menu

Eiffel, Tolong! Bab 02: ”Eiffel, tolooong!”

Mode Malam
”Eiffel, tolooong!”

MENARA EIFFEL!

Bangunan itu menjulang megah di depan matanya.

Cool!

Fay tersenyum puas sambil menikmati sensasi aneh di dada dan perutnya. Dadanya sesak, antara percaya dan tidak percaya bahwa ia akhirnya berada di depan menara ini. Di perutnya, ia merasa ada makhluk mungil yang berputar­putar, kadang searah jarum jam, kadang berlawanan arah, atau mungkin jarum jam itulah yang sebenarnya sedang menusuk­nusuk perutnya dari dalam.

Well, whatever…. Siapa juga yang peduli.

Fay menarik napas panjang dan mengamati pemandangan di depannya. Saat ini ia berada di lapangan dengan Menara Eiffel berdiri kokoh di tengah­tengahnya. Lengkungan yang menyambungkan tiap kaki yang menopangnya membuat menara itu sangat elok dan bagaikan mempunyai nyawa tersendiri, terlihat megah di satu sisi tapi manusiawi di sisi lain. Tidak mencakar langit, melainkan menyapa langit. Langit Paris yang siang ini cerah tanpa awan setitik pun, menambah anggun menara itu yang tampak seperti dilukis di atas kanvas biru muda tanpa cela.

iPod Fay sedang memainkan lagu Closer-nya Travis. Lagu itu bukan lagu baru, tapi karena itu lagu favoritnya, entah sudah berapa ratus kali, mungkin ribu kali diputarnya.

Mmm, aneh juga ya bagaimana suasana bisa memengaruhi mood seseorang, pikir Fay. Selama ini ia tidak pernah merasa aneh mendengar lagu itu diputar. Kecuali sekarang. Nyawa menara di depannya terasa terlalu besar untuk lagu ini. Tangannya pun bergerak untuk mematikan iPod­nya dan memasukkannya ke ransel.

Kembali Fay mengamati menara di depannya. Melihat Menara Eiffel adalah impiannya sejak lama, tepatnya sejak ia melihat ilustrasi menara tersebut pada sebuah buku yang dilihatnya ketika ia masih kelas 4 SD. Buku itu sudah tidak bersampul lagi ketika ia menemukannya di perpustakaan sekolah, bahkan sudah kehilangan beberapa bab awalnya. Di halaman terdepan yang sebenarnya adalah pertengahan bab ketiga itu terdapat lukisan yang sangat indah, digambar dengan pensil yang diarsir halus. Di gambar tersebut terlihat seorang ibu sedang menggandeng anaknya yang masih kecil, sedang melihat sebuah menara di kejauhan. Di bagian bawah terbaca keterangan ”Menara Eiffel, Paris 1955”. Entah kenapa, gambar itu sangat menyentuhnya. Fay pun bertekad untuk melihat menara itu secara langsung suatu hari. Tidak pernah terbayangkan bahwa hari tersebut adalah hari ini, tepat saat ini. Fay mengambil kamera digitalnya dan mulai mengambil foto.

Ingatan akan gambar itu membawa lamunannya kepada Mama. Seorang ibu yang berusaha terlalu keras untuk menyenangkan dan membahagiakan anaknya, tentunya dengan versinya sendiri, mencari uang dengan bekerja siang­malam tanpa melewatkan kesempatan apa pun yang ditawarkan oleh kantornya, bahkan bila itu mengharuskan dia jauh dari putri satusatunya. Darinya Fay belajar arti kemandirian. Atau kesendirian, pikirnya pahit. Mungkin itu sebabnya ia sangat terkesan dengan gambar yang ia lihat.

Lamunannya pecah ketika ia mendengar suara berisik di belakangnya dalam bahasa yang tidak ia kenal, terdengar seperti semua kalimatnya terdiri dari hanya konsonan. Fay menoleh dan melihat segerombolan turis yang bersahut­sahutan satu sama lain. Ia pun melihat ke sekelilingnya dan melihat turis, hanya turis, dengan segala aktivitas mereka. Matanya juga menangkap antrean bagai semut berbaris, yang ternyata turis­turis yang sedang mengantre untuk masuk ke Menara Eiffel.

Idiih,  udah  gila  kali  mau-maunya  ngantre  panjang  begitu,  kayak nggak ada hari lain aja, pikir Fay sambil tersenyum menang, mengingat masih ada waktu dua minggu lagi baginya dan ini baru hari pertamanya.

Perlahan ia berjalan dengan tujuan mengitari menara itu sambil berusaha mencari perasaan yang dulu ia rasakan ketika melihat gambar dalam buku tersebut. Tapi, ketika sampai di kaki menara yang berikutnya, ia sudah merasa bosan. Lautan manusia yang ada di sana membuatnya lebih berkonsentrasi untuk mencari jalan di sela­sela lalu lintas turis yang kalau jalan tidak pernah lurus dan benar­benar membuatnya kehilangan makna dalam menikmati pemandangan Eiffel. Fay pun menyerah dan menyudahi perjalanan napak tilas mimpinya.

Fay ingat betapa antusias dirinya kala topik bahasan Cici menyentuh Menara Eiffel minggu lalu.

”Ci, lo tau nggak, melihat Menara Eiffel itu udah jadi mimpi gue sejak lama. Gue rasa, kalau gue udah beneran ada di depannya, gue bisa terdiam bengong dua jam dan mungkin bahkan kalau bisa nginep di sana.”

Cici hanya tertawa. ”Alaaah, percaya deh, Fay, ama gue. Eiffel itu a very magnificent monument, tapi ya cuma itu. Kalau lo udah ada di sana, paling juga satu jam lo udah bosen. Sama aja kayak waktu kita ke Bali, di Tanah Lot atau Pura Besakih, yang seru kan foto­foto dan ketawa­ketiwi bareng. Kalau sendiri, pasti garing. Trust me on that.” Waktu Fay masih tidak setuju, Cici pun menambahkan dengan lebih sadis, ”Coba aja lo ke Monas sana, pengin tau deh gue, berapa lama lo bisa tatapin itu monumen.”

Dasar gilingan padi, Eiffel kok dibandingin ama Monas.

Tangannya melirik jam, buset, bahkan belum sampai satu jam ia di sini. Fay meringis membayangkan ketawa Cici kalau dia tahu nanti. Mungkin Cici benar, Eiffel sedemikian menarik karena adanya di Paris. Mungkin nggak ya orang Prancis menganggap Monas lebih menarik daripada Eiffel yang udah mereka pelototin tiap hari? Ah, sudahlah.

Dengan pemikiran itu, kakinya melangkah menuju ChampsÉlysées.

Fay mengalihkan pandangannya ke jalan yang akan diseberanginya. Sebuah limusin hitam panjang berjalan pelan di hadapannya. Di belakang mobil itu, sebuah mobil tipe citycar warna hijau permen karet, entah merek apa—belum pernah Fay lihat di Jakarta, mengklakson galak, tampaknya tidak sabar. Suara klaksonnya tidak hanya memekakkan telinga, tapi juga frekuensinya sangat mengganggu, mirip suara klakson metro mini di lampu merah daerah Blok M.

Akhirnya Fay memasuki jalan Champs­Élysées dan seketika itu juga ia berhenti dan berdecak kagum. Jalan itu sangat lebar dengan trotoar yang juga lebar. Di sepanjang trotoar, pohonpohon berjajar rapi, membatasi pejalan kaki dengan jalan raya. Rentetan kafe dan butik terkenal terdapat di kedua sisi trotoar, dengan display yang mewah dan indah. Di kejauhan, Fay bisa melihat salah satu ikon kota Paris, Arc de Triomph, bagaikan gerbang besar yang menyambut pejalan kaki ketika mereka sampai di ujung jalan.

Fay berjalan perlahan, memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya sambil sesekali mengambil foto. Ia melihat orangorang yang masuk ke toko, orang­orang berhenti di depan etalase, orang­orang keluar dari toko membawa kantong kertas, orang­orang berjalan pelan, segerombolan turis berkumpul sambil bercakap­cakap, beberapa orang berfoto­foto, seorang wanita tinggi dengan paras dan dandanan seperti model berjalan dari depan ke arahnya dengan cepat dan melewatinya. Di depannya ada sepasang muda­mudi yang menurutnya sudah seperti ”ulel melingkel di atas pagel”. Ia tertawa geli ketika ingat adik Lisa yang baru tiga tahun, Sassy, berusaha mengucapkan itu berulang­ulang dengan logatnya yang masih cadel.

Pandangannya sempat dialihkan ke jalan ketika sebuah mobil sport dua pintu warna merah melesat dengan kencang. Sudah pasti bukan Mercedez, BMW, atau Jaguar, karena Fay belum pernah melihat mobil sejenis itu di Jakarta. Sebuah limusin hitam panjang berjalan pelan. Mmm, dêjà vu.

Fay melihat jam tangannya, jam 12.00 waktu Paris. Lagi ngapain ya teman­temannya di Jakarta? Belum ada seratus meter berjalan, ia sudah menghitung ada lima pasangan yang sedang asyik berciuman tanpa peduli dengan sekelilingnya. ”Mungkin itu yang namanya french kiss,” gumamnya pada diri sendiri. Kalau ada teman­temannya di sini, itu pasti akan jadi topik bahasan yang seru. Ia sempat berkhayal sebentar, andaikata salah satu dari mereka adalah dirinya dan Nico, cowok keren anggota tim basket di sekolah. Hmmm, baru mikir aja udah deg-degan. Tapi khayalannya langsung putus ketika muncul sosok Tiara, ketua geng borju yang pacar Nico. Huh, menyebalkan. Bahkan di sini aja cewek itu mengganggu sekali!

Angin berembus tipis dan memberi kesegaran di panas siang itu. Fay masih berjalan di trotoar besar itu dan pandangannya jatuh ke kafe di depannya, menjorok ke trotoar. Sambil menikmati setiap langkah yang terayun, ia memerhatikan pria dan wanita yang duduk di sana. Beberapa orang duduk santai sambil membaca koran. Ada juga beberapa wanita dan pria yang berkumpul di satu meja dan kelihatannya sedang terlibat percakapan seru karena seorang wanita berbicara dengan gerak tangan penuh semangat dan yang lain mendengarkan dengan antusias sambil sesekali tertawa. Ada juga sebuah keluarga dengan bayi di stroller, yang sibuk menggigiti mainannya sementara orangtuanya mengobrol sambil menikmati kopi dan croissant. Dan yang menjadi pemandangan umum di Paris, sepasang kekasih asyik berciuman sambil berpangkuan di kursi.

Pandangan Fay dialihkan kembali ke jalan. Ada lagi limusin hitam panjang, persis seperti yang tadi ia lihat. Kacanya sangat gelap, sama sekali tidak ada yang terlihat dari luar. Ia berpikir apakah memang mobil ini wajib hukumnya dimiliki oleh mereka yang memproklamirkan diri sebagai anggota high socialité di Paris, sebagaimana BMW, Mercedez, Jaguar, atau mobil­mobil mahal lain di Jakarta? Mobil itu juga berjalan pelan, sekitar dua puluh meter di depannya, dan secara perlahan menepi ke trotoar.

Persis ketika Fay berada di sisi belakang mobil, dengan jarak hanya sepuluh meter dari pintu, pintu itu terbuka lebar. Seorang pria berjas hitam dan kacamata hitam keluar. Fay agak kecewa melihatnya karena selain tampilannya yang rapi, tampang pria itu hanya masuk kategori standar saja. Mengingat mobilnya sebagus itu, Fay sebenarnya berharap yang turun akan sekeren David Beckham atau Brad Pitt. Padahal udah siap jadi paparazi, ujarnya dalam hati.

Pria itu berjalan ke arah kafe di sebelah kiri Fay. Sambil melintas di belakang pria tersebut, Fay tidak menyia­nyiakan kesempatan menolehkan kepala ke kanan untuk mengintip ke dalam mobil.

Tepat ketika ia berada persis di samping pintu mobil yang terbuka, mendadak pria tadi sudah berada di sisi kirinya, mencengkeram tangan kirinya sambil mendorongnya ke arah pintu mobil yang terbuka. Belum pulih Fay dari rasa kaget, dari dalam mobil ada satu lagi tangan yang muncul dan menarik tangan kanannya sehingga mau tidak mau ia harus menundukkan kepalanya untuk masuk ke mobil kalau tidak mau benjol. Segera setelah Fay masuk mobil, pria berjas hitam itu ikut masuk sambil menutup pintu dan mobil itu langsung bergerak secara kasual, seakan tidak ada kejadian yang luar biasa. Masih ternganga, Fay kini duduk di tengah, diapit oleh dua orang penculiknya. Tidak ada kata­kata yang mampu keluar dari mulutnya. Ransel dan kameranya sudah diambil oleh pria yang duduk di sebelah kanannya. Jas pria itu tidak dikancingkan dan tidak perlu orang genius untuk tahu bahwa di sisi dalam jasnya ada senjata api.

”Jangan berteriak atau melawan, dan kamu tidak akan dilukai,” ujar pria itu.

”Sekarang, kami harus melakukan ini,” sambil mengucapkan kalimat itu dia mengeluarkan penutup mata, mirip seperti yang ia dapat di pesawat kemarin, memasangnya pada mata Fay, kemudian menelungkupkan entah kantong atau karung di kepalanya. Di saat yang bersamaan, temannya yang ada di sebelah kiri membawa kedua tangan Fay ke punggung dan mulai mengikatnya.

Kedua tangan Fay sekarang sangat dingin dan kaku, seolah dipaksa menggenggam es batu. Jantungnya berdebar kencang dan Fay mulai merasa mual. ”Awas, Fay, jangan sampai muntah, kampungan banget sih lo naik mobil sebagus ini kok muntah, biasanya naik metro mini juga bisa ketiduran,” ia terus berceloteh yang aneh­aneh dalam hati untuk menutupi rasa takutnya. Sayang jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Ia merasa semakin lama degupnya makin kencang, menggedor dadanya yang semakin lama terasa semakin tipis, hingga ia khawatir jantungnya melesak keluar, dan napasnya pun mulai sesak. Apalagi ia bisa merasakan napasnya sendiri yang terpantul di sisi kantong yang menutupi kepalanya. Ia kini hanya bisa menunggu, berharap dan berdoa ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.

Setelah perjalanan yang rasanya panjang sekali, lewat jalan yang rasanya berliku­liku, mobil itu berhenti. Terdengar suara pintu­pintu mobil itu dibuka hampir secara bersamaan dan Fay ditarik keluar. Ada gema yang terdengar dari setiap suara yang keluar, baik dari suara pintu mobil yang ditutup maupun dari langkah kakinya dan para penculiknya. Sepertinya ia ada di dalam ruangan, mungkin garasi.

Fay berjalan dituntun oleh dua orang, sepertinya masih orang yang sama yang tadi ada di dalam mobil. Masing­masing dari mereka memegang lengannya di kiri dan kanan.

Ada tangga yang ia naiki, kemudian pintu, kemudian jalan datar, kemudian berbelok dan tangga naik lagi. Kemudian, setelah jalan berbelok­belok beberapa kali, ada tangga turun. Tangga ini agak panjang. Fay merasa ia setengah diseret dan diangkat oleh kedua pria itu, walaupun ia baru sadar juga bahwa mereka tidak kasar. Ia harus berkonsentrasi penuh pada jalan yang dilewati dengan mata tertutup, mengandalkan arahan kedua penculiknya. Sedikit­banyak hal itu membantu menstabilkan degup jantungnya, walaupun tangannya masih dingin.

Kemudian mereka berhenti. Ada suara kunci diputar, pintu dibuka, dan ia pun dibawa masuk ruangan. Di sana ia didudukkan di kursi kayu. Kedua pria itu sepertinya pergi karena ia mendengar langkah mereka menjauh ke arah pintu, kemudian terdengar suara kunci dari luar. Ia ditinggal sendirian, dengan mata tertutup dan tangan yang masih terikat.

Semua gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun yang bisa lolos menyisip ke dalam penutup mata dan kantong yang ditelungkupkan ke kepalanya. Sebenarnya, tangannya hanya diikat ke belakang dan tidak diikat ke kursi, jadi bisa saja Fay bangun dan berjalan mundur sambil meraba­raba. Tapi, ia tidak punya keberanian untuk melakukan itu. Begitu juga untuk berteriak minta tolong. Yang terakhir ini lebih membingungkan lagi. ”Tolong” itu apa ya dalam bahasa Prancis? Atau aku teriak ”help” aja? Aduh… bagaimana ini… Ia mengutuk dirinya sendiri yang bisa­bisanya dalam keadaan begini masih memikirkan kepatutan grammar dan vocab. Bagaimanapun, ia tidak punya keberanian. Siapa tahu yang datang malah penculiknya dan mereka menjadi lebih marah dan tidak sebaik sebelumnya. Fay berusaha mencerna kejadian yang menimpanya, tapi tidak berhasil. Rangkaian kejadian itu semakin terasa tidak masuk akal. Dan yang lebih ia takutkan sekarang adalah ketidakmampuannya untuk membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pikirannya mulai melayang­layang. Ia mulai berpikir, bagaimana kabar mamanya, papanya, teman­temannya, Nico, ibu kantin penjual kue bolu paling enak sedunia, bahkan geng borju sialan itu pun muncul di benaknya, dan mendadak ia merasa sesak dan dadanya seakan mau pecah.

Di sela­sela keputusasaannya ia teringat Tuhan. Sebersit rasa sungkan menyergap. Aneh memang, ketika terjepit rasanya sangat mudah untuk ingat kepada Sang Pencipta. Ke mana ingatan itu ketika senang dan bahagia menghampiri? Fay teringat pada sajadah yang biasanya dalam posisi terbuka di sudut kamarnya di Jakarta, yang sekarang masih terlipat manis di lemari di rumah Jacque dan Celine. Fay teringat pada kewajibannya lima kali sehari untuk menghadap­Nya, tapi yang hampir selalu menjadi dua atau sekali sehari saja... ataukah sekali seminggu? Fay tidak ingat. Yang ia tahu pasti, sejak meninggalkan Jakarta, belum ada satu pun yang ia tunaikan.

Akhirnya Fay memberanikan diri untuk berdoa, setelah sebelumnya meminta maaf atas kelancangannya menyapa­Nya saat ini. Apakah Tuhan mendengarkan? Sudah pasti, Fay yakin itu. Apakah Tuhan mengabulkan? Harus. Sepertinya hanya itu jalan keluar satu­satunya. Ia tidak berani membayangkan bila Tuhan ternyata kesal dan memutuskan untuk membiarkan dirinya sendiri. Air matanya mulai terasa keluar, merembes membasahi penutup matanya. Ia pun terisak.

Ironis. Hari pertama di Paris dan ia sudah menangis. Sebenarnya ia paling tidak suka menangis dan bisa dihitung dengan jari berapa kali ia menangis setelah statusnya bukan anak kecil lagi. Tapi kali ini ia tidak berusaha berhenti.  

Andrew McGallaghan berdiri dengan tangan bersedekap, mengamati apa yang ada di ruang sebelah melalui kaca besar yang ada di hadapannya. Kaca itu adalah kaca dua arah. Dari ruangan tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di ruang sebelah, tapi tidak sebaliknya. Di ruang sebelah, kaca itu hanyalah tampak seperti cermin biasa.

Di tengah ruangan itu ada seorang gadis yang sedang duduk di kursi menghadap ke arahnya dengan tangan terikat ke belakang. Gadis itu pastinya sedang terisak pelan. Suaranya tidak terdengar karena volume yang keluar dari speaker di ruang tempatnya berdiri itu memang sengaja dibuat minimal. Air mata bahkan ekspresi wajahnya tidak bisa dilihat, karena kepalanya tertutup kantong kain berwarna hitam dan di balik kantong itu matanya pun ditutup. Tapi tubuh gadis itu berbicara. Posisi duduknya agak condong ke depan. Bahunya sesekali bergetar, dengan interval yang sama. Terlihat sesekali dadanya mencoba menarik napas panjang, memenuhi rongga paru­parunya dengan udara yang akan segera menjadi bahan bakar bagi dirinya untuk kembali mengulang siklus isaknya.

Andrew mengalihkan pandangannya ke meja yang ada di tengah ruangan dan beranjak ke sana. Isi tas gadis itu sudah tersebar dengan rapi di meja. Ada paspor berwarna hijau, sebuah agenda berwarna ungu dengan kertas­kertas yang terselip di antaranya, peta dan buku panduan Paris, sebuah kantong cokelat, Ipod, dompet Esprit warna cokelat, kamera digital, dan telepon genggam.

Tangannya meraih kantong cokelat. Always seek for the unknown. Ia mengintip isinya yang ternyata sandwich, kemudian mengeluarkannya dan meletakkannya di atas kantong cokelat pembungkusnya. Ia membuka kertas tipis yang membungkus sandwich itu dan mengangkat roti bagian atas untuk melihat isinya. Well, one can never be too careful. Walaupun kemungkinannya kecil dalam kasus ini, bukannya tidak pernah terjadi sepotong sandwich mempunyai isi yang tidak lazim, mulai dari gunting, pisau, hingga obat. Setelah yakin dengan apa yang ia lihat, ia mengembalikan sandwich itu ke dalam kantong cokelat. Berikutnya adalah paspor. Fay Regina Wiranata, warga negara Indonesia, usia hampir tujuh belas tahun. Demikian informasi yang tertulis di paspornya. Bukan informasi baru, karena Andrew sudah tahu dari daftar penumpang pesawat Air France yang sampai ke tangannya dua puluh menit setelah agennya menelepon dari pesawat dan memberitahukan penemuan yang menakjubkan itu. Dari tanggal berlakunya, paspor ini dibuat baru dua bulan yang lalu. Andrew membolik­balik halamannya sambil lalu. Seperti yang sudah ditebak, ia tidak menemukan

visa atau cap imigrasi selain dari negara Prancis.

Tangannya meraih agenda dan melihat kertas­kertas yang terselip di sana, yang ternyata berhubungan dengan kursus bahasa yang akan diikuti gadis itu. Ada surat konfirmasi keikutsertaannya, peta lokasi serta brosur­brosur tentang sekolah tersebut yang dicetak sendiri dengan printer warna. Ada juga tiket pesawat pulang­pergi Jakarta­Singapura dengan Garuda dan Singapura­Paris dengan Air France beserta dua buah boarding pass bertanggal kemarin. Di kantong agenda ada amplop yang berisi uang beberapa ratus Euro. Yang cukup menarik adalah informasi di halaman pertama agenda. Selain data diri, juga ada alamat website yang menjadi blog si gadis. Isi agenda itu sendiri bervariasi, mulai dari jadwal pelajaran di sekolah, tulisan­tulisan yang tampak seperti cerita hingga coretan­coretan yang tidak jelas maksudnya apa.

Dari agenda, Andrew beralih ke dompet, melihat isinya sekilas. Tidak ada yang luar biasa, hanya uang sekitar dua ratus Euro dalam berbagai pecahan, kartu identitas siswa, dan beberapa kartu yang tampak seperti kartu diskon department store atau kartu keanggotaan klub, yang tampaknya hanya berlaku di negaranya.

Andrew mengambil kantong plastik bening untuk memasukkan barang­barang yang menurutnya perlu ditindaklanjuti lagi. Paspor, agenda, dan kertas­kertas di dalamnya perlu dikopi dan mungkin juga diterjemahkan, demikian juga semua kartu yang ada di dompet. Kamera dan iPod­nya harus diperiksa lebih cermat. Semua foto dan video akan di­download. Begitu juga telepon genggam, akan dikirim ke bagian teknis untuk penanganan lebih lanjut. Sambil berpikir, barang­barang itu pun berpindah posisi ke dalam kantong. Setelah selesai, ia meletakkannya di meja terpisah, di dekat pintu. Kemudian ia kembali ke kaca dan kembali memerhatikan gadis itu. Fay, kemungkinan itu nama panggilannya, pikirnya.

Andrew bisa melihat bahwa gadis itu sudah berhenti menangis. Bahunya sudah tidak bergetar lagi, napasnya sudah stabil dan kini dia bersandar ke kursi. Tapi sekarang dia gelisah. Berkali­kali dia menggeser posisi duduknya dan menggerakkan kaki.

Andrew terseyum. Waktu memang tidak bersahabat kalau kita tidak bisa merasakan kehadirannya. Jam yang masih melingkar di pergelangan gadis itu saat ini telah kehilangan perannya dalam memberi arahan waktu kepada si pemilik.

Andrew kemudian melihat jamnya sendiri, Bvlgari seri Bvlgari, jam klasik berwarna hitam berlapis rodium dengan tali kulit buaya yang juga berwarna hitam. Baru dua puluh menit gadis itu terduduk di kursi. Andrew akan menunggu sepuluh menit lagi, berharap sepuluh menit itu cukup untuk membuat si gadis mencapai puncak keputusasaannya. Bila tidak, well, ia harus mencari cara lain nanti.

Aneh memang, gadis yang tidak berdaya di hadapannya ini mungkin akan menjadi solusi bagi masalah yang dihadapinya.

Ingatan Andrew melayang ke rangkaian kejadian satu bulan yang lalu, ketika agen­agennya berhasil melumpuhkan salah satu sel teroris di Algeria dengan sukses. Tidak ada satu pun korban di pihak mereka, berkat informasi intelijen yang akurat dari agennya yang bertugas di sana, hasil kerja keras selama enam bulan. Tim penyapu sedang membereskan apa yang tersisa dari para teroris yang berjatuhan, memastikan mereka yang tampak mati memang sudah kehilangan nyawa dan memastikan mereka yang terluka tetap hidup untuk ditanyai. Mereka juga menggeledah markas yang berupa gudang bawah tanah itu, dengan harapan mendapat petunjuk tentang keberadaan sel lain. Sayangnya mereka tidak beruntung dalam hal ini. Yang mereka temukan di dalam satu­satunya lemari besi yang ada di markas itu adalah rencana transaksi senjata yang akan terjadi di akhir bulan ini. Penemuan yang sama sekali tidak mengejutkan bila dibandingkan dengan isi selembar kertas yang ada di tumpukan yang sama.

Kopi kertas itu sampai ke tangan Andrew satu jam kemudian, difaks lewat jalur aman ke kantornya, sebuah suite yang nyaman di kompleks perkantoran miliknya, Llamar Corporation, Paris. Kompleks perkantoran itu berada di daerah pinggiran Paris dan menempati area tiga belas hektar, menaungi Llamar Corporation beserta dua belas anak perusahaannya yang bergerak di bidang operasi perminyakan, telekomunikasi, bioteknologi, transportasi, manufaktur, keuangan, manajemen data, riset, dan project management. Daftar itu masih akan bertambah lagi dengan pembelian saham yang sedang dirintisnya terhadap Tranship Pacific Inc., perusahaan multinasional yang bergerak di bidang perkapalan; sebuah transaksi yang bila berhasil akan langsung menempatkan perusahaannya menjadi raksasa nomor dua di industri perkapalan dunia.

Ada dua belas gedung di kompleks itu. Masing­masing anak perusahaan menempati satu gedung berlantai tujuh, berjajar membentuk lingkaran yang mengelilingi danau buatan di tengah kompleks. Satu gedung lagi, yang paling tinggi di antara gedung­gedung lain, adalah korporat atau kantor pusat, tempat kantor resmi Andrew berada.

Semua anak perusahaannya itu memberikan layanan operasi ke publik, termasuk ke berbagai perusahaan di seluruh dunia, kecuali satu, Llamar Research and Consultant Company. Bidang kerja perusahaan itu adalah memberikan konsultasi internal dan melakukan berbagai riset teknologi bagi anak perusahaan Llamar Corporation yang lain.

Satu pengecualian adalah Core Research Division (CRD), satu divisi di perusahaan riset itu yang bekerja di level korporasi, menaungi kepentingan yang lebih besar, bertugas menganalisis berbagai kondisi global yang bisa memengaruhi eksistensi semua bisnis Llamar Corporation di semua area operasinya. Divisi ini juga bertugas melihat peluang yang mungkin bermanfaat bagi Llamar Corporation bila suatu kondisi global berubah.

Andrew sendiri mempunyai kepentingan yang lebih besar di divisi ini dibandingkan dengan anak perusahannya yang lain. Ini karena di dalamnya ada satu unit khusus yang bisa melakukan tindakan operasional setara dengan badan intelijen negara maju. Unit itu disebut Core Operation Unit (COU).

Di struktur organisasi resmi Llamar Research and Consultant Company, CRD dan COU hanyalah satu unit eksperimental yang masing­masing mempunyai tiga pegawai. Kenyataannya, kedua unit itu membawahi hampir tiga ribu orang, terdiri atas pegawai administrasi, tenaga operasional, dan agen lapangan yang tersebar di hampir semua negara tempat terdapat bisnis Llamar.

Keberadaan keduanya tidak terdeteksi. Walaupun secara struktur markas CRD dan COU tepat berada di bawah Llamar Research and Consultant Company, tidak ada pintu akses yang menghubungkan keduanya. Akses masuk ke sana tersebar di beberapa tempat di Paris, memanfaatkan infrastruktur jaringan bawah tanah Paris yang rumit dan jarang dijamah.

Salah satu aksi baru­baru ini yang sukses dilakukan adalah memindahkan satu suku di Afrika yang menolak area suci leluhurnya dilewati pipa gas Llamar Pipeline. Fakta bahwa ada beberapa tetua suku yang kehilangan nyawa dalam pemindahan itu, tertelan gegap gempita pertemuan pemegang saham ketika CEO Llamar Pipeline, Jeff Schumart, menyampaikan kabar bahwa akhirnya kontrak Llamar Pipeline yang sempat tertunda delapan bulan akan diteruskan. Andrew tersenyum membayangkan bahwa Jeff dengan gembira menganggap bahwa masalah itu terselesaikan dengan sendirinya oleh tangan­tangan nasib. COU­lah yang menentukan ke mana tangan nasib bergerak, atas perintah Andrew. Keuntungan bagi Llamar Pipeline, atau anak perusahaannya yang mana pun, akan menambah dana di Llamar Foundation, organisasi nonprofit yang dibentuk untuk menyalurkan bantuan ke negara­negara terbelakang dan berkembang. Andrew membayangkan senyum merekah di bibir Marie Rose, wanita Inggris separuh baya berperawakan kecil yang menyenangkan, yang memimpin yayasan itu dengan sepenuh jiwa dan mendedikasikan diri untuk membantu umat manusia di belahan dunia mana pun.

COU juga terkadang bertindak atas permintaan badan atau organisasi lain, dengan imbalan tentunya. Imbalan yang diminta tidak pernah berupa uang, tapi informasi atau jasa sejenis, dengan tanggal penagihan sesuai kebutuhan.

Begitu juga dengan misi ke Algeria itu yang diberi kode ”Catalyst”. Misi ini dipicu permintaan tidak resmi dari salah seorang teman baik Andrew di MI6, Ron Bradley. Ron mendapat info tentang keberadaan satu sel teroris di Algeria tapi tidak berhasil meyakinkan pemimpinnya untuk menyetujui suatu operasi atas informasi itu. Adik satu­satunya terbunuh di Algeria tiga tahun lalu dalam usia masih muda, 25 tahun. Saat itu adiknya bekerja sebagai juru kamera untuk salah satu stasiun berita di Amerika. Menurut pemimpinnya, dia tidak bisa menyisihkan bujet yang tahun itu sudah dipotong untuk suatu misi yang tidak mempunyai dasar kuat dan hanya memuaskan kepentingan pribadi sang agen untuk membalas dendam.

Saat itu analisis CRD menyimpulkan bahwa sel teroris ini mempunyai probabilitas 60% akan mengganggu rencana Llamar Telcom untuk ekspansi ke Algeria dan berdasarkan analisis profilnya, Ron Bradley mempunyai probabilitas 55% untuk menduduki posisi penting di MI6 dalam tujuh tahun ke depan. Probabilitas ini bisa naik menjadi 80% bila ”didukung” dengan tepat. Tentu saja Andrew menyambut permintaan tolong sahabatnya dan memberi bantuan pribadi dengan melepas operasi Catalyst di COU, tanpa imbalan apa pun.

Belum.

Bayarannya mungkin akan ditagihnya di kemudian hari, mungkin juga tidak.

Ia sedang berdiri di ruang kerjanya menghadap ke danau, setelah melalui sebuah pertemuan awal dengan para pemegang saham Tranship Pacific Inc. untuk membicarakan akuisisi, ketika faks dengan jalur aman itu berbunyi. Begitu matanya menangkap tulisan yang ada di sana, seketika juga ia tertegun. Kertas itu berisi daftar nama. Ada dua puluh nama orang, dengan keterangan lokasi di kolom kedua. Di kolom terakhir terlihat keterangan nama­nama badan intelijen negara seperti CIA, MI6, DEA, DGSE, dan Andrew melihat bahwa dari dua puluh nama itu terdapat tiga nama yang diberi keterangan unspecified. Pikiran buruk langsung menghinggapinya.

Analis terbaiknya tampaknya juga sadar dengan arti informasi itu, karena dia juga tertegun ketika menerima kertas tersebut, sadar dengan kemungkinan terburuk. Dia segera mengonfirmasikan bahwa faks itu dikirim oleh agen di proyek Catalyst. Laporannya diserahkan sepuluh menit kemudian kepada Andrew, dengan isi yang lebih buruk daripada perkiraan awalnya.

Analisnya berhasil mengonfirmasikan bahwa nama­nama yang tertera di sana adalah nama­nama agen dari badan intelijen atau pemerintah. Berita yang lebih buruk, nama yang tertera bukan nama asli mereka, tapi nama operasi yang dipakai dalam penyusupan mereka saat ini, dan lokasi yang tertera di situ adalah lokasi penugasan mereka saat ini. Andrew menggeleng tidak percaya pada apa yang ia baca. Selembar kertas tersebut bagaikan daftar eksekusi bagi nama­nama yang tertera di sana. Lebih buruk lagi, dua dari tiga nama yang memiliki keterangan unspecified tersebut adalah agen COU. Lebih buruk lagi, salah satu dari mereka telah ditemukan tidak bernyawa di pantai Afrika, dengan kondisi tidak menyenangkan, setelah hilang kontak dengan markas pusat satu minggu sebelumnya. Operasi penyusupan yang memakan perencanaan berbulan­bulan dan sudah berlangsung hampir delapan bulan serta menghabiskan tiga puluh juta franc menguap begitu saja.

Andrew menghela napas, berharap berita ini tidak bisa menjadi lebih buruk lagi. Harapannya tinggal harapan, karena analisnya menyimpulkan bahwa satu lembar kertas itu hanya contoh. Hanya Tuhan yang tahu ada berapa lembar lagi dimiliki oleh entah siapa, berapa operasi lagi yang akan gagal karena informasi ini, berapa lagi yang akan kehilangan nyawanya, dan apakah ini bisa lebih buruk lagi.

Titik terang diperoleh ketika satu­satunya teroris yang selamat—hanya satu luka tembak dengan peluru yang bersarang di perut—datang 36 jam kemudian. Ketika Andrew menemuinya terduduk tanpa busana dengan tangan terikat di kursi ruang interogasi markas COU Paris, tujuh lantai di bawah tanah, pria itu menatapnya dengan sorot mata menantang, menutupi ketakutannya dengan sikap agresif. Luka di perutnya sudah dijahit, tapi pasti masih menyisakan sakit, karena walaupun kepalanya ditegakkan, tubuhnya tidak. Posisinya agak terbungkuk sedikit, menjaga agar jahitan di perutnya tidak meregang. Andrew memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat pria ini bicara, lima belas menit maksimal, tidak lebih, pikirnya.

Perkiraannya tidak meleset terlalu jauh. Tepat tiga belas menit kemudian, pria itu terkulai di hadapannya dengan keberanian yang sudah raib ditelan rasa sakit yang dalam. Wajahnya sudah tidak berbentuk, ditutupi bengkak, memar, dan darah di setiap inci wajahnya. Luka di perutnya sudah menganga kembali dan darah mengalir keluar, menyapu sisi pahanya, menyapa pinggir kursi sebelum akhirnya menetes ke lantai. Satu nama disebutkan di antara bicara dan rintihan sakitnya yang sudah seperti meracau, keluar dari bibirnya yang sudah bengkak dan pecah: Alfred Whitman.

Sudah sepuluh menit. Andrew melirik Bvlgari­nya sekali lagi dan berjalan keluar ruangan, sangat menantikan saat berkenalan dengan gadis itu. Ia sangat percaya dengan kesan pertama ketika melihat seseorang. Baginya, satu detik pertama sebuah perkenalan adalah saat ketika kejujuran terbuka dan memberi ruang bagi insting untuk berbicara. Setelah itu sang insting akan lumpuh, terjebak bias yang ditimbulkan antara logika dan perasaan, karena yang terpampang bukan lagi kejujuran, tapi topeng dengan sejuta bentuk.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊