menu

Corat Coret Di Toilet : Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti

Mode Malam
Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti

Aku ingin menceritakan salah satu cerita yang paling sering dibicarakan orang di kota kami, yakni tentang Si Bandit Kecil Pencuri Roti. Mengapa ia disebut demikian, karena ia memang pencuri roti berumur sepuluh tahun. Mengapa kami sering membicarakannya – bahkan sampai sekarang, karena disadari atau tidak, ia satu dari sedikit kriminal yang kami kagumi.

Ceritanya sendiri sudah lewat beberapa tahun yang lalu, ketika toko-toko belum sebanyak sekarang dan pak polisi masih bersikap ramah terhadap warga kota. Ia bocah yang gesit, hampir selalu muncul di setiap sudut kota, sehingga sebagian besar warga kota mengenal dirinya. Ia juga periang, bermain dengan semua anak sebaya, dan rajin pula membantu orang-orang sehingga penduduk kota sesungguhnya sangat menyayanginya. Satu-dua penduduk bahkan pernah membujuknya untuk tinggal di rumah mereka, dan para guru di sekolah membujuknya untuk masuk sekolah. Tapi tidak, ia lebih suka tinggal di hutan kecil di pinggiran kota, dan menjadi bocah paling bebas dari dinding-dinding sekolah dari pukul tujuh pagi sampai satu siang.

Jika anak-anak pulang sekolah berjalan kaki atau naik sepeda melewati hutan kecil tempat tinggalnya, ia selalu tampak pada sebuah batang pohon sedang menyanyikan sebuah lagu yang hanya ia sendiri yang tahu. Hal itu kadang membuat kami sendiri, anak-anak sekolah, beriri hati. Kami pikir, ia memang beruntung. Ia tidak punya ibu yang akan membangunkannya di pagi hari pada pukul enam pagi, atau memarahinya karena belum mandi. Ia juga tak punya ayah yang akan memarahinya karena belum mengerjakan pekerjaan rumah, atau belum tidur pada pukul sembilan malam. Ia seperti Pippi Si Kaus Kaki Panjang berkelamin laki-laki sebagaimana aku sering baca di buku cerita.

Asal-usulnya sendiri memang tak begitu jelas. Bahkan para orang tua kami sendiri hampir semuanya tak ada yang tahu. Ia sudah ada di sini, di kota kami, sejak masih kecil sekali. Tanpa ayah, tanpa ibu, dan tanpa rumah.

Ia baru berumur sepuluh tahun ketika kota tiba-tiba terasa membengkak. Gedung bioskop dengan dua layar berdiri tak jauh dari rumah sakit kecil kami, menggantikan tobong yang hanya memutar film seminggu sekali. Hotel-hotel baru yang besar, tinggi dan cantik berderet menggantikan penginapan-penginapan kecil di sepanjang pantai. Pasar yang sering becek, kemudian terbakar pada akhir tahun sebelumnya dan dibangun kembali tak lama kemudian, lebih luas dan lebih ramai, dengan tokotokonya yang penuh dengan etalase-etalase kaca. Kami bahkan membangun tugu, yang sebelumnya tak pernah ada, di pintu masuk kota, dan jalan-jalan di seluruh penjuru kota pun kami beri nama, dengan nama-nama ikan, pahlawan bagi separuh penduduk kota yang bekerja sebagai nelayan.

Kota kami menjadi begitu cantik. Listrik menggantikan pelita, dan di beberapa tempat ada telepon umum

– satu hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Anak-anak kecil bercerita tentang es krim paling enak di toko ibu anu, dan gadis-gadis remaja mulai mengenakan pakaian-pakaian bagus dan pergi ke bioskop di akhir pekan dengan pacar-pacar mereka. Bahkan para ibu, termasuk ibuku, mulai tak doyan masak di rumah, karena makan siang dan makan malam bisa dibeli di rumah makan di depan rumah.

Tetapi di antara orang-orang yang berbahagia dengan perkembangan kota, justru adalah Si Bandit Kecil sendiri.

Suatu hari di sebuah sore yang panas, ia bercerita kepada kami bahwa ia bisa menerobos masuk ke dalam gedung bioskop: ”Aku lihat orang sedang berciuman,” begitu ia melaporkan petualangannya kepada kami.

Di hutan kecil itu, kami anak-anak kecil yang mengelilinginya, menatapnya dengan sedikit marah. ”Kau tahu,” kataku. ”Anak kecil tak boleh melihat film seperti itu.” Aku memperingatkannya.

”Aku tak melihat film seperti itu,” katanya membela

diri.

”Tadi kau bilang?” tanyaku, membayangkan wajah

ayahku yang marah seandainya aku sendiri yang melihat adegan seperti itu.

Tapi dengan tenang ia berkata, ”Aku lihat orang sedang berciuman, bukan di film, tapi di kursi belakang bioskop.”

Begitulah. Kemajuan kota sesungguhnya lebih banyak kami kenal dari kisah-kisah Si Bandit Kecil sahabat kami, karena hanya ia yang bisa pergi ke mana pun sesuka hatinya ketika anak-anak yang lain harus duduk dengan manis di bangku sekolah.

Suatu ketika ia bercerita lagi kepada kami, bahwa dia sudah mencoba telepon umum dan yang menjawab adalah seorang perempuan yang menurutnya pasti cantik karena suaranya begitu enak terdengar.

”Apa katanya?” tanya kami penasaran.

Ia menjawab: ”Telepon yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa menit lagi.”

Tapi ternyata ulahnya itu mulai membuat warga kota resah terhadapnya. Orang-orang mulai tak lagi menyayanginya, dan para orang tua mulai melarang kami bermain dengannya. Pada saat itulah sebenarnya  ia mulai dipanggil dengan nama Si Bandit Kecil menggantikan nama asing yang disandang sebelumnya, yang aku sendiri sudah lupa siapa nama sebenarnya. Ia musuh masyarakat yang dengan diam-diam tetap kami kunjungi, karena ia selalu punya cerita-cerita aneh. Hingga suatu ketika kami dengar polisi akan menangkapnya, karena ia ketahuan mencuri roti di toko.

Bayangkan, ia mencuri roti! Betapa marahnya kami. Orang tua kami di rumah, dan guru kami di sekolah, dan ustaz kami di masjid, selalu mengatakan bahwa mencuri itu perbuatan terkutuk. Berdosa. Dan sekarang Si Bandit Kecil mencuri roti di toko! Aku dan beberapa temanku pergi ke tempat persembunyiannya, untuk  menangkap si pencuri berdosa itu, dan memberikannya kepada bapak polisi. Tapi ketika kami sampai di tempatnya, ia menawari kami roti-roti curian itu. Kami semua terpaku, mencoba mencicipi sedikit, dan lupalah kami kepada rencana untuk menangkapnya. Roti dari toko ternyata memang enak, satu jenis roti yang belum pernah kami temukan sebelumnya.

Demikianlah ia kemudian semakin dikenal di kota kami sebagai Si Bandit Kecil Pencuri  Roti.  Tak  ada hari di mana ia tak diceritakan telah mencuri di salah satu toko yang ada di kota. Para pemilik toko sangatlah marah, sehingga mereka mendatangi kantor polisi dan mendesak bapak-bapak polisi untuk menangkapnya. ”Jika tidak,” kata para pemilik toko, ”Kami akan melaporkannya ke atas, atau mengumumkannya di koran. Kalian bisa dipecat karena itu.”

Terhadap ancaman seperti  itu, bapak-bapak polisi mencoba menenangkan mereka. ”Pikirkanlah,” kata salah satu polisi itu. ”Kalian datang ke kota kami, membuka toko dan memperoleh uang banyak. Tak ada artinya dengan roti yang dicuri bocah itu setiap hari.”

Tapi salah satu pemilik toko itu beranjak ke pesawat telepon dan berkata bahwa ia akan melaporkan ke atas bahwa para polisi di kota kami tak ada yang mau menangkap seorang bocah yang jelas-jelas mencuri di toko mereka.

”Baiklah,” kata pak polisi akhirnya. ”Kami akan menangkapnya.”

Dan pulanglah para pemilik toko itu.

Sejak hari itu, Si Bandit Kecil Pencuri Roti menjadi buronan. Tapi bukanlah perkara mudah menangkap anak segesit itu. Ia bisa berlari lebih kencang dan menyelinap lebih lihai daripada bapak-bapak polisi. Dan tempat persembunyiannya di hutan kecil di pinggir kota, tak pernah diketahui oleh polisi karena kami sahabatnya tak pernah mengatakannya kepada siapa pun. Kami sendiri takut kalau kami mengatakannya, ia nanti tertangkap dan tak ada jatah roti enak dari toko untuk kami lagi. Jadi untuk sementara, ia tetap tak tertangkap.

Tapi karena didesak para pemilik toko, polisi terus mencari-cari dirinya. Hingga suatu ketika mereka mulai mencium keberadaannya di hutan kecil di pinggir kota. Suatu malam, dua orang polisi dikirim untuk menelusuri hutan kecil itu, mencarinya, dan jika ketemu, segera menangkapnya. Kedua polisi itu mulai menjelajah hutan kecil pada pukul sepuluh malam, menyorotkan lampu senternya ke sana-kemari, mengaduk-aduk belukar, menggoyang-goyangkan pohon, tapi Si Bandit Kecil Pencuri Roti tak menampakkan diri.

”Aku heran,” kata salah satu polisi itu. ”Di kota besar ada ratusan pencuri roti sepertinya, tapi tak akan membuat polisi sesibuk kita di sini.”

”Ya,” polisi yang satu lagi menyetujui. ”Andai saja bocah itu punya seorang ibu yang akan mengurusnya ”

Tiba-tiba sesuatu jatuh dari atas pohon cokelat tepat di hadapan kedua polisi itu. Lebih mengejutkan kedua polisi itu, apa yang berdiri di hadapan mereka ternyata Si Bandit Kecil Pencuri Roti. Bocah yang sedang mereka cari-cari.

’A-apa  kata  kalian  barusan?” tanya  Si  Bandit  Kecil Pencuri Roti kepada keduanya.

Kedua polisi itu hanya saling pandang tak mengerti, sambil mengarahkan lampu senter mereka ke muka si bocah.

”Kalian bilang aku punya ibu?” tanya si bocah lagi. Untuk kedua kalinya kedua polisi itu saling pan-

dang.

Lalu si bocah mulai berlutut dengan kedua tangan terdekap di dadanya. Ia menangis tersedu-sedan. Di antara suara tangisnya yang menyedihkan itu, ia berkata: ”Bapak polisi, antarkan aku kepada ibuku. Aku ingin punya ibu sendiri yang akan membawaku pergi ke pasar malam. Aku ingin punya ibu sendiri yang akan memberiku rumah. Aku juga ingin punya ibu sendiri yang akan memberiku uang untuk membeli roti sehingga aku tak perlu mencurinya ...”

Ia masih menangis dan tangisnya semakin meraungraung ketika kedua polisi itu menangkap tangannya, memborgolnya dan menyeretnya ke kantor polisi saat itu juga. Atas tertangkapnya pencuri roti kesayangan kami, pak polisi menjadi senang karena mereka tak perlu mengurusi hal sepele itu lagi, dan para pemilik toko merasa bahagia karena tak ada lagi yang memotong keuntungan dagang mereka.

Para sahabatku, demikianlah Si Bandit Kecil Pencuri Roti ditangkap, dan demikian pulalah cerita ini berakhir.
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊