihat karena mereka ada di bawah tanah. Fay senang sekali dengan antusiasme Jacque bercerita itu, terlebih Jacque, seperti juga orang Prancis lain, sangat ekspresif. Selain nada suaranya naik­turun, tangannya juga tak segan­segan mengibas atau menunjuk untuk menguatkan ekspresinya. Mereka turun di stasiun Opera kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sesampainya mereka di sekolah, Jacque tidak mengantarnya masuk. Fay cukup bersyukur karena rasanya aneh juga sudah sebesar ini diantar ke sekolah. Bahkan di Jakarta saja ia hanya pernah diantar satu kali oleh orangtuanya, ketika hari pertama masuk SD. Setelah itu, mereka hanya menginjakkan kaki di sekolah kalau terima rapor, bergantian setiap kali datang.

Ketika melangkahkan kaki ke dalam, kesan antik yang dipancarkan bagian luar gedung itu hampir tidak ada lagi. Fay berada di area lobi yang luas dan sangat modern dengan cat berwarna putih serta perabotan berdesain simpel. Sangat kontras dengan desain jendela tinggi penuh ornamen, yang mengundang cahaya matahari tanpa ragu. Meja resepsionis tepat berada di depannya, didominasi material kaca. Bangku­bangku tanpa sandaran berbahan suede dengan kombinasi warna ungu, merah, dan oranye tersusun sepanjang dinding. Fay melihat berkeliling dan matanya menangkap tanaman­tanaman hijau yang menyegarkan mata di setiap sudut ruangan. Di salah satu sudut, terdapat papan pengumuman, dengan banyak brosur yang tertempel tumpang tindih.

Bagi penggemar arsitektur abad pertengahan, pemandangan ini mungkin suatu penghinaan, tapi bagi Fay, yang terasa hanyalah rasa antusiasme yang riang dan ringan yang ditularkan ruangan itu kepada dirinya.

Wanita yang ada di balik meja resepsionis berpakaian sangat santai, kaus tanpa lengan berwarna merah muda, dengan celana katun putih. Dengan ramah wanita itu menyapanya. Selain selamat pagi, Fay tidak tahu apa lagi yang wanita itu ucapkan. Fay hanya membalas dengan senyuman sambil menyerahkan surat keikutsertaannya. Wanita itu memberinya sebuah brosur, yang ternyata peta ruangan sekolah. Dia membuka brosur itu di hadapan Fay dan menjelaskan isinya. Anehnya, tetap dengan bahasa Prancis, dibantu sesekali dengan bahasa Inggris dan bahasa tubuh. Bukannya siapa pun yang mendaftar di sini belum bisa bahasa Prancis? tanya Fay bingung kepada diri sendiri.

Tanpa disangka­sangka, ternyata ia cukup menangkap penjelasan wanita itu, terutama sangat terbantu gambar di brosur yang informatif. Lantai bawah adalah area umum. Selain lobi, terdapat kafeteria merangkap ruang duduk, perpustakaan, ruang komputer lengkap dengan koneksi Internet, dan teras tempat siswa bisa duduk di sekitar taman kecil dan berdiskusi. Di lantai atas ada dua belas ruang kelas. Wanita itu menunjukkan ruang kelas Fay di peta, kemudian memberikan buku pelajaran yang akan digunakan selama dua minggu ke depan. Fay mengucapkan ”merci” atau terima kasih, kata kedua yang ia tahu artinya selain ”bonjour” atau selamat pagi, dan berlalu menuju tangga di belakang resepsionis.

Ketika masuk ke kelas, Fay disambut oleh pria berperawakan pendek, agak gemuk, dengan senyum riang yang selalu ada di wajahnya, bahkan ketika diam. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Monsieur Thierry, gurunya, sambil menyalami, atau tepatnya mengguncang tangannya dengan bersemangat.

Ruang kelas itu kecil, hanya ada delapan bangku disusun berbentuk setengah lingkaran. Di bagian depan ada satu kursi dan meja untuk gurunya, dan di dinding depan ada papan tulis. Fay mengambil tempat di tengah­tengah, dengan harapan kalau harus bergiliran bicara atau maju ke kelas, ia bukan yang pertama.

Satu demi satu siswa datang. Seorang siswa dengan pipi agak chubby bertampang Asia datang dan duduk di sebelah kanannya. Seorang gadis bertampang serius datang, duduk di ujung kanannya. Tak lama kemudian, datang seorang lagi gadis yang agak gempal dengan wajah bulat yang dipoles make-up, duduk di sebelah gadis tadi. Sekarang hanya tinggal empat bangku kosong di sebelah kiri Fay. Dua siswa datang hampir berbarengan dan mengambil tempat di dua bangku di ujung kiri Fay. Yang satu berambut hitam ikal dan yang lain berambut cokelat kemerahan.

Sekarang yang kosong hanya tinggal dua bangku sebelah kiri Fay. Tak lama, datang seorang gadis berambut pirang sangat panjang, yang cantik luar biasa dengan badan tinggi lurus seperti model, memilih untuk duduk di sebelah pemuda tadi. Fay agak merasa terganggu dengan kosongnya bangku di sebelahnya. Kenapa gadis pirang itu tidak mau duduk di sebelahnya? Tidak bisa dicegah, pikiran itu melintas bolak­balik di kepalanya.

Pikiran itu langsung sirna ketika kelas dimulai. M. Thierry, gurunya, ternyata memang kocak dan mampu mencairkan suasana dengan cepat. Dia memberi contoh secara lisan cara singkat memperkenalkan diri dan menyuruh mereka satu per satu melakukan hal yang sama. Fay menyimak ketika temantemannya memperkenalkan diri.

Ada empat siswa perempuan, termasuk dirinya. Gadis cantik yang terakhir datang itu adalah Erika, berasal dari Swedia.

Siswa perempuan yang agak gempal itu adalah Eliza, dari Spanyol. Tubuhnya memang agak gempal, tapi dia memulas parasnya yang sudah cantik dengan make-up tanpa cela dan kelihatan sangat gaya dan tidak terganggu dengan tubuhnya, yang menurut perkiraan Fay, lebih gemuk sedikit daripada dirinya. Dengan kagum Fay memerhatikan Eliza yang dengan percaya diri menggunakan tank top dan celana pendek. Dan harus diakui, sangat menarik secara keseluruhan.

Satu lagi adalah Julia, dari Amerika, yang duduk di bangku paling kanan. Anak ini mengingatkan Fay pada Dea, si serius. Atau kalau menurut istilah Lisa, ”student banget deeeh”. Belakangan Fay tahu, bahwa ketiganya baru saja lulus SMA. Jadi ia adalah yang paling muda di antara mereka.

Tiga siswa laki­laki masing­masing adalah Rocco, Jose, dan Phil. Jose berasal dari Filipina, duduk di sebelahnya. Pemuda itu berambut cepak dengan wajah chubby yang ramah, imut banget menurut Fay. Rocco yang berasal dari Italia dan berambut hitam, kelihatan paling muda di antara yang lain, duduk di ujung sebelah kiri Fay. Yang terakhir adalah Phil, berasal dari Australia, berkulit bintik­bintik dengan rambut cokelat kemerahan, seperti tanaman yang meranggas.

Setelah perkenalan singkat itu, M. Thierry membuka buku dan mulai mengajar dengan gaya yang lebih ekspresif lagi daripada Jacque.

Baru halaman pertama, kening Fay sudah berkerut. Sungguh ajaib! Apa yang tertulis sama sekali tidak menggambarkan apa yang dibaca. Dan apa yang didengar sama sekali tidak bisa ditarik mundur ke apa yang tertulis. Bahkan menebak bagian mana yang diucapkan M. Thierry pun ia tidak bisa.

Semakin lama kelas berjalan, semakin Fay merasa seperti prajurit yang sudah sibuk mengibarkan bendera putih padahal semua prajurit lain sedang duduk santai sambil minum kopi karena genderang perang ditabuhkan saja belum.

Memasuki jam 10.00, ia sudah patah arang, terutama ketika

M. Thierry mengajarkan pelafalan kata secara benar, yang luar biasa sukar dan tak masuk akal baginya. Untuk mengucapkan huruf ”u” secara benar, bibirnya harus dimonyongkan sedemikian rupa sehingga lancip ke arah bawah, sehingga huruf u itu menyisip keluar di antara gigi depannya dan meluncur dari bibirnya dengan bunyi ”u” yang lebih banyak mengandung unsur ”e” dan ”i” daripada ”u” itu sendiri. God, this is madness! Memasuki jam 11.00, masalahnya berganti ke huruf ”r”. Huruf ini dilafalkan seperti tersangkut di tenggorokan. Tidak sampai tertelan memang, lebih mirip suara kucing mendengkur. Dalam hati Fay menggerutu, kalau saja ia dulu tahu suatu hari nanti harus susah­susah menyangkutkan huruf itu di lehernya, ia tidak akan susah payah latihan mengucapkan ”r” secara penuh supaya dianggap tidak cadel ketika berumur empat tahun

dulu. Jam 11.50 disambut dengan sorak sorai sukacita oleh sekujur tubuh Fay, yang paling lega adalah otak, mulut, telinga, dan matanya. Ia pun pergi ke kafeteria bersama teman­teman barunya.

Pilihan makanan di kafeteria terbatas, tapi rasanya cukup untuk digilir selama dua minggu ke depan. Roti­roti berada di satu keranjang kayu, menunggu untuk ditunjuk dan diisi dengan berbagai pilihan daging. Ada juga salad, sup, pasta, pizza, dan yang paling mengoda adalah pie daging yang gendut menggiurkan dengan pinggiran yang menjuntai keluar dari mangkuk. Fay baru saja akan menunjuk pie tersebut ketika teringat, gimana cara nanya ini makanan dari daging apa? Dengan putus asa, akhirnya Fay memesan croissant yang diisi dengan daun selada dan cacahan daging ayam, serta satu gelas Coca­Cola. Ia mengucapkan salam perpisahan kepada pie yang angkuh tersebut sambil bersumpah akan bertanya kepada M. Thierry besok pagi sebelum kelas dimulai bagaimana menanyakan hal tersebut dalam bahasa Prancis.

Mereka bertujuh bergerombol mengisi dua meja di sudut kafeteria. Fay tidak banyak bicara. Semua perhatian siswa lelaki di kelasnya tertuju pada Erika, yang menikmati perhatian itu dengan bercerita panjang­lebar tentang dirinya dalam bahasa Inggris. Huh, nggak di Jakarta nggak di Paris, kenapa juga harus ketemu makhluk seperti ini, pikirnya agak jengkel.

Phil menyelamatkannya dari percakapan makan siang satu arah.

”Aku harus cek e­mail,” ujarnya sambil berdiri. Fay tidak menyia­nyiakan kesempatan,

”Aku juga.”

Ruang komputer ada di dekat tangga di belakang meja resepsionis. Dua belas komputer berjajar mengelilingi sebuah meja persegi yang besar di tengah ruangan. Meja itu tinggi tanpa kursi, sehingga siapa pun yang ingin menggunakan komputer harus berdiri. Mirip dengan yang Fay lihat di bandara Changi. Posisi berdiri itu mau tak mau akan membuat orang tidak terlalu betah untuk berlama­lama menggunakannya. Menurut Fay, orang yang pertama merancang dan bisa memikirkan hal ini pastinya sangat genius.

Ada satu komputer yang masih kosong. Ia benar­benar ingin menulis e­mail ke teman­temannya, tapi ada rasa enggan setelah kejadian tadi malam. Fay masih ingat rasa mengerikan yang ditimbulkan ketika telepon itu datang dan ia masih tidak habis pikir, kok bisa­bisanya Andrew tahu apa yang sedang dikerjakannya.

”Fay, kamu mau pakai komputer?” Jose datang dan bertanya sambil tersenyum ke arahnya.

”Nggak. Silakan, pakai saja,” jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya dan ia pun beranjak keluar dari ruangan. Akhirnya Fay masuk ke perpustakaan dan melihat­lihat buku yang ada di sana. Ia sangat gembira menemukan komik Asterix dan Obelix dalam versi bahasa Prancis. Yah, setidaknya ia bisa menikmati gambar­gambarnya yang kocak.

Jam 14.00 kelas kembali dimulai. Dua jam sepuluh menit hanya untuk istirahat siang. Fay ingat waktu istirahat di sekolahnya sendiri di Jakarta hanya lima belas menit. Cici pernah menyebutkan bahwa makan siang di Prancis diagungkan seperti sebuah ritual tersendiri, sehingga memakan waktu hingga dua jam lebih. Fay waktu itu bertanya, ”Maksud lo pake tidur siang, gitu?”

Cici melihatnya setengah melotot sehingga mata sipitnya tampak seperti lensa cembung yang langsing. ”Nggak. Maksud gue ’makan siang’ ya hanya makan siang. Mereka benar­benar menikmati setiap gigit makanannya. Trus, mereka juga seneng ngobrol. Pokoknya menikmati hidup banget deh.”

Dengan gaya seperti seorang analis ulung, Dea menambahkan dengan nekat, ”Mungkin maksud Cici, mereka itu makannya banyak.”

Cici menatapnya dengan frustrasi. ”Dea, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan jumlah makanan mereka. Cewek­cewek Prancis malah kalau makan dikit banget. Kalau dibandingin ama porsi makan nasi lo, udah pasti nggak ada yang bisa ngalahin lo, orang Eskimo sekalipun. Gini aja deh, Prancis itu kan terkenal sebagai pusat kuliner dunia…,” ucapannya tidak diteruskan. Fay tau kenapa. Mereka bertiga menatap Cici dengan pandangan seperti melihat UFO di siang bolong parkir di mal.

”Udah deh sekilas infonya. Percuma deh. Nanti ya gue lanjutin lagi kalau lo pada udah agak berbudaya dikit,” ucap Cici nyolot dengan putus asa.

Pintu kelas terbuka dan M. Thierry masuk bersama seorang pemuda yang menurut perkiraan Fay berumur awal dua puluhan, bertubuh atletis, berkulit kecokelatan, dengan tampang yang superkeren. Pemuda itu tersenyum tanpa ragu­ragu ke seluruh kelas, memperlihatkan sederet gigi putih sempurna yang menghiasi tampang isengnya. Rambutnya yang ikal agak gondrong membuat dia tampak sangat menarik, agak bandel tapi seksi. Fiuh! Fay sampai terbengong­bengong, tidak percaya pemuda seganteng itu bisa sekelas dengannya dan bisa dilaba setiap hari selama dua minggu ke depan. Ia langsung membayangkan foto bareng, trus dengan kampungannya menyebarkan foto itu ke geng Tiara, biar tau rasa!

”Class, c’est Reno. Merci d’accueillir chaleureusement, Reno.”

M. Thierry memperkenalkan siswa itu kemudian menyuruh setiap orang kembali berlatih memperkenalkan diri, diakhiri dengan siswa baru itu.

Dengan tegang Fay menunggu pemuda itu bersuara... cemprengkah? Falskah? Ternyata suaranya berat dan renyah. This can’t be true, ujarnya dalam hati sambil senyum­senyum sendiri membayangkan kehebohan teman­temannya dan jengkelnya Tiara, hingga ia terpaksa menunduk supaya tidak terlihat terlalu gila. Senangnya tidak berlangsung lama. Dengan jengkel, Fay juga melihat bahwa teman­teman wanitanya yang lain sudah mulai menampakkan tanda­tanda ngelaba. Bahkan Erika tanpa malu­malu mengangkat tasnya dari kursi sebelah, dan memberi signal ke Reno untuk duduk di sana. Well, itu juga berarti... di sebelah kirinya! Fay sampai hampir pingsan ketika Reno menuju tempat duduk tepat di sebelah kirinya yang ditunjuk Erika sambil tersenyum.

Reno pun duduk di sebelahnya, sekilas menoleh kepada Fay sambil tersenyum—yang Fay balas dengan senyum manis yang mungkin menurut Lisa sangat menjijikkan—kemudian sibuk membuka­buka buku pelajaran yang masih baru itu.

Sisa hari itu dijalani Fay dengan lebih riang, sambil sesekali melirik ke kiri untuk menikmati pemandangan bagus. Ia bahkan sampai lupa untuk mengutuki huruf ”u” dan ”r” dan alfabet lain yang sebenarnya masih belum bisa ia ucapkan dengan benar.

Perasaan riang itu perlahan­lahan terkikis antisipasinya terhadap aktivitas sore ini, sejalan dengan jarum jam yang terus bergeser, dan hampir tidak bersisa setelah jam menunjukkan pukul 15.00. Fay mendapati dirinya mulai gelisah dan apa yang diajarkan oleh M. Thierry hanya lewat begitu saja di depannya.

Jam 15.20, kelas selesai. Fay merasa jantungnya mulai berdebar. Dengan cepat ia membereskan barang dan berjalan keluar kelas menuju lobi. Ia bahkan sudah lupa sama sekali pada Reno.

Di lobi, Fay membunuh waktu dengan melihat berbagai macam brosur yang tertempel di papan pengumuman. Sebuah sapaan di belakangnya mengagetkannya.

”Hai. Maaf tadi aku tidak terlalu menangkap nama yang kamu sebutkan. Nama kamu siapa?”

Ia menoleh dan hampir saja terlompat melihat siapa yang menyapanya. Aih, si gondrong ganteng!

”Fay,” jawabnya riang, sesaat lupa pada jantungnya yang tadi baru saja mulai bekerja keras.

”Kamu dari Indonesia, ya?” tanya Reno ramah. ”Iya. Kamu dari mana?” tanya Fay balik.

”Asalku dari Ekuador, tapi aku sekarang tinggal di Swiss.

Kamu tinggal di kota apa? Aku cuma tahu Bali.”

”Jakarta, ibukota Indonesia. Kalau Bali itu bukan kota, tapi sebuah pulau. Kalau kamu sendiri, tinggal di kota apa di Swiss?”

”Aku tinggal di Zurich.”

Tepat saat itu, Erika datang diiringi Rocco dan Phil. Erika langsung tersenyum lebar sambil bertanya dengan logat yang terdengar kaku di telinga Fay tanpa malu­malu,

”Hai, Reno, kami baru saja mau minum kopi. Ikut yuk.” Sementara Erika berbicara, seorang pria masuk ke lobi. Seke­

tika itu juga Fay tahu bahwa pria itu penjemputnya. Pria yang oleh Andrew dipanggil Lucas itu adalah salah satu penculiknya kemarin. Dengan gugup, Fay berkata kepada Reno, ”Aku harus pergi sekarang. Bye.”

Erika bertanya, ”Oh, kamu nggak mau ikutan?”

Fay tahu itu pertanyaan basa­basi, yang sebenarnya artinya adalah, ”Oh, ada orang toh di sini, syukur deh lo nggak ikut,” karena waktu berbicara dan mengajak Reno tadi, Erika bahkan tidak sekali pun melirik ke arah Fay. Kalau saja kondisi Fay tidak seperti ini, mungkin Erika sudah ia sambit. Tapi karena ia juga sudah mulai panik, ia hanya berkata singkat, ”Tidak, terima kasih,” kemudian berjalan menuju pintu ke arah pria itu sambil melambaikan tangan, ke arah Reno tentunya.

Fay dibawa dengan mobil van putih ke pinggiran kota Paris. Dari papan penunjuk arah, Fay melihat van itu mengambil jalan menuju Dijon, tapi kemudian berbelok keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan pedesaan yang menjauhi jalan utama. Ketika akhirnya mobil itu kembali berbelok ke jalan yang lebih kecil di sisi kanan jalan, seketika itu juga Fay terpana dengan keindahan yang tampak sepanjang mata memandang. Di kiri­kanan jalan yang lebarnya hanya pas untuk dua mobil itu berjajar pohon­pohon dengan daun rimbun yang menaungi jalan itu bagaikan payung besar nan megah. Cahaya matahari menyisip di antara dedaunan, membuat jalan itu seperti lorong panjang yang dipenuhi cahaya yang sedang menari. Serasa memasuki negeri para peri.

Jalan itu berakhir persis ketika van yang dinaikinya berhenti, di depan gerbang dua pintu dari besi yang dihiasi ornamen singa di tengah setiap pintunya. Pengemudinya, Lucas, menekan tombol remote yang digenggamnya, kemudian pintu gerbang terbuka otomatis dan mobil itu pun bergerak masuk. Di depannya, Fay melihat sebuah rumah besar—tampaknya dua lantai—dengan halaman yang berbukit­bukit dan sangat luas, hingga tidak terlihat di mana ujungnya. Mobil bergerak perlahan di jalan berkerikil di halaman, hingga akhirnya berhenti di pintu masuk. Sudah ada satu mobil lagi parkir di sana, sebuah Bentley dua pintu berwarna hitam.

Lucas turun dari mobil dan membukakan pintu van untuknya. Segera Fay turun mengikuti Lucas yang berjalan menuju pintu rumah yang langsung berada di sisi jalan masuk yang berkerikil, tanpa teras.

Di dalam, ia sampai di area foyer. Ada satu tangga naik di sana dan di sebelah kirinya ada jalan masuk yang ternyata menuju ruang tamu tempat Andrew sudah menunggu. Sambil menunggu Lucas yang berbicara dengan Andrew, Fay mengamati ruang tempatnya berada. Ruang itu cukup luas dengan perabot yang lengkap. Terdapat sebuah meja dan sofa, sepasang kursi dengan meja bulat kecil, sebuah credenza dengan sebuah cermin besar terpasang di dinding di atasnya, dan satu lagi sofa seperti tempat berbaring. Ada yang aneh dengan ruangan itu, tapi Fay tidak bisa melihat apa yang menyebabkan dirinya mempunyai perasaan itu. Setelah mengamati lebih lanjut, dia kini tahu kenapa. Ruang itu tidak punya kepribadian. Tidak ada satu pun ornamen yang sifatnya pribadi di sana, baik berupa foto, pajangan, maupun lukisan. Pajangan yang ada hanyalah beberapa vas bunga yang seragam, tanpa bunga. Lukisan abstrak yang ada di dinding juga terasa kosong dengan permainan warna yang pucat. Ada lukisan orang berukuran besar di dinding, tapi itu adalah lukisan Napoleon. Ruangan ini seperti sebuah rekayasa. Bulu kuduk Fay pun berdiri dengan pikiran itu, dan ia menggelengkan kepala untuk mengusir rasa takutnya.

Lucas berjalan meninggalkan ruangan dan Andrew bergerak menuju pintu yang ada di salah satu dinding sambil menyuruh Fay mengikutinya.

Ruang yang dimasuki itu terlihat seperti ruang duduk dan ruang kerja yang menjadi satu. Satu set sofa dan lemari TV ada di tengah ruangan, sedangkan di dekat jendela ada meja kerja dengan tiga kursi yang berhadapan; satu kursi empuk menghadap ruangan dan membelakangi jendela, serta dua kursi lain menghadap jendela. Andrew sekarang berdiri di sisi di meja kerja itu, menyortir beberapa surat.

Fay hanya berdiri di tengah ruangan, menunggu Andrew mengatakan sesuatu atau menyuruhnya duduk. Ia memperhatikan ruangan itu dan cukup lega ketika tidak menemukan perasaan yang sama seperti di ruang sebelumnya. Ada sebuah lukisan kontemporer, bergambar pemandangan di sebuah desa nelayan, dengan warna yang sangat cerah dan menampilkan karakter yang kuat. Di rak di lemari TV berjajar beberapa pajangan dan tempat lilin modern yang tampak mewah. Di sudut meja kerja ada bola dunia dari logam, dan ada beberapa pemberat kertas dengan desain yang unik. Ada juga satu lemari besar yang menutupi seluruh dinding di sebelah kanannya.

Andrew beranjak dari sisi meja kerja setelah selesai melihat surat terakhir. Perlahan dia berjalan ke arah Fay sambil menggulung lengan kemejanya. Saat ini pria itu memakai baju santai, kemeja lengan panjang warna cokelat muda bermotif kotak­kotak dan celana panjang katun warna cokelat tua. Kacamata yang tadi bertengger di kepala sudah dilepas, tergeletak di meja kerja. Fay masih tetap merasa pria ini adalah pria paling tampan yang pernah ia lihat seumur hidupnya, kombinasi antara Pierce Brosnan dan Brad Pitt.

Ketika Andrew sampai di depannya, mendadak Fay melihat sekelebat tangan pria itu melayang ke arahnya, disertai bunyi yang keras. Plak!

Yang ia ingat berikutnya adalah ia sudah tersungkur di lantai dengan pandangan berkunang­kunang dan dengan pipi yang rasanya panas berdenyut­denyut. Ranselnya ikut terjatuh di sampingnya. Belum sempat ia berpikir, Andrew sudah membungkuk, mencengkeram lengannya dan memaksanya berdiri. Pria itu bergerak ke arah meja kerja, mengambil kursi yang ada di sana, sambil tangannya tetap mencengkeram lengan Fay, sehingga ia setengah terseret mengikutinya.

Aduh, aduh, aduh, cengkeraman Andrew begitu kuat, serasa meremukkan lengan Fay. Air matanya tanpa diperintah sudah mengalir perlahan dari sudut mata, hasil dari menahan sakit, yang pastinya sudah gagal. Andrew memindahkan kursi itu ke depan TV, kemudian mendudukkannya di kursi itu dan melepaskan tangannya. Fay menarik napas lega sambil memegang dan mengelus­elus lengannya yang masih berdenyut­denyut, mengalahkan panas di pipinya.

Sekarang Andrew berdiri tepat di depannya.

Aduh, mati! Fay bisa merasakan jantungnya langsung menyesuaikan diri dengan berdebar kencang. Ia tidak punya keberanian sama sekali untuk menengadah dan melihat apa yang tergambar di wajah pria itu. Fay mengatupkan kedua tangannya yang sekarang sangat dingin.

Tangan Andrew bergerak sekali lagi dan Fay menahan napas sambil menutup mata. Sekujur badannya kaku, menanti apa yang akan terjadi.

”Aaarghh,” Fay pun berteriak ketika mendadak rambutnya disentakkan ke belakang dengan keras sehingga kepalanya menengadah.

Ketika ia membuka mata, yang terlihat adalah sepasang mata biru yang kini begitu dekat dengan wajahnya dengan sorot sedingin es yang membuatnya menggigil.

”Ini harga yang harus kamu bayar atas perbuatan kamu semalam. Dan saya sedang berbaik hati.”

Andrew melepaskan cengkeraman pada rambut Fay dan membalikkan tubuh, mengambil remote dan menyalakan TV. Dia berjalan ke belakang Fay. Mendadak Fay merasakan kedua tangan pria itu mendarat di pundaknya dan menariknya ke belakang sehingga ia menyandar ke sandaran kursi. Kedua tangan pria itu tidak bergerak, masih diletakkan di kedua pundaknya.

”Sekarang, perhatikan gambar yang terputar itu baik­baik.

Jangan menutup mata kamu, walaupun hanya sedetik.”

Fay menatap TV tanpa berkedip. Terlihat seorang pria duduk di kursi dengan kedua tangan diikat di penyangga tangan di kedua sisi badannya. Kedua kaki pria itu juga diikat ke kaki kursi. Gambar itu kemudian mengecil seiring dengan kamera yang bergerak menjauh, dan menampakkan gambar ruang yang lebih luas. Andrew ada di depan pria itu, berdiri memegang senjata di tangan kirinya. Andrew mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Fay, dan pria yang diikat menggeleng. Andrew mengangkat senjatanya, mengarahkannya ke pria itu.

Fay merasa degup jantungnya semakin keras dan ia merasa mual. Ia memalingkan muka dan menutup mata, tidak sanggup menyaksikan apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Kedua tangan Andrew meninggalkan pundaknya dan serta­merta kepala Fay kembali tersentak ke belakang.

”Aaaargh,” Fay kembali berteriak kesakitan. ”Lihat!” kata Andrew dengan suara keras.

Ketika Fay membuka mata, yang pertama ia lihat adalah sebilah pisau yang diayunkan di depan wajahnya oleh Andrew. Kemudian ia merasa logam dingin itu ditempelkan di lehernya. Fay pun kembali menatap TV dengan perasaan sangat takut hingga jantungnya seolah mengerut.

Di TV, terlihat Andrew menembakkan senjata diiringi bunyi letusan kencang, disertai raungan kesakitan pria yang diikat di kursi. Darah mengalir keluar dari lutut pria itu dan segera membanjiri lantai.

”TIDAK!” Fay berteriak, air matanya mengalir keluar disertai isakan yang tidak terkontrol. Dadanya sesak dan napasnya memburu, tidak ingin membayangkan rasa sakit yang dirasakan pria itu, tapi tidak bisa melepaskannya dari benaknya. Suara pria itu terus terdengar, meraung­raung kesakitan. Ia ingin kembali menutup mata tapi lagi­lagi sentakan di kepala memaksanya membuka mata. Di TV, terlihat Andrew berjalan mengitari pria itu, dan berhenti tepat di belakangnya. Senjatanya sudah tidak ada di tangannya dan sekarang terlihat ada kilatan logam di tangannya. Pisau itu! Persis sama dengan yang tadi diayunkan di depannya. Fay kembali memalingkan wajah dan menutup mata.

Kepalanya langsung disentakkan kembali dan ia bisa merasa dinginnya logam yang menekan lehernya lebih keras.

”Buka matamu!” Andrew kembali memerintahnya dengan keras.

”Saya mohon, jangan,” Fay pun memohon sambil terisak. ”Tolong jangan, saya tidak bisa melihatnya.”

Entah berapa kali ia mengulang­ulang kalimat itu seperti meracau, hingga akhirnya Andrew melepaskan rambutnya dan menurunkan pisau. Kemudian dia bergerak dan berdiri di depan Fay, menghalangi pandangan Fay dari TV.

Tepat saat itu, terdengar lolongan kesakitan pria yang ada di TV, kemudian... hening.

Fay menutup mukanya dengan kedua tangan. Tangisnya makin kencang tanpa bisa dihentikan. Kejadian yang baru ia saksikan begitu mengerikan. Apakah yang tadi terjadi? Mengapa begitu hening? Apakah pria itu mati? Atau apakah film itu habis? Kenapa pria itu begitu kesakitan? Fay tidak tahu jawabannya dan ia tidak mau tahu. Kenapa Andrew begitu jahat? Dan kenapa ini semua terjadi pada dirinya? Kenapa terjadi pada dirinya, Fay, yang hidupnya selama ini biasa­biasa saja? Pertanyaan yang bertubi­tubi tercampur aduk dan tidak pernah terucap, tenggelam di antara isak tangisnya.

”Lihat saya, Fay,” suara Andrew terdengar di antara isaknya.

Fay berusaha keras menghentikan tangisnya, menghapus air matanya, mengatur napasnya, dan yang terberat dari semua, memerintahkan dirinya memberanikan diri untuk melihat ke arah Andrew. Akhirnya ia pun menengadah, setelah sebelumnya menarik napas panjang, berusaha supaya isaknya setidaknya berhenti sejenak.

Matanya langsung beradu dengan sepasang mata biru yang tajam dan menyayat itu. Rasa dingin melesak ke dalam tubuhnya, merayapi jengkal demi jengkal kulitnya dan menggigit masuk hingga ke tulang.

Andrew berkata, ”Memberikan tekanan psikologis disertai kontak fisik yang menimbulkan rasa sakit hanyalah sebuah permainan bagi saya. Dan saya yakin itu bukan sesuatu yang sanggup kamu terima. Jadi, untuk terakhir kalinya, jangan membuat saya kesal. Mengerti?”

Fay bahkan tidak bisa mengangguk. Kengeriannya tumbuh semakin besar dan ia tidak berani untuk mencerna sepenuhnya perkataan Andrew.

”Sekarang, saya akan memberi kamu waktu untuk membenahi diri. Di bawah tangga di foyer ada kamar mandi. Sepuluh menit lagi saya harap kamu sudah kembali ke sini.”

Fay pun segera beranjak. Hampir ia jatuh terduduk lagi karena lututnya masih lemas, tapi ia memaksakan diri untuk segera keluar dari ruangan ini, secepat mungkin menjauhkan diri dari pria itu. Kengerian yang ia rasakan hampir membuatnya gila.

Begitu kakinya menginjak kamar mandi, air matanya kembali keluar dan Fay kembali menangis tersedu­sedan. Akhirnya ia hanya menatap kaca sambil sesekali terisak. Matanya sembap, rambutnya tidak keruan, dan pipi kanannya merah, masih berdenyut­denyut. Sedikit lega Fay melihat lehernya masih utuh. Berarti logam tadi sama sekali tidak menggoresnya. Padahal rasanya sakit sekali, gimana kalau tergores betulan? pikirnya dengan kelegaan yang mendadak raib.

Fay menutup matanya, berdiri tegak, menarik napas panjang dan membuangnya, berkali­kali seperti sedang melakukan pendinginan sehabis pelajaran olahraga. Tidak berhasil. Dadanya masih sesak dengan degup yang juga masih kencang, tangannya masih dingin, dan lututnya masih lemas. Setengah frustrasi, ia membuka mata.

Akhirnya, Fay mencuci muka dan membetulkan ikatan rambutnya. Ia melihat jam dan menyadari bahwa waktunya hanya dua menit lagi. Kakinya terasa sangat berat ketika dilangkahkan kembali ke ruang kerja itu.

Andrew baru saja hendak sekilas melirik Bvlgari­nya ketika pintu terbuka dan Fay melangkah masuk. Gadis itu tampaknya sudah berhasil menguasai dirinya. Good!

Andrew memperhatikan langkah demi langkah ketika Fay berjalan mendekat. Kepala gadis itu sedikit menunduk ketika berjalan ke arahnya, tapi ketika tepat berhadapan dengannya tanpa disangka­sangka dia mengangkat kepala dan memandangnya.

Unbelievable! Bahkan setelah apa yang terjadi tadi, gadis ini masih punya nyali untuk menatapnya! Sebersit kagum hinggap di benaknya. Andrew menatap Fay yang masih memandangnya dengan sorot mata bertanya. Setidaknya kali ini ada pancaran ketakutan dan keraguan di sorot mata gadis ini, dan itu membuatnya puas.

”I  see  that  you’ve  managed  to  pull  yourself  together.  Very  good. Sebentar lagi, kita akan melakukan latihan fisik. Di atas, pintu pertama di sebelah kanan, ada sebuah kamar yang akan menjadi kamar kamu selama kamu di sini. Ganti baju kamu dengan salah satu baju olahraga yang tersedia di lemari pakaian. Juga, ganti jam kamu dengan yang ada di atas meja. Ada pertanyaan?”

Fay menggeleng.

”Sepuluh menit. Saya tunggu kamu di luar.”

Fay pun bergegas meninggalkan ruangan sambil menyambar tasnya yang masih tergeletak di lantai. Kamar yang ditunjukkan Andrew tidak besar, kira­kira sama ukurannya dengan kamarnya di rumah Jacque dan Celine. Pandangan Fay langsung terarah ke meja, di sana tergeletak sebuah jam tangan warna hitam dari karet. Jam tangan sport Adidas, digital. Wow, dengan takjub Fay memegangnya. Andai kata boleh dibawa pulang ke Jakarta, pikirnya setengah berharap. Ia pun langsung melepas jam Swatch kesayangannya yang langsung jadi kelihatan dekil dan kumuh.

Satu pintu yang ada di sebelah lemari ternyata menuju kamar mandi. Ukurannya kecil, tapi lengkap dengan bathtub dan wastafel.

Fay menghampiri lemari dua pintu yang ada di sebelahnya dan lebih terkesima lagi ketika membukanya. Ada lima set baju olahraga tergantung di lemari dengan warna yang beragam, semuanya warna pastel. Di dasar lemari, tersusun dua pasang sepatu olahraga berwarna putih. Fay meraih satu set gantungan dan memerhatikan apa yang tergantung di sana. Di setiap gantungan terdapat satu buah kaus olahraga, celana training, jaket olahraga, dan kaus kaki. Dengan takjub dia melihat bahwa semuanya mempunyai logo Adidas. Entah berapa nilai semua barang ini, yang jelas Fay tidak pernah mimpi bisa mempunyai barang­barang sebagus ini.

Buru­buru ia berganti baju dan segera mengagumi tidak saja ketepatan ukuran baju itu dengan tubuhnya, tapi juga dengan perubahan penampilannya yang menurutnya jadi superkeren. Lama ia mematut­matut diri di kaca besar yang ada di dekat pintu kamar mandi. Semakin lama, perasaannya semakin riang dan puas. Sepatu itu pun pas dan bersahabat dengan kakinya.

Tidak lupa ia menyisir kembali rambutnya dan kembali berputar­putar dengan norak di depan kaca, hingga ia tersadar dan ooops, sudah sepuluh menit.

Fay langsung terbang ke tangga, turun meloncati dua anak tangga sekaligus, dan hampir menabrak pintu rumah ketika tangannya kalah cepat memutar gagang dari tubuhnya yang masih terlontar ke depan. Di luar, Andrew sudah menunggu dengan tak sabar. Pakaiannya sudah berganti dengan baju olahraga dan celana training warna abu­abu gelap.

”Kamu terlambat satu menit. Kalau saya bilang sepuluh menit, berarti sepuluh menit, tidak lebih satu detik pun. Sekarang kita akan berlari di jalan setapak yang mengelilingi rumah. Ikuti saya.”

Andrew berlari menuju samping rumah dan mengambil jalan setapak yang ada di antara pepohonan. Fay mengikuti dengan semangat penuh. Semangat itu tinggal separuh setelah lima menit, dan menukik turun menjadi seperempat dua menit setelah itu. Andrew sudah tidak terlihat karena jalan setapak itu berbelok ke kanan di depan. Dengan napas tersengal­sengal, Fay berhenti, membungkukkan tubuh sambil berusaha mengatur napasnya. Kemudian ia berjalan pelan sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.

Sialan, ia benar­benar benci lari. Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang paling ia benci di sekolah, terutama karena pemanasannya selalu lari, dan sampai detik ini pun ia tidak pernah terbiasa dengan itu. Fay pun kembali mencoba lari dengan pelan sambil berbelok.

Di depannya, Andrew berhenti di tengah jalan setapak, menghadapnya sambil bertolak pinggang. Tanpa melihat ekspresinya pun Fay bisa tahu maksudnya, he’s not happy at all.

Aduh, nasib. Ditatap oleh Andrew dengan pandangan seperti itu, mendadak Fay kangen dengan Pak Basuki, guru olahraga yang dibencinya itu.

Andrew menggeleng­gelengkan kepala dan akhirnya berlari di samping Fay tanpa berkata­kata. Entah berapa menit sudah berlalu, Fay merasa kakinya sudah lunglai tanpa tulang. Akhirnya ia kembali berhenti sambil membungkukkan badan dan memegang paha dan lututnya. Lewat ekor matanya, Fay bisa melihat Andrew ikut berhenti sambil menatapnya takjub. Fay pun melanjutkan perjuangannya karena gengsinya sudah berteriak­teriak, merasa terhina. Dan tidak lama, ia pun berhenti kembali. Siklus itu berulang berkali­kali, hingga akhirnya mereka sampai di sisi rumah yang berlawanan. Ketika akhirnya Andrew berhenti di depan pintu, Fay mengembuskan napas lega.

Andrew lama menatapnya sebelum akhirnya berkata­kata. ”Saya tidak pernah melihat ada orang yang melakukan apa

yang baru saja kamu kerjakan dan masih punya keberanian untuk menyebut itu ’lari’.”

Kalau saja yang berbicara bukan Andrew, mungkin Fay akan tertawa terguling­guling tanpa perasaan bersalah. Tapi kali ini ia hanya diam, sambil berusaha mengatur napas.

Andrew melanjutkan, ”Kita akan melakukannya sekali lagi.”

What?? Fay menatap Andrew dengan tatapan tidak percaya.

Keterlaluan! Bisa mati berdiri kalau begini caranya.

Andrew melihat tatapan Fay dan tidak terpengaruh sedikit pun.

”Ayo.”

Fay mengikuti dengan berat hati.

Ketika masuk ke jalan setapak, Andrew memberi jalan Fay untuk lewat terlebih dahulu. Fay pun melewatinya dengan kepala tegak, ditopang rasa gengsinya yang muncul tanpa peringatan.

Seperti yang ditebak, gengsinya hanya tahan tidak lebih dari lima menit dan akhirnya ia menyerah. Sekilas Fay menyempatkan diri untuk melihat ke belakang untuk sekadar tahu di mana Andrew, dan seketika itu juga Fay terpaku.

Andrew masih berlari, kira­kira dua puluh meter di belakangnya. Di tangannya terdapat ranting pohon yang panjangnya mungkin satu meter. Melihat Fay berhenti, dia mengayunkan ranting itu di depan badannya.

Mati gue! Fay pun dengan panik kembali berlari. Dan semakin panik ketika melihat ke belakang dan menyadari bahwa jarak pria itu semakin dekat.

Akhirnya apa yang ditakutkan itu terjadi. Ranting itu melibas paha belakang Fay tanpa ampun, dan seketika itu ada rasa perih yang panasnya minta ampun.

Mungkin yang diperlukan kakinya memang rasa sakit itu, karena setelah itu Fay berlari kencang hingga rasanya kakinya sudah hilang. Ketika di depannya terlihat sebentuk atap rumah muncul di antara pepohonan, rasanya ada lega yang tidak bisa terungkapkan.

Lega itu hanya dirasakan sekitar dua puluh detik. Karena ketika Andrew muncul dari balik pepohonan sambil terus mengibaskan ranting itu tanpa mengurangi kecepatannya, Fay langsung tahu bahwa penderitaannya belum berakhir. Ia pun terpaksa mengulangi putaran itu, kali ini terkena sabetan ranting dua kali.

Ketika akhirnya sampai kembali di depan rumah, Fay langsung ambruk ke tanah dengan napas tersengal­sengal. Belum pernah rasanya sesulit ini untuk menarik napas, seolah ada tangan­tangan halus yang menahan setiap helai udara yang diisap paru­parunya. Fay terduduk di rumput di sisi jalan masuk yang berbatu, meluruskan kedua kakinya ke depan. Kaki yang saat ini diyakininya sudah tidak terhubung dengan tubuhnya.

Dengan lega ia melihat Andrew yang berjalan ke arahnya tanpa ranting sialan itu di tangan. Sampai di depan Fay yang masih duduk di rumput, Andrew berkata, ”Waktu terbaikmu tiga puluh lima menit. Putaran pertama yang merupakan rekor terburuk kamu, memakan waktu empat puluh lima menit dan saya harap tidak akan terulang lagi selama dua minggu ini.

”Selama satu minggu ini, fokus latihan kamu adalah stamina. Target kamu di akhir minggu adalah dua puluh menit dengan kecepatan konstan. Untuk minggu depan, fokusnya adalah kecepatan tempuh.

”Sekarang, kamu bisa membersihkan diri dan bersiap­siap untuk makan malam yang disajikan pukul tujuh tepat, berarti tiga puluh lima menit dari sekarang.” Andrew pun melangkah ke arah rumah, diikuti dengan susah payah oleh Fay, yang berjalan seperti robot pincang.

Setelah sekujur tubuhnya diguyur air hangat, Fay merasa lebih baik. Ada beberapa garis merah di belakang kakinya, tapi tidak berdarah. Turun ke ruang makan lebih cepat lima menit, ia melihat seorang pelayan yang sedang menyiapkan meja untuk makan malam. Meja makan itu berbentuk persegi panjang. Hanya ada dua kursi, berhadap­hadapan di sisi yang panjang. Tidak ada lauk yang diletakkan di meja, hanya ada peralatan makan yang menurut Fay tidak lengkap. Hanya ada satu sendok dan satu garpu disusun di sekitar piring. Tidak ada pisau dan sendok­garpu bermacam ukuran sebagaimana informasi yang ia terima dari Cici minggu lalu.

Tepat pukul 19.00, Andrew muncul di ruang makan dan langsung duduk. Fay mengikuti.

Pelayan masuk dan meletakkan piring sup di hadapan masing­masing. Sup itu kental berwarna putih. Itu sup apa, Fay tidak tahu, yang jelas rasanya enak dan kehangatannya diterima dengan sukacita oleh perutnya. Mereka makan tanpa berkata­kata.

Ketika pelayan mengangkat mangkuk mereka, Andrew bertanya, ”Bagaimana kakimu?”

”Oke,” jawab Fay garing, terlalu malas untuk memikirkan kalimat yang lebih layak. Ia agak menyesal ketika melihat Andrew menatapnya sambil mengangkat alis.

”Apa maksudmu dengan ’oke’? Apakah itu berarti kakimu masih sakit tapi sudah lebih baik, atau itu berarti kakimu tidak sakit sama sekali dan kamu berharap besok lebih sakit lagi?”

”Yang pertama,” Fay menjawab salah tingkah. Rasanya ia melihat sorot jenaka sedikit di mata pria itu, tapi yah, dengan pengalaman singkatnya bersama Andrew hari ini, rasanya itu terlalu mustahil.

Pelayan masuk kembali, kali ini mengantarkan salad. Fay agak bingung, karena sepengetahuannya, salad dan sup samasama termasuk kategori appetizer atau makanan pembuka dan biasanya disajikan salah satu saja. Bingungnya tidak berlangsung lama dengan penjelasan Andrew selanjutnya.

”Makan malam kamu akan dibatasi mulai saat ini. Supaya bisa memainkan peran itu, kamu harus mengurangi berat badan.”

Fay hanya mengangguk, walaupun agak­agak terhina. Makan malamnya sebenarnya tidak pernah terlalu banyak, apalagi ia sering kali hanya sendirian di rumah. Cemilan adalah makanan utamanya.

”Jadi, tidak ada junk food, tidak ada soda, dan tidak ada makanan ringan di antara makanan utama,” Andrew menambahkan.

Kali ini Fay melihat Andrew dengan tatapan horor. Celaka! Gila aja kalo nggak bisa ngemil. Apalagi roti Prancis enak­enak begitu. Air liurnya langsung terbit mengingat roti­roti sarapan yang diberikan Celine, croissant di kafe yang kemarin dilewatinya, dan roti­roti yang tertumpuk manis di kafeteria sekolahnya. Belum lagi cokelat dan mi instan yang ada di kopernya. Ini juga ia belum pergi ke supermarket untuk membeli biskuitbiskuit keluaran Prancis, Swiss, dan Belgia yang kata Cici, ”Mmmm,  kalau  digigit,  yang  lumer  bukan  cuma  cokelat  atau  krim di dalamnya, tapi rasanya seluruh badan lo ikut lumer.”

Tatapan tajam Andrew mungkin memang bisa menembus pikirannya, karena pria itu langsung menambahkan, ”Fay, ini tidak main­main. Hal terakhir yang kamu inginkan adalah seseorang yang mencurigai kamu, karena risikonya adalah nyawa kamu dan mungkin nyawa orang lain. Saya akan melakukan semua cara untuk memastikan bahwa kamu melakukan apa yang sudah diperintahkan.”

Fay merasa bulu kuduknya berdiri dan ia langsung menunduk, sibuk mengaduk­aduk salad­nya. Ketika salad itu mampir ke mulutnya dan rasanya benar­benar hambar, Fay menyalahkan ucapan Andrew yang mengintimidasi tadi sebagai penyebabnya.

Seusai makan, Andrew mengambil sebuah kantong kertas dan meletakkan isinya di meja ruang tamu. Ada dua botol berisi pil, dan satu pak makanan instan dalam bungkusan.

”Dua botol ini berisi vitamin. Yang satu dimakan di pagi hari begitu kamu bangun tidur, dan yang satu lagi dimakan malam hari sebelum tidur, berarti mulai malam ini.”

Andrew menunjuk bungkusan makanan, ”Ini makan siang kamu. Sebagai tambahan, kamu hanya boleh makan salad atau buah, polos. Itu berarti tanpa saus salad, keju, susu, es krim, gula, bahkan daging. Hanya ikan yang boleh kamu tambahkan ke salad.”

Suara mobil datang memutuskan ucapan Andrew.

”Selamat malam, Fay. Sampai jumpa besok,” ujar Andrew singkat di pintu rumah.

Ketika mobil itu sudah memasuki jalan aspal selewat gerbang depan, tidak sampai dua menit kemudian, Fay sudah tertidur pulas. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊