menu

Eiffel, Tolong! Bab 03: Bertemu Tuhan

Mode Malam
Bertemu Tuhan

FAY sudah berkali­kali mengubah posisi duduknya. Kadang punggungnya diluruskan, kadang ia membungkuk, dan kadang ia menyandarkan tubuh ke kursi dengan posisi aneh karena tangannya masih terikat di punggung. Kakinya kadang diletakkan di lantai, kadang diletakkan di penyangga kaki yang melintang di bagian bawah kursi.

Ia tidak tahu sudah berapa lama ada di tempat ini. Saat ini ia merasa musuhnya adalah sang waktu. Bukan karena dia cepat berlalu atau terlalu lambat berdetak, tapi karena dia kali ini memilih untuk tidak hadir. Ingatan bahwa ada jam yang masih melingkar manis di tangannya malah membuatnya makin kesal karena benda itu tidak bisa berteriak memberitahunya sudah berapa lama ia di situ.

Terdengar suara kunci diputar dari luar dan pintu dibuka. Suara langkah kaki dengan bunyi yang susul­menyusul berjalan mendekat.

Fay menahan napas. Jantungnya kembali berdebar kencang. Mendadak ia merasa angin segar menyergap hidungnya dan masuk ke paru­parunya, memberi lega sesaat. Kantong yang menyelubungi kepalanya telah diangkat. Segera penutup matanya juga dibuka.

Silau! Ia harus mengerjap­ngerjapkan matanya beberapa kali untuk terbiasa dengan cahaya ruangan. Fay segera menangkap siluet satu pria di depannya, dan satu pria lain yang berdiri di sampingnya.

Segera setelah matanya terbiasa dengan penerangan di ruang itu, ia bisa melihat sosok yang ada di depannya dengan jelas. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hampir sesiku. Rambutnya sangat pirang, berusia pertengahan empat puluhan, dan wajahnya sangat tampan, seperti bayangan awal Fay tentang pemilik limusin hitam panjang itu. Kacamata hitam bernuansa cokelat bergaya sporty tidak dipakai melainkan dinaikkan ke kepalanya, membuatnya makin kelihatan keren. Fay juga melihat bahwa mata pria ini sangat biru, sorot yang tajam keluar dari sepasang mata yang begitu dalam dan menenangkan.

”Halo, Fay.”

Fay kaget mendengar pria itu menyebut namanya. Saat itu juga ia baru ingat akan ranselnya, yang sudah tidak ada pada dirinya. Mungkin itu sebabnya pria ini bisa tahu namanya, sudah pasti dari segala macam dokumen yang ada di dalam tasnya.

Pria itu melanjutkan dalam bahasa Inggris, ”Sejauh ini kamu sudah bersikap kooperatif. Kalau kamu bisa mempertahankan sikap itu, tidak ada yang perlu kamu kuatirkan.”

Fay hanya bisa mengangguk patuh.

”Pria ini akan mengantarkan kamu ke tujuan berikut.”

Si pirang di depannya itu pun berjalan keluar. Pria yang ditunjuk olehnya tadi membuka ikatan tangannya dan menyuruh Fay mengikutinya.

Pintu dibuka dan Fay melihat suatu lorong yang panjang, dengan pipa­pipa besar di sisi dinding di seberangnya dan pipapipa yang lebih kecil di atasnya. Lantainya dari semen dan dindingnya hanya seperti bata diplester kasar dan dicat putih. Pola kotak­kotak bata yang disusun bersilangan masih terlihat dengan sangat jelas. Penerangan yang pas­pasan dari lampulampu di sepanjang dinding membuat lorong ini begitu muram. Mereka menyusuri lorong itu dengan langkah kaki yang menggema dan berhenti di depan satu pintu.

Ketika dibuka, suasana langsung berubah. Fay merasa seperti berada di ruang kantor dengan cahaya yang terang benderang. Ada ruang penerima tamu, lengkap dengan seorang wanita cantik yang menjadi resepsionis, dan satu pintu lain di belakangnya. Pria yang mengantarnya mengatakan sesuatu dalam bahasa Prancis kepada wanita itu, kemudian wanita itu mempersilakan mereka masuk ke ruangan lain melalui pintu itu.

Ruangan ini berbentuk lingkaran dengan pintu­pintu di sekelilingnya. Warna putih bersih ruang itu mengingatkan Fay pada ruang­ruang di rumah sakit. Tiga orang, dua pria dan satu wanita, lengkap dengan jas dokter ada di situ. Salah satu pintu terbuka dan Fay bisa melihat meja, kursi, dan tempat tidur seperti yang biasa ada di ruang praktik dokter. Satu pria yang tampak sangat senior datang menghampiri.

”Inikah orangnya?” tanya pria dokter itu, yang dijawab dengan anggukan oleh pengantarnya.

”Oke, saya ambil alih dari sini,” ucapnya lagi. Pria pengantarnya pun berbalik keluar.

Dokter itu berkata ramah, ”Kami akan melakukan beberapa pemeriksaan medis. Tidak akan memakan waktu lama, santai saja.”

Orang gila kali, pikir Fay. Gue disuruh santai setelah diculik sama makhluk-makhluk aneh itu dan mau diperiksa pula oleh segerombolan dokter. Ia berpikir, jangan­jangan dirinya mau dijadikan kelinci percobaan suatu obat atau virus, seperti film yang pernah ia tonton. Ia bergidik dan langsung membuang pikiran itu jauh­jauh.

Setelah berganti baju dengan baju periksa yang seperti kimono, mulailah Fay menjalani serangkaian tes yang menurutnya persis seperti check up di Rumah Sakit MMC yang pernah ia jalani sekitar dua tahun lalu. Tes urin, tes darah, rontgen, tensi, berat badan, pemeriksaan mata, telinga, paru­paru, dan sebagainya. Ia keluar masuk ke ruangan­ruangan lebih kecil yang ada di sekeliling ruangan itu yang ternyata memang berisi berbagai alat pemeriksaan.

Yang sempat membuatnya malu adalah ketika dokter pria yang lebih muda melakukan pemeriksaan ketebalan lemak di perut, pinggang, punggung, lengan, dan paha, menggunakan alat semacam penggaris tukang kayu. Fay memang tidak tergolong sangat gemuk, tapi beratnya yang sedikit di atas ratarata itu terlihat dari tumpukan­tumpukan lemak di beberapa tempat. Alat itu seperti penggaris besi biasa, hanya saja di penggaris tersebut terdapat dua batang besi yang bisa digesergeser untuk menjepit kelebihan lemak, sehingga tebalnya langsung terukur. Ketika penggaris itu beraksi dan berhasil dengan sukses mencengkeram lemak di pinggangnya, Fay baru sadar bahwa selain sangat muda, dokter ini juga tampan sekali dengan tampang mirip penyanyi latin yang biasa ia lihat di TV. Aduuuh,  mati,  malunya...  mending  ditelan  bumi,  kali, keluh Fay dalam hati dengan pipi yang terasa panas.

Ketika rangkaian tes itu selesai dan ia sudah berganti baju, Fay dibawa kembali ke ruang penerimaan tamu. Pengantarnya menunggunya di sana dan membawanya kembali ke ruangan tempat ia tadi duduk terikat. Pria itu menguncinya di dalam tanpa berkata apa­apa. Kali ini tanpa mengikat tangannya dan tanpa menutup matanya.

Fay melihat ke jam tangannya, ternyata baru jam 14.00.

Andrew memperhatikan gadis itu dari ruang sebelah. Sekarang setelah tangannya tidak diikat dan matanya tidak ditutup, dia tidak terlihat gelisah seperti sebelumnya.

Ia ingat kesan pertama yang ditangkap ketika tadi bertemu dengan Fay. Ketika penutup matanya dibuka dan ia melihat pancaran mata gadis itu, ia agak kaget karena tidak melihat ketakutan sebanyak yang seharusnya ada di sana. Yang lebih banyak ia lihat di sana adalah keingintahuan.

Sekarang pun gadis itu melakukan hal yang tidak terbayangkan oleh Andrew sebelumnya. Gadis itu duduk sambil sesekali menggoyangkan kaki, matanya dengan teliti mengamati ruangan tempatnya berada. Kemudian dia berdiri dan mulai mengitari ruangan. Sampai di depan kaca, Fay menatapnya lama. Mendadak dia menelungkupkan tangannya dan menempelkan wajah di kaca, seolah tahu ada sesuatu di baliknya.

Andrew kaget dengan gerakan yang tiba­tiba itu, tapi kemudian tersenyum menyaksikannya.

Gadis itu kembali mengitari ruangan dengan perlahan, pandangannya menyapu dinding, lantai, bahkan langit­langit. Kemudian dia duduk, bersandar ke kursi, bersedekap, dan duduk diam dengan mata menerawang.

Gadis ini berbeda, pikir Andrew. Ia cukup yakin bahwa gadis ini bisa melakukan apa yang ia suruh. Tapi ia juga perlu memastikan bahwa keingintahuan gadis ini tidak akan menggagalkan semuanya. Curiosity can indeed kill.

Fay sudah tiga puluh menit ada di ruang itu dan sedang duduk di kursi ketika mendengar suara langkah kaki mendekat dan suara kunci diputar. Fay tidak yakin ia harus panik atau senang dengan fakta bahwa sebentar lagi akan ada sosok yang muncul. Jantungnya mulai berdebar.

Pintu dibuka.

Yang datang ternyata pria yang mengantarnya tadi. Pria itu hanya berdiri di samping pintu yang kini terbuka lebar, dan memberi kode pada Fay untuk mengikutinya. Fay pun beranjak dari tempatnya.

Melewati lorong yang masih juga muram, tidak jauh dari pintu masuk ke ruang pemeriksaan tadi, terdapat satu pintu lagi dengan posisi yang agak menjorok ke belakang. Setelah pintu dibuka, mereka masuk ke area yang terlihat seperti foyer. Di depannya langsung terlihat sebuah pintu yang besar dan tinggi. Pria itu membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.

Ketika masuk, Fay dihadapkan ke satu ruangan yang dalam benaknya terlihat seperti ruang duduk di kastil atau rumah bangsawan. Ruangan itu besar sekali dengan langit­langit yang tinggi dan sangat hangat serta nyaman. Di tengah­tengah ruangan terdapat sofa­sofa besar berwarna cokelat yang empuk dan lemari menutupi seluruh dinding, penuh buku setebal bantal yang entah apa isinya. Fay baru sadar, sampai saat ini ia belum melihat jendela, baik di semua ruangan yang ia masuki maupun di lorong yang ia lewati.

Pintu ditutup di belakangnya dan ia ditinggal sendirian. Kakinya melangkah dan serasa tenggelam dalam karpet yang sangat tebal.

”Please, sit down.”

Kaget, Fay mencari asal suara itu. Ternyata ia tidak sendirian. Di salah satu sudut ruangan ada satu meja yang tampak seperti meja kerja, dengan kursi besar model direktur di belakangnya. Si pirang bangkit dari kursi dan menunjuk ke arah sofa.

Fay pun duduk di sofa yang panjang dan merasa agak aneh karena ia sudah tidak setakut sebelumnya, walaupun tangannya masih dingin. Mungkin karena sampai detik ini belum ada tanda­tanda bahwa ia akan diperlakukan tidak baik, selain fakta bahwa ia telah diculik.

Si pirang duduk di sofa yang sama. Di atas meja di depan mereka ada sebuah teko, dua set cangkir dengan sendok kecil, dan satu gelas yang berisi cairan kental berwarna keemasan. Pria itu menuangkan teh dari teko ke kedua cangkir dan aroma camomile merebak di ruangan itu. Dia menuangkan cairan keemasan itu ke cangkirnya, kemudian bertanya ke Fay, ”Honey?”

Fay gelagapan dan hanya mengangguk. Satu cangkir diberikan ke Fay, kemudian dia mengambil cangkir untuk dirinya.

”Please,” katanya santai, kemudian menghirup teh camomilenya.

”My name is Andrew,” ujarnya akhirnya memperkenalkan diri. Dia melanjutkan dalam bahasa Inggris. ”Kamu ada di sini karena saya ingin memintamu melakukan sesuatu untuk saya. Sayangnya, hal ini bukan sesuatu yang bisa saya minta lewat perkenalan biasa.”

Dia berhenti sejenak, kemudian meneruskan, ”Saya ingin kamu berpura­pura menjadi orang lain dan memainkan peran itu selama beberapa hari. Kamu akan menjadi seorang gadis Malaysia yang akan mendafarkan diri di universitas di Zurich dan singgah di tempat pamannya di Paris dalam perjalanan ke sana.”

Fay ternganga. Sementara ia berusaha mencerna apa yang ditangkap telinganya, Andrew melanjutkan penjelasannya.

”Kamu akan tinggal di rumah paman gadis itu selama dua malam. Ada beberapa hal yang harus kamu lakukan selama kamu di sana, tapi detailnya bisa menunggu hingga kamu siap nanti.” Andrew mendekatkan cangkirnya ke bibir dan menghirup teh.

Fay tidak mampu berkata­kata dan hanya menatap Andrew dengan ekspresi yang tampaknya sudah tidak keruan, campuran antara takjub, shock, bingung, takut, dan entah apa lagi. Otaknya terasa kosong, rasanya seperti masuk ke ruang hampa dan ia merasa mengambang di udara. Baginya, ini adalah ide paling gila yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Rasanya seolah masuk dalam film spionase saja.

Akhirnya, setelah kesekian kalinya berusaha mencerna dan ternyata otaknya masih belum percaya juga dengan apa yang didengarnya, Fay bertanya, ”Jadi… saya diminta berpura­pura menjadi gadis Malaysia selama beberapa hari?”

”Ya.” ”Dan... saya harus tinggal dengan paman gadis ini... di rumahnya?”

”Ya.”

”...,” mulut Fay terbuka tanpa bersuara, kemudian terkatup lagi.

Andrew kembali berbicara, ”Kamu dipilih karena paras kamu sangat mirip dengannya. Umur kalian kurang­lebih sama, warna kulit sama, tinggi sama, struktur tulang sama, bahkan ukuran sepatu juga sama. Setelah beberapa penyesuaian, akan sangat sulit untuk membedakan kalian berdua.”

Fay menatap Andrew ngeri. ”Apa maksudnya dengan ’penyesuaian’?” Yang langsung muncul di benaknya adalah operasi plastik seperti yang pernah ia lihat di acara TV.

”Gadis itu punya postur yang lebih atletis. Dia anggota tim atletik di sekolahnya, dengan spesialisasi lari dua ratus meter. Untuk saat ini, hal itu adalah hal terakhir yang perlu kamu kuatirkan. Dengan latihan yang sesuai, kalian berdua akan terlihat seperti kembar.”

”Jadi... waktu kalian melihat saya di Champs­Élysées dan menyadari kemiripan saya dengan dia, kalian memutuskan untuk langsung menculik saya?” tatap Fay tidak percaya.

”Sebenarnya, kamu ditemukan oleh agen saya di pesawat yang membawa kamu dari Singapura ke Paris. Awalnya saya tidak yakin ketika menerima laporan bahwa agen saya melihat seorang gadis yang sama persis dengan gadis Malaysia itu di pesawat yang sama. Setibanya di Charles de Gaulle, agen lain mengambil alih setelah menerima konfirmasi bahwa targetnya adalah kamu. Mereka mengambil foto kamu dan mengirimkannya ke saya. Waktu saya melihat foto itu, saya benar­benar tidak percaya dengan keberuntungan itu. Sejak saat itu kamu langsung dibuntuti.”

”Tapi pamannya pasti tahu kalau saya bukan dia,” ujar Fay panik.

”Pamannya sudah tiga tahun tidak bertemu dengannya. Setelah mengikuti latihan, tidak ada yang bisa mengenali kamu sebagai seorang pengganti.”

Fay merasa seseorang harus menjitak kepalanya supaya sadar. Sayangnya ia sudah dalam keadaan sadar. Ia juga yakin tidak sedang bermimpi, karena ia dapat merasakan harum teh camomile yang menusuk hidungnya. Fay pun memilih untuk meneguk tehnya sambil menenangkan diri.

Ia bertanya lagi, kali ini lebih takut daripada sebelumnya, ”Apa yang terjadi setelah itu? Apakah saya akan dibebaskan?”

”Kalau kamu melakukan apa yang diperintahkan, kamu akan diizinkan pulang ke rumah.”

”Sebenarnya kalian siapa?” tanya Fay memberanikan diri. ”Informasi itu tidak penting untuk kamu ketahui. Untuk

kebaikanmu sendiri, kamu hanya akan tahu hal yang perlu kamu ketahui, di saat kamu perlu mengetahuinya.”

Untuk Fay, kejadian ini terlalu luar biasa bagi perjalanan hidupnya yang selama ini biasa­biasa saja. Entah dari mana keberanian itu muncul, mendadak kalimat lain meluncur dari mulutnya,

”Bagaimana kalau saya menolak?”

Ia sendiri kaget dengan pertanyaan itu, hingga cangkirnya terasa bergetar di tangannya.

Andrew tersenyum dan menatapnya dengan tajam. Suaranya terdengar sangat jernih ketika berkata, ”Bagi kamu, ini bukan suatu pilihan. Bagi kami, terbuka pilihan untuk menggunakan cara apa pun untuk membuat kamu melakukan apa yang kami minta. Tapi, tentunya itu bukan topik yang tepat untuk dibicarakan di acara minum teh yang menyenangkan seperti ini. Lagi pula, saya yakin kamu cukup pintar untuk mengetahui bahwa yang terbaik adalah jangan sampai membuat kami—atau saya, tepatnya—kesal,” kemudian dia mendekatkan cangkir di tangannya ke bibir dan kembali menghirup tehnya tanpa melepaskan pandangan dari Fay.

Tatapan Andrew begitu menusuk, melepaskan berpuluh jarum yang melesat menembus mata dan menghunjam seluruh badannya lewat pori­pori tipis di kulitnya, hingga Fay merasa sekujur tubuhnya ngilu. Ia menelan ludah dengan susah payah dan kembali bertanya, kali ini lebih panik daripada sebelumnya.

”Apa yang harus saya lakukan sekarang? Jacque akan menjemput saya jam empat sore di Eiffel. Kalau saya tidak ada di sana, dia akan mencari saya.”

Andrew pun menjelaskan apa yang harus ia lakukan.

Pukul 15.30, Fay sudah kembali berada di Champs­Élysées, diturunkan oleh mobil yang sama tidak jauh dari tempat ia dibawa dengan paksa beberapa jam sebelumnya. Matanya ditutup sepanjang perjalanan tadi, tapi tangannya tidak diikat.

Ia pun kembali menapaki jalan yang beberapa jam lalu ia nikmati hingga desiran anginnya, tapi yang sekarang dijalaninya tanpa emosi. Otaknya terus berputar, memainkan kembali kejadian siang tadi detik demi detik. Berusaha mengerti. Berusaha mencerna.

Apa saja pilihan yang ia punya? Ia bisa saja pergi ke polisi sekarang juga dan menceritakan kejadian barusan. Tapi, apakah mereka percaya? Bagaimana kalau ia malah ditangkap polisi? Apalagi ia belum bisa bahasa Prancis.

Atau bagaimana kalau ia nanti menceritakan ini ke Jacque dan Celine, baru kemudian mereka yang lapor ke polisi? Sepertinya itu ide yang bagus. Tapi, apakah mereka percaya? Bagaimana kalau ia dianggap anak negara berkembang yang sakit jiwa dan perlu pertolongan? Bukti apa yang ia punya terhadap orang­orang itu? Dengan tololnya ia tidak mencatat pelat nomor mobil hitam tadi. Fay menarik napas panjang dengan frustrasi.

Pukul 16.00, Fay sudah berdiri di pelataran Menara Eiffel. Menara yang tadi pagi membuatnya terkagum­kagum dengan noraknya, tapi yang sekarang hanyalah sebuah menara. Ditatap saja pun tidak.

Sepuluh menit kemudian, ia sudah berada dalam mobil Jacque.

Jacque bertanya dengan antusias, ”Jadi, apa saja yang kamu lakukan? Apa kamu sempat naik sampai ke puncak Eiffel?”

Fay tidak punya keinginan untuk menjawab, tapi ia memaksakan diri, ”Tidak, terlalu banyak turis yang mengantre. Saya hanya berjalan­jalan di Champs­Élysées.” Hasilnya adalah kalimat yang diucapkan dengan datar seperti acara berita terakhir di TVRI, tanpa antusiasme sama sekali. Fay memarahi dirinya sendiri dalam hati ketika kalimat itu selesai ia ucapkan.

Jacque menatapnya cemas.

”Are you okay? Kamu tampak lelah dan agak pucat. Harusnya saya tidak membiarkan kamu jalan­jalan sendiri setelah perjalanan panjang di pesawat.” Dia menggeleng­gelengkan kepala, tampak khawatir.

”Kamu tiduran saja. Tarik tuas di sebelah kursi kamu untuk mengatur rebahan kursi. Coba untuk istirahat dulu sejenak. Saya akan beritahu kalau kita sudah tiba.”

Fay pun melakukan apa yang disuruh dan bersyukur dalam hati, terbebas dari pertanyaan­pertanyaan lain yang mungkin tidak bisa ia jawab.

Sambil memejamkan mata, pikirannya kembali ke ruang duduk itu dan mengingat­ingat apa yang dikatakan Andrew. Ia akan tetap menjalani kursus bahasa Prancis setiap hari hingga waktunya tiba untuk menjalankan perannya. Setiap kali pulang kursus, ia akan dijemput oleh sebuah van dengan pengemudi bernama Lucas untuk bertemu dengan Andrew, yang akan menjelaskan apa yang harus ia lakukan nantinya. Di malam hari ia akan diantar pulang ke rumah Jacque dan Celine. Andrew juga melarangnya untuk membicarakan hal ini, mulai dari penculikannya hingga segala aktivitas yang berhubungan dengan hal ini, kepada siapa pun. Kapan ia harus menjalankan peran itu, Fay tidak tahu. Ke mana dirinya akan dibawa setiap kali pulang kursus, ia tidak tahu. Apa yang akan dilakukan di tempat itu, ia tidak tahu. Siapa gadis Malaysia itu, ia tidak tahu. Kenapa ia harus melakukan ini semua, ia juga tidak tahu.

Yang ia ingat berikutnya adalah ia memasuki lorong panjang yang gelap sendirian. Jalannya semakin cepat, kemudian ia berlari, awalnya pelan kemudian semakin cepat, hingga ia melayang dan hilang, ditelan oleh kegelapan. Fay pun jatuh tertidur setelah sore yang menguras emosi itu. Kegelapan itu kemudian menyapanya dan memperkenalkan diri sebagai Andrew, dengan senyum ramah yang begitu mengerikan.

Fay terbangun dengan kaget ketika Jacque menyentuh bahunya.

”Maaf, Fay, saya harus membangunkan kamu. Kita sudah sampai. Kamu bisa istirahat di kamar.”

Ketika ia dan Jacque masuk ke rumah, Celine menyambut mereka dengan gembira. Fay sudah tahu kenapa.

Andrew tadi menjelaskan bahwa sementara mereka berbicara di ruang duduk itu, sepucuk surat sedang diantarkan ke rumah oleh kurir. Surat itu dikirim oleh Institute de Paris, suatu lembaga pendidikan yang memberi kursus kebudayaan bagi siswa asing. Isi surat itu adalah pemberitahuan bahwa Fay sudah terdaftar untuk ikut di salah satu program kebudayaan mereka, yang diadakan setiap hari selama dua minggu ke depan, mulai pukul 17.00 hingga 20.00. Makan malam dan transportasi antar­jemput akan disediakan oleh institut tersebut. Selain permintaan maaf atas pemberitahuan yang mendadak akibat kesalahan administrasi, terdapat juga selembar cek bernilai lima ratus Euro untuk menutupi ”biaya­biaya yang mungkin terjadi akibat kesalahan administrasi kami”.

Celine berbicara cepat dalam bahasa Prancis kepada Jacque. Walaupun Fay tidak mengerti, ia yakin tidak salah mengartikan karena ia bisa melihat bahwa pria itu menyimak cerita istrinya dengan ekspresi yang tidak kalah gembira. Fay bisa melihat wajah mereka yang berseri­seri, ketika Celine menyodorkan cek itu ke hadapan Jacque tanpa sungkan.

Jacque bertanya heran ke Fay walaupun masih dengan ekspresi gembira,

”Kenapa kamu tidak bercerita kalau kamu akan menghadiri sekolah lain?”

Fay baru akan berbicara ketika Celine langsung memotong sambil mengibaskan tangannya seolah itu bukan hal penting, ”Tentu saja Fay belum tahu, Jacque. Monsieur Guillard, direktur sekolah itu, baru saja menelepon dan memberitahu bahwa dia bahkan belum memberitahu orangtua Fay karena ada

kesalahan administrasi di pihak mereka.” Jacque hanya mengangguk­angguk.

Celine langsung menggandeng Fay dan bertanya bagaimana acara jalan­jalannya tadi siang, apakah sandwich­nya enak, dan apakah ia sempat masuk ke Menara Eiffel atau Museum Louvre.

Fay baru sadar bahwa sandwich itu masih ada di tasnya dan mendadak perutnya terasa sangat lapar. Ia pun mengarang cerita sekenanya tentang apa yang ia lakukan, yaitu memandangi Eiffel dengan takjub, jalan­jalan di Champs­Élysées, kemudian duduk­duduk di taman sambil makan sandwich yang enak sekali. Tidak sepenuhnya salah.

Jacque menyelamatkannya dari berondongan pertanyaan Celine berikutnya, dengan menyuruhnya beristirahat di kamar hingga jam makan malam tiba.

Sampai di kamar, Fay langsung mengambil sandwich­nya, membuka dan menggigitnya dengan suapan besar, kemudian meletakkannya di atas meja. Sambil mengunyah dengan mulut penuh, ia menuju komputer. Tergesa­gesa ia menggeser kursi dan menekan tombol komputer untuk menyalakannya. Ketika komputer itu menyala, ia langsung membuka Yahoo! dan mulai menulis e­mail. Ia akan segera menceritakan apa yang terjadi kepada teman­temannya, dan begitu e­mail itu selesai, ia akan minta izin Jacque untuk menggunakan telepon rumahnya untuk menelepon salah satu temannya itu supaya segera membaca e­mail­nya. Kemudian ia akan meminta nasihat, kira­kira apa yang harus ia lakukan. Mungkin Cici, mengingat komputernya ada di kamar dan koneksi Internet-nya nggak pernah putus, pikir Fay sambil setengah menyesal kenapa tadi pagi ia lupa menanyakan cara menelepon murah ke Indonesia.

Tangannya agak gemetar ketika mengetik, diawali dengan kalimat, ”Girls, lo semua nggak bakalan percaya dengan apa yang baru aja gue alami tadi waktu jalan ke Eiffel. Gue diculik!” Dan ia pun terus menulis lanjutan kisahnya.

Di markas COU, Andrew mengamati tindak­tanduk Fay di layar monitor yang ada di depannya. Layar komputer di hadapan Fay tertutup tubuhnya sehingga Andrew tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu. Tapi ia punya kecurigaan kuat. Ia berkata kepada analis yang mengoperasikan komputer di sampingnya,

”Saya ingin tahu apa yang sedang dia kerjakan.”

Analisnya tidak berkata­kata. Jari­jarinya langsung beraksi dengan cepat di atas kibor, mengeluarkan irama beraturan dengan tempo cepat.

Tidak sampai satu menit, layar komputer yang ada di depan si analis berubah. Apa yang muncul di sana persis seperti apa yang sedang dilihat oleh Fay di layarnya. Terlihat sepucuk email yang sedang dibuat dengan account Yahoo!. Huruf demi huruf muncul dan mengomposisikan kalimat.

Andrew menolehkan kepalanya ke satu pria lain yang duduk di sebelah analisnya, seorang penerjemah. Pria itu langsung mengangguk, mengonfirmasikan kecurigaan yang terlontar tanpa kata­kata. ”Dia sedang menulis dengan detail cerita penculikannya siang tadi. Dari cara e­mail itu ditulis, saya bisa simpulkan e­mail itu ditujukan kepada teman­temannya.”

Andrew meraih telepon dan menelepon rumah Jacque, matanya lekat ke deretan layar yang ada di depannya, yang menampilkan ruang­ruang di rumah Jaque. Di salah satu layar terlihat Jacque mengangkat telepon cordless di ruang tamu.

”Selamat sore, bisa saya bicara dengan Fay? Ini pamannya dari Jakarta,” ujarnya dengan bahasa Inggris berlogat Melayu yang terpatah­patah.

”Hello, Sir, nice to meet you. Nama saya Jacque,” balas Jacque ramah. ”Harap tunggu sebentar. Dia ada di atas.” Jacque pun berlari menuju tangga.

Di layar, terlihat pintu kamar Fay dibuka dari luar dan Fay yang menoleh untuk mengambil telepon yang disodorkan oleh Jacque sambil berkata, ”Paman kamu, dari Jakarta.”

Kening Fay berkerut ketika mengambil telepon. Paman yang mana? pikirnya bingung. Mukanya langsung pucat ketika mendengar suara yang berbicara.

”Fay, kami memonitor apa yang kamu lakukan. Sekarang, tutup e­mail kamu tanpa menyimpannya dan matikan komputer itu. Seperti yang saya sebutkan tadi, kamu tidak diperbolehkan untuk membicarakan atau menceritakan apa yang terjadi tadi siang kepada siapa pun. Tolong anggap ini sebagai peringatan yang terakhir, karena saya tidak punya cukup kesabaran untuk menghadapi ini lagi untuk yang kedua kalinya. Apakah sudah jelas?”

Dengan napas tercekat, Fay hanya mampu berkata pelan, ”Ya.”

”Cobalah untuk istirahat yang cukup malam ini. Sampai jumpa besok.”

Telepon ditutup dan Fay terduduk lemas di tempat tidur. Semua ini begitu tidak masuk akal dan sangat mengerikan. Apakah Andrew benar­benar tahu bahwa ia sedang menulis e­mail dan menceritakan kejadian tadi kepada orang lain atau hanya menebak? Tapi kalau hanya menebak, kenapa bisa pas begini? Dan apa maksudnya dengan mereka memonitor apa yang sedang ia lakukan? Bagaimana caranya?

Setelah beberapa detik otaknya tidak bisa menjawab, bahkan menimpali pertanyaannya barusan saja tidak mampu, Fay pun beranjak ke komputer untuk melakukan apa yang disuruh dengan lutut yang masih lemas dan tangan yang agak gemetar. Kemudian ia melongokkan kepalanya ke jalan raya lewat jendela kamarnya. Tidak tahu persis apa yang dicari, dan tentu saja tidak menemukan apa pun yang patut ditemukan. Dengan seperempat rasa frustrasi, seperempat takut, seperempat penasaran, dan seperempat bingung, Fay pun merebahkan diri di tempat tidur.

Pukul 19.00.

Andrew sedang mempelajari profil seseorang yang terpampang di layar monitornya di markas COU, ketika pandangan sekilasnya ke layar lain yang menampilkan kamar Fay menangkap gambar yang menarik perhatiannya dan membuatnya memperhatikan lebih saksama. 

Bukan pertama kalinya Andrew melihat seorang muslim menunaikan kewajiban salat, walaupun pemandangan itu memang sangat jarang ia lihat. Spesialisasinya bukanlah kebudayaan Timur Tengah seperti rekannya yang mengepalai organisasi sejenis COU di Eropa Timur.

Ia sendiri ateis. Tuhan tidak pernah ada dalam kamusnya. Menurutnya, kalau konsep ketuhanan itu ada, berarti ia adalah Tuhan: mengukir peradaban sesuai dengan tujuan yang ia tetapkan, sesuai dengan arah yang ia tentukan, dan sesuai dengan cara yang ia inginkan. Kehidupan dan kematian hanyalah momen dalam peradaban yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan Tuhan. Arti dari momen itu sendiri tidak pernah sama bagi semua orang, ditentukan peran yang dimainkan di peradaban itu. Tidak semua kehidupan diharapkan. Begitu juga dengan kematian, tidak semua perlu diratapi.

Andrew mengamati gerakan demi gerakan yang dilakukan Fay dengan cermat. Pikirannya tidak bisa tidak, bertanya apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh gadis itu ketika melakukannya. Dan apakah ini sebabnya ia tidak menemukan ketakutan sebesar yang seharusnya ada di mata gadis itu.

Gadis itu tampaknya sudah selesai. Dia mengangkat kedua tangannya, mengusapkannya ke wajah, kemudian berdiri dan membuka pakaian ritualnya.

Andrew kembali mengamati profil yang terpampang di depannya.

Alfred Whitman.

Pria itu seorang pengusaha yang berpengaruh di Eropa dengan portofolio investasi yang tersebar di Eropa dan Timur Tengah; ada lebih dari tiga puluh perusahaan tempat pria itu terdaftar menjadi pemegang saham atau pemilik tunggal.

Andrew mengarahkan mouse­nya ke daftar perusahaan milik Alfred yang kini terbaca dengan jelas di depannya. Satu nama sudah diberi penekanan berupa huruf tebal, terbaca ”Tranship Pacific Inc.”.

Andrew ingat betapa tertegun dirinya ketika mendengar nama Alfred Whitman disebutkan sebagai pihak yang ada di balik kebocoran daftar operasi badan­badan intelijen dunia, padahal di hari yang sama ia baru saja berjabat tangan dengan pria yang merupakan pemegang saham terbesar Tranship Pacific Inc. itu.

Pengecekan latar belakang Alfred Whitman langsung dilakukan dengan hasil yang semakin menimbulkan kecurigaan: pria itu tidak punya latar belakang. Dibesarkan di rumah yatimpiatu hingga berusia lima belas tahun, dia seakan menghilang dari muka bumi dan muncul kembali sebagai pengusaha muda yang sukses lima belas tahun kemudian.

Satu hal yang pasti, rencana yang sudah disusun harus segera digelindingkan bila Andrew tidak mau mendengar kembali berita buruk tentang kegagalan operasi yang menghabiskan dana tidak sedikit.

Andrew melirik layar yang kini menampilkan Fay yang sudah berbaring di balik selimut. Nasib banyak orang kini berada di tangan gadis itu.

Ia melihat jam tangannya dan beranjak pergi. Ia akan menghabiskan malam ini di restoran paling mewah di Paris, berada di lantai teratas salah satu gedung tertinggi di Paris dengan lantai yang berputar, menghadap Menara Eiffel. Kemudian tengah malam nanti ia akan kembali ke kastilnya di pinggiran kota London.

Malam ini Andrew akan beristirahat. Ia layak menikmati itu setelah apa yang dicapainya hari ini. Baru besok pagi ia akan kembali ke Paris untuk mulai mempersiapkan segala sesuatunya bagi gadis itu.

Semakin  lama,  gadis  ini  semakin  menarik, pikirnya sambil berjalan menuju pintu keluar. Saat ini, ia punya dua minggu untuk mengeksplorasi gadis ini. Selanjutnya, tergantung kepada hasil dua minggu ini. If there is next time.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊