menu

Eiffel, Tolong! Bab 01: ”Paris, aku datang!”

Mode Malam
”Paris, aku datang!”

TEPAT pukul 23.30. Fay tersenyum ketika merasakan gaya gravitasi menekan perutnya. Awalnya lembut, kemudian meningkat perlahan dan semakin keras, hingga akhirnya mendadak hilang ditelan tubuhnya, and off she goes. Pesawat Air France yang ditumpanginya tinggal landas dari bandara Changi di Singapura menuju Paris. Yup, Paris. PARIS. P­A­R­I­S! Senyumnya makin lebar.

Ia teringat tatapan tak percaya teman­temannya ketika mereka mendengar ia akan ikut summer course atau kursus musim panas di Paris saat liburan kenaikan ke kelas 3 SMA.

Mereka selalu berempat. Ada Dea, si serius yang tingginya 170 senti. Ada juga Leslie si modis yang dipanggil Cici karena dia keturunan Tionghoa, dan Lisa, si mungil yang paling cantik di antara mereka dan bawelnya tidak ketulungan. Dan tentu saja ada dirinya, Fay, yang menurutnya sendiri, biasa­biasa saja. Perawakannya standar saja untuk ukuran anak kelas 2 SMA yang baru naik ke kelas 3. Tingginya 158 senti. Dengan berat 55 kg, ia bahkan punya kelebihan lemak di bagian­bagian yang tidak seharusnya berlemak, walaupun belum cukup untuk mendapat panggilan ”ndut” (dari kata gendut) atau ”ntong” (dari kata gentong). Dengan rambut agak ikal yang lebih panjang sedikit dari bahu dan selalu diikat kucir kuda, kulit sawo matang, dan tampang yang jauh dari indo, ia selalu merasa tidak ada yang terlalu istimewa dari dirinya. Dua hal yang selalu disyukuri Fay adalah wajahnya yang jarang sekali jerawatan dan nilainya yang selalu mendekati sempurna untuk pelajaran matematika dan bahasa Inggris, praktis tanpa usaha.

”Nggak salah, Fay, lo mau belajar bahasa Prancis?” tanya Cici, disambut anggukan heran dan pandangan bertanya teman­temannya yang lain. Wajar mereka heran. Selama ini Fay memang tidak pernah menunjukkan niat untuk belajar bahasa Prancis, bahkan minat pun sebenarnya tidak ada.

Perjalanan ini memang tidak sepenuhnya direncanakan seperti ini. Mama bekerja sebagai auditor di perusahaan konsultan keuangan sehingga sering melakukan perjalanan bisnis. Papa yang bekerja di perusahaan konsultan Teknologi Informasi di Jakarta juga cukup sering melakukan perjalanan bisnis. Liburan ini kebetulan Mama bertugas di Paris selama dua minggu, berbarengan dengan Papa yang bertugas di Bangkok selama tiga minggu.

Ketika disuruh memilih, tentu saja Fay memilih ikut mamanya ke Paris. Pilihan yang tidak sulit, pikirnya sambil cengengesan. Ia akan tinggal bersama mamanya di hotel di Paris selama dua minggu, kemudian mereka berdua akan ikut tur tiga hari sebelum pulang ke Jakarta.

Setelah paspor dan visa ada di tangan dan tiketnya diterbitkan, tepat dua minggu sebelum berangkat, mendadak penugasan Mama diganti ke Brazil. Untuk Mama tidak masalah, karena visa ke Brazil­nya masih berlaku. Dan karena ini tugas kantor, biaya yang timbul akibat perubahan setelah tiket diterbitkan ditanggung kantor. Tapi tidak demikian dengan Fay. Tidak ada waktu untuk mengurus visa Brazil dan uang tiketnya tidak bisa dikembalikan bila dibatalkan. Bahkan, penggantian tanggal saja akan dikenai biaya tambahan. Maklumlah, dibeli dengan harga promosi, dengan tetek bengek ”non-routable”, ”non-refundable”, dan non-non-non yang lain. Akhirnya orangtuanya memutuskan Fay tetap pergi ke Paris dengan agenda yang berbeda, ikut kursus musim panas untuk belajar bahasa Prancis selama dua minggu, dilanjutkan dengan tur selama tiga hari, yang tadinya akan diikutinya bersama Mama.

Fay melonjak­lonjak kegirangan karena keberuntungan yang diperolehnya, pergi ke Prancis dua minggu sendirian!

Dea waktu itu bertanya dengan ragu, ”Lo yakin, Fay, bisa selamat pulang ke rumah? Lo kan belum pernah pergi ke luar negeri. Lagi pula, Prancis kan bahasanya bukan bahasa Inggris. Kalo lo ilang gimana?”

Kalimatnya itu disambut tawa terbahak­bahak Cici, lemparan bantal dari Lisa, dan pelototan dari Fay.

”Dea, gue bilangin ya. Yang pertama, semua juga tau Prancis itu bahasanya bukan bahasa Inggris. Yang kedua, gue udah pernah ke luar negeri sekali, walaupun gue juga udah nggak inget saking udah lamanya. Yang ketiga, walaupun gue juga yakin bakalan nyasar, tetap aja gue bakalan pergi. Emang gue gila apa nolak tawaran kayak gini? Nggak bakal muncul lagi seumur hidup gue, tau!”

Fay ingat, walaupun ia sangat antusias dengan perjalanan yang akan dilakukan sendiri ini, diam­diam ia sempat berharap Cici menawarkan diri untuk ikut kursus yang sama. Bagaimanapun juga, perjalanan Fay paling jauh ke luar negeri hanya ke Singapura dan sudah lama sekali, dan sempat ada rasa ragu apakah ia bisa melakukan ini sendiri. Sedangkan bagi Cici—yang anak konglomerat meskipun tidak mau statusnya itu digembar­gemborkan—naik pesawat dan melakukan perjalanan sendiri sudah seperti naik bajaj ke pasar saking biasanya.

”Wah, Fay, kalau aja bokap gue nggak ngerayain acara ulang tahun pernikahannya besar­besaran, gue pasti ikut deh nemenin lo,” komentar Cici.

”Tapi, Ci, gimana kalau gue beneran hilang dan nggak bisa balik ya seperti kata Dea?”

”Aduh, Fay, jangan ketularan dodolnya Dea deh! Apa sih yang lo takutin? Naik pesawat terbang lo kan udah pernah, baru aja enam bulan lalu kita ke Bali. Beda­beda dikit lah lokal ama internasional, nanti gue ajarin deh supaya nggak keliatan gimana gitu. Kalau airport memang beda­beda, tapi tenang aja, nanti gue kasih tau lo harus ke mana waktu transit di Changi dan begitu sampai di Charles de Gaulle. Di Paris lo toh dijemput. Untuk bahasa memang masalah sedikit, karena yang namanya orang Prancis itu, selain banyak yang nggak bisa bahasa Inggris, yang bisa pun sebagian besar nggak mau atau pura­pura nggak bisa ngomong Inggris, saking bangganya ama negara mereka. Tapi, lo kan di sana memang tujuannya belajar bahasa Prancis. Paling satu minggu lo juga udah bisa pake bahasa Prancis untuk urusan sehari­hari. Kalau jalan­jalan, selama masih di sentral Paris aja sih gue masih hafal. Apalagi lo bilang nyokap lo dua bulan lalu bawa segepok brosur dan peta Paris abis pulang tugas. See, you have nothing to worry about.”

Setelah menerima pelajaran tambahan dari Cici selama dua minggu terakhir, mulai dari cara makan pakai pisau, apa saja yang bisa dilakukan di airport, apa yang dilakukan di pesawat, seperti apa Paris, dan banyak lagi tetek bengek lain, Fay pun berangkat ke Soekarno­Hatta hari Sabtu pagi diantar oleh sopir kantor papanya, diiringi mobil Cici yang membawa Cici dan Lisa. Dalam praktiknya, sopir kantor papanya cuma membawa koper sedangkan Fay sendiri memilih untuk mengobrol dengan dua temannya di mobil Cici.

Orangtuanya sudah pergi, Mama ke Brazil dan Papa ke Thailand. Sebelum pergi, Mama mendadak sibuk memberitahu Fay di mana ia harus check in di bandara, ke arah mana imigrasi, dan lain sebagainya. Fay hanya mendengarkan setengah hati karena informasi itu sudah ia terima dari Cici, lebih lengkap pula dengan peta­peta yang digambar Cici terselip di agendanya.

Sayang Dea tidak bisa ikut karena ada acara pernikahan sepupunya, dan dia beserta abang dan adik perempuannya kebagian tugas jadi pagar bagus dan pagar ayu. Fay kadang tidak tahu ia harus sedih atau bahagia dengan kondisi jadi anak tunggal dari orangtua yang juga anak tunggal dan jarang ada di rumah. Ia sebenarnya punya seorang oom, adik papanya. Tapi hubungan Papa dengan adiknya itu tidak harmonis, sehingga sejak umur lima tahun Fay sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan oomnya. Fay bahkan tidak tahu apakah ia punya sepupu.

Hari Minggu tepat satu minggu yang lalu, Cici, Dea, dan Lisa memberi kejutan untuk Fay dengan mendadak datang ke rumahnya sambil memberikan satu kantong kertas. Agak bingung, Fay menerima mereka di rumah dan membuka kantong itu. Ternyata isinya sebuah T-shirt, jaket, topi, dan tas. Ada satu persamaan dari semua barang itu, semuanya sangat keren, dan tasnya bahkan bermerek—Fay yakin yang terakhir ini pemberian Cici seorang. Hanya dia yang punya kemampuan menghabiskan uang sebanyak itu untuk sebuah hadiah. Lisa yang pertama berkata sambil senyum­senyum jail.

”Ini kita kasih supaya lo agak­agak Paris dikit gitu lho, mengingat kalo pake baju lo suka nggak kira­kira.”

Ya Tuhan, Fay merasa air matanya menggenang saking terharunya, dan buru­buru dihapus karena ia pantang menangis, apalagi di depan orang yang bukan bayangan cerminnya. Tidak hanya itu, mereka pun ternyata datang dengan agenda khusus, yaitu membantu Fay packing, memilih­milih pakaian apa saja yang pantas dibawa, dengan kombinasi atasan dan bawahan yang sesuai.

Baju pemberian itulah yang kini dipakai oleh Fay dalam perjalanan ke Paris. Penampilannya sportif, dengan warna cerah dari T-shirt hijau muda dengan belahan agak rendah yang awalnya bikin risih, celana jinsnya sendiri, sepatu semiformal model kets dari kulit warna cokelat dengan garis merah di samping, dan jaket pemberian teman­temannya, berkerah dengan bahan kombinasi denim dan kain berwarna peach. Sisi dalam lengan mempunyai aksen warna merah dan hijau muda yang akan terlihat bila digulung. Cici memilihkan liontin perak berbentuk kura­kura dengan bebatuan warna­warni yang dibeli Fay waktu liburan lalu ke Bali sebagai aksesori, diikat dengan tali kulit warna cokelat tua di lehernya. Ransel pemberian mereka juga ia pakai, sekarang berada di kolong kursi di depannya. Dalam pengarahannya ke Fay, Cici mengingatkan untuk tidak menggunakan penyimpanan bagasi yang ada di atas kepala untuk tas tangan yang tidak dikunci. Selain alasan keamanan karena semua dokumen dan uangnya di sana, posisi bagasi yang tinggi itu bisa menyulitkan bila harus mengambil sesuatu.

Fay menyentuh liontin yang dipakainya dan mendadak ia merasa sedih. Ia benar­benar tak tahu bagaimana caranya menjalani dua minggu ke depan tanpa teman­temannya... the best friends one could possibly hope for.

Mendadak, aduh, kebelet euy.... Fay langsung menyesal kenapa tadi ia sok gaya minum kopi dulu ketika transit tiga jam di Changi, dan terlalu malas untuk ke kamar kecil di area boarding. Fay pun beranjak dari tempat duduknya, tidak lupa membawa tasnya sesuai pesan mamanya yang diulang­ulang puluhan kali sebelum berangkat, ”Jangan lupa ya, Fay, jangan pernah sekali pun meninggalkan tas yang isinya dokumen kamu, walaupun cuma sedetik.”

Mama memang sangat cemas, karena ini perjalanan pertama Fay sendirian, ke luar negeri pula. Terakhir kali Fay pergi ke luar negeri adalah ketika lulus SD, ke Singapura satu minggu bersama mamanya untuk mengunjungi Papa yang ditugasi selama enam bulan di sana. Kadang Fay bingung, kalau memang mamanya secemas itu, kenapa ia dilepas pergi sendiri, dengan hanya diantar oleh sopir ke bandara. Tidak adakah orang lain yang bisa dititipi untuk mengantarnya ke bandara, misalnya kenalan mama atau papanya? Sebuah pertanyaan yang hanya ditujukan bagi dirinya.

Butuh sedikit perjuangan dan rasa tebal muka untuk keluar dari sarangnya yang nyaman di sisi jendela. Dua penumpang asing yang duduk di dua kursi di sebelah kanannya bertubuh tidak kecil. Penumpang yang berada di sisi gang malah harus khusus berdiri supaya Fay bisa lewat dengan nyaman dan kakinya tidak tersangkut. Sambil tersenyum, dengan sungkan, Fay menggumamkan ”thanks” pelan. Ia bertekad tidak akan minum banyak­banyak selama di pesawat ini.

Ketika Fay sudah berjalan di gang mengarah ke toilet yang ada di belakang, seorang penumpang yang duduk di kursi paling belakang mendadak berdiri dan masuk ke toilet. Seketika itu juga lampu tanda semua toilet penuh pun menyala. Yah, lebih baik mengantre di depan toilet supaya tidak keduluan orang lagi, keluhnya sambil mengingat perjuangannya barusan.

Seorang penumpang lain sepertinya juga beranggapan sama, karena mendadak Fay merasa ada yang berdiri dan berjalan di belakangnya. Fay menoleh sekilas dan melihat penumpang itu seorang pria asing berambut cokelat, yang tempat duduknya di sisi gang baru saja dilewatinya. Pria itu memakai baju santai khas turis: celana katun selutut, kaus hawai corak bunga­bunga, memakai topi pancing, dan kacamata hitam. Nggak Paris banget deh, komentar Fay, dalam hati tentunya.

Dia menghampiri Fay yang sudah lebih dahulu berdiri di depan toilet sambil tersenyum ramah dan berkata dengan mimik lucu dan aksen Amerika yang kental,

”Hi, very crowded in this area, don’t you think?”

Tidak tahu harus berkata apa, Fay hanya tersenyum sopan, sedikit merasa bersalah karena barusan mencela pria itu dalam hati.

Pria itu kemudian melanjutkan dalam bahasa Inggris, ”Kamu mau pergi ke mana?” Kemudian masih dengan mimik

lucu dia memukul kepalanya sendiri dan berkata, ”Tentu saja Paris, bodoh.” Fay tertawa dan pria itu dengan ekspresi jail berkata, ”Oke, oke, biar saya tebak ya, kamu bepergian dengan orangtua kamu ke Paris karena mereka ingin sekali melihat Menara Eiffel, dan kalau kamu menolak mereka tidak akan mengakui kamu sebagai anak mereka lagi?”

Fay menjawab masih agak geli, ”Sebenarnya, saya pergi sendiri dan saya akan mengikuti kursus bahasa Prancis.”

Pria itu memasang tampang seolah­olah terperanjat. ”Kamu mau belajar bahasa Prancis? Pemberani sekali! Berapa lama kamu akan menyengsarakan diri seperti itu, dan di mana?”

Awalnya Fay bingung dengan kalimat yang sepertinya tidak berhubungan itu, tapi kemudian ia ingat pernah membaca satu lelucon di koran berbahasa Inggris tentang orang Prancis yang menurut mereka angkuh dengan bahasa yang sulit. Ia pun menjawab, ”L’ecole de France, selama dua minggu.”

Tepat setelah itu, salah satu pintu toilet terbuka. Pria itu membungkuk sedikit dengan kocak,

”Ladies first. And I wish you good luck. Kamu benar­benar gadis pemberani.”

Ketika berjalan kembali ke kursinya, Fay berharap bertemu lagi dengan pria kocak tadi dan bisa menyapanya, tapi pria itu belum kembali. Setelah kembali berjuang melawan rasa sungkan dan berhasil melewati dua tetangganya untuk kembali ke sudut nyamannya, Fay mengeluarkan agendanya dan panduan kota Paris yang diberikan mamanya, sambil menunggu supper atau makan tengah malam disajikan. Perjalanannya akan memakan waktu kurang­lebih tiga belas jam. Setelah makan dan tidur, masih banyak waktu untuk menghafalkan peta kota luar kepala untuk mengisi waktunya yang panjang di pesawat.

Segera setelah Fay masuk ke toilet, pria bertopi itu berjalan balik ke depan, melewati tempat duduknya dan mengarah ke kotak telepon yang ada di bagian depan pesawat, di dekat tempat duduk penumpang kelas bisnis. Ia menekan nomor beberapa kali sebelum akhirnya berbicara dengan logat Amerika yang sudah hilang dan muka serius, ”Sir, Anda takkan percaya dengan apa yang baru saja saya temukan.”

Pria itu melanjutkan bicaranya beberapa saat, kemudian mendengarkan instruksi yang diberikan oleh lawan bicaranya dengan cermat. Setelah menutup telepon ia berjalan kembali ke kursinya, melewati tempat duduk Fay yang sekarang sedang tenggelam dalam peta di hadapannya.

Tidak perlu khawatir. Gadis itu tidak akan ke mana-mana, setidaknya untuk tiga belas jam ke depan, pikirnya dalam hati. Ia pun bersandar dengan santai di kursinya, menunggu makanan yang sudah mulai disajikan di pesawat.

Tepat tiga belas jam kemudian, Fay mengembuskan napas lega. Akhirnya ia melihat kopernya muncul di ban berjalan dan perlahan­lahan bergerak ke arahnya. Proses imigrasi yang ditakutinya sejak awal ternyata sama sekali tidak menakutkan dan ketakutan selanjutnya bahwa kopernya hilang juga tidak beralasan. Segera ia meraih kopernya dan berjalan ke pintu keluar. Ia ingat nasihat Cici.

”Kalau lo bingung, ikutin aja dulu orang-orang yang sepesawat sama  lo  dan  liat  sebagian  besar  dari  mereka  ngapain.  Sambil  jalan ngikutin orang-orang, yang harus lo perhatikan adalah papan petunjuk  di  sekitar  lo  tulisannya  apa  aja.  Tandai  toilet  ada  di  mana, meja informasi ke arah mana, exit ada di mana, dan di mana aja ada petugas kalau lo butuh bantuan.”

Nasihat itu Fay ikuti dengan patuh. Begitu keluar dari pintu, ia berada di area kedatangan dan langsung takjub dengan apa yang ia lihat. Fay merasa ia berada di dalam balon raksasa dengan kubah yang sangat modern bernuansa putih. Sepanjang matanya memandang ke atas, ia hanya melihat atap yang melengkung dengan detail­detail rangka yang rumit bersilangan tapi simetris. Di kejauhan, ia sudah melihat meja informasi.

Fay mengeluarkan kamera dan mulai mengambil foto. Bodo deh mau dibilang kampungan, pikirnya sambil terus memotret. Ia ingat ancaman Lisa sebelum pergi.

”Jangan lupa foto-foto yang banyak ya. Awas kalau lo pulang nggak bawa foto dengan alasan takut dibilang kampungan atau males, gue bakal menganggap semua cerita lo bohong dan gue nggak mau ngomong ama lo lagi.”

Keluar dari mulut si bawel, ancaman itu tidak bisa dibilang main­main. Paling tidak, Fay bisa dicuekin satu bulan, dan setelah itu harus mendengarkan omelan si bawel itu seumur hidupnya.

Setelah puas, dengan kamera digital yang masih siaga di tangan, Fay beranjak menuju meja informasi. Penjemputnya harusnya ada di sana, membawa kertas dengan namanya.

Itu dia! Fay menangkap satu sosok pria dengan hidung yang mancung seperti pinokio, memegang papan dengan logo sekolah bahasa yang akan diikutinya beserta namanya. Belum sempat ia menyapa penjemputnya, terdengar suara ramah di belakangnya,

”Halo gadis pemberani, ada tumpangan ke kota?”

Ternyata pria kocak bertopi di pesawat tadi. Dengan riang Fay mengangguk dan menunjuk penjemputnya yang masih belum tahu ia sudah di sana.

”Baiklah kalau begitu, jaga diri baik­baik, dan sekali lagi, good luck with your French lesson,” si kocak itu tersenyum dan meninggalkannya.

Segera Fay menyapa penjemputnya yang memperkenalkan diri sebagai Alan dan tidak lama kemudian ia sudah ada di dalam mobil sedan yang akan mengantarnya ke rumah keduanya selama dua minggu ke depan. Jacque dan Celine, demikian nama suami­istri pemilik rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya. Ia melirik arloji Swatch yang sudah setia menemaninya sejak hari pertama masuk SMA. Jam 07.30, hari Minggu, hari pertama di Paris. Senyum kembali tersungging di wajahnya dan ia melihat ke luar jendela dengan penuh minat, siap untuk menyongsong hari­harinya.

Empat puluh menit kemudian, mobilnya memasuki Rue de Boulle, satu jalan yang dipenuhi rumah dua lantai bergaya townhouse yang berjajar di kedua sisinya. Rumah­rumah itu langsung terhubung ke trotoar yang sempit melalui tangga dari pintu masuk yang letaknya kira­kira satu meter lebih tinggi dari permukaan jalan. Di sisi kanan dan kiri tangga terdapat taman kecil dan hampir semua rumah yang Fay lihat menanaminya dengan semak berbunga kecil­kecil berwarna­warni atau pohon yang tidak terlalu tinggi. Karena tidak ada garasi, mobil­mobil diparkir di sisi jalan.

Akhirnya mobil yang ditumpanginya menepi, di depan salah satu rumah bercat putih dengan aksen ungu di pintu dan seluruh jendelanya, bernomor 35.

Ketika masuk, Fay dan Alan disambut oleh pria berambut cokelat dengan senyum lebar yang tersembunyi di balik kumis tebal yang juga cokelat, dan seorang wanita bertubuh agak gempal, berambut pendek warna pirang yang tersenyum ramah. Fay cuma bisa melongo ketika pria yang tentunya Jacque ini langsung memeluknya, disusul oleh wanita yang pastinya Celine, sambil nyerocos dalam bahasa Prancis.

”Bounjour, esklaf Fay, bla fdad bla bla.”

Ngomong apa ini orang?

Tentu saja kata­kata itu tidak Fay ucapkan, lagi pula mereka tidak mengerti. Tapi mungkin ekspresi mukanya jelas­jelas melafalkan kalimat itu dengan kencang, sehingga Jacque langsung bicara dalam bahasa Inggris.

”Selamat datang di rumah kami, Fay. Saya Jacque dan ini istri saya Celine. Saya harap kamu akan segera merasa seperti di rumah sendiri.”

Kalimatnya singkat­singkat, tapi jelas. Logat Prancis­nya membuat kalimat itu terasa mengalun lembut didengar telinga Fay.

Jacque berbicara kepada Alan dengan suara yang di telinga Fay terdengar seperti air yang dikucurkan dari ceret dan kini ia mengerti apa yang dimaksud oleh pria kocak bertopi yang ditemuinya di pesawat. Tak lama kemudian Alan melambaikan tangan, ”Au revoir,” dan dia pun pergi.

Celine menuntunnya ke ruang makan, sementara Jacque dengan bersemangat berkata dia akan membawa koper ke kamar Fay di lantai atas.

Di ruang makan yang menyatu dengan dapur, Celine menyuguhkan segelas cokelat hangat. Di meja makan sudah ada roti bulat kecil, mentega, selai aprikot dan stroberi, serta omelette dan sosis.

”Kamu datang tepat sekali untuk sarapan. Tolong jangan bilang kamu tidak lapar ya, belakangan ini makanan di pesawat semakin kurang layak disajikan,” katanya ramah.

Celine menunjuk sosis dan berkata, ”Semua yang ada di sini bisa kamu makan. Sekolah kamu sudah menginformasikan kamu hanya bisa makan daging sapi, ayam, dan ikan.”

Jacque kemudian bergabung dan mereka pun bercakap­cakap seputar keluarga.

Jacque dan Celine ternyata punya satu anak laki­laki yang baru lulus SMA bernama Pierre. Jacque sempat menunjukkan fotonya kepada Fay, dan tampangnya lumayan dengan rambut cokelat seperti Jacque dan mata hijau seperti ibunya. Sayangnya, liburan musim panas ini dia habiskan di rumah sepupunya yang tinggal di London.

Yah, hilang deh kesempatan untuk ”an exciting first romance”, pikir Fay.

Suami­istri itu mempunyai satu toko buku di sudut jalan tidak jauh dari rumah mereka, khusus menjual novel, bekas dan baru. Dengan nada kesal Jacque menambahkan bahwa walaupun usahanya ini menjanjikan, Pierre tampaknya tidak tertarik untuk meneruskan usahanya, mampir saja jarang, sehingga kini dia mengajak salah satu keponakannya untuk menjalankan toko itu.

Sambil mendengarkan keduanya berbicara bergantian, Fay tidak berhenti mengunyah. Benar­benar tidak menyesal makan lagi pagi ini karena roti, mentega, dan sosisnya benar­benar enak. Ia pun selesai dengan perut kekenyangan dan mengeluselus perutnya.

Jacque tertawa melihatnya dan berkata, ”Tidak ada yang bisa menolak roti bulat buatan Celine. Bila kami nanti tidak berjualan buku lagi, sudah pasti kami akan berjualan roti.”

Dia kemudian menambahkan bahwa ada urusan yang harus diselesaikan siang ini di tokonya, jadi baru bisa mengantar Fay untuk Tour de Paris nanti sore. Tapi Jacque menawarkan, kalau Fay mau, dia bisa mengantarnya ke dekat La Tour Eiffel pagi ini dan menjemputnya kembali nanti sore.

Fay tidak percaya dengan peruntungannya. Kemarin ia masih di Jakarta dan sekarang ia sudah akan jalan­jalan sendiri di Paris, melihat Menara Eiffel! Rasanya ia ingin berteriak saking girangnya. Tentu saja ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menceritakan hal ini nanti ke teman­temannya dan menikmati tatapan kagum setengah iri mereka, serta tatapan sirik geng borju di sekolahnya kalau mereka tahu.

Well, I’ll make sure they are well updated, tekadnya. Fay langsung setuju.

Sambil berdiri, Jacque berkata, ”Mari saya tunjukkan di mana kamar kamu. Kamu bisa istirahat sebentar sebelum kita pergi.”

Kamar Fay tidak besar, seukuran kamarnya di Jakarta, dengan perabot lengkap bernuansa krem dan jendela yang menghadap ke jalan. Yang menjadi kejutan untuk Fay, di sudut kamar ada komputer. Komputer itu ternyata milik Pierre yang dipindahkan oleh Jacque ke kamar itu karena dia tidak ada selama dua bulan ini. ”Saya akan meninggalkan kamu sekarang supaya kamu sempat beristirahat. Kita akan pergi jam setengah sebelas,” ujar Jacque sambil menunjuk jam yang berada di atas pintu, kemudian dia meninggalkannya sambil menutup pintu.

Ketika tiba waktunya turun, cukup banyak yang sudah Fay lakukan. Selain sudah beres­beres dan mengosongkan kopernya, ia juga sempat membuka komputer dan menemukan komputer itu sudah terkoneksi langsung ke Internet. Dengan riang ia masuk ke Yahoo! untuk cek e­mail. Ternyata sudah ada e­mail dari mamanya dan Dea dan ia membalas keduanya singkat.

To: Mama

Ma,  udah  nyampe  nih,  udah  di  rumah  Jacque  &  Celine. Baru selesai beres-beres dan sebentar lagi mau ikut Jacque liat Eiffel.

Udah dulu ya, bye.

Fay nggak berterus terang pada mamanya bahwa sebenarnya ia pergi sendiri. Nanti bisa heboh dan runyam, katanya dalam hati.

To: Dea

Cc: Cici, Lisa

Dea, gue udah di Paris nih, di rumah Jacque & Celine. Kamarnya  lumayan,  yang  jelas  lebih  rapi  dibandingin  kamar gue ;­) n ada komputer di kamar yang bisa gue pake, udah langsung  connect  pula,  gak  usah  dial  kyk  di  rumah  gue.  Lumayan lah, kirim e-mail nggak bakalan masalah. Ceritanya nanti aja ya, gue mau ke Eiffel dulu :­) SENDIRIAN lhoooo :­D :­D Nanti gue update yang lengkap deeeeeh... ciao, girls.

Sebelum pergi, Celine memberi pengarahan singkat tentang apa yang bisa dilakukan di sekitar Eiffel. Untuk makan siang, wanita itu membuatkannya sandwich dan mengatakan bahwa ia bisa makan di taman yang ada di sekitar Menara Eiffel, sambil menunjukkan posisinya di peta.

Berbekal sandwich tebal dan peta yang ia coba hayati di pesawat sambil mengusir bosan, Fay pun berangkat diantar Jacque.

Tiga puluh menit setelah Jacque dan Fay berangkat, terdengar bunyi bel disertai ketukan yang mendesak di pintu memaksa Celine mematikan kompor yang sedang menggodok daging domba muda yang nanti akan dipanggang untuk makan malam. Menu itu adalah kesukaan Jacque yang biasanya hanya keluar di hari­hari spesial. Well, ia mengategorikan hari ini cukup spesial untuk kemunculan si domba muda di meja makan, mengingat ini hari pertama Fay di rumah mereka. Ini juga akan menjadi uji coba mereka untuk menjadi tuan rumah bagi pelajar atau mahasiswa yang akan belajar di Paris. Tambahan pendapatan yang lumayan tanpa perlu modal yang besar.

”Sebentar,” sahutnya kesal.

Celine membuka pintu dan melihat tiga pria berdiri di depan rumahnya. Di baju mereka terdapat logo dinas kota Paris.

Seorang pria yang tampak paling senior berbicara dengan nada sopan sambil memberikan tanda pengenal kedinasannya, ”Selamat siang. Kami petugas dari dinas kota. Kami menerima laporan adanya kebocoran gas di jalan ini dan kami sedang menyelidiki sumbernya.” 

Pria itu melihat ekspresi terhina yang muncul di wajah Celine dan buru­buru menambahkan dengan tidak kehilangan senyum ramahnya yang memohon pengertian Celine.

”Kami yakin sumbernya kemungkinan besar bukan dari rumah Anda, tapi ini prosedur yang harus kami jalankan. Ada berapa orang yang tinggal di rumah ini? Kami perlu datanya untuk berjaga­jaga bila perlu evakuasi.” Celine mengurungkan niatnya untuk menunjukkan sikap tidak setuju secara frontal. ”Ada tiga orang, saya sendiri, suami, dan Fay, tamu kami. Tapi saat ini hanya saya sendiri yang ada di rumah.”

”Sebaiknya Madame keluar sebentar, tidak akan lama, sekitar sepuluh menit saja. Dua petugas akan masuk dan memeriksa apakah sumber dari kebocoran ini adalah rumah Madame atau bukan.”

Celine pun beranjak ke luar rumah. Petugas itu menjelaskan bahwa sesuai prosedur, rumahnyalah yang pertama diperiksa, dan setelah itu mereka akan memeriksa rumah­rumah lain sampai sumber kebocoran ditemukan.

Dua petugas masuk ke rumahnya dan Celine pun menunggu di trotoar sambil bercakap­cakap dengan petugas yang senior. Pria itu bertanya apa yang sedang dilakukan oleh Celine dan pembicaraan itu pun akhirnya didominasi Celine yang dengan semangat menjelaskan menu domba mudanya.

Sepuluh menit kemudian, kedua petugas tadi keluar. ”Kami tidak menemukan kebocoran di tempat Anda.”

Celine mengangguk penuh kemenangan. Tentu saja, kalau ada  yang  salah  di  rumahku,  akulah  yang  pertama  kali  tahu, pikirnya.

Petugas yang senior pun tersenyum sopan dan berkata, ”Seperti perkiraan awal kami, sumbernya bukan dari rumah Anda. Terima kasih atas kerja samanya. Andaikata saja semua orang punya pengertian seperti Anda, tentu tugas kami akan lebih ringan.”

Celine kembali mengangguk ramah, agak tersanjung ia menjawab, ”Tidak masalah, Messieurs, selamat bertugas.”

Ketiga petugas tadi pun berlalu setelah Celine masuk ke rumah. Tidak berhenti di depan rumah mana pun seperti yang tadi mereka katakan, tapi melewati dua rumah berikutnya kemudian menyeberang jalan dan masuk ke van hitam yang dipintunya tergambar logo yang sama dengan yang terdapat di seragam mereka. Seorang pria di bagian belakang van sedang duduk memperhatikan delapan layar monitor di hadapannya. Di salah satu layar tampak Celine yang sudah kembali sibuk dengan domba mudanya, mengaduk isi panci dengan penuh semangat. Di dua layar lain tampak gambar ruang tamu yang dilihat dari sisi foyer, serta kamar Fay beserta seluruh isinya.

Pria itu menunjuk gambar kamar Fay dengan pensil yang ada di tangannya. ”Kerja yang bagus. Jarang­jarang kita bisa mendapat gambar dari sudut yang sempurna seperti ini.”

Salah satu petugas yang tadi masuk ke rumah tersenyum puas. ”Jarang­jarang juga ada jam dinding yang diletakkan di atas pintu kamar tidur.”

”Apakah suara bisa diterima dengan baik?”

”Bon,  receiver  sepertinya berfungsi baik, tapi harus kita tunggu untuk membuktikannya.”

”Bagaimana dengan telepon? ”Mari kita cek sekarang.”

Salah seorang dari mereka mengeluarkan telepon genggam dan berjalan ke luar van. Tiga pria lain yang ada di dalam van segera memasang headphone. Terdengar suara telepon berdering dengan jernih. Telepon di rumah Celine terdapat di ruang tamu dan dapur. Salah satu pria itu segera mengecilkan volume penyadap di ruang tamu dan dapur secara bergantian, untuk mengetahui apakah masing­masing penyadap di kedua ruangan itu bekerja dengan baik. Di layar, tampak Celine tergopohgopoh menuju telepon yang terpasang di dinding. Segera setelah telepon diangkat oleh Celine, pria itu mengecilkan volume yang diterima oleh penyadap di ruang tamu dan dapur untuk memastikan suara yang mereka dengar berikutnya berasal dari penyadap yang dipasang di telepon.

”Halo,” terdengar suara Celine berkata.

”Bonjour, apakah ini kediaman Monsieur Legrand?” ”Salah sambung,” jawab Celine ketus.

”Maaf, Madame...,” sambungan pun terputus. Di layar tampak Celine setengah membanting telepon dengan kesal. Pria yang paling senior tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya ke arah pria si penelepon yang masuk kembali ke van. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊